Home

MY NOVELS

84 Comments

IMPORTANT NOTE: Buat yang mau baca lanjutan Trilogy That Man That Woman, bisa dilihat di novel Incessant Tales. Ending-nya nggak bakal di-share di sini.

 

 

On(c)e

 

On(c)e

Penerbit: Grasindo

Jumlah Halaman: 304

Harga: Rp. 45. 000, 00

 

 

More

WELCOME TO KYUNA TERRITORY!!!

54 Comments

Opening

 

 

FP 2060: When The World Is Yours

FP Naui Babo Yeobo

FP Amour Action Zone

Living A Life With You

29 Comments

Iseng banget…. Gara-gara kemarin baca komen salah satu reader yang bilang kayaknya baca puisi ini bakal bikin lidah belibet, saya jadi penasaran dan nyobain sendiri. So… this is my version. Kalo dalam otak saya, kayak ginilah Kyu bakalan bacain puisi ini.

Klik aja judul di bawah, nanti bakal tersambung ke 4shared.

Hahaha… jangan ketawa ya kalo jelek :p

LIVING A LIFE WITH YOU

 

 

Living a life with you… will be more fun than spending my days going around the world with my private jet-plane

There will be so many things we can do together

We can go to the Alps, the only snowy place that you’d like to see

Or to Denali in Alaska to enjoy the spring blossoms

Maybe I can take you to go hiking on the Laugavegur trail in the southern Iceland

Or just visiting Ragga in Austria in the summer

Or, if you prefer the simple one, we can just sitting in our patio all day, just by looking each other’s faces, with no words, with no shits, like we always did

Or maybe having a cup of delicious coffee in the morning, playing in the swimming pool at noon, or seeing the sky view on our rooftop when the night comes

 

I want to go to Machu Picchu, or maybe Toblino Lake in Trentino, Italy

Or enjoying the view in Killarney, Ireland

Maybe we can also go to Half Moon Island to see the penguins

And thanks God; you’d never go there, so we can go for the first time together

So, I can bring you to every place you dream about, with so much happiness we can share to each other

 

But then I change my thought when I look at you…

Wife, I think I’d rather look at you than any other places, paintings, portraits, views, or faces in this Earth

Because you are more beautiful than the wonderful sunrise in Emerald Bay

Or the breathtaking sunset in Cliffs of Moher in your beloved Ireland

 

I don’t want, and never want, to conquer the universe

With you in my arms will be pretty enough, because it will feel like I get the whole world

Because, Baby, being a president is not my dream

You are….

 

 

 

INTERMEZZO

39 Comments

Scent-of-A-Woman20

 

More

NAUI BABO YEOBO ~ SUDDENLY DOCILE

148 Comments

1911833_627148857355498_1651123516_n

 

 

Credit Photo: Laila Nifi

More

KyuNa’s Home

50 Comments

House-Island-01-800x533

Too busy to write anythingI plan to finish President’s Order as soon as possible, so maybe there will be no FF for this month. Just maybe. I change my mind often when I see Kyuhyun, so….

Jadi, saya lagi pengen iseng aja nge-share wujud rumah KyuNa. Ini biasanya dipake buat semua FF, kecuali 2060. Dan rumah ini bakal sering banget dibahas di President’s Order, jadi… buat yang mungkin kepo, bisa kenalan dululah ama setting-nya. Hahaha…. *ditabok*

Kalo di NBY, ini rumah dijadiin hadiah kejutan sepulang liburan dari Spanyol, di NBY Part 14.

Kenapa saya pilih ini rumah? Because this is my dream house! I fall in love at the first sight when I found the picture of this home (they call it Island House). Full of glass, so wide… open… free… with the river at the front. Because I love this, so Hye-Na will love this too, and Kyuhyun will love everything that Hye-Na loves *what am I saying actually?*

But, of course, how can you not fall in love with this home like I did?

More

NEW NOVEL: COLOVER

10 Comments

8. Colover

 

 

New novel!!! Hehe…

Ini novel isinya kumpulan cerpen dari 10 penulis. Masih Korea2an, tapi bukan FF. Temanya tentang warna gitu, dan saya ngambil warna turquoise.

Judul: Colover

Pengarang: Fairy, Senselly, Yuli Pritania, Edotz Herjunot, Sung Ie, Ce, Sintia Astarina, Ida R. Yulia, Ca, Team Peak

Penerbit: Grasindo

Harga: Rp. 43.000, 00

Estimasi Terbit: 24 Maret 2014

 

Bisa didapatkan di toko buku terdekat di kota Anda.

NAUI BABO YEOBO ~ EARLY IN THE MORNING

134 Comments

285771_545959468758495_431585465_n

 

Credit Photo: Laela Nifi

 

 

Hye-Na menatap putus asa ke arah panci, berbagai jenis peralatan memasak, dan piring-piring kotor yang bertebaran di tempat cuci, kemudian ganti melirik ke konter dapur, tempat sesuatu berwarna cokelat—yang seharusnya berwujud tart itu—berada, lagi-lagi menghela napas. Semua ini benar-benar membuatnya depresi. Kalau saja bukan karena rasa bersalahnya, dia tidak akan mau berkutat di ruangan mengerikan ini, bergelut dengan bahan-bahan yang tidak dia mengerti, dan memaksanya harus belajar menghidupkan oven yang bahkan belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Dia teringat lagi kejadian belasan jam yang lalu, sesaat sebelum pria itu berangkat ke bandara untuk menghadiri acara fanmeeting yang diadakan di Manila. Yah, salahnya juga sebenarnya, tapi tetap saja pria itu terlalu berlebihan. Dia tidak keberatan dengan sikap posesif pria tersebut, bahkan menyukainya, tapi kali ini pria itu benar-benar cemburu pada hal yang tidak penting. Membuatnya panas saja.

Tapi karena hari ini adalah ulang tahun pria itu….

Dia mendesah, melirik jam, dan mendecak memandangi penampilannya yang kacau balau. Bagus, Cho Hye-Na, sambutlah suamimu pulang dengan tampang dan bau seperti ini.

Dia bahkan belum mandi.

***

More

NAUI BABO YEOBO ~ MY SANITIZER

152 Comments

59265_404516376303465_1109787772_n

 

 

“Tidak sabar ingin bertemu istrimu lagi?” kekeh manajer Kyuhyun yang sedang mengemudi saat pria itu memintanya untuk menambah kecepatan mobil.

Kyuhyun mengernyitkan hidung, seolah ide itu terdengar absurd di telinganya, walaupun sebenarnya itu memang salah satu alasan utama.

“Tidak juga,” elaknya, mengalihkan tatapan ke luar jendela mobil yang sengaja tidak dibuka karena cuaca dingin yang membekukan. Dia memutar-mutar ponsel di tangannya, sama sekali tidak berharap bahwa benda itu akan berbunyi menandakan pesan ataupun panggilan masuk dari seseorang yang dia inginkan. Istrinya tidak pernah berubah. Gadis itu… tidak pernah memperlihatkan ketertarikan sedikit pun terhadap drama musikalnya. Hanya pernah datang satu kali saat dia berperan di Three Musketeers dulu, itu pun karena dia yang memaksa. Selebihnya? Bertanya pun tidak. Kecuali saat dia memberitahu Hye-Na tentang drama musikal terbarunya ini, di mana dia akan bermain dengan Seohyun. Gadis itu marah sebentar, lalu mendadak amnesia.

More

ON(C)E’S REVIEW

23 Comments

On(c)e

 

 

Hei hei, siapa nih yang udah beli novel On(c)e? Yang udah baca, saya pengen tahu komentarnya. Kritik, saran, apa pun. Semacam review gitu. Bisa saya jadikan masukan untuk ke depannya, soalnya itu novel non-FF pertama saya.

Buat yang punya akun goodreads juga bisa nge-review di sana langsung.

Ditunggu, ya ^^

{MY NOVEL PROJECTS} PRESIDENT’S ORDER (CHAPTER 1 OPENING)

59 Comments

14hZL copy

 

 

Autumn 2016, Seoul

“Hmmmfh.” Gadis itu menghela napasnya dengan malas-malasan. Dia meraih pistolnya yang tersimpan di saku dalam mantel—yang dengan cerdik digantungkannya di kepala tempat tidur, menggerakkan benda itu sedikit sehingga moncongnya menghantam sisi kepala pria yang masih tertidur nyenyak di sampingnya.

“Sebentar lagi, Sayang. Aku benar-benar mengantuk. Kau sudah menghabiskan energiku semalaman.”

Gadis itu menyeringai. Bukannya menurut, dia malah melakukan hal itu sekali lagi sehingga pria tersebut dengan jengkel membuka mata dan langsung terbelalak melihat senjata yang terarah tepat ke tengah keningnya.

“Maaf, Sayang, Maut tidak pernah menunggu,” ucapnya dengan nada manis dan menggoda, yang sebelumnya berhasil membuat pria itu terpana, terpesona, lalu bertekuk lutut di kakinya. Anehnya, detik ini, nada yang sama malah membuat pria itu menatapnya dengan sorot ketakutan, ngeri. Dia bahkan bisa mendengar bunyi klik kecil saat pria tersebut akhirnya mengerti neraka apa yang sedang menimpanya saat ini.

“Shim Ah-Rin….”

“Uh oh… wrong password,” desah gadis itu, menggoyang-goyangkan pistol di tangannya dengan ekspresi tidak suka. “Namaku bukan Sayang, bukan Shim Ah-Rin. Hmmm… kuberitahu kau, aku benar-benar menyukai nama asliku, tapi karena peraturan dalam bertugas, pasal 7 ayat 4 yang mengatakan saat melakukan tugas berbahaya dan menuntut penyamaran, agen wajib menggunakan nama alias bla bla bla—kenapa aku harus menjelaskan hal ini terus menerus setiap kali aku akan membunuh?” erangnya, mendadak diliputi bad mood.

“Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya. Kau juga tidak perlu mati penasaran, bertanya-tanya siapa yang membunuhmu. Jadi, mari kita berkenalan.” Gadis itu tersenyum riang, jauh berbeda dengan ekspresinya beberapa detik yang lalu. “Namaku Han Hye-Na. Terdengar sama seperti hyena, binatang pemangsa paling tidak punya belas kasihan di alam liar. Kau pernah dengar, kan? Sebenarnya mereka semua memang menjulukiku seperti itu. Berdarah dingin, kejam, tidak punya hati. Padahal coba kau pikir, penjahat mana yang tidak mau mati di tanganku? Seperti kau.  Selama penjahat itu berwajah tampan dan menarik minatku, aku bisa meluangkan waktu sedikit untuk bermain-main. Malam tadi memuaskan, kan?” tanyanya dengan alis berkerut. “Jadi apa lagi yang kau inginkan selain… mati dengan bahagia setelah melalui malam yang sempurna?”

Pria bernama Jung Il-Woo itu—pengedar kokain yang terkenal paling sulit ditangkap—merasakan perutnya berputar mual, dengan jantung yang berdentum-dentum menghantam rongga dada, merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

“Siapa kau?” desisnya, selagi otaknya mencari cara untuk kabur. Jika gadis di depannya itu sampai diutus untuk menangkapnya, maka sebaiknya dia tidak bertindak gegabah, karena jelas sekali bahwa gadis tersebut memiliki kemampuan untuk mengalahkannya. Walau selama ini semua orang yang ditugaskan untuk meringkusnya cukup membuatnya kewalahan, tapi dia selalu berhasil lolos. Mungkin kali ini dia juga bias melakukannya. Atau mungkin tidak.

“Sudah kubilang, kan? Namaku Han Hye-Na. Mereka biasanya memanggilku Agent K. K for Killer. Mereka baru menugaskanku jika agen lainnya tidak berhasil. Dan perintah untukku selalu hanya terdiri dari satu kata. Bunuh. Tapi seperti yang sudah kuberitahukan padamu, aku ini jarang bertugas, jadi saat akhirnya aku mendapatkan perintah, biasanya aku mengawalinya dengan main-main. Merayu adalah spesialisasiku. Dan sebelum kau mati, lebih baik kau tahu bahwa… kemampuanmu di tempat tidur untuk ronde pertama cukup mengagumkan, ronde kedua lumayan, dan ronde ketiga loyo seperti harimau kehilangan taring.”

Il-Woo membiarkan gadis itu berbicara sesukanya, walaupun telinganya cukup panas juga mendengar komentar tentang kemampuannya di atas ranjang. Dia menurunkan kakinya yang tersembunyi di balik selimut ke lantai, berusaha bergerak sehati-hati mungkin agar tidak ketahuan. Dia baru saja melemparkan selimut ke wajah gadis itu, menopang tubuhnya dengan benar sambil berpegangan ke kepala ranjang, mendapatkan keseimbangan, lalu menyerahkan keselamatannya pada kegesitan kakinya yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun.

Hye-Na mendecak malas, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan memaksa dirinya untuk bangkit dari kasur, mengabaikan bahwa tubuh polosnya terpampang ke mana-mana.

“Mau kabur, ya? Kau mulai terlihat menyebalkan. Apa sih yang kau pikirkan sehingga mengira bisa kabur dariku?” dengusnya, kali ini mengokang senjata, bersiap menembak.

Walaupun ingin sekali mengingkarinya, Il-Woo sama sekali tidak bisa mencegah otaknya yang mengagumi pemandangan indah yang tersaji di hadapannya itu. Matahari menyelinap masuk lewat tirai yang separuh terbuka, dan gadis itu berdiri di sana, di atas ranjang, dengan tubuh telanjangnya yang luar biasa, tampak menyilaukan dengan sinar matahari yang menyorot ke punggungnya, menimbulkan kesan liar dengan pistol di tangan dan raut mata seorang pembunuh berdarah dingin yang kejam.

Dan entah bagaimana saat itu dia tahu, pria mana pun yang pernah dibunuh gadis ini, pasti tidak terlalu menyesal untuk mati.

“Sudah, ya? Aku lapar. Game over, Jung Il-Woo ssi.”

Tidak ada suara tembakan yang terdengar berkat peredam di ujung pistol. Hanya ada sisa bubuk mesiu yang tercium di udara, menandakan tugasnya yang sudah usai. Jadi gadis itu melompat turun dari tempat tidur, memasang headset mini di telinga lalu meraih pakaiannya yang berserakan di atas lantai.

“Agent K melapor. Target tewas. Harap dikirimkan petugas pembersih dalam lima menit.” Dia meloloskan tank-top-nya melewati kepala, memakai celana jeans-nya, menyelipkan pistolnya di sabuk senjata yang melingkar di pinggang, lalu mengikat tali sepatu botnya dengan cekatan. Dia menggapai mantelnya, tersenyum memandangi hasil kerjanya, yang seperti biasa, rapi dan tidak berantakan. Walaupun darah yang tercecer cukup banyak, dia selalu menganggapnya sebagai seni dalam menembak. Apa serunya kalau tidak ada darah?

Dia berjongkok di depan mayat itu, sedikit merasa tidak rela melihat wajah tampan yang sudah tidak bernyawa di depannya.

“Kenapa kau tidak jadi artis saja? Sayang sekali kan kalau kau jadi penjahat. Aku jadi harus membunuhmu.”

“Ngomong-ngomong,” lanjutnya kepada telepon yang masih tersambung. “Sepertinya kau harus memesankanku sarapan di lantai bawah. Di apartemen ini ada kafe, kan? Menunya seperti biasa saja. Tapi tambahkan segelas jus jeruk, double French fries. Dan sosis. Aku lapar sekali.”

***

Hye-Na baru menggigit kentang pertamanya saat headset di telinganya menyuarakan bunyi tut singkat, dan sedetik kemudian dia bisa mendengar suara atasannya, Leeteuk, berbicara dengan suara tenornya yang kali ini terdengar sangat menyebalkan di telinga gadis itu.

“Aku baru mau mengisi perut. Tidak bisa tunggu satu jam lagi, ya?” sahutnya ketus saat pria itu memerintahkannya untuk segera kembali ke kantor.

“Status O, Han Hye-Na. Datang atau kau akan terkena masalah.”

“Aku rasa, hidupku tidak pernah jauh-jauh dari masalah,” ujarnya, berusaha tetap terdengar tenang. Tapi siapa yang bisa tenang jika dihadapkan dengan dua kata: Status O?

Status O atau Status Zero adalah keadaan genting di mana perintah diberikan langsung oleh Presiden Korea Selatan. Berbeda dengan Status A yang juga berasal dari Presiden, Status O berarti perintah pribadi Presiden, tidak menyangkut keamanan negara dan semacamnya. Dan hal ini sangat jarang sekali terjadi. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah.

“Yah, kalau begitu baguslah. Ini akan menjadi masalah terbesar yang pernah kau hadapi dalam hidupmu. Aku tidak tahu harus memberi selamat atau merasa prihatin terhadapmu.”

“Sangat menenangkan, Leeteuk ssi.”

“Datanglah cepat. Kau tidak akan suka jika sampai membuatnya menunggu.”

Hye-Na mengernyit, mencelupkan tiga potong kentang goreng sekaligus ke dalam saus sambal lalu membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap makanan berminyak tersebut. Dia mengunyah perlahan, mengedarkan pandangan ke jalanan di luar, sedikit merasa iri melihat orang-orang yang tidak perlu menjalani hidup penuh bahaya sepertinya.

“Bahkan ada waktu di mana seorang Presiden sekalipun terpaksa menunggu,” desisnya.

***

{2060 FF CONTEST 1ST WINNER} KAFKANISA OCTARYOTO – THE UNFINISHED

82 Comments

BZtqlPvCUAAzn-T

 

 

More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,718 other followers