d2cfe7a6b947fe91a5b26eaf3d4b16f4 copy2

 

LEONARD KIM EXCLUSIVE INTERVIEW

 

Ditemui pada hari perilisan majalah THE MOMENT yang digagas Han Group, fotografer terkenal, Leonard Kim, meluangkan waktu menjawab pertanyaan para wartawan yang mengerubunginya untuk mendapat penjelasan atas foto-foto mengejutkan yang terpampang pada cover dan halaman-halaman awal majalah. Tidak ada yang menyangka bahwa pasangan pertama yang mendapat kehormatan untuk tampil di sampul edisi pertama majalah yang bertema pernikahan ini adalah Han Hye-Na, CEO Han Group yang sedang naik daun setahun terakhir, dan Cho Kyuhyun, anggota termuda dari boyband papan atas Korea, Super Junior, yang pernah disebut Hye-Na terang-terangan sebagai calon suami idamannya dalam salah satu wawancara.

 

Q: Bagaimana menurut Anda tentang terpilihnya pasangan yang di luar prediksi ini? Mengingat Han Hye-Na tidak pernah bersedia difoto secara eksklusif sebelumnya, juga kecenderungannya untuk tidak terlalu membuka diri pada wartawan. Dan tentang terpilihnya Cho Kyuhyun. Apakah ini ada hubungannya dengan fakta bahwa dia adalah idola Hye-Na?

A: Kurasa ini semacam kejutan dari para karyawan untuk Hye-Na. Hari itu dia datang ke lokasi pemotretan hanya untuk mengecek situasi dan tiba-tiba para staf yang ada di sana menyodorkan Kyuhyun padanya dan meminta mereka—nyaris memohon, kalau boleh kutambahkan—untuk menjadi pasangan pertama, sebagai simbol keberuntungan untuk majalah ini ke depannya, itu alasan yang mereka kemukakan. Mereka bilang Han Hye-Na tidak suka difoto dan betapa sia-sianya jika wajah secantik itu tidak diabadikan. Dan terpilihnya Cho Kyuhyun sebagai pasangannya setidaknya akan membuat mereka terlindung dari amukan wanita itu (tertawa).

 

Q: Apakah pertemuan itu canggung? Apa yang terjadi pada awal-awal pemotretan?

A: Aku suka mengamati orang-orang. Dan aku sudah memotret banyak pasangan sebelumnya. Harus kuakui, bahkan sejak detik pertama, ada sesuatu di antara mereka. Tatapan yang mereka berikan pada satu sama lain. Jika aku tidak tahu, aku akan mengira bahwa mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama dan menjalin hubungan. Chemistry di antara mereka begitu kuat. Ada sinkronisasi dalam gerakan mereka saat berdekatan, seolah mereka berdua saling memosisikan diri dengan tepat tanpa mereka sadari. Sangat jarang intensitas seperti ini ditemukan pada pasangan, bahkan suami istri sekalipun.

Aku sudah beberapa kali bekerja sama dengan Hye-Na sebelumnya. Dia pribadi yang tertutup di depan orang yang tidak dikenal, tidak banyak senyum. Nyaris sinis. Karena kehilangan kedua orangtua sekaligus dalam usia muda, kurasa. Dan tanggung jawab besar yang harus dia emban setelahnya. Tapi pada hari pemotretan itu, dia menjadi pribadi yang berbeda. Seakan ada sesuatu yang terlepas darinya. Kyuhyun membuatnya nyaman. Aku masih takjub hingga sekarang jika mengingat interaksi di antara mereka.

 

Q: Mungkin Anda bisa bercerita tentang tiap momen yang Anda abadikan dalam foto-foto itu? Hal khusus yang Anda ingat, mungkin?

A: Aku hanya mengambil satu foto dalam satu setting. Biasanya, aku bersedia menunggu berjam-jam untuk mendapatkan foto yang sempurna. Aku tidak akan menekan tombol shutter di kameraku lebih dari satu kali. Aku akan menyuruh modelku untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka nyaman. Saling mendekatkan diri. Aku merekam momen. Mengabadikan ekspresi. Itulah yang aku tekankan pada diriku sendiri saat memutuskan untuk menjadi fotografer pre-wedding. Bahkan pasangan-pasangan sungguhan yang akan menikah sekalipun membutuhkan waktu sekurang-kurangnya lima belas menit lebih untuk menyesuaikan diri. Aku ingin mereka terlihat jatuh cinta dalam setiap frame yang kuambil. Cho Kyuhyun dan Han Hye-Na hanya butuh sepuluh detik untuk memperlihatkan semua itu padaku. Itu pemotretan tersingkat yang pernah kulakukan. Bahkan dengan empat setting yang berbeda. Aku nyaris merasa bersalah karena mereka membutuhkan waktu satu jam untuk berdandan tiap kali berganti kostum dan aku selesai hanya dalam beberapa detik saja.

 

 

5144c296ef205680618714e171ad67ae copy1

 

 

Ini foto pertama yang kuambil. Aku ingat Kyuhyun menjadi yang pertama tiba di lokasi dan kami menunggu sepuluh menit sampai Hye-Na selesai didandani. Dia menunggu di kursi dan tidak mengalihkan tatapan sekejap pun saat Hye-Na muncul dengan gaun putih yang sebenarnya sangat sederhana. Dia wanita yang cantik, sangat cantik, salah satu yang tercantik yang pernah kulihat. Aku selalu menyukai detik-detik ketika pengantin wanita berjalan menyusuri gang menuju altar dan pengantin pria berdiri terpesona. Itu momen terfavoritku dari sebuah pernikahan. Dan Cho Kyuhyun menatap Han Hye-Na persis seperti itu. Seolah wanita tercantik di dunia baru saja melangkah menghampirinya dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membatu.

Lalu dia merentangkan tangan dan Hye-Na, secara natural, masuk ke dalam dekapannya dan seperti itulah foto ini tercipta. Meskipun begitu, butuh beberapa teriakan dariku agar Kyuhyun menghapus cengiran dari wajahnya. Senyumnya terlalu lebar, sungguh. Mengejutkan bahwa dia akhirnya bisa menampakkan tampang tak acuh seperti itu di foto, pada akhirnya.

dc19042d34d9800c2434a1db1d53ab4e copy

Foto yang kedua sengaja kuambil hitam putih. Fokusnya adalah tatapan mereka pada satu sama lain dan aku tidak ingin ada warna yang mengganggu. Aku suka bagaimana mereka mencondongkan tubuh ke arah masing-masing, tangan Hye-Na yang merangkul lengan Kyuhyun, dan refleks Kyuhyun yang memegangi tangan kiri Hye-Na. Aku memperhatikan bagaimana mereka tidak saling canggung menyentuh satu sama lain. Sentuhan-sentuhan ringan yang mereka lakukan tanpa sadar saat mengira tidak ada yang melihat. Tapi favoritku tentu saja tatapan mereka. Itu tatapan satu detik Kyuhyun yang terarah pada bibir Hye-Na dan aku nyaris melewatkannya jika tidak jeli. Itu tatapan menginginkan yang tidak dibuat-buat dan aku senang bisa mengabadikannya.

Kyuhyun bilang ini adalah foto yang paling dia suka dan memintaku mengirimkannya dalam ukuran besar ke rumahnya (tertawa). Aku tidak tahu untuk apa, tapi dia pasti akan mendapat masalah dengan istri masa depannya jika memajang fotonya bersama wanita lain dengan pose seintens ini. Tapi kuyakinkan, tidak akan mudah menemukan wanita seperti Hye-Na yang bisa membuatnya melepaskan kendali diri seperti itu.

6c9ed535ffb20f922ea92dd5d30789f41 copy1

 

Ini momen lain yang kutangkap tanpa sengaja. Foto yang paling kusuka. Kebahagiaan yang terpancar. Keintiman terang-terangan. Maksudku, mereka begitu… nyaman. Tidak mudah untuk membuat Hye-Na tersenyum selebar itu atau menyuruhnya mengambil posisi semesra itu dengan pria asing. Lihat bagaimana Kyuhyun melingkarkan kaki di sekeliling tubuhnya dengan satu kaki yang berada di pahanya. Atau pelukan posesif di sekeliling bahunya. Dan Kyuhyun sama sekali tidak dalam posisi siap ketika aku mengambil adegan ini. Dia sedang memegangi satu tangan Hye-Na dan memandangi jemarinya. Dan itulah yang kusukai. Kementahan dari foto ini. Ekspresi tak terduga yang terabadikan tanpa sengaja. Tawa lepas Hye-Na. Senyum diam-diam Kyuhyun yang sedang mengagumi. Aku masih ingat betapa gemetarnya telunjukku ketika memencet tombol shutter, takut jika aku melewatkan momen ini begitu saja. Takut gerakanku tidak cukup cepat untuk mengabadikannya.

 

93bed10d2eb1b23f2d097a328cbd1f11 copy

 

Kalian melihat Hye-Na yang tersenyum lebar di sini, padahal Kyuhyun-lah yang terus-menerus menyeringai sepanjang pemotretan dan harus kuperingatkan berkali-kali. Aku ingin model pria yang tenang, menunjukkan emosi dalam keminiman ekspresi. Dia melakukannya dengan sempurna, pada akhinya, setelah hampir menyerah ketika aku menyuruhnya mencium pipi Hye-Na karena dia tidak yakin berapa lama lagi dia bisa bertahan untuk pemotretan ini. Mengutip perkataannya waktu itu, “Bisa-bisa aku lupa bahwa aku tidak benar-benar akan menikahinya. Aku nyaris yakin bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan kau sama sekali tidak menolong, Hyung”. Dan aku dengan sepenuh hati menyuruhnya mengambil langkah maju jika memang tertarik pada Hye-Na. Lalu tersadar bahwa dia sama terkenalnya dengan Hye-Na dan memiliki penggemar yang pastilah jauh lebih fanatik.

Q: Apa menurut Anda mereka benar-benar akan menjadi pasangan yang sempurna?

A: Tidak ada keraguan sedikit pun. Sayang sekali jika mereka menyia-nyiakan satu sama lain begitu saja. Tapi posisi mereka sulit. Kyuhyun adalah milik publik. Bukan situasi yang mudah baginya. Meski aku sungguh-sungguh berharap sebaliknya. Chemistry seperti itu bukan sesuatu yang kau temukan setiap hari. Hanya satu di antara sejuta, bahkan.

 

***

 

“Apa dia ini tidak terlalu banyak bicara?” komentar Hye-Na, mengembalikan ponsel yang Kyuhyun pinjamkan padanya setelah selesai membaca artikel wawancara sang fotografer. “Gara-gara dia, semua orang pasti akan mulai memata-matai kita.”

“Dia hanya mengungkapkan apa yang dia lihat,” Kyuhyun berkata dengan pandangan yang tertuju pada foto dengan ukuran superbesar yang baru saja tiba di rumah mereka dan kini sudah tergantung memenuhi satu sisi dinding kamar. Foto yang dimintanya pada Leonard Kim, yang ternyata tidak tanggung-tanggung dalam menepati janji.

“Kenapa kau suka foto ini?” Hye-Na bertanya, membiarkan Kyuhyun menariknya mendekat dan merangkulnya dengan sebelah lengan.

“Kau tidak suka?”

“Suka.”

“Karena tatapan yang kau arahkan padaku,” jawab pria itu kemudian. “Dan aku suka sekali rambutmu.”

Kyuhyun membiarkan jemarinya mengusap lengan atas Hye-Na yang telanjang dan melanjutkan, “Terima kasih, omong-omong. Atas hadiahnya.”

“Yah, aku tidak bisa memikirkan hadiah untuk ulang tahunmu dan teringat bahwa kita tidak punya foto pre-wedding.”

“Aku penasaran dengan pendapat semua orang tentang foto-foto kita. Langkah pertama yang mengejutkan, bukan?”

“Seharusnya tidak sekarang,” ujar Hye-Na, memutar tubuh hingga berhadapan dengan Kyuhyun dan melingkarkan lengan di pinggang pria itu. Tatapannya menjelajah dan keningnya berkerut dalam ketika menangkap raut letih di wajah suaminya. “Tidak saat semua orang sedang berusaha menjatuhkanmu.”

“Kupikir aku akan menyerah. Tapi hari ini sama sekali tidak buruk. Aku bisa menghadapi serangan mereka sedikit lebih lama lagi.”

Kyuhyun menyingkirkan ingatan tentang para netizen yang mencaci maki dirinya dan menuduhnya tidak sopan di salah satu sesi Radio Star dua minggu lalu dan memfokuskan tatapan ke wajah istrinya. Perlahan, napasnya tidak lagi terasa begitu sesak. Udara tidak lagi mencekiknya sedemikian rupa. Dan dia menyadari betapa pentingnya karier baginya, lalu memahami bahwa keberadaan Hye-Na jauh lebih dia perlukan daripada itu semua.

Tangan wanita itu terangkat, menyentuh pipinya, dan dia dengan refleks mencondongkan tubuh ke depan, menerima usapan itu tanpa dia sadar bahwa dia begitu membutuhkannya.

“Akhirnya aku tahu bagaimana ekspresiku saat menatapmu, karena itu aku menyukai foto itu,” ungkapnya jujur. “Karena tidak ada yang kusembunyikan. Karena aku melepaskan kendali diriku saat itu. Tahu bahwa aku menginginkanmu.” Dia tersenyum tipis. “Pemotretan itu membuatku tersiksa, di satu sisi. Kau menghambur-hamburkan pesonamu dan aku nyaris tidak bisa menahan diri. Aku hampir saja menarikmu ke lorong dan melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk konsumsi publik kepadamu.”

“Seharusnya kau lakukan saja,” ucap Hye-Na asal, membuatnya tertawa kecil.

“Dan membuat Leonard Kim itu senang setengah mati,” timpalnya.

Hye-Na menggunakan sebelah tangannya yang lain untuk menyingkirkan poni Kyuhyun dari kening dan mengeluarkan desahan lirih, tampak tidak suka dengan apa yang dilihatnya.

“Aku lelah,” Kyuhyun memberi tahu wanita itu.

“Aku tidak bisa memintamu berhenti, bukan?” balasnya. “Aku tidak bisa melakukan itu padamu meskipun aku tahu kau akan melakukannya untukku. Tapi kau tidak akan bahagia karenanya. Hal yang paling kuhindari.”

“Karena itu aku mengaku padamu.” Kyuhyun menyurukkan wajah ke pundak wanita itu. “Ucapkan kata sihirnya,” dia meminta.

“Bertahanlah lebih lama,” bisik Hye-Na.

Pria itu tersenyum diam-diam, melingkarkan lengan ke pinggang istrinya dan memberikan pelukan menyeluruh.

“Asalkan kau menjanjikan satu pelukan tiap hari padaku ketika aku pulang ke rumah.”

“Hanya itu?” Hye-Na bertanya sangsi.

“Satu ciuman juga boleh.”

“Tumben sekali kau rendah hati begitu.”

“Dan tumben sekali kau tidak langsung menerima penawaran sederhana dariku.”

“Karena permintaanmu aneh.” Hye-Na melangkah mundur agar bisa menatap pria itu. “Untuk sebuah pelukan atau ciuman, kau seharusnya tidak perlu meminta, bukan?” Hye-Na mengangkat bahu. “Seingatku, karena aku adalah istrimu, itu berarti aku sepenuhnya adalah milikmu.”

Kyuhyun menatap wanita di depannya berlama-lama. Wanita yang masih mengenakan dress selututnya sepulang kerja dan belum mandi ataupun berganti pakaian. Wanita yang merenggut penjepit rambutnya dengan asal hingga helain rambut ikal itu kini tergerai berantakan. Wanita yang lebih pendek 25 senti darinya dan dengan gigih menolak untuk berjinjit sehingga dialah yang harus mengalah dan menundukkan tubuh nyaris 900. Wanita yang… selalu berada di sisinya, seperti janji yang pernah mereka ucapkan di depan altar.

“Ayo keliling dunia,” ajaknya tiba-tiba. “Itu impianmu, ‘kan? Ayo keliling dunia berdua,” ulangnya. “Jika kau ingin melakukannya, kau harus melakukannya bersamaku.”

Jawaban yang wanita itu berikan mengejutkannya kemudian. Nyaris memakunya di tempat.

“Kenapa harus jauh-jauh?” Hye-Na memiringkan kepala. Matanya menatap pria itu lamat-lamat. “Aku sedang memandang duniaku sekarang.”

Dan dia sekali lagi jatuh cinta. Hari itu. Pada istrinya.

 

***