Amour Action

 

 

 

Jika kau bertanya padaku apakah warna favoritku hari ini, maka aku akan menjawab kuning. Itu warna gaun yang dia kenakan ketika dia akhirnya melepaskan mantel coklat muda modis yang dia pakai sebagai lapisan luar. Dan meski aku tidak pernah melihat gadis yang tampak lebih cerah dan lebih memesona lagi dalam pakaian berwarna itu, aku akan menegaskan bahwa aku masih belum jatuh cinta padanya. Meski bagian atas gaun tersebut membungkus dadanya hingga tampak luar biasa atau memeluk pinggulnya yang begitu kecil dan ramping atau memamerkan kakinya yang jenjang dan mampu membuatku meneguk ludah, aku yakin bahwa aku masih dalam tahap terkagum-kagum saja pada fisiknya.

Bahkan ketika dia mengucir rambut panjangnya dengan asal-asalan hingga aku bisa menatap wajahnya dengan lebih leluasa. Bahkan ketika aku tahu dia sesekali mencuri pandang ke arahku dengan kening berkerut dan tatapan ingin tahu. bahkan ketika keinginan untuk balas menatapnya nyaris tak tertahankan bagiku.

Karena jika aku melonggarkan kewaspadaanku, sedikit saja, maka dia akan berhasil membuatku terjungkal dan terjatuh, jika kau tahu maksudku. Dan aku sama sekali tidak menyukai gagasan itu. Tentang apa yang bisa diperbuatnya padaku.

Tanda-tandanya jelas sekali. Aku tidak pernah merasa seperti ini, terhadap gadis mana pun, pada pertemuan pertama. Apa karena dia gadis tercantik yang pernah kulihat? Mungkin. Mungkin saja. Pasti karena aku belum siap memandangi pesona yang dihambur-hamburkan sebanyak itu tanpa si pemilik fisik bahkan tersadar apa yang telah dia akibatkan.

Untuk saat ini, aku puas dengan penjelasan yang kumiliki. Setidaknya untuk sementara.

 

***

 

“Aku tidak ingin membuat keputusan sepihak hanya karena Hye-Na adalah keponakanku atau karena Seul bersikeras bahwa dialah tokoh utama wanita yang selama ini dia cari-cari, jadi aku merasa harus memanggilmu lagi untuk melakukan casting bersamanya dan melihat apakah dia bisa berakting atau tidak.”

Kyuhyun mengangguk. “Kebetulan aku juga masih di gedung ini dan tidak ada kegiatan lain, jadi tidak masalah.”

“Baiklah kalau begitu,” Jong-In berkata seraya melirik empat orang tim casting yang siap melakukan pekerjaan mereka. Dia dengan sengaja mengabaikan pelototan Hye-Na padanya dan memberi tanda pada Seul.

Seul dengan cekatan menghampiri Kyuhyun dan Hye-Na yang berdiri rikuh di samping satu sama lain itu dan menyodorkan dua buku skenario dengan sampul berwarna putih pada mereka. Dia membalik halaman hingga lebih dari separuhnya dan menunjukkan scene yang harus mereka lakukan.

“Ini salah satu scene favoritku,” ujarnya girang. “Hafalkan dialognya sebentar dan tampilkan dengan segenap kemampuan kalian.” Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “Aku sudah tidak sabar.”

 

***

 

Hye-Na berdiri di depan properti syuting berbentuk pintu yang terbuka dengan keringat dingin menetes di punggung. Dia bisa saja melupakan kehadiran tim casting, pamannya, dan Seul, tapi tidak dengan pria yang berdiri di ambang pintu, terang-terangan menunduk menatapnya. Pria tersebut memang diharuskan melakukan bagiannya seperti itu, tapi posisi itu juga membuatnya gemetaran dan panas dingin meski dia berhasil untuk tidak menunjukkannya terang-terangan. Dia berusaha untuk terus mengingat jumlah uang yang akan dia dapatkan, juga kesempatan untuk bersama pria itu selama syuting berlangsung. Siapa yang tidak ingin berada di posisinya sekarang?

Dia menyemangati diri sendiri dalam hati. Dia adalah jenis orang yang ketika memutuskan sesuatu, maka akan menyelesaikannya hingga tuntas. Yang harus dilakukannya saat ini hanyalah menyingkirkan semua kegugupannya dan mencoba untuk tidak membuat malu dirinya ataupun pamannya. Atau mengecewakan Seul yang sudah menaruh harapan besar padanya. Dia juga tidak akan rela membiarkan dirinya ditertawakan orang banyak, terutama oleh Cho Kyuhyun. Seolah itu gampang saja untuk dilakukan.

Jadi dia menegakkan tubuh, menatap langsung ke mata pria itu, dan nyaris menyerah saat itu juga. Apa ada yang bisa lolos dengan selamat setelah dipandangi seperti itu? Gadis mana yang akan ditatap pria ini dengan cara seperti itu di dunia nyata?

Dia terpesona untuk sesaat dan ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok agar dia segera mendapatkan akal sehatnya kembali, bukannya melongo mengagumi pria di depannya.

“Aku akan memintamu melakukan hal yang paling egois di dunia untukku,” dia membacakan dialognya. Menyuntikkan keputusasaan ke dalam nada suaranya. Ini adalah adegan di mana tokoh yang dia perankan meminta Kyuhyun untuk memilih, antara dirinya atau karier dan para penggemarnya, di ambang pintu masuk agensi dan di tengah orang banyak. Melakukan ini di depan beberapa orang saja sudah membuatnya ketar-ketir. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya saat syuting benar-benar dilaksanakan.

Dialognya sendiri sudah cukup menyulitkan. Dia tidak pernah harus memohon pada seorang pria. Dia bahkan tidak pernah menjalin hubungan percintaan dengan pria mana pun untuk memahami apa yang dimaksud oleh adegan ini. Yang dimilikinya hanya tekad kuat. Dan semoga itu cukup untuk meloloskannya.

“Aku tidak bisa ke sana.” Dia memberi jeda, merendahkan suara. “Bisakah kau yang ke sini saja?”

Lagi-lagi dia terpana, melihat bagaimana pergolakan batin tampak jelas dari ekspresi yang Kyuhyun perlihatkan padanya. Seakan pria itu benar-benar masuk ke dalam karakternya dan sepenuhnya menjadi orang lain. Tercabik antara dua pilihan: kebahagiaannya atau kebahagiaan orang banyak. Karena ketika dia melangkahkan kaki melewati pintu, dia bukan hanya menuju kebebasan, tapi juga kehancuran dirinya sendiri.

“Bisakah aku tidak memberimu jawaban sekarang?” Suara Kyuhyun terdengar lebih berat. “Bisakah kau memberiku waktu sedikit lagi?” dia melanjutkan. “Sebentar saja.” Hye-Na menahan napas saat mendengar nada memohon dalam dialog itu. “Lalu aku akan melangkahi batas ini dan menghampirimu.”

Hye-Na terlupa di mana dia berada dan sepenuhnya memercayai kalimat yang pria itu ucapkan. Sepenuhnya.

 

***

 

Park Seul melonjak-lonjak, menjadi orang yang bertepuk tangan paling keras di antara yang lain. Dia menghampiri Hye-Na, memeluk gadis itu erat-erat, dan dengan terharu berseru, “Aku sudah tahu kau orangnya!”

“Aku rasa aku tidak sebagus itu,” Hye-Na menimpali. Bingung.

“Tapi kau membuat Kyuhyun~ssi mengeluarkan kemampuan aktingnya dengan maksimal. Dia sudah melakukan adegan ini, puluhan kali, dengan puluhan wanita berbeda, dan tidak satu pun yang dia lakukan dengan penuh perasaan seperti tadi. Kau menemukan sakelarnya dan tiba-tiba… lampunya menyala. Ya, ‘kan?” Seul meminta pendapat Kyuhyun, yang hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan singkat.

“Apa kubilang, Gamdok~nim?” ejeknya, ditujukan pada Jong-In yang melangkah ke arah mereka.

“Ya ya.” Jong-In mencibir. “Park Seul memang selalu benar.”

Ucapan itu membuat gadis tersebut semringah.

“Bagaimana kalau kita memakai nama asli para pemain saja? Aku benar-benar jatuh cinta pada cara Kyuhyun memanggil Hye-Na. Na~ya. Ya, ‘kan?” Dia bertepuk tangan lagi. “Aku akan mengetik ulang naskahnya dan memberikannya lusa pada kalian saat script reading. Aku tidak sabar. Tidak sabar…,” senandungnya, melambaikan tangan sambil melompat-lompat pergi.

“Kadang-kadang aku mengkhawatirkan kejiwaannya. Dia sering kali terlalu larut dalam imajinasinya.” Jong-In mendesah sebelum menatap Hye-Na. “Masih banyak yang harus kukerjakan di sini. Kau mau pulang saja? Masih ingat apartemenku?”

“Tentu,” Hye-Na menjawab, kemudian menadahkan tangan. “Ongkos taksi?” tagihnya.

Jong-In mengernyitkan hidung, mengeluarkan dompetnya dari saku celana, dan menarik beberapa lembar uang.

“Kulkasmu tidak kosong, ‘kan, Samcheon?”

“Mendadak aku menyesal sudah mengisinya penuh-penuh kemarin. Aku tidak mau membuatmu merasa terlalu betah dan menganggap apartemenku sebagai rumahmu sendiri,” Jong-In berkata serius.

“Kita ini kan keluarga,” timpal Hye-Na enteng.

Seseorang menyerukan nama Jong-In dan pria itu dengan cepat berlalu pergi, tidak mau mengobrol lebih lama lagi dengan keponakan yang hanya akan membuatnya semakin sakit kepala setelah sibuk seharian. Mungkin dia harus mengganti sementara nomor ponselnya kalau-kalau kakaknya sudah mendengar aksi kabur Hye-Na dan mengarahkan kecurigaan padanya sebagai orang yang paling akrab dengan gadis itu. Benar-benar menyusahkan.

Hye-Na hanya tersenyum licik memandangi kepergian pamannya tersebut, melirik uang di tangannya dengan puas sebelum memasukkannya ke dalam tas.

“Sebelum pulang—”

Suara itu membuatnya terlonjak. Dia bahkan tidak sadar bahwa Kyuhyun masih berdiri di dekatnya.

“—mau minum kopi sebentar denganku?”

***

 

Hye-Na hanya memandangi latte-nya tanpa berniat meminumnya dalam waktu dekat. Dia terlalu gugup dan merasa tidak nyaman karena hanya berdua saja dengan pria itu di kafe lantai satu gedung yang nyaris kosong. Dia bahkan tidak percaya bahwa kepalanya mengangguk begitu saja setelah pria itu mengajukan ajakannya. Sama sekali tidak setia kawan.

Dia berdeham untuk memastikan suaranya baik-baik saja, lalu berkata, “Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?”

Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja pria itu tidak suka dipasangkan dengan amatiran sepertinya. Meski Kyuhyun belum pernah bermain drama, tapi dia berkarier di dunia hiburan. Kamera bukan lagi hal baru baginya. Berbeda dengan Hye-Na. Makanya dia sama sekali tidak memprediksi kalimat yang pria itu utarakan selanjutnya.

“Kau menyukaiku?”

“Ya?” Hampir saja dia mengucapkannya dengan nada melengking, yang berhasil ditahannya pada saat-saat terakhir.

“Bukan karena aku sok dan terlalu percaya diri, tapi gejalanya terlihat jelas sekali. Meski kau berusaha menyembunyikannya, kau masih tampak grogi ketika kita berdekatan.”

“Tidak secara khusus,” tukas Hye-Na, mencoba menyelamatkan wajahnya. “Tipe idealku adalah pria-pria tampan. Kau… yah, salah satu dari mereka.” Dia beringsut tidak nyaman di kursinya. “Apa ini ada hubungannya? Kupikir kau ingin membicarakan drama denganku.”

Dia menunggu dengan tidak sabar selagi Kyuhyun menyeruput minumannya.

“Kau tahu apa yang bisa membuat sebuah drama sukses besar?” tanya pria itu kemudian.

Hye-Na bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Dia sudah menonton begitu banyak drama dan tahu dengan jelas apa yang paling dia sukai dari drama-drama favoritnya. “Chemistry yang kuat di antara para pemainnya?”

“Benar.” Kyuhyun mengangguk setuju. “Dan untuk mendapatkan chemistry, kita tidak boleh merasa canggung terhadap satu sama lain. Yang artinya, kau harus mencari cara untuk mengenyahkan kegugupanmu setiap kali bersamaku.”

“Kau juga bersikap canggung padaku,” tuduh Hye-Na. “Apa alasannya? Karena ini pertemuan pertama kita, kau kan tidak mungkin menyukaiku juga.”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” pria itu berkata santai, menghindari menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas. “Kaulah yang kukhawatirkan.”

“Aku? Kurasa aktingku tadi baik-baik saja. Aku bisa bersikap wajar.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, tampak menimbang-nimbang.

“Mungkin,” ucapnya setelah jeda beberapa saat. “Tapi aku harus memberitahumu aturan mainnya jika kau ingin semuanya berjalan lancar.”

“Apa?”

“Tubuhmu,” Kyuhyun berkata dengan raut wajah serius, “selama syuting berlangsung, dari puncak kepala hingga ujung kaki, adalah milikku.”

Hye-Na melongo, lalu mengerjap-ngerjapkan mata, lalu menyemburkan tawa tak percaya.

“Kupikir Lee Hyuk-Jae adalah anggota dengan pikiran paling mesum di antara kalian.”

“Aku tidak pernah meminta tubuh wanita pada pertemuan pertama, Nona Han, jika itu yang kau pikirkan. Yang kumaksudkan adalah, aku tidak ingin kau tersentak dan terlonjak setiap kali aku menyentuhmu seolah aku adalah aliran listrik bertegangan tinggi. Kau harus membuat tubuhmu nyaman dan terbiasa dengan sentuhanku. Semuanya harus tampak wajar dan natural. Itulah yang dilakukan pasangan. Apa kau tidak suka nonton drama?”

Hye-Na mengangkat cangkirnya, kali ini merasa perlu untuk melegakan kerongkongannya yang kering.

“Aku mulai tidak menyukaimu,” ucapnya terang-terangan setelah mencecap minuman pesanannya yang sudah mulai mendingin. Mendadak menemukan keberanian. “Sepertinya aku mulai menyesali keputusan gegabahku untuk bermain drama bersamamu. Seharusnya kau tetap menjadi idolaku saja.”

Kyuhyun hanya diam, menunggu lanjutan penjelasannya.

“Karena kau akan tetap terlihat sempurna di mataku,” tukasnya jujur. “Karena aku tidak terlalu dalam mengenalmu, jadi tidak ada kekurangan yang tampak di mataku.”

Kyuhyun menunjukkan sorot tertarik pada topik itu.

“Kalau kau pintar, kau akan membiarkan dirimu memahami dan mengenalku lebih jauh.” Tampak jelas pria tersebut menyukai kemungkinan itu. “Seperti yang kau bilang, itu akan membantumu menemukan fakta bahwa aku tidak sempurna seperti yang kau sangka dan kau tidak akan menyukaiku lagi sebanyak yang kau lakukan sebelumnya. Itu salah satu cara agar kau bisa lolos dengan selamat saat syuting berakhir. Tidak ada perasaan yang dilibatkan. Semuanya profesional.”

“Kau hanya berpikir satu arah ya?” ejek Hye-Na. “Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Bagaimana jika aku mengenalmu lebih jauh dan aku malah semakin terpesona? Kau mau bertanggung jawab?” ucapnya blakblakan.

“Kau tidak akan melakukannya jika kau sadar di posisi mana kau berada. Kalau kau jatuh cinta padaku, kau sendirilah yang akan hancur. Kau tahu itu. Terutama karena kau memerankan tokoh yang bernasib seperti itu.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku sudah sembilan tahun berkecimpung dalam dunia ini, Nona Han. Aku sudah terbiasa melepaskan dan kehilangan banyak hal. Aku tidak keberatan kehilangan lebih banyak lagi untuk mewujudkan ambisiku mencapai puncak. Tapi kau? Kau akan kehilangan semuanya. Kalau aku jadi kau, aku akan berhati-hati.”

“Aku tahu. Kau belum pernah tersangkut skandal. Kau tidak pernah terpeleset.”

“Ya. Karena untuk melakukannya, kau harus membuatku lengah dulu. Sayangnya, aku tidak pernah kehilangan fokus. Hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan dengan banyaknya rambu larangan. Hal pertama yang berada di daftarku adalah larangan untuk jatuh cinta. Aku tidak akan menghancurkan karierku dan karier anggota yang lain hanya untuk alasan konyol seperti wanita.”

“Kau membicarakan kemungkinan tentang jatuh cinta padaku?”

“Ya. Aku memberitahumu dari sekarang bahwa itu tidak akan terjadi.”

Hye-Na bersungut. “Aku juga tidak mau kau merasakan apa pun terhadapku. Aku tidak mau terbebani. Dan aku tidak suka menjadi topik makian penggemarmu. Kau tidak sepadan dengan itu semua. Aku terlalu mencintai hidupku untuk bersedia menderita karenamu.”

“Pintar,” sahut Kyuhyun singkat.

“Lalu, kalau kau tidak menyukaiku, bagaimana kau akan berakting sempurna seperti orang yang sedang tergila-gila padaku nantinya?” Hye-Na menanyakannya hanya untuk mencegah dirinya mencekik pria di hadapannya ini untuk sementara.

“Aku tidak perlu benar-benar menyukaimu untuk itu, Nona Han. Pria bisa saja menyentuh gadis yang tidak disukainya untuk banyak alasan.”

“Pria baik-baik setidaknya megajukan syarat itu.”

“Apa aku terlihat seperti pria baik-baik di matamu?”

Hye-Na terperangah sebelum akhirnya dia berhasil membenahi ekspresinya. “Kau sungguh berbeda dengan apa yang kau perlihatkan di depan kamera,” ucapnya akhirnya.

Kyuhyun tersenyum kecut. “Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah sampai pada tahap ini, Han Hye-Na.”

Dia mengabaikan efek yang ditimbulkan suara pria itu ketika menyebutkan namanya secara lengkap. Pria ini menantangnya, mengajaknya berperang, dan terang-terangan meremehkannya. Apa pria itu benar-benar berpikir bahwa Hye-Na akan kehilangan akal sehat dan jatuh cinta pada pria sepertinya? Tunggu, mungkin sebaliknya, seharusnya dia berterima kasih pada pria itu karena telah menunjukkan belangnya lebih awal.

“Tapi, Cho Kyuhyun~ssi,” ujarnya, memutuskan untuk tidak bersedia mengalah dalam pertarungan saling menjatuhkan ini, “aku selalu menganggap diriku sebagai orang yang selalu berfokus pada satu tujuan. Aku tidak pernah menyerah dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa. Jadi kau sendirilah yang harus berhati-hati agar tidak membuatku memiliki perasaan padamu. Karena jika aku, sedikit saja, percaya bahwa aku merasakan sesuatu terhadapmu, maka aku adalah masalah yang harus kau pikirkan. Aku akan mengejarmu sampai dapat. Kau tidak akan bisa menyingkirkanku meski aku sendiri harus berdarah-darah. Bukan aku saja yang akan hancur, Cho Kyuhyun. Tapi kita. Kita akan hancur bersama-sama.”

Dia tersenyum puas setelah berhasil membuat pria itu tidak berkata-kata untuk beberapa saat.

“Aku tidak menyukai gadis sepertimu.” Kyuhyun mengatakannya dengan kening berkerut dalam.

“Aku juga tidak menyukai pria arogan yang bersikap seenaknya sepertimu. Tapi jangan buru-buru mendeklarasikan kebencianmu padaku. Karena jika kita sampai saling membenci, kita akan sering memikirkan satu sama lain, dan kita sama-sama tidak ingin itu terjadi. Benci adalah tanda-tanda awalnya. Sangat rentan, kau tahu?” Dia menumpangkan tangannya ke atas meja, memandangi pria itu lekat-lekat. Dia harus mulai belajar untuk tidak terus terpesona setiap kali wajah tersebut berada dalam jarak pandangnya.

“Ah… kuharap kau bukan pencium yang hebat.”

Sudut mulut Kyuhyun terangkat naik. “Kenapa? Kau takut tergelincir?”

“Orang bilang, ciuman akan menjelaskan segalanya. Ciuman membuatmu tidak bisa menyembunyikan perasaan.”

“Kau sudah banyak pengalaman?” Nada sinis dalam suara pria itu terdengar sangat kentara.

“Tidak. Aku belum pernah melakukannya.” Hye-Na tersenyum. “Kau akan menjadi yang pertama bagiku.”

Dengan refleks pria itu mengumpat. “Sial.”

 

***

 

“Kau baik-baik saja? Wajahmu keruh sekali,” komentar manajer Kyuhyun ketika pria itu masuk ke dalam mobil. “Bukannya kau bilang pergi mengajak gadis itu minum kopi? Siapa namanya?”

“Han Hye-Na.” Menyebut nama gadis itu mulai membut lidahnya gatal karena kesal.

“Kalau tidak salah dia gadis yang menabrakmu saat kita sedang mengobrol tadi siang, ‘kan?”

“Apa ingatanmu sebagus itu?” sahut Kyuhyun sekenanya.

“Ingatanku sangat bagus kalau menyangkut gadis yang luar biasa cantik seperti itu.” Sang manajer terkekeh sambil menjalankan mobil keluar dari pelataran gedung. “Jadi, apa yang dia lakukan hingga membuatmu tampak ingin meninju sesuatu begitu?”

Kyuhyun hanya diam.

“Padahal kupikir kau tertarik padanya. Saat Park Seul~ssi menyodorkannya tiba-tiba padamu dan menyuruhmu menatapnya, juga saat kau mengucapkan namanya, kukira ada sesuatu di antara kalian. Aku tidak pernah melihatmu seperti itu sebelumnya saat berinteraksi dengan wanita.”

“Dia cantik.”

“Kau juga berkoar ke mana-mana kalau Victoria sangat cantik dan kau terpesona padanya saat kalian pertama kali bertemu. Tapi kau tidak menatapnya dengan cara seperti kau menatap Hye-Na.”

“Memangnya aku menatapnya seperti apa?”

“Seperti kau tidak tahan ingin menyentuhnya. Seperti… ah, persis seperti yang Seul~ssi katakan. Seolah kau tidak akan bosan dan itu merupakan kegiatan yang paling kau favoritkan di dunia.”

“Kepalamu terantuk sesuatu?” dengus Kyuhyun.

“Kupikir akan terjadi jatuh cinta pada pandangan pertama.” Manajer Kyuhyun menolak untuk menyerah.

“Itu hal terkonyol yang pernah kudengar.”

“Tapi setidaknya kau tertarik pada fisiknya.”

“Itu wajar. Kau juga, ‘kan?”

“Setelah dia menatapmu? Setelah dia tersenyum padamu? Bahkan setelah dia menyentuhmu? Apa yang kau rasakan saat dia menyentuh pipimu dengan telunjuknya? Apa tidak ada… setruman?”

Tentu saja ada. Tapi ssebagai gantinya, Kyuhyun berkata, “Itu hanya ada dalam novel atau drama.”

“Apa kau tidak mau memberitahuku apa saja yang kalian bicarakan tadi?”

Kyuhyun memandangi jalanan di luar. Gedung-gedung, lampu-lampu, pepohonan, dan kendaraan yang melintas. Ada sesuatu yang mendesak untuk dimuntahkannya keluar. Sesuatu yang tidak bisa dipendamnya sendirian jika dia tidak ingin kelimpungan selagi mencoba menata perasaan.

“Nyaris,” ucapnya setelah detik-detik berlalu dalam keheningan. “Sangat nyaris,” gumamnya, lebih ditujukan pada diri sendiri.

“Apa yang nyaris?”

“Aku.” Dia mengusap wajah dengan gerakan kasar. Sikunya ditumpangkan ke pintu mobil dan jemarinya bergerak menyisiri rambut. “Jatuh cinta,” dia mengakui. “Pada gadis itu.” Dia tertawa masam. “Nyaris sekali.”

“Kau terdengar… tidak waras,” timpal sang manajer.

“Dia bilang aku harus berhati-hati agar tidak membuatnya memiliki perasaan terhadapku. Karena jika itu terjadi, dia akan mengejarku sampai dapat. Apa itu kaliamt yang biasa keluar dari mulut seorang perempuan?”

Manajer Kyuhyun melongo. “Dia pasti juga gila.”

“Dia bilang… karena drama ini, dia akan menyerahkan ciuman pertamanya padaku.” Kyuhyun mengabaikan manajernya yang kini terbatuk-batuk keras mendengar ucapannya. “Dan…, Hyung, saat itu aku dengan otomatis berpikir… sial, Cho Kyuhyun. Tamatlah riwayatmu.”

Dia menyandarkan kepala ke jendela mobil, untuk sesaat memejamkan mata.

“Kalau sudah begitu, apa yang harus kulakukan?” dia bertanya dalam nada rendah. “Aku harus bagaimana?”

 

***