Amour Action

 

 

Aku berhasil menjauh darinya selama beberapa jam berikutnya. Entah dengan bergabung bersama para kru, berbincang dengan sutradara, atau bertahan di samping manajerku yang menyebalkan.

“Kau kejam, Kyu.”

Itulah komentar yang diberikannya padaku saat dia menghampiriku setelah pengambilan adegan. Satu-satunya orang yang terang-terangan menghujat setelah detik-detik panas yang kulakukan pada Hye-Na, adegan yang dilakukan dengan melibatkan terlalu banyak perasaan.

Setelah kata CUT diteriakkan, suasana mendadak hening. Tidak ada yang bersuara, bahkan Seul, yang dalam kondisi normal pastilah sudah berteriak-teriak girang. Seolah… semua orang menyadari apa yang terjadi dan mereka memutuskan untuk menutup mulut. Dan aku sedikit bersyukur karenanya. Aku bahkan tidak bisa menghadapi diri sendiri setelah semua itu. Aku tidak yakin bisa memberi mereka jawaban yang pantas jika mereka bertanya. Bahkan sang sutradara yang notabene adalah paman Hye-Na hanya melirikku dengan mata menyipit dan tidak menunjukkan isyarat negatif tambahan saat aku mendiskusikan beberapa hal tentang adegan selanjutnya padanya.

Sedangkan manajerku? Bukankah seharusnya dia bersyukur jika artisnya tidak terlibat skandal? Kenyataannya tidak. Dia terus saja memelototiku setiap kali mendapat kesempatan.

“Sampai jumpa besok?” ucapku pelan, mengeluarkan tangan dari dalam saku celana, mengangkatnya naik untuk menyibak rambut Hye-Na ke belakang agar aku bisa menyentuh pipinya tanpa penghalang, dan mengelusnya dengan ibu jari secara perlahan.

Kulitnya terasa lembut. Bersemu merah. Dan mataku terarah pada bibirnya. Yang kucium habis-habisan beberapa jam sebelumnya. Yang masih kuinginkan sepenuhnya tanpa jeda.

“Ya,” bisiknya, menyentuh tanganku yang berada di pipinya, dan terus bergerak ke atas hingga jemari kami bertemu.

Aku mengganti posisi tanganku, menyelipkan jari-jariku hingga saling bersilangan dengan jari-jarinya, menggenggamnya untuk beberapa lama.

Mata kami bertemu dan aku tanpa sadar mencondongkan tubuh ke arahnya dan mempererat genggaman.

Sebentar lagi, aku mengajukan permohonan itu dalam hati. Aku ingin menyentuhnya sedikit lebih lama lagi.

Pamannya tidak mengabulkan dan teriakan CUT terdengar. Detik itu juga aku melepaskannya, menarik diriku menjauh secepat yang aku bisa, dan bersikap seolah semua itu tidak memberi pengaruh apa-apa.

Ya. Manajerku benar. Aku memang kejam.

Langkahku terhenti dengan paksa karena Seul telah berdiri di depanku dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya yang biasanya berbinar-binar itu kini menyorot tajam. Bibirnya menipis membentuk satu garis lurus. Jelas dia tampak berang. Jadi kupikir dia akan menyudutkanku, mencaci maki perbuatan tidak bermoralku, lalu mengguruiku tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kulakukan. Tapi dia hanya mengucapkan satu kalimat dan meninggalkanku tertegun setelahnya.

What happens in Italy,” ujarnya dengan nada memperingatkan, “stays in Italy.”

 

***

Aku duduk dengan tangan memeluk lutut di atas kursi kayu panjang di bawah naungan patio yang terletak di depan tangga menuju kamarku di lantai dua. Shooting terakhir sudah selesai dua jam lalu dan kini aku memilih untuk menyepi sendirian di tempat ini sambil menikmati senja, menolak untuk bergabung dengan para kru yang berkumpul di ruang makan penginapan untuk merayakan kepulangan kami besok ke Korea.

 

8

 

Langit Otranto sore ini berwarna oranye pekat. Warna yang sama yang juga membanjiri halaman, membuat dinding-dinding bangunana yang berwarna pink muda ikut berubah warna menjadi lebih tua.

Aku memikirkan banyak hal. Tentang diriku yang kebas saat pengambilan adegan ketika tokoh yang kuperankan menyadari bahwa dia telah ditinggalkan tanpa peringatan atau pesan apa-apa setelah melewatkan hari menakjubkan bersama pria yang dijatuhinya cinta pada pandangan pertama. Adegan itu terasa begitu nyata hingga aku terlalu menghayati saat memainkannya. Dan setelahnya, aku terus menghindari Seul yang memandangiku dengan tatapan prihatin seakan dia memahami apa yang sedang terjadi.

Aku memikirkan tentang ciuman itu. Tentang sentuhan jemarinya di pipiku, cengkeramannya di pinggangku, atau napasnya di mulutku. Juga tatapan matanya dan suaranya yang pelan, nyaris seperti bisikan, seolah dia sedang mengucapkan sesuatu yang rahasia, yang hanya kami berdua saja yang tahu.

Aku menyukai tekanan bibirnya, keseluruhan tubuhnya yan terasa tepat ketika kami berpelukan, dan ujung hidungnya yang membelai rambutku ringan. Aku menyukai sinar matahari yang tampak silau dari balik punggung lebarnya, genggaman tangannya, dan bahkan tinggi tubuh kami yang berjauhan. Cara dia menunduk ke arahku, tubuhnya yang condong ketika berbicara padaku, dan sentuhan-sentuhan kecilnya yang seolah tidak disengaja setiap kali kami berdekatan.

Dan dia yang langsung menarik diri ketika kata CUT diteriakkan.

Mungkin saja karena aku tidak punya perbandingan lain hingga menganggapnya begitu menarik. Mungkin saja karena aku tidak pernah disentuh pria lain sehingga aku merasa berdebar-debar hanya karena bahu kami bersinggungan saat berpapasan. Atau mungkin saja karena itu… dia.

Aku membacanya dalam halaman-halaman novel yang kukoleksi satu rak dinding penuh. Telah melihatnya pula dalam cuplikan-cuplikan adegan film yang memenuhi memori komputerku di rumah. Tentang percikan, daya tarik kuat sejak pertemuan pertama. Semuanya, biasanya, berakhir bahagia. Yang kurasa tidak akan terjadi pada kami berdua. Terutama jika dia terus kabur setiap kali melihatku, seolah aku ini hantu.

Aku menoleh ketika mendengar suara langkah menuruni tangga di samping kananku. Melebarkan mata saat menyadari bahwa dia ternyata juga tidak bergabung dengan yang lain.

Dia berhenti di anak tangga terakhir, tampak tertegun melihat keberadaanku yang hanya berjarak dua meter di depannya. Setelah dia menghindariku seharian, tentu saja pertemuan tidak disengaja ini sama sekali tidak dia prediksi.

Aku membaringkan sisi kepalaku ke atas pangkuan tanganku yang masih memeluk kaki, menghadap secara menyamping ke arahnya. Menungggu.

Kupikir, dia akan melanjutkan langkah dan berjalan melewati patio begitu saja, berpura-pura tidak melihatku seperti yang sejauh ini dia lakukan dengan sukses besar. Tapi dia tidak memalingkan wajah. Dia menatapku terang-terangan. Karena tidak ada orang lain di sekitar kami, kurasa.

Dia memasukkan tangan ke dalam saku, berjalan lurus menghampiriku. Dengan refleks aku menegakkan tubuh. Kakiku menapak lantai, tanganku meremas bahan gaunku yang mengambang di sisi kiri kanan tubuh. Jantungku mendadak berulah, seperti yang selalu terjadi jika dia berada dalam radius jangkauan tangan, dan, tentu saja, aktivitas pernapasanku jauh dari kata lancar.

Dia berhenti tepat di hadapanku sehingga aku terpaksa mendongak untuk membalas tatapannya. Sekali lagi, matahari mengintip dari balik tubuhnya. Kemarin fajar. Sekarang senja. Tidak ada yang lebih kufavoritkan karena jelas aku menyukai keduanya. Terutama panas yang menguar dari tubuhnya yang berbalut kemeja biru langit dan celana santai selutut.

Aku bisa mencium aroma sabun mandinya dari jarak sedekat ini. Wangi cologne bercampur pembersih pakaian. Dan rambutnya yang hanya disisir tangan. Kupikir begitu, karena poninya jatuh menutupi kening dalam posisi berantakan, saling tumpang tindih satu sama lain.

Dia maju selangkah hingga kaki kami bersentuhan dan tanpa peringatan menyentuh rambutku yang terurai sehingga kesiap pelan meluncur dari celah bibirku yang terbuka. Dia menahan beberapa juntai dengan empat jari dan mengelusnya dengan ibu jari, bergerak turun perlahan, dan di waktu yang bersamaan, aku menahan napas.

“Apa yang akan terjadi padamu,” bisiknya serak degan bola mata yang tampak menggelap, hampir sewarna dengan langit yang sudah berangsur menghitam di belakangnya, “jika aku tergelincir?”

Aku tidak menyangka bahwa kalimat semacam itulah yang keluar dari mulutnya dan leherku mulai terasa sakit karena terus mendongak sedangkan aku sama sekali tidak ingin momen ini berhenti dan melihatnya melangkah pergi. Sayangnya, mulutku sama sekali tidak mau berkompromi.

“Aku akan menangkapmu.”

Dan untaian rambutku seketika itu juga terlepas dari belitan jemarinya.

 

***

 

Aku mengubah posisi tidur berkali-kali, bolak-balik ke sana kemari dengan tidak nyaman, menggeram kesal dengan membenamkan wajah ke bantal, lalu menendang selimutku ke lantai. Menyebalkan. Aku benar-benar gagal saat mencoba tidur sejak tujuh jam yang lalu. Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi dan aku akhirnya menyerah. Mataku jelas menolak untuk ditutup dan hanya tersisa lima jam lagi sebelum kami berangkat ke bandara dan pulang ke Korea. Mungkin aku bisa tidur di pesawat. Kalau aku tidak duduk bersebelahan dengannya.

Aku bangkit dari ranjang, mengenakan sandal kamar, dan menarik kardigan rajut yang kusampirkan di sandaran kursi. Aku bisa berjalan-jalan sebentar, menunggu hingga waktu sarapan tiba, dan memutuskan untuk mengkhawatirkan kantong hitam di bawah mataku nanti saja.

Aku membuka pintu. Dan di sanalah dia. Bersandar ke dinding, menghadap ke arahku dengan kepala yang dimiringkan. Dia sama sekali tidak tampak terkejut, seakan dia memang sudah menunggu kedatanganku, sedangkan aku nyaris saja mati berdiri, terpaku dengan tangan masih mencengkeram pegangan pintu.

“Aku bertanya-tanya apakah aku harus mengetuk pintu kamarmu atau tidak,” ucapnya, dengan suara pelannya yang biasa. “Atau mungkin aku harus kembali ke kamarku dan mencari pelampiasan lain untuk menahan diriku menemuimu.” Dia menegakkan tubuh. “Kau membantuku mengambil keputusan.”

Apa lagi yang pria ini inginkan dariku?

What happens in Italy,” ujarnya, “stays in Italy.”

Aku mengerjap, semakin gemetar ketika dia mengulurkan tangan, dengan telapak menghadap ke bawah. Dan aku terus memperhatikan jemarinya yang panjang, yang memanggil-manggil untuk disentuh.

Aku menelan ludah.

“Ayo kencan denganku,” ucapnya kemudian. Dan mungkin saja alasan aku meraih tangannya adalah untuk menyeimbangkan tubuhku yang terhuyung maju. Untuk berpegangan agar aku tidak terjatuh.

Tangannya hangat. Jemarinya memegangiku dengan erat. Dan sentuhannya terasa mantap.

Aku rela memberikan apa saja agar bisa menggenggam tangan itu lebih lama.

 

***

29

Kami duduk di atas dua kursi malas yang ditarik berdekatan di tepi kolam renang penginapan. Dia duduk sambil memeluk lutut, menghadap ke arahku. Dan aku duduk di pinggir kursiku, menghadap ke arahnya. Lututku menekan sisi kursinya saking dekatnya jarak di antara kami, dan jelas tidak ada di antara kami berdua yang keberatan dengan posisi ini.

“Apa warna kesukaanmu?” Aku meendengar diriku bertanya, menahan tangan di sisi tubuh agar tidak bergerak menggapainya. Mungkin aku berencana menyentuhnya. Ya, jelas aku sangat ingin menyentuhnya. Tapi nanti. Beberapa menit lagi. Butuh pengendalian diri yang sangat kuat untuk menunda terwujudnya keinginanku itu dan aku mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk melakukannya. Penantian itu terasa panjang, sekaligus memuaskan. Penantian yang pasti setara dengan hasilnya.

“Hampir semua warna. Kecuali pink.”

“Kau sering memakai warna itu.”

“Tidak. Yang kupakai biasanya warna peach, salem, dan padanan warna merah muda lainnya. Pria seringnya tidak tahu perbedaan warna.”

Aku tidak mendebatnya.

“Kau suka bunga?”

“Ya.”

“Tapi kau tidak suka mawar?”

Senyum bermain di sudut bibirnya. Sebelah alisnya terangkat naik.

“Karena sepertinya kau tidak menyukai hal-hal yang lazim disukai perempuan normal lainnya,” tebakku.

“Lalu apa yang kau sukai?” tanyanya ingin tahu. Aku sontak menggeleng.

“Kau bisa mencari tahu apa pun tentangku di internet. Aku membawamu ke sini bukan untuk menyia-nyiakan waktuku menjelaskan tentang diriku padamu.”

Jadi aku bertanya padanya tentang segala hal yang terpikirkan olehku di waktu kami yang terbatas. Tentang buku-buku, film-film, negara-negara yang ingin dia kunjungi, makanan dan minuman yang dia suka dan tidak sukai, tentang masa kecilnya yang menarik minatku, tentang ketidaknyamanannya menjadi pewaris kekayaan keluarga yang melimpah, Apa saja, sselain pembahasan tentang ketertarikan di antara kami berdua. Tentang hubungan tarik ulur yang kulakukan dengan sangat tidak adil terhadapnya.

Harus kuapakan dia?

Dia menyadarinya, karena setelah aku puas dengan penjelasannya tentang impiannya menjadi seorang penulis, dia dengan ringan berkata, “Kau jelas berpikir bahwa ini semua… kita, tidak akan berhasil. Ya, ‘kan?”

“Ya,” ucapku jujur.

“Dan kau tidak akan memberitahuku alasannya.”

“Tidak.”

“Tapi bukan karena kau tidak menginginkanku?”

Aku tertawa masam. “Apa perlakuanku padamu kemarin masih belum cukup memperlihatkan?”

“Jadi karena kau tidak bisa? Karena ada sesuatu yang menghalangimu?”

Aku tidak menjawab. Hanya mencukupkan puasa sementaraku untuk menyentuhnya.

Aku menangkap kakinya, menariknya merapat ke arahku, dan mendengar desisan kaget terlontar dari mulutnya. Aku merasakan lembutnya kain gaun semata kaki yang dia kenakan; kuning, dengan motif bunga liar berwarna ungu dan biru, dan sulur-sulur hijau daun yang cantik. Aku nyaris selalu menanti-nantikan gaun seindah apa lagi yang akan membalut tubuhnya, menebak-nebak warnanya, dan hanya bisa tersenyum ketika akhirnya melihat dia dalam pelukan gaun koleksinya yang beraneka warna. Pilihannya selalu menarik. Dan selalu menyejukkan mata.

Dia setengah duduk di pangkuanku. Kakinya terjulur melingkari pinggangku dan tanganku merangkul pinggangnya yang ramping. Aku masih saja terkejut menyadari betapa mungilnya dia dalam pelukanku. Betapa berlekuknya bagian-bagian tubuhnya dan betapa menggairahkannya aroma yang tercium dari lekuk lehernya.

Aku mendekatkan wajah hingga ujung hidung kami bersentuhan. Sebelah tanganku bergerak naik menyusuri lengannya, menyentuh kulitnya yang lembut dan menguarkan aroma lotion cherry blossom, terus bergerak ke bahu, sisi leher, sebelum akhirnya menangkup rahangnya. Aku menunduk, menyadari deru napasnya yang memberat, lalu memiringkan kepala, menyentuhkan bibir ke pipinya, ke sepanjang sisi kiri wajahnya, dan mendengarnya menelan ludah.

Tangan kiriku memegangi sisi wajahnya yang lain, dengan ujung jemari yang menyusup ke balik helaian tebal rambutnya yang tergerai, selagi aku menunda-nunda menyentuh bibirnya.

Aku bersabar, terus menggoda dengan mengecup pundaknya, menyisakan bibirnya untuk penutup dan dia menunjukkan ketidaksabarannya dengan mencengkeram ujung kemejaku, menarik-nariknya gelisah.

Aku membenamkan hidung ke cekungan lehernya, dengan lega menarik napas di sana saat semburat lili yang familier itu menghantam indra penciumanku. Ada banyak aroma. Dari buah hingga bunga, dari lili hingga stroberi. Semuanya berbaur dan membentuk wangi yang memabukkan. Parfumnya, samponya, lotion-nya, pewangi pakaian, harum samar sabun cair, dan aroma tubuh gadis itu sendiri. Aku nyaris mengerang, meninggalkan jejak panas di setiap inci kulitnya yang kulewati, mengabaikan fakta bahwa detak jantungku yang begitu keras bisa saja terdengar olehnya.

“Kau akan menyiksaku berapa lama lagi?” dia bertanya dengan nada frustrasi, membuatku otomatis tergelak dan menyapukan kecupan kecil ke kulit di bawah daun telinganya.

“Sebentar lagi,” bisikku.

Dia menolehkan wajah dan bibirku yang sedikit terbuka menyentuh bibirnya ringan. Tanpa tekanan, hanya bersentuhan di permukaan. Kemudian aku memberi kecupan sekilas, menjauhkan bibir, mengangkat kedua tangan untuk menangkup wajahnya dan mengarahkannya ke posisi yang aku inginkan. Dan memberi satu kecupan lain.

Aku menelan ludah. Menghela napas di mulutnya, dan akhirnya memberinya ciuman yang lebih sungguh-sungguh. Menekan, menguasai, dan menuntut. Sesuatu yang melibatkan lidah dan eksplorasi menyeluruh di dalam rongga mulut. Jenis ciuman yang menghancurkan kedua belah pihak. Jenis ciuman yang akan menjadi pembanding untuk ciuman-ciuman selanjutnya. Jenis ciuman yang tidak akan terlupakan dengan mudah.

Ciuman itu panas sedari awal dan baru melembut ketika dia membalas. Aku menurunkan intensitasnya, memperlambat gerakan. Yang mana pun dari keduanya sama memuaskannya bagiku.

Ciuman itu awalnya hanya coba-coba. Dimaksudkan untuk mencari tahu apakah hasratku masih sama besarnya seperti saat kami belum berciuman atau telah memudar karena kami sudah pernah melakukannya dan rasa ingin tahuku telah terjawab. Kenyataannya tidak. Saat aku akhirnya membuka mulut dan menekankan bibir dengan lebih agresif ke bibirnya, percikan itu masih sama dahsyatnya seperti kali pertama.

Langit di belakang kami mendadak terang. Matahari sudah mulai mendaki naik, Aku bisa merasakan teriknya di punggungku. Waktu kami habis.

Untuk terakhir kalinya, aku menekankan bibir dalam-dalam ke bibirnya, memegangi lengan atasnya, dan menggeser wajah hingga bibirku berada di dekat telinganya. Pipi kami bergesekan dan aku bisa merasakan tekstur kulit wajahnya yang lembut di kulitku. Kulit yang kini terasa hangat dan nyaman.

Aku mengetatkan rahang, mengatupkan bibir, dan berbicara dengan intonasi jelas. Hanya dua kata. Dua kata yang akan mengahncurkan segalanya.

“Lupakan aku.”

Itu perkataan paling kejam dan kebohongan paling besar yang pernah terucap dari mulutku. Sampai kapan pun.

 

***

 

Lagi, dia menghindariku. Kali ini terang-terangan, dengan menukar posisi duduknya di pesawat dengan Seul, yang dengan baik hati memilih tidak banyak bertanya. Hanya menepuk punggung tanganku sekilas dan mulai sibuk dengan pensil dan naskah di tangannya.

Pria itu sudah melangkah di luar batas dan tampak tidak paham bahwa aku benar-benar serius dengan ucapanku pada pertemuan pertama kami waktu itu. Apa setelah melakukan semua itu padaku dia berpikir bisa lolos begitu saja? Lucu. Entah apa yang ada di otaknya itu.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Masih sekitar sepuluh jam lagi sebelum mendarat. Masih sepuluh jam lagi baginya untuk mengira bahwa permasalahan telah selesai dan dia berhasil mendepakku.

Masih sepuluh jam lagi bagiku untuk balas menjungkirbalikkan hidupnya. Masih sepuluh jam lagi sebelum dia harus bertanggung jawab atas semuanya.

Aku menyunggingkan senyum. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Dan meskipun menyebalkan, aku terkadang bisa menjadi orang yang sangat sabar jika memang merasa perlu melakukannya.

Jika seseorang itu menurutku memang layak untuk ditunggu.

 

***

 

Aku menyampirkan tali ransel ke pundak, bergabung dengan penumpang lainnya yang telah lebih dulu turun dari pesawat, dan baru akan menyusul manajerku saat sepasang tangan tiba-tiba menyergapku dan menyeretku ke sudut, ke balik tanaman hias tinggi yang menutupi kami dari pandangan orang-orang yang berlalu lalang.

“Apa?” ketusku. Seharusnya aku tidak memilih turun belakangan demi menghindari berdesak-desakan dengan yang lain kalau aku tahu inilah risikonya.

“Aku tahu apa yang sedang kau lakukan.” Dia sama sekali tidak bisa berbasa-basi. “Kau mendorongku menjauh. Kau bersikap kejam padaku karena kau pikir dengan begitu kau bisa menyakitiku dan membuatku membencimu, cara tercepat yang bisa kau pikirkan untuk membuatku enyah. Kuberi tahu kau, usahamu gagal.”

Kenapa gadis ini begitu keras kepala?

“Aku di sini untuk membuat penawaran,” lanjutnya, tahu bahwa dia telah mendapatkan perhatian penuh dariku.

“Selama shooting berlangsung, jadilah milikku.” Alisku terangkat naik mendengar kalimatnya. “Manfaatkan aku sepuasmu. Kau bisa bicara padaku tentang apa saja. Dan kau bisa menyentuhku kapan pun kau mau. Aku bisa menyentuhmu kapan pun aku mau.”

Entah kapan dia menyusun semua kalimat penuh bujuk rayu itu. Entah dia cerdas atau malah sangat bodoh.

“Pada akhir perjanjian, kita akan tahu apakah itu hanya ketertarikan sementara dan kita dengan cepat menjadi bosan dan tidak lagi saling menginginkan atau… jika itu tidak terjadi, akulah pihak yang akan mengambil keputusan selanjutnya. Bukan kau.”

Dia menatapku tajam. Raut wajahnya sangat serius dan yang kuinginkan adalah mengelus pipinya karena dia tampak begitu menggemaskan dengan semua arogansi dan kekeraskepalaannya itu.

“Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Aku tahu ada alasan kenapa kau mencoba untuk menahan rasa tertarikmu padaku dan mencegahku mendekat. Dan aku tidak keberatan jika kau tidak memberitahuku. Aku akan mencari tahu sendiri. Dan jika, jika dalam masa perjanjian kita aku menemukan alasannya, dan aku bisa menerimanya, maka aku tidak akan mempersulitmu. Tapi jika aku menemukan sedikit celah saja yang memberiku alasan untuk tetap mempertahankanmu, maka aku akan menjadi pihak yang berjuang. Untuk kita.”

Tangannya mengepal, wajahnya mendongak untuk menatapku, dan dia nyaris berjinjit di atas high heels sepuluh sentinya yang runcing.

“Jadi,” ucapnya penuh tekanan, “berhentilah menarik ulur perasaanku. Kalau kau tidak berani mengambil risiko, akulah yang akan melakukannya dan bertanggung jawab atas diriku sendiri.”

Raut wajahnya berubah mengancam dan… sekali lagi, aku jatuh cinta padanya.

“Karena tidak semudah itu, Cho Kyuhyun,” desisnya. “Kau tidak bisa menyingkirkanku semudah itu.”

***