Amour Action

 

 

Aku sama sekali tidak berencana melakukannya. Maksudku kejadian di pesawat itu. Pada awalnya aku tertidur nyenyak, berencana mengabaikannya sepanjang perjalanan. Lalu detik berikutnya aku terjaga, dan di sanalah dia. Tidak sampai satu meter jaraknya. Menatapku dengan mata coklatnya yang besar. Begitu dekat, hingga aku bisa menghirup wangi tubuhnya yang memikat. Sesuatu seperti lili dan semburat manis lain yang tercium samar dari rambutnya yang tergerai.

Itulah penyebab utamanya, aku yakin. Dan aku ingin menyalahkan otakku yang masih separuh aktif setelah bangun tidur untuk tindakan tidak pantas yang kulakukan setelahnya. Aku hanya ingin menyentuhnya saja. Nyaris tak tertahankan rasanya melihat helaian rambut ikal tebalnya berada dalam jarak hanya beberapa senti dari jangkauanku. Juga kulit putihnya yang kemerahan, yang seolah merayu untuk disentuh. Begitu dekatnya dia, hingga aku bisa melihat gerakan denyut nadi di lehernya. Dan sebelum aku tersadar, jemariku sudah menyentuh sudut cekung di lehernya, menyentuh tulang selangkanya, menyelip ke balik helaian rambutnya, dan menangkup tengkuknya.

Bukannya berhenti, aku malah melanjutkan lebih jauh dengan mencondongkan tubuh, lupa menarik napas ketika aromanya tercium lebih pekat. Stroberi. Aroma manis dari rambutnya itu berasal dari sampo stroberi, aroma yang biasa terdapat pada bayi-bayi dan para balita. Dan, entah bagaimana, aroma itu terasa jauh lebih menggoda daripada wangi parfum mewah yang kebanyakan dipakai para wanita di sekelilingku.

Dia tidak mendorongku menjauh. Hanya diam di tempat, seakan jika dia membuat gerakan sedikit saja, sihirnya akan lenyap tiba-tiba.

Yang dia lakukan hanya memandangiku, tanpa merasa perlu menyembunyikan sesuatu dari tatapannya yang ekspresif itu. Aku tahu maknanya. Sesuatu tentang merindukan. Sesuatu yang juga kurasakan sekarang.

Aku merasa terpapar. Tahu bahwa aku tak sempat memasang topeng yang biasa kupakai setiap kali berhadapan dengannya. Dia bisa melihatku. Dan itu bukan sesuatu yang ingin aku perlihatkan padanya. Aku mengutuki kendali diriku yang lemah, hasratku yang begitu besar, dan ketertarikanku yang begitu kuat terhadapnya. Aku membenci bagian diriku yang menyukainya, bagian yang sama sekali tidak bisa kukendalikan.

Seandainya dia muncul satu tahun lebih awal. Seandainya pemilihan waktunya tepat. Seandainya tidak ada sesuatu yang menghalangiku, maka aku akan mendekatinya dengan pantas, sesuai yang kuinginkan. Sesuai yang patut dia dapatkan. Aku akan menindaklanjuti ketertarikanku padanya. Aku akan berusaha mengenalnya, mencari tahu apa saja kesukaannya, memahami kepribadiannya. Dia datang terlambat.

Dan aku muak berpikir tentang seandainya.

***

Kami mengambil adegan pertemuan pertama di hotel tempat kami menginap. Di mana karakter yang kuperankan sedang berlibur bersama manajer dan beberapa orang teman dan ditantang untuk mengajak karakter yang diperankan Hye-Na untuk berkencan. Dan aku tidak bisa menahan diri saat kalimat ajakan itu terlontar dari mulutku dengan begitu bersungguh-sungguh. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, karena aku dimaksudkan untuk mengucapkannya dengan nada enggan dan tidak suka.

Jong-In Gamdok~nim memanggilku seusai shooting untuk membicarakan sesuatu. Kupikir dia akan mengomentari kemampuan aktingku, jadi aku benar-benar terenyak saat dia malah membuka percakapan dengan kalimat yang sangat mengejutkan.

“Aku tidak percaya akan ada saat di mana aku memberi tahu seorang pria cara mencium keponakan perempuanku dengan benar. Pria yang bahkan bukan kekasihnya.”

Tidak.

Aku tidak tahu bahwa aku telah mengucapkannya dengan bersuara sampai menyadari tatapan Jong-In Gamdok~nim dan keningnya yang berkerut saat bertanya, “Apanya yang tidak?”

“Maksudku, akan ada adegan ciuman? Aku tidak melihatnya di naskah.”

“Tentu saja tidak. Itu disengaja. Kau dimaksudkan untuk menciumnya tiba-tiba, jadi kami akan mendapatkan ekspresi kaget yang bagus dari Hye-Na.”

“Secepat ini?”

“Adegan di Italia ini adalah adegan flashback, jadi baru akan ditayangkan pada episode kedua atau ketiga.” Pria itu menggelengkan kepala. “Lucu. Aku tidak pernah mendengar ada aktor yang menolak adegan ciuman. Mereka biasanya bahkan sangat bersemangat.”

Membayangkan itu langsung membuat kepalaku seperti ditusuk-tusuk. Aku, yang awalnya merasa aman karena berpikir baru akan perlu melakukan adegan itu setelah kami syuting selama satu atau dua bulan, jelas tidak siap. Sama sekali.

“Apa yang harus kulakukan?”

Jong-In Gamdok~nim membalik-balik naskah, menunjuk salah satu deskripsi adegan.

“Di sini. Kau membantunya berdiri dan alih-alih melepaskannya setelah itu, kau… yah, menciumnya.”

Aku benar-benar merasa tidak nyaman saat bertanya, “Seperti apa? Ciuman diam? Bergerak?”

“Kau kan tahu drama kita akan tayang di tvN. Punya referensi?”

Pria di depanku jelas tidak ingin membicarakannya dengan blakblakan.

“Ya,” aku bergumam.

Dan tubuhku panas dingin seketika.

***

Hye-Na menyibakkan tirai, membuka jendela kaca besar yang memberi pemandangan ke tangga dan taman di kejauhan, bertepatan dengan saat Kyuhyun, yang mendapat kamar di sebelahnya, menuruni tangga.

Pria itu berbalik saat mendengar derak jendela yang dibuka dan menghentikan langkahnya di anak tangga kedua. Hye-Na mengangkat alis, berdiri canggung dalam balutan flower dress selututnya yang berbahan tipis. Semakin mengerutkan dahi ketika pria tersebut bukannya melanjutkan langkah, tapi malah berbalik arah menghampiri, berdiri di depan bingkai jendela yang setinggi badannya.

Pria itu mengenakan mantel tebal yang tampak hangat, terutama dalam suhu cuaca yang hanya 13 derajat Celcius, meski masih terhitung lebih hangat daripada musim dingin di Korea. Tangan kirinya terbenam dalam saku mantel dan dia berdiri menghadap Hye-Na, menatap gadis itu lekat-lekat.

Hari masih sangat pagi dan mereka baru akan berangkat ke lokasi syuting dua jam lagi. Hye-Na sendiri baru selesai mandi dan berganti pakaian, bermaksud menikmati pemandangan matahari terbit—yang sudah agak terlambat—sebelum turun untuk sarapan. Kini, dia hanya bisa memandangi langit yang tampak kekuningan di balik punggung pria itu dan sinar matahari yang memantul ke kaca, memberi ilusi menyilaukan.

Dia sibuk memikirkan suhu yang tiba-tiba terasa lebih hangat ketika Kyuhyun mendekat, saat pria itu tiba-tiba menunduk ke arahnya, menyejajarkan tubuh mereka, dan mencondongkan wajah sedemikian rupa hingga dia nyaris mengira pria itu akan menciumnya.

Tanpa basa-basi, pria itu berkata, “Jadi aku harus menunduk sejauh ini agar bisa sejajar denganmu?”

Napas pria itu beraroma mint dan dia tidak bisa berpikir.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Suara Seul terdengar dari balik tubuh Kyuhyun yang langsung menegak kembali. Pria itu bersikap normal, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.

“Mengajaknya sarapan.”

Dia mendengar pria itu berkata, di balik debar jantungnya yang bertalu-talu memenuhi gendang telinga.

Pria yang membuatnya kebingungan dengan sikapnya yang berubah-ubah tanpa peringatan. Sesaat menjauh, lalu mendekat di detik berikutnya. Jika ini terus berlanjut, dia harus segera mengonfrontasi pria itu kalau tidak ingin terjadi apa-apa pada hatinya.

 

***

 

Hal yang paling menyebalkan adalah bahwa kalimat terpanjang yang diucapkan pria itu padaku terjadi pada saat shooting. Dia dan dialognya. Aku dan dialogku. Itulah saat-saat normal ketika kami bicara pada satu sama lain tanpa nada sinis, saling mencurigai, ataupun menahan diri.

Aku menyukai momen-momen singkat itu. Ketika dia harus memandangiku, mengamati gerak-gerikku sesuai arahan naskah. Ketika dia melakukan improvisasi sendiri dengan melakukan sentuhan-sentuhan kecil yang masih membuatku merasa disetrum, tapi berhasil menenangkan diri untuk tidak terlonjak di saat-saat terakhir. Ketika aku bisa balik memandanginya, menyentuhnya, meski hanya gesekan pakaian atau tangan yang tanpa sengaja beradu.

Saat senja tiba, kami sudah dua jam berada di Torre Guaceto, pantai terpencil yang sangat indah dan dikelilingi bukit-bukit pasir dan batu karang, untuk pengambilan adegan kencan satu hari. Kami diarahkan untuk menunjukkan ketertarikan yang terjadi dalam waktu singkat antara kedua peran utama. Hal yang tidak sulit untuk dilakukan. Kebanyakan kami hanya membutuhkan satu kali take dan Jong-In Samcheon langsung mengangguk puas.

Aku berada dalam surga pribadiku, untuk sementara waktu, tanpa tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan menit berikutnya.

Bahkan meskipun aku tahu, aku yakin masih belum bisa mempersiapkan diri. Momen satu itu memang tidak dimaksudkan untuk dirancang. Hanya terjadi begitu saja. Dan sudah kuharapkan sejak lama.

 

***

Denyut jantungku sudah tak menentu sejak setengah jam terakhir, seiring mendekatnya waktu adegan ciuman tersebut harus dilakukan. Hye-Na sendiri tampak santai. Tentu saja karena dia tidak tahu apa-apa. Akulah yang harus melakukan segalanya nanti. Dan aku tidak bisa berhenti berpikir akibat apa yang harus kutanggung setelah hal itu terjadi. Aku sangat mudah goyah. Aku bisa saja menyerah. Yang jelas tidak boleh kulakukan.

Langit berwarna oranye kemerahan, membias di permukaan laut yang transparan. Udara menjadi lebih dingin dan aku ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.

Aku mengucapkan dialogku, bangkit dari duduk, menepuk bagian belakang tubuhku yang penuh pasir, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Tadi pagi aku sudah mengira-ngira sejauh apa aku harus membungkukkan tubuh untuk menggapainya. Sekarang, hampir sekujur tubuhku gemetar, penuh antisipasi. Aku hanya perlu menariknya, merenggut tubuhnya mendekat, dan menciumnya. Mudah dilakukan, karena tubuhnya yang mungil dan ringan. Yang tidak kuprediksi adalah api yang langsung membakar saat itu juga.

Aku tidak melakukannya dengan lembut. Mengingat Jong-In Gamdok~nim menjelaskan bahwa ciuman ini dilakukan karena menumpuknya ketertarikan dalam hitungan jam selama tokoh yang kami mainkan berkencan, jadi kuanggap tokoh yang kumainkan memang mengharapkan ledakan.

Akulah yang meledak, tepatnya.

Aku mendesakkan bibir bawahku ke sela bibirnya, mengulum bibir atasnya, dan membuat kepalanya tersentak ke belakang. Tekanan yang kuberikan membuat tubuhnya terhuyung mundur. Dia dengan refleks meraih bajuku untuk berpegangan dan aku dengan spontan menahan pinggangnya dengan jari yang menekuk ke dalam, menariknya ke arahku hingga tubuh kami menempel dengan tepat, hanya terpisahkan oleh bahan tipis pakaian yang kami kenakan.

Semuanya terasa membara dan suhu tubuhku dengan cepat memanas. Bibirnya terasa manis akibat jejak jus jeruk yang diminumnya tadi. Aku mencecapnya, membuka mulut, dan menciumnya persis seperti yang kubayangkan dalam imajinasi kotor yang tidak sepatutnya melintas di otakku tentang gadis yang seharusnya kudorong jauh-jauh.

Tangan kananku bergerak dari pinggangnya ke rahang, merangkum wajahnya di antara telapak tanganku yang memegangi kedua belah pipinya yang memerah dan hangat. Dan aku memperlambat gerakan. Memisahkan bibir selama sepersekian detik untuk memberinya kesempatan menarik napas, menggantinya menjadi kecupan-kecupan kecil hanya supaya aku dapat terus menciumnya tanpa henti.

Dan saat itulah situasi berubah. Dia belajar begitu cepat, meresap semuanya ke dalam otak, dan mempraktikkannya seketika itu juga.

Dia, yang tadinya diam, kini menekankan bibirnya ke bibirku, membuka mulutnya sedikit lebih lebar, dan menggesekkan bibirnya dengan intens. Ciuman balasannya terasa menggebu, membuatku kewalahan, dan berusaha memperlambatnya dengan menggigit bibir bawahnya ringan, menahan geramanku sendiri di mulutnya.

Sisi warasku menunggu teriakan CUT dari sang sutradara yang tampaknya membiarkan kami berbuat lebih jauh. Bagian diriku yang lain ingin tetap melakukan ini, mengecap rasanya lebih dalam, mendekap tubuhnya lebih lama. Aku bisa melakukan ini seharian dan aku tahu itulah yang kuinginkan. Dia yang bergayut padaku, kukunya yang dihunjamkan ke punggungku, desahan kecil yang terlontar dari mulutnya tanpa sengaja, yang semoga saja tidak tertangkap mikrofon besar di atas kepala kami. Dan rambutnya. Ya Tuhan, rambutnya, yang kini kulilit dengan jemari dan aroma memabukkan tubuhnya yang memenuhi indra penciumanku, seperti aroma daging panggang yang diayunkan di bawah hidung orang yang sedang melakukan diet ketat selama berbulan-bulan.

Aku tidak sadar dengan apa yang telah kulakukan hingga dia terkesiap ketika lidahku, entah bagaimana, sudah menyentuh lidahnya, dan aku tersentak mundur bertepatan dengan teriakan CUT yang sudah begitu terlambat.

Aku menatapnya. Terlalu kacau untuk mengucapkan sesuatu untuk memperbaiki sikapku yang melanggar batas barusan.

Dialah yang mengeluarkan suara duluan.

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku,” ucapnya dengan nada rendah. “Kau tidak seharusnya menciumku seperti itu dan berkata bahwa kau tidak menginginkan apa-apa dariku. Aku sudah memperingatkanmu.”

Dan aku tahu bahwa riwayatku sudah tamat. Detik itu juga.

Aku jatuh cinta padanya. Sialan, tentu saja aku jatuh cinta padanya. Dan kini, aku tidak bisa berbalik. Semua pintu telah tertutup. Aku terjebak.

Dan aku masih ingin menyelamatkannya.

“Kau seharusnya kabur,” bisikku tak kalah pelan. “Lihat? Sekarang aku harus bertanggung jawab, bukan?” Aku memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali. “Aku akan meremukkanmu, Na~ya,” aku mengucapkannya dengan nada gemetar. “Kau akan ikut hancur bersamaku.”

“Sudah terlambat bagiku untuk mundur, bukan?” ujarnya.

Dan, saat ini, yang kuinginkan adalah mengguncang-guncang tubuhnya agar pikirannya kembali normal.

Lalu memeluknya erat-erat.

Tanpa perlu lagi melepaskan.

 

***