3

 

 

November 4, 2015

 

“Aku akan sampai di sana besok sore. Sekitar pukul tiga atau empat. Aku tidak akan melewatkan konsermu.”

“Awas saja kalau kau sampai terlambat. Apa kau tidak sadar seberapa penting konser besok untukku?”

“Aku tahu, Cho Kyuhyun. Makanya aku menggeser semua jadwalku agar bisa pulang ke Korea demi datang ke konsermu.”

“Kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku.”

“Apa kita akan mulai bertengkar sekarang? Dengan topik yang sama? Karena kalau iya, aku akan meluangkan waktu untukmu.”

“Tidak.”

“Bagus. Sekarang tutup teleponnya dan tidurlah. Kau tidak mau memamerkan tampang kusutmu itu kalau besok memang hari spesial untukmu.”

“Aku tahu. Kau mulai kedengaran seperti Ajumma-Ajumma cerewet.”

“Aku masih 24!”

“Tahun depat umurmu akan seperempat abad, Hye-Na sayang.”

“Aku benci padamu!”

Seiring kalimat itu, saluran telepon terputus dan aku menatap layar ponselku sambil menyunggingkan senyum.

Saat itu, aku tidak tahu bahwa itulah kalimat terakhir yang diucapkannya padaku. Bahwa dia membenciku. Meski itu hanya lelucon. Meski itu tidak diucapkannya dengan sepenuh hati. Itu tetaplah kalimat terakhirnya untukku.

***

 

November 5, 2015

04:00 PM KST

Aku menutup mata sesaat. Menghitung mundur dalam hati. Empat jam lagi konser solo resmi pertamaku akan digelar dan aku merasa seluruh adrenalinku terpacu, membuatku merasa terlalu bersemangat dan cemas di saat yang bersamaan. Kecemasan yang tidak ada hubungannya dengan kegugupan ataupun ketakutanku bahwa konser tidak akan berjalan lancar. Kecemasanku berhubungan dengan kekhawatiranku karena istriku masih juga belum menghubungiku sampai sekarang dan keberadaannya tidak terlihat di mana-mana meski aku telah berulang kali menghubungi ponselnya ataupun ponsel ibuku, yang berjanji akan segera meneleponku jika Hye-Na telah sampai di area konser.

Jariku mengetuk-ngetuk paha dan aku bersenandung pelan, menyanyikan lirik salah satu lagu yang akan kubawakan dengan hati yang masih tidak tenang. Aku mungkin memang sangat protektif pada Hye-Na, tapi kali ini rasanya berbeda. Rasanya ada yang salah. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Dan level kekhawatiranku jauh lebih tinggi daripada biasa. Ini pertama kalinya dia tidak mengangkat telepon dariku. Dan, melihat angka yang ditunjuk jarum di arloji yang melingkari pergelangan tanganku, aku tahu bahwa dia seharusnya sudah sampai di Korea.

Pintu ruang gantiku menjeblak terbuka dan manajerku berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Perutku mulai menggeliat gelisah.

Dia tidak berkata apa-apa. Hanya mengambil remote televisi dari atas meja di depanku dan memencet tombol on. Breaking news yang ditayangkan tiap jam kini tampil di layar. Awalnya yang tampak adalah wajah sang pembaca berita, yang kemudian berganti dengan video kecelakaan pesawat di lintasan bandara. Kesalahan saat mendarat. Roda pesawat yang tidak keluar. Hilangnya keseimbangan. Tubuh pesawat yang patah jadi dua. Pusaran api besar. Asap hitam yang membubung. Kru penyelamat yang berhamburan saat ledakan kedua terjadi. Dan suara si wanita pembawa acara yang mengabarkan bahwa diduga keras tidak ada penumpang yang selamat dari tragedi tersebut.

Aku mencerna semuanya dengan sangat baik. Pikiranku terpusat penuh. Otakku menyerap setiap detailnya dengan sempurna. Dan aku tetap duduk diam di tempatku. Tidak berkomentar apa-apa. Suhu ruangan mendadak terasa begitu dingin dan membuat beku.

“Aku akan mengurus semuanya. Aku akan menyiapkan kendaraan dan memanggil orangtuamu. Aku juga akan menghubungi pihak bandara. Kau… jangan pergi ke mana-mana.”

Aku tidak mengangguk. Juga tidak menggeleng. Mataku masih terpaku pada layar yang sama. Pada asap tebal yang masih membubung. Pada puluhan orang yang berusaha memadamkan api. Pada ruangan yang mendadak hening. Pada suhu yang tiba-tiba dingin. Dan pada tulisan kapital di bagian bawah layar, PESAWAT RUTE NEW YORK-SEOUL MELEDAK SAAT MENDARAT DI INCHEON.

Pintu ruangan kembali terbuka. Aku tidak tahu siapa yang masuk. Tidak benar-benar peduli. Bahkan ketika orang-orang itu memelukku. Bahkan ketika mereka menyuarakan tangis yang bahkan sedikit pun tidak keluar dari mulut ataupun kelenjar air mataku.

Aku seperti manekin rusak. Seperti raga yang baru kehilangan jiwa. Seolah ada seseorang yang menekan tombol off pada jantungku dan aku mati tiba-tiba.

Rasanya persis seperti itu.

 

***

 

Puluhan jam kemudian, aku duduk di depan altar yang penuh bunga, meengelilingi satu pigura besar yang menampilkan foto Hye-Na. Mengenakan setelan berkabung terbaikku, persis seperti yang kukatakan padanya saat itu. Saat dia bertanya apa yang akan kulakukan jika dia mati lebih dulu.

Aku tidak ingat bagaimana aku berganti pakaian. Mungkin ayahku yang membantu, atau mungkin HyungHyung-ku. Aku juga tidak mengacuhkan orang-orang yang hilir mudik, bergantian memberikan penghormatan dan menaruh bunga. Aku tidak mencoba menghentikan isakan keras kakak dan ibuku. Aku tidak bicara dengan siapa pun. Aku menikmati keheningan duniaku dengan takzim, seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Seolah itu hanyalah ruangan kosong dan aku dengan leluasa menatap wajah cantik yang tersenyum di foto, memandangi matanya yang menyipit, dan lesung yang muncul di pipinya yang kemerahan. Aku bahkan tidak tahu dari mana mereka mendapatkan foto itu. Mungkin dari salah satu wawancara saat istriku tidak sadar kamera membidik wajahnya. Dia jarang sekali tersenyum lepas ketika dipotret. Dia dan fobianya yang aneh itu.

Aku mengelus cincin kawinnya yang kini berada dalam genggamanku. Mereka tidak memperbolehkan kami melihat mayatnya. Mereka bilang tubuhnya hancur, seperti tubuh-tubuh penumpang lain yang terbakar karena ledakan. Dia salah satu yang diidentifikasi pertama karena hanya ada delapan penumpang di kelas bisnis dan semuanya adalah pegawai yang ikut pulang bersamanya ke Korea. Mereka menyewa semua kursi. Hanya ada dua orang wanita di sana. Dan, satu-satunya benda miliknya yang bisa mereka kembalikan kepadaku hanya cincin kawin yang melekat di jari manisnya saja.

Aku merasa dadaku sesak dan akhirnya teringat bahwa aku sedari tadi menahan napas. Jadi aku membiarkan paru-paruku berfungsi kembali dan menghirup oksigen yang kubutuhkan. Hanya tarikan ringan. Hanya sebentar. Sekadar syarat untuk tetap bernapas. Lalu kembali terpekur menatap kilauan berlian di telapak tanganku.

Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa aku di sini. Mengapa keluargaku yang memberi penyambutan dan menerima tamu. Mengapa member grupku ikut berbaris di sampingku seakan-akan kami adalah keluarga dekat dari pewaris terakhir Han Group. Mungkin aku baru saja menjatuhkan bom lain ke publik setelah tragedi kecelakaan pesawat yang menghebohkan itu. Inilah yang akhirnya membuat rahasia kami terkuak. Inilah akhir dari karierku. Mungkin itulah yang mereka pikirkan.

Yang kupikirkan adalah hal lain. Fakta bahwa ternyata perkiraanku sangat salah selama ini. Kupikir aku akan menangis meraung-raung menghadapi kematiannya. Kupikir aku pasti akan terlepas dari kesedihan dalam rentang waktu beberapa bulan dan melanjutkan hidup. Hidup yang tidak akan lagi sama, tapi masih bisa diteruskan hingga akhir. Pada kenyataannya, hingga detik ini aku tidak menjauhkan setetes air mata pun. Otakku menolak untuk memproses. Seluruh tubuhku mati rasa. Aku yakin bahwa aku mungkin tidak akan merasakan sakit fisik jika seseorang berusaha melukaiku saat ini. Sakit yang kuhadapi secara psikis sudah berada dalam level yang kelewatan, hingga aku tidak lagi bisa merasakan apa-apa sekarang. Dan visi tentang melanjutkan hidup terasa begitu konyol saat ini. Bagaimana caranya? Aku terus bertanya-tanya. Bagaimana caranya, saat bahkan tubuhku sendiri menolak untuk mengakui bahwa dia sudah pergi?

Aku bangkit berdiri. Seharusnya aku tidak di sini. Aku tidak ingin berada di sini.

***

 

“Apa benar Anda telah menikah dengan Han Hye-Na selama lima tahun, Cho Kyuhyun~ssi?”

“Bisa Anda beri sedikit komentar tentang tragedi ini?”

“Di mana Han Hye-Na~ssi akan dimakamkan dan apakah kalian akan membiarkannya diliput seperti pemakaman orangtuanya dulu?”

“Apa yang akan Anda lakukan setelah ini? Apa Anda akan tetap melanjutkan karier di dunia entertainment atau menjadi pewaris berikutnya dari Han Group?”

Aku menghentikan langkah, menatap dengan pandangan menusuk ke arah pria yang dengan berani-beraninya menanyakan pertanyaan tidak berperasaan tersebut. Aku merasakan keinginan mendesak untuk menonjok wajahnya dan sedikit mematahkan hidungnya, tapi seseorang segera memegangiku dan menarikku untuk melanjutkan langkah masuk ke dalam mobil.

“Jangan,” bisiknya.

Aku merunduk, mengambil posisi di kursi belakang pengemudi, dan mendengar pintu ditutup. Semua keributan itu terperangkap di luar dan duniaku kembali diam.

 

***

 

Aku berbaring di ranjang kami. Di sisi sebelah kiri, karena dia selalu berbaring di sisi sebelah kanan. Aku mengambil posisi menyamping, berbantalkan sebelah lengan, dan menutup mata. Mencoba mengingat. Merasakan. Dia yang akan menyusup ke sisiku, membaringkan kepalanya ke atas lenganku yang terentang, kasur yang sedikit melesak, hela napasnya yang begitu dekat, dan wangi tubuhnya yang beraroma lili. Kemudian aku membuka mata.

Dia di sana. Berbaring di sampingku. Dengan rambut tergerai berantakan, sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman, dan matanya yang menatapku dengan binar bahagia. Aku mengangkat tangan, menyusuri pipinya, menyentuh anak rambutnya, menghayati keberadaannya. Dia tampak nyata. Dia ada. Aku bisa melihatnya.

Dan aku jatuh tertidur. Dengan perasaan sedikit lebih baik daripada sebelumnya.

***

 

Mataku masih kering, bahkan ketika tanah mulai dilemparkan ke atas peti matinya. Bahkan ketika kayu berpelitur itu tidak lagi tampak. Bahkan ketika orang-orang mulai beranjak dan aku menjadi manusia terakhir yang tetap bertahan di sana.

Hujan turun setelahnya. Dan aku membiarkan curahan airnya membasahiku, mengaliri wajahku untuk menggantikan air mata yang tidak kunjung menetes jatuh.

Beranjak senja, aku melangkah meninggalkan makamnya. Tempat yang kurasa akan terus kudatangi setiap hari. Seperti apa pun cuacanya. Seperti apa pun kondisinya. Karena di mana pun dia, itulah definisi rumah yang selama ini kutahu.

Bagiku, sekarang, makamnya adalah tempatku pulang.

 

***

 

Aku menyeduh teh, menuangkannya ke cangkir, dan membawa cangkir beserta tatakannya ke meja makan yang diletakkan di samping jendela. Di luar salju turun. Jam menunjukkan pukul delapan. Seperti yang selalu kulakukan selama satu bulan terakhir, aku akan duduk selama satu jam, lalu tepat saat jarum jam menunjuk angka sembilan, aku akan berangkat ke makam. Aku akan berada di sana hingga pukul sepuluh, kembali ke rumah, lalu menunggu sore datang. Pukul lima aku akan kembali ke sana, dan menghabiskan waktu di makamnya hingga senja. Itu caraku mengawali pagi dan itu pula caraku mengakhiri hari.

Matahari bersinar redup. Langit tampak muram. Dan aku menatap ke kursi di seberangku. Menatapnya, yang selalu muncul dengan gaun putih selutut dan rambut tergerai. Tersenyum. Bayangan terbaik yang bisa kuhadirkan tentangnya.

Dia ada di saat aku berangkat tidur. Dia ada di saat aku membuka mata. Dan selalu ada ketika aku ingin melihatnya. Bahkan meskipun tidak ada satu kenangan pun yang pernah kami habiskan di vila ini.

Aku pindah dari rumah kami ke vila yang terletak di kawasan pemakaman keluarga milik keluarganya yang tidak pernah ditempati. Ini memudahkanku untuk bertemu dengannya. Lagi pula, tinggal di rumah kami dulu membuatku merasa tercekik. Aku bisa menghadapi imajinasiku tentangnya. Bayangan keberadaannya. Aku hanya masih belum siap dengan serbuan kenangan. Tempat itu dengan terang-terangan meneriakkan kenyataan bahwa dia tidak lagi ada. Kekosongannya terasa nyata. Semua dinding-dindingnya mengimpitku dan aku hampir-hampir tidak bisa bernapas di dalamnya.

Tidak ada yang mencegahku ataupun berusaha menghentikan kelakuanku. Mereka seakan memberiku waktu. Mungkin mereka pikir beberapa bulan akan cukup. Sama sekali tidak, tapi aku tidak berusaha meyakinkan mereka. Aku tidak yakin pada diriku sendiri, juga tidak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku berada dalam kondisi di mana kehadiranku tidak baik bagi orang lain. Aku mengeluarkan aura kesedihan, aku membuat suasana di sekelilingku muram. Aku nyaris tidak pernah bersuara. Sendiri, bagiku, adalah satu-satunya solusi yang kumiliki kini.

***

 

“Hari ini daisy,” ucapku sambil meletakkan buket bunga berwarna putih-kuning itu ke atas pusaranya.

Aku selalu membawakan bunga yang berbeda tiap hari. Apa pun, kecuali mawar. Dia selalu menganggap bunga itu pasaran.

“Salju,” ujarku lagi. “Kau tidak pernah suka salju.”

Aku terdiam. Kami terdiam. Dia duduk di hadapanku dengan kaki terlipat, lutut memangku dagu.

“Aku harus bagaimana?”

Aku selalu bertanya padanya di setiap akhir kunjungan. Dan dia tidak sekali pun memberiku jawaban.

***

 

Langkahku terhenti di depan pagar. Ada seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu rumah. Dia mengenakan setelan resmi. Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini.

“Cho Kyuhyun~ssi,” dia menyapa saat menyadari kehadiranku.

Aku membuka pagar, menghampirinya, dan berdiri di hadapannya. Sedikit menganggukkan kepala sebagai balasan.

“Aku pengacara keluarga Han. Aku ke sini ingin membacakan surat wasiat.”

Aku membiarkannya masuk, sedikit terkejut saat mendapati bahwa Hye-Na telah menuliskan surat wasiat yang selama ini tidak kuketahui keberadaannya. Kami duduk di ruang tamu dan aku membiarkannya menjelaskan beberapa peraturan hukum dasar, mendengarkan sambil lalu detail-detail kekayaan yang ditinggalkan Hye-Na seluruhnya untuk keturunan kami, yang karena belum kami miliki akhirnya berada sepenuhnya di bawah tanggung jawabku. Aku baru memberi pria itu konsentrasi penuh ketika dia menyerahkan sebuah amplop kepadaku. Surat yang dituliskan Hye-Na beberapa hari sebelum kecelakaannya. Surat yang ditujukannya padaku.

Dengan tangan gemetaran, aku meraihnya. Kali ini, dia akhirnya memberiku jawaban.

 

***

 

Apakah kau ingat pada malam di mana aku bertanya padamu tentang apa yang akan kau lakukan seandainya aku meninggal duluan? Ingatan itu terus menggangguku dan akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan surat ini beberapa hari setelahnya. Mungkin karena aku takut jika itu menjadi kenyataan dan aku tidak sempat meninggalkan apa-apa untukmu.

Berapa umurmu saat ini? 50? 60? Kuharap, kau tidak lebih muda daripada itu. Kuharap, aku tidak meninggalkanmu segera setelah surat ini dibuat. Kemungkinan itu membuatku ketakutan. Kau masih terlalu muda. Kau sendirian. Kita belum memiliki anak. Aku tidak bisa menghancurkanmu seperti itu.

Jika kau sudah lebih tua, jauh lebih tua kuharap, aku bisa meninggalkanmu dengan tenang. Kau akan memiliki anak-anak, kau akan dihibur oleh cucu-cucu kita. Kau akan baik-baik saja. Jika kau masih muda, jika kau masih terlalu muda, itulah yang kukhawatirkan.

Inilah salah satu alasan kenapa aku ingin segera memiliki anak darimu. Jika salah satu dari kita pergi terlebih dulu, tidak akan ada yang kesepian. Kita akan tetap memiliki tujuan hidup. Kita akan tetap berusaha untuk hidup. Jika tidak… jika tidak… dua kata ini terus menghantuiku, membuatku setengah mati ketakutan akan kemungkinannya.

Jika aku meninggalkanmu saat hubungan kita masih belum terkuak ke publik, kehancuran yang kau hadapi akan menjadi dua kali lipatnya. Media akan menghabisimu dan publik mungkin sedikit merasa kasihan, tapi setelah itu, rasa terkhianati akan lebih dominan. Dan, entah bagaimana, kurasa kau tidak akan memedulikan itu semua.

Sempat terpikir olehku bahwa mungkin kau akan mengambil alih perusahaan dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Membuat dirimu sesibuk mungkin hingga tidak memiliki waktu tersisa untuk mengingatku. Tapi aku mengenalmu, bahkan saat kau belum bisa mengenali dirimu sendiri. Kau berkata bahwa kau akan melanjutkan hidup. Menurutku, Cho Kyuhyun, kau, kemungkinan besar, tidak akan melakukan itu. Kau tidak akan menangisiku. Tidak ada lagi emosi yang bisa diperas keluar darimu. Kau mati rasa. Kau akan mendatangi makamku setiap hari. Mungkin kau akan pindah ke vila keluargaku agar bisa lebih mudah melakukannya. Karena berada di rumah kita hanya akan membuatmu tersiksa. Aku tahu itu semua benar dan bahwa itulah tepatnya yang akan kau lakukan. Karena, jujur saja, itulah yang akan terjadi padaku ketika kau tidak lagi ada.

Aku tidak bisa melarangmu. Itu hakmu. Tapi hakkulah untuk memberimu pilihan-pilihan. Jika kondisi kita terbalik, aku tidak akan pernah mencari penggantimu, jadi aku tidak akan menyarankan itu karena itu berarti aku seorang munafik. Surat ini salah satu caraku untuk meringankan bebanmu sedikit. Aku tidak akan menyuruhmu menyimpannya karena kau sudah pasti akan melakukannya tanpa perlu kuperintahkan.

Ambil waktu sebanyak mungkin. Bersedihlah selama yang kau inginkan. Ingat aku setiap hari. Lalu bangunlah. Kemasi barang-barangmu, kembali ke peradaban, dan lakukan sesuatu. Untuk orangtuamu, kakakmu, atau setidaknya untukku. Apa pun yang kau inginkan. Apa pun yang tidak membuatmu terbebani dan merasa tidak nyaman. Berkencanlah sesekaliatau mungkin tidak. Temui banyak orang. Buat mereka terpesona. Buat aku bangga. Jangan jadikan aku sebagai alasan kehancuranmu. Aku tidak ingin menjadi orang seperti itu untukmu. Aku ingin menjadi alasan di balik kesuksesanmu, di balik kebangkitanmu. Dengan keberadaanmu, orang-orang juga akan tetap teringat padaku. Sebagai orang yang menguatkanmu. Sebagai kenangan yang terus kau jaga hingga akhir. Seperti itulah aku ingin semua orang mengenalku. Bahwa aku milikmu. Bahwa kau milikku. Dan akan terus begitu. Selalu seperti itu.

Datangi makamku sesekali. Setiap akhir bulan mungkin? Bawakan aku bunga. Kenakan setelan terbaikmu. Dan tersenyumlah untukku.

Hiduplah, Cho Kyuhyun. Karena dengan begitu, untuk sementara, aku juga akan tetap hidup bersamamu. Sedikit lebih lama.

***

 

“Bangun bangun bangun! Ini hari besar! Aku bahkan bangun duluan.”

Celotehan itu memenuhi kamar, diikuti serbuan aroma kopi dan semburat lili.

Aku membuka mata. Semuanya begitu terang karena cahaya matahari. Tapi ini kamar kami. Ini kamar yang kukenali.

“Kau mau kopi?” Seseorang membungkuk di atasku. Suaranya terdengar begitu familier. “Jam berapa kau harus berangkat?”

Aku menyipitkan mata. Mengedip. Berusaha melihat. Dan berulang kali pun aku melakukannya, pemandangan di depanku tetap sama. Han Hye-Na. Dengan rambut dikucir kuda dan gaun rumah berwarna kuning muda. Jauh berbeda dengan bayanganku tentangnya dengan rambut tergerai dan gaun putih selutut. Ingatanku tentangnya seharusnya tidak pernah berubah, tidak memiliki variasi.

Aku duduk, menariknya ikut duduk bersamaku, dan memegangi lengannya. Terasa padat. Begitu nyata.

“Tanggal berapa sekarang?” Aku mengucapkannya dengan berbisik, dengan nada tergesa, tidak sabar mendengarkan jawabannya.

“5 November, Kyu. Kau tidak tiba-tiba amnesia, ‘kan?” Hidungnya mengernyit. “Dan kau menyakiti lenganku,” lanjutnya.

Tanganku seketika gemetar. Tubuhku menggigil dan aku nyaris gagal mengendalikan diri. Aku mendekapnya erat, membenamkan wajah ke pundaknya, lalu menangis di sana. Akhirnya, kali ini, aku benar-benar menumpahkan air mata.

“Ya Tuhan, kau kenapa? Mimpi buruk? Kau aneh, tahu tidak?” Tapi dia mengucapkannya sembari menyusurkan jemari di rambuku, membuat gerakan mengelus yang samar dan terasa menenangkan.

Aku mengayun tubuhnya dalam pelukanku. Aku berusaha mendapatkan setiap detail tentangnya. Menghirup setiap aroma, menyentuh setiap jengkal kulit, merasakan bobot tubuhnya, dan mendengarkan detak jantungnya. Dia nyata.

“Aku perlu melihatmu,” ucapku serak, menjauhkan tubuhnya sedikit agar aku bisa memandang wajahnya. Dia duduk diam, membiarkanku.

“Kau tampak… terguncang,” katanya setelah beberapa saat. Tangannya terulur, menyapu air di sudut mataku, lalu menangkup pipiku dan mengelusnya dengan ibu jari. “Kau mau memberitahuku?” bisiknya.

Aku meraup jemarinya. Menggenggamnya. Menyentuhkan telapaknya ke bibirku dan menghirup napas di sana. Wangi stroberi.

Aku menatap matanya. Dia menunggu. Jadi aku memajukan wajah, hingga pipi kami bersisian, dengan lenganku melingkari pinggangnya.

“Dalam mimpiku,” ucapku tersendat, “kau mati.”

Jari-jarinya mencengkeram kausku. Lama. Lalu, dia membalas pelukanku. Lebih erat. Dia memiringkan wajah, mengecup kelopak mataku yang basah, dan berkata, “Tapi aku di sini. Bersamamu. Sekarang.” Bibirnya menyentuh pipiku. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

“Kau tidak akan ke mana-mana?” Ketakutan terdengar jelas dalam suaraku.

“Saat ini tidak.” Dia memberi jarak di antara kami. Matanya menemukan mataku. “Tapi aku tidak bisa terus selamanya bersamamu. Kau tahu itu.”

“Aku tahu.” Aku mengangguk. “Dan tetap saja aku takut.”

Sorot yang sama terlihat dari matanya.

“Aku juga,” balasnya.

Aku menghela napas. Kami menghadapi kekhawatiran yang sama. Tapi setidaknya saat ini dia ada. Bersamaku. Aku bisa melihat ataupun menyentuhnya. Dan di saat-saat seperti inilah aku merasa hidup. Sepenuhnya.

***

Empat jam menuju konser. Tidak ada pintu yang menjeblak terbuka. Wajah pucat pasi manajerku. Ataupun televisi yang menyiarkan berita kecelakaan pesawat. Istriku ada di suatu tempat di gedung ini bersama keluargaku dan aku tidak perlu mencemaskannya. Aku sedikit bisa bernapas lega karena itu.

Di depanku, tergeletak beberapa lembar kertas kosong dan sebuah pena. Aku hanya memandangi benda-benda itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangkat pena dan mulai menggoreskan coretan. Tinta hitam di atas lembaran putih.

 

Aku bermimpi tentangmu. Tentang kau yang meninggalkanku. Begitu buruknya hingga aku memutuskan untuk menuliskan surat ini. Kau akan mendapatkannya setelah aku mati, yang, semoga saja, tidak usah terjadi. Maksudku, aku tidak ingin mati lebih dulu darimu.

Tapi aku bukan Tuhan, Na~ya. Bukan kuasaku untuk menentukan kapan aku atau kau akan mati. Kita hanya bisa bersiap-siap sebelumnya. Berjaga-jaga. Memikirkan segala kemungkinan.

Setelah ini, aku akan berusaha membuatmu hamil—tidak usah tertawa. Aku akan memberimu anak yang kau inginkan—jangan salah paham, aku jelas juga menginginkannya—agar tidak ada yang kesepian jika salah satu di antara kita harus meninggalkan yang lain lebih dulu. Secepatnya kita akan mencari cara untuk memberi tahu publik tentang hubungan kita—ya, aku tidak mau kau menghadapi kemurkaan mereka seorang diri kalau-kalau aku mati duluan.

Lalu, apa yang harus kukatakan untuk mencegah dirimu menghancurkan diri sendiri jika aku mati nanti? Maksudku, aku tidak akan ada di sana untuk menghentikanmu dan kau jelas terlalu keras kepala untuk mau menuruti perintahku. Kau tidak akan mencari pria lain meskipun aku menyuruhmu—bukan berarti aku akan melakukannya. Kau tidak akan berhenti menangisiku. Kau akan mengurung diri di rumah, hanya keluar untuk mengunjungi makamku. Kau akan berhenti makan, semakin kurus, dan menyedihkan. Kau benar-benar wanita yang menyulitkan, kau tahu?

Tapi biar kuberi tahu kau sesuatu yang tidak kau tahu. Ini sesuatu yang kau tuliskan dalam suratmu untukku—dalam mimpiku. Kau menyuruhku untuk hidup. Kau tidak ingin menjadi alasan kehancuranku karena itu hanya akan merusak image-mu—yang ini kutambahkan sendiri. Jadi, intinya, aku ingin mengatakan hal yang sama. Jaga kenangan tentangku baik-baik. Ingatkan orang-orang tentang alasan kenapa mereka mencintaiku dulu, dengan mencintai dirimu sendiri. Karena dengan begitu mereka akan melihat dirimu yang kulihat. Akan memahami alasan yang membuatku rela melepaskan semua yang kumiliki untuk bersamamu. Karena dengan begitu mereka akan mencintaimu, sama seperti aku.

Tapi yang kuinginkan adalah menjadi seseorang yang kau tinggalkan, Na~ya. Karena aku tidak ingin menajdi seseorang yang meninggalkanmu. Ya, pasti aku sudah gila. Aku sedikit banyak mendapat gambaran tentang akan seperti apa aku jika kau tidak lagi ada. Itu gambaran yang mengerikan. Buruk. Sangat buruk. Keji, menurutku. Aku tidak bisa menggambarkannya dengan tepat untukmu saking mengerikannya bayangan itu. Tapi, sungguh, aku bersedia menghadapinya sekali lagi. Aku bersedia kehilanganmu sekali lagi. Aku bersedia menjalani neraka itu. Untukmu. Jika itu berarti membuatmu tidak perlu merasakan kehancuran yang sama sepertiku.

Pada akhirnya ini bukan surat yang baik. Mungkin aku akan menghancurkan surat ini dan menulis yang baru lagi nanti.

Hari ini konser solo pertamaku dan aku malah menangisimu. Mungkin ini baik juga, untuk penghayatan lagu-laguku yang sendu. Mungkin juga aku akan sedikit berlinang air mata saat menyanyi nanti.

Dan mungkin, mungkin saja, kehadiranmu di konserku akan menimbulkan skandal. Untuk kali ini, biarkan saja. Biarkan saja. Karena sudah waktunya mereka tahu. Sudah waktunya bagiku untuk terang-terangan menyatakan kepemilikanku atasmu.

 

***