Amour Action

 

 

Hal pertama yang kuperhatikan setiap kali bertemu dengannya adalah gaun yang dia kenakan. Aku berasumsi bahwa dia memiliki lemari tersendiri yang berisi gaun-gaun selutut koleksinya dalam gradasi warna-warni yang indah. Yang kesemuanya dijahit khusus sesuai lekuk badannya, untuk menunjukkan semua kelebihan yang dia punya. Bukannya aku mengeluh. Meski kadang terasa sangat mengganggu, Han Hye-Na adalah pemandangan yang mengagumkan. Aku tidak akan berkata sebaliknya.

Hari ini dia mengenakan gaun berwarna biru kehijauan. Warna yang mengingatkanku pada pantai-pantai di Maladewa. Sesuatu yang paling kusukai dari gaun-gaunnya adalah kainnya yang tampak lembut, melayang mengikuti setiap gerakannya, dengan cara yang elegan dan mewah. Aku tahu dia adalah keponakan sang sutradara, yang berarti dia adalah anak Han Seuk-Gil dan merupakan satu-satunya pewaris Han Group. Dengan kata lain, garis hidupnya telah menetapkan dia sebagai triliuner sejak lahir. Jadi tidak heran jika penampilannya tampak anggun dan mahal, sesuai dengan status keluarganya.

Yang tidak kuprediksi adalah sifatnya. Cara dia bersikap. Kata-kata sinis tanpa saringan yang dengan mudah keluar dari mulutnya. Berkebalikan dengan pembawaannya yang tampak feminin.

Dia jujur saat berkata bahwa secara umum dia menyukai pria-pria tampan. Dia tersenyum terlalu lebar pada Donghae dan dengan cepat mereka akrab selama pengenalan para pemain dan proses reading yang berlangsung setelahnya. Mungkin karena mereka memiliki kisah tersendiri dalam skenario yang Seul siapkan. Mungkin karena gadis itu memang tidak memiliki kesulitan bergaul dengan orang baru. Mungkin… yang menggangguku adalah fakta bahwa Donghae, yang biasanya pemalu terhadap wanita, bisa dengan mudah tertawa dan mengobrol dengan seorang gadis yang baru dia temui selama setengah jam.

Mungkin… yang lebih menggangguku adalah kenyataan bahwa gadis itu hanya menyapaku dengan anggukan sekilas dan tidak bicara lagi denganku setelahnya. Dan seharusnya… aku merasa senang, bukannya kesal. Bukankah lebih baik jika kami bersikap profesional saja? Aku mulai kebingungan dengan diriku sendiri. Dengan apa yang sebenarnya kuinginkan. Ditambah penderitaan tambahan dari manajerku yang dari jauh terus mengamatiku sambil tertawa menyebalkan. Seharusnya malam itu aku tidak usah buka mulut dan mengakui apa yang kurasakan padanya. Benar-benar tidak setia kawan!

Kemudian Hye-Na yang duduk di sampingku bergeser untuk mengambil pensilnya yang terjatuh. Awalnya dia hanya menjangkaukan tangan ke lantai untuk meraih benda itu, tapi, seolah berpegangan padaku adalah gerakan refleks yang tidak dia sadari, dia menangkupkan jemari di tanganku, membungkukkan tubuh, mengambil pensilnya, dan kembali menjauh untuk melanjutkan obrolannya dengan pemain lain seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Masalahnya, terjadi sesuatu padaku. Aku melupakan segalanya. Manajerku yang menyebalkan, Donghae yang mendadak ramah dan mudah berteman, dan Hye-Na yang tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku dalam empat puluh lima menit terakhir. Kini, aku sibuk memikirkan debaran jantungku setelah sentuhan singkat jemarinya di punggung tanganku barusan.

Rasanya seperti kembali ke sekolah menengah. Masa di mana hal-hal seperti ini lumrah terjadi. Sembilan atau sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, sekarang aku adalah pria dewasa. Tidak seharusnya aku dibuat bingung dengan kejadian ini. Tidak seharusnya perasaanku berada di luar kendali. Tidak seharusnya aroma lili dan gesekan kulit membuatku gemetar dan tersentak.

Terjadi sesuatu. Aku tahu. Sesuatu yang selama ini kuhindari. Sesuatu yang berusaha kuabaikan sebisaku, selama yang aku mampu.

Aku menyisir rambut dengan jari, melirik manajerku yang memandangiku dengan kening berkerut—jelas melihat kejadian tadi, dan pura-pura kembali fokus pada script di tanganku.

Tidak apa-apa, aku meyakinkan diri. Belum. Bertahanlah lebih lama.

Dan anehnya, itu sungguh-sungguh sulit untuk dilaksanakan.

 

***

“Kau tidak apa-apa?” Hye-Na bertanya sambil menusuk bahu Seul dengan telunjuknya. Mendadak saja, saat semua pemain sudah berkumpul, Seul menjadi sediam batu. Tidak ada celetukan-celetukannya yang melengking, senyumnya yang riang, dan tubuhnya yang melompat-lompat girang. Gadis itu duduk seperti patung, tidak lagi menggoda Hye-Na dan Kyuhyun seperti biasa.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin?”

Seul baru menganggukkan kepala ketika Eunhyuk menyela mereka dengan duduk di kursi kosong di samping Seul sambil melambaikan naskah di tangannya. Dan seketika itu juga Seul terlonjak kaget, membuat Hye-Na menaikkan alis, bingung dengan tindak-tanduk aneh gadis tersebut seharian ini.

“Seul~ssi, naskah ini belum selesai, ‘kan?” Eunhyuk bertanya tanpa basa-basi pembuka.

Seul menganggukkan kepala spontan.

“Jadi aku masih ada harapan, ‘kan? Maksudku, Kyuhyun dan Donghae jelas-jelas mendapat kisah cinta masing-masing. Masa aku tidak? Apa aku benar-benar hanya akan menjadi figuran? Tidak mendapat porsi sama sekali? Masa kau setega itu padaku? Lihat, ada Soo-Yeon yang menganggur.” Eunhyuk menunjuk Soo-Yeon, yang mendapat peran sebagai kekasih Kyuhyun di awal drama, dan sekarang asyik membicarakan sesuatu dengan pasangannya itu.

Kerutan di kening Hye-Na semakin dalam. Jadi hanya padanya saja pria itu bersikap dingin dan sinis?

“Baiklah, aku akan memikirkannya,” ucap Seul dengan suara pelan, nyaris terdengar mencicit.

Eunhyuk tertawa, mengucapkan terima kasih, dan menyentuh bahu Seul sekilas sebelum kembali bergabung dengan Donghae dan Chae-Eun yang mendiskusikan naskah di tangan mereka. Gadis itu kemudian memangkukan tangan ke meja, menyandarkan dagu di telapaknya, dan memandangi Soo-Yeon yang entah sedang menertawakan apa dengan Kyuhyun.

“Soo-Yeon itu… kau tahu julukannya?” tanya Seul pada Hye-Na yang juga sedang memperhatikan adegan yang sama. “Senyum Malaikat. Senyumnya memang cantik sekali, bukan? Seolah Bumi tiba-tiba menjadi terang benderang.”

Hye-Na tidak bisa menolak pernyataan itu, karena memang seperti itulah kenyataannya. Senyum seorang Kim Soo-Yeon benar-benar membutakan. Jadi dia diam saja dan menoleh pada Seul, yang tatapannya tampak melamun. Dan saat itulah dia tersadar. Alasan mengapa topik pembicaraan mereka tiba-tiba berubah. Alasan kenapa Seul bersikap aneh. Tentu saja. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak tadi ketika Eunhyuk datang menghampiri dan membuat gadis itu nyaris beku?

Eonni, apa tujuan utama drama ini adalah agar kau bisa bekerja sama dengan Eunhyuk~ssi?” tanya Hye-Na blakblakan.

Sesaat Seul tampak gelagapan, membuktikan kecurigaannya.

“Tidak,” bantah gadis itu. “Kalau memang seperti itu, pasti dia yang jadi peran utama.”

“Tentu saja mustahil kau menjadikannya sebagai pemeran utama. Kau tidak mungkin rela melihatnya berakting mesra dengan gadis lain. Karena itu ‘kan tidak ada kisah cinta untuknya dalam naskahmu?”

Seul mengernyit. “Apa sejelas itu?”

“Tidak, kalau kau tidak terus-terusan terlonjak setiap kali dia mendekatimu.”

Seul tiba-tiba tertawa. “Dongsaeng,” ujarnya manis, “apa kau tidak tahu bahwa itulah yang terjadi padamu setiap kali Kyuhyun~ssi mendekat?”

Detik itu juga Hye-Na berdiri, berjalan menjauh diiringi kekehan Seul yang semakin keras. Dia menghampiri kursi tempatnya duduk sebelum dipanggil Seul tadi, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan benar-benar terlonjak saat suara Kyuhyun menyapanya.

“Mau pulang?” tanya pria itu basa-basi dengan kepala mendongak, menatapnya.

“Mmm,” dia menjawab sekenanya.

“Sudah kubilang, perbaiki sikap tubuhmu saat berada di dekatku.”

“Aku hanya kaget karena kau tiba-tiba bicara padaku. Tidak usah membayangkan yang bukan-bukan.” Hye-Na menutup tasnya.

“Sampai jumpa seminggu lagi kalau begitu,” ujar Kyuhyun dengan raut wajah yang seolah tampak senang karena dalam tujuh hari ke depan tidak perlu bertemu dengannya.

Seminggu lagi adalah jadwal keberangkatan mereka ke Italia untuk syuting adegan pertama, juga waktu yang diberikan untuk menghafal dialog dan mengepak barang.

Hye-Na menyandarkan pinggul ke meja. “Kau tidak akan merindukanku?” Dia mengucapkannya dengan nada menggoda, dengan seringai jail di sudut bibir.

“Kau sendiri?” Kyuhyun bergeser, membiarkan lengannya menahan kepalanya yang dimiringkan, masih mendongak ke arah Hye-Na, menatap lebih lekat daripada sebelumnya, seakan kini dia memberikan seluruh fokusnya pada percakapan mereka. “Apa kau akan merindukanku?”

Seringaian Hye-Na langsung lenyap seketika. Sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan meladeni rayuan main-mainnya.

“Kalau aku menjawab ya?” balasnya.

“Aku juga akan menjawab sama.” Senyuman bermain di bibir pria itu. Jelas pria itu senang sekali bisa mempermainkannya. “Ya, Na~ya. Aku akan merindukanmu juga.”

Tidak ada hal yang lebih sulit baginya daripada berusaha sekuat tenaga untuk berjalan meninggalkan ruangan dengan kepala tegak dan langkah anggun setelah kalimat itu diucapkan dengan tatapan intens yang menenggelamkan itu. Tidak ada. Percayalah padanya.

 

***

 

One week later…

Ada harapan ganjil yang saat ini kumiliki. Harapan agar teman seperjalananku selama dua belas jam ke depan bukanlah dia. Agar aku setidaknya bisa bersantai hingga esok hari tanpa direcoki oleh kehadirannya. Tapi doaku sama sekali tidak dikabulkan. Bukan berarti aku betul-betul berharap….

Dia tidak menyapaku. Hanya meletakkan ranselnya, mengempaskan tubuh ke kursi, dan duduk dengan tangan terlipat di depan dada, tampak bersiap memulai istirahat malamnya lebih awal.

Aku memutuskan untuk mengabaikannya saja. Mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai membaca. Menyebalkan sekali, karena jika saja aku sebangku dengan Seul Eonni, maka kami bisa mengobrolkan banyak hal selama berjam-jam, bukannya menghabiskan waktu dalam keheningan menyesakkan seperti sekarang.

Aku menghirup napas. Aroma musk langsung menyapa indra penciumanku. Aromanya.

Dan tubuhku berangsur rileks seketika itu juga.

 

***

 

Sudah beberapa menit yang lalu aku menutup buku, meredupkan lampu, dan bersandar ke kursi dengan selimut tipis menutupi badan. Penerangan pesawat kini remang-remang karena jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Hampir seluruh penumpang telah tertidur di bangku mereka masing-masing. Pria di sampingku bahkan sudah melakukannya sebelum pesawat lepas landas. Sedangkan aku malah berbaring menyamping menghadapnya. Dia, yang wajahnya kini condong ke arahku, dengan mata tertutup dan dada yang bergerak beraturan selagi paru-parunya menghirup udara. Rambutnya sudah terlihat berantakan karena kepalanya beberapa kali berganti arah, mencari posisi yang nyaman. Dan aku dengan senang hati memandanginya.

Alisnya yang tebal, bulu matanya yang panjang, hidungnya yang lurus, bibirnya yang tebal. Aku tidak pernah memandangi wajah setampan ini dari dekat. Bukannya wajahnya sempurna atau apa. Tidak juga. Ada bekas jerawat di pipinya yang menyingkirkan kata ‘sempurna’ itu. Meski, jika aku boleh jujur, hal itu sama sekali tidak mengganggu atau mengurangi keindahan wajahnya. Sungguh, siapa yang akan tahan melihat bibir itu? Berapa lama lagi aku harus menunggu hingga bisa mencicipinya?

Yah, mungkin aku harus mendiskusikannya dengan Seul Eonni. Segera. Karena dari naskah sementara yang berisi tiga episode, masih belum ada tanda-tanda adegan ciuman. Ya ya, para penulis cenderung menambahkan adegan itu pada episode 9 atau 10, entah kenapa. Sejauh ini, itulah yang selalu terjadi pada drama-drama yang pernha kutonton.

Aku baru mengulurkan tangan, ingin menyentuh wajahnya, ingin menyingkirkan poninya dari kening, saat tiba-tiba dia membuka mata dan menatap lurus ke arahku.

Tanganku terhenti di udara dengan canggung. Salah tingkah, aku mengganti arah tujuannya dan menggunakannya untuk mengusap leher sebagai gantinya. Tapi mataku tetap tertuju ke wajahnya, mencari tanda-tanda kemarahan atau ketidaknyamanan. Dan dia hanya balas menatapku tanpa ekspresi. Tidak bergerak, mengalihkan pandangan, ataupun mengucapkan sesuatu.

Aku menurunkan tangan, menggapai selimut dan mencengkeramnya diam-diam, untuk mengalihkan kegugupan yang mendadak kurasakan. Padahal dia hanya menatapku, tapi berhasil membuat kakiku selemas agar-agar.

Awalnya, kupikir hanya karena dia tampan. Aku yakin sekali bahwa itulah alasan mengapa aku terus merasa tidak nyaman setiap kali dia berada dalam radius jangkauan tangan dan dalam waktu bersamaan justru menginginkan kehadirannya lebih lama. Aku suka memandanginya, tapi merasa gerah saat dia balas memandangiku. Maksudku, bukankah itu selalu terjadi jika kau dekat-dekat dengan pria tampan? Mereka membuatmu grogi.

Tapi perlahan aku mulai tidak yakin lagi. Terutama saat dia menyentuhku. Setruman, kupikir itulah istilah yang biasanya digunakan. Seperti… saat dia menyentuhku hanya dengan ujung jari dan itu bisa membuatku terlonjak. Atau saat dia berbicara padaku dan aku terlalu sibuk memandanginya dan melupakan apa yang seharusnya kukatakan. Atau saat napasku memberat setiap kali dia menatapku dengan intensitas yang menenggelamkan. Seperti sekarang.

Aku menyukai momen diam ini. Saat aku tidak perlu susah payah berpikir apa yang harus kuucapkan untuk mengalihkan rasa malu. Saat aku tidak perlu repot-repot berpaling karena toh dia terang-terangan memandangiku, yang berarti aku juga boleh melakukan hal yang sama padanya. Saat aku seolah menelanjangi diri, tidak lagi perlu menyembunyikan perasaan atau memperbaiki caraku menatap agar lebih sopan dan pantas. Tidak. Kali ini aku memandanginya seperti yang selama ini kuinginkan. Memperlihatkan bahwa aku tertarik padanya tanpa perlu lagi menahan-nahan.

Dia juga melakukan hal yang sama. Aku bahkan bisa menyadarinya, karena dia memang menunjukkannya dengan gamblang. Tujuh hari yang kami lewatkan tanpa bertemu satu sama lain dan dalam masa itu, entah bagaimana, terjadi sesuatu. Aku merindukannya. Lucu sekali, bukan? Mengingat kami baru bertemu dua kali dan bagiku, ada dua puluh tahun hidupku yang kulewatkan tanpa mendengar namanya sampai akhirnya aku mengenalnya sebagai anggota Super Junior. Dan saat kami akhirnya berkenalan, semuanya terjadi begitu saja. Mungkin dia juga. Tidak ada yang melarangku untuk berharap, ‘kan?

Dia mengulurkan tangan. Gerakan yang pelan sekali hingga aku tidak menyadarinya sampai jemarinya menyentuh tengkukku dan telapak tangannya menangkup rahangku. Aku tidak terlonjak. Aku hanya lupa caranya menarik napas.

Kulitnya terasa hangat dan menyejukkan di saat yang sama. Sentuhannya menyenangkan. Mungkin karena aku belum pernah disentuh pria sebelumnya. Atau mungkin karena yang menyentuhku adalah dia. Aku tidak punya perbandingan. Tapi kemungkinan besar yang kedua. Kurasa.

Wajahnya mendekat. Tidak ada lagi tatapan sinis dan menghindar yang terus-menerus dia perlihatkan setiap kali kami bertemu. Tidak ada lagi gesture mengusir, seolah dia ingin menyingkirkanku jauh-jauh, seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya. Ada sesuatu dari cara dia menatapku kini. Dan aku mengenalinya, karena aku menatapnya dengan cara yang sama. Seolah dia… menginginkanku. Entah untuk alasan apa.

Ibu jarinya bergerak, posisi tangannya menjadi lebih mantap, dan kepalanya terus mendekat hingga hidungnya mencapai helaian rambutku dan bibirnya berada di dekat leherku karena aku bisa merasakan embusan napasnya di sana.

Aku meloloskan udara dari mulut. Detak jantungku mulai tidak menentu. Dan tubuhku terasa panas dingin, yang tidak ada hubungannya dengan suhu ruangan saat ini.

Dia menghirup napas, mendesah, dan di detik berikutnya merutuk pelan.

“Sial,” bisiknya, dengan gerakan luar biasa cepat menjauhkan tubuh dan kembali ke posisi duduk semula, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa satu detik sebelumnya. Hanya jakunnya yang naik turun dan rahangnya yang terkatup rapat yang menunjukkan bahwa dia terpengaruh atas keintiman singkat yang terjadi barusan.

Aku membeku di tempat. Ada sesuatu, akhirnya aku tersadar. Ada sesuatu yang membuat pria ini mati-matian menjauhiku. Atau seperti ucapannya dulu, mencegah dirinya untuk jatuh cinta. Seolah ada kehancuran besar yang menunggu jika dia membiarkan ketertarikannya berlanjut lebih jauh.

Mungkin aku perlu mencari tahu. Atau mungkin tidak. Mungkin aku hanya perlu membantunya dengan tidak mengganggu atau menyulitkannya.

Tapi sesuatu yang terlalu lama ditahan hanya memicu ledakan yang lebih besar. Aku tahu. Hanya saja, untuk saat ini, mungkin aku lebih baik diam dan tidak melakukan apa-apa. Ada hatiku sendiri yang perlu kukhawatirkan keselamatannya. Karena orang bilang cinta pertama adalah sesuatu yang bertahan selamanya, dengan kecenderungan bahwa cinta pertama hanya ada untuk diingat, bukan untuk dimiliki. Dan aku tidak ingin membiarkan hatiku menanggung akibat sebesar itu. Belum. Tidak sekarang.

Dan tidak dengannya.

Karena kehancurannya akan lebih menyakitkan. Itu pun aku tahu.

 

***