Amour Action

 

Satu. Yang pertama kali kudengar adalah suara langkah kakinya. Detak hak sepatunya yang membentur ubin.

Dua. Kemudian bunyi desir pakaiannya saat berlari melewatiku. Dan semburat lili yang tertinggal di udara setelah dia berlalu.

Tiga. Juga helaian rambutnya yang menyentuh pipiku sekilas ketika aku menoleh saat dia, dalam ketergesaannya, menyenggol bahuku cukup keras.

Detik itu, di dalam kisah romansa yang diceritakan dalam drama atau buku, aku seharusnya jatuh cinta padanya. Pada mata coklatnya yang besar. Pada pipinya yang merah. Pada kecantikan wajahnya yang sempurna.

Dalam dunia nyata, bualan seperti itu tidak pernah tercipta. Terutama dalam duniaku, di mana jatuh cinta adalah hal yang terlarang untuk dilakukan. Bahkan setelah mendengar suara jernihnya yang menggumamkan permintaan maaf, yang kubalas dengan anggukan ala kadar. Bahkan setelah dia menyunggingkan senyum cerah di bibirnya yang tersaput warna peach lembut dan berlekuk penuh seperti busur panah.

Di detik ketika dia melanjutkan langkah, di detik ketika aku kembali mengalihkan pandangan dan meneruskan percakapan yang tertunda, dia berakhir seperti orang-orang yang kutemui setiap harinya. Tak dikenal, hanya momen yang berlangsung sementara, tidak cukup lama untuk hinggap di kepala. Terlupakan begitu saja.

Terkadang, dalam dunia nyata, dengan cara seperti itulah manusia berselisih jalan dengan takdir mereka. Saling melewatkan. Pengabaian yang tak disengaja.

Terkadang, dalam dunia nyata, dengan cara seperti itulah manusia bertemu dengan takdir mereka. Dalam konsep sementara, kemudian terus-menerus, sebelum berakhir menjadi selamanya.

Yang paling menakutkan, saat kau tidak sedang mencari, saat kau tidak sedang membutuhkan, saat itulah cinta datang menyergap tiba-tiba. Mengendap-endap di saat kau sedang tidak siaga.

Aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada matanya. Atau pada wajahnya. Atau pada keseluruhan dirinya. Tapi nantinya, itulah yang terjadi. Begitu saja. Dan yang kulakukan adalah mati-matian menyingkirkannya. Jauh-jauh. Sebelum dia tergapai olehku. Sebelum aku telanjur menginginkannya dan menyakitinya karena keegoisanku. Karena posisiku. Pilihannya hanya satu: membiarkan diriku tersiksa karena tidak bisa memilikinya. Jadi yang menderita hanya aku saja.

Nanti, lama menjelang di suatu waktu di masa depan, aku akan mengurus lukaku, menjahitnya rapi-rapi, menunggu hingga sepenuhnya sembuh, dan berharap mendapat kesempatan untuk menemuinya kembali. Dengan cara yang biasa. Mungkin dengan duduk berdampingan di bus. Mungkin saat mengambil buku yang sama di rak perpustakaan. Mungkin dengan menjatuhkan minuman ke sweternya. Lalu menjalin hubungan yang normal di mana aku tidak perlu melukainya dan dia tidak perlu tersakiti olehku. Hingga saat itu tiba, aku harus berteman dengan kesabaran. Sendirian dan kesepian, seperti yang selama ini kulakukan. Dan jika aku, suatu ketika, tersandung, terjerembap, dan untuk sesaat melupakan statusku atau kehilangan kendali atas diriku sendiri, maka dia harus berdoa pada Tuhan agar kealpaanku tidak akan terlalu menghancurkan. Agar dia bisa pulih dan berdiri tegak sekali lagi untuk melanjutkan hidup.

Dan aku terus bertanya-tanya, apa yang telah diperbuatnya di masa lalu hingga hidupnya harus bersimpangan denganku?

 

***

 

January, 2014

“Jadi kau kembali tanpa sepengetahuan orangtuamu?”

Hye-Na mengangguk.

“Dan tidak punya uang sepeser pun?”

Hye-Na mengulurkan lembaran uang dan kepingan logam di tangannya. “Dua ribu empat ratus won. Kembalian ongkos taksi.”

Gadis itu menatap pamannya dengan pandangan sayu yang mengibakan. Bukan salahnya jika dia kabur dari perintah ayahnya untuk mengambil alih salah satu cabang perusahaan keluarga mereka di New York tepat setelah dia resmi menyandang gelar sarjana. Dia lulusan Sastra Inggris dan tidak mengerti apa pun tentang bisnis. Betapa beraninya ayahnya memercayakan perusahaan sebesar itu untuk dipimpin olehnya. Dan betapa beraninya dia karena memilih kabur dan pulang ke Korea dengan uang yang hanya cukup untuk membeli tiket pesawat. Sekarang, dengan berani pula dia mendatangi pamannya—yang selama ini cukup dekat dengannya—untuk mengemis belas kasihan.

“Kenapa kau yakin aku tidak akan menelepon orangtuamu sekarang juga dan mengadukan kelakuanmu ini?”

“Karena kau belum punya keluarga. Dan aku adalah orang yang paling kau sayangi di dunia,” sahutnya penuh percaya diri.

Han Jong-In menggelengkan kepala, tidak tahu harus senang atau marah melihat keponakan pemberontak yang sudah satu setengah tahun terakhir tidak ditemuinya. Seharusnya kakaknya mendengarkan masukan darinya. Anak semata wayang kakak laki-lakinya ini bukan jenis orang yang akan duduk manis di balik meja sambil membaca laporan keuangan.

“Apa rencanamu setelah ini?” Jong-In bertanya dengan nada nyaris menyerah. Nyaris, karena dia juga tidak ingin menghadapi kemarahan kakaknya karena berkomplot dan membantu acara kaburnya Hye-Na.

“Menumpang di apartemenmu, mencari pekerjaan sementara, atau mungkin kau bisa membiarkanku hidup nyaman dengan menerima sokongan darimu.” Gadis itu menyengir tanpa dosa.

“Memangnya pekerjaan apa yang bisa kau lakukan, hah?”

“Aku bisa menulis. Membuat skenario mungkin? Khayalanku cukup bagus.”

Jong-In mengernyitkan hidung. “Aku sedang ada proyek baru, tidak bisa mengurusmu.”

“Kau tidak harus mengurusku, Samcheon. Hanya perlu mendanaiku.” Lalu Hye-Na tersenyum mencurigakan. “Kau ada proyek drama baru? Apa itu melibatkan Cho Kyuhyun Super Junior? Karena aku berpapasan dengannya tadi.”

“Kau tahu dia?”

“Tentu saja.” Gadis itu menyeringai. “Aku tahu semua pria tampan.”

“Dia akan bermain sebagai pemeran utama dalam drama baruku.”

“Kupikir dia belum pernah bermain drama.”

“Memang. Ini akan menjadi drama pertamanya.”

Hye-Na menjentikan jemarinya. “Kalau begitu ajak aku main juga!”

“Kemampuan aktingmu nol besar.”

“Aku pernah main drama di kampus.”

“Lebih baik kau menulis sajalah. Mulai kariermu sebagai penulis profesional agar ayahmu tidak terus merecokimu dan kau tidak terus menggangguku.”

“Tapi ini ide hebat! Aku mendapat pekerjaan sementara, punya pemasukan, dan aku tidak akan terlalu merepotkanmu.”

“Mau dikemanakan mukaku kalau nanti kau mempermalukan diriku dengan berakting buruk? Kau pikir segampang itu mendapat peran?”

Samcheon, lihat aku!” Hye-Na merentangkan tangan dan memutar kursi yang didudukinya. “Ada lima pencari bakat yang berusaha merekrutku. Dan itu di luar negeri.”

“Kau pikir wajahmu itu bisa membuatmu melakukan banyak hal?”

“Tidak.” Hye-Na merengut. “Aku tidak akan pernah bisa menjadi model karena tinggiku jauh di bawah standar.”

Jong-In tertawa dalam hati. Dari banyak hal yang bisa membuat keponakannya kesal, permasalahan tinggi badan adalah isu sensitif paling utama dari daftar panjangnya.

“Asal kau tahu, kami belum merekrut pemain utama wanita karena penulis skenarionya sangat pemilih dengan pemain yang akan memerankan karakter ciptaannya. Aku bahkan harus menghadap bos agensi Kyuhyun langsung karena dia bersikeras menginginkan para personel Super Junior sebagai pemeran utama.”

“Jadi bukan Kyuhyun saja?”

“Lee Donghae dan Eunhyuk. Dan dia tidak memilih Siwon yang jelas-jelas seorang aktor, tapi Cho Kyuhyun. Dia bilang pria itulah yang dia bayangkan ketika menuliskan naskahnya. Memang sedikit aneh, gadis itu.” Jong-In mengedikkan dagu ke arah Park Seul, yang sedang sibuk mendiskusikan sesuatu dengan tim casting di ujung lain ruangan. “Jadi, kalau penulisku berkata tidak ada peran untukmu, maka kau harus berjanji untuk tidak merayuku agar memberimu pekerjaan lagi,” putusnya.

Call!”

Jong-In menghela napas, mengangkat tangan, dan berseru memanggil penulis naskah dramanya yang berada di ujung paling jauh ruangan besar tempat rapat baru saja selesai dilakukan lima belas menit lalu. Gadis itu menoleh, bangkit dari duduk, dan bergegas menghampiri.

“Apa ada peran yang masih kosong? Keponakanku berkata dia ingin mencoba menjajal kemampuan aktingnya.” Jong-In menunjukkan pandangan tidak setuju ke arah Hye-Na yang masih menyengir. Cengiran yang mendadak hilang ketika Seul mengalihkan pandangan kepadanya dan menatapnya lekat-lekat.

Gamdok~nim,” Seul berkata setelah beberapa detik dilewatkannya dengan memandangi gadis yang disebut sebagai keponakan oleh sang sutradara itu. Gadis tersebut merasakan aliran adrenalin menguasai tubuhnya dan dia nyaris menyemburkan tawa keras-keras. Selama berbulan-bulan dia menyusun naskah, menciptakan kisah di mana sang pemeran utama wanita muncul tanpa nama, tanpa perawakan yang jelas. Tampak kabur dalam bayangannya. Kini, tokoh protagonis dalam naskahnya itu tidak lagi tanpa wajah. “Aku rasa aku telah menemukannya,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Dia bisa membayangkannya. Gadis mungil yang dikhianati, yang begitu polos hingga berniat mengejar pria yang dicintainya dan menuntut jawaban atas kepergian pria itu yang tanpa pamit. Pria yang ditemuinya di Italia, yang membuatnya jatuh cinta selama dua hari petualangan mereka, dan meninggalkannya di hari ketiga. Pria yang ternyata adalah seorang penyanyi terkenal di Korea. Pria yang, sekali lagi, tidak bisa dimilikinya jika dia tidak ingin menyakiti hati semua orang.

Dia bisa membayangkan Kyuhyun menatap gadis ini. Menyentuh wajahnya, memandang dengan perasaan yang tak bisa tersampaikan. Dia bisa mengimajinasikan perbedaan tinggi tubuh mereka. Bagaimana Kyuhyun harus menunduk agar tatapan mereka sejajar. Bagaimana gadis ini harus mendongak setiap kali mereka berbicara. Dia bisa melihat visualisasi ketika dua orang itu jatuh cinta.

Mendadak, kisah cinta ciptaannya bukan lagi sekadar barisan ketikan di atas kertas.

“Menemukan apa?” Jong-In bertanya dengan kening berkerut tak mengerti. Melihat tatapan yang dilayangkan Seul pada Hye-Na, dia yakin tingkat keanehan penulis favoritnya ini sudah kambuh lagi. Pandangan berbinar-binar seorang gadis pada gadis lainnya adalah sesuatu yang meresahkan baginya.

“Karakter utama kisahku. Aku telah menemukannya.”

“Eh?” Jong-In semakin bingung. “Maksudmu… Hye-Na?”

“Siapa lagi yang sedang kutatap kalau bukan dia?”

“Ng… Seul… kalau-kalau kau tidak mendengarkanku tadi… anak ini bahkan belum pernah berakting sama sekali.”

“Aku pernah main di drama kampus.” Hye-Na memelototi pamannya.

“Kyuhyun belum pernah berakting dalam drama. Kita tidak bisa memasangkannya dengan seseorang yang juga tidak punya pengalaman apa-apa.”

“Apa kau mau mencoba?” tanya Seul, ditujukan langsung pada Hye-Na, seolah dia tidak mendengarkan ucapan Jong-In sama sekali. “Apa kau mau mengerahkan seluruh kemampuan yang kau miliki, segala hal yang kau bisa, untuk menyukseskan drama ini dan tidak membuatku ataupun pamanmu malu?”

“Apa aku akan dipasangkan dengan Kyuhyun?” Hye-Na balik bertanya dengan raut wajah berseri-seri.

Seul mengangguk penuh semangat. “Kau menyukainya?” Hal ini semakin menyenangkan saja bagi gadis itu, terutama saat melihat Hye-Na balas mengangguk kuat-kuat.

“Kalian terlihat sangat bahagia,” sela Jong-In sinis. “Kapan lagi bukan, seorang penggemar bisa berakting dengan idolanya?”

“Ada yang lebih menyenangkan lagi,” sahut Hye-Na, setengah terkikik. “Ini drama. Dan apa yang lebih terkenal dari drama kita selain adegan ciuman pemeran utamanya?”

Jong-In menganga.

Samcheon,” ujarnya dengan nada manis, “aku akan, dengan sangat sukarela, menyerahkan ciuman pertamaku pada Cho Kyuhyun demi drama ini!”

 

***

 

“Kita mau ke mana?” tanya Hye-Na setelah memasrahkan diri diseret-seret oleh Seul yang tampak terlalu girang.

“Kurasa Kyuhyun~ssi masih di sini. Aku harus memastikan sesuatu.”

“Kita akan bertemu Cho Kyuhyun?” seru Hye-Na syok.

“Kau kan harus memperkenalkan dirimu padanya.”

“Tadi aku sempat menabraknya dan saat dia menatapku saja aku sudah gemetaran. Dan memikirkan bahwa aku akan melakukan banyak adegan dengannya membuatku semakin gila saja. Aku belum siap kalau harus berbicara dengannya sekarang.”

“Kau semakin membuatku histeris,” timpal Seul, hampir mendendangkan kalimatnya.

“Apa kau selalu bersemangat seperti ini setiap kali dramamu akan dimulai?”

“Belum pernah seperti ini. Sulit untuk membuat detail imajinasiku terealisasikan dengan sempurna. CHO KYUHYUN~SSI!” panggilnya kemudian dengan suara keras.

Pria yang sedang mengobrol di balik pilar bersama beberapa orang itu menoleh, mengangguk sopan saat Seul bergegas mendekat sambil menggiring Hye-Na bersamanya.

“Park Seul~ssi,” sapanya.

“Aku sudah mendapatkan pasangan untukmu.”

Kyuhyun mengerjap ketika gadis yang tadinya berdiri di samping Park Seul itu dengan tiba-tiba disodorkan padanya, membuat dia sedikit tersentak ke belakang karena kaget.

“Aku penasaran,” Seul melanjutkan. “Anggap saja ini bagian dari casting. Tolong tatap dia. Seolah itu adalah kegiatan yang paling kau favoritkan di seluruh dunia.”

 

***

 

Satu. Matanya. Matanya yang membulat saat dia balas memandang ke arahku.

Dua. Beberapa helai rambutnya yang teruntai di pipi dan bergerak setiap kali dia meloloskan udara dari mulut.

Tiga. Bibirnya yang mengeluarkan suara kesiap pelan ketika aku menyusuri wajahnya dengan tatapanku.

Aku menjelajahi wajah itu. Perlahan-lahan. Dari keningnya. Terus hingga ke dagu. Dan mengulanginya sekali lagi. Lagi. Dan lagi. Karena yang dimilikinya adalah jenis wajah yang akan betah kupandangi lama-lama. Jenis wajah yang akan difavoritkan banyak pria. Jenis wajah yang membuat jemariku gatal untuk memberi usapan, sekadar memenuhi rasa penasaranku akan kulit pipinya yang tampak lembut. Keingintahuanku akan rona yang mungkin saja muncul jika aku melarikan ujung jemariku untuk menyentuh.

Rasanya hanya ada kami berdua di sana. Dan betapa mudahnya membayangkan diriku jatuh cinta padanya saat itu juga. Sejenis ketertarikan fisik yang muncul begitu saja, dan sering kali disalahartikan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kami belum saling bertukar kata. Tapi pada momen ini, aku bersyukur bahwa kami memilih untuk diam saja. Tidak mengucapkan apa-apa. Seakan satu patah kata saja terlontar, sihirnya akan lenyap.

“Namanya Han Hye-Na.” Aku mendengar Seul berkata. “Apa yang kau bayangkan saat mendengar namanya? Seperti apa kau ingin memanggilnya?”

Aku masih menatapnya. Dan dia, baru kusadari, juga tidak mengalihkan tatapan sedikit pun sedari tadi.

Aku mengeja namanya dalam hati. Mengucapkannya tanpa suara berulang kali. Dalam pikiranku, aku melatih lidahku untuk terbiasa menyebutkan nama itu. Dan di detik yang sama, dia memilih untuk merusak konsentrasiku.

Dia mengacungkan jari telunjuk, menekankan ujungnya dengan begitu tiba-tiba ke pipiku. Seolah dia ingin memastikan bahwa aku nyata. Dan sorot matanya kini tampak puas setelah dia berhasil membuktikannya. Dan aku, tidak menyukai akibat yang ditimbulkan sentuhan kecil seperti itu di kulitku. Tidak sedikit pun.

“Hati-hati dengan tanganmu,” bisikku, masih menahan diri. Sepersekian detik kemudian, tanpa berusaha mencegah diriku lagi, aku mengalah dan membiarkan tanganku berbuat sesukanya. Menggapai telunjuknya dan merasakan dengan takjub percikan-percikan kecil di ujung jemariku ketika kulit kami akhirnya bersentuhan untuk pertama kali.

Kemudian nama itu terlontar dari mulutku. Begitu saja. Seolah dengan cara seperti itulah aku ingin memanggil namanya. Dengan nada rendah, dengan intonasi suara penuh penekanan, dan irama yang, entah bagaimana, menyiratkan keputusasaan.

“Na~ya.”

 

***