koreanweddingphotography_54_jdg_60

Kyuhyun mendongak saat mendengar suara ban mobil melindas kerikil dari arah luar rumah. Bergegas dia menyingkirkan ponselnya, bangkit berdiri, dan dalam hitungan detik sudah mencapai pintu, membukanya, lalu berlari menuruni undakan depan. Beberapa meter di depannya, Hye-Na menutup pintu mobil yang segera melaju pergi, meninggalkannya berdiri dengan sebuah koper besar dan tas bepergian yang tergeletak di tanah. Lalu, pria itu, dengan menyingkirkan segala malu, merentangkan lengan lebar-lebar. Dengan senyum yang tak kalah lebarnya menghiasi wajahnya yang tampan—yang beberapa saat lalu masih tampak kusut dan muram.

“Kau menginginkanku berlari dan melompat ke dalam pelukanmu?” Hye-Na memastikan.

Pria itu mengangguk sekali.

“Koper dan tasku?”

“Nanti kuurus.”

“Apa aku harus memberimu ciuman juga?”

Sekali lagi Kyuhyun mengangguk.

“Entahlah, Cho Kyuhyun, tapi aku baru saja duduk di atas pesawat selama belasan jam. Aku tidak yakin dengan bau napasku.”

“Tutup sajalah mulutmu dan cepat kemari.”

“Kalau ada orang yang melihat ini, aku akan mengurung diriku di rumah selama berminggu-minggu saking malunya,” gerutu wanita itu, tapi tetap melangkah mendekat, melemparkan diri ke dalam rengkuhan lengan suaminya, membiarkan pria itu mengangkat tubuhnya dari tanah, dan—sedikit dengan terlalu senang hati—dia melingkarkan kaki ke pinggang pria itu, memantapkan posisinya, lalu memberikan ciuman bertubi-tubi ke bibir pria tersebut.

“Oke. Upacara selamat datangnya selesai. Kau pasti sangat merindukanku ya? Menyedihkan sekali nasibmu,” ejeknya sambil menepuk-nepuk pipi Kyuhyun sebelum menggeliat turun dari dekapan pria itu.

“Aku sudah menyiapkan air hangat kalau kau ingin mandi. Baju gantimu ada di tempat tidur. Dan aku akan memanaskan makan malam selagi kau mandi.”

“Dan apa kira-kira yang harus kulakukan sampai kau repot-repot jadi pembantuku begitu?” Hye-Na mengangkat alis.

“Kau sudah pergi lebih dari seminggu.”

“Lalu? Kau merasa ditelantarkan olehku?”

“Kau pasti belum menonton music video-ku ataupun mendengarkan lagu baruku, ‘kan?”

“Ha!” Wanita itu mendengus, berjalan melewati pintu masuk dengan langkah kaki dientakkan.

“Aku sudah tahu!” Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepala. “Meski kau berulang kali bilang bahwa kau menyukai Ara, tapi kau tetap saja cemburu padanya, ‘kan?”

Hye-Na berbalik. “Ralat aku kalau-kalau ingatanku kusut, tapi aku yakin sekali bahwa bukan aku yang memasang muka masam seharian karena merasa cemburu sewaktu di Swiss!”

“Aku berharap aku mengalami amnesia, tapi ternyata tidak, jadi satu-satunya harapanku adalah agar kau tidak mengingatkanku lagi pada peristiwa mengerikan itu.”

Wanita tersebut tersenyum licik. “Tapi aku juga menderita, jadi kau harus ikut menderita bersamaku. Itu baru adil namanya.”

“Penderitaan macam apa tepatnya yang kau dapatkan, hah?”

“Akulah yang mengalami amnesia. Aku berusaha, sungguh-sungguh berusaha mengingat bagaimana rasanya ciuman Giulio, tapi aku terlalu terkejut dan ciuman itu sudah selesai bahkan sebelum aku bisa menyadari apa yang terjadi.”

“Cho Hye-Na,” pria itu menggeram.

“Apa menurutmu aku ini tidak terlalu menyedihkan? Hanya pernah berciuman dengan satu pria saja seumur hidupku? Aku butuh pengalaman dengan pria lain, kau tahu?”

“Kau pernah dicium oleh mahasiswa baru di kampusmu.” Kyuhyun mengernyit mengingat kenangan buruk lain dalam memorinya.

“Itu tidak masuk hitungan karena aku bahkan tidak ingat namanya. Dan kejadiannya tidak sampai satu detik. Dengan Giulio berbeda.”

“Apanya yang beda?”

“Aku bisa mengingat rasa cokelatnya. Yang tidak aku ingat itu rasa bibirnya.”

“Apa penerbangan belasan jam di atas sana membuatmu mabuk?”

“Nah, coba kau tebak apa yang kukhayalkan selama di udara.” Hye-Na memutar bola mata, tertawa keras, lalu berlari menaiki tangga, melarikan diri dari amukan suaminya.

***

Hye-Na memasrahkan diri saat Kyuhyun menariknya duduk di atas karpet, menghadap ke layar laptop yang diletakkan di atas meja kayu rendah berpelitur, dan membiarkan pria itu mengambil alih handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambut.

“Aku tidak yakin apa aku siap menonton MV-mu. Maksudku, apa kau tidak bertanya-tanya kenapa aku masih belum menontonnya hingga sekarang?” Wanita itu mulai menyuarakan keluhan. “Aku sudah melihat teaser-nya dan ya Tuhan, aktingmu benar-benar memalukan.”

Dia mendapat toyoran di kepala sebagai balasan. Nyaris membuatnya terantuk keyboard laptop di depannya. Bahkan hal itu pun tidak sanggup menghentikan ocehannya.

“Caramu tersenyum menggelikan. Dan adegan saat kau menarik Ara Eonni dan memeluknya… astaga, aku tidak pernah melihat adegan yang lebih konyol daripada itu.”

Kyuhyun yang duduk di belakang Hye-Na nyaris saja melepas kontrol dan mencekik wanita di hadapannya, tapi dia urungkan. Sebagai gantinya, dia hanya menggosokkan handuk keras-keras ke kepala wanita itu, mengacak-acaknya begitu rupa hingga helaiannya mencuat ke mana-mana.

“Baik, baik, akan kutonton.”

Wanita itu mengangkat tangan tanda menyerah, lalu mengklik tombol play.

“Menjadi stalker,” Hye-Na menggumam beberapa saat kemudian sambil menggelengkan kepala.

“Demi Tuhan!” Wanita itu menutup muka dengan kedua tangan saat adegan uluran tangan Kyuhyun ditolak Ara dan sebagai gantinya pria itu berpura-pura sedang bermain batu-gunting-kertas. “Apa ini tidak bisa lebih norak lagi?”

“Aku ingatkan kau dari sekarang, Cho Kyuhyun, aku tidak akan mau menonton dramamu.”

Lalu wanita itu terbahak keras tanpa malu-malu. Kepalanya terdongak ke belakang, jelas-jelas tampak terlalu geli untuk menonton lebih jauh.

Kesal, Kyuhyun membekap mulut istrinya dengan tangan dan dalam hitungan detik membuat wanita itu meronta-ronta karena tidak bisa menarik napas.

YA! Kau mau membunuhku? Kau ingin aku mati?” Hye-Na berteriak protes.

“Ah ya. Maaf,” Kyuhyun menjawab datar. “Aku lupa.”

“Aku akan menontonnya sendiri. Pergi sana! Siapkan makan malam.” Hye-Na membuat gerakan mengusir.

“Tidak usah lanjutkan. Kau tidak akan suka akhirnya.”

“Sempurna sudah.” Hye-Na mendengus. “Akting jelek, sad ending. Yang tampak bagus hanya pemandangan Swiss-nya saja.”

Kyuhyun memasang ekspresi masam. “Ini pertama kalinya aku sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk menceraikanmu, tahu tidak?”

“Ceraikan saja. Banyak pria yang bersedia menampungku,” sahut Hye-Na tak acuh.

Sebelum benar-benar keluar kamar, Kyuhyun sekali lagi menoyor kepala istrinya. Kali ini tepat sasaran. Wajah wanita itu menghantam keyboard dengan keras.

Dia bahkan tidak merasa bersalah. Mungkin wajah cantik istrinya memang harus dirusak sedikit.

Dan ini tidak terhitung sebagai kekerasan dalam rumah tangga. Ya, ‘kan?

***

Kyuhyun kembali ke kamar utama di lantai dua untuk memanggil Hye-Na setelah menata meja makan seadanya. Wanita itu tidak lagi berada di posisinya semula. Kini dia sudah berbaring menelungkup di atas tempat tidur, dengan ponsel di tangan, dan fokus yang terkonsentrasi penuh pada sesuatu di layar. Wanita itu bahkan tidak menyadari saat dia mendekat dan melongok dari balik pundak wanita tersebut untuk mencari tahu.

Di sana, terpampanglah foto-fotonya yang diambil dari adegan terakhir MV, dalam balutan turtleneck dan jas. Mau tidak mau, sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Pesonanya masih tidak tertahankan rupanya. Istrinya masih juga belum imun sampai sekarang.

“Jadi, aku tampan sekali sepertinya. Bukan begitu?” ejeknya seraya menjatuhkan tubuh di samping Hye-Na, yang seketika terlonjak saat mendengar suaranya.

“Pemandangannya indah,” elak wanita itu, tanpa babibu melempar ponselnya ke nakas, lalu berdeham keras. “Jadi, apa akan ada MV lanjutan?”

“Entahlah,” dia menyeringai. “Bukannya kau tidak tertarik?”

“Hanya bertanya.” Wanita itu melirik. “Apa dia mati?”

“Memangnya kenapa kalau dia mati?”

“Bagaimana kalau aku yang mati? Apa yang akan kau lakukan?”

Pergantian topik yang begitu cepat. Ciri khas seorang Han Hye-Na dan dia sudah sangat terbiasa.

“Aku akan menyetrika setelan berkabungku untuk dikenakan ke pemakamanmu,” jawabnya asal. “Kau?”

“Menitikkan beberapa tetes air mata untuk kepergianmu. Bersedih selama satu atau dua minggu. Kemudian melanjutkan hidup,” sahut wanita itu ringan.

Melanjutkan hidup?”

“Sayangnya, terlalu banyak pria tampan di luar sana yang sia-sia jika harus diabaikan begitu saja. Aku kan masih muda.”

“Jadi kau akan menikahi salah satu dari mereka. Begitu?”

Hye-Na berbalik, menelentangkan tubuh, dan Kyuhyun dengan refleks merentangkan lengan. Wanita itu sendiri tanpa berkata apa-apa meringkuk mendekat dan membaringkan kepala di atas lengannya.

“Tidak. Aku akan menggilir mereka. Setiap orang akan mendapat bagian. Maksudku, kenapa kau harus bertahan dengan satu orang saja jika kau bisa mendapatkan semuanya?”

“Cara berpikirmu semakin mengerikan saja.”

“Itu membuat perbedaan, bukan?” wanita itu melanjutkan. “Antara kau dan mereka.”

“Bahwa aku suamimu dan mereka bukan?”

“Bahwa kau satu-satunya pria yang secara resmi kumiliki sekaligus memilikiku.”

“Hmm… kedengarannya sangat eksklusif.” Kyuhyun mengelus kepala wanita itu. “Kau pasti terantuk keras sekali ya tadi?” ucapnya prihatin, meski dalam hati senang setengah mati.

“Lalu kau? Kau akan menikah seandainya aku mati duluan?”

“Kau ingin aku begitu?”

“Memangnya aku seprotektif itu?” Hye-Na menukas ketus.

“Mungkin aku sendiri yang ingin begitu.”

Hye-Na menganggukkan kepala. “Kau pasti sangat mencintaiku,” ucapnya, dengan nada sarat ejekan.

“Karena hanya ada satu, Na~ya,” jawabnya sabar. “Bagi beberapa orang, hanya ada satu yang seperti itu.” Kyuhyun mengulurkan tangan, menyentuh ujung hidung wanita itu dengan jari telunjuknya. “Orang yang akan memiliki hati mereka sepenuhnya seumur hidup. Sampai-sampai tidak ada orang lain lagi yang bisa masuk.”

***