koreanweddingphoto_ospg_36-copy copy

 

HAN HYE-NA’S POV

Aku membuka mata. Dan pemandangan pertama yang kulihat bukan lagi tirai dan jendela kaca. Dan alasanku terbangun juga bukan karena terik sinar matahari pagi yang menyengat. Ini sama seperti dulu. Dia berbaring di sampingku, menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menghalangi sinar matahari agar tidurku tidak terganggu. Ini seperti kenangan yang terulang. Hal yang langka bagiku akhir-akhir ini untuk memilikinya di pagi hari. Biasanya, dia sudah menghilang untuk urusan pekerjaan, sebelum matahari bahkan menampakkan diri. Kali ini tidak. Matanya masih terpejam. Tidurnya tampak nyenyak. Seolah dia tidak memiliki rencana untuk pergi ke mana-mana.

Tangannya melingkari pinggangku, dan ujung jari-jarinya melekuk menekan bagian bawah punggungku. Wajahnya teramat dekat dan embusan napasnya terasa hangat, meski aku meringis saat menyadari bahwa rautnya tampak lelah dan ada kernyitan di pangkal hidungnya. Rambutnya kusut, dengan poni yang jatuh tidak beraturan di dahi. Mulutnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat polos dan tidak berbahaya. Berbeda sekali dengan saat dia terjaga, terutama ketika satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian menggoda.

Aku beringsut perlahan, berhati-hati agar tidak menginterupsi tidurnya, lalu turun ke lantai bawah untuk menyiapkan kopi, membukakan pintu saat bel berbunyi untuk mengambil sekotak croissant yang diantarkan setiap hari oleh toko roti langgananku di ujung jalan, kembali ke kamar, meletakkan nampan ke atas meja, dan menyelusup masuk ke balik selimut. Jika aku saja merasa senang setengah mati saat terbangun di sampingnya, mungkin dia juga akan merasakan hal yang sama.

Saat itulah dia membuka mata, menatapku, kemudian tersenyum. Dan aku tahu dia juga bahagia, sama sepertiku.

Bahkan momen paling sederhana seperti ini bisa sangat berharga bagi kami.

 

***

 

CHO KYUHYUN’S POV

Aku membuka mata. Terbangun karena aroma kopi yang harum dan roti yang tampaknya masih hangat dan baru keluar dari pemanggang karena wanginya menguar ke mana-mana. Dan pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah istriku, yang memandangiku sambil menyunggingkan senyum tipis di wajahnya yang tanpa riasan. Ini cara bangun favoritku dan bagian teratas dari daftar hal-hal yang membuatku paling bahagia. Kesederhanaan, kata favoritku setelah menikah dengannya.

Aku membalas senyumnya dan tidak melakukan apa-apa lagi selain memandanginya. Poninya yang tersibak dan menampakkan dahinya yang cantik, pipinya yang merona segar, dan mata coklatnya yang provokatif, lalu beralih kepada bibirnya yang berwarna merah muda tanpa pewarna, bagian yang paling kusukai dari keseluruhan wajahnya. Selain rambutnya, yang entah memiliki pesona apa sehingga aku sering kali tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Sekarang pun jemariku mulai gatal.

Aku sedikit merentangkan tangan dan dia beringsut mendekat, menyuarakan tawa di cekungan leherku sebelum membenamkan wajah di atas pundakku. Dan aku memeluknya, erat, menghidu aromanya yang selalu menyenangkan. Tubuhnya terasa hangat dan hidungku dengan suka cita menyusuri helai rambutnya, mengikuti jejak samar wangi samponya, sebelum turun ke bawah, meninggalkan satu kecupan di atas bahunya yang terbuka.

Dia memundurkan tubuh, memberiku kesempatan untuk menyentuh pipinya, menggeseknya dengan ibu jari, sekaligus memberinya kesempatan untuk menggenggam jari-jariku yang menangkup wajahnya. Dia memiringkan kepala; bibirnya menyentuh telapak tanganku, menekan dalam, dan nadi di pergelangan tanganku berdenyut lebih cepat.

Aku bisa saja melakukan ini seharian. Memikirkannya saja sudah terasa menyenangkan. Rayuan yang sulit untuk ditolak jika saja aku berani melupakan jadwalku hari ini. Juga jadwalnya.

Mataku kembali naik, beradu pandang dengan matanya. Lalu, tiba-tiba saja, dengan begitu mendadak, aku memikirkan masa tua. Dia dan aku. Dengan umur yang sudah uzur, dengan wajah yang keriput, dengan uban di sana-sini, dan tubuh renta yang tidak lagi gesit seperti saat kami masih muda.

Aku akan senang sekali jika dapat mengetahui apakah puluhan tahun dari sekarang aku masih bisa melakukan hal ini. Lebih sering lagi daripada yang dapat kulakukan kini. Memandanginya, terus-menerus menyentuhnya, seolah aku masih saja merasa dia akan pergi karena muak menjalani hidupnya bersamaku.

Aku tahu dia mencintaiku. Cukup besar. Mungkin sangat besar, karena dia masih juga belum meninggalkanku hingga sekarang. Aku, yang lebih sering menyakitinya daripada membuatnya bahagia.

Sudah lama aku menyadari bahwa aku tidak lagi enggan memastikan perasaanku di masa depan terhadapnya. Dulu, aku tidak mengkhawatirkan hari esok, tapi dengan terang-terangan mengungkapkan ketidakyakinanku pada bulan depan, tahun depan, atau sepuluh tahun mendatang. Hubungan teraman sekalipun bisa retak. Pasangan-pasangan yang terlihat luar biasa bahagia pun pada akhirnya tidak bisa mengelak dari perceraian. Itu terjadi di kehidupan nyata. Dan aku tidak pernah menjanjikan bahwa aku pasti akan mencintainya selamanya. Tapi sulit untuk membayangkan momen ketika aku berhenti jatuh cinta padanya. Selamanya, terutama kini, ketika aku sedang menatapnya, tidak lagi terasa tidak masuk akal seperti sebelumnya.

Biasanya, pengertian ‘segalanya’ bagi seseorang mencakup banyak hal. Kekayaan yang berlimpah untuk dihabiskan keliling dunia, misal. Atau kekasih cantik yang bisa dibanggakan. Rumah mewah dan mobil mahal. Menjadi terkenal. Mungkin juga sekadar membeli buku atau duduk-duduk di tepi pantai untuk menghabiskan waktu tanpa harus mengkhawatirkan apa-apa. Bagiku, segalanya adalah dia. Hanya satu itu saja dan itu membuatku ketakutan setengah mati. Jika saja segalanya bagiku adalah karier cemerlang, album laris dan mendapat banyak tawaran untuk berakting, membeli sesuatu untuk berinvestasi, atau membuat orangtuaku bahagia, maka aku tidak perlu mencemaskan apa-apa jika salah satu dari segala hal itu luput dari genggamanku. Aku bisa mencukupkan diri dengan apa yang dapat kuraih dan berhasil kumiliki. Tapi segalanya bagiku adalah Han Hye-Na. Dan jika dia tidak lagi ada… jika dia tidak ada… sialan, aku bahkan tidak sanggup memikirkannya.

“Pagi,” ujarnya, menyentakkanku dari lamunan.

“Pagi,” sahutku spontan.

Senyumnya melebar dan wajahnya tampak makin cerah. Pikiranku tentang berhenti mencintainya langsung terasa konyol dan memalukan. Karena detik ini, dengan satu senyuman dan ucapan selamat pagi, aku kembali jatuh cinta padanya.

“Aku mencintaimu,” ujarnya dengan tawa bermain di sudut bibir.

Lagi.

Dia melepaskan diri dariku. “Mau kopi?” tawarnya.

Dan sekali lagi.

***