img_6203 copy1

 

“Auramu jelek sekali akhir-akhir ini. Kenapa lagi? Bertengkar dengan suami sempurnamu?” Hyun-Mi menyikut Hye-Na yang berdiri bersedekap memperhatikan pemotretan yang berlangsung beberapa meter di depan mereka.

“Apa kau sudah memastikan Giulio bisa datang besok?” Tanpa basa-basi wanita itu mengalihkan topik.

“Dia akan terbang dari Roma besok sore.” Hyun-Mi sama sekali tidak keberatan dengan perubahan topik itu. Giulio jelas menjadi topik favoritnya satu minggu terakhir. Topik favorit Hye-Na juga, seharusnya, mengingat mereka berdua tergila-gila pada pria itu setelah menonton Walking on Sunshine bulan lalu. Mengingat sahabatnya adalah triliuner, bukan hal sulit untuk menjadikan pria itu sebagai model iklan produk terbaru perusahaan—alasan utama dari terpilihnya pria tersebut tentu saja karena sang CEO ingin melihat idolanya dari dekat.

“Sangat membuat iri. Jarak dari Italia ke Swiss hanya 1,5 jam. Sedangkan dari Korea ke sana? Belasan jam! Aku belum pernah menghabiskan waktu selama itu di langit. Apa menurutmu itu akan aman?”

“Han Hye-Na~ssi?”

Pembicaraan mereka terputus karena beberapa orang menghampiri. Sang fotografer, penata rias, manajer, dan sang model. Hyun-Mi menahan napas. Demi Tuhan, Daniel Henney sedang berdiri tepat di hadapannya. Menjulang tinggi dan sangat… sangat menggairahkan. Dalam kepalanya, wanita itu baru saja meneteskan liur.

“It’s really a pleasure to meet you. Such an honor for me.”

“Well, it’s just me.” Hye-Na mengembangkan senyum dan menyambut uluran tangan pria itu.

“It’s been a long time since I wanted to meet you and finally I’ve got chance to be your model, and….” Pria itu menggelengkan kepala, seolah kehilangan kata-kata.

“And here I am.” Hye-Na tertawa kecil sambil merentangkan tangan. Berinteraksi dengan pria tampan setidaknya mampu mencerahkan harinya. Sedikit.

“Terrific! I mean… oh my God, they said that you’re beautiful and see you in person just… beyond my expectation.”

“She is the face of our company, indeed. And I always hope that she agrees to be our model too, but she has a kind of camera phobia,” Jace Lee, sang fotografer, menimpali dan Hye-Na membalas dengan mengernyitkan hidung, pura-pura ngeri dengan bayangan menjadi model perusahaan—dia memang ngeri, sebenarnya.

“Yeah, I’m already busy with my big-scale company, so… no more additional job,” ucap wanita itu dengan nada bercanda.

“I’d really like to talk with you more, but I have an interview and they’ve been waiting for me, so….” Daniel menunjukkan raut muka tak enak dan Hye-Na merasa seharusnya dia gembira setengah mati karena pria sekelas Daniel Henney merasa kecewa karena tidak bisa menghabiskan waktu bersamanya lebih lama. Tapi yang dirasakannya hanya… kehampaan. Dia sedang tidak mood untuk berbicara dan berbasa-basi sekarang dan itu semua karena suami berengseknya yang menyebalkan. Dia keras kepala dan pria itu jauh… jauh lebih keras kepala lagi darinya.

Setelah saling bertukar ucapan sampai jumpa, Hye-Na mengembuskan napas, menoleh, dan nyaris mengerang karena melihat Hyun-Mi menatapnya dengan mata disipitkan. Salah satu kerugian mempekerjakan sahabatmu adalah… kau harus tahan dengan semua keingintahuannya yang tanpa batas. Karena mereka begitu mengenalmu luar dalam dan kau nyaris tidak akan bisa melarikan diri sebelum memberikan jawaban yang sepenuhnya jujur dan dapat dipercaya.

“Satu pria lagi terpesona pada Han Hye-Na, eh?” sindirnya. “Apa rahasianya? Wajah super cantik—tanpa bantuan pisau bedah, kalau boleh kutambahkan. Tubuh seksi. Kekayaan berlimpah.”

“Kalau kau ingin memulai rengekan kedengkianmu terhadapku itu lagi, kusarankan agar kau—”

“Kau sudah menikah, astaga!” Hyun-Mi nyaris menjeritkan kalimatnya.

“Ya, dan kalau mereka tahu, mereka tidak akan lagi tertarik padaku.”

“Oh tidak, itu tidak mungkin terjadi. Pria jarang peduli apakah wanita buruannya sudah memiliki pemilik atau belum. Menurut pendapatku, dalam waktu dekat, Kyuhyun Oppa-lah yang akan kalang kabut karena terlalu banyak pria di luar sana yang mendambakan istrinya. Oh, atau sudah?” Hyun-Mi dengan sengaja mengerjap-ngerjapkan mata untuk menggoda sahabatnya. “Kurasa, dia sudah tidak tahan ingin memberi tahu dunia bahwa kau adalah istrinya. Itu pasti sangat membuat stres.”

Cho Kyuhyun is out of topic, okay? Aku akan sangat senang jika kau tidak menyebutkan namanya hari ini.”

“Kenapa? Ini kan hari ulang tahun pernikahan kalian yang kelima.”

Hye-Na tersenyum masam. “Itulah masalahnya.”

 

***

 

DANIEL HENNEY: “IT’S MY FIRST EXPERIENCE BEING SPEECHLESS IN FRONT OF A WOMAN. SHE IS TOO BEAUTIFUL, SHE SMILES SO WIDE, AND SHE LEFT ME WORDLESS.”

 

-Daniel Henney about his first meeting with Han Group CEO, Han Hye-Na-

 

 

Kyuhyun bahkan tidak memiliki cukup kesabaran untuk membaca lebih jauh artikel tersebut. Dia hanya merutuk pendek, melempar ponsel ke kursi di sampingnya, dan mengarahkan konsetrasi penuh pada script di tangannya. Sebaris, dua baris, dan lima menit kemudian tidak ada satu kalimat pun yang hinggap di memorinya. Dia menyerah.

Istrinya tersenyum lebar pada pria lain. Di hari ulang tahun pernikahan mereka. Saat mereka sedang bertengkar hebat. Sangat membantu memperbaiki mood buruknya. Dia semakin ingin memukul sesuatu.

Ponselnya berdering, nama sopir Hye-Na tertera di layar, dan dia mendadak merasa mendapatkan firasat buruk.

“Ya?” sahutnya cepat, setelah dengan tergesa-gesa memilih ikon hijau untuk menerima telepon.

“Maaf, Tuan, kalau saya mengganggu. Tapi saya sedikit khawatir dengan Nona. Bisa Anda ke sini?”

 

***

 

Hye-Na nyaris memuntahkan cairan yang baru saja diteguknya dengan penuh keberanian satu detik lalu. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, matanya seketika berair, dan dahinya berkerut dalam. Dia tidak mengerti bagaimana orang-orang bisa menenggak berbotol-botol minuman beralkohol setiap kali merasa terlalu senang atau terlalu sedih. Minuman itu mengerikan.

Dia duduk di bar hotel miliknya yang baru saja tutup sepuluh menit lalu, menahan sang bartender dari keinginannya untuk segera pulang ke rumah, dan meminta pria itu meracikkan minuman untuknya. Yang sekarang amat sangat disesalinya.

Dia mengangkat tangan, separuh malu memesan jus jeruk, dan duduk berpangku dagu.

“Boleh aku menemanimu?”

Dia baru saja akan menolak saat menyadari bahwa dia mengenal suara tersebut. Jadi dia menoleh, mendapati Kyuhyun sudah duduk di sampingnya, dan berbicara padanya dengan nada normal. Menatapnya dengan pandangan normal pula. Dia mengerjapkan mata, mengira bahwa dia mabuk dan mulai bersikap delusional.

“Namaku Cho Kyuhyun. Kau?”

Jadi pria itu ingin mereka berakting sebagai dua orang yang baru bertemu untuk pertama kalinya? Saling menggoda di bar, bersikap seolah tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dengan hubungan mereka? Baiklah, dia bisa ikut berpartisipasi.

“Han Hye-Na.”

“Oke. Han Hye-Na.” Pria itu menyodorkan tangan. “Bisa kita cari tempat lain untuk mengobrol? Aku takut seseorang memergoki dan mengenali kita, karena aku seorang member boyband dan aku tahu bahwa kau adalah CEO dari perusahaan besar, jadi—”

“Tidak ada orang di sini.”

“Yah, aku tetap saja tidak mau bartender menguping pembicaraan kita. Jadi…?”

“Oke.” Hye-Na melompat turun dari stool dan pria itu dengan sopan memeganginya.

“Ikuti aku.”

 

***

 

Mereka duduk di bangku taman hotel, dengan pemandangan air mancur dan semak bunga di bawah penerangan cahaya lampu taman yang temaram. Tidak ada siapa pun di sana, mengingat satu jam lagi hari akan segera berganti.

Kapan terakhir kali mereka duduk nyaman berdampingan seperti ini?

“Apa warna kesukaanmu?”

Hye-Na memutar bola mata. Jadi mereka benar-benar akan terus berakting sebagai dua orang asing yang baru bertemu pertama kali?

“Hari ini? Hijau.”

Kyuhyun mengangguk.

“Apa yang paling kau sukai?”

Hye-Na mengerutkan kening. Pertanyaan itu sedikit menjebak.

“Cahaya matahari,” ucapnya hati-hati.

“Pagi?”

“Pagi.”

“Jadi… kau suka bangun pagi?”

Wanita itu merengut. “Tidak. Aku tidak pernah bangun pagi.”

“Lalu… bagaimana mungkin kau menyukai matahari terbit kalau kau bahkan tidak pernah melihatnya?”

“Karena itu sudah sifat dasar manusia, bukan? Menyukai sesuatu di luar jangkauan mereka, menginginkan sesuatu yang sulit untuk mereka dapatkan.”

Pria itu menatapnya lekat. “Saat ini, kurasa, Nona Han, tidak ada sesuatu yang berada di luar jangkauanmu. Tidak ada sesuatu yang tidak bisa kau dapatkan.”

“Jadi…,” Hye-Na menahan napas, “aku juga bisa mendapatkanmu, kalau begitu? Kau… menjadi milikku?”

Pria itu memejamkan mata sesaat. “Tidakkah pembicaraan ini menjadi terlalu berat, menurutmu?” ujarnya kemudian.

Hye-Na mengubah posisi duduknya, menghadap ke depan, dengan punggung beradu ke sandaran kursi.

“Oke,” gumamnya.

“Sekarang giliranmu.”

“Aku? Hmm….” Dia pura-pura berpikir. “Kenapa kau begitu ambisius? Maksudku, kau penyanyi yang hebat, tapi sekarang kau juga menjadi MC, bermain drama musikal, berakting. Apa satu saja tidak cukup? Kenapa kau tidak menjadi seseorang yang sangat hebat dalam satu hal, dibanding melakukan banyak hal sekaligus hanya untuk mendapat cap… bagus.”

“Tidak selamanya aku akan berada di dunia hiburan. Aku hanya sedang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, selagi ada kesempatan, sebelum karierku meredup nantinya.”

“Tapi kau tidak perlu—”

“Ego pria,” Kyuhyun memotong. “Aku bisa saja mendapatkan seorang istri yang sangat kaya. Sepertimu, misal. Tapi aku memiliki aturan, tentang peranan suami dan istri dalam pernikahan. Aku tidak keberatan istriku bekerja. Aku tidak keberatan bahwa dia mungkin jauh lebih kaya dariku. Tapi uangnya adalah uangnya, sedangkan uangku adalah uang kami bersama. Aku ingin membiayai keluargaku dengan uang hasil kerja kerasku sendiri. Penting bagiku untuk merasa… dibutuhkan.”

Hye-Na mengerjap. Dia tidak pernah mengira bahwa itulah alasannya. Bahwa itulah jawaban yang akan pria itu berikan padanya saat dia bertanya.

Kyuhyun mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka jauh lebih dekat daripada sebelumnya.

“Jadi…,” dia berbisik, “apa kau masih menginginkanku sekarang? Pria yang sangat keras kepala dan egois ini?” Dia tersenyum. “Dan aku bahkan tidak akan ada apa-apanya dibanding pria-pria lain yang bisa kau dapatkan. Levelku akan sangat jauh di bawah mereka.”

Senyuman pertama pria itu untuknya, setelah berhari-hari pertengkaran mereka.

“Jika seseorang bisa menginginkan banyak hal yang begitu sulit untuk diraihnya,” ujar Hye-Na pelan, “seseorang yang lain juga bisa menjadi puas hanya dengan menginginkan satu hal saja.” Dia memiringkan kepala. “Satu hal yang menurut orang lain sederhana. Satu hal yang baginya… mencakup segalanya. Segala hal yang dia inginkan.”

 

***

 

Perjalanan pulang mereka berlalu dalam keheningan. Hye-Na tidak yakin apakah mereka sudah baik-baik saja sekarang. Dia terlalu canggung untuk bertanya dan meminta konfirmasi. Tapi pria itu mengulurkan tangan padanya untuk digenggam saat mereka sudah turun dari mobil, berjalan di sisinya sampai ke depan pintu rumah, dan berdiri di sana, tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin masuk ke dalam.

“Aku sudah mengantarmu ke rumah. Dan menemanimu sampai ke depan pintu. Seharusnya aku mendapatkan sesuatu, bukan?” Pria itu menyunggingkan senyum miring dan jantung Hye-Na seakan melorot turun dari tempatnya. Betapa dia merindukan senyum itu, betapa dia pernah jatuh cinta berkali-kali pada senyum yang sama. Sekarang pun masih.

“Kau mau masuk?” Dia menawarkan, ikut tersenyum.

“Apa kau penganut paham melakukan seks pada kencan pertama?”

“Tidak,” gelengnya. “Tapi aku bisa membuat pengecualian untukmu.”

Kyuhyun melarikan jemarinya ke helaian rambut wanita itu, gerakan yang sudah ditahan-tahannya sedari tadi.

“Aku sangat ingin,” pria itu berbisik. “Tapi aku harus segera pergi ke lokasi syuting.”

“Oh.” Hye-Na mengerjap. “Oke.”

Kyuhyun melirik arlojinya sekilas dan berkata, “Tiga menit lagi hari ini berakhir.”

“Dan?”

“Dan… ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita,” tukasnya, menyingkirkan semua akting dan kepura-puraan mereka satu jam terakhir. “Boleh aku mengambil hadiahku sekarang?”

“Hadiah?” Hye-Na mengulum senyum saat wajah pria itu beranjak mendekat.

Present. Itu kata favoritku dalam bahasa Inggris.”

“Dan boleh aku tahu kenapa?”

“Kata itu memiliki tiga arti.” Kyuhyun menumpangkan sebelah tangan ke daun pintu, menyudutkan wanita itu. “Hadiah,” gumamnya, menyentuhkan hidung ke puncak kepala istrinya. Dia mendambakan aroma sampo itu seharian. “Karena kau adalah hadiah bagiku. Dan persembahan.” Dia mengecup kening wanita itu selintas lalu. “Karena aku pun adalah hadiah bagimu.”

Hye-Na tergelak. “Oke,” ujarnya di sela-sela tawa.

“Dan… masa sekarangku.” Ujung hidung mereka beradu.

“Kau semakin pintar merayu.”

“Memang.” Pria itu mengangguk setuju.

Wanita itu menunggu, membuka celah bibirnya sedikit, dan penantian itu terasa seperti selamanya.

Saat bibir pria itu akhirnya menyentuh bibirnya, entah bagaimana dia terkesiap, dengan refleks maju untuk memperdalam ciuman mereka. Pria itu menghentikannya.

“Aku ingin melakukannya dengan caraku. Jadi, diamlah,” perintah pria itu. “Jangan bergerak.”

Bibir pria itu memagut bibir atasnya dengan tekanan yang begitu lembut, seperti sedang memohon sesuatu. Menekan ringan, tanpa melibatkan lidah. Jauh berbeda dengan ciuman barbar mereka malam lalu. Kali ini pria tersebut begitu berhati-hati, mengecup ujung bibirnya singkat sebelum melepaskannya.

“Itu untuk memperbaiki ciumanku tempo hari,” ucap pria itu setelah menegakkan tubuh kembali. Keningnya berkerut dalam saat melanjutkan, “Aku benar-benar harus pergi sekarang.”

“Pagi nanti aku akan terbang ke Swiss. Urusan pekerjaan.”

“Oke,” Kyuhyun menyahut cepat. Dan yang bisa Hye-Na ingat hanyalah senyuman mencurigakan yang diperlihatkan pria itu setelahnya.

 

***

 

Next day, at Hotel, Zurich

“Aku ingin mandi. Lebih baik kau mengantre!” raung Hyun-Mi setibanya mereka di kamar hotel. Wanita itu melemparkan kopernya begitu saja ke lantai, membukanya dan mulai mengacak-acak isinya untuk menemukan pakaian ganti dan perlengkapan mandi, lalu langsung lenyap di balik pintu kamar mandi tanpa menunggu persetujuan dari Hye-Na.

Mereka sudah sampai sejak tadi sore, tapi harus pergi untuk mengecek lokasi syuting iklan besok pagi, juga membicarakan adegan-adegan secara mendetail dengan sang sutradara. Salah satu cabang perusahaan Han Group yang terkenal dengan cokelatnya akan meluncurkan produk terbaru mereka bulan depan dan di mana lagi lokasi yang lebih tepat untuk latar belakang video promosi cokelat selain Swiss sendiri? Terutama karena salah satu variannya menggunakan bahan cokelat yang diimpor langsung dari Zurich, kota yang udaranya disebut-sebut penuh dengan aroma cokelat karena banyaknya toko-toko cokelat yang berjejer di sepanjang jalanannya.

“Apa menurutmu kita bisa naik ke lantai atas untuk memata-matai Giulio?” seru Hyun-Mi dari kamar mandi.

“Jangan konyol!” sahut Hye-Na, tapi tertawa kecil membayangkan kemungkinan itu.

“Aku tidak keberatan ditangkap polisi dan dituduh menjadi penguntit kalau aku bisa melihatnya bertelanjang dada. Kau ingat adegan itu? Saat mereka sedang di pantai dan Giulio bangun dari tidur, dan lagu itu, dan mereka berdiri berhadapan, dan pemeran wanitanya malah kabur? Kalau aku jadi dia, sudah pasti kakiku akan menjadi agar-agar dan aku akan berlutut di depannya. Atau mungkin aku akan pingsan? Lebih bagus lagi kalau kucium saja dia.”

“Dengan cara apa?” cemooh Hye-Na. “Melompat? Karena berjinjit jelas tidak mungkin. Tinggi kalian berbeda 30 senti.”

“Lebih lumayan, daripada perbedaan tinggimu dan dia yang 32 senti.”

“Hanya dua senti, Hyun-Mi~ya, itu nyaris tidak ada bedanya.”

“Tetap saja tinggiku 160, sedangkan kau cuma 158. Akhirnya!” wanita itu berteriak kencang. “Ada satu hal di mana aku lebih baik darimu.”

“Hentikan topik konyol ini dan cepat selesaikan mandimu!”

Hye-Na melirik tumpukan pakaian di kopernya, memandangi gaun berwarna putih yang terletak di bagian teratas. Itu pertama kalinya dia jatuh cinta pada sebuah gaun, pada pandangan pertama, dan dia terus-menerus membawa gaun itu ke mana-mana, menyimpannya di dalam koper bepergian yang selalu tersedia di mobilnya. Dia tidak tahu akan memakai gaun itu ke mana dan merasa itu terlalu berlebihan untuk dikenakan di depan suaminya, terutama karena mereka tidak memiliki acara khusus untuk dihadiri bersama.

Bel kamar berbunyi dan dia mengerutkan kening. Mereka belum sempat menghubungi layanan kamar untuk memesan makanan, jadi siapa yang kira-kira datang?

Hye-Na beranjak untuk membukakan pintu dan sedetik kemudian mengangakan mulut tak percaya.

***

 

“Kudengar CEO Han Group juga sedang ada di sini sekarang dan menginap di hotel yang sama dengan kita. Mereka akan melakukan syuting iklan besok dan kalau tidak salah lokasinya dekat dengan lokasi kita,” salah seorang staf berkata dan Kyuhyun menglum senyum mendengarnya.

“Apa menurutmu kita bisa bertemu dengannya? Aku sudah cukup mendengar desas-desus betapa cantiknya dia, jadi yang kuperlukan sekarang adalah melihatnya secara langsung,” staf lain menyahut.

“Semua orang membicarakan istrimu dan mulutku sudah gatal ingin memberi tahu mereka bahwa aku sudah berkali-kali bertemu dengannya,” bisik manajer Kyuhyun gemas.

Salah satu staf yang berjalan di depan mereka berbalik dan menatap Kyuhyun ingin tahu. Untuk sesaat, pria itu nyaris mengira wanita tersebut bisa mendengar ucapan manajernya barusan.

“Bukankah Han Hye-Na pernah berkata bahwa kau adalah calon suami idealnya?”

Manajer Kyuhyun terbatuk keras dan Kyuhyun sendiri entah bagaimana malah merasa gelagapan diserang pertanyaan tiba-tiba seperti itu.

“Ya,” jawabnya, tidak tahu harus berkata apa.

“Apa kau tahu betapa beruntungnya dirimu? Dia dambaan pria satu Korea dan dia memilihmu.”

“Apa itu dimaksudkan sebagai pujian?”

“Yah,” wanita itu mengangkat bahu, “kau sama sekali tidak buruk sebenarnya. Tapi yang kita bicarakan adalah Han Hye-Na, dengan rekening dua triliun di bank dan itu bahkan belum terhitung aset yang dimilikinya dalam bentuk rumah, mal, hotel, pulau, perusahaan, ya Tuhan. Bagaimana bisa wanita semuda dia menghadapi kekayaan sebanyak itu?” Wanita itu terus mengoceh sambil menggeleng-gelengkan kepala dan Kyuhyun nyaris menyikut manajernya yang dengan susah payah menyamarkan tawanya dalam batuk-batuk keras tanpa henti.

“Oh, astaga, bukankah itu DIA?”

Semua staf mulai berkasak-kusuk saat serombongan orang berjalan memasuki lobi hotel, dengan tatapan tertuju pada wanita yang berjalan paling depan sambil menggeret koper, dengan kacamata hitam membingkai wajah, rambut yang diikat seadanya, dan tubuh berbalut dress berwarna krem selutut dengan hiasan belt hitam tipis di pinggang. Dan anehnya, dengan semua penampilan sederhana itu, entah bagaimana wanita tersebut bisa tampak luar biasa menawan.

1000261_433777540071926_1552373932_n

“Bahkan setelah berkali-kali melihatnya pun aku masih tidak bisa terbiasa. Bagaimana mungkin kau hidup bersama wanita itu setiap hari tanpa terkena serangan jantung?” Manajer Kyuhyun menghela napas.

“Aku bahkan tidur dengannya,” tukas Kyuhyun masam dengan alis terangkat. Setelah belasan jam di atas pesawat, bagaimana bisa wanita itu masih tampak begitu memesona? Saat Hye-Na mulai menyadari kecantikan yang dimilikinya, saat itu jugalah neraka dunianya dimulai. Dia terimpit di antara rasa senang karena istrinya dikagumi semua orang, sekaligus rasa tidak rela karena keindahan itu bukan lagi secara pribadi miliknya.

“Apa kau harus memamerkannya seperti itu padaku?” Manajernya mendelik dan dia menyunggingkan senyum puas.

“Aku selalu menganggap Go Ara cantik.” Para staf di depan mereka kembali sibuk bergosip. “Tapi Han Hye-Na itu… levelnya berbeda.”

Kyuhyun meraih kartu yang disodorkan pegawai hotel di balik meja administrasi dan mengantonginya.

“Aku duluan.” Dia melambaikan tangan dan manajernya segera mengekorinya dari belakang.

“Banyak orang di sini. Kalau kau berencana menyelinap ke kamar istrimu—”

“Rencananya begitu. Dan karanglah alasan masuk akal jika seseorang mencariku malam ini.”

“Apa yang akan kau lakukan memangnya?”

Kyuhyun tersenyum miring. “Mengajak istriku berkencan, tentu saja.”

 

***

 

“Apa kau memaksudkan ini untuk sebuah kejutan?” tanya Hye-Na setelah mendapatkan pita suaranya kembali.

“Tepat sekali.” Suaminya menyunggingkan senyum lebar, melangkah masuk melewati ambang pintu, lalu menatapnya lekat. “Gerombolan kru yang datang bersamaku melihatmu dari jauh dan sibuk meributkan betapa cantiknya kau.” Dia menyentuh ujung poni Hye-Na dan menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu. “Sedangkan aku melihatmu dari dekat dan….”

“Dan?”

Pria itu menggeleng seraya tertawa kecil, memajukan tubuh untuk menyapukan kecupan main-main di sudut mulut wanita itu.

“Dan rasanya tak tertahankan,” lanjutnya lagi sebelum memagut bibir wanita itu di sela bibirnya dan memberikan ciuman penuh yang menyeluruh.

“Oh, berengsek! Sialan! Oh, Tuhan!”

Serentetan makian terdengar dari arah kamar mandi yang pintunya baru saja terbuka, menampakkan seorang wanita yang nyaris terjerembap jatuh dan sedang berusaha mendapatkan keseimbangan kembali.

“Aku tidak bermaksud mengintip!” Hyun-Mi memberikan klarifikasi. “Aku hanya tidak ingin menginterupsi kalian, jadi aku mencoba… eh, bersembunyi.”

“Hyun-Mi~ssi,” sapa Kyuhyun dengan senyum terkulum saat melihat betapa merahnya wajah wanita itu. “Aku tidak tahu kalau kau—”

“Oh, istrimu melakukan nepotisme dan menyeretku untuk bekerja bersamanya, jadi….” Hyun-Mi sibuk menggerakkan tangannya ke sana kemari karena gugup dan akhirnya menyadari bahwa kelakuannya itu hanya membuatnya tampak konyol di depan idolanya. Ups, maksudnya di depan suami temannya. “Aku selalu berpikir,” dia melanjutkan, tidak bisa mengerem mulutnya, “bahwa caramu berciuman persis seperti yang kau lakukan di drama musikalmu. Tapi yang kusaksikan barusan jelas menunjukkan perbedaan yang terlalu jauh. Bagaimana bisa sebuah ciuman dari pria yang sama terlihat begitu berbeda? Eh, maksudku, begini, aku tidak pernah segerah ini saat menyaksikan adegan ciuman dan… pokoknya, intinya, aku sudah menebak bahwa kau adalah pencium yang hebat, tentu saja, tapi melihat kenyataannya secara langsung, dan melihat caramu mencium Hye-Na, rasanya terlalu jauh melampaui bayanganku. Yang ingin kutanyakan adalah… kenapa…?”

“Hyun-Mi~ya…,” desis Hye-Na tajam.

“Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya penasaran.” Hyun-Mi menyengir lebar. “Aku akan senang sekali kalau kau bersedia menjawab.”

“Karena dia istriku, mungkin?” ucap Kyuhyun dengan nada bercanda.

“Ah… ya. Maaf. Aku untuk sesaat kehilangan ingatan.” Wanita itu mengibaskan tangan. “Baiklah, kalau begitu, apa kalian ingin aku keluar agar kalian bisa melanjutkan apa pun yang sudah kalian mulai tadi?”

“Tidak, tidak perlu,” Kyuhyun menukas, mengalihkan tatapan kembali pada Hye-Na. “Apa kau membawa gaun yang sedikit formal?”

“Ya.”

“Bisa temui aku satu jam lagi di bawah?”

“Apa kita akan pergi ke suatu tempat?”

“Ya.” Kyuhyun mengangguk, menyapukan ujung ibu jarinya sekilas ke pipi wanita itu. Dia tidak tahan untuk tidak melakukannya, bermaksud menebus hari-hari yang mereka lewatkan tanpa bersentuhan. “Aku ingin kau berkencan malam ini. Denganku.”

 

***

 

“Caranya melingkarkan lengan di pinggangmu! Caranya membenamkan jemari di rambutmu! Caranya… caranya menciummu. Aku tidak perlu video untuk membiarkan rekaman itu berakhir abadi dalam kepalaku!”

“Bisa kau berhenti histeris sekarang dan membantuku berdandan?”

“Tidak. Tidak bisa. Tapi aku akan membantumu. Tenang saja.” Hyun-Mi melangkah ke belakang Hye-Na dan mulai menolong wanita itu menata rambut. “Maksudku, dia itu idolaku… dan dia berciuman denganmu, sahabatku. Cara dia menunduk untuk menyejajarkan tinggi kalian, dan bahkan… caramu berjinjit! Dan sekarang aku mulai bertanya-tanya bagaimana dia di atas ranjang! Kau yakin tidak mau membagi informasi denganku?”

“Tidak,” sahut Hye-Na geram.

“Sedikit gambaran mungkin? Tentang seberapa besar—”

“Tidak usah mengkhayalkan ukuran penis suamiku!” bentaknya.

“Atau berapa rekor ronde yang telah kalian pecahkan dalam semalam?”

“Kalau kau tidak menutup mulutmu sekarang juga, aku akan menurunkan gajimu dan—”

“Baiklah. Baiklah. Aku diam. Dasar pelit!”

Beberapa detik kemudian….

“Seberapa lama dia tahan melakukan foreplay?”

“JUNG HYUN-MI!”

 

***

 

“Hei, kita serasi!” cetus Hye-Na saat dia menunduk memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang.

“Putih. Warna favoritmu sepanjang masa.”

Wanita itu tersenyum lebar, memandangi Kyuhyun yang malam ini mengenakan setelan putih dari atas sampai bawah, lalu menyadari bahwa pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan hanya memfokuskan diri untuk menyetir mobil sewaaannya keluar dari pelataran hotel.

“Tidak ada komentar untukku? Tidak mau melirik sedikit?” godanya.

“Kalau aku melakukannya sekarang, kita akan mengalami kecelakaan karena aku tidak akan bisa mengalihkan pandangan. Tujuanku malam ini adalah restoran, bukan rumah sakit.”

Hye-Na menggeser duduknya, menghadap ke depan. “Jadi kita akan makan malam?”

“Sedikit larut memang.”

“Mungkin. Baru pukul sembilan. Dan aku memang lapar.”

“Baguslah.”

***

 

Ten minutes earlier….

“Halo!” Hyun-Mi melambaikan tangan sebagai sapaan, dengan cengiran lebar di wajah. Pria di depannya mengerutkan kening bingung.

“Kau siapa?”

“Aku sahabat dekat Han Hye-Na.” Dia memperkenalkan diri. “Jung Hyun-Mi. Dan kau adalah manajer Kyuhyun.”

“Jadi?”

“Apa kau merasa bosan?”

Pria itu mengangkat bahu. “Aku tidak yakin.”

“Bagus! Aku mengusulkan agar kita berdua segera angkat kaki dari sini.”

“Untuk?”

“Untuk menjadi stalker!” ucap wanita itu bangga seolah ide tersebut terdengar sangat brilian.

“Menjadi stalker adalah pelanggaran hukum, Jung Hyun-Mi~ssi. Dan memangnya siapa yang akan kau kuntit?”

“Artismu. Dan sahabatku.”

“Alasannya?”

“Hanya penasaran saja.” Wanita itu merengut. “Kau mau ikut atau tidak? Nanti kita bisa kehilangan jejak mereka. Kupikir kau juga sama denganku, merasa kesal karena ditinggalkan di kamar tanpa teman.”

“Baiklah, baiklah.” Pria itu mengalah, lebih karena malas menghadapi pelototan wanita di depannya. “Aku ikut.”

***

 

Hye-Na menggigit burger-nya dan mendesah puas. Mereka keluar dari restoran setengah jam lalu, saling memandang di depan pintu, lalu tertawa terbahak-bahak. Porsi super mini dari makanan di restoran mewah yang mereka datangi sama sekali tidak berhasil mengakomodasi kuota perut mereka berdua, terutama Hye-Na, yang menganggap karbohidrat adalah hal yang sangat penting dalam jadwal makannya. Membaca nama-nama makanan yang tersaji di buku menu saja sudah membuat mereka lelah, ditambah dengan harga tak masuk akal yang tertera di sampingnya, dan mereka akhirnya malah menyantap sejenis kerang-kerangan dan setumpuk kacang polong karena Hye-Na sama sekali tak memahami bahasa Jerman, Prancis, dan Italia yang tertera nyaris di keseluruhan buku menu. Jadi mereka memutuskan mengunjungi salah satu restoran fast food, memesan burger, coke, porsi dobel kentang goreng, lalu terdampar di bawah sebuah jembatan yang kosong, tapi tampak terang dengan sederet lampu jalan dan cahaya dari bangunan di sekitar. Mereka semakin tampak aneh dengan setelan semi formal yang mereka kenakan, tapi urusan perut mengalahkan segalanya.

“Aku pikir aku sudah cukup ahli berakting sebagai orang kaya, tapi aku masih tidak bisa memahami orang-orang yang makan di restoran super mahal dengan porsi makanan super mini, hanya untuk dianggap berkelas.”

“Kau lihat barisan garpu, sendok, dan pisaunya?”

“Mereka gila.” Wanita itu dengan seenaknya menarik kesimpulan. “Aku bisa menggaji Hyun-Mi selama dua bulan dengan jumlah uang yang tadi kau keluarkan untuk membayar makan malam mengerikan kita.”

“Dan kita hanya mendapat secuil daging tiram.”

“Dengan bonus kacang polong.”

Mereka kembali terbahak.

“Restoran-restoranmu tidak seperti itu, ‘kan?”

“Aku sudah memastikannya dengan mendatangi semua restoran itu satu per satu.” Hye-Na membasahi kerongkongannya dengan seteguk coke. “Beberapa mungkin harganya mahal, tapi porsi makanan dan rasanya setimpal.”

Kyuhyun meremas bungkus burger-nya dan memasukkannya ke dalam kantong.

“Sebentar,” ujarnya, berlari kecil ke mobil, dan kembali dengan membawa sebuah bungkusan kecil.

Dessert-mu.”

Hye-Na membuka kertas pembungkus yang tampak elegan itu, lalu mengernyitkan dahi saat melihat isinya.

“Sebutir cokelat?”

Chocopologie-by-Knipschildt

“Makan sajalah.”

Hye-Na mengangkat bahu, memasukkan cokelat dengan bentuk yang sama sekali tidak menggugah selera itu ke dalam mulut, dan menghabiskannya dalam dua gigitan.

“Hebat,” ujar Kyuhyun, setelah memastikan dia sudah menelan semuanya. “Kau baru saja menghabiskan cokelat seharga 250 dolar dalam hitungan detik.”

Wanita itu sontak terbatuk-batuk dan nyaris tercekik, sedangkan Kyuhyun dengan kalem menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dia persiapkan. Dia menebak reaksi istrinya dengan sangat tepat.

“250 dolar?” Wanita itu memejamkan mata, seolah dengan begitu cokelat tersebut akan kembali ke bentuknya semula sebelum dia hancurkan dengan giginya dan masuk ke dalam perutnya dalam bentuk tidak keruan. “Untuk sebutir cokelat yang rasanya bahkan tidak luar biasa?”

“Ditambah dengan ongkos kirim dari Connecticut—”

“Tutup mulutmu!”

Kyuhyun tertawa melihat ekspresi tersiksa di wajah istrinya. “Di mobil masih ada Lindt & Sprungli, cokelat asli Swiss. Dan aku bahkan membelikanmu Godiva, kalau cokelat tadi tidak membuatmu puas.”

Hye-Na mendelik, bangkit berdiri, dan menepuk-nepuk bagian bokong gaunnya untuk menepiskan kotoran.

“Ayo jalan-jalan sebentar. Aku harus memastikan cokelat 250 dolarku tecerna sempurna.”

 

***

 

“Aku membaca artikel tentang Daniel Henney yang tergila-gila padamu dan sopirmu kemudian menelepon, memberi tahu bahwa kau berniat untuk mabuk-mabukan semalaman. Dan saat itu aku pikir aku tidak bisa mendiamkanmu lebih lama lagi.”

“Aku harus melipatgandakan gaji sopirku.”

“Padahal dia menjadi mata-mataku?”

Hye-Na terkekeh, menghentikan langkah, dan menunduk menatap suaminya. Dia berdiri satu anak tangga di atas Kyuhyun, dan tinggi hak sepatunya membuatnya menjulang beberapa senti di depan pria itu. Untuk pertama kalinya, pria itulah yang harus mendongak menatapnya.

“Aku tetap pada pendirianku untuk menyembunyikan pernikahan kita sedikit lebih lama lagi.” Dia menghela napas lega saat pria itu tidak mendebatnya, hanya menunggu penjelasannya lebih lanjut. “Kau sedang berada di puncak. Belum saatnya kau jatuh. Dan aku ingin memperkuat posisi perusahaanku dulu, agar saat rahasia kita diketahui publik, dampaknya tidak akan memberi pengaruh besar bagi keberlangsungan perusahaan dan nasib ribuan karyawan.”

Dia menyentuh pipi pria itu dengan jemarinya, lalu melanjutkan, “Kau akan ikut wajib militer tahun depan, mungkin saat itulah waktunya. Jika kau pergi dengan meninggalkan skandal, mereka jelas tidak akan melupakanmu dengan mudah.”

“Kenapa tidak sesudahnya saja?” Pria itu akhirnya membuka suara. “Aku akan kembali dengan skandal besar dan tidak akan perlu waktu lama bagiku untuk kembali terkenal.”

Wanita itu menggigit bibir, tahu bahwa ucapannya selanjutnya akan mengobarkan api.

“Karena aku berencana memiliki anak darimu sebelum kau berangkat.”

“Na~ya,” pria itu mendesiskan namanya, matanya berkilat marah. “Aku tidak akan meninggalkanmu dengan semua kekacauan itu, terutama kalau kau sedang mengandung anakku,” tolaknya tegas. “Mereka akan menghabisimu dan tidak ada aku yang bisa membela dan mendampingimu. Itu tidak akan terjadi.”

“Ada orangtuamu yang akan menjagaku. Dan kakakmu. Dan bibiku. Dan bayi itu akan menemaniku selama kau tidak ada. Dua tahun itu tidak sebentar, Kyu.”

“Aku tidak mungkin menghamilimu begitu saja dan lari dari tanggung jawab.”

“Kita menikah. Kau pergi membela negara. Itu bukan kabur namanya. Aku bisa sering-sering mengunjungimu ke sana.”

“Anakku tidak akan lahir tanpa ayah.”

“Aku akan membawanya menemuimu. Dan saat kau kembali nanti, dia baru akan berumur satu tahun. Itu saat yang tepat baginya untuk mula mengenali orang lain dan belajar bicara. Dia tidak akan tumbuh tanpamu.”

Kyuhyun membuang napas keras. “Kau telah memikirkan semuanya, bukan?”

“Ya. Ini yang terbaik yang bisa kupikirkan untuk kita,” bisiknya. “Dan jika penggemarmu tidak menerimamu kembali, kita bisa memulai sesuatu yang baru. Banyak hal yang bisa kau lakukan.”

“Seperti menggantikanmu memimpin perusahaan, jadi kau bisa beristirahat dan mengurus anak kita di rumah?”

Wanita itu tersenyum hati-hati. “Salah satunya.”

“Aku sangat ingin sekali mendebatmu. Dan aku benar-benar akan memberikan argumentasiku. Nanti.” Kyuhyun mendesah kalah. “Tapi saat ini aku tidak bisa memikirkan apa pun.”

“Pasti karena gaunku.”

“Dan wajahmu terlalu dekat.”

“Kau ingin aku menciummu sekarang?”

Kyuhyun tersenyum. “Boleh juga,” ujarnya.

Pria itu mendongak. Menunggu. Lalu wanita itu menunduk. Kali ini, mereka bertukar peran.

 

***

 

The next day….

“Dari mana saja kau?” tanya Hye-Na saat Hyun-Mi berlari-lari kecil menghampirinya dengan amplop coklat yang tampak tebal dalam dekapan.

“Mencuci foto,” wanita itu berseru riang, menariknya menjauh dari orang-orang, lalu sambil cekikikan membuka amplop coklat tersebut, mengeluarkan selembar foto berukuran besar dari dalamnya.

“Oh ya, Tuhan.” Mulut Hye-Na terbuka lebar saat melihat foto yang disodorkan di hadapannya.

koreanweddingphoto_ykb-044

“Itu jepretan terbaikku. Mungkin aku bisa menjadi fotografer di masa depan. Kerjaku bagus, bukan?”

“Kau menguntit kami semalaman?”

“Yap. Aku. Dan manajer Kyuhyun. Dia memperingatkanku dengan keras agar menjaga semua foto-foto koleksiku dengan baik. Yang itu untukmu saja, omong-omong.” Hyun-Mi berpaling dan mulai sibuk memanjangkan leher, menoleh kiri kanan. “Mana Giulio?”

YAK, JUNG HYUN-MI!”

Wanita itu menoleh kaget. “Apa? Apa? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya polos. “Tapi foto itu luar biasa! Kyuhyun Oppa tampak sepenuhnya terpikat padamu.”

Hye-Na menggeram. Tapi apa yang dikatakan sahabatnya itu benar. Foto itu luar biasa.

“Lihat sebelah situ! Suamimu sedang berselingkuh dengan wanita lain!” seru Hyun-Mi sambil menunjuk-nunjuk penuh semangat. “Hooo… Go Ara. Aku penggemarnya sejak menonton Reply 1994. Bagaimana kalau model kita selanjutnya Yoo Yeon-Seok saja?” Wanita itu kembali kepada kebiasaannya melompat dari satu topik ke topik lainnya. “Kau juga suka dia, ‘kan? Kau bahkan histeris saat meliht adegan ciumannya dengan Kang So-Ra di episode terakhir Warm & Cozy. Aku berpikir adegan ciuman mereka sudah sangat membuat iri, lalu aku melihatmu dan suamimu, dan—”

“Halo, Mr. Berruti!” teriak Hye-Na, dan perhatian Hyun-Mi dalam seketika teralihkan begitu saja. Dia langsung dalam siaga satu untuk meneteskan liur melihat pria Italia setinggi 190 senti dengan kulit gelap terbakar sinar matahari melangkah menghampiri mereka.

Dengan segera, wanita itu jatuh cinta.

***

 

“Dia mirip Edward Cullen. Lihat! Aku akan membuang Robert Pattinson dan menjadikan Giulio sebagai Edward Cullen dalam kisah vampir pribadiku.”

Hye-Na memutar bola mata mendengar kehisterisan wanita di sampingnya. Pria bernama Giulio Berruti yang sibuk dipuji-puji Hyun-Mi itu semakin mendekat dan dia tanpa bisa ditahan ikut menggigil. Pria itu sangat tampan, hot setengah mati, dan menguarkan aura maskulinitas yang begitu kuat. Dia mulai tidak bisa bernapas.

f502504e69237414663228c33745d63a

bb-srz-srz-449574381

“Ms. Han, I guess?” Pria itu menyapa dengan logat Italia yang kental, mengulurkan tangan, dan dia menyadari bahwa tingginya hanya mencapai dada pria tersebut. Lehernya seketika sakit dalam upayanya membalas tatapan pria itu. “Just call me Giulio.”

Mata biru terang pria itu balas menatapnya dan risiko patah lehernya mendadak tidak penting lagi. Terutama karena rambut itu. Oh ya, rambut itu. Bagaimana bisa rambut itu terlihat begitu berantakan dan menggairahkan?

“Ingat Cho Kyuhyun. Suamimu,” bisik Hyun-Mi di telinganya.

“Siapa Cho Kyuhyun?” balasnya kejam, melontarkan senyuman sempurna di wajah dan menyambut uluran tangan yang tampak besar dan kokoh itu.

“Ladyra. Dee, for short. Nice to meet you.”

“My pleasure.”

Dengan susah payah dia melepaskan tangan tersebut dari genggamannya, lalu menahan tangannya sendiri untuk tidak terulur menggapai rambut super seksi yang pria itu miliki.

“You are so petite.” Pria itu menyunggingkan senyum. “So young. And so beautiful.” Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Forgive me, but I really think that I will meet a 40 or 50 something years old lady when they said CEO, and then it’s you. Wow.”

Ucapan pria itu membuatnya terengah dan dia mulai kesulitan memfokuskan pikiran untuk melakukan hal selain menampakkan seringaian konyol yang memalukan. Jiwa fangirl-nya kembali berkobar dan dia benar-benar ingin melarikan jemari ke tubuh bak pahatan patung di hadapannya.

“Masalah besar!” Seorang staf tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan wajah panik. “Manajer model wanita kita baru saja menelepon dan dia bilang Soo-Ah, model itu, terkapar tak sadarkan diri setelah mabuk-mabukkan semalaman. Mereka sedang di rumah sakit dan mustahil dokter memberinya izin untuk bekerja. Wanita itu bahkan belum bangun sampai sekarang.”

Staf itu mengulanginya dalam bahasa Inggris kepada Giulio yang tetap tampak santai, seolah itu bukan masalah besar.

“We have this very beautiful woman here. There is no problem. I would be so happy to have her as my partner.”

“Oh, no! No!” Hye-Na mengibas-ngibaskan tangan, semakin panik. “I can’t! I’m not a model and I have camera phobia. Trust me. I will ruin everything.”

“Tapi kau tahu semua adegan yang akan kita lakukan. Tidak ada dialog. Kau bisa melakukannya. Sudah saatnya kau secara resmi menjadi ikon perusahaan.” Entah sejak kapan sang sutradara ikut bergabung dengan mereka dan mengungkapkan persetujuan untuk menjadikannya model dadakan.

“Kita hanya punya waktu enam jam sebelum kau kembali terbang ke Korea. Dan kita tidak mungkin mencari model lain dalam jangka waktu itu. Kenapa tidak kau saja?” Hyun-Mi ikut-ikutan memberi suara.

“Hey, I will help you.” Giulio menyentuh lengannya dan dia kontan separuh hilang kesadaran. “You’re not alone here.”

Seolah terhipnotis, dia menganggukan kepala. Saat ini, dia sepenuhnya berada di bawah jampi-jampi seorang Giulio Berruti.

***

 

“Cerialah sedikit.” Ara menepuk punggung Kyuhyun simpati. “Ini kan sama dengan posisinya setiap kali melihatmu berakting dengan wanita lain.”

“Aku heran dia bisa tahan.”

“Mungkin cintanya tidak sebesar itu padamu?” Ara tertawa melihat muka masam lawan mainnya.

“Kuperhatikan, dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria Italia itu,” manajer Kyuhyun mengompori.

“Pria Italia itu juga tidak bisa mengalihkan pandangan darinya,” timpal Ara.

“Apa kalian tidak bisa diam?” Kyuhyun membentak.

“Aku pun pasti tidak akan tahan dengan pesona pria seperti itu,” Ara akhirnya mencoba menengahi, tapi akhirnya tertawa bersama manajer Kyuhyun saat di kejauhan Hye-Na tampak mengacak-acak rambut pria Italia-nya yang seksi dan pria itu balas memuntir rambut ikalnya dengan telunjuk.

“Tidak biasanya istriku liar begini.” Kyuhyun menggeram, berujar di sela bibirnya yang membentuk garis lurus, sedangkan dua orang di dekatnya semakin tertawa keras tanpa ditahan-tahan. Untung saja kru lain juga sibuk menikmati pemandangan dua orang yang sedang dimabuk cinta di bawah arahan kamera itu dan tidak menaruh curiga dengan kelakuan mereka.

Dia mengetuk-ngetukkan jemari di dalam saku mantel, berusaha bersabar. Kesabaran yang langsung lenyap saat pria Italia sialan itu menunduk dan mencium istrinya.

***

 

“Kalian bisa berimprovisasi!” teriak sang sutradara dan yang ada di pikiran Hye-Na hanya rambut Giulio yang baru saja disentuhnya dan tangan pria itu yang melingkari pinggangnya.

“I hope you don’t mind,” pria di depannya berkata.

Dia mengerjap, otaknya berkabut. Dia memandangi pria itu memasukkan cokelat berbentuk bulat ke dalam mulut, menunduk ke arahnya, dan dalam sedetik yang mengejutkan, cokelat tersebut berpindah tempat ke dalam mulutnya sendiri. Dia terlalu terpana, bahkan tidak menyadari bahwa sutradara meneriakkan kata CUT setelahnya.

Saat itulah dia mengetahui bahwa riwayatnya tamat sudah. Sebagian karena bibir pria selain suaminya baru saja menyentuh bibirnya dan fakta bahwa suaminya bisa saja menyaksikan adegan ini karena mereka berada dalam satu lokasi yang sama.

Dia gemetar saat Hyun-Mi menarik lengannya dan membisikkan kalimat mengerikan yang membuat pikirannya kembali jernih. Ketegangan itu seketika berubah menjadi ketakutan.

“Suamimu mengamuk.”

Uh-oh. Dia jelas dalam masalah besar.

***

 

“Bicaralah baik-baik, oke? Kondisinya benar-benar tidak bagus. Dia nyaris menghajarku saat aku berusaha mencegahnya menghambur ke arah kalian. Aku bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa ke semua orang tentang tindakannya itu. Dan dia masih harus syuting setengah jam lagi. Aku akan mengurus sisanya, jadi lakukanlah sesuatu untuk membuatnya tenang.”

Hye-Na menanggapi ucapan manajer Kyuhyun itu dengan sebuah anggukan, sebelum membuka pintu belakang mobil van dan merunduk masuk.

“Hai.” Dengan hati-hati dia menyapa, duduk dengan canggung di samping Kyuhyun yang memandang ke luar jendela.

Beberapa menit mereka saling diam. Kyuhyun-lah yang akhirnya memecah keheningan.

“Bagaimana rasanya? Dicium idolamu?”

“Tidak sebaik ciumanmu.”

“Tentu saja.” Kyuhyun mendengus. “Dia tidak menciummu dengan sungguh-sungguh.”

“Itulah intinya, bukan? Itu hanya terjadi sedetik. Aku bahkan tidak bisa merasakan apa-apa karena kejadiannya begitu cepat.”

“Selain merasa ingin pingsan?”

“Bagaimanapun… dia idolaku,” ungkap Hye-Na jujur.

“Ya. Aku pasti akan merasakan hal yang sama seandainya Song Hye-Kyo menciumku.”

“Apa yang dia lakukan tadi bahkan tidak bisa disebut kecupan.” Hye-Na menoleh ke arah Kyuhyun. “Apa kita akan bertengkar lagi?”

Pria itu balas menatapnya dan tanpa diduga-duga menyunggingkan senyum yang tampak lelah.

“Tidak adil bagimu jika aku marah,” ujarnya. “Lalu apa jadinya kau yang terus melihatku melakukan hal yang bahkan lebih intim dengan wanita lain?”

Pria itu memiringkan tubuh menghadapnya, mengulurkan tangan, dan menangkup tengkuknya dengan jemari yang menekan bagian belakang kepalanya.

“Aku hanya tidak bisa menahan diri,” aku pria itu. “Aku hanya tidak tahu bahwa rasanya akan sesakit ini. Dan aku terus memikirkan betapa lebih sakitnya kau setiap kali aku melakukannya padamu. Dan rasa sakitnya menjadi berlipat ganda bagiku.”

“Hei—”

“Tidak, biarkan aku bicara.” Pria itu mencegah, meletakkan dagu di atas pundak kirinya dengan posisi setengah memeluk. “Apa yang akan kukatakan ini akan terdengar sangat egois karena aku tidak akan bisa menjanjikan hal yang sama padamu.”

Pria itu bergerak, menyentuhkan hidung ke lehernya sebelum akhirnya membenamkan wajah ke cekungan bahunya.

“Cukup sekali ini saja, kumohon,” pria itu berbisik, begitu lirih, dengan nada yang entah bagaimana terdengar kesakitan. Permintaan itu diucapkan sepenuh hati, penuh permohonan yang sangat, dan mendengar kalimat berikutnya hanya membuatnya kehilangan kemampuan bernapas untuk sesaat. “Jangan lakukan ini lagi padaku.”

***