3ace7da8a0760f27136ee9424309e3ac copy2

 

September 6, 2015

 

Keadaan seperti ini tidak pernah mereka prediksi akan terjadi. Pertengkaran bukan hal baru dalam pernikahan mereka, itu jelas, tapi mereka tidak pernah benar-benar saling tidak bicara pada satu sama lain lebih dari satu hari. Mereka tidak pernah perang dingin. Kyuhyun tidak pernah mengabaikannya sepenuhnya sebelum ini. Sekarang pria itu melakukannya. Dengan totalitas yang membuatnya ketakutan.

Mereka memang tetap tidur dalam satu kamar, di atas ranjang yang sama, seperti kompromi yang pernah mereka bicarakan dahulu kala: tidak akan ada pisah ranjang, sebesar apa pun pertengkaran di antara mereka. Dia heran pria itu bersedia menuruti perjanjian tersebut, sekaligus bersyukur karenanya. Tapi kebisuan pria itu mengganggunya, pria itu bahkan sama sekali tidak menatap ke arahnya. Untuk pertama kalinya, pria itu tidur membelakanginya, dengan punggung yang—bagi Hye-Na—tampak begitu kaku. Tidak bersahabat. Bukan lagi punggung yang akan memberinya izin untuk memeluk.

Pria itu tampak baik-baik saja. Pergi menonton konser kakak perempuannya, tersenyum, tertawa seolah tak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak memberitahunya tentang syuting drama barunya yang ternyata sudah dimulai. Kali ini… dia merasa terasing. Dan dia setengah mati merasa ngeri.

 

***

 

Malam ini, dia kembali berbaring menghadap punggung pria itu. Punggung yang masih terlarang untuk disentuh. Juga pinggang tempat dia melingkarkan lengan tiap malam. Terasa jauh, meski hanya sejangkauan tangan.

Dia sudah berusaha, sungguh, untuk mengajak pria itu bicara. Dan pria itu hanya meliriknya sekilas, kemudian berlalu begitu saja, seolah dia tak pantas didengar dan waktu pria itu terlalu berharga jika harus dibuang untuknya.

“Kudengar hari ini kau shooting adegan ciuman.”

Sejenak diam. Dia hampir yakin pria itu tidak akan menanggapinya lagi, tapi kemudian pria itu bicara. Hanya saja, kalimat yang akhirnya terucap sama sekali bukan sesuatu yang ingin dia dengar setelah kebisuan mereka seharian.

“Tidak setiap hal yang kulakukan harus kulaporkan padamu.”

“Mencium wanita lain kurasa termasuk.”

“Ini bukan kali pertama. Kupikir seharusnya kau sudah terbiasa.” Nada bicara pria itu semakin dingin seiring tiap kata yang terlontar. “Risiko menikahi artis. Seharusnya kau sudah paham sejak awal.”

Baik, ini tidak akan berjalan lancar. Jika pria itu bersikeras bersikap seperti ini padanya, mungkin untuk sementara sebaiknya dia diam saja. Mereka tidak akan bisa memperbaiki apa-apa jika pria tersebut masih mengutamakan emosinya.

Dia berbalik, mencengkeram ujung bantal, tidak menyadari bahwa tubuhnya gemetar.

“Kita tidak pernah baik-baik saja, bukan?” bisiknya.

“Bohong kalau aku bilang sebaliknya.”

Dia mengangguk kecil, meski pria itu tidak melihat. Memejamkan mata, mencoba untuk mengabaikan air yang membasah di sana.

Saat itulah dia menyadari bahwa dia sudah merasa begitu lelah.

 

***

 

Kyuhyun membiarkan matanya terbuka nyalang. Dia terjaga sepanjang malam. Menyadari tiap gerakan, mendengar tiap suara, dan merasakan udara dingin merambati punggungnya. Dia berhenti memerintahkan dirinya untuk istirahat sebentar. Tidak ada gunanya. Bagaimana mungkin dia bisa tidur setelah mengatakan hal buruk pada istrinya beberapa jam lalu?

Pria itu bangkit, beranjak dari ranjang tanpa merasa perlu untuk berhati-hati. Hye-Na tidak akan terbangun oleh gerakan seperti itu, dia tahu. Sekali wanita itu tertidur, sulit untuk membuatnya bangun sebelum waktunya tiba. Itu biasanya pukul delapan pagi.

Dia mengitari tempat tidur, berhenti di sisi ranjang yang ditiduri Hye-Na, lalu duduk di lantai. Dia melipat kaki, meletakkan lengan di atas lutut, lalu menumpangkan dagu di sana.

Keegoisan. Amarah. Rasa lelah. Sikap-sikap buruknya sebagai individu itulah yang melatarbelakangi segala hal yang dia lakukan kini. Dan ya, dia membenci dirinya untuk itu.

Tiba saatnya di mana dia merasa bosan menjadi pihak yang terus berjuang. Dia ingin wanita itu menyadari betapa pentingnya pernikahan mereka, bahwa seharusnya tidak ada yang bisa mencegah mereka untuk bahagia. Mereka telah salah langkah di awal karena melakukan pernikahan diam-diam, sesuatu yang tak termaafkan dalam dunia yang digelutinya. Tapi dia sudah terang-terangan memperlihatkan bahwa dia rela mengorbankan apa saja, karena dia telah menetapkan pilihan. Wanita itu, di atas segalanya. Di atas apa pun yang berpotensi menyakitinya.

Ketakutan teratas dalam kepala istrinya adalah bahwa mereka akan ketahuan dan dia akan menjadi sosok yang paling dibenci penggemar. Dia tahu wanita itu memikirkan posisinya sebagai publik figur. Wanita itu terlalu mengutamakan keinginan agar dia tidak tersakiti, berusaha melindunginya dari segala hal yang bersifat menghancurkan. Itulah kenapa dia merasa marah. Sudah saatnya wanita itu berhenti memikirkan dirinya saja. Dia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang memikirkan kebahagiaan wanita itu. Wanita itu juga harus memikirkan haknya sendiri sebagai seorang istri. Untuk diakui khalayak. Bahwa status pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang memalukan untuk diketahui orang banyak.

Wanita tersebut mengatakan bahwa dia berubah. Ya, dia tahu pasti akan hal itu. Dia terlihat begitu ambisius, dan semakin ambisius dari hari ke hari. Yang wanita itu tidak ketahui adalah alasan di balik itu semua.

Mungkin istrinya adalah wanita terkaya di Korea, dan sungguh, dia tidak merasa terganggu karenanya. Tapi ada hal-hal yang ingin dia lakukan sebagai suami. Sebagai pencari nafkah utama. Dia tidak peduli apa yang dilakukan wanita itu dengan uang pribadinya, tapi yang jelas, uangnyalah yang harus dikeluarkan untuk membiayai segala hal dalam rumah tangga mereka, bukan uang istrinya.

Dia memikirkan tentang waktunya yang semakin menipis. Bahwa kariernya kemungkinan besar akan tamat saat status pernikahan mereka ketahuan. Jadi dia mempersiapkan apa pun yang bisa dia usahakan untuk menghadapi masa depan yang tak menentu. Dia mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar ke depannya nanti kondisi keuangan mereka akan tetap baik-baik saja. Uang istrinya adalah uang istrinya, tapi uangnya adalah uang mereka bersama. Sudah saatnya wanita itu mengetahui perbedaannya.

Dia mengulurkan tangan, menjangkau pipi wanita itu dengan ujung jemarinya, mengusap bulir air yang menggantung di ujung bulu matanya yang lembap. Kemudian, dia memajukan tubuh, mengecup sudut mata wanita itu, menggeser bibirnya untuk menyusuri jejak basah di pipinya yang pucat, lalu untuk sesaat membenamkan wajah di rambut favoritnya. Dia menarik napas, menghirup aroma kesukaannya, lalu menegakkan tubuh kembali.

Itu menjadi rutinitasnya dua hari terakhir. Mencintai istrinya diam-diam.

 

***

 

September 7, 2015

Hye-Na memotong kimbap dalam ukuran yang berbeda satu sama lainnya, menatanya asal di piring, lalu membuka kulkas dan mengeluarkan kotak besar berisi kimchi dari ibu mertuanya. Dia mengambil bagian yang paling kecil, meletakkannya di talenan, lalu mulai memotong-motong lagi. Dia terpaksa harus mengurus makan malamnya sendiri kali ini. Biasanya, Kyuhyun tidak akan mengizinkannya memegang pisau. Biasanya.

Konsentrasinya sedikit terganggu saat dia mendengar suara pintu masuk dibuka. Dia menatap tidak fokus pada lembaran kol yang sudah merah karena bubuk cabai di depannya, mendengar langkah kaki pria itu mendekat, suara air dispenser yang tertuang ke dalam gelas, dan kemudian pisau tajam yang direnggut darinya.

Yang dia tahu setelahnya hanya tangannya yang ditarik ke bawah keran air bak cuci piring, guyuran air yang membersihkan bubuk cabai dari jemarinya, dengung mesin pengering, tetesan obat merah, dan plester luka yang dilingkarkan di ujung telunjuknya. Tubuhnya didorong sampai terduduk di kursi, dan dia hanya memandangi pria itu yang meletakkan kimchi, semangkuk sup yang tadi dia panaskan, dan sepiring kimbap ke atas meja makan. Semuanya dilakukan tanpa ada satu dialog pun di antara mereka.

Tanpa tahu apa yang mendorongnya, Hye-Na memegangi bagian siku kemeja yang pria itu kenakan, mencegahnya beranjak dari ruangan.

Kyuhyun akhirnya menunduk, menatapnya sekilas, lalu menyorotkan tatapan tajam pada tangannya yang berada di lengan pria itu. Nyaris, dia menyangka pria itu akan menjentikkannya seperti debu.

Dia berdiri, mereka berhadapan, dan mata pria tersebut akhirnya beranjak naik, menghunjam matanya.

“Aku ingin bicara,” ujarnya, berencana untuk memaksa jika pria itu masih menolak.

Saat itu dia menyadari perbedaan tinggi yang mencolok di antara mereka. Pria itu menjulang di atasnya, dan lebar tubuh pria itu mendadak membuatnya merasa terintimidasi. Sudah lama dia tidak merasa begitu. Terutama karena setiap senti tubuh pria itu kini meneriakkan permusuhan padanya.

Dia bersikeras membalas tatapan tidak bersahabat yang diarahkan pria itu. Dan, yang mengejutkan, pria itulah yang pertama memutuskan kontak. Mata pria tersebut beralih menatap sesuatu di belakang kepalanya, turun ke bibirnya, dan menetap di sana.

Tubuhnya seolah disiram air dingin saat menyadari arti tatapan itu. Mungkin dia terlalu menganggap tinggi pesonanya, tapi untuk sesaat dia merasa ketajaman sorot mata pria itu sedikit meredup, dan melembut.

Tangan pria itu terentang, memberi jarak di antara mereka, tapi tatapannya kembali naik, dan mata mereka bertemu. Dan dia bisa merasakan pergolakan batin dalam mata berwarna coklat gelap itu. Dia menunggu, mempertahankan kontak mata, dan detik berlalu. Untuk sesaat, dia merasa kendali diri pria tersebut begitu kokoh, atau pria itu hanya terlalu keras kepala untuk mengalah.

Dia tetap menunggu. Menghitung dalam hati.

Saat hitungannya mencapai angka tujuh, tubuhnya didorong hingga terduduk di atas meja, satu piring tergelincir, berakhir menghantam lantai. Pria itu memegangi pinggangnya yang berdenyut karena terhantam sudut meja, bibir pria itu menjelajah.

Dia membuka mulut. Dan membiarkan lidah pria itu menerobos masuk.

***

 

Kyuhyun menggeram di bibir wanita itu. Dia mencium dengan keras, memegangi kedua belah pipi wanita tersebut sekuat tenaga, seolah dia bermaksud meretakkannya. Dia menggigit bibir bahwa wanita itu dengan giginya, mendengar wanita itu mengerang, dan dia sama sekali tidak berniat memperlembut caranya. Mengingat wanita itu membalas dengan sama beringasnya, jelas tidak ada di antara mereka berdua yang keberatan dengan intensitas gerakannya.

Dia mengambil semua yang dia inginkan, sebanyak yang dia mau. Dia menghirup aroma, mencecap setiap rasa, dan keintiman sementara di antara mereka. Dan itu, menjadi ciuman terkejam yang pernah dia berikan pada wanita itu.

Dengan mudah, dia mendorong wanita itu menjauh setelah merasa cukup. Berdiri tegak, seolah yang barusan itu tidak sedikit pun memberi pengaruh terhadapnya.

“Bersihkan,” ujarnya datar, berbalik, dan melangkah menaiki tangga, menuju kamar.

Sesuatu membakarnya dari dalam. Saat wanita itu terluka, dia merasakan dua kali lipat dari rasa sakit yang wanita itu derita. Mengingat dialah yang melukai wanita itu saat ini, maka rasa sakit tersebut nyaris tak tertahankan baginya.

Dan dia masihlah pria yang menganggap dirinya paling benar. Belum waktunya. Perang ini tidak akan berakhir begitu saja.

 

***