6785282-cute-sunlight-wallpaper

 

Menambahkan titik pada i. Menggoreskan garis pada t. Mencoretkan tanda tangan. Memastikan segala hal sempurna. Dengan sangat terpaksa dia menyukainya, mengingat berada di rumah sendirian pada jam-jam ini tidaklah lebih baik daripada keadaannya sekarang.

Ruang kantor pribadinya sunyi. Hanya ada suara ketukan pada keyboard, dengung laptop, dan kebisingan jalan dari kejauhan. Lampu dimatikan dan hanya ada penerangan dari lampu meja kecil yang temaram, cahaya layar laptopnya, juga sedikit bantuan penerangan dari luar. Dia mulai merasa bosan. Bosan menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor. Bosan menjadi wanita yang selalu mencari-cari alasan supaya tidak harus segera pulang ke rumah. Rumah yang kosong, tanpa siapa-siapa di dalamnya.

Tubuhnya terlonjak dan dalam seketika menegang ketika mendengar denting lift pribadinya yang membuka, menandakan seseorang baru saja berada dalam ruangan yang sama dengannya. Hanya dia yang memiliki izin untuk menggunakan lift itu, dan hanya sedikit sekali orang yang mengetahui keberadaan lift tersembunyi tersebut. Jadi dia bergegas menguasai diri, memosisikan jemari di bagian bawah meja kerjanya, siap menekan tombol merah kecil yang ada di sana kapan saja, dan satpam akan langsung datang dalam waktu dua menit. Lebih kurang.

Dia nyaris saja mengeluarkan seruan histeris saat melihat bahwa suaminyalah yang kini berada di hadapannya, melangkah ke bawah cahaya terang dari billboard di luar hingga dia bisa melihat dengan jelas. Dengan sweter biru rajut tipisnya dan celana putih, yang hampir-hampir membuatnya tampak enak dimakan—dia sedang membayangkan permen kapas, sungguh.

Oke, pria itu sendiri memang tampak lezat.

“Kau nyaris saja diringkus satpam-satpamku, Cho Kyuhyun,” dengusnya.

“Sekarang kau menjadi kelinci kecil yang gemetar ketakutan, Cho Hye-Na?” Pria itu mengangkat alis, seolah gagasan tersebut benar-benar berhasil membuatnya geli.

“Ini pukul 11 malam dan kau memakai lift pribadiku.”

“Sopirmu yang memberitahuku. Dan dia sudah kupulangkan, jadi malam ini kau mendapat kehormatan pulang bersamaku.”

Pria itu melangkah mendekat ke meja kerjanya sambil mengamati sekeliling, jadi dia menekan salah satu tombol di remote dan dua detik kemudian ruangan itu dalam seketika terang benderang, memberi pria itu kesempatan untuk memandangi ruangan kantornya.

“Pantas saja kau betah,” Kyuhyun bersiul pelan.

W-Guangzhou-Living-Lobby-LOW-e1367513708401

Ruangan itu pastilah sebesar apartemen lama mereka, begitu luas dan terbuka. Beberapa sekat memberi pembatas antara ruang rapat mungil dan area untuk menerima tamu. Sekat-sekat itu sendiri berupa rak-rak buku yang tingginya mencapai langit-langit. Lantainya yang berwarna coklat klasik tampak seperti cermin yang memantulkan bayangan semua benda di atasnya. Meja Hye-Na sendiri berada di bagian paling belakang, tersembunyi di balik dinding-dinding putih tebal, dan satu-satunya area yang memiliki jendela kaca besar, memberi kesan tidak sembarang orang bisa melangkahkan kaki masuk lebih jauh sampai ke wilayah itu.

Kyuhyun baru berkomentar lagi saat memandangi meja kerja wanita itu dengan kening berkerut.

“Meja kerjamu sangat besar,” ucapnya.

“Mmm hmm.”

“Sangat lapang.”

“Jelas.”

“Cukup kosong.”

Dia nyaris terbahak saat istrinya melompat berdiri dari kursi, mematikan laptop, dan mengambil tas kerjanya.

“Hei, memangnya apa yang kukatakan? Aku hanya menyampaikan fakta.” Dia bergegas menjajari langkah wanita itu yang tergesa-gesa menuju lift setelah mematikan lampu.

“Kalau kau mencoba mewujudkan fantasi bos dan sekretaris berguling-guling telanjang di atas meja kerja direktur, lupakan. Aku tidak mungkin bisa bekerja di meja itu lagi tanpa membayangkan hal itu, jika kita benar-benar melakukannya. Harga meja itu dua juta won.”

Lift membuka dan mereka masuk.

“Jadi, kau sebenarnya tidak keberatan kita melakukannya. Kau hanya tidak tahan dengan apa yang akan kau bayangkan di kepalamu pada hari-hari berikutnya?” Kyuhyun tersenyum lebar. “Pemikiran yang sangat menarik.”

Hye-Na mengumpat dalam hati. Terkadang mulutnya sering tidak sejalan dengan pikirannya. Tapi jika dia mendebat, hanya akan membuat pria itu semakin puas. Jadi sebaiknya dia diam saja.

Lagi pula siapa suruh suaminya muncul dengan tampilan seperti itu? Kali terakhir dia mempermalukan diri karena tidak tahan melihat ketampanan suaminya adalah… hmm, tiga minggu lalu. Saat pria itu mengenakan jas pink-nya, yang entah bagaimana bisa membuatnya terlihat begitu panas membara. Ya, pikirkan, dia bahkan membenci warna pink, demi Tuhan!

“Aku sudah lama ingin membawamu berkeliling kantorku.” Hye-Na mengubah topik.

“Kantormu tampak hebat.”

“Harus terlihat seperti itu, mengingat aku menghabiskan waktu 15 jam di dalam sana.”

Lift kembali berdenting membuka saat mereka sampai di basement, langsung terhubung ke area khusus tempat Hye-Na memarkirkan mobilnya.

“Omong-omong, kita tampak serasi.” Kyuhyun mengulurkan tangan untuk menarik pinggang wanita itu mendekat.

Hye-Na menunduk, memperhatikan pakaian kerjanya yang ternyata memang senada dengan warna pakaian Kyuhyun. Blazer berwarna biru muda, kaus tipis berwarna putih, dan celana jins putih.

“Luar biasa! Bagaimana bisa? Apa ini takdir?” Wanita itu memutar bola mata.

“Aku menelepon sopirmu, bertanya apa warna pakaianmu hari ini. Dia memberitahuku, jadi aku memakai pakaian yang berwarna sama, berharap kau menyadarinya, yang ternyata tidak.”

Awalnya dia berpikir bahwa pria itu bercanda, jadi dia hanya bisa menyemburkan tawa tak percaya saat melihat betapa seriusnya wajah pria itu ketika menatapnya.

“Tidak mungkin!” serunya, masih tidak bisa mengendalikan tawa.

“Oh, aku memang suka sekali saat kau bisa tertawa sekeras itu ketika bersamaku. Senang bisa menghiburmu, Sayang,” ucap pria itu ketus seraya meletakkan tangan di atas puncak kepalanya, mendorongnya masuk dengan paksa ke dalam mobil.

Hye-Na duduk di kursi penumpang, menunggu pria itu menutup pintu, yang tidak terjadi karena pria itu malah menarik seat belt melingkari bagian depan tubuhnya.

“Jadi tindakan romantismu selanjutnya adalah memasangkan seat belt untukku?”

“Oh, tidak,” Kyuhyun bergumam, memastikan benda itu sudah terpasang sebelum merunduk dengan tangan berada pada sandaran kursi. “Aku ingin menciummu,” akunya blakblakan. “Ini hanya basa-basi pembuka. Anggap saja sebagai sopan santun ala gentleman.”

Hye-Na tergelak, sehingga mulutnya dalam keadaan sedikit terbuka saat pria itu memborbardirnya dengan ciuman. Yang dia biarkan terjadi dengan sukarela.

Oh, tidak. Tidak membiarkan. Ralat. Dia tentu saja ikut berpartisipasi.

 

***

 

Seorang pria berumur sekitar 30-an, tidak jauh dari sana, nyaris menjatuhkan kameranya dari genggaman saking bersemangatnya telah mendapatkan sebuah berita besar yang akan menggemparkan satu Korea. Member Super Junior yang sedang berada dalam puncak ketenaran berpacaran dengan wanita terkaya di Korea? Itu akan menjadi skandal terbesar tahun ini! Han Hye-Na begitu berhati-hati hingga dia tidak bisa mendapatkan berita apa pun selama berbulan-bulan mengikuti wanita itu diam-diam. Dia tahu ada yang wanita itu sembunyikan dan wanita itu selalu berhasil kabur darinya. Sekarang tidak lagi. Karena kejutan dari sang pacar telah merusak semua tembok perlindungan yang dia buat.

Dia ingin berteriak keras karena berita ini seolah membuatnya baru saja mendapatkan penghargaan Pulitzer. Han Hye-Na adalah sorotan, buruan semua wartawan, dan bersama Cho Kyuhyun yang selama ini selalu sepi dari gosip? Ya Tuhan, dia tidak tahu apa yang akan dikatakan atasannya tentang ini semua. Puluhan foto ciuman mereka hanya akan semakin menambah bumbu. Kehebohannya akan sama seperti jika Korea Utara benar-benar meledakkan nuklir mereka. Ini tidak ada apa-apanya dengan skandal Suzy dan Lee Min-Ho beberapa bulan lalu.

Oh…, dia tersenyum licik, atau mungkin dia bisa menahannya untuk diri sendiri, dan lihat apa yang akan dilakukan si triliuner cantik itu nantinya.

 

***

 

The next day….

“Ruangan yang sangat cantik, Nona Han.”

“Apa yang Anda inginkan, Byeok Tae-Ji~ssi?” Hye-Na bertanya dingin. Sekali melirik saja dia tahu orang macam apa pria di hadapannya ini. Dan dia ingin tahu rahasia apa yang ingin pria itu bagi dengannya. Perasaannya kontan saja tidak enak membayangkan probabilitasnya. Dia yakin itu adalah sesuatu yang buruk. Sangat buruk.

“Kenapa harus terburu-buru?” Pria itu tersenyum menjijikkan. “Tapi jika Anda ingin begitu.”

Pria itu mengangsurkan amplop coklat tebal. Jantung Hye-Na berdetak cepat. Dia punya firasat tentang apa yang ada di balik amplop tersebut.

Tampak sangat riang, pria itu dengan berbaik hati membukakan amplop tersebut untuknya, dan menumpahkan isinya ke atas meja.

Berhelai-helai foto. Fotonya dan Kyuhyun semalam. Dalam berbagai pose yang menunjukkan keintiman. Tidak ada apa pun yang bisa menyangkal bahwa mereka memiliki hubungan. Sejauh apa informasi yang wartawan ini miliki tentang mereka, itulah yang harus dia cari tahu sekarang.

“Kau mengancamku,” Hye-Na berkata, mengabaikan seluruh kesopansantunan berbicara yang tadi masih dia gunakan.

Pria itu tertawa. “Lebih tepatnya, aku memerasmu.”

“Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa kau akan berhasil?”

Pria itu menyandarkan tubuh ke kursi.

“Sejauh ini hanya aku yang tahu tentang hubungan kalian. Aku belum membuka mulut. Kurasa, kalian pasti tidak ingin publik tahu tentang semua ini, bukan? Apa yang akan penggemar kekasihmu pikirkan? Bukankah Super Junior memiliki terlalu banyak skandal akhir-akhir ini? Anggota yang menikah, beberapa anggota yang masuk wajib militer, anggota yang baru keluar, album yang baru rilis dan tidak menang di chart mana pun. Kondisinya tidak begitu baik, bukan?” Pria itu memajukan tubuh, menyeringai. “Jadi bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi jika skandal ini merebak? Bukan saja Cho Kyuhyun akan hancur, tapi Super Junior juga. Semua penggemar akan meninggalkan mereka, merasa terkhianati. Kau tidak ingin itu terjadi, kurasa.”

Yeah, bayangkan jika pria ini tahu bahwa mereka bahkan telah menikah selama lima tahun, Hye-Na mengerang dalam hati.

“Ah… dan bukan itu saja. Bagaimana dengan image perusahaanmu yang selama ini tanpa noda? Kau, pewaris baru, malah mencari gara-gara hanya beberapa bulan setelah resmi menjabat sebagai pemilik resmi dan CEO. Penggemar Super Junior begitu banyak. Mereka bisa menyerangmu, memboikot produk-produk dari perusahaanmu, membuatmu merasa seperti wanita paling buruk di dunia. Mereka bukan hanya saja mampu menghancurkan hidupmu, tapi juga perusahaanmu. Media akan menggilasmu. Para klien akan merasa ragu bekerja sama dengan perusahaanmu, sahammu mungkin akan anjlok. Apa kau tidak memikirkan ribuan karyawanmu yang mungkin saja akan kehilangan pekerjaan mereka?”

“Kau sudah menyiapkan pidato ini semalaman bukan?” desisnya. “Harus kuakui, pidatomu cukup hebat.”

“Benar!” Pria itu tertawa keras.

“Berapa yang kau inginkan?” tembak Hye-Na langsung.

“Dua ratus juta won,” ujar pria itu enteng. “Itu seperti uang receh untuk triliuner sepertimu, bukan?”

“Jelas,” Hye-Na menjawab dengan nada ringan, seolah itu bukan masalah besar baginya. “Tapi aku tentunya juga harus memastikan bahwa kau tidak akan memerasku lagi di masa depan, bukan?”

“Oh ya. Tentu. Kau mau membuat surat perjanjian? Mungkin kau akan melaporkanku ke polisi kalau aku mendatangimu lagi nanti?” Pria itu kembali tergelak. “Kuberi tahu saja, Nona, kalau kau melaporkanku, kau juga akan membuka skandalmu ke publik. Belum lagi persidangan yang merepotkan setelahnya.”

“Oh, bukan itu maksudku, Tuan Byeok. Sama sekali bukan.” Hye-Na tersenyum lebar, nyaris tampak riang. “Ini tentang aku yang akan menghabisimu kalau kau berani mendatangiku lagi untuk meminta uang,” ucapnya tenang, tanpa emosi. “Anggap saja yang ini sebagai sedekah kedermawananku untukmu. Tapi selanjutnya?” Dia mengangkat bahu. “Tidak akan ada yang menyadari kalau kau hilang. Bahkan jika mereka sadar pun, siapa yang akan tahu di mana harus menemukan mayatmu? Di tengah lautan? Di dalam perut seekor hiu? Kurasa tidak ada yang mau repot-repot melakukannya untukmu, percayalah padaku. Karena orang sepertimu, hanya sebutir debu yang harus disingkirkan. Seperti ini.” Hye-Na menjentikkan jarinya. “Dunia akan lebih baik tanpamu setelahnya.”

Wanita itu bangkit berdiri, tersenyum melihat wajah pucat pria di depannya. Semua kesombongan itu lenyap. Yang tersisa hanya mata melotot yang ketakutan, menatapnya seolah dia adalah setan pencabut nyawa.

“Pertemuan yang menyenangkan, Tuan Byeok. Semoga kita tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari. Karena, seingatku, jika itu terjadi, maka itu juga akan menjadi hari terakhirmu berada di Bumi.”

Lalu wanita itu melangkah pergi, dengan langkah kaki ringan tanpa beban, meninggalkan pria itu di kursi area penerimaan tamu kantor pribadinya. Dia sendiri melangkah menuju meja kerjanya, dan ambruk di sana setelahnya. Melepaskan semua kepura-puraannya beberapa menit lalu.

Dia tidak baik-baik saja. Ini baru satu wartawan. Akan ada wartawan-wartawan lain yang akan menggali-gali kehidupannya lagi nanti.

Dia menarik napas dalam, menekan tombol interkom untuk menghubungi sekretarisnya.

“Suruh satpam menggeret pergi pria yang menemuiku barusan dan pastikan dia tidak diterima lagi di sini. Dan kapan jadwalku selanjutnya?”

Ya, kejam memang. Hidup tidak akan berhenti hanya karena dia merana. Itu sudah hukum alam.

 

***

 

“Hai. Tumben kau sudah pulang?” ujar Hye-Na sambil meletakkan sepatunya di rak dekat pintu masuk.

Kyuhyun tidak menjawab sapaannya. Pria itu bahkan tidak tersenyum, seperti yang biasa dia lakukan saat mereka akhirnya bertemu di penghujung hari.

“Aku ingin bicara.” Pria itu berkata datar, nyaris terkesan dingin. Dan Hye-Na bisa merasakan firasat buruk merayap naik di punggungnya. Ekspresi Kyuhyun sama sekali tak terbaca, mustahil untuk menebak hal apa yang mengganggu pria tersebut hingga bersikap seperti ini padanya.

“Byeok Tae-Ji menemuiku tadi sore,” ucap pria itu langsung, tanpa basa-basi.

Hye-Na mendenguskan tawa tak percaya. Pria itu dilarang mendatanginya lagi, tapi langsung mendatangi suaminya? Cerdik sekali. Dia akan memastikan agar hidup pria itu sengsara nanti. Hal yang mudah jika kau memiliki kekayaan yang tidak akan habis sepuluh turunan.

“Dia memerasmu?”

“Tidak. Dia dengan berbaik hati memberitahuku bahwa kekasihku telah membayarnya untuk tutup mulut.”

Hye-Na melepaskan raungan frustrasi. “Keparat satu itu benar-benar!” umpatnya.

“Apa kau bahkan berniat memberitahuku?” Kyuhyun bertanya.

“Tidak. Semuanya sudah kubereskan. Kau tidak perlu khawatir.”

“Tentu.” Pria itu mengangguk. “Karena yang kukhawatirkan adalah bahwa hubungan pernikahanku hanya dihargai dua ratus juta won oleh istri triliunerku yang punya begitu banyak uang untuk dihambur-hamburkan.”

“Jadi sekarang kekayaanku adalah masalah besar bagimu?” Hye-Na tahu bahwa dia harus menghentikan dirinya sebelum semua ini berlanjut lebih jauh, tapi mulutnya tidak bisa dia kendalikan. Sudah terlalu banyak yang dia tahan-tahan sepanjang hari hingga dia tidak bisa menunda ledakannya lebih lama lagi.

“Kenapa baru sekarang kau memberitahuku bahwa kau tidak suka memiliki istri kaya? Ah, tebak, kau tidak tahu bahwa orangtuaku akan mati begitu cepat hingga harus mewariskan harta mereka padaku. Dan, taraaa… istrimu adalah seorang triliuner sekarang. Egomu sebagai pria pasti tidak bisa mengizinkannya, bukan?”

“Aku tidak peduli ada berapa triliun uang di rekeningmu, sialan kau!” teriak Kyuhyun. “Bisa-bisanya kau menuduhku serendah itu!”

“Jadi kenapa kau mempermasalahkan apa yang kulakukan dengan uangku? Aku sudah menyelamatkan kariermu dari kehancuran. Aku sudah melakukan apa yang kubisa agar tidak terjadi apa-apa padamu, dan sekarang kau menuduhku menghargai pernikahan kita hanya seharga dua ratus juta won?”

“Memang apa lagi namanya? Karena, Han Hye-Na, mengakulah, kau bukan hanya ingin menyelamatkanku, tapi juga menyelamatkan perusahaanmu. Lihat apa yang terjadi sekarang? Bukan hanya aku yang harus kau pikirkan, tapi juga image-mu. Aku bahkan tidak peduli jika semua orang mengetahui hubungan kita, karena saat aku menikahimu, aku sudah tahu risikonya. Hanya tinggal tunggu waktu sampai mereka semua tahu. Tapi apa yang kau lakukan? Menyuap wartawan itu agar tutup mulut. Dua ratus juta won.”

“Kau merasa kurang? Apa aku harus membayarnya satu miliar won sekalian biar kau puas?”

“Bukan. Tapi karena serendah itulah pernikahan kita di matamu. Tidak boleh ada yang tahu. Kau ketakutan dengan kemungkinan bahwa semua orang akan tahu bahwa aku adalah suamimu. Mungkin, bahkan, menurutmu itu adalah sesuatu yag memalukan. Tapi jika yang didatangi wartawan itu pertama kali adalah aku, persetan dengannya! Dia bisa memberi tahu semua orang status kita. Aku bisa menghadapinya. Sayangnya, sekarang aku tahu, bahwa kau tidak. Kau ingin kucing-kucingan selamanya, kau tidak tahan mendapat sorotan, dan mungkin kau akan mulai berpikir, apa yang terjadi saat kau setuju menikahi seseorang sepertiku?”

“Berengsek kau! Aku tidak pernah berpikir seperti itu!” Hye-Na berteriak.

“Jadi kenapa kau melakukannya? Kenapa kau membayar pria itu? Kau yang dulu bahkan tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Kau yang dulu akan memberitahuku dan kita akan memikirkan jalan keluarnya bersama. Saat ini, aku bukan lagi prioritasmu, bukan? Ada perusahaan yang harus kau pikirkan. Ribuan pekerja yang kau khawatirkan kesejahteraannya. Hanya aku yang selalu menganggapmu sebagai prioritas utamaku. Ya, semua penggemar akan membenciku. Ya, sebagian besar dari mereka akan meninggalkanku. Dan ya, besar kemungkinan ini akan menghancurkan karierku. Tapi aku selalu berpikir bahwa kaulah yang akan bersamaku hingga akhir, bukan mereka. Karierku akan berakhir suatu saat nanti, tapi pernikahan kita tidak. Karena itu, apa pun yang terjadi, aku selalu mendahulukanmu di atas apa pun.” Kyuhyun menggelengkan kepala. “Sedangkan kau tidak.”

Pria itu melangkah mendekat, berhenti ketika mereka sudah benar-benar berhadap-hadapan.

“Kau bilang kau tidak lagi memahamiku. Keambisiusanku untuk mencapai puncak. Sekarang kita seri,” bisiknya. “Perubahan terkadang menghancurkan, kau tahu? Karena kau juga bukan lagi Han Hye-Na yang kukenal.”

Seiring dengan kalimat tersebut, Kyuhyun melangkah pergi meninggalkan wanita itu di tempatnya berdiri. Tergugu. Menggigil. Menghadapi kehancurannya sendirian.

 

***