0b7062c9cf39f6997439e42ca4858853 copy

 

Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, Hye-Na merasakan kasur tempatnya berbaring melesak ke bawah, menahan tambahan beban baru di atasnya. Sesaat kemudian, sebuah tangan menyingkirkan rambutnya dari wajah, mengecup pelipisnya, dan bernapas di sisi lehernya.

“Selamat ulang tahun,” suara itu berbisik.

Wanita itu berbalik, menelentangkan tubuh, dan menatap wajah suaminya. Dia tersenyum tipis, mengeluarkan suara desahan dari kerongkongan khas orang yang baru bangun tidur, lalu kembali memejamkan mata. “Mmm,” gumamnya.

“Sudah lihat MV-nya?”

“Apa itu seharusnya menjadi hadiah ulang tahunku?”

“Mungkin.” Kyuhyun bergeser, berbaring menyamping menghadap istrinya dengan kepala yang tertumpang di satu lengan. “Aku tidak tahu harus membelikan apa untuk wanita yang memiliki kekayaan dua miliar dolar.”

“Semakin tidak kreatif rupanya?” ejek Hye-Na dengan senyum samar yang masih tersisa di bibir.

“Ayo bangun. Ada sesuatu untukmu.”

Jari-jari pria itu menemukan jemarinya, menggenggam mereka ringan, dan sedikit memberi tarikan agar Hye-Na segera mengikutinya.

Wanita itu menurut, menggeliat, menepiskan rambutnya yang berantakan dari wajah, kemudian membuka mata.

“Apa?” dia bertanya saat mendapati pria itu sedang memandanginya.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Rasanya,” pria itu berujar, “sudah lama kita tidak bertemu.”

***

 

“Roti?” Hye-Na menautkan alis saat melihat sekeranjang roti di atas meja makan. Roti itu masih panas, jelas baru dikeluarkan dari pemanggang, dan mengepulkan aroma menggiurkan. Satu-satunya cacat adalah bentuknya yang sedikit tidak keruan.

“Kau tidak suka kue tart, tapi kau suka roti.” Kyuhyun mengangsurkan cangkir. “Kopimu.”

“Aku sudah lama lupa bagaimana rasa kopi.” Wanita itu menghirup minumannya. “Mmm.” Dia mengerang. “Terakhir kali aku minum kopi adalah minggu lalu.”

Hye-Na duduk di kursi dan mengulurkan tangan untuk meraih sebuah roti dari tumpukan paling atas.

“Aku sedikit curiga bahwa kaulah yang membuat roti-roti ini.” Dia melengkungkan alis.

“Kuharap… rasanya lebih baik daripada bentuknya.” Kyuhyun meringis. “Kau mau aku mencobanya dulu? Berjaga-jaga kalau itu mungkin… beracun?”

“Akan sangat membantu kalau aku mengalami sakit perut. Aku tidak perlu ke kantor dan bisa bergelung di kasur seharian.”

“Tanpaku.”

“Ya. Dan aku janji tidak akan mengundang siapa-siapa ke ranjang kita. Sungguh.” Wanita itu terbahak, merobek rotinya, dan memasukkannya ke mulut.

“Bagaimana?” Kyuhyun menatap penuh harap, tampak tegang.

Hye-Na tidak menjawab, hanya menarik keranjang roti ke arahnya, lalu mendekapnya dengan posesif.

“Ini semua milikku.”

“Oke….” Kyuhyun berusaha menahan senyumnya, tapi berakhir dengan kegagalan.

“Merasa sangat bangga, kukira?”

“Sedikit.” Pria itu tertawa. “Banyak,” ralatnya kemudian.

“Aku akan lebih senang seandainya kau membuatnya di sini. Pria, di dapur, pemandangan yang memesona, menurutku.”

“Lain kali. Jika aku berkeinginan untuk merasa stres lagi.”

“Haha.” Hye-Na mengambil satu gigitan besar roti dan kembali mengunyah.

Kyuhyun menumpangkan siku di atas meja, mulai memandangi wanita itu lagi. “Jadi, kapan kau akan memberitahuku pendapatmu tentang MV terbaru kami?”

Hye-Na menyeruput kopinya. Mengedikkan bahu.

“Aku lupa bahwa pendapatku snagat penting bagimu,” sahutnya dengan tampang mengejek, yang kemudian berubah serius setelah dia mengeluarkan dehaman kecil. “Aku sedang tidak ingin bertengkar malam ini.”

“Seburuk itu?”

“Mungkin,” gumam Hye-Na. “Kita menikah, dan aku akan mengatakan apa pun yang ingin kukatakan tanpa menyaringnya padamu. Jika kau mengizinkanku.”

“Aku akan berusaha berpikiran terbuka. Lagi pula, sudah lama kita tidak bertengkar.”

“Karena kita bahkan tidak punya waktu untuk mengobrol.”

“Semakin menyedihkan saja.”

“Kau tidak ada di rumah saat aku pulang, dan aku sudah tidur saat kau pulang. Dan kita tidak bisa melakukan apa pun untuk memperbaiki itu.” Hye-Na menghela napas. “Aku berusaha mengurangi kegiatan, tapi—”

“Tapi jika kau pulang cepat, seperti katamu, aku tidak akan ada di rumah. Kau akan sendirian, dan itu sama sekali bukan pilihan.” Kyuhyun menggeleng. “Bisakah kita kembali ke topik awal?”

“Oke.”

“Kau tidak menyukai MV-nya?” Pria itu menatap wanita di depannya lekat. “Ini bukan tentang… adegan-nyaris-berciumannya kalau begitu?” Dia menduga-duga.

“Aku suka bagian kau melempar pisau,” Hye-Na menjawab. “Seperti Four.”

“Divergent.”

“Pengetahuanmu tentang hal-hal yang kusukai selalu membuatku kagum.” Hye-Na menyusurkan telunjuknya di sekeliling bibir cangkir. “Begini,” dia memulai. “Tahukah kau kenapa aku menyukai Super Junior? Dan kau, sebagai idola? Sebagai seorang penggemar, aku melihat kalian sebagai… panutan. Kalian berbeda, kalian tidak pernah melakukan hal yang sama dengan grup-grup lainnya.”

Kyuhyun bergerak di kursinya, berusaha merilekskan tubuhnya yang mendadak tegang.

“Aku tahu MV-MV kalian menggunakan konsep-konsep yang itu-itu saja selama ini. Tapi kalian selalu membuatnya menarik dan layak ditonton. Maksudku, dengan musik dan tariannya, kalian selalu fokus dengan bagian itu. Hal itulah yang kusuka. Kepercayaan diri. Kemampuan untuk menjadi diri kalian sendiri. Bahwa kalian berbeda dengan yang lain. Yang kalian tonjolkan adalah musikalitas, bukan sensualitas.”

Hye-Na mengulurkan tangan, menautkan jemarinya di sela jemari Kyuhyun, dan merasa lega saat pria itu memberikan remasan singkat.

“Aku tahu kalian sudah dewasa. Dan para penggemar juga tumbuh dewasa bersama kalian. Apa pun tentang kalian, sejauh yang kutahu, bisa dinikmati oleh segala umur. Tapi, Kyu, apakah kedewasaan diukur dari seberapa panasnya video klip kalian? Apakah kedewasaan dilihat dari jumlah wanita tanpa pakaian yang muncul, menyentuh dan disentuh oleh kalian? Keseksian muncul dari pribadi seseorang, pembawaan mereka, bukan dari semakin sedikitnya pakaian yang melekat di tubuh. Lihat wanita yang melakukan interaksi bersamamu. Dia mengenakan kemeja, rok, dan siapa pun yang melihat akan menganggap dia seksi. Kau mengerti maksudku? Devil. Godaan. Kalian tidak membutuhkan wanita-wanita separuh telanjang untuk membuat orang penasaran dan menonton MV kalian.

“Aku suka kalian yang berbeda,” tambahnya. “Bukan kalian yang meniru grup lain agar dianggap lebih baik dari mereka. Karena kalian akan selalu menjadi yang terbaik.” Wanita itu tersenyum. “Nyaris semua grup mengandalkan keseksian akhir-akhir ini. Kenapa kalian harus sama? Kenapa tidak menjadi tetap berbeda seperti biasa?”

“Aku tidak… melihatnya dari sudut itu,” bisik Kyuhyun, setelah terdiam lama.

“Aku hanya mengutarakan pendapat. Kalian satu grup, setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing. Jadi,” Hye-Na menelan ludah, “apa kita baik-baik saja?”

“Ya.” Pria itu mengangguk, memberikan senyuman menenangkan. “Ya. Kita baik-baik saja. Aku hanya… lupa,” desahnya, “betapa menyenangkannya mengobrol denganmu.”

“Bisa kita ganti topik pembicaraan?” Hye-Na menjilat cokelat dari ujung telunjuknya dan dia jelas memperhatikan bagaimana mata Kyuhyun yang tertuju ke mulutnya perlahan menggelap.

“Jelas.”

“Ada pertanyaan untukku? Permintaan mungkin?” Sejauh itulah kemampuan yang diizinkan gengsi wanita itu untuk merayu suaminya. Yang, sayangnya, sepertinya tidak ditangkap Kyuhyun sama sekali karena pria itu benar-benar mengajukan pertanyaan. Yang tidak disangka-sangka.

“Siapa idola barumu sekarang?”

Huh?” Mata Hye-Na mengerjap bingung.

“Mengingat drama Yoo Yeon-Seok sudah berakhir minggu lalu dan karena kau memang suka menggonta-ganti kriteria pria seksimu tiap minggu, aku jadi ingin tahu.” Kyuhyun mengerutkan kening. “Apa dia orangnya? Pria yang ada di layar desktop laptopmu?”

“Stephen Amell, yups.”

“Dan dia…?”

“Arrow.”

“Oke…,” Kyuhyun berkata dengan raut wajah tak yakin.

“Serial TV Amerika yang sudah mencapai musim penayangan ketiga. Dia sudah menikah, punya satu anak perempuan, dan aku jatuh cinta setengah mati padanya. Terutama matanya. Dan cambangnya. Dan tubuhnya.” Wanita itu menyebutkan semuanya dalam satu tarikan napas. “Ups,” tambahnya kemudian saat melihat ekspresi Kyuhyun.

“Kau mengganti wallpaper laptop dan ponselmu setiap saat dengan puluhan pria berbeda. Tapi tidak pernah aku,” Kyuhyun mengecam. “Dan kau sudah 24 tahun, demi Tuhan. Seorang CEO. Memasang foto idola di ponsel bukan sesuatu yang pantas lagi untuk kau lakukan.”

“Aku lebih senang kalau kau tidak menyinggung umurku.” Hye-Na menggeram. “Dan menurutmu apa yang akan terjadi kalau wajahmu terpampang di laptop atau ponselku? Terutama setelah aku menyebutmu sebagai suami idealku?”

“Seseorang akan mengira bahwa kau adalah penggemar beratku atau…,” Kyuhyun menyunggingkan senyum, “kekasihku.”

“Dan kau ingin mengumpankanku pada ratusan ribu penggemarmu di luar sana?”

“Mengakuimu sebagai kekasihku tidak termasuk dalam daftar rencana jangka panjang milikku.”

“Terima kasih, kalau begitu?”

“Maksudku,” pria itu menyeringai, “kedudukanmu jauh lebih berharga daripada itu. Kau istriku, omong-omong. Kata kekasih terdengar terlalu meremehkan.”

“Ha. Ha. Haha. Hahaha.” Wanita itu tersenyum masam.

Kyuhyun mengabaikan kesinisan itu dan terus mencabik-cabik roti di tangannya tanpa bermaksud memakan.

“Hei,” ujarnya, merasa bahwa mereka sudah waktunya untuk menghadapi kenyataan, bukannya berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa dalam hubungan mereka. “Mengenai intensitas pertemuan kita yang mulai jarang—”

“Wanita lain,” sela Hye-Na, “yang memiliki suami yang jarang pulang, nyaris tidak bisa bertemu setiap hari, mungkin akan mulai mempermasalahkan, menimbulkan perdebatan, pertengkaran, kabur dari rumah karena tidak tahan, atau yang lebih buruk lagi.”

“Na~ya….”

“Tapi karena kita sudah sepakat bahwa perceraian tidak akan pernah menjadi pilihan, maka apa pun yang terjadi, aku yakin bahwa kita akan baik-baik saja.”

“Aku tidak bisa—”

“Biarkan aku bicara,” Hye-Na mengangkat tangan, menghentikan pria itu, “karena selama ini kau selalu menjadi pihak yang berusaha meyakinkan, dan aku mulai merasa selalu menjadi pihak yang menerima, tanpa benar-benar memberi kontribusi.”

Kyuhyun mundur, menyandarkan tubuh di kursi. Dia benar-benar tidak menyukai topik ini.

“Kau berubah. Aku berubah. Kau bukan lagi pria yang dulu kukenal atau yang dulu kuidolakan. Kau bukan lagi pria yang hanya berdiri menjadi latar belakang dan membiarkan anggota lain bersinar dan meenonjol di depan. Ada bagian diriku, yang selalu menyukai dirimu yang dulu. Saat itu, rasanya, menyukaimu adalah sesuatu yang eksklusif.” Wanita itu memaksakan senyum gugup. “Sekarang semua orang melihatmu. Kau yang ambisius, muncul di mana-mana, memiliki album sendiri. Kau… semakin menjadi milik banyak orang. Waktumu tersita. Kau kelelahan. Jarang pulang. Kau yang di depan layar nyaris tidak lagi terlihat seperti dirimu yang kukenal. Aku tidak menyukainya, tapi aku menerimanya. Seperti aku yang juga berubah menjadi seseorang yang dulu tidak pernah kubayangkan. Aku tidak menyukai pekerjaan kantoran, aku tidak suka menjadi pemimpin, aku bukan seseorang yang bersedia menanggung tanggung jawab untuk segala hal. Tapi seperti itulah aku sekarang.

“Yang tidak pernah berubah adalah… bahwa kita masih bersama. Bahwa di depanku… kau masih menjadi Cho Kyuhyun yang aku tahu. Yang aku kenal luar dalam. Aku tidak harus menyukai segala hal yang kau lakukan, karena kau adalah suamiku, bukan idolaku. Aku hanya mencoba memahami. Selama apa yang kau lakukan bukanlah sesuatu yang buruk, aku akan terus memberi dukungan.

“Kenyataan bahwa kita hanya bisa bertemu dua atau tiga hari sekali—kau dengan kesibukanmu dan aku dengan kesibukanku, memang menjadi masalah. Masalah besar, bahkan. Kurangnya komunikasi biasanya menjadi pertanda kehancuran. Tapi kita bisa membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan. Menelepon satu sama lain, mungkin? Memberi tahu jika sesuatu yang buruk terjadi, tidak menyembunyikan apa-apa karena mengira bahwa itu akan melindungi salah satu pihak. Rahasia, kau tahu, jarang memberi hasil yang baik. Hanya perasaan terkhianati, bahwa pasanganmu bahkan tidak bisa membuka diri padamu, tidak bisa mempercayakanmu dengan rahasia-rahasia mereka.

“Risiko jarang bertemu denganmu,” tambahnya, “tidak sepadan dengan prospek melepasmu sepenuhnya dan benar-benar tidak bisa bertemu denganmu lagi sama sekali.”

 

***

 

Hye-Na memasukkan roti ke dalam kulkas, membuang ampas kopinya ke tempat sampah, meletakkan cangkir kosong ke bak cuci, dan berjalan tersaruk-saruk menuju Kyuhyun yang hanya memandanginya dengan kepala dimiringkan.

“Ayo pergi tidur. Aku benar-benar mengantuk.” Dia melepaskan sebuah kuapan sembari mengulurkan tangan ke arah Kyuhyun.

“Aku memikirkan hal lain.” Pria itu menyambut uluran tangan istrinya, menarik wanita itu mendekat untuk memberikan sebuah kecupan di puncak kepala.

“Tidak ada hal lain, Cho Kyuhyun.”

“Baik, baik.” Kyuhyun menyerah saat melihat mata istrinya yang tampak berat dan sudah separuh mengatup. “Jika kau ingin tidur, maka kita akan tidur.”

Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar dan Kyuhyun sudah setengah memapah wanita tersebut saat mereka mencapai tempat tidur.

“Kau boleh memberiku ciuman selamat malam karena sudah bersikap sangat manis,” Hye-Na mulai meracau.

Kyuhyun menunduk, menyentuhkan bibir ke kening Hye-Na, lalu membantu wanita itu berbaring sebelum ikut naik ke ranjang.

“Sudah. Sekarang tidurlah,” ujarnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu. Tapi bukannya menurut, wanita itu malah menghadap ke arahnya dengan wajah mendongak, membuatnya terkekeh dan beringsut lebih dekat, menekankan bibir selama beberapa saat di atas permukaan bibir wanita tersebut.

“Malam,” gerutu Hye-Na tak jelas, melingkarkan lengan di pinggang Kyuhyun dan menyurukkan wajah ke leher pria itu.

“Mmm.” Tangan Kyuhyun yang menopang kepala Hye-Na menekuk untuk menyusuri helai rambut wanita tersebut yang tergerai, dan tangan satunya memberi elusan lembut di punggung. Posisi favorit mereka saat tidur. “Malam.”

Dia mendekap wanita itu sedikit lebih erat, menunggu, sebelum akhirnya berbisik lambat-lambat, “Bahkan dengan memelukmu,” dia mengusap pelan pipi wanita itu, “masih saja tidak terasa cukup. Merindukan adalah kata kerja yang sangat mengerikan, kau tahu? Dan seharusnya aku sudah belajar dari pengalaman.”

***

 

Kyuhyun tersenyum luar biasa lebar dengan mata tertuju pada layar ponselnya. Foto yang baru dikirimkan Hye-Na membuatnya nyaris lupa caranya menarik napas. Dia harus mulai menanyakan kenapa istrinya itu akhir-akhir ini suka sekali memamerkan dahi. Dan terlihat begitu cantik. Dia hampir-hampir tidak bisa membenci profesi yang wanita itu geluti sekarang, yang membuatnya tidak bisa menghindar dari kewajiban untuk berdandan.

11759388_10204624123898672_1771592398_n

Tertulis di pesannya:

 

Jatahmu hari ini.

Sukses untuk penampilanmu! Hwaiting!

 

Dan yang dilakukannya kemudian adalah menekan nomor wanita itu.

 

***

 

“Sibuk? Apa kau sedang meeting atau semacamnya?”

“Tidak,” Hye-Na menjawab, dengan santai memutar kursinya membelakangi sebelas orang yang sedang berkumpul dalam ruangan tempatnya berada untuk melaksanakan rapat. “Kau sudah menerima pesannya.” Itu sebuah pernyataan. Memangnya apa lagi alasan pria itu menelepon dengan nada bicara seperti itu? Dia bahkan nyaris bisa mendengar senyuman pria tersebut.

“Jadi hari ini ada ratusan orang yang akan melihatmu berpenampilan seperti itu.”

“Tidak juga. Hanya sopirku, dan sekitar dua puluh orang lain. Aku cantik sekali bukan?”

Dia mendengar Kyuhyun mendecak, membuatnya tergelak. Senang rasanya menggoda pria itu.

“Hei, sepertinya ada yang aneh dengan ponselku,” dia berkata. “Ada fotomu di sini. Home screen, lock screen.”

“Kalau itu caramu mempermainkanku—”

“Aku serius.”

“Oh.”

“Puas sekarang?”

“Tentu.” Pria itu menghela napas. “Rasanya lebih baik. Jauh… lebih baik.”

“Aku akan menonton penampilanmu di TV nanti.”

“Jas putih. Kemeja hitam.”

“Favoritku.”

“Sampai nanti, kalau begitu?”

“Ya. Sampai nanti.”

Hye-Na kembali membalikkan kursinya, meletakkan ponsel ke atas meja, dan tidak bisa menghapuskan cengiran dari wajah.

“Dari kekasih Anda?”

Dia mendongak, menatap si pemilik suara.

“Karena Anda terlihat senang sekali.”

“Oh. Bukan kekasih.” Dia memiringkan kepala, lalu menambahkan, “Suami, sebenarnya,” dengan nada tak acuh.

Seringaiannya semakin melebar saat dia berhasil membuat seisi ruangan sunyi senyap dengan sebelas orang yang ternganga menatapnya.

Sudah waktunya. Mungkin.

***