36addc0615f97ff2faf25e9c4666f29c copy2

 

PS: WARNING! CONTENT 17+ FOR SOME DIALOGUES AND SCENES. READ ON YOUR OWN RISK.

***

 

Ephemeral (adj): lasting for a very short time

 

Friday, 08:12 PM

Hye-Na membuka mata. Tidak ada yang terlihat olehnya. Matanya menjadi buta oleh kegelapan di sekeliling, dan yang bisa dia lakukan hanya mendengarkan. Dan merasa.

Dia sedang duduk di atas sebuah bangku kayu. Tubuhnya terikat erat di situ. Tak ada satu pun di antara tangan dan kakinya yang bisa digerakkan, dan sebuah kain—yang untungnya bersih—disumpalkan ke mulutnya. Tapi dia tahu bahwa dirinya masih berpakaian lengkap. Tidak menjamin apa-apa, namun setidaknya membuatnya sedikit merasa lega.

Hal terakhir yang diingatnya adalah lapangan parkir di basement gedung perkantoran tempat dia bekerja. Dia ingat bahwa dia sedang berdiri di samping pintu mobilnya, berniat masuk, dan nihil. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa diingatnya setelah itu.

Dia mencoba menggerakkan tangannya. Tidak memberi pengaruh. Tali yang mengikatnya jelas cukup kuat untuk menahannya, permukaannya yang kasar menggesek kulitnya, dan dia tahu akan ada bilur di sepanjang bagian yang dikelilingi tali itu. Itu satu dari sekian banyak hal yang harus dia khawatirkan sekarang.

Dia berusaha membiasakan matanya pada kegelapan yang melingkupi. Hanya ada cahaya samar dari balik jendela yang tirainya ditutup rapat, juga satu garis cahaya lainnya yang masuk lewat celah pintu. Dan tak ada satu pun, dari kedua cahaya itu, yang memperlihatkan sesuatu, membuatnya nyaris yakin bahwa tempatnya berada sekarang adalah sebuah ruangan kosong.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam, semampu yang bisa dia lakukan di bawah tekanan tali yang membebat dadanya hingga menempel ke sandaran kursi. Tenang, bisiknya pada diri sendiri. Merasa takut tidak ada gunanya saat ini. Dia tidak tahu sedang ada di mana dan siapa yang melakukan ini padanya. Dan atas alasan apa. Uangkah? Orangtuanya memang kaya. Dan dia sendiri cukup berada. Mungkin saja hanya penculikan acak di tempat parkir. Siapa pun yang cukup sial untuk lewat di depan sang penculik dan menarik perhatiannya. Dan dialah yang terpilih.

Hye-Na bisa merasakan tetesan keringat dingin yang mengalir turun di punggungnya, tapi anehnya, rasa cemasnya tidak cukup hebat untuk membuatnya menggigil ketakutan. Dia hanya… entahlah, mungkin mati rasa cukup untuk menggambarkan kondisinya.

Kali ini dia mempertajam indra pendengarannya. Hening. Tidak ada suara kendaraan lewat, suara angin yang membuat dedaunan berdesir, atau apa pun yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Saking heningnya, dia sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar tenang. Saat itulah dia merasa heran pada diri sendiri, kenapa dia masih belum histeris juga. Seseorang menculiknya. Setidaknya dia bisa meneteskan sedikit air mata.

Nyatanya tidak.

Situasi ini tidak mengganggunya sama sekali. Hanya membuatnya sebatas merasa penasaran.

Dia tetap berada pada posisi itu hingga bermenit-menit berikutnya. Dia buta waktu. Mungkin baru tiga menit berlalu. Atau tiga belas menit. Mungkin juga setengah jam. Yang pasti, saat kemudian pintu terbuka, dia sempat tersentak dan dengan refleks menegakkan tubuh; siaga.

Pria itu melangkah masuk, berdiri membelakangi cahaya remang yang untuk beberapa detik menyinari ruangan, sebelum kembali lenyap bersamaan dengan pintu yang tertutup dengan suara klik pelan.

Hye-Na mendengarkan langkah kaki pria itu. Ringan. Tidak ada bunyi ketukan hak sepatu dengan lantai, yang berarti bahwa pria itu tidak mengenakan pantofel. Mungkin sepatu olahraga. Kets.

Hidungnya mengendus, menyerap aroma cologne maskulin yang semakin pekat seiring langkah kaki pria itu yang kian dekat. Dia mendengar bunyi desiran pakaian yang bergesekan dengan udara saat pria itu berjongkok di depannya, dan dia tanpa sadar memajukan tubuh. Usaha yang gagal, karena dia masih terikat erat di kursi.

“Obatnya bekerja dengan baik ternyata.” Suara pria itu rendah. Nyaris sehalus bisikan. “Kau berpikir bahwa aku mengikatmu bukan? Tidak.” Pria itu membuktikannya dengan menarik sedikit tali yang sedari tadi dipikirnya telah membebat tubuhnya kuat-kuat. Tali itu terjatuh begitu saja ke pangkuannya. Tubuhnyalah yang tidak bisa bergerak. Tidak bisa digerakkan, lebih tepatnya.

“Otot-ototmu berada pada kondisi paling lemah. Bahkan akan sulit bagimu untuk sekadar mengangkat tangan. Tapi kau masih bisa menghirup napas, meski tidak semaksimal biasa.”

Pria itu begitu dekat, hanya sejangkauan tangan jaraknya hingga dia bisa merasakan embusan napas pria itu di wajahnya setiap kali pria itu berbicara. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Sekadar mengatupkan jemari saja sudah menjadi perkara besar baginya.

Tangan pria itu terangkat untuk mengenyahkan gumpalan kain di mulutnya, dan dia tergeragap menghirup oksigen setelahnya. Tapi rongga dadanya terasa sakit, jadi dia meminimalkan usahanya dan hanya bernapas pendek-pendek seperti yang dia lakukan sebelum pria itu datang. Rahangnya terasa kaku, mulutnya kering dan tidak bisa dibuka. Saat itulah dia tahu bahwa pita suaranya juga tidak berfungsi. Obat macam apa yang pria itu berikan padanya sebenarnya?

Pria itu berdiri, berjalan menuju jendela dan membentangkan tirainya hingga terbuka. Dan, saat pria itu berbalik, napas Hye-Na langsung tertahan di tenggorokan.

Kursi yang dia duduki berada di samping jendela, dan cahaya dari luar cukup terang untuk membiarkannya melihat siluet tubuh jangkung pria itu. Juga wajahnya, saat pria itu kemudian kembali pada posisinya tadi, berjongkok di depannya.

Panca indranya terasa lebih peka daripada biasa. Kulitnya meremang dan tubuhnya membeku untuk sesaat, sebelum menjadi gemetar ketika jemari pria tersebut terulur ke wajahnya, dengan telunjuk yang mengelus ringan pipinya, menautkan sejumput rambutnya ke belakang telinga.

“Sayang sekali bukan,” pria itu berbisik, “jika wajah seindah ini harus kulukai?”

Indah. Kata itulah yang juga berseliweran di benaknya sekarang. Tidak, mungkin rupawan lebih tepat. Wajah di depannya begitu rupawan hingga dia seakan lupa di mana dirinya sekarang berada, juga status pria di depannya yang jelas-jelas adalah orang yang telah menculik dan menyekapnya di sini. Wajah itu bisa mendisfungsionalkan otak banyak wanita. Dia tidak bisa berpikir, hanya mengerjapkan mata dan berlama-lama menikmati pemandangan di hadapannya.

Rambut pria itu sedikit ikal, terjatuh berantakan menutupi kening. Matanya sekelam malam, tajam dan lekat. Hidungnya lurus dan mancung, dan bibirnya tebal berlekuk. Dan semua keindahan itu terpampang di depan matanya, dalam sosok pria bertubuh ramping dan tinggi. Sesosok pria yang kehadirannya seharusnya mengancam, tapi anehnya, malah membuatnya berdebar-debar.

Sebelah tangan pria itu kini merangkum wajahnya, dan mata mereka bertemu. Dan dia tidak bisa mengalihkan mata lagi setelah itu.

“Mungkin aku harus memberikan pengecualian.” Pria itu mengangkat sudut mulutnya. “Aku tidak akan menyentuh wajahmu.”

Hanya butuh beberapa detik untuk membuat Hye-Na tersadar apa maksud dari kata menyentuh yang pria itu gunakan. Tanpa bisa dicegah, tubuhnya bergidik seketika.

“Takut?” Pria itu tersenyum tanpa humor. “Memang sudah sepantasnya begitu.”

Dia tidak mampu mengatakan apa-apa, jadi dia hanya melebarkan mata. Kehadiran pria itu tidak membuatnya panik, tapi dia yakin bahwa pria tersebut bisa melakukan apa pun padanya. Termasuk menyakitinya. Ada aura aneh yang seolah mengelilingi pria itu. Aura yang menunjukkan bahwa pria itu seolah tidak memiliki ampun. Seolah… jika pria itu sudah menetapkan keputusan, tidak ada siapa pun dan keajaiban apa pun yang bisa menyelamatkan Hye-Na dari cengkeramannya.

“Kau bertanya kenapa?” Pria itu memahami isyaratnya.

Dia menganggukkan kepala lemah, nyaris tidak kentara.

Jelas bukan uang. Dari penampilannya saja sudah terlihat jelas bahwa pria itu memiliki banyak uang. Bahkan mungkin lebih kaya darinya.

Pembalasan dendam. Hanya itulah alasan yang tersisa. Terutama jika dilihat dari tatapan yang pria itu arahkan padanya.

Pria tersebut menegakkan tubuh, berdiri menjulang di depannya; mendominasi, dan mengintimidasi.

“Kau tidak memiliki kesalahan apa-apa.” Pria itu menatap ke luar jendela. “Kau cantik, cerdas, dikagumi semua orang. Duniamu sempurna.” Tatapan pria itu kembali padanya, begitu tajam dan menusuk hingga terasa seolah pria itu sedang mencoba untuk menelannya hidup-hidup. “Kau hanya jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Itulah satu-satunya cacat yang kau miliki.”

 

***

 

Kejadiannya satu tahun lalu. Kyuhyun masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin. Tiga hari setelah tunangannya menghilang tanpa kabar. Tanpa sebab. Tanpa pertanda apa-apa.

Dia mencari ke semua tempat seperti orang kesetanan. Mengacak-acak Seoul, mendatangi area mana pun yang mungkin didatangi gadis itu. Polisi ikut turun tangan, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Gadis itu seolah lenyap ditelan bumi.

Saat itu Senin, dan gadis itu menghilang sejak Jumat. Tepat pada pukul delapan, di depan rumah orangtua gadis itu, ketika pagar dibuka saat ayahnya akan berangkat kerja, teriakan histeris ibunya terdengar, membuat pagi itu dipenuhi teror dan ketakutan. Tunangannya, Jung-Joo, ditemukan di selokan depan rumah, dengan pakaian yang kotor dan robek di beberapa tempat, tubuh penuh luka—yang beberapa di antaranya sudah bernanah dan dipenuhi kerumunan belatung, dan jejak darah yang mengaliri pahanya, kemungkinan besar berasal dari selangkangan. Siapa pun yang melihat akan langsung tahu bahwa gadis itu telah diperkosa. Berkali-kali. Sebelum kemudian disiksa sampai mati.

Kyuhyun melakukan penyelidikannya sendiri. Selama berbulan-bulan mendatangi banyak tempat, menanyai banyak orang, dan menonton puluhan video CCTV. Dia menelantarkan perusahaannya, maupun keluarga dan teman-temannya. Tepat empat bulan setelahnya, dia menemukan pencerahan. Akhirnya mengetahui siapa keparat yang telah berbuat sebiadab itu pada calon istrinya. Tapi dia tidak menyerahkan hasil penyelidikannya pada polisi. Dia harus membalaskan dendamnya dengan tangan sendiri. Mata dibayar mata. Nyawa dibalas nyawa. Yang mati adalah tunangannya, dan tidak ada yang bisa lebih menghancurkan daripada rasa kehilangan. Tidak ada yang bisa lebih kejam daripada seorang pria yang ditinggal mati kekasihnya. Maka, jika dia harus menuntut balas, tunangan pria bangsat itulah yang akan menjadi sasarannya.

Dia menunggu dengan sabar. Dan selama bulan-bulan penuh penantian itu, dia kembali menata hidupnya, mengembalikan kondisi perusahaannya seperti sedia kala. Hal yang mudah baginya, bagi dirinya yang sudah memiliki tujuan dan telah menetapkan pikiran untuk mencapai tujuan tersebut, apa pun yang terjadi.

Yang tidak diperbaikinya hanya satu hal. Hubungannya dengan keluarga dan teman-temannya. Dia tidak membutuhkan siapa-siapa di dekatnya. Dia lebih memilih hidup sendirian, daripada harus kembali merasakan kehilangan.

Kesempatannya muncul dua bulan berikutnya. Gadis yang kini diculiknya, dengan sangat sial, bertemu bajingan itu, dan dengan mudah membuat keparat itu bertekuk lutut. Benar-benar sial bagi gadis itu, karena saat dia dan pria berengsek itu bertunangan, ajalnya dalam seketika sudah ditetapkan.

Hari ini Jumat. Senin, mayat gadis itu harus segera diantarkan pada pemiliknya.

Kyuhyun sudah mengecek. Ada selokan di depan rumah jahanam itu. Bukan perkara sulit. Sama sekali.

***

 

Hye-Na bertemu Gong Tae-Joon enam bulan lalu. Di sebuah pameran seni. Salah satu karya temannya dipajang di situ, jadi dia datang unutk memberi selamat. Dan saat itulah mereka diperkenalkan.

Pria itu tampan, seorang pengusaha sukses, sangat mapan, dan jelas tertarik padanya. Pria tersebut dengan gigih menghubunginya setiap hari, mengajaknya makan siang atau makan malam jika dia sedang memiliki waktu senggang. Mereka dengan cepat dekat, saling bertemu orangtua masing-masing untuk menunjukkan keseriusan, dan entah bagaimana, beberapa bulan kemudian, mereka bertunangan. Semuanya begitu cepat. Terlalu cepat hingga Hye-Na tidak sadar bahwa dia sudah terperangkap.

Hubungan mereka sempurna, semua orang berkomentar seperti itu. Pria itu memanjakannya, sangat menghargainya, dan bahkan menyetujui kesepakatan yang dia ajukan agar tidak ada hubungan badan sebelum pernikahan. Pria itu memujanya. Dia sadar sekali akan hal itu. Dan dia percaya bahwa lebih baik menikah dengan seseorang yang mencintainya. Mengenai perasaannya sendiri, itu bisa diurus nanti. Yang penting dia menyukai pria itu, menyukai kebersamaan mereka, dan tidak takut dengan prospek bahwa mereka akan hidup bersama selamanya setelah janji pernikahan diucapkan.

Sampai hari ini. Saat masa lalu Tae-Joon dilemparkan ke wajahnya telak-telak. Membuatnya sadar bahwa dia nyaris tidak mengenal siapa pria yang akan dinikahinya. Dia hanya mengetahui pribadi yang diperlihatkan pria itu di depannya. Dia tidak tahu masa lalu pria itu. Tidak tahu bahwa pria yang telah bertunangan dengannya itu adalah seorang pemerkosa dan pembunuh berdarah dingin. Dan kini, seseorang berniat membalaskan dendam. Dengan merenggut nyawa Hye-Na dan mengirimkan mayatnya pada Tae-Joon. Seperti yang Tae-Joon lakukan pada tunangan pria tersebut.

Di detik itu, barulah Hye-Na merasakan tubuhnya menggigil. Takut.

***

 

Mata Hye-Na terarah pada benda berkilat yang baru saja dikeluarkan pria itu dari sakunya. Sebuah pisau. Dan saat pria itu menghampirinya, jarak benda tersebut juga semakin mengecil dengan wajahnya, dan dua detik kemudian berhenti tepat di depan lehernya. Matanya membelalak, memprotes. Tapi mulutnya masih terkatup rapat. Menelan geraman ketakutannya bulat-bulat.

“Tenanglah. Wajahmu aman.”

Keambiguan dari kata-kata itu segera tertangkap olehnya. Wajah. Hanya wajah.

Dia mendengar sobekan kain. Kemejanya. Dan dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk meronta, tapi tidak terjadi apa-apa. Kursinya bergeser saja tidak.

Hawa dingin menyergap bagian depan tubuhnya ketika pisau itu dientakkan dalam satu garis lurus, membuka kemejanya tanpa pria itu perlu repot-repot melepaskan kancingnya satu per satu. Untungnya, dia masih mengenakan tank-top sebagai pertahanan terakhir.

Dia memejamkan mata, berusaha menjernihkan pikiran saat pria itu merunduk di atasnya, menempelkan pipi mereka, dan berbisik mengancam di telinganya. Setengah mati dia mencoba mengabaikan betapa nikmatnya aroma pria itu di hidungnya, atau betapa dia menyukai tekanan tubuh pria itu di tubuhnya. Pria ini membuatnya ketakutan, sekaligus merasa nyaman. Dia tidak memahami kekontrasan dalam dua hal itu. Apa yang dia rasakan membuat kepalanya pusing, dan perutnya terasa dipelintir. Sedangkan jantungnya malah berdebar penuh pengharapan.

“Apa yang kau pikirkan?” Pria itu bertanya serak. “Kurasa, kau malah sangat ingin disentuh bukan? Apa bajingan itu tidak membuatmu puas?”

Pria itu menjangkau sesuatu di belakang tubuhnya, dan dia mendengar suara diseret. Kursi lain, sepertinya. Yang kemudian ditempatkan berhadapan dengannya, dan pria itu mundur sedikit untuk duduk di atasnya.

“Kau masih punya waktu sampai hari Minggu. Dua hari lagi,” beri tahu pria itu. “Dan selama itu, kita akan bermain-main sebentar.”

Pria itu meraih tangan kanan Hye-Na, menghadapkan telapaknya ke atas, lalu mengelus pergelangannya, tempat nadinya berdenyut kencang.

“Obat itu membuat tubuhmu terasa lebih peka daripada biasa. Terutama terhadap rasa sakit. Kuyakinkan kau, rasanya akan benar-benar menyakitkan.”

Jeritan Hye-Na tertahan di mulutnya ketika pisau itu mulai menoreh kulitnya, merobek lapis demi lapis daging di baliknya, dan memutus urat nadinya sebagai perhentian terakhir.

Sakitnya tak tertahankan. Tiga detik kemudian, dia pingsan.

 

***

 

Kyuhyun menghentikan pendarahan. Dengan terampil memberikan beberapa jahitan, dan menutup luka itu dengan perban. Dia berlama-lama melakukannya, tahu bahwa gadis itu tidak akan terbangun dalam waktu dekat.

Dia bersandar di kursi, menyerahkan daya pandang sepenuhnya pada cahaya bulan dan lampu jalan di luar. Bahkan, dalam gelap sekalipun, dia bisa mengingat wajah gadis itu dengan jelas.

Dia mengikuti gadis itu selama berhari-hari, menjadi bagian dari rutinitasnya yang tak pernah berubah. Berangkat ke kantor pada pukul 9, pulang pada pukul 7 malam, dan tidak keluar lagi dari apartemen sampai pagi berikutnya. Rutinitas itu hanya berubah jika ada pertemuan dengan klien, atau ketika keparat itu datang dan menagajaknya kencan ke luar. Seringnya, mereka tidak ke mana-mana dan hanya menghabiskan malam di apartemen saja. Anehnya, tunangan gadis itu tidak pernah menginap, dan itu membuatnya bertanya-tanya.

Tapi bukan perasaan Hye-Na yang harus dia pikirkan. Melainkan bajingan yang menjadi tunangannya. Pria itu jelas tergila-gila pada Hye-Na dan bersedia melakukan apa saja untuk gadis itu. Dan itulah yang dia butuhkan. Kehilangan Hye-Na akan membuat bajingan itu hancur. Dan itulah tujuan hidupnya saat ini.

Yang tidak mau dia akui, yang berusaha dia abaikan selama ini, adalah kenyataan bahwa gadis itu begitu cantik. Dan begitu sial. Dari banyak pilihan pria, kenapa gadis itu harus memilih Tae-Joon? Gadis itu sempurna. Hidupnya sempurna. Tapi itulah masalahnya bukan? Tae-Joon hanya memilih yang terbaik, dan gadis itulah yang terbaik dari semuanya. Dan Tae-Joon selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Jika gadis itu menolak, dampaknya akan sama seperti yang terjadi pada Jung-Joo. Mati mengenaskan.

Dia membiarkan tangan kirinya menahan kepala gadis itu yang terkulai ke bahu, melarikan jemari tangan kanannya menyusuri helai ikal rambut gadis itu, lekuk wajahnya, dan berhenti di rahang. Dia bisa saja meremukkan gadis ini jika dia mau. Sekarang dan dua hari lagi tidak ada bedanya. Tapi dia sendiri tahu apa yang sedang dia lakukan. Menunda-nunda. Membiarkan hidup gadis ini berlangsung lebih lama.

Dia awalnya bisa menahan diri. Ketertarikannya hanya sekadar penampilan fisik. Hanya saja, saat dia akhirnya memberanikan diri menyentuh gadis itu tadi, mengucapkan kata-kata penuh ancaman, di dalam sebenarnya dia sedang bergelut dengan diri sendiri. Bahwa gadis itu kini adalah miliknya, bahwa dia bisa melakukan apa saja. Dia bisa meniduri gadis itu dengan dalih bahwa dia melakukan hal yang persis sama seperti yang dilakukan Tae-Joon pada tunangannya. Betapa dia ingin menyentuh gadis itu sesukanya. Dia mampu. Dia hanya tidak mau.

Dia bisa bersembunyi di balik alasan tidak ingin mengkhianati tunangannya. Sekonyol apa pun kedengarannya. Namun, hal sebenarnya adalah, sekejam apa pun dia, dia tidak bisa melakukan hal itu pada seorang wanita. Pada gadis itu khususnya. Anggaplah itu sebagai rasa hormat, meski hal lain yang akan dilakukannya pada gadis tersebut bahkan jauh lebih kejam dan tidak bermartabat.

Kyuhyun bangkit dari duduknya, berjalan ke luar ruangan. Seharusnya dia memberi gadis itu obat lagi, tapi tidak dilakukannya. Mungkin dia akan lebih puas jika mendapatkan reaksi. Melihat gadis itu yang hanya duduk diam dan tidak bisa bergerak mulai membuatnya bosan. Permainan di hari berikutnya seharusnya jauh lebih menyenangkan.

***

 

Saturday, 09:02 PM

Hye-Na terbangun pada tengah hari, saat matahari sedang bersinar sangat terik dan membakarnya dari luar jendela. Hal pertama yang dia periksa adalah pergelangan tangannya. Ada perban yang melingkar di sana. Pria itu sudah mengobatinya, entah apa maksudnya.

Tubuhnya sudah terasa baikan dan otot-ototnya kembali pulih. Pria itu bahkan tidak mengikatnya. Dia hanya ditinggal sendirian, dan saat dia beranjak untuk melongok ke luar jendela, dia mulai paham kenapa pria itu seolah tidak khawatir dia akan kabur.

Ruangan tempatnya berada pastilah terletak di lantai tiga atau empat, mustahil baginya untuk melompat, kecuali dia memang ingin mempercepat kematiannya. Dan ke mana pun dia memandang, hanya tampak padang rumput yang membentang luas dan hutan rimba di kejauhan. Itu pun dibatasi oleh pagar kawat tinggi berarus listrik.

Dia bergerak ke pintu saat menemukan nampan berisi makanan tergeletak di lantai, tidak repot-repot memeriksa apakah pintu tersebut dikunci atau tidak.

Ada jam yang digantung di dinding, dan dia menghabiskan waktu dengan memandanginya. Saat jarum pendek menunjuk angka tiga, dia kembali tertidur. Kini, saat dia akhirnya bangun, langit sudah gelap di luar dan dia tidak lagi bisa melihat jam.

Pria itu datang beberapa menit kemudian, seolah tahu kapan waktunya dia bangun. Dia hanya duduk diam di kursi, menunggu. Tidak ada gunanya melawan. Pria itu jelas lebih kuat. Salah-salah, pria itu bisa membunuhnya. Tidak hari ini. Tunda saja satu hari lagi. Apa lagi memang yang bisa dia harapkan? Menghitung hidupnya dari detik ke detik? Jam ke jam?

***

 

Rambut gadis itu tidak disisir. Dia bahkan tidak mandi. Jadi kenapa gadis itu masih saja terlihat menggoda di matanya?

Tatapan gadis itu datar saat memandangnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu, dan dia sadar begitulah cara gadis itu mencoba menantangnya.

“Kau tahu bagaimana kondisi tunanganku saat ditemukan?” Dia memulai, setelah mengenyakkan tubuh ke kursi. “Rusak. Seperti boneka yang dicampakkan pemiliknya setelah bosan bermain.”

Dia kembali mengeluarkan pisaunya, mengeluskan permukaannya ke punggung tangan gadis itu. Kali ini, gadis tersebut tidak lagi menggigil. Seolah dia sudah menyiapkan diri. Baguslah.

“Kulitnya di bagian sini terkelupas. Dikuliti.” Kyuhyun menunjukkan, mempraktikkannya pada lengan atas Hye-Na. Bagaimana gadis itu menahan teriakannya, Kyuhyun tidak pernah tahu. Gadis itu bertahan dengan kediamannya, hanya matanya yang menunjukkan kesakitan yang dia alami. Tidak masalah bagi Kyuhyun. Bukan teriakan kesakitan gadis itu yang diinginkannya.

Dia telah menghafal semua luka-luka di tubuh Jung-Joo, dan berjanji akan menorehkan luka yang sama di tubuh gadis ini. Betapa pun itu membuatnya jijik pada diri sendiri, dia tetap melakukannya. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan tidak dirinya sendiri. Keputusan telah dibuat. Dan keputusan ada untuk dilaksanakan. Itulah hukumnya.

Goresan-goresan berikutnya, tetes-tetes darah yang jatuh ke lantai dan membasahi kemeja robek yang masih gadis itu kenakan, juga tusukan dan torehan yang dia lakukan di paha gadis tersebut masih tidak membuat gadis itu bereaksi. Meski dia tidak mau mengakui, tapi gadis ini mulai membuatnya frustrasi.

“Kau bersikeras untuk tetap diam?” Dia menggertak. Gadis itu kembali membalasnya dengan tatapan datar. “Tidak masalah,” ujarnya. “Aku bisa membuatmu bersuara.”

Dengan cepat dia merangsek maju, mencengkeram bagian depan kemeja gadis itu dan merenggutnya, membuat gadis tersebut tersentak ke arahnya. Lalu dia menunduk, menghunjamkan ciuman kasar ke bibir gadis itu.

Dia nyaris tersentak mundur saat bibir gadis itu tanpa diminta membuka. Seolah gadis itu telah menunggunya. Seolah gadis itu telah siap untuknya.

***

 

Diam-diam, Hye-Na telah menantikan ciuman itu. Dia memikirkannya seharian, tentang kemungkinan bahwa pria itu akan memerkosanya. Terutama karena pria itu berkata akan melakukan hal yang persis sama seperti yang Tae-Joon lakukan pada tunangannya. Dari banyak hal kejam yang bisa dilakukan pria itu padanya, itu bukan salah satu yang dia khawatirkan.

Ciuman itu senikmat yang dia bayangkan. Bahkan pada detik pertama bibir mereka bersentuhan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membiarkan bibirnya merekah membuka untuk menyambut bibir pria itu sepenuhnya. Untuk sesaat pria itu tampak ragu, nyaris melangkah mundur, tapi kemudian tangan pria itu menangkup kedua belah pipinya, memantapkan posisi mulutnya, dan memberikan apa yang begitu gadis itu inginkan.

Dia tidak pernah mencium Tae-Joon seperti ini. Ciuman Tae-Joon menyenangkan, tapi hanya itu. Tidak ada yang meledak-ledak, tidak ada yang berkobar, tidak ada panas yang membakar. Sedangkan ciuman pria ini membuatnya ingin berpartisipasi, membuat saraf-sarafnya berpesta pora, dan jantungnya menggeliat senang. Tanpa sadar, dia telah mencondongkan tubuh hingga menempel di tubuh pria itu tanpa jarak. Dan pria itu membiarkan, bahkan menariknya lebih dekat, dengan geraman teredam di mulutnya.

Dia terengah, tidak mau mengambil waktu untuk menarik napas, terutama saat lidah pria itu mengitari rongga mulutnya dan tangan pria itu menyelinap masuk ke balik tank-top-nya, menyentuh punggungnya dengan telapak tangannya yang terasa hangat dan kasar.

Tubuhnya diempaskan ke dinding, dan sebelum dia menyadari apa yang terjadi, kemejanya sudah dicampakkan ke lantai, tank-top-nya ditarik naik, dan pengait branya terlepas. Bibir pria itu meninggalkan bibirnya, turun dan menyisakan jejak panas di area kulit yang disentuhnya. Leher, bahu, terus menuju lengan, dan berhenti untuk mengecup tiap luka yang masih berdarah.

Hye-Na merasakan tubuhnya menggigil. Bukan karena dingin atau takut, tapi karena bergairah. Kali pertamanya dia ingin bercinta dengan seorang pria dan berharap pria itu menyelesaikannya hingga tuntas. Jika dia harus mati besok, maka setidaknya dia harus bersenang-senang hari ini.

Bibir pria itu bergeser ke perutnya, meninggalkan kecupan basah di atas luka gores yang berada di area pinggang, memberikan jilatan lembut di pusar, lalu beranjak naik, di mana jantungnya memberontak membentur tulang rusuknya yang dengan segera terasa nyeri. Dia menahan napas, nyaris merosot jatuh ketika telapak tangan pria itu akhirnya menangkup dadanya. Pria itu menahannya di tempat, dan di antara penglihatannya yang berkabut, tatapan pria tersebut menembusnya seperti bor.

“Apa dia begitu buruk di ranjang hingga kau menyambut pria pertama yang melemparkan diri padamu?”

Dia tersentak; kepalanya langsung menghantam dinding di belakang.

“Acara bermainnya sudah selesai, Nona Han,” pria itu berkata kejam. “Kau tidak berpikir bahwa aku berselera untuk menidurimu, ‘kan? Kau terlalu menganggap tinggi pesonamu.”

***

 

Kyuhyun menutup pintu, menyandarkan tubuh ke dinding, dan memarahi diri sendiri. Dia telah melewati batas. Seharusnya tidak sampai sejauh itu. Tidak adil bagi gadis itu.

Bagaimana dia kembali mendapatkan akal sehatnya, dia tidak pernah tahu. Rasa bibir gadis itu di bibirnya, kulit lembut yang dia jelajahi inci demi inci, betapa pas dada gadis itu berada dalam tangkupan tangannya… dia benar-benar sudah gila!

Pria itu berbalik, menghantamkan kepalan tangan ke dinding, mengabaikan rasa sakit yang mendera setelahnya. Toh tidak lebih sakit daripada kejantanannya yang berdenyut nyeri di bawah sana.

Dia butuh mandi air dingin. Segera.

***

 

Sunday, 06:08 PM

Hari ini akhirnya tiba. Hari kematiannya. Hye-Na tidak bersedih menyambutnya. Keseluruhan tubuhnya mati rasa.

Dia tidak bisa tidur semalaman. Setelah disentuh pria itu begitu rupa, bagaimana dia bisa melakukannya? Bahkan setelah dia dicampakkan, dia tidak merasa marah. Pria itu berhak melakukannya. Pria itu mencintai tunangannya. Hye-Na hanya digunakan sebagai alat untuk bersenang-senang.

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan balas dendam yang pria itu lakukan, melalui dirinya. Tapi dia paham. Dia mengerti kenapa pria tersebut harus melakukannya. Bukan berarti dia setuju.

Ada harapan kecil di sudut pikirannya, bahwa pria itu akan menyerah dan melepaskannya. Bahwa mereka mungkin bisa memulai sesuatu dari sana. Ada ketertarikan di antara mereka. Baik dia maupun pria itu tidak bisa mengelak. Tapi setelah menghabiskan waktu bersama pria itu selama dua hari terakhir, dia tahu bahwa pria tersebut bukan jenis orang yang akan mengubah pikiran setelah mengambil sebuah keputusan. Jadi dia tidak berharap banyak.

Matanya terarah ke luar jendela. Senja tampak indah dari sini. Membuat padang rumput hijau yang telah menjadi pemandangan tetapnya memancarkan sinar kekuningan. Matahari menyorot tajam, membuat langit berkali-kali berubah warna. Merah, jingga, kadang kuning, merah muda, dan campuran di antaranya. Dia menikmati itu semua. Pemandangan terakhirnya.

Pintu didorong membuka. Pria itu masuk. Berjalan ke arahnya. Dia masih tidak melirik, hanya menyandarkan tubuh ke ambang jendela. Melamun.

Seperti biasa, pria itu duduk di depannya. Tidak membuka pembicaraan. Hanya diam. Dan dia tahu artinya. Pria itu masih belum berubah pikiran.

Menit-menit berlalu. Langit semakin menggelap. Warnanya berubah kecokelatan. Saat itulah dia menggeser kepala, melayangkan tatapan pada pria itu. Pria yang juga sedang menatapnya. Masih tanpa mengucapkan apa-apa.

Dia memperbaiki posisi duduknya, menghadap sepenuhnya ke arah pria tersebut, terang-terangan memandang. Dan pria itu melakukan hal yang sama. Padanya.

Matahari menghilang. Lampu-lampu jalan dihidupkan. Ruangan menjadi remang-remang. Kemudian, perlahan, pria itu berdiri, berhenti tepat di depannya. Menundukkan tubuh. Sedangkan dia sendiri mendongakkan wajah, agar mereka tetap bisa berpandangan.

Pria itu menempelkan dahi mereka, dengan mata terpejam. Embusan napas pria itu menerpanya lembut, dan dia menghirupnya seakan itu adalah oksigen yang membantunya bernapas. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia menangis hingga pria itu menggeser kepala, mengecup kelopak matanya, mengikuti jejak air matanya di pemrukaan pipi, lalu mencium bibirnya, diam di sana, berlama-lama.

“Boleh aku tahu namamu?” Hye-Na mendengar dirinya berbisik.

Tangan pria itu menangkup tengkuknya, mengelus titik nadinya dengan ibu jari.

“Kyuhyun,” pria itu balas berbisik di dekat telinganya. “Cho Kyuhyun.”

“Kyuhyun,” ulangnya, menyukai sensasi nama itu di lidahnya.

Dia tidak merasakan kedatangannya. Sudah dia bilang tadi, dia mati rasa. Dia mengetahui dari tatapan yang pria itu arahkan padanya. Pertama kalinya pria itu membiarkan perasaannya telanjang, terpampang lebar tanpa ditutup-tutupi. Mata yang tajam itu berubah sendu, sorotnya tampak putus asa, dan perlahan, setitik air menetes dari sudutnya, jatuh ke pipi Hye-Na, dan mengalir turun hingga menghilang ke sela bibirnya. Tatapan itu begitu pedih, hingga dia bisa merasakan sakitnya.

“Han Hye-Na.” Untuk pertama kalinya pula pria itu mengucapkan namanya.

Ujung pisau itu menekan semakin dalam, membuatnya tersedak dan memuntahkan darah dari mulutnya. Tapi dia bertahan sebentar untuk menatap pria itu, untuk mengucapkan namanya sekali lagi.

“Cho Kyuhyun.”

Dengan dua kata terakhir yang terucap dari bibirnya, gadis itu mengatupkan mata.

Selesai sudah. Han Hye-Na, telah lenyap dari dunia.

***

 

Kyuhyun memandikan gadis itu, membilas setiap jejak darah dari tubuhnya, membersihkan luka-luka yang ditorehkan olehnya.

Dia memakaikan gadis itu gaun putih cantik yang dibelinya. Menyisir rambut gadis tersebut sampai halus, kemudian membaringkannya ke dalam peti mati yang dibelinya tadi pagi. Gadis itu masih secantik yang dilihatnya pertama kali. Hanya saja, kali ini tanpa rona di pipi.

Dia melanggar beberapa hal dalam keputusannya. Dia tidak akan tega membuang jasad gadis itu di selokan. Dia membelikan peti paling mahal, mendandani gadis itu secantik mungkin. Demi dirinya. Demi cintanya yang kandas untuk kedua kali. Demi balas dendamnya yang usai. Dan demi hidup yang akan dihabiskannya dalam rasa hampa, sambil mengasihani diri sendiri.

Dia memandangi gadis yang terbaring dalam peti mati itu. Dia ingat bagaimana mereka pertama kali bertemu. Di pameran seni. Gadis itu berjarak tiga lukisan darinya, saat Kyuhyun menyadari kehadirannya. Gadis itu mengenakan gaun sifon selutut yang bagian bawahnya ikut bergerak, seakan melambai, tiap kali gadis itu melangkah. Itu pertama kalinya seorang wanita membuatnya terpesona setelah satu tahun berlalu. Maka, dia menghitung langkah gadis itu. Tiga. Empat. Dia begitu ingin menyapa gadis tersebut, menunggu hingga gadis itu sampai di dekatnya dan dia akan mengajak gadis itu berkenalan. Lima. Enam. Hanya berjarak satu meter darinya, dan seseorang menghentikan langkah gadis itu. Seorang pria. Seorang teman, karena gadis itu tersenyum, menyalaminya, dan mengucapkan selamat.

Senyum itu lebih cerah dari lampu-lampu yang menerangi lorong. Senyum itu begitu membutakan, hingga Kyuhyun baru sadar beberapa detik kemudian bahwa satu orang pria lagi menghampiri. Gong Tae-Joon.

Makanya dia menyebut betapa buruknya keberuntungan gadis itu.

Sangat sangat buruk.

***

 

Monday, 08:00 AM

Kyuhyun menyerahkan tiketnya, mengabaikan pramugari yang tersenyum dan menyapanya ramah, dan mengucapkan semoga perjalanannya menyenangkan sambil mengulurkan kembali tiketnya.

Dia melangkah menuju kursinya, tepat di samping jendela. Dia menatap ke luar, ke arah orang-orang yang sibuk berlalu lalang mempersiapkan keberangkatan, kereta dorong yang mengangkut tumpukan barang untuk dinaikkan ke bagasi, dan setengah mendengarkan pengumuman di interkom.

Dia akan meninggalkan Korea. Mungkin beberapa tahun. Mungkin selamanya. Dia akan menghabiskan hidup dengan menghukum diri. Dengan mengingat gadis itu setiap hari. Bukan lagi Choi Jung-Joo, tapi Han Hye-Na.

Dia akan mengingat sorot pemahaman di mata gadis itu saat terakhir kali mereka bertatapan. Dia akan mengingat cara gadis itu memanggil namanya. Dia akan mengingat rasa gadis itu; bibirnya, kulitnya, sentuhannya.

Dia membuka ritsleting ranselnya, menjangkau ke dalam, dan menemukan secarik kain yang terlipat rapi. Pria itu mengeluarkannya, mendekap kain tersebut di depan dada, membiarkan aroma kain itu memenuhi rongga hidungnya.

Hanya sepotong kain. Sebuah tank-top. Pakaian terakhir yang gadis itu kenakan.

Dia menghela napas berat. Betapa sebentar waktu yang mereka miliki. Betapa dia mencintai gadis itu dalam prosesnya.

Tapi cinta pun tidak cukup. Tidak cukup untuk menahannya mengakhiri hidup gadis itu.

Karena… pembalasan dendam begitu kejam hingga cinta tak mampu melembutkan.

Karena… cinta begitu kuat hingga membiarkan sang dendam memperoleh kemenangan.

***

 

Pada jam yang sama, di tempat berbeda, Tae-Joon membuka pintu rumahnya, bermaksud mengambil botol susu dan koran di beranda, tapi malah menemukan sebuah peti mencurigakan di teras. Dia terdiam, tidak mendekat, dan dalam beberapa detik langsung mengerti. Wajahnya seketika pucat, semua warna pias dari muka.

Menguatkan diri, dia membuka peti itu. Memandang sosok yang begitu dia cintai, yang kini terbujur kaku tanpa nyawa di dalamnya.

Dia tidak berteriak. Hanya menjatuhkan diri. Berlutut di samping sang gadis. Menangis terisak-isak, mengulang-ulang kata maaf yang tidak bisa mengubah apa-apa.

Dari arah dalam, terdengar suara penyiar berita dari televisi yang menyala, mengabarkan kecelakaan pesawat menuju London yang meledak saat baru saja lepas landas meninggalkan bandara. Semua penumpang dikabarkan tewas. Nama-nama korban jiwa dibacakan. Cho Kyuhyun, salah satunya.

***

 

“Aku selalu merasa ada yang salah dengan akhirnya.”

Layar menggelap, menampilkan barisan tulisan nama pemain, kru, dan sponsor. Orang-orang mulai berdiri, berjalan bergantian melintasi lorong menuju pintu keluar.

“Akhirnya baik-baik saja, menurutku,” timpal wanita di sampingnya, ikut berdiri sambil merapikan floral dress yang membalut tubuhnya.

“Tidak bisakah kita di sini dulu?” pinta pria itu. “Kalau kita keluar sekarang, ada banyak wartawan di luar, dan kita harus melayani semua pertanyaan mereka.”

“Itu tugasmu sebagai aktor, Cho Kyuhyun.”

“Aku tidak merasa bangga karenanya.”

Wanita itu mencibir. Tatapannya turun pada dasi Kyuhyun yang miring. Dan tanpa berpikir, wanita itu langsung menunduk, membetulkan posisi dasi tersebut.

“Kalau aku tidak salah menyimpulkan, kau baru saja menyodorkan dadamu ke depan wajahku?” Kyuhyun menyeringai, tatapannya lurus ke arah garis leher gaun wanita itu yang sedikit melorot dan memamerkan belahan dadanya.

“Dasar mesum!” Seseorang mendorong kepala Kyuhyun dari belakang, membuat pria itu terdorong dan nyaris jatuh menimpa kursi di depannya.

Aish, Nuna! Memangnya dosa menggoda istri sendiri?”

“Di tempat umum begini? Di mana otakmu, hah?”

“Di selangkanganku,” gumam Kyuhyun tak jelas, berdiri, dan mengambil posisi sedikit di belakang tubuh istrinya, seolah sedang mencari perlindungan.

“Apa kau bilang?”

“Tidak ada,” dia mengelak. “Pergi sana,” usirnya. “Kami akan mengurus para wartawan itu dulu.”

“Hebat sekali!” Eunhyuk yang duduk tak jauh dari mereka ikut bergabung. “Aku sudah berdebar-debar ingin melihat dada istrimu, tapi saat kamera bergerak naik, kau sudah menutupi dadanya dengan tanganmu. Pelit. Sangat pelit. Sama sekali tidak mau berbagi.”

Hye-Na terkekeh geli, sedangkan Kyuhyun melemparkan tatapan membunuh ke arah pria itu.

“Hei, hei,” Eunhyuk melanjutkan, tidak memedulikan amarah Kyuhyun yang mulai berkobar, “aku mulai penasaran. Apa kalian masih sepanas itu di rumah? Setelah tujuh tahun menikah? Karena cara kalian berciuman… ADUH! Kenapa kau kasar sekali, sih?”

“Ayo keluar. Ada banyak orang gila di sini.” Kyuhyun memegangi siku Hye-Na, menuntunnya melewati undakan di antara gang, dan baru berhenti saat mencapai pintu.

“Kenapa semarah itu? Aku saja tidak keberatan,” Hye-Na mencibir. “Tidak bisakah kau membiarkanku mengambil tawaran dari Sutradara Park?”

“Tidak.”

“Kenapa? Karena ada adegan ranjang dengan Ji Chang-Wook? Karena aku sudah menikah? Aku tidak pernah keberatan kau mencium dan menyentuh wanita lain dalam film-filmmu. Kenapa aku tidak boleh? Apa menurutmu tidak menyedihkan bahwa hanya ada dua orang lelaki yang menyentuh dadaku? Satu adalah suamiku. Satu lagi adalah anakku. Dadaku kan pantas untuk dipamerkan.”

“Ya. Dadamu bagus,” Kyuhyun menggeram, “tapi aku tidak mau berbagi. Aku sudah cukup bersabar membiarkannya menjadi milik Dae-Hyun selama setahun. Aku tidak mau kau mempertontonkannya di depan jutaan rakyat Korea juga.”

Over-protective,” ejek Hye-Na, melirik tirai di depannya. “Kenapa kita berdiri di sini? Ayo keluar.”

“Sebentar lagi. Nanti manajerku akan memberi aba-aba.”

Kyuhyun merasakan ponselnya bergetar di saku beberapa detik kemudian.

“Ayo cium aku,” perintahnya.

“Apa?”

“Cium sajalah. Apa susahnya?”

“Aku bukan kau yang suka pamer kemesraan di dep—”

Kyuhyun mendekat, menarik wanita itu ke arahnya, lalu berbisik pelan sebelum menyatukan bibir mereka, “Kau ini benar-benar terlalu banyak bicara.”

Tirai membuka. Para wartawan yang bersemangat menghadiri premiere film hari ini langsung menjepretkan kamera dan berebut mengajukan pertanyaan. Di tengah keriuhan itu, terdengar dua teriakan yang begitu nyaring, dengan suara familier yang membuat Kyuhyun melepaskan Hye-Na seketika dan terbatuk-batuk gugup.

APPA!” teriak Hyun-Ah.

EOMMA!” seru Dae-Hyun.

“MEMALUKAN!” teriak mereka bersamaan.

***