20dbd39ce73690e87343e943ddd6c923

“Sedang apa kau?” Manajer Kyuhyun bertanya bingung saat pria itu berkutat melepaskan sweater-nya melewati kepala dan mengenakan kemeja putihnya di kursi belakang.

“Entahlah. Mana kutahu. Apa menurutmu aku sudah gila?” Pria itu balik melontarkan pertanyaan absurd.

“Sejak menikah kau memang sudah gila. Dan sekarang semakin parah saja. Apa memakai kemeja putih ada hubungannya dengan istrimu? Dia memiliki kelainan seksual ya? Apa dia hanya terangsang jika melihatmu memakai kemeja berwarna putih?”

Kyuhyun mendengus, berhasil memasang kancing terakhir di bagian bawah kemejanya.

“Setelah kupikir-pikir,” tukasnya, memutuskan untuk tidak mengomentari ejekan manajernya itu, “aku memang terlihat lebih tampan dalam kemeja putih. Bagaimana menurutmu?”

“Menurutku, kalian berdua perlu memeriksakan diri ke psikiater segera.”

“Ini kan masih normal. Dia belum meminta dicambuk atau semacamnya. Mengherankan, mengingat bacaannya yang sering tidak wajar.”

“Apa dia masih mencoba merayumu untuk menemaninya pergi menonton premiere film mesum itu ke Amerika? Apa judulnya? Fifty Shades of Grey?”

Kyuhyun mengernyit. Mulut Eunhyuk memang perlu disumpal sepertinya. Kapan monyet satu itu punya kemampuan menyimpan rahasia?

“Dia sudah mengubah taktik. Dia bilang cukup menonton di Korea saja. Aku rasa dia sedang mencoba untuk menyewa satu bioskop atau semacamnya. Aku bahkan tidak akan terkejut kalau dia berhasil mendapatkan filmnya tepat di hari perilisan dan memaksaku menemaninya menonton di rumah.” Pria itu menggemeretakkan giginya. “Dia pasti sudah tidak waras kalau berpikir aku akan menemaninya melihat pria telanjang. Kadang-kadang aku heran dengan seluruh aksi fangirl-nya itu. Seolah aku belum cukup saja.”

“Di film itu kan juga ada wanita telanjangnya.”

“Cih.” Kyuhyun memutar bola mata. “Memangnya aku tertarik?”

“Baiklah. Tidak usah menyombongkan fakta kalau kau telah menikahi salah satu wanita paling diinginkan pria seantero Korea.”

“Apa menurutmu itu sesuatu yang perlu dipamerkan? Mengingat situasinya, aku sama sekali tidak senang mengetahui ada puluhan pria di luar sana yang membayangkan istriku sebagai objek mimpi basah mereka. Lagi pula ada apa dengan semua sorotan itu? Dia kan hanya pengusaha, bukan publik figur.”

“Dia wanita terkaya di Korea. Luar biasa cantik pula. Perlu alasan apa lagi untuk terpesona padanya?”

“Lucu sekali bukan, karena sekarang akulah yang berada di posisinya dulu. Dan dia sama sekali tidak membantu.”

“Siapa lagi incarannya kali ini?”

“Ji Chang-Wook Hyung.”

Healer?”

Kyuhyun menggumam tidak jelas.

“Seleranya tinggi.” Manajer Kyuhyun tertawa keras. “Kenapa? Takut dia akhirnya menyadari bahwa ada banyak pria yang lebih tampan dan menarik di luar sana?”

Kyuhyun mengangat bahu tak acuh.

“Tidak,” sahutnya, tersenyum tipis saat melihat bangunan megah yang mulai tampak di kejauhan. Sebentar lagi. Akhirnya dia pulang. Ke rumah. “Karena dia tahu bahwa peluangnya untuk bahagia kecil sekali kalau tidak bersamaku.”

“Sangat percaya diri.”

“Ya. Menurutmu kenapa kami terus bertahan dengan intensitas pertemuan yang jarang seperti sekarang?” Pertanyaan retorik. “Entah kami terlalu bodoh atau prospek perpisahan permanen terasa lebih menakutkan. Keduanya sama saja.”

***

Dia sama sekali tidak terkejut, sungguh, saat mendapati bahwa wanita itu masih terbenam di balik selimut tebalnya yang nyaman sedangkan jarum jam sudah menunjuk angka sebelas. Selain makan, menjelajah internet, menonton film, dan membaca novel, hal favorit seorang Cho Hye-Na adalah tidur seharian. Terutama di hari Minggu seperti sekarang. Impiannya untuk disambut di hari kepulangannya, seperti yang mereka rencanakan di India beberapa hari yang lalu, mulai terasa begitu muluk. Dia pasti sedang amnesia ketika membayangkannya.

Pria itu duduk di tepi ranjang. Dia hanya punya waktu satu jam lebih kurang, sebelum manajernya kembali menjemputnya untuk melakukan sesi latihan singkat sebelum pentas drama musikalnya nanti sore. Dan dia bahkan terlalu baik karena berencana untuk tidak mengganggu tidur wanita itu. Kantung hitam di bawah mata istrinya begitu mengkhawatirkan, dan tubuhnya yang semakin kurus itu harus ditindaklanjuti secepatnya. Sudah lama sejak rutinitas makan bersama mereka terakhir kali dilakukan dan itu berada dalam daftar teratas kegiatan yang direncanakannya untuk mereka berdua segera setelah mereka memiliki waktu luang. Hye-Na memiliki kecenderungan melahap makanan apa pun yang disodorkan kepadanya selama mereka menghabiskan waktu dengan mengobrolkan banyak hal. Wanita itu pemilih terhadap makanan, tapi selama ada ayam dan makanan pedas di atas meja, semuanya sepertinya akan aman.

Kyuhyun menyibak selimut dan menyelipkan diri ke baliknya. Dia menyusupkan satu lengan ke bawah kepala wanita itu, menariknya mendekat, dan melingkarkan lengan lain di seputar tubuhnya.

Hal paling menyenangkan dari memeluk wanita ini adalah, bahwa dia bisa merasakan seluruh panca indranya berfungsi aktif tanpa kecuali dalam menanggapi tindakan intim yang sederhana itu. Dia bisa meraba dan menyentuh, memandangi wajah wanita itu, membaui aromanya, mendengar suara hela napasnya, dan menciumi bagian mana pun yang dia inginkan. Biasanya, favoritnya adalah rambut. Aroma wanita itu selalu tercium enak di hidungnya. Dan dia bisa menghabiskan waktu satu jam penuh hanya dengan melakukan itu sebelum akhirnya ikut tertidur. Tapi siang ini dia memilih untuk terjaga sepenuhnya. Dia hanya ingin menyentuh wanita itu saja, merasakan kehadirannya, memastikan bahwa wanita tersebut memang ada, bersamanya.

Hye-Na bergerak dalam tidurnya, semakin meringkuk ke arahnya, dan dia tersenyum saat mendapati jemari wanita itu meraih bagian depan kemejanya, menariknya mendekat, dan mendongakkan wajah, menyurukkan hidung tepat di cekungan lehernya. Saat itulah dia menyadari pakaian apa yang sedang wanita itu kenakan. Salah satu dari koleksi kemeja putihnya di lemari.

Dia menegakkan tubuh, bersandar di kepala ranjang, dan membiarkan kepala Hye-Na berada di atas dadanya, sedangkan separuh tubuh wanita tersebut terbaring membebani tubuhnya. Dia melarikan jari-jarinya ke helaian rambut wanita itu yang tergerai berantakan, memuntirnya, ssedangkan tangannya yang lain melakukan gerakan mengusap-usap tak beraturan di punggung wanita itu.

Dia memandangi danau di kejauhan, juga puncak-puncak bukit yang hampir tak tampak karena disilaukan oleh sinar matahari tengah hari yang mulai beranjak naik. Dia menyukai pemandangan dari jendela kaca kamar mereka, yang sebagian besar didominasi warna hijau dan putih. Pohon-pohon, perbukitan, rerumputan. Lalu langit, awan, atap rumah, permukaan danau. Semuanya dalam gradasi warna kesukaan wanita itu.

Dia mengembuskan napas pelan, berpikir tentang musim semi yang akan segera datang. Mungkin mereka bisa berlibur sebentar pada akhir minggu bulan depan. Dia harus menyeret wanita itu dari kesibukannya dan mengajaknya bersantai. Ke luar negeri, ke suatu tempat yang sepi, atau hanya bermalas-malasan di rumah. Gagasan itu terdengar sangat menggoda. Mereka memang butuh penyegaran. Dia bahkan tidak akan keberatan jika harus melakukannya di atas ranjang seharian, terutama jika mengingat keinginan wanita itu untuk segera memiliki anak.

Sesungguhnya, dia tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu sebelumnya. Dia menyukai kebersamaan mereka. Berdua saja. Memiliki wanita itu sepenuhnya untuk dirinya sendiri, tanpa keinginan untuk berbagi. Tapi jika harus dipikirkan lebih mendalam, keinginan untuk memiliki bayi itu sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Membayangkan kehadiran makhluk kecil yang merupakan duplikat mini dari mereka berdua sebenarnya sangat menarik bahkan. Juga fakta bahwa Hye-Na tidak akan lagi sendirian selama pekerjaan menuntutnya pergi keliling dunia dan meninggalkan wanita itu di rumah. Mungkin mereka memang harus mencobanya. Bahkan ide itu mulai terdengar sama menyenangkannya seperti melakukan kegiatan untuk mewujudkan terciptanya anak itu sendiri.

Dia menunduk, menempelkan bibir ke puncak kepala Hye-Na selama beberapa saat, lalu memiringkan wajah sehingga dia bisa menyandarkan pipinya ke sisi kepala wanita itu Masih setengah jam lagi sebelum manajernya kembali dan dia masih menahan godaan untuk membangunkan wanita dalam pelukannya. Sulit, terutama dengan dada wanita itu yang bergerak menekan dadanya setiap kali menarik napas. Harap dimaklumi bahwa libidonya sedang dalam level tertinggi mengingat mereka sudah tidak melakukannya selama berminggu-minggu. Dan wanita ini sama sekali tidak membantu. Yah, memangnya kapan seorang Cho Hye-Na punya belas kasihan untuknya?

***

“OOOYYY!!!”

Kyuhyun berbalik, memandangi Hye-Na yang berlari-lari kecil—nyaris melompat-lompat seperti kelinci—menghampirinya. Wanita itu tampak semakin mungil saja, terbenam dalam kemejanya yang beberapa ukuran lebih besar dari tubuh wanita itu sendiri. Dan dia menikmati pemandangan kaki indah yang tidak tertutup apa-apa itu, sebelum ingat bahwa beberapa meter jaraknya dari situ, manajernya juga menikmati pemandangan yang sama.

“Begitu sekarang caramu memanggil suami?”

“Kyuhyun ssi,” ujar wanita itu dengan nada manis yang memuakkan, yang dalam seketika membuatnya waspada. “Kenapa kau tidak membangunkanku?”

“Kau kelihatan pulas sekali,” cibirnya.

“Aku bisa melanjutkan tidurku lagi nanti.”

“Atau kau bisa ikut dan menonton drama musikalku.”

“Kau kan tahu aku tidak suka drama musikal. Isinya hanya orang-orang yang menyanyi saja. Tidak asyik.” Wanita itu jelas tidak memikirkan perasaannya sama sekali. “Lagi pula, kalau aku ikut, akan sangat mencurigakan. Wartawan-wartawan itu,” dia mendesah, “aku bahkan sampai tidak bisa pulang ke apartemen.”

“Kau sudah mengangkut barang-barangmu?”

“Beberapa. Nanti biar kuutus orang untuk mengambil sisanya.” Dia mengangkat bahu. “Kau tidak melihat sesuatu yang mencurigakan saat pulang tadi, ‘kan? Kemarin aku harus berputar-putar dulu sebelum bisa terlepas dari mereka dan pulang tanpa ketahuan.”

“Tidak.”

Hye-Na mengerucutkan bibir. “Jadi kau akan pergi lagi sekarang?”

“Nanti malam aku pulang. Kita bisa menyelenggarakan reuni yang menyenangkan beberapa jam lagi,” godanya.

Wanita itu tersenyum mencurigakan.

“Ini. Jatah fotomu minggu ini,” ujarnya, menyodorkan dua lembar foto dengan tangannya yang tenggelam sepenuhnya dalam lengan kemeja yang panjang. Hanya separuh jari-jarinya saja yang kelihatan, dan Kyuhyun tidak bisa memikirkan kata lain lagi selain: menggemaskan. Kalau wanita ini berniat menggoyahkan imannya….

“YAK!” Pria itu berteriak keras, murka dalam hitungan sepersekian detik setelah dia menatap apa yang ada dalam dua lembar foto tersebut.

ji chang wook - 3012 (4) copy

ji chang wook - 3012 (4) copy1

Wanita itu mengikik tanpa dosa.

“Aku tidak menyangka bahwa kami terlihat serasi sekali bersama. Apa kau pernah melihat dia tersenyum?” seru Hye-Na histeris, mengabaikan wajah dongkol suaminya. “Aku tidak pernah melihat senyum semanis itu sebelumnya. Dan cara dia menatapku…,” wanita itu menggelengkan kepala, “kurasa aku mau pingsan saja.”

“Jadi ini yang kau lakukan selama aku tidak ada?” Kyuhyun menggemeretakkan giginya geram.

“Kami hanya bertemu dua kali. Aku mendatangi lokasi syutingnya. Ya Tuhan, ya Tuhan, kalau kuingat-ingat lagi, aku mulai heran kenapa aku masih bisa sadarkan diri saat kami bersalaman.”

Hye-Na menutup mulutnya, menepuk-nepuk dada suaminya, bermaksud menenangkan.

“Tidak usah khawatir, kau masih satu-satunya pria bagiku.” Ucapan itu bisa terdengar sangat manis, jika saja tidak ada lanjutannya. “Mengingat aku sudah menikah denganmu, jadi aku bisa apa?”

Kyuhyun hanya diam, membiarkan istrinya yang tak tahu diri itu berceloteh sesukanya.

“Melihat ekspresimu, aku mulai cemas. Tawaran nanti malam masih berlaku, ‘kan?”

“Masih menginginkanku?” tukasnya sinis. “Tidak mau melemparkan diri ke Ji Chang-Wook-mu itu?”

Sorot mata wanita itu langsung berbinar. “Boleh?”

Dia mendengus, membalikkan tubuh, dan mulai berjalan pergi.

“Aku bercanda! Bercanda! Kau ini sensitif sekali!” seru Hye-Na, menyusul dan bergegas merintangi langkahnya.

“Aku menyukai pribadimu yang mulai terbuka padaku sekarang,” pria itu menggumam, “tapi kenapa aku lebih sering merasa kesal setengah mati ya? Isi kepalamu itu benar-benar berbahaya.”

“Oh, ini belum seberapa.” Hye-Na mengedipkan mata jail. Dia kemudian mendekat, menyusurkan jemari di sepanjang kerah kemeja pria tersebut, dan berkata, “Bagaimana kalau aku melakukan setengah pembayaran di muka?”

“Pembayaran?”

Sedetik kemudian wanita itu sudah meloncat ke tubuhnya, dan dia dengan spontan merengkuh tubuh wanita itu erat-erat supaya tidak merosot jatuh. Serbuan bibir wanita itu di bibirnya untuk sejenak membuatnya tergeragap, dan dialah pihak yang berusaha mengimbangi, tidak seperti biasa. Bukannya dia keberatan. Berciuman dengan istrinya selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan, kadang.

Suara klakson yang memekakkan telinga terdengar nyaring, menginterupsi, membuatnya refleks membalikkan tubuh, melindungi wanita itu dari pandangan. Panjang kemeja itu hanya menutupi setengah paha Hye-Na, dan dengan posisi seperti ini, panjangnya akan semakin tertarik naik. Dia tidak ingin bokong istrinya terpampang ke mana-mana, terutama ke dalam jarak pandang manajernya yang menyebalkan.

Dia menunduk sedikit, memagut bibir wanita itu dalam satu ciuman yang panjang, lama, dan menyeluruh, lalu melepaskan diri. Dengan berat hati.

“Nanti malam,” bisiknya serak, membiarkan Hye-Na melompat turun.

“Masih marah padaku?” tanya wanita itu ingin tahu.

Dia mengerutkan kening, berpikir. “Hmm… aku masih sangat ingin mencekikmu,” akunya, mengulurkan tangan dan merapikan poni di dahi wanita tersebut, “tapi aku juga merindukanmu. Rumit.”

Hye-Na tersenyum, mengedikkan kepala ke arah mobil di mana manajer Kyuhyun ssudah kehabisan kesabaran untuk menunggu.

“Pergi sana.”

“Sekarang kau mengusirku?”

Wanita itu berjinjit, dan dia berbaik hati menundukkan tubuhnya lagi agar wanita itu bisa meraih pipinya dan menyapukan kecupan di sana.

Dah!” Wanita itu melambaikan tangan, dan dia hanya bisa terkekeh, menanggapinya dengan memegangi puncak kepala wanita itu, memutarnya, dan mendorong tubuhnya menghadap rumah.

Dah,” balasnya, kemudian memasukkan tangan ke dalam saku mantel, dan kali ini benar-benar berlalu pergi menuju mobil.

“Bagaimana caranya mendapatkan satu wanita seperti itu di rumah?” Manajernya menyambutnya dengan pertanyaan bernada iri itu saat dia sudah duduk di dalam van dan menutup pintu.

Kyuhyun tersenyum pongah. “Daya tarik yang tak terhingga,” sahutnya.

***