10962097_890229404331498_1942366454_n

 

Wanita itu melirik jam tangannya, mengerutkan kening saat melihat jarum pendek yang sudah menunjuk angka satu. Mungkin pria itu masih asyik dengan teman-temannya—kapan lagi mereka bisa bekerja sama dan berkumpul seperti ini? Tapi itu juga berarti mempersingkat jadwal kunjungannya. Tinggal dua jam lagi sebelum keberangkatan pesawatnya ke Korea, dan dia mengambil risiko besar datang terlambat ke rapat direksi besok di Seoul, yang dijadwalkan pada pukul dua siang, demi bertemu dengan suaminya di hari penting ini. Ada sekitar 7,5 jam perjalanan yang harus dilewatinya untuk kembali ke Korea, dan waktunya akan pas-pasan sekali. Itu pun dengan alternatif helikopter yang akan menjemputnya ke Incheon dan bergegas menerbangkannya ke Gangnam, kawasan tempat kantor pusat berada. Dia ingin memperlihatkan image baik dan keseriusannya di depan para pemilik saham dan petinggi perusahaan di rapat resmi pertama yang diselenggarakannya sejak resmi menjabat sebagai pemilik sekaligus CEO Han Group. Dan datang terlambat jelas tidak termasuk dalam daftar.

Dia sedang menimbang-nimbang untuk merusak kejutannya dan menelepon Kyuhyun saja saat pintu kamar terbuka dan sosok suaminya tampak sebagai siluet remang-remang karena penerangan yang temaram. Tirai masih terbuka sehingga cahaya bulan bisa masuk dan membantu pencahayaan, dan dia bersyukur Kyuhyun tidak menghidupkan lampu. Dia tidak yakin dengan penampilannya saat ini setelah menghabiskan sepuluh jam di atas pesawat dari Praha ke India. Tubuhnya terasa remuk, dan dia mulai menyesali keputusannya menolak tawaran sekretarisnya yang ingin membantunya berdandan sebelum menghadiahkan diri sebagai kejutan bagi suaminya yang berulang tahun. Hadiah macam apa? Dia jelas tidak layak pandang sekarang. Tapi setidaknya dia sempat mandi. Itulah gunanya punya pesawat pribadi.

“Apa itu kau?”

Dia mengangkat alis, tidak mengerti bagaimana pria itu bisa mengenalinya dari tempat pria itu sekarang berdiri.

“Mmm… hai.” Dia melambaikan tangan canggung.

Mereka sudah berpisah selama… delapan hari sekarang. Penyebabnya adalah perjalanan dinasnya ke berbagai belahan dunia untuk mengecek beberapa cabang perusahaan. New York, Amsterdam, Swiss, Praha, dan masih ada sederet kota lagi yang harus didatanginya. Rasa syoknya sudah memudar cukup lama sekarang, sejak kali pertama dia melihat list negara tempat ayahnya sudah menancapkan taring dan memberi sentuhan tangan dinginnya yang tersohor. Saat semua orang mengatakan 48 negara, ternyata mereka sama sekali tidak bercanda. Itu bahkan belum dihitung dalam kapasitas kota.

“Aku minum terlalu banyak ya?” Nada suara pria itu terdengar meracau. “Kau tampak nyata sekali.”

“Saat tidak berada dalam pengawasanku, kau benar-benar liar ya, Cho Kyuhyun.”

Pria itu tertawa. “Suaramu bahkan terdengar persis sama. Omelannya juga.”

“Kau mulai melantur.”

“Kelihatannya aku terlalu merindukanmu. Aku jadi banyak berhalusinasi. Ini yang ketiga kalinya hari ini. Dan dari semuanya, kau yang kulihat sekarang tampak paling nyata. Sepertinya khayalanku semakin kreatif saja.”

“Jadi begini ya kelakuanmu saat sedang mabuk?”

“Kenapa? Tidak suka? Lebih suka aku yang versi pria baik dan manis ya?”

Pria itu terkekeh lagi, dan meskipun konyol, dia juga menganggap hal ini lucu, tapi berhasil menahan tawanya dan sebagai gantinya hanya menggelengkan kepala.

“Ini sudah lewat pukul setengah lima pagi waktu Korea. Kau menggagalkan kejutanku.”

“Biasanya,” pria itu terus berceloteh tanpa mengacuhkannya, berjalan mendekat, “di halusinasiku kau tidak berbicara sebanyak ini, dan bertahan selama ini. Apa menurutmu aku bisa menyentuhmu? Kau tidak akan hilang tiba-tiba, ‘kan? Ini ulang tahunku, berbaik hatilah sedikit.”

“Berapa banyak sih yang kau minum?” gerutunya, terhuyung dan nyaris ambruk saat tubuh pria itu menubruknya dengan keras. Dalam pikirannya, dia pasti akan terjatuh dan menghantam lantai karena harus menahan beban tubuh pria tersebut, tapi ternyata tidak. Pria itu menahannya, mendekapnya erat-erat hingga dia hampir tidak dapat bernapas. Dan dia tidak berusaha mendorong pria itu ataupun mencoba membebaskan diri.

Tangan pria itu memeluk pinggangnya, dan sebelah lagi memegangi kepalanya, menyentuh rambutnya, dan bibir pria itu tepat berada di ceruk lehernya; menghidu.

“Baumu sama,” gumamnya. “Dan kau padat.”

Tubuh Kyuhyun sedikit menegang saat dia berjinjit dan mengalungkan lengannya ke leher pria itu, yang dengan refleks menjauhkan diri, menatapnya lekat-lekat.

“Kau nyata ya?” Ekspresinya berubah jengkel, dan sedikit kelihatan malu.

“Tentu saja.”

“Aku pasti terlihat bodoh sekali dari tadi.”

“Amat sangat bodoh.”

“Yah, memangnya siapa yang akan mengira kau bisa membuat kejutan semanis ini dengan tiba-tiba datang untuk merayakan ulang tahunku?” Bibir pria itu mencebik. “Biasanya itu aku.”

“Aku kan juga boleh sesekali memberi kejutan. Kau tidak suka?”

Kelebatan ekspresi silih berganti di wajah pria itu kini, seolah dia tercabik antara keinginan mencekik Hye-Na atau menarik wanita itu lagi ke dalam pelukannya. Dia memilih opsi yang kedua.

“Suka,” bisiknya di telinga wanita itu, menghidu lagi, dan bernapas dengan nyaman, meraup aroma tubuh wanita itu banyak-banyak dengan hidungnya. Kepalanya berangsur pulih dari pusing yang mendera dan otaknya kembali jernih. Biasanya, melakukan itu memang ampuh untuk memulihkan energi. Termasuk malam ini.

Dia melangkah maju, mendesak wanitaa itu hingga tersandar ke pintu balkon yang terbuat dari kaca, dan merentangkan lengan, menumpangkannya di samping kepala wanita tersebut. Dia menunduk agar bisa melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas, dengan bantuan cahaya bulan di luar. Lalu mendesah puas.

“Kau tampak lelah,” komentarnya, setelah berlama-lama memandangi wanita itu, menelusuri setiap lekuk wajahnya tanpa kecuali. Ada bayangan hitam di bawah mata istrinya, dan pipi wanita itu terlihat lebih cekung daripada saat terakhir kali mereka bertatap muka. “Dan kurus.”

Hye-Na balik memandangi pria itu, sibuk bertanya-tanya. Cara pria itu menatapnya—dia menyadari, seolah… memuja. Dia tidak ingin terdengar besar kepala, tapi setiap tatapan yang diarahkan pria itu padanya selalu membuatnya merasa… cantik. Efek seperti itulah yang terus-menerus pria itu timbulkan padanya. Sejak dulu.

“Aku sibuk,” dia menjawab.

“Saat kita di rumah nanti, biarkan aku mengurusmu.”

“Biar kupertimbangkan.”

“Itu akan melibatkan semua makanan kesukaanmu. Aku janji.”

“Tawaran diterima kalau begitu.” Dia meraih bagian bawah kemeja pria itu dan memainkan kancingnya. “Kau perlu tahu bahwa aku hanya punya waktu dua jam sebelum pulang ke Korea. Jadi sebaiknya kau tidak membuang waktu.”

“Definisikan membuang waktu.” Pria itu tersenyum, menangkup tengkuknya, dan mengelus pipinya dengan ibu jari. Pria itu tidak sedetik pun mengalihkan pandangan dari wajahnya sejak tadi.

“Yah…,” dia membuang pandangan dan menatap ke satu titik di belakang pria itu, “biasanya kau selalu menerkamku. Apa hari ini pengecualian?”

“Hmm…,” pria itu menegakkan tubuh, kembali mengurungnya dalam pelukan posesif—yang anehnya, terasa sangat menyenangkan, “coba kita lihat. Kalau waktunya hanya dua jam, lebih baik kita manfaatkan untuk hal lain.”

“Tumben sekali.”

“Mau mengobrol denganku? Kita sudah lama tidak melakukannya.”

“Kau yakin?”

“Sebenarnya yang ingin bercinta itu aku atau kau?”

“Karena tidak biasanya kau menolak. Dan akulah yang menawarkan diri duluan.”

“Merasa tertolak, huh? Melukai harga dirimu?”

“Sedikit.” Dia mengerucutkan bibir.

“Kalau begitu sediakan saja waktumu beberapa hari lagi. Apa kau akan berada di rumah saat aku pulang nanti?”

“Jadwalku penuh.”

“Kau sedang merajuk? Jual mahal padaku?”

“Dalam mimpimu!”

Kyuhyun terbahak. “Na~ya, kau tidak akan mau tahu apa yang ada di dalam mimpiku. Atau boleh,” dia meragu. “Kita bisa mempraktikkannya, kalau kau mau.”

“Dasar cabul!”

Suara tawa pria itu semakin membahana.

“Jadi, kau akan berada di rumah atau tidak?”

“Cobalah lebih keras, Cho Kyuhyun sayang.” Dia menepuk pipi pria itu pelan.

“Kau mau dirayu? Ckckck.” Pria itu mendecakkan lidah dengan raut wajah jail. “Baik, hmm… biar kupikirkan dulu. Kalau kau menyediakan waktumu saat aku pulang nanti, kita bisa memulai program membuat anak.”

Hye-Na mencibir.

“Tidak cukup baik? Kalau begitu, aku akan mengenakan kemeja putih kesukaanmu. Ada sepuluh di lemariku.”

“Sembilan,” ralat Hye-Na.

“Ah ya. Kau merobek yang terakhir ya?” gelaknya.

“Lama-lama kau semakin menyedihkan.” Hye-Na menepuk-nepuk dada pria itu sambil menggelengkan kepala prihatin. “Demi membujukku pulang, kau harus sampai menjual diri begini?”

“Aku tidak menjual diri,” elak pria itu, menyeringai. Tampak sangat menikmati permainan mereka. “Aku memberikan diriku padamu secara cuma-cuma. Jelas berbeda.”

“Kau terdengar tidak punya harga diri.”

“Memang.”
“Aku mulai merasa seperti… Song Hye-Kyo.”

“Kenapa harus dia?”

“Dia wanita tercantik yang pernah kulihat.”

“Oh ya. Kau benar.”

“Menurutmu siapa yang lebih cantik? Aku atau dia?”

Kyuhyun menolehkan wajahnya sedikit, memandang wanita itu syok.

“Aku tidak menyangka akan tiba hari di mana aku mendengar pertanyaan bodoh semacam ini keluar dari bibirmu.”

“Jawab sajalah.”

Dia mengerutkan kening, berpikir.

“Aku tidak bisa memutuskan, maaf,” ujarnya kemudian, membuat tampangnya kelihatan seserius mungkin.

“Kau masih perayu yang payah.”

“Aku pencium yang andal.”

“Karena pengalaman berciumanku hanya denganmu saja, aku tidak punya pilihan.”

“Aku partner seks yang hebat.” Kyuhyun menguji coba peruntungannya.

“Boleh aku coba tidur dengan pria lain untuk membuktikannya?”

Sekakmat. Wanita ini kadang sangat menyebalkan.

“Kapan kau akan melepasku? Kau membuatku gerah.”

Hye-Na bergerak dan mulai berusaha membebaskan diri dari kungkungan lengannya. Dan dia ikut bergerak. Bukan untuk mengurai dekapan, tapi untuk semakin mempererat pelukan. Dia tidak bisa berhenti menyentuh wanita ini. Entah sekadar untuk meraba kulitnya, rambutnya, pipinya, atau hanya mencium aromanya saja. Bahkan dia menyukai gesekan pakaian mereka, atau suara hela napas wanita itu di dekat telinganya. Dia hanya ingin memastikan wanita ini benar-benar nyata. Benar-benar ada bersamanya. Mungkin berpisah terlalu lama dengan wanita ini berhasil membuatnya mengalami trauma. Dan wanita ini pulalah yang harus bertanggung jawab menyembuhkannya.

“Sebentar lagi,” gumamnya, mengelus bagian belakang kepala Hye-Na. “Aku ingin memelukmu.” Dia menekankan bibirnya ke puncak kepala wanita tersebut dan merasakan bagaimana tubuh wanita itu kembali beringsut nyaman, menempel ke tubuhnya. “Sebentar lagi saja.”

 

***

 

Tidak ada obrolan di antara mereka seperti rencana semula. Mereka hanya bergelung di atas tempat tidur, berbaring berhadapan, dan tidak melakukan apa-apa selain saling menatap satu sama lain selama bermenit-menit lamanya.

“Di pesawat nanti lebih baik kau tidur.” Pria itu bergumam. Sikunya ditumpangkan ke atas bantal, dan tangan kanannya yang bebas dilarikan ke wajah Hye-Na, menyusuri lingkaran hitam di bawah mata wanita itu dengan telunjuk.

“Ada berkas-berkas yang harus kupelajari. Aku akan tidur di rumah saja nanti. Dan besok lusa aku akan berangkat ke Jepang.”

“Kenapa aku mulai berpikir bahwa kau menikmati semua pekerjaanmu ya?”

“Bagian keliling dunianya? Tentu saja.”

“Aku tidak ingat itu ada di daftar keinginanmu.”

“Oh, baru beberapa bulan terakhir. Aku mencarinya di internet. Hanya kegiatan iseng. Dan ada banyak tempat indah yang ingin kudatangi. Irlandia ada di daftar pertamaku, lalu Italia. Setelah itu Swiss. Dan desa-desa di Prancis.”

Kyuhyun merengut. “Aku tidak suka membayangkan kau pergi bersenang-senang tanpaku.”

“Memangnya kau tidak mau ikut?”

“Aku boleh ikut?” Wajah pria itu mendadak cerah, seperti bocah yang diberi sekantong penuh mainan kesukaannya.

“Kau masih harus bertanya? Aku baru akan pergi kalau kau ada waktu luang. Kalau kita punya waktu luang.”

“Kadang-kadang aku bisa sangat mencintaimu, kau tahu?”

“Cih.”

Kyuhyun tertawa. “Kau yang bayar, ‘kan? Semua biayanya?”

“Kau bangkrut?”

“Kau kan punya pesawat pribadi. Kenapa harus naik penerbangan komersial lalu kucing-kucingan dengan wartawan dan fans di bandara? Merepotkan.”

“Benar. Aku akan memanfaatkan harta warisanku untuk membuat kita berdua senang. Kita bisa menyewa penginapan atau hotel semahal apa pun dengan perlindungan privasi tingkat tinggi. Kita tidak perlu menyamar. Oh ya ya,” wanita itu mendesah, “aku bisa membayangkannya.”

“Kau mulai terdengar seperti psikopat.”

“Ide bagus. Aku akan membuat kita mati saat sedang bersenang-senang. Memangnya ada cara mati yang lebih baik lagi menurutmu?”

“Bersenang-senang versiku melibatkan ranjang dan tanpa pakaian.”

“Itu boleh juga.”

“Dan sebelum kau melanjutkan fantasimu, bisakah aku menagih hadiah ulang tahunku?”

“Oh!” Mata wanita itu melebar. “Hadiah. Tentu.”

“Kau juga membelikanku hadiah?” Kyuhyun ternganga syok. “Padahal aku sudah melatih ekspresi kecewaku yang paling meyakinkan dan membuat iba.”

“Aku tidak membelikanmu hadiah. Kau punya banyak uang, hadiah dari para penggemar, dan memangnya apa lagi yang kau butuhkan?”

“Lalu?” Pria itu mulai bersemangat.

Hye-Na beranjak dan meraih tasnya, kemudian kembali ke tempat tidur dengan bungkusan besar di tangan. Dia bahkan belum sempat menjelaskan saat Kyuhyun bergegas merenggut kado itu dari tangannya dan merobek kertas pembungkusnya dengan brutal.

“Kau benar-benar tidak sabaran,” ejeknya, menyeringai saat Kyuhyun membuka album foto yang dia berikan dan membelalak melihat selembar foto yang sudah ditempelkannya di sana.

856422_433761356740211_1410120372_o

 

 

 

“Tidak. Jangan, jangan beri tahu aku,” ucap pria itu takjub, mengelus foto itu penuh rasa khidmat.

“Kau selalu mengeluh tidak memiliki fotoku,” mulainya.

“Ya. Aku sampai mengais-ngais di internet, mencari apa pun yang para wartawan itu dapatkan dari menguntitmu tiap hari. Betapa menyedihkannya aku sebagai seorang suami.”

“Jadi aku pikir aku akan mengambil banyak foto mulai sekarang. Foto kita berdua juga. Tiap minggu. Dan menempelkannya di sana.”

“Apa aku terlalu memaksakan jika memintamu memberikannya tiap hari? Baik, aku mengerti,” pria itu menyahut cepat saat menyadari ekspresi keruh yang dia perlihatkan.

“Aku mengambil banyak foto di Praha. Chom-Mi, sekretarisku, membantu. Jadi aku akan aman selama beberapa bulan ke depan. Aku akan memberikannya padamu satu tiap minggu.”

“Kau curang.”

“Apa kau tahu betapa sulitnya ini semua bagiku?”

Kyuhyun tersenyum sok manis. “Aku tahu,” katanya, kembali menunduk untuk memandangi foto itu. Kenapa Hye-Na tidak suka dipotret? Mengherankan. Istrinya itu bisa saja jadi seorang model terkenal jika dia mau. Wajah itu… ya Tuhan.

“Ini tidak gratis, Cho Kyuhyun.”

“Apa?” Kepala pria itu tersentak. “Ini kan ulang tahunku!” protesnya.

“Aku tidak meminta sesuatu yang sulit.” Hye-Na mengedipkan mata, memasang senyumnya yang paling manis, yang tak pelak lagi tidak bisa ditanggapi dengan penolakan oleh suaminya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau bisa membantuku bertemu dengan Ji Chang-Wook.”

“Siapa?” Kyuhyun berseru tak percaya.

“Kau dengar aku. Ji Chang-Wook. Kau kan bermain di drama musikal yang sama dengannya.”

Kyuhyun menekan keningnya dengan ujung jari, mulai merasa frustrasi. Entah bagaimana, dia sudah tahu ini akan terjadi.

“Kau menonton Healer,” ujarnya, menyebutkan judul drama yang dibintangi rekan kerjanya itu.

“Mmm hmm.” Hye-Na mengangguk-angguk, senyumnya tampak semakin lebar.

“Dan kau tergila-gila padanya,” lanjutnya enggan.

“Jelas.”

“Penyakitmu kambuh lagi.”

“Oh yaaaaa?” sahut Hye-Na, menyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kenapa dia?”

“Kau kan sudah bertemu langsung dengannya. Menurutmu dia tidak tampan dan menakjubkan? Ya Tuhan, dia seksi sekali!” Wanita itu nyaris menjerit, menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi. “Dan aku benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu, si Park Min-Young itu. Mereka tidak ada hubungan apa-apa, ‘kan? Dia dulu dengan Min-Ho. Tidak ada wanita yang boleh seberuntung itu! Bagaimana rasanya berciuman dengan dua orang pria paling tampan di Korea?”

“Awas saja kalau kau coba membayangkannya!” ultimatum Kyuhyun dengan nada tajam.

“Terlambat. Aku sudah memimpikannya,” sahut wanita itu tak acuh. “Lagi pula, Chang-Wook Oppa sedikit mirip denganmu.”

OPPA?!”

“Tapi dia versi lebih seksinya. Hahaha…!”

“Kau… tidak akan pernah bertemu dengannya!”

“Dasar tukang iri!” cibir Hye-Na. “Ya sudah kalau tidak mau. Aku usaha sendiri saja.”

“Cho Hye-Na!”

“Ya, Cho Kyuhyun?” sahutnya manis.

Kyuhyun menggemeretakkan giginya, mengambil napas, dan berusaha menenangkan diri.

“Persetan denganmu!” bentaknya, bangkit dari ranjang sambil mendekap album foto yang dia putuskan menjadi benda terpenting miliknya setelah cincin pernikahan mereka.

“Astaga, kau merajuk?” Hye-Na terkekeh, mengikuti pria itu sambil menusuk-nusuk punggungnya dengan telunjuk. “Sini kucium!”

Dan di detik berikutnya dia sudah terbanting dan terperangkap di sofa.

“Mulutmu itu benar-benar,” geram Kyuhyun.

“Mulutku bisa digunakan untuk banyak hal, omong-omong.”

“Aku yang paling tahu apa yang bisa kau lakukan dengan mulutmu itu, Hye-Na sayang.”

“Waktumu tinggal sepuluh menit.”

“Akan kumanfaatkan dengan baik.”

Lalu dia menunduk dan meraup bibir gadis itu dengan bibirnya sendiri.

Dan baginya, itulah yang disebut surga dunia.

 

***

 

 

Next day, at night…

Kyuhyun meraih ponselnya yang berbunyi menandakan pesan masuk, meng-klik tautan yang dikirimkan padanya dan dengan refleks tersenyum.

B8rkQPfCUAAiJG7

 

Shindorim Station, First Floor.

Happy birthday!!!

 

 B8z9jd5CIAEvr1c

 

 

Konkuk University Station

Subway Line 2, Door of Train No. 5

Happy Birthday!!!

 

 

Ponselnya kemudian berdering lagi, kali ini merupakan panggilan masuk.

“Wartawan-wartawan ini terus saja menguntitku. Memangnya mereka pikir aku ini buron? Kau tahu seberapa susahnya kabur dari mereka dan mengambil foto-foto ini? Apa yang akan terjadi menurutmu kalau aku ketahuan?”

Dia hanya tersenyum mendengarkan celotehan tak berujung wanita itu, menunggu dengan sabar, dan mau tidak mau tergelak saat mendengar seruan penuh semangat dari wanita itu kemudian.

“Tapi ini menyenangkan! Lihat siapa yang lebih genius sekarang! Menghibur juga bermain kucing-kucingan dengan mereka.”

“Na~ya,” potongnya.

“Mmm?”

“Tidur sana. Di Seoul sudah pukul dua, ‘kan?”

“Aku akan menyelesaikan bebe—”

“Tidur.”

Dia tahu bahwa wanita itu sedang merengut kesal dan mencaci makinya dalam hati sekarang. Lihat bukan, dia sudah terlalu mengenal wanita itu luar dalam.

“Aku benci kalau kau menggunakan nada otoritermu itu padaku.”

“Kau tidak lelah apa?”

“Bahkan tidak ada ucapan terima kasih?”

“Lusa aku pulang. Dan aku akan mengucapkan terima kasih dengan pantas.”

“Oooooh. Kedengarannya sangat menggoda. Jangan lupa kemeja putihnya.”

“Kalau aku tahu kau akan seagresif ini setelah tidak bertemu denganku beberapa hari, kurasa aku tidak keberatan meninggalkanmu sesekali.”

“Tidak boleh!”

Dan setelah seruan itu, mendadak sambungan telepon di seberangnya hening.

“Kau keceplosan?” Mulutnya berkedut geli, tapi dia memutuskan untuk tidak tertawa. “Mau aku melupakan yang barusan?” Dia menawarkan.

“Kau menyebalkan!”

“Ya, ya. Kau sudah memberitahuku puluhan kali.”

“Aku akan berada di rumah untuk menyambutmu besok lusa.”

Betapa kontradiktifnya kalimat itu dengan pernyataan sebelumnya.

“Jadilah istri yang baik selama aku tidak ada.”

“Menonton Chang-Wook Oppa termasuk definisi baik atau tidak?”

Dia menggerutu. “Terserah kau sajalah.”

“Dasar pencemburu!”

“Tidur, Na~ya. Simpan energimu untuk besok lusa.”

“Ng… Kyu…?” Wanita itu berkata ragu.

“Mmm?”

“Bagaimana menurutmu kalau aku… membatalkan semua perjalanan bisnisku? Semuanya bisa ditangani oleh Park Ajussi.”

“Aku tidak ingin berkomentar.”

“Apa?”

“Semuanya terserah padamu. Kau tidak pernah melarangku pergi ke luar kota untuk bekerja, jadi kau juga punya hak yang sama dalam hal ini. Asal kau tidak terlalu memforsir tenagamu, aku tidak keberatan.”

“Prospek menghabiskan lebih banyak hari tanpamu… kau tahu….” Wanita itu tidak menyelesaikan ucapannya.

“Ya,” ujarnya serak, membayangkan hari-hari mengerikan yang dilewatinya seminggu terakhir. “Aku tahu.”

“Tapi jangan besar kepala dulu. Aku membatalkan perjalananku bukan hanya karenamu. Tapi karena sekretarisku berhasil mendapatkan nomor Chang-Wook Oppa, dan aku pikir aku mungkin bisa—”

“Cho Hye-Na!” geramnya.

“Aaah… aku capek sekali. Aku tidur dulu ya! Dah, Kyu!”

Dia bisa mendengar tawa wanita penyihir itu sebelum sambungan telepon benar-benar terputus. Bisa-bisanya wanita itu…. Ya Tuhan, sebenarnya yang gila dia atau wanita itu? Pasti dia, karena mau-maunya menikahi wanita psikopat satu itu.

Dia baru akan melempar ponselnya jauh-jauh saat benda itu kembali berbunyi. Pesan masuk lain.

Sepertinya ada yang terselip di halaman terakhir album foto yang kuberikan padamu kemarin.

Apa lagi sekarang?

Dia meraih album foto tersebut, yang tergeletak di atas bantal, membuka halaman terakhir, dan menemukan satu foto yang sengaja diselipkan di balik sampul belakang.

1073684_433760016740345_1098983794_o

 

Dia mengetikkan dua kata di kotak pesan dan mengirimkannya pada wanita itu. Aku mencintaimu. Hanya itu yang bisa terpikirkan oleh otaknya yang mendadak beku. Balasannya datang beberapa detik kemudian.

Zzzzz….

 

Seandainya membunuh istri sendiri itu legal, dia pasti tidak akan keberatan melakukannya.

Dia memijit pelipisnya, memandangi foto itu sekali lagi, menatap potret wajah istrinya yang sedang tersenyum, dan begitu saja… hanya dengan melakukan itu, dia melupakan kekesalannya barusan.

Dia membalik foto tersebut, menyadari sederet tulisan di belakangnya, dan hanya bisa tertawa frustrasi. Seperti dia yang mengenal wanita itu, dengan cara yang sama wanita tersebut juga sangat memahaminya. Tahu apa yang akan dilakukannya, tahu apa yang ada di kepalanya, tahu tentang banyak hal yang bahkan tidak disadarinya.

Cho Hye-Na dan segala keabsurdannya, bagaimana mungkin dia tidak jatuh cinta?

Tertulis di kertas putih itu, tiga deret kata dalam tulisan yang sangat dikenalnya:

Aku juga mencintaimu.

 

***