1e62a15147e2f79cadcd9bcd0cf48523 copy

 

 

Kyuhyun menghentikan mobil di depan sebuah taman di area Gwanghwamun Plaza. Mereka baru saja selesai makan malam, dan dia bermaksud mengantarkan Hye-Na pulang, lalu kembali pada rutinitas sibuknya yang tiada henti. Tapi sekarang dia berubah pikiran. Mungkin dia bisa menunda-nunda waktu perpisahan mereka sekitar lima belas menit lagi.

“Kenapa kita berhenti di sini?”

Wanita itu bertanya, tapi dia hanya mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah lagu, dan membiarkan dentingan piano mengisi keheningan.

Hye-Na membelalakkan mata, terkejut, dan mencondongkan tubuh dengan antusias saat suaranya mulai terdengar, menggantikan dentingan piano di bagian awal.

“Ini lagu barumu? Kau bilang kau tidak akan membiarkanku mendengarnya sampai hari perilisan resmi!” Wanita itu merengut, tapi kemudian tersenyum senang, kembali bersandar ke kursinya, mendapatkan posisi nyaman, lalu memejamkan mata, bermaksud mendengarkan lagu itu dengan serius. Tidak usah ditanya. Sudah pasti dia suka.

Kyuhyun memperhatikan reaksi wanita itu, tanpa sadar memajukan tubuh, dan malah berakhir dengan mengistirahatkan dagunya di atas bahu wanita tersebut, melarikan jemarinya ke rambut wanita itu yang tergerai, lalu memainkan helai-helainya yang ikal.

Yang mengejutkannya adalah, bahwa kemudian wanita itu menoleh, menyentuh pipinya dengan tangannya yang terasa hangat, lalu menyapukan kecupan singkat di bibirnya.

“Lagunya bagus. Terima kasih.”

“Y—ya.” Dia berdeham, mencoba mengatasi suaranya yang mendadak serak.

“Besok,” wanita itu berujar, “aku juga punya kejutan untukmu.”

***

 

“Perkenalkan, ini Han Hye-Na, pemilik Han Group. Kita memakai salah satu studio foto miliknya untuk pemotretan ini, dan dia meluangkan waktu datang untuk melihat-lihat.”

Kyuhyun nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus, terutama saat melihat mata istrinya yang berkilat jail, juga seringai di bibirnya yang terpulas sempurna. Jadi ini yang dimaksudkan wanita itu sebagai kejutan?

“Aku penggemar beratmu, Cho Kyuhyun ssi, jadi aku pasti tidak akan melewatkan pemotretan album solo pertamamu begitu saja.” Hye-Na mengulurkan tangan, riang setengah mati melihat ekspresi wajah Kyuhyun saat ini.

“Ah ya. Aku juga sering melihatmu di televisi dan media cetak. Kau ada di mana-mana.” Pria itu menyambut uluran tangan tersebut dan mengikuti permainannya.

“Tentu saja. Han Hye-Na ssi adalah salah satu wanita paling terkenal—tidak, lebih tepatnya, wanita terkaya di Korea saat ini,” sambar Ji-Soo, staf yang tadi memperkenalkan Hye-Na. “Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu langsung. Kau jauh lebih cantik aslinya.”

Hye-Na membungkukkan tubuh. “Terima kasih.”

Dan yang ada di benak Kyuhyun hanyalah serbuan rasa jengkel karena wanita itu begitu berani muncul di depannya dengan pakaian seperti itu. Kalau begitu cara berpakaian istrinya saat bekerja, dia harus segera mengambil tindakan.

535816_369238243192523_238520436_n

Tidak ada yang salah dengan blus putih lengan panjang dan rok biru yang wanita itu kenakan. Semuanya sopan. Tertutup bahkan. Tapi blus itu menonjolkan bentuk dadanya yang penuh, dan rok tersebut memamerkan pinggangnya yang ramping dan bokongnya yang berisi. Itu benar-benar kelewatan baginya, terutama saat dia melihat bagaimana semua pria di lokasi pemotretan itu terang-terangan memandangi istrinya. Ya, wanita itu luar biasa cantik. Ya, dia mungkin wanita terkaya di seluruh Korea saat ini. Dan, ya Tuhan, pria mana yang bisa menolak pesona seperti itu? Wanita ini mau membuatnya frustrasi ya?

Sejak bekerja sebagai Presiden Direktur Han Group, wanita itu lebih toleran terhadap makeup, juga berpenampilan lebih feminin. Mulai ada tumpukan rok dan beberapa gaun cantik di lemari. Bukannya dia keberatan, tapi perhatian semua orang sedang tertuju pada wanita itu. Wartawan mengikutinya ke mana-mana, apa yang wanita itu lakukan menjadi santapan publik, dan seolah kekayaan berlimpah saja tidak cukup, wanita itu juga memiliki pesona mematikan, dan sudah pasti ada ratusan pria yang akan mengejar mangsa dengan paket lengkap seperti itu. Dan untuk menyempurnakan segalanya, istrinya tampil sebagai wanita lajang tanpa pendamping. Hal yang membuatnya terus merasa sakit kepala selama berhari-hari.

“Kalau aku tidak tahu bahwa ini adalah pertemuan pertama kalian, aku pasti sudah berpikir bahwa kau sedang tergila-gila dan jatuh cinta mati-matian padanya.” Ji-Soo menyikut pria itu dan terkekeh geli. “Kau memandanginya seolah akan memangsanya saja.” Wanita itu memperhatikan Hye-Na dari jauh dengan pandangan iri. “Bagaimana dia bisa memiliki kulit seperti itu? Dan wajah sememukau itu? Tidak adil! Kenapa semua orang kaya terlihat sempurna? Dia bahkan tidak terlihat sombong dan sangat ramah. Dan lihat pinggangnya! Bokongnya apalagi! Menurutmu tubuh dan wajahnya asli?”

“Percayalah padaku,” ucap Kyuhyun serak, “tidak ada satu bagian pun yang palsu dari tubuhnya.”

Dan dia melangkah pergi, meninggalkan Ji-Soo yang kini memandanginya denagn raut wajah syok.

 

***

 

“Aku ingin rambutnya ditata acak-acakan. Karena konsepnya musim gugur, mungkin kita bisa mengambil pose malas-malasan, menutupi wajahnya denagn dedaunan, dan semacamnya. Mungkin bagus juga kalau dia memakai kacamata. Dia kan sangat menyukai Sung Si-Kyung.”

Kyuhyun tertawa dalam hati melihat semua orang mengangguk-angguk mendengar ide wanita itu, mungkin sebagian karena terkagum-kagum mendengarkan wanita itu bicara. Suara wanita itu selalu terdengar menyenangkan baginya, karena itulah dia biasanya bersedia mendengarkan wanita tersebut berceloteh selama berjam-jam, bahkan tentang hal-hal tidak penting sekalipun. Dan senang mengetahui bahwa pesona itu tidak berlaku pada dirinya saja. Semua orang jelas ikut terhipnotis.

Dia tahu apa yang wanita itu rencanakan. Dia sudah bertahun-tahun mengenal wanita itu untuk tahu bahwa bagi seorang Cho Hye-Na, musim gugur adalah musim paling indah. Juga kesukaan wanita itu terhadap daun maple, atau terhadap rambutnya yang acak-acakan, juga penampilannya saat memakai kacamata. Wanita itu sedang memastikan untuk mendapatkan segala hal favoritnya dalam pemotretan kali ini. Dan dia tidak keberatan. Senang mengetahui bahwa dalam album solo pertamanya ada campur tangan wanita ini. Senang mengetahui bahwa dia bisa membawa wanita ini ke tempat kerjanya. Senang mengetahui bahwa, akhirnya, mereka bisa melakukan sesuatu bersama-sama.

“Kau pasti sangat menyukai ini semua, ‘kan?” ejeknya, saat akhirnya dia mendapat kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan wanita itu di ruang ganti yang kini kosong.

“Sangat!” Wanita itu tersenyum cerah. “Aku bahkan heran kenapa aku belum berteriak-teriak histeris sekarang.”

Dia tidak bisa menahan diri lebih lama dan ikut tersenyum. Sorot bahagia terpancar jelas dalam tatapannya.

“Terima kasih. Ini jauh melampaui bayanganku tentang kejutan yang akan kau berikan.” Dia meraih jari-jari wanita itu dan memainkannya dengan jemarinya. “Aku sepertinya mulai menyukai kekayaan dan kekuasaan yang kau miliki.”

“Aku juga mulai menyukainya. Sepertinya cukup berguna.” Hye-Na mengedipkan mata jail dan terkekeh geli.

“Kalau begitu, aku rasa kau tidak akan keeberatan melakukan satu hal lagi untukku.”

Pria itu berdiri, menutup pintu, dan memutar kunci hingga berbunyi klik.

“Astaga, kau mau menciptakan skandal ya?” seru Hye-Na, tapi tidak ada sorot memperingatkan di matanya. Wanita itu bahkan tampak tertarik, menunggu apa yang bermaksud dia lakukan.

“Mendebarkan bukan?” Kyuhyun berkata. “Kita di tempat kerja. Banyak staf berlalu lalang di luar. Dan kita hanya berdua, terkunci di sini. Menurutmu apa yang akan aku lakukan?” Pria itu mengulurkan tangan. “Kemari.”

Bibir pria itu masih sama lezatnya, masih sama menuntutnya, dan ciuman itu masih semendebarkan biasa. Dia membiarkan tangannya menyusuri rambut pria itu, membuatnya lebih berantakan, dan menggeram rendah saat lidah pria itu menemukan lidahnya.

Kemudian dia membatu ketika menyadari apa yang telah pria itu lakukan terhadap blusnya yang kini teronggok di pinggang, dan bagian atas tubuhnya yang hanya tertutup bra.

Yak, Cho Kyuhyun, kau sudah gila ya?” pekiknya syok. Apa pria itu sebegitu lihainya hingga dia tidak sadar sudah separuh ditelanjangi?

“Ganti pakaianmu dengan ini.” Pria itu menyodorkan sehelai kaus berwarna putih dan celana jeans. “Aku menyuruh manajerku membelikannya. Kau tidak bisa berkeliaran di sini dengan pakaian semenggoda itu.”

Hye-Na merengut. “Kau sedang memulai sifat over protektifmu itu lagi?”

“Aku tidak sedang berusaha melindungi tubuhmu, Hye-Na sayang. Aku melindungi pria-pria di luar sana yang sibuk meneteskan liur melihatmu. Aku tahu persis bagaimana rasanya, dan aku bersimpati terhadap penderitaan mereka. Pesonamu memang kadang bisa menimbulkan efek seperti itu.” Pria itu memasang tampang sok prihatin.

Hye-Na merenggut pakaian itu dari tangan suaminya sambil menggerutu.

“Kau mau tetap di sini sambil menontonku berganti pakaian?” tanyanya sinis, melepaskan blusnya lewat kepala. Kyuhyun hanya melengkungkan alis sebagai jawaban dan dia memilih untuk mengabaikan pria itu saja. Ini kan sudah kesekian kalinya pria itu melihat tubuhnya, jadi tidak ada bedanya.

Pria itu berdeham, dengan mata yang ditahannya agar tidak melotot memandangi tubuh gadis itu yang sedikit membungkuk untuk melepas rok, menyajikan pemandangan menyeluruh pada dadanya yang hanya separuh disangga bra. Siapa yang menciptakan penutup dada yang nyaris tidak berfungsi seperti itu?

“Setelah kuingat-ingat lagi, sepertinya Daniel Hyung memintaku menemuinya untuk membicarakan sesuatu.” Pria itu menyebutkan nama fotografer yang akan memotretnya nanti, berjalan keluar, dan berusaha tidak memedulikan istrinya yang tertawa terbahak-bahak di belakangnya.

Dia membanting pintu sampai menutup, meredam suara tawa wanita itu, dan memaki pelan. Kadang dia merasa wanita itu ditakdirkan untuk menggodanya, dan dia memang ditakdirkan untuk tergoda. Bukan salah istrinya juga memiliki wujud seperti itu, tapi yang paling parah, wanita itu bahkan terlihat tidak menyadari daya tarik yang dia miliki. Atau wanita itu tahu, memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk mengganggunya, dan memasang tampang polos tak bersalah setelahnya? Kalau menyangkut Cho Hye-Na, semua itu bisa saja.

Pria itu mengernyit. Untung saja dia tahu bahwa dia juga memiliki efek yang sama terhadap Hye-Na. Wanita itu tidak imun terhadap pesonanya, tapi yang pasti, wanita itu jelas bisa menahan diri. Itulah yang membuatnya kesal setengah mati. Karena dia, di lain sisi, selalu saja menjadi pihak yang lepas kendali.

Aish, wanita satu itu benar-benar….

 

***

 

Kyuhyun melupakan satu hal—dia tersadar saat Hye-Na muncul dan berdiri di belakang Daniel, tampak membicarakan sesuatu—bahwa pemandangan wanita itu dalam balutan jeans, bahkan jauh lebih mematikan daripada rok yang tadi dia kenakan. Sekarang bertambah satu bagian lagi yang akan diperhatikan para lelaki. Kaki jenjang istrinya.

Terkutuklah dia karena malah menyarankan wanita itu memakainya.

Dia berpaling, memijit kening, dan membiarkan matanya terkatup. Pemotretan sudah berjalan selama setengah jam, dan setelah disorot lampu-lampu berpenerangan sedikit redup, ditambah dengan posisinya yang sedang berbaring, dia malah terpikir untuk tidur. Akhir-akhir ini jam tidurnya berkurang banyak, dan di mana pun ada kesempatan, dia pasti memanfaatkannya untuk memejamkan mata meski sebentar.

Dia sayup-sayup mendengar suara wanita itu, di tengah keramain sekitar. Suara yang seolah mengalun, juga tawa lembut yang mengikuti. Dan, sambil memikirkan semua itu, dia tertidur.

 

***

 

Hye-Na terus mengobrol dengan Daniel, sedangkan matanya lekat mengawasi Kyuhyun yang tengah berbaring di lantai. Dia melewatkan setengah jam awal pemotretan karena harus meladeni sekretarisnya di telepon, membicarakan beberapa jadwal yang hari ini sengaja dia tinggalkan demi datang ke sini. Semua kesibukan itu nyaris membuatnya gila.

“Boleh aku meminjam kameramu?” Dia bertanya, memamerkan senyum terbaiknya, dan hampir tergelak saat melihat Daniel mengerjap dan melongo menatapnya.

Pria itu berdeham salah tingkah dan menyodorkan kamera yang sedang dia pegang.

“Kau bisa menggunakannya, ‘kan?” Pria itu mengedip dengan tampang mengejek.

“Kau pikir untuk apa aku merecokimu di studiomu selama satu bulan terakhir, Daniel ssi?” Hye-Na mengerucutkan bibir, memegangi kamera itu di depan wajah, lalu mengarahkan lensanya pada objek indah yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Kyuhyun sepertinya tertidur. Pria itu memang tampak lelah sekali akhir-akhir ini. Pertanyaannya, bagaimana dengan keadaan tidak sadar seperti itu, dengan dedaunan yang berserakan di sekelilingnya, pria tersebut masih terlihat begitu menakjubkan untuk diabadikan oleh mata maupun kamera?

Hye-Na berjalan mendekat, mengambil sehelai daun berwarna merah, meletakkannya hati-hati di atas mata pria itu yang terpejam, dan segera memotret sebelum pria itu terbangun dan memergoki apa yang dia lakukan.

06

“Kerja yang bagus,” puji Daniel setelah menerima kembali kameranya dan mengecek hasil jepretan wanita itu. “Sepertinya ini bisa digunakan. Kau keberatan?”

Hye-Na tersenyum lebar. “Sama sekali tidak.”

“Gratis?” seloroh pria itu.

“Tentu saja!”

Daniel mengerutkan kening. “Kau penggemar beratnya ya?”

“Memangnya kau pikir kenapa aku meninggalkan pekerjaanku dan malah datang ke sini, Daniel ssi?”

“Pasti menyenangkan bukan, bisa bekerja sama dengan orang yang kau kagumi?”

Hye-Na mengerling, tapi mengganti raut wajahnya menjadi lebih serius saat berkata, “Kau tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.”

 

***

 

Kyuhyun mengetikkan kode masuk ke apartemennya, mendengar bunyi bip saat pintu terbuka, dan menyeringai saat teringat pesan yang dikirimkan wanita itu ke ponselnya tadi setelah wanita tersebut pergi duluan sebelum jadwal pemotretan selesai.

 

Autumn, leaves, glasses, fingers, and your breathtaking red sweater. But my most favorite part is… you.

See you at home. Take your time with your Irene.

 

 

Tentu saja dia tahu bahwa wanita itu tidak memiliki janji bertemu klien seperti yang dia gunakan sebagai alasan pada semua orang. Cho Hye-Na dan sifat pencemburunya yang berusaha dia sembunyikan. Irene, salah seorang member Red Velvet, datang untuk mengambil foto bersamanya untuk keperluan syuting music video lagu barunya nanti. Dan Hye-Na jelas memilih kabur daripada harus menontonnya merangkulkan lengan pada tubuh wanita lain.

Dia melangkah masuk, menemukan wanita itu di ruang santai, langsung melompt bangkit dari sofa saat menyadari kedatangannya.

“Wah, Cho Kyuhyun, kan sudah kubilang, jangan memakai kacamata minus di depanku.” Hye-Na mencibir, tapi tidak bisa menahan kikikan saat dia merentangkan tangan, menawarkan pelukan.

Wanita tersebut meloncat, dan dia siap menyambut, menahan beban tubuh wanita itu dengan tangannya, dan wanita itu sendiri melingkarkan kaki di sekeliling pinggangnya, dengan tangan melingkar di lehernya untuk berpegangan.

Jika ini beberapa bulan yang lalu, jangan harap wanita itu bersedia melakukan hal seperti ini. Hye-Na jauh lebih terbuka padanya sejak harus mengurus perusahaan. Wanita itu tidak lagi malu-malu, dan mulai benar-benar bersikap seperti seorang istri. Tidak lagi menahan diri, tidak lagi meninggikan gengsi. Semua itu nyaris membuatnya kewalahan sendiri. Bukannya dia keberatan. Malah sebaliknya. Hampir sulit melewati hari tanpa wanita itu di dekatnya.

“Aku kan jadi ingin menerkammu,” Hye-Na melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong tadi.

Dia terbahak, membiarkan wanita itu menarik lepas kacamatanya, mengacak rambutnya, dan memberikan kecupan dalam di bibirnya. Ada yang semakin meledak-ledak di antara mereka beberapa minggu terakhir. Gairah. Dan wanita itu tidak lagi malu-malu menunjukkannya.

“Astaga, aku mencintaimu,” wanita itu mengucapkannya tanpa basa-basi setelah menghela napas keras, menyusuri pipinya dengan jemari, dan menatapnya tepat di manik mata.

Untuk sesaat dia tidak bisa berkata apa-apa. Sebagian karena kaget, sebagian karena terlalu bahagia. Dia tidak bisa memilah-milah apa yang dia rasakan sebenarnya.

“Kau baru sadar sekarang?” ucapnya kemudian, berusaha membubuhkan kesan sinis dalam suaranya.

“Tentu saja aku sadar!” Hye-Na mengernyitkan hidung. “Aku hanya sengaja lupa memberitahumu.”

“Bagaimana kalau kau memberitahuku sekali setahun saja?” pintanya, nyaris terdengar putus asa. “Di hari ulang tahun pernikahan kita.”

“Kenapa? Terlalu norak untukmu?”

“Karena,” dia menekan gengsinya kuat-kuat, “kalau kau membuatku terkena serangan jantung terlalu sering, aku tidak yakin bisa bertahan hidup lebih lama seperti yang pernah kujanjikan padamu. Tolong dimengerti.”

Wanita itu menyeringai puas. “Kalau aku tidak memberitahumu, aku bisa terserang stres karena terlalu menahan diri.” Kali ini wanita tersebut pura-pura meringis kesakitan.

“Bagus. Kita bisa mati berdua,” ejek Kyuhyun. “Romantis, ‘kan?”

Hye-Na mengeluarkan suara seperti orang yang sedang muntah, melepaskan diri dari Kyuhyun, dan kembali menjejakkan kakinya ke lantai. Dia berniat menyudahi permainan mereka, saat Kyuhyun memegangi lengannya, membuatnya batal beranjak pergi.

Dia menoleh, menatap pria itu bingung.

“Sepertinya kita melupakan deretan aturan umum,” Kyuhyun berkata.

“Seperti?”

“Seperti… hmm…,” pria itu menimbang-nimbang, “‘Hai, aku pulang’.”

Dia tersenyum, kembali menelusup ke dalam pelukan pria itu—yang dengan refleks menundukkan tubuh agar tinggi mereka sejajar dan dia tidak perlu susah payah berjinjit.

“Kalau begitu…,” bisiknya, “‘Selamat datang di rumah’.”

 

***