10264709_750917118262728_1016513484356248470_n

 

 

 

July 15, 2008

 

Untukmu, suami masa depanku…

 

Aku tidak tahu siapa kau, di mana kau, atau apa yang sedang kau lakukan sekarang. Tapi kuharap kau dalam keadaan sehat dan diberi umur panjang.

Hari ini aku berulang tahun yang ke-17, dan aku memikirkan tentang pernikahan. Yang berarti, aku juga memikirkanmu.

Ini konyol. Sangat tolol, aku tahu. Tapi aku kalah taruhan dengan Tae-Wo, dan dia menyuruhku menulis surat ini. Tidak usah cemburu, dia itu hanya sahabatku. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa aku akan menyukainya. Aku yakin itu. Tapi kalau ternyata dia yang menyukaiku, aku bisa apa?

Yang harus kau khawatirkan adalah pria lainnya. Dia juga sahabatku, dulu. Bedanya, aku mencintainya. Dan ini masalah besar. Masalah yang kemudian membuatku bertanya-tanya, sebanyak apa aku mencintaimu hingga bersedia menikah denganmu dan menghabiskan waktuku bersamamu setiap hari? Sebanyak apa kau memesonaku hingga aku berhenti mengingat pria itu dan menerima lamaranmu? Apa kita dijodohkan? Atau apakah aku punya utang padamu? Atau sesuatu seperti itu? Karena nyaris mustahil bagiku berpikir bahwa aku bisa menghentikan perasaanku padanya.

Maaf, jika aku malah membahas pria lain dalam surat ini. Dan lebih banyak lagi permintaan maaf, jika seandainya saat kau membaca surat ini, diriku di masa depan ternyata begitu mencintaimu.

Bagaimana kita bertemu? Di kafe? Di pinggir jalan? Di toko buku? Bagaimana aku jatuh cinta padamu? Pada pandangan pertama? Atau baru pada pandangan-pandangan selanjutnya? Bagaimana caramu melamarku? Pastinya tidak dengan berlutut, karena jika kau melakukannya, kupastikan aku tidak akan pernah menjadi istrimu dengan sukarela.

Namanya Cho Kyuhyun. Kau pasti mengenalnya, setidaknya pernah mendengar namanya. Dan tidak, ini bukan tentang hubungan antara idola dan fansnya. Perasaanku tidak berada dalam taraf itu. Aku mengenalnya sejak kecil, dan kami berpisah saat mulai menginjak usia remaja. Dan aku memandangnya sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang idola yang digilai banyak wanita.

Maka dari itu, aku ingin meminta maaf padamu. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah memendam perasaanku dalam-dalam, atau mungkin malah meneruskannya secara diam-diam. Jika yang terjadi adalah yang kedua, anggaplah aku memberitahumu rahasiaku dari surat ini. Aku tidak mungkin membohongimu seumur hidup. Jadi setelah surat ini kau baca, bertanyalah padaku. Dan aku akan menjawabmu dengan jujur. Tapi jika yang terjadi adalah yang pertama, anggaplah aku berbagi kisah masa mudaku denganmu. Kisah tentang cinta pertamaku. Sebagai gantinya, kau juga boleh menceritakan tentang cinta pertamamu padaku. Atau… apakah aku cinta pertamamu?

Aku sungguh-sungguh ingin menjadi istri yang baik bagimu. Pernikahan menurutku adalah sesuatu yang sangat sakral, jadi jika aku bersedia menikah, itu berarti aku akan melakukan segala hal untuk mempertahankannya.

Apakah kita sudah punya anak? Jika ya, aku penasaran, apakah dia lebih mirip denganku? Atau denganmu? Anak perempuan yang cantikkah? Atau bocah laki-laki yang lucu?

Apakah kita sering bertengkar? Apakah aku terkadang menyebalkan? Apakah aku bersedia belajar memasak untukmu? Apa pekerjaanku? Dan apa profesimu? Apakah kau tampan? Berapa tinggi badanmu? Apa warna matamu? Apakah kau mencintaiku?

Begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Rasa penasaran para remaja memang kadang tidak tertahankan, kau tahu?

Untukmu, yang telah bersedia menghabiskan tahun-tahun hidupmu bersamaku, aku ingin memberimu sesuatu. Saat ini, saat menulis ini, aku berjanji untuk tidak berciuman ataupun bercinta sebelum aku resmi menikah. Jadi… karena aku tidak bisa memberikan cinta pertamaku padamu, maka aku akan menyerahkan semua kali pertamaku yang lain. Ini sebentuk rasa hormatku padamu, yang telah menikah denganku. Jadi kalau sebelum kau membaca surat ini aku sempat membual tentang pengalamanku dalam berciuman, sekarang kau tahu bahwa semuanya hanya omong kosong.

Aku sulit mengungkapkan perasaan, jadi untuk yang satu ini aku yakin. Aku pasti jarang mengucapkan kata cinta dan sejenisnya padamu. Kelak, aku akan mengucapkannya dengan benar. Secara langsung.

Jadi, Sayang, lipat kembali surat ini, simpan dengan baik, dan temui aku. Lalu, siapa pun kau, siapa pun namamu, aku akan memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Sangat. Setiap detiknya.

 

Dari istrimu yang masih berumur 17 tahun,

 

Han Hye-Na

 

***

A Restaurant, Seoul

Pria itu menemukan surat tersebut terselip di dalam tasnya. Jelas bahwa istrinya tidak bermaksud membuatnya menemukan kertas tersebut secepat itu. Dan, setengah jam yang lalu, dia telah membaca untuk yang kesebelas kalinya, hingga dia nyaris hafal tiap kalimat yang tertera di sana. Jadi, saat ini, ketika dia menapakkan kakinya di anak tangga terakhir lantai dua restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu, dan matanya menangkap sosok wanita itu yang sedang duduk di samping jendela, kalimat-kalimat dalam surat itu kembali beterbangan di kepalanya seolah dia sedang membacanya langsung.

1150625_434984336617913_621638211_o2

Ruang makan itu nyaris kosong, hanya ada satu pasangan lain yang sedang dilayani pelayan di sana. Jelas wanita itu memastikan agar mereka mendapatkan privasi malam ini. Bukannya dia keberatan.

Dia melangkahkan kakinya mendekati meja mereka, kemudian wanita itu menoleh, dengan refleks tersenyum saat melihat kedatangannya, dan dia menahan napas. Lebih tepatnya lupa menarik napas. Dia sudah lelah mendeskripsikan betapa cantiknya wanita itu. Jadi sebaiknya malam ini dia tidak membuang-buang tenaga.

1150625_434984336617913_621638211_o3

“Apa menunggu tidak membuatmu kesal?” pria itu bertanya, sembari menarik kursi untuk diduduki.

Wanita itu menatapnya, paham bahwa pertanyaan itu tidak sedangkal kedengarannya.

“Tidak,” jawabnya ringan. “Karena ada jaminan bahwa kau pasti akan datang.”

“Ya,” pria itu akhirnya mengembuskan napas. “Seterlambat apa pun, aku pasti akan menemukan cara untuk menemuimu.”

“Karena itu aku terus menunggumu, ‘kan?” Hye-Na mengedipkan mata.

Kyuhyun menatap wanita itu lekat. Lama.

“Jadi,” ujarnya, “ini tahun keempat kita hidup bersama?”

“Ya. Cukup lama bukan? Biasanya, jika aku menyukai sesuatu, rata-rata hanya berlangsung dua tahun. Sedangkan denganmu dua kali lipatnya. Itu rekor.”

Dia mengabaikan ucapan sinis yang dilontarkan wanita itu.

“Akhir-akhir ini kita jarang bertemu, kau tahu? Hanya di waktu malam. Itu pun seringnya kau sudah tidur duluan. Akhir-akhir ini kau tidak tidur larut lagi.”

“Mungkin karena aku lelah setelah bekerja seharian.”

“Ya. Itu berarti kita harus menemukan cara untuk memperbaiki hubungan kita. Ini tidak sehat. Kau tahu itu.”

Hye-Na mengedikkan bahu. “Aku tidak keberatan. Kau bekerja, dan aku tahu kau sedang di mana. Itu termaafkan. Dan, aku rasa hubungan kita baik-baik saja.”

“Ini bukan tentang sebanyak apa aku menghubungimu lewat telepon atau sekadar berkirim pesan. Ini juga bukan tentang seberapa banyak kita bercinta dalam seminggu atau seberapa banyak aku menciummu dalam semalam. Ini tentang,” dia mendesah, “kuantitas waktu yang kita habiskan berdua untuk mengobrol, membicarakan banyak hal. Kita tidak seperti dulu lagi, kau tahu?”

“Apa menurutmu itu alasan kenapa kita akhir-akhir ini jarang bertengkar? Karena kurangnya intensitas pertemuan?”

“Ya, mungkin.” Kyuhyun menyesap anggurnya. “Dalam beberapa hal mungkin kita sedikit membaik. Dan dalam beberapa hal lainnya? Buruk.” Kyuhyun menatap wanita itu dari balik gelas. “Aku rindu menghabiskan waktu berjam-jam berdebat tentang hal-hal yang tidak penting denganmu.”

“Kita bisa menemukan waktu. Aku bisa mengusahakan untuk tidak tidur sebelum kau pulang. Jadi kita bisa menghabiskan sekitar… satu jam, sebelum tidur. Kau juga tidak boleh terlalu le—”

“Apa menurutmu aku harus mengurangi pekerjaanku? Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Mereka memintaku untuk menerima semua tawaran kerja yang masuk.”

“Tidak,” Hye-Na menukas tajam. “Itu pekerjaanmu, bahkan sebelum kita bertemu dan akhirnya menikah. Kau bukan hanya milikku saja, Kyu. Kau milik banyak orang. Jangan bersikap egois hanya karena kau merasa tidak enak padaku. Aku tahu rasanya memiliki tanggung jawab atas kebahagiaan banyak orang. Kau harus menomorduakan kebahagiaanmu sendiri. Dan itu penting.”

“Jadi kenapa harus kau yang mengalah dalam situasi ini?”

“Aku tidak mengalah,” elak Hye-Na. “Itu namanya kompromi.”

“Tetap saja aku tidak suka mendengarnya,” keluh pria itu. “Aku… tidak akan pernah menjadi milikmu saja. Ya, ‘kan?”

Hye-Na menusuk potongan ayam di piringnya. “Aku tidak keberatan menunggu 10-20 tahun lagi.”

“Aku yang keberatan membuatmu menunggu selama itu.”

“Kau ingin bercerai denganku?” Hye-Na memutar bola mata saat melihat ekspresi horor di wajah suaminya. “Terima saja kalau begitu.”

“Kau membicarakannya seolah ini masalah yang sangat enteng.”

Hye-Na menelan. “Ini memang persoalan yang sangat enteng. Kau tidak suka membuatku terus menunggumu sekian lama. Kalau begitu jalan keluarnya hanya satu: melepaskanku. Tapi aku akan lebih tidak bahagia lagi jika kau melakukannya, dan kau tidak akan bahagia jika aku tidak bahagia. Yang berarti ada satu penyelesaian lagi. Kita tetap bersama, dan aku akan menunggumu dengan sabar. Masalah selesai.”

“Aku tidak pernah mengerti caramu berpikir.”

“Ini win-win solution. Bukan begitu?”

“Kenapa akhir-akhir ini aku selalu kalah jika berdebat denganmu?”

“Itu karena kau memang tidak berusaha untuk menang.”

“Bisa jadi.” Kyuhyun ikut melahap makan malamnya dan mengangguk puas. “Ini restoranmu juga?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Makanannya enak.”

“Tentu saja. Aku baru mengganti kokinya kemarin lusa. Kemampuannya cukup memuaskan ternyata.”

“Ya. Kau memang punya selera yang bagus terhadap makanan. Sayang sekali kau tidak bisa memasak.”

“Aku bukan jenis orang yang akan melakukan sesuatu yang tidak kusuka hanya karena diejek. Jadi kau tidak akan berhasil menyuruhku masuk dapur, Cho Kyuhyun.”

“Bagian mana dari perkataanku yang menurutmu secara tersirat menyuruhmu untuk belajar memasak?”

“Kau pergi ke pemakaman Rise,” wanita itu mengalihkan pembicaraan tiba-tiba.

Ekspresi Kyuhyun seketika tampak muram. “Ya.”

“Kau takut?”

Pria itu mengedikkan bahu. “Mungkin lebih tepat jika disebut bersyukur. Saat itu aku terlempar keluar dari mobil, mereka tidak. Tapi akulah yang masih hidup hingga sekarang. Mereka tidak selamat.” Pria itu menggeleng. “Aku hanya… teringat betapa dekatnya aku dengan kematian ketika itu.”

Dia menerima saat jari-jari wanita itu menelusup masuk ke sela jemarinya, menggenggamnya erat.

“Kau hidup.”

“Ya,” bisiknya.

“Kau memang tidak boleh mati sebelum kita bertemu lagi.”

“Masuk akal.”

“Tidak,” Hye-Na tidak setuju. “Aku hanya bercanda. Kedengarannya konyol.”

“Tidak, kau benar. Karena selain keluargaku, kaulah satu-satunya orang lain yang kuingat saat itu. Jadi kau termasuk salah satu alasan kenapa aku berusaha bertahan untuk tetap hidup.”

Wanita itu memandanginya, tersenyum, kemudian berkata lirih, “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aneh. Rasanya begitu aneh, betapa mereka tidak lagi merasa canggung saat mencoba mengungkapkan perasaan masing-masing. Hubungan mereka memang memburuk dalam beberapa aspek, tapi selebihnya terasa normal. Sangat normal. Mungkin mereka menjadi lebih dewasa, atau mungkin hanya sekadar terbiasa.

“Kau menemui sopirku dan mengancamnya,” Hye-Na menuduh, memecahkan keheningan yang terjadi selama beberapa saat.

“Dia bilang begitu padamu?”

Wanita itu mendengus. “Tidak. Sebenarnya dia bercerita hanya untuk memuji-mujimu saja. Menyebalkan.”

Kyuhyun terkekeh.

“Dia bilang kau menyuruhnya memastikan agar aku mengenakan seatbelt sebelum berangkat, melarangnya berkendara di atas kecepatan 60 km/jam, berhati-hati saat hujan, dan untuk tidak berusaha menyalip mobil lain. Dia harus datang dua jam sebelum jadwal kerjaku agar kami tidak terjebak macet ataupun terlambat, hingga dia tidak perlu kebut-kebutan di jalan. Detail sekali.”

“Itu diperlukan untuk memastikan keselamatanmu. Aku tidak peduli bahwa sopirmu itu sudah mengabdi selama belasan tahun pada keluargamu. Kesalahan tetap saja bisa terjadi pada siapa pun. Tidak ada salahnya berjaga-jaga.”

“Bisa-bisanya kau memikirkan hal itu.”

“Aku bisa memikirkan seratus hal berbeda jika semuanya menyangkut dirimu.”

“Apa aku sebaiknya merasa senang?” tukas Hye-Na sinis.

“Seharusnya,” sahut pria itu dengan raut wajah kalem.

“Ini pastilah perayaan ulang tahun pernikahan teraneh di dunia.”

“Kenapa? Apa sebaiknya kita melakukan hal-hal romantis ketimbang berdebat seperti yang kita lakukan saat ini?

Hye-Na mengernyit. “Tidak juga.”

“Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Aku tidak tahu harus memberimu apa. Uangmu jauh lebih banyak dariku dan kau bisa membeli apa pun yang kau mau.”

“Akhirnya kau mengerti bagaimana perasaanku selama ini, ‘kan? Aku selalu menjadi pihak yang tidak tahu harus memberikan apa pada hari-hari khusus seperti ini.”

“Ya, sedikit. Menurutku hadiah tidak benar-benar diperlukan. Apa kau lebih memilih aku hanya mengirimu hadiah sebagai permintaan maaf karena aku tidak bisa datang malam ini, atau kedatanganku saja sudah cukup?”

Hye-Na mencibir. “Dua-duanya jelas lebih baik.”

Kyuhyun mendelik. Istrinya itu benar-benar….

“Apa kau keberatan jika jumlah kekayaanku jauh melampaui kekayaanmu?” Hye-Na mendadak bertanya setelah meneguk air putihnya.

Kyuhyun tertawa geli, seolah pertanyaan yang wanita itu ajukan sangatlah konyol.

“Aku tidak sekolot itu,” sergahnya. “Aku tidak peduli berapa jumlah uangmu di bank. Lagi pula, aku tahu kau sangat menyukai uang jika itu adalah uangmu sendiri. Jadi itu tidak menggangguku sama sekali.”

“Kau sangat mengenalku bukan?” gerutu wanita itu, tidak tahu harus merasa gembira atau tidak dengan mudahnya pencapaian pemahaman di antara mereka.

“Jadi? Apa yang kau inginkan?”

Wanita itu bahkan tidak perlu berpikir sama sekali saat melontarkan jawabannya.

“Anak,” ujarnya dengan nada final. “Tahun depan aku ingin punya anak.”

“Tahun depan aku—”

“Aku tahu,” dia memotong. “Kau akan sangat sibuk keliling dunia melakukan konser, belum lagi drama musikal, Radio Star, dan banyak lagi. Kau tidak perlu khawatir. Mulai tahun depan aku hanya akan ke kantor pada akhir minggu untuk mengecek keadaan, selebihnya aku akan tinggal di rumah. Dan kau ingat adik ibuku? Yoon-Ji Imo? Ibu Lincoln? Akhir tahun mereka pindah ke Seoul, dan dia pasti bersedia membantuku. Dan aku juga masih memiliki ibu dan kakakmu, jadi kau seharusnya tidak khawatir.”

“Na~ya, dengar,” ucap pria itu tegas. “Aku bukannya melarangmu punya anak. Tidak. Karena aku juga menginginkannya. Tapi aku tidak mungkin membiarkanmu mengandung anakku sedangkan aku tidak bisa berada di sisimu setiap saat.”

“Kau pulang ke rumah setiap malam, ‘kan?”

“Kau bukan wanita yang hanya kutemui setiap malam untuk kuajak bercinta dan kupeluk ketika tidur. Sialan.” Pria itu mengacak-acak rambutnya gusar. “Tidak bisakah kau mengerti? Jangan membuatku menjadi pihak jahat lebih jauh lagi.”

“Bisakah kau mendengarkanku juga? Umurmu sudah 27 tahun depan, dan aku 24. Ini umur yang tepat untuk punya anak. Saat mereka dewasa nanti, jarak umur kita dan mereka tidak akan terlalu jauh. Saat mereka berumur sekitar 20 tahun, kau baru akan menginjak 50 tahun. Bisakah kau memikirkan ini juga? Jika kita menunggu lebih lama lagi, kita hanya akan menyesal nanti saat mereka sudah besar. Kau mau terlihat seperti kakek mereka, bukannya seorang ayah?” Hye-Na melontarkan argumennya. “Aku… juga ingin memiliki sebagian dari dirimu yang bisa kumiliki sendiri.”

“Kau pikir aku tidak?” Dan pria itu tahu dia sudah kalah. “Terserah padamu saja.”

Dan saat senyum di bibir istrinya merekah, dia tahu bahwa dia telah mengambil pilihan yang benar.

“Jujur saja, aku tahu kau akan menjadi ibu yang baik, tapi membayangkanmu mengandung? Entahlah.” Kyuhyun memandangi perut wanita itu, mencoba berimajinasi. “Aku sudah terbiasa melihatmu seperti ini.”

“Kenapa? Kalau perutku menjadi besar, dan tubuhku membengkak, lalu aku tampak jelek, kau mau kabur dariku ya?” Hye-Na merengut.

“Kau tidak pernah dengar? Wanita terlihat paling cantik saat mereka sedang mengandung. Yang tidak bisa aku bayangkan adalah, bagaimana mungkin kau bisa terlihat lebih cantik lagi dari ini.” Pria itu tersenyum saat melihat wanita di depannya terdiam, jelas tidak bisa berkata apa-apa. “Lagi pula, Bodoh, aku bisa ke mana tanpamu?”

 

***

 

KyuNa’s Apartment, Seoul

Hye-Na baru saja membuka pintu dan melepaskan sepatunya, saat mendengar pintu apartemen yang ditendang sampai tertutup, lalu lengan Kyuhyun yang melingkari pinggangnya, memaksanya berbalik.

“Kau ingin hamil, ‘kan?”

Ucapan pria itu membuatnya tertawa keras.

“Aku belum melepaskan alat pencegah kehamilanku,” beri tahunya.

“Itu lebih bagus lagi,” gumam pria itu. “Kau hamil tahun depan saja, jadi aku masih bisa memilikimu untuk diriku sendiri sampai akhir tahun ini.”

“Kau berbicara seolah sekali kau melakukannya, aku akan langsung mengandung anakmu,” ejek Hye-Na.

“Kau tidak sedang meragukan kemampuanku, ‘kan?” Mata pria itu menyipit. “Selama ini aku tidak pernah mendengarmu mengeluh sama sekali, jadi tidak usah memulainya sekarang.”

“Bagaimana ya?” ucapnya dengan nada menggoda, menyentuh kerah kemeja pria itu dengan telunjuknya. “Kita terakhir kali melakukannya tiga hari yang lalu. Sepertinya aku mulai lupa.”

Kyuhyun mencengkeram tangan wanita itu dan menahannya.

“Aku bisa mengingatkanmu lagi, tapi terlebih dahulu kau harus memenuhi janjimu.”

Mata wanita itu mengerjap. “Janji?”

“Aku sudah membaca suratmu.”

“Oh.” Wajah wanita itu seketika memerah. “Sangat tepat waktu. Aku sudah memasukkannya sejak dua hari yang lalu ke dalam tasmu. Aku pikir baru beberapa hari lagi kau akan menemukannya.”

“Jadi? Aku sudah membacanya, dan sekarang aku sudah menemuimu. Keberatan mengucapkan kalimat itu langsung kepadaku?”

Hye-Na mengangkat bahu. “Karena aku sudah berjanji….” Dia merangkulkan lengan di seputar leher pria tersebut, dan pria itu dengan refleks mengangkat tubuhnya, sehingga tubuh mereka kini sejajar.

“Aku,” bisiknya, menempelkan bibirnya ringan di kening Kyuhyun, “men—” bergeser ke pipi kiri, “—cin—” pipi kanan, “—tai—” satu sentuhan di hidung, “—mu—” dan satu kecupan cepat di bibir.

“Puas?” Dia meleletkan lidah, bermaksud melompat turun, tapi pria itu sebenarnya sama sekali tidak berniat melepaskannya sedikit pun sejak awal.

“Jelas belum.”

Dia berjuang keras menahan kikikannya saat bibir mereka kembali menempel. Hanya ciuman main-main, pada awalnya, sebelum pria itu mengubahnya menjadi lebih panas dan menuntut kemudian.

“Lain kali, jangan mengenakan pakaian seperti ini lagi,” bisik pria itu serak.

“Kenapa?”

“Terlalu susah dibuka,” desisnya frustrasi. “Dan kau tahu seberapa tipis kesabaranku. Kalau bukan karena blus ini membuatmu terlihat cantik, aku pasti sudah merobeknya dari tadi.”

“Biasanya kau tidak pernah meminta izin padaku. Kenapa tidak kau robek saja? Aku bisa membeli yang baru.”

Bibir pria itu kembali memagut bibirnya. “Ide bagus.”

 

***

 

Hye-Na membuka mata, memukulkan lengan ke ranjang kosong di sampingnya, dan tahu bahwa suaminya sudah berangkat bekerja. Dia menggeser tubuh, bermaksud membenamkan wajah ke bantal yang ditiduri pria itu semalam, yang segera batal saat dia mendapati ada sehelai kertas terlipat yang tergeletak di sana.

Dia meraihnya, membaca kalimat yang tertera di atasnya sebelum membuka lipatan.

Baca ini 20 tahun lagi. Tapi terserah kau saja. Kau boleh mengintip isinya sekarang.

Wanita itu tertawa, mengabaikan kekonyolan pria itu, dan mulai membaca isi surat tersebut.

September 9, 2014

 

Untuk wanita yang menjadi pendamping masa depanku…

 

Aku menulis surat ini pada hari perayaan tahun keempat pernikahanku dengan istriku saat ini, Cho Hye-Na. Apakah kau, yang kini membaca surat ini, masihlah wanita yang sama? Jika ya, sial, aku benar-benar tidak bisa berpaling darimu ya?

Namaku Cho Kyuhyun. Kita pertama bertemu di toko game, dan ya, kita dijodohkan. Bukan berarti aku tidak mencintaimu dan kau tidak mencintaiku. Gengsiku saja yang setinggi langit sehingga mencegahku untuk melamarmu duluan. Ini langkah tercepat, terima kasih pada ibuku yang memahami harga diri anaknya yang terlalu tinggi.

Jadi, karena Cho Kyuhyun itu aku, itu berarti aku tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan pria lain, ‘kan? Tapi kenapa aku tetap saja merasa terganggu setiap kali melihatmu bersama pria lain? Bisa membantuku?

Omong-omong, senang rasanya mengetahui aku mengabulkan keinginanmu untuk memilikiku. Dan kau juga meneruskan perasaanmu padaku hingga kini, kau belum berhenti, dan akan aku pastikan kau tidak akan pernah berhenti melakukannya.

Kita belum memiliki anak, tapi semalam kau memintanya padaku. Aku menyanggupinya. Jadi mari kita menanti kehadiran penerus keluarga Cho dan Han berikutnya. Dia pastilah akan menjadi anak yang sangat hebat, dan kau tidak perlu mencemaskan wajahnya. Dia akan lebih tampan dariku, dan lebih cantik darimu. Ah, aku lupa, kau pasti sudah bertemu dengan mereka. Ya, ‘kan? Anak-anak kita.

Mengenai pertanyaanmu berikutnya, aku rasa, aku sangat cukup tampan. Tinggi badanku 178 senti. Warna mataku cokelat. Dan ya, aku mencintaimu. Sangat. Terutama saat kalimat itu tidak lagi terlalu canggung untuk diucapkan lebih sering daripada biasa. Dan saat aku sedang menulis surat ini sembari memandangimu yang sedang tertidur lelap, aku jatuh cinta padamu. Lagi.

Ada satu hal yang ingin kupastikan, darimu, yang hidup dua puluh tahun dari sekarang. Apakah kau bahagia, Na~ya? Apakah aku sudah menjadi milikmu seutuhnya dan membuatmu bahagia? Karena jika belum, temui aku segera, dan tampar aku keras-keras. Tapi jika sudah, temui aku, dan bisakah kau memberitahuku bahwa sampai saat itu, setelah 24 tahun, kau masih tetap mencintaiku dengan cara yang sama? Karena aku yakin, bahkan setelah 24 tahun pun, kau masih tetap menjadi wanitaku satu-satunya.

Titip salam untuk anak-anak kita. Titip salam untuk diriku, yang telah menepati janji untuk terus hidup bersamamu. Dan untukmu, yang masih bersedia mendampingiku. Aku mencintaimu, dan kau tahu itu.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-24, Na~ya….

 

Dari suamimu yang berusia 26 tahun

 

Cho Kyuhyun

Hye-Na memeluk tubuhnya yang hanya berbalut selimut, dengan satu tangan yang masih memegangi surat, tersenyum, dengan setetes air yang mengalir di pipinya yang polos tanpa bedak.

“Kau menangis?”

Wanita itu mendongak, burur-buru menghapus air matanya, terkejut saat mendapati pria itu berdiri di ambang pintu, dengan secangkir kopi di tangan.

“Kau belum pergi?”

“Belum. Dan untung saja belum.” Pria itu mendekat, meletakkan cangkir di atas nakas, dan duduk di sisi ranjang. “Kenapa?” Dia bertanya, dan kemudian melihat sehelai kertas di tangan istrinya, lalu mengangguk paham.

“Aku kan menyuruhmu membacanya 20 tahun lagi,” ujar pria itu dengan nada menyalahkan.

“Apa kalau aku melakukan hal yang sama kau akan menurutinya?”

“Jelas tidak,” sahut pria itu enteng.

Hye-Na mengerucutkan bibir. Pria itu selalu saja begitu.

“Kau ternyata memang perempuan ya? Bisa terharu juga dengan hal yang seperti itu?”

“Aku tidak akan tergoda untuk bertengkar denganmu pagi ini.”

Kyuhyun terkekeh geli. “Jadi apa yang ingin kau lakukan padaku?”

Hye-Na beringsut, dan tanpa memedulikan selimutnya yang melorot turun, dia menjangkau wajah pria itu, lalu menciumnya tiba-tiba, membuat Kyuhyun untuk sesaat terdiam karena tidak siap dengan serangan mendadak itu.

Pria itu membiarkan istrinya memimpin, dan hanya mengikuti, menyadari betapa ahlinya teknik berciuman wanita itu kini. Cara bibirnya mendesak, atau lidahnya yang bergerilya, maupun tangannya yang menjelajah ke mana-mana.

Kyuhyun mengelus punggung telanjang wanita itu, turun ke pinggang, dan dengan cepat mencekal pergelangan tangan sebelum wanita itu berbuat lebih jauh.

“Tutupi tubuhmu itu dengan selimut sekarang juga jika kau tidak bermaksud menghabiskan waktu sepagian ini di ranjang bersamaku.”

Hye-Na menyeringai, menjawab dengan cara menarik kaus Kyuhyun, membuat pria itu terjatuh ke ranjang dengan posisi mengimpitnya.

“Aku pikir kau tidak akan meminta.” Dia mengedipkan mata, dan spontan tergelak saat pria itu kemudian menyerbunya.

Hidup… jelas tidak akan bisa lebih baik daripada ini. Hidup di dunianya, terutama.

 

***