108i5qe

 

 

Kyuhyun mengecek ponselnya dan tersenyum saat mendapati sebuah pesan baru dari Hye-Na di layar. Wanita itu, seperti ribuan wanita lainnya, pasti baru saja menonton MV terbaru Super Junior, dan dia penasaran apa lagi yang akan dilakukan wanita tersebut sekarang. Istrinya itu sering bertingkah ajaib akhir-akhir ini, terutama kecenderungannya untuk sedikit berdandan saat pergi bekerja. Kyuhyun bukannya tidak suka—terutama karena hal itu menunjang penampilan wanita tersebut sebagai pemimpin Han Group—dia hanya… merasa cemburu dengan kenyataan bahwa ratusan pria lainnya juga akan menikmati kecantikan wanita itu di kantor. Untung saja Hye-Na lebih suka menghabiskan waktu di rumah daripada mengangkat pantatnya untuk pergi mengecek keadaan perusahaan. Kadang-kadang, kemalasan wanita itu menguntungkannya juga.

 

 

The MV is your gift to me. This is my gift to you.

Look how much you’ve changed me. It’s scary, Hubby.

 

 

Kyuhyun terbatuk refleks saat membaca kata terakhir itu. Hubby? HUBBY?

“Kenapa? Kau asma?” Donghae yang berada di sampingnya bertanya karena melihat dirinya yang nyaris kesusahan menarik napas.

Pria itu mengernyit, tahu dengan jelas bagaimana ekspresi setan di wajah istrinya saat mengetikkan kata itu. Sambil terbahak-bahak mungkin, mencoba menebak-nebak reaksinya saat membaca kata super langka itu.

 

 

PS: Go home soon. I want to do something with your hair.

 

 

“Astaga, bunuh aku!” Donghae berseru, membuat member lainnya menoleh ingin tahu dan mulai mengerubungi Kyuhyun.

Kalimat itu bahkan tidak cukup mewakilkan apa yang ada di pikiran Kyuhyun sekarang—kalau saat ini dia memang bisa memikirkan sesuatu.

Dia baru saja membuka attachment file di pesan Hye-Na dan mendadak bisu, membatu di tempat.

“Apa istrimu memang seseksi itu?”

“Lihat bibirnya!”

“Pantas saja kau selalu ingin cepat pulang ke rumah. Yang menunggumu seperti itu.”

“Aku pinjam istrimu boleh tidak?”

Suara yang saling sahut-menyahut itu terdengar samar di telinganya. Matanya hanya tertuju pada layar ponsel, tidak memedulikan kegaduhan di dekatnya. Dia menatap tiga deretan foto selfie yang dikirimkan wanita itu padanya. Foto selfie pertama Hye-Na, dan bersyukurlah dia karena tidak sampai pingsan seketika atau berteriak seperti orang gila. Dia hanya kesusahan bernapas. Dan kehilangan kata-kata. Itu saja.

Dia tidak mau repot-repot berkomentar bahwa wanita itu cantik. Kata itu terasa begitu sia-sia untuk digunakan. Dia juga tidak akan mengatakan betapa menggodanya wanita itu, karena hal tersebut sudah dilakukan wanita itu setiap hari padanya tanpa perlu bersusah-payah.

Sudahkah dia bilang betapa dia menyukai rambut wanita tersebut saat tergerai berantakan seperti itu? Atau cara wanita itu menatap ke arah kamera, seolah sedang menatapnya langsung? Atau mungkin bibirnya yang….

Dia menutup aplikasi pesan, berharap hal itu bisa membantunya menjernihkan kepala. Sayang sekali, karena raut wajah itu sudah terpatri di benaknya dan menolak disingkirkan begitu saja.

Pria itu mendengus, antara kesal, tak percaya, dan bahagia setengah mati. Cho Hye-Na jinjja….

Dia bangkit dari duduknya, lagi-lagi mengabaikan member lain, dan menyudut di pojok ruangan, mulai berkutat dengan ponselnya lagi, mengetikkan pesan balasan.

 

 

Jangan lewatkan makan malam. Minum kopi atau apalah. Kau tidak akan tidur malam ini, Wifey. Jangan pikir aku akan melepaskanmu begitu saja.

 

 

Dia tersenyum puas setelah pesan itu terkirim. Sialnya, tanpa bisa dicegah, jemarinya bergerak meng-klik gambar tadi. Dan kembali, sekali lagi, wajah itu memenuhi layar ponselnya, dengan semena-mena merenggut oksigennya begitu saja.

 

581007_254655837984098_1616112185_n

 

 

Menyebalkan. Haruskah wanita itu bertambah memesona seiring bertambahnya usia? Di mana letak adilnya kalau begitu? Dia sendiri bahkan harus mulai mengkhawatirkan munculnya keriput di sudut mata saat tersenyum, atau perutnya yang begitu mudah membuncit hanya dengan meminum anggur atau makan sedikit melebihi porsi normal. Apakah sekarang dia harus menjadi pihak yang harus mencari cara untuk tetap tampil menawan agar wanitanya tidak lari ke mana-mana?

Pria itu tersenyum miris. Dia mulai terdengar menyedihkan sekarang.

***

 

“Jadi, apa yang ingin kau lakukan pada rambutku, Nyonya Cho?”

“Ya Tuhan!” Hye-Na terlonjak saat mendengar bisikan itu di telinganya, dengan refleks menutup laptopnya yang menampilkan foto-foto konferensi pers launching album tadi siang. Foto suaminya, lebih tepatnya. Memalukan sekali karena dia sampai tepergok oleh pria itu. Apa dia sebegitu fokusnya sampai tidak mendengar pria itu datang?

Dia mendorong pria itu menjauh, bangkit berdiri, menggeleng-gelengkan kepala. Dan pria itu membalasnya dengan kekehan yang terdengar mengejek.

“Aku sudah melihatnya. Apa lagi yang kau sembunyikan?”

Wanita itu berdeham dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. “Apa ada larangan bahwa aku tidak boleh menyimpan foto suamiku sendiri?” tanyanya dengan alis terangkat.

Hubungan mereka berkembang ke arah yang lebih membahayakan akhir-akhir ini. Tidak lagi dengan gaya malu-malu dan penuh gengsi seperti dulu, tapi mulai menjurus kepada setumpuk rayuan dan godaan tingkat tinggi. Dia tidak keberatan menunjukkan dengan gamblang apa yang dia pikirkan, karena itu biasanya berhasil membuat pria itu kalang-kabut, kebingungan sendiri untuk memberi respons, dan dia sangat menikmati momen-momen tersebut, walaupun kadang pria itu berhasil mengendalikan diri dan balik melemparkan godaan.

“Tidak,” pria itu berkata, menatapnya lekat. “Ada yang ingin kau tunjukkan padaku? Aku sudah mati penasaran seharian, jadi sebaiknya kau tidak membuatku menunggu lebih lama.”

“Hmm,” Hye-Na menggumam, sedikit melangkah mundur dan naik ke atas sofa rendah di belakangnya. Dengan cara itu, dia menyejajarkan tinggi mereka.

Dia memajukan tubuh, mengalungkan lengan di sekeliling leher pria itu.

“Kau tidak mau makan malam dulu?”

“Aku sudah makan.”

“Mandi kalau begitu.”

“Tidak,” pria itu menggeram. “Satu kata lagi dan aku akan membuatmu menyesal.”

“Seolah kau bisa saja,” Hye-Na berbisik, dan saat kata terakhirnya terlontar, bibirnya sudah membuka di atas permukaan bibir pria itu.

Dia mencium pria itu dengan rakus, dengan jemari yang meremas rambut pria tersebut, mengacak-acaknya sampai berantakan tak beraturan.

Tangan pria itu ada di mana-mana. Di leher, helai rambut, punggung, lengan, pipi, dan kulitnya yang sensitif. Dan saat lidah pria itu membelai lidahnya, dia mundur, menarik diri, dan tersenyum puas. Untuk mata pria itu yang kehilangan fokus, untuk bibirnya yang membengkak, dan terutama untuk rambutnya yang tidak lagi rapi dan klimis seperti tadi.

Rambut pria itu jatuh menutupi kening, dengan beberapa helai yang mencuat, dan anak rambut yang saling menindih dengan pola acak. Yang paling memuaskan adalah, hanya dia saja satu-satunya wanita yang mendapat kesempatan untuk melihat pria itu dalam kondisi seperti ini.

“Kau yakin hanya sampai di sana?” Kyuhyun bertanya dengan mata menyipit.

“Ya.”

“Aku sudah memberitahumu bahwa malam ini aku tidak akan membiarkanmu kabur, ‘kan?”

“Tentu,” sahutnya manis.

“Jadi… pertama, kau tidak membutuhkan ini.” Kyuhyun menarik tali tank-top Hye-Na dengan telunjuknya. “Dan ini.” Jemari pria itu menyentuh pinggang hotpants-nya, bergerak ke belakang, dan dengan santai menangkup bokongnya. “Terserah mau kau atau aku yang menanggalkannya. Tidak akan ada perbedaan.”

Hye-Na tergelak, membiarkan hidungnya menyentuh ujung hidung pria itu, dan menarik napas.

“Kau ingin di sini atau di kamar?” pria itu berbisik serak.

Dia mengedip, menyusurkan tangan di sepanjang kerah kemeja pria tersebut, turun ke bawah, dan meloloskan kancing pertama. “Di sini juga boleh.”

“Kau akan berakhir di lantai, kau tahu?”

“Bagaimana kalau di sofa saja?”

Kyuhyun melirik sofa yang dimaksud dan menggeleng. “Terlalu sempit,” ujarnya. “Dan berhentilah bicara. Kau bisa menggunakan mulutmu untuk melakukan hal lain.”

“Kau saja yang diam,” saran Hye-Na.

Lalu mereka berdua saling menerjang.

 

***