Pd63tk51 copy

A Restaurant, Seoul

Kyuhyun berjalan memasuki restoran setelah memastikan kacamata hitam dan maskernya sudah menutupi seluruh wajah. Kadang hal itu tidak ada gunanya karena para penggemar selalu saja bisa mengenalinya, tapi tidak ada salahnya untuk sekadar berjaga-jaga. Setidaknya, Hye-Na sudah memastikan keamanan dan perlindungan privasi restoran satu ini.

Seorang pelayan sudah menunggunya di dekat pintu masuk dan langsung menunjukkan jalan—membenarkan perkiraannya bahwa berusaha menyamar hanya membuang-buang waktu saja—mengantarnya menuju meja di sudut terjauh ruangan, tersembunyi dari pandangan, dan berada di samping jendela satu arah—orang yang berada di dalam restoran bisa melihat ke luar, tapi orang di luar tidak bisa melihat apa pun yang terjadi di dalam. Sesuatu yang penting bagi artis sepertinya; agar tidak ketahuan dan mencegah terjadinya skandal. Walaupun akhir-akhir ini dia berpikir bahwa dia mulai tidak peduli dan tidak akan keberatan kalau-kalau hubungan pernikahannya dengan Hye-Na ketahuan. Semakin lama semakin sulit untuk bersembunyi, apalagi dengan perhatian media yang sedang gila-gilaan terhadap istrinya, sang pewaris utama Han Group. Dia tidak akan heran kalau wartawan-wartawan itu mencium sesuatu yang mencurigakan. Wanita itu memiliki kekayaan mencapai trilyunan dan siapa pun yang menjadi pendampingnya pasti akan mendapat sorotan dari semua orang.

Pria itu melepaskan semua atribut penyamarannya, duduk di kursi, dan di waktu yang bersamaan nyaris lupa menarik napas saat wanita itu mendongak menatapnya.

Tidak lagi, gerutunya dalam hati, hampir-hampir merasa kesal. Bagaimana bisa wanita itu menjadi berkali lipat lebih cantik hanya setelah dia tinggalkan selama… berapa, sebelas jam?

Dia berusaha mengabaikan dadanya yang mulai nyeri karena detak jantungnya yang tidak beraturan. Dia akan mengurusnya nanti, seperti biasa. Sekarang dia harus tampak tidak peduli, tampak tidak terpesona, dan menghadapi wanita itu seperti caranya yang biasa; dengan mulut ketus dan ekspresi dingin. Dia tidak suka jika harus merasakan penyiksaan ini sendirian; wanita itu juga harus merasakan hal yang sama sepertinya. Meski terkadang pria itu berpikir bahwa wanita tersebut bisa mengendalikan diri jauh lebih baik dari dirinya sendiri.

Dia menyukai fakta sederhana bahwa malam ini mereka memakai baju dengan warna yang sama: putih. Tanpa perencanaan apa-apa sebelumnya. Walaupun sudah bisa ditebak; isi lemari pakaian wanita tersebut hanya didominasi satu warna itu saja. Bukan berarti dia keberatan, karena putih memang membuat wanita itu terlihat lebih berkilau—lupakan. Dia sedang berusaha mengontrol isi pikirannya sekarang, tidak perlu memperburuk keadaan.

“Aku sudah memesan makanan,” wanita itu berkata. “Keberatan?”

Kyuhyun menggeleng. “Bagaimana hari pertamamu bekerja?”

Hye-Na sedikit mengernyit. “Aku lebih suka di rumah,” jawabnya singkat.

“Kau bisa menyuruh orang lain mengurus semua perusahaanmu itu, ‘kan?”

“Tentu saja. Tapi aku juga harus ikut mengawasi, tidak mungkin sepenuhnya lepas tangan.” Jemari wanita itu bermain di bibir gelas. “Bisa kau bayangkan? Bahkan restoran ini adalah milikku. Juga empat restoran lainnya. Dan itu hanya di kawasan Seoul saja. Apa sih yang dilakukan ayahku selama ini?”

“Baru kali ini ada manusia yang mengeluh saat diberi limpahan kekayaan sebanyak itu,” cibir Kyuhyun, menuang wine dari dalam botol yang terletak di atas meja. Dia sedikit heran, karena biasanya wanita itu tidak akan membiarkannya minum jika mereka sedang bersama, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya, khawatir kalau-kalau dia malah akan membuat wanita tersebut berubah pikiran.

“Apa malam ini aku mengganggu jadwalmu?” Wanita itu bertanya.

“Tidak juga. Ini memang jadwal istirahat dan makan malam. Tapi satu jam lagi aku harus kembali. Tidak apa-apa kan kalau kau pulang sendirian?”

Hye-Na mengedikkan bahu ringan. “Aku bawa mobil.”

“Mobil?” Pria itu mengerutkan kening. “Sejak kapan kau bisa menyetir?”

“Aku menyewa sopir. Dan tidak usah mengejek, aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Aku jadi terlihat seperti wanita kaya lain yang ke mana-mana diantarkan sopir. Ya, ‘kan?”

“Apa aku bahkan mengatakan sesuatu, Na~ya?” Dia menyesap wine-nya, merasakan cairan merah gelap itu meluncur masuk ke dalam kerongkongan. “Aku rasa aku lebih suka menggantungkan nyawamu pada orang yang sudah berpengalaman daripada membiarkanmu mencoba menyetir sendiri dengan kemampuan mengemudimu yang nol besar.”

Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan datang mengantarkan makanan.

“Silakan dinikmati, Sajangnim.”

Pelayan itu berlalu pergi setelah mengucapkan pamit dan membungkuk sopan, meninggalkan Kyuhyun yang tertawa lepas dan Hye-Na yang mengerucutkan bibir sebal.

“Telingaku sudah panas karena mendengarkan panggilan itu seharian,” Hye-Na menggerutu. “Aku bahkan jauh lebih muda dari semua orang di kantor dan mereka berduyun-duyun memberi hormat padaku. Rasanya menggelikan sekaligus tidak nyaman.”

“Kau harus membiasakan diri. Tidak mungkin mereka tidak memberi hormat pada pimpinan baru mereka.”

“Kelak, kau juga akan merasakannya.”

“Ya,” Kyuhyun tersenyum geli. “Kelak, saat aku berhenti dari dunia hiburan dan tidak punya pilihan lain selain memimpin perusahaan.”

“Lebih cepat, lebih baik,” gumam Hye-Na, yang masih tertangkap oleh telinga Kyuhyun.

“Kenapa aku curiga bahwa itu hanya keinginanmu agar aku cepat-cepat berpenampilan seperti para eksekutif muda di luar sana? Jas? Kemeja? Itu kan maumu?”

Hye-Na tersenyum malu. Memang itu impiannya. Kyuhyun dalam balutan jas dan kemeja adalah godaan mematikan, terus terang saja. Terutama karena akhir-akhir ini pria tersebut sering berpenampilan seperti itu untuk pemotretan SPAO.

“Kau menyukai poster Super Show yang baru kalau begitu?” ujar pria tersebut dengan nada mengejek, lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

“Jas terlihat bagus di tubuhmu,” komentarnya singkat, tahu bahwa dia tidak akan lolos dari cemoohan pria itu sepanjang malam. “Dan lama-lama kau seperti cenayang karena selalu bisa membaca pikiranku. Itu menakutkan, kau tahu?”

“Mana yang lebih mengerikan daripada melihatmu yang—baiklah, aku menyerah. Apa-apaan dengan setelan kantormu itu?” Pada akhirnya pria itu tidak tahan juga untuk berkomentar. “Kau bahkan berdandan!”

“Aku pikir kau tidak akan bertanya.” Wanita itu sedikit beringsut, memiringkan tubuh membelakangi jendela, lalu menyingkirkan helai rambutnya yang tergerai ke balik punggung. Tangannya ditumpangkan ke atas meja, dan dia menaikkan sedikit sudut bibirnya yang terpulas lipstick tipis. Dengan refleks Kyuhyun menegang di kursinya, tahu dengan jelas bahwa wanita itu sedang terang-terangan mencoba untuk menggoda dan meruntuhkan pertahanannya. “Kau tidak suka?”

598456_243246702458345_640311476_n

Sial, Kyuhyun mengumpat dalam hati. Wanita itu tidak pernah perlu berusaha untuk terlihat cantik. Tapi saat dia melakukannya, kecantikan itu hanya semakin menjadi-jadi, dan pria itu tidak tahu apakah harus bersyukur atau malah mengutuki pesona istrinya tersebut.

“Aku menyukai penampilan barumu,” dia akhirnya membuka mulut. “Tapi tidak dengan akibat yang kau timbulkan.”

Wanita itu mengerutkan kening. “Memangnya aku menimbulkan akibat apa?”

“Tidak tahukah kau ada begitu banyak pria di luar sana yang sedang berusaha mengincarmu? Dan kau tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah mereka. Kau seharusnya tidak perlu menghambur-hamburkan pesonamu seperti itu. Yang perlu kau rayu hanya aku. Ingat?”

“Memangnya kau tidak terpikir bahwa mungkin saja aku memang sedang merayumu?” Wanita itu mengerlingkan mata, lalu tertawa. “Aku hanya bercanda. Tidak usah menganga begitu.”

“Kau kadang bisa sangat menyebalkan, kau tahu?”

Hye-Na mengangguk. “Kau tidak pernah lupa memberitahuku,” ujarnya tak acuh, mulai melilit pasta pesanannya dengan garpu.

Eomma meneleponku tadi. Kau yakin mau membiarkannya mengurus keuanganmu?” Kyuhyun bertanya, dengan jemari yang sibuk mengetikkan pesan di ponsel.

Sekali lagi wanita itu mengangguk. “Aku tidak membutuhkan terlalu banyak uang. Lagi pula, aku merasa kau akan lebih suka bisa tetap menafkahiku dengan uangmu. Egomu kan luar biasa tinggi.”

“Kau juga mulai terdengar seperti cenayang.”

“Apa ini karena kita sudah terlalu lama hidup bersama sehingga bisa saling membaca pikiran satu sama lain? Mengerikan bukan? Aku jadi merasa tidak punya privasi.”

“Privasi apa lagi yang kau butuhkan di depan suamimu sendiri? Keburukan mana dari dirimu yang aku tidak tahu?” ucap Kyuhyun sinis. “Kebiasaanmu menggigiti kuku? Jarang bersisir? Keramas sekali seminggu? Memakan roti sebagai pengganti sikat gigi setiap pagi? Mandi sekali sehari?”

YAK!”

“Aku mulai frustrasi karena berpikir kau akan tetap menjadi wanita anggun sepanjang malam. Akhirnya kau berteriak juga.” Kyuhyun mendesah puas lalu mulai menikmati makan malamnya.

Yak, Cho Kyuhyun!”

“Sudahlah. Kau bersikap elegan cukup di depan karyawanmu saja. Kalau kau juga begitu di depanku, kau hanya akan membuatku ngeri, kau tahu?” Pria itu meneguk air putihnya, berusaha tidak terkekeh saat melihat tampang suram yang diperlihatkan wanita di hadapannya. “Omong-omong, kenapa kau harus meminta duplikat patung tanganku pada Eomma?”

Hye-Na memelototkan mata. “Aish, Eommonim jinjja! Aku sudah mewanti-wantinya agar tidak memberitahumu!”

“Kau pikir mulutnya yang suka bergosip itu bisa tahan? Kau menyimpan rahasia pada orang yang salah.” Kyuhyun meletakkan sendok ke atas piring, lalu mengulurkan tangannya pada Hye-Na. “Kau mau aku mengamputasi tanganku agar bisa kau genggam setiap saat?”

“Kau akan mengolok-olokku selama seminggu ke depan hanya karena hal ini bukan?”

“Sebulan sepertinya.”

Yak, Cho Kyuhyun!”

“Berhentilah berteriak-teriak. Bisa-bisa semua karyawanmu di sini tahu sifat aslimu. Dan kalau kau menyerukan namaku seperti itu, kau akan membuat kita ketahuan oleh tamu lain. Kau mau itu terjadi? Aku sih tidak keberatan.”

Hye-Na merengut, menusuk bola-bola daging di piringnya, lalu memasukkan potongannya ke dalam mulut, dan mengunyah dengan raut wajah geram.

“Kenapa, kenapa, dan kenapa,” gerutunya, “aku masih saja belum mengajukan surat cerai padamu.”

“Karena kau bisa hidup tanpaku, tapi tidak mau melakukannya,” sahut Kyuhyun ringan. “Dan kenapa aku belum bosan-bosan juga melihatmu? Apa kau bisa memberiku pencerahan? Ini sudah masuk tahun keempat dan pasangan normal pasti sudah merasakan tanda-tanda muak.”

“Tunggu setahun lagi. Kita akan bertemu kembali di sini, dan jika saat itu kau masih belum muak juga, aku akan memberimu pencerahan.”

“Bagaimana kalau aku memang muak? Apa yang akan kau lakukan? Mendepakku?”

“Merayumu?” wanita itu menyarankan. “Aku akan berdandan habis-habisan dan membuatmu tertarik lagi padaku.”

“Mendepakku akan lebih mudah.”

“Kau sudah tahu kenapa. Karena aku tidak mau hidup tanpamu. Kau sendiri yang bilang. Dan,” wanita itu menggantungkan ucapannya, “karena kau pasti tidak akan bisa didepak begitu saja—ah, tidak, lebih tepatnya, aku ragu kau bisa merasa muak padaku.”

“Hye-Na yang dulu,” Kyuhyun menatap wanita itu lekat, “tidak akan pernah merasa sepercaya diri itu.”

“Hye-Na yang sekarang berbeda. Pengaruh darimu juga, ‘kan? Kau tidak suka?”

“Aku suka. Apa kau harus terus bertanya tentang pendapatku terhadapmu?”

Wanita itu mengedik. “Pendapatmu penting bagiku,” ucapnya, berusaha terdengar tidak peduli.

Mereka kembali sibuk dengan makanan masing-masing. Untuk sesaat, karena Kyuhyun kemudian harus memeriksa pesan yang baru masuk ke ponselnya. Hanya ada sebaris kalimat di sana, jawaban ibunya atas pertanyaan yang tadi dia kirimkan.

 

Putih? Tidak. Dia memakai blus biru saat ke sini tadi.

 

Pria itu tersenyum, melirik arloji, kemudian meraih gelas minumnya.

“Sudah harus kembali?”

Pria itu mengangguk. “Sepertinya aku akan pulang terlambat malam ini.”

“Ada banyak hal yang harus kukerjakan. Pekerjaan kantor. Aku rasa aku akan tidur larut.”

Kyuhyun tersenyum, tahu bahwa itu adalah cara Hye-Na mengisyaratkan akan menunggunya sampai pulang.

Pria tersebut berdiri, memundurkan kursi, dan mencondongkan tubuh di atas meja, meraih wajah wanita itu, dan menyapukan kecupan pelan di bibirnya.

“Terima kasih,” bisiknya, “karena kau sudah susah payah berdandan untukku.” Dia tersenyum saat melihat mata wanita itu mengerjap bingung. “Tapi ingatlah, jangan terlalu sering melakukannya,” lanjutnya kemudian. “Kau tidak mau suamimu kekurangan asupan oksigen, ‘kan?”

 

***