tumblr_myg7v6nzs61synu21o1_500

 

 

 

Dylan Hotel, Dublin, Ireland

“Seharusnya kau tidak bangun terlambat lagi. Kau benar-benar memiliki kebiasaan buruk.” Hye-Na terus menggerutu sembari menuangkan segelas susu, lalu meletakkan setangkup roti bakar ke atas piring, dan menyusun botol-botol selai dalam jarak yang mudah dijangkau.

“Tidak ada kopi hari ini?”

“Tidak,” ucap wanita itu tajam. “Dan jangan lupa minum obatmu.”

“Aku hanya sedang flu, bukan menderita kanker.” Pria itu menggumam, meneguk susunya, dan mulai mengoleskan selai kacang ke atas permukaan rotinya.

“Hanya orang bodoh yang terkena flu di musim panas,” sentak wanita itu, meletakkan sepatu yang sudah disemir beserta kaus kakinya di samping kaki Kyuhyun yang telanjang. “Dan jangan lupa pakai kardiganmu.”

“Ini musim panas, Na~ya.” Pria itu mengulangi perkataan istrinya tadi. “Kau mau aku mati kepanasan?”

Hye-Na meletakkan botol berisi jus jeruk dingin yang baru diambilnya dari dalam kulkas ke atas meja kemudian berdiri berkacak pinggang.

“Kalau saja kau bersikap sedikit rasional, tidak pura-pura pikun dengan melupakan umurmu, dan tidak ikut berenang selama dua jam bersama cucu-cucumu akhir minggu kemarin, maka aku tidak akan memaksamu minum obat dan memakai kardigan saat ini. Kau sudah 56 tahun, demi Tuhan, bukan 26 tahun lagi!”

Kyuhyun mendelik. “Apa kau melihat gejala penuaan pada diriku sehingga merasa punya hak untuk menghina umurku seperti itu?”

“Tidak.” Hye-Na tersenyum manis. “Kecuali fakta bahwa kau harus segera mengecat rambutmu yang mulai memutih itu.” Wanita itu tertawa, lalu menghilang ke dalam kamar.

“Cho Hye-Na,” ucap pria itu geram. “Apa rabun matamu itu sudah benar-benar parah? Kuberi tahu kau, tidak ada satu helai pun uban di kepalaku!”

“Ya, ya, kalau kau bilang begitu.”

“Kalau saja ini bukan hari ulang tahunmu,” kecam Kyuhyun, menyingkirkan sisa rotinya dan meraih sepatu.

“Maka dari itu, aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya selagi kau menjinakkan diri.” Wanita itu melongokkan kepala dari balik pintu kamar. “Bagaimana menurutmu? Terlalu berlebihan?”

Kyuhyun menoleh dan menelan semua kejengkelannya bulat-bulat.

“Apa itu dress yang kubelikan di Milan bulan lalu?” tanyanya, tanpa sadar menelan ludah.

Gaun musim panas selutut yang berbahan tipis itu berwarna emerald, berlengan pendek, dengan desain membentuk lekuk pinggul dan jatuh dengan ringan, berayun anggun setiap kali pemakainya bergerak. Dan dia tidak bisa mengatakan bagaimana, pada umurnya yang baru saja menginjak 53 tahun, pinggang istrinya itu masih terlihat sempit, ramping, dan tetap sanggup membuat bagian bawah tubuhnya bereaksi.

Hye-Na mengangkat bahu. “Aku rasa ini waktu yang tepat untuk mengenakannya. Kecuali kalau aku terlihat terlalu tua dan—”

“Nice dress,” Kyuhyun memotong. “Take it off.”

Hye-Na melemparkan tatapan mencela. “Kenapa, bahkan setelah 34 tahun hidup bersama, cara berpikirmu yang tidak pantas itu sama sekali tidak pernah berubah?”

“Hei, seharusnya kau bersyukur. Kebanyakan suami istri pasti sudah kehilangan ketertarikan fisik di antara mereka 10 atau 15 tahun setelah menikah. Dan di sinilah aku, masih saja tergila-gila padamu. Apa menurutmu itu bisa masuk ke dalam daftar keajaiban dunia?”

“Kau benar-benar tidak masuk akal!” sungutnya, hanya saja dengan cengiran di wajah. “Aku akan mengikat rambutku dulu, lalu kita berangkat. Jangan lupa bawa bungkusan di atas sofa. Tiga anak itu akan ribut kalau mereka tidak diberi hadiah.”

***

A Restaurant, Dublin, Ireland

 

“Mereka benar-benar sepertimu, selalu saja terlambat. Kenapa mereka menyalin semua keburukan yang kau miliki?” Hye-Na memotong scones-nya menjadi dua bagian, mengolesinya dengan clotted cream dan selai cokelat, menolak selai stroberi yang seharusnya menjadi pasangan makan roti itu. Dia memang tidak pernah menyukai selai apa pun selain cokelat dan kacang, sama sekali.

“Aku punya banyak alasan bagus jika datang terlambat. Dan… setidaknya mereka mewarisi wajahku.” Kyuhyun menyeringai melihat tampang masam yang ditampilkan istrinya.

Hye-Na menggigit scones-nya dengan sebal karena tidak bisa mendebat kenyataan satu itu. Jika menikahi Cho Kyuhyun berarti mendapatkan keturunan dengan daya tarik yang luar biasa, maka ya, lebih baik dia menutup mulutnya saja.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat setelah ini.” Kyuhyun membuka suara, tidak mau istrinya merajuk lagi di saat-saat seperti ini kalau akibatnya adalah mendengarkan pidato berapi-api dari anak laki-lakinya tentang menjaga ibu dari anak-anaknya itu dengan baik dan memperlakukannya seperti ratu.

Ratu? Cih. Tanpa menjadi ratu pun wanita satu ini sudah berbuat semena-mena terhadapnya, apalagi jika itu sampai terjadi? Mungkin dia harus menjadi budak seumur hidup—bukan berarti dia keberatan.

Hye-Na memutar bola matanya. “Setelah menikah selama 34 tahun, kau masih saja mengajakku kencan? Aku bahkan sudah sangat bosan melihat tampangmu. Tidak bisakah aku pergi dengan Dae-Hyun saja? Kau bisa berjalan-jalan dengan Hyun-Ah.”

“Dan mendengarnya memuji-muji suaminya yang mahasempurna itu lalu membanding-bandingkannya denganku? Appa, tidak bisakah kau mencontoh Daniel? Uangmu kan banyak, apa salahnya membelikan Eomma hadiah dan menyenangkannya sesekali? Daniel bahkan baru membelikanku berlian ratusan juta. Apa sebenarnya yang kau lakukan saat mendidik anak-anakmu? Anak perempuanku berubah menjadi wanita materialistis.”

“Dan suaminya memang mampu dan sangat senang melakukan hal-hal untuk menyenangkan istrinya, jadi itu bukan masalah yang perlu kau pusingkan.”

“Ya, tentu saja,” dengus Kyuhyun. “Yang perlu kupusingkan adalah anak laki-lakiku yang tidak pernah membelikan istrinya apa-apa, tapi membelikanmu tiket keliling dunia selama dua tahun penuh. Berapa yang dia habiskan? Ratusan miliar? Aku tidak akan heran jika suatu saat ada surat cerai yang diletakkan di atas meja kerjanya.”

“Karena Ji-Hyun sudah kepayahan menghabiskan uang warisannya sendiri, kurasa dia bahkan tidak peduli apa yang dilakukan suaminya dengan uangnya di bank.”

“Kalau begitu, kenapa anakmu itu hanya membelikanmu? Dia tidak peduli sama sekali denganku, dengan fakta bahwa jika kau berkeliling dunia, itu sudah jelas tidak akan kau lakukan sendirian.”

“Cho Kyuhyun,” Hye-Na mendesah, tidak habis pikir. “Uangmu di bank itu perlu dihabiskan daripada dibiarkan menumpuk begitu. Lagi pula, Dae-Hyun sudah membantumu memimpin perusahaan, sedangkan kerjamu hanya berleha-leha saja di rumah. Pikirkan saja cara menghilangkan lemak di perutmu itu daripada sok mengurusi anak-anakmu. Aku akan berterima kasih kalau kau mau berdiet sedikit, jadi aku tidak perlu membeli selemari baju baru dan membuang semua baju-bajumu yang sekarang.”

“Kau tahu kecenderunganku untuk cepat gemuk dan juga cepat kurus. Kau hanya mau mengejekku saja.” Kyuhyun mengedutkan bibirnya jengkel.

“Tidak usah mencoba berdebat denganku. Kau tahu aku sudah belajar untuk tidak akan pernah kalah adu mulut darimu,” Hye-Na berkata manis.

Kyuhyun membuka mulut, tapi urung karena suara teriakan nyaring dan tiga hantaman besar yang menghajarnya kemudian.

Grandpa!!! Apa hari ini kita akan main lagi?”

“Kapan kau pulang ke Korea? Kau bisa tidur di kamar tamu dan kita bisa main lempar bola di kolam lagi.”

“Tidak, Grandpa tidur di rumahku saja! Aku akan meminjamkan kamarku!”

Semua suara itu saling tumpang tindih dan Kyuhyun tidak tahu harus menjawab dan menanggapi anak yang mana terlebih dahulu.

Grandpa sedang flu. Dia tidak bisa menemani kalian main air.”

Hye-Na menyela, menyodorkan tangan dan menarik si kecil Lee Yeol ke arahnya.

“Yah, Grandpa payah! Masa begitu saja sudah K.O. Yeol bahkan tidak sakit sama sekali,” keluh Lee Hwan.

“Hi, Mom!”

Kyuhyun mengangkat alis saat Dae-Hyun melewatinya begitu saja untuk memeluk Hye-Na dan mengecup pipi ibunya itu sambil tersenyum sumringah, walaupun Hyun-Ah dengan berbaik hati menghampirinya lebih dulu dan memberikan kecupan yang sama di pipinya. Tapi jelas anak perempuannya ini memberi seringaian mengejek ke arahnya sembari menggendong Lee Hwan dan memaksa anaknya yang aktif itu untuk duduk diam di kursinya.

Abeonim,” sapa Ji-Hyun, tersenyum, dan duduk di samping suaminya yang akhirnya menatap Kyuhyun dengan tampang jailnya yang biasa.

Appa, sepertinya aku tidak melihatmu tadi,” ucap pria itu tanpa sedikit pun raut bersalah di wajah tampannya.

“Ji-Hyun~a, aku heran kau bisa hidup dengan pria seperti ini selama enam tahun,” ucap Kyuhyun sinis, yang ditimpali dengan gelak tawa dari anak laki-lakinya yang kurang ajar.

“Kalau saat tua nanti dia masih setampan Abeonim, aku tidak keberatan untuk hidup dengannya sekitar 30 tahun lagi,” tukas Ji-Hyun, sedangkan Dae-Hyun sudah berlagak ingin muntah di samping istrinya itu.

“Seandainya mulut istriku bisa semanis mulutmu,” keluh Kyuhyun, “bukannya berbisa mematikan.”

Hye-Na mendelik, tapi memilih mengabaikan suaminya yang kekanakan dan menyapa anak Dae-Hyun yang sudah mulai mengacak-acak boxtypancake kentang—di piring Kyuhyun.

“Yoon~a, kau tidak mau memesan makanan lagi? Lebih baik kau tidak memakan makanan kakekmu, nanti kau ikut terkena flu,” saran Hye-Na.

Cho Kang-Yoon selalu menjadi yang paling dewasa di antara tiga cucunya, meskipun Lee Hwan-lah yang paling tua. Di umurnya yang menginjak enam tahun, Kang-Yoon sudah mahir memasak, menjadi koki kecil yang pintar, seperti pamannya dulu, Lincoln, anak bibi Hye-Na. Tapi anak itu bisa menjadi sangat pemarah dan over protektif jika menyangkut sepupunya, Lee Yeol. Dan sasaran kemarahannya yang paling sering adalah Lee Hwan, yang suka sekali menjaili adik perempuannya itu.

“Halo semuanya, Abeonim, Eommeonim. Maaf lama, aku tadi kesusahan mencari tempat parkir.” Daniel Lee, suami Hyun-Ah, muncul, lengkap dengan senyumannya yang memesona, dan ketiga wanita di meja itu sama sekali tidak malu-malu menunjukkan kekaguman mereka.

Dae-Hyun dengan secepat kilat menutupi mata istrinya, sedangkan Kyuhyun dengan sadis menginjak kaki istrinya yang tidak tahu malu dari bawah meja.

“Dia itu menantumu,” ucap Kyuhyun sengit.

“Karena itu. Tidak ada hukum yang melarang mertua mengagumi menantunya sendiri. Ya kan, Dan?” Hye-Na tersenyum lebar, tidak memedulikan suaminya sama sekali.

Appa hanya merasa tersaingi karena dia sudah tua,” timpal Hyun-Ah. “Tapi Appa tetap tampan,” sambungnya kemudian di bawah tatapan mengerikan ayahnya. Wanita itu mengalihkan pandangan dan mulai mengusili adiknya. “Tapi berbeda dengan Dae-Hyun yang jelas-jelas kalah jauh dengan suamiku.”

“Siapa bilang? Dae-Hyun sama tampan dan kayanya seperti suamimu,” ujar Kyuhyun, diikuti ekspresi melongo dari semua orang dewasa di meja itu, kecuali Hye-Na.

“Karena kalau kau mengejek Dae-Hyun yang merupakan anak dari ayahmu yang tersayang ini, maka itu artinya sama saja dengan kau mengejek harga dirinya,” Hye-Na menjelaskan.

Dae-Hyun mendelik. “Selalu saja ada udang di balik batu.”

“Apa bedanya denganmu?” balas Kyuhyun.

“Kalian seperti anak-anak saja,” ujar Kang-Yoon, menggeleng-gelengkan kepalanya seolah malu melihat kelakuan ayah dan kakeknya. “Aku mau scones saja seperti Granny. Aku tidak terlalu lapar.”

“Apa di sini ada macaron?” Lee Yeol bertanya dengan suara kecilnya yang lembut. Anak itu nyaris tampak seperti putri-putri dari negeri dongeng, tampak bijak, kecuali mulutnya yang bisa tiba-tiba berubah sadis seperti ibu dan neneknya.

“Sepertinya tidak.”

“Kalau begitu aku pesan yang seperti Yoon Oppa saja.” Anak itu menyingkirkan buku menu dan memandang semua orang. “Apa kalian tahu bahwa kemarin lusa Mommy mencoba membuat macaron kesukaanku? Masakannya sama enaknya dengan masakan Granny, kalau kalian tahu maksudku.”

Kyuhyun dan Dae-Hyun sama sekali tidak mencoba menahan tawa, hanya menyemburkannya begitu saja.

“Jadi Daddy menyuruhnya agar tidak masuk dapur lagi. Aku juga setuju. Kalau Mommy tetap memaksa ingin memasak, maka itu sama saja dengan mencoba meracuniku dan Daddy. Itu kan ilegal.”

Mata Hye-Na menyipit ke arah Hyun-Ah. “Ilegal? Apa sih yang kau ajarkan pada anakmu ini? Dia masih empat tahun!”

“Dia selalu memaksa untuk menemani ayahnya menonton berita sebelum tidur. Itu sudah sama seperti membacakan dongeng untuknya,” kilah Hyun-Ah.

Pelayan datang dan menyelamatkan wanita itu dari interogasi ibunya. Mereka semua menyebutkan pesanan. Cukup lama, karena perdebatan antara Hye-Na dan Kyuhyun yang disebabkan oleh kekeraskepalaan Hye-Na untuk mendoktrin apa yang boleh dan tidak boleh Kyuhyun makan.

“Kau memang perlu berdiet, Appa,” ucap Dae-Hyun.

Appa terlihat baik-baik saja menurutku,” timpal Hyun-Ah, yang diikuti gumaman setuju dari Ji-Hyun.

“Kenapa kalian semua meributkan bentuk tubuhku?” sela Kyuhyun jengkel.

Grandpa tenang saja. Semua kakek teman-temanku sudah tua dan beruban, sedangkan Grandpa tidak. Grandpa yang paling tampan!” Lee Yeol tersenyum manis dan Kyuhyun mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut ikal anak itu.

“Apa kalian masih sibuk keliling dunia?” Daniel bertanya. “Ada berapa negara lagi?”

“Yang benar?” Ji-Hyun berseru takjub. “Ini sudah tahun kedua, ‘kan? Pantas saja kalian cukup sulit ditemui.”

“Kami menyisakan Inggris untuk dijelajahi terakhir. Tujuan kami selanjutnya adalah Edinburgh.”

“Edinburgh adalah kota tercantik di Skotlandia. Kalian pasti akan suka.”

“Tapi aku selalu menyukai Irlandia,” desah Hye-Na.

“Itu hanya karena Eomma malas bangun pagi, ‘kan?” ejek Dae-Hyun. “Matahari Irlandia hampir selalu terbit lewat pukul delapan pagi.”

Hye-Na tersenyum sok polos dan meraih cangkir kopinya.

“Ibumu selalu bilang ingin menetap di County Wicklow dan menjadikan Wicklow Mountains National Park sebagai halaman rumahnya,” ujar Kyuhyun.

“Tempat itu memang sangat indah, apalagi untuk menghabiskan masa tua. Bersenang-senang setiap hari, tanpa perlu memikirkan apa-apa. Kalian bisa menyerahkan semuanya pada Dae-Hyun Oppa. Dia akan mengurusnya untuk kalian,” kata Ji-Hyun, diikuti pelototan dari suaminya.

“Hei hei, yang benar saja! Kau mau aku jadi workaholic?”

“Menjadi sedikit workaholic tidak masalah. Itu akan baik untukmu, daripada kau kabur dari kantor setiap siang untuk mengganggu Kang-Yoon. Dia terus mengeluh padaku.”

“Memangnya apa yang dilakukan ayahmu, Yoon?” tanya Hye-Na penasaran.

“Aku selalu memasakkan makan siang untukku dan Eomma, tapi Appa selalu saja datang dan menghabiskan semuanya, bahkan sebelum aku bisa menatanya ke piring. Appa benar-benar tidak berperasaan.”

“Aku senang kau akhirnya mendapatkan karma.” Kyuhyun tersenyum puas pada Dae-Hyun.

“Karma apa?”

“Dimusuhi anakmu.”

“Kalian berdua memang kekanak-kanakan,” dengus Hye-Na.

“Omong-omong, Eomma cantik sekali hari ini. Umurmu sudah bertambah, tapi kau masih saja memesona.” Dae-Hyun menoleh ke arah istrinya. “Ji-Hyun~a, kau sebaiknya menua seperti ibuku. Jangan sampai kau keriput seperti Nuna. Umurnya bahkan belum 30.”

“Aku tidak akan terpancing, adikku sayang.” Hyun-Ah tersenyum. “Selama suamiku masih memujiku cantik, aku tidak peduli separah apa pun ejekanmu padaku.”

Hyung hanya mencoba bersikap sopan saja. Kau kan kalau marah bisa lebih sadis daripada Eomma. Hyung harus menyelamatkan wajah tampannya agar tidak babak belur.” Dae-Hyun berusaha mengadu domba. “Percayalah, aku ini laki-laki. Aku tahu apa yang setiap laki-laki pikirkan.”

“Oh ya? Aku tidak yakin kau bisa membaca pikiranku,” timpal Kyuhyun.

“Percayalah, Appa, aku tahu. Kau pikir kenapa aku membiarkan Eomma tetap bersamamu? Semenyebalkan apa pun kau, kau mencintai Eomma, dan aku menghargainya.”

“Tumben kau sok dewasa.”

“Aku sudah 26 tahun, kalau kau belum lupa.”

“Itu gaun baru kan, Eomma? Akhirnya Appa membelikanmu sesuatu juga,” ujar Hyun-Ah, mengabaikan satu pria tua dan satu pria sok tua yang selalu saja cekcok tanpa henti itu.

“Aku selalu berniat membelikannya sesuatu, tapi kau tahu ibumu itu seleranya tidak pernah normal.”

“Karena kalian membahasnya, mana hadiah untukku?” Hye-Na menadahkan tangan, menagih hadiah ulang tahunnya.

“Hadiah kami akan dikirim nanti. Eomma tunggu saja.”

“Aku punya hadiah untuk Granny!” Lee Hwan, yang dari tadi diam karena sibuk menghabiskan makanannya plus semangkuk besar es krim, akhirnya angkat bicara.

“Oh, tidak lagi!” ucap Hye-Na dengan raut wajah ngeri.

“Tenang saja, Granny, aku tidak akan memberimu cacing lagi. Tidak baik memberikan hadiah yang sama setiap tahun.”

“Jangan mengusili Granny-mu lagi, Hwan,” kata Daniel memperingatkan saat anaknya menyodorkan sebuah kotak kepada neneknya yang melirik cucunya itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Hye-Na mengambil kotak itu, melepaskan pitanya dengan hati-hati sambil berdoa agar tidak ada hal membahayakan yang harus dihadapinya saat penutup kotak itu terbuka.

“HWAN!” teriaknya.

“Namanya Petite—Mungil. Cantik kan, Granny?”

Ya, binatang itu memang terhitung kecil, tapi tetap saja itu adalah seekor KADAL yang menjijikkan!

Granny tidak suka binatang, Hwan. Sudah berapa kali Granny bilang padamu?” keluh Hye-Na, mengucapkan terima kasih pada Dae-Hyun yang dengan cekatan menjauhkan hewan itu darinya.

“Maaf, Granny.” Hanya dalam ucapan saja, karena anak itu malah menyengir lebar, senang karena rencananya berhasil, terutama saat kakeknya menyodorkan telapak tangan, mengajak tos.

“Merengut seperti itu hanya akan menambah keriputmu, Granny,” sambung Kyuhyun dengan mata mengedip, membuat Hye-Na ingin sekali melempari pria itu dengan sesuatu.

***

Wicklow Mountains National Park

“Ini musim panas dan angin di sini masih saja membuatku beku.”

Kyuhyun tidak menjawab, hanya menyodorkan kardigannya pada wanita itu.

“Kau tidak akan melakukan sesuatu seperti ini 20 atau 30 tahun yang lalu.”

“Memang tidak.” Pria itu menjawab santai. “Sekarang aku tidak akan memikirkan gengsiku lagi dan tidak perlu memesonamu setiap saat agar kau tidak lari. Kita sudah tua, kau tidak akan ke mana-mana.”

“Bahkan dulu pun aku tidak punya rencana untuk meninggalkanmu. Kau saja yang terlalu paranoid.”

Hye-Na menghirup napas dalam-dalam. Ada bau manis padang bunga dan bau segar udara Irlandia yang tanpa polusi, membuatnya berpikir bahwa dia benar-benar bisa menghabiskan hidupnya di sini, di tempat ini. Di tengah alam yang mengagumkan ini. Berjalan kaki setiap pagi sembari menunggu matahari terbit atau duduk di antara semak ilalang, menikmati senja.

Dia telah mencapai tujuan akhir hidupnya yang sederhana. Menghabiskan masa tua bersama pria di sampingnya, yang kini sepenuhnya sudah menjadi miliknya. Dan pria itu juga telah memenuhi janji yang dia buat puluhan tahun yang lalu, tentang mmbuatnya bahagia suatu saat nanti. Dan saat itu akhirnya tiba juga. Pria itu tidak pernah melanggar janjinya.

“Apa kau sudah lelah, Na~ya?”

Hye-Na menoleh, tahu bahwa yang dimaksudkan pria itu bukanlah kondisinya saat ini.

“Ya?”

“Kita hidup dari hotel ke hotel selama dua tahun terakhir. Rumah kita di Korea juga sudah ditinggali Dae-Hyun. Aku berpikir… setelah semua ini selesai, apakah kau ingin menetap? Di suatu tempat? Rumah?”

“Tentu saja. Kita tidak mungkin terus menerus berkelana, ‘kan?”

Kyuhyun memasukkan tangannya ke dalam celana dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kepada bukit-bukit hijau, semak-semak bunga beraneka warna yang didominasi warna ungu muda, dan langit biru cerah yang nyaris tanpa awan di atas mereka.

“Apa kau ingin menetap di sini? Memiliki rumah di tempat ini?” tanyanya.

“Kau tahu semua mimpiku, Kyu. Masih perlu bertanya?”

“Hanya memastikan.” Pria itu tersenyum, mengulurkan tangan. “Ada yang ingin kuperlihatkan padamu.”

***

Tempat itu seperti pondok-pondok yang hanya bisa kau temui dalam cerita para putri. Sebuah rumah dari kayu. Terletak di ujung jalan setapak dan sepenuhnya berwarna putih sehingga tampak menyilaukan mata. Sisi jalan masuk yang berkerikil dipenuhi rumpun bunga, pepohonan, dan pagar kayu yang cantik. Dan dia tidak bisa mengalihkan pandangan sama sekali dari rumah itu, terutama saat melihat jendela di bagian atap, yang berarti ada ruangan di sana—dan besar kemungkinan itu kamar mereka.

Cottage tersebut mungil, bahkan tidak lebih besar dari lantai satu rumah mereka di Korea, tapi dia sadar bahwa Kyuhyun melakukan ini untuknya. Pria itu tahu dengan jelas tempat seperti apa yang ingin dihuninya saat mereka hanya tinggal berdua. Hanya akan menikmati waktu bersama berdua saja.

Mereka mengitari rumah itu, melewati ruangan-ruangan indah yang bernuansa warna sama, sebelum akhirnya berhenti di ruangan terakhir yang tersambung ke pintu menuju halaman belakang, berupa padang rumput luas berikut petak-petak bunga liar berwarna merah muda yang berbatasan dengan hutan pinus di kejauhan.

Ruangan itu adalah ruangan paling indah dari semuanya. Sebuah ruang makan bersama, didominasi warna putih, cokelat, hijau, dan pink pupus. Ada pohon jeruk kecil di sudut dan sederetan pot lain yang disusun berderet di sepanjang meja di dekat jendela kaca. Lampu-lampu berbentuk kelopak bunga bergelantungan di langit-langit yang rendah dan ruangan tersebut dipenuhi aroma mawar yang baru mekar.

“Aku yang mendesain, membangun, dan menata rumah ini. Dae-Hyun dan Daniel yang membeli semua perabotannya. Dan ruangan ini adalah hasil kerja Hyun-Ah dan Ji-Hyun karena kau pernah bilang ingin memiliki ruang makan di dalam rumah kaca.”

“Karena itukah kau sering menghilang dan meninggalkanku sendirian akhir-akhir ini?”

Kyuhyun tersenyum dan menyentuh pipi wanita itu dengan buku-buku jarinya.

“Kau suka?” Dia bertanya, menatap wanita tersebut tepat di manik mata.

Hye-Na balas menatap pria itu, menatap mata berwarna cokelat gelap itu, menatap wajah yang masih tampak tampan itu, dan dia membiarkan kalimat di kepalanya meluncur keluar begitu saja.

“Aku kadang masih jatuh cinta padamu, kau tahu?”

“Ya, aku tahu.”

Hye-Na memutar bola mata.

“Kau sering melihatku sekilas, lalu berhenti untuk memandangiku lebih lama. Dan aku melihat ekspresi yang sama di wajahmu, persis seperti ekspresiku saat aku juga jatuh cinta padamu lagi, setidaknya satu kali sehari. Entah dengan alasan yang sama atau berbeda.”

“Hari ini?”

“Hmm…,” Kyuhyun bergumam, “karena hari ini kau berusia 53 dan kita masih tetap bersama?”

Hye-Na mengedip. “Boleh juga.”

“Hei,” bisik pria itu, menangkup kedua sisi wajah wanitanya dengan telapak tangan, “aku tahu kau tidak menyukai pertambahan usiamu, rambut putih di kepalamu, keriput di wajahmu, atau kulitmu yang mulai mengendur. Kau boleh tidak menyukainya, karena akulah yang akan melakukannya untukmu. Tugasmu hanya satu: merasa bahagia. Agar aku bisa menepati janjiku padamu dulu. Jadi… Nyonya Cho… selamat ulang tahun.” Pria itu tersenyum. “Apa kau bahagia?”

Hye-Na mengangguk kuat-kuat.

“Hmm… finally I can say this.” Pria itu mendesahkan kalimatnya, bergerak maju untuk menyentuhkan bibir di puncak kepala wanita itu, tersenyum puas.

“What?”

“That we are home.” Dia menunduk dan kali ini mengecup kening Hye-Na. “That we are finally home.”

***

 

 

KYUNA’S FUTURE HOME

 

 

cottage exterior

 

cottage living room white hardwood wood floors sectional sofa slipcover trunk coffee table

 

cottage sunroom

 

kitchen subway tile backsplash pot rack island

 

cottage eat in kitchen dining room white wood hardwood floors floor

 

bedroom a frame pitched celing

 

dining room atrium sunroom glass ceiling table chairs