3

 

 

Orang bilang, semakin banyak kau mendapatkan, akan semakin banyak pula kau harus melepaskan. Semakin kau bahagia, semakin besar pula kemalangan yang akan datang kemudian.

Saat itu pagi buta. Saat dia kehilangan hampir segala hal dalam hidupnya. Hampir, karena masih ada satu lagi yang tersisa. Karena Tuhan mungkin masih sedikit berbelas kasihan padanya.

***

 

Incheon Airport

Kyuhyun memasuki mobil van diikuti para member lain yang hanya saling pandang, menghapus semua senyum yang tadi mereka perlihatkan di luar. Suasana seketika mencekam dan masing-masing dari mereka meraih jas lengkap yang sudah disediakan, berganti pakaian dalam diam.

Kyuhyun melepas kaus yang dipakainya, memakai kemeja putih bersih yang disodorkan, melapisinya dengan jas hitam, dan mengenakan celana kain berwarna sama. Biasanya dia tidak akan pernah bersedia berganti pakaian dengan cara seperti ini, tapi keadaannya begitu mendesak.

Dia menarik napas, berusaha melakukannya tanpa suara, tapi tetap saja helaan yang keluar saat dia mengembuskan karbon dioksida terdengar begitu keras di dalam mobil yang hening. Dia mengusap wajahnya, merasakan tetesan basah di matanya yang sudah memerah, yang kali ini tidak lagi dia tahan lajunya. Dan tidak ada satu orang pun yang mengejeknya cengeng. Bahkan tidak seorang pun mengeluarkan komentar. Berita itu terlalu mengejutkan. Bahkan untuknya, yang biasanya paling sulit mengeluarkan air mata.

Lagi. Dia tidak ada di sana. Dia tidak ada di sana untuk mendampingi istrinya di saat paling sulit yang bisa diderita seorang manusia. Dia melanggar janjinya, sumpah pernikahannya, entah untuk yang keberapa kalinya. Dia kembali menjadi bajingan, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Bahkan tidak dirinya sendiri.

“Hye-Na berpesan, agar kau tidak usah datang ke pemakaman.” Manajernya membuka suara, dan kalimat yang terlontar keluar itu menyayatnya dalam-dalam. Seolah luka sebelumnya masih belum cukup menyakitkan.

Dia hanya mengangguk, mengalihkan pandangan ke luar jendela yang dipasangi kaca gelap. Tangannya tergeletak di pangkuan, saling bertaut tanpa tenaga, dengan jari-jari yang tampak gemetar. Mungkin dia bisa sedikit bersyukur karena larangan datang yang diberlakukan istrinya? Setidaknya dia bisa menenangkan diri dulu sebelum mereka bertemu. Harus dia yang berkepala dingin di sini, harus dia yang menjadi si kuat di sini, agar dia bisa menawarkan penghiburan nantinya. Karena hanya hal-hal remeh seperti itulah yang bisa dia berikan pada istrinya. Pada istrinya yang baru saja kehilangan segalanya.

“Kyu? Mau kubantu memasangkan dasimu?” Sungmin bertanya, hati-hati, takut mengganggunya. Dan dia bahkan tidak sadar bahwa ada dasi yang harus dia kenakan.

Dia mengangguk sekenanya dan melirik sekilas, melihat bahwa Donghae diam-diam mengusap sudut matanya, mungkin teringat akan ayahnya yang sudah lama meninggal. Melihat Eunhyuk yang biasanya tidak bisa diam, kini hanya duduk dengan kepala tertunduk. Dan member lain yang juga tidak bersuara, tampak tegang dengan caranya masing-masing.

Dia kembali memalingkan muka. Bukan mereka yang kehilangan, bukan juga dia. Tapi mereka semua memperlihatkan raut wajah seperti ini. Yang membuatnya tidak bisa membayangkan, dan bergulat dengan ketakutan, bertanya-tanya akan seperti apakah wajah istrinya nanti. Karena jika dia melihat kehancuran wanita itu, maka kehancurannya akan menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan lagi. Yang juga akan membuatnya berada pada posisi yang sama. Bahwa dia… juga ikut kehilangan segalanya….

 

***

 

The Funeral

 

Tidak semua orang pernah merasakan menjadi miskin. Tidak semua orang pernah merasakan bagaimana menderitanya bekerja keras untuk mendapatkan uang. Tidak semua orang pernah patah hati, tidak semua orang pernah terkhianati.

Tapi setiap orang pernah kehilangan. Setiap orang pernah harus melepaskan orang-orang yang paling berharga dalam hidup mereka. Lahir, hidup, kemudian mati. Siklus terus-menerus yang tidak pernah berhenti. Setiap orang saling menyaksikan bagaimana yang lain terlahir, lalu bagaimana yang lainnya harus mati. Seperti yang dialaminya kini.

Ibunya meninggal setelah berhari-hari dirawat di rumah sakit. Kejam memang, tapi dia rasa-rasanya lebih lega jika kemudian ibunya meninggal, dan tidak perlu lebih lama lagi menderita. Dia menerimanya. Setidaknya dia berusaha memahaminya. Bencana yang kemudian mengikuti kehilangan itulah yang tidak bisa diterimanya. Bahwa ayahnya yang sedang tergesa-gesa dalam perjalanan ke rumah sakit, mengemudi mobilnya sendiri, harus mengalami kecelakaan dan ikut meninggal. Satu saja sudah menyakitkan, tapi dua menjadi tidak tertahankan.

Apakah dia terlalu banyak bahagia sehingga harus menerima karmanya? Mungkin saja. Hidupnya tidak pernah kesusahan. Dan dia menikah dengan salah satu pria yang paling diinginkan wanita di muka bumi. Pria yang mencintai dan dicintainya setengah mati. Karena itukah dia harus melepaskan kedua orangtuanya secara bersamaan secepat ini untuk membuktikan bahwa tidak ada satu orang pun manusia yang bisa terlepas dari ketidakbahagiaan? Dia… masih mencoba untuk memahami yang satu ini.

Dia menatap satu gundukan tanah besar yang masih basah di depannya, sisa dari gerimis tadi pagi. Dia menunduk dan mengerjap, tidak nyaman dengan kilatan blitz yang menyilaukan, tapi dia diam saja.

Dia tidak pernah melihat wartawan sebanyak ini, yang datang berduyun-duyun untuk meliput, dan sepenuhnya memusatkan perhatian padanya. Bukan karena dia istri seorang Cho Kyuhyun—mereka seharusnya tidak tahu. Tapi karena dia adalah anak seorang Han Seuk-Gil, salah satu pengusaha paling sukses dan terkenal di Korea, bahkan dunia. Dan dialah yang kini akan diburu, sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dibangun ayahnya selama berpuluh-puluh tahun.

Dia bukan saja masih sesak dengan kehilangan yang tiba-tiba, tapi juga disergap ketakutan tentang masa depan yang mendadak ditimpakan padanya. Dia tidak tahu apa-apa, buta sepenuhnya terhadap bisnis yang digeluti ayahnya, dan sekarang… hidup ratusan ribu orang berada di tangannya yang kini tampak gemetaran, tanpa kekuatan apa-apa. Bersyukurlah bahwa dia tidak memutuskan untuk menjadi gila.

Dia mau-mau saja menjatuhkan diri ke tanah, menangis meraung-raung dan menolak pergi ke mana-mana. Tapi yang dirasakannya sekarang hanya rasa kebas dan mati rasa. Dia tidak lagi terisak-isak seperti yang dilakukannya ketika sampai di rumah sakit pagi tadi. Dia bahkan tersenyum dan memberi anggukan sekenanya pada orang-orang yang datang menjenguk, yang jumlahnya sepertinya mencapai ribuan. Kepalanya terasa kosong setelah sebelumnya didera rasa nyeri dengan denyut menyakitkan sepanjang perjalanan ke pemakaman tadi. Otaknya tidak lagi memproses apa-apa.

“Hye-Na~ya, kita pulang ya?”

Dia mendengar suara Ah-Ra, yang kemudian merangkulnya dari samping dan menariknya agar berjalan keluar dari area pemakaman.

Tadi dia menyuruh agar kakak ipar dan mertuanya tidak usah ikut, karena kehadiran mereka mungkin akan mencurigakan. Tapi tidak seorang pun dari mereka mau mendengarkannya. Mereka terus saja berada di sampingnya, menggantikannya menjawab pertanyaan orang-orang yang ingin tahu, begitu memahami karakternya sehingga memutuskan bahwa mereka tidak akan membiarkan seorang pun mengganggunya dengan hal-hal yang tidak perlu.

Dia masuk ke dalam mobil, duduk di dekat jendela dan akhirnya bisa bernapas lega. Mereka akan pulang. Pulang. Ke tempat di mana seseorang mungkin sudah menunggunya dan akan membiarkannya mengeluarkan segalanya. Kelemahannya. Tangisnya.

Pulang… akan selalu menjadi kata favoritnya.

 

***

 

Han Family’s Home, Gangnam

 

Dia disambut oleh rekan satu tim suaminya, yang juga menjadi teman-teman terdekatnya, yang seringkali meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Mereka menunggunya, bergantian memberinya pelukan menenangkan, tanpa mengatakan kalimat peenghiburan yang tidak disukainya. Bersabarlah, lanjutkan hidup, relakan kepergian orangtuamu. Klise. Dia tidak perlu lagi diberi tahu. Dia tidak suka disuruh-suruh, terutama oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.

Tapi betapa pun menyenangkannya, sikap mereka semua disadarinya cukup aneh. Mana mungkin para member Super Junior ini tahan untuk tidak mengucapkan apa-apa? Pastilah itu semua berkat ancaman dari suaminya.

Karena itulah kakinya semakin tidak sabar untuk beranjak. Bergegas menuju ke ruangan pribadinya yang terletak di bagian timur rumah.

Dia mengucapkan terima kasih dan memohon pamit, meremas-remas tangannya selagi langkah kaki membawanya ke tempat yang ditujunya. Dia sedikit menggigil. Mungkin karena suhu ruangan. Atau mungkin rasa antisipasi yang menggerogotinya.

Dia berhenti di depan pintu. Meraih gagangnya dan mendorongnya sampai terbuka. Dan di sanalah pria itu. Berdiri membelakanginya, perlahan berbalik, dalam setelan jas resminya yang sempurna. Dengan wajah yang tampak pucat dan mata yang memerah.

Tapi senyum itulah yang mengalahkan semuanya. Senyum itulah yang membuat degup jantungnya mereda dan memelan sampai ke batas normal. Dan sapaan santai yang diucapkan bibir pria itu kemudian membuatnya tersadar, bahwa mungkin saja dia kehilangan banyak hal, tapi masih ada satu hal yang tidak akan pernah berubah dan menjadi berbeda dari biasa. Pria itu akan tetap ada di sana. Menjadi satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Menjadi satu-satunya pendukung dan sandaran baginya.

“Hai.”

Dan dia merasa… mungkin hidupnya masih baik-baik saja. Selagi pria itu ada.

***

 

Pria itu mendengar suara derit pintu yang terbuka, perlahan membalikkan tubuh, dan menyapukan mata memandangi istrinya dari atas ke bawah.

Tubuh gadis itu dibalut hanbok hitam lengan panjang semata kaki, dan rambutnya yang hanya diikat ala kadarnya tampak sudah berantakan karena angin yang berembus di luar. Masih saja terlihat cantik meski rona sudah menghilang dari wajahnya, dengan mata yang tampak bengkak dan sembab, dan bibir yang memerah karena terlalu sering digigiti.

“Hai,” sapanya. Dan gadis itu membalasnya dengan senyum tipis yang tampak gugup, yang entah bagaimana membuatnya meringis, tahu bagaimana gadis itu berusaha menyembunyikan banyak hal di balik topeng aku-tidak-apa-apa-nya yang tak bercela.

“Kau bilang,” ujar gadis itu dengan suara serak, “bahwa aku hanya boleh memperlihatkan kelemahanku padamu saja. Ya, ‘kan?”

Dia mengangguk.

“Bolehkah aku melakukannya sekarang? Aku nyaris berlari ke sini karena sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”

Dan baru saja gadis tersebut menyelesaikan ucapannya, bahunya sudah berguncang, seiring dengan isakan yang kemudian lolos dari bibirnya.

Dia bisa saja berdiri saja di tempatnya—dia ingin sekali melakukannya. Sebagian karena dia begitu ketakutan karena tidak pernah melihat istrinya menangis sesenggukan sampai seperti itu, sebagian karena dia tidak yakin mampu bersikap tenang sedangkan wanitanya terlihat begitu rapuh, nyaris pecah. Tapi dia memaksakan diri untuk melangkah menghampiri, lalu menarik gadis itu dengan hati-hati ke dalam dekapannya, tanpa berkata apa-apa, dengan tangan yang mengusap lembut punggung gadis tersebut dalam gerakan naik-turun yang menenangkan.

Dia berusaha, di menit-menit pertama, tapi kemudian pertahanannya luruh dan dia mengizinkan dirinya untuk kembali meneteskan air mata, menangisi kehilangan gadis itu, menangisi kepergian dua orang yang sudah menjadi orangtua keduanya selama bertahun-tahun.

Dia menggigit bibir kuat-kuat ketika jemari gadis itu mencengkeram bagian siku jasnya, dengan susah-payah menarik napas di antara isak tangisnya yang menyayat. Dan dia masih tidak berkata apa-apa, tidak menyuruh gadis itu tenang, tidak mengucapkan kata penghiburan. Karena seperti inilah caranya menjadi sandaran bagi gadis itu. Dia hanya melonggarkan sedikit pelukannya, agar setidaknya gadis itu bisa bernapas dengan lebih leluasa. Dia hanya menggunakan tangan kirinya untuk mengelus bagian belakang kepala gadis tersebut, dengan cara yang sama seperti yang dilakukan tangan kanannya pada punggung gadis itu.

“Berapa harga kemejamu?” tanya gadis itu tiba-tiba. “Sepertinya aku membuatnya kotor. Kau mungkin harus membuangnya setelah ini.”

“Seratus ribu won mungkin?” ucapnya tak acuh. “Siapa yang peduli?”

Dan dia tersenyum. Ya. Benar. Seperti inilah gadis yang dicintainya. Dengan mati-matian.

***

 

“Aku akan banyak merepotkanmu setelah ini. Kau akan menjadi satu-satunya tempatku bergantung. Keberatan?”

Mereka duduk berdampingan di pinggir ranjang, menghadap ke pintu balkon menuju taman samping yang terbuka, yang menyajikan pemandangan jejeran pohon pinus dan semak bunga yang baru mekar.

Gadis itu bersandar ke sisi tubuhnya dan tangannya sendiri melingkar di pinggang gadis itu. Bukan kelakuan normal mereka memang, tapi tidak ada yang melontarkan ejekan.

“Boleh saja. Asalkan kau membiarkanku mengucapkan satu permintaan.”

“Apa?”

“Hmm… lebih baik kau mendengar permintaan maafku dulu.”

“Untuk?”

Pria itu menahan serbuan rasa marah yang ingin dihamburkannya pada gadis itu. Kesalahannya begitu banyak, begitu besar, dan banyak di antaranya yang tidak termaafkan, dan gadis ini masih bertanya kenapa? Sialan! Belum cukupkah dia menjadi bajingan?

Dia beringsut, agar bisa langsung menatap gadis itu. Agar bisa mengungkapkan permintaan maafnya dengan pantas. Gadis itu harus bersedia mendengarkannya.

“Maaf,” ucapnya, dengan gigi bergemeretak, “karena tidak bisa menjadi salah satu orang yang mengangkat peti jenazah orangtuamu.”

Gadis itu mengerjap, jelas tidak menyangka akan mendengar permintaan maaf semacam ini darinya.

“Maaf, karena bahkan setelah ini, aku juga tidak bisa menemanimu setiap hari atau tidur di sampingmu setiap malam. Maaf, karena tidak semua waktuku tersedia khusus untukmu saja. Maaf, karena mungkin aku akan banyak tertawa tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu atau betapa berkabungnya kau selama berminggu-minggu ke depan. Maaf, karena suami semacam inilah yang ternyata kau dapatkan.”

“Aku melihatmu hancur hari ini, dan maaf, aku tidak yakin sanggup melihatmu seperti ini lagi. Bagaimana jika… bagaimana jika aku yang meninggal lebih dulu? Apa yang akan terjadi padamu?” Dia mendesah. “Dan maaf, karena aku tidak mungkin meminta Tuhan untuk membuatmu mati duluan supaya kau tidak perlu kehilangan aku dan menangis seperti ini sendirian.”

Dia bangkit dari ranjang, berdiri di depan gadis itu, lalu menekuk satu kakinya di lantai, dan melakukan hal yang sama dengan kakinya yang lain sampai dia berlutut sepenuhnya di depan gadis itu, meraup tangan gadis tersebut ke dalam genggamannya yang masih saja gemetar.

“Karena itu… aku hanya bisa meminta satu hal saja. Darimu,” ujarnya.

“Na~ya… bisakah kau… bersediakah kau… menjadikanku satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi dalam hidupmu ke depan?” Dia bertanya, lirih, seolah tidak yakin dengan jawaban apa yang akan diberikan gadis itu. “Sekali kau mengiyakan, tidak ada lagi jalan kembali. Satu-satunya cara kau bisa lepas dariku hanya jika aku atau kau meninggal terlebih dahulu. Seperti yang aku bilang dulu, aku akan membuat hidupmu sulit. Kau akan banyak menangis karena aku. Tapi aku juga menjanjikanmu hal lain. Bahwa nanti… entah kapan… aku pasti akan membuatmu bahagia.”

Dia menatap gadis itu lekat. Dan gadis itu selalu membalasnya dengan jenis tatapan yang sama, bahkan sekarang. Yang selama ini selalu menjaminnya untuk menjadi bahagia. Menjadikannya baik-baik saja.

“Jadi… hancurlah…,” bisiknya. “Dan aku pasti akan menyempurnakanmu kembali.” Dia memantapkan genggamannya, dan gadis itu ikut memberi tekanan pada tautan jari-jari mereka. “Keberatan?”

***