1911833_627148857355498_1651123516_n

 

 

Credit Photo: Laila Nifi

 

Super Junior’s Dorm

“Ada apa dengan Hye-Na? Dia salah makan, ya?” tanya Donghae bingung setelah melihat gadis itu menoleh dari layar TV yang menayangkan pertarungan tidak seimbang antara gadis tersebut dan Ryeowook—jelas saja bahwa Ryeowook adalah pihak yang sedang mengalami kekalahan—dan melayangkan senyum terlalu manis ke arah Kyuhyun yang hanya terkekeh geli dengan kelakuan absurd istrinya itu. Gadis itu bertaruh dengan Ryeowook, bahwa jika dia kalah, dia akan bersedia disekap pria itu di dapur untuk dijadikan ibu rumah tangga yang baik, dan sebaliknya, jika dia menang, Ryeowook harus memasakkan apa pun yang dia inginkan selama satu minggu. Dan meskipun tahu bahwa kemampuan bermain game-nya jauh di bawah gadis tersebut, pria itu tetap saja berusaha keras untuk mewujudkan keinginannya mendidik istri magnae mereka itu menjadi seorang wanita yang sebenarnya.
“Benar. Dia kenapa? Dia selalu datang dua hari terakhir untuk menonton penampilan kita, berteriak histeris memanggil namamu, cengengesan tidak jelas, dan memandangimu seolah kau adalah pria tertampan di dunia.” Eunhyuk bergabung dalam percakapan, membawa gelas berisi air putihnya, lalu duduk di samping Donghae, di meja makan yang menyajikan pemandangan jelas ke ruang TV. Dan mereka sengaja berbicara dengan suara rendah agar pembicaraan mereka tidak terdengar sampai ke telinga gadis yang menjadi topik kali ini. “Sejak kapan dia jadi aneh begitu? Aku nyaris menggigil ketakutan. Itu pengalaman mengerikan, kau tahu? Melihat istrimu seperti itu.”
Kyuhyun mengangkat bahu, dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya.
“Sejak aku memotong rambutku. Seharusnya aku melakukannya lebih cepat. Ya, kan? Dia mendadak saja jadi jinak. Dan berhenti menyebut-nyebut nama pria lain di depanku,” ucap pria itu dengan seringai puas.
“Apa saja yang terjadi?” Donghae beringsut, mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun dengan raut wajah penasaran. “Ayo cerita. Ini bisa jadi sejarah menggemparkan.”
Eunhyuk mengangguk setuju, dan Sungmin yang sedari tadi hanya diam sambil mengunyah makanannya ikut menoleh ingin tahu.
“Awalnya hari itu, sehabis aku potong rambut, pulang, dan dia baru selesai menonton Radio Star. Episode saat SNSD jadi bintang tamu. Dia memandangiku sambil tersenyum-senyum seperti orang tidak waras. Dan aku harus setuju dengan kalian, dengan ekspresi seperti itu dia terlihat sangat menakutkan, sekaligus mencurigakan. Dia bilang itu karena dia senang melihat ekspresi panikku dan penjelasan-penjelasan yang kukemukakan tentang skandalku dan Seohyun. Masalah ciuman itu.”
“Yah, kau kelihatan sedikit lepas kendali. Seharusnya kau kan tenang saja. Berapi-api seperti itu malah membuat orang semakin curiga bahwa ada apa-apa tentang kau dan Seohyun,” timpal Sungmin. “Semakin keras kau menyangkal, semakin senanglah mereka.”
Kyuhyun merengut. “Yang ada di pikiranku waktu itu hanya perasaan Hye-Na. Dia selalu terlihat emosi kalau menyangkut Seohyun. Aku benar-benar ingin memberi klarifikasi, untuk membuatnya senang. Dan dia memang senang, kan? Jadi persetan dengan pendapat orang.”
“Bagaimana dengan Taeyeon?” sambar Eunhyuk, diikuti oleh anggukan dari Donghae. “Kau kelihatan bahagia sekali saat menyebut bahwa dia adalah istri idamanmu. Mungil, cantik, muda. Aku kira biasanya kau sibuk berkoar ke sana kemari bahwa tipe idealmu di SNSD adalah Seohyun.”
“Mengenai Seohyun, aku kan hanya mengikuti perintah,” dengus Kyuhyun kesal.
“Alasannya karena Taeyeon itu seperti kembaran Hye-Na,” tukas Sungmin, yang langsung mendapat pelototan dari Kyuhyun. “Kalian kan juga sering bilang bahwa mereka berdua mirip. Jadi, dengan Kyuhyun menyebutkan nama Taeyeon, sama saja dengan dia menyebutkan nama Hye-Na secara tersirat.”
“Ckckck,” geleng Eunhyuk. “Kau benar-benar bertekuk lutut di kaki istrimu, ya?”
“Memangnya tidak boleh?” sahut Kyuhyun jengah.
“Kudengar Hye-Na juga ikut saat kau berlibur dengan Changmin. Tumben sekali, biasanya apa pun yang kau iming-imingkan kepadanya dia nyaris tidak mau beranjak dari rumah. Apa itu gara-gara rambutmu juga?”
Kyuhyun mengangguk. “Aku mengajaknya, sekadar basa-basi, karena dia biasanya juga menolak. Tapi kali ini dia bahkan sampai menawarkan diri menjadi fotografer kami. Dan kalian tahu, dia bilang dia akan mengikutiku ke mana pun aku pergi. Dengan kalimat yang persis seperti itu. Entah setan di tubuhnya sudah kabur atau bagaimana, aku benar-benar tidak mengerti.”
Eunhyuk, Donghae, dan Sungmin kontan melongo.
“Ke mana pun kau pergi? Bagaimana kalau ke neraka? Dia juga mau ikut?”
Kyuhyun mengedikkan dagu ke arah ruang TV. “Tanya saja padanya.”
“Oi, Hye-Na~ya, kalau Kyuhyun masuk neraka, kau mau ikut tidak?” teriak Eunhyuk.
Gadis itu menoleh, mem-pause permainannya, dan menatap bingung, tapi tetap saja menjawab, dengan kalimat yang membuat semua orang nyaris terkena stroke. “Tentu saja. Aku tidak mau pergi ke mana-mana tanpanya.”
“Lihat, kan?” Ekspresi Kyuhyun tampak ngeri setelah mendengar pernyataan yang seharusnya terdengar romantis itu. “Apa menurut kalian aku harus memeriksakannya ke rumah sakit? Mungkin ada sesuatu yang bergeser di kepalanya.”
“Dia seperti kerasukan. Tidak mungkin hanya karena kau potong rambut!” Eunhyuk menolak percaya.
“Tapi memang karena itu. Lagi pula, kalian tidak tahu kan bahwa dia datang saat konferensi pers kita di Beijing? Dan itu hanya karena dia melihat foto-fotoku saat itu dari internet.”
“APA?”
“Yah, kalian akui sajalah, aku kan memang tampan sekali hari itu,” ujarnya narsis.
“Bagaimana… apa…,” ucap Donghae tergagap-gagap.
“Dengan pesawat jet pribadi ayahnya. Waktu itu aku mendapat kamar sendiri, kan? Dan saat sampai di hotel, dia sudah ada di sana. Andai saja kalian lihat caranya menatapku saat itu. Dia seperti ingin memakanku.” Kyuhyun tertawa. “Dia memang memakanku.”
“Apa-apaan itu?”
“Apa aku harus menceritakan rahasia rumah tanggaku juga?” gerutunya. “Tapi sepertinya boleh juga.”
“Apa? Dia menyerangmu?” tanya Eunhyuk penuh semangat.
“Memangnya apa lagi? Itu pertama kalinya. Astaga,” Kyuhyun menggelengkan kepala, “itu pasti pengalaman sekali seumur hidup. Aku tidak yakin dia akan lepas kontrol seperti itu lagi.”
“Apa yang terjadi? Cepat ceritakan padaku! Kau mau membuatku mati penasaran, ya?”
“Dia memanjat tubuhku—sudahlah, kau pikirkan saja sendiri.” Dan Kyuhyun tertawa keras melihat wajah kecewa Eunhyuk. Bahkan Donghae dan Sungmin pun ikut memperlihatkan raut yang sama.
“Baiklah, satu rahasia lagi. Itu kali pertama dia mau melakukan woman on top.” Kyuhyun mengerang pelan, mengacak rambutnya saat memori malam itu kembali melintas di kepalanya. “Dia pastilah wanita terseksi di dunia,” bisiknya, nyaris tidak terdengar.
Donghae mendesah iri. “Dia pasti sudah gila.”
“Memang.” Kyuhyun memandangi punggung istrinya dari tempatnya duduk, lalu tersenyum, dengan kebahagiaan yang jelas terpampang di wajah tampannya.”Dia tergila-gila padaku.”

***

Flashback…

March 22, 2014
Beijing, China

Kyuhyun memijat bagian belakang tengkuknya pelan, membuka pintu kamarnya setelah menggesekkan kartu, melepaskan sepatu, dan baru setengah jalan menanggalkan jasnya saat matanya menangkap sesosok gadis yang seharusnya sedang berada di Korea.
“Itu benar-benar kau?” tanyanya ragu-ragu. Karena bisa saja dia sedang berhalusinasi—dia cukup sering mengalaminya setiap kali harus pergi ke luar negeri untuk bekerja, lalu berakhir dengan merindukan gadis itu setengah mati.
Gadis itu tidak menjawab, hanya menatapnya, memandanginya dari atas ke bawah dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Bahkan lebih tampan daripada di foto,” gumam gadis itu tidak jelas, walaupun dia masih menangkap intinya.
“Ini kejutan atau—”
“Masalah besar,” bisik gadis itu. Tampak begitu depresi. “Kau menghambur-hamburkan pesonamu terlalu banyak hari ini,” lanjutnya. “Kurangi, tolong. Bukan hal menyenangkan mengetahui jutaan gadis di luar sana memandangimu seperti yang kulakukan sekarang. Dan mulai berpikiran yang tidak-tidak.”
Kyuhyun meloloskan tawa dari bibirnya. “Apa yang sedang kau bicarakan, Na~ya? Memangnya apa yang sedang aku pikirkan?”
Kyuhyun membuang jas yang sudah berhasil dilepasnya ke atas sofa lalu mulai melangkah mendekati gadis itu.
“Aku akan memberi tahumu setelah kau menjawab pertanyaanku. Dan jawabanku tergantung pada jawabanmu.”
“Baik.”
“Kau ingat kan bahwa aku pernah bilang kalau aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi?”
“Kau pikir aku bisa melupakan ucapanmu yang seperti itu?” ujarnya retoris.
“Ke mana tujuanmu sekarang, Kyu?”
Pria itu menghentikan langkah. Ada sesuatu yang terasa bergelenyar di perutnya. Otaknya mulai tercerai-berai. Begitu saja. Seperti setiap kali gadis itu mulai terlihat menggoda.
Rencana awalnya adalah beristirahat, memulihkan tenaga untuk konser nanti malam. Tapi dia tahu, bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk kembali segar selain bercinta dengan gadis itu. Dia seorang suami, bukan dosa besar untuk memikirkan hal itu saat istrinya berada dalam jangkauan. Begitu dekat. Dengan isyarat dan ajakan yang begitu jelas tersirat.
“Ranjang,” ucapnya pelan. Dia menarik napas lalu menatap gadis tersebut lekat-lekat. “Jadi, apa yang sedang kau pikirkan?”
Gadis itu memiringkan kepala, tersenyum, dan yang Kyuhyun tahu, sedetik kemudian gadis itu sudah berada dalam dekapannya, dengan kedua kaki yang melingkari pinggangnya, dan gigi yang menggesek bibir bawahnya, membuat hasratnya meledak dengan cepat. Sialan. Kelemahannya.
Hye-Na menggeser wajahnya, memosisikan bibirnya di dekat telinga pria itu, lalu berbisik serak, “Menanggalkan pakaianmu. Satu per satu.”

***

Hye-Na menggapai tangan Kyuhyun, menghentikan gerakan pria itu yang sedang berkutat dengan kancing depan kemeja yang dikenakannya.
“Biar aku saja,” ujarnya. Dan dengan gerakan yang begitu cepat, gadis itu sudah membalikkan tubuh Kyuhyun sampai pria itu terbaring di ranjang karena tidak siap. Dia menindih tubuh pria itu, mengangkat tubuhnya, dan memulai dari atas. Kecupan di kening, hidung, lumatan panas di bibir, dan gigitan kecil di leher, selagi tangannya dengan lihai meloloskan kancing kemeja pria tersebut dari lubangnya masing-masing.
“Astaga, apa yang sedang kau lakukan?” Pria itu nyaris saja mengerang saat jemari gadis tersebut mulai menyelinap ke balik celananya yang entah sejak kapan terbebas dari ikat pinggang, kancing, dan ritsleting. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui kemampuan istrinya yang satu ini?
“Melayanimu. Keberatan?”
“Sialan. Kau tidak berencana membuatku terkena serangan jantung, kan?”
“Tidak. Kau tidak boleh mati secepat itu. Lagi pula, lebih baik kau tutup saja mulutmu. Aku janji tidak akan mengecewakan, dan… kesempatan satu ini tidak datang dua kali, Cho Kyuhyun sayang.”
Tangan gadis itu bergerak, dan kepala Kyuhyun terempas ke ranjang. Sialan, demi Tuhan, gadis ini pasti tercipta untuk memuaskan pria. Beruntung saja karena dialah prianya. Dan jika bukan, pria lain itu pastilah sudah mati di tangannya.

***

Kyuhyun mengecup ujung hidung gadis itu, dan gadis yang berada di atas tubuhnya tersebut mengeluarkan suara cekikikan, jenis suara yang mustahil akan keluar dari mulutnya, sehingga Kyuhyun terpana dan menghentikan gerakannya.
“Apa itu?” tanyanya terkesima.
Hye-Na tergelak, menggeleng. Dia bahkan sedang tidak mengenal dirinya sendiri saat ini.
“Aku tidak percaya sudah melakukan ini semua. Mengejarmu kemari, menggodamu ke atas tempat tidur, melakukan hal-hal seliar itu pada tubuhmu. Hanya karena hari ini kau terlihat begitu tampan. Picik sekali, ya?”
Kyuhyun tertawa kecil, menyentuhkan hidungnya ke hidung gadis itu, lalu mencuri sebuah ciuman.
“Kau boleh bertingkah sepicik apa pun, dan aku tidak akan peduli.”
“Apa itu?” Hye-Na menirukan pertanyaan Kyuhyun tadi, membuat pria itu tersenyum.
“Karena aku sudah sampai pada tahap di mana… seburuk apa pun kelakuanmu, aku akan menerimanya begitu saja tanpa bertanya apa-apa.”
Gadis itu membelalakkan mata. “Astaga, itu benar-benar hebat.”
“Bukan berarti kau bisa selingkuh sana-sini, Na~ya,” ucapnya memperingatkan, membuat gadis itu merengut dan mengerucutkan bibir. “Tapi itu boleh juga, kalau pilihannya hanya antara aku membagimu dengan pria lain atau kau meninggalkanku. Aku bersedia berunding.”
“Itu kedengaran bodoh, Cho Kyuhyun.”
“Iya. Memang bodoh, kan? Tapi mau bagaimana lagi?”
“Sudahlah. Cara berpikirmu memang aneh. Aku tidak akan selingkuh. Untuk apa? Kau kan pria tertampan di dunia.”
“Apa?”
“Kau pikir untuk apa aku ke sini mengejar-ngejarmu seperti orang gila?” Gadis itu cepat-cepat menggeleng. “Aku memang sudah gila. Dan kaulah alasannya. Selalu menjadi satu-satunya alasan. Itu sedikit… membuatku merasa rentan,” keluhnya.
“Kenapa?”
“Karena aku terlalu mencintaimu. Dan kau memiliki bagian yang paling mudah hancur dari diriku.” Pernyataan cinta yang lain. Dan kali ini terasa lebih mudah. Karena mulai terbiasa. Karena mereka sudah berhenti bersikap kekanak-kanakan dan berusaha menjadi dewasa.
“Tapi aku juga memberikan hatiku padamu.” Kyuhyun berkata ringan, mengaitkan jari-jarinya di jemari Hye-Na dan menyentuhkan bibirnya di sana. “Dan kau tahu, seberapa banyak pun wanita yang pernah singgah dalam hidupnya, hati seorang pria hanya bisa dimiliki oleh satu orang wanita saja. Itu hukumnya, Na~ya,” bisiknya. “Kau boleh memiliki hatiku, dan menghancurkannya sesukamu. Tapi aku tidak akan melakukan hal yang sama pada hatimu.” Pria itu sedikit mendongak, melihat langsung ke mata gadis itu. “Aku bisa menjanjikanmu sebanyak itu. Dan kau tidak perlu menjanjikan apa-apa padaku. Sesederhana itu.”

***