285771_545959468758495_431585465_n

 

Credit Photo: Laela Nifi

 

 

Hye-Na menatap putus asa ke arah panci, berbagai jenis peralatan memasak, dan piring-piring kotor yang bertebaran di tempat cuci, kemudian ganti melirik ke konter dapur, tempat sesuatu berwarna cokelat—yang seharusnya berwujud tart itu—berada, lagi-lagi menghela napas. Semua ini benar-benar membuatnya depresi. Kalau saja bukan karena rasa bersalahnya, dia tidak akan mau berkutat di ruangan mengerikan ini, bergelut dengan bahan-bahan yang tidak dia mengerti, dan memaksanya harus belajar menghidupkan oven yang bahkan belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Dia teringat lagi kejadian belasan jam yang lalu, sesaat sebelum pria itu berangkat ke bandara untuk menghadiri acara fanmeeting yang diadakan di Manila. Yah, salahnya juga sebenarnya, tapi tetap saja pria itu terlalu berlebihan. Dia tidak keberatan dengan sikap posesif pria tersebut, bahkan menyukainya, tapi kali ini pria itu benar-benar cemburu pada hal yang tidak penting. Membuatnya panas saja.

Tapi karena hari ini adalah ulang tahun pria itu….

Dia mendesah, melirik jam, dan mendecak memandangi penampilannya yang kacau balau. Bagus, Cho Hye-Na, sambutlah suamimu pulang dengan tampang dan bau seperti ini.

Dia bahkan belum mandi.

***

The day before…

“What are you doing, woman?”

Gadis itu terlonjak, nyaris membuat kepalanya membentur dinding saat suara tajam itu memecah lamunan konyolnya. Dia melangkah mundur, merengut ke arah Kyuhyun yang menatap dingin, dengan marah yang tersembunyi di balik rahangnya yang mengatup erat, bibirnya yang menipis, dan warna matanya yang menggelap.

Kadang, dia menyesali keinginannya untuk membuat pria itu bisa lancar berbahasa Inggris. Bukan hanya kosakata pria itu yang semakin berkembang, tapi kemampuannya untuk mencaci sekaligus merayu semakin luar biasa, yang kadang hanya membuatnya hilang akal.

Menurutnya bahasa Inggris selalu terdengar seksi, terutama dengan aksen British yang kental, dan pria itu tampaknya berusaha keras untuk belajar, walaupun dengan sengaja menunjukkan kebodohan saat harus menunjukkan kemampuannya di depan publik. Pria itu berusaha untuknya dan hanya merasa perlu memperlihatkan kemajuan padanya saja. Itu cukup manis, jika mengabaikan kenyataan bahwa pria itu menguasai caci-maki dalam bahasa itu sebanyak dirinya. Juga fakta bahwa dia tidak bisa lagi menggunakan bahasa Inggris dengan santai untuk mengucapkan sesuatu yang dia tidak ingin pria itu dengar, karena sekarang pria itu sudah sangat paham.

“Aku hanya—”

“Pria itu lagi?” potong Kyuhyun, dengan tatapan sadis yang terpancang pada poster yang memenuhi seluruh dinding kamar di bagian kanan, nyaris membuat Hye-Na berpikir bahwa kalau saja tatapan bisa membakar, maka poster itu sudah hangus sekarang.

“Dia punya nama. Jamie Dornan,” desisnya sebagai balasan dan pria itu beralih memandang bengis ke arahnya.

“Kau….” Kyuhyun mengacak rambutnya gusar, lupa bahwa dia pulang untuk mengambil tas, bukannya berseteru dengan istrinya. Tapi bagaimana dia tidak akan mengajak gadis itu bersitegang kalau saat dia sampai di apartemen, dia malah mendapati istrinya sedang menempel ke dinding kamar dengan posisi seolah memeluk punggung pria yang ada di poster itu. Sepertinya gadis itu sengaja memesan poster seukuran tubuh asli sehingga dia bisa melaksanakan kegiatan tololnya itu.

Poster itu berwujud seorang pria yang dipotret dari belakang, mengenakan setelan resmi pas badan berwarna abu-abu, dengan tagline Mr. Grey Will Come To You. Benar, gadis itu tergila-gila dengan Jamie Dornan, pria yang memerankan Christian Grey di film Fifty Shades of Grey yang baru akan tayang tahun depan. Film yang diangkat dari novel yang bahkan belum dibaca gadis itu sama sekali, hanya tergeletak di rak sebagai pajangan.

“Pria itu bahkan sudah menikah dan punya anak!” bentak Kyuhyun geram.

“Lalu? Apa aku pernah bilang bahwa aku ingin menikah dengannya?” tandas gadis itu santai, tidak terlihat takut sedikit pun dengan emosinya yang jelas-jelas sudah memuncak.

Kecenderungan istrinya untuk menggilai pria-pria tampan benar-benar sudah tak tertahankan. Dia hampir saja melemparkan sesuatu semalam saat gadis itu dengan polosnya meminta izin pergi ke Seattle hanya untuk melihat pria itu syuting. Dan karena Kyuhyun jelas menolak mentah-mentah, kini gadis itu malah memajang poster super besar pria itu di kamar mereka, di kamar yang bahkan tidak terdapat satu pun fotonya.

“Dengar,” ucapnya lirih, nyaris terdengar seperti bisikan. Dia memejamkan mata sebentar, berusaha bersabar. Terkutuklah semua sikap posesifnya ini! “Kau punya dua pilihan. Turunkan poster itu dan kita tetap tidur di kamar ini, atau kita harus pindah ke kamarku sampai kau mematuhi perintahku. Kalau saat aku pulang nanti poster itu masih ada di sana, kau tahu batas kesabaranku di mana. Jangan merengek kalau aku sampai merobek-robek postermu itu dan membuangnya ke tempat sampah. Perselingkuhan,” desisnya di sela-sela giginya yang terkatup, “tidak pernah bisa kumaafkan.”

Mata gadis itu melebar, dan Kyuhyun bisa melihat bagaimana gadis itu menggigit bibir bawahnya, tanda bahwa gadis tersebut juga sudah terbawa emosi.

Perselingkuhan kau bilang?” dengusnya. “Lalu apa yang—”

Kyuhyun merenggut tasnya—yang sudah disiapkannya dari semalam—dari atas sofa, mencengkeram talinya kuat-kuat alih-alih mencengkeram lengan gadis itu seperti yang dia inginkan.

“Apa kau akan membawa-bawa nama Seohyun lagi ke dalam pertengkaran kita? Kau cukup tahu dan kau juga punya mata untuk melihat bahwa aku tidak benar-benar menciumnya. Lina Nuna? Iya, aku menciumnya. Tapi tidak satu pun, tidak satu pun dari gadis-gadis itu pernah bertahan di otakku selepas drama musikal itu selesai. Sedangkan kau? Pria itu menggerogoti otakmu, matamu, dan mungkin sepersekian dari hatimu. Kau menghabiskan waktu untuk mencari tahu segala hal tentangnya, histeris setiap kali melihatnya, membicarakannya sepanjang hari tanpa henti. Sadarkah kau, aku bahkan tidak pernah menyebut nama wanita lain di rumah ini kalau bukan kau sendiri yang membahasnya duluan. Dan sadarkah kau, ada berapa nama pria, yang terus berganti setiap bulannya, yang meluncur dari mulutmu? Anggap aku pencemburu dan over-protektif,” bisiknya, “but you should know that I don’t share my woman with anyone else.” Dia melangkah mendekat, mengancam. “You are under my claim and it’s my right to forbid you seeing other men but me.”

Pria itu berhenti di depan istrinya, mendorongnya sampai gadis itu tersudut ke dinding, lalu menatapnya penuh intimidasi.

“This simple thing,” desahnya tajam, “and you’re still too stupid to understand?”

 

***

Kyuhyun membuka pintu apartemen, melangkah masuk sambil melepaskan mantel, dan hampir saja kehilangan keseimbangan saat tanpa sengaja melirik dapur, melihat istrinya di sana, sedang sibuk mengoleskan krim ke atas sebuah… sialan, apa itu kue?

“Wow,” gumamnya tanpa sadar saking kagetnya, membuat gadis itu terkesiap dan menoleh, terkejut dengan kedatangannya.

“Manajermu bilang kalian baru akan datang setengah jam lagi!” seru gadis itu panik, berganti gugup karena menyadari bahwa Kyuhyun melihat apa yang sedang dia lakukan. Dan pria itu memang memandanginya, dengan tatapan aneh. Apa karena pakaiannya? Dia hanya mengenakan kemeja yang panjangnya tepat di bawah bokong, hanya menutupi seperlunya saja, pakaian yang menurutnya nyaman dikenakan saat tidur, dan dia bermaksud menggantinya sebelum pria itu datang, tapi sepertinya sudah terlambat.

Atau karena rambutnya yang tadi hanya diikatnya asal dan sekarang sudah tampak awut-awutan? Apakah baunya bisa tercium dari jarak mereka sekarang?

“Well,” gumamnya, bingung harus berkata apa. “It’s a big failure, so you don’t need to taste it. And—” Dia mengerjap. Bisakah pria itu berhenti menatapnya? “—happy birthday.”

Kyuhyun melangkah mendekat, sedikit pun tidak mengalihkan pandangan.

“It looked delicious,” ucapnya, separuh menyeringai. Dia meraih tangan Hye-Na dengan tangan kirinya, lalu menumpangkan tangannya yang lain ke atas meja. Dan tanpa memberi aba-aba, dia memasukkan jari telunjuk gadis itu yang masih berlumuran krim ke dalam mulutnya, menjilatnya pelan, dengan cara yang membuat kaki Hye-Na bertransfromasi seketika menjadi agar-agar.

“But I think you are more luscious.” Pria itu mengedipkan mata, membuat Hye-Na ternganga. “Good morning by the way,” lanjutnya, melepaskan Hye-Na, mengambil sendok dan memotong kue yang belum sepenuhnya selesai dihias itu, mencicipinya begitu saja.

“Bentuknya memang tidak meyakinkan, tapi rasanya lumayan,” komentarnya, kembali menyungginkan senyum. “Terima kasih.”

“Kau mengantuk? Lelah? Otakmu kelihatannya sedikit bergeser,” racau Hye-Na setelah berhasil menemukan pita suaranya lagi.

“Apakah kita akan bertengkar pagi ini?” tanya Kyuhyun, menautkan kedua alisnya.

“Maaf, itu sudah mendarah daging,” dengus gadis itu, menjatuhkan diri ke atas kursi dan menyandarkan kepala ke tangan kirinya. Kulitnya masih terasa sensitif, terutama di bagian jemari yang disentuh oleh lidah pria itu tadi, berikut saraf-sarafnya yang bergeliut riang, berpesta-pora dengan setumpuk pesona yang pria itu perlihatkan. Karena itu dia harus duduk, menenangkan diri, karena dia tidak bisa berdiri tegak lebih lama lagi.

Kyuhyun tiba-tiba mencondongkan tubuh di atas meja makan, sedikit mengendus, lalu menarik gadis itu mendekat, menempelkan bibir ke kening gadis tersebut, dengan hidung yang terbenam di rambutnya yang acak-acakan.

“Astaga, baumu benar-benar enak,” erangnya. “Kalau ini akibat dari kegiatanmu masuk dapur, kau harus sering-sering melakukannya.” Belum sempat Hye-Na merespons, pria itu sudah kembali menggerutu. “Ah, tidak. Aku tidak mau melihatmu dekat-dekat kompor gas ataupun pisau.”

“Aku belum mandi, Kyu,” ucap gadis itu dengan pandangan mencela. “Aku bahkan belum gosok gigi.”

“Lalu?” sergah pria itu, tampak sedikit pun tidak peduli. “Sudah berapa lama kita menikah? Dan maaf ya, baumu pagi ini benar-benar membuatku lapar.”

Lalu mendadak saja bibir pria itu sudah menjelajahi bibirnya, mengabaikan keberadaan meja di antara mereka. Pria itu menarik bibir bawahnya dengan gigitan ringan, lalu mengecup ujung hidungnya pelan.

Kyuhyun menghela napas, mencecap rasa gadis itu yang masih tertinggal di lidahnya. Sial, dia perlu tahu kapan dia bisa berhenti menginginkan gadis itu. Dan kalau jawabannya tidak akan pernah, maka sebaiknya gadis itu belajar bagaimana rasanya diinginkan olehnya setiap saat. Benar-benar membuat frustrasi.

“Tidak sia-sia kan aku memaksa balik ke Korea segera?” gumamnya, lebih kepada diri sendiri.

“Apakah sangat penting bagimu untuk merayakan ulang tahun bersamaku?” cemooh Hye-Na sambil mencebikkan bibir bawahnya, berusaha tidak mengacuhkan fakta bahwa detak jantungnya mulai menggila.

Kyuhyun memutar bola mata. “Aku  memang menyukai semua ulang tahunku yang kurayakan bersamamu,” ungkapnya blak-blakan. “Kalau kau ingin mengetahui sesuatu dariku, tanyakan saja. Tidak usah sok gengsi begitu. Sudah berapa lama kita hidup bersama?” ejeknya, membuat rona muka gadis itu berubah merah padam.

“Kau tidur dengan pakaian seperti itu?” lanjutnya, tidak tahan untuk tidak bertanya. Dia sudah dari tadi terganggu melihat kaki dan paha gadis itu yang terekspos bebas di depan matanya. Juga belahan dada yang mengintip dari balik kerah kemeja gadis itu yang dua kancing atasnya terbuka.

“Kenapa memang?”

“Karena kau tidak pernah berpenampilan seperti itu setiap kali tidur denganku.”

“Memangnya kau masih butuh kugoda?” dengus Hye-Na.

“No, but it indeed makes me want you.” Dia mengedikkan bahu. “In dirty way.”

“You are surely a maniac.”

“Tenang saja,” ucap Kyuhyun sok manis. “Itu hanya berlaku padamu.”

“Akhir-akhir ini kau benar-benar mesum.”

“Oh, ya? Aku hanya senang bermain-main denganmu. Mengusilimu, membuatmu marah, itu lebih mengasyikkan daripada bermain game. Seharusnya kau tersanjung sedikit karena aku lebih memilihmu daripada PSP-ku.”

“Sakit jiwa,” gumam gadis itu pelan dan Kyuhyun tertawa geli mendengarnya.

“Ngomong-ngomong, mana hadiahku?” tagih pria itu kemudian.

Hye-Na mencibir, lalu bangkit berdiri sambil merentangkan tangannya. “Apakah aku saja tidak cukup?”

Kyuhyun menancapkan pandangannya di tubuh gadis itu, menilainya dari atas sampai bawah.”

“Tergantung,” ujarnya. “Yang kau maksud itu hanya sekadar kehadiranmu saja atau termasuk tubuhmu secara keseluruhan. Kalau yang kedua, aku akan menerima dengan senang hati. Tapi kalau yang pertama, lebih baik kau segera menguras isi dompetmu dan membelikan hadiah untukku.”

Gadis itu mendecak. “Kadang-kadang aku merasa kau hanya menginginkan tubuhku saja.”

“Hmm,” gumam Kyuhyun seolah sedang memikirkan jawaban. “Yang tubuhnya lebih bagus darimu di luar sana juga banyak. Yang lebih cantik apa lagi. Masalahnya bagaimana ya, aku hanya menginginkanmu. Ini sedikit rumit. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi sepertinya, kalau bukan kau, aku tidak mau.”

“Manis sekali,” sahut Hye-Na, berpura-pura memasang tampang seperti orang yang sedang mabuk kepayang, padahal memang jelas bahwa itulah yang dia rasakan sebenarnya.

“Akhir-akhir ini mulutku memang manis,” aku Kyuhyun. “Mengingat kau juga lebih sering merajuk.”

“Aku tidak merajuk!” protes gadis itu seketika.

“Sudahlah, apa sih yang mau kau sembunyikan dariku? Apa lagi yang bisa membuatmu malu? Ini kan hanya aku. Suamimu. Yang setiap hari melihatmu, tidur denganmu, melihat penampilan terburukmu. Berhentilah merasa malu padaku. Kau tidak capek apa?”

“Aku kan juga punya harga diri.”

“Aku bersedia menyingkirkan harga diriku kalau kau mau,” timpal Kyuhyun santai.

“Itu kan kau.”

“Yah, karena aku yang lebih tua, jadi jelas bahwa aku juga lebih dewasa.”

YAK!”

“Nah, mudah sekali kan bertengkar denganmu? Padahal aku bermaksud melupakan pertengkaran kita yang terakhir,” ucapnya malas. “Jadi, apa kau sudah membuang postermu itu? Aku ingin tidur.”

Hye-Na mengerucutkan bibir. “Sudah,” sahutnya enggan.

“Ayahmu meneleponku dan bilang kau mau meminjam pesawatnya untuk pergi ke Seattle.” Kyuhyun menekankan jemarinya ke pelipis, untuk sesaat terlihat marah, namun segera menyingkirkan emosinya. Dia tidak mau memulai pertengkaran lagi.

“Aku sudah membatalkannya,” ucap Hye-Na dengan nada bersalah. “Maaf.”

“I know that I’m not such a gentleman.” Pria itu menghela napas berat. “And I’m really sorry for that,” lanjutnya. “I know, of course I know that those men are just your idol or something like that. And I know that I have the majority of your heart. Right? But more days we spent together, more greedy I am. And I can’t do anything to stop that. So just… please, just… endure me.”

“Aku juga dulu mengidolakanmu,” ujar Hye-Na lirih.

“But I don’t marry a fan, Sweetheart,” bisiknya lelah, meraih tangan gadis itu, memainkan jemarinya. “I marry you. A woman.”

“Tidak bisakah kau memberiku sedikit ruang untuk bernapas? Setidaknya untuk cuci mata.” Hye-Na mengerling, berusaha menggoda.

“Wifey, we are married,” kekeh pria itu, seolah permintaan Hye-Na barusan adalah sesuatu yang begitu konyol baginya. Dia memajukan tubuh, melarikan jari-jarinya ke pipi gadis itu, menyentuh rona merah muda yang muncul di sana, lalu berbisik tajam, “You are stuck with me.”

 

***