59265_404516376303465_1109787772_n

 

 

“Tidak sabar ingin bertemu istrimu lagi?” kekeh manajer Kyuhyun yang sedang mengemudi saat pria itu memintanya untuk menambah kecepatan mobil.

Kyuhyun mengernyitkan hidung, seolah ide itu terdengar absurd di telinganya, walaupun sebenarnya itu memang salah satu alasan utama.

“Tidak juga,” elaknya, mengalihkan tatapan ke luar jendela mobil yang sengaja tidak dibuka karena cuaca dingin yang membekukan. Dia memutar-mutar ponsel di tangannya, sama sekali tidak berharap bahwa benda itu akan berbunyi menandakan pesan ataupun panggilan masuk dari seseorang yang dia inginkan. Istrinya tidak pernah berubah. Gadis itu… tidak pernah memperlihatkan ketertarikan sedikit pun terhadap drama musikalnya. Hanya pernah datang satu kali saat dia berperan di Three Musketeers dulu, itu pun karena dia yang memaksa. Selebihnya? Bertanya pun tidak. Kecuali saat dia memberitahu Hye-Na tentang drama musikal terbarunya ini, di mana dia akan bermain dengan Seohyun. Gadis itu marah sebentar, lalu mendadak amnesia.

Dia bisa saja berpikir bahwa gadis itu mengabaikannya, tidak peduli dengan pekerjaannya. Tapi dia terlalu mengenal gadis itu untuk tahu alasan sebenarnya, walaupun masih terkesan samar dan tidak jelas. Gadis itu, meskipun tidak pernah mau mengaku, adalah salah satu dari sekian juta penggemarnya. Mencari tahu segala hal tentang dirinya, mengoleksi semua video, foto dan lagu-lagunya, seperti yang dilakukan para penggemar pada umumnya. Hanya satu bidang itu saja yang tidak membuat gadis itu tertarik: drama musikal. Dan itu pasti salah satu dari segala cara aneh yang diperlihatkan gadis tersebut untuk menunjukkan kecemburuannya. Dan seorang Cho Hye-Na tidak akan pernah mengakui hal memalukan tersebut dengan mulutnya sendiri selama gunung gengsi dan harga dirinya itu masih membeku seperti es di kutub. Dia mungkin berhasil melelehkannya sedikit demi sedikit selama sekian tahun mereka bersama, tapi tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa menandaskannya sampai sepenuhnya mencair.

“Aku hanya perlu mensterilkan diri. Segera,” gumamnya melanjutkan, dengan sengaja tidak mengacuhkan tatapan bingung manajernya.

Benar. Segera. Gadis itu harus mensterilisasi dirinya segera atau dia akan meledak dalam hitungan menit.

Demi Tuhan, tiga kali. Kenapa mereka membuat naskah amoral begitu dan membuatnya melakukan hal tersebut? Dan dia masih harus mengulanginya lagi berkali-kali. Dengan dua wanita berbeda.

Mungkin dia harus menggigiti bibirnya sampai berdarah, atau setidaknya sariawan, biar dia tidak bisa lagi menggunakannya.

Pria itu menghela napas kesal. Dia tidak suka dirinya terkontaminasi. Terutama di bagian bibir. Bagian yang selama ini hanya didedikasikannya untuk satu wanita saja.

Oh, astaga, dia tidak seharusnya meratap. Masih ada satu bagian lagi yang sudah pasti tidak bisa dilihat ataupun disentuh oleh wanita lain selain istrinya, kan?

Mendadak dia merasa seperti seorang pria mesum saja.

Pria itu membenturkan dahinya ke kaca jendela, menegakkan diri di detik berikutnya, lalu membuka aplikasi mengirim pesan di ponselnya dan mulai mengetik.

 

 

Be there when I come home

 

 

Tidak usah diragukan lagi. Mungkin dia satu-satunya pria yang paling senang jika sudah tiba waktunya untuk pulang.

 

***

Pria itu memasukkan pin apartemen ke papan ketik, mendengar bunyi bip konfirmasi, dan mendorong pintu sampai terbuka lalu masuk ke dalam sambil melepaskan diri dari jaket tebal yang dikenakannya untuk menghalau angin musim dingin, menyisakan kemeja hijau gelap pas badan, jenis pakaian yang akhir-akhir ini sering dia pakai untuk melihat ekspresi istrinya yang mudah dirayu hanya dengan sehelai kemeja polos.

Gadis itu, Cho Hye-Na, seperti biasa sedang asyik mengemil di depan TV yang kali ini menayangkan salah satu koleksi video Running Man yang entah ditontonnya untuk yang keberapa puluh kali, karena tontonan akhir minggunya yang menyenangkan, Reply 1994, sudah berakhir. Dan Kyuhyun curiga bahwa gadis itu akan memulai pertanyaan membosankannya lagi tentang kapan semua member Super Junior akan menjadi bintang tamu di acara reality show super terkenal itu. Hye-Na bisa sangat maniak jika dia benar-benar menggilai sesuatu. Bagus untuknya, tapi tidak jika sifat itu ditujukan pada pria lain. Peduli setan dengan orang-orang yang berkata bahwa kecemburuan adalah suatu bentuk ketidakamanan yang dirasakan seseorang terhadap pasangannya. Posisinya sudah sangat aman, dia hanya tidak suka jika gadis itu menatap pria lain saja. Anggap saja itu sifat normal dari seorang pria yang over-protective seperti dirinya.

Dia berjalan menghampiri gadis itu dan tanpa berkata apa-apa berlutut di depannya, memangkukan kedua tangan di pangkuan gadis tersebut lalu mendekatkan wajah.

“Bersihkan,” ujarnya, dengan nada memerintah.

Hye-Na menggeser tatapannya dari layar televisi, kemudian menatap wajah suaminya itu. Yang tampak lelah. Yang entah bagaimana selalu saja terlihat tampan.

Dia tahu bahwa Kyuhyun mungkin mengira dia tidak mengerti apa yang pria itu maksudkan, karena dia bisa melihat dari pandangan yang ditujukan pria itu ke arahnya. Biasanya mungkin, saat dia berpura-pura tidak mengerti. Tapi kali ini, melihat wajah pria itu dari jarak sedekat ini, mendengar nada mendesak yang digunakan pria itu untuk memerintahnya, dia memahami bahwa dia tidak lagi ingin pria itu bersusah-payah menjelaskan. Bahwa pada akhirnya, tiba saat di mana dia harus mengambil inisiatif duluan.

Dia tahu tentang adegan ciuman yang akhirnya harus dilakukan pria itu malam ini, juga tahu betapa tidak nyamannya perasaan pria itu saat melakukannya. Jadi gadis itu mengulurkan tangan, menangkupkan kedua telapaknya ke sisi wajah pria itu, tersenyum tipis saat tatapan mata pria tersebut yang tampak terkejut dan tidak percaya saat dia kemudian mencondongkan tubuh, mengecup bibir pria itu dari satu sudut ke sudut lainnya, membersihkan jejak-jejak bibir wanita lain yang beberapa jam lalu sempat menempel di sana, dengan gerakan lambat, berlama-lama, seolah memastikan bahwa tidak ada bekas apa pun yang tertinggal, sebelum akhirnya dia menyelipkan bibir bawahnya di sela bibir pria itu, meninggalkan jejak baru yang lebih intens, mengklaim teritori miliknya yang sebelum ini sangat jarang dia lakukan.

“Sial,” umpat Kyuhyun, tiba-tiba mendorongnya dan bangkit berdiri dengan wajah yang sudah sepenuhnya memerah. “Rencana awalnya, akulah yang merayumu, bukan sebaliknya,” ucap pria itu muram, membuat Hye-Na terkekeh geli dan mengikuti suaminya itu masuk ke dalam kamar setelah terlebih dulu mematikan TV.

“Bagaimana drama musikalnya? Sukses? Penontonnya pasti sangat banyak,” tukas gadis itu, berbaik hati untuk bertanya duluan.

“Kau bahkan tidak berusaha untuk datang,” desis pria itu. “Ah, lupakan. Aku lebih suka kau tidak datang. Aku benci kalau harus berselingkuh terang-terangan tepat di depan matamu.”

“Hmm,” gumam Hye-Na sebagai jawaban, menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur dan bersandar ke kepala ranjang sambil memeluk bantal, memperhatikan dengan lekat saat jemari panjang pria itu—yang digilainya setengah mati—perlahan mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu, membuatnya menahan napas penuh antisipasi, padahal dia tahu bahwa pria itu hanya bersiap untuk pergi mandi. Frekuensi otaknya memang sedikit berubah ‘dewasa’ jika berkaitan dengan pria tersebut, tidak peduli sesederhana apa pun gerakan yang pria itu lakukan.

Pria itu sedikit membelakanginya sehingga dia bisa menikmati geliat otot punggung pria itu yang, sialan, juga sangat digilainya. Entah itu disengaja atau tidak, dia juga tidak terlalu peduli. Dia hanya menjadi penikmat di sini. Masalah terbesarnya? Pria itu benar-benar tampak lezat. Dan dia mendadak merasa lapar.

“Hentikan,” bisiknya serak, tanpa sadar mengeluarkan isi pikirannya dan di saat yang bersamaan langsung merasa menyesal.

Kyuhyun menoleh, menatapnya dengan kening berkerut. “Apanya yang hentikan?” tanya pria itu bingung, melemparkan kemeja yang telah dilepaskannya begitu saja ke dalam keranjang pakaian kotor yang terletak di sudut ruangan, berdiri hanya dengan mengenakan sleeveless hitam yang di mata Hye-Na membuatnya tampak lebih menggoda dari semangkuk besar es krim mana pun—yang biasanya tidak pernah dia tolak.

Kyuhyun juga berniat melepaskan kaus tanpa lengan itu saat lagi-lagi Hye-Na mengulangi kata yang sama.

“I—itu… itu… hentikan,” geragap gadis itu.

“Kau kenapa?” tanyanya lagi, kali ini benar-benar penasaran.

“Ehm,” deham Hye-Na, seolah sedang membersihkan kerongkongan. “Maaf, ya, malam ini sepertinya aku sedikit hilang akal,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum sok polos.

“Lalu?” tanya Kyuhyun, menunggu lanjutan penjelasan dari gadis itu sambil berkacak pinggang.

“K—kau… mau mandi, kan?”

Kyuhyun mengedikkan bahu sebagai jawaban.

“Kalau kau mau mandi, kau lepaskan baju di kamar mandi saja,” suruhnya.

Kyuhyun menyeringai, seakan memahami arah pikiran gadis itu. Aneh sekali, ini pertama kalinya… saat dia tidak perlu untuk menyerang duluan. Mungkin gadis itu benar. Malam ini gadis itu memang terlihat sedikit hilang akal.

“Kalau aku melepasnya di sini?” godanya.

Hye-Na menaikkan bahunya. “Acara mandimu harus ditunda.”

“Hmm,” desahnya, menghampiri gadis itu dan duduk di sisi ranjang. “Apa kau menawarkan sesuatu yang menarik? Karena aku benar-benar ingin mandi.”

Hye-Na mencondongkan tubuh, tanpa aba-aba menempelkan hidungnya ke leher pria itu, menghirup napas sekaligus menghidu. Dia bisa mencium bau keringat, yang bercampur dengan wangi cologne yang pria itu semprotkan tadi pagi, lalu dengan mengejutkan memberikan gigitan ringan di dekat nadi pria tersebut yang berdenyut tidak beraturan.

“Aku suka baumu,” ujar gadis itu santai, membuat Kyuhyun menatapnya lekat kemudian tertawa sumbang.

“Kalau kau berusaha meruntuhkan pertahananku,” bisik pria itu pelan. “Aku bisa memberitahumu bahwa kau tidak perlu berusaha keras untuk itu. Kontrol diriku setipis tisu, kau tahu?” lanjutnya. “Tapi sebaiknya kau memberitahuku ada apa denganmu malam ini.”

“Karena malam ini kau tampak sangat menggugah selera?” ucap gadis itu retoris. “Kenapa, ya?”

Dan sedetik kemudian dia sudah terdesak ke sudut ranjang dengan pria itu di atasnya.

“Perubahan-perubahan,” gumam pria itu, mengomentari tindak-tanduk blak-blakan gadis itu malam ini. “Karena keterbiasaan?”

“Tidak,” geleng gadis itu. “Aku tidak berubah. Dari dulu tidak pernah.”

“Lalu?”

Hye-Na menyusurkan telunjuknya ke garis leher kaus sleeveless pria itu, merasakan detak keras jantung di bawah telapak tangannya yang menekan dada bagian kiri pria tersebut saat jemarinya sibuk melanjutkan eksplorasi, dipenuhi euforia aneh bahwa pria ini miliknya, bahwa pria yang diinginkan jutaan wanita di luar sana, saat ini berada bersamanya. Diinginkannya dan balik menginginkannya. Masih sulit untuk memercayainya, bahkan setelah tiga tahun lebih bersama. Berkebalikan dengan kalimat pria itu tadi, dia… masih belum terbiasa.

“Hanya berhenti berpura-pura,” ungkapnya jujur. “Berhenti berpura-pura bahwa aku tidak menginginkanmu sebanyak kau menginginkanku, bahwa aku tidak kelimpungan setiap kali kau menatapku dalam jarak terlalu dekat, bahwa aku tidak lupa caranya bernapas setiap saat kau menyentuhku. Pilih saja yang mana,” ujarnya. “Bukan berarti aku akan mengungkapkan cinta padamu setiap hari. Itu masih mustahil terjadi,” tambahnya cepat-cepat, membuat Kyuhyun terkekeh dan memajukan tubuh, mengecup ujung hidungnya. Lalu sesaat kemudian pria itu menggeram.

“Bisa berhenti menyentuhku?” ucap pria itu di sela bibirnya yang terkatup rapat dan rahangnya yang tampak mengetat. “Maaf, bisa kita menunda ini sepuluh menit? Tidak, lima menit saja,” tukasnya sambil melompat bangun dengan tergesa-gesa seolah sentuhan Hye-Na adalah sesuatu yang membakar. Secara hiperbola, itu memang benar. Pria itu merasa terbakar di mana-mana.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya, berlari ke dalam kamar mandi seraya melepaskan atasan yang dikenakannya, dan dua detik kemudian kembali muncul di ambang pintu kamar mandi.

“Jangan merajuk, oke? Jangan sampai aku kembali padamu dan kau berpura-pura sudah tidur dan semacamnya. Aku tidak akan melepaskanmu malam ini” ancamnya.

Hye-Na merengut. “Bukannya kau baru menolakku?” dengusnya.

“Sialan, berikan aku waktu lima menit! Aku harus mandi!” erangnya putus asa. “Ini penting bagiku.”

“Apa sih masalahmu? Kau kan tidak bau atau apa.”

“Haruskah kau selalu seperti ini? Membuatku menjelaskan semuanya padamu? Mengerti sedikit bahwa terkadang aku juga punya rasa malu—baiklah, baiklah,” geramnya saat melihat tampang gelap Hye-Na. Pria itu menggertakkan gigi lalu berkata datar, “Aku tidak mau ada aroma atau jejak sentuhan wanita mana pun di tubuhku saat kau bermaksud menyentuhku.”

Kyuhyun menghela napas. “Jadi beri aku lima menit, ya? Setelah itu kau bisa memilikiku sepuasmu. Selama apa pun yang kau mau.”

“Itu terdengar seperti kau pergi dari satu wanita ke wanita lain sesukamu. Ya, kan?” gumam Hye-Na, tapi kali ini dengan senyum tipis di bibir, membuat Kyuhyun terserang rasa lega yang tidak bisa digambarkan karena gadis itu akhirnya mengerti.

“Di sana letak perbedaannya, kan?” ujarnya, balik bertanya. “Beberapa jam yang lalu adalah keterpaksaan. Sedangkan yang ini….” Pria itu menggantungkan ucapannya, menyunggingkan senyum lalu mengedipkan mata jahil. “Kau bisa menyebutnya sebagai ‘penyerahan diri secara sukarela’.”

 

***