BZtqlPvCUAAzn-T

 

 

Kyuhyun’s Home, Yeoju.  

08.10 AM

Rasanya baru beberapa menit yang lalu Hye-Na memejamkan matanya. Sisa tenaga yang entah ia dapatkan dari mana dipergunakannya untuk membuka mata sebagai reaksi alamiah dari sinar matahari yang menerobos melalui jendela di salah satu tepi kamarnya. Jendela kaca itu cukup besar, dan intensitas cahaya yang masuk tidak main-main. Hye-Na mengernyit, merasa seperti baru saja disorot oleh lampu halogen tepat di wajahnya. Hanya dua orang yang berani membangunkannya secara paksa seperti ini; yang pertama ibunya, dan yang kedua suaminya—Cho Kyuhyun. Mengingat kedua orang itu sedang berada di atap yang sama dengannya sekarang, ia tidak bisa menerka-nerka siapa yang membangunkannya pagi ini.

Eomma!” Ia mencoba peruntungan dengan menebak, menarik bantal yang biasa digunakan oleh Kyuhyun untuk membekap wajahnya sendiri agar sinar matahari itu tidak mengganggu tidur nyenyaknya. Samar-samar hidungnya mengendus aroma kopi panas yang ‘ditelurkan’ dari Chef-Machine Kyuhyun. Ia penikmat kopi kelas satu, jadi sudah jelas bisa membedakan mana yang berasal dari Chef-Machine biasa dan berasal dari Chef-Machine milik Kyuhyun yang rasanya nyaris sama dengan makanan dan minuman jenis apa pun yang dibuat langsung oleh tangan manusia—bahkan terkadang jauh lebih enak. Dan aroma kopi ini luar biasa, bahkan dicium dari balik bantal sekalipun.

“Aku tidak berniat membangunkanmu, jadi kau sebaiknya tidur lagi.”

Menyadari tebakannya meleset, Hye-Na refleks menyingkirkan bantal dari wajahnya. Bukan karena syok dengan instingnya yang payah, tapi karena suara pria itu terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Aku bilang kau bisa tidur lagi. Hyun-Ah juga masih tidur.”

Ketika melirikkan mata, Hye-Na bisa melihat pria itu sedang sibuk dengan segala kegiatan paginya yang terkesan mewah—berpakaian kantor, menggenggam secangkir kopi mengepul yang sempat menjadi impiannya beberapa detik yang lalu, serta communicator yang tidak berhenti mengeluarkan bunyi bip di tangannya yang lain. Pria itu bahkan lebih canggih dari android multi-tasking jenis apa pun yang pernah diproduksi sepanjang sejarah peradabannya. Bangun di pagi buta seolah-olah tidak pernah membutuhkan tidur, dan selalu terlihat dalam penampilan maksimal setiap saat. Pagi ini, tubuh pria itu dibalut oleh kemeja hijau lemon yang menambah kesan penampilan segar, dengan dasi bermotif senada, celana hitam yang licin, dan sepatu pantofel yang mengilat. Rambutnya yang tidak pernah ditata rapi sepertinya terlihat berbeda hari ini—sepertinya Kyuhyun memangkasnya kemarin menjadi lebih pendek. Entahlah, Hye-Na merasa bodoh karena tidak menyadari perubahan kecil itu. Itu baru despkripsi visual di pagi hari, dan Hye-Na tidak berminat untuk melanjutkan semaksimal apa penampilan pria itu dalam jenis pakaian lain. Terlalu memakan waktu hanya untuk membahasnya. Mungkin akhir-akhir ini selera berpakaiannya juga naik beberapa level karena Kyuhyun selalu membawanya ke pesta-pesta bisnis yang mengharuskannya untuk tidak mengenakan celana jins dan kaus.

Seolah tidak mendengar apa-apa, Hye-Na menurunkan kakinya dari ranjang, mengernyit ketika suhu marmer jauh lebih rendah dari ekspektasinya, lalu dengan susah payah berdiri tegak. Selain harus menahan dingin, ia juga harus menahan sebagian berat badannya pada nakas—dan sepertinya itu tidak cukup membantu, karena beberapa detik kemudian tungkai kakinya tidak dapat berkompromi dan ia nyaris jatuh. Kyuhyun datang entah dari mana, dengan sigap menopang badannya.

“Dasar keras kepala,” omel Kyuhyun sambil mendorong gadis itu agar kembali duduk di tepi ranjang.

“Aku hanya ingin melihat Hyun-Ah.” Suara Hye-Na terdengar parau. Ia ingat sudah melewatkan makan malam dan artinya, juga melewatkan air mineral semalaman sampai tenggorokannya terasa kering. Dengan taraf gengsi yang masih tidak tahu tempat, ia menepis tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya dengan kasar. “Singkirkan tanganmu.”

Kyuhyun berdamai dengan rasa gengsi gadis itu, mengalah untuk mencegah adu mulut yang sebaiknya tidak didengar oleh mertuanya. “Sudah kubilang—”

“Aku tahu. Eomma akan membantu mengurus Hyun-Ah sampai aku bisa berjalan normal. Kau sudah mengatakannya beratus-ratus kali dan jangan menambahnya pagi ini, Cho Kyuhyun.”

Pria itu menyandarkan pinggulnya ke nakas, mengamati Hye-Na yang sedang sibuk merapikan rambutnya yang semrawut setelah bangun tidur. Tanpa sadar ia membantu gadis itu menyingkirkan beberapa anak rambut dan menyelipkannya di belakang telinga, menampakkan wajah mengantuk Hye-Na yang selalu disukainya. Tetap mengagumkan, rasanya seperti setiap pagi wajah itu selalu terlihat baru dan tidak pernah membuatnya bosan. Ia menunduk, mencium pipi Hye-Na untuk menyalurkan perasaan yang tidak bisa ia selidiki apa namanya. Hanya ingin menyentuh gadis itu sebanyak mungkin, selama ia bisa.

“Jadi, mengapa kau tidak diam dan menuruti apa kataku?” ujar pria itu dengan intonasi memancing, nada suara yang masih sama—rendah, konspiratif. “Kalau kau tidak macam-macam, aku akan puas hanya dengan sekali peringatan. Nyatanya kau tidak pernah mendengarkanku, kan?”

Kyuhyun seribu persen benar mengenai tabiat keras kepala wanita itu yang sudah menahun. Lagi pula siapa suruh dia menikahi wanita itu?

“Aku hanya ingin melihat anakku, bukan pergi mengejar penjahat!” sungut Hye-Na membela diri. Untuk hal yang satu ini, ia yakin bahwa Kyuhyun memang berlebihan. Ia baik-baik saja, dan semua orang tahu hal itu. Penyembuhan pasca-melahirkan dewasa ini dapat ditangani dalam hitungan hari, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kondisinya. Ia sudah bisa berjalan meskipun terkadang ia kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba—itu jarang sekali terjadi dan akan sembuh beberapa hari lagi.

“Diam di sini. Aku yang akan membawa Hyun-Ah.”

Kyuhyun meninggalkan Hye-Na yang sedang mendengus jengkel. Pria itu melarangnya pergi ke kamar Hyun-Ah seolah-olah kamar itu letaknya sepuluh blok dari rumah. Padahal kamar Hyun-Ah ada di samping kamar ini, kamar yang dulu pernah ia gunakan sebagai kamar tidurnya—sebelum Kyuhyun merombaknya menjadi kamar bayi.

Suara langkah sepatu Kyuhyun terdengar sangat berhati-hati, seolah ia sedang membawa sebuah bola kristal yang ringkih.

Anak pertamanya. Anak pertama mereka—lebih tepatnya.

“Kesulitan, PresDir?” Hye-Na tersenyum meledek ketika Kyuhyun memindahkan Hyun-Ah ke pangkuannya dengan gerakan super kikuk. Biarlah hanya ia yang tahu soal hal ini, karena bukan Cho Kyuhyun namanya jika ia tidak lagi sempurna di mata publik.

“Aku tidak perlu terlalu mahir mengurus anak.” Kyuhyun dengan percaya diri berkata, mengambil cangkir kopinya yang belum sempat ia nikmati, kemudian menawarkannya pada Hye-Na, dan pada akhirnya meminumkan isi cangkir itu karena tangan istrinya sedang sibuk. “Itu kan tugasmu.”

“Yah, tugasku. Jadi kenapa kau tidak pergi bekerja saja untuk menafkahi anak dan istrimu sekarang? Kelihatannya kau bukan tipe ayah dan suami pemalas.” Hye-Na mendengus sebal. Itu adalah jurus terakhir yang selalu Hye-Na gunakan untuk mengusir Kyuhyun dari rumah beberapa hari ini karena hobi terbaru pria itu adalah mengulur waktu untuk pergi bekerja. Ia juga sebisa mungkin melakukan semua pekerjaannya di rumah. Hye-Na pikir, mungkin Kyuhyun hanya terlalu tidak percaya bahwa Hye-Na dapat mengurusi anak mereka sendirian.

“Kau seperti tidak tahu saja.” Pria itu mengambil tempat di samping Hye-Na, memeluk dan menumpangkan dagunya di bahu gadis itu, ikut memerhatikan wajah Hyun-Ah yang masih tertidur. Seluruh lekuk wajahnya sangat mirip dengan Hye-Na, hanya matanya yang besar mungkin satu-satunya peninggalan Kyuhyun. “Aku bahkan bisa menafkahi—”

“Cicit dari cicit anak kita.” Gadis itu memutar bola matanya kesal. “Demi Tuhan yang baik hati, Hyun-Ah baru berumur satu minggu tapi ia pasti sudah bosan mendengar ayahnya pamer kekayaan.”

“Setidaknya ia akan lebih peduli terhadap aset-asetku dibandingkan kau. Istri PresDir macam apa yang tidak tahu seluk-beluk harta suaminya sendiri?”

“Itu namanya pencucian otak, dan—” Hye-Na mendorong bahu Kyuhyun agar pria itu berdiri, berhenti mengulur waktu untuk pergi ke kantor. “Jangan berlagak. Otakmu juga tidak bisa mengingat jumlah pasti semua kekayaanmu. Berhenti mendebatku dan cepat pergi sebelum—”

Kyuhyun menunduk dan mengecup bibir Hye-Na cepat sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Ia juga melayangkan ciuman ringan di kening Hyun-Ah, lalu bergegas sebelum Hye-Na mengatakan ancaman hariannya yang sudah ia hafal di luar kepala, ‘aku melaporkanmu ke pengadilan dengan tuduhan kau tidak menafkahi anak dan istrimu karena menolak bekerja’. Padahal, siapa yang akan percaya bahkan kalau ia benar-benar bangkrut sekalipun?

Pria itu berhenti di mulut pintu. “Aku tidak bisa pulang siang ini, Presiden memintaku ikut bergabung dengan acara makan siang mereka. Sampai jumpa malam nanti, Hyun-Ah Eomma.”

“Baguslah.” Hye-Na mendesah ketika pria itu pergi, merasa aneh karena ia tidak terkejut dengan panggilan itu. Ia juga mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya berkelebat di otaknya—yang sebenarnya sangat ingin ia lontarkan. Gedung Biru. Tidak ada yang tahu bahwa Kyuhyun kembali dekat dengan Gedung Biru, persisnya setelah kejadian pembunuhan tiga orang gadis yang dilakukan oleh istri presiden dan konflik Cho Corporation dengan pemerintah di bawah kuasa presiden Min Kwang-Jin. Berlebihan memang. Tapi terkadang, selalu ada yang tersisa dari setiap tragedi dan kejadian, jadi ia tidak pernah percaya dengan istilah ‘selesaikan sampai tuntas’. Sama halnya dengan Cho Corporation dan Gedung Biru, instingnya mengatakan bahwa ada yang belum selesai di antara keduanya.

“Kau mengusir suamimu lagi.”

Hye-Na tersadar dari pikiran rumitnya dan melihat ibunya membawa perlengkapan tidur bayi, dengan cekatan mengaturnya di ranjang, mengisyaratkan bahwa Hye-Na harus meletakkan Hyun-Ah di tempat itu. Bayi berusia satu minggu itu menggeliat kecil seperti kucing peliharaan yang terusik—sedikit terkutuk memang jika Hye-Na menyamakannya dengan kucing peliharaan.

“Dia benar-benar menganggapku tidak bisa mengurus Hyun-Ah,” gerutunya sembari meletakkan Hyun-Ah sebagaimana perintah ibunya. “Memangnya dia pikir semua wanita bisa melakukan pekerjaan ibu tanpa belajar? Aku sedang dalam proses belajar, dan lagi pula, meskipun dia di rumah, dia tidak melakukan apa-apa selain menontonku melakukan ini-itu ketika mengurus anaknya.”

“Anak kalian,” ralat ibu Hye-Na cepat. Wanita tua itu menyelimuti Hyun-Ah pelan, tetapi dengan mata yang mengarahkan pandangan tajam pada Hye-Na. “Hyun-Ah anak pertama kalian, jadi wajar saja. Itu reaksi alamiah pria, Hye-Na~ya.”

“Ck. Kau benar-benar fans Kyuhyun nomor satu.” Hye-Na mengerucutkan bibir karena ibunya selalu menemukan alasan tepat untuk membela Kyuhyun.

“Nah, kau tahu juga akhirnya.”

Eomma!”

“Jangan berteriak!” Hye-Na melihat ibunya mengusap-usap Hyun-Ah yang mulai bergerak tidak nyaman karena percakapan berisik mereka. Beruntung, Hyun-Ah kembali tertidur dalam hitungan detik. “Pelajaran penting, kau tidak boleh berteriak di depan anakmu sendiri.”

Hye-Na mendengus mendengar pelajaran itu. “Kau selalu berteriak jika berbicara denganku,” gerutunya dengan suara pelan.

 

***

Cho Corporation, Seoul

09.00 AM

“Kau tertinggal satu langkah. Klienmu yang satu itu sedikit tidak sabaran dan pergi lima menit yang lalu.” Joong-Ki membayangi Kyuhyun di belakangnya. Pria yang langsung duduk di belakang meja kerjanya seolah-olah dia tidak sedang kehilangan satu proyek potensial.

“Berapa nilainya?” tanya Kyuhyun santai. Ia tidak terlihat menyesal sedikit pun mengulur waktu untuk bertemu dengan pemegang proyek itu, karena ia sebenarnya tahu bahwa proyek yang ditawarkan itu salah satu proyek ‘kotor’ milik pemerintah Amerika. Dia menolaknya dengan cara baik-baik, bukan? Ia tidak sampai hati untuk membongkar kebusukan orang-orang di balik proyek itu pada publik. Cukup dengan tidak bergabung dengan mereka, itu sudah mempersulit jalannya proyek tersebut.

“Kau sudah tahu.” Joong-Ki yang kini jauh lebih akrab dengan Kyuhyun, meletakkan setumpuk file di meja Kyuhyun sambil menyeringai, tahu jika Kyuhyun sebenarnya sudah menyelidiki proyek itu jauh lebih awal. “Empat triliuun dolar. Dan mereka mencantumkan Cho Corporation sebagai sponsor utama potensial penyandang dana mereka.”

“Dan dengan nominal segila itu mereka menyerah dalam waktu dua jam?” Kyuhyun terkekeh kecil. “Padahal aku hanya bermain-main sebentar dengan anakku tadi.”

“Kalau dua jam setiap hari selama seminggu belakangan ini bisa dikatakan sebentar, aku setuju denganmu.” Hal itu memang tidak berpengaruh sama sekali terhadap pekerjaannya, tetapi terlalu menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan karyawan. “Memangnya kau sebegitu terjebaknya dengan status barumu?”

Kyuhyun menertawakan dirinya sendiri, merasa tertohok dengan perkataan Joong-Ki. ‘Terjebak’ sepertinya memang kosakata yang cocok untuknya. “Hyung, kau harus merasakannya sendiri.”

Bibir Joong-Ki melengkung sebelum ia menyilangkan kakinya, memainkan sebuah miniatur amphibithrope yang dipajang di meja kerja pria itu. Kyuhyun secara tidak langsung menyinggung status single-nya. “Itu akan kuanggap sebagai pujian alih-alih sindiran.”

“Itulah gunanya berpikiran positif,” sahut Kyuhyun sambil terkekeh.

“Ngomong-ngomong, kau mulai tertarik dengan dunia politik sekarang? Media bahkan sudah tahu kau akan menghadiri makan siang dengan Presiden dan para calon menteri.”

“Aku tidak tertarik pada dunia politik.” Ia kembali mencoretkan tanda tangannya pada beberapa kertas dan mengecek ulang layar komputernya. “Tapi aku cukup tertarik dengan opera sabun.”

“Jadi kau memutuskan untuk menghadiri pertemuan para calon menteri siang ini?”

“Opera sabun, kubilang.”

Joong-Ki beranjak dari kursinya, menghela napas berat. “Yah, para pemain opera sabun itu sudah terlalu tua. Sebaiknya kau bergabung sebagai pemanis layar.” Ia mengambil setumpuk file yang sudah ditandatangani Kyuhyun, lalu berjalan keluar ruangan. “Aku akan mengingatkanmu tiga jam lagi. Siapkan uang untuk tiket masuk, oke? Kau yang traktir.” Joong-Ki mengeluarkan leluconnya dan menghilang di balik pintu.

Kyuhyun mengulum senyumnya, lalu menggumam kecil—tidak berniat untuk memperdengarkan apa yang ia ucapkan. ”Aku lebih suka jadi penonton.”

“Apakah ada film bagus yang kulewatkan?” Sosok Joong-Ki yang menghilang dibalik pintu digantikan oleh Hyuk-Jae. Pria itu mengambil tempat di seberang meja Kyuhyun, terlihat sedang tidak ingin membicarakan pekerjaan. Berhubung kata terakhir yang ia dengar dari Kyuhyun adalah ‘tiket masuk’ dan ‘penonton’, ia memutuskan untuk membuka percakapan dengan topik film—yang mungkin tidak akan digubris Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun tanpa basa-basi. Ia selalu tahu bagaimana cara membaca raut wajah sepupunya, dan wajah Hyuk-Jae kali ini menunjukkan bahwa ia hanya sedang bosan dengan pekerjaannya. Hyuk-Jae memainkan papan nama di meja Kyuhyun, sementara pria itu sibuk bekerja, meninjau ulang beberapa laporan yang tidak berhenti masuk ke komputernya sejak tadi pagi.

“Aku dengar CEO Georgia Pasific walked-out dari ruangan rapatmu pagi ini.”

Tangan Kyuhyun berhenti menulis, lalu melirik Hyuk-Jae dengan wajah dongkol. “Kau jauh-jauh menyeberang dari kantormu dan mendarat di kursi kantorku hanya untuk menanyakan tentang hal itu? Lee Hyuk-Jae, kau bisa membaca berita yang lebih lengkap di koran besok pagi.”

“Wow.” Hyuk-Jae tampak terkagum-kagum ketika membayangkan proyek Amerika yang digagas oleh perusahaan bonafit itu ditolak mentah-mentah oleh Kyuhyun. “Kau juga diagendakan menghadiri makan siang bersama para calon menteri dan calon-mantan-menteri. Apa kau dicalonkan menjadi menteri? Atau menjadi presiden? Rumor ini sama dahsyatnya dengan pencalonanmu sebagai presiden beberapa waktu lalu.” Hyuk-Jae bahkan tidak mengambil napas di sela-sela pertanyaannya.

“Hye-Na akan melayangkan surat cerai jika aku menerima tawaran itu.” Kyuhyun mengambil komputer portablenya yang baru dirilis Cho Corporation satu bulan yang lalu dan sedang menjadi gadget paling booming di pasaran. Ia mengecek beberapa laporan produksi dan keuangan yang baru masuk. “Aku belum tahu apa motif ‘makan siang’ itu. Tapi sepertinya Presiden membutuhkan sesuatu dariku.”

“Dan itu memang faktanya,” Hyuk-Jae menjentikkan jari, terlihat tertarik dengan pembicaraan ini tetapi ia memutuskan untuk mengetahuinya lebih lanjut dari media. Terkadang, media akan menyampaikannya dengan cara yang lebih dramatis dan mengesankan. “Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Hye-Na dan keponakan cantikku?”

“Hyun-Ah oke. Ibunya sedikit tidak oke.” Kyuhyun memberi jeda pada jawabannya, membuat Hyuk-Jae penasaran. “Aku tidak mengizinkannya bekerja setidaknya sampai Hyun-Ah berusia dua minggu. Dan dia melampiaskannya dengan memarahiku setiap hari,” ujarnya sambil mengusap tengkuknya, sementara Hyuk-Jae tertawa puas—membayangkan wajah Hye-Na yang murka karena kehilangan pekerjaan yang selama ini diper-Tuhan-kan olehnya.

“Kalau kau sudah puas tertawa, kau boleh kembali bekerja, keparat,” usir Kyuhyun dengan nada sinis.

 “Tunggu dulu, tunggu dulu, tunggu dulu,” Hyuk-Jae tetap tidak beranjak dari kursinya, dan lebih memilih mencondongkan tubuhnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Wajah konspiratifnya membuat Kyuhyun sebal setengah mati. “Satu lagi.”

“Apa lagi?” geram Kyuhyun kesal. Jika dalam satu menit sepupunya ini tidak beranjak dari kursi itu, ia sendiri yang akan menendang pria itu beserta kursi yang didudukinya keluar jendela.

“Kudengar kau payah dalam hal mengurus anak, ya?”

 

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju.

01.05 PM

“Bagaimana makan siangmu?”

Hye-Na mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan itu. Wajah Kyuhyun di layar communicator terlihat masih secerah, sesegar, dan setampan tadi pagi—atau mungkin setiap hari, seperti biasanya. Dari latarnya, sepertinya Kyuhyun sedang berada di dalam mobil, mungkin baru saja selesai dengan agenda makan siangnya di Gedung Biru.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.”

“Kau tahu jawabanku,” jawab Kyuhyun sekenanya. Benar saja, Hye-Na mampu menebak apa yang ada di pikiran Kyuhyun saat itu.

“Sebegitu membosankan?”

“Hanya basa basi.” Kyuhyun melempar punggungnya untuk bersandar. “Presiden sepertinya mulai mencium sesuatu yang tidak beres dari menteri pilihan Min Kwang-Jin yang belum sempat diganti dengan menteri baru. Presiden akan memutuskan hasil penunjukkan menteri baru empat hari lagi. Selama itu, Presiden meminta agar KNI mengawasi mereka.”

“Tidak seru.” Hye-Na menempelkan punggungnya pada kepala sofa, sama dengan apa yang dilakukan Kyuhyun. Ia baru saja selesai meninabobokan Hyun-Ah dan tidak tahu harus melakukan apa—berhubung ia masih dalam masa cuti. Alhasil, ia mulai memikirkan isu-isu politik tidak penting yang dulu tidak pernah dipikirkannya. Dan sebagian besar berita di televisi membicarakan suaminya. “Kupikir kau akan dicalonkan menjadi menteri.”

“Kau sudah pernah dicalonkan menjadi ibu negara, dan kau mau-mau saja turun pangkat menjadi ibu menteri?” tanya Kyuhyun retoris.

“Bukan begitu, maksudku, untuk apa Presiden masih mengawasi dan mempertimbangkan mereka? Dia kan bisa mencari orang yang benar-benar baru, meminimalisir tersisanya kekotoran pemerintahan Min Kwang-Jin.”

“Wah wah, kau sudah cocok menjadi ibu negara.” Kyuhyun terkekeh mendengar komentar gadis itu, membuat Hye-Na mendecak kesal.

“Diam kau.”

“Lupakan saja. Di mana Hyun-Ah-ku?”

“Sedang tidur. Dan pulanglah cepat. Kita harus membicarakan sesuatu nanti.”

“Nanti?” Kyuhyun mencoba membaca raut wajah Hye-Na, menerka-nerka topik apa yang akan dibicarakan. Tetapi ia tidak berhasil menebak apa pun dari wajah datar istrinya. “Tidak bisa dibicarakan di sini? Sekarang? Tidak ada yang bisa menyadap communicator-ku.”

“Tidak,” Hye-Na kukuh menggeleng. “Sampai jumpa nanti malam.”

 

***

KNI, Five States Building

03.00 PM

Ruangan itu terlihat begitu sepi. Hanya ada enam orang di dalamnya, Jenderal Besar mereka—Min Hwang-Do, si pria besar yang pernah ‘dikalahkan’ oleh Kyuhyun, Joong-Ki, Kyuhyun, dan sisanya beberapa petinggi KNI. Suasananya tidak terlalu baik mengingat Kyuhyun dan Hwang-Do tidak pernah berusaha memperbaiki hubungan mereka pasca kejadian pemukulan di rumah sakit setahun yang lalu. Tapi Kyuhyun tentu saja tidak pernah menyesali perbuatannya, karena Jenderal Besar ini juga ikut andil dalam kecelakaan Hye-Na secara tidak langsung.

“Presiden memintaku secara pribadi, jadi kuharap kita semua bisa bekerja sama dengan baik demi kepentingan negara. Intelijen juga memiliki kuasa atas beberapa area, termasuk sistem pemerintahan. Jadi, gunakan kemampuan dan fasilitas yang ada semaksimal mungkin agar Presiden tidak salah pilih menteri.” Kyuhyun berdiri, hendak mengakhiri pengarahannya tentang permintaan presiden agar KNI mengawasi dan memberi penilaian pada para calon menteri dan menteri yang sedang bertugas saat ini. “Empat hari lagi, nama-nama menteri baru akan keluar. Pastikan informasi detail mengenai mereka—para calon baru maupun orang lama yang mencalonkan diri kembali sudah sampai di meja kerjaku tiga hari lagi. Sekretarisku akan memastikan semuanya.” Ia berdiri, melirik Joong-Ki, kemudian memberikan tatapan tajam pada Jenderal Besar yang sama sekali belum berbicara sejak ia masuk ke ruangan. Mungkin merasa segan, atau justru kesal pada sifat otoriter Kyuhyun sejak KNI diambil alih lagi oleh Cho Corporation.

Pada akhirnya, ia melempar senyum kecil yang melambangkan kekuasaannya. “Sampai jumpa. Pastikan tidak ada informasi yang terlewatkan.”

Kyuhyun dan Joong-Ki berbenah, bersiap meninggalkan ruangan jika saja pria raksasa yang sedari tadi belum bicara itu tidak menghentikannya dengan suara serak dan khas jenderalnya.

“Cho Kyuhyun ssi.” Ketika para petinggi keluar, mereka terpaksa diam di tempat. Min Hwang-Do menghampiri Kyuhyun yang berdiri lebih dekat dengan pintu keluar. Langkah pria itu tidak terlihat segan atau ketakutan, tetapi lebih mirip pohon pisang yang bisa berjalan. Besar, kaku, tapi bisa dipatahkan dalam sekali tendang.

Pemilik Cho Corporation itu menunduk sopan—setidaknya ia berusaha terlihat seperti itu, namun tidak mengatakan apa pun sampai Hwang-Do berinisiatif membuka mulutnya. Joong-Ki juga ada di sana, tidak meninggalkan Kyuhyun karena pria itu yakin atasannya tidak akan berlama-lama untuk hal yang tidak perlu.

“Aku minta maaf belum sempat mengunjungi istrimu, salah paham itu sedikit membuatku tidak tahu cara bagaimana aku harus bersikap.” Kyuhyun dalam hati memuji pohon pisang besar yang satu ini, tidak disangka suaranya masih bisa lantang seperti sedang memberi komando pada pasukannya.

“Apa tepatnya yang sedang Anda bicarakan, Jenderal?” Kyuhyun tersenyum sangat manis, semanis yang bisa ia siratkan betapa bahaya setiap jengkal bibirnya. “Siapa yang salah paham dengan siapa?”

Joong-Ki terkikik kecil melihat Min Hwang-Do sedikit tertohok dengan ucapan Kyuhyun. Pria itu berpura-pura merapikan seragam jenderalnya yang kekecilan—atau karena badannya yang terlalu besar. “Aku tahu Hye-Na bekerja sesuai prosedur sewaktu menangani kasus Min Kwang-Jin. Tapi—“

“Tapi Min Kwang-Jin tidak bersalah karena memberi skorsing adalah haknya? Itu yang baru saja ingin kau sampaikan?” Kyuhyun memotong kalimat pria itu kemudian maju satu langkah, tidak merasa terintimidasi dengan tubuhnya yang lebih kecil. “Jenderal, sayangnya, aku memukulmu bukan karena salah paham kecil-kecilan seperti yang kau kira.”

“Aku tidak sedang mempermasalahkan pukulanmu, Cho Kyuhyun ssi.” Hwang-Do terlihat mulai geram, dan berbohong. Tentu saja dia sedang membicarakan insiden itu.

“Oh, ya?” Kyuhyun menepuk bahu Hwang-Do pelan, mengisyaratkan agar pria itu menurunkan emosinya yang mulai mendidih. “Kau sedang membicarakan sesuatu yang kau sebut dengan ‘salah paham’, kan?”

Posisi jenderal memang pantas untuk pria dihadapannya ini. Tinggi, besar, dan lebih mendahulukan mulut dan badan ketimbang otak.

“Salah paham atau tidak, aku tetap harus melakukannya atas nama istri dan anakku yang harus mati sebelum terlahir ke bumi.” Suara rendah Kyuhyun membuatnya lebih terdengar seperti ancaman alih-alih pernyataan.

“Tuan, Anda dijadwalkan menghadiri rapat tertutup di SRO lima menit lagi.” Joong-Ki memperingatkan Kyuhyun, hingga pria itu kembali mundur satu langkah, membungkukkan badannya lagi untuk memberi salam. “Kalau kau berharap sebaliknya, maaf saja. Aku belum menyesali perbuatanku sampai detik ini.”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju.

07.30 PM

Mereka sudah menyelesaikan makan malam dan kembali ke kamar. Hye-Na membiarkan Hyun-Ah bersama ibunya, sementara ia, seperti janjinya tadi siang, bergegas ke kamar untuk berbicara dengan Kyuhyun. Pria itu sedang mengoyak dasinya, dan Hye-Na mengambil alih tangan pria itu untuk membukanya.

“Kupikir kita akan berbicara di meja makan,” ujar Kyuhyun yang mengalihkan tangannya pada kancing baju.

“Aku sudah membicarakannya dengan Eomma tadi.”

Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggang Hye-Na, menunggu gadis itu membuka kancing kemejanya sambil menunggu pertanyaan yang akan ia tanyakan. Sepertinya cukup serius—mengingat ekspresi wajah gadis itu tidak terlihat terlalu baik.

Eomma harus kembali ke Manhattan besok pagi,” mulai gadis itu pelan, berhati-hati. Kyuhyun menyipitkan matanya, menunda interupsi yang akan ia lontarkan. “Dia tidak bisa meninggalkan rumah terlalu lama, Kyu.”

“Kau belum bisa—”

Hye-Na menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya, sudah mengantisispasi reaksi Kyuhyun sebelumnya. “Dengarkan aku sampai selesai!”

“Ya, ya. Teruskan.” Kyuhyun menyingkirkan tangan gadis itu dan meloloskan kemeja kerjanya, sementara Hye-Na mengekori Kyuhyun ke lemari pakaiannya yang berbentuk sebuah ruangan yang tertanam di salah satu tepi dinding kamar mereka. Hye-Na memiliki tiga lemari seperti ini, sementara Kyuhyun hanya punya satu dengan ukuran dua kali lipat lebih luas.

“Bagaimana kalau kita menyewa baby-sitter?” tanya gadis itu dengan intonasi yang terdengar seperti tukang dagang yang menawarkan barang.

Hye-Na bahkan menyela lagi sebelum Kyuhyun sempat membuka mulutnya. “Bukannya aku tidak mau megurus Hyun-Ah, hanya saja… kau mengerti maksudku, kan? Aku sudah mengambil cuti lebih dari dua bulan, sesuai perintahmu.” Hye-Na menggigit bibir, berharap Kyuhyun tidak salah menangkap maksudnya. Ia hanya ingin kembali bekerja, bukan menelantarkan Hyun-Ah.

“Karena, kalau aku tidak memerintahmu, bisa-bisa kau melahirkan Hyun-Ah dalam keadaan berlari mengejar penjahat,” tukas Kyuhyun. Ia mengerti bahwa pikiran Hye-Na sudah mulai gatal karena tidak memikirkan kasus pembunuhan lebih dari dua bulan. Untuk ukuran seorang Han Hye-Na, ia sudah cukup bersabar dengan rutinitas rumahan yang tidak pernah disukainya, jadi ia memutuskan untuk memberi waktu selama dua minggu pasca-melahirkan. Tapi dengan tidak tahu diri, Hye-Na sudah merengek meminta bekerja sekarang. Semua orang menikmati hari libur, kecuali gadis aneh di hadapannya ini.

“Aku akan pulang sebelum jam makan siang dan sebelum jam makan malam. Bukankah itu artinya aku hanya bekerja enam jam sehari? Itu sudah setengah dari jam kerjamu,” promosinya dengan menggebu-gebu.

Kyuhyun menghela napas, memakai kaus tidurnya lalu berbalik, berhadapan dengan Hye-Na. Ia bisa melihat raut gusar di wajah gadis itu, sepertinya benar-benar sudah memikirkan masalah ini seharian. “Ya untuk baby-sitter, dan tidak untuk bekerja.”

Hye-Na merengut mendengar jawaban itu, mengejar Kyuhyun yang berjalan keluar dan menarik kaus tidurnya hingga pria itu kembali berbalik. “Yak! Cho Kyuhyun!”

“Apa lagi?”

“Penawaran terbaru, empat jam sehari.” Hye-Na menyengir, kali ini ia mempromosikannya dengan lebih bersemangat. “Dua jam sebelum jam makan siang dan dua jam setelah jam makan siang. Aku akan mengerjakan sisanya di rumah, bagaimana?” Hye-Na mengeluarkan  jurus terakhirnya, tatapan memelas mirip kucing jalanan kelaparan yang membuat Kyuhyun mendecak sebal, berusaha tidak memedulikan rengekan gadis itu.

“Jawabanku tetap sama.”

Kyuhyun merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung memejamkan matanya, tapi Hye-Na masih belum menyerah sama sekali. Gadis itu ikut meringsek ke dalam selimut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membalik tubuh tegap pria itu agar mau berhadapan dengannya.

“Kalau begitu usahaku juga akan tetap sama.”

Dengan perhitungan akurat, Hye-Na dapat membalik tubuh pria itu seperti membalik sebuah karung beras. Kyuhyun awalnya tidak menangkap maksud gadis itu tetap memejamkan matanya, tapi sedetik kemudian, ia mengerti apa yang dimaksud dengan ‘usaha’ ketika Hye-Na mengecup bibir Kyuhyun ringan, lalu melakukan hal yang sama secara bertubi-tubi pada bagian wajahnya yang lain. Mata, hidung, dagu, pipi, pelipis, dan sepertinya ia akan bergerak menuju leher. Pria itu sempat bertahan, tetapi menyerah pada detik ketiga puluh dan berbalik menggulingkan tubuhnya agar ia bisa menindih Hye-Na, memberikan tatapan tajamnya yang biasa ia gunakan tanpa sadar untuk membuat perempuan lain jungkir-balik, tidak terkecuali Hye-Na. Bedanya, ia tidak perlu berjungkir balik untuk mendapatkan tatapan itu.

“Kau. Sialan,” ujar pria itu dengan intonasi mengeja, tidak repot-repot menyembunyikan wajahnya yang merasa terganggu karena gerakan Hye-Na barusan.

Hye-Na tersenyum, menampilkan deretan giginya dengan aura kemenangan ketika Kyuhyun hanya menatapnya, tidak bergerak sama sekali. Mungkin pria itu sedang menimbang-nimbang.

“Jadi, keputusanmu, PresDir?”

“Dengan syarat, tidak baby-sitter android. Dan kau bisa mulai bekerja lusa, sesuai kesepakatan, empat jam sehari. Aku akan meminta Eun-Ji mengawasimu.”

Hye-Na refleks mengecup leher Kyuhyun yang berada tepat di depan bibirnya, membuat pria itu mengeluarkan geraman kecil yang tertahan. “Nah, seharusnya kau sebaik ini sejak tadi.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Hye-Na yang masih dalam euforia kemenangan—seperti baru saja mendapat makanan sehari-harinya yang sudah tidak ia santap dua bulan terakhir.

“Ngomong-ngomong, keputusanku tidak gratis,” lanjut pria itu dengan tatapan yang… ya Tuhan, Hye-Na tahu persis ke mana muaranya. Tatapan lapar yang frustrasi.

Bingo. Pria itu mulai menciumnya, bar-bar dan mengerikan meskipun Hye-Na merasa tolol karena menyukainya. Kyuhyun dengan cepat mengambil alih bibir Hye-Na, bahkan tidak membiarkan gadis itu membalasnya ciumannya sama sekali. Ia hanya ingin memberi gadis itu lebih banyak, tidak peduli ia akan mendapatkan sebanyak apa. Tangannya mulai menelusur, mencari jalan di balik kaus tipis yang Hye-Na kenakan, sementara gadis itu hanya mampu membenamkan jemarinya di rambut Kyuhyun tanpa bisa bersuara. Pria itu menyeringai di sela ciuman mereka yang intensitas panasnya belum menurun sama sekali.

“Aku anggap kau sangat senang membayarnya.”

Hye-Na ikut-ikutan menyelinapkan tangannya di balik kaus Kyuhyun, meskipun matanya sudah mulai berkunang-kunang—karena pria itu terlalu cepat dan ia tidak mengantisipasi apa pun, dan hebatnya, Kyuhyun tidak melewatkan bagian mana pun dari sisi tubuhnya yang bisa disentuh. Hye-Na tersenyum miring memikirkan hal itu, lalu mengedikkan bahunya pelan. “Anggap saja begitu, Sir.”

Tangan pria itu menyusup ke balik punggungnya, bermain sebentar dengan menggelitik kulit gadis itu hingga menimbulkan pekik menyebalkan dari mulut Hye-Na alih-alih desahan yang selalu ditahannya. Gadis itu dengan kasar menjambak rambut Kyuhyun, memberikan tatapan ancaman pada pria itu. “Tidak ada usaha membuatku mencicit atau kita berhenti sampai di sini, Cho Kyuhyun.”

“Aku suka cicitan-mu.” Pria itu menyeringai, mendapatkan pengait bra Hye-Na dan menyentaknya dalam satu gerakan. Ia kembali memanjat tubuh gadis itu, berencana melakukannya berlama-lama. Mereka masih punya waktu sepuluh jam sampai waktu sarapan pagi tiba.

 

***

06.15 AM

Hye-Na mengendus aroma kopi lagi. Berbeda dari biasa, sepertinya Kyuhyun menambakan creamer pagi ini.

“Apa itu creamer?” tanyanya spontan, dengan posisi tidur yang masih sama dan belum membuka matanya sama sekali.

Ia dapat mendengar suara Kyuhyun tertawa. “Wah, kau bahkan lebih berbakat dari anjing pelacak KIA.”

Hye-Na membuka matanya, lalu cemberut ketika melihat Kyuhyun tersenyum mengejek. Pria itu sepertinya sudah mandi karena rambutnya masih basah—tetapi masih dalam keadaan shirtless. Berdiri bertelanjang dada di depan jendela dengan secangkir kopi creamer di tangan membuatnya terlihat seperti patung Mesir dari zaman Arkaik.

“Musim dinginnya akan terlambat lagi,” ujar pria itu tenang. “Kau mau?” Ia menawarkan kopinya.

Dengan mata mengantuk, Hye-Na menyeret tubuhnya untuk duduk, menarik serta selimut untuk menutupi tubuhnya sebatas dada karena ia tidak mengenakan apa pun di baliknya.

“Kemampuanmu sudah bertambah menjadi peramal iklim?” Ia menengadahkan tangannya, meminta Kyuhyun untuk menghampirinya—karena ia tidak sedang dalam mood melilit-lilit tubuhnya dengan selimut atau yang lebih ekstrem, telanjang di depan pria itu. Setelah perhelatan bar-bar semalam, untungnya otak warasnya masih tersisa sedikit.

“Pengetahuan umum,” Pria itu dengan baik hati menghampirinya, duduk di tepi ranjang dan menyerahkan kopi itu pada Hye-Na. Gadis itu meminumnya seperti ia sedang meminum berlian cair dan berakhir tersedak.

“Pelan-pelan. Aku bisa membuatkannya lagi kalau kau mau.” Kyuhyun mengusap punggung Hye-Na teratur.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya gadis itu setelah keadaannya membaik, membiarkan Kyuhyun memegang cangkirnya lagi.

“Apa?”

“Musim dingin.”

Kyuhyun meminum isi cangkirnya sebelum berbicara. “Kau tahu ini tahun berapa? Tidak ada kuliah gratis, Nyonya.”

Hye-Na memasang tampang cemberut lagi. Ia tak habis pikir bagaimana Kyuhyun masih bisa memikirkan acara bayar-membayar sementara ia seharusnya berpikir bagaimana cara menghamburkan uangnya untuk empat belas keturunannya yang akan datang.

“Ngomong-ngomong, aku belum memberitahumu sesuatu.” Kyuhyun meletakkan cangkirnya di nakas, berjalan menuju lemari Hye-Na dan menarik sebuah jubah tidur sutra berwarna merah menyala. Ia tidak ingat pernah membelikan jubah itu untuk Hye-Na, tapi warnanya lumayan juga.

Sementara itu, Hye-Na menelan umpatannya untuk mencaci warna merah mencolok yang menurutnya terlalu… norak. Kadang-kadang ia memang tidak bisa menyatukan seleranya dengan selera Kyuhyun yang tidak bisa ditebak. Atau mungkin, selera Ah-Ra Eonni yang memang memiliki maksud agar ia menggoda Kyuhyun dengan warna jubah sialan itu.

“Aku berbicara dengan Min Hwang-Do kemarin.”

Gerakan tangan Hye-Na yang sedang mengikat tali jubahnya kini membeku. Min Hwang-Do? Ia tidak pernah lagi berurusan dengan orang yang secara tidak langsung merupakan atasannya itu. Terakhir kali, ia mendengar Kyuhyun memukul pria itu di rumah sakit ketika kecelakaannya terjadi nyaris setahun yang lalu.

Kyuhyun mengambil alih tangan Hye-Na, mengikat tali jubah itu dengan hati-hati. “Sayangnya, dia masih belum mau minta maaf padamu.”

“Kau berlebihan.” Hye-Na menangkap ekspresi menyesal dari wajah pria itu yang ditutupinya dengan menunduk, berpura-pura fokus pada tali jubah. “Lagi pula aku tidak makan dari permintaan maafnya. Aku kan makan pakai uangmu.”

Mendengar jawaban gadis itu, Kyuhyun menyengir lebar, menarik tali jubahnya hingga Hye-Na terantuk dan terpaksa menatap Kyuhyun dengan jarak hanya satu senti diantara wajah mereka. Aroma sabun sialan itu bahkan lebih menggoda dari aroma kopi creamer Kyuhyun.

“Jadi, Agen Han, kau akhirnya tertarik dengan uangku?”

Hye-Na mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kembali tersadar dan segera memperbaiki ekspresinya. “Aku tidak pernah mengatakan hal yang sebaliknya.” Hye-Na menantang pria itu, menepis jari Kyuhyun sedang bergerak diam-diam untuk melepaskan simpul tali jubah yang baru saja ia ikatkan. “Hati-hati dengan jarimu, PresDir. Kau bisa mangkir kerja hari ini kalau jarimu terpeleset sedikit saja.”

“Nah, kau bahkan bisa meramal pikiranku sekarang. Bagaimana kalau kita berbagi materi kuliah?” Kyuhyun tertawa puas, lalu berdiri dan menarik Hye-Na bersamanya. Mereka benar-benar tidak bisa dibiarkan dalam kondisi setengah telanjang dan berdua saja, jika mereka masih perlu melakukan kegiatan sehari-hari. Dan mereka harus ingat bahwa ada Hyun-Ah di kamar sebelah.

“Ayo cepat, sebelum jariku terpeleset.”

 

***

12.10 AM

Hye-Na meluruskan kakinya, sementara satu tangan ia pergunakan untuk menggendong Hyun-Ah, satu tangan lagi ia pergunakan untuk menyendok makan siangnya. Ibunya sudah pulang ke Manhattan tadi pagi—langsung diantar oleh Leeteuk yang kebetulan juga akan mengunjungi ayahnya, Park Soo-Hwan.

Ia juga sudah mendapatkan baby-sitter untuk menggantikan posisi ibunya sebagai mother-guide. Baby-sitter itu didapatkan dari biro penyalur terbaik di Korea dan tentu saja ‘manusia’, seperti yang Kyuhyun inginkan. Untuk syarat yang satu itu, Hye-Na sama sekali tidak keberatan, karena sebaiknya Hyun-Ah memang tidak dirawat oleh android. Terkadang, teknologi bisa jadi senjata makan tuan, begitulah kuliah yang pernah diberikan ayah angkatnya ketika ia selalu bekerja dengan mengandalkan perangkat-perangkat supercanggih.

Ia berjengit kaget ketika rambutnya tiba-tiba ditarik, lalu diikat membentuk kucir kuda.  Kyuhyun yang melakukannya. Seperti biasa, pria itu pulang pada jam makan siang.

“Rambutmu mengganggu.” Hye-Na baru menyadari bahwa ujung rambut ikalnya yang semakin panjang sudah menyentuh kening Hyun-Ah.

Kyuhyun mengecup pipi Hye-Na, kemudian mengambil tempat di samping gadis itu dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Hyun-Ah. Ia tersenyum ketika Hyun-Ah menggerakkan tangannya lincah. “Ibumu sudah pulang?”

Hye-Na mengangguk, melanjutkan makan siangnya, dan tidak lupa menyuapi Kyuhyun yang sibuk bercengkrama dengan Hyun-Ah yang sedang mengeluarkan suara-suara kecil menggemaskan, tidak lagi terlihat kikuk. Kyuhyun benar-benar cepat belajar, pikir Hye-Na. Apa sih yang tidak bisa pria itu lakukan dengan benar?

“Aku sudah mendapatkan baby-sitter.” Hye-Na mengabaikan pikirannya, berkata dengan semangat. “Kang Mi-Sun Ajjumma. 40 tahun. Dia rekomendasi dari biro terbaik. Eomma yang mencarikannya.” Kyuhyun baru menyadari bahwa di antara tiga pelayannya yang berdiri di sudut ruangan, satu orang tidak berseragam sama. Itulah wanita yang Hye-Na sebut sebagai Kang Mi-Sun. Wajahnya memang sangat keibuan, dan terlihat sedikit lebih tua dari usianya. Wanita paruh baya itu menunduk hormat, memberi salam pada Kyuhyun, yang hanya dibalas dengan senyuman kecil oleh pria itu.

“Saya mohon bimbingan Anda,” ujar wanita itu dengan suara kecil yang bergetar. Nampaknya ia terlalu gugup melihat Kyuhyun secara langsung untuk pertama kalinya, karena biasanya, ia hanya melihat icon kekayaan dunia itu memenuhi layar televisi.

“Istriku tidak betah berlama-lama di rumah tanpa melakukan pekerjaan, jadi kuharap kau bisa maklum.” Kyuhyun menerima suapan yang ditawarkan Hye-Na, dan tentu saja hal itu meninggalkan kesan berbeda dari seorang Cho Kyuhyun yang selalu tampil di televisi. Pria itu terlihat lebih humble dan manusiawi.

“Ya.” Wanita itu tersenyum sangat ramah, beberapa keriputnya tersamarkan oleh tarikan bibirnya. “Saya sangat senang bisa bekerja di sini, Tuan.”

 

***

Cho Corporation, Seoul.

15.32 PM

“Penawaranku yang terakhir, Zurich.” Joong-Ki melemparkan punggungnya ke sofa, terlihat lelah dan akan meledak sebentar lagi. Kyuhyun sudah menolak kunjungan ke empat negara di mana perusahaannya menjadwalkan pengecekan rutin yang harus dilakukan langsung oleh Kyuhyun, tapi pria itu menolaknya mentah-mentah karena sindrom ‘ayah’ yang sedang menyerangnya.

Hyung, kau belum mengerti juga?” Kyuhyun menepuk punggung sekretarisnya sebelum melangkah ke Chef-Machine, memesan secangkir teh dan meyeruputnya sebelum duduk berhadapan dengan Joong-Ki yang sedang membeberkan layar komputer portable-nya.

“Kapan aku bisa mengerti jalan pikiranmu yang lebih rumit dari otak perempuan itu?”

It’s easy as 123.” Kyuhyun mengeluarkan cengirannya, mengutak-atik komputer portable yang ada dihadapannya dan berkata dengan santai. “Kau bisa gunakan amphibithrope-ku dan lakukan pengecekan ke lima negara itu dalam waktu satu hari.”

“Satu hari?” Joong-Ki menatap pria itu sangsi. Amphibithrope memang supercepat, tapi mengunjungi lima tempat yang terpisah benua dan samudera dalam satu hari tetap saja terlalu riskan. Bahkan ia belum memperhitungkan perbedaan waktu antarnegara yang akan memusingkan orientasi waktunya.

Kyuhyun bisa membaca wajah panik pria di hadapannya. “Hyuk-Jae Hyung memastikan sudah ada demo-version dari Amphibithrope dengan kecepatan yang sudah di-upgrade. Aku belum tahu persis perhitungannya, tetapi katak terbang yang satu itu akan lebih cepat daripada yang beredar di pasaran hari ini. Kau bisa menjadi orang pertama yang merasakan kecepatannya sekaligus memberikan laporan uji coba atas namaku.”

Joong-Ki dengan cepat merebut komputer portable-nya dari tangan Kyuhyun dan mengecek setiap perkembangan Cho Corporation, tetapi ia tidak menemukan hal baru apa pun dari anak perusahaan Cho Corporation di bidang otomotif yang dikendalikan Lee Hyuk-Jae. “Kau belum berencana memasarkannya? Hyuk-Jae tidak mengonfirmasi apa pun padaku soal katak spesies baru ini.”

‘Katak’ memang kiasan yang sama sekali tidak cocok untuk mobil mewah yang bisa terbang dan memenangkan balapan di udara dengan pesawat jet, mereka tahu itu.

“Penelitiannya baru saja selesai tadi pagi, dan aku masih akan merahasiakannya mengingat sepertinya akhir-akhir ini aku sudah menambah rival karena menolak kerja sama dari banyak perusahaan.”

Joong-Ki mengangguk mengerti. Perhitungan Kyuhyun cukup sederhana, tapi ia tahu perhitungan kecil seperti itu akan menjadi masalah jika terlewatkan. “Jika uji coba itu gagal dan aku mati di jalan, kau adalah orang pertama yang akan aku gentayangi,” ancamnya dengan nada geli dan berakhir dengan tertawa kering, merasa bodoh karena lelucon yang sama sekali tidak lucu itu. Nyaris seratus persen uji coba produk Cho Corporation berhasil, bahkan selalu menuai pujian sebelum barang itu dilempar ke pasaran.

“Bagaimana perkembangan KNI?” tanya Kyuhyun, mengalihkan topik ketika mereka berhenti tertawa, kemudian menyesap isi cangkirnya lagi. Joong-Ki mengoperasikan komputer portable-nya dengan cepat layaknya seorang profesional, lalu menunjukkan layarnya pada Kyuhyun, menampilkan beberapa profil menteri dan calon menteri yang sedang berada dalam pengawasan KNI.

“Masih terlalu dini untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak,” terang Joong-Ki serius. “Tapi dari informasi dasar yang sejauh ini KNI dapatkan, mereka bersih. Maksudku—” Joong-Ki meralat ucapannya ketika melihat Kyuhyun mengangkat satu alisnya—tanda ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Tidak ada pelanggaran besar. Hanya sesekali berkomplot satu sama lain untuk proyek kementerian tertentu, dan tidak menimbulkan kerugian bagi negara. Mereka hanya menyedot uang kontraktor.”

Kyuhyun mengangguk, mengamati sederet nama dan foto yang tidak asing baginya. Ia baru menemui mereka di jam makan siang kemarin. “Naikkan satu level pengawasan untuk para aktor opera sabun ini.”

“Itulah alasan mengapa aku tidak pernah mengerjakan sesuatu tanpa tuntas,” lanjutnya mantap, lalu berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut, menyeberangi ruangan dan kembali bekerja di balik meja, sementara Joong-Ki mulai mengerjakan apa yang Kyuhyun perintahkan dari balik komputer portable-nya.

“Sekecil apa pun, hama akan tetap mengganggu inangnya, kan?”

 

***

STA, Five States Building

09.00 AM

“Berhenti!” Hye-Na mendorong kepala Eun-Ji dengan telunjuknya, tepat sebelum wanita itu memeluknya—reaksi berlebihan yang selalu saja terjadi. “Sudah kukatakan padamu berkali-kali, dilarang memelukku!”

Meskipun terlambat satu jam dari jadwal karena Hyun-Ah sedikit rewel, akhirnya hari ini ia menginjakkan kakinya lagi di Five States setelah Kyuhyun menyabotase tempat ini dari jangkauannya lebih dari dua bulan. Tidak banyak yang berubah, dan tidak ada kasus berat yang sedang terjadi karena ia juga memantau setiap kasus dari televisi setiap hari—berhubung akses tersisa yang tidak disabotase Kyuhyun hanyalah televisi.

“Kuperingatkan kalian agar tidak berlebihan menanggapi kedatanganku hari ini. Aku hanya bekerja sebentar.” Hye-Na berjalan di sepanjang selasar, beberapa kali membalas senyuman dari wajah karyawan STA yang bermunculan di kubikel, berniat menyapanya.

“Ternyata kau benar-benar mulai bekerja hari ini!” Eun-Ji mengekori Hye-Na dengan semangat ke ruangan kerjanya, diikuti Soo-Hyun yang baru datang dan menyadari bahwa atasannya masuk ke kantor lebih cepat dari yang dijadwalkan.

“Terdengar menjijikkan, tapi aku harus merayu Kyuhyun habis-habisan untuk sampai ke tempat ini sekarang.” Ketika sampai di ruangan, ia tidak langsung duduk di kursinya, melainkan menghampiri Chef-Machine dan memesan secangkir kopi yang mungkin rasanya tidak akan seenak kopi buatan pelayan manusia atau Chef-Machine di rumahnya. Apa pun itu, yang penting ia membutuhkan sesuatu yang pahit pagi ini untuk membuat matanya waspada setelah rehat lebih dari dua bulan terakhir.

“Ada kasus menarik yang bisa kutangani?” tanyanya santai, sementara Eun-Ji dan Soo-Hyun hanya melongo dan saling bertatapan, kebingungan dengan sikap Hye-Na yang sama sekali tidak menunjukkan sikap wanita yang baru saja melahirkan seminggu yang lalu.

“Merayu suami memang terdengar menjijikan.” Soo-Hyun akhirnya mengomentari perkataan Hye-Na, duduk di sofa dan memerhatikan setiap detail gerak-geriknya. Masih tetap cekatan, gesit, dan lincah seperti biasa.

“Aku tidak mengizinkanmu mengomentari perkataanku,” ketus gadis itu yang langsung dihadiahi tawa hambar Soo-Hyun. Cho Hye-Na sama sekali tidak berubah.

“Tidak ada yang terlalu serius. Ada sebelas kasus dan tujuh di antaranya sudah dalam proses pengadilan.” Eun-Ji melaporkan hal itu dengan tatapan yang sama sekali tidak beralih dari Hye-Na, lalu duduk di samping gadis itu. Wajahnya semakin lama semakin mendekat, mencari-cari sesuatu dari wajah Hye-Na.

“Apa?” Hye-Na mendorong wajah Eun-Ji—lagi, beruntung ia tidak menyiramkan kopi panasnya pada gadis itu. Mereka seolah-olah melihatnya seperti alien yang baru saja terpeleset dari Mars dan jatuh ke bumi, padahal Eun-Ji dan Soo-Hyun mengunjunginya di rumah beberapa hari yang lalu.

“Aku penasaran bagaimana kau merayu Kyuhyun. Apa kau melakukan implant berlian di wajahmu?” celoteh Eun-Ji polos. “Dia terdengar sangat tidak rela ketika memberitahuku bahwa kau akan mulai bekerja hari ini. Kupikir itu hanya lelucon, tapi kau benar-benar menampakkan bokongmu sekarang.”

Hye-Na mendengus mendengar hal itu. Siapa yang mau membagi cara merayu suami dengan orang lain? “Kalau aku harus melakukan implant berlian untuk merayu Kyuhyun, aku akan mengimplant-nya di bokong, bukan di wajah, bodoh! Pikirkan saja bagaimana cara merayu suamimu sendiri!”

“Ck. Dasar wanita.” Soo-Hyun menggelengkan kepalanya mendengar percakapan Eun-Ji dan Hye-Na. Lagi pula Eun-Ji sepertinya sedang menyebalkan dalam taraf akut, efek ditinggal Siwon satu bulan ini yang harus pergi ke Swiss untuk survei senjata.

“Aku kan hanya penasaran!” Eun-Ji mengerucutkan bibirnya, lalu beralih mengoperasikan komputer portable-nya dan mengirimkan beberapa file tetang kasus pembunuhan yang Hye-Na lewatkan dua bulan ini. “Sudah kukirim filenya, kau bisa mengaksesnya di komputermu sendiri.”

“Memangnya kalian tidak mau melaporkannya secara langsung?” protes Hye-Na cepat. Ia baru saja masuk kerja setelah sekian lama absen, tapi yang menyambutnya hanya kiriman file di komputer payah yang bertengger di mejanya itu. Yang benar saja, gerutu gadis itu pelan. Setidaknya ia harus mendengar presentasi seperti para pemegang saham mendengar presentasi dari direktur di rapat tahunan, bukan bunyi-bunyian aneh dari komputernya.

“Bermimpi saja aku mau mendongeng sebelas cerita pengantar tidur untukmu,” sahut Soo-Hyun pendek. “Lagi pula, lebih dari sebagian sudah ditangani polisi. Sebaiknya kita fokus pada kasus yang tidak bisa ditangani tuan-tuan berseragam itu dengan benar.”

Hye-Na menyesap kopinya, mengernyit ketika ekspektasinya benar. Kopi ini rasanya buruk sekali. Ia sudah terlalu terbiasa dengan kopi ‘rumahan’.

“Contohnya?”

Sebelum berbicara, Soo-Hyun menyilangkan kakinya. “Kasus terbaru, pembunuhan seorang wanita hamil. Perut wanita itu ditikam bertubi-tubi, tepat mengenai janinnya yang berusia enam bulan.”

Anehnya, Hye-Na merasakan sesuatu yang lain mendengar hal itu. Rasanya seperti… sakit hati? Ia sedikit sensitif dengan segala hal yang berbau ibu dan anak belakangan ini. Hilang sudah titelnya sebagai agen berdarah dingin.

“Polisi sudah menangkap pembunuhnya, hanya pembunuh bayaran kelas teri yang buron beberapa bulan terakhir karena kasus pembunuhan lain. Mereka mengembangkan penyelidikan untuk mencari otak pembunuhan dan menemui jalan buntu karena pria itu mati gantung diri di dalam penjara.”

Eun-Ji beranjak dan berjalan menuju meja kerja Hye-Na, menyalakan komputer yang usang ditinggal selama dua bulan lebih dan mencari file yang tadi dikirimkannya. Sebuah layar terbuka di dinding sisi kiri mereka, menampilkan beberapa foto dan data umum mengenai korban dan pelaku.

Eun-Ji memulainya dengan foto sang korban. “Song Ji-Hwa, 36 tahun. Dia—“

“Mantan sekretaris pribadi Presiden Min Kwang-Jin,” sambung Hye-Na dengan suara datar yang tegas. Ia tahu betul wajah licik dan menyebalkan wanita itu, dan tidak akan mungkin melupakannya. Jadi… wanita itu hamil? Mati dibunuh? Sebenarnya, jika bukan karena ia harus membela korban, ia seharusnya tertawa bahagia mendengar berita ini.

“Belum menikah. Jadi, kau bisa simpulkan sendiri akhir ceritanya,” lanjut Soo-Hyun, kembali memberikan tatapan iba pada foto Song Ji-Hwa di layar.

Hye-Na mengangguk. Memiliki hubungan gelap dengan seseorang dan mati dibunuh karena itu. Akhir yang cukup pantas untuk tipe wanita sepertinya.

“Dan pelaku, Uhm Baek-Hee. 50 tahun. Dia pembunuh bayaran biasa, hanya memiliki record tiga korban. Dua dalang pembunuhan sebelumnya sudah terungkap dan dia berhasil melarikan diri dari penjara pemerintah dua kali berturut-turut, lalu melakukan pembunuhan terhadap Song Ji-Hwa, dan pria menyedihkan ini memutuskan untuk bunuh diri setelah tertangkap terakhir kali. Polisi menemui jalan buntu.”

Penjara pemerintah. Hye-Na membayangkan tempat itu hanya sebuah kardus kecil yang akan berlubang jika digigit tikus. Penjahat renta dengan umur setengah abad pun masih bisa melarikan diri dari sana.

Mereka diinterupsi oleh suara dari communicator Eun-Ji yang berdenging. Sepertinya suara alarm. Gadis itu tersenyum lebar, menatap Hye-Na dengan wajah yang tak kalah menyebalkan dari wajah Song Ji-Hwa ketika masih hidup.

“Nyonya Cho, waktumu sudah habis. Kau harus berada di rumah sepuluh menit lagi dan itu artinya kau harus enyah dari tempat ini. Sekarang.”

Hye-Na dengan santai masih menyesap kopi yang rasanya semakin tidak karuan karena sudah dingin. Ia mengamati lagi data-data yang ada di layar tanpa memedulika Eun-Ji. “Kyuhyun tidak makan siang di rumah hari ini, jadi aku bisa tinggal beberapa menit lagi untuk memikirkan kasus ini.”

“Beberapa menit.” Soo-Hyun mencibir dengan gumamannya yang tidak terdengar oleh Hye-Na karena gadis itu seharusnya tahu, beberapa menit saja tetap akan diperhitungkan oleh seorang Cho Kyuhyun, sementara Eun-Ji berderap menuju Hye-Na, mulai menarik, mendorong, dan melakukan kekerasan apa pun yang bisa dilakukan agar Hye-Na keluar dari ruangan kerjanya.

“Yak! Shin Eun-Ji! Sejak kapan kau berani—”

 “Tidak, aku lebih takut pada suamimu, jadi sebaiknya kau angkat pantantmu dan pulang!”

 

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju.

10.05 AM

Hye-Na mengacuhkan dering communicator yang ia geletakkan di jok sampingnya. Cho Kyuhyun pasti bersiap membombardirnya karena ia tidak mengangkat panggilan itu sejak keluar dari gedung STA. Ia hanya terlambat lima menit, dan lagi pula itu karena jalanan sedang macet oleh pengunjuk rasa yang entah menginginkan apa dari pemerintah mereka. Beruntung kemampuan mengemudinya masih bisa dibilang lumayan karena ia bisa mencapai angka 180km/jam untuk sampai ke rumah.

Ia melewati gerbang utama dengan mudah tanpa pemindai dan memarkir mobilnya sembarangan—seperti biasa. Setengah berlari memasuki rumah yang selalu terlihat lebih luas dari bangunan megah apa pun yang pernah ia lihat. Butuh waktu lima sampai sepuluh menit untuk mencapai kamarnya sendiri, masih saja sangat sangat tidak efisien.

“Kang Ajjumma!” Hye-Na langsung menuju kamar Hyun-Ah yang berada di samping kamarnya tanpa peduli seberapa sepi rumah itu. Hyun-Ah seharusnya tidak tidur di jam-jam seperti ini. Ia melongokkan kepalanya ke dalam dan tidak menemukannya di sana, lalu berlanjut ke kamar pribadinya, ke ruang makan, ruang kerja Kyuhyun, taman belakang, dan segala tempat. Kang Mi-Sun tidak ada di mana pun. Hyun-Ah tidak ada di mana pun. Tepatnya, tidak ada siapa pun di rumah ini.

Hye-Na baru menyadarinya, kemudian berlari kesana kemari dengan panik, menjelajahi ruangan-ruangan yang belum pernah dimasukinya selama ia tinggal di sini dan berakhir di tempat di mana ia memarkir mobilnya tadi. Napasnya terasa sesak ketika ia masih tidak menemukan siapa pun. Ia memutuskan untuk kembali ke dalam, menelusuri semua sudut rumah dan mencoba menghubungi bagian keamanan di depan gerbang melalui intercom, dan hasilnya tetap nihil. Ternyata itu alasan mengapa tidak dilakukan pemindaian terhadap mobilnya di depan gerbang tadi.

Hye-Na tidak tahu harus melakukan apa. Ia panik dan mengitari seluruh isi rumah, mencobanya lagi dan lagi, tanpa sadar menangis putus asa. Rasanya seperti tulangnya meleleh, dan seseorang mencoba mengambil alih akal sehatnya saat ini. Jantungnya berdetak, berlomba dengan suara derap sepatunya.

Apa-apaan ini?

Hye-Na berhenti ketika ia melihat pecahan sebuah guci keramik di bagian utara rumah, yang setahunya adalah jalan menuju gudang belakang. Mungkin benar, karena ia tidak pernah berkelana sejauh ini di rumahnya sendiri.

“SIAPA DI SANA?!”

Ia berteriak frustrasi, dengan refleks mengokang senjata dari sarung di pinggangnya dan berjaga-jaga, mengacungkan pistol itu pada pintu gudang sebelum ia mendobraknya dengan sekali tendang. Hye-Na tercekat ketika melihat tempat itu. Dua pelayan rumah tangga dan empat orang petugas keamanan diikat dengan mulut dilakban. Semuanya tidak sadarkan diri.

Ia menghambur masuk, melakukan segala cara untuk membangunkan semua orang itu dan terduduk lemas ketika tahu bahwa mereka diracuni oleh obat bius dengan dosis tinggi—bahkan ia masih bisa mencium samar bau obat bius itu.

Ia menjambak rambutnya sendiri, terkulai di lantai dengan pikiran kalut. Ia tidak pernah setakut ini sebelumnya. Di mana anaknya? Bagaimana kondisi Hyun-Ah? Apa yang akan dikatakan Kyuhyun nanti? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada….

Ia menggeleng cepat, mengusap air mata dari wajahnya dengan kasar sementara tangannya bergetar tidak menentu, berusaha menghubungi Kyuhyun dengan communicator. Hye-Na mendengar suara Kyuhyun memakinya dengan nada tinggi karena ia tidak menjawab panggilannya sejak tadi, dan dirinya, hanya bisa mengeluarkan suara kecil yang ketakutan.

“Kyu….”

***

11.20 AM

“BRENGSEK!!!” Kyuhyun melampiaskan amarahnya dengan memukuli dan menendang semua petugas keamanan yang baru saja siuman dari pingsan akibat obat bius lima menit yang lalu. Mereka semua hanya menunduk takut. Kyuhyun terlalu menakutkan, sangat menakutkan. Semua orang di dalam ruangan itu berpikiran sama.

“Kalian akan membayarnya jika terjadi sesuatu pada anakku,” lanjut pria itu dengan nada suara rendah yang mengancam.

Hyuk-Jae menarik Kyuhyun, melayangkan pukulan yang sama kerasnya dengan yang Kyuhyun lakukan tadi terhadap semua petugas keamanannya. Pria itu tersungkur di sofa. “Keparat, bisakah kau diam dan jernihkan pikiranmu?!”

Suasana rumahnya kini menjadi jauh lebih mencekam. Semua polisi sudah dikerahkan untuk mencari Kang Mi-Sun yang dipastikan membawa serta Hyun-Ah bersamanya.

Hye-Na masih menangis, dengan Eun-Ji dan Ah-Ra yang mengapitnya. Soo-Hyun, Leeteuk, dan ayahnya, Park Soo-Hwan juga ada di sana.

Kyuhyun melepaskan jas kerja dan melemparnya sembarangan, mengoyak dasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Lagi. Satu nyawa terancam justru dibawah perlindungannya sendiri. Dan kini giliran anak semata wayangnya. Ia tidak tahu harus mati dengan cara seperti apa jika terjadi sesuatu pada Hyun-Ah.

Cara Hyuk-Jae sepertinya cukup ampuh karena Kyuhyun mulai menarik napasnya lambat-lambat, lalu menatap tajam semua anak buahnya yang ada di sana. “Cari Kang Mi-Sun.” Gemeretak giginya terdengar jelas karena ia menahan amarah, tetapi nada bicaranya sudah jauh lebih tenang meskipun tetap terdengar gusar. “Gunakan cara apa pun.”

Joong-Ki langsung datang ketika mendengar kabar ini dan membatalkan seluruh kunjungan perusahaan di lima negara yang ia rencanakan kemarin bersama Kyuhyun menggunakan amphibithrope terbaru Cho Corporation. Ia mendekati semua petugas keamanan yang belum bergerak dari tempat mereka, berbaris dengan tangan saling bertautan, masih menunduk ketakutan.

“Siapa yang hilang di antara kalian?” Joong-Ki baru saja menemukan format sistem keamanan rumah Kyuhyun dalam file pribadinya, dan seharusnya ada lima petugas keamanan di rumah itu. Bukan empat. Semua alat keamanan masih utuh, yang artinya, pelaku tahu persis sistemnya.

Seolah baru menyadari bahwa satu orang di antara mereka hilang, empat orang itu saling memandang satu sama lain. Karena Joong-Ki tidak semengerikan Kyuhyun, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk mengangkat kepala, lalu berkata dengan gugup dan wajah yang paling berkeringat, “Il-Yoon… Gu Il-Yoon.”

Joong-Ki berbalik dan memerintahkan anak buah Kyuhyun untuk mencari seseorang yang namanya baru saja ia dapatkan, lalu menghampiri Kyuhyun yang masih mencoba berkompromi dengan amarahnya sendiri. Ia melihat Hye-Na yang juga tampak kehilangan tenaga bahkan untuk mengejar penjahat—aktivitas kesukaannya sekalipun.

“Terlalu riskan jika kita mengandalkan polisi.” Leeteuk mulai mencairkan suasana dengan solusi yang ia tawarkan. Pria itu memeriksa perubahan wajah Kyuhyun yang tidak lagi meledak-ledak, lalu melontarkan pandangannya pada semua pria yang ada di ruangan itu. “Bagaimana kalau kita semua mencari? Kita bisa mengandalkan CCTV jalanan milik Cho Corp, Sepertinya akan jauh lebih baik dibandingkan CCTV jalanan milik pemerintah.”

Joong-Ki dengan sigap mengoperasikan komputer portable-nya, mencari akses untuk CCTV Cho Corporation, dimulai dari gerbang utama rumah Kyuhyun di Yeoju. Ketika ia mendapatkan gambar sebuah mobil van mencurigakan keluar dari sana, Joong-Ki berseru, “Dapat!”

Sebuah van hitam masuk tiga puluh menit setelah mobil Hye-Na pergi, kemudian van itu keluar tiga puluh menit berikutnya. Gerakannya cukup terorganisir—mengingat mereka sangat tepat waktu.

Tidak menunggu lebih lama, Kyuhyun beranjak, diikuti Hyuk-Jae, Joong-Ki, Leeteuk dan Soo-Hwan. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu untuk mendiskusikan strategi, sementara Soo-Hyun diminta tinggal di sini untuk memeriksa setiap CCTV di sudut rumah dan memasang jalur koordinasi dengan Joong-Ki melalui perangkat komputer portable mereka masing-masing.

“Kyu!” Hye-Na tidak tinggal diam, ia berlari, menghambur, dan menarik lengan baju Kyuhyun yang kusut. Wajahnya masih basah dan sama paniknya seperti tadi. “Aku ikut—”

“Kau. Diam. Di sini.” Kyuhyun melemparkan tatapan tertajamnya untuk gadis itu, tidak ingin dibantah sedikit pun. Hye-Na memang bisa berjalan normal, tapi Yesung memastikan butuh waktu beberapa hari lagi agar tubuhnya kembali ke kondisi semula. Beberapa koordinasi tubuhnya belum bisa bekerja selincah Cho Hye-Na biasanya.

Gadis itu memelas, menggigit bibirnya, dengan cengkraman pada lengan baju Kyuhyun yang semakin kuat, ketakutan.

“Kyu….”

Kyuhyun menghela napasnya ketika mata cokelat gadis itu bergetar, dan menyadari sesuatu yang salah menyerang otaknya. Ini tidak benar sama sekali. Ia justru membuat Hye-Na takut dengan arogansinya.

Pria itu akhirnya melembutkan tatapannya, menarik gadis itu dan memeluknya erat, kemudian mencium puncak kepalanya. Hal ini yang seharusnya ia lakukan sejak tadi, menenangkan Hye-Na yang pasti jauh lebih tertekan darinya.

Menyadari waktu mereka tidak banyak, ia melepaskan pelukan itu, mencium bibir Hye-Na dan melumatnya tanpa mendapat balasan apa pun, menyalurkan semua jenis perasaan yang bisa membuatnya tenang, lalu mengusap punggung gadis itu pelan. “Aku akan membawa Hyun-Ah pulang. Kau tetap di sini—dan aku mohon jangan mendebatku sekarang.” Ia membisikkan semua kalimat itu pada Hye-Na, menangkup wajahnya, lalu mengecup bibirnya lagi.

“Aku titip Hye-Na.” Kyuhyun berkata pada Eun-Ji dan Ah-Ra, sementara dirinya pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, membiarkan Hye-Na berdiri kaku di tempat yang sama, dengan perasaan kalut yang masih sama.

 

***

A Road, Seoul.

12.10 PM

Tidak ada yang bisa menghentikan Kyuhyun saat ini. Macetnya jalanan Seoul pada jam makan siang seperti ini tidak pria itu hiraukan. Ia berkali-kali menerobos lampu merah, memotong, serta menyalip laju mobil yang menghalangi dan juga nyaris berkali-kali menabrak pejalan kaki.

Kyuhyun mengendarai Bugatti-nya sendiri. Ia menolak berada dalam satu mobil dengan siapa pun dan berakhir mengendarai mobil balap itu seperti kuda yang kehilangan kendali di pacuan. Dia hampir tidak pernah kehilangan akal sehatnya, tapi kali ini pikirannya terlalu keruh. Dirinya sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, pikirannya bercabang, antara Hyun-Ah dan Hye-Na. Hanya dua hal itu yang ia tahu dari pikirannya saat ini.

Hyuk-Jae yang berada dalam satu mobil dengan Joong-Ki, berusaha menyamai kecepatan mobil Kyuhyun. Mereka melaju berdampingan, diikuti dengan mobil Leeteuk dan Park Soo-Hwan di belakang.

“Gu Il-Yoon, 41 tahun. Dia bekerja sebagai petugas keamanan di sepanjang hidupnya.” Joong-Ki masih berusaha mengorek informasi apa pun yang bisa didapatkanya, sambil memeriksa CCTV Cho Corporation yang menjadi petunjuk jalan bagi mereka. Joong-Ki juga mentransmisikan CCTV ini pada monitor di mobil Kyuhyun, Leeteuk, dan komputer portable milik Soo-Hyun. “Belok kiri di persimpangan, empat blok dari sana, Gedung GFC.”

Lee Hyuk-Jae mengikuti petunjuknya, dan dengan bunyi rem yang berdecit dramatis, ia berbelok ke kiri. “Dia bukan petugas keamanan baru?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan pada jalanan dan mobil Kyuhyun di depannya.

“Empat tahun di Lotte World, lima tahun di Kementrian Perdagangan, dan dua tahun di rumah Kyuhyun. Karir yang cemerlang, bukan?” Joong-Ki bersyukur karena ia belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya seharian ini, karena jika ia kekenyangan, mungkin perutnya sudah meledak karena mabuk jalanan. “Dan Kang Mi-Sun,” lanjutnya. “Dia sedang berada di puncak karirnya sebagai baby-sitter. Ini tahun kesepuluhnya. Ibu Hye-Na baru merekrutnya kemarin pagi dari biro, dan dia langsung berulah hari ini.”

Hyuk-Jae mengerutkan dahinya, merasa iba dengan wanita itu. “Semoga Tuhan memberkati.”

Joong-Ki mengangguk setuju. Wajahnya berbinar ketika ia melihat rekaman CCTV menampilkan van yang dibawa Gu Il-Yoon dan Kang Mi-Sun akhirnya berhenti empat puluh lima menit yang lalu. “Van itu menurunkannya sebelum persimpangan Yeoksam.” Lalu Joong-Ki kembali merengut. “Sendirian.”

“Sendirian?” ulang Hyuk-Jae dengan wajah tidak percaya. Kang Mi-Sun benar-benar orang baik. Bahkan wanita itu tidak tahu cara melarikan diri dengan benar.

Suara rem berdecit dari mobil Kyuhyun yang sudah terlebih dahulu berhenti, tidak peduli di mana ia memarkirkan mobilnya, dan disusul oleh kedua mobil lainnya. Pria itu turun dengan wajah murka, berlari menyusuri ubin terakota dan masuk ke salah satu gang yang dihimpit oleh dua gedung tertinggi di kawasan itu. Dan di sanalah mereka menemukan Kang Mi-Sun, bersembunyi di rumah kumuhnya, tidak menyangka akan kedatangan tamu secepat ini.

***

“Tidak akan ada yang berani melakukan sesuatu pada Hyun-Ah.” Eun-Ji menyadari bahwa suaranya pun terdengar sama paniknya dengan ekspresi wajah Hye-Na. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain berusaha mengembalikan Hye-Na seperti semula. Gadis itu sudah pernah kehilangan anaknya satu kali, dan kehilangan anaknya lagi membuat Eun-Ji takut tingkat depresi sahabatnya itu akan lebih parah dari pada kejadian tempo lalu.

Hye-Na tidak lagi menangis, itulah hal pertama yang patut disyukuri. Tapi yang tidak bisa disyukuri adalah, kini mereka sedang dalam perjalanan untuk menyusul mobil Kyuhyun. Gadis itu berniat untuk pergi sendiri tadinya—tapi dengan jerih payah Soo-Hyun dan Eun-Ji, mereka bisa meminimalisir risiko dan membuat Hye-Na duduk manis di kursi penumpang. Mungkin setidaknya Kyuhyun akan menurunkan intensitas amarahnya atas hasil jerih payah mereka yang satu ini.

“Mereka pergi dari tempat itu tiga puluh menit yang lalu.” Soo-Hyun menghela napasnya ketika melihat rombongan mobil Kyuhyun meninggalkan perempatan Yeoksam dari rekaman CCTV di komputer portable-nya, lalu melirik ke depan, tempat di mana Hye-Na belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hal itu membuatnya ngeri setengah mati. Gadis itu hanya diam, duduk, memandang lurus ke depan. Bahkan bergerak saja tidak.

“Ke mana?” Eun-Ji yang mengemudi berusaha membagi pikirannya antara jalanan Seoul yang macetnya minta ampun dengan keharusannya melakukan sesuatu untuk Hye-Na.

“Ilsan.”

“Sejauh itu?” Dengan tangan cekatan, Eun-Ji menyalip beberapa mobil tanpa menghiraukan bunyi klakson dan teriakan para pengemudi yang mencaci-makinya karena berulah di jalan. “Apa sih yang ada di pikiran penjahat itu? Memangnya mereka pikir tidak ada yang bisa menemukan mereka jika mereka bersembunyi di Alaska sekalipun?”

“Kita berhenti di tempat Kang Mi-Sun.” Hye-Na akhirnya membuka mulutnya. Suaranya pelan, meskipun masih terdengar tegas.

Eun-Ji mengerem mobil mendadak di tengah jalan sampai mereka semua terantuk, menimbulkan bunyi klakson dan suara umpatan para pengemudi lain yang lebih ramai. Soo-Hyun juga tidak lagi memedulikan komputer portable-nya yang berdenging karena menerima transmisi dari Joong-Ki.

“Apa katamu?”

“Kau bilang mereka pasti ditemukan dan tidak akan ada yang berani melakukan apa pun pada Hyun-Ah, kan?” Gadis itu mengambil jeda dari helaan napasnya yang teratur, tapi dengan aura wajah yang muram. “Aku hanya penasaran dengan Kang Mi-Sun.”

 

***

Mereka berhenti di perbatasan kota yang menyajikan latar pegunungan batu dan jalan berkelok. Kanan-kiri dipenuhi oleh semak dan bebatuan, lebih jauh lagi ke kanan, ada jurang yang dalamnya tidak pernah mau mereka kira-kira. Sepertinya cukup dalam untuk menuntaskan rasa penasaran mereka terhadap kematian.

Para polisi lamban itu sudah menyusul mereka, membuat suara bising dengan sirine dan derap sepatu boots. Semua mengarah pada satu objek yang sama, sebuah van hitam dekil yang terparkir sembarangan di pinggir jalan.

Leeteuk mengawasi keadaan sekitar van itu. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, kecuali semak-semak liar yang mulai layu dan angin musim gugur yang memperburuk kondisi tanaman menyedihkan itu.

“Adik iparmu benar-benar kerasukan sapi gila.” Hyuk-Jae menggeleng lelah di samping Leeteuk ketika menyadari bahwa Kyuhyun sudah tidak ada di antara mereka, menghilang di balik belokan tebing. Tidak jauh dari sana, mereka melihat seorang petugas polisi tersungkur mengenaskan—sepertinya sempat mencoba untuk menghalangi Kyuhyun. Helm dan sepatu boots kebanggaannya sama sekali tidak membantu dia lolos dari tendangan pria itu.

Hyuk-Jae akhirnya menghampiri petugas itu, mendapati pistolnya sudah dilucuti Kyuhyun. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh sisi, dan menemukan sosok Kyuhyun di ujung tebing, mengarahkan pistolnya pada Gu Il-Yoon yang posisinya sangat tidak menguntungkan. Satu langkah saja, dia tidak akan bisa di temukan lagi—bahkan di neraka sekalipun.

Gu Il-Yoon adalah sosok pria paruh baya dengan tubuh tegap. Keriput dan uban di wajahnya tidak mengurangi kesan itu sama sekali. Dia dalam keadaan panik, tentu saja. Antara mati di tangan Kyuhyun, atau mati mengenaskan di jurang.

“Aku… aku… hanya dibayar—”

“Bagaimana kalau aku tidak peduli?” Suara Kyuhyun jauh dari kesan yang dibayangkan Hyuk-Jae selama beberapa menit terakhir—tapi ia justru jauh lebih mengerikan dengan image seperti itu. Tenang, dengan wajah penuh keringat dan tangan yang mantap.

“Keparat!” Kyuhyun maju satu langkah, tapi Il-Yoon yang tidak punya pilihan hanya bisa diam di tempat, mengamati moncong senjata itu tepat berada di antara kedua matanya. “Aku tidak peduli seberapa banyak mereka membayarmu. Kalau kau belum tahu—”

“Tuan—”

Kyuhyun menembakkan pistolnya tepat di ujung sepatu Il-Yoon, beberapa saat sebelum suara derap sepatu boots menyusul mereka. Seorang komandan lapangan berusaha mendekat, tapi Kyuhyun langsung mengarahkan moncong pistol itu padanya tanpa melihat. “Diam di sana.”

Komandan polisi itu mundur satu langkah, menampilkan wajah kesal karena Kyuhyun seharusnya bertindak sesuai peraturan. Mereka harus memastikan Il-Yoon tetap hidup agar kasus ini bisa selesai.

“Cho Kyuhyun ssi—” Polisi itu baru akan melangkah lagi ketika Kyuhyun kembali mengarahkan pistolnya ke kepala Il-Yoon, tapi Park Soo-Hwan menahannya, memberi isyarat bahwa mereka harus memberi Kyuhyun waktu.

“Aku pernah kehilangan anakku sekali.” Ia mulai menegangkan jarinya yang mengendalikan pelatuk. “Dan aku tidak menolerir yang kedua kali.”

Kyuhyun menghitung mundur dalam pikirannya, tanpa sepengetahuan Il-Yoon. Dan ketika ia mencapai angka dua, tannpa disangka-sangka Il-Yoon membalik badannya dan melemparkan dirinya ke jurang, tidak sempat merasakan peluru bersarang di kepalanya. Kyuhyun hanya bisa diam melihat hal itu, dengan perlahan menurunkan tangannya ketika semua petugas polisi berhamburan untuk melihat kondisi—atau lebih tepatnya, bagaimana cara Gu Il-Yoon menghilang di dasar jurang.

Tidak berselang lama, Leeteuk merebut pistol dari tangan Kyuhyun dan melemparnya pada Joong-Ki, lalu menunjuk van hitam yang mereka kejar sejak tadi. “Hyun-Ah ada di dalam sana,” Kyuhyun masih membatu di tempatnya, napasnya terengah-engah, dan seperti baru saja keluar dari alam bawah sadarnya sendiri.

“Dia baik-baik saja.”

 

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju.

06.12 PM

Kyuhyun baru saja menyelesaikan beberapa hal yang harus dia urus dengan polisi, dan dengan bantuan Joong-Ki, ia bisa terbebas dari interogasi sialan itu lebih cepat tiga jam dari jadwal yang seharusnya. Ia memasuki rumahnya yang sudah cukup sepi, hanya tersisa Eun-Ji, Hyuk-Jae, Leeteuk, serta ibu dan kakak perempuannya, sementara Park Soo-Hwan sudah kembali ke New York karena pekerjaannya. Mereka semua berkumpul di ruang tengah, dan Kyuhyun tidak mau tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Ia hanya menghampiri Leeteuk yang mungkin sama lelahnya dengan dirinya sekarang.

“Dia belum mau keluar sejak dua jam yang lalu,” ujar Leeteuk, mengedikkan dagunya pada pintu yang tidak jauh dari pandangan mereka.

Kyuhyun menatap pintu kamar Hyun-Ah itu yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap kakak iparnya dengan wajah sayu. “Sebaiknya kalian pulang.” Pandangannya tertuju pada semua orang yang ada di sana. “Maaf merepotkan.”

Leeteuk menggeleng cepat, lalu menepuk bahu Kyuhyun dua kali dan tersenyum kecil, menyiratkan bahwa ia tidak perlu memikirkan hal remeh seperti itu.“Tidak ada adu mulut malam ini, oke?”

***

Ia membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Hyun-Ah tertidur di dalam boksnya, begitu tenang—seolah tidak terjadi apa-apa seharian ini. Dan di sisi lain, ia melihat Hye-Na, menumpangkan dagunya pada pembatas boks dan tidak mengalihkan matanya sedikit pun dari Hyun-Ah, sementara tangannya dengan lembut mengusap pipi tembam anak mereka. Mata gadis itu sedikit memerah, dan ia beberapa kali mengembuskan napas berat karena kelelahan.

“Joong-Ki Hyung sudah memperbaiki sistem keamanannya.” Kyuhyun membenamkan kedua tangannya ke saku, lalu berjalan hingga berhenti di samping Hye-Na. “Ayo tidur.”

Gadis itu menegakkan tubuhnya, menelan ludahnya canggung. Mereka tidak sempat bertemu tadi karena Kyuhyun langsung diseret ke kantor polisi, dan dalam waktu dua jam itu, Hye-Na bahkan masih tidak bisa memikirkan apa yang harus ia katakan jika ia bertemu dengan Kyuhyun.

“Maaf, Kyu—”

“Aku tidak makan dari permintaan maaf.” Kyuhyun membalikkan ucapan gadis itu kemarin, dan Hye-Na hanya bisa menunduk mendengarnya. Ia tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan Hyun-Ah, dan itu membuatnya terlihat tolol. Ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, merenungi apa saja yang perlu ia renungkan berkaitan dengan hal ini.

“Aku….” Ia membasahi bibirnya sebentar. “Aku akan mengundurkan diri dari STA.”

Oh, ya? Apa lagi kali ini? umpat Kyuhyun dalam hati.

Kyuhyun mengembuskan napas, lalu mengusap wajahnya kasar, tidak menyangka bahwa gadis itu mengambil keputusan yang bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya. Alhasil, ia menarik tangan gadis itu ke sudut ruangan, di mana mungkin, suaranya tidak akan terlalu mengganggu Hyun-Ah.

“Kau ke manakan otakmu, hah?”

“Kyu, aku sudah memikirkan—”

“Apa yang kau pikirkan? Mengurus rumah tangga? Tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi?” Kyuhyun mendesis karena sepertinya hasil tebakannya benar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak saat itu juga. “Sudah kukatakan berulangkali, anakmu, anakku juga! Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri!”

Ia tidak bisa tinggal diam dengan keputusan konyol ini. Hye-Na tidak mungkin berhenti dari pekerjaannya, karena itu artinya, ia kehilangan sebagian hidupnya. Kyuhyun bahkan berani bertaruh jika Hye-Na jauh lebih tergila-gila pada pekerjaan dibanding dirinya sendiri. Jadi memisahkan Han Hye-Na dengan pekerjaannya, sama saja menariknya pelan-pelan ke liang kubur.

Hye-Na menggigit bibirnya, lagi-lagi tidak tahu harus mengatakan apa. Ia sudah yakin dengan keputusan yang ia pikirkan seharian ini, tapi Kyuhyun semakin mempersulit posisinya sekarang.

“Istirahat.” Kyuhyun tiba-tiba teringat oleh pesan Leeteuk tadi. Tidak ada adu mulut malam ini, dan sebaiknya mereka memang berhenti dari carut-marut masalah ini sekarang.

“Kyu, aku ta—”

“Cho Hye-Na.” Kyuhyun mengerahkan intonasi final yang tidak bisa dibantah. Sama sekali. “Kau sudah tidak mematuhiku hari ini dengan pergi menemui Kang Mi-Sun.”

Hye-Na terkejut karena Kyuhyun mengetahui hal yang satu itu, tapi Kyuhyun tampak tidak terlalu mempermasalahkannya. Atau mungkin belum mempermasalahkannya.

“Kita terlalu lelah. Bicarakan besok, oke?” Kyuhyun menarik pinggang istrinya, merengkuhnya dan memberikan ciuman singkat pada gadis itu sebelum mereka kembali ke kamar dan mengenyahkan diri mereka dari segala hal tentang kejadian hari ini.

***

06.10 AM

Dari sekian banyak hari di mana Hye-Na selalu tertinggal satu langkah dari Kyuhyun dalam urusan bangun pagi, hari ini mungkin salah satu dari sedikit hari di mana hal itu terjadi sebaliknya. Kyuhyun menggeram ketika yang tersisa di sampingnya hanya hangat tubuh gadis itu, yang perkiraannya sudah meninggalkan ranjang lebih dari lima belas menit yang lalu. Ia tidak tahu mengapa ia tidak bangun sepagi biasanya, ia hanya tahu bahwa semalam ia terserang kelelahan gila-gilaan dan tidur tanpa berpikir banyak.

Yang lebih mencengangkan lagi, Kyuhyun menemukan secangkir kopi yang masih mengepul di meja kerjanya. Ketika ia melirik ke arah Chef-Machine di sudut kamar, ia melihat satu cangkir lain yang baru dipesan dan belum diambil oleh pemesannya.

Ia memutuskan untuk mengambil kopi itu dan berjalan menyeberangi ruangan, melewati pintu konektor yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar Hyun-Ah. Hye-Na berdiri kaku di depan lemari Hyun-Ah, tidak melakukan apa pun—sedang melamun, tepatnya.

“Kau terlalu paranoid.”

Hye-Na tercekat dari lamunannya, dengan kikuk mengambil baju Hyun-Ah yang tadi rencanannya akan ia ambil, lalu kembali ke boks tidur bayi itu. “Kau sudah bangun?”

“Jam bangun tidurku sudah terlewat tiga puluh menit yang lalu.” Pria itu berjalan pelan, menyimpan cangkir kopinya di meja lalu menghampiri Hye-Na, menarik rambut gadis itu dan mengikatnya menjadi satu. “Kau meninggalkan kopimu.”

Hye-Na tersenyum, ikut merapikan rambutnya. “Kau kan tahu otakku payah.”

“Aku tahu betul,” Setelah selesai mengikat rambut Hye-Na, Kyuhyun menjulurkan tubuhnya ke dalam boks tidur Hyun-Ah, memberikan kecupan di pipi bayi mungil itu. “Selamat pagi, Cantik.” Ia tersenyum manis pada Hyun-Ah, dan bayi itu terlihat antusias seperti biasa jika ia melihat ayahnya. Kyuhyun kembali menatap Hye-Na dengan wajah khawatir yang kentara dibuat-buat. “Makannya aku menikahimu.”

Hye-Na mencibir mendengar hal itu.

“Kita berjanji akan membicarakannya hari ini.” Kyuhyun memainkan tangan kecil Hyun-Ah tanpa melihat ke arah Hye-Na. “Kita perlu bicara.”

“Tapi mesin uangmu sudah mengaum di kantor, Sir.” Hye-Na berakting seperti seorang sekretaris yang mengingatkan jadwal meeting atasannya, membungkuk hormat. Tapi sedetik kemudian, nada suaranya berubah melengking. “Kalau kau tidak bekerja, siapa yang akan membelikan Hyun-Ah susu formula? Siapa yang akan memberiku makan?” Gadis itu sebenarnya hanya berusaha menghibur dan tidak ingin mereka terlalu larut dalam masalah kemarin.

“Cara bicara dan imajinasimu semakin tidak terkontrol.” Kyuhyun yang tahu hal itu, hanya mengabaikannya dan berjalan melewati Hye-Na, duduk di sofa beludru putih yang membentang menghalangi kaca jendela, membelakangi taman belakang di mana bunga-bunga dan dedaunan berguguran. Pemandangan pertengahan musim gugur memang terlalu sayang untuk disia-siakan. “Aku mengambil cuti hari ini. Joong-Ki Hyung sudah mengurusnya.”

“Oh?” Hye-Na merasa canggung dengan reaksinya sendiri dan gelagat itu tertangkap oleh mata Kyuhyun.

“Kenapa?”

Hye-Na akhirnya mengikuti Kyuhyun, duduk di samping pria itu lalu meraih komputer portable-nya yang ia letakkan tidak jauh dari sana.

“Aku belum berubah pikiran.”

Kyuhyun yang sedang menyesap isi kopinya, menoleh ke arah Hye-Na. “Soal?”

“Mengundurkan diri dari STA.” Kali ini Hye-Na dengan mantap mengucapkannya, meskipun wajahnya tidak semantap ucapannya.

“Alasanmu?” Kyuhyun tidak akan memarahinya lagi, menanyakan di mana otak Hye-Na, atau mengumpatnya. Kyuhyun hanya berharap Hye-Na tidak cukup pandai membuat alasan agar ia bisa mematahkannya dengan mudah.

“Aku tidak bisa memilih mana yang lebih penting karena aku tidak pernah terbiasa untuk memilih sejak kecil. Menjadi agen, menikah denganmu, memiliki Hyun-Ah, itu semua bukan pilihan.”

“Lalu, di mana masalahnya?” Kyuhyun belum melepaskan cangkir kopinya. Ia tidak boleh memancing percakapan yang tidak menyenangkan hari ini. Mereka harus benar-benar istirahat. Istirahat dalam arti sebenar-benarnya. “Lagi pula siapa yang menyuruhmu memilih?”

Kyuhyun akhirnya meletakkan kopinya, menarik dagu gadis itu dengan ibu jari dan telunjuknya agar mata mereka bertemu. “Justru karena selalu diberi tanpa memilih, setidaknya kau harus menjaga pemberian itu dengan baik.” Kyuhyun menarik napasnya pelan, lalu mencium bibir Hye-Na ringan. “Pikirkan lagi baik-baik. Berulang kali. Setelah itu aku berjanji tidak akan menginterupsi keputusanmu.”

Hye-Na diam, tenggelam dalam pikirannya.

“Tidak usah terburu-buru,” lanjut Kyuhyun tenang. “Kau bisa bekerja di rumah untuk sementara waktu, sampai situasinya terkendali. Minimal, sampai kita tahu siapa dalang dibalik penculikan Hyun-Ah.”

Seakan baru saja bangun dari tidur panjangnya, Hye-Na tersentak dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Kyuhyun. Dalang di balik penculikan ini. Ia tidak sempat mendiskusikan hal ini dengan Kyuhyun. Tebakan terburuknya, ini hanya salah satu dari sekian banyak orang yang dulu mengirimkan ancaman pembunuhan pada Kyuhyun. Setidaknya, itu tebakannya sebelum ia bertemu dengan Kang Mi-Sun kemarin.

“Kau sudah tahu siapa?”

Kyuhyun menggeleng, lalu menyilangkan kakinya yang mulai keram karena diforsir seharian kemarin. “Karena bajingan itu bunuh diri, harapan kita satu-satunya hanya Kang Mi-Sun.” Ia mendelik Hye-Na dengan ujung matanya yang tajam, dengan tatapan menyindir gadis itu. “Kemarin kau menemuinya, kan?”

“Hmm.” Hye-Na mengangguk ragu, menghindari tatapan Kyuhyun. “Kau bertemu lebih dulu dengannya.”

“Aku hanya bertanya di mana Hyun-Ah,” jawab Kyuhyun pendek.

“Dia merebut pistol petugas, berusaha bunuh diri di hadapanku.” Hye-Na mengenang wajah keibuan yang berkeriput itu dengan baik, meronta, meminta maaf. Ia menyesal karena akhir-akhir ini, rasa kasihannya terhadap orang jahat menjadi terlalu berlebihan.

“Ia bahkan bersujud untuk meminta maaf padaku.”

Kyuhyun tampak tidak peduli. Pria itu beranjak dari duduknya, keluar dari kamar Hyun-Ah untuk kembali ke kamarnya, membuat Hye-Na memiliki waktu untuk berpikir—lagi.

“Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan untuk membayar semuanya.” Mi-Sun menjatuhkan lututnya, mengabaikan kekangan polisi dan merangkak menuju kaki Hye-Na, memeluknya. “Nyonya, bagaimana—”

“Siapa yang membayarmu?” Hye-Na masih belum kehilangan wajah muramnya. Ia menarik tangan wanita itu agar berdiri, menatap matanya tajam. “Aku hanya perlu tahu siapa yang membayarmu,” lanjutnya tenang, tetap terlihat menakutkan di mata siapa saja yang menyaksikannya.

Mi-Sun menggeleng lemah. “Il-Yoon itu kakak iparku.” Air mata mengalir deras dari wajah Mi-Sun, membuat Hye-Na muak. “Aku tidak tahu siapa yang membayarnya, dan dia hanya memintaku untuk menolongnya menculik putrimu. Aku menolak pada awalnya!”

Polisi yang ada di rumah kumuh itu kembali menarik Mi-Sun menjauh dari Hye-Na, sementara wanita itu meronta-ronta, ingin mengeluarkan semua pembelaannya di depan Hye-Na.“Tapi Il-Yoon memaksaku karena kau kebetulan sedang membutuhkan baby-sitter. Aku tidak tahu—”

“Cukup.” Hye-Na membalikkan badannya, merasa tidak perlu berlama-lama di tempat ini. “Bawa dia.”

“Kau sudah mendengar sendiri kesaksian Kang Mi-Sun, kan?” tanya Hye-Na ketika Kyuhyun datang dengan membawa komputer portable-nya sendiri, kembali duduk di tempatnya semula.

“Hmm,” Kyuhyun mengangguk, melirik Hye-Na dengan spekulasi bahwa kesimpulan mereka sama. Kang Mi-Sun sendiri tidak tahu oleh siapa Il-Yoon dibayar, sementara pria itu mati mengenaskan di dasar jurang. Tidak ada bukti yang bisa ditemukan dari alat komunikasi Gu Il-Yoon bahwa ia pernah menerima perintah dari seseorang, dan itu membuat mereka sedikit… putus asa.

“Aku sedang mencoba kemungkinan terkecil. Dan itu akan sedikit memakan waktu. Berkasnya masih dikuasai polisi, dan aku akan melakukan penyelidikan independen.” Kyuhyun mencoba menghibur Hye-Na—sekaligus menghibur dirinya sendiri.

“Ya, aku punya pekerjaan, kok.” Hye-Na juga menghibur Kyuhyun, tidak membiarkan pria itu iba padanya karena ia harus bekerja di rumah.

Kyuhyun menatapnya sangsi. “Memangnya kau sedang mengurusi kasus? Kau bahkan tidak bekerja sampai satu jam kemarin.”

Eun-Ji melaporkan tetek bengek sedetail itu pada Kyuhyun? Kalau begitu, bahkan bisa-bisa Kyuhyun akan tahu berapa kalori yang ada dalam menu makan siangku. Yah, ia harus membuat perhitungan dengan sahabatnya itu.

“Kau ingat Song Ji-Hwa?” tanya Hye-Na pendek sambil mengutak-atik lagi komputer portable-nya. Hye-Na mencoba memutar ulang memorinya tentang kasus itu karena ia belum sempat mempelajarinya lebih dalam. Mungkin bercerita dengan Kyuhyun akan sedikit membantunya.

“Ah.” Kyuhyun pernah mengancam wanita itu secara pribadi, jadi tentu saja ia mengingatnya. “Pengadu sialan itu.”

Hye-Na mengangguk, menyandarkan punggungnya pada dada Kyuhyun dengan rileks. “Dia dibunuh bersama janin di dalam perutnya. Hasil hubungan gelap yang sampai saat ini tidak diketahui dengan siapa.”

“Dan mengapa STA harus ikut campur?” Kyuhyun selalu tahu hierarki wilayah pekerjaan yang berkaitan dengan hukum. Peraturannya, STA hanya akan turun tangan jika polisi sudah tidak bisa menanganinya atau dalam kasus lain, terkadang keduanya memperebutkan kasus yang sama dan berlomba-lomba siapa yang menemukan pelaku terlebih dulu.

“Sama seperti kasus kita. Pelaku yang merupakan pembunuh bayaran itu mati bunuh diri di penjara.” Hye-Na mengutip apa yang baru saja Kyuhyun katakan tadi. “Aku harus mulai dari hal sekecil apa?”

Hye-Na tidak tahu mengapa Kyuhyun tiba-tiba tersenyum. Pria itu mengalungkan tangannya ke leher Hye-Na.

“Ayo kita mulai dengan alasan Song Ji-Hwa mengundurkan diri dari posisi sekretaris presiden setahun yang lalu. Kau tahu kenapa?” Kyuhyun mengoperasikan komputer portable-nya, sementara Hye-Na menjulurkann tubuhnya untuk melihat apa yang sedang Kyuhyun lakukan. Hye-Na masih tidak tahu apa yang Kyuhyun cari dalam komputer portable-nya, lalu menangguk untuk menjawab pertanyaan pria itu. “Kau mengancamnya.”

“Dan bagaimana aku mengancamnya?”

Kali ini Hye-Na menggeleng. Tidak tahu apa pun mengenai hal itu.

“Karena, Sayang—” Kyuhyun menarik Hye-Na agar gadis itu dapat melihat layar komputer portable-nya lebih jelas. “—dia memiliki skandal dengan orang ini.” Layar komputer portable pria itu menampilkan sebuah foto peresmian sentra industri di Busan, objek utamanya adalah wajah seorang pria tua dengan kepala botak yang sedang tersenyum sumringah dan menjabat tangan rekannya. “Menteri Perdagangan kita. Oh Yoon-Jae.”

“Bagaimana kau tahu? Dan… media tidak bisa mencium skandal ini?”

“Hanya aku dan informanku yang tahu. Lagi pula ini skandal lama, dan dulu media hanya fokus pada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh istri Min Kwang-Jin. Tapi skandal lama ini tetap akan berpengaruh pada reputasinya.” Kyuhyun melanjutkan pencariannya pada komputer portable. “Aku mengancamnya dengan skandal ini, dan—sial.” Pria itu tiba-tiba mengumpat.

“Apa?”

“Dia kemungkinan besar akan menjabat posisi yang sama satu periode lagi. Yah, tidak juga sebenarnya. Aku tidak akan membiarkannya.” Kyuhyun berdiri, menghubungi seseorang dengan communicator-nya. Sebelum mendapat jawaban, ia melirik Hye-Na. “Kau bisa meminta anak buahmu untuk memeriksanya. Dia sedang berusaha menutupi skandalnya agar tidak tercium oleh KNI dan kembali terpilih sebagai menteri—” Kyuhyun berbicara dalam communicatornya tanpa menyalakan sistem video call. “Coretkan nama Oh Yoon-Jae untukku.”

“Aku harus pergi.” Kyuhyun dengan tergesa-gesa kembali ke kamarnya, meninggalkan Hye-Na dengan wajah bodoh. Ia benci politik.

“Kau bilang kau cuti!” Akhirnya Hye-Na menyusul Kyuhyun, berteriak dengan nada menggerutu di depan kamar mandi. Pria itu masuk ke kamar mandi seperti dikejar sesuatu.

Kyuhyun menjawab dari dalam. “Setelah ini aku bisa cuti setahun kalau aku mau.”

 

***

10.00 AM

“Aku suka rapat di rumahmu.” Soo-Hyun melahap semua kudapan yang tersedia di meja, tapi gerakannya melambat ketika dihadiahi tatapan tajam oleh Hye-Na dan Eun-Ji. Mereka menggelar rapat dadakan setelah Hye-Na mendapat informasi tentang Oh Yoon-Jae dari Kyuhyun, dan tentu saja setelah pria itu pergi satu jam yang lalu, sepertinya mengurusi hal yang berkaitan dengan pencoretan Oh Yoon-Jae dari calon menteri. Oh ya, dan sesuai keputusannya, Hye-Na tidak akan meninggakan rumah sebelum ia tahu siapa pelaku di balik penculikan Hyun-Ah kemarin.

“Aku sudah mendapat rekaman communicator-nya selama setahun ke belakang, dan dari bulan Oktober hingga November tahun lalu, ia menelepon kantor presiden dengan intensitas yang tidak wajar. Tentu saja, Song Ji-Hwa yang mengangkat telepon itu,” terang Eun-Ji.

“Rekamannya?” Hye-Na mengalihkan tatapannya pada Soo-Hyun.

“Kau akan mulas mendengarnya. Mereka berpacaran seperti anak sekolahan.” Soo-Hyun tidak mau lagi mendengar rekaman-rekaman itu, maka dia sendiri yang menyimpulkannya. “Dan dia tidak punya alibi seminggu sebelum pembunuhan terjadi. Tidak ada pengawal, tidak ada supir. Mungkin dia menemui Uhm Baek-Hee pada saat itu.”

“Pastikan ke mana ia pergi pada hari itu, kita tidak bisa mengandalkan kata ‘mungkin’ di sini,” perintah Hye-Na cepat. “Buatkan surat pemeriksaan besok, untuk sementara sebagai saksi. Kau dan Leeteuk Oppa yang akan menginterogasinya,” ujarnya pada Eun-Ji.

“Wah, kita bakal mengacaukan jadwal Tuan Menteri yang satu ini. Pertemuan pemilihan menteri di mana dia jadi kandidatnya, lalu kegiatan sosial di Nowon, makan siang dengan direktur perusahaan lokal dan perminyakan, rapat dengan eksportir untuk membahas peraturan ekspor—ya Tuhan, jadwalnya bahkan lebih padat dari artis karbitan.” Eun-Ji menggeleng tidak percaya melihat jadwal Menteri Perdagangan mereka yang ia dapatkan dari sekretaris pribadinya tadi pagi.

“Memangnya aku peduli?” Hye-Na meminum jus jeruk dingin yang dari tadi belum ia sentuh sama sekali. “Kemungkinan besar statusnya akan berubah besok pagi. Hari ini kita kumpulkan semua bukti, sekecil apa pun. Rekaman communicator-nya, rekaman communicator korban setahun ke belakang, periksa juga tempat-tempat di mana Uhm Baek-Hee mungkin tinggal. Aku rasa dia tidak berpindah-pindah terlalu jauh. Bahkan polisi payah pun bisa menangkapnya lagi berulang kali.”

“Bicara soal polisi.” Soo-Hyun berhenti mengunyah, menunjukkan layar komputer portable-nya pada Hye-Na dan Eun-Ji. “Seseorang melimpahkan berkas kasus penculikan anakmu dari kepolisian untuk ditangani STA lima menit yang lalu. Apa itu kau?”

Hye-Na terperangah, dengan cepat merebut komputer portable Soo-Hyun dan melihat daftar kasus yang ditangani oleh STA. Ia menggeleng, tidak tahu siapa yang melimpahkannya dan mengapa harus ditangani STA. Gu Il-Yoon memang mati, tapi mereka masih punya Kang Mi-Sun dan sederet nama rival Kyuhyun yang bisa dicurigai oleh polisi.

“Dengan tersangka Oh Yoon-Jae?” Mata Eun-Ji terbelalak melihat kesimpulan dari kasus itu. “Yang benar saja!”

Hye-Na sama terperangahnya mendengar hal itu. Oh Yoon-Jae? Hye-Na bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan orang itu. Apa dia memiliki dendam pribadi terhadap Kyuhyun? Mungkin, tapi kemungkinannya kecil. Kyuhyun tidak pernah berbisnis dengan pemerintah, dan sebagian besar rivalnya adalah perusahaan swasta besar dan kebanyakan di luar negeri.

 

“Hanya aku dan informanku yang tahu. Lagi pula ini skandal lama, dan dulu media hanya fokus pada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh istri Min Kwang-Jin. Tapi skandal lama ini tetap akan berpengaruh pada reputasinya.”

“…Dia sedang berusaha menutup skandalnya agar tidak tercium oleh KNI dan kembali terpilih sebagai menteri—“

“Coretkan nama Oh Yoon-Jae untukku.”

“Brengsek!” Hye-Na mengumpat keras, dengan cepat membereskan semua berkas yang ada di meja, membuat Soo-Hyun dan Eun-Ji hanya bisa menganga. “Apa? Kenapa?” tanya Eun-Ji ikut-ikutan panik.

“Tidak ada waktu. Sekarang cari tahu di mana Oh Yoon-Jae, hubungi polisi dan minta mereka mengepung tempat itu. Kita akan menyusul setelah kalian mengantarku ke rumah mertuaku untuk menitipkan Hyun-Ah, oke?”

 

***

Ministry of Trade and Industry Office, Seoul.

10.35 AM

“Wah, aku kedatangan tamu besar.”

Kyuhyun tidak repot-repot mengucapkan atau memberi salam pada seseorang di hadapannya. Ia akan menyapa pria itu dengan cara lain. Tangannya sudah mengepal di dalam saku, tapi mungkin ia harus menahan diri beberapa menit lagi, pikirnya.

Ketika ia pergi ke markas KNI untuk menyortir ulang nama-nama calon menteri yang bermasalah, nama Oh Yoon-Jae ada di antaranya. Ia memerintahkan Joong-Ki untuk mengecek ulang informasi tentang skandal perselingkuhanya dengan sekretaris presiden terdahulu, Song Ji-Hwa, dan menghubungkannya dengan kasus pembunuhan sekretaris itu. Hasilnya tepat. Pria ini kedapatan menemui pembunuh bayaran di sela-sela jadwal pribadinya yang tidak bisa dilacak tepat satu minggu sebelum pembunuhan terjadi.

Tetapi bukan itu alasan Kyuhyun datang ke sini.

“Kita belum sempat bertegur sapa saat makan siang tempo hari. Kau sibuk berbicara dengan Presiden, jadi aku tidak berani mengganggumu, dan kau pasti sibuk karena masalah penculikan anakmu. Aku turut prihatin mendengar berita itu.” Pria itu masih bersikap ramah meskipun Kyuhyun tidak menggubrisnya sama sekali. “Kau mau minum apa?”

Oh, rupanya Kyuhyun tidak bisa menunggu barang semenit saja.

Dengan gerakan cepat, ia menarik kerah kemeja linen pria itu dan memukul keras wajahnya, sampai rasanya tangannya sendiri kebas.

“Apa-apaan ini?!!”

“Pertama, aku tidak beramah-tamah dengan pembunuh.”

“APA MAKSUD—”

Kyuhyun memukulnya lagi di sisi wajah yang lain hingga sang menteri tersungkur di lantai, lalu Kyuhyun menginjak dadanya, tidak memberi kesempatan sekecil apa pun pria itu untuk berbicara.

“Dan yang satu itu, karena kau menculik anakku.”

Oh Yoon-Jae terlihat begitu menyedihkan, sudut bibirnya berdarah, dan napasnya pendek pendek. “Kau… salah… aku tidak menger—”

“Kau mengerti maksudku, Tuan Oh.” Kyuhyun memotong nada bicara pria itu cepat. Pikirannya terlalu keruh ketika Joong-Ki memberitahunya bahwa Gu Il-Yoon pernah bekerja di kantor ini lebih dari lima tahun dan sudah pasti mengenal Yoon-Jae. Bedebah ini memanfaatkan Il-Yoon yang kebetulan bekerja di rumahnya sekarang untuk menculik Hyun-Ah, agar perhatiannya dapat dialihkan dari KNI dan tidak akan sempat membeberkan skandalnya bersama Song Ji-Hwa—yang hanya diketahui oleh Kyuhyun sendiri. Kyuhyun kini benar-benar mengerti apa pentingnya menyelesaikan masalah hingga tuntas, karena Yoon-Jae adalah salah satu dari sekian banyak hama yang tidak terselesaikan. Terbukti, perbuatan busuknya bahkan tercium meskipun satu tahun sudah berlalu.

Kyuhyun membungkuk, memberi tekanan lebih besar pada kakinya hingga pria itu tidak bisa mengeluarkan suara. Jika penculik bayarannya saja mati mengenaskan di dasar jurang, seharusnya pria ini bisa mati lebih mengenaskan lagi.

Sayangnya, Kyuhyun kalah cepat ketika pria itu mampu menggulingkannya, dan entah sejak kapan tangan itu sudah menggenggam vas bunga, menghantam kepala Kyuhyun hingga berdarah—atau mungkin lebih parah dari itu karena Kyuhyun merasa pandangannya mulai mengabur.

“Brengsek! Kau sudah terlalu tua untuk ketamakan semacam itu, keparat!” Kyuhyun berusaha membalikkan posisinya, tapi pria itu masih memiliki tenaga yang cukup kuat karena Kyuhyun hanya memukul wajahnya, yang hanya berefek lebam dan bekasnya mungkin akan hilang beberapa hari lagi.

Setelah memastikan Kyuhyun tidak bisa melawannya, Yoon-Jae berdiri dengan percaya diri, mengambil kursi kayu dan mengangkatnya, berniat untuk menghantam kepala orang paling penting sedunia itu sekali lagi.

“Aku memang tidak akan mendapatkan jabatanku lagi setelah kejadian ini.” Wajah lebam pria itu membuatnya terlihat semakin jelek ketika tersenyum. Di balik matanya yang sudah kabur, Kyuhyun masih bisa melihatnya, tapi setiap gerakan kecil membuat pusing kepalanya menjadi-jadi.

“Dan… oh, bayi yang cantik, Cho Kyuhyun.” Yoon-Jae mengingat wajah bayi itu, dan ia muak melihat koran sepagian ini dipenuhi dengan berita penculikan putri orang terkaya di dunia tersebut. “Tapi sayangnya dia akan kehilangan ayahnya karena kau akan mati bersamaku setelah ini.”

“Mati bersama sepertinya bukan ide yang bagus, Tuan.”

Oh Yoon-Jae ambruk, tidak dapat menopang tubuhnya sendiri ketika suara desingan peluru menggema di ruangan itu. Suara jatuhnya berdebam, dan dia tertimpa kursi kayu yang dia pegang untuk menghantam Kyuhyun tadi.

Hye-Na menembaknya tepat di paha, lalu melemparkan pistolnya sembarangan dan tidak lagi memedulikan pria itu sementara dirinya berlari ke arah Kyuhyun yang sekarang tidak sadarkan diri.

***

Central Hospital, Seoul.

07.00 PM

Sedang sakit atau tidak, dirawat atau tidak, Hye-Na tetap tidak suka rumah sakit. Dan ia lagi-lagi harus masuk ke gedung sialan ini, bahkan beberapa kali setahun terakhir. Kecelakaan, melahirkan, dan kali ini karena Kyuhyun ‘mendekam’ di sana. Ruang perawatan intensif tempat ia dulu dirawat.

Ia baru saja berbicara dengan Yesung, dan pria itu bilang kalau Kyuhyun mengalami gegar otak yang cukup serius. Vas bunga itu bukan vas bunga kaca, melainkan kristal. Tempurung kepalanya di bagian pelipis retak—beruntung tidak hancur. Belum bisa dipastikan berapa lama Kyuhyun harus mendekam di sini, paling cepat satu minggu.

Hye-Na membuka pintu kamar perawatan Kyuhyun, melihat pria itu sedang duduk, menoleh ke arahnya—sama sekali tidak terlihat sakit, kalau saja tidak ada perban menempel di pelipis kirinya.

“Aku baik-baik saja.” Kyuhyun mengulurkan tangannya, tersenyum meskipun Hye-Na tidak membalas senyumannya. Istri mana yang tidak cemas melihat kepala suaminya nyaris hancur?

Hye-Na memang tidak tersenyum, tapi ia menerima uluran tangan Kyuhyun dan duduk di samping pria itu. Mereka bertatapan selama beberapa detik, menyelami pandangan masing-masing. Kyuhyun dapat menangkap jelas kekhawatiran di mata istrinya.

“Jadi, begini rasanya?”

“Apa?” Kyuhyun berkedip sekali.

“Waktu kau mencemaskanku, begini rasanya?”

Kyuhyun menepuk pahanya, mengisyaratkan agar Hye-Na duduk di sana.“Bagaimana rasanya?”

“Aku mau mati rasanya.”  Hye-Na berbicara terus terang sambil duduk di pangkuan Kyuhyun, mengalungkan tangannya pada leher pria itu. Kyuhyun tersenyum lebar karena jawaban Hye-Na jauh di luar perkiraannya.

“Menteri sialan.” Kyuhyun menggerutu, meraba luka di pelipisnya yang berdenyut-denyut. Ia ingat bagaimana sebuah benda yang dipegang oleh Yoon-Jae menghantam kepalanya. “Kau menembaknya?”

“Tentu saja.” ujar Hye-Na dengan sedikit nada bangga pada jawabannya. Ia menepuk paha Kyuhyun, tempat yang sama di mana ia menembak Oh Yoon-Jae. “Dua kali.” Ia mengacungkan dua jarinya.

“Kupikir kau tembak mati.” Ada nada kecewa dari suara Kyuhyun, dan Hye-Na tahu hal itu.

“Mati dengan cara seperti itu sangat tidak mendidik penjahat, kau tahu?”

“Persetan. Seperti aku peduli saja dengan pendidikannya.”

Kyuhyun mengaduh ketika Hye-Na mencubit pinggangnya. “Yak, Cho Hye-Na!”

“Seperti apa Hyun-Ah jika sudah besar nanti kalau kau mengajarinya kata-kata seperti itu, hah?”

Kyuhyun tersenyum, bersandar, dan melonggarkan pelukannya di pinggang Hye-Na. “Ngomong-ngomong, di mana Hyun-Ah?”

“Aku menitipkannya pada Eomma, kebetulan Ah-Ra Eonni juga sedang di sana. Aku sudah menceritakan semua kejadiannya, jadi kau jangan banyak bertanya dan istirahatkan kepalamu.”

“Kepalaku hanya nyaris hancur Na~ya, tidak hancur. Siapa yang akan membelikan susu formula untuk Hyun-Ah dan memberimu makan kalau aku tidak bekerja?” Kyuhyun mengembalikan senjata yang selalu Hye-Na gunakan jika ia mengulur waktu bekerja, dan ia tersenyum puas ketika gadis itu mendesis tajam.

“Pertama, aku akan kembali bekerja, tapi tidak dalam waktu dekat dan aku belum menentukan kapan. Aku masih digaji dalam masa cutiku, kalau kau belum tahu.”

“Dan yang kedua, Joong-Ki oppa,” sambung Hye-Na dengan senyum yang tak kalah puas ketika menyebutkan nama itu.

“Apa?”

“Sekretarismu yang tampan itu akan mengambil alih pekerjaanmu satu minggu ke depan.”

Kyuhyun mendengus ketika mendengar julukan Hye-Na untuk Joong-Ki.

“Dan Presiden menghubungiku tadi.” Hye-Na melanjutkan, kembali duduk di samping Kyuhyun sementara pria itu mengeratkan pelukannya lagi, sekaligus menopangkan dagunya di bahu Hye-Na. “Dia meminta maaf dan berterima kasih secara pribadi padamu. Nama-nama menteri sudah ia putuskan, sesuai dengan rekomendasimu atas dasar pengawasan KNI. Konferensi pers akan dilakukan besok pagi.”

Hye-Na menoleh ketika tidak ada reaksi apa pun, dan ia mendapati Kyuhyun memejamkan matanya. Yang benar saja? Pria itu tertidur dalam posisi seperti ini?

“Yak! Cho—”

“Lain kali, oke? Aku capek.” Pria itu menggumam, tidak membuka matanya sama sekali.

“Kepalamu dan bahuku bisa patah kalau begini caranya.” Hye-Na menyingkirkan kepala pria itu dengan susah payah. Tapi dengan kondisi nyaris hancur pun, kepala Kyuhyun tetap sekuat biasanya.

“Kyu—”

“Kecuali kalau kau mau mengatakan sesuatu untukku.”

Hye-Na menaikkan satu alisnya. “Apa?”

“Katakan kalau—” Kyuhyun menggigit telinga Hye-Na pelan membuat gadis itu tersentak.

“Yak! Kau mau kepalamu benar-benar hancur, hah?” Ia memutar badannya agar bisa mendorong Kyuhyun, tapi sialnya, bibir pria itu malah menangkap bibirnya. Menangkap, kalau kosakata itu memang benar bisa digunakan dalam adegan ini.

“—kau mencintaiku. Sudah lama aku tidak mendengarnya.” Kyuhyun membuat suaranya terdengar semanis mungkin, dan itu membuat Hye-Na merinding bukan main.

“Apanya yang sudah lama? Aku baru mengatakannya tahun kemarin!” protes Hye-Na cepat, membuat Kyuhyun menggigit telinganya lagi, dan dengan reaksi yang sama, ia menangkap bibir Hye-Na lagi dengan bibirnya. Tapi kali ini mereka tidak berhenti sampai di sana. Kyuhyun melumat bibir gadis itu lapar, menghabiskan seluruh oksigen yang tersisa di paru-parunya dan begitu juga Hye-Na. Mereka baru berhenti tujuh menit kemudian, ketika rasanya sudah seperti tenggelam di dalam air keruh.

“Apa aku masih perlu mengatakannya?” tanya Hye-Na dengan suara parau, menatap bola mata pria itu dari jarak dekat. Dan ia terkejut ketika Kyuhyun menggeleng.

“Tidak.” Tapi ia dengan cepat meralat ucapannya. “Mungkin tidak sekarang, aku tidak menyiapkan alat perekam.”

“Dan apa selanjutnya? Memasangnya di televisi?” sungut Hye-Na kesal. Ia menepis tangan Kyuhyun kasar dari pinggangnya.

“Aku hanya perlu bukti agar Hyun-Ah bisa mendengarnya kalau dia sudah besar nanti.” Kyuhyun tersenyum kecil, menggoda Hye-Na, sementara gadis itu dengan bar-bar mencubiti pinggangnya lagi—sebagai pelampiasan karena ia tidak bisa menjambak rambutnya.

 

END