photo149713

 

Super Junior’s Dorm

07.42 PM

 

 

BcJYJIGCMAEjvKp.jpg large

 

I am going back to Korea, will you all miss me? (≧∇≦)Miss me~~ wait for me for a while! I will be back immediately

 

 

“Apa menurutmu akhir-akhir ini suamimu itu tidak terlalu manis? Apa-apaan dengan semua PDA-nya itu?” dengus Heechul, melirik gambar di layar ponsel Hye-Na dari balik bahu gadis itu.

Hye-Na menoleh dengan bibir terbuka, melongo. “Kau tahu PDA?” tanyanya dengan raut wajah tak percaya.

“Tentu saja. Aku tahu semua istilah-istilah seperti itu,” ucap Heechul membanggakan diri, memutari sofa dan duduk di samping gadis itu. “Public Display of Affection.”

Tawa Hye-Na menyembur keluar. “Kau mau kursus bahasa Inggris denganku?” tawarnya. “Pelafalan bahasa Inggrismu benar-benar parah.”

“Urusi saja bahasa Inggris suamimu itu. Sebagai salah satu member yang katanya memiliki pelafalan bahasa Inggris terbaik, dia tidak jauh lebih bagus dariku.”

Hye-Na mengangkat bahu. “Selain saat menyanyi, bahasa Inggrisnya memang payah. Tapi setidaknya dia mengerti apa yang aku ucapkan, dia hanya tidak lancar dalam percakapan saja,” sergahnya, terdengar seperti pembelaan terhadap kemampuan berbahasa suaminya.

“Susah bicara dengan wanita yang menganggap suaminya paling sempurna dalam segala hal,” ucap Heechul sinis.

Indeed he is.”

Heechul memutar bola mata. “Kau benar-benar sudah gila,” gerutunya. “Kenapa kau tidak ikut membalas status mesranya itu sekalian?”

“Aku sedang melakukannya,” ujar Hye-Na santai, membuat pria di sampingnya menjulurkan lidah keluar dan memasang tampang jijik.

“Sejak kapan kalian berdua berubah seperti ini? Hanya aku tinggal dua tahun kau benar-benar kehilangan taringmu, ya?”

“Ini disebut pendewasaan karakter dalam pernikahan,” sahut gadis itu asal, sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“Kalian tidak pernah bertengkar lagi?”

“Oh, setiap saat. Tentang hal-hal tidak penting. Tapi sekarang kami lebih cepat berbaikan daripada dulu.”

“Apa tidak ada yang berubah selain itu? Maksudku… yah, kalian kan sudah tiga tahun menikah. Kau mungkin bosan padanya? Melihat pria yang sama setiap hari pasti akan terasa membosankan, kan? Lagi pula suamimu tidak mungkin terlihat tampan setiap saat.”

“Setidaknya itu membuatnya terlihat manusiawi.”

“Cho Hye-Na…,” geramnya.

Hye-Na tersenyum, menyandarkan kepala ke tangannya yang ditumpangkan ke sandaran sofa.

“Ada saat-saat…,” mulainya. “Di mana aku masih tergila-gila waktu melihatnya mengenakan kemeja ataupun setelan jas lengkap. Atau hanya dengan menatap punggungnya. Atau saat mendengar suaranya di telepon. Atau saat mendapati dia sedang menatapku seolah aku berarti seluruh dunia bagianya. Atau ketika dia dengan kekanak-kanakannya merasa cemburu terhadap hal-hal yang tidak perlu. Aku rasa aku tidak akan pernah terbiasa. Jadi tidak, aku tidak akan pernah merasa bosan terhadapnya.”

 

***

On the Car

08.09 PM

Kyuhyun berkutat dengan ponselnya, membuka twitter istrinya, mencari status paling baru. Itulah cara mereka berkomunikasi akhir-akhir ini. Dia akan menuliskan sesuatu di twitter atau weibo-nya, lalu gadis itu akan membalas lewat akun SNS-nya sendiri. Dengan cara itu, mereka tidak perlu berbicara langsung dan dengan terang-terangan menyingkirkan gengsi, sesuatu yang selama ini terus mereka hindari.

 

Kecuplah aku, dan beri ciuman itu nilai, lalu tambahkan dua puluh, dan berikan seratus lagi

Imbuhkan seribu pada seratus; agar ciuman itu berlangsung abadi

Agar ribuan menjadi jutaan kali, kalikan tiga dengan sejuta

Dan setelah semuanya usai,

Mari berciuman lagi, seperti saat pertama kali

 

—Robert Herrick—

 

Pria itu melongo, mencoba membaca sekali lagi. Tapi tidak ada yang berubah. Kata-kata itu memang tertulis di sana. Sebuah puisi yang dijadikan gadis itu sebagai balasan dari ucapan sok manisnya di weibo tadi pagi.

“Astaga, dari mana Hye-Na tahu puisi sekeren ini? Aku boleh pakai tidak, ya?” celoteh Eunhyuk, yang dari tadi sibuk mengintip. Dia merebut ponsel itu dari tangan Kyuhyun dan memperlihatkannya pada Donghae, lalu asyik mendiskusikannya berdua, sesekali mengumandangkan tawa.

Kyuhyun mengulurkan tangan. “Ponselku. Kembalikan,” perintahnya dengan nada mengancam.

“Sepertinya malam ini kau akan mendapat hadiah sambutan, kan? Gadis cantik menunggumu di rumah dan menawarkan ciuman. Benar-benar membuat iri,” komentar Donghae, yang diabaikan begitu saja oleh Kyuhyun.

Cho Hye-Na… kenapa setiap kali mereka bertanding gadis itu selalu saja menjadikannya pihak yang kalah?

***

KyuNa’s Apartment, Seoul

08.17 PM

 

Give me 30 minutes more and I will come then give you a proper kiss

 “MWOYA?” jerit Hye-Na syok melihat serangkaian kata yang terpampang di layar ponselnya. “Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain memantau twitter-ku? Dan sejak kapan dia semahir ini menggunakan bahasa Inggris?” gerutunya, menjatuhkan diri ke lantai dan memilih menghidupkan laptop untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal aneh setelah membaca pesan provokatif yang dikirimkan pria itu barusan. Tapi saat laptop menyala dan layar desktop muncul, memperlihatkan foto mereka saat di Rothenburg, dia hanya bisa mengerang pasrah.

“Pada akhirnya aku tetaplah gadis normal. Ya, kan?” gumamnya putus asa.

 

***

KyuNa’s Apartment, Seoul

08.42 PM

Hye-Na tersentak saat mendengar suara pintu yang terbuka, lampu yang menyala, dan sosok tinggi Kyuhyun yang muncul kemudian, sibuk melepaskan mantel tebal berikut sweater-nya, dan hanya menyisakan kemeja putih yang dipakainya sebagai dalaman. Dan gadis tersebut memerhatikan semua itu nyaris dengan liur yang menetes, tidak bisa mengendalikan diri.

“Hai,” sapa pria itu dengan senyum geli yang bermain di sudut bibir, tahu bahwa pesan yang dikirimkannya setengah jam yang lalu sukses membuat gadis itu salah tingkah. “Tidak mau menyambutku?” tawarnya sambil mengulurkan tangan. “Aku rasa kau menawarkan sesuatu padaku di statusmu satu jam yang lalu.”

“Apa aku tidak boleh membuat status sesukaku? Kenapa kau harus berpikir semua itu ditujukan padamu?” sergah Hye-Na, berusaha mengais-ngais harga dirinya yang tersisa.

“Kecuplah aku, dan beri ciuman itu nilai, lalu tambahkan dua puluh, dan berikan seratus lagi,” ujar Kyuhyun dengan nada rendah, membacakan bait puisi yang mendadak saja sangat dia sukai. “Imbuhkan seribu pada seratus; agar ciuman itu berlangsung abadi,” lanjutnya, perlahan melangkah mendekat, menahan senyum saat melihat gadis itu memundurkan tubuh dan membentur kaki sofa di belakangnya.

“Agar ribuan menjadi jutaan kali, kalikan tiga dengan sejuta. Dan setelah semuanya usai, mari berciuman lagi, seperti saat pertama kali,” ucapnya, menyelesaikan puisi itu tanpa sedikit pun meninggalkan kesan picisan, berdiri tepat di depan Hye-Na.

“Masih tidak mau berdiri?” tanyanya dengan alis terangkat.

Dan sedetik kemudian api memercik, dengan cepat membara dalam bentuk tak kasatmata, ketika Hye-Na akhirnya bangkit dari lantai, menyerah sepenuhnya pada cengkeraman pria itu dan membiarkan bibir pria tersebut menguasai bibirnya.

Sentuhan pertama terasa ringan, selembut elusan. Sentuhan selanjutnya menuntut, penuh tekanan, dengan gerakan lidah yang ikut bergabung, seolah waktu yang terlewat tanpa melakukannya bukanlah sehari, melainkan berminggu-minggu.

Pria itu melangkah maju, dan dia berjalan mundur. Dan seolah bisa saling membaca pikiran, dia sedikit melompat, melingkarkan kaki di sekeliling pinggang Kyuhyun dan berpegangan di pundak pria tersebut, sedangkan pria itu dengan refleks memegangi tubuhnya, memastikan agar dia tidak terjatuh, dan selama itu, ciuman mereka terus berlanjut.

 

 

cwgm1-720mp4_000414480_zps25eef3eb

 

 

Dia tahu ke mana mereka menuju dan jantungnya berdentam-dentam menyakitkan, penuh antisipasi.

“Kau tersangkut skandal lagi,” gumamnya, saat ciuman pria itu beralih ke pipinya.

“Skandal apa?” tanya Kyuhyun dengan nada tidak peduli, menyentuhkan bibir ke ujung hidung gadis itu.

“Sesuatu tentang fans memergokimu sedang mengunjungi dorm sebuah girlband dan kau memberikan sesuatu kepada salah satu membernya.”

“Berarti dia bukan fansku ataupun grupku. Fans tidak akan mengkhianati idolanya seperti itu,” tandasnya dengan nada final. “Lagi pula, kalaupun aku masih single dan berniat berkencan dengan sesama idola, aku tidak akan sebodoh itu melakukannya di tempat terbuka.”

“Sangat berpengalaman, Cho Kyuhyun,” dengus Hye-Na, membuat pria itu menyeringai.

“I don’t really care how many bad articles and hateful comments I got within a day,” bisiknya, dengan bahasa Inggris yang begitu fasih, tanpa menyelipkan sedikit pun aksen Korea. “As long as you allow me to go with you and lie down on our bed every night, then all of those shits are nothing.”

 

***