644349_533443373360674_636973651_n

 

Super Junior’s Dorm

10.13 AM

“LAGI???” jerit Hye-Na, nyaris menyemburkan susu di mulutnya—yang diambilnya dari kulkas dorm diam-diam. Seperti biasa, dia bangun terlambat—walaupun pukul sepuluh masih terhitung pagi untuk seorang Hye-Na. Dan hanya dengan mencuci muka dan mengikat rambut serampangan, dia sudah dengan manisnya duduk di kursi meja makan dorm SuJu, meminta jatah sarapan paginya dengan sangat tidak tahu diri, ditambah mencuri susu stroberi Eunhyuk, membuat semua orang hanya bisa mendecak tanpa berniat untuk mengomelinya. Mereka sudah melakukannya belasan kali dan itu sama sekali tidak mempan, jadi lebih baik mereka menyimpan energi saja untuk hal yang lebih berguna.

Wae?” tanya Donghae yang sedang menikmati sarapan paginya yang terlambat, mengunyah rotinya dengan pandangan ingin tahu yang ditujukan ke arah Hye-Na, walaupun dia sebenarnya sudah bisa menebak masalah apa lagi yang dihadapi oleh gadis itu.

Pasangan suami-istri serba absurd itu akhir-akhir ini sepertinya sedang asyik dengan kegiatan mereka membuat cemburu satu sama lain. Dia sudah berhenti menghitung berapa kali Kyuhyun mengirimkan pesan beserta fotonya dengan wanita lain ke ponsel istrinya itu, lalu tertawa iseng, tidak peduli bagaimana orang lain menatapnya dengan aneh, tampak begitu semangat menunggu respons dari Hye-Na, yang sudah bisa ditebak sama gilanya dengan magnae mereka itu. Kadang masih dengan respons normal seorang istri, jika Kyuhyun memperlihatkan fotonya dengan Seohyun. Gadis itu masih membalas dengan umpatan-umpatan yang semakin kreatif setiap harinya. Entah tentang rencana pembunuhan yang mengerikan atau hanya makian dalam berbagai bahasa. Tapi lain lagi dengan reaksi yang dia berikan jika Kyuhyun berfoto dengan wanita lain. Seperti saat Kyuhyun mengirimkan foto pemotretan drama musikan terbarunya, gadis itu malah sibuk memamerkan bahwa suaminya adalah pria tertampan di dunia. Membuat dia dan member lain harus puas membaca twitter gadis itu yang dipamerkan Kyuhyun kepada mereka tiap setengah jam sekali. Belum lagi twitter Kyuhyun waktu itu, yang dengan sok imutnya mengungkapkan perasaannya pada gadis itu dalam bentuk simbol jari. Semakin lama menikah, mereka malah semakin menjijikkan dan membuat orang ingin mencekik mereka berdua karena iri, meski tetap saja pertengkaran mereka tidak pernah sekali pun menemukan titik henti.

AISH!!!! Ige mwoya????

Gadis itu mengerang marah, mengeluarkan suara rengekan yang biasanya langka terdengar.

Waeyo?” tanya Eunhyuk yang baru saja memasuki ruangan makan dengan tampang penasaran.

Hye-Na mendongak dan langsung mendelik.

“Tidak bisakah kau kelihatan tampan seperti di MV barumu? Wajah bangun tidurmu benar-benar!” gerutu Hye-Na, masih menyempatkan diri untuk melontarkan ejekan.

“Sebaiknya kau baik-baik padaku. Sudah untung aku tidak mencekikmu karena mencuri susuku.”

“KAU PIKIR ITU MASALAH? Kau tidak lihat adik iparmu ini sedang dipermainkan oleh dongsaeng sialanmu itu? Apa-apaan maksudnya mengirimkan foto seperti ini padaku? Aish, keu yeoja… jinjja jugeo—benar-benar mati kau!”

Eunhyuk mengambil ponsel Hye-Na, tertawa keras, lalu memberikannya pada Donghae yang sudah mengulurkan tangan.

 

 

1512432_10201218362036165_500880090_n

 

“Kau masih saja tidak percaya pada suamimu?” tanya Eunhyuk setelah tawanya mereda. Saking isengnya, Kyuhyun bahkan menuliskan sederet kalimat provokatif di bawah foto itu, “Ah, bagaimana ini? Kami cocok tidak?” dan diikuti dengan ikon imut sebagai penutup.

“Perhatikan baik-baik foto yang pertama. Itu tampangnya kalau terpaksa menampilkan wajah riang. Senyumnya benar-benar aneh,” komentar Donghae.

“Masalahnya bukan dia, tapi yeoja sialan itu. Dia benar-benar tidak laku ya sampai harus menempel terus dengan suamiku? Di dalam hati dia pasti menjerit-jerit histeris disentuh suamiku seperti itu. YAK!” teriaknya marah saat Eunhyuk malah mendorong kepalanya.

“Kau benar-benar terobsesi pada suamimu, ya?”

“Bukan urusanmu,” sahutnya penuh penekanan, mengetuk-ngetukkan jari ke meja seolah sedang berpikir keras. “Aish, tapi kenapa dia harus setampan itu, hah?” gumamnya, membuat Donghae melongo.

“Apa kau bilang?”

“Anggap saja kau tidak mendengar apa-apa!” sergah gadis itu dengan tampang mengerikan sehingga Donghae memilih untuk tutup mulut.

Gadis itu menggemeretakkan giginya, menusuk-nusuk sarapannya dengan garpu—seolah menganggap omelet di piringnya itu sebagai Seohyun, kemudian, tiba-tiba saja, menjentikkan jari keras-keras. Dalam hitungan sepersekian detik memasang ekspresi sumringah yang biasanya menandakan bahwa sebuah ide licik baru saja tercipta.

Donghae dan Eunhyuk saling bertukar pandang, merasakan aura buruk mulai melingkupi ruangan, mendadak menyesal karena tetap bertahan di meja makan.

“Donghae oppa,” panggil Hye-Na dengan nada begitu manis sehingga pria itu langsung bergidik ngeri.

M—mwo?” sergahnya curiga, sedangkan Eunhyuk mengembuskan napas lega karena sepertinya bukan dialah yang menjadi sasaran gadis itu kali ini.

Hye-Na memangkukan wajahnya ke tangan lalu menatap Donghae lekat-lekat.

“Sejak kapan kau begitu tampan?”

Dan bukannya merasa tersanjung, pria itu malah merasa ingin kabur.

“Katakan saja apa yang kau inginkan, tidak perlu memujiku. Itu menakutkan, kau tahu?”

Gadis itu terkekeh, yang di telinga Donghae lebih terdengar seperti tawa puas nenek sihir.

Selca denganku, ya?”

Pria itu tersedak, untung saja dia sudah menelan makanannya dan tidak menimbulkan dampak berbahaya. Cho Hye-Na menawarkan diri untuk berfoto? Dengannya? Hanya karena cemburu gadis itu rela mengenyahkan fobia kameranya dan ingin melakukan selca?

“Kau tidak mau aku kalah dari Kyuhyun, kan?” lanjut gadis itu lagi, dengan ekspresi yang jelas menunjukkan bahwa jika Donghae menolak, akan terjadi sesuatu yang buruk. Dan karena itu adalah Cho Hye-Na, maka sesuatu itu pastilah sangat buruk. Gadis itu tidak pernah setengah-setengah jika ingin melakukan balas dendam.

“Tentu saja,” jawabnya cepat-cepat. “Tentu saja.”

Dan lima menit kemudian, di lain tempat, Kyuhyun menerima pesan yang membuat akal sehatnya melayang seketika.

“LEE DONGHAE, KKEOJYEO!”

Astrinia Ardila

 

Ah, eotteokhae, Kyuhyun oppa? Kami sangat cocok, kan? Pyeong pyeong~ ~

 

***

“AISH!!!” Donghae nyaris saja meratap, sambil menatap horor ke arah ponselnya yang tergeletak di meja, seolah itu adalah bom yang sebentar lagi akan meledak. Kyuhyun dan bom sebenarnya sama saja. Jika meledak, tamatlah riwayatnya. Seharusnya dia tahu, lepas dari Hye-Na, maka ada Kyuhyun yang menunggu unttuk memangsanya.

“Kenapa dia meneleponku? Kenapa bukan kau?” protesnya kepada Hye-Na yang tampak begitu santai, mengunyah roti bakar porsi keduanya dengan wajah riang tanpa beban.

“Angkat saja. Dia tidak akan berhenti sampai dia berhasil meneriakimu,” nasihat Eunhyuk, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dengan penuh simpati.

Donghae mendengus, menekan tombol terima dan mengaktifkan loudspeaker agar dia tidak perlu membuat telinganya tuli saat mendengarkan amarah Kyuhyun. Tapi yang mengejutkan adalah, suara yang mereka dengar kemudian bukanlah teriakan penuh amarah, melainkan nada rendah, dingin, dan datar, yang membuat kalimat yang terdengar setelahnya terdengar lebih mencekam. Penuh ancaman.

“Lee Donghae… kau mau mati di tanganku? Sudah bosan hidup, ya? Aku tidak peduli apa pun alasanmu. Walaupun dia yang meminta dan kau takut padanya, seharusnya kau ingat bahwa aku sudah memperingatkanmu. Istriku. Terlarang. Untuk. Disentuh. Siapa pun. Ini peringatan pertama. Sekali lagi saja, tidak akan ada pengampunan berikutnya. Aku tidak mengenal istilah kesempatan kedua. Lebih baik kau berhati-hati. Mengerti?”

“Tentu,” seru Donghae cepat-cepat, hampir terdengar seperti cicitan. “Peringatanmu sangat jelas.”

“Dan kau, Cho Hye-Na, aku tahu kau di sana. Ini tidak lucu, kau tahu? Baik, aku yang memulai duluan. Tapi bahkan jika kau ingin balas dendam, tidak bisakah mencari cara lain? Butuh dua tahun bagiku sampai kau setuju untuk berfoto bersama, tapi sekarang malah kau yang menawarkan untuk melakukan selca dengan hyung-ku sendiri. Bercanda ada batasnya, kau tahu?” Terdengar helaan napas di ujung sana. “Kita perlu bicara. Nanti malam.”

Hye-Na melongo dan masih terdiam saat hubungan telepon terputus begitu saja. Wajahnya tidak tampak lebih baik dari wajah Donghae dan Eunhyuk, yang dari tadi menonton, hanya bisa menggelengkan kepala. Bahkan gadis seperti Hye-Na pun masih punya rasa takut terhadap suaminya.

“Sepertinya dia lebih marah dengan fakta kau bersedia difoto dengan pria lain,” ujarnya. Dia masih ingat bagaimana Kyuhyun terus-terusan mengeluh masalah Hye-Na yang tidak pernah mau berfoto bersamanya. Itu pun baru berhasil dilakukan setelah semua member memaksa gadis itu saat perayaan ulang tahunnya di Hawaii, bertepatan dengan jadwal pemotretan photobook mereka di sana. Kyuhyun bahkan nyaris menyerah pada godaan untuk mengganti avatar Twitter-nya dengan foto tersebut, sebelum akhirnya Hye-Na berhasil memukul kepalanya dan membuat otak pria itu kembali normal dan berpikir logis.

“Minta maaf sana. Dilihat dari sisi mana pun, kesalahan kan ada di pihakmu. Foto-fotonya diambil karena itu tuntutan pekerjaan, sedangkan selca-mu dengan Donghae tadi atas inisiatifmu sendiri. Tentu saja dia mengamuk.”

“Siapa suruh dia mulai duluan,” sergah gadis itu keras kepala.

“Kau masih tidak mengerti, ya?” potong Donghae. “Mengirimkan foto-foto itu padamu sebenarnya sebagai laporan harian.”

Eunhyuk mengangguk setuju. “Dengan kata lain, dia ingin kau tahu apa yang dia lakukan langsung darinya, bukan dari orang lain. Mungkin dia kelihatan iseng, tapi itu dimaksudkan sebagai bentuk tugasnya sebagai suami. Apa pun yang terjadi, dia ingin istrinyalah yang pertama tahu.”

“Bagi Kyuhyun, pendapatmu adalah segalanya. Walaupun dia tampak tidak mendengar dan tidak bisa mengabulkan setiap hal yang kau inginkan karena posisi dan pekerjaannya, dia berusaha meminimalisir dampaknya.”

“Kau tidak ingat wawancara Sungmin hyung waktu itu? Saat dia bilang bahwa Kyuhyun adalah member yang paling mengerti perasaan wanita? Ryeowook juga mengatakan hal yang sama. Tentang Kyuhyun sebagai penakluk gadis non-artis. Kami semua… selalu iri padanya. Dia member termuda, tapi jelas dia memiliki segalanya, terutama pengalaman dalam hal menikah. Pria itu sulit, Hye-Na~ya, terutama suamimu. Seharusnya kau sadar, seberapa banyak dia berubah untukmu. Terutama dalam hal menurunkan gengsi.”

“Tapi kami senang dia menikah denganmu,” timpal Eunhyuk. “Karena kalau bukan kau, dia tidak akan pernah menjadi seperti sekarang.”

***

 

On the Road

09.12 PM

Kyuhyun membuka pesan baru di ponselnya dan apa yang dilihatnya kemudian, membuat wajahnya yang tadinya tampak tegang, mengendur seketika. Dia seharusnya tahu, bahwa dia tidak bsia marah terlalu lama pada gadis itu.

67479_486848144712678_742806502_n

 

I still love this couple the most…

Hyung,” panggilnya. “Bisa lebih cepat sedikit? Aku harus segera pulang.”

 

***

SuJu’s Dorm

09.33 PM

 

Kau di mana? Cepat pulang.

Hye-Na mengernyit memandangi pesan itu, bertanya-tanya apakah sebaiknya dia pulang dan menghadapi pria itu atau tetap bertahan di dorm dan menunda-nunda apa yang seharusnya dia selesaikan segera.

“Sudah, pulang sana. Dia kan tidak akan memukulmu atau apa,” suruh Donghae, yang memutuskan untuk beristirahat seharian di dorm dan harus menerima nasib ditemani oleh Hye-Na yang juga tidak beranjak dan memilih menempel di sampingnya.

“Bagaimana kalau dia benar-benar melakukannya?” tanya gadis itu, penuh dengan pikiran negatif berseliweran di kepala.

“Kau sudah gila, ya? Dia akan bunuh diri setelah melakukannya. Itu pun kalau dia memang melakukannya, yang kemungkinannya minus seratus persen. Atau kau goda saja dia, setelah itu dia pasti akan lupa untuk memarahimu.”

“Sialan kau,” umpat Hye-Na, bangkit dari sofa dan melangkah gontai ke pintu.

“Cepat-cepat punya anak sana! Kami sudah ingin menggendong keponakan!” teriak Eunhyuk dari kamar.

“KKEOJYEO!”

***

Hye-Na baru saja mencapai ruang tamu apartemennya saat langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pemandangan yang tersaji di sana. Kyuhyun sedang berdiri menghadap balkon, membelakanginya, dengan kedua tangan yang terbenam di saku celana. Dia tidak tahu pria itu dari mana, tapi malam ini pria itu mengenakan kemeja putih pas badan dan celana kain hitam dan dengan posisi dan pakaian seperti itu, pria itu tampak terlalu menggugah selera. Apa ini bentuk pembalasan dendam? Karena dia tahu dengan jelas bahwa Kyuhyun menyadari ketertarikan anehnya terhadap punggung pria itu, terutama dalam balutan kemeja. Belum-belum dia sudah ingin menyentuh dan memeluk dan kemungkinan besar pria itu tidak akan mengizinkannya.

Dia berjalan mendekat, berhenti di belakang pria itu, dengan mata yang tertuju lurus pada punggung tegap dan pundak yang tampak lebar itu.

“Ayo mulai,” gumamnya pasrah.

“Apa?” tanya Kyuhyun, sama sekali tidak berbalik untuk menghadapnya.

“Pertengkarannya. Kau mau memarahiku, kan?”

Pria itu menyandarkan tubuh ke ambang pintu balkon kemudian mengedikkan bahu pelan.

“Tidak. Aku bahkan sedang menawarkan untuk mengabulkan permintaanmu. Silakan.”

Eo? Mwo?” Gadis itu bertanya linglung.

“Hal yang saat ini sedang kau pikirkan. Aku bilang silakan. Tidak ada tawaran kedua, Na~ya.”

Dan tanpa berpikir ulang, gadis itu langsung menghambur, menyelipkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Kyuhyun, memeluk tubuh itu dari belakang dan membenamkan wajahnya ke punggung pria tersebut, menghirup aroma yang menempel di sana dalam-dalam. Wangi tubuh yang familiar dan sisa parfum yang tercium samar. Bau yang begitu disukainya.

Kyuhyun menunduk, menyentuh punggung tangan gadis itu yang melingkari pinggangnya erat, mengusapkan jarinya perlahan.

“Maaf. Aku tadi kekanak-kanakan, ya?”

“Aku sudah terbiasa,” balas Hye-Na, menghela napas diam-diam, berusaha tidak terdengar terlalu berpuas diri. Jari, punggung, mata, rambut, leher, bagian mana dari tubuh pria itu yang tidak membuatnya meneteskan liur?

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari saku celana, membiarkan istrinya bersenang-senang lebih lama. Dia tidak mengerti apa yang disukai gadis itu dari punggungnya, tapi selera gadis itu memang aneh.

couple5

 

Rothenburg. Aku memotretnya saat kalian mengira tidak ada yang melihat.

Anggap saja ini permintaan maafku. Jangan terlalu keras pada Hye-Na, seharian ini dia panik sekali.

 

-Donghae-

 

 

Dia tiba-tiba berbalik, membuat Hye-Na dengan refleks melangkah mundur karena kaget.

Game over,” bisiknya, mencengkeram lengan atas gadis tersebut dan menarik gadis itu paksa ke arahnya, dengan cepat menunduk, memerangkap wajah gadis itu di antara kedua tangan dan menciumnya dalam-dalam.

Seperti biasa, Hye-Na dengan begitu mudah terbawa suasana di detik pertama pria itu menyentuhnya, hanya saja kali ini dia berusaha melepaskan diri, mendorong pria itu dan melemparkan tatapan tajam.

“Apanya yang game over?” tuntutnya.

Kyuhyun menggeleng. “Aku mengira ini cara yang terbaik. Setiap hari melapor padamu, mengirimkan foto, memberitahumu apa yang sedang aku lakukan. Kau harus menjadi orang pertama yang tahu, sebelum orang lain. Tapi sepertinya caraku salah. Aku malah menyiksamu. Maaf. Mungkin akan lebih mudah jika kau tidak kuberitahu dan kau juga tidak berusaha mencari tahu. Jadi kau bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa dan kau akan baik-baik saja.”

Hye-Na tersenyum tipis, menginjakkan kedua kakinya ke atas kaki pria itu, membebankan tubuh sepenuhnya dengan bertumpu di sana lalu melingkarkan kedua lengan di leher pria tersebut, membantu agar pria itu tidak perlu membungkuk terlalu rendah dan wajah mereka bisa sejajar.

“Tarik ucapanmu,” ucapnya tegas. “Selain jika kau memang berniat menceraikanku, game tetap berlangsung. Mengerti?”

“Apa?”

“Kau tetap harus melapor padaku setiap hari.” Dia mengedikkan bahu. “Aku ingin tahu apa pun yang kau lakukan. Dan lebih baik kalau aku mengetahuinya darimu langsung.”

“Itu hanya akan menyakiti—”

“Itu risikoku,” potongnya. “Saat setuju menikah denganmu, aku sudah tahu risikonya dan aku bisa menanggungnya. Selain itu, menyakitiku membuatmu tersakiti juga, kan? Itu risikomu.” Dia menyeringai. “Masokis memang, tapi tidak ada satu pun dari kita yang ingin melepaskan satu sama lain. Jadi mari, Cho Kyuhyun ssi, kita terluka, lalu bahagia bersama-sama. Tidak terlalu buruk, kan?”

Kyuhyun menggeleng, tersenyum, lalu memajukan wajah untuk mengecup bibir gadis itu singkat.

“Tidak,” gumamnya, membenamkan wajah ke helai rambut gadis itu. “Sama sekali tidak buruk. Asalkan kau tidak berencana menyerah… semuanya pasti akan baik-baik saja.”

 

***