cVmas copy

KyuNa’s Apartment, Seoul

08.24 PM

Kyuhyun melempar popcorn di tangannya ke tubuh Hye-Na yang sibuk berseliweran di depannya. Ini sudah yang keempat kalinya dan kesabarannya lenyap begitu saja.

“Bisa tidak kau berhenti berlalu-lalang di hadapanku? Aku sedang menonton, bodoh!”

Gadis itu mengerucutkan bibir, berdiri bertolak pinggang sambil memelototi pria itu.

“Apa sih masalahmu? Aku kan sedang mempersiapkan peralatanku untuk menonton drama. Yang menyuruhmu ikut-ikutan menonton siapa? Lagipula kenapa jam segini kau sudah pulang?”

“Kau melarang suamimu pulang ke rumah cepat-cepat?” Pria itu menggeleng tidak percaya, akhirnya berhasil mengalihkan perhatian dari pemandangan kaki gadis itu yang mengganggunya dari tadi—inti permasalahan kenapa dia meledak marah. Konsentrasinya buyar dan dia hampir-hampir tidak bisa mengalihkan pandangan—gadis itu hanya mengenakan sweater hangat berwarna pink pudar dan hotpants yang sepertinya terlalu pendek untuk disebut sebagai hotpants—dan dia tahu Hye-Na tidak akan meladeninya karena gadis itu lebih mencintai drama Reply 1994 daripada suaminya sendiri. Coba saja kalau dia mencoba menyerang gadis itu sekarang, serangan balasannya pasti akan lebih garang. Dia pasti akan ditolak mentah-mentah dan mungkin ditendang. Aish, kenapa kehidupan pernikahannya bisa seaneh dan se-absurd ini? Dia tergoda pada kaki istrinya sendiri, ingin sekali melakukan sesuatu, tapi di waktu yang bersamaan tahu bahwa dia juga tidak bisa melakukannya kalau tidak mau egonya sebagai pria tercoreng.

Hye-Na melirik sinis. “Hanya ingin menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak protes kau terus pulang malam,” desisnya, menekankan suara pada kata protes.

Pria itu tertohok, walaupun tidak memperlihatkannya. Jika levelnya sudah sampai pada tahap di mana gadis itu keheranan melihatnya sudah berada di rumah pada pukul 8 malam, dia pastilah suami yang begitu mengerikan. Gadis itu memakluminya, tapi dia tidak pernah berhenti bertanya-tanya bagaimana ada istri yang begitu ‘menerima’ seperti itu. Bukannya dia tidak suka. Malah sebaliknya, dia mulai merasa seperti bajingan.

“Aku kan sudah mengurangi jadwalku,” ucapnya, seolah mencari pembenaran.

Hye-Na mengangkat bahu. “Boleh jujur? Aku menyayangkan karena kau harus berhenti dari Mamma Mia.”

“Kenapa?” tanyanya ingin tahu—penasaran karena sangat jarang gadis itu mau mengomentari pekerjaannya.

“Kau menjadi dirimu sendiri di sana. Dan semua orang mencintaimu.”

“Mmm. Tapi tidak ada pilihan lain.”

“Aku tahu,” sergah gadis itu. “Masalah kesetiaan dan terima kasih.”

Kyuhyun menggeser duduknya, memberi tempat saat gadis itu akhirnya duduk di sampingnya setelah meletakkan setumpuk camilan ke atas meja.

“Ngomong-ngomong, aku lupa bertanya. Ada apa dengan twitter-mu beberapa hari yang lalu? Marah-marah tidak jelas begitu.”

Kali ini ganti pria itu yang mendelik. Kemarahaannya kembali naik ke ubun-ubun.

“YAK! Kau masih bertanya? Astaga, aku ingin sekali mencekikmu!” teriaknya sambil menggeretakkan gigi, sedangkan gadis itu hanya menatapnya polos, tidak mengerti. “Kau ribut masalah drama musikalku dengan Seohyun, jadi aku bermaksud menjadi suami yang baik dengan menunjukkan bahwa aku berkeberatan dengan skandal-skandal itu. Dan kau malah tidak mengerti apa yang sedang aku lakukan? Kau tidak bodoh, kan?”

“Kau membicarakan artikel tentangmu dan Seulgi, kan? Memangnya apa masalahnya?” tanya gadis itu tidak acuh. “Kalau kau memang ingin memiliki skandal, lakukan sekalian dengan gadis super cantik, jangan dengan gadis yang tampangnya standar seperti si Seohyun itu. Seulgi kan cantik. Kau kan pria, masa tidak bisa menilai? Seleramu payah, ya?” ejeknya, lalu tiba-tiba menepukkan tangan dengan senyum sumringah di wajah. “Ah, aku tahu. Setelah menikah denganku, seleramu jadi luar biasa tinggi. Susah kan mencari wanita yang lebih cantik dariku?”

Kyuhyun dengan cepat meraih gadis itu, menjepit kepala gadis tersebut di antara dekapan lengannya yang kuat, membuat gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan.

“Karena aku sibuk membuatmu percaya bahwa aku tidak menginginkan wanita lain, kau malah tumbuh menjadi wanita narsis seperti ini, ya?” geramnya. “Apa yang sudah aku lakukan?” dengus pria itu frustrasi.

Dia melonggarkan cekikannya, membiarkan Hye-Na melejit ke sudut sofa, menjauh seraya mengusap-usap lehernya yang memerah.

“Ini bisa dihitung sebagai kekerasan dalam rumah tangga, Cho Kyuhyun! Kau tidak mau diadukan ke polisi, kan? Kariermu bisa tamat seketika.”

Pria itu tertawa sinis. “Seolah kau bisa melakukannya saja,” ejeknya, meraih ponselnya yang berdering dan mengecek pesan masuk.

Karena memang tidak bisa, jadi gadis gadis itu diam saja dan tidak melanjutkan argumennya. Sebagai gantinya, dia menemukan cara licik untuk membalas pria itu.

Dia mengibaskan rambut ikalnya ke belakang, meraih ponsel dan berpura-pura sibuk dengan benda itu, sedangkan dengan santai dan wajah yang sengaja dipasang tanpa ekspresi, dia menjulurkan kaki dan menyelonjorkannya ke pangkuan pria itu. Hotpants-nya yang sudah begitu pendek semakin tertarik naik dan mengekspos seluruh bagian kakinya, mulai dari ujung jari sampai nyaris ke pangkal paha. Dengan susah payah dia berusaha menahan tawa saat mendengar suara tarikan napas pria itu yang tiba-tiba memberat.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”

Wae?” Dia bertanya dengan nada manis, mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan menatap pria itu polos. “Bukannya dari tadi kau memerhatikan kakiku sampai hampir menteskan air liur? Ini aku berikan sekalian, masa kau tolak?” Dia tersenyum saat melihat wajah Kyuhyun yang memucat. “Pegang saja, tidak usah malu-malu. Tapi kalau mau yang lebih panas, tunggu dua jam lagi, ya. Aku mau melihat Chilbong dulu.”

Kyuhyun berdiri, melemparkan bantal kursi yang lalu digunakannya untuk membekap muka gadis itu.

“CHO HYE-NA, KUBUNUH KAU!”

***

Three days later…

KyuNa’s Apartment, Seoul

07.12 AM

 

Aish!!!” rutuk Hye-Na saat tidur nyenyaknya terganggu oleh dering ponselnya yang mengumandangkan theme song Pororo yang digilainya. Dia sengaja menyetel volume-nya pada level tertinggi, tapi itu malah mengganggu paginya yang indah.

Gadis itu menjulurkan tangan, meraba-raba nakas dan meraih ponselnya saat benda itu akhirnya dia temukan.

Sebuah pesan dari Kyuhyun yang berisikan foto yang membuat matanya langsung terbuka lebar diikuti jeritan histeris yang memekakkan telinga, terlupa akan kantuknya begitu saja. Detik berikutnya dia sudah berkutat dengan twitter-nya sendiri, mem-posting foto tadi dan menuliskan komentar di bawahnya:

131210-kyu-moon1

Ask me about who is the most handsome man in the world and this is your answer.

*sigh* Cho Kyuhyun sayang, apa itu tidak terlalu tampan?

 

PS: I Love You ^^

Sangat kekanak-kanakan, tapi apa pedulinya? Untuk pemandangan pagi yang begitu indah, pria itu berhak mendapatkan hadiah.

Cek twitter-ku, tulisnya, lalu mengirimkan pesan itu pada Kyuhyun. Dan pria itu membalas pesannya tujuh menit kemudian dengan bunyi pesan yang persis sama. Mendadak merasa dongkol, dia membuka twitter pria itu dan hanya bisa melongo saat membuka foto yang baru di-upload pria tersebut dengan manisnya, dengan sebaris kalimat, “Igeo mwoge—apa kau tahu ini apa?” yang menggelikan di bawahnya.

1471243_674057635948677_1011639276_n

Foto itu menunjukkan simbol yang berarti, “Nan… neol… saranghae.” Cara pria itu membalas pernyataan cintanya barusan.

Dia bahkan belum tersadar dari keterkejutannya saat kemudian ponselnya kembali berdering, kali ini panggilan masuk, dengan nama Kyuhyun yang berkedip-kedip di layar.

“Kau suka?” Suara pria itu terdengar riang, dengan nada geli yang terselip di dalamnya.

“Sialan,” gumamnya, membuat pria itu seketika terkekeh, kelihatannya sangat senang mendengar dia kehilangan kata-kata. “Kau selalu saja seperti itu. Aku memberimu sedikit, dan kau membalas dua kali lipat lebih banyak.”

“Oh, ya?” tanya Kyuhyun retoris. “Itu kan menurutmu.”

“Apa maksudnya?”

“Hmm,” desahnya, seolah sedang berpikir. “New Moon, menit ketujuh, detik ketiga puluh.”

“Apa?” sergah gadis itu tidak mengerti.

“Jawabanku ada di sana.”

“Bagaimana—”

“Waktu itu aku sedang bosan dan meminjam laptopmu untuk menonton. Kau tergila-gila dengan semua hal tentang vampir itu, jadi aku ingin tahu. Dan aku sangat menyukai dialog itu sehingga terus mengulang-ulangnya,” jelasnya singkat. “Hubungi aku kalau kau sudah mendapatkan jawabannya.”

Hye-Na menganga tolol saat hubungan telepon terputus begitu saja. Apa-apaan pria itu? Aneh sekali. Menonton Twilight Saga dan belum cukup sebatas itu, pria itu bahkan memiliki dialog favorit. Ckckck, suaminya itu mungkin sudah separuh tidak waras.

Tapi dia lebih tidak waras lagi karena bergegas mengambil laptopnya, berdecak tidak sabar selagi menunggu benda tersebut bisa digunakan dan nyaris menahan napas saat mencari folder film dan mulai memutar video.

“Menit ketujuh, detik ketiga puluh. Bagaimana cara dia menghafalnya?” gerutu gadis itu, menemukan adegan yang dia cari dan mulai menonton.

“Jadi kenapa Jacob Black boleh memberimu hadiah sedangkan aku tidak?”

“Karena aku tidak memiliki apa pun untuk membalasmu.”

Bella, you give me everything just by breathing—Bella, kau memberiku segalanya hanya dengan bernapas.”

“Crap,” desisnya syok, lagi-lagi hanya bisa terduduk bingung, dengan kepala yang mendadak terasa pusing.

Dia menghela napas, berusaha menormalkan detak jantung dan merasa itu hanya tindakan sia-sia jadi dia berhenti mengacuhkannya dan kembali menghubungi ponsel Kyuhyun. Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya pria itu mengangkat telepon dan menggumamkan kata, “Ya?”

“Aku mencintaimu,” ujarnya tanpa berpikir, karena jika dia sempat memikirkannya, dia akan kehilangan keberaniannya begitu saja. Dia mengucapkannya dengan intonasi jelas, lambat, tidak terburu-buru seperti yang biasa dia lakukan.

Hye-Na bisa merasakan pria itu tersenyum dan anehnya, dia tiba-tiba saja merasa lega setelah mengungkapkannya secara langsung.

“Aku tahu,” bisik pria itu pelan. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu,” ucapnya berulang, seolah sedang membiasakan lidahnya untuk mengucapkan kalimat itu. “Aku selalu ingin mengatakannya, tapi di lain sisi juga tidak ingin. Aneh, ya?”

Dia mencengkeram ponselnya, berusaha meredakan tangannya yang gemetar.

“Jam berapa kau pulang?”

“Aku tidak tahu. Akan kuhubungi kau nanti.”

Pria itu bahkan tidak bertanya saat dia jelas-jelas sedang mengubah topik pembicaraan.

“Tidak usah. Aku akan menunggumu.”

Pria itu tertawa kecil. “Merindukanku?” godanya. “Ini masih pukul setengah 8 pagi, Na~ya. Tapi akan kuusahakan pulang cepat.”

“Aku lebih senang setiap kali kau sedang berada di Korea.”

Wae?”

It’s just a good way to know that you will come back to me when the night comes. After a tiring day ended.”

“Kau mulai lagi,” rengut pria itu, merutuki kebiasaan istrinya itu yang suka menggunakan bahasa Inggris saat sedang mengucapkan hal yang menurutnya terlalu memalukan untuk diungkapkan secara langsung. “Sudahlah. Aku sudah sampai. Jangan lupa sarapan. Sampai nanti.”

Hye-Na tersenyum, berguling di atas ranjang dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal di sisi tempat Kyuhyun biasa tidur, menghirup aroma tubuh pria itu yang tertinggal. Dia baru saja akan beranjak ke kamar mandi saat ponselnya lagi-lagi berbunyi, menandakan pesan masuk yang membuatnya untuk kesekian kalinya pagi ini, hanya bisa membatu. Syok.

Sial. Pria itu mengerti ucapannya tadi, ya?

Setiap saat… aku juga ingin segera kembali padamu.

***