1391817_658600620827712_102181101_n2

Credit Photo: Laela Nifi

PS: Kalo mau lebih dapet feel-nya, sebaiknya baca FF ini sambil dengerin lagu Hyorin SISTAR – Driving Me Crazy (Ost. Master’s Sun)

 

 

KyuNa’s Apartment, Seoul

09.06 PM

 

Kyuhyun membuka pintu apartemen, melangkah masuk, dan tidak lagi merasa heran melihat Hye-Na yang sudah duduk manis di depan TV, lengkap dengan snack yang berserakan di atas meja sekaligus segelas besar jus mangga, peralatan perangnya untuk menemaninya menonton serentetan drama yang akhir-akhir ini sangat dia gandrungi. Dia bahkan seolah tidak memedulikan Kyuhyun lagi, sibuk menghabiskan waktu bersama Heechul yang juga mengidolakan drama Reply 1994 sepertinya, dan sempat menjadi cameo di drama The Heirs yang ditonton gadis itu hanya untuk melihat Lee Min-Ho yang menurutnya super tampan. Hye-Na bahkan bersedia mendengarkan bualan tidak karuan Heechul tentang pengalamannya selama syuting, padahal jelas-jelas hyung-nya itu tidak melakukan adegan apapun dalam frame yang sama dengan Lee Min-Ho dan Kim Woo-Bin yang membuat istrinya itu bertingkah seperti gadis remaja yang belum menikah.

Kyuhyun mengempaskan tubuhnya ke atas sofa, memandangi wajah Go Ara yang memenuhi layar TV. Dia menyandarkan tubuh seenaknya ke tubuh Hye-Na, yang sama sekali bergeming, tidak berkomentar, juga tidak menyapanya.

“Aku akan bermain di drama musikal,” beritahunya, yang hanya ditanggapi gadis itu dengan sahutan oh pelan.

“The Moon That Embraces The Sun. Kau sudah pernah menontonnya?”

“Tidak tertarik.”

“Bukannya yang main idolamu?”

“Aku tidak suka drama sejarah kerajaan seperti itu,” ujarnya cuek. “Kau jadi apa? Raja?”

“Mmm hmm,” gumamnya. “Tumben kau tidak menonton dengan Heechul hyung.”

“Dia belum pulang. Katanya ada pekerjaan.”

“Kenapa kau tidak mengajakku saja?”

“Kau tidak mengikutinya dari awal. Tidak asyik,” sahutnya, membuat Kyuhyun mengernyit dan mendelik, yang lagi-lagi tidak diacuhkan oleh gadis tersebut.

Aigoo, seandainya aku punya Ibu seperti itu. Meja makan penuh dengan tumpukan makanan. Drama ini membuatku kelaparan saja.”

“Kau sedang ngidam, ya?” selidik Kyuhyun. Baru beberapa hari yang lalu gadis itu ribut berdoa, mengharapkan anak yang memiliki wajah seperti Seo Ji-Sub dan Song Hye-Kyo. Lalu hari berikutnya memaksa Kyuhyun keluar malam-malam untuk membelikannya samgyupsal dan tteokbeokki, juga kecenderungannya memakan berkilo-kilo kentang goreng dalam satu hari dan memenuhi kulkas dengan berliter-liter jus mangga, menggantikan hobinya meminum kopi. Mengingat sudah satu bulan berlalu sejak gadis itu melepaskan alat kontrasepsinya, dugaan Kyuhyun bisa saja benar.

“Hanya karena kau meniduriku nyaris setiap hari, bukan berarti aku bisa hamil dengan mudah. Memangnya kau sehebat itu?” ejeknya sambil menjulurkan lidah.

Kyuhyun mendengus, mengambil beberapa potong kentang goreng dari dalam mangkuk yang terletak di pangkuan gadis itu, memasukkannya ke mulut, lalu mulai mengunyah dengan kesal.

“Bahkan rahimmu pun jual mahal padaku,” rutuknya.

 

***

Three days later…

KyuNa’s Apartment, Seoul

01.14 AM

 

Kyuhyun duduk di samping ranjang, memandangi istrinya yang sudah terlelap dengan tubuh menghadap ke arahnya.

Setelah pengumuman tentang drama musikal terbarunya tersebar luas dan akhirnya dia tahu siapa yang menjadi lawan mainnya, dia seharusnya bergegas pulang, berlutut meminta maaf atau semacamnya, tapi kegiatannya yang padat menghalanginya melakukan hal yang benar, menjadi suami yang pantas. Dia malah pulang lewat tengah malam, mendapati istrinya tertidur di ranjang sendirian, terluka sendirian, mungkin juga menangis diam-diam.

Hye-Na tidak pernah memperlihatkan kelemahannya. Memang. Tapi dia begitu mengenal gadis itu untuk tahu, untuk menebak apa yang gadis itu rasakan, apa yang gadis itu lakukan di balik muka sinis yang selalu dia perlihatkan.

Dia menyusup ke balik selimut, berbaring di samping gadis itu, melepaskan sebelah headset yang gadis itu kenakan dan memasangnya ke telinganya sendiri. Dia lalu mengecek ponsel gadis tersebut, yang terbuka di bagian playlist yang sedang dimainkan.

Hanya ada satu lagu. Hyorin – Driving Me Crazy. Soundtrack dari drama kesukaan gadis itu. Hanya saja dia tahu bukan itu alasannya kenapa lagu tersebut menjadi satu-satunya lagu yang didengarkan gadis itu sepanjang malam untuk menemaninya tidur.

 

 

 

Deutgo innayo nae maeumeul

Bogo innayo nae nunmureul

Isesange hana, oroji dan hana

Nan neoyeoyaman haneunde

(Apakah kau bisa mendengar hatiku?

Apakah kau bisa melihat air mataku?

Hanya ada satu di dunia, hanya satu

Dan orang itu haruslah dirimu)

 

Wae jakku naegeseo domangchinayo

Wae jakku naegeseo meoreojinayo

Naegyeote isseojwoyo, nae soneul jabajwoyo

Nal saranghandamyeon

(Kenapa kau terus berlari meninggalkanku?

Kenapa kau terus menjauh dariku?

Bertahanlah di sisiku, genggamlah tanganku

Kalau kau memang mencintaiku)

 

Michige mandeureo… niga…

Nal ulge mandeureo… niga…

Gakkai sone japhildeutae jabeumyeon

Meoreojineun baramcheoreom

(Membuatku gila… kau…

Membuatku menangis… kau…

Kau dekat… seolah aku bisa saja menjangkaumu dengan mudah

Tapi saat aku mencoba melakukannya, kau menjauh dengan cepat seperti angin)

 

Honjaseo haneunge sarang

Namneungeon nunmurin sarang

Geureon geojigateun… geureon babogateun sarang

(Cinta adalah sesuatu yang aku lakukan sendirian

Cinta yang hanya menyisakan tangis

Cinta yang mengerikan… sekaligus bodoh)

 

Hanbeonman geudaereul anado doenayo

Majimak insareul na haedo doenayo

Saranghaetdeon chuogeul, haengbokhaetdeon gieogeul itji marayo

(Bisakah aku memelukmu sekali saja?

Bisakah aku mengucapkan salam terakhirku?

Jangan lupakan kenangan-kenangan indah, kenangan-kenangan membahagiakan)

 

Michige mandeureo… niga…

Nal ulge mandeureo… niga…

Gakkai sone japhildeutae jabeumyeon

Meoreojineun baramcheoreom

(Membuatku gila… kau…

Membuatku menangis… kau…

Kau dekat… seolah aku bisa saja menjangkaumu dengan mudah

Tapi saat aku mencoba melakukannya, kau menjauh dengan cepat seperti angin)

 

Honjaseo haneunge sarang

Namneungeon nunmurin sarang

Geureon geojigateun… geureon babogateun sarang

(Cinta adalah sesuatu yang aku lakukan sendirian

Cinta yang hanya menyisakan tangis

Cinta yang mengerikan… sekaligus bodoh)

 

Eonjenga uri dasi mannaneun geunal

Geuttae uri heeojijimayo

(Suatu hari, saat kita bertemu lagi

Mari berusaha untuk tidak lagi mengucapkan ‘selamat tinggal’)

 

Gaseumi haneun mal saranghae

Nunmuri haneun mal mianhae

Amuri juwodamgo damabwado ssodajyeobeorineun

Malcheoreom

(Kata-kata yang diucapkan hatiku adalah ‘aku mencintaimu’

Kata-kata yang diucapkan air mataku adalah ‘maafkan aku’

Tidak peduli seperti apapun aku bertahan untuk tetap diam

Kata-kata itu tetap saja terlontar keluar)

 

Honjaseo haneunge sarang

Namneungeon nunmurin sarang

Geureon geojigateun… geureon babogateun sarang

(Cinta adalah sesuatu yang aku lakukan sendirian

Cinta yang hanya menyisakan tangis

Cinta yang mengerikan… sekaligus bodoh)

 

 

Sialan, hal brengsek apa lagi yang sudah dia lakukan? Dia berjanji untuk tidak menyakiti gadis itu lagi, tapi seperti biasa, seolah tidak punya prinsip, dia lagi-lagi melakukannya, bertubi-tubi, tanpa henti. Seolah belum selesai luka gadis itu ditambal, dia dengan tanpa perasaan menorehkan luka lainnya, di tempat yang sama. Terus-menerus, sampai tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya seperti semula.

Hanya saja gadis itu seperti menikmatinya, membiarkan dia menjadi pihak antagonis, membiarkan dia berbuat jahat sedangkan gadis itu bersikap tidak peduli, tetap di sampingnya, tersenyum, gembira, seakan tidak terjadi apa-apa, sedangkan dia ingin sekali menghajar diri sendiri karena selalu diperalat untuk meraup keuntungan besar, berada di tengah banyak skandal, dan terus berakting di depan semua orang.

Dia menggeser tubuh, melingkarkan sebelah lengan ke sekeliling bahu gadis itu, dan menggenggam tangan kanan gadis tersebut di depan dadanya sebelum akhrinya dia menenggelamkan wajah ke puncak kepala gadis itu, membiarkan lagu menyedihkan itu diputar berulang-ulang di telinga mereka, juga membiarkan sesuatu jatuh, menetes dari sudut matanya.

Dia bosan meminta maaf, dia bosan menjadi pihak jahat. Jika saja gadis itu berniat membalasnya, dia mungkin akan menerimanya dengan senang. Tidak akan marah. Tidak akan menuduh. Bersedia menjadi masokis yang senang menyakiti diri sendiri. Apa saja. Asalkan gadis itu bahagia.

Tapi dia tahu, gadis itu baru akan bahagia jika dia juga bahagia. Dan siklus hidup mereka akan selalu seperti itu. Satu pihak menyakiti, satu pihak tersakiti. Tapi tidak ada yang bersedia pergi. Bertahan di tengah lingkaran setan yang semakin lama semakin membunuh.

Saat mereka lelah, mungkin mereka hanya perlu terjatuh bersama. Mengakhiri semuanya setelah memastikan tidak ada yang akan merasa tidak bahagia, meskipun itu berarti menghancurkan dan menyakiti semua orang di sekeliling mereka. Apa pedulinya? Mereka hidup berdua, dan hanya perlu bahagia berdua.

 

***

 

Hye-Na mengerjap, merasakan sesuatu menetes jatuh dari rambutnya, turun ke kening dan membasahi hidung, lalu lenyap di sudut bibir. Dia mendengar lagu yang terlantun di telinga kirinya, merasakan rangkulan yang mendekapnya erat, gerakan dada yang naik turun tepat di depan wajahnya, aroma familiar yang memenuhi indera penciumannya, juga tarikan napas di puncak kepalanya.

Suasana masih temaram saat dia membuka mata, hanya ada seberkas sinar bulan yang menelusup masuk untuk memberikan cahaya samar dan saat dia bergerak, dia baru menyadari bahwa tangannya berada dalam sebuah genggaman hangat yang akrab, yang membuatnya bisa menebak apa yang sudah membangunkannya dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak.

Dia memundurkan tubuh, memosisikan badan agar dia bisa menatap wajah pria itu, yang tampak lelah dan pucat, dengan mata yang memerah dan sedikit berair.

Dia bisa menduga penyebabnya. Dia pun tahu bahwa pria itu sudah menduga apa yang dia rasakan karena sekarang sebelah ­headset-nya berada di telinga pria itu.

Mereka selalu, selalu saja, memahami isi pikiran masing-masing tanpa perlu bersuara. Karena selalu ada rasa malu yang tersisa untuk bisa bersikap jujur, jadi mereka mempelajari bahasa isyarat yang hanya mereka yang tahu setiap maknanya. Dia tidak perlu mengungkapkan betapa cemburunya dia, seperti pria itu tidak perlu mengungkapkan alasan kenapa dia dikaitkan dengan begitu banyak wanita.

Dia mengangkat tangannya, menyekakan ibu jarinya ke sudut mata pria tersebut, mengernyitkan alis karena tidak suka dengan apa yang dia lihat.

Pria itu meringis, menempelkan kening mereka, meraup tangan gadis itu lagi ke dalam genggamannya dan menjauhkannya dari wajahnya yang basah, sedangkan Hye-Na tersenyum tipis melihat kilauan cincin di jari manis tangan kiri pria itu. Akhir-akhir ini Kyuhyun memang selalu mengenakan cincinnya sebelum masuk rumah dan melepaskannya lagi saat meninggalkan rumah utnuk pergi bekerja. Sesuatu yang nyaris tidak pernah lupa dia lakukan.

Mereka diam, hanya bergerak untuk menarik napas—tidak peduli jika yang mereka hirup adalah karbon dioksida dari saluran pernapasan masing-masing—sambil mendengarkan lirik dari satu lagu yang tidak henti-hentinya diputar dari tadi.

 

 

 

Michige mandeureo… niga…

Nal ulge mandeureo… niga…

Gakkai sone japhildeutae jabeumyeon

Meoreojineun baramcheoreom

(Membuatku gila… kau…

Membuatku menangis… kau…

Kau dekat… seolah aku bisa saja menjangkaumu dengan mudah

Tapi saat aku mencoba melakukannya, kau menjauh dengan cepat seperti angin)

 

 

 

“Kau seperti itu, kau tahu?” bisik Hye-Na pelan. “Begitu dekat, terjangkau. Lalu tiba-tiba kau menjauh. Tapi saat aku merasa ingin menyerah, kau malah kembali. Berada di dekatku lagi. Dan ketika aku merasa aman, berpikir kau tidak akan ke mana-mana, saat itu juga kau melepaskan diri. Lagi-lagi terlihat jauh. Di luar jangkauan. Jadi karena aku yang memutuskan untuk tetap tinggal, aku memilih untuk menikmatinya saja. Jika kau menggenggamku, aku akan memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya untuk merasa bahagia. Kemudian saat kau menjauh, aku tinggal menunggumu dengan sabar sampai kau kembali lagi padaku.” Dia tertawa kecil. “Tidak usah mengkhawatirkanku. Kelihatannya saja sulit, tapi sebenarnya tidak juga kalau sudah terbiasa.”

“Bukankah kalau kau sampai terbiasa, itu sudah berada dalam taraf berbahaya?”

“Aku memang sudah berada dalam batas akhir di mana aku tidak bisa melepaskanmu lagi. Berbahaya. Bagimu. Kau terperangkap.”

“Bagus,” ucap Kyuhyun, berbicara dengan bibir yang menempel di ujung hidung gadis itu. “Kau memang tidak boleh melepaskanku. Untuk alasan apapun. Janji?”

Hye-Na menarik-narik kaus pria itu, melamun.

“Aku benar-benar tidak suka dia,” ujarnya kemudian.

“Aku tahu. Kau tidak pernah berusaha menyembunyikannya,” sahut Kyuhyun, tersenyum. Hye-Na bahkan memperlihatkan kebenciannya dengan jelas saat bertemu langsung dengan Seohyun, tidak berniat menjaga imej atau semacamnya. Dia menyukai konfrontasi langsung. Istrinya itu memang tidak pernah mengecewakan.

“Dia pasti akan langsung pingsan kalau kau menciumnya,” dengus gadis itu dengan gigi menggertak.

“Mungkin dia akan terkena stroke dan mati. Aku bisa terbebas darinya setelah itu. Kau juga tidak perlu cemburu lagi.”

Hye-Na mendongak dan menatap Kyuhyun ngeri. “Dia pasti akan patah hati dan bunuh diri kalau tahu kau mengatakan sesuatu seperti itu tentangnya.”

“Diam sajalah. Aku kan sedang membuatmu senang.” Dia memeluk gadis itu erat, menumpangkan dagu gadis tersebut ke atas bahunya dengan tangan yang mengelus bagian belakang kepala gadis itu, membantunya melanjutkan tidur.

“Maaf,” bisiknya pelan. “Maaf.”

“Aku juga minta maaf. Keberadaanku membuat posisimu menjadi sulit.”

“Jangan mengatakan sesuatu yang bodoh yang membuatku ingin mencekikmu, Na~ya,” sergahnya geram. “Kalau hanya ada satu hal benar yang pernah kulakukan dalam hidup, itu berarti keputusanku saat menikah denganmu. Tidak usah mendebatku.”

“Kalau kau sedang merasa bersalah kau bersikap manis, ya,” komentar gadis itu dengan suara tawa yang teredam.

“Sesukamulah. Silakan tertawa, aku tidak melarang.”

“Kalau begitu jika sekarang aku meminta sesuatu kau akan mengabulkannya?” Suara gadis itu tiba-tiba saja terdengar penuh semangat.

“Haruskah kau merusak momen ini sekarang?” keluh pria itu. “Apa yang kau inginkan?”

“Kau dekat dengan Ara eonni tidak? Kalian berteman di twitter, kan? Tanyakan padanya, siapa yang menjadi suami Na-Jeong. Chilbong atau Trash oppa? Aku benar-benar mati penasaran. Yah, menurutku sih Trash oppa, tapi siapa tahu ada kejutan di bagian akhir, ja—”

Dia tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Kyuhyun sudah membekap mulutnya dan memeluknya erat, jelas ingin meremukkan tubuhnya.

“Jangan bilang kau menghabiskan malammu dengan Heechul hyung untuk menonton drama itu lagi!”

“Karena suamiku tidak pulang-pulang, memilih menghabiskan waktu bersama wanita lain ketimbang bersamaku, aku bi—”

“BAIK! BAIK!” teriak Kyuhyun gusar. “Kau hanya menghargai rasa bersalahku untuk informasi tidak penting seperti itu?”

“Hei, yang bilang mau mengabulkan siapa? Dan lepaskan aku, tolong, kau membuatku kehabisan oksigen!” gagapnya, gelagapan mencari udara.

Kyuhyun melepaskannya, tapi pria itu bergerak mundur, seketika menjauh. Merajuk.

Merasa tidak enak, Hye-Na akhirnya mencondongkan tubuh, memberikan kecupan singkat di bibir pria itu.

“Sudah lebih baik?”

Kyuhyun menghela napas, merasa murahan karena terlalu cepat menyerah hanya dengan sebuah ciuman, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sulit merasa kesal pada gadis itu terlalu lama, dia hanya menyiksa diri saja dengan melakukannya.

“Bagaimana harimu?” tanyanya, mengulurkan tangan dan gadis itu dengan refleks meringkuk lagi ke dalam dekapannya.

“Biasa saja. Menonton ulang drama dan aku rasa aku positif jatuh cinta pada Seo Ji-Sub, bagaimana menurutmu?”

“Na~ya,” desisnya.

“Aku lebih mencintaimu. Tenang saja.”

Dan dia seketika tersenyum. Benar-benar seperti pria gampangan.

“Jadi aku lebih tampan kalau begitu?” godanya, mengecup kening gadis itu dengan gerakan malas-malasan, lalu mengatupkan mata. Merasa ringan dan nyaman.

“Lebih muda iya. Tapi kalau tampan… hmm, bisa diperdebatkan,” racau gadis itu, setengah tertidur. “Malam, Kyu.”

“Mmm,” gumam pria itu, sudah separuh tenggelam dalam alam bawah sadar. “Malam.”

 

***