Music: Wheesung feat Lee Seung Woo – Should I Catch a Cold?

July 2, 2010

 

Kyuhyun baru memejamkan matanya selama 15 menit saat teriakan Eunhyuk membangunkannya, padahal dia sudah memasang mp3 dengan volume besar sebagai penyumbat telinga. Dia sudah benar-benar berusaha untuk terlelap dalam jangka waktu itu, tapi tidak terlalu berhasil karena dia menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang hanya membuat tubuhnya terguncang-guncang dan berakhir dengan kepalanya yang membentur kaca berkali-kali, lalu sekarang ditambah dengan keributan yang disebabkan oleh hyung-nya itu, membuat semua rencananya untuk mendapatkan waktu tidur hancur seketika.

“Woa, Hae~ya, coba lihat itu! Gadis itu! Lihat tidak? Yang pakai kardigan abu-abu!” seru Eunhyuk berapi-api sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya ke jendela mobil yang tertutup, menjulurkan tubuhnya melewati kursi tengah mobil untuk memberikan peragaan yang lebih jelas agar Donghae yang duduk di depannya mengerti apa yang dia maksudkan. Dan posisinya itu hanya membuat tubuh Kyuhyun semakin terdesak ke bagian sisi kanan mobil, karena dia duduk paling ujung, tepat di samping Eunhyuk. Dan pikiran untuk mencekik hyung-nya itu mengaliri tubuhnya seperti lahar gunung berapi. Tidak bisakah mereka memberikannya kesempatan untuk tidur sebentar saja?

“EO! Yeppeuda!” seru Donghae sebagai balasan, yang membuat member lainnya ikut-ikutan menatap ke luar jendela yang masih dibiarkan tertutup, merasa penasaran dengan apa yang membuat kedua namja itu tertarik setengah mati.

“Oh, hyung, lihat! Dia membawa album kita. Aku pikir dia akan datang ke acara fansigning,” sahut Ryeowook yang tiba-tiba menjadi ikut tertarik.

“Kyeopta. Lihat caranya memakan lollipop,” komentar Sungmin tidak mau kalah.

“Bagaimana kalau kita beri dia tumpangan?” saran Leeteuk, mendadak terlihat seperti ajjushi-ajjushi mata keranjang.

“Ah, hyung, aku yang melihatnya duluan!” sergah Eunhyuk tidak terima.

Kyuhyun membuka mata, sedikit menyipit saat sinar matahari langsung menusuk retinanya. Pria itu memfokuskan pandangan dan mencoba mencari-cari sosok yang diributkan semua hyung-hyungnya itu. Dia baru tersadar bahwa mereka terjebak kemacetan sehingga berhenti cukup lama di dekat sebuah halte. Cuaca sangat panas dan matahari terasa membakar, membuatnya merasa silau untuk sekedar melihat ke arah luar.

“Di seberang,” beritahu Eunhyuk sambil mengedikkan dagunya.

Pria itu bergerak sedikit dan memantapkan arah pandangannya, menatap datar nyaris tanpa ekspresi saat sosok gadis itu memenuhi sudut pandangnya. Yang dilihatnya hanya seorang gadis mungil, dengan rambut ikal yang dikepang longgar, dan gaya berpakaian yang nyaris tidak bisa digambarkan, berada di antara gaya tomboy dan sedikit feminin. Pipi gadis itu menggembung karena lollipop yang memenuhi mulutnya, dan sesekali dia membuat gerakan membuka dan menutup mulutnya, seolah sangat menikmati rasa permen yang dia makan. Raut wajahnya sedikit tampak bosan dan kesal, mungkin disebabkan kemacetan yang membuatnya tidak bisa menyeberang. Sebelah tangannya mengepit album baru mereka, memberi tanda bahwa sepertinya gadis itu memang akan datang ke acara tanda tangan.

Tapi yang benar-benar diperhatikannya adalah kulit gadis itu yang tampak putih dan berkilauan karena sinar matahari yang tepat menyorot ke arahnya. Dan dengan posisi duduk Kyuhyun saat ini, gadis itu tampak benar-benar menyilaukan sehingga dia harus mengatupkan mata agar retinanya tidak terasa sakit.

Dia tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Bahkan tidak benar-benar memperhatikan apakah gadis itu cantik atau tidak. Mungkin itu salah satu akibat hangover ringan yang dialaminya karena telah dibangunkan tiba-tiba. Mungkin juga karena dia meminum wine semalam. Bahkan dia benar-benar berpikir bahwa gadis itu bercahaya. Sepertinya kesadarannya belum sepenuhnya kembali.

“Bagaimana? Cantik, kan?” tanya Eunhyuk dengan nada menggebu-gebu.

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya kembali ke punggung kursi. Matanya mengikuti gerakan gadis itu saat dia mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan sebutir lollipop lagi, sedikit tersenyum saat mengecap rasanya. Pria itu bertanya-tanya di dalam hati rasa apa yang sedang dicecap gadis tersebut sampai dia bisa tersenyum seperti itu? Bagaimana bisa hal sederhana seperti itu bisa membuat seorang gadis terlihat bahagia?

“Apa lollipop memang seenak itu?” tanyanya, tanpa sadar menyuarakan pikirannya sendiri. “Aku jadi ingin memakannya.”

“Yak Cho Kyuhyun, aku bertanya tentang wajahnya, bukan apa yang dia makan! Aish, kau ini benar-benar!” keluh Eunhyuk. “Tapi… apanya yang mau kau makan? Lolipopnya… atau gadis itu?”

***

“Gadis itu pasti fansku!”

“Tidak! Dia fansku!”

“Apa lagi yang kalian berdua ributkan?” tanya Kyuhyun, mendelik penasaran ke arah dua makhluk yang dari tadi tidak henti-hentinya berusaha membuatnya tuli seketika. Apa dua namja itu masih meributkan gadis yang mereka lihat tadi? Benar-benar tidak ada kerjaan.

“Gadis tadi!” seru Eunhyuk, membenarkan firasat Kyuhyun. “Aku rasa dia fansku.”

Kyuhyun mendengus. “Kau yakin dia mau datang ke acara ini?”

“Tentu saja. Dia kan membawa album kita.”

“Dan kau yakin dia itu fansmu? Percaya dirimu tinggi sekali,” ejek Kyuhyun terang-terangan. “Aku rasa selera gadis itu cukup tinggi.”

“Jadi apa? Kau mau bilang kalau dia itu fansmu?” sergah Eunhyuk tidak terima.

“Aku tidak bilang begitu,” sahut Kyuhyun tidak acuh. “Aku hanya bilang selera gadis itu sepertinya cukup tinggi.”

“Itu sama saja, bodoh!”

Kyuhyun menyeringai dan mengalihkan pandangannya, mendengarkan Leeteuk yang menjadi MC, terlihat santai dan lancar seperti biasanya. Pria itu memainkan spidol yang terletak di atas meja dengan jari-jarinya, masih separuh berpikir bahwa dia ingin tidur saja di dorm. Tapi separuhnya lagi malah mengejek diri sendiri karena bukannya memikirkan fans, dia malah memikirkan kesenangan pribadi. Idola macam apa dia?

Dia hanya setengah mendengarkan dan baru mendongakkan kepala saat barisan fans sudah terbentuk di depannya. Pria itu memasang senyum di wajahnya dan menyapa fans pertama yang menyodorkan kertas ke arahnya. Dia mencoretkan tanda tangannya di atas foto wajahnya dan mengucapkan sedikit basa-basi, tidak menolak saat beberapa orang meminta pelukan, karena dia melakukannya nyaris karena itu sudah menjadi rutinitas setiap kali acara ini diadakan.

Dia menandatangani puluhan foto lagi, sebelum akhirnya matanya hampir meloncat keluar saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.

Gadis itu… gadis di tepi jalan tadi…. Gadis itu sekarang berdiri di depannya, menatapnya salah tingkah, membuatnya benar-benar syok saat mengetahui bahwa gadis itu benar-benar datang ke acara ini dan berada di barisan fansnya. Bukan fans member lain, tapi dia.

Detik itu dia menyadari apa yang tadi tidak dilihatnya dengan matanya yang masih setengah mengantuk. Sekarang penglihatannya tidak lagi dihalangi sinar matahari sehingga dia bisa melihat setiap lekuk wajah gadis itu dengan jelas. Gadis itu tampak begitu grogi sehingga tanpa sadar melarikan tangannya ke rambut, membuat poni yang awalnya menutupi dahinya terangkat ke atas, memberinya pandangan langsung ke kening gadis itu. Dia selalu menyukai gadis yang memiliki kening yang menurutnya indah, dan dia mendapati dirinya terpana selagi menyusuri gadis itu dengan tatapan intensnya. Mata gadis itu berwarna cokelat, mata yang dipikirnya sangat menyenangkan untuk ditatap. Proporsi hidung gadis itu tepat dan bibirnya mungil, bibir yang saat ini digigiti gadis itu dengan giginya yang rapi.

Secara keseluruhan, dia hampir-hampir tidak bisa mengalihkan tatapan dan bersikap dengan pantas. Jadi selagi dia masih bisa dan masih memiliki kesadaran untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri, dia memalingkan wajah dan menoleh ke arah Donghae yang duduk di sampingnya. Hyung-nya itu juga menatap gadis itu dengan syok, juga Eunhyuk yang duduk di sisinya, menandakan bahwa mereka juga mengenali gadis itu. Secara memalukan, dia tidak bisa mengabaikan perasaan bangganya bahwa gadis yang diperebutkan hyung-hyungnya itu sedari tadi ternyata adalah penggemarnya. Penggemar pertama yang diperhatikannya dengan teliti dan menyebabkannya kehilangan kemampuan bicara secara mendadak.

“Annyeonghaseyo,” ucap gadis itu kaku, membuatnya tersenyum dalam hati saat mengetahui bahwa dia memberikan efek yang sama terhadap gadis tersebut.

“H… hai,” sahutnya, tidak bisa menyembunyikan kegugupan konyol yang tiba-tiba saja diidapnya. Dia menggelengkan kepalanya sekilas, berupaya mendapatkan fokusnya kembali, kemudian mengulurkan tangan, memberi tanda agar gadis itu menyerahkan album yang sedang dipegangnya untuk ditandatangani.

“Namamu?”

Sepertinya gadis itu menyadari pertanyaannya yang cukup aneh tersebut karena ada kernyitan bingung di dahinya. Mereka memang tidak pernah menanyakan nama penggemar, hanya sekedar memberi tanda tangan dan basa-basi tidak penting. Hal tersebut dilakukan agar lebih menghemat waktu, karena memberi tanda tangan saja sudah membuat mereka lelah, apalagi jika harus diikuti dengan menuliskan nama masing-masing penggemar yang banyaknya ratusan itu.

“Han Hye-Na,” jawab gadis itu akhirnya.

Kyuhyun mengangguk dan mulai mencoretkan tanda tangannya setelah menuliskan nama gadis itu. Dia sedang memikirkan kalimat tambahan untuk dituliskannya di album itu, saat gadis itu berbicara lagi padanya.

“Chogi…” ucapnya, masih dengan nada gugup yang sama, hanya saja kali ini terdengar sedikit ragu, seolah gadis itu sendiri tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya.

“Ne?”

“Boleh aku memegang tanganmu?” tanyanya hati-hati. Tubuhnya tampak tegang setelah mengucapkan pertanyaan itu, membuat Kyuhyun terpaksa menahan tawanya agar tidak menyembur keluar.

Gadis di depannya itu aneh sekali. Acara tanda tangan hari ini memperbolehkan para fans yang datang untuk memeluk biasnya, tapi yang diminta gadis ini hanya sekedar sebuah jabat tangan. Apa itu tidak terlalu aneh? Gadis mana yang lebi memilih memegang tangan idolanya daripada memeluk idolanya secara langsung?

“Aku rasa kau bahkan diperbolehkan memelukku,” ujar Kyuhyun sambil mengedik ke arah ELF lain yang memang mendapatkan pelukan dari bias mereka masing-masing, kalau-kalau gadis itu belum menyadarinya.

Gadis itu menggeleng. “Aku hanya ingin menyentuh tanganmu saja.”

Kyuhyun terdiam dan hanya bisa terpana mendengar penolakan gadis itu. Apa gadis itu adalah jenis gadis baik-baik yang tidak membiarkan tubuhnya disentuh bahkan oleh idolanya sekalipun? Apa yang bisa didapatkan gadis itu dari sebuah jabat tangan?

“Kau menolak memelukku? Maksudku,” sela Kyuhyun cepat-cepat, “bukankah itu yang diinginkan setiap penggemar? Penggemar manapun pasti lebih memilih memeluk idolanya daripada hanya sekedar menyentuh tangannya saja, kan?”

Dan dia langsung menyesali ucapan yang keluar dari mulutnya itu sedetik setelah dia mengatakannya. Kenapa kedengarannya malah seolah dia yang sangat mengharapkan pelukan itu?

“Tapi pelukan adalah sesuatu yang sangat penting,” tandas gadis itu hati-hati. “Seharusnya kau tidak sembarangan memeluk seseorang. Hal itu sangat berharga, kau tahu? Memeluk seseorang berarti kau ingin membuat orang itu nyaman dan aman. Dan seharusnya kau hanya melakukannya pada gadis yang kau sukai saja.”

Kyuhyun terdiam sesaat sebelum menunjukkan senyum separonya. Pria itu mengambil album di atas meja lalu menyerahkannya pada Hye-Na.

“Aku juga berpikir seperti itu, Han Hye-Na ssi. Tapi kau pikir seorang idola memiliki pilihan seperti apa dalam hidupnya? Untuk jatuh cinta saja kami masih membutuhkan izin, apalagi kalau hanya sekedar pelukan. Itu merupakan kewajiban, kau tahu?” Kyuhyun menyodorkan tangannya dengan telapak yang menghadap ke atas. “Kau boleh memegang tanganku.”

Kyuhyun memperhatikan setiap ekspresi yang terlintas di wajah gadis itu. Bagaimana dia berusaha menghembuskan nafas secara diam-diam, raut tertekan di wajahnya, ataupun bibir yang terus menerus digigitnya tanpa sadar.

Gadis itu dengan ragu mengulurkan tangan dan menyentuh telapak tangannya dengan ujung jari, sebelum akhirnya dengan hati-hati membuka telapak tangannya yang separuh menutup dan benar-benar meletakkannya di atas tangan Kyuhyun. Di detik yang bersamaan dia menyadari apa yang disebut-sebut orang sebagai aliran listrik yang menghantam. Hanya getaran kecil dan tidak terlalu kentara, tapi dia merasakannya. Seperti yang terjadi jika kau menyentuh kawat listrik dengan tangan basah. Hanya saja bedanya, dia tidak perlu menghentakkan tangannya menjauh. Karena getaran yang satu ini terasa menyenangkan dan tidak mengganggu.

Dia menyadari bahwa tangan itu tampak kecil di atas tangannya yang sepertinya bisa melingkupi tangan gadis itu sepenuhnya. Secara keseluruhan tubuh gadis itu memang sangat mungil. Gadis itu pendek, bahkan mungkin tinggi badan gadis itu tidak mencapai bahunya, tapi gadis itu memiliki kaki yang sangat jenjang dan lekuk tubuh yang proporsional.

“Ternyata benar,” ucap gadis itu dengan ekspresi seolah dia mengucapkannya tanpa sadar.

“Apa?” tanya Kyuhyun penasaran, dengan mata yang mengarah kepada tangan mereka yang saling bersentuhan. Kening pria itu berkerut seakan-akan sedang berdebat tentang sesuatu yang membuatnya pada akhirnya menyerah dan membiarkan jari-jarinya terkatup, menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Dia melihat betapa pasnya jari-jari mereka yang saling bertautan dan betapa baru kali ini dia merasa begitu senang hanya dengan menggenggam tangan seseorang.

“Tanganmu,” ujar gadis itu dengan raut wajah yang menunjukkan seolah dia baru menerima beban seluruh dunia. “Ternyata memang sehangat itu.”

***

“Astaga, ternyata dillihat dari dekat dia puluhan kali lebih cantik! Kau lihat tidak? Kulitnya! Matanya juga bagus!” bisik Donghae dengan suara sangat rendah sehingga hanya Kyuhyun yang bisa mendengarnya, mengingat begitu banyaknya fans yang masih berkeliaran di dekat mereka. “Dan ternyata dia fansmu. Menyebalkan.”

Kyuhyun yang masih disorientasi atas kehadiran gadis itu hanya tersenyum datar sebagai balasan dan menyambut uluran foto berikutnya yang harus dia tanda-tangani.

“Oppa, fansmu yang tadi… cantik sekali, kan?”

Kyuhyun mendongak kaget saat mendengar ucapan gadis yang berdiri di depannya sekarang.

“Kau kenal?” tanyanya menanggapi.

“Tidak juga. Hanya saja dia idolaku.”

Pria itu lagi-lagi melongo mendengar kalimat kesekian yang berhasil membuatnya terkejut dalam satu hari.

“Dia itu seorang penulis fanfiction,” jelas gadis itu cepat-cepat karena melihat tatapan bingung yang diarahkan Kyuhyun padanya. “Aku sangat menyukai tulisannya. Tentangmu.”

“Aku sebenarnya fans Siwon oppa. Tapi karena aku mendapat berita bahwa Hye-Na onnie akan datang ke fansigning hari ini, aku memilih untuk berada di barisan fans-mu karena aku ingin memberitahumu tentang dia,” lanjutnya lagi.

“Wae?”

“Karena kebanyakan pembacanya… benar-benar merasa bahwa hubungan kalian itu nyata. Kadang-kadang kami bahkan tidak tahu lagi mana yang hanya sekedar fantasinya dan mana yang bukan. Banyak yang berharap kalian bisa bertemu dan mungkin menjalin hubungan, tapi Hye-Na onnie tidak pernah tertarik untuk datang ke konser ataupun ke fanmeeting, karena itu aku semangat sekali saat dia akhirnya memutuskan untuk datang ke fanmeeting kali ini.”

Gadis itu menyodorkan sehelai kertas ke atas meja dan Kyuhyun melihat beberapa baris kalimat di atasnya.

“Ini alamat blognya. Mungkin oppa punya waktu luang untuk membaca. Kalau oppa tertarik, aku juga memberi alamat kafenya disana. Semoga beruntung.”

 

***

July 5, 2010

Super Junior’s Dorm

 

 

Semoga beruntung gadis itu bilang?

Kyuhyun melempar bantal yang dipakainya untuk menyangga tubuh dan menggeliatkan badannya yang terasa kaku setelah menelungkup berjam-jam.

Apanya yang semoga beruntung, dengusnya dalam hati. Gara-gara keasyikan membaca, dia malah tidak sadar bahwa dia sudah menghabiskan waktu 4 jam penuh yang biasanya digunakannya untuk bermain game dan sekarang rasanya tubuhnya sudah remuk semua, belum lagi matanya yang terasa berat karena terlalu lama menatap layar laptop.

Dia melepaskan kacamatanya yang hanya digunakannya untuk membaca ke atas meja kecil di samping ranjang dan mendapati bahwa Sungmin sudah tidur sangat lelap tanpa suara. Dia bahkan tidak sadar bahwa hyung-nya itu sudah masuk kamar. Sepertinya dia tadi sempat berada di dunia lain.

Dunia fantasi gadis bernama Han Hye-Na itu.

Mungkin saja memang terdengar bodoh, tapi saat membaca setiap kalimat yang ditulis gadis tersebut, dia merasa bahwa dia memang memiliki hidup seperti itu, bahwa dia menjalani kisah cinta seperti yang ada di cerita khayalan gadis itu. Karena karakternya dituliskan dengan begitu nyata dan sama persis dengan aslinya, tidak sulit untuk mempercayai bahwa semua itu bukan hanya rekaan semata. Dia bahkan… memang merasa jatuh cinta pada karakter gadis di dalamnya. Oke, lupakan. Mungkin dia mulai melantur gara-gara kelelahan.

Tapi ayolah, ucap sisi lain dari hatinya, gadis itu dengan semua kepribadinnya benar-benar menarik, kan?

Nah, dia memang tidak bisa untuk tidak menyetujui yang satu itu.

Sialan. Yang dibutuhkannya saat ini hanya tidur dan terbangun dengan pikiran jernih.

***

Next day

10.00 AM

 

Kyuhyun menyuap nasinya dengan muka tertekuk, jelas bahwa dia masih mengantuk. Dan dengan pikiran yang masih seperti orang yang jatuh cinta mati-matian pada karakter fiktif ciptaan seorang gadis yang baru ditemuinya satu kali.

Fiktif? Orang bodoh juga tahu bahwa karakter utama gadis di semua cerita itu adalah karakter si pengarangnya sendiri.

Dia memang baru bertemu gadis itu satu kali, tapi dia seolah sudah mengenalnya selama ratusan hari. Apa yang gadis itu suka, apa yang tidak, cara dia bergerak, tersenyum, aroma tubunnya, bahkan reaksi yang ditimbulkan gadis itu kepada dirinya. Bertengkar, jika dilakukan dengan gadis itu, sepertinya terdengar menyenangkan.

“Apa sih yang kau pikirkan? Kerjamu melamun saja. Kau tidak lihat nasimu itu sudah tumpah kemana-mana?” dumel Ryeowook yang terlihat tidak rela masakannya dibuang-buang seperti itu walaupun tanpa disengaja.

Kyuhyun mengerjap dan menunduk, menyadari bahwa perkataan Ryeowook itu benar.

Dia menyeringai dan tanpa meminta maaf mulai melanjutkan makannya lagi. Hari ini dia tidak punya waktu luang untuk melanjutkan membaca dan dia masih berusaha mengingat-ingat jadwalnya beberapa hari ke depan untuk mencari waktu senggang yang bisa digunakannya untuk menuntaskan semua bacaan yang membuatnya mendadak ketergantungan itu secepatnya.

Lalu? Setelah itu apa?

Mungkin… mungkin saja dia bisa bertemu gadis itu dan memastikan peerasaannya.

Karena sepertinya jarak antara kenyataan dan khayalan itu berada di antara pembatas seutas benang tipis yang bisa putus sewaktu-waktu. Dan dia tidak mau berada di antara perasaan membingungkan seperti itu.

***

July 12, 2010

Super Junior’s Dorm

 

“Sepertinya akhir-akhir ini selera membacamu meningkat pesat,” komentar Sungmin saat melirik sekilas layar laptop Kyuhyun, penasaran karena bukannya bermain game seperti biasa, dongsaeng-nya itu malah menyibukkan diri untuk membaca. Itu merupakan suatu keajaiban, karena nyaris tidak ada yang bisa menjauhkan seorang Cho Kyuhyun dari PSP kesayangannya.

Fanfiction? Kau tertarik dengan yang seperti itu juga?”

“Hanya yang satu ini,” sahut Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari deretan tulisan-tulisan kecil di layar laptopnya.

“Wae? Tulisannya bagus?”

“Aku pernah bertemu gadis ini,” ucap Kyuhyun kemudian, akhirnya menggeser tubuhnya dan bersandar ke pinggir ranjang. “Kau ingat fanmeeting satu minggu yang lalu? Gadis di lampu merah. Lollipop.”

“Ah,” seru Sungmin setelah beberapa detik. “Gadis yang diperebutkan Eunhyuk dan Donghae itu? Apa dia penulisnya?”

Kyuhyun mengangguk. “Dia bahkan punya penggemar dan penggemarnya itulah yang memberitahuku lalu memberiku alamat blognya.”

“Oh, jadi itu yang membuatmu betah berlama-lama di depan laptop tanpa memainkan game? Sepertinya tulisannya bagus sekali sampai membuatmu ketagihan.”

“Dia datang ke fanmeeting….” Kyuhyun menggantung ucapannya dan malah mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja kecil yang dijadikannya tempat menaruh laptop.

“Lalu?” tanya Sungmin penasaran.

“Dia menolak memelukku dan memilih memegang tanganku. Dia bilang… tanganku hangat…. Dan seharusnya aku hanya boleh memeluk orang yang kusukai saja.”

“Dan kau sendiri?” tanya Sungmin lagi, kali ini ada senyum terkulum di wajahnya.

“Tidak usah menggodaku,” tukas Kyuhyun ketus, menyadari maksud dari pertanyaan terselubung hyung-nya itu.

“Ayolah. Ini aku. Kau mau bercerita kepada siapa lagi kalau begitu?”

Kyuhyun mendelik, setengah tidak mau mengakui kebenaran ucapan Sungmin.

“Entahlah. Secara fisik… aku suka saat….”

Kyuhyun tampak kebingungan mencari kata yang tepat sehingga Sungmin mengambil inisiatif untuk menyelesaikan kalimatnya. “Saat kulit kalian bersetuhan?”

Kyuhyun menghela nafas keras, sedikit merasa kesal karena hyung-nya itu terlalu mengerti dirinya dengan sangat baik.

“Tapi apa menurutmu tidak aneh? Aku mengenal karakternya dari tulisan-tulisan yang dia buat. Aku tidak mengenalnya secara langsung, tapi aku merasa bahwa… kalau kami bertemu lagi, mungkin saja aku bisa membaca pikirannya dengan mudah, tahu bagaimana dia bereaksi, menghapal maksud dari setiap gerakan yang dia buat…. Apa menurutmu itu tidak terdengar… gila?”

“Jatuh cinta bisa lewat berbagai cara,” ucap Sungmin bijak.

“Aku tidak jatuh cinta padanya!” seru Kyuhyun sengit.

“Benarkah? Bukankah biasanya kalau seorang pria merasa terlalu mengenal seorang wanita artinya mereka memang merasa tertarik sehingga merasa harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan wanita itu? Dan secara fisik pun kau tertarik, jadi apa lagi?”

“Memangnya jatuh cinta semudah itu?”

“Memangnya jatuh cinta sesulit itu?” tukas Sungmin, membalikkan pertanyaan Kyuhyun. “Temui saja dia. Lalu cari tahu sendiri. Apa sebegitu susahnya?”

Kyuhyun mengetatkan rahangnya sampai giginya bergemeletukan, lalu menatap layar laptopnya lagi, menimbang-nimbang.

“15 Juli,” ucapnya akhirnya dengan suara pelan.

“Ada apa dengan 15 Juli?” tanya Sungmin tidak mengerti.

“Ulang tahunnya.”

“Aaaaa. Kau mau datang? Kau harus menyiapkan hadiah kalau begitu. Dia sudah menuliskan cerita-cerita bagus tentangmu, kau harus berterima kasih padanya.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Aku sudah punya hadiah yang bagus.”

“Apa?”

Pria itu menyeringai, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Seringaian yang dimaksudkan untuk membuat wajahnya terlihat seperti setan yang sebentar lagi akan mengajak manusia melakukan dosa.

“Aku.”

***

July 15, 2010

10.00 PM

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan kafe yang alamatnya tertulis lengkap di kertas yang diterimanya seminggu yang lalu. Pria itu tidak turun dari mobil, hanya melihat lewat kaca depan, masih ragu dengan keputusan yang sudah diambilnya. Apa yang dilakukannya sekarang bisa dikategorikan sebagai perbuatan gila? Tidak waras? Tidak masuk akal?

Dia memajukan tubuhnya, menyandarkan dagu ke atas kemudi saat melihat pintu kafe terbuka dan gadis yang menjajah otaknya beberapa hari terakhir keluar. Hari ini rambut gadis itu dikuncir dan dia hanya mengenakan kemeja putih longgar dan celana jins, sambil membawa sapu yang kemudian digunakannya untuk membersihkan teras kafe. Gadis itu tampak melamun dan tidak fokus selama melakukan pekerjaannya, membuat Kyuhyun penasaran setengah mati apa yang sedang dipikirkan gadis itu sekarang.

Dia selalu suka bagaimana Hye-Na mendeksripsikan cara dia menatap gadis itu di setiap tulisannya. Intens, penuh konsentrasi, dan jelas hanya terfokus pada gadis itu saja. Dan itulah yang dilakukannya sekarang. Menatap gadis itu seolah dia tidak pernah mengenal kata bosan.

Ada sesuatu dari cara gadis itu bergerak, cara gadis itu menggembungkan pipi dan meniup poninya yang terjatuh menjuntai menghalangi pandangan. Bagaimana gadis itu selalu menunduk setiap kali melangkah, seolah dia merasa bahwa setiap orang mengarahkan tatapan padanya, dan dia tidak menyukai hal tersebut. Hal yang disadarinya setelah gadis itu berlalu dari hadapannya siang itu setelah dia memberikan tanda tangannya. Detik yang membuatnya berpikir bodoh bahwa seharusnya dia tidak memberikan tanda tangannya secepat itu, bahwa dia bisa menunda-nunda dan menahan gadis itu di hadapannya sedikit lebih lama lagi. Itu bahkan sebelum dia membaca tulisan gadis itu. Bahwa gadis itu bisa mendapatkan lebih dari sekedar tanda tangan ataupun genggaman tangan. Bahwa dia bersedia memberikan waktunya… ataupun pikirannya, apa saja yang bisa membuatnya melihat gadis itu lebih lama. Ha-hal klise yang seharusnya tidak melintas di pikirannya di situasi seperti sekarang.

Jika dia menghampiri gadis itu, berkenalan secara resmi, mengenal gadis itu lebih jauh, dia jelas tahu bahwa dia tidak akan bisa memberikan sesuatu seperti pertemanan. Bahwa dia tidak menginginkan sesuatu yang seperti itu.

Karena dia tahu apa yang diinginkannya dari gadis itu, maka segala hal menjadi jauh lebih sulit. Jika dia melakukan apa yang dia inginkan, situasi tidak hanya akan sulit baginya, tapi juga bagi gadis itu. Bahkan mungkin akan jauh lebih sulit. Mengingat dia seorang idola, itu berarti dia harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam kehidupan pribadinya. Termasuk gadis yang disukainya. Belum lagi kemungkinan ketahuan dan gadisnya akan dihajar habis-habisan oleh para netizen dan penggemar. Tidak peduli sepantas apapun gadis itu disampingnya, pasti akan tetap ada pro dan kontra dan dia tidak suka jika gadisnya harus berada di tengah-tengah konfrontasi seperti itu.

Bukannya dia tidak berani mengambil resiko, tapi gadis yang satu ini, ada sesuatu yang membuatnya ingin menjaga gadis ini baik-baik, memastikan bahwa tidak ada goresan sedikitpun pada tubuhnya. Hanya saja di sisi lain, juga ada bagian dari dirinya yang ingin memiliki gadis itu tanpa bisa ditahan. Bagian yang sama besar dengan bagian lainnya yang ingin melindungi gadis itu mati-matian.

Jadi… dia hanya harus bergerak dan lihat saja nanti bagaimana hasilnya. Jika gadis itu terluka, sedikit saja, maka dia akan melepaskannya. Sesederhana itu.

Tapi bahkan orang bodoh pun tahu bahwa hasilnya tidak akan sesederhana itu. Salah satu dari mereka akan babak belur. Bahkan mungkin dua-duanya. Yang perlu dilihat hanyalah, siapa yang akan menderita lebih parah nantinya. Dan siapa yang berhasil bertahan.

***

Kyuhyun menggenggam cangkir kopi hangat di depannya, masih sedikit terkejut mendapati bahwa gadis yang duduk di hadapannya sekarang bisa mengenalinya dengan sangat mudah. Padahal dia sudah dengan sengaja memakai masker, topi, kacamata hitam, dan hoodie, yang hanya menyisakan telinganya saja sebagai satu-satunya bagian yang terlihat dari wajahnya. Dia bahkan dengan sengaja memakai baju yang belum pernah dia pakai sebelumnya, dan berpikir bahwa dia mendapatkan satu keuntungan lain bahwa sebagai seorang idola, tidak akan ada seorang pun yang mengira dia akan berkeliaran di tempat umum, tapi gadis itu tetap saja mengenalinya seolah dia dengan sengaja memamerkan wajahnya tanpa samaran apapun, setidak masuk akal apapun hal tersebut.

Dia menyadari bahwa gadis itu nyaris tidak bergerak sedikitpun dari tadi, dan tangannya terkepal kaku di atas pangkuannya. Gadis itu bahkan merasa tidak perlu menatap wajahnya sama sekali. Dia hampir-hampir merasa bahwa gadis itu terkena stroke di tempat dan dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk memperbaiki itu semua.

“Sepertinya kau punya cukup banyak penggemar,” komentar Kyuhyun akhirnya, berusaha memecah kekakuan di antara mereka.

“Mwo?” tanya gadis itu kebingungan.

“Kau pikir bagaimana caranya aku bisa disini sekarang kalau bukan karena salah satu dari mereka merecokiku tentangmu? Ah, ani. Aku tidak akan menjelaskannya dan memulai dongeng tentang alasanku datang kesini.”

Aish, apa yang sudah dia katakan? Sepertinya mulutnya berbicara di luar kemauannya lagi dan malah mengucapkan sesuatu yang aneh dan konyol.

“Aku juga tidak mau tahu,” tandas Hye-Na.

Kyuhyun menyeringai dan dengan santai bersandar di punggung kursi sambil melipat tangannya di depan dada, merasa puas mendengar jawaban gadis itu.

“Ternyata kau memang seperti yang ada di FF-mu. Baguslah.”

Kali ini gadis itu melongo parah mendengar ucapannya.

“Kau… membaca FF-ku? Semuanya?” tanyanya syok.

“Aku sebenarnya hanya berniat membaca satu saja,” kilah Kyuhyun. “Tapi aku malah tidak bisa berhenti. Kau,” ujarnya dengan tubuh yang condong ke depan. “Sejauh apa kau mengenalku?”

“A… pa?”

“Satu-satunya yang ada di otakku setelah membaca semua tulisanmu adalah… sejauh apa kau mengenalku? Bagaimana kau tahu banyak hal yang seharusnya tidak diketahui orang lain tentang sifatku? Tentang… bagaimana caraku memperlakukan seseorang yang aku sukai. Dan juga… dengan samaran seperti ini aku bahkan sudah berkali-kali lolos melewati ELF tanpa dikenali, tapi kau malah mengenaliku begitu saja seolah aku tidak memakai samaran apapun. Kau…,” ucap Kyuhyun sambil menarik nafas karena berbicara tanpa jeda, tanpa sadar mengeluarkan semua pertanyaan yang terlintas di benaknya. “Seperti sudah mengenalku seumur hidupmu. Kau bahkan bukan stalkerku, kan?”

“A… aku….”

“Sudahlah, tidak usah dijawab. Aku tidak keberatan.”

“Aku pikir kau datang kesini karena ingin memarahiku… atau sesuatu seperti itu… karena sudah menulis yang tidak-tidak tentangmu,” jawab Hye-Na akhirnya.

“Oh, ya?” gumam Kyuhyun dengan nada tidak peduli. “Aku kesini dengan alasan lain.”

“Ne?”

“Setelah membaca semua tulisanmu,” ucapnya ragu. “Kau sekarang menjadi wanita yang paling aku pahami… selain nuna-ku.” Pria itu tersenyum tipis dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke bibir cangkir. “Aku tahu semua hal detail tentangmu. Sifatmu… semuanya. Dan juga… aku ingin mencari tahu apa memang ada hidup sebahagia itu? Kisah cinta seperti itu? Kau menuliskannya seolah… aku memang seperti itu… hidupku akan berjalan seperti itu.”

“Maksud….”

“Hari ini ulang tahunmu, kan?”

Hye-Na mengangguk, menunjukkan ekspresi seolah dia sedang mengalami disorientasi dan semacamnya.

“Bagus. Aku kesini karena ingin memberimu hadiah. Dan untuk yang satu ini, aku tidak mengizinkanmu menolaknya.”

“Mwo? Bukan sesuatu yang aneh, kan? Maksudku… mungkin saja kau….”

“Pacaran,” potong pria itu. “Denganku.”

***

“Bisakah kau pulang saja? Sekarang?” ujar Hye-Na, terdengar memohon dengan wajah memelas, tapi tetap saja membuat Kyuhyun membulatkan matanya tidak percaya. Dia tidak memikirkan kemungkinan yang satu ini. Gadis itu menolaknya?

“Mwo? Kau mengusirku? Yak!”

“Kalau kau lebih lama lagi disini aku bisa pingsan tiba-tiba, jadi… daripada mempermalukan diriku sendiri di depanmu, lebih baik kau pulang saja.”

Gadis itu mengucapkan kalimat tersebut dalam satu tarikan nafas, nyaris seperti depresi, dan Kyuhyun akhirnya menyadari apa maksud gadis itu sebenarnya.

Dia tidak menyangka gadis itu memiliki sisi lain seperti yang ditunjukkannya sekarang. Hye-Na yang dikenalnya pasti akan mempertahankan gengsinya apapun yang terjadi, tapi pernyataan yang baru saja dikeluarkan terdengar sedikit tidak tahu malu, seakan gadis itu tidak memikirkan imej-nya. Atau bukan? Mungkin saja gadis itu bisa benar-benar pingsan dan imejnya menjadi lebih tidak terselamatkan lagi.

Kyuhyun tertawa kecil tanpa bisa ditahan lalu mengangkat bahunya santai.

“Baik,” ucapnya seraya bangkit berdiri. “Dan,” lanjutnya, mengulurkan tangannya lalu meletakkannya di atas rambut Hye-Na, mengetuk-ngetuk kepala gadis itu dalam gerakan teratur. “Selamat ulang tahun… Na~ya.”

***

July 20, 2010

10.00 PM

 

Kyuhyun menatap Hye-Na yang melangkah menuruni tangga kafe dengan setengah berlari. Gadis itu baru saja menutup kafe dan dia memilih menunggu di dekat pagar sambil memandangi gadis itu dengan tangan yang terbenam di dalam saku celana.

Hye-Na memperlambat langkah saat sudah berada di dekatnya, dan Kyuhyun, dengan senyum miringnya yang biasa, untuk pertama kalinya mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, menawarkan genggaman tangan mereka yang pertama.

Hye-Na tampak terpana sesaat, tapi menyambut uluran tangan pria itu, berusaha tampak santai, yang akhirnya sia-sia karena dia tidak bisa memerintahkan wajahnya untuk tidak memerah, sehingga Kyuhyun tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Sesenang itukah bisa bergenggaman tangan denganku?” tanyanya iseng.

“Diam kau,” dengus gadis itu dengan wajah yang berpaling ke arah lain.

“Rumahmu dekat kan dari sini? Kita jalan kaki saja. Nanti aku akan menelepon manajer untuk menjemputku,” ucap Kyuhyun kemudian, mengubah topik.

“Ingin lebih lama bersamaku?” goda Hye-Na, menemukan bahan untuk balas mengejek pria itu.

“Beranggapan saja sesukamu kalau kau merasa senang,” ujar Kyuhyun dengan nada tak peduli, membuat Hye-Na mengerucutkan bibirnya kesal.

“Bagaimana harimu?”

Itu pertanyaan wajib yang selalu diutarakannya pada gadis itu setiap kali mereka bertemu setelah jadwal kerja mereka berakhir. Di sisi lain, dia ingin sekali tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut pada Hye-Na. Terutama jika dia terpaksa harus bertanya apa yang dilakukan gadis itu pada akhir minggu. Karena seharusnya itu bukan pertanyaan wajar untuk pasangan normal. Pasangan normal pasti akan menghabiskan harinya bersama, terutama di hari libur, jadi mereka tidak perlu menanyakan apa saja yang dilakukan pasangannya sepanjang hari. Dan itu tidak akan pernah terjadi pada mereka berdua, karena jelas bahwa jadwal Kyuhyun akan semakin padat pada akhir minggu.

“Kafe sibuk sepanjang hari. Kau?”

“Konser. Seperti biasa,” jawab Kyuhyun singkat, tiba-tiba merasa bosan dengan rutinitasnya. Karena setiap hari sepertinya jawaban yang diberikannya pada gadis itu hanya itu-itu saja.

Mereka mulai melewati jalanan yang ramai dilewati pejalan kaki, sehingga Hye-Na dengan refleks mengulurkan tangannya untuk menarik topi Kyuhyun turun. Dia memang tidak memakai masker hari ini, tapi menurutnya gadis itu harus berhenti merasa panik jika dia terekspos seperti ini.

“Santai saja. Tidak akan ada yang sadar,” ujarnya sambil memindahkan tangannya untuk dirangkulkan ke sekeliling bahu Hye-Na, menarik gadis itu mendekat.

Gadis itu menyentuh tangannya yang terjuntai sekilas dan tersenyum tipis.

“Kalau ketahuan kau bisa habis.”

“Jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dirimu sendiri. Mungkin akan ada beberapa percobaan pembunuhan terhadapmu. Fansku sedikit ekstrim, kau tahu?”

Alih-alih merasa ketakutan, Hye-Na malah terkekeh geli dan mencibir.

“Pasti aku cukup penting sehingga menjadi sasaran pembunuhan. Biasanya aku hanya melihatnya di TV saja. Sekarang aku malah jadi pemeran utamanya.”

“Yah, bermimpi saja seperti yang kau inginkan,” ejek Kyuhyun, dengan santai meletakkan dagunya di kepala gadis itu. Tubuh mungil Hye-Na membuat hal tersebut mungkin untuk dilakukan.

Ini pertama kalinya mereka berada sedekat ini dan melakukan skinship sebanyak ini. Dan ternyata rasanya menyenangkan. Memiliki gadis itu dalam pelukannya. Menghirup aromanya dan merasakan suhu tubuhnya. Apa setiap pria yang memeluk gadisnya memikirkan hal itu? Karena kadang-kadang dia menyadari bahwa caranya bereaksi terhadap gadis ini bisa dikatakan berlebihan.

Mereka hanya diam sepanjang sisa perjalanan. Bukan hal aneh, karena memang mereka menjalani hubungan yang seperti itu. Bahkan mereka belum pernah benar-benar berbicara serius tentang diri mereka masing-masing. Hal yang memang tidak diperlukan, menurut pendapatnya. Karena mereka sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik tanpa perlu mengatakan apa-apa.

“Kau mau mampir?” tawar Hye-Na setelah mereka sampai di depan pintu masuk rumah gadis itu.

Gadis itu selalu menawarkan hal yang sama, mungkin hanya sekedar basa-basi, dan dia selalu menolaknya sejauh ini. Tapi kali ini dia menimbang-nimbang tentang sesuatu karena dia tidak tahu akan bagaimana reaksi gadis itu jika dia mengatakannya. Marah? Memelototinya? Atau mengusirnya pulang mungkin?

“Kyu?”

Kyuhyun memfokuskan pandangannya lagi dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“Aku ingin memandangimu tidur,” ucapnya akhirnya. “Boleh?”

***

Kyuhyun membiarkan tangan kanannya tetap dalam gerakan beraturan, mengusap bagian belakang kepala Hye-Na dengan mata yang terpaku di wajah gadis itu, menelusuri setiap lekuknya sesuka hatinya. Gadis itu berada dalam pelukannya, tapi dia masih memberikan jarak agar dia bisa memandangi wajah gadis itu seperti yang dia inginkan.

Dia selalu ingin tahu bagaimana rasanya melakukan hal ini secara langsung, karena dia hanya mendapatkan deskripsinya dari apa yang dituliskan gadis itu. Deskripsi yang menurutnya sangat detail, tapi masih belum bisa menggambarkan dengan tepat apa yang dirasakannya sekarang. Tapi rasanya memang seperti itu. Memang seolah dia tidak bisa mengalihkan pandangan, tidak sedikitpun merasa jenuh memandangi wajah yang sama selama berpuluh-puluh menit. Dan dia bahkan tidak merasa mengantuk, padahal seharusnya dia merasa kelelahan setelah bekerja seharian.

Pria itu menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di puncak kepala Hye-Na. Bau yang tepat. Fressia. Dan dia masih bisa membaui aroma lili yang samar dari tubuh gadis itu.

Kyuhyun merasakan getaran ponsel di saku celananya dan tahu bahwa waktunya sudah habis. Jadi dia menurunkan wajahnya sedikit, menyingkirkan poni yang menutupi kening gadis itu dengan tangan kanannya dan menaruh bibirnya disana selama beberapa saat. Suhu tubuh gadis itu terasa hangat dan menyenangkan, sehingga butuh konsentrasi penuh agar dia bisa menjauhkan wajahnya dan melepaskan tubuh gadis itu dengan hati-hati agar tidak terbangun.

Dia turun dari ranjang perlahan, keluar dari kamar, mengambil tasnya dan menutup pintu rumah yang langsung terkunci secara otomatis. Dia bahkan hampir-hampir tidak bia menyembunyikan senyumnya saat akhirnya sampai diluar dan masuk ke mobil manajernya yang sudah menunggu di luar pagar.

“Wae? Wajahmu kelihatannya senang sekali. Apa yang sudah kalian lakukan tadi, hah?” goda manajernya sambil tersenyum penuh arti. “Tidur bersama?”

Kyuhyun tertawa kecil. “Dia yang tidur. Dan kami tidak melakukan apa-apa, hyung. Aku tidak akan menyentuhnya dengan cara yang tidak pantas.”

“Lalu? Kenapa kau sesenang itu?”

“Kau sudah pernah memandangi wajah gadismu saat dia sedang tertidur?”

“Tidak. Aku juga sudah pasti mengantuk dan ikut tertidur. Wae? Apa itu yang kau lakukan tadi?”

“Mmm hmm.”

“Hanya itu dan kau sudah sesenang ini? Apa kau tidak bosan?”

“Tidak. Kau harus mencobanya sendiri. Dia tertidur dan kau bisa menatap wajahnya sepuasmu. Seperti… merasakannnya menarik nafas di dadamu?” ucap Kyuhyun ragu. “Sesuatu seperti itu.”

“Kau sudah gila, ya?”

“Kalau aku sudah gila, pasti aku sudah memberitahumu bahwa dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat.”

***

July 25, 2010

 

“TIDAK COCOK KAU BILANG?” teriak Kyuhyun murka saat dia menanyai pendapat gadis itu tentang penampilan mereka di konser tadi dengan lagu ‘No Other’, yang dengan seenaknya dijawab gadis itu dengan dua kata menyebalkan, tidak cocok.

“Tentu saja,” sahut Hye-Na kalem. “Kau pikir kau cocok berakting sok manis begitu? Terima saja kodratmu sebagai setan! Tidak usah mencoba-coba menjadi malaikat.”

“MWORAGO? Aish, yak, kau ini pacarku atau bukan, hah?”

“Nah, karena posisi itu makanya aku mengatakan yang sebenarnya. Kau. Lebih. Baik. Tetap. Jadi. Setan. Saja,” tandas Hye-Na sambil melangkah masuk ke dalam kafenya yang sudah tutup. Gadis meninggalkan laptopnya disana tadi siang, dan lupa memberitahu rekan kerjanya untuk membawanya pulang.

“Kau mau mati di tanganku, hah?” sergah Kyuhyun sambil memegangi lengan Hye-Na, membuat gadis itu meringis kesakitan tanpa sebab, karena Kyuhyun merasa hanya memeganginya dengan longgar dan tidak akan membuat gadis tersebut mengeluarkan reaksi seperti itu.

Kyuhyun dengan refleks melepaskan cekalannya dan menyipitkan mata menatap gadis di depannya itu.

“Kenapa tanganmu?” tanya pria itu tajam, tidak mau menghabiskan waktu untuk menunggu jawaban dari Hye-Na karena dia langsung menarik lengan kemeja gadis itu ke atas dan menghembuskan nafas kasar saat luka memar yang sudah membiru itu berada dalam penglihatannya.

“Bisa jelaskan padaku? Aku rasa kemarin tanganmu masih baik-baik saja,” ujar pria itu dengan bibir terkatup rapat. Luka pertama… dan dia harap itu tidak ada hubungannya dengannya. Dia berharap itu luka karena kecerobohan gadis itu jadi… dia tidak perlu mengaitkannya dengan janjinya waktu itu kepada dirinya sendiri saat memutuskan untuk mengejar gadis itu dan menjadikan gadis tersebut miliknya.

“Hanya kecelakaan kecil saat konser tadi. Kau kan tahu ada banyak fans, dan mereka berdesak-desakan. Aku tidak sengaja terdorong dan terhantam pintu. Paling besok juga sudah sembuh. Tidak usah dibahas.”

Sial, umpat pria itu dalam hati. Sial.

“Masalahnya Na~ya,” ucap Kyuhyun geram. “Kau harus tetap utuh selama bersamaku. Apa kau belum cukup mengenalku sampai tidak tahu reaksiku tentang hal ini? Sengaja atau tidak, mereka membuatmu terluka. Jadi mulai sekarang, kau tidak usah datang ke konser kami lagi. Apapun alasannya.”

Peringatan pertama. Larangan untuk datang ke konser mereka, usaha awalnya untuk menjauhkan gadis itu dari bahaya.

Karena jika gadis itu terluka sekali lagi saja… dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memenuhi janjinya. Dia tidak bisa memikirkan apa yang terjadi dengannya saat dia nantinya dengan sengaja terpaksa harus melepaskan gadis itu dengan kesadaran penuh. Sesuatu yang kedengaran seperti… bunuh diri karena sudah bosan hidup.

***

 

Augustus 7, 2010

 

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Kyuhyun sambil duduk di samping Hye-Na dan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. Pria itu melongok ke layar ponsel Hye-Na dan menyeringai saat melihat apa yang membuat gadis itu tersenyum.

“Ckckck, mereka sesenang itu?” ucapnya geli, dengan iseng mengetuk-ngetukkan jari-jarinya lagi ke puncak kepala Hye-Na.

Tadi pagi dia memang dengan sengaja mengenalkan dirinya pada para pembaca gadis itu. Setidaknya itu bisa membuat mereka senang dan mimpi mereka menjadi kenyataan. Gadis ini juga perlu sedikit pamer tentang memilikinya sebagai pacar.

“Mana kopiku?” tagih Hye-Na saat melihat Kyuhyun hanya membawa satu cangkir kopi saja bersamanya.

“Yak, kau sudah menyuruhku melayani diri sendiri di kafe ini dan sekarang kau juga berniat menjadikanku pembantumu? Bermimpi saja kau, Han Hye-Na!”

“Dasar pelit! Setiap aku ke dorm-mu juga kau tidak pernah mau membuatkanku kopi.”

Kyuhyun mencibir. “Aku tidak pernah sebaik itu.”

“Bagaimana mungkin ada orang yang bisa bertahan bersamamu?”

“Buktinya ada jutaan wanita di luar sana yang mengantri untuk mendapatkan posisimu.”

“Itu karena mereka tidak tahu manusia seperti apa kau sebenarnya.”

“Berarti yang bodoh itu kau. Sudah tahu aku bagaimana, kau masih saja bertahan disampingku.”

Hye-Na menghela nafas kesal. Ini memang rutinitas mereka setiap kali bertemu. Bertengkar tentang hal-hal yang tidak penting.

“Aku sedang berpikir-pikir untuk meninggalkanmu.”

“Oh, ya?” ucap Kyuhyun dengan nada sangsi. “Aku tidak memberimu izin.”

“Apa hakmu melarang-larangku, hah?” seru gadis itu sengit.

Kyuhyun berpikir sesaat. Apa dia perlu mengatakannya? Atau mungkin tidak. Tapi jika dia mengatakannya, mungkin gadis itu bisa membantunya untuk menjaga diri baik-baik sehingga dia bisa sedikit mengendurkan kecemasannya yang terus menumpuk.

“Ada satu situasi yang bisa membuatku membiarkanmu pergi, kalau kau mau tahu,” ucapnya akhirnya, setelah perdebatan yang cukup lama dengan dirinya sendiri.

“Apa?” tanya Hye-Na tertarik.

“Kalau kau terluka terlalu banyak karena bersamaku,” ujar pria itu enggan. “Aku akan melepaskanmu.”

***

August 9, 2010

 

 

Kyuhyun menoleh saat Hye-Na berdiri di sampingnya dengan secangkir kopi hangat di tangan. Gadis itu akhirnya menyerah membujuk Kyuhyun membuatkan kopi untuknya. Pria itu bahkan tidak mau berusaha menjadi tuan rumah yang baik.

Mereka sedang berada di dorm yang kosong karena member lain memiliki kegiatan masing-masing. Sebagian juga ada yang pulang ke rumah. Dan Kyuhyun lebih memilih berleha-leha di dorm tanpa melakukan apa-apa. Setidaknya dia berhasil menarik Hye-Na dari kafe dan menyeret gadis itu kesini. Walaupun akhirnya malah diacuhkannya begitu saja.

Di luar hujan turun cukup deras dan dia menutup pintu kaca balkon karena angin yang cukup kencang. Sebagian pintu tertutup oleh tirai putih transparan yang berkibar-kibar karena jendela di sampingnya yang tidak terkunci rapat, sedangkan dia berdiri di sisi yang satunya, bersandar ke dinding, melihat pemandangan buram kota Seoul di kejauhan yang sedang diguyur hujan.

“Aish, bagaimana aku bisa pulang kalau begini caranya?” keluh Hye-Na, merengut melihat cuaca buruk di luar.

Kyuhyun meraih pinggang gadis itu, menarik tubuhnya sampai punggung gadis itu membentur dadanya, dan melingkarkan lengannya rapat di sekeliling bahu mungil tersebut. Kepalanya tertunduk dengan puncak hidung yang menyentuh pundak Hye-Na.

“Tidak usah pulang saja kalau begitu,” ujarnya dengan nada iseng yang kentara.

“Cih, lalu mempertaruhkan keselamatan tubuhku pada setan sepertimu?”

Tubuh Kyuhyun bergetar karena tertawa geli. Sekilas tangannya mendorong kepala Hye-Na agar otak gadis itu kembali ke posisinya yang semula.

“Aku kan sudah bilang, aku belum berniat untuk mencari tahu apa yang akan terjadi kalau aku menciummu. Jadi kau aman. Setidaknya sekarang.”

Hye-Na mengeluarkan bunyi decakan dari mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Kyuhyun melirik jam di tangannya. Jarum jam masih menunjukkan pukul sebelas siang, tapi di luar sudah seperti pukul lima sore, karena awan mendung yang menutupi langit.

Pria itu mengingat jam yang sama, dua minggu yang lalu, detik dimana dia menatap gadis itu untuk pertama kalinya. Dia masih merahasiakannya, dan gadis itu juga tidak menanyakannya.

“2 Juli. Jam sebelas siang,” ujarnya dengan suara teredam.

“Jam sebelas siang?” ulang Hye-Na tidak mengerti.

“Itu pertama kalinya aku melihatmu.”

“Tapi bukannya fanmeeting jam….”

“Di jalan. Lampu merah. Kau mau menyeberang tapi waktu itu sedang macet sekali,” jelas Kyuhyun.

“Ada alasan kenapa aku tidak suka kau berkenalan dengan member lain terutama Eunhyuk dan Donghae. Mereka waktu itu heboh sekali saat melihatmu, memujimu setinggi langit, berebut apakah kau fans mereka atau bukan.”

“Saat itu aku tidak terlalu peduli. Aku sedang tidur dan suara mereka menggangguku. Dan saat aku melihatmu… entahlah… mungkin aku masih separuh sadar… dan mungkin kalau kau masih ingat, hari itu panas sekali dan aku tidak benar-benar bisa melihatmu karena merasa silau. Kau jadi terlihat… berkilau… karena semua sinar matahari itu. Sesuatu yang kedengarannya sangat konyol sekali untukku.”

“Dan saat aku melihatmu lagi, aku jadi mengerti apa yang saat itu mereka ributkan. Mengapa mereka seolah memperebutkanmu.”

“Hari itu seseorang juga menemuiku dan memberitahuku bahwa dia adalah penggemarmu. Gadis itu memberikan alamat blogmu padaku. Aku tidak langsung membukanya. Mungkin beberapa hari setelah itu aku baru membaca tulisanmu dan mulai merasa ketergantungan.”

“Aku belum pernah memberitahumu, kan? Aku sangat menyukai tulisanmu. Caramu bercerita, caramu menggambarkan karakterku, maupun caramu membuat dirimu sendiri terlihat hidup di dalamnya.”

“Aku sempat panik, merasa bahwa diriku sudah tidak waras karena bisa-bisnaya menyukai seorang gadis hanya karena cerita-cerita yang ditulisnya. Aku pikir aku mengantuk dan semacamnya sehingga berpikir ngawur seperti itu. tapi besoknya pikiranku sama sekali tidak berubah setelah aku membaca tulisanmu lagi.”

“Lalu aku berpikir untuk menemuimu. Memikirkan segala kemungkinan dan resikonya. Aku tahu pasti akibatnya tidak akan baik nantinya untukmu, tapi aku masih bersikap egois. Berpikir bahwa aku akan melepaskanmu kalau kau terluka sedikit saja.”

“Karena itu, Na~ya,” lanjut Kyuhyun dengan suara berat, semakin mengubur wajahnya di helaian rambut gadis itu. “Kau harus baik-baik saja. Dengarkan ucapanku. Jauhkan tubuhmu dari jangkauan penggemarku. Karena kalau kau terluka lagi…,” gumamnya dengan nada final. “Aku terpaksa harus melepaskanmu….”

***

Augustus 15, 2010

 

 

“Aku kan sudah bilang kalau kau tidak boleh datang!” teriak Kyuhyun marah ke layar ponselnya, tidak memedulikan kru-kru yang mondar-mandir di sekelilingnya, sedikit syok melihatnya tiba-tiba meledak seperti itu.

 “Aku masih baik-baik saja sampai sekarang. Kau tidak usah berlebihan.”

“Sebelum kau sampai di rumah, itu namanya kau belum baik-baik saja, bodoh!”

Kenapa gadis itu tidak pernah mau mendengar ucapannya sama sekali? Dia sudah bilang bahwa gadis itu tidak boleh datang ke konser mereka, tapi gadis itu masih saja mengabaikan permintaannya.

Mungkin idola lain akan senang jika kekasihnya datang menonton pertunjukan mereka, tapi dia merasakan kebalikannya. Dia ingin seklai mencekik gadis itu sekarang.

 “Na~ya?” panggil Kyuhyun karena gadis itu tidak kunjung menjawab.

Ada bunyi gemerisik dari ujung sana sebelum akhirnya dia mendengar teriakan kesakitan Hye-Na, yang membuat matanya langsung melebar panik, sedangkan yang bisa dilakukannya hanya berteriak memanggil nama gadis itu walaupun tahu perbuatannya sia-sia saja.

“BRENGSEK!” umpatnya keras, kemudian melempar ponselnya sembarangan.

Dia berlari menghampiri salah satu manajer sambil merenggut lepas properti yang masih menempel di tubuhnya dengan serampangan.

“Hyung, bisa kau periksa ke bawah? Kemana saja pokoknya masih di gedung ini. Cari tahu apa sesuatu terjadi, apa ada yang terluka. Hye-Na… pokoknya kau harus menemukannya dan hubungi aku. Secepatnya.”

***

“Mianhae, aku benar-benar tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya. Aku pikir kau akan senang kalau dia datang, jadi aku memberikan tiket gratis padanya. Tapi kemudian aku baru ingat kalau kau melarangnya datang ke konser manapun, jadi….”

Kyuhyun mengabaikan permintaan maaf Donghae yang terdengar seperti permohonan tanpa henti di telinganya. Dia bahkan tidak menangkap apa yang diucapkan pria itu. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.

Waktunya sudah tiba. Akhir yang ditakutkannya sudah tiba.

Dia mungkin bisa mengabaikan hal itu juga semudah dia mengabaikan ucapan Donghae. Dia bisa tetap bersama gadis itu, berusaha sebisanya lagi untuk melindungi gadis itu. Tapi dia sendiri tahu bahwa dia tidak bisa melakukannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya dalam posisinya yang seperti sekarang.

Dan dia masih harus memikirkan perasaan gadis itu nanti. Seperti dia menghancurkan dirinya sendiri, dia juga akan menghancurkan gadis itu sama besarnya. Kesalahannya. Kesalahan yang terjadi karena keegoisannya. Seharusnya dari awal dia tidak harus mencoba, kan?

Hanya saja… apa yang didapatkannya selama satu bulan terakhir sama berharganya dengan rasa sakit yang akan dia dapatkan sebentar lagi. Hal itu setara. Besarnya rasa sakit sekaligus kebahagiaan singkat yang dia rasakan. Tidak ada yang harus disesalinya sejauh ini. Dia memang harus mendapatkan penderitaan setelah mendapatkan kebahagiaan sebegitu besar. Memiliki gadis itu sementara sudah cukup, walaupun dia masih ingin memilikinya lebih lama lagi.

“Hyung…” panggilnya dengan suara yang terdengar lemah kepada manajer mereka yang mengemudikan mobil. Matanya masih tetap tertuju ke luar jendela, memandang kilasan-kilasan lampu dari bangunan-bangunan yang mereka lewati, yang tertinggal di belakang selagi mobil mereka terus melaju ke depan.

“Bisakah kau menemukan pelakunya?”

“Akan aku usahakan. Kau mau apa?”

Dia merasakan pandangan semua member tertuju ke arahnya, sedangkan dia hanya menggigit lidahnya dalam diam, merasakan asinnya darah dan menahan rasa sakitnya yang tidak seberapa dibandingkan rasa memanas dan membakar di bagian tubuhnya yang lain. Luka yang tidak terlihat tapi jelas terasa, mulai membuka dan menganga lebar tanpa bisa diperban.

“Habisi mereka,” ucapnya tajam, dengan raut wajah tanpa belas kasihan. “Habisi mereka sampai mereka menderita memikirkan tentang dosa yang harus mereka tanggung sampai mati karena menyakiti gadisku.”

***

Kyuhyun berjalan paling belakang, membiarkan member-member lain berlarian memasuki ruang tempat Hye-Na dirawat, menyusul dengan langkahnya yang terus melambat seiring semakin dekatnya pintu kamar yang pada akhirnya harus dimasukinya.

“Sepertinya anti fansnya berusaha mencelakainya.”

Dia mendengar suara Hwang-Mi yang terdengar samar, menceritakan kejadiannya pada hyung-hyungnya yang dengan serius mendengarkan, sedangkan dia berdiri di sudut, menatap buram ke arah Hye-Na yang tampak tidak suka kejadian yang menimpanya diberitahukan kepada orang lain.

Dia menelusurkan pandangannya perlahan, dengan teliti, ke sekujur tubuh gadis itu sejauh yang bisa ditangkap oleh matanya. Ada perban di lengan bagian atasnya, dan sepertinya di luar itu gadis tersebut baik-baik saja.

Tatapan mata itu kemudian berhenti lama tepat di mata Hye-Na, seakan-akan mereka sedang melakukan percakapan pribadinya sendiri yang hanya mereka saja yang tahu.

Saat itu, di detik yang terasa menegangkan itu, entah bagaimana dia merasa bahwa gadis itu bisa membaca pikirannya, karena meskipun samar, dia bisa melihat ketakutan yang terpancar dari tatapan gadis itu ke arahnya. Bahwa jauhnya jarak mereka sekarang, menunjukkan bahwa sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi tanpa mereka inginkan.

Dia ingin sekali melakukannya sendiri. Menemui gadis-gadis keparat yang sudah menyakiti Hye-Na secara langsung dan memberikan pelajaran yang setimpal kepada mereka semua. Agar mereka semua mengerti apa yang dimaksudkan dengan rasa sakit yang sebenarnya. Bahwa mereka bukan menyakiti fisik gadisnya saja, tapi juga menjadi penyebab yang membuatnya dan Hye-Na harus melihat kenyataan yang sebenarnya. Bahwa dari awal hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Bahwa selama ini mereka berdua hanya menutup mata dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Tidak bolehkan dia mengundur-undur waktu lebih lama lagi? Tidak bolehkah dia memiliki gadis itu beberapa hari lagi?

Lalu dia akan menumpuk rasa sakitnya dan menguburkan diri sendirian di dalamnya.

***

 Augustus 17, 2010

 

Kyuhyun membuka pintu kamar rawat Hye-Na dan mendengar suara Hwang-Mi yang terlihat sedang sibuk mengumpulkan barang-barang Hye-Na di atas sofa.

“Dokter bilang kau sudah boleh pulang kalau perbanmu selesai diganti. Kau mau aku memanggil suster atau aku saja yang menggantikannya untukmu?”

“Biar aku saja,” sahut pria itu, memberitahukan kedatangannya.

“Ah, Kyuhyun ssi. Baiklah. Kalau begitu aku ke bawah dulu,” ucap Hwang-Mi sambil mengedip ke arah Hye-Na, lalu bergegas meninggalkan mereka berdua.

“Bukankah hari ini hari istirahatmu? Kau tidak lelah? Aku kan sudah bilang kalau kau tidak perlu kesini,” ujar Hye-Na sebagai sapaan.

Hari ini gadis itu tampak segar dan Kyuhyun tidak bisa menahan senyumnya saat melihat bagaimana sinar matahari menyorot lagi dari arah samping, tempat jendela kamar terbuka lebar, membuat gadis itu tampak persis seperti saat pertama kali mereka bertemu. Menyilaukan. Tidak terjangkau.

“Karena libur makanya aku kesini, bodoh,” sergah Kyuhyun sambil menarik salah satu kursi ke sisi tempat tidur dan menyusun baskom berisi air hangat yang sudah tersedia, lap kecil, disinfektan, tube berisi salep luka, perban, gunting, dan beberapa plester di atas meja. Pria itu menarik tangan Hye-Na ke arahnya dan mulai melepaskan perban yang membalut lengan gadis itu.

“Aku sudah menyelidiki,” ucap Kyuhyun tanpa menatap Hye-Na, berpura-pura fokus pada pekerjaannya. “Entah bagaimana mereka tahu bahwa kita memiliki hubungan dan mereka tidak suka kalau kau pacaran denganku, jadi mereka bermaksud memberimu pelajaran.”

“Kau…” ucap Hye-Na terbata-bata, sepertinya terlalu syok mendengar penjelasan pria itu. “Kau tidak menemui mereka, kan?”

“Tidak juga. Aku menyuruh seseorang membereskannya untukku.”

“Memberes… apa maksudmu?”

“Hanya peringatan kecil. Tapi cukup untuk membuat mereka merasa ketakutan seumur hidup. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kau sudah gila, hah?”

Kyuhyun mengambil perban dari atas meja dan mulai membalut luka Hye-Na yang sudah dibersihkan dan diberi obat luka itu. Pria itu menyelesaikan pekerjaannya tanpa menjawab pertanyaan gadis tersebut, mengepak peralatan itu kembali ke dalam tas kecil, sebelum akhirnya beranjak dari kursinya dan pindah ke sisi ranjang yang cukup lebar untuk didudukinya.

Tangan pria itu menjangkau kepala Hye-Na, mengacak-acak rambut gadis itu kemudian mulai melakukan kegiatan favoritnya lagi, mengetuk-ngetukkan jarinya di puncak kepala Hye-Na. Dia menatap wajah gadis itu lama, berupaya sebisanya untuk merekam wajah itu baik-baik dalam ingatan, karena dia memiliki batas waktu yang nyaris habis untuk melihat wajah tersebut. Karena dia tahu dengan jelas bahwa memori otak manusia dengan mudah melupakan sesuatu, kenangan-kenangan yang tidak bisa bertahan terlalu lama karena akan segera terdorong ke belakang dan digantikan oleh ingatan-ingatan baru yang bahkan sama sekali tidak diinginkan.

“Wae?” tanya Hye-Na pelan dengan suara bergetar.

Kyuhyun menjawab dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Hye-Na dan menyentuhkan bibirnya dengan lambat ke permukaan bibir gadis itu. Menginginkannya sejak lama, tapi terkadang dia berpikir bahwa pengendalian dirinya belum terlalu baik, jadi dia tidak pernah berusaha untuk mencobanya.

Sekarang dia tahu bahwa seharusnya dia memang menunggu. Karena ini akan menjadi kenangan terakhir yang paling berharga, yang bisa diingatnya dengan baik dan akan dia pastikan untuk jangka waktu yang lama. Dia ingin mengingat wajah gadis itu dalam keadaan terbaiknya dan menyisakannya untuk diingatnya nanti di masa tuanya, membuat wajah gadis itu seumur hidup akan selalu menjadi bentuk tercantik yang pernah dilihatnya di dunia.

Kyuhyun menarik tengkuk gadis itu mendekat, menumpahkan rasa putus asa dan frustrasinya dalam ciuman mereka. Rasanya seperti ciuman pertama yang menggebu-gebu, sekaligus ciuman terakhir yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak akan ada waktu untuk melakukannya lagi. Karena mereka tidak akan berhak melakukannya lagi lain kali.

Pria itu menelan ludahnya saat mencecap rasa asin di bibirnya, yang berasal dari air mata gadis itu. Dan dia dengan bodohnya tidak bisa berbuat apa-apa, mengetahui bahwa gadis itu meenyadari maksud ciumannya dan akhir seperti apa yang akan diberikannya sebagai penutup.

Mengapa dia tidak diizinkan memiliki gadis yang memahaminya dengan sangan baik dan bisa membaca pikirannya dengan mudah ini? Gadis yang membuatnya tidak harus berbicara banyak dan hanya perlu berkomunikasi dalam diam.

Jarinya menyusuri jejak-jejak basah di pipi gadis itu dan tahu bahwa dia sendiri melakukan hal yang sama, menjatuhkan air mata yang sama untuk sesuatu yang menjadi kesalahannya.

Saat dia akhirnya melepaskan gadis itu kemudian, pria itu menarik punggungnya mendekat dan membenamkan wajahnya di cekungan leher gadis itu, menyembunyikan wajahnya yang basah dan air matanya yang belum sepenuhnya mengering, saat-saat dimana pria itu merasa bahwa dia berada dalam titik terlemah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya.

Kyuhyun menggerakkan kepalanya sedikit. Tangannya mencengkeram baju gadis itu selagi dia menghirup nafas, diam-diam menghirup aroma kesukaannya yang menjadi aroma paling familiar dalam indera penciumannya sejak satu bulan yang lalu.

Kemudian, dengan konsentrasi penuh, dia mendongak dan memosisikan bibirnya di telinga gadis itu, mengucapkan permintaan maaf lirih yang sama-sama mereka berdua pahami artinya.

Detik itu, satu kalimat terus-menerus terngiang di telinganya, seperti mantera yang membunuh mereka. Sedikit demi sedikit.

“Kalau kau terluka terlalu banyak karena bersamaku… aku akan melepaskanmu.”

***

September… October…

 

 

Bogosipeo… mot chamgesseo

Haru iteul saheul jinado

Jeonhwareul halkka jip ape galkka

Ibyeoriran geon eopdeon geotcheoreom

(Aku merindukanmu setengah mati sampai tidak bisa menahannya lagi…

Bahkan meskipun waktu baru berlalu satu, dua, atau tiga hari

Haruskah aku meneleponmu? Atau aku harus pergi ke rumahmu?

Seolah-olah kita tidak pernah berpisah?)

Geurae geuttaen geuraesseonnabwa

Naega apeumyeon dansume dallyeowa jugo

Naega chajeumyeon gaseume angyeowa jugo

Neon nal hyanghae ttwigo nan jejarieseo swigo

Geuttaen naega michyeoisseo chakgage ppajyeonna sipeo

Niga nae maeume sseojun sarangiran geulssireul

Ansimirago ilgeosseo

Neoraneun kkochi na moreuge nae gaseumeseo ppophyeo

Dareun gaseumeuro ormgyeojil dongan

(Benar, aku rasa sebaiknya kembali seperti dulu saja

Saat aku sakit, kau akan berlari menghampiriku secepat detakan jantung

Saat aku menatapmu, kau akan datang ke pelukanku

Kau menghambur ke arahku dan aku hanya bisa diam di tempat

Aku pikir aku sudah tidak waras dan hanya mengkhayalkan saat-saat itu saja

Kata-kata bahwa aku mencintaimu tertulis di hatiku

Aku membacanya seolah itu adalah sesuatu yang membuatku merasa aman

Kelopak bunga yang aku namakan sebagai dirimu telah tercabut dari hatiku tanpa aku sendiri ketahui

Dan mulai berpindah pada hati yang lain)

Hari-hari awal terasa sangat sulit baginya. Dia masih menghabiskan malam setelah menyelesaikan jadwalnya dengan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari kafe gadis itu. Berdiri disana sepanjang malam seperti orang bodoh, memandangi apapun yang bisa dilihatnya dari jarak itu. Tapi dia segera berhenti melakukannya setelah satu minggu berlalu. Karena gadis itu tidak pernah muncul. Gadis itu tidak pernah datang ke kafe lagi sejak hari perpisahan mereka.

Dia sudah terlalu merindukan gadis itu sampai pada tahap dimana dia tidak bisa bertahan kalau tidak melihat gadis itu segera. Dia sempat berpikir untuk menghubungi nomor gadis itu, bersikap bahwa tidak terjadi apa-apa, atau yang lebih gilanya lagi, dia nyaris hampir mengetuk pintu rumah gadis itu saking putus asanya. Tapi dia berhasil menyeret kakinya keluar dari halaman rumah gadis itu dan masuk ke dalam mobil sebelum gadis itu menyadari kehadirannya disana.

Bukankah lebih baik kalau mereka kembali seperti dulu saja? Saat dia masih bisa menatap wajah gadis itu kapanpun dia mau? Saat gadis itu tersenyum padanya dan dia bisa memeluk gadis itu sesuka hatinya? Atau kembali seperti sebelum itu? Saat mereka tidak kenal satu sama lain, saat hidupnya masih baik-baik saja dan tidak ada gadis itu di dalamnya? Tapi itu mustahil. Gadis itu sudah pernah datang, menjajah hidupnya, dan tidak mau lagi diusir keluar, seperti wabah kanker yang walaupun sudah disembuhkan, tapi tetap masih tersisa, tidak bisa dikikis habis.

Jadi dia menghabiskan paginya dengan menunggu di depan rumah gadis itu, mengikuti gadis itu sampai ke halte, mengekor di belakang bisnya, dan baru beranjak pulang setelah gadis itu masuk kelas. Lalu dia akan menghabiskan waktu luangnya di siang hari untuk menunggu gadis itu lagi di depan kampus dan mengikutinya sampai ke rumah, memastikan gadis itu aman.

Tapi dia bisa melihat betapa perpisahan mereka memengaruhi hidup gadis itu. Bahwa gadis itu terlihat tidak pernah fokus terhadap apa yang sedang dilakukannya. Berkali-kali dia harus menahan diri untuk tidak berlari menyeberang jalan saat melihat gadis itu tersungkur jatuh karena menabrak seseorang atau terkadang bahkan tanpa sebab sama sekali. Bagaimana dia harus selalu menekan klakson keras-keras saat gadis itu hanya duduk melamun dan tidak menyadari bahwa bus yang seharusnya dia naiki sudah datang. Bagaimana gadis itu membutuhkan waktu nyaris lima menit hanya untuk memasukkan kunci rumahnya ke lubang pintu sebelum berhasil membukanya dan masuk ke dalam.

Dia sudah melihat gadis itu, masih tetap melihat gadis itu setiap harinya. Dan dia masih tetap tidak baik-baik saja.

***

Gamgirado geollilkka eodirado apeulkka

Geuraeyaji niga dasi doraoji anheulkka

Nareul miwohajima nareul ijeogajima

Geu nuguboda hanaman saranghandan mariya

(Haruskah aku menderita masuk angin? Haruskah aku jatuh sakit?

Kalau aku melakukannya, tidakkah kau berniat kembali padaku?

Jangan membenciku, jangan melupakanku

Aku mencintaimu sendirian lebih daripada yang bisa dilakukan orang lain)

Oneuldo nan nunmuri na seumulhago ne sigan dongan

Neol dasi bogi jeonkkaji nunmullo modu heuryeo boigetji

Barojigeum dangjang mwol hal suitgesseo

Jal hal su inneun geon uneun geotcheoreom

(Air mata menetes lagi hari ini, seharian, selama 24 jam tanpa henti

Sebelum aku bisa melihatmu lagi, air mataku akan membuat wajahmu perlahan memudar

Apa yang bisa kulakukan untuk menghentikannya?

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan baik saat ini hanya menangis saja)

 

Eodireul gadeunji mueoseul hadeunji

Sum sorimajeo jakge nae

Niga nal bureuneun geol nochilkkabwa

(Kemanapun aku pergi, apapun yang aku lakukan

Aku bahkan bernafas secara perlahan-lahan

Karena mungkin aku akan sangat merindukan suaramu kalau kau menghubungiku)

Kyuhyun menghidupkan keran dan membasuh tangannya, sedangkan matanya terpaku ke cermin, melihat betapa kacaunya penampilannya setiap kali sampai di dorm, tidak lagi berada di balik tebalnya make-up yang biasanya ampuh untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya, mukanya yang semakin memucat, dan gurat-gurat lelah di kening dan pipinya.

Akhir-akhir ini kamar mandi menjadi tempat kesukaannya. Tempat dia bisa menghabiskan waktu dengan menangis diam-diam, sekedar mengeluarkan sepersekian dari berat beban yang menghimpit dadanya. Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tapi dia menghabiskan persedian air mata yang dimilikinya untuk gadis itu. Hal yang dia tidak merasa keberatan untuk melakukannya.

Pria itu menampung air dengan tangannya dan menyiramkannya ke wajah, menghilangkan sisa-sisa air matanya yang masih membekas sebelum menyekanya dengan handuk.

Dia baru saja melangkahkan kaki keluar pintu kamar mandi saat tubuhnya tersentak ke belakang ketika melihat Leeteuk yang sudah menunggunya di depan pintu dengan raut wajah tidak terbaca.

“Menangis diam-diam lagi?” tukas Leeteuk tanpa basa-basi. Dan Kyuhyun menyadari bahwa dorm tampak kosong dan sunyi, menandakan bahwa member lain mungkin sedang mengungsi ke atas agar Leeteuk bisa menceramahinya.

Dia tahu bahwa mereka tidak berani menanyakan apapun padanya sejauh ini dan memberinya waktu pribadi. Tapi sepertinya mereka semua sudah bosan dan merasa dua bulan sudah lebih dari cukup.

“Lalu setelah ini kau akan duduk di balkon sampai lewat tengah malam. Apa yang kau rencanakan? Menderita masuk angin? Jatuh sakit?”

“Kau terlihat seperti robot, Kyu. Kau melakukan pekerjaanmu karena itu sudah menjadi rutinitas dan kewajiban. Kau tersenyum karena kamera memerintahkanmu begitu. Dan apa kau tidak tahu bahwa para penata riasmusering mengeluh karena kau tidak pernah merawat wajahmu dengan baik dan membuat mereka harus bekerja dua kali lebih keras daripada yang biasa? Kenapa kau tidak meneleponnya atau langsung datang ke rumahnya dan membujuknya agar kembali padamu saja? Aku bahkan tidak mengerti kenapa kau menyakiti dirimu sendiri seperti ini dengan memutuskan untuk berpisah dengannya. Apa kau pria pengecut? Hanya karena dia terluka sekali karena fansmu lalu kau menyerah dan meninggalkannya? Sekarang bahkan sudah dua bulan dan kau masih terlihat seperti remaja tolol yang stress karena ditinggal pacar,” ucap Leeteuk panjang lebar dengan nada kesal, tidak habis pikir dengan jalan pikiran dongsaeng-nya itu.

“Jalan pikiran kita berbeda, hyung,” jawab Kyuhyun dengan sorot mata tajam. “Dulu mungkin aku akan berpikir bahwa jika aku memiliki kekasih, aku akan melindunginya mati-matian dari para fansku demi tetap bersama dengannya. Tapi untuk gadis yang satu ini,” selanya. “Aku tidak bisa seperti itu. Aku tidak mau melihat goresan di tubuhnya atau membiarkannya dicaci semua orang tanpa tahu apa kesalahannya. Aku menjaganya dengan cara seperti itu. Dan aku sudah gagal. Jadi aku melepaskannya.”

Kyuhyun berjalan melewati Leeteuk, dan berhenti di tengah jalan. Rambutnya yang basah jatuh menutupi keningnya dan dia menahan handuk yang digunakannya untuk menutupi kepalanya dengan tangan agar tidak merosot jatuh.

“Dan tentang balkon,” ucapnya dengan tubuh membelakangi hyung-nya itu. “Aku tidak tahu kalau kalian menyadarinya. Tapi aku memang melakukannya untuk alasan bodoh lainnya. Mungkin aku bisa masuk angin, jatuh sakit, dan karena kalian merasa kasihan, kalian mungkin akan mengambil keputusan untuk meneleponnya dan memberitahunya agar dia datang menjenguk. Jadi aku bisa melihat wajahnya dari dekat, berbicara dengannya… mungkin… dan itu bukan atas inisiatifku sendiri. Jadi dia tidak perlu berpikir bahwa aku masih tertarik dengannya dan kemudian dia bisa pergi lagi setelah itu. Mungkin merasa lebih baik… dna memutuskan untuk segera melupakanku.”

“Aku… pasti bukan idola yang baik, kan? Hyung?”

***

Geurae neoreul ireoke gidarigo itjanha

Muneul yeolgo jamdeuneun seupgwan

Neol darmeun saramui eokkaereul butjamneun seupgwan

Ibyeori annyeongiran ni moksoriga naege jun seupgwan

Neol gidarida michineunge meonjeoilkka

Michinchaero gidarineunge meonjeoilkka

Niga nae modeungeol itneunge meonjeo il geot gatda

(Benar, aku menunggumu seperti ini

Aku mulai terbiasa membuka pintu dan langsung jatuh tertidur

Aku mulai terbiasa menepuk bahu seseorang yang terlihat mirip denganmu

Kebiasaan yang disebabkan oleh suaramu terhadapku, perpisahan yang terjadi dengan satu kata “Selamat tinggal”

Apa aku akan menjadi gila duluan karena menunggumu?

Atau aku menunggumu karena aku memang sudah gila duluan?

Aku pikir kemungkinan kau melupakanku akan terjadi lebih dulu)

 

Saranghae neomaneul, saranghae neomaneul

(Aku mencintaimu sendirian, aku mencintaimu sendirian….)

Di sela usahanya untuk bertahan, dia tidak lagi menghabiskan malamnya untuk duduk di balkon apartemen dan menunggu sampai dia merasa mengantuk. Kali ini dia meminta manajer mereka untuk memadatkan jadwal kerjanya sehingga dia tidak memiliki waktu luang lagi dan akhirnya sampai di dorm dengan tubuh kelelahan, masuk ke kamar, dan langsung jauth tertidur. Kadang jika hal tersebut masih tidak berhasil, dia akan duduk di meja makan sendirian dalam gelap, menghabiskan wine-nya atau soju, minuman keras apapun yang bisa dia temukan, lalu minum sampai mabuk. Hal tersebut sangat membantunya unutk tidur nyenyak. Rasa sakit dan pusing yang dirasakannya pada pagi harinya juga memberikan bantuan lain yang tidak terkira. Saat dia hangover, kepalanya akan terasa berdenyut-denyut mengerikan sampai otaknya tidak bisa lagi memproses dan mengingat gadis itu lagi selama beberapa jam.

Seringkali, dia berhalusinasi melihat gadis itu dimana-mana. Dia memiliki kebiasaan menepuk gadis manapun yang dirasanya mirip dengan gadis itu, mungkin memiliki tinggi tubuh yang sama, baju yang sama, atau rambut yang sama. Tapi dia bahkan tahu bahwa gadis itu tidak ada, dia hanya mengkhayalkannya saja. Dan seharusnya dia berhenti berpikir konyol seperti itu. Membandingkan gadis itu dengan gadis lainnya, berpikir ada gadis lain yang terlihat mirip.

Karena hanya ada satu Han Hye-Na. Dan tidak ada gadis manapun yang bisa menyamai cara gadis itu menggerogoti otaknya.

***

December….

Pria itu berdiri di depan jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan mendung di luar. Gerimis turun seharian, kadang diselingi dengan hujan deras tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Tangannya menggenggam secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas, sedangkan matanya tertuju pada satu titik di luar, tanpa benar-benar tahu apa yang sedang ditatapnya. Sisi kanan tubuhnya bersandar di dinding sebagai penahan, karena entah kenapa akhir-akhir ini… dia sepertinya tidak memiliki keseimbangan yang benar.

Tempat yang sama. Hujan yang sama. Waktu yang berbeda. Dan kali ini dia hanya sendirian.

Dia ingat betapa dinginnya cuaca saat itu, tapi tubuh gadis tersebut tetap terasa hangat dan dia merasa tidak perlu mengenakan sweater yang dipakainya siang itu. Bagaimana wangi rambut gadis itu memenuhi indera penciumannya, bagaimana perbedaan tinggi mereka tampak begitu kontras tapi malah membuat segalanya terasa begitu tepat.

Dia berpikir… bahwa cepat atau lambat, gadis itu mungkin akan melupakannya dan menjalin hubungan dengan pria lainnya. Dia juga berpikir… bahwa mungkin saja gadis itu memutuskan untuk tetap sendirian untuk jangka waktu yang lama. 5 tahun? 10 tahun? Atau kalau bisa lebih dari itu. Jadi dia nantinya bisa menemui gadis itu lagi, dengan posisi yang tidak terlalu riskan, mungkin dengan jumlah penggemar yang tidak lagi terlalu banyak. Dia bisa menawarkan sesuatu yang lebih baik dan pantas untuk gadis itu, hubungan yang lebih serius, sesuatu yang bisa mereka mulai lagi dari awal tanpa perlu takut adanya lagi perpisahan.

Jika gadis itu bersedia menunggunya… dia bahkan juga tidak terlalu keberatan jika gadis itu sempat menjalani hubungan dulu dengan pria lain selama jangka waktu itu, karena dia yakin bahwa dia bisa merebut perhatian gadis itu lagi agar terarah kepadanya, agar menatap ke arahnya saja. Dia tidak peduli jika gadis itu sudah menjadi bekas dari pria lain. Yang diinginkannya hanya gadis itu saja dan dia menerima apapun keadaannya.

Sialnya, dia tidak bisa mengatakannya langsung terhadap gadis itu. Dia tidak bisa membiarkan gadisnya menunggu selama itu dengan segala bentuk ketidakpastian yang dimilikinya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang idola sepertinya selain kecaman dari berbagai pihak dan ancaman pembunuhan dari ratusan penggemar? Apa yang bisa diharapkan dari seorang pria sibuk yang nyaris tidak punya waktu luang untuk diri sendiri sepertinya? Dia hanya akan membuat gadis itu terus menunggu tanpa henti. Hanya itu yang bisa ditawarkannya dengan baik. Membiarkan gadis itu menunggu.

“Aku ingin sekali bertanya padamu.”

Kyuhyun menarik diri dari lamunannya dan memandang Sungmin yang berdiri di sampingnya.

“Apa?” tanyanya dingin.

“Apa alasan kalian berpisah hanya karena kau tidak bsia menjaganya dengan baik saja?”

“Mmm,” gumamnya. “Aku tidak bisa menjaganya dengan baik dan membiakrannya terluka. Aku tidak bisa berada di sisinya setiap saat untuk mengawasinya. Satu-satunya cara yang bisa membuatku berhenti merasa cemas hanya dengan menikahinya. Dan dengan posisiku sekarang, aku bahkan tidak bisa menawarkan hal itu.”

“Tapi seorang suami bahkan tidak bisa berada di samping istrinya setiap saat untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja, Kyu,” ujar Sungmin hati-hati.

“Aku tahu,” sela Kyuhyun dengan nada mengeluh. “Karena itu aku melepaskannya.”

Sungmin menghela nafas. “Apa aku boleh bertanya lagi?”

Kyuhyun mengangguk, menyesap kopinya yang sudah mulai mendingin.

“Kapan kau akan berhenti mengikutinya setiap hari?”

“Kau tahu?” tanya Kyuhyun terkejut.

“Tentu saja. Aku sempat penasaran melihatmu bangun lebih pagi dari biasanya. Jadi diam-diam aku mengikutimu,” jelas Sungmin. “Apa kau memang harus melihat wajahnya setiap hari baru kau bisa menjalankan pekerjaanmu dengan benar?”

“Mungkin,” jawab Kyuhyun, berhati-hati dengan pilihan katanya. “Aku hanya ingin mengingat wajahnya yang sekarang dengan baik. Memori manusia tidak pernah bisa diandalkan, kau tahu. Dan aku juga akan berhenti melakukannya. Sebentar lagi.”

“Wae?”

“Karena aku setiap hari menua. Dan aku ingin dia masih terlihat secantik itu dalam ingatanku. Tetap muda. Membeku di usia 19 tahun. Jadi saat aku berumur 60 tahun nanti… mungkin… dia masih akan tetap menjadi wanita tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku.”

“Apa kau pernah mencintai wanita sampai seperti itu? Hyung?”

TBC