Taiwan

06.00 AM

 

“Sudah?” tanya Eunhyuk saat Kyuhyun naik ke atas mobil dengan wajah yang terlindung sepenuhnya di balik masker, kacamata hitam, dan topi. Pria itu melepas maskernya dan membuka topi, mengacak-acak rambutnya yang sebenarnya sudah cukup berantakan.

Kyuhyun menjawab dengan mengacungkan bungkusan plastik kecil di antara genggaman tangannya, bungkusan yang langsung direbut Donghae yang duduk di bangku paling belakang dengan penuh rasa ingin tahu.

“Woa, yeppeuda,” komentar Donghae dan Ryeowook bersamaan saat melihat benda itu. Akhirnya.

“S?” tanya Sungmin, meraih benda itu dan membolak-balikkannya untuk melihat lebih jelas.

Safe,” jelas Kyuhyun, dengan cepat merebut benda itu lagi dan menyimpannya di dalam tas dengan aman sebelum member-membernya itu mulai melakukan hal-hal aneh.

“Keselamatan,” ucap Eunhyuk sambil mengangguk-angguk, menyebutkan arti dari huruf S besar di benda tadi. “Hadiah yang bagus, mengingat istrimu itu memang ceroboh sekali,” lanjutnya lagi.

“Bagaimana caramu mendapatkannya? Aku pikir benda itu tidak dijual,” tanya Zhoumi penasaran sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun.

“Dengan susah payah,” aku Kyuhyun. “Mengingat bahasa Mandarin-ku tidak terlalu lancar. Tapi sepertinya biksu itu mengerti apa yang aku maksud. Dia sepertinya senang-senang saja, tapi harus mendapat persetujuan dari biksu lainnya sebelum menjual benda itu padaku.”

“Pasti mahal sekali, kan? Berapa?”

Kyuhyun menatap Eunhyuk yang mengajukan pertanyaan itu, lalu menyeringai, memperlihatkan barisan giginya, sesuatu yang membuatnya untuk sesaat terlihat seperti setan penuh dosa.

“Yang pasti lebih mahal dari harga semua baju yang kau bawa kesini,” ucapnya enteng, yang disambut oleh kerutan di kening Eunhyuk. Bibir pria itu bergerak selama beberapa saat seolah sedang menghitung sesuatu, kemudian raut wajahnya berubah menjadi syok dengan mata yang membulat kaget.

“Semahal itu?” seru Eunhyuk tidak percaya.

Kyuhyun mengangkat bahu santai, melipat tangannya di depan dada dan mulai bersandar ke kursi. Mereka harus bangun sangat pagi untuk mengejar pesawat pertama ke Korea dan untung sekali member lain bersedia bangun lebih pagi lagi untuk menemaninya mampir ke kuil tertua di kota ini sebelum berangkat ke bandara.

“Hei, ngomong-ngomong bagaimana rasanya hidup dengan wanita yang sama selama 2 tahun?” tanya Eunhyuk sambil menyikut bahu pria yang duduk di sebelahnya itu.

“Jawab saja sendiri. Kau kan sudah bersama Ji-Yoo-mu itu selama 2 tahun juga,” jawab Kyuhyun malas.

“Itu beda, babo! Kalian sudah menikah dan tinggal bersama. Kau melihat wajahnya setiap saat. Bagaimana rasanya?”

“Tidak enak,” gumam Kyuhyun singkat, membuat mulut Eunhyuk menganga lebar.

“Apa? Aku pikir kau… aku pikir perasaanmu pada Hye-Na sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Tapi….”

Kyuhyun mendengus dengan kedua mata tertutup rapat. Rasanya dia butuh satu hari penuh untuk mengganti waktu tidurnya yang singkat.

“Memang apa enaknya hidup dengan wanita yang membuatmu khawatir terus menerus padahal kau masih harus mengkhawatirkan masalahmu sendiri? Kau pikir menyenangkan saat kebahagiaanmu dikontrol seseorang seperti itu? Kalau dia tidak ada rasanya seperti kehilangan semangat untuk melakukan pekerjaanmu, kau pikir itu hal yang bisa kau tanggung setiap hari? Belum lagi kau harus merindukannya saat dia tidak ada. Menurutku itu mengerikan.”

“Dan aku harus menanggungnya seumur hidup,” lanjut Kyuhyun, lebih terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

“Kau membuatnya terdengar seperti kutukan,” sela Donghae yang ikut mendengarkan dari belakang.

“Kutukan yang kau terima dengan senang hati,” putus Kyuhyun kemudian, mendadak merasa ingin kembali ke Korea secepat yang dia bisa. Seharusnya dia tidak punya jadwal untuk hari ini, kan? Ulang tahun pernikahan tidak dirayakan setiap hari.

Sialan, batinnya dalam hati. Kapan dia bisa jadi suami yang benar?

***

Airport, South Korea

11.00 PM

 

“Terlihat terlalu bahagia, Kyu. Fans bisa curiga,” bisik Eunhyuk yang berjalan di samping pria itu, tidak tahan mengomentari raut wajahnya yang terlalu sumringah.

“Tidak bisa dikontrol,” sahut pria itu, nyengir.

Mereka berdiri dalam antrian untuk menunggu pengecekan passport, dan dengan iseng Kyuhyun menarik salah satu selebaran yang tergeletak di atas meja. Selebaran-selebaran itu berisi panduan perjalanan ke luar negeri dan yang berada di tangannya saat ini adalah brosur perjalanan ke Yunani, tempat yang membuatnya teringat lagi kejadian satu tahun yang lalu. Rasanya mereka belum terlalu banyak berkeliling, mengingat waktu yang sangat sempit. Apa dia harus mengajak gadis itu kesana lagi?

“Merencanakan bulan madu kedua, hmm?” goda Donghae.

Kyuhyun mencibir dan mengangkat bahunya santai, lagi-lagi tersenyum.

“Tidak ada larangan, kan?” tandasnya.

“Apa orang yang merayakan ulang tahun pernikahannya yang kedua memang terlihat semenyilaukan ini? Aku kira kau bersinar atau apa,” komentar Sungmin sambil tertawa kecil.

“Aku pikir biasanya pasangan yang sudah bersama lebih dari satu tahun akan merasa bosan, tapi sepertinya dia malah terlihat seperti sedang dimabuk cinta,” lanjut Ryeowook dengan mata berkedip geli.

“Tutup mulut kalian. Kalian mau aku ketahuan? Disini banyak orang,” tukas Kyuhyun, mulai merasa kesal karena dijadikan bahan ejekan. Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan menghela nafas diam-diam.

Sebentar lagi, pikirnya. Dan dia bisa bertemu gadis itu.

***

KyuNa’s Apartment

12.15 PM

 

Kyuhyun memasukkan nomor pin apartemen dan membuka pintu, mendadak merasa heran saat tidak mendengar suara apapun dari dalam. Sepertinya rumah tersebut dalam keadaan kosong. Tapi ini hari Minggu, memangnya gadis itu mau kemana?

“Na~ya???” panggilnya, mulai merasa gusar saat mendapati kamar gadis tersebut tanpa penghuni. Dia mulai membuka setiap ruangan yang dilewatinya dan mendapati bahwa hasilnya sama sekali nihil. Memang tidak ada orang di rumah.

Sialan. Apa gadis itu melupakan hari ulang tahun pernikahan mereka lagi?

Kyuhyun berjalan memasuki dapur yang terhubung dengan ruang makan. Langkahnya yang awalnya tertuju ke arah kulkas, langsung berbelok menuju meja makan saat dia melihat satu botol besar, yang sepertinya adalah botol wine, tergeletak di atas meja.

Pria itu meraih botol wine tersebut dan meneliti tulisan di sekeliling benda itu.

Chateau Lafite Rothschild,” ejanya. “1869?”

Pria itu langsung melongo saat mengingat nama tersebut. Anggur itu saat ini menjadi anggur termahal di dunia dengan harga jual 230 ribu dollar per botolnya. 230 juta won. Dan bagaimana bisa wine langka ini berada di atas meja makannya?

Mata Kyuhyun menangkap sebuah kartu yang tadinya tergeletak di bawah botol tersebut. Pria itu mengambilnya dan mulai membalik-baliknya curiga. Tidak mungkin dari Hye-Na, kan? Bukannya gadis itu tidak suka jika dia sering minum? Dia saja harus minum wine sembunyi-sembunyi di dorm agar tidak ketahuan.

Jangan kaget begitu. Kau kelihatan tolol!

Aku membelikannya untukmu. Dan jangan marah kalau kau tahu berapa harganya. Kau sudah membelikan terlalu banyak untukku, sesekali aku juga ingin melakukan hal yang sama.

Aku bisa menolerir kemampuan minummu. Setidaknya kau tidak keberatan kalau aku minum kopi, padahal kau sendiri tidak suka kopi. Jadi aku harus bersikap adil, kan?

Jangan habiskan sendirian. Kau bisa meminumnya dengan Sungmin oppa atau Kangin oppa. Mereka juga suka, kan?

 

Aku menginap di rumah kita. Pemandangannya lebih indah. Apartemen membuatku bosan, apalagi aku sendirian. Kalau kau pulang, kau bisa menyusulku. Kalau kau tidak merasa lelah.

 

Happy 2nd anniversary, Kyu…

 

-Hye-Na-

 

 

“Woa, jadi aku boleh ikut meminumnya?”

Kyuhyun teersentak dan berbalik, mendapati Sungmin yang berdiri di belakangnya, ikut membaca isi kartu itu.

“Yak hyung, sejak kapan kau disini?”

“Kami pikir kami ingin ikut merayakan ulang tahun pernikahan kalian,” ujar Sungmin sambil mengedikkan dagu ke arah member lain yang sudah duduk manis di ruang tamu, menatap Kyuhyun dengan tampang polos tanpa dosa. “Sayang Hye-Na tidak ada. Kau mau menyusulnya? Kami boleh ikut tidak?”

“Tidak,” sela Kyuhyun cepat.

“Ingin menghabiskan waktu berdua saja?” gurau Eunhyuk yang menghasilkan tatapan membunuh dari Kyuhyun. “Baiklah, baiklah,” ucapnya menyerah. “Kami tidak akan mengganggu. Puas? Salam untuk istrimu.”

“Tidak akan kusampaikan,” jawab Kyuhyun sadis sambil meraih kunci mobilnya.

“Dasar setan!” sungut Eunhyuk yang tidak dihiraukan oleh Kyuhyun karena dia sudah bergegas keluar dari apartemen setelah menyuruh mereka untuk mengunci apartemennya lagi kalau mereka pulang. Pria itu meraih ponsel dari saku jinsnya dan memencet nomor rumahnya, merutuk kesal karena harus menunggu lift yang masih berada di lantai 15.

“Eomma,” serunya tanpa melontarkan sapaan saat teleponnya sudah tersambung. “Di rumah ada makanan tidak?”

***

Gapyunggun, Gyeounggi-do, Korea

03.30 PM

 

 

Kyuhyun membanting pintu mobilnya sampai menutup dan melangkah masuk ke halaman depan rumah. Dia melihat melalui dinding-dinding kaca rumah yang memperlihatkan isi rumah secara keseluruhan dan mendapati bahwa tidak ada siapapun disana, jadi dia memutar ke jalan setapak samping rumah yang terhubung ke halaman belakang. Setidaknya peruntungannya cukup baik. Dia menemukan Hye-Na disana.

Gadis itu berdiri membelakanginya, membuatnya dengan leluasa bisa memandangi gadis itu selama yang dia inginkan sebelum mengumumkan kedatangannya. Sore ini gadis itu mengenakan cardigan putih kebesaran yang menutupi gaun terusan berwarna sama dengan aksen bunga-bunga kecil berwarna campuran merah dan hijau lembut, pakaian yang biasanya tidak akan pernah dikenakan gadis itu di depannya. Topi putih berpinggiran lebar menutupi rambutnya yang dijalin longgar di sisi kepala, menghalangi sinar matahari yang menyorot cukup tajam, tidak peduli bahwa musim kemarau baru saja datang menggantikan musim panas.

Hye-Na menggerak-gerakkan selang dalam genggamannya, membuat air bercipratan kemana-mana, dan sepertinya gadis itu menikmati kelakuannya tersebut. Gadis itu memang bisa terlihat dewasa, tapi juga memiliki sisi kekanak-kanakan yang sangat jarang terlihat. Dia bahkan tertawa kecil. Dan di bawah siraman cahaya matahari, itu membuatnya terlihat seperti bidadari yang berkilauan. Tidak manusiawi. Seperti khayalan yang tidak nyata.

Kyuhyun melangkah mendekat dan berhenti tepat di belakang gadis itu, mendadak teringat betapa mungilnya gadis itu jika sudah berdiri di dekatnya. Terlihat seperti boneka yang harus dilindungi. Mungil dan rapuh. Hanya saja dengan kelakuan seperti setan.

Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Hye-Na dan menunduk, menyurukkan wajahnya di leher gadis itu. Hye-Na yang terkejut dengan refleks menjatuhkan selangnya sehingga air mulai membasahi kaki mereka sekaligus rumpun bunga di sekelilingnya.

“Kau mengejutkanku, bodoh!” umpat gadis itu dengan wajah merengut, berusaha menoleh ke arah Kyuhyun, posisi yang dimanfaatkan pria itu untuk menempelkan bibirnya sekilas di kulit pipi gadis itu sebelum akhirnya benar-benar melepaskan Hye-Na dan membiarkan gadis itu memandanginya dengan cara yang benar.

Hye-Na mundur sedikit ke belakang dan tidak berhasil menyembunyikan wajah terpananya melihat penampilan pria itu. Kemeja merah kotak-kotak, celana jins, dan kacamata hitam. Benar-benar iblis penggoda.

“Hai,” sapa Kyuhyun sambil tersenyum miring, senang mendapati bahwa dia baru saja membuat gadis itu terpesona. Ekspresi wajah gadis itu terlihat menyenangkan. Baginya.

“Oh… hai,” balas Hye-Na gugup, dengan susah payah menelan ludah. “Kau tidak bilang mau kesini,” lanjutnya, bingung dengan ucapannya sendiri.

“Haruskah?” tanya Kyuhyun, dengan nada tidak mengharapkan jawaban. Dia menahan senyum sebisanya. Dia tidak perlu memperlihatkan perasaan bahagianya karena bisa melihat gadis itu lagi dengan terlalu gamblang, kan?

“Kau mau ikut jalan-jalan denganku?” tawar pria itu kemudian. “Danau di depan rumah,” jelasnya. “Tadi aku mampir ke rumahku dan eomma memberi bekal yang cukup banyak. Kita bisa… piknik. Mungkin,” ucapnya tak yakin.

Hye-Na mengangguk. “Kebetulan aku belum makan.”

“Belum makan?” ulang Kyuhyun dengan mata menyipit yang tidak bisa dilihat gadis itu karena terhalang di balik kacamata hitam yang masih dipakainya. “Perutmu masih sakit?”

Satu minggu terakhir gadis itu memang mengeluhkan saluran pencernaannya yang bermasalah tapi berhasil kabur dari perintah Kyuhyun untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

“Sudah lumayan,” ujar Hye-Na cepat-cepat. “Aku hanya tidak bernafsu untuk makan saja.”

“Ya sudahlah. Ayo.” Kyuhyun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan gadis itu. “Eomma membuatkan kimbab kesukaanmu.”

***

Cuaca cukup hangat karena ini masih awal musim gugur dan matahari tidak bersinar terlalu terik sehingga cukup pas untuk melakukan piknik dadakan. Danau di depan rumah mereka membentang ke arah timur, mengikuti jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rindang.

Hye-Na menjulurkan kakinya dan memasukkannya ke dalam air. Temperaturnya cukup sejuk, walaupun tidak terlalu hangat. Dan bau rumput terasa begitu pekat di hidung, bercampur dengan bau air danau, sinar matahari, dan kimbab.

“Aku ingin tahu tentang masa lalumu,” ucap Kyuhyun tiba-tiba memecah keheningan.

Hye-Na mengerutkan keningnya, kakinya tanpa sadar bergerak, menimbulkan suara cipratan air yang menenangkan.

“Kau ingin tahu tentang apa?”

“Apa saja. Apapun yang kau lakukan selama berada di Manhattan. Sekolahmu. Temanmu. Tae-Wo mungkin.”

“Itu… penting?”

“Tentu saja penting,” dengus Kyuhyun. “Apa saja yang kau lakukan selama tidak berada dalam jarak pandangku kuanggap penting.”

“Bukankah kau sudah membaca diariku?”

“Aku lebih suka mendengarnya darimu langsung.”

“Kedengarannya menggelikan.”

“Biar saja.”

“Setelah itu kau juga harus bercerita tentang dirimu. Setuju?”

“Kalau aku tidak berubah pikiran.”

Hye-Na menghembuskan nafas keras. Kapan pria itu bisa berhenti melakukan kebiasaan mendebat ucapannya?

“Tidak ada yang istimewa. Sekolahnya biasa saja. Aku tidak terlalu bergaul. Sebagai kaum minoritas disana aku tidak berharap akan bisa diterima, kan? Lagipula inti kepindahanku kesana adalah untuk berubah menjadi… seorang gadis yang cukup normal,” ringis Hye-Na.

“Rumah jauh lebih sulit. Eomma memaksaku mulai mengenakan rok dan gaun, blus feminin, apapun yang memiliki embel-embel manis dan sangat perempuan. Satu-satunya kesenanganku hanya menyelundupkan kaset game dan PSP ke dalam rumah secara diam-diam dan tanpa terdeteksi. Tae-Wo sangat membantu dalam hal ini.”

“Dia teman sekelasku,” jelas Hye-Na. “Satu-satunya murid Korea lain di sekolah kami. Sebenarnya murid-murid lain tidak keberatan dengan kehadiran kami, bahkan ada beberapa murid pria yang berusaha mendekatiku. Tapi tetap saja, aku tidak menyukai pergaulan mereka yang terlalu bebas. Prinsip kami berbeda. Jadi di sekolah aku hanya berteman dekat dengan Tae-Wo saja.”

“Aku berhasil bertahan dengan rambut panjang tanpa merasa akan mati kepanasan. Tapi aku tetap alergi dengan rok dan sepatu tinggi. Dan eomma selalu saja memaksa mengajariku berdandan, yang bahkan tidak pernah kupraktikkan sekalipun. Sebenarnya usahanya sia-sia saja.”

“Kau tidak pernah mencari tahu tentangku?” tanya Kyuhyun hati-hati sambil memainkan botol air di tangannya.

“Eomma melarangku memakai ponsel dan setiap hari aku diantar jemput sopir, jadi aku tidak bisa mencoba mencari akses untuk menghubungimu. Lagipula aku merasa kepindahan kami memang sengaja untuk menjauhkan kita, tapi aku masih tidak tahu alasannya. Kalau diingat lagi, sepertinya dulu aku benar-benar gadis yang tidak menarik. Tidak normal. Pantas saja eomma berusaha keras untuk mengubahku. Pasti akan memalukan sekali kan memiliki menantu tidak tahu aturan sepertiku?”

“Dan dia masih berusaha menyembunyikan tentang… kecelakaanku?”

Hye-Na mengangguk sambil mengunyah kimbab dalam mulutnya pelan-pelan.

“Itu permintaan pribadi ibumu. Saat aku tahu, aku benar-benar tidak mau bicara dengan ibuku selama satu minggu penuh. Aku baru mengetahuinya setelah kami kembali ke Korea, satu tahun setelah itu, saat aku tahu bahwa kau adalah member Super Junior dan aku bisa mencari tahu segala hal tentangmu dengan mudah.”

“Permintaan pribadi ibuku?”

“Eomma bilang ibumu mengkhawatirkan keadaanku. Aku akan menghadapi ujian akhir saat itu, jadi dia tidak mau mengganggu konsentrasi belajarku dengan kabar ini. Sepertinya mereka takut aku akan mengamuk dan memaksa kembali ke Korea.”

“Memangnya kau tidak akan melakukannya?” tanya Kyuhyun ingin tahu.

“Mungkin saja. Mungkin juga tidak. Setidaknya aku bisa berpikir waras kalau aku tiba-tiba menampakkan diri di hadapanmu, tidak peduli kau sedang sakit atau tidak, kau pasti akan berusaha menghabisiku. Ya, kan?”

Kyuhyun mengedikkan bahu dan menyeringai. “Bisa jadi. Pasti aku akan melakukannya.”

Hye-Na merengut dan merebut botol air dari tangan pria itu, menenggak setengah isinya dalam waktu singkat.

“Jadi… kau kembali ke Korea dan memutuskan menjadi stalker-ku?” tanya Kyuhyun dengan tatapan menggoda.

“Baiklah, silahkan mengejekku sesukamu! Dasar kau menyebalkan!” sungut gadis itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Jadi kenapa butuh waktu dua tahun sampai kau berani menemuiku? Ah tidak juga, kalau kita tidak bertemu waktu itu kau tidak akan pernah mau muncul di depanku, kan?”

“Eomma akan memaksaku ke rumahmu meskipun waktu itu kita tidak bertemu. Lagipula keluargamu dan keluargaku sering bertemu diam-diam. Sepertinya membicarakan perjodohan.”

“Lalu kenapa kau tidak menemuiku?”

Hye-Na mengangkat bahu. “Kau sudah terkenal. Dan kita hanya sahabat masa kecil yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kadang-kadang aku berpikir kau bahkan tidak mengingatku lagi. Lagipula, bertemu dengan seorang artis tenar bukan hal mudah, kan?”

Hye-Na mencomot potongan kimbab berikutnya dan menoleh ke arah Kyuhyun.

“Sekarang giliranmu. Ceritakan tentang Ha-Neul.”

“Kau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?”

“Aku tidak tahu apa-apa,” ralat Hye-Na. “Lagipula aku dengar kau sibuk memamerkan ciuman pertamamu kemana-mana. Bukannya satu-satunya pacarmu di SMA itu dia?”

“Aku memacarinya untuk membuatmu cemburu, bodoh! Apa aku harus mengulangnya terus-menerus? Waktu kau pergi ke New York, aku langsung mencampakkannya!”

“Jadi? Kau membual tentang ciuman pertamamu? Semuanya hanya omong kosong?”

“Yak, coba kau pikir, aku ini tampan, digilai banyak wanita, bagaimana bisa aku belum pernah ciuman? Itu tidak masuk akal! Tentu saja aku harus menjaga imej-ku. Jadi aku karang saja cerita seperti itu,” jelas Kyuhyun panjang lebar dengan intonasi nada yang semakin meninggi.

“Cih, jadi ciuman pertamamu itu denganku? Dan kau masih berani-beraninya mengejekku tidak punya pengalaman?”

“Setidaknya,” ucap Kyuhyun tajam. “Aku tahu cara mencium dengan benar!”

“Tukang pamer,” gumam Hye-Na, nyaris tidak terdengar.

“Apa kau bilang?”

“Bagaimana dengan pegawai rumah sakit? Cinta pertamamu? Atau itu lagi-lagi hanya bualanmu saja?” tanya Hye-Na, mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh, gadis itu,” kata Kyuhyun, berusaha mengingat-ingat. “Aku tidak ingat wajahnya. Sepertinya aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku lebih fokus dengan suaranya.”

“Suara?”

“Mmm. Suara kalian mirip. Makanya aku merasa tertarik dengannya.”

“Jadi dia bukan cinta pertamamu?”

“Kau ini idiot atau apa?” teriak Kyuhyun hilang kesabaran. “Apa aku harus mengatakannya padamu secara langsung? Aku tertarik padanya hanya karena suara kalian mirip, lalu kau masih bertanya siapa cinta pertamaku? AISH!” seru Kyuhyun sambil mengacak-acak rambutnya gusar.

Hye-Na nyengir dengan wajah tanpa dosa lalu menepuk-nepuk punggung pria itu.

“Emosimu benar-benar mudah meledak. Kau bisa cepat tua kalau seperti itu terus.”

“Yang membuatku seperti ini siapa, hah?”

***

05.45 PM

 

Kyuhyun memasukkan keranjang piknik yang sudah kosong dan tikar yang sudah dilipat rapi ke kursi belakang mobilnya, membanting pintu lagi sampai menutup, dan berlari-lari kecil menghampiri Hye-Na yang berdiri bersandar di pagar masuk, menunggunya.

Pria itu mengacungkan tangannya dan sebuah gelang terjuntai dari sela jemarinya.

“Hadiah. Untukmu. Selamat hari ulang tahun pernikahan yang kedua… Na~ya.”

Kyuhyun menjatuhkan gelang itu ke atas telapak tangan Hye-Na yang memandangi benda itu dengan raut wajah kagum. Gelang itu sederhana, hanya berbentuk jalinan melingkar dengan pengait berbentuk huruf S, percampuran antara warna putih, cokelat, dan sedikit warna turquoise.

“S?”

“Itu jumat keberuntungan,” jelas Kyuhyun. “Safe. Keselamatan. Mengingat kau itu ceroboh sekali, jadi aku berusaha mendapatkan benda ini. Mungkin bisa membuatmu sedikit lebih aman. Kau terlalu suka dekat-dekat dengan bahaya sepertinya.”

“Jangan sampai hilang. Aku sudah susah payah mendapatkannya. Itu tidak dijual dimanapun, kau tahu?”

“Tidak dijual dimanapun? Kau mendapatkaannya dimana? Kuil? Pasti lagi-lagi ini mahal sekali, kan?”

“Hadiahmu lebih mahal,” tukas Kyuhyun enteng, tahu bahwa Hye-Na tidak bisa mendebatnya lagi.

“Ngomong-ngomong,” lanjut pria itu sambil mencondongkan tubuhnya, menghimpit Hye-Na ke pagar di belakangnya. “Kau sudah melihat pemotretan SPAO terbaru?”

“Sudah,” jawab gadis itu dengan raut wajah datar, terlihat tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan itu.

“Lalu?”

“Aku suka melihat Sulli.”

“Victoria?”

“Biasa saja. Kau berharap aku merasa cemburu? Aku tidak akan merasa cemburu lagi. Itu melelahkan.”

“Aku akan ikut sebuah acara bersama Hyo-Rin,” ujar Kyuhyun, masih berusaha.

“Jadi? Aku lebih cantik dari dia,” jawab Hye-Na penuh percaya diri, membuat Kyuhyun tidak bisa menahan kekehannya.

“Ah, benar. Kau lebih cantik. Tapi dia lebih seksi,” tambah Kyuhyun sambil mengedipkan matanya.

“Oh, ya? Selama kau tidak berniat menidurinya aku tidak keberatan.”

“Astaga Na~ya, kau sedang merubah kepribadianmu, ya? Biasanya kau mulai mengamuk kalau aku dekat dengan gadis lain.”

“Aku hanya sedang berusaha menekannya ke tingkat paling minimum. Lagipula walaupun kau berniat mencari simpanan, statusku lebih kuat. Aku istrimu. Bukan sesuatu yang bisa diganggu gugat, kan?”

Kyuhyun menatap gadis itu takjub, sebelum akhirnya mendesah. Kalah.

Pria itu menundukkan wajahnya, meletakkan tangannya di leher gadis itu, sebelum bergerak ke belakang untuk menangkup tengkuknya. Jari-jarinya mengait di sela jalinan longgar rambut gadis itu, sesuatu yang membuat gadis itu terpaksa mendongakkan wajahnya karena dorongan dari telapak tangan pria tersebut.

Bibir Kyuhyun menyentuh dahi Hye-Na, berlanjut ke kelopak matanya yang dengan refleks menutup, lalu meluncur turun ke pipi gadis itu, sebelum akhirnya berhenti di dekat telinganya, tempat aromanya terasa begitu pekat.

“731 hari. Kau pernah menghitungnya?” tanyanya dengan suara berat. “Dan rasanya masih seolah aku baru saja menikahimu kemarin.”

Kyuhyun memundurkan wajahnya sampai bisa menatap wajah Hye-Na tanpa penghalang. Sebelah telapak tangannya menangkup pipi gadis itu, merasakan kulit gadis itu memanas di bawah sentuhannya.

Hye-Na tanpa sadar menolehkan wajahnya sedikit, merasa nyaman dengan rasa hangat dari tangan Kyuhyun, cukup untuk menempelkan pipinya dan menghirup aroma dari nadi di pergelangan tangan pria itu.

“Memang tidak ada yang bisa mengganggu gugat posisimu, kan?” gumam Kyuhyun sambil tersenyum miring. “Kau ingat sesuatu tentang janji pernikahan? Bersama sampai maut memisahkan? Kedengarannya menjijikkan, tapi itu berarti kau terikat padaku sampai salah satu dari kita mati.”

Kyuhyun memajukan wajahnya sampai bibir mereka bersentuhan, menghalangi sinar matahari yang membanjiri mereka tanpa ampun.

Matahari baru saja menggelincir turun ke ufuk barat, membuat cahanya memantul lewat dinding-dinding kaca yang mengelilingi rumah, memenuhi halaman dengan warna oranye kekuningan, cukup berani untuk menyusup melalui sela dedaunan yang berbaris rapat di pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan setapak, membuat rasa panas menghantam mereka dari segala arah.

Hye-Na bersyukur dengan tubuhnya yang terhimpit, karena itu berarti dia tidak perlu mencurahkan fokusnya untuk menahan posisinya agar tetap berdiri dengan benar selagi pikirannya berantakan karena sentuhan pria itu di bibir, leher, dan pinggangnya. Kyuhyun seperti dibanjiri cahaya matahari yang memantul dari balik punggung dan rambutnya, membuat Hye-Na merasa silau sampai harus menutup mata. Rambut pria itu terasa tebal dan lembut di antara cengkeraman jemarinya dan bibirnya terasa manis. Memabukkan. Membuat pikirannya terganggu.

Kyuhyun memberikan kecupan-kecupan ringan sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya, menatap gadis itu dengan mata menyipit, dan bibir yang separo tersenyum. Geli. Berbeda dengan matanya yang tampak fokus dan penuh konsentrasi. Dia menghela nafas malas-malasan dan menarik pinggang Hye-Na ke arahnya, membenamkan wajahnya ke rambut gadis itu.

“Kau terjebak bersamaku,” lanjutnya, kali ini dengan suara teredam, seolah dia tidak terlalu berharap Hye-Na mendengarkannya. “Dan aku tidak akan terburu-buru mati untuk membebaskanmu.”

TBC