Music: Davichi – Do Men Cry?

 

July 2, 2010

 

“Kau benar-benar akan memakai baju itu?” tanya Hwang-Mi sambil memandang tubuh Hye-Na dari atas ke bawah dengan ragu.

“Wae? Ada yang salah?” Gadis yang diperhatikan Hwang-Mi itu balik bertanya dengan wajah tak peduli, sibuk melemparkan barang-barang miliknya ke dalam tas. Ponselnya menjadi barang terakhir yang menyusul dompet, buku notes kecil, pensil mekanik, dan beberapa batang lolipop yang sudah terdampar di dasar tas ransel mungil favoritnya itu.

Hwang-Mi menggeleng dan memerhatikan penampilan Hye-Na lagi. Gadis itu mengenakan tank-top hitam, cardigan abu-abu yang memanjang di bagian depan, celana jins, dan sepatu kets yang sudah tampak bulukan karena sering dipakai. Rambutnya dikepang longgar di sisi kanan kepala. Secara keseluruhan penampilan gadis itu lumayan, ditunjang oleh wajahnya yang memang cantik. Bahkan permen lolipop  yang bertengger di mulutnya tidak bisa dikatakan mengganggu. Hanya saja….

“Tapi kau bilang ini kali pertamamu bertemu… pria itu. Jadi… apa tidak sebaiknya kau mengenakan sesuatu yang feminin? Gaun terusan mungkin? Aku bisa mendandanimu sedikit kalau kau mau.”

“Cih, memangnya aku kesana untuk membuatnya jatuh cinta?” cibir gadis itu sambil menyambar buku foto yang terletak di samping tasnya, kemudian memeganginya di sela lengan dan sisi tubuhnya. Dia mengeluarkan lolipop dari dalam mulut dan mengambil gelas kopinya yang masih berisi setengah, menghabiskannya dalam satu tegukan.

“Aku hanya ingin menyentuh tangannya saja,” lanjut gadis itu dengan suara pelan, hingga nyaris terdengar seperti bisikan.

“Mwo?” tanya Hwang-Mi, jelas karena dia tidak bisa mendengar gumaman gadis itu barusan.

“Tidak ada. Sudahlah, aku pergi dulu. Siapkan makan siang yang enak untukku. Arasseo?”

“Cih, otakmu itu! Isinya hanya makanan saja!”

Hye-Na tertawa dan berlari-lari kecil keluar dari kafe miliknya. Sorotan sinar matahari musim panas Seoul langsung menghantam wajahnya tanpa ampun, membuat gadis itu sedikit mengernyit dan berusaha menutupi wajahnya dengan tangan, yang ternyata tidak banyak membantu.

Dia berbelok di tikungan jalan dan mengantri untuk menyeberang ke arah halte yang kosong, menunggu bis yang akan dinaikinya datang. Di halte itu memang tidak ada orang, tapi jalanan di depannya macet, sehingga untuk menyeberang pun rasanya sulit sekali walaupun lampu jalan sudah menunjukkan warna merah.

Kali ini gadis itu merengut dan tanpa sadar menggigit lollipop di dalam mulutnya keras-keras, sehingga permen berbentuk bulat itu langsung hancur dan menjadi serpihan-serpihan yang habis dalam waktu singkat, membuat rasa stroberi tertinggal di lidahnya yang kini terasa kesat. Gadis itu merogoh tasnya dan mengeluarkan setangkai lollipop lagi, kali ini tersenyum saat melihat rasa yang didapatkannya dari belasan tangkai lollipop yang ada di dalam tasnya tersebut. Rasa lemon. Rasa yang menurutnya paling menyenangkan di antara rasa-rasa lollipop yang sebenarnya tidak ada yang tidak disukainya. Hanya saja lemon selalu membuatnya merasa tenang dan menurunkan emosinya yang mudah meledak-ledak.

Oke, baiklah, dia hanya harus menunggu sampai kemacetan ini mereda dan menyeberang dengan aman. Yah, hanya harus menunggu. Dan sial, dia paling benci melakukan kegiatan satu itu.

***

Hye-Na menghembuskan nafas gelisah, terlihat gusar saat melihat kerumunan orang di sekitarnya. Ada lebih dari tiga ratus orang gadis yang mengantri penuh sesak menunggu giliran untuk diizinkan masuk ke dalam ruangan eksklusif tempat 10 orang member Super Junior berada. Fanmeeting kali ini memang sedikit berbeda karena para penggemar diizinkan masuk dan bertemu secara pribadi dengan idola mereka. Tapi bukan semua member, hanya salah satu member yang paling mereka idolakan saja. Dan mereka diharuskan mengantri bersama ratusan gadis lainnya yang juga menginginkan hal yang sama. Jumlah penggemar pun terbatas. Pintu masuk dibuka hanya sekitar 3 menit, jadi siapapun yang berhasil menyelip masuk ke dalam mendapat kesempatan langka itu. Dan dia adalah salah seorang di antaranya.

Gadis itu memutar-mutar lollipop di dalam mulutnya. Apa sebaiknya dia pulang saja? Lihat saja antrian di depan. Masih ada berapa ratus orang lagi sampai dia mendapat kesempatan untuk melihat pria itu secara langsung? Dia bahkan rela berada di tempat yang ramainya ampun-ampunan seperti ini dan menendang jauh-jauh phobianya terhadap tempat umum. Tapi keberaniannya juga terbatas. Dia mulai mengeluarkan keringat dingin saat melihat ratusan gadis tidak dikenal di sekelilingnya. Dan kenyataan bahwa dia sendirian semakin memperburuk semuanya.

Gadis itu mengeruk isi tasnya lagi, berusaha mencari-cari lollipop lemon yang mungkin saja masih ada.

Bagus. Dia masih memiliki dua permen dengan rasa lemon. Jadi kalau dia tidak mendapat giliran sebelum permen itu habis, mungkin dia akan menyerah saja. Dia masih bisa membeli tiket konser Super Show berikutnya dan datang menonton, kan?

Memikirkan itu langsung membuat perutnya mual. Konser pasti akan jauh lebih ramai lagi dari ini dan… jelas kemungkinan dia bisa melihat pria itu secara langsung semakin kecil.

***

Gadis itu memegangi tali tasnya dengan gugup, mengunyah permen yang masih tersisa dalam mulutnya dan menelannya dengan susah payah.

Untuk pertama kalinya, lollipop lemon sama sekali tidak bisa membantunya untuk menenangkan diri.

Huft, seharusnya dia pulang saja tadi, jadi dia tidak akan mempermalukan diri sendiri di depan idolanya seperti ini. Apa wajahnya memerah? Dia pasti sudah berkeringat, kan? Sepertinya tangannya gemetaran. Astaga, seharusnya pria tidak boleh diciptakan setampan itu.

Hentikan pikiran bodohmu, Hye-Na~ya. Pegang tangannya dan pulang. Selesaikan rasa penasaranmu sekarang.

Dia mungkin hanyalah satu dari jutaan gadis lain yang tergila-gila setengah mati pada pria yang dijuluki malaikat kematian satu itu. Cho Kyuhyun. Bahkan namanya saja sudah kedengaran elegan sekali, kan? Ah tidak, mungkin itu hanya pikiran bodohnya saja.

Masalahnya adalah, sepertinya dia telah membiarkan perasaannya menjadi terlalu berlarut-larut sampai tidak bisa dikendalikan lagi. Dia bahkan diliputi perasaan ngeri bahwa mungkin saja dia bukan hanya sekedar mengagumi pria itu, tapi sudah terjerumus lebih dalam lagi dari itu. Bagaimana kalau dia jatuh cinta? Itu sangat berbahaya bukan? Bagaimana mungkin dia jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya pada pria yang… tidak dikenalnya itu? Dia pasti sudah gila.

Tapi itu semua adalah kesalahannya sendiri. Jika dia tidak tiba-tiba mencoba menyalurkan hobi menulisnya ke dalam bentuk fanfiction, dia pasti masih berada di zona aman sekarang. Atau tidak? Mungkin saja jika dia tidak menulis kehidupan cinta tidak masuk akal antara dia dan pria itu, dia masih tetap akan jatuh cinta. Hal itu bisa saja terjadi, kan?

Benar. Dia memang seorang penulis. Seorang penulis yang awalnya hanya berniat menulis novel dan menjadi pengarang terkenal tapi malah terjebak dalam imajinasi liarnya sendiri tentang seorang pria bernama Cho Kyuhyun dengan karakternya yang begitu sempurna. Dan semua orang berkomentar bahwa sepertinya dia benar-benar memahami dan mengenal pria itu, bahwa kisah cinta mereka terlalu sia-sia jika hanya berada dalam bentuk fiksi. Jadi lihat, dia tidak bisa kabur dari imajinasinya sendiri sekarang. Dia bahkan nyaris tidak bisa menulis cerita lain dengan sepenuh hati jika bukan pria itu yang menjadi tokoh utamanya. Kadang-kadang dia merasa, sudah saatnya seseorang membantunya memeriksakan diri ke rumah sakit jiwa. Hwang-Mi sepertinya sudah menyarankan hal itu berkali-kali.

Tapi disinilah dia sekarang. Berdiri di depan pria itu, ternganga tolol menatap karya hidup yang tanpa cela tersebut. Bahkan kamera paling hebat sekalipun tidak bisa menangkap kesempurnaan wajah itu dengan benar. Pantas saja jumlah gadis tidak waras meningkat setiap harinya.

Anehnya, pria itu tampak sangat terkejut melihatnya, dilihat dari mata pria itu yang membelalak lebar seolah… mengenalinya.

“Annyeonghaseyo,” ucapnya kaku, nyaris terdengar seperti mencicit.

“H… hai,” sahut Kyuhyun, yang ajaibnya terdengar gugup. Pria itu melirik Donghae yang duduk disampingnya. Dan yang lebih aneh lagi, Donghae juga menatapnya kaget dan sesaat kemudian sibuk berbisik dengan Eunhyuk yang juga menatap ke arahnya.

Aigoo, mereka kenapa? Apa ada yang salah dengannya? Kenapa raut wajah mereka menunjukkan seolah mereka mengenalnya? Tidak ada kemungkinan apapun yang bisa membuat hal itu terjadi, kan?

Kyuhyun mengulurkan tangannya, memberi tanda agar Hye-Na menyerahkan photobook yang sedang dipegangnya untuk ditandatangani.

“Namamu?”

Hye-Na mengernyit bingung. Setahunya mereka hanya memberikan tanda tangan saja, tanpa menuliskan nama atau sesuatu semacam itu. Jadi kenapa pria ini menanyakannya?

“Han Hye-Na,” jawabnya cepat, berharap pria itu bisa menyelesaikannya selekas mungkin agar dia bisa segera pergi dari tempat itu. Sekarang alasannya untuk kabur bertambah satu lagi. Dia tidak tahu sampai berapa detik lagi bisa bertahan sebelum kehilangan kewarasan dan berteriak histeris sambil memeluk pria di depannya itu. Harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan hal itu terjadi.

Tapi sialnya, masih ada satu hal lagi yang ingin dilakukannya berkaitan dengan pria ini. Dan dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya dengan rasa penasaran konyol yang akan menghantuinya nanti jika dia tidak melakukannya.

“Chogi…” ucapnya gugup, sedikit ragu memilih kata untuk menyampaikan maksudnya.

Kyuhyun mendongak dan menghentikan kegiatannya mencoret-coret photobook Hye-Na, beralih menatap gadis itu penuh fokus. “Ne?”

“Boleh aku memegang tanganmu?” tanyanya hati-hati dan dengan tegang menunggu reaksi pria itu.

“Aku rasa kau bahkan diperbolehkan memelukku,” ujar Kyuhyun sambil mengedik ke arah ELF lain yang memang mendapatkan pelukan dari bias mereka masing-masing.

Hye-Na menggeleng. “Aku hanya ingin menyentuh tanganmu saja.”

Dan gadis itu benar-benar berharap dia diperbolehkan untuk melakukan hal itu. Sejak dulu dia selalu mengagumi tangan pria itu. Jari-jarinya yang panjang dan genggamannya yang tampak hangat. Dia hanya ingin memastikan apakah hal itu benar atau tidak. Apakah tangan pria itu memang sehangat kelihatannya atau hanya khayalannya saja.

Dia mengerjap saat melihat Kyuhyun yang terdiam dan melongo menatapnya. Bahkan seperti itu saja pria itu maish terlihat lebih tampan dari pria manapun yang pernah dilihatnya.

“Kau menolak memelukku? Maksudku,” sela Kyuhyun cepat-cepat, “bukankah itu yang diinginkan setiap penggemar? Penggemar manapun pasti lebih memilih memeluk idolanya daripada hanya sekedar menyentuh tangannya saja, kan?”

“Tapi pelukan adalah sesuatu yang sangat penting,” tandas Hye-Na. “Seharusnya kau tidak sembarangan memeluk seseorang. Hal itu sangat berharga, kau tahu? Memeluk seseorang berarti kau ingin membuat orang itu nyaman dan aman. Dan seharusnya kau hanya melakukannya pada gadis yang kau sukai saja.”

Kyuhyun terdiam sesaat sebelum menunjukkan senyum separonya. Pria itu mengambil photobook di atas meja lalu menyerahkannya pada Hye-Na.

“Aku juga berpikir seperti itu, Han Hye-Na ssi. Tapi kau pikir seorang idola memiliki pilihan seperti apa dalam hidupnya? Untuk jatuh cinta saja kami masih membutuhkan izin, apalagi kalau hanya sekedar pelukan. Itu merupakan kewajiban, kau tahu?” Kyuhyun menyodorkan tangannya dengan telapak yang menghadap ke atas. “Kau boleh memegang tanganku.”

Hye-Na menghembuskan nafas diam-diam, tercabik antara rasa lega dan stress yang menerpa. Diizinkan menyentuh tangan pria itu adalah sesuatu yang membahagiakan, tapi membiarkannya menyentuh tangan pria itu adalah lain masalah. Dia perlu memastikan perasaannya dan bagaimana kalau… setelah menyentuh tangan pria itu… dia merasakan sesuatu yang tidak seharusnya? Dia tidak mau menghadapi kenyataan untuk meratapi nasib percintaannya yang mengenaskan seumur hidupnya.

Gadis itu dengan ragu mengulurkan tangannya dan menyentuh telapak tangan pria itu dengan ujung-ujung jemarinya, sebelum akhirnya dengan hati-hati membuka telapak tangannya yang separuh menutup dan benar-benar meletakkannya di atas tangan pria itu, sedikit mengerjap saat ketakutannya menjadi begitu nyata.

“Ternyata benar,” ucapnya tanpa sadar.

“Apa?” tanya Kyuhyun penasaran, dengan mata yang mengarah kepada tangan mereka yang saling bertautan. Kening pria itu berkerut dan Hye-Na nyaris menyentakkan tangannya sampai terlepas saat tiba-tiba pria itu mengatupkan jari-jarinya dan menggenggam tangannya dengan erat seolah menimbang-nimbang sesuatu.

“Tanganmu,” ujar gadis itu dengan raut wajah yang menunjukkan seolah dia baru menerima beban seluruh dunia. “Ternyata memang sehangat itu.”

***

July 7, 2010

 

“KAU! Ubah ekspresi wajahmu itu atau aku akan melemparmu keluar kafe dan melarangmu datang sebelum kau kembali ke sifatmu yang sebenarnya!” teriak Hwang-Mi habis kesabaran sambil melemparkan kain lap dalam genggamannya ke atas meja yang dipandangi Hye-Na sejak setengah jam yang lalu. Dia sudah muak melihat sahabatnya itu melamun terus-terusan dengan raut wajah seperti penderita kanker yang baru divonis mati sejak kepulangannya dari fanmeeting waktu itu. Gadis itu tentu saja bisa menebak apa yang terjadi. Han Hye-Na pasti baru menyadari bahwa dia seharusnya memeriksakan diri ke psikiater sejak lama. Bertemu dengan Cho Kyuhyun memang hanya membuatnya menjadi mayat hidup tak berguna dan Hwang-Mi benar-benar ingin sekali mengguncang-guncang gadis itu sampai sadar dari khayalan gilanya yang tidak berkesudahan.

“Begini,” ujar Hwang-Mi dengan nada lelah, menarik kursi dan duduk di hadapan Hye-Na seraya menatap gadis itu khawatir. “Aku sudah bilang bahwa bertemu dengannya hanya akan memperburuk keadaan. Lebih baik jika kau masih tidak memahami perasaanmu daripada kau menyadarinya dan hancur seperti ini. Dia seorang idola. Gadis di belahan bumi mana yang tidak menginginkannya? Aku tidak menyalahkanmu karena jatuh cinta padanya. Gadis lain juga seperti itu, kan? Hanya saja, aku tahu seberapa gawatnya keadaanmu, Hye-Na~ya. Kau bilang hanya perlu dua hari untuk kembali normal, tapi ini sudah 5 hari. Ini tidak sehat lagi, kau tahu? Kau mau jadi zombie berapa lama lagi, hmm? Toh dia tidak akan datang dan tiba-tiba melamarmu, kan? Hal mustahil seperti itu… seharusnya kau tahu sampai sebatas mana kau diizinkan untuk mengkhayalkannya.”

Hye-Na tersenyum letih dan mengangguk, masih dengan kepala yang terus tertunduk.

“Aku tahu,” ucapnya pelan. “Maaf.”

“Astaga, ternyata memang separah itu ya sampai kau mengucapkan sesuatu yang belum pernah kau ucapkan sebelumnya?”

“Mwo?”

“Kata maaf,” sergah Hwang-Mi gusar. “Sekarang beritahu aku, sejauh mana kerusakannya?”

“Kau benar,” mulai Hye-Na ragu. “Seharusnya aku tidak melihatnya secara langsung. Aku tahu bahwa aku… mungkin memang jatuh cinta padanya, tapi… aku tidak tahu sampai seberapa dalam. Jadi saat aku melihatnya, menyentuh tangannya, aku terlalu syok sampai tidak bisa apa-apa. Ternyata benar-benar sudah sangat parah, kau tahu? Menyadari bahwa kau jatuh cinta pada seseorang lalu di saat yang bersamaan tahu bahwa sampai kapanpun hal itu tidak akan berhasil. Level kami bahkan jauh berbeda.” Hye-Na menghembuskan nafas dan memalingkan wajah ke taman kecil di samping kafe. “Tapi anehnya, aku pikir rasa sakitnya tidak akan sampai seperti ini. Ternyata aku salah.”

Hwang-Mi menepuk punggung tangan Hye-Na yang tertelungkup di atas meja pelan dan tersenyum menyemangati.

“Yang perlu kau lakukan bukan berusaha melupakan perasaanmu. Tapi berusahalah melanjutkan hidup dengan perasaan sakit itu sampai kau merasa terbiasa dan tidak lagi merasakan apa-apa. Itu akan lebih banyak membantu daripada kau memaksakan diri melupakannya. Itu sudah sifat manusia. Semakin kau berusaha melupakan seseorang, kau akan semakin mengingatnya, lalu hancur bersama ingatan itu.”

***

July 15, 2010

 

Hwang-Mi berdiri di sudut kafe. Matanya tertuju kepada Hye-Na yang sibuk mengelap permukaan meja di seberang ruangan. Dan anehnya, gadis itu sudah mengelap meja yang sama lebih dari 4 kali.

Sahabatnya itu memang sudah baikan. Sedikit. Padahal selama ini dia yakin bahwa nyaris tidak ada apapun yang bisa membuat seorang Han Hye-Na terganggu dan merasa stress. Tapi ternyata sederhana saja. Gadis itu hancur hanya karena patah hati. Klise sekali.

Dia selalu tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang sepintar dan penuh logika seperti Hye-Na, bisa terjerumus ke dalam hal bodoh seperti itu. Gadis itu bahkan tidak pernah tertarik pada pria manapun sebelumnya, tapi dengan tololnya malah terpesona pada seorang pria yang sudah jelas tidak akan pernah bisa didapatkannya.

Bahkan gadis itu tidak bisa bersikap seolah dia baik-baik saja saat para pembaca FF-nya berdatangan ke kafe untuk merayakan ulang tahunnya tadi. Dan ini adalah rekor terlama gadis itu tidak menyentuh laptopnya dan berkutat dengan imajinasinya.

Sejauh ini gadis itu normal selama tidak ada yang menyinggung nama Kyuhyun, tapi akan berubah 180 derajat jika ada yang menyebut nama pria itu, terutama tadi, saat para reader-nya itu datang dan menjatuhkan mood-nya ke tingkat terendah.

“Hye-Na~ya, aku akan membersihkan dapur, kau bersihkan ruang depan, oke?” seru Hwang-Mi yang dibalas dengan anggukan oleh Hye-Na.

Hye-Na berjalan ke teras depan kafe yang juga dipadati beberapa kursi dan meja untuk para pelanggan yang lebih suka udara luar. Kafe biasanya selalu penuh pada jam-jam istirahat dan makan malam, tapi walaupun begitu mereka selalu memutuskan tutup pada jam 10 malam karena alasan Hye-Na sebagai pemilik yang tidak bisa diganggu-gugat. Dia tidak mau waktu tidurnya berkurang hanya karena pekerjaan dan Hwang-Mi, sang koki, hanya bisa mengangguk setuju.

Gadis itu menyelesaikan pekerjaaannya dalam beberapa menit dan baru melangkah masuk ke dalam kafe saat mendengar pintu di belakangnya terbuka dengan suara pelan gemerincing lonceng yang berbunyi karena pintu yang bergeser.

“Mianhae, kafe kami sudah tu….”

Ucapannya langsung terhenti di kerongkongan saat matanya menatap fokus sosok di depannya. Pria itu mengenakan topi, masker, dan kacamata hitam yang benar-benar menutupi seluruh wajahnya sehingga tidak bisa dikenali. Tapi sosok itu begitu familiar, terlalu dikenalinya sampai tidak bisa membuatnya salah mengira.

Tanpa sadar gadis itu mundur ke belakang sampai menabrak meja dengan mata membelalak lebar. Dia tidak mungkin salah, kan? Tapi apa itu bukan hanya delusinya saja? Mungkin dia benar-benar sudah tidak waras dan berilusinasi bahwa pria itu ada di depannya. Mungkin….

“Cho… Kyuhyun… ssi?”

***

Hye-Na duduk di kursinya dengan posisi kaku seperti robot. Dia bahkan tidak berani menyentuh cangkir kopi di depannya sekedar untuk mencari kegiatan. Tangannya sendiri rasanya sudah membeku sehingga tidak bisa digerakkan. Tingkahnya nyaris seperti orang idiot. Atau dia memang idiot?

“Sepertinya kau punya cukup banyak penggemar,” komentar Kyuhyun, memecah keheningan.

“Mwo?” tanya gadis itu kebingungan.

“Kau pikir bagaimana caranya aku bisa disini sekarang kalau bukan karena salah satu dari mereka merecokiku tentangmu? Ah, ani. Aku tidak akan menjelaskannya dan memulai dongeng tentang alasanku datang kesini.”

“Aku juga tidak mau tahu,” tandas Hye-Na, mendadak mengumpati mulutnya sendiri yang selalu berbicara di luar kendali.

Kyuhyun menyeringai dan dengan santai bersandar di punggung kursi sambil melipat tangannya di depan dada.

“Ternyata kau memang seperti yang ada di FF-mu. Baguslah.”

Kali ini Hye-Na hanya bisa melongo parah mendengar ucapan pria itu.

“Kau… membaca FF-ku? Semuanya?” tanyanya syok.

“Aku sebenarnya hanya berniat membaca satu saja,” kilah pria itu. “Tapi aku malah tidak bisa berhenti. Kau,” ujarnya dengan tubuh yang condong ke depan. “Sejauh apa kau mengenalku?”

“A… pa?”

“Satu-satunya yang ada di otakku setelah membaca semua tulisanmu adalah… sejauh apa kau mengenalku? Bagaimana kau tahu banyak hal yang seharusnya tidak diketahui orang lain tentang sifatku? Tentang… bagaimana caraku memperlakukan seseorang yang aku sukai. Dan juga… dengan samaran seperti ini aku bahkan sudah berkali-kali lolos melewati ELF tanpa dikenali, tapi kau malah mengenaliku begitu saja seolah aku tidak memakai samaran apapun. Kau…,” ucap Kyuhyun sambil menarik nafas karena berbicara tanpa jeda. “Seperti sudah mengenalku seumur hidupmu. Kau bahkan bukan stalkerku, kan?”

“A… aku….”

“Sudahlah, tidak usah dijawab. Aku tidak keberatan.”

“Aku pikir kau datang kesini karena ingin memarahiku… atau sesuatu seperti itu… karena sudah menulis yang tidak-tidak tentangmu,” jawab Hye-Na akhirnya.

“Oh, ya?” gumam Kyuhyun dengan nada tidak peduli. “Aku kesini dengan alasan lain.”

“Ne?”

“Setelah membaca semua tulisanmu,” ucapnya ragu. “Kau sekarang menjadi wanita yang paling aku pahami… selain nuna-ku.” Pria itu tersenyum tipis dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke bibir cangkir. “Aku tahu semua hal detail tentangmu. Sifatmu… semuanya. Dan juga… aku ingin mencari tahu apa memang ada hidup sebahagia itu? Kisah cinta seperti itu? Kau menuliskannya seolah… aku memang seperti itu… hidupku akan berjalan seperti itu.”

“Maksud….”

“Hari ini ulang tahunmu, kan?”

Hye-Na mengangguk, dengan kepala yang mendadak terasa pusing. Kenapa dengan pria di depannya itu? Apa dia ternyata sedang bermimpi? Seharusnya ada yang membangunkannya sekarang atau dia benar-benar akan mati sebentar lagi.

“Bagus. Aku kesini karena ingin memberimu hadiah. Dan untuk yang satu ini, aku tidak mengizinkanmu menolaknya.”

“Mwo? Bukan sesuatu yang aneh, kan? Maksudku… mungkin saja kau….”

“Pacaran,” potong pria itu. “Denganku.”

***

“Bisakah kau pulang saja? Sekarang?” ujar Hye-Na, terdengar memohon dengan wajah memelas setelah akhirnya dia bisa menemukan pita suaranya lagi yang mendadak hilang karena ajakan yang sangat mengejutkan dari pria itu. Pasti bukan dia gila. Tapi pria di depannya itulah yang memang tidak waras.

“Mwo? Kau mengusirku? Yak!”

“Kalau kau lebih lama lagi disini aku bisa pingsan tiba-tiba, jadi… daripada mempermalukan diriku sendiri di depanmu, lebih baik kau pulang saja.”

Kyuhyun tertawa kecil saat mendengar pengakuan tidak tahu malu gadis itu, lalu mengangkat bahunya santai.

“Baik,” ucapnya seraya bangkit berdiri. “Dan,” lanjutnya, mengulurkan tangannya lalu meletakkannya di atas rambut Hye-Na, mengetuk-ngetuk kepala gadis itu dalam gerakan teratur. “Selamat ulang tahun… Na~ya.”

“AISSSSSSSH!!!!” teriak Hye-Na sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi dan berguling-guling di atas tempat tidur, diikuti tatapan prihatin dari Hwang-Mi yang hanya bisa menonton gadis itu dengan segala kebodohannya sejak setengah jam yang lalu.

“Dia memanggilku Na~ya dan kau tahu seberapa malunya aku? Aku bahkan sudah menuliskan puluhan adegan ciuman dengannya! Aish, aku bisa gila! Tidak tidak, aku memang sudah gila! OMOOOO!!!! Hwang-Mi~ya, apa yang harus aku lakukan?!!”

“Aku tidak mengerti denganmu. Seminggu yang lalu kau nyaris seperti orang yang mau bunuh diri karena patah hati, lalu sekarang kau seperti pasien rumah sakit jiwa yang hilang akal karena pria yang kau sukai dan tidak mungkin kau dapatkan malah datang sendiri kehadapanmu dan mengajakmu pacaran. Sebenarnya kau itu mau yang seperti apa, hah?”

“Tapi ini benar-benar tidak masuk akal! Bagaimana bisa dia datang ke kafe dan… dan… mengajakku pacaran?”

“Walaupun aku malas mengakuinya, sepertinya kau memang tidak pernah menyukai apa yang kau tulis. Tapi seharusnya kau tahu apa yang dirasakan orang yang membaca tulisanmu. Kau benar-benar membuat cerita dengan karakter yang seolah… hidup. Makanya tidak heran kalau Kyuhyun oppa sendiri merasa bisa mengenalmu hanya lewat cerita yang kau tulis saja. Dan tidak menutup kemungkinan dia akan jatuh cinta dengan karaktermu karena dia sendiri memiliki karakter yang sama seperti Cho Kyuhyun yang kau tulis di ceritamu.”

“Tapi Hye-Na~ya, apapun yang akan kau lakukan, kau harus ingat bahwa… dia masih seorang artis, dan kau masih gadis biasa. Kau harus mempersiapkan diri jika seandainya… semua ini tidak berhasil. Karena akibatnya akan lebih parah ratusan kali daripada yang kau alami kemarin. Aku… tidak bisa melihatmu seperti itu lagi. Aku bukan mengharapkan yang terburuk tapi… kau memang harus bersiap untuk segala kemungkinan. Karena sekali kau memutuskan untuk bersamanya, kau tidak bisa mundur lagi. Seperti hubungan pria dan wanita manapun… selalu hanya tersedia dua pilihan. Pernikahan. Atau perpisahan.”

***

July 24, 2010

 

Seolah melakoni sendiri semua kisah cinta yang pernah ditulisnya, dia masih saja terkagum-kagum dengan kenyataan betapa miripnya sosok pria itu dengan penggambaran karakter yang diciptakannya. Pria itu memang inspirasinya, tapi dia terlalu kaget untuk menerima bahwa Cho Kyuhyun yang sebenarnya memang seperti itu. Setan, menyebalkan, penggila game, seenak perutnya sendiri, over protektif, dan hampir-hampir tidak peduli dengan apapun di sekitarnya. Mereka berdua lebih tepat disebut musuh bebuyutan daripada sepasang kekasih. Hye-Na yang awalnya merasa ketakutan bahwa akan mempermalukan diri sendiri dengan terlalu mengagumi pria itu, dengan cepat mulai meralat pikirannya. Dia lebih sering terserang emosi daripada serangan cinta yang meluap-luap, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melongo menatap pria itu selama berdetik-detik, mensyukuri keberuntungannya yang tidak disangka-sangka itu.

Awalnya bahkan pria itu menolak keras mengenalkan Hye-Na pada member lainnya dengan alasan yang tidak jelas, tapi terpaksa mengakhiri kekeras-kepalaannya tersebut saat para member pulang ke dorm lebih cepat dari perkiraan pria itu semula dan mendapati mereka sedang berdebat keras karena Kyuhyun tidak menerima dirinya dikalahkan dalam permainan game yang sangat dikuasainya. Dan tidak tahu kenapa, Hye-Na merasa bahwa Kyuhyun berusaha menyembunyikannya, terutama dari Donghae dan Eunhyuk yang saat fanmeeting dulu sempat bertindak aneh terhadapnya. Kadang-kadang dia berpikir bahwa pria itu merasa malu memiliki kekasih sepertinya, tapi di sisi lain hal itu juga tidak masuk akal. Sikap pria itu lebih terlihat seperti seseorang yang sedang cemburu dan tidak mau barang miliknya dirampas. Tapi Hye-Na tidak pernah memikirkannya terlalu jauh. Dia terlalu sibuk untuk mengajarkan dirinya agar tidak bereaksi terlalu berlebihan dengan kehadiran pria itu di dekatnya, dan hal itu benar-benar menghabiskan seluruh energinya.

Dan sebagai tambahan, pria itu benar-benar manja. Apalagi setelah dia menjalani operasi telinga dan kerjanya hanya tidur-tiduran di dorm saja. Dia dengan seenaknya menyuruh Hye-Na melakukan segala hal untuknya dengan wajah yang sok memelas dan kesakitan seperti orang tua renta yang tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti sekarang, saat dia berteriak menyuruh Hye-Na mengambilkan remote TV yang hanya berjarak sejengkal tangan dari tubuhnya.

“KAU KAN BISA MENGAMBILNYA SENDIRI!!!” teriak gadis itu habis kesabaran, nyaris melempar PSP di tangannya saking kesalnya, tapi langsung teringat betapa mahal dan berharganya benda kesayangannya itu. Sia-sia sekali jika harus rusak hanya karena pria menyebalkan yang mengaku-ngaku menjadi kekasihnya itu.

“Aish, jangan berteriak-teriak di dekatku. Kau mau merusak gendang telingaku lagi, hah? Bagaimana kalau aku jadi benar-benar tuli? Kau mau tanggung jawab?”

Hye-Na mengulurkan tangannya dan dengan sadis menarik perban yang menutupi telinga pria itu dari tempatnya lalu membuangnya sembarangan.

“Tidak usah berakting di depanku! Perbanmu itu sudah dibuka dari kemarin, jadi permainan majikan dan pembantu kita selesai.”

Kyuhyun langsung memasang raut wajah sok polos yang tidak bisa membodohi siapapun lalu nyengir tidak berdosa.

“Oh, ya? Ah, sepertinya aku lupa,” ucapnya asal dan lagi-lagi dengan seenaknya menyandarkan sisi tubuhnya ke tubuh Hye-Na dengan tangan yang terlipat di depan dada. Jelas bahwa pria itu baru saja menemukan posisi nyamannya yang biasa untuk menonton TV.

“Kau bisa geser sedikit tidak? Aku tidak bisa menggerakkan tanganku! Kau tidak lihat kalau aku sedang main?” protes Hye-Na sambil menggoyang-goyangkan bahunya agar kepala pria itu beranjak dari sana.

“Ya sudah, tidak usah main,” sahut Kyuhyun sambil merebut PSP gadis itu dan melemparnya ke atas meja, membuat mata Hye-Na membelalak lebar. Pria itu selalu berniat mencekiknya kalau Hye-Na memperlakukan PSP-nya dengan tidak sopan, tapi lihat apa yang dilakukan pria itu sekarang? Pria itu bahkan tidak bersikap sopan pada PSP miliknya!

“Tidak ada acara yang bagus,” gumam Kyuhyun, bosan dengan kesibukannya mengutak-atik channel TV. Dia menoleh ke arah Hye-Na dan tersenyum puas melihat gadis itu menatapnya dengan sorot mata membunuh. Menggoda gadis itu selalu menjadi hal yang menyenangkan, terutama karena dia tahu apa saja yang bisa membuat gadis itu kesal. Dan Hye-Na berkali-kali mengutuki ketololannya yang menyertakan semua hal yang dia sukai dan yang tidak dia sukai dalam cerita yang ditulisnya.

“Lagu apa yang ada di playlist-mu?” tanya Kyuhyun penasaran, melirik mp3 kecil yang selalu dibawa Hye-Na kemana-mana. Pria itu menarik salah satu headset yang menempel di telinga Hye-Na, sekaligus mp3 dipangkuannya, bermaksud memeriksa isinya.

“Yang pasti bukan lagumu,” jawab gadis itu dengan nada puas.

Dan memang bukan. Satu-satunya lagu yang ada di mp3 itu hanya sebuah lagu berjudul If It’s You, yang sudah didengarnya jutaan kali tanpa merasa bosan sama sekali.

“Kau… aish,” umpat pria itu tidak percaya. “Kau punya kekasih seorang penyanyi, tapi kau bahkan tidak punya laguku satupun di playlist-mu? YAK, HAN HYE-NA!”

“Waaaaaaaaae? Itu bukan kewajiban, kan? Kecuali kalau kau menyanyikan lagu itu, aku mungkin akan menyimpannya.”

“Aku tidak sudi!” dengus Kyuhyun kesal.

“Kau kekanak-kanakan sekali.”

“Apa kau bilang?”

“Kau. Kekanak-kanakan.”

“Lalu kenapa, hah? Seharusnya kau sudah tahu, kan? Kau bahkan senang sekali menuliskan adegan dengan karakterku yang seperti itu dalam ceritamu.”

Wajah Hye-Na langsung memerah mendengar ucapan pria itu. Dia sudah berkali-kali meminta, bahkan nyaris memohon agar pria itu berhenti membaca tulisannya, tapi seperti biasa, mana pernah Cho Kyuhyun mau mendengarkannya.

“Kau masih membacanya?”

“Tentu saja,” ujar Kyuhyun sambil menyeringai. “Aku harus tahu kan apa isi otak gadisku tentang aku? Dan,” ujarnya, memotong ucapannya untuk memperlihatkan wajahnya yang menyebalkan pada Hye-Na. “Kau sepertinya tidak pernah memberitahuku bahwa kau tergila-gila padaku sampai seperti itu. Ah, dan itu juga… ada terlalu banyak adegan ciuman,” ucap Kyuhyun sambil mendekatkan wajahnya. “Kau tidak berniat mempraktekkannya denganku, kan?”

“MWO?” seru Hye-Na syok, sampai tubuhnya membeku di tempat.

“Aigoo, apa saja yang sudah kau pikirkan tentangku?” tanya Kyuhyun sambil menyilangan kedua tangannya di depan dada, seolah-olah Hye-Na akan menyerangnya tiba-tiba. “Adegan mesum seperti apa yang sudah kau lakukan denganku di otak liarmu itu? Eo?”

“Kau…” geram Hye-Na, terlalu malu untuk bisa menyemburkan caci-makinya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan meluncurkan pembelaan dirinya dalam satu tarikan nafas. “Aku tidak berencana disentuh olehmu dengan senang hati.”

Anehnya kali ini Kyuhyun meresponsnya dengan raut wajah serius.

“Bagus,” sahut pria itu dengan nada yang anehnya kedengaran lega. “Karena aku tidak tahu sampai sejauh mana aku bisa bertahan hanya dengan menciummu saja. Dan aku belum berniat mencari tahu. Itu bisa berbahaya untukmu. Jadi berhati-hatilah, Nona Han.”

***

July 25, 2010

 

Hye-Na berusaha untuk menekan rasa ngerinya ke standar paling minimum saat tubuhnya mulai terdesak-desak oleh ratusan fans lainnya yang berebut ingin memasuki lokasi konser. Kalau pria itu tidak mengancam tidak akan mengembalikan PSP-nya yang dia sita, dia tentu saja lebih memilih duduk-duduk di kafe sambil mengetik di depan laptopnya, bukannya tergencet-gencet di tempat ramai seperti ini.

Gadis itu mencoba mundur dan membiarkan orang-orang itu mendahuluinya, tapi dia malah terbawa arus dan terdorong ke depan sampai tergencet ke sisi pintu yang terbuka dan membuat lengan atasnya terhantam bagian handle pintu yang tumpul.

Gadis itu meringis dan memegangi lengan atasnya yang terasa sangat nyeri dan sepertinya akan menimbulkan luka memar. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuknya dengan jarum dan rasa perihnya menyebar dalam waktu yang lama.

Sial. Inilah kenapa dia benci sekali datang ke konser. Dengan keberuntungannya yang biasanya sangat buruk, kejadian macam ini sudah pasti akan terjadi.

***

“TIDAK COCOK KAU BILANG?”

“Tentu saja. Kau pikir kau cocok berakting sok manis begitu? Terima saja kodratmu sebagai setan! Tidak usah mencoba-coba menjadi malaikat,” komentar Hye-Na sadis saat Kyuhyun menanyai pendapatnya tentang konser ‘No Other’ mereka tadi.

“MWORAGO? Aish, yak, kau ini pacarku atau bukan, hah?”

“Nah, karena posisi itu makanya aku mengatakan yang sebenarnya. Kau. Lebih. Baik. Tetap. Jadi. Setan. Saja,” tandas Hye-Na sambil melangkah masuk ke dalam kafenya yang sudah tutup. Dia meninggalkan laptopnya disana tadi siang, dan lupa memberitahu Hwang-Mi untuk membawanya pulang.

“Kau mau mati di tanganku, hah?” sergah Kyuhyun sambil memegangi lengan Hye-Na, membuat ringisan kesakitan tanpa bisa dicegah lolos dari mulut gadis itu. Kyuhyun dengan refleks melepaskan cekalannya dan menyipitkan mata menatap gadis di depannya itu.

“Kenapa tanganmu?” tanya pria itu tajam dan tidak mau menghabiskan waktu untuk menunggu jawaban dari Hye-Na karena dia langsung menarik lengan kemeja Hye-Na ke atas dan menghembuskan nafas kasar saat luka memar yang sudah membiru itu berada dalam penglihatannya.

“Bisa jelaskan padaku? Aku rasa kemarin tanganmu masih baik-baik saja,” ujar pria itu dengan bibir terkatup rapat.

“Hanya kecelakaan kecil saat konser tadi. Kau kan tahu ada banyak fans, dan mereka berdesak-desakan. Aku tidak sengaja terdorong dan terhantam pintu. Paling besok juga sudah sembuh. Tidak usah dibahas.”

“Masalahnya Na~ya,” ucap Kyuhyun geram. “Kau harus tetap utuh selama bersamaku. Apa kau belum cukup mengenalku sampai tidak tahu reaksiku tentang hal ini? Sengaja atau tidak, mereka membuatmu terluka. Jadi mulai sekarang, kau tidak usah datang ke konser kami lagi. Apapun alasannya.”

***

August 7, 2010

 

“Astaga, apa yang sedang kau lakukan disini?” seru Hye-Na tertahan, berusaha menghalangi jalan masuk Kyuhyun ke dalam kafenya. Gadis itu berkali-kali melirik ke belakang, memastikan bahwa beberapa orang pembaca blog-nya yang hari ini datang untuk sarapan di kafe, tidak menyadari kedatangan Kyuhyun yang tiba-tiba. Untung saja pria itu mengenakan penyamaran lengkap, kalau tidak, dia tidak tahu bencana besar apa yang akan menghantamnya.

“Sarapan,” jawab Kyuhyun pendek sambil mendorong tubuh gadis itu agar dia bisa masuk.

“Kau tidak boleh masuk, bodoh! Ada banyak penggemarmu disini.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya dan sesaat kemudian sebuah pemahaman seolah terlintas di wajahnya.

“Penggemarku atau penggemar… kita?” selidiknya dengan raut wajah geli.

“M… MWO?”

“Aku rasa aku banyak membaca sesuatu tentang… “Onnie, aku setuju kalau kalian benar-benar jadian di dunia nyata”,” tiru Kyuhyun dengan nada yang membuat Hye-Na ingin sekali memukul kepala pria itu keras-keras.

“Itu hanya khayalan mereka, bodoh!”

“Khayalan? Kau pikir aku ini khayalan?” ejek Kyuhyun. “Ngomong-ngomong, apa mereka yang duduk disana itu dekat denganmu?” tanyanya sambil mengedikkan dagu ke arah pembaca-pembaca Hye-Na yang duduk di sudut.

“Lumayan. Memangnya kau mau apa?”

“Bagus,” tandas pria itu, tanpa berkata apa-apa menarik tangan Hye-Na ke arah kursi yang diduduki gadis-gadis tersebut.

“Yak! Neo michyeosseo?” seru Hye-Na dengan suara pelan saat menyadari apa yang akan dilakukan Kyuhyun. Dia baru akan berusaha menghentikan Kyuhyun saat pria itu dengan seenaknya membuka masker, topi, dan kacamata hitamnya, membuat suasana yang tadinya ribut langsung hening seketika.

“Kyuhyun oppa… Hye-Na~ya… kalian….”

Hye-Na meringis saat Sang-Ra, salah satu reader yang dekat dengannya, akhirnya menemukan pita suaranya lagi setelah kehadiran Kyuhyun yang membuat syok itu. Gadis itu, dan gadis-gadis lainnya, menatapnya menuntut penjelasan.

“Aku….”

“Kami pacaran. Aku rasa kalian tidak akan keberatan, kan?”

Hye-Na merasakan aura di sekelilingnya berubah-ubah, silih berganti dari rasa terkejut yang menyerang, berlanjut dengan usaha untuk memahami ucapan Kyuhyun barusan, dan euforia yang menyebar setelahnya.

“Dan ini rahasia,” lanjut Kyuhyun dengan nada penuh peringatan. “Aku tidak mau dia dalam bahaya kalau berita ini sampai tersiar keluar. Kalian mengerti?”

***

Hye-Na tersenyum simpul melihat status-status dari reader-nya yang datang ke kafe tadi siang. Mereka tidak tahan untuk tidak pamer, tapi berhubung mereka dilarang memberitahu siapapun, jadi yang bisa mereka lakukan hanya berkoar-koar di akun sosial pribadi mereka dan menyebutkan bahwa “KyuNa is REAL”, “NO SEOKYU, NO KYUTORIA, BUT KYUNA.” Dan Hye-Na hanya bisa menunggu ada berapa orang antis lagi yang akan didapatkannya gara-gara itu.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Kyuhyun sambil duduk di samping Hye-Na dan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. Pria itu melongok ke layar ponsel Hye-Na dan menyeringai saat melihat apa yang membuat gadis itu tersenyum.

“Ckckck, mereka sesenang itu?” ucapnya geli, dengan iseng mengetuk-ngetukkan jari-jarinya lagi ke puncak kepala Hye-Na.

“Mana kopiku?” tagih Hye-Na saat melihat Kyuhyun hanya membawa satu cangkir kopi saja bersamanya.

“Yak, kau sudah menyuruhku melayani diri sendiri di kafe ini dan sekarang kau juga berniat menjadikanku pembantumu? Bermimpi saja kau, Han Hye-Na!”

“Dasar pelit! Setiap aku ke dorm-mu juga kau tidak pernah mau membuatkanku kopi.”

Kyuhyun mencibir. “Aku tidak pernah sebaik itu.”

“Bagaimana mungkin ada orang yang bisa bertahan bersamamu?”

“Buktinya ada jutaan wanita di luar sana yang mengantri untuk mendapatkan posisimu.”

“Itu karena mereka tidak tahu manusia seperti apa kau sebenarnya.”

“Berarti yang bodoh itu kau. Sudah tahu aku bagaimana, kau masih saja bertahan disampingku.”

Hye-Na menghela nafas kesal. Kapan pria itu tidak akan menemukan sesuatu untuk mendebatnya?

“Aku sedang berpikir-pikir untuk meninggalkanmu.”

“Oh, ya?” ucap Kyuhyun dengan nada sangsi. “Aku tidak memberimu izin.”

“Apa hakmu melarang-larangku, hah?”

“Ada satu situasi yang bisa membuatku membiarkanmu pergi, kalau kau mau tahu.”

“Apa?” tanya Hye-Na tertarik.

“Kalau kau terluka terlalu banyak karena bersamaku,” ujar pria itu enggan. “Aku akan melepaskanmu.”

***

August 15, 2010

 

 

“Kau yakin Kyuhyun mengizinkanmu datang? Maksudku… kalau dia memang mau kau datang, pasti dia sendiri yang akan menyediakan tiket untukmu. Dia tidak akan membunuhku karena ini, kan?”

Hye-Na tertawa mendengar protes kekanak-kanakan Donghae yang baru menyadari situasinya. Seharusnya pria itu menyadarinya dari kemarin saja, bukan sekarang saat Hye-Na sudah menerima tiketnya.

“Tidak apa-apa, oppa. Kau kan tahu dia tidak sebaik itu. Mana mau dia memberikan tiket secara cuma-cuma untukku. Lagipula aku kan sudah bilang mau beli tiket sendiri, tapi kau malah menyediakan tiket gratis untukku. Ya sudah kuterima saja.”

“Karena aku baru ingat kalau aku pernah bertanya padanya kenapa kau tidak pernah datang menonton kami lagi, lalu dia bilang dia memang melarangmu datang ke konser dengan alasan apapun. Dan aku benar-benar panik sekarang.”

“Sudahlah. Selagi kau tidak memberitahu dia kan tidak masalah. Aku bisa memberitahunya bahwa aku pergi membeli tiket sendiri kalau aku ketahuan.”

“Dasar keras kepala. Ya sudahlah, tapi kau harus hati-hati. Hanya luka kecil kemarin saja dia sudah uring-uringan seharian di dorm. Lebih baik kau tidak mencari masalah lagi. Dia… sedikit sensitif tentang keselamatanmu. Arasseo?”

“Ne,” jawab Hye-Na sambil tersenyum lebar mendengar ucapan Donghae. “Arasseo.”

Gadis itu memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas dan lagi-lagi menghela nafas keras saat melihat perjuangan yang akan dilaluinya di depan. Super Show 3 hari pertama. Yang berarti penuh dengan puluhan ribu ELF yang berdesak-desakan. Salah satu neraka dunianya. Tapi sayangnya, dia benar-benar ingin menonton konser tunggal mereka kali ini dan dia tidak memerlukan ancaman Kyuhyun untuk datang. Jadi ini hanya salah satu rintangan super besar yang harus dilewatinya.

Dia seharusnya bisa melalui semua ini dengan selamat, kan?

***

“Aku kan sudah bilang kalau kau tidak boleh datang!”

Hye-Na menjauhkan ponselnya dari telinga sambil menggertakkan giginya kesal.

“Aku masih baik-baik saja sampai sekarang. Kau tidak usah berlebihan.”

“Sebelum kau sampai di rumah, itu namanya kau belum baik-baik saja, bodoh!”

Hye-Na berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terdorong-dorong karena desakan orang-orang yang akan keluar gedung. Fokus gadis itu terbagi antara pria yang sedang meneriakinya di telepon dan mencari pegangan agar dirinya tidak terjatuh dan diinjak-injak ratusan manusia di belakangnya.

Gadis itu berusaha menyingkir ke pinggir dan untuk sesaat dia cukup terbebas, tapi kemudian beberapa orang gadis seolah dengan sengaja memanfaatkan kesemrawutan itu untuk mendorongnya menjauh dari pintu keluar, menuju dinding-dinding yang dipenuhi tempelan pengumuman dan beberapa poster.

Dia tidak mengenali gadis-gadis itu, tapi perasaan buruk langsung menghampirinya saat melihat arah tujuan mereka. Ada beberapa paku di dinding yang sengaja diruncingkan untuk memudahkan orang menggantungkan kertas disana. Sial, mereka tidak bermaksud mencelakainya, kan?

Berbagai kemungkinan melintas di pikirannya dan satu-satunya yang masuk akal hanyalah… gadis-gadis yang mendorongnya itu adalah orang-orang yang membencinya. Hal yang biasa di dunia per-FF-an, tapi seharusnya tindakan mereka tidak perlu seekstrim ini, kan?

Dia berusaha menahan dorongan-dorongan itu dan mencoba melangkah ke arah lain, tapi sudah pasti bahwa kekuatan satu orang tidak akan bisa mengalahkan kekuatan lebih dari 7 orang yang memang berniat mencelakainya.

“Na~ya?”

Gadis itu baru tersadar bahwa dia masih terhubung dengan Kyuhyun di ponselnya. Dia baru saja berniat mengucapkan kata tolong saat salah satu dari paku-paku itu menggores kulitnya dan merobek daging lengan bagian atasnya, terus terbenam cukup dalam sehingga yang bisa Hye-Na keluarkan dari mulutnya hanyalah teriakan kesakitan yang terasa tidak tertahankan. Tapi di detik yang sama dia juga merasa terbebas dari himpitan gadis-gadis tadi, hanya saja dia tidak bisa memfokuskan penglihatan kesekelilingnya. Yang dia tahu hanyalah teriakan Kyuhyun di telinganya dan tangan kirinya yang terangkat ke atas, menyentuh lengan kanannya, membuatnya langsung merasa mual melihat darah yang memenuhi telapak tangannya.

Sial. Seumur hidup, dia tidak pernah suka melihat darah. Cairan merah itu membuatnya pusing.

***

“Kau yakin tidak mau melaporkan ini ke polisi? Ini sudah tergolong tindakan kriminal, Hye-Na~ya. Kau tidak bisa diam saja.”

“Sudahlah, biar saja,” sahut Hye-Na lemah yang langsung direspons dengan tatapan tidak suka dari Hwang-Mi.

“Apa aku benar-benar harus menginap disini? Aku tidak suka rumah sakit.”

“Dokter bilang kau harus istirahat selama 3 hari sampai lukanya mengering. Aku lebih suka kau tidak dibius saat dokter menjahit lukamu tadi, jadi kau bisa pingsan dan tidur lebih lama dan tidak mulai merecokiku dengan keinginanmu untuk pulang.”

“Teman macam apa kau?” dengus Hye-Na sambil melirik perban yang melingkari lengan kanannya. Dia harus mendapatkan 14 jahitan untuk menutupi lukanya yang untung saja tidak mengenai sesuatu yang berbahaya. Dan menurutnya dia memang bersikap tolol dengan tidak melaporkan masalah itu ke polisi. Hanya saja, dia tidak suka jika harus berurusan dengan orang-orang berseragam itu. Yang penting kan dia tidak sekarat.

Pintu terbuka dan beberapa orang pria masuk dengan ribut. Dan yang bisa disadarinya beberapa detik kemudian hanyalah wajah Donghae yang tepat berada di depan lukanya, memandangi lengannya itu dengan raut wajah cemas.

“Aku sudah tahu bahwa akan begini jadinya. Aku pasti mati saat sampai di dorm nanti. Apa yang terjadi padamu, hah?”

“Sepertinya anti fansnya berusaha mencelakainya,” sahut Hwang-Mi yang tidak memedulikan tatapan peringatan dari Hye-Na.

Hye-Na menyerah kalah saat Hwang-Mi mulai sibuk menceritakan kejadian yang menimpanya dan memilih mengalihkan pandangannya pada pria yang berdiri diam di sudut, menjauh dari ranjang tempat Hye-Na berbaring, sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk sekedar berniat mendekat dan menanyai keadaannya.

Pria itu menatapnya dengan sorot mata intens, seolah sedang melakukan pengamatannya sendiri untuk memutuskan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak. Tatapan mata itu kemudian berhenti lama tepat di mata Hye-Na, seakan-akan mereka sedang melakukan percakapan pribadinya sendiri yang hanya mereka saja yang tahu.

Saat itu, di detik yang terasa menegangkan itu, Hye-Na tercekam ketakutan yang tidak beralasan tentang sesuatu yang rasanya akan menghampirinya. Sesuatu yang bahkan jauh lebih buruk daripada setumpuk luka sialan di lengannya itu. Pria itu seperti mengekang diri, ada selubung yang tiba-tiba tidak dapat ditembusnya, seolah-olah pria itu memang ada disana, tapi tidak bisa dijangkaunya.

Sesuatu menarik-narik pikirannya, berusaha mengingatkannya tentang sesuatu. Pertanda yang buruk. Tapi otaknya terlalu lelah untuk mengingat dan biusnya yang masih tersisa membuat matanya terasa berat.

Mendadak dia merasakan kebencian yang sangat terhadap siapapun yang sudah melakukan hal ini padanya. Jika sesuatu terjadi, dia yakin bahwa dia akan mengutuki orang-orang tersebut seumur hidupnya. Bahkan dia tidak akan puas jika mereka semua hanya tersiksa di neraka.

***

August 17, 2010

 

“Dokter bilang kau sudah boleh pulang kalau perbanmu selesai diganti. Kau mau aku memanggil suster atau aku sjaa yang menggantikannya untukmu?” tanya Hwang-Mi sambil mengumpulkan barang-barang Hye-Na di atas sofa.

“Biar aku saja.” Sebuah suara berat menyahut dari arah pintu, membuat mereka berdua menoleh.

“Ah, Kyuhyun ssi. Baiklah. Kalau begitu aku ke bawah dulu,” ucap Hwang-Mi sambil mengedip ke arah Hye-Na, lalu bergegas meninggalkan kedua orang itu berdua.

“Bukankah hari ini hari istirahatmu? Kau tidak lelah? Aku kan sudah bilang kalau kau tidak perlu kesini.”

“Karena libur makanya aku kesini, bodoh,” ujar Kyuhyun sambil menarik salah satu kursi ke sisi tempat tidur dan menyusun baaskom berisi air hangat yang sudah tersedia, lap kecil, disinfektan, tube berisi salep luka, perban, gunting, dan beberapa plester di atas meja. Pria itu menarik tangan Hye-Na ke arahnya dan mulai melepaskan perban yang membalut lengan gadis itu.

“Aku sudah menyelidiki,” ucap Kyuhyun tanpa menatap Hye-Na, berpura-pura fokus pada pekerjaannya. “Entah bagaimana mereka tahu bahwa kita memiliki hubungan dan mereka tidak suka kalau kau pacaran denganku, jadi mereka bermaksud memberimu pelajaran.”

“Kau…” ucap Hye-Na terbata-bata, merasa terlalu syok mendengar penjelasan pria itu. “Kau tidak menemui mereka, kan?”

“Tidak juga. Aku menyuruh seseorang membereskannya untukku.”

“Memberes… apa maksudmu?”

“Hanya peringatan kecil. Tapi cukup untuk membuat mereka merasa ketakutan seumur hidup. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kau sudah gila, hah?”

Kyuhyun mengambil perban dari atas meja dan mulai membalut luka Hye-Na yang sudah dibersihkan dan diberi obat luka itu. Pria itu menyelesaikan pekerjaannya tanpa menjawab pertanyaan gadis tersebut, mengepak peralatan itu kembali ke dalam tas kecil, sebelum akhirnya beranjak dari kursinya dan pindah ke sisi ranjang yang cukup lebar untuk didudukinya.

Tangan pria itu menjangkau kepala Hye-Na, mengacak-acak rambut gadis itu kemudian mulai melakukan kegiatan favoritnya lagi, mengetuk-ngetukkan jarinya di puncak kepala Hye-Na. Dia menatap wajah gadis itu lama, membuat Hye-Na merasa pria itu sedang merekam wajahnya baik-baik dalam ingatan, seolah dia memiliki batas waktu yang nyaris habis untuk melihat wajah tersebut.

“Wae?” tanya Hye-Na dengan persediaan oksigen yang semakin menipis.

Kyuhyun menjawab dengan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Dan saat bibir pria itu menyentuh bibirnya, akhirnya dia mendengar suara ‘klik’ nyaring bergema di kepalanya, menyatukan semua puzzle yang membingungkannya selama dua hari terakhir.

Ciuman pria itu terasa lemah, putus asa, penuh rasa frustrasi, bahkan saat pria itu memiringkan wajahnya dan menarik tengkuk Hye-Na agar lebih mendekat. Rasanya seperti ciuman pertama yang menggebu-gebu, sekaligus ciuman terakhir yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak akan ada waktu untuk melakukannya lagi. Karena mereka tidak akan berhak melakukannya lagi lain kali.

Saat itu, Hye-Na merasa tercekik oleh nafasnya sendiri dan dia hampir-hampir tidak menyadari bahwa ciuman mereka terasa basah karena air matanya. Yang dia tahu hanya dia harus mengingat momen ini, harus menahan saat-sat ini selama yang dia mampu. Jadi yang bisa dia lakukan hanya membalas ciuman pria itu dengan rasa tertekan yang sama, mengabaikan rasa asin di lidah mereka yang kemudian disadarinya bukan hanya berasal dari air matanya, tapi juga air mata pria itu sendiri.

Saat pria itu melepaskannya kemudian, pria itu menarik punggungnya mendekat dan membenamkan wajahnya di cekungan leher gadis itu, menyembunyikan wajahnya yang basah dan air matanya yang belum sepenuhnya mengering, saat-saat dimana pria itu merasa bahwa dia berada dalam titik terlemah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya.

Hye-Na merasakan kepala pria itu bergerak sedikit, tangan pria itu yang mencengkeram bajunya, bau pinus manis yang menguar di sekitarnya, dan bibir pria itu yang berada di dekat telinganya, mengucapkan permintaan maaf lirih yang sangat dia pahami maksudnya.

Detik itu, satu kalimat terus-menerus terngiang di telinganya, seperti mantera yang membunuhnya. Sedikit demi sedikit.

“Kalau kau terluka terlalu banyak karena bersamaku… aku akan melepaskanmu.”

***

September… October…

 

 

Yeojaneun geuraeyo heeojyeotdago

Swipge dareun sarameul saranghaji motaeyo

Momeun tteoreojyeo bolsu eopda haedo

Maeumi nochil motaeyo

(Inilah yang terjadi saat wanita berpisah dengan kekasihnya

Kami tidak bisa dengan mudah jatuh cinta lagi pada orang lain

Meskipun secara fisik kami terpisah dan tidak bisa melihat pria itu

Hati kami tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja)

Yeojaneun yakhaeyo dokhan cheokhaedo

Swipge chueogeul itgo saragaji motaeyo

Ajik geu saram jeonhwabeonhojocha

Jiuji motan babonikkayo

(Wanita sebenarnya lemah meskipun kami berpura-pura terlihat kuat

Kami tidak bisa melupakan kenangan-kenangan masa lalu dan melanjutkan hidup dengan mudah

Karena kami menjadi orang idiot yang bahkan tidak bisa menghapus nomor pria itu dari kontak)

Geu moksori neomu deutgo sipeoseo

Geu eolgul bogo sipeoseo

Nuni butdorok maeil peongpeong ureoyo

(Karena kami ingin medengarkan suara pria itu setengah mati

Karena kami ingin melihat wajah pria itu

Kami menangis setiap hari sampai mata kami bengkak)

September dan Oktober berlalu dalam musim gugur yang penuh hujan, memberinya pertahanan diri yang sangat kuat. Dalam tahap yang mengkhawatirkan.

Dia menghabiskan waktu di kamar, mengurung diri tanpa melakukan apa-apa. Berhenti menulis. Berhenti berimajinasi. Satu-satunya yang bisa dia tunggu hanya hujan yang seringkali datang, memberinya waktu untuk keluar rumah, berdiam diri di halaman yang basah, menerimah curahan air dari langit itu dengan penuh syukur. Hujan… tidak seperti gerimis yang menenangkan, memberinya tempat untuk melupakan gengsi dan kontrol dirinya. Hujan… seolah datang untuk menyamarkan tangisnya yang rasa-rasanya tidak pernah berhenti.

Dia selalu menantikan efek yang akan didapatkannya setelah berhujan-hujanan seharian. Kepalanya akan terasa sangat pusing dan imun tubuhnya melemah sehingga di hari berikutnya dia hanya bisa berbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tidak punya kekuatan bahkan untuk sekedar mengingat dan berpikir. Dia akan menghabiskan waktu untuk tidur, saat-saat dimana dia terlindung dari ingatan-ingatan menyakitkan tentang masa-masa terindah dalam hidupnya.

Tapi tidur juga merupakan mimpi buruknya. Ada begitu banyak mimpi menyeramkan yang membuatnya berteriak dan terbangun dalam keadaan bersimbah keringat. Saat itu terjadi, dia hanya bisa menggantungkan harapan pada obat tidur yang mulai rutin dikonsumsinya.

Pada masa-masa kering, dia menghabiskan waktu memandangi layar ponselnya yang memperlihatkan nomor pria itu, tercabik antara keinginan untuk menghapus dan desakan untuk menghubungi nomor tersebut. Dia tidak memedulikan kekhawatiran Hwang-Mi, pembaca-pembacanya yang berdatangan menanyakan keadaannya ke kafe, ataupun ibunya yang setiap malam menelepon karena mencemaskannya. Dia benar-benar menutup diri dari dunia luar, hanya pergi untuk kuliah sebelum akhirnya pulang dan mengunci diri lagi di dalam kamar.

Kesibukan kuliah cukup banyak membantunya. Dia merasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Dia selalu melupakan apa yang baru saja dilakukannya beberapa menit setelah hal itu terjadi. Dia seolah melupakan memori-memori baru yang berusaha masuk ke otaknya, karena pertahanan kuat memori-memori lamanya yang tidak mau didorong ke bagian belakang ingatannya, bercokol di tempat yang sama seperti virus yang tidak mau dimusnahkan.

Terkadang dia baru tersadar bahwa dia sudah berada di rumah, tidak ingat kapan jam-jam kuliahnya berakhir dan kenapa dia bisa sampai di kamarnya, melupakan ingatan bahwa dia menaiki bis dan berjalan seperti mayat hidup agar bisa sampai ke rumah. Dia tidak ingat lagi apakah dia sudah makan atau belum, apakah dia sudah mengerjakan tugas-tugasnya, atau hal-hal sepele lainnya. Dia tidak bicara dengan siapa-siapa, menutup pintu sosialisasinya rapat-rapat sehingga dia tinggal sendirian. Rapuh dan kesepian.

Seumpama bunga yang berjaya pada musim seminya, lalu kemudian layu, gugur, dan tercampakkan, diinjak-injak tanpa sisa, dia merasa hidupnya perlahan mulai turun ke level terendah. Dia hidup, tapi nyaris tanpa arwah. Seperti robot yang diprogram untuk melakukan apa yang biasa dia lakukan, tapi tidak memiliki perasaan untuk merasa atau menyadari keadaan di sekitarnya. Persis seperti apa yang pernah dikatakan Hwang-Mi padanya.

“Seolah-olah bukan karena ada seseorang yang pergi, tapi seolah-olah ada yang mati dan kau benar-benar tidak bisa melihatnya lagi. Dia masih hidup, hanya tidak dapat kau jangkau, tapi kau bersikap seolah dia sudah mati, dan satu-satunya yang bisa kau tatap hanya nisannya saja. Kau menolak untuk menerima kenyataan, hancur bersama tubuhnya yang mulai menyatu dengan tanah. Dia hanya pergi Hye-Na~ya, bukan mati.”

Tapi rasanya benar-benar seperti… menghadapi kematian yang tak terelakkan. Kau sudah bersiap untuk setiap kemungkinannya, tapi saat hal itu terjadi, dia masih sanggup memukulmu sampai ke tahap paling menyakitkan. Rasanya seperti ada lubang besar yang bernanah di dalam dadanya, membuatnya sulit bernafas dan hanya bisa menahan sakitnya sendirian.

Untuk beberapa waktu, kapanpun dia keluar dari zona amannya, dia selalu berusaha tampak kuat, tapi bahkan untuk sekedar berpura-pura pun rasanya terlalu sulit. Otak dan tubuhnya tidak mengizinkannya melakukan hal seperti itu. Dia sanggup menghabiskan waktunya untuk melamun tanpa tahu apa yang harus dia lamunkan dan tidak menyadari kehadiran orang-orang disekelilingnya.

Waktu… terus berlalu seperti itu. Cepat… tak terasa… dan tidak pernah kembali.

***

November… December… January…

 

Namjado unayo

Ibyeore apahagin hanayo

Michil deut geuriwo sogeuro heuneukkigin hanayo

Na honja apeugo naman seulpeun geot gata

Mutgo sipeoyo geudaen gwaenchanheun gayo

(Apakah pria menangis juga?

Apakah mereka merasa sakit karena perpisahan juga?

Apakah mereka diam-diam menangis karena mereka merindukan wanitanya setengah mati?

Karena rasanya seolah hanya aku saja yang kesakitan… seolah hanya aku saja yang merasa sedih

Aku ingin bertanya, apakah kau benar baik-baik saja?)

Chueogeul da hearil su eobseoseo

Miryeoni heulleo neomchyeoseo

Ajik sarangi nama honja ureoyo

(Karena aku merenungi setiap kenangan yang kita lewati

Karena perasaanku tetap hidup dan meluap

Karena cintaku masih tersisa dan aku menangisinya sendirian)

Dia memperbaiki dirinya. Entah bertambah baik… atau malah bertambah buruk, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia hanya mulai mencari segala berita, segala hal yang bisa didapatkannya tentang pria itu. Menonton video-video pria itu seharian, menyuapi rasa sakitnya dengan asam yang menetes-netes dan terasa membakar, berpikir bahwa akan tiba saat dimana dia menjadi imun dan rasa sakit itu tidak menghancurkannya lagi. Seperti vaksin yang diuji terus-menerus sampai mencapai tahap penyembuhan. Hanya saja, untuk situasinya, hal itu berlangsung lebih lama.

Berkali-kali, dia menanyai dirinya sendiri. Apakah pria itu… seperti dia… juga mengalami hal yang sama? Apa sempat… untuk beberapa detik saja… pria itu memikirkan dan merindukannya? Karena yang ditangkap oleh matanya hanya pemandangan-pemandangan dimana pria itu tersenyum, tampak bahagia dengan kehidupan yang dimilikinya, bahkan sempat digosipkan dengan beberapa wanita… seolah hanya dia saja yang merasakan sakitnya sendirian. Hanya dia saja yang menangis tanpa henti mengingat setiap kenangan yang tersisa dalam memorinya.

Dia ingin sekali bertanya apakah pria itu memang sebahagia kelihatannya? Apakah pria itu… benar baik-baik saja?

Dia hanya ingin tahu… apa pria… seperti wanita… juga menangisi sebuah perpisahan?

***

Jeil jal andago saenggak haenneunde

Naega geudaereul geudae maeumeul

Jeil moreugesseoyo

(Aku pikir akulah yang tahu segalanya

Tentangmu… tentang hatimu…

Tapi ternyata akulah yang tidak tahu apa-apa)

Nal sarang haennayo

Jeongmal nal saranghagin haennayo

Majimakkkajido geudae ibeseo deutji motan mal

Geuttaen mal motaetjyo

 (Apakah kau mencintaiku?

Apakah kau benar-benar mencintaiku?

Kata yang tidak pernah aku dengar darimu bahkan sampai semuanya berakhir

Tapi aku juga tidak mengatakan hal yang sama padamu)

 

Jeongmal sarang haesseoyo

Haengbok haesseoyo

Geudae algo innayo

(Aku benar-benar mencintaimu

Aku bahagia

Hal ini… apa kau mengetahuinya?)

 

 

Dia menyadari banyak hal dalam kegelapan yang dilewatinya setiap malam. Sejauh apa dia mengenal pria itu? Apa dia benar-benar memahami pria itu dengan baik? Tapi kenapa dia tidak bisa menjawab apakah pria itu pernah merasa jatuh cinta padanya atau tidak?

Dia tidak pernah tahu sejak kapan, bagaimana, atau apa alasan pria itu datang padanya dan mengajaknya menjalani sebuah hubungan. Dia tidak pernah bertanya, dan pria itu tidak pernah menjelaskan, membuat hubungan tersebut tampak goyah sejak awal. Pria itu memang memperlakukannya seolah-olah pria itu jatuh cinta padanya, tapi dia tidak pernah tahu apa yang dirasakan pria itu sebenarnya. Apa pria itu memutuskan bersama dengannya hanya karena pria itu merasa dia sangat memahaminya? Apa karena pria itu merasa dia mengetahui segalanya makanya pria itu memilihnya?

Hubungan berumur pendek itu berakhir dengan meninggalkan terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya dan hal itu membuatnya takut. Takut dengan kemungkinan bahwa hanya dia saja, hanya dia sendirilah yang tersiksa sampai seperti ini.

Dia bertanya-tanya apakah pria tersebut seberharga itu untuk ditangisinya sedemikian rupa sampai dia nyaris bisa disebut mayat hidup? Pertanyaan yang kemudian hanya meninggalkan rasa mual di perutnya. Pria itu… dari awal… dan bahkan sampai kapanpun, mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatnya jatuh dan hancur sampai seperti ini.

Mungkin… nanti… bertahun-tahun dari sekarang… saat umurnya sudah mulai menua dan pikirannya sudah cukup dewasa… saat dia sudah sanggup menanggung semua rasa sakitnya sampai terasa biasa-biasa saja dan bahkan menjadi sebuah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya, bisa saja dia mengingat saat-saat itu, minggu-minggu itu, sebagai momen paling membahagiakan dan tak terlupakan dalam hidupnya. Mungkin… dia bisa mengingat pria itu sebagai pria dengan pesona paling mematikan, dan bersyukur bahwa dia sempat ada dan menetap di pikiran pria tersebut. Bahwa mereka sempat menghabiskan waktu bersama. Dan merasa bahagia.

Hal paling menyakitkan adalah… saat dia menyadari bahwa dia bukan lagi tokoh utama dari dongengnya sendiri. Bahwa… kisah cintanya yang mengagumkan sudah berakhir… dan dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti itu lagi.  Bahwa… tidak akan ada pria yang akan bisa memengaruhinya sebesar itu lagi.

Dia hanyalah wanita biasa… dengan kehidupan yang selalu… dan akan terus biasa-biasa saja.

TBC