Inspired by Melissa de la Cruz – Blue Blood & Masquerade

 

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

08.30 PM

“Kenapa kau tidak melupakan gengsimu dan menyelesaikannya sekarang juga?” gumam Kyuhyun, mengatupkan mulutnya dengan gigi yang saling beradu, berupaya keras menahan tangannya tetap di pinggang Hye-Na, bukannya memenuhi keinginannya untuk merobek setiap lapis pakaian yang menutupi tubuh gadis tersebut detik itu juga.

Dan saat itu, saat matanya menatap wajah yang seolah dipahat dengan seluruh kesempurnaan yang bisa diciptakan, terikat pada aroma tubuh yang membuat perutnya memberontak minta diisi, sedangkan dia nyaris sekarat karena dahaga yang menyesakkan, Hye-Na tahu bahwa dia tidak bisa mundur lagi. Bahkan saat dia benar-benar menginginkannya, seluruh sel tubuhnya tetap saja menyerah pada godaan memabukkan yang dimiliki pria itu. Jadi gadis tersebut sama sekali tidak heran saat tangannya bergerak menyentuh leher dihadapannya, tubuhnya yang membuat gerakan membungkuk sehingga posisi bibirnya tepat berada di cekungan leher Kyuhyun, tempat nadi pria itu bergerak secara teratur, dan lidahnya yang menyentuh ujung gigi taringnya yang mendadak menjadi lebih tajam dan runcing, tanpa menyadari bahwa tubuhnya benar-benar sudah berada di atas pangkuan pria itu dalam pose yang tidak akan pernah dia bayangkan bisa dia lakukan meski dalam keadaan tidak sadar.

Kyuhyun mengernyit saat helaian rambut gadis itu tepat membelai permukaan wajahnya dengan aroma yang tidak kalah menyakitkan tenggorokan. Pria itu mengangkat tangannya lalu mendorong kepala Hye-Na sampai benar-benar terbenam di lehernya, membuat gadis itu tidak punya pilihan selain menggoreskan taringnya di kulit yang sekeras batu granit itu, membuat luka tipis yang sudah lebih dari cukup untuk mengalirkan darah segar ke dalam kerongkongannya.

Hye-Na nyaris mengerang saat merasakan tetesan pertama mengalir masuk ke mulutnya, membuat saraf-saraf tubuhnya terbangun dan bersuka cita. Manis, dan anehnya memberikan kesan mengenyangkan, menghilangkan rasa kering yang beberapa hari terakhir menyerang tenggorokannya tanpa henti. Dia menelan dan menyesap tetesan berikutnya, akhirnya mengetahui mengapa kenikmatan kegiatan itu disamakan dengan hubungan seks, seolah memang ada sesuatu yang membuat kepalanya tenang dan tubuhnya terasa nyaman, seolah tidak ada hal lain lagi yang perlu dikhawatirkannya selagi dia masih bisa menikmati cairan berwarna merah itu. Bahwa dengan cepat dia merasa mendapatkan limpahan energi dan berpikir bisa melakukan apapun yang dia inginkan.

Setiap inci kulitnya terasa lebih sensitif terhadap sentuhan apapun, sehingga akhirnya dia menyadari bahwa pegangan Kyuhyun di tengkuknya perlahan mulai melemah, merasakan bagaimana tubuh mereka berdekatan tanpa jarak, membuatnya berpikir bahwa mustahil seorang Renatus bisa bertahan dengan sekedar menghisap darah Cruor-nya saja tanpa melanjutkannya ke hal lain yang sama menyenangkannya, mengingat godaannya yang begitu besar.

Hye-Na tersadar bahwa dia harus menghentikan ini semua sebelum dia terlanjur menghisap habis darah Kyuhyun, tapi gadis itu bahkan tidak tahu cara untuk berhenti selagi luka tipis di leher pria itu masih terus mengeluarkan darah.

“Bagaimana…” bisiknya terputus, kehilangan akal untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk ditanyakan.

“Jilat lukanya dengan lidahmu. Air liur Renatus mengandung cairan untuk menyembuhkan luka dengan cepat,” ujar Kyuhyun tersendat, tahu bahwa dia seharusnya memberi peringatan dulu sebelum membiarkan gadis itu menghisap darahnya hingga nyaris habis. Ditambah dengan kenyataan bahwa dia bahkan belum meminum darah satu minggu terakhir, keadaannya sekarang bisa dikatakan jauh lebih mengkhawatirkan daripada keadaan gadis itu beberapa menit sebelumnya.

Hye-Na melakukan apa yang dikatakan pria itu, menjulurkan lidahnya dan menjilat luka yang langsung menutup sedetik setelah terkena air liurnya, kemudia menegakkan tubuhnya, bermaksud menatap pria itu, tapi hanya dibutuhkan sepersekian detik saat badannya terhempas ke sudut ranjang, membuat kepala ranjang itu langsung terbelah dalam retakan panjang, dan menyadari bahwa Kyuhyun sudah berdiri dengan raut wajah berkerut penuh konsentrasi di seberang ruangan, menatapnya intens. Alih-alih merasa senang bahwa pria itu tidak menuntut hal yang sama, gadis itu malah keheranan dan sedikit khawatir melihat betapa pucatnya wajah pria itu.

“Pulanglah. Kau tidak mau kakekmu sampai harus mencarimu kesini, kan?” ucap pria itu. “Kau juga tidak mau aku menyerangmu, jadi lebih baik sekarang kau jauh-jauh dari hadapanku. Mmm?”

***

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

11.45 AM

 

“Dia tidak datang,” ujar Donghae saat melihat Hye-Na terus-menerus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, seolah sedang menunggu seseorang dan berharap orang tersebut muncul tiba-tiba dari tengah-tengah kerumunan mahasiswa.

“Wae?” tanya gadis itu spontan, melupakan fakta bahwa dia memperlihatkan dengan jelas apa yang sedang mengganggu pikirannya.

“Apa kau kemarin meminum darahnya?”

“Darimana kau tahu?” tanya gadis itu kaget. “Dia memberitahumu?”

“Mudah saja, Nona. Kulitmu terlihat lebih memerah, padahal sebelumnya kau terlihat pucat dan lemah. Dan warna bola matamu terlihat lebih cerah. Itu tandanya kau sedang kenyang.”

“Ng… apa… saat menghisap darah… memang selalu ada keinginan untuk… melakukan hal lain? Maksudku… ng….”

“Seks?” ujar Donghae, melanjutkan ucapan Hye-Na. “Kadang-kadang. Itu sudah insting dasar manusia, apalagi jika pria dan wanita berada dalam jarak sedekat itu dan melakukan hal seintim itu. Tapi keinginan itu mungkin lebih mengganggu jika mengingat kalian berdua adalah Moira. Kenapa? Apa semalam dia menidurimu?”

Hye-Na melemparkan tisu yang sedang dipegangnya ke arah Donghae, lagi-lagi gagal karena Renatus sebodoh apapun pasti memiliki refleks yang sangat bagus.

“Aneh sekali,” komentar Donghae heran. “Mengingat sifatnya yang bisa sewaktu-waktu memaksamu melakukan apapun yang dia inginkan, seharusnya dia berhasil mendapatkan dua hal sekaligus. Darah dan tubuhmu. Apa semalam dia tidak memaksa melakukannya?”

“Dia menyuruhku pergi.”

“MWO?” seru pria itu kaget. “Tanpa menidurimu?”

“Tanpa meminum darahku,” dengus Hye-Na, kesal dengan pertanyaan pria itu yang terus-menerus menyudutkannya seolah dia dan Kyuhyun bisa berhubungan seks kapanpun pria pemaksa itu menginginkannya. Seolah dia tidak bisa melawan saja.

“Apa kau meminum darahnya lebih dari dua liter?”

“Apa?”

“Dia tidak memberitahumu? Jumlah maksimal darah yang bisa kau minum hanya dua liter, jika lebih dari itu kau bisa membuat Cruor-mu kekurangan darah. Dan kau masih bertanya kenapa dia tidak datang hari ini padahal kau tahu dia bahkan belum meminum darahmu sediktpun? Kau sudah gila, ya? Dia pasti sedang sekarat sekarang! Aish, Nona, kau membuatku bernafsu ingin mencekikmu saja!”

“Sekarat?” ulang Hye-Na pelan, mendadak merasa perutnya dipenuhi timah panas. Apa yang sudah dilakukannya semalam? Seharusnya dia tidak seegois itu, kan? Setelah pria itu membiarkannya menghisap darahnya hingga nyaris habis, dia masih bersikeras menolak melakukan hal yang sama untuk pria itu dan malah meninggalkan pria itu dalam keadaan… sekarat?

“Kau tahu kenapa dia menyuruhmu pergi? Apa kau tidak bisa menebak bahwa dia sedang berusaha menyelamatkan kehormatanmu? Dia tidak bisa meminum darahmu tanpa mengakhirinya dengan menidurimu, Nona. Itu sulit sekali. Bukan hanya karena kalian berdua adalah Moira, tapi juga karena Lovelya dan Deathan harus menahan diri mereka untuk tidak menyentuh satu sama lain, dan sekarang kalian berdua memiliki separuh Jiwa mereka, jelas saja keinginan untuk melakukan hal itu juga menurun pada kalian. Dan jelas dalam taraf yang lebih membahayakan.”

“Jadi maksudmu dia akan membiarkan dirinya sekarat sampai mati dan bersikeras tidak akan meminum darahku selama aku tidak mau tidur dengannya begitu?”

“Bisa dikatakan begitu,” tandas Donghae ringan sambil mengedipkan matanya. “Tapi walaupun kau bersedia tidur dengannya pun aku masih sangsi dia mau melakukannya.”

“Wae?”

“Jelas sekali bahwa dia ingin menjagamu baik-baik, Nona. Dia tidak akan menyentuhmu sebelum kalian memiliki hubungan resmi. Jalan satu-satunya hanya kau harus menggodanya sampai dia kehilangan kendali diri dan meminum darahmu.”

“MWOYA?” Hye-Na menunduk saat menyadari seisi kantin menoleh ke arah mereka setelah mendengar teriakannya barusan. “Neo michyeoseo?”

“Kalau dia sekarat, kau pikir siapa lagi yang bisa membantumu mengalahkan Reezar, hah? Lagipula… apa kau sanggup kehilangan pasangan seumur hidupmu?”

“Sial,” umpat Hye-Na, menyadari kebenaran ucapan Donghae.

“Benar. Memang sial sekali. Ya, kan?”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

09.30 PM

 

“Ini sudah malam. Mau apa kau kesini? Aku sudah memberitahu Donghae bahwa kita tidak ada jadwal latihan, apa dia tidak memberitahumu?” sambut Kyuhyun tepat saat dia membuka pintu dan mendapati Hye-Na berdiri di depannya.

“Dua hari tidak bertemu kau benar-benar berubah menjadi sombong, ya?” sindir Hye-Na, sedikit mendorong tubuh Kyuhyun agar mendapatkan celah untuk masuk ke dalam rumah. Dan dia berhasil dengan mudah. Terlalu mudah. Bahkan tubuh Kyuhyun sedikit terdorong kesamping seolah-olah pria itu tidak punya kemampuan untuk berdiri dengan benar lagi.

Hye-Na mengerutkan kening bingung, tapi akhirnya tersadar saat melihat kulit Kyuhyun yang terlihat jauh lebih pucat dari biasa, padahal warna kulit asli pria itu bahkan sudah nyaris seputih marmar.

“Benar-benar payah, ya? Kau bahkan lebih lemah daripada manusia. Kau masih bersikeras tidak mau meminum darahku?”

“Beritahu saja apa maumu dan kemudian kau bisa pulang,” sahut Kyuhyun dingin.

“Mudah saja kalau begitu. Kau tinggal meminum darahku, lalu aku bisa pulang. Aku juga tidak berencana terlalu lama disini,” ujar Hye-Na sabil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dia menatap televisi yang menyala di depannya tanpa fokus.

“Bukannya kau tidak suka kalau aku membenamkan taringku di lehermu?”

“Hanya sebagai balas budi karena kau membiarkanku meminum darahmu.”

“Lupakan saja kalau begitu,” sergahnya, mengambil tempat di samping Hye-Na lalu mulai sibuk menggonta-ganti channel TV, walaupun Hye-Na tahu bahwa pria itu sama tidak fokusnya dengan dia.

“Daripada kau membuang-buang waktumu tanpa hasil, lebih baik kau pulang saja sekarang. Aku perlu istirahat,” ucap Kyuhyun beberapa menit kemudian, beralih ke PSP-nya yang terletak di atas meja, dan mulai tenggelam dengan permainan di dalamnya. Kali ini dia benar-benar mengrahkan seluruh fokusnya kesana dengan bibir terkatup rapat, berusaha mengabaikan aroma tubuh gadis di depannya yang kali ini terasa nyaris membunuh. Dia tidak tahu apa yang direncanakan gadis itu, tapi pasti berhubungan dengan usaha untuk membuatnya mau meminum darah, jadi dia hanya bisa berharap gadis itu segera bosan karena diabaikan dan memilih pulang. Setidaknya dia masih bisa berusaha menahan diri beberapa menit lagi, tergantung seberapa kuat kendali diri yang bisa dikerahkannya malam ini. Kalau dia tidak berhasil, sudah jelas bahwa itu adalah kesalahan gadis itu sendiri. Dia tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi nanti. Lihat saja. Memangnya gadis itu begitu bodoh sampai tidak tahu apa yang dia inginkan?

“Sejak kapan PSP terlihat lebih menarik dari aku?” tanya Hye-Na sambil melongokkan wajahnya tepat di depan Kyuhyun, membuat pria itu melongo dan tanpa sadar menjatuhkan PSP-nya. Pria itu dengan cepat meraih remote TV di atas meja dan mulai melakukan kegiatan membosankannya tadi, mengacak-acak saluran TV.

“Kau benar-benar mau mengabaikanku, ya? Baik, ayo bermain. Lihat sejauh apa kau bisa bertahan, Cho Kyuhyun ssi.”

Hye-Na bangkit dari sofa, dan berdiri menutupi layar TV, sehingga mau tidak mau Kyuhyun harus menatapnya. Pria itu tiba-tiba menyeringai dan melipat tangannya di depan dada.

“Baik. Ayo lihat tontonan apa yang akan kau berikan, Han Hye-Na ssi.”

Hye-Na balas menyeringai dan memosisikan tangannya tepat di depan kancing kemejanya yang paling atas. Gadis itu berdiri tenang, walaupun sejujurnya dia merasa sangat gugup. Astaga, seumur hidup dia tidak pernah membayangkan bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menggoda seorang pria. Bahkan dengan kemungkinan yang sangat besar bahwa pria itu akan menidurinya. Pasti dia sudah gila! Tidak, lebih dari gila. Dia benar-benar sudah hilang akal.

Gadis itu berhasil melepaskan kancing pertamanya, menarik nafas lega, dan mulai lebih percaya diri untuk melanjutkan dengan kancing berikutnya. 5 detik kemudian dia sudah membebaskan kemeja itu dari tubuhnya dan berdiri sambil bertolak pinggang hanya dalam balutan tank-top hitam yang terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang seputih pualam.

Mata Kyuhyun menggelap. Hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat bagi pria itu sampai berhasil mencapai Hye-Na dan menggapai tangan gadis tersebut, menariknya dengan paksa. Hye-Na tersenyum diam-diam, mengira bahwa taktiknya berhasil membuat pria itu menyerah, tapi tidak sampai sedetik kemudian matanya membulat sempurna saat menyadari kemana pria itu membawanya.

“Dapur?” ceplosnya kaget, menyuarakan isi pikirannya.

“Buatkan aku makanan. Aku lapar.”

“MWO? YAK! Yang kau butuhkan itu darahku, bukan makanan manusia!”

“Kenapa? Kau tidak bisa memasak? Tenang saja, kemampuan Renatus membuatmu tidak akan gagal dalam pekerjaan sepele seperti itu. Dan mengingat kau disini sedang dalam rangka menggodaku, anggap saja ini salah satu cara tercepat. Siapa tahu kau bisa berhasil. Ya, kan?” ujar Kyuhyun, masih dengan seringai setannya, dengan mudah mendorong Hye-Na masuk ke dalam dapur, membuat mata gadis itu membelalak ngeri.

“Kau sedang menjebakku. Ya, kan? Kau pasti tahu kalau aku sangat benci memasak. YAK!”

Kyuhyun mengabaikan teriakan gadis itu, menariknya ke depan konter dapur, membuka lemari dapur paling atas, dan melempar buku resep masakan ke tangan gadis itu.

“Masak saja bahan apapun yang kau temukan di dalam kulkas. Aku akan menunggu di meja makan. Kalau kau tidak mau, kau bisa pulang. Aku bisa memasak sendiri. Hmm?”

***

Hye-Na menatap bahan-bahan masakan di depannya dengan panik. Kekuatan apa yang harus digunakannya untuk membuat masakan yang bisa dimakan? Aish, dapur adalah tempat yang paling dibencinya setelah rumah sakit. Walaupun ruangan itu akan berbau harum setelah makanan selesai dimasak, tidak seperti rumah sakit yang berbau seperti kematian.

Gadis itu mengangkat pisau di atas konter, untuk pertama kalinya akan menggunakannya untuk memotong bahan makanan. Dan dia sama sekali tidak yakin akan hasilnya nanti walaupun Kyuhyun telah memberi jaminan.

Hye-Na membaca deretan tulisan di buku masakan yang diletakkannya di atas meja kemudian mengikuti setiap langkahnya. Dia sedang mencemplungkan wortel yang berhasil dipotongnya walaupun dalam bentuk yang tidak beraturan ke dalam air yang sedang dimasaknya di atas kompor gas, saat tiba-tiba seseorang melingkarkan lengan di pundaknya, kemudian merangkulnya erat, membuat tubuhnya berbenturan dengan tubuh keras orang tersebut.

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan, hmm?” geram Kyuhyun, menjatuhkan potongan-potongan wortel itu kembali ke atas piring. “Airnya bahkan belum mendidih. Masa itu saja kau tidak tahu? Apa aku juga harus mengajarimu memasak?”

Pria itu memindahkan piring yang tadi dipegang Hye-Na ke atas meja, lalu tanpa peringatan apapun membenamkan wajahnya ke dalam helaian rambut gadis itu.

“Aku kan sudah bilang kalau aku….”

“Benar-benar berencana menggodaku, eh? Siapa yang menyuruhmu? Donghae hyung? Alasan apa yang kau pakai sehingga bersedia melakukannya? Takut aku mati dan tidak bisa membantumu mengalahkan Reezar? Atau… kau tidak mau kehilangan aku sebagai pasangan hidupmu?” potong Kyuhyun, berujar di dekat telinga gadis itu, memberikan serangan listrik mematikan dari hembusan nafasnya yang membuat gadis itu kelimpungan.

“Dengar baik-baik Nona, kalau kendali diriku benar-benar tidak bisa kukontrol lagi, aku bisa pastikan bahwa aku akan mengambil apa pun yang aku inginkan darimu. Semuanya. Dan aku tidak akan berhenti walaupun kau menangis memohon-mohon padaku. Jadi jaga tingkah lakumu baik-baik kalau kau tidak ingin menyesal,” lanjutnya penuh ancaman.

“Semuanya?” ulang Hye-Na, nyaris hilang akal karena konsentrasinya yang terpecah antara menangkap ucapan pria itu atau menenangkan diri dari godaan keberadaan pria itu sendiri.

“Darahmu,” jawab Kyuhyun pelan, memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan. “Dan tubuhmu tentu saja. Menurutmu apa lagi yang aku inginkan? Apa kau tidak bisa menebak bagaimana aku setengah mati berusaha untuk tidak merobek pakaianmu dan menidurimu di detik yang sama setiap kali kau berada di jangkauanku? Aku bahkan tidak bisa memutuskan mana yang lebih kuinginkan. Darahmu… atau kau. Jadi sudah jelas bahwa jika aku berhasil mendapatkan darahmu, aku harus mendapatkan tubuhmu juga. Kau mengerti?”

***

“Pulanglah. Apa kau tidak bosan membuang waktumu dengan sia-sia seperti ini?” tanya Kyuhyun sambil meletakkan sendoknya ke atas piringnya yang sudah kosong. Dia terpaksa menggunakan keahlian memasaknya setelah menyadari bahwa kemampuan gadis itu di dapur benar-benar sudah tidak terselamatkan lagi. Setidaknya dia berpikir bahwa dia harus mengisi perutnya walaupun makanan manusia tidak memberi pengaruh apapun untuk sekedar mengurangi rasa hausnya yang sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

“Aku ingin mencoba sekali lagi. Eo?” ujar Hye-Na sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Apa lagi yang akan kau lakukan untuk menggodaku? Kalau kau bersedia membuka semua pakaianmu, aku akan mempertimbangkannya,” ujar pria itu dengan tampang sok serius, tapi sekali pandang saja Hye-Na langsung tahu bahwa pria itu sedang menjahilinya.

Hye-Na bangkit berdiri dari kursinya dan dalam satu gerakan sudah berubah posisi, mengambil tempat tepat di atas pangkuan Kyuhyun dan menunduk di atas pria itu.

“Kalau begini bagaimana?”

Kyuhyun tidak menjawab dan malah menarik nafas berat sebagai gantinya. Wangi tubuh gadis itu, tekanan tubuh gadis itu di atas tubuhnya, nafas gadis itu yang berhembus tepat di depan wajahnya, dan bibir gadis itu yang hanya berjarak beberapa senti sehingga dia bisa menjangkaunya jika dia mau memajukan wajahnya sedikit saja, membuat otaknya kehilangan fokus dengan mudah. Dia bahkan harus mengerahkan seluruh tenaga untuk sekedar menelan ludah saat tangan gadis itu beranjak naik ke leher kemeja yang dikenakannya, menyusuri kerahnya dengan jemarinya yang ramping dan panjang.

Pria itu menghitung perlahan dalam hati, akhirnya menyerah pada hitungan kelima, dan dengan kasar menarik tengkuk gadis itu ke arahnya untuk menyatukan bibir mereka, melumat bibir gadis itu dengan tidak sabar.

Tidak ada kata lembut dalam sentuhannya, bahkan meskipun dia sendiri menginginkannya. Bibirnya membuka dan memaksa bibir Hye-Na melakukan hal yang sama agar dia bisa menyusupkan lidahnya masuk, sedikit memberi gigitan agar gadis itu menuruti perintahnya. Tangan kirinya merambat naik dan mencengkeram rambut gadis itu selagi lidahnya bergerak liar menyusuri setiap inci bagian dalam mulut gadis tersebut, sedangkan tangan kanannya menyusup ke bawah paha gadis itu, dengan mudah mengangkat tubuh yang nyaris terasa tanpa bobot itu ke atas meja makan, menyingkirkan piring-piring di atasnya begitu saja, tanpa memedulikan suara memekakkan saat piring-piring dan gelas jatuh berserakan ke atas lantai, hanya karena dia ingin mendapatkan posisi yang lebih leluasa.

Kyuhyun menyibak rambut Hye-Na yang menutupi leher agar dia bisa mengakses titik nadi gadis itu dengan mudah kemudian membenamkan wajahnya disana, menghirup nafas dalam-dalam, dan benar-benar mengerang saat wangi tubuh yang memabukkan itu menghantam indera penciumannya yang tajam. Tanpa bisa dikendalikannya lagi, taringnya melesak keluar menembus gusinya dan langsung menggores permukaan kulit Hye-Na yang seharusnya tidak bisa ditembus apapun selain taring vampir dan Renatus. Darah gadis itu dengan cepat mengalir masuk ke mulutnya, dengan rasa yang tidak tergambarkan. Dia meminum sekaligus berusaha mengumpulkan konsentrasinya yang sudah terpecah, mengingat bahwa dia harus segera berhenti, bukannya meminum lebih banyak dari batas maksimal dan membuat gadis itu melemah kekurangan darah.

Pria itu menelan dan dengan susah payah menjulurkan lidahnya, menutup luka kecil itu tanpa meninggalkan bekas apa-apa. Dia kemudian mendongak dan berbicara di permukaan bibir gadis itu, mencium tanpa benar-benar menyentuhkan bibirnya.

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan selesai sampai disini saja kan, Na~ya?” gumamnya, bersamaan dengan gerakannya meraup gadis itu ke dalam gendongannya, dan membawanya ke tujuan yang sudah jelas. Ranjang.

Seharusnya hanya butuh kurang dari satu detik untuk sampai disana, tapi dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan merobek tank-top gadis itu menjadi robekan-robekan tak berbentuk, menyisakan sehelai bra yang tidak benar-benar menutupi apa yang seharusnya ditutupi. Jins adalah sasarannya berikutnya. Benda itu terlepas bertepatan dengan saat dia menjatuhkan tubuh gadis itu ke atas ranjang.

Dia menyadari bagaimana pintu kamarnya nyaris terlepas dari engselnya saat dia berusaha menutupnya dengan tendangan ringan dari kakinya, atau bagaimana ranjang yang baru saja digantinya kemarin karena rusak saat gadis itu meminum darahnya dua hari yang lalu kembali berderit mengerikan, berpotensi untuk mengalami nasib yang sama dengan ranjang pendahulunya. Tapi semuanya langsung terlupakan saat tangan gadis itu dengan ragu-ragu meraih kancing kemejanya dan melakukan gerakan cepat ke bawah, melepaskan semua kancingnya dari jahitan dalam satu sentakan, sehingga dia hanya mengenakan kaus singlet hitam saja sebagai dalaman.

Kyuhyun menunduk dan mencium bibir gadis itu lagi untuk mengalihkan perhatiannya dari syok sesaat karena tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar berniat melakukannya. Malu-malu, mungkin, tapi jelas bahwa gadis itu sudah siap.

Gerakannya terhenti saat Hye-Na menahan tangannya yang bermaksud melepaskan bra gadis itu tanpa mau repot-repot mencari pengaitnya di bagian belakang.

“Aku masih harus pulang, bodoh.”

Kyuhyun mendengus dan menatap gadis itu tidak percaya.

“Pertama, malam ini kau tidak akan beranjak kemanapun selain di atas ranjangku,” ucapnya dengan nada geli. “Kedua, aku akan mengambilkan pakaianmu besok pagi dan kau bisa berangkat kuliah bersamaku.”

“Jadi,” lanjutnya setelah beberapa saat. “Aku sudah boleh melanjutkannya, kan?”

Hye-Na memalingkan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus ke arah lain tanpa memberikan jawaban, tapi Kyuhyun dengan mudah meraih dagu gadis itu dan menghadapkan wajah gadis itu lagi ke arahnya. Pria itu tersenyum miring dan mulai melumat bibir gadis itu lagi. Lebih pelan, tapi sama tidak sabarnya. Tapi kali ini dia mengalah dan memosisikan tangannya di punggung gadis itu, menarik kaitan bra gadis itu sampai terlepas. Sama sia-sianya, karena pada akhirnya dia juga merobeknya walaupun dengan tidak sengaja.

Dia menatap pemandangan di depannya, nyaris dengan pikiran kosong, tapi perhatiannya kembali teralih karena gadis itu menarik kaus singletnya sampai terdengar bunyi cabikan dan melemparnya sembarangan, mulai berkutat dengan kancing atas celana jinsnya.

Dia sedang berusaha melakukan semuanya dengan urutan yang benar, tapi gadis itu malah memporak-porandakan rencananya begitu saja, sehingga yang tersisa dalam pikirannya sekarang hanyalah cara agar dia bisa secepatnya membenamkan tubuhnya di dalam tubuh gadis itu, tahu bahwa pikiran itu hanya membuatnya membenci diri sendiri karena bersikap egois. Ini kali pertama baginya, tapi juga kali pertama bagi gadis itu, dan seharusnya yang dia pikirkan adalah cara melakukan semuanya dengan perlahan dan hati-hati, bukannya serampangan tanpa kontrol seperti yang dilakukannya sekarang.

Dia menggertakkan giginya saat tangannya, tanpa memedulikan perintahnya sama sekali, bergerak naik dan menangkup dada gadis itu, sehingga dia memaksa diri untuk mencium bibir gadis itu lagi saat menyadari bahwa lagi-lagi gadis itu mengalihkan pandangan karena malu. Hanya beberapa detik, karena kemudian dia menyerah dan membiarkan bibirnya menggantikan posisi tangannya di dada gadis itu.

Kyuhyun tersenyum dalam hati saat mendengar bunyi tercekat yang sengaja ditahan Hye-Na untuk mencegah rasa malunya merambat lebih jauh lagi dan rasanya nyaris seperti pembalasan dendam saat gadis tersebut berhasil menarik jinsnya sampai terlepas hanya dengan gerakan kakinya, membuat pria itu menekan kasur lebih dalam dengan lututnya dan menggeser kedua kaki gadis itu sampai terbuka, sedangkan tangan kirinya bergerak turun mengelus paha gadis itu yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi, sebelum akhirnya berhenti di pangkal paha gadis itu dan melakukan hal yang sama disana, membuat gadis itu tanpa sadar mengeluarkan suara tercekik yang terlambat disadarinya sehingga dia menyumpah pelan detik berikutnya.

Dia tidak tahu sejak kapan mereka berdua sama-sama tidak mengenakan apa-apa lagi, yang dia tahu hanya dia sudah cukup bersabar dan sudah mencapai batasnya saat dia akhirnya menarik gadis ke arahnya, mencium gadis itu dalam-dalam, dan menyatukan tubuh mereka, bersyukur karena dia berhasil melakukannya dengan perlahan dan hati-hati, walaupun dia ragu bahwa gadis itu akan merasakan sakit. Rasa sakit seperti itu hanya akan dialami para manusia, tidak bagi para Renatus ataupun setengah malaikat seperti gadis ini. Hanya saja dia ingin memperlakukan gadis ini sebaik yang dia bisa. Gadis ini miliknya, dan dia akan sangat protektif terhadap apapun yang dia anggap berarti baginya. Lagipula… gadis ini makhluk hidup pertama yang berhasil menarik perhatiannya habis-habisan.

Dia mencengkeram bantal yang ditiduri gadis itu, meredam teriakannya di bibir gadis itu, senang saat gadis itu juga melakukan hal yang sama, mencengkeram rambutnya dan mendesah di sela-sela ciuman mereka. Pria itu mengangkat wajahnya saat serangan menakjubkan itu berakhir. Tubuhnya masih berdenyut, sisa dari kegiatan yang masih tidak dipercayainya akan dilakukannya dengan gadis itu hanya beberapa hari setelah mereka bertemu. Matanya menyusuri wajah gadis itu, berakhir tepat saat mata mereka berdua bertatapan, dan tersenyum perlahan, yang disambut gadis itu dengan senyuman yang sama, membuatnya memajukan tubuh dan menempelkan bibirnya di kening gadis itu dalam sentuhan ringan.

Dia memindahkan tubuhnya ke samping tubuh gadis itu, menarik selimut sekaligus gadis itu ke arahnya, melingkarkan lengannya di pinggang gadis tersebut. Bibirnya nyaris terbuka, mengucapkan kata yang ingin sekali diucapkannya, tapi dia tahu bahwa kata tersebut tidak akan ada artinya jika dia ucapkan sekarang. Seolah dia hanya mengucapkannya karena telah mendapatkan tubuh gadis itu saja. Akan ada waktu yang tepat dan dia sepertinya harus bersabar. Jadi sebagai gantinya dia hanya menunduk dan membenamkan wajahnya ke rambut gadis itu.

“Malam, Na~ya.”

Ada jeda sesaaat sebelum gadis itu membalas ucapannya, tapi dia cukup mengerti alasannya dan tidak mulai memperburuk suasana dengan ejekannya terhadap gadis tersebut.

“Malam, Kyu.”

***

Kali ini dia berada di sebuah taman kota yang cukup ramai di musim semi. Gambaran mimpi yang dilihatnya kali ini sama seperti sebelumnya, bukan seperti sebuah tontonan, tapi seolah dia benar-benar ada disana, melihat dengan mata kepala sendiri, tanpa perlu khawatir terlihat oleh orang lain. Dan mimpinya kali ini lebih terang dan penuh warna, sepertinya karena faktor sinar matahari, juga kondisi taman yang penuh bunga bermekaran dan orang-orang yang memakai pakaian warna-warni.

Dia melihat wanita itu lagi. Ibunya. Lovelya. Kali ini dalam balutan gaun sederhana berwarna hijau lembut selutut. Masih tampak semuda, semempesona, dan secantik sebelumnya. Bahkan gaun dengan potongan biasa itu saja masih tampak memukau hanya dikarenakan dialah yang memakainya.

Pria itu, Deathan, kali ini tidak tampak terlalu muram, tapi masih seberbahaya tampilannya di mimpi pertama Hye-Na, lebih cerah dengan kemeja putih dan celana jinsnya. Dua orang malaikat itu, jelas tidak akan pernah terlihat biasa-biasa saja bahkan saat mengenakan pakaian compang-camping sekalipun.

“Putih membuatmu terkesan lebih… normal,” komentar Lovelya, tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat.

“Putih adalah warna kematian yang sebenarnya, Lovey.”

“Tapi hitam terkesan lebih gelap dan menakutkan.”

“Apa kau akan menghabiskan hari dengan mengomentari cara berpakaianku?”

Lovelya merengut dan akhirnya menggeleng. Bahkan dengan ekspresi seperti itu saja dia nyaris membuat gadis manapun menangis melihat kecantikannya.

“Kau tampak pucat, kau tahu? Kau sudah makan?”

“Aku sudah minum terlalu banyak tiga hari yang lalu. Aku tidak bisa membuat Il-Woo lebih lemah lagi daripada ini,” sahut wanita itu, menyebutkan nama Cruor manusianya.

“Kau harus beristirahat beberapa hari untuk mendapatkan kekuatanmu lagi.”

“Disaat ada terlalu banyak vampir baru yang diciptakan? Kau tahu aku tidak bisa. Lagipula kalau kau mau, kau juga bisa mencoba melakukannya.”

“Aku Malaikat Kematian, Lovey. Aku tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik kepada vampir-vampir itu. Aku hanya bisa memusnahkan mereka. Pekerjaanku membunuh, bukan menghidupkan.”

“Aku tidak tahu,” gumam Lovelya, menyentuh semak bunga di dekatnya, dengan refleks membuat kuncup-kuncup bunga yang masih menutup bermekaran dengan indahnya. Dia berdiri di depan semak itu selama beberapa saat, menyembunyikannya dari pandangan, sebelum akhirnya beranjak setelah memastikan tidak akan ada orang yang menyadarinya. “Rasanya ada sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Aku melemah dari hari ke hari, dan bisa diserang kapanpun dengan mudah. Rasanya waktuku semakin menipis. Dan anehnya, aku juga mulai merasa ketakutan. Apa menurutmu itu wajar?”

“Aku sudah menyuruhmu agar tetap bersamaku. Kita bisa melakukannya bersama. Dan aku bisa memberikan perlindungan paling aman yang bisa kau dapatkan.”

“Tapi kau juga sama tahunya bahwa hal itu tidak akan efektif. Lebih baik berada di dua tempat agar kau bisa lebih leluasa melakukan pencarian. Kalau aku bersamamu, perhatianmu pasti lebih terfokus padaku. Itu membuatnya menjadi lebih sulit, kau tahu? Lagipula kita juga tidak bisa bersama terlalu lama,” ujar Lovelya, menekankan maksudnya pada kalimat terakhir.

“Peraturan bodoh. Aku tidak melihat letak kerugiannya jika kita bersama selain fakta bahwa kau mungkin akan mengecam keputusan-keputusan yang kubuat saat mencabut nyawa seseorang. Hal tersebut bahkan tidak seberharga itu.”

“Kau tetap tidak peduli seperti biasanya,” ucap Lovelya, nyaris bernada geli. “Dan terlalu percaya diri,” lanjutnya kemudian.

“Tidak juga,” elak pria itu dengan raut wajah yang mendadak terlihat lebih serius. “Aku juga memiliki firasat yang sama. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dan akut idak berpikir bahwa kita akan cukup kuat untuk mencegahnya.”

“Kita sudah pernah membicarakan kemungkinan yang terburuk. Kau tahu apa yang harus dilakukan.”

“Dan aku berharap sama besarnya bahwa hal itu tidak perlu dilakukan,” tandas Deathan dengan nada tidak suka yang begitu kentara. “Aku tidak suka memikirkan kemungkinan bahwa aku akan kehilanganmu. Itu benar-benar membuat mual, kau tahu?”

 

***

Hye-Na membuka matanya, terjaga dalam seketika saat pikiran tidak menyenangkan menghampirinya. Entah kenapa dia mendapat firasat bahwa kejadian dalam mimpinya itu terjadi satu hari sebelum Lucifer datang dan menghancurkan segalanya. Dan dia yakin bahwa dugaannya itu tidak meleset. Mungkin mimpi berikutnya mencakup kejadian yang terjadi pada malam itu. Mungkin dia bisa melihat wajah Lucifer. Itu bukan harapan yang terlalu muluk menurutnya.

Gadis itu menoleh saat menyadari bahwa ranjang di sampingnya sudah kosong. Cukup dingin, menandakan bahwa Kyuhyun sudah terbangun cukup lama dan meninggalkannya begitu saja. Apa seburuk itu? Dia melakukan sesuatu yang tidak pantas semalam? Rasanya tidak. Untuk kali pertama, dia tahu bahwa semalam mungkin adalah salah satu, atau mungkin bahkan yang terbaik, jika dibandingkan dengan pasangan-pasangan lain juga melakukan hal yang sama untuk kali pertama. Jadi… pertanyaannya adalah, kenapa pria itu meninggalkannya sendirian di saat-saat sepenting ini?

Ingatan tentang semalam tentu saja masih sejelas saat dia mengalaminya. Sentuhan pria itu masih terasa, walaupun tidak meninggalkan bekas apa-apa di kulitnya. Tidak ada yang bisa melukai ataupun meninggalkan noda di tubuh Renatus setahunya dan hal tersebut cukup disyukurinya, karena dia tidak akan mau memamerkan bekas-bekas merah di tubuhnya kepada siapapun terutama pengawal pribadinya yang pasti akan meledak saking senangnya.

Gadis itu sedikit terlonjak saat mendengar suara klakson mobil yang cukup keras dari arah bawah. Dengan cepat dia bangkit dan menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya agar tidak merosot jatuh dan bergegas berlari ke arah jendela kaca balkon, melongokkan wajahnya dan mendapati Kyuhyun sudah berdiri bersandar di pintu mobilnya, mendongak ke arahnya sambil tersenyum tipis, memberi tanda agar dia segera bersiap dan turun. Dan mendadak dia mendapat firasat bahwa… mungkin saja, pria itu juga tidak tahu cara bersikap biasa untuk menghadapinya di pagi hari. Mengetahui hal itu membuat beban di dadanya menghilang begitu saja. Jadi… semalam sama sekali tidak mengecewakan, kan?

***

Kyunghee University

09.30 AM

 

Hye-Na menghembuskan nafas lega saat akhirnya mobil Kyuhyun berbelok memasuki gerbang kampus. Pria itu memang cukup ‘manis’ karena menyiapkan pakaian dan sarapan untuknya, tapi berada dalam satu mobil selama lima belas menit lebih bersana pria itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Keadaannya benar-benar hening mencekam dan Hye-Na tidak berani memulai percakapan karena sepertinya pria itu sendiri berusaha untuk tidak menatapnya dan fokus ke arah jalanan, padahal jelas sekali hal tersebut tidak diperlukan. Seorang Renatus bisa mengemudikan mobil tanpa perlu memegang kemudinya sama sekali, apalagi untuk sekedar melihat jalanan agar tidak menabrak kendaraan lain, itu sama saja dengan omong kosong.

Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan pelataran gedung kuliah Hye-Na, memarkirkan kendaraannya di lapangan parkir yang masih separuh kosong. Hye-Na membuka pintu dan melangkah turun, cukup terkejut saat pria itu ikut turun dan menunggunya agar mereka bisa masuk bersama. Padahal merujuk pada sikapnya sepagian ini, bukan sesuatu yang mengherankan jika pria itu langsung kabur menghilang ke kelasnya sendiri. Dan yang lebih membuat syok, alih-alih sekedar menggenggam tangannya, pria itu malah dengan santainya menarik tubuhnya mendekat dan melingkarkan lengannya ke leher gadis itu, seolah sedang berniat memamerkan kepada publik bahwa gadis itu miliknya dan tidak ada akses lagi bagi orang lain untuk mengganggu hak pribadinya atas gadis itu.

“Sepertinya semalam berjalan dengan sangat baik,” ujar Donghae sebagai sapaan saat kedua orang itu sampai di depan kelas Hye-Na. Pria itu tersenyum lebar dan mengedip ke arah Hye-Na, yang dimaksudkannya sebagai cara untuk menggoda gadis itu.

“Mau apa kau menungguku disini?”

“Alasan kedua adalah karena aku ingin melihat apa yang sedang aku lihat sekarang. Alasan pertama tentu saja karena aku baru mengantarkan gadisku ke kelas dan bermaksud baik untuk mampir melihat keadaanmu,” jelasnya panjang lebar, menoleh ke arah Kyuhyun dengan penuh minat. “Sepertinya kau sudah sangat sehat, Kyuhyun ssi. Nonaku mengusahakan yang terbaik kurasa.”

“Apa kau yang berhasil membuatnya menjadi wanita penggoda semalam?” tanya Kyuhyun enteng, yang langsung dihadiahkan sikutan yang cukup keras dari Hye-Na.

“Oh, ya? Padahal aku hanya mengancamnya sedikit dengan kemungkinan bahwa dia akan kehilanganmu kalau kau tetap bertahan untuk tidak meminum darahnya. Ancamanku benar-benar menghasilkan sesuatu yang luar bisa ternyata.”

“Sudah selesai dengan omong kosongmu pagi ini, Lee Donghae ssi?” sergah Hye-Na, tidak bisa menyembunyikan wajah memerahnya. Kenapa para pria suka sekali pamer dan membicarakan hal-hal tidak penting seperti ini? “Kalau kau masih mau melanjutkan, aku akan dengan senang hati meninggalkan kalian berdua. Permisi,” pamitnya sok sopan dan membebaskan diri dari rangkulan Kyuhyun, bergegas masuk ke dalam kelas, tidak menyadari bahwa kedua pria di belakangnya saling melemparkan tatapan penuh arti satu sama lain.

“Jadi? Bagaimana semalam?” bisik Donghae dengan cengiran menggoda.

“Urusan intern seperti itu tidak akan kubagi denganmu. Memangnya sejak kapan aku sebaik itu?”

“Aish, ayolah. Kau tidak ingat bahwa akulah yang membuatnya berubah pikiran?”

Kyuhyun mengernyit dan mengacak-acak rambutnya sampai berantakan, tidak bisa menemukan kata yang tepat tentang sesuatu yang sudah diberikan gadis itu padanya.

“Aku bisa…” ujarnya akhirnya, “mengorbankan 50 tahun hidupku sebelum bereinkarnasi untuk mendapatkan satu malam seperti itu lagi. Sudah puas?”

***

Kyunghee University

01.15 PM

 

Hye-Na mengerjap kaget dan membuka matanya saat merasakan hembusan nafas tepat di telinganya. Gadis itu mendongak dan membelalak saat mendapati bahwa Kyuhyun sudah duduk di sebelahnya, ditambah dengan kenyataan bahwa ruang kelasnya sudah kosong. Sepertinya dia tertidur lagi.

“Hanya karena kau mendapat daya ingat dan IQ tambahan karena menjadi Renatus dan Mi-Ange, bukan berarti kau bisa bersikap seperti mahasiswi pemalas, Na~ya,” komentarnya dengan tampang sok prihatin.

“Makan siang,” lanjutnya sambil menyodorkan kantong kertas berisi sandwich dalam porsi besar, yang langsung disambut gadis itu dengan penuh suka cita.

Hye-Na membuka bungkusan tersebut dan langsung menyantap makan siangnya dengan lahap. Dia baru menghabiskan setengah jatah sandwich-nya saat merasakan sesuatu bersandar di bahunya. Sepertinya Kyuhyun baru saja menemukan posisi yang nyaman untuk tidur dengan menyandarkan kepala di pundaknya dan kaki yang terjulur ke atas meja yang sudah didorongnya sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jangkauan kakinya yang panjang.

“Maaf,” gumam pria itu pelan.

“Untuk apa?”

“Untuk sikapku sepanjang pagi. Aku tidak tahu sikap apa yang harus kutunjukkan padamu setelah tadi malam. Aku bahkan menghabiskan waktu bermenit-menit untuk berpikir apakah aku sebaiknya tetap di atas tempat tidur saat kau terbangun atau tidak. Dan berpikir selama bermenit-menit seperti itu bukan sesuatu yang wajar untuk seorang Renatus, kau tahu?”

“Jadi,” ucap Hye-Na sambil menelan ludah. “Apa alasannya sampai kau memutuskan untuk menungguku di bawah, bukannya tetap di tempat tidur?”

“Oh, itu. Aku pasti akan bersikap memalukan jika aku harus langsung menghadapimu saat kau bangun. Maksudku… aku tidak suka berada dalam kondisi seperti itu. Apalagi kau hanya mengenakan selimut. Kendali diri adalah hal lain lagi. Aku belum cukup kuat untuk menahannya dalam jangka waktu sesingkat itu. Lagipula aku ingin menjadi pria baik-baik dan tidak akan menyentuhmu lagi sebelum hubungan kita diresmikan.”

“Tidak menyentuhku lagi?” tanya Hye-Na cepat dan langsung menyesalinya pertanyaan spontan yang diutarakannya itu saat melihat mata pria tersebut berkilat geli.

“Kenapa? Kau mau melakukannya lagi?” guraunya sambil memainkan rambut gadis itu dengan jemarinya, sebelum kemudian menariknya sehingga gadis tersebut terpaksa menoleh dan dia bisa menjangkau bibir gadis itu dengan bibirnya sendiri, mengecupnya ringan. “Beberapa ciuman tidak masalah. Kau pikir aku akan tahan untuk tidak benar-benar menyentuhmu, hmm?”

“Tunggu,” ucap Hye-Na, akhirnya tersadar dari keterkejutannya. “Apa maksudmu dengan hubungan kita yang diresmikan?”

“Ikatan Suci tentu saja. Menikah, maksudku,” ralatnya saat melihat bahwa Hye-Na tidak mengerti dengan isitlah yang dia gunakan. “Memangnya apa lagi yang harus kulakukan selain mengikatmu dengan cara paling resmi yang bisa kulakukan?”

***

Kyunghee University

02.10 PM

 

“Kau berbicara dengannya,” tandas Sung-Rin setelah mempelajari ekspresi wajah Eunhyuk selama beberapa saat. Tatapan pria itu terarah pada sebuah buku tebal, tapi Sung-Rin tahu bahwa pria itu tidak membacanya sama sekali. Lagipula dia sendiri yakin bahwa Eunhyuk sudah menghapal isi buku itu kata per kata dengan ingatan Renatus-nya yang mengagumkan. Dia tidak suka dengan kenyataan itu, tapi dia tidak tahan untuk tidak membicarakannya. Raut wajah itu begitu cerah, seolah dia baru saja mendapatkan hal yang paling diinginkannya di dunia.

Tentu saja itu benar, batin gadis itu dalam hati. Keinginan terbesar seorang Lee Hyuk-Jae memang berbicara dengan Choi Ji-Yoo, dan dia baru saja mendapatkannya.

“Tidak usah dibahas,” sahut pria itu pelan, tidak mau memulai pertengkaran.

“Nanti juga kita harus membahasnya. Membicarakannya sekarang tidak akan membuat banyak perbedaan.”

Eunhyuk menutup bukunya dan menangkupkan tangan di atas meja, kali ini mengarahkan tatapannya pada gadis itu.

“Aku memang berbicara dengannya. Kau marah?”

Sung-Rin tertawa getir. “Marah ataupun tidak juga tidak ada gunanya bagiku. Cepat atau lambat kau juga tidak akan tahan, kan?”

“Kau tahu bahwa Moira….”

“Aku tahu,” potong gadis itu. “Aku sudah melihat Kyuhyun dan Hye-Na. Nyaris seperti mereka berdua menempel dan tidak terpisahkan. Kalau tidak ada aku, kalian juga akan menjadi seperti itu, kan?”

“Rin~a….”

“Kau sudah mengajaknya bicara. Sekarang tidak ada lagi pilihan bagimu selain menjelaskan semuanya padanya. Semuanya, Hyuk~a.”

“Aku tahu,” jawab Eunhyuk dengan wajah tertunduk. Hal itu tidak mudah. Jelas sama sekali tidak mudah.

“Mungkin karena dia Moira-mu, dia tidak akan keberatan dengan kenyataan makhluk seperti apa kau, bahwa kau membutuhkannya. Tapi apa kau yakin dia bisa menerima kehadiranku? Kalau dia memintamu meninggalkanku, apa kau mau melakukannya?”

“Hei hei,” ucap Eunhyuk cepat, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi gadis itu. “Tidak perlu mengkhawatirkan itu, oke? Apapun yang terjadi, aku pasti akan mempertahankanmu. Kau sama pentingnya bagiku.”

“Tidak. Tanpa aku pun kau masih bisa meminum darahnya. Darahku tidak akan bisa menandingi rasa darahnya, kan?”

“Tapi aku tidak mau kau mati, bodoh!” sergah Eunhyuk, mulai merasa kesal. “Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun bersamamu, dan kau masih berpikir bahwa aku tidak akan merasakan apa-apa jika aku kehilanganmu begitu?”

Eunhyuk berdiri dan melangkah ke arah gadis itu, berhenti disamping kursi yang didudukinya. Perlahan dia menarik pundak gadis itu ke arahnya sehingga kepala gadis itu bisa bersandar di dadanya, lalu menunduk sedikit untuk mengusap punggung gadis itu dengan gerakan menenangkan.

“Berhentilah berpikiran bodoh, Park Sung-Rin. Kau mengerti?”

“Pasti akan sulit. Dia mahasiswiku, kau tahu? Dia mengambil salah satu mata kuliahku. Kami akan sering bertemu kalau begitu.”

“Aku akan bicara dengannya. Menjelaskan semuanya. Dan… itu tergantung bagaimana dia menyikapinya. Sekarang kau tidak perlu memikirkannya. Aku yang akan menyelesaikannya.”

Baru saja pria itu mengakhiri ucapannya, pintu ruangan Sung-Rin terbuka perlahan. Nyaris tanpa suara, sehingga gadis itu tidak menyadarinya. Tapi tentu saja dia bisa mendengar suara sekecil apapun dengan pendengarannya yang tajam, jadi dia hanya bisa terpaku kaget saat menyadari siapa yang memergoki mereka berdua.

Untuk pertama kalinya, pria itu hanya bisa berdiri membeku, tidak bergerak ataupun menarik nafas. Untuk pertama kalinya, dia merasakan otaknya kosong, tidak bisa memikirkan ataupun berbuat sesuatu. Untuk pertama kalinya dia hanya bisa diam, seperti orang bodoh yang tidak tahu caranya untuk bersikap.

Takdir memang suka mempermainkannya, kan?

***

Ji-Yoo menutup pintu lagi dengan perlahan kemudian berlari menjauh secepat yang dia bisa. Gadis itu baru menghentikan langkahnya di anak tangga paling bawah dengan nafas yang terengah-engah, memegangi dadanya yang terasa sakit karena tekanan kerja paru-parunya.

Mendadak pikirannya mulai berangsur jernih dan dia mulai menyadari kebodohan yang baru saja dia lakukan.

Memangnya kenapa kalau dia melihat pria itu memeluk dosennya sendiri? Wanita itu kan kekasihnya, jadi kenapa dia harus marah? Mereka bahkan tidak ada hubungan apapun. Hanya pernah berbicara satu kali dan itupun juga sepertinya hanya sekedar basa-basi karena pria itu kasihan melihatnya kehujanan. Jadi kenapa dia harus merasa sekesal ini?

Karena kau menyukai pria itu, tolol!

Yeah, dan kenapa dia harus bodoh sekali sampai menyukai seorang pria yang sudah punya kekasih? Pria itu bahkan lebih tua 7 tahun darinya. Dia masih waras, kan? Dan bayangkan bagaimana dia harus menghadapi pria itu jika mereka bertemu lagi! Pria itu pasti akan menganggapnya aneh karena kabur begitu saja, kan?

Gadis itu menghela nafas dan melirik paper di tangannya. Sepertinya dia masih harus menunggu sampai besok untuk menyerahkannya pada kekasih pria yang disukainya itu.

***

Ga-Eul’s Home, Seoul

07.08 PM

 

“Pulang sana,” usir Ga-Eul saat Donghae sudah mengantarkannya ke depan pintu rumah, memberi tanda bahwa dia ingin masuk dan menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama gadis itu.

“Mwo? Kau mengusirku?” seru pria itu tidak percaya. Dia sering kali tidak habis pikir dengan sikap yang ditunjukkan gadis di depannya itu. Terkadang gadis itu bisa sangat manis, tapi kemudian berubah ketus dan menakutkan di detik berikutnya.

“Ne. Wae?”

“Yak, biasanya kau selalu mengeluh karena waktuku habis untuk Hye-Na, tapi sekarang kau malah mengusirku setelah aku memiliki banyak waktu luang untuk dihabiskan bersama. Kau ini kenapa?”

“Tidak kenapa-napa,” jawab gadis itu singkat. “Aku hanya lelah, oke? Aku ingin istirahat. Kita masih akan bertemu lagi besok.”

“Baik. Aku mengerti,” ucap Donghae akhirnya setelah menatap gadis itu lama.

Raut wajah gadis itu memang terlihat sangat lelah, tapi mata gadis itu memperlihatkan ketakutan. Seolah ada hal buruk yang sedang terjadi. Dan gadis itu tidak mau memberitahukan hal tersebut padanya. Dia masih akan diam dan membiarkan gadis itu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mendesaknya untuk memberitahunya apa yang sedang terjadi.

“Dua hari,” lanjut pria itu penuh peringatan. “Kalau kau masih tidak menceritakan apa-apa padaku, kau akan tahu bahwa aku juga punya batas kesabaran. Dan kau tidak akan suka dengan apa yang akan kulakukan kemudian, Ga-Eul~a.”

***

Ji-Yoo’s Home, Seoul

07.44 PM

 

Eunhyuk mengerjap kaget saat menyadari bahwa dia sudah berada di depan rumah Ji-Yoo. Pria itu mengumpat dalam hati. Sepertinya otaknya bekerja di luar kendalinya lagi.

Eunhyuk menhirup nafas dalam-dalam, memenuhi indera penciumannya dengan aroma tanah, rumput, dan bau samar masakan yang baru saja dihidangkan di atas meja. Kadang memiliki indera penciuman tajam sangat berguna, tapi terkadang juga menjengkelkan karena kau benar-benar bisa membaui semuanya.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke dinding dalam posisi miring, mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu. Tapi setelah gadis itu berada di hadapannya nanti apa yang harus dikatakannya? Bagaimana dia harus mengawali ceritanya? Apakah gadis itu akan mempercayainya? Bagaimana kalau, seperti kata Sung-Rin, gadis itu tidak suka dengan kehadiran wanita lain dan menyuruhnya memilih? Atau kemungkinan paling buruk, gadis itu menganggapnya mengatakan omong kosong dan menolak percaya. Mungkin saja gadis itu tidak menyukainya.

Yang benar saja, batinnya dalam hati. Moira tidak mungkin menolak takdirnya.

Jadi dengan keyakinan tipis itu pria tersebut mengetuk pintu, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya pintu itu dibukakan dan Ji-Yoo muncul, berdiri kaku sambil menatapnya dalam campuran rasa kaget dan bingung.

“Ada yang harus aku beritahukan padamu,” ucapnya cepat sebelum gadis itu membuka mulut dan membuatnya kehilangan keberanian. Memberitahukan hal seperti ini bukanlah hal mudah. Pasti ceritanya terdengar seperti dongeng anak kecil yang tidak dapat dipercaya. Tapi dia harus menjelaskannya karena itulah peraturannya. Jika kau bertemu Cruor ataupun Moira-mu, dan kau sudah berbicara padanya, sudah merupakan kewajiban yang tidak bisa dilanggar untuk mengutarakan kebenaran. Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari manusia, binatang, tanaman, dan benda mati saja. Bahwa semua mitos yang terdengar seperti bualan menggelikan itu benar adanya. Hanya saja tidak ada yang tahu tentang Renatus. Mungkin kalau dia mengaku menjadi vampir gadis tersebut akan lebih cepat percaya.

“Dan kau akan tahu alasan kenapa kau merasa menyukaiku.”

***

Daechi-dong, Gangnam, Seoul

08.16 PM

 

Wanita tua itu berjalan dengan langkah kaki yang semakin dipercepat. Dia sesekali menoleh ke belakang, dengan kewaspadaan yang semakin meningkat. Firasatnya mengatakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, tapi setelah beberapa kali menyelidiki, dia tidak mendapati apa-apa. Bahkan seekor kucing pun tidak. Jalanan itu benar-benar gelap dan lengang. Lampu jalan hanya terletak 20 meter di depan, itupun sedikit redup. Dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat padahal ini baru jam 8.

Wanita itu menoleh lagi saat merasakan hembusan angin yang cepat di belakang tubuhnya, seolah ada seseorang yang berlari melintas, tapi lagi-lagi dia tidak melihat apa-apa. Dia sudah benar-benar berlari sekarang. Dan kabar buruknya, rumahnya masih terletak beberapa blok lagi dari jalanan ini.

Dia memutuskan untuk berbelok di tikungan depan, saat teringat ada jalan besar di depan. Membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai di rumah, tapi setidaknya lebih aman. Biasanya ada banyak penjaja makanan sampai larut tengah malam yang berjualan disana, juga ada banyak kendaraan, jadi dia bisa menepis ketakutannya.

Masih 25 meter sebelum dia mencapai jalan besar, saat tiba-tiba dia merasakan sesuatu menyentuh bahunya dan menyentakkan tubuhnya sampai berbalik. Wanita itu terhuyung dan jatuh menghantam tanah dan yang dia tahu sesaaat kemudian hanyalah punggungnya yang terdesak sampai ke dinding yang membatasi rumah-rumah dengan jalan dan kepalanya yang dipaksa mengambil posisi miring sehingga lehernya terekspos jelas.

Sesuatu yang tajam dan runcing menusuk bagian samping lehernya, dan dia bisa merasakan darahnya memercik keluar. Tapi ada sesuatu yang dingin dan lembut yang sudah siap menampung cairan merah itu, menghisapnya dengan perlahan, tapi kemudian semakin cepat dan tidak sabar. Mata wanita itu terasa berkunang-kunang, dan langit di atasnya seolah berputar saat dia perlahan kehilangan kesadarannya, mendadak menyadari bahwa apapun makhluk yang sedang melakukan ini padanya, bermaksud untuk menghisap darahnya sampai habis dan dia tahu bahwa dia tidak akan pernah sampai ke rumahnya. Jadi dengan pikiran buruk itu, wanita tersebut mengerahkan seluruh tenaganya untuk menoleh, berusaha menatap siapa yang akan membunuhnya. Dan wajah itu memenuhi penglihatannya sampai matanya tertutup dan kematian menyambutnya. Wajah yang begitu tampan, dengan kesan dingin dan menakutkan, membuat suasana disekelilingnya terasa mencekam. Mata pria itu kelam dan menyorot tajam, dan kulitnya begitu putih seperti tulang, terlihat mulus tapi juga kuat, seolah tidak akan bisa ditembus oleh benda tajam apapun. Dan dia tidak tahu, alasan kenapa pria muda dan tampan ini menginginkan nyawanya. Kenapa pria itu bisa menghisap darahnya. Makhluk macam apa yang ditemuinya ini?

***

Ji-Yoo’s Home, Seoul

08.23 PM

“Gila,” gumam Ji-Yoo setelah 5 menit berlalu dalam keheningan. Dia ingin menolak percaya semua hal yang diceritakan pria itu, tapi semuanya juga terdengar begitu masuk akal sekaligus mustahil di saat yang bersamaan.

Bagaimana mungkin ada makhluk semacam itu di dunia?  Tapi hal tersebut juga menjawab segalanya. Alasan kenapa dia memiliki ketertarikan aneh terhadap pria tersebut, kenapa pria itu memiliki kekasih yang jauh lebih tua darinya. Dan cerita yang paling tidak diterima oleh logikanya adalah… pria itulah yang telah membantu proses kelahirannya. Dan sejak itu, mereka sudah ditakdirkan bersama. Bagaimana mungkin dia bisa mempercayai cerita seperti itu? Hal tersebut hanya ada di kisah-kisah roman fantasi. Pria di depannya ini bahkan bukan vampir.

“Kau tidak bisa menolak kehadiranku,” lanjut pria itu. “Takdir yang satu ini, Moira, bukan sesuatu yang bisa kau hindari. Aku minta maaf karena tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatimu dan membuatmu terjebak dalam situasi tidak mengenakkan ini, tapi aku juga hampir-hampir tidak memiliki pilihan. Ikatannya terlalu kuat. Kau lihat saja Kyuhyun dan Hye-Na. Kau pasti sudah dengar, kan? Kampus sepertinya sangat heboh dengan gosip mereka keluar dari toilet bersama dan menunjukkan kemesraan terang-terangan di depan umum.”

“Mereka juga….”

Eunhyuk mengangguk. “Tapi mereka tidak sepenuhnya Renatus. Hye-Na adalah  anak Lovelya, dan Kyuhyun adalah anak Deathan. Mereka Mi-Ange, setengah malaikat.”

“Malaikat bisa punya anak?”

“Ceritanya panjang. Aku akan menjelaskan padamu nanti.”

“Lalu…” ucap Ji-Yoo ragu. “Kau mau aku bersikap seperti apa? Mempercayaimu? Kau mau aku terjebak di tengah-tengah hubunganmu dan Sung-Rin songsaengnim? Kau pikir wanita waras mana yang mau menjalani hubungan seperti itu?”

“Aku tidak memintamu melakukannya. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti… seorang pria kepada wanita. Aku hanya… aku hanya perlu melihatmu dan berbicara denganmu. Sebagai sahabat. Teman. Kenalan. Atau apapun yang kau inginkan.”

“Apa itu….”

“Sama menyakitkannya. Memang. Tapi aku sudah cukup menderita selama ini karena hanya bisa melihatmu dari jauh saja dan aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi. Anggap saja ini penderitaan lain dalam bentuk yang lebih menyenangkan.” Eunhyuk menghela nafas dan tersenyum tipis. “Dia juga sama berartinya bagiku. Aku tidak bisa kehilangannya. Untuk yang satu ini aku harap kau mengerti.”

“Aku tahu,” timpal Ji-Yoo. “Aku tidak akan pernah merusak hubungan yang seperti itu.”

Eunhyuk menatap gadis itu lekat, mensyukuri bahwa akhirnya sekarang dia bisa menatap wajah itu dari jarak dekat, sepuas yang dia inginkan. Mungkin dia tidak bisa memiliki gadis itu sepenuhnya, tapi hubungan seperti ini juga sudah cukup baginya. Asalkan dia bisa melihat dan berbicara dengan gadis itu, dia pasti akan baik-baik saja.

“Yoo….”

“Mmm?”

“Boleh aku… memegang tanganmu?”

Ji-Yoo tertegun sesaat mendengar permintaan pria itu. Gadis itu mengerjapkan matanya, kemudian dengan perlahan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut dengan hati-hati oleh pria itu. Detik itu juga sensasi yang dulu dirasakannya saat kulit mereka pertama kali bersentuhan menghantamnya lagi. Suhu tubuh pria itu dingin, tapi tidak membuatnya beku. Dan itu rasanya cukup menyenangkan.

Pria itu menatap tangan dalam genggamannya, menyusuri jemari gadis itu dengan ibu jarinya. Dia tersenyum dan melepaskan tangan gadis itu, seolah dia dia tidak bisa menggenggamnya lebih lama lagi.

“Aku harap… kali kedua aku menggenggam tanganmu, status kita sudah berubah.”

“Maksudmu?”

“Kau sudah jadi milikku. Jadi saat itu, aku sudah bebas menggenggam tanganmu kapanpun aku mau.”

***

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

10.45 PM

 

Hye-Na berguling gelisah dalam tidurnya. Dia tidak mendapatkan mimpi apa-apa, tapi suasana di sekelilingnya membuatnya merasa tidak nyaman.

Gadis itu membuka matanya dan langsung terbelalak lebar saat melihat Kyuhyun sudah berbaring menyamping disampingnya, menatapnya dengan kepala yang disangga oleh tangan kanannya. Pantas saja aura di kamarnya teerasa mencekam.

“Kau tidak punya sopan santun?” gerutu gadis itu dengan bibir mengerucut. “Mengganggu tidurku saja!”

Pria itu terkekeh pelan, tidak membalas ucapannya. Alih-alih menjawab, dia malah menyentuh pipi gadis itu dengan tangannya yang anehnya terasa dingin. Yang lebih aneh lagi, gadis itu tidak merasakan getaran menyesakkan yang biasanya dia rasakan setiap kali pria itu menyentuhnya.

Hye-Na menghirup nafas diam-diam, tidak tahu kenapa dia melakukannya. Dan wangi yang diciumnya kemudian membuatnya tersentak kaget. Baunya berbeda. Bau pria itu berubah. Yang dibauinya sekarang adalah aroma asing, percampuran antara bau matahari, daun, dan tanah basah. Dan mendadak hal itu membuatnya ketakutan. Ada apa? Apa yang terjadi pada pria di depannya ini?

“Kau kelihatan cantik saat sedang tidur,” ujar pria itu sambil bangkit dari tempat tidur. Bahkan ucapannya pun terasa aneh di telinga Hye-Na. Seorang Cho Kyuhyun tidak akan mengucapkan hal seperti itu, kan?

“Aku pergi dulu. Sepertinya kau tidak bisa tidur kalau aku tetap disini,” lanjutnya sambil mengacak-acak rambut gadis itu. “Sampai jumpa besok, Hye-Na~ya.”

Seharusnya ‘Sampai jumpa besok, Na~ya’, batin Hye-Na dengan bulu kuduk meremang saat pria itu menghilang di balik jendela kamarnya. Gadis itu mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya erat-erat, masih bertahan pada posisinya semula, menatap nyalang ke tirai jendela yang sedikit bergoyang tertiup angin. Perlahan dia memaksakan diri untuk beranjak meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, lalu dengan tangan gemetar memencet nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Dia pasti benar-benar ketakutan, karena bukan hal mudah untuk membuat seorang renatus gemetaran.

“K… Kyu,” ucapnya gugup.

“Wae? Kenapa kau meneleponku? Suaramu aneh. Kalau kau manusia pasti aku sudah mengira bahwa kau sedang sakit.”

“Kau… barusan… tidak dari rumahku?”

“Kau mau aku kesana?”

Gadis itu bahkan tidak punya waktu untuk merasa kesal.

“Kau tidak baru pergi dari kamarku?

“Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?” Kali ini suara pria itu berubah lebih tajam dan terdengar waspada. Dan hanya butuh waktu dua detik saat Hye-Na mendengar jendela kamarnya terbuka menghantam dinding dan pria itu sudah berdiri di depannya di saat yang bersamaan.

Raut wajah pria itu terlihat tegang dan berkeriut marah setelah membaui sesuatu yang aneh di kamar gadis itu.

“Siapa yang baru saja dari sini?” tanyanya, naik ke atas tempat tidur dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, memeriksa apakah gadis itu dalam keadaan normal atau tidak. Ketakutan jelas, tapi tidak kekurangan sesuatu apapun sehingga membuat pria itu berhasil menarik nafas lega.

“Kau.”

“Aku?” seru pria itu kaget. Ada satu kemungkinan yang langsung menghampiri pikirannya, tapi itu nyaris mustahil. Apa dia sudah seberani itu sampai muncul terang-terangan seperti ini? Tapi bagaimana bisa?

“Bagaimana kalau….”

“Aku juga memikirkan hal yang sama,” ucap pria itu kalut. Waktu mereka semakin menipis dan dia tidak mau membayangkan bahwa hal tersebut akan segera terjadi.

“Reezar?”

TBC