.: 1st Cup :.

Pria itu berlari-lari kecil memasuki pelataran kafe, menyapu butiran air yang menetes di baju yang dipakainya dengan tangan, kemudian melangkah masuk ke dalam, tanpa sengaja membunyikan lonceng yang terpasang di bagian atas saat dia membuka pintu.

Kafe itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan sarapan paginya, tidak peduli dengan sekitar.

Pria itu mengedarkan pandangan dan memutuskan untuk duduk di dekat jendela yang tampak kabur terkena uap tetesan air hujan di luar. Dari sana dia bisa melihat pemandangan jalan, mobil-mobil yang berseliweran, orang-orang yang berlalu-lalang, berlari menghindari hujan, bergegas menuju tempat tujuannya masing-masing.

Sebenarnya dia tidak ada rencana sama sekali untuk memperlambat paginya dengan mampir di kafe ini. Dia sengaja berangkat lebih awal ke kantor karena mobilnya terpaksa masuk bengkel setelah dipakai dengan semena-mena oleh kakak perempuannya kemarin. Sialnya, dia terjebak hujan di jalan dan terpaksa mampir ke kafe ini, mengingat dia masih harus menempuh jarak 10 menit lagi sebelum sampai di halte terdekat dengan berjalan kaki, dan dia tidak ingin terlihat acak-acakan di hadapan para pegawainya di kantor.

Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat tangannya di depan dada, menatap pemandangan di luar jendela. Hujan masih mengguyur cukup deras, dan sepertinya akan sering turun, mengingat ini adalah pertengahan musim gugur.

Secara pribadi dia tidak terlalu menyukai musim gugur. Bukan hanya karena musim tersebut identik dengan perpisahan, tapi juga karena aura yang dimiliki musim itu sendiri. Cokelat, kering, gugur, berakhir. Tidak ada makna positif yang didapatnya dari hal-hal itu, jadi… sederhana saja, dia bukan penikmat musim gugur.

“Anda sudah mau memesan, Tuan?”

Pria itu menoleh saat mendengar suara yang berasal dari arah kanannya. Dia mendongak dan mengangguk ke arah pelayan yang langsung menyodorkan buku menu padanya.

“Kopi biasa saja,” jawabnya singkat tanpa melirik buku itu sama sekali.

“Baik. Silahkan menunggu sebentar. Permisi.”

Pria itu melanjutkan lagi kegiatannya yang sempat tertunda tadi. Dia teringat bagaimana ibunya meminta agar dia mulai memikirkan masa depannya, yang hanya berarti satu hal. Menikah. Hanya saja… apa yang bisa dilakukannya jika tiap hari dia selalu berkencan dengan tumpukan pekerjaannya? Ibunya pasti tidak akan setuju jika dia menikah dengan perusahaan.

Umurnya sudah menginjak 25 tahun, yang memang menuntutnya untuk segera memikirkan sesuatu tentang… berkeluarga. Dan jujur saja, itu bukan hal yang dianggapnya perlu untuk dipikirkan.

Pria itu memfokuskan matanya saat menangkap sosok seorang gadis yang menurutnya bertingkah aneh. Gadis itu berdiri diam di seberang jalan, di bawah naungan payungnya yang berwarna putih transparan. Hanya saja gadis itu tidak bergeming dari tempatnya saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, seolah… ada sesuatu yang menahannya tetap disana.

Pria itu menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas, karena berkali-kali sosok gadis itu tertutupi oleh kerumunan yang berlalu-lalang di depan kafe. Dia tidak tahu tapi… saat gadis itu mendongakkan wajahnya menatap langit dengan mata terpejam, dia merasa bahwa gadis itu sedang mencium bau sesuatu, tidak memedulikan tetes air hujan yang mulai membasahi wajahnya. Dia tidak yakin dengan apa yang dilakukan gadis itu, hanya saja gadis tersebut terlihat sangat menikmati apa yang dilakukannya, merujuk pada senyum kecil di bibirnya.

Gadis itu melakukannya cukup lama, sampai lampu lalu-lintas sudah dua kali berganti warna. Hijau dan merah. Tapi kali ini gadis itu sepertinya sadar untuk segera bergerak, bergabung dalam kerumunan.

Pria itu sedikit menahan nafas saat melihat gadis tersebut berhenti di depan pagar kafe, tersenyum dan melambai ke arah seseorang yang sepertinya berdiri di depan pintu kafe, karena dia tidak bisa melihatnya dari sudut tempat dia duduk.

Kali ini dia bisa melihat keseluruhan wajah gadis itu dengan lebih jelas, membuatnya terpana dalam hitungan detik yang terasa begitu lama.

Dia pernah mendengar pendapat yang mengatakan bahwa bagian terbaik dari sebuah kecantikan adalah saat tidak ada gambar yang bisa melukiskannya. Dan kali ini, dia mengerti maksud ucapan itu. Dia… tidak bisa mendeskripsikan satu bagian pun dari wajah gadis itu dengan tepat. Hanya cantik. Dia hanya tahu bahwa gadis itu cantik. Itu saja.

***

“Kau melakukannya lagi? Menghirup aroma hujan kesukaanmu sampai lupa waktu? Kali ini kau melakukannya dimana?”

Gadis yang dicecar pertanyaan oleh Yo-Ri itu tersenyum, merapikan bagian bawah gaun terusannya, lalu meletakkan payungnya ke rak payung yang terletak di depan pintu masuk kafe.

Dari arah itu dia bisa melihat bagian dalam kafe yang dibatasi oleh sekat-sekat dari kayu dan kaca di segala sisi. Dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya, dan menyadari bahwa satu-satunya orang yang duduk di sisi itu hanya seorang pria yang mungkin hanya lebih tua 3 atau 4 tahun darinya. Pria itu menoleh ke arah lain, jadi dia tidak perlu merasa takut ketahuan jika memperhatikan.

Kesan pertamanya adalah pria itu tampak sangat tampan dalam balutan jas hitamnya, dengan aura dingin yang sangat kentara.

Gadis itu menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikiran lagi. Ini bukan waktunya untuk memperhatikan penampilan seorang pria, kan?

“Hanya di lampu merah seberang,” jawab gadis itu singkat, menjawab pertanyaan Yo-Ri tadi, lalu melangkah masuk ke dalam kafe, langsung menuju dapur yang dipenuhi aroma kue dan kopi.

“Aku tidak pernah mengerti dengan hobimu yang satu itu,” cetus Yo-Ri tidak habis pikir. Sahabatnya itu dulu adalah gadis yang tomboy dan tidak peduli terhadap penampilan. Tapi semenjak kematian kedua orangnya tahun lalu, gadis itu berubah 180 derajat.

Kedua orang tua sahabatnya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis yang membuat ayahnya tewas di tempat. Ibunya masih sempat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sekarat, tapi kemudian meninggal keesokan harinya setelah meninggalkan pesan terakhir untuk anak semata wayangnya itu. Inti dari pesan itu adalah bahwa dia menginginkan anak perempuannya itu menjadi anak yang manis, sesuatu yang kemudian diinterpretasikan sahabatnya sebagai perubahan menjadi wanita feminin, berhenti meminum kopi, apalagi membuatnya, karena ibunya selalu mengatakan bahwa tidak seharusnya seorang anak perempuan tergila-gila dengan minuman pahit berkafein itu.

“Ini tepat satu tahun. Kau ingat janjimu?” tanya Yo-Ri memastikan.

Gadis itu mengangguk. Masa berkabungnya harus berakhir pada hari ini. Dia sudah berjanji untuk mencoba membuat kopi lagi. Kafe ini miliknya, tanggung jawabnya, dan dia sudah menelantarkannya terlalu lama.

“Kopimu itu kopi yang terenak di dunia, kau tahu?”

“Sebagai satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan baik di dapur, tentu saja aku harus menjadi yang terhebat,” ucap gadis itu sambil menyunggingkan senyum. “Pesanan mana yang belum dibuat?”

“Semuanya sudah selesai. Tinggal diantarkan. Tunggu saja pelanggan berikutnya datang,” ujar Yo-Ri, memanggil salah seorang pelayan untuk membawa pesanan terakhir yang belum diantarkan.

“Chakkamman! Kopi itu untuk siapa?” tanya gadis itu, mencegat langkah pelayan tersebut.

Pelayan itu menunjuk ke arah pria yang duduk di sudut di dekat jendela, membuat gadis itu langsung berinisiatif untuk merebut nampan kecil itu dan meletakkannya kembali ke atas meja.

“Biar aku buatkan yang baru. Kopi pertamaku harus untuk pelanggan yang istimewa dan… dia satu-satunya pelanggan kita pagi ini yang duduk sendirian. Jadi dia harus meminum kopi buatanku. Eo?”

“Baiklah, terserah kau saja,” tandas Yo-Ri, sambil memberi tanda agar pelayan itu kembali ke tempatnya. “Ngomong-ngomong pria itu tampan juga.”

“Dekati saja kalau kau tertarik,” sahut gadis itu, sibuk membuat kopi pertamanya dengan penuh konsentrasi.

Dia tidak pernah melupakan setiap langkahnya, setip rahasianya. Dia selalu bersenang-senang saat membuat kopi, menikmati aroma harum yang menguar dari dalam cangkir, ketelitian saat menuang krim dan membentuknya menjadi berbagai macam jenis. Kali ini dia memilih bentuk daun, lambang dari musim gugur.

Saat itu… ada setitik harapan untuk orang pertama yang mencicipi kopi pertamanya setelah satu tahun berlalu dalam penuh kesedihan. Satu harapan sederhana agar pria itu menyukai kopi buatannya. Harapan sederhana bahwa kopi itu akan menjadi sumber energi sebelum pria itu melewatkan harinya yang sibuk. Harapan sederhana bahwa… pagi ini menjadi awal yang indah, dari siang yang mendung, dan malam yang melelahkan.

***

Kopi pertama pagi ini. Hangat. Dengan aroma khas yang menguar, pekat bercampur wangi manis yang menenangkan.

Pria itu mengangkat cangkir dan mendekatkannya ke mulut, merasakan sesapan pertamanya. Rasa manis krim, yang kemudian berganti dengan rasa pahit dari kopi yang kental.

Ada rasa hangat menyenangkan yang mengalir dari tenggorokan ke perutnya, kafein harian yang selalu disukainya.

Dia sudah mencoba begitu banyak jenis kopi dari berbagai kedai kopi di Seoul, tapi baru kali ini dia datang ke tempat ini, membuatnya merasa sedikit menyesal karena sudah melewatkan kopi pagi terenak yang pernah dicicipinya.

Kopi selalu sama. Seperti putaran hidup yang tidak pernah berbeda. Manis di awal, kemudian diikuti rasa pahit hingga akhir, lalu habis. Usai begitu saja. Seperti manusia yang menjalani hidup. Lahir untuk kemudian mati, memenuhi siklus hidup yang terus-menerus berjalan tanpa henti. Seseorang lahir, mati, kemudian digantikan oleh seseorang yang lain. Yang jika beruntung selalu diingat, tapi jika sial, dengan cepat dilupakan begitu saja.

Pria itu meminum tegukan terakhirnya, bersiap untuk pergi dengan rasa pahit yang akan tertinggal di lidah untuk jangka waktu yang cukup lama. Tapi di detik yang sama, pria itu tertegun di tempat, tepat saat cairan itu mengalir masuk ke dalam kerongkongannya.

Entah bagaimana, dia tidak tahu bagaimana caranya, tapi tegukan itu terasa manis, tidak pahit seperti yang biasa dirasakannya. Kopi itu sebelumnya pahit dan hanya ada krim yang memberikan sedikit rasa manis, tapi krim itu sendiri dituang di atas permukaan kopi, dan dia sama sekali tidak mengaduknya, jadi mustahil rasa krim itu masih tertinggal sampai tegukan terakhir.

Pria itu mengerutkan keningnya, sebelum akhirnya tersenyum tipis. Rasanya seperti… sebuah kontradiksi terhadap pikirannya. Siapapun pembuat kopi itu, seolah ingin menunjukkan bahwa… selalu ada akhir yang manis untuk setiap hal. Apapun itu.

Pria itu melangkah ke meja kasir, membayar kopinya, dan berniat untuk pergi, sebelum mengurungkan niatnya dan berbalik menatap penjaga kasir itu.

“Tolong katakana pada orang yang telah membuatkan kopi untukku,” ujarnya pelan. “Terima kasih sudah membuatkan kopi pertamaku hari ini dengan sangat enak. Aku suka rasa akhirnya. Dia hebat sekali.”

***

Gadis itu menghentikan langkahnya di depan dua buah makam yang terletak berdampingan. Dia meletakkan bunga lili putih yang dibawanya ke atas pusara, kemudian melakukan penghormatan. Matahari tidak bersinar terlalu cerah karena tertutup awan, jenis cuaca yang selalu disukainya. Musim gugur selalu indah. Cokelat. Warna yang selalu dilihatnya setiap melihat foto-foto lama yang sudah kusam, tampak kecokelatan dimakan usia.

Menurutnya musim gugur terlihat seperti lembaran masa lalu yang akan segera usai, digantikan oleh musim dingin yang membekukan setiap kenangan dalam ingatan, musim semi yang cerah penuh warna, awal dari sesuatu yang baru, dan musim panas yang penuh sinar matahari, perjalanan yang terlewat sebelum menuju akhir.

“Eomma, appa, haari ini tepat satu tahun setelah kepergian kalian,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Hari ini adalah hari terakhir masa berkabungku, jadi setelah ini aku akan menjadi anak kalian yang dulu. Tapi tenang saja eomma, aku sudah mulai terbiasa memakai semua gaun yang dulu kau belikan untukku, jadi mungkin aku masih akan memakainya sesekali.”

“Aku membuat kopi pertamaku tadi pagi. Orang yang meminum kopi itu mengucapkan terima kasih. Dia bilang dia menyukai rasa akhirnya. Appa benar, kan? Aku memang pembuat kopi terenak di seluruh dunia.”

“Appa, eomma, sebentar lagi musim gugur akan berakhir. Akhir-akhir ini hujan sering sekali turun. Apa menurut kalian akan terjadi sesuatu? Aku harap… itu sesuatu yang baik. Musim gugur selalu menyenangkan, kan?”

***

.: 2nd Cup :.

Pagi kedua tanpa mobil kesayangannya. Dan pagi kedua dia berhenti di depan kafe yang sama, merasa kebingungan sendiri dengan perasaan yang mendesaknya ingin kesini. Kopi mungkin?

Pria itu masuk ke dalam dan melangkah ke tempat dia duduk kemarin. Hanya saja sudah ada seorang gadis yang duduk disana. Dengan secangkir kopi di hadapannya.

Kakinya terus melangkah ke meja itu, tidak berniat untuk berbelok saat dia menyadari bahwa gadis itu adalah gadis yang dilihatnya kemarin. Gadis di lampu merah dengan payung transparan.

Hari ini gadis itu mengenakan cardigan yang cukup tebal, menutupi blus peach-nya, dengan rambut yang terikat rapi membentuk ekor kuda.

“Chogiyo….”

“Ne?” sahut gadis itu sambil mendongak. Detik berikutnya mata gadis itu sudah membulat, seolah mengenalinya. Atau mungkin hanya perasaannya saja.

“Boleh aku duduk disini? Aku suka duduk di dekat jendela, jadi….”

“Oh, ye, silahkan,” ujar gadis itu sambil menyingkirkan barang-barangnya dari meja, meletakkannya ke atas kursi kosong disampingnya.

Seorang pelayan mendatangi mereka dan pria itu menyebutkan pesanannya. Kopi biasa. Sama seperti kemarin.

Mereka berdua sama sekali tidak berniat untuk membuka pembicaraan, hanya menatap ke arah yang sama. Jendela. Sebelum akhirnya gadis itu menunduk dan melanjutkan kegiatan membaca novelnya yang tadi sempat tertunda.

Pemandangan pagi yang dilihat pria itu kali ini sedikit berbeda. Gerimis menggantikan hujan deras yang turun pagi sebelumnya. Gerimis selalu lebih menyenangkan menurutnya. Tidak terlalu membuat basah. Dengan suara yang lebih ringan saat membentur tanah.

Tatapannya melayang pada gadis di depannya. Ada sesuatu yang membuat gadis itu terlihat menarik. Senyumnya mungkin? Atau suaranya yang jernih?

Tidak. Mungkin dia hanya menyukai bau lembut yang menguar dari tubuh gadis itu. Lili, menurut tebakannya.

Pesanan pria itu datang beberapa menit kemudian, yang langsung disesapnya setelah memastikan bahwa kopi itu sudah cukup dingin untuk diminum.

Gadis itu sendiri tetap menatap lembaran bukunya dengan pennuh konsentrasi, tersiksa dengan kenyataan betapa menariknya pria itu jika dilihat dari dekat. Dia seolah sedang menatap dirinya sendiri saat melihat bagaimana pria itu tampak begitu menikmati kopi paginya, ekspresi yang tidak dimiliki oleh seluruh penikmat kopi.

Pria itu melirik jam tangannya sekilas lalu menuntaskan tegukan terakhirnya. Kali ini gadis itu mengerutkan keningnya bingung saat melihat raut muka tidak puas yang terlihat sangat jelas di wajah pria itu.

“Waeyo?” tanyanya, tidak tahan untuk bertanya.

“Kopinya berbeda,” ujar pria itu pelan, sama bingungnya.

“Mwo?”

“Kopi yang kuminum pagi ini… berbeda dengan kopi yang kuminum kemarin.”

“Bagaimana kau bisa….”

“Rasa akhirnya,” potong pria itu serius. “Kali ini rasanya pahit. Pasti tidak dibuat oleh orang yang sama.”

Pria itu bangkit berdiri dan membungkuk sopan sambil mengucapkan terimakasih.

“Untuk apa?”

“Karena mengizinkanku duduk disini. Maaf mengganggu pagimu. Sampai jumpa,” ujarnya, meninggalkan gadis itu tertegun sendirian.

Mata gadis itu mengikuti sosok pria tersebut sampai menghilang dalam kerumunan orang yang berjalan di luar pagar kafe, terkesima dengan kenyataan bahwa pria itu tahu bahwa kopi yang baru saja diminumnya berbeda. Dia tahu perbedaan kecil yang tidak terlalu kentara itu.

“Wae? Kenapa kau tersenyum?”

Gadis itu menoleh kaget dan menatap Yo-Ri kesal karena kedatangan gadis itu yang mengejutkannya.

“Ani,” gelengnya. “Hanya bertemu seseorang yang menyenangkan.”

***

.: 3rd Cup :.

Ada yang bilang bahwa sekali kau bertemu takdirmu, dia akan terus-menerus muncul di depanmu dalam begitu banyak ketidaksengajaan yang terlihat disengaja. Mungkin perkataan itu benar, tapi dia tidak yakin apakah pria itu takdirnya atau bukan.

Gadis itu meneruskan langkahnya ke halte yang masih kosong. Hanya ada pria itu saja disana.

Gadis tersebut duduk di ujung lain bangku halte, meletakkan tasnya ke tempat kosong disampingnya, membuat pria itu menoleh. Gadis itu membungkuk dan tersenyum sedikit sebagai sapaan, yang dibalas oleh pria itu dengan cara yang sama.

“Kau tidak ke kafe?” tanya gadis itu, berusaha terdengar seperti basa-basi, padahal dia sendiri ingin tahu apakah pria itu kecewa karena rasa kopinya kemarin sehingga tidak mau datang lagi atau mungkin ada alasan lain.

“Pagi ini aku ada meeting, jadi tidak bisa mampir ke kafe. Kau sendiri?”

“Aku harus menyerahkan skripsiku pagi ini,” jelas gadis itu. “Apa kau tinggal di dekat sini? Kenapa kita tidak pernah bertemu?”

“Di kompleks perumahan disana,” tunjuk pria itu ke sebelah kanannya. “Biasanya aku pergi ke kantor dengan mobil, tapi mobilku sedang ada di bengkel, makanya aku memutuskan untuk naik taksi.”

“Ah, begitu. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu di dekat sini.”

Hening lagi. Hanya terdengar gemerisik dedaunan yang diterbangkan angin lalu jatuh ke tanah.

Gadis itu menggerakkan kakinya, memainkan beberapa helai daun kecokelatan yang jatuh di dekatnya. Dia mendongakkan wajahnya dan menghirup nafas dalam-dalam, mencium aroma yang sangat familiar di udara.

“Sebentar lagi hujan,” gumamnya pelan, tidak menyadari tatapan yang diberikan oleh pria disampingnya. “Aku bisa mencium aromanya. Apa kau membawa payung?”

***

Dia tidak tahu apa yang dirasakannya saat melihat gadis itu. Lagi. Apa ada kebetulan yang terlalu kebetulan seperti ini?

Hari ini gadis itu mengenakan gaun cokelat selutut, warna musim gugur, dengan rambut ikal yang dibiarkan tergerai di punggung. Dan gadis itu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan dua hari yang lalu. Duduk diam sambil memejamkan mata dengan kepala mendongak ke atas, seolah sedang menghirup aroma sesuatu.

“Sebentar lagi hujan,” gumam gadis itu pelan. “Aku bisa mencium aromanya. Apa kau membawa payung?”

“Kau…” ujarnya tak yakin. “Bisa mencium bau hujan?”

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. “Hujan memiliki bau yang khas. Aku menyukai aromanya. Seperti… bau tanah yang basah. Karat.”

Gadis itu tiba-tiba berdiri dan melihat ke arah lain, dengan tergesa-gesa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Bisku sudah datang. Ini,” ujarnya sambil menyodorkan tempat minum ke arah pria itu, yang balas menatapnya tidak mengerti.

“Kopi. Kau belum minum kopi pagi ini, kan? Ini kopi pertamamu hari ini. Semoga harimu menyenangkan!” seru gadis itu sambil berlari naik ke atas bis.

Pria itu menatap tempat minum di tangannya lama, sebelum akhirnya membukanya, menghirup aroma pekat kopi yang bercampur dengan udara yang di sekelilingnya.

Dia menyesapnya sedikit, merasakan hantaman rasa familiar di lidahnya. Dengan tidak sabar dia meminum kopi itu sampai habis, tersenyum puas saat mencecap tegukan terakhirnya.

“Jadi kau,” gumamnya lirih. “Ternyata kau yang membuatnya.”

***

“Oh, annyeong,” sapa gadis itu kaget saat dia baru menapakkan kaki turun dari bis.

Pria itu juga menatapnya dengan raut wajah terkejut, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan membungkukkan badan.

“Kau… sedang apa disini?”

“Hujan,” jawab pria itu. “Aku tidak membawa payung, jadi aku terpaksa menunggu disini sampai hujannya reda.”

“Bukannya kau naik taksi?”

Pria itu menggeleng. “Taksi sudah penuh karena banyak penumpang saat hari hujan, jadi aku memutuskan untuk naik bis.”

“Oh,” sahut gadis itu sambil mengangguk mengerti. “Kalau begitu… ng… aku duluan,” pamitnya sambil membuka payung dan berjalan ke arah kiri halte.

“Chogiyo,” panggil pria itu cepat, bangkit dari tempat duduknya. Pria itu tampak kebingungan sesaat, tidak tahu kenapa dia memanggil gadis itu. Memangnya apa yang sedang dipikirkannya, hah?

“Ng… keberatan kalau aku mengantarmu?”

“Ne?”

“Maksudku… setelah aku mengantarmu, aku bisa meminjam payungmu, dan tidak kebasahan sampai di rumah. Kalau kau tidak keberatan,” ujar pria itu, sedikit salah tingkah.

“Tapi… arah rumah kita berlawanan. Apa tidak masalah?”

“Gwaenchana,” ucapnya sambil mengambil-alih payung gadis itu dan berjalan bersisian.

“Kau suka musim gugur,” tanya pria itu, membuka pembicaraan.

Gadis itu mengangguk dengan pandangan menerawang. “Aku suka melihat daun yang berguguran.”

“Wae?”

“Bukankah daun adalah makhluk hidup paling luar biasa?”

“Mwo?” tanya pria itu, merasa terkejut dengan pernyataan mengagetkan yang keluar dari mulut gadis tersebut.

“Daun adalah makhluk hidup paling luar biasa,” ulang gadis itu lagi. “Mereka bisa menghasilkan makanan sendiri, dengan cara mengambil karbon dioksida yang kita keluarkan, lalu mengubahnya menjadi oksigen yang kita hirup kembali. Bukankah itu luar biasa? Manusia tidak bisa bernafas tanpa kehadiran mereka,” jelasnya. “Lagipula… mereka juga memiliki siklus hidupnya sendiri. Saat musim gugur mereka akan berguguran ke atas tanah, berubah warna menjadi cokelat. Menua. Mati. Kemudian hidup lagi saat musim semi. Mereka bisa mati, hidup, memperindah pemandangan, memberi manusia oksigen. Helai-helai yang kadnag diinjak dan tidak dipandang sama sekali, tanpa ada yang sadar bahwa mereka adalah benda terpenting di dunia, alasan kenapa kita bisa bernafas. Karena itu aku menyukainya. Daun… tidak pernah meminta balasan atas kebaikan yang mereka lakukan.”

Pria itu memperhatikan lekat-lekat selama gadis itu berbicara. Suaranya, cara dia tersenyum, mata cokelatnya yang besar, dan harum bunga lili yang memenuhi indera penciumannya. Pria itu tersadar akan satu hal, bahwa dengan caranya sendiri, gadis itu terlihat sangat berbeda. Sudut pandang yang digunakannya jauh berbeda dari orang kebanyakan. Seolah gadis itu hidup di dunianya sendiri. Sesuatu yang tidak bisa dia mengerti, tapi entah kenapa dia sukai.

“Sudah sampai,” ucap gadis itu sambil menghentikan langkah, mengedikkan dagunya ke arah sebuah rumah kecil bercat putih dengan pekarangan yang luas, dipenuhi oleh bunga-bunga yang tumbuh beraneka warna. Dia membuka pagar, lalu melangkah masuk, sedangkan pria itu berjalan mengikutinya dari belakang.

“Kau mau masuk?” tawarnya.

Pria itu menggeleng. “Besok aku akan ke kafe dan aku akan mengembalikan payungmu. Tidak apa-apa, kan?”

Gadis itu membuka pintu dengan kunci yang dibawanya lalu berdiri dengan tangan yang memegangi handle pintu.

“Aku tidak yakin apakah aku bisa ke kafe besok. Tinggalkan saja payungnya disana.”

“Aku akan menunggu sampai kau datang,” sergah pria itu tergesa-gesa, dengan suara yang terdengar sedikit ragu. Dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, “Lalu… kau bisa memberitahuku namamu.”

Gadis itu tertegun di tempat. Dia tahu ada makna lain dari ucapan pria tersebut, dan pria itu sendiri juga menyadari hal yang sama. Jika dia tidak datang, mungkin akan berakhir disitu saja, tapi jika dia datang… ada pilihan yang setelah itu akan dijalaninya. Hanya saja… apakah dia sudah siap?

“Sampai jumpa,” ucap pria itu pelan, terbenam dalam suara deras hujan yang keras.

Pria itu baru sampai ke tepi beranda saat dia kemudian berbalik dan menatap gadis itu tidak yakin, menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia mengatakan hal itu atau tidak.

“Kopi buatanmu,” ucap pria itu akhirnya. “Aku suka kopi buatanmu.”

***

.: 4th Cup :.

Pria itu memarkirkan mobilnya di depan pagar kafe, mengembangkan payungnya sebelum turun dari mobil dan mengunci pintu. Hujan turun cukup deras dan ramalan cuaca memprediksi bahwa Seoul akan mendung seharian.

Pria itu baru saja akan melangkah memasuki pelataran kafe saat melihat sosok lain yang berjalan menuju tempat yang sama dari arah yang berlawanan. Kali ini dengan gaun putih selutut, rambut dijalin longgar, payung putih transparan yang dibawanya saat pertama kali pria itu melihatnya dulu, dan beberapa tangkai bunga lili calla dalam dekapannya.

Tanpa sadar pria itu menahan nafasnya sebelum akhirnya menghembuskan nafas lega, dengan hati yang terasa lebih ringan.

Dia berpikir semalaman, menebak-nebak apakah gadis itu akan datang atau tidak. Kalau gadis itu datang, dia tahu bahwa dia tidak bisa kabur lagi dari keputusan awalnya untuk mencoba. Mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini. Sesuatu yang akan membuat ibunya berteriak senang. Tapi jika gadis itu tidak datang… apa yang akan dilakukannya? Menyerah begitu saja? Sepertinya tidak. Itu sama sekali bukan gayanya. Jadi sebenarnya keputusannya sama. Dia akan melihat gadis itu setiap hari. Harus melihat gadis itu setiap hari. Tidak peduli gadis itu bersedia atau tidak, dia akan tetap pada keputusannya.

Gadis itu melangkah ke arahnya, mengembangkan senyumnya yang biasa, lalu membungkuk.

“Hai,” sapanya singkat.

Pria itu merasa jantungnya diremas kuat dan paru-parunya menolak bekerja secara normal. Dia menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredakan kegugupannya, yang secara keseluruhan berakhir sia-sia.

Dalam gerakan lambat dia mengulurkan tangannya, mencoba menemukan pita suaranya. “Cho Kyuhyun.”

Gadis itu menatap uluran tangannya tersebut cukup lama, seolah mengalami pergolakan sendiri, sebelum akhirnya membiarkan tangannya menyentuh telapak tangan Kyuhyun yang terulur, menggenggamnya ringan.

“Han Hye-Na.”

Saat itu… akhirnya dia tahu mengapa ada begitu banyak manusia yang rela tersakiti berkali-kali hanya untuk jatuh cinta. Cinta hanya istilah sederhana saat kau menatap seseorang, menganggapnya orang paling istimewa dan luar biasa di seluruh dunia, walaupun itu hanya anggapan pribadimu saja, hanya karena dia menatapmu balik dengan cara yang sama. Hal itu… adalah hal paling menyenangkan yang pernah dirasakannya. Permainan logika yang tidak pernah masuk akal. Istilah yang terlalu sederhana untuk menggambarkan hal yang bisa menyebabkan perpecahan di seluruh dunia. Sesuatu yang berefek sama seperti kopi. Kafein harian yang membuat banyak orang kecanduan.

END