Inspired by Melissa de la Cruz – Blue Blood & Masquerade

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

09.00 AM

“Nona, cepatlah! Kau sudah terlambat!” teriak Donghae dari balik pintu kamar Hye-Na yang tertutup rapat. Pria itu menggedor-gedor pintu kamar dengan intensitas yang semakin lama semakin cepat dan memekakkan telinga.

Hye-Na menggeliat malas di balik selimutnya yang nyaman dan membuka matanya sedikit, cukup untuk melihat kemana jarum jam yang terletak di nakas kecil di samping tempat tidurnya mengarah. Kali ini, apa yang dilihatnya sukses membuat matanya terbuka lebar. Jam 9 pagi, dan dia ada kuliah jam setengah sepuluh.

Gadis itu menendang selimutnya dan dengan tergesa-gesa berlari menuju lemari pakaiannya, menarik baju dari tumpukan paling atas dan meraih celana jinsnya yang tersampir di gantungan. Jika dia tidak salah mengingat, sudah 3 minggu terlewat sejak terakhir kalinya celana itu masuk ke dalam mesin cuci.

Dengan gerakan yang mengagumkan, Hye-Na melempar piyama yang dipakainya begitu saja ke lantai dan menggantinya dengan setelan yang sudah dipilihnya tadi. Tidak perlu repot-repot memikirkan kebersihan tubuh, sudah tidak ada waktu. Dia sudah mengambil absen yang cukup dan jelas dia tidak punya jatah lagi atau dia akan gagal begitu saja di mata kuliah satu ini.

Hye-Na mengambil parfum dari atas meja dan menyemprotkan cukup banyak cairan itu ke tubuhnya. Setidaknya lumayan untuk menyamarkan bau tubuhnya, mengingat terakhir kalinya dia mandi adalah kemarin sore, sebelum berangkat ke Pertemuan Agung.

Gadis itu melirik cermin sesaat dan memutuskan bahwa sebaiknya dia melakukan sesuatu pada rambutnya yang terlihat seperti semak belukar, mencuat ke segala tempat. Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya dia keramas?

Gadis itu menarik laci meja riasnya, berharap menemukan sesuatu untuk mengikat rambutnya. Dia tidak punya terlalu banyak pilihan, karena jelas membeli pernak-pernik seperti itu bukanlah prioritas utamanya.

Setelah menemukan satu, gadis itu mengumpulkan setiap bagian rambutnya sampai membentuk ekor kuda, tanpa mau repot-repot menyisirnya sedikitpun, lalu mengikatnya sambil berjalan ke arah pintu. Wajah kesal Donghae langsung menyambutnya disana.

“Bagaimana bisa kau tidak terbangun? Aku sudah menyetel 5 alarm di dekat telingamu dan di bawah bantalmu dan kau tetap saja tertidur seperti beruang yang sedang dalam masa hibernasi!” gerutu Donghae sambil melangkah mendahului Hye-Na turun ke lantai bawah.

“Itu tandanya sudah saatnya kau mengajariku caranya bergerak dalam kecepatan 60 km/jam,” sahut Hye-Na cuek.

“Lebih tepatnya, 500 km/jam. Mungkin. Itu kecepatan maksimal yang pernah kucoba.”

“Apa?” tanya Hye-Na kaget. “Secepat itu?”

“Bisa lebih cepat lagi. Kudengar Kyuhyun bahkan pernah mencoba sampai 1000 km/jam.”

“Kau mulai lagi,” dengus Hye-Na.

“Apa?”

“Memujinya.”

“Kau masih kesal padanya? Apa ciumannya semalam tidak cukup hebat untuk membuatmu puas? Aku pikir dia itu pencium terhebat di dunia, mengingat reputasinya yang tanpa cacat dalam melakukan segala hal.”

Hye-Na melayangkan pukulan ke punggung Donghae, cukup keras sampai membuat pria itu mengaduh. Dan Renatus adalah makhluk yang sulit sekali untuk dilukai.

“Kau memata-mataiku lagi?”

“Hanya sebentar. Aku mendengar… suara-suara aneh dari kamarmu, jadi aku datang untuk memeriksa. Tapi aku mencium bau Kyuhyun dari balik pintu kamarmu, makanya aku memilih pergi. Kalian berdua tidak sadar, ya? Bahkan kewaspadaan kalian menghilang saat sedang bermesraan. Benar-benar menakjubkan… kekuatan Moira maksudku.”

Hye-Na menyelip ke kursi belakang mobil, bertepatan dengan saat Donghae menginjak gas dan mobil itu melaju cepat di jalanan. Sepertinya dia benar-benar harus mempelajari kecepatan sesegera mungkin.

“Bau Kyuhyun?” komentar Hye-Na, mengabaikan kalimat-kalimat lain yang penuh ejekan dari pria itu.

“Yah… kau tahu… seperti bau… aftershave. Setiap Renatus memiliki bau yang tidak sama, jadi kau bisa membedakan mereka.”

Aftershave? Baunya lebih seperti… pinus segar di hidungku.”

“Bau akan terasa berbeda untuk Moira. Lebih pekat dan tajam. Di hidungku baumu seperti bau tanah setelah hujan, tapi pasti baumu lebih menggoda dalam penciuman Kyuhyun.”

“Aku jadi penasaran,” gumam Hye-Na. Sia-sia, karena sudah jelas indera pendengaran Renatus sangat tajam.

“Tanyakan saja padanya.”

“Mimpi saja kau,” dengus gadis itu.

Donghae terkekeh dan dengan santai menginjak gas dalam-dalam, membuat laju mobil itu semakin kencang. Bukan masalah untuknya, karena kemampuan Renatus untuk membaca pikiran manusia banyak membantunya. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran polisi lalu-lintas yang akan menilangnya jika dia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas 100 km/jam, jadi kenapa dia harus berlagak sopan dengan mematuhi peraturan?

Tidak sampai 10 menit kemudian, mereka sudah sampai di kampus. Padahal dengan kecepatan normal, butuh waktu 15 menit lebih lama daripada itu.

Donghae turun dari mobil dan menunggu di samping pintu penumpang. Syarat pertama menjadi sopir gadis itu adalah, dia dilarang untuk membukakan pintu. Selera majikannya itu memang sering tidak masuk akal. Donghae tidak habis pikir bagaimana mungkin ada seorang gadis yang tidak menyukai pria gentleman dan perhatian. Mungkin hanya ada satu di dunia, dan gadis itu bernama Han Hye-Na.

Donghae melangkah di samping gadis itu. Peraturan kedua. Hye-Na tidak mau Donghae bersikap seperti pengawalnya dan tentu saja pria itu menerimanya dengan senang hati.

Biasanya, saat Hye-Na di kelas, Donghae akan memilih menunggu dimanapun dia mau. Seringnya di perpustakaan, atau terkadang di kantin, tempat dia bisa mengobrol dengan sahabatnya, Eunhyuk, sesama Renatus. Hanya saja dia lebih muda daripada pria itu dan anehnya, Eunhyuk seolah tidak bosan mengulangi masa kuliahnya berulang kali.

Donghae tersenyum melihat raut wajah cemberut majikannya. Ada beberapa orang Renatus yang mereka temui semalam melintas di depan mereka, tapi para Renatus itu bahkan tidak melirik sedikitpun untuk menyapa Hye-Na, walaupun beberapa orang dari mereka memang membungkuk ramah ke arah Donghae. Tidak perlu menjadi orang jenius untuk mencari tahu jawabannya. Jelas-jelas itu terjadi karena fakta bahwa penampilan Hye-Na pagi ini tidak akan membuat siapapun mampu menghubungkannya dengan penampilan anggun gadis itu semalam, bahkan walaupun gadis itu berjalan di samping Donghae sekalipun.

Sebenarnya, jujur saja, nonanya itu adalah jenis gadis yang akan selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun, bahkan sekarang, saat gadis itu tidak mandi maupun keramas, dia masih berhasil membuat para manusia berjenis kelamin pria menoleh lama untuk sekedar menatapnya. Gadis itu sendiri memang tidak tahu dan menganggap tidak ada seorang pun yang mengenalnya, tapi para manusia itu diam-diam mengaguminya, terlalu takut untuk mendekat. Bukan hanya karena kehadiran Donghae yang tidak terlalu kentara sebagai seorang pengawal, tapi juga karena imej dingin dan tidak bisa didekati gadis itu sendiri.

Jarang sekali ada gadis yang tampak memukau tanpa menggunakan make-up, tapi nonanya itu berhasil melakukannya tanpa perlu bersusah-payah. Dan hasilnya benar-benar membutakan untuk ukuran mata manusia. Dan untuk Renatus sendiri gadis itu termasuk jajaran cantik, terlalu cantik. Membuat beberapa orang akan merasa sangat sulit untuk mengalihkan pandangan.

Donghae mendengar Hye-Na mendecak dengan wajah merengut, membuat pria itu menoleh dan mencari tahu alasannya.

Oh, tentu saja. Dosennya sudah masuk, dan gadis itu merasa malas menggunakan otaknya untuk memikirkan alasan masuk akal yang bisa membuatnya masuk dengan bebas ke dalam kelas.

“Bilang saja Kyuhyun membuatmu tidur larut karena terlalu asyik melakukan kegiatan yang sangat menyenangkan, Nona,” usul Donghae, yang langsung mendapat pelototan tajam dari majikannya itu. Pria itu hanya terlalu senang menggoda dan menjahili Hye-Na, mengingat nilai plus yang bisa didapatkannya saat melihat kekesalan di raut wajah gadis itu.

Donghae memalingkan wajahnya dan mendadak matanya menangkap sosok seseorang yang sangat dikenalnya. Pria itu tersenyum dan dengan cepat mendorong tubuh Hye-Na sampai berdiri di depan pintu kelas yang setengah tertutup.

“Semoga berhasil, Nona.”

Hye-Na mendelik dan mengerucutkan bibirnya.

“Aku sedang menderita dan kau malah berencana meninggalkanku untuk menemui gadis itu? Pengawal macam apa kau?”

“Nona, tentu saja aku akan mencampakkanmu demi dia. Dia itu Cruor-ku.” Donghae mengedip dengan senyum jahil di wajah tampannya. “Sana masuk. Atau kau akan terlambat lebih lama lagi.”

“Kau benar-benar menyebalkan!”

***

Kyunghee University

09. 45 AM

“Hai,” sapa Donghae sambil mengambil tempat di samping gadis yang 5 tahun terakhir sudah menjadi Cruor-nya. Gadis itu menoleh sekilas dari buku bacaannya kemudian menunduk lagi.

“Kau lapar?” tanyanya dengan nada tak peduli, mulai sibuk mencoret-coret helaian kertas yang sedang ditekurinya.

“Memangnya aku menemuimu hanya karena aku sedang kelaparan saja?” dengus Donghae, duduk dengan punggung yang bersandar di sisi tubuh gadis itu. Kepalanya terkulai ke bahu Ga-Eul, mendongak ke arah langit yang bisa dikatakan cukup cerah tak berawan, sedangkan gadis itu bahkan tidak berminat untuk mengomentari kelakuan Donghae sedikitpun.

Donghae merentangkan tangannya dan meregangkan otot-ototnya sesaat, sebelum akhirnya menghela nafas keras dan memutar sisi wajahnya untuk menatap gadis itu.

“Bogoshipda,” gumamnya, cukup keras untuk didengar, tapi lagi-lagi gadis itu hanya diam, tidak meresponnya.

“Aish, yak, Ga-Eul~a!!! Setidaknya senang sedikit karena kau bisa melihatku lagi!” seru Donghae, mulai hilang kesabaran karena sikap dingin gadis itu.

“Kita kan baru saja bertemu semalam. Untuk apa aku merindukanmu?” sahut Ga-Eul sambil melirik jamnya sekilas, membelalakkan matanya saat menyadari bahwa kelasnya akan dimulai 5 menit lagi, kemudian terburu-buru mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan di atas rumput. Yah, benar, dia memang suka sekali duduk di bawah pohon besar di sudut halaman kampus, sekedar untuk membaca atau mengerjakan tugasnya, menghabiskan waktu sebelum jadwal kuliahnya tiba. Dan Lee Donghae, adalah orang yang suka sekali merusak ketenteraman yang sudah susah payah diciptakannya.

Ga-Eul baru saja berjalan beberapa langkah saat dia akhirnya menyadari sesuatu dan berbalik lagi. Gadis itu berlari kecil ke arah Donghae dan berjinjit, menyapukan kecupan singkat di pipi pria itu. Dia menjulurkan lidahnya dengan tampang mengejek dan memukul dada pria itu ringan dengan kepalan tangannya.

“Hentikan wajah cemberutmu itu!” gerutunya seraya melangkah pergi, kali ini benar-benar berlari, karena sepertinya dia akan terlambat sampai di kelasnya yang berada di gedung sebelah utara, cukup jauh dari tempatnya berada sekarang.

Gadis itu terengah-engah saat akhirnya sampai di depan kelasnya yang berada di lantai tiga. Dia memegangi dadanya yang terasa sakit karena paru-parunya yang bekerja maksimum mencari udara, mendadak merengut kesal saat melihat pemandangan di depannya.

“Kau lama sekali,” komentar Donghae yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya, bersandar santai di samping pintu kelas yang masih terbuka. Pria itu sudah terlalu sering melakukannya sehingga dia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk merasa terkejut lagi. Rasa terkejut itu sudah digantikan kekesalannya karena tindakan pria itu yang suka sekali pamer.

Ga-Eul mengacuhkan Donghae dan berniat masuk ke kelas saat tiba-tiba saja tangan pria itu membentang menghalangi jalannya.

“MWOYA?!!!” teriak gadis itu dengan gigi menggertak kesal.

“Dosenmu belum masuk,” ujar Donghae enteng, menarik pinggang gadis itu mendekat ke arahnya.

“Ini tempat umum, bodoh!”

“Lalu?” gumamnya tidak peduli, dengan cepat mengecup bibir gadis itu singkat. Pria itu tersenyum lebar dan mengedipkan matanya.

“Aku akan menjemputmu nanti.”

Ga-Eul mengerutkan keningnya heran. “Bukannya kau harus mengantar Hye-Na pulang dulu?”

Donghae mengedikkan bahunya, bersikap seolah Gaa-Eul seharusnya sudah mengetahui jawabannya.

“Aku rasa Kyuhyun akan mengambil alih tugasku. Dan….” Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi gadisnya itu dengan ibu jarinya, sedikit menundukkan wajah agar bisa menghirup aroma pekat gadis itu dengan lebih nyaman. “Kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak.”

***

Canteen, Kyunghee University

12. 10 PM

Hye-Na menoleh saat merasakan seseorang tiba-tiba saja muncul dan sudah duduk di sampingnya. Masalahnya, dia yakin bahwa seorang manusia normal tidak akan muncul dengan begitu mendadak seperti itu. Dan itu berarti….

Gadis itu nyaris tidak berhasil melakukan kebutuhannya untuk menarik nafas saat matanya menangkap sosok yang begitu familiar di ingatannya, walaupun mereka baru bertemu satu kali dan… pertemuan itu dengan sukses menghancurkan ketenangan hidupnya.

“Hai,” sapa pria itu singkat tanpa merasa perlu bersusah-payah untuk mengubah ekspresi datarnya dengan ekspresi yang sedikit lebih ramah.

Hye-Na mengerutkan keningnya, menyadari satu hal aneh yang sedang terjadi.

“Kau mengenaliku?” tanya gadis itu bingung dengan tatapan tak percaya. Dia sudah bertemu dengan puluhan Renatus lain yang sudah berkenalan dengannya semalam di kampus ini dan tidak ada seorang pun yang menyapanya, bahkan saat dia membaca pikiran mereka, orang-orang itu sepertinya memang tidak mengenalinya sama sekali. Alasannya sangat jelas. Gadis itu tampak berbeda 180 derajat dari penampilannya semalam. Dia hanya memakai kemeja longgar biasa dan celana jins yang sudah dipakainya sebanyak ratusan kali beberapa tahun terakhir, dia bahkan tidak mandi dan menyisir rambutnya sedikitpun pagi ini sebelum berangkat kuliah. Jika seseorang tidak berhenti cukup lama untuk memandangi wajahnya, mereka tidak akan menemukan persamaan antara ‘gadis yang terlihat memukau tadi malam’ dengan ‘gadis yang sangat biasa pada hari ini’ itu.

“Dan kenapa seharusnya aku tidak mengenalimu?” tanya Kyuhyun dingin dengan tatapan tak suka.

“Karena tidak ada satu Renatus pun yang mengenalinya saat mereka berpapasan,” sahut Donghae yang dari tadi sibuk memperhatikan mereka berdua dengan penuh minat.

Kyuhyun menaikkan alisnya dan memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Hye-Na lekat-lekat, membuat gadis itu memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia selama ini tidak memedulikan pendapat orang lain tentang penampilannya, tapi tiba-tiba saja dia berharap pagi ini dia berangkat kuliah setelah mandi dan menyisir rambutnya dengan rapi.

Gadis itu sedikit membulatkan matanya saat menyadari seisi kantin menatap ke meja mereka dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Bukan hal aneh sebenarnya. Ketampanan pria di sampingnya ini sudah terkenal ke seluruh penjuru kampus. Belum lagi ditambah dengan kepintaran dan kekayaannya. Semua itu cukup untuk membuat seluruh gadis di kampus mengenal sosok Cho Kyuhyun. Yah, kecuali Hye-Na. Karena dia baru mengetahui kenyataan ini dari Donghae yang bahkan bukan mahasiswa disini. Dia bahkan tidak tahu bahwa ternyata pria itu juga kuliah di kampus yang sama dengannya, walaupun mereka berbeda fakultas.

Dan sekarang pria itu sedang duduk di sampingnya dan jelas-jelas menatapnya dengan terang-terangan, tanpa tanda-tanda akan mengalihkan pandangannya sedikitpun. Tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu alasan kenapa semua orang merasa aneh dengan kelakuan pria itu. Siapa Han Hye-Na? Hanya gadis biasa yang sama sekali tidak menarik ataupun mampu membuat pria menoleh dua kali untuk sekedar melirik. Prestasi akademiknya juga bukan sesuatu yang terlalu membanggakan. Bahkan ada kemungkinan teman sekelasnya tidak mengenalinya sama sekali karena dia lebih suka duduk diam di kelas tanpa menunjukkan keaktifan sedikitpun. Singkatnya, seorang Han Hye-Na bukan jenis gadis yang mampu menarik perhatian pria sekelas Cho Kyuhyun.

“Aku tidak melihat perbedaannya,” tandas Kyuhyun ringan. “Dan asal kau tahu, penglihatanku seratus kali lebih baik daripada manusia biasa.”

“Kau sedang mengejekku atau apa?” tanya Hye-Na dengan mata menyipit curiga.

Kyuhyun mengangkat bahunya santai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hye-Na, menyiksa dirinya lagi dengan bau memabukkan yang menguar dari tubuh gadis di depannya itu.

“Aku masih ada kuliah. Nanti aku akan menjemputmu di kelas, Nona Han.”

“Dan buat apa kau menjemputku? Aku masih punya Donghae.”

Kyuhyun menoleh kepada Donghae yang balas menatapnya dengan kening berkerut.

“Donghae ssi, mulai sekarang biar aku saja yang mengurus gadis ini. Kau tidak perlu repot-repot menghabiskan waktumu untuk menjaganya lagi. Mulai sekarang dia di bawah tanggung jawabku,” ucap Kyuhyun tegas sebelum mengalihkan tatapannya ke wajah Hye-Na lagi. “Dan kau… kau lupa bahwa kau memiliki jadwal latihan pribadi denganku?” tanyanya tajam.

Hye-Na melebarkan matanya dan sesaat kemudian gadis itu menghembuskan nafas panjang, menunjukkan ketidaksukaannya dengan kenyataan bahwa dia harus menghabiskan waktu sangat lama dengan pria itu setiap harinya. Bukan apa-apa, tapi berada di dekat pria itu termasuk dalam kegiatan paling berbahaya dalam daftarnya. Apalagi sepertinya mereka hanya akan berdua saja. Astaga, dia harus menganggapnya sebagai surga atau neraka?

“Aku akan mengantarkanmu pulang lebih dulu agar kau bisa mandi.”

Wajah Hye-Na memerah mendadak mendengar ucapan pria itu.

“Apa aku sebau itu?” dengusnya kesal.

Kyuhyun menggeleng. “Apa kau tidak tahu kalau kau tidak mandi bau tubuhmu itu semakin tajam untuk indera penciumanku? Kau tidak bermaksud membuatku menjadi sinting dan kehilangan kendali saat kita hanya berdua saja, kan? Jadi aku sarankan lebih baik kau mandi dulu sebelum berlatih denganku.”

Pria itu berdiri dan menepuk kepala Hye-Na pelan. “Sampai jumpa nanti,” ujarnya singkat sebelum akhirnya dengan cepat menghilang di antara kerumunan mahasiswa yang memasuki kantin.

“Wajahmu memerah, Nona,” kata Donghae dengan nada geli.

Hye-Na menyentuh pipinya yang terasa memanas dan mendelik ke arah pengawal pribadinya itu.

“Tutup saja mulutmu itu, Lee Donghae,” cetusnya, yang hanya dibalas dengan senyum menggoda dari Donghae. Pria itu senang sekali bisa menemukan tontonan dan mainan baru. Nonanya itu tidak pernah terlihat semanusiawi itu sebelumnya.

Hye-Na memalingkan wajahnya jengah dan berpura-pura menatap ke arah Eunhyuk yang duduk di meja tidak jauh dari mereka. Donghae memberitahunya bahwa dia dan Eunhyuk adalah sahabat, walaupun pria itu cukup segan untuk bergabung di meja mereka. Beberapa orang Renatus memang menganggap bahwa kedudukan Hye-Na lebih tinggi dari mereka dan hal itu membuat gadis tersebut merasa tidak nyaman.

Hye-Na mengerutkan dahi bingung saat melihat betapa gadis di samping Eunhyuk, yang bisa Hye-Na tebak sebagai Cruor-nya, berusaha menarik perhatian pria itu, tapi Hye-Na sendiri bisa melihat dengan jelas kemana fokus pria itu terpusat. Mata pria itu seperti tidak bisa beralih dari sosok gadis yang duduk sendirian di sudut kantin dan dari apa yang dia baca dari pikiran pria itu, gadis itu… anehnya adalah seorang Moira. Dan itu berarti… baru saja terjadi kisah cinta yang sangat rumit.

“Kau… tahu tentang gadis itu?” tanya Hye-Na sedikit ragu kepada Donghae. “Bagaimana bisa seorang Renatus memiliki Cruor dan Moira yang berbeda? Maksudku… bukannya kau bilang hanya ada dua pasangan Moira sejauh ini? Lovelya dan Deathan… lalu… aku dan… yah… Kyuhyun.”

“Gadis itu? Namanya Choi Ji-Yoo. Seharusnya memang dia tidak pernah ada, tapi Eunhyuk jatuh cinta padanya tepat saat dia baru dilahirkan.”

***

Kyunghee University

03. 25 PM

 

“Pulanglah duluan. Masih ada sesuatu yang harus aku urus.”

“Maksudmu gadis itu?” tanya Sung-Rin dengan ekspresi tidak suka.

“Aku sudah menjelaskannya padamu dan aku benar-benar berharap kau bisa mengerti,” ucap Eunhyuk lelah. “Kita sudah membicarakan ini ratusan kali, Rin~a.”

“Dan seharusnya kau juga ingat bahwa aku sama pentingnya dengan gadis itu. Bahkan seharusnya aku ini lebih penting. Ya, kan?” Kali ini terdengar nada ragu dalam suara gadis itu, seolah dia sendiri tidak cukup percaya diri dengan apa yang diucapkannya.

“Mmm,” gumam Eunhyuk, sedikit memalingkan wajah agar gadis itu tidak bisa melihat ekspresi mukanya. Dia tahu bahwa gadis di depannya itu berarti segalanya untuknya, tapi… hanya sebatas itu. Dahaganya membutuhkan gadis itu, tapi tidak dengan otak maupun hatinya. Bahkan ikatan Pengaruh di antara mereka sekalipun tidak cukup kuat untuk menahannya agar tetap menatap gadis itu saja. Pengaruh Moira, bagaimanapun juga, jauh lebih kuat dari gravitasi bumi sekalipun.

“Aku pergi,” pamit Eunhyuk sambil menunduk, masuk ke dalam mobil Porsche hitamnya.

“Langsung pulang, jangan berkeliaran dulu. Kau tidak mau membuat ibumu cemas, kan?” nasihat pria itu sambil melongokkan wajahnya di jendela mobil, sebelum akhirnya menghidupkan mesin dan menekan pedal, membiarkan mobil sport itu meluncur mulus ke jalanan.

Dia membaca secara acak pikiran orang-orang di sekelilingnya sampai akhirnya dia membaca pikiran gadis itu. Sepertinya gadis itu sedang berada di dalam sebuah supermarket, karena dia melihat tumpukan barang dan pikiran rumit tentang barang-barang apa saja yang harus dibeli dan keraguan apakah dia sebaiknya membeli jajangmyeon atau ramyeon untuk makan malam.

Eunhyuk tertawa geli dan menghentikan mobilnya di salah satu tempat parkir yang masih tersedia di depan supermarket yang dikunjungi gadis itu. Dia menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menunggu.

Benar. Itu adalah kegiatannya setiap hari sepulang kuliah. Mengikuti gadis itu. Menjaga gadis itu diam-diam. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Ji-Yoo-nya.

Eunhyuk mengetukkan buku-buku jarinya di atas kemudi, memandang pintu masuk supermarket dengan tatapan nyalang.

Sudah 19 tahun berlalu sejak gadis itu lahir. Sejak dia menyentuh tubuh kecil gadis itu yang masih merah berlumuran darah. Menikmati fakta mencengangkan bahwa dia adalah orang pertama yang menatap wajah gadis itu, sekaligus orang pertama yang ditatap gadis itu setelah keluar dari rahim ibunya.

Saat itu adalah 23 tahun setelah dia melakukan reinkarnasi pertamanya. Dia mencapai umur 73 tahun sebelum dia memutuskan untuk bereinkarnasi, kemudian terlahir kembali sebagai anak seorang pengusaha yang cukup terpandang, mendapatkan mimpi pertamanya tepat di umur 17 tahun. Seorang gadis kecil berumur 16 tahun menjadi Cruor-nya. Gadis manis bernama Park Sung-Rin.

Dia memilih jurusan kedokteran pada waktu itu dan menjadi mahasiswa paling cemerlang di angkatannya. Dia memilih speasialisasi kandungan dan dengan mudah mendapat kesempatan pertama untuk membantu sebuah persalinan. Ibu Ji-Yoo.

Detik itu… rasanya seperti… dia baru saja menemukan alasan tepat kenapa dia tidak pernah jatuh cinta kepada Cruor-nya. Karena jawabannya hadir dengan jelas di hadapannya. Bahwa dia… selama ini… seolah sedang menunggu kelahiran bayi dalam gendongannya. Menunggu bayi itu hadir, kemudian akan menjalani tiap peran yang dibutuhkan bayi itu. Seorang kakak, teman, kekasih. Bahwa dia akan melakukan apapun, menjadi apapun.

Tapi detik itu juga dia tersadar bahwa kehadiran gadis itu juga menjadi malapetaka baginya. Dia tidak mungkin meninggalkan Cruor-nya. Dia terikat peraturan resmi bahwa Cruor akan terus hidup selama Renatus-nya masih hidup, dan meninggalkan seorang Cruor sama saja dengan membunuh Cruor tersebut, hal yang tidak akan pernah dilakukannya dalam hidup.

Maka kemudian dia hanya bisa memperhatikan gadisnya dari jauh. Cukup dekat, tapi tidak terlalu dekat untuk membuatnya kehilangan kendali dan malah mengejar gadis itu habis-habisan.

Dia menghentikan penuaannya saat berumur 26 tahun, memutuskan menjadi mahasiswa S2 di kampus yang sama dengan gadisnya. Dengan sangat sadar mengetahui bahwa dia telah menyiksa Sung-Rin, karena Cruor harus selalu tahu apa yang terjadi pada Renatus-nya. Membiarkan gadis itu menua di umur 35 tahun, menjadi staff pengajar di kampus itu, sedangkan dia tetap kekal dalam rupa mudanya.

Dia tahu betapa egoisnya dirinya selama ini, tapi kehadiran Moira bukanlah sesuatu yang dapat ditolak. Lagipula dia juga menyiksa dirinya sendiri dengan memperhatikan gadis itu diam-diam, menatapnya dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa.

Eunhyuk menegakkan tubuhnya saat melihat Ji-Yoo keluar dari supermarket. Ada beberapa tas belanjaan besar di kedua tangannya, membuat Eunhyuk harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menghambur kesana dan menawarkan bantuan.

Ji-Yoo baru berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba saja langit yang dari tadi sudah mendung dengan awan hitam yang menggantung berat, mulai menumpahkan isinya. Gadis itu berlari-lari kecil menuju halte, sudah basah kuyup sebelum sampai disana.

Eunhyuk bisa mendengar gerutuan gadis itu di kepalanya, keluhan bahwa dia tidak mungkin bisa berebut bus yang akan lewat dengan orang-orang lain di sekitarnya, mengingat dia membawa begitu banyak barang yang tidak memungkinkannya untuk menyelip masuk ke dalam bus nanti.

Eunhyuk menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya menyerah pada keinginannya dan menjalankan mobilnya, berhenti tepat di depan gadis itu. Pria itu menurunkan kaca jendela dan melongokkan kepalanya keluar.

“Mau kuantarkan?” teriaknya, cukup keras untuk didengar, berupaya mengalahkan suara ribut hujan dan petir yang silih berganti.

Dan kali ini dia hanya bisa menunggu dengan tegang apa jawaban gadis itu sebentar lagi.

***

“Mau kuantarkan?”

Ji-Yoo mendongak saat mendengar suara teriakan dari mobil Porsche yang berhenti di depannya. Gadis itu menyipitkan mata untuk mencari tahu siapa yang sedang berbicara padanya dan langsung membelalak kaget saat bisa melihat sosok pria yang berada di balik kemudi dengan jelas.

“Sunbae…” desisnya tak percaya.

Dia begitu sering melihat Eunhyuk di kampus, bahkan terkadang dia merasa heran sendiri kenapa pria itu seolah selalu berkeliaran di dekatnya, tanpa tanda-tanda bahwa pria itu mengenalnya atau semacamnya. Pria itu tidak pernah bicara padanya, menatapnya pun tidak pernah. Pria itu hanya ada, di tempat dia bisa melihatnya.

Bukannya dia tidak suka, tapi ada perasaan aneh, rasa tertarik yang tidak bisa digambarkan. Dia bahkan tidak mengenal pria itu, tapi ada perasaan seolah dia sudah pernah melihat pria itu sebelumnya. Bahwa kehadiran pria itu terasa begitu familier. Perasaan yang sampai sekarang tidak bisa dimengertinya sama sekali.

Bukan berarti dia jatuh cinta pada pria itu atau apa. Rasanya bahkan lebih rumit daripada itu. Terkadang ada dorongan mendesak yang membuatnya ingin berlari menghampiri pria itu, mengajaknya berbicara. Atau seringnya dia akan mencari tempat dimana dia bisa memandangi pria itu diam-diam, bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Kenapa pria itu terlihat begitu menarik? Dan jelas itu bukan rasa ketertarikan yang umum.

Pria itu bahkan sudah memiliki kekasih. Seorang dosen yang setahunya lebih tua 9 tahun dari pria itu. Dan mereka berdua anehnya benar-benar terlihat serasi, seperti magnet bagi satu sama lain.

“Masuklah. Hujannya masih lama. Kau tidak mau kebasahan disini, kan?”

Ji-Yoo tersentak kaget saat tiba-tiba saja pria itu sudah berdiri di hadapannya, padahal jelas-jelas dua detik yang lalu pria itu masih ada di dalam mobil. Apa dia melamun sampai tidak menyadari keadaan di sekitarnya?

“Pegang,” ucap Eunhyuk sambil menyodorkan payung besar di tangannya dan dengan cekatan merebut kantong-kantong belanjaan dari tangan Ji-Yoo.

Detik itu juga mereka berdua terhuyung, terpaku dengan sensasi saat untuk pertama kalinya kulit mereka bersentuhan secara langsung. Benar-benar seperti ada aliran listrik, dengan cara yang berbeda. Kulit Eunhyuk terasa begitu dingin di kulit manusia Ji-Yoo yang hangat dan bagi Eunhyuk sendiri, kulit gadis itu terasa membakar, dalam kondisi yang menyenangkan.

“Seharusnya aku tidak menghampirinya kalau tahu bahwa tandanya akan terlihat sejelas ini,” gumam pria itu, tertelan suara hujan yang begitu keras mengguyur tanah.

“Apa?”

“Ani. Masuklah. Aku akan meletakkan barang-barangmu ke bagasi.”

***

Mereka melewati perjalanan yang begitu hening, tanpa ada satu pihak pun yang berminat untuk membuka topik pembicaraan. Karena itu akhirnya Ji-Yoo menghela nafas lega saat mobil Eunhyuk berhenti di depan pagar rumahnya. Dan dia bahkan tidak berminat menanyakan bagaimana pria itu bisa tahu dimana rumahnya, padahal ini adalah kali pertamanya mereka bicara satu sama lain.

Eunhyuk membuka pintu mobilnya, ragu apakah sebaiknya dia membukakan pintu mobil Ji-Yoo atau tidak. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya dan langsung berjalan ke bagasi mobil, menurunkan semua barang belanjaan gadis itu. Untung saja hujan sudah berhenti di tengah perjalanan tadi.

“Gamsahamnida… sunbae,” ujar Ji-Yoo sambil membungkuk kaku. “Ng… apa kau mau mampir dulu untuk minum teh?”

“Tidak usah,” tolak Eunhyuk cepat. Tidak sekarang, batinnya.

“Tapi apa kau tidak keberatan jika sesekali aku mampir ke rumahmu dan…”

Astaga, mulutnya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi.

Ji-Yoo tersenyum dan mengangguk. “Ne. Datanglah kapan-kapan.”

Saat untuk pertama kalinya dia melihat senyum pertama yang diberikan gadis itu untuknya, Eunhyuk tahu bahwa dia sudah membuat kesalahan besar dengan menghampiri gadis itu. Karena sekali dia melakukannya, dia tahu bahwa dia akan melakukannya lagi, tanpa ada keinginan untuk berhenti.

“Ng… Yoo?” panggilnya ragu dengan tangan yang menahan pintu mobil agar tidak menutup.

“Eo?”

“Senang akhirnya bisa berbicara denganmu.”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

07.00 PM

Hye-Na melemparkan pensil yang sedang dipegangnya dan menatap Kyuhyun geram.

“Apa kau tidak bisa berhenti menatapku?” tanya gadis itu jengah karena saat dia sedang mengerjakan tugas yang diperintahkan Kyuhyun, pria itu malah menghabiskan waktu selama 10 menit penuh dengan menatapnya penuh konsentrasi.

Tadi pria itu menyuruhnya untuk membaca novel setebal 900 halaman dan mengingat setiap kata yang ada di dalam novel tersebut, menguji sejauh apa daya ingat gadis itu, memberinya waktu 20 menit untuk melakukannya. Tapi sekarang pria itu sendiri malah memecahkan konsentrasinya.

Kyuhyun menopangkan dagu ke tangan kirinya sehingga wajahnya sedikit miring, tidak berniat untuk memalingkan tatapannya sama sekali.

“Kau tidak pernah berkaca sebelumnya? Tidak tahu seperti apa wajahmu? Kenapa kau selalu merasa bahwa kau bukanlah wanita yang menarik yang akan mendapat perhatian dari seorang pria?”

“Cih, menurutmu apa yang menarik dari seorang gadis yang sering pergi kuliah tanpa mandi ataupun menyisir rambut? Yang cantik itu ibuku, bukan aku,” sergah gadis itu dengan nada malas.

Kyuhyun sedikit mencondongkan tubuhnya, membuat wajah mereka benar-benar berhadap-hadapan, hanya berjarak beberapa senti. Dan gadis itu tidak punya cukup energi tersisa untuk memalingkan mukanya karena terlalu terpaku dengan wajah di depannya.

“Ada seorang pelukis dari Italia, namanya Carlotti,” mulai pria itu dengan suara lirih. “Aku suka bagaimana dia mendefinisikan kata cantik.” Kyuhyun diam dan mengangkat sedikit sudut bibirnya, memperlihatkan senyum separuhnya yang mempesona. “Dia bilang cantik itu adalah hasil akhir dari keseluruhan. Setiap bagian yang menyatu tanpa ada yang perlu ditambahkan, dikurangi, ataupun diubah.”

“Dengan semua definisi itu, kau terlihat cantik. Di mataku.”

Hye-Na mengerjap. Tidak menyangka dengan ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut pria itu.

“Dan kau tidak perlu mendapatkan pengakuan itu dari pria lain selain aku,” tambahnya. “Kau… hanya perlu terlihat cantik di depanku saja.”

“Apa kau menyukai wanita hanya berdasarkan kecantikan mereka saja?” tanya Hye-Na sinis, berusaha untuk tidak memedulikan detakan jantungnya yang menggila.

Kyuhyun mencibir, seolah tidak menyukai ucapan gadis itu.

“Kau tidak mencintai seseorang hanya karena dia cantik. Tapi dia terlihat cantik karena kau mencintainya. Tidak peduli jika semua orang berkata bahwa gadis itu terlalu buruk rupa untuk berada disampingmu sekalipun.”

***

“Halaman 839, baris ke 17,” ujar Kyuhyun, membuat Hye-Na mengerutkan wajahnya. “Wae? Kau tidak ingat kalimatnya?”

“Kau sedang mengerjaiku, ya? Berusaha menjebakku?”

Kyuhyun mengangkat bahunya dengan wajah tanpa dosa, sayangnya seringai pria itu memperlihatkan yang sebaliknya. Jelas bahwa pria itu senang sekali bisa menjahili Hye-Na, membuat gadis itu harus memilih antara terlihat bodoh kaarena memiliki daya ingat yang buruk, atau mempermalukan dirinya sendiri dengan membacakan kalimat yang diminta Kyuhyun.

“Jadi? Kau tahu atau tidak?”

“S… sa….”

“Ne?”

“Saranghae,” ujar Hye-Na cepat, nyaris terdengar seperti gumaman tidak jelas.

“Mwo? Kau bilang apa?” tanya Kyuhyun, nyaris tertawa saking senangnya.

“Jangan bersikap seperti orang tuli dan berhentilah mengerjaiku!” teriak Hye-Na sambil melemparkan buku tebal terdekat yang bisa dijangkaunya. Tapi refleks Kyuhyun sangat baik, sehingga dengan santainya dia menangkap buku itu dengan ekspresi tidak terganggu sama sekali, lalu meletakkan buku itu ke atas sofa di sampingnya.

“Lain kali aku akan mengajarkanmu cara melempar yang baik agar tepat sasaran,” godanya. “Ckckck, menurutmu ada berapa banyak hal yang harus aku ajarkan? Kau murid yang tidak terlalu membanggakan, kau tahu?”

“Kau bisa serius atau tidak?” tanya Hye-Na dengan suara dingin, membuat Kyuhyun berusaha menguasai ekspresinya lagi dan berdehem pelan.

“Baik. Sekarang kita akan mempelajari beberapa sejarah Renatus. Aku akan mencoba menjelaskannya padamu. Dan sebaiknya kau tidak menginterupsiku, Nona Han.”

Kyuhyun berpindah dari sofa ke lantai sehingga kali ini dia bisa menatap wajah Hye-Na dalam garis sejajar. Pria itu memainkan pulpen di tangannya, membuat Hye-Na mengira-ngira sejauh apa pria itu bisa berkonsentrasi dan tidak menghancurkan benda dalam genggamannya itu.

“Kali ini mungkin aku akan menjelaskan tentang Renatus dan darah. Berbeda dengan vampir yang bisa meminum darah manusia manapun, Renatus hanya bisa meminum darah satu manusia saja, yang disebut Cruor. Sebenarnya Renatus sendiri yang menentukan Cruor mereka, biasanya adalah seseorang yang cukup mempesona untuk menarik perhatian mereka dan menarik perhatian seorang Renatus bukanlah hal yang mudah, karena di mata Renatus, manusia bukanlah makhluk yang cukup membuat mereka berminat.”

“Karena itu, saat Renatus telah menentukan Cruor-nya, kemudian meminum darah manusia tersebut, akan ada ikatan Pengaruh yang terjalin di antara mereka. Meminum darah adalah sesuatu yang lebih dari sekedar memuaskan dahaga bagi para Renatus. Itu lebih seperti… kau tahu… ng… sama nikmatnya seperti berhubungan seks. Aku sendiri juga tidak tahu, karena selama ini aku hanya meminum darah donor.”

“Biasanya sebelum berhasil menemukan Cruor, para Renatus lebih memilih untuk meminum darah donor. Darah donor tersebut boleh dari siapa saja, karena Renatus tidak meminum langsung dari tubuh si pemilik, jadi racun yang terkandung dalam ludah Renatus tidak akan bercampur dengan darah di tubuh si manusia, jadi tidak meninggalkan Pengaruh.”

“Racun Renatus bagi para Cruor-nya lebih seperti racun yang mengontaminasi tubuh, sekaligus menyembuhkan di saat yang bersamaan. Karena itu, jika seorang Renatus tidak meminum darah Cruor-nya lewat dari 3 minggu, besar kemungkinan racun yang masih tertinggal di tubuh si Cruor mulai bereaksi, menyebabkan pembekuan darah yang akan menyebabkan kematian.”

“Pengaruh yang ditimbulkan oleh Renatus terhadap Cruor-nya membuat darah Cruor tersebut tidak boleh diminum oleh Renatus lainnya. Karena jika ada dua racun yang berkumpul dalam satu tubuh, akan terjadi komplikasi yang bisa membuat Cruor itu mati.”

“Apa ada tanda yang menunjukkan bahwa Cruor itu sudah menjadi milik seeorang?” tanya Hye-Na, memperhatikan bahwa Kyuhyun kehilangan konsentrasinya terhadap pulpen yang dari tadi dimainkannya, tidak membutuhkan waktu sampai satu detik untuk meremukkan benda di tangannya itu menjadi serpihan-serpihan tidak berbentuk.

“Bau. Bau manusia yang sudah menjadi Cruor akan seperti karat, bau yang biasanya tercium oleh manusia saat melihat darah.”

Kyuhyun berdiri dan berjalan menuju tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan, membuang pulpen yang sudah hancur itu ke dalamnya.

“Ng… Kyu…” panggil Hye-Na ragu, tidak tahu apakah dia harus menanyakannya atau tidak. Mungkin itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

“Apa?” tanya Kyuhyun, berbalik menatap gadis itu.

“Bau… maksudku… ng… bauku….”

“Seperti lili calla,” ujar Kyuhyun cepat sebelum Hye-Na menyelesaikan ucapannya. Pria itu tersenyum sekilas, nyaris tidak kentara. “Dan rambutmu beraroma lilac.”

Ada keheningan yang melanda setelah itu, sebelum akhirnya Kyuhyun bergerak gelisah di tempatnya berdiri dan mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.

“Bersiaplah,” ujarnya. “Aku akan mengantarmu pulang.”

***

 

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

10.00 PM

 

Hye-Na menghentikan langkahnya di kaki tangga saat melihat Kwang-Min yang berdiri di depan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan langsung ke pekarangan rumah di seberang rumah mereka. Hye-Na berusaha melihat apa yang sedang ditatap kakeknya itu, tapi belum sempat dia melihat sesuatu, seseorang sudah menarik tangannya, menyeretnya ke lantai dua tempat kamarnya berada.

“Mwoya?” teriak Hye-Na tanpa suara saat melihat Donghae yang memberi tanda agar dia diam.

“Lebih baik kau tidak mengganggu sajangnim saat dia melakukan itu.”

“Wae? Setahuku hanya ada Nenek Hwang-Ri yang tinggal di rumah itu dan umurnya sudah 85 tahun. Apa sih yang sedang dilihat Kakek?”

Hye-Na membelalakkan matanya saat melihat Donghae mengangguk. “Chakkam… man…” ujarnya syok. “Maksudmu… Kakek benar-benar sedang… melihat… Nenek… Hwang-Ri?”

Donghae menghela nafas dan berjalan ke arah balkon kamar Hye-Na, menggeser pintu kaca sampai terbuka dan melangkah keluar.

“Apa kau pernah bertanya-tanya siapa Cruor kakekmu?”

“Maksudmu….”

“Benar. Nenek Hwang-Ri-lah orangnya.”

“Tapi aku tidak pernah melihat mereka bertemu atau… berbicara.”

“Memang tidak pernah. Karena kakekmu memang tidak pernah menghisap darahnya.”

“Lalu… selama ini?”

“Darah donor. Kyuhyun sudah menjelaskannya padamu, kan? Setiap kali Renatus bereinkarnasi, Cruor-nya juga ikut bereinkarnasi. Selalu orang yang sama. Dan selama ratusan tahun itu pula Kakekmu memilih untuk tidak mengganggu Nenek Hwang-Ri dan hanya meminum darah donor untuk memuaskan rasa hausnya.”

“Tapi kenapa? Itu kan sudah menjadi… ng… takdirnya?”

“Karena kakekmu jatuh cinta setengah mati pada Cruor-nya sendiri, membuatnya memiliki jenis pikiran yang berbeda dengan Renatus lainnya.”

“Maksudmu?”

“Renatus yang belum bereinkarnasi tidak bisa menua, tetap dalam umurnya saat diubah. Saat tahu bahwa wanita itu adalah Cruor-nya, kakekmu tahu bahwa dia tidak bisa menjadikan wanita itu sebagai sumber makanannya. Dia hanya…. Begini, walaupun tidak seterikat Moira, tapi Cruor juga bisa memberikan Pengaruh yang sangat kuat terhadap Renatus-nya. Seperti… pesona yang tidak dapat ditolak. Walaupun juga ada banyak kasus dimana Renatus tidak jatuh cinta pada Cruor-nya. Untuk kakekmu, pengaruh ini menjadi sangat kuat.”

“Kau tahu rasanya jika kau memiliki pasangan yang bahkan tidak akan menua? Tetap dalam wujud mudanya, sedangkan kau setiap harinya mulai menjadi tua, keriput, dan kemudian mati? Kakekmu tidak mau memberikan rasa sakit seperti itu pada wanita yang dicintainya, jadi dia memilih untuk menjauh. Bahkan tidak berani mendekat, hanya melihat dari jauh saja. Karena Renatus terikat peraturan untuk menceritakan tentang diri mereka pada Cruor mereka masing-masing.”

“Tapi setelah bereinkarnasi Kakek kan bisa….”

“Tidak. Saat seorang Renatus sudah menghisap darah Cruor-nya, racun dalam ludah Renatus akan bercampur dengan darah Cruor tersebut, karena itu Renatus lain tidak boleh meminum darah dari manusia yang sama, karena hal tersebut bisa menyebabkan kematian si manusia. Belum lagi kehadiran para vampir yang biasanya dengan sengaja mencari Cruor para Renatus kemudian meminum darah mereka sampai habis.”

“Tapi racun Renatus juga memperpanjang umur Cruor, sehingga selama Renatus belum bereinkarnasi, Cruor tersebut juga tidak akan mati, kecuali Renatus itu tidak meminum darah Cruor-nya selewat tiga minggu, hal itu akan menyebabkan kematian Cruor itu sendiri, karena darahnya akan membeku tanpa racun Renatus-nya. Kakekmu terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti itu. Manusia tidak diciptakan untuk hidup terlalu lama. Ada penderitaan-penderitaan yang akan mereka dapatkan, dan kakekmu tidak mau hal itu terjadi.”

“Lalu dia hanya melihat wanitanya menua… dan mati? Begitu?”

“Kau hanya… tidak bisa mengerti jenis cinta seperti itu, Nona. Tidak banyak orang yang mengerti. Lagipula melihat kisah cintamu yang begitu mulus, kau tidak akan pernah merasakan hal yang dirasakan kakekmu.”

“Kisah cintaku? Setahuku aku masih belum memiliki kisah cinta, Lee Donghae ssi,” ucap Hye-Na dengan nada berbahaya.

“Sudah berkali-kali berciuman dan terlihat begitu intim seperti itu, dia masih belum memintamu jadi pacarnya?” seru Donghae terkejut. “Aku tidak percaya Cho Kyuhyun sepayah itu.”

“Urusi saja kisah cintamu sendiri!”

***

Canteen, Kyunghee University

12.15 PM

 

“Makan siangmu sama sekali tidak sehat,” komentar Kyuhyun saat melihat hamburger yang sudah setengah habis di atas piring Hye-Na.

Gadis itu menoleh, melemparkan pandangan tidak suka sekilas, kemudian menunduk lagi, sibuk menghabiskan makan siangnya yang nikmat.

“Bukan urusanmu,” sahut gadis itu dengan mulut penuh. “Lagipula aku tidak akan mati hanya karena makanan yang tidak bergizi, kan? Apa gunanya jadi Renatus kalau begitu?”

“Aish, kau….”

“Hai.”

Ucapan Kyuhyun terpotong karena sapaan dari seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping meja mereka.

“Oh, hyung,” sapa Kyuhyun tanpa tersenyum, kebiasaannya yang sangat menyebalkan.

“Aku mencarimu, ada yang ingin kubicarakan. Tapi sepertinya tidak ada tempat lagi.”

Mengingat meja kecil itu hanya terdiri dari 4 kursi yang sudah diduduki oleh Hye-Na, Kyuhyun, Donghae, dan Eunhyuk yang ikut bergabung karena ada urusan dengan Donghae, jadi tidak ada lagi kursi yang tersisa. Bahkan kantin itu sendiri sudah penuh sesak dengan mahasiswa yang memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahatnya disana, sehingga tidak ada lagi kursi yang bisa diambil.

‘Tentu saja ada,” jawab Kyuhyun, dan dengan santainya menarik pinggang Hye-Na, mendudukkan gadis itu di pangkuannya.

“Yak, apa-apaan kau? Aish, lepaskan aku!” seru Hye-Na dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa lain. Tapi tentu saja sia-sia, meja itu bahkan sudah menjadi pusat perhatian saat Kyuhyun memutuskan untuk bergabung.

“Kau tidak perlu begitu,” ujar Siwon merasa tidak enak melihat wajah Hye-Na yang tampak seolah ingin menelan sesuatu saking marahnya.

“Dia kan gadisku, jadi tidak masalah,” sahut Kyuhyun enteng sambil mengeratkan pelukannya di sekeliling pinggang Hye-Na, satu tangannya sibuk menahan tangan gadis itu yang terus bergerak untuk memukul bagian tubuhnya yang bisa dijangkau.

“Aku bukan gadismu!” sergah Hye-Na tajam dengan mata menyorot kesal.

“Bukan? Kau sudah lupa ucapanku beberapa malam yang lalu? Otakmu tidak bisa bekerja dengan baik ya sampai tidak bisa mengingat hal itu? Atau… aku harus mengucapkannya dengan lebih gamblang?” ujar Kyuhyun sambil mendongak menatap Hye-Na. “Baik. Biar kuperjelas. Mulai sekarang kita pacaran. Mengerti?”

“Itu bukan cara yang baik untuk mengungkapkan perasaanmu pada seorang gadis, Kyu,” ujar Siwon dengan nada memperingatkan. “Ngomong-ngomong kita belum kenal. Namaku Siwon. Choi Siwon. Senang bisa berkenalan denganmu.”

Hye-Na tersenyum, setengah terpaksa, mengingat kondisinya yang sangat tidak mengenakkan. Dia tanpa sengaja memandang ke arah Donghae yang melemparkan senyum menggoda ke arahnya, membuat dia memikirkan bagaimana caranya mencekik leher pria itu sesampainya di rumah nanti.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Mengenai perusahaan. Aku rasa….”

Hye-Na langsung menulikan telinganya beberapa menit kemudian. Dia hanya bertahan mendengarkan bagian awal yang memberinya informasi bahwa sepertinya Kyuhyun menjadi pewaris perusahaan ayahnya, tapi untuk sementara Siwon-lah yang menolongnya menjalankan perusahaan, karena sepertinya pria itu sama sekali tidak tertarik menjadi presiden direktur.

Gadis itu berusaha memfokuskan diri untuk menghabiskan makan siangnya, sedangkan setengah konsentrasinya terpusat pada tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya, rasa hangat kulit pria itu yang menjalar menembus kemeja tipis yang dipakainya, dan nafas pria itu yang berhembus tepat di lehernya, mengingat pria itu dengan santainya memangkukan dagunya ke pundak Hye-Na.

“Baik, aku akan mengadakan rapat sore nanti dengan seluruh anggota komite. Kalau begitu aku duluan, masih ada kelas,” ujar Siwon sambil bangkit berdiri. Pria itu memang mengambil S2-nya di jurusan bisnis, yang sebenarnya hanya kamuflase agar semua orang tidak curiga kenapa dia bisa menjalankan perusahaan dengan sangat baik tanpa dasar bisnis sama sekali.

Siwon mengucapkan sesuatu yang sepertinya permintaan pamit, melambai sekilas ke arah Hye-Na, sebelum menghilang di balik kerumunan.

Gadis itu dengan cepat melepaskan diri dari Kyuhyun, memanfaatkan kesempatan saat pria itu lengah, kemudian setengah berlari, berusaha menyusup di dalam kerumunan yang bergerak ke luar kantin.

“Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu! Apa kau tidak tahu itu tempat umum? Kau tidak lihat ada berapa puluh orang yang memperhatikan kita?” teriak Hye-Na gusar, tidak sadar bahwa dia baru saja melangkah masuk ke dalam toilet wanita, sedangkan Kyuhyun mengikutinya dari belakang dengan tampang datar, mengayunkan kakinya sedikit untuk membanting pintu sampai menutup.

Gadis itu berbalik dan menatap Kyuhyun tajam, mulai membuka mulutnya lagi untuk mengajukan protes saat akhirnya matanya membelalak lebar, menyadari tempat dimana mereka berada sekarang.

“YAK! Aish! Keluar kau!” usirnya sambil menunjuk pintu yang tertutup di belakang Kyuhyun.

“Pertama,” ujar Kyuhyun seraya melangkahkan kakinya mendekat, sementara tangannya bersedekap di depan dada, menatap gadis itu dengan raut wajah serius. “Aku akan mengingatkanmu lagi kalau kau lupa. Mulai dua hari yang lalu, kau sudah kuputuskan menjadi milikku, jadi sepertinya sah-sah saja jika aku melakukan apapun terhadapmu. Yang tadi itu hanya salah satunya.”

“Kedua,” lanjutnya, tepat saat tubuhnya sudah berhadap-hadapan dengan tubuh gadis itu. “Seharusnya kau sudah mencoba membiasakan diri dengan kehadiranku. Ah… ani,” gelengnya. “Sentuhanku, lebih tepatnya.”

“Dan sebagai tambahan.” Kyuhyun memajukan tubuhnya sampai hidung mereka nyaris beradu. “Aku bisa melakukan tindakan ekstrim apapun jika aku mau dan aku tidak akan pandang tempat dan situasi, jadi persiapkanlah dirimu baik-baik… Na~ya.”

“Kau memang benar-benar tidak tahu aturan, ya!” komentar Hye-Na sinis. Dan detik selanjutnya dia sudah menjerit kaget saat pria itu dengan gerakan cepat mendudukkan tubuhnya ke atas marmar yang menghubungkan setiap wastafel, dengan jejeran cermin di belakangnya. Kali ini tangan kanan pria memegangi dagunya, sedangkan tangan kirinya tertopang di cermin yang terletak di sebelah kepala Hye-Na.

Kyuhyun melonggarkan cengkeramannya di dagu gadis itu, melepasnya perlahan-lahan, kemudian memindahkan tangannya ke dalam helaian rambut Hye-Na yang tergerai. Pria itu mendekatkan wajahnya dengan gerakan lambat, cukup memberi waktu agar Hye-Na bisa memalingkan wajah jika dia mau, tapi tidak cukup lama untuk membuat gadis itu bisa mengambil keputusan yang tepat selain terpaku di tempat.

Bibir Hye-Na sedikit terbuka, membentuk celah yang digunakan Kyuhyun untuk menyelipkan bibir bawahnya, sedangkan bibir atasnya mulai melumat bibir gadis itu perlahan.

Tubuh Kyuhyun berada di antara kedua kaki Hye-Na yang terbuka, separuh mendesak sehingga punggung gadis itu membentur dinding di belakangnya. Tangan Hye-Na sendiri terbenam di rambut pria itu, berada di antara keinginan mendorong kepala pria itu menjauh atau malah menariknya semakin dekat, sedangkan kakinya yang terjuntai mulai melingkar di kaki bagian belakang pria itu.

Kyuhyun menunduk, memperdalam ciumannya selagi mencari jalan untuk melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut gadis itu. Dia sedikit menggigit bibir Hye-Na untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan saat dia berhasil, dia malah kelabakan sendiri untuk menahan diri dan mencari cara untuk berhenti, sehingga tanpa sadar dia menggerakkan tangan kirinya, tidak sengaja menghantam cermin sampai pecah berhamburan.

Tangan kanannya beralih turun dan menyusup di balik pakaian gadis itu, menyentuh kulit punggungnya tanpa penghalang, sedangkan gadis itu membalas ciumannya dengan cara yang sama, membuatnya teringat dengan mimpi-mimpinya tentang orang tua mereka, jauh sebelum dia bertemu dengan gadis itu, bertanya-tanya sendiri akan seperti apa rasanya. Dan saat dia sudah bisa menjawabnya, dia menemukan fakta bahwa kenyataan jauh lebih mengagumkan daripada imajinasinya.

“Setidaknya carilah tempat yang sedikit lebih baik untuk menidurinya dan berhati-hatilah untuk tidak merusak properti kampus.”

Kyuhyun menjauhkan tubuhnya, memastikan bahwa kemeja gadis itu sudah kembali pada tempatnya semula, sebelum akhirnya berbalik dan menatap Donghae enggan.

Donghae mengangkat tangannya sambil mengedikkan bahu, sebuah senyum menggoda terukir di wajahnya yang tampak begitu senang.

“Tidak usah marah. Aku hanya menginterupsi saat situasi mulai menjadi tidak terkendali. Lagipula ada banyak orang yang mengantri diluar untuk menggunakan toilet ini sedangkan kalian sepertinya terlalu asyik di dalam.”

Hye-Na menunduk dengan wajah memerah, memalingkan mukanya dari tatapan Donghae yang membuatnya risih. Pria itu pasti akan menggodanya habis-habisan lagi di rumah.

“Aku punya standar tersendiri untuk hal sepenting itu,” ucap Kyuhyun enteng, menarik Hye-Na turun dan merangkul bahu gadis itu tanpa permisi, setengah menyeret gadis itu agar mengikutinya keluar.

Dengan ekspresi tidak peduli dia melewati beberapa orang gadis yang memang berdiri diluar sesuai dengan perkataan Donghae tadi, tidak mengacuhkan tatapan menyelidik yang mereka pancarkan. Pria itu melirik jam tangannya sekilas kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah kelas yang sudah setengah terisi. Dia berbalik, menatap Hye-Na, lalu menjentikkan jarinya di kening Hye-Na, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.

“Aku masih ada kelas. Nanti aku jemput. Dan jangan sampai kau tidak ada di kelas saat aku menjemputmu, atau aku akan menyiksamu selama pelajaran privat denganku nanti sore. Ara?”

“Selalu saja bertindak semena-mena,” dengus Hye-Na kesal setelah pria itu menghilang di balik kerumunan.

“Tapi kau tergila-gila padanya,” sambung Donghae yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya.

Hye-Na menoleh dan menatap pengawalnya itu dengan tatapan paling membunuh yang dimilikinya.

“Kau sudah mencoba rasanya dipecat belum? Lee Donghae?”

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, South Korea

08.15 PM

“Hari ini aku ingin melihat seberapa cepatnya kau,” ujar Kyuhyun dengan tangan tersilang di depan dada. Tubuhnya bersandar di dinding, dengan satu kaki yang ditumpukan ke kaki yang lain, menahan bobot tubuhnya.

“Renatus adalah makhluk dengan kecepatan mengagumkan. Sejauh ini yang pernah aku coba hanya 1000 km/jam, dan itu bahkan belum seluruh dari kemampuan yang bisa kukerahkan. Renatus tidak akan pernah kelelahan, selagi mereka cukup kenyang setelah meminum darah. Apalagi jika mereka sudah pernah berlari dengan kecepatan di atas rata-rata sebelumnya. Hal itu akan menjadi semakin mudah dilakukan, bahkan di saat mereka belum makan sekalipun. Saking cepatnya, terkadang dalam penglihatan manusia mereka bahkan terlihat seperti hanya berdiri diam di tempat, padahal mereka baru saja berpindah dari tempat yang mungkin berjarak beberapa kilometer.”

“Bisa kau beritahu aku benda apa yang bisa aku ambil dari kamarmu?”

Hye-Na mengerutkan keningnya bingung. “Apa?”

“Aku akan memberi contoh. Jadi beritahu saja benda yang boleh aku ambil dari sana.”

“Cih, memangnya apa yang mau kau lakukan?”

Kyuhyun mengedikkan bahu dengan bibir mencibir. “Aku akan membawanya kesini dalam waktu….” Pria itu melihat arlojinya sebelum memutuskan. “2 detik.”

“Yang benar saja!” sergah Hye-Na tak percaya. “Jarak rumahku kesini 25 menit, bahkan dengan kecepatan mobil 70 km/jam.”

“Sudah waktunya kau berhenti berpikir bahwa aku ini tukang pamer. Aku harus memberi bukti dulu kan baru kau percaya?”

“Baik. Kalau lebih dari dua detik bagaimana?”

“Jangan bertaruh denganku jika sudah bisa dipastikan akulah yang akan menjadi pemenangnya. Kau hanya menghabis-habiskan energimu saja. Beritahu aku barangnya.”

Hye-Na merengut dan menggerutu, sebelum akhirnya memberitahu pria itu benda yang bisa diambilnya.

“PSP?” ulang Kyuhyun geli. “Kau bisa main PSP?”

“Wae? Kau mau menyombongkan diri bahwa kau juga mahir main game?”

“Sebenarnya, aku ragu bahwa ada pekerjaan yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini,” ujar Kyuhyun sambil mengedip. “Hidupkan stopwatch-mu,” perintahnya, sebelum Hye-Na sempat membuka mulut untuk protes.

Hye-Na mengeluarkan ponselnya dari saku celana dengan malas-malasan dan membuka aplikasi stopwatch-nya. Cih, memangnya pria itu bisa secepat apa?

“Mulai,” ucap Kyuhyun, dan tepat saat Hye-Na memencet tombol start, dia merasakan angin kencang berhembus di depan wajahnya, dan bahkan sebelum gadis itu sempat menemukan konsentrasinya lagi, Kyuhyun sudah berada di depannya, dengan PSP yang berada dalam genggaman. Pria itu menatapnya dengan sorot mata jahil, kelihatannya sennag sekali karena berhasil membuat Hye-Na terpaku sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“1,13 detik. Tidak buruk, kan?”

“B… bagaimana bisa?” seru Hye-Na tidak terima.

“Tentu saja bisa. Apa aku harus mengingatkanmu bahwa aku ini bukan manusia?” ejek Kyuhyun sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. “Sekarang giliranmu.”

“A… aku?”

“Memangnya siapa lagi, hah? Pergi ke kamarmu dan ambil salah satu barangmu disana. 10 detik cukup untuk pemula.”

“Apa kau bilang?” teriak Hye-Na, melupakan rasa cemasnya. “PEMULA?”

“Kau kan memang pemula. Kenapa? 10 detik terlalu cepat? 20 detik kalau begitu.”

Hye-Na mengusap tengkuknya, kebiasaannya saat sedang merasa grogi.

“1 menit. Eotte?” tanyanya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.

“YAK!” teriak Kyuhyun sambil bangkit dari duduknya. “Kau itu Renatus atau bukan, hah? 1 menit katamu? Kau sudah gila? Renatus paling lamban saja bisa melakukannya dalam waktu 9 detik! Jangan membuat kami semua malu! Kalau selamban itu bagaimana caranya kita bisa mengalahkan Reezar? Apa aku harus memiliki Moira sebodoh dirimu?”

“Tidak usah membahas Moira segala!” sungut gadis itu kesal. “Baik! 10 detik!”

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Hye-Na dengan senyum mencurigakan di wajahnya yang seputih pualam.

“Bagaimana kalau kita taruhan?”

“Apa?”

“Kalau kau bisa melakukannya kurang dari 10 detik, kau boleh minta apa saja dariku. Tapi kalau lewat dari 10 detik….” Kyuhyun tersenyum dengan tampang menyebalkan. “Kau harus menciumku.”

“Mwo… mwoya??? SHIREO!” tolak Hye-Na mentah-mentah.

“Ah, kau takut? Kau sudah bisa memprediksi hasilnya, ya? Bahwa kau akan kalah? Seberapa lambat kau, Na~ya?”

“A… aniya! Enak saja kau bicara!”

“Kalau begitu apa yang kau takutkan? Seharusnya kau berusaha agar bisa lebih cepat dari 10 detik, atau aku akan menganggap bahwa kau memang ingin aku cium. Mudah, kan?”

“Seharusnya aku tidak usah berlatih denganmu,” gerutu gadis itu dengan tampang gusar.

***

“Ckckck. 23 detik dalam percobaan ketiga? Kau benar-benar lamban, ya?” ejek Kyuhyun, menunduk untuk menyapukan sebuah kecupan di bibir gadis itu lagi untuk yang ketiga kalinya dalam kurun waktu 2 menit. “Atau kau hanya ingin mendapat ciuman dariku?”

“Mimpi saja kau!” desis Hye-Na saat menemukan fokusnya kembali, padahal bibir pria itu hanya menempel sepersekian detik di bibirnya, tapi dia sudah kelimpungan seperti gadis tolol yang tidak pernah berciuman. Lagipula apa dia memang sudah tidak waras? Mereka sudah melakukannya terlalu sering. Berciuman maksudnya. Dan dia masih saja tidak bisa mengendalikan diri dengan baik.

“Lagi? Kalau kau tidak bisa melakukannya dengan lebih baik, latihan kita akan sia-sia saja, kau tahu? Atau kau lelah? Kau menolak minum darah, jadi rasakan saja akibatnya sendiri.”

“Siapa bilang aku lelah? Kita lakukan sekali lagi,” seru Hye-Na, padahal dia bisa merasakan bahwa tubuhnya akan remuk sebentar lagi. Bayangkan! Dia berlari dari rumah pria itu ke rumahnya! Berlari! Walaupun dia cukup syok dengan kecepatan yang ternyata dimilikinya, tapi tetap saja hal itu melelahkan. Dan dia masih saja tidak cukup cepat.

“Mulai,” ujar Kyuhyun dan Hye-Na langsung menggerakkan kakinya. Kali ini dia berusaha berkonsentrasi dan tidak terlalu mengerahkan seluruh tenaga. Ajaibnya, dia malah merasakan kakinya bergerak jauh lebih cepat daripada yang sebelumnya. Sepertinya menjadi Renatus juga membuatmu menjadi makhluk berkonsentrasi tinggi.

“Eotte?” tanya gadis itu saat sampai di rumah Kyuhyun lagi. Dia merebut ponsel pria itu dan tersenyum senang saat melihat rekornya. Tepat 10 detik. Tidak buruk.

“Tidak kurang dari 10 detik, jadi kau tidak bisa meminta apa-apa dariku. Lumayan.”

“Sudah, kan? Aku sudah berhasil melakukannya! Setidaknya hargai sedikit kerja kerasku! Kau tidak tahu bahwa itu melelahkan sekali?” gerutu Hye-Na panjang pendek sambil mendudukkan tubuhnya ke atas lantai. Kakinya terjulur ke bawah meja dan wajahnya mendongak, menatap Kyuhyun malas.

Kyuhyun membungkuk dan menjulurkan tubuhnya melewati meja, kemudian dengan tiba-tiba menyentuhkan telapak tangannya ke pelipis Hye-Na yang penuh keringat, menghapusnya dalam sekali usapan. Pria itu mempertahankan posisinya, menahan tubuhnya dengan satu tangan yang diletakkan di atas permukaan meja, sedangkan tangan yang lain berada di tengkuk gadis itu. Matanya menatap wajah gaadis itu dengan intens, dan dahinya sendiri berkerut, seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Kau terlalu lemah karena menolak meminum darah, kau tahu? Keadaanmu akan bertambah buruk dalam beberapa hari. Berhentilah menjadi keras kepala dan dengarkan ucapanku. Kau tidak mau mati sebelum bertarung, kan?” ujar Kyuhyun, dengan nafas yang tepat berhembus di wajah Hye-Na, membuat gadis itu mengernyitkan hidung karena aroma manis yang memukulnya telak.

“Bukankah Renatus tidak bisa mati?”

“Memang tidak. Tapi kalau kau tidak meminum darah seminggu setelah kau mendapatkan mimpimu, kau akan melemah, sampai tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tubuhmu sedang melakukan penyesuain diri dan meminum darah adalah salah satunya, atau kau benar-benar tidak bisa bertahan.”

“Dan kau berharap aku termakan rayuanmu lalu bersedia membenamkan taringku ke lehermu? Begitu?”

Kyuhyun menyeringai dan mengangkat bahunya.

“Aku tidak akan suka kalau harus kehilangan pasanganku terlalu cepat. Kau tidak ingat ucapanku waktu itu? Kau sudah menjadi tawananku, jadi….” Kyuhyun memindahkan tangannya yang berada di tengkuk Hye-Na ke pinggang gadis itu dalam satu gerakan cepat yang bahkan tidak sempat disadari oleh gadis itu sendiri, dengan mudah menarik pinggang gadis itu ke arahnya, membuat tubuh gadis itu terangkat dari lantai.

Hye-Na merasakan lututnya membentur pinggir meja, tapi dia bahkan tidak merasakan sakit sama sekali. Kebalikan dari apa yang seharusnya terjadi, dia malah bisa mendengar dengan jelas bunyi derak meja kayu di bawahnya yang sepertinya patah terkena kakinya. Sebaiknya lain kali dia meluangkan waktu untuk mencari tahu seberapa jauh kekuatan yang dimilikinya.

Kyuhyun menahan tubuh gadis itu dengan satu tangannya, sedikit menunduk agar mendapat tinggi yang sejajar dengan gadis itu. Dan lagi-lagi, aroma itu menghantamnya dengan mengerikan.

“Kau,” lanjutnya. “Tidak akan kubiarkan mati tanpa seizinku.”

Hye-Na membulatkan matanya, jelas tampak sedang berusaha keras untuk tidak menarik nafas. Membiarkan indera penciumanmu tumpul bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan bagi Renatus sekalipun.

“Kalau begitu cari tahu saja apa yang bisa kau lakukan untuk membuatku bersedia meminum darahmu… Tuan Cho,” bisik Hye-Na tajam, mulai memberontak melepaskan diri. Tapi pria itu bahkan tidak bergerak sama sekali untuk menghentikan usahanya, seolah sekuat apapun dia mencoba, dia tidak akan bisa kabur begitu saja.

“Kalau aku berhasil… apa yang aku dapatkan?”

Hye-Na menatap pria itu sinis dan mendecak. “Darahku?”

Kyuhyun mengerling dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. “Menarik.”

Pria itu merenggut tubuh Hye-Na sampai gadis itu seolah melayang di atas meja, setengah berada dalam gendongannya. Bedanya, pria itu bahkan hanya menggunakan satu tangan untuk menahan tubuh Hye-Na, seakan berat gadis itu tidak lebih dari sebuah bantal.

“Sebaiknya mulai sekarang kau belajar untuk tidak menantangku,” bisik Kyuhyun pelan di bibir gadis itu. “Aku akan bertanding habis-habisan, kau tahu?”

Hye-Na nyaris tersedak nafasnya sendiri saat bibir pria itu dengan bertubi-tubi menyerang bibirnya tanpa peringatan. Bagaimana, seolah telah melakukannya puluhan kali, bibir pria itu membuka dan meraup bibirnya, menciumnya tanpa ampun, sedangkan dia berusaha mengumpulkan konsentrasinya untuk melawan, mencoba melepaskan diri. Hal yang sulit, karena di saat yang bersamaan, sebagian dirinya malah ingin menempel di tubuh pria itu dan membalas setiap gerakan bibirnya dengan sama liarnya.

Dia mendengar bunyi derak meja yang menghantam dinding, lemari yang bergoyang nyaris jatuh terkena tendangan kaki Kyuhyun dalam usahanya menyingkirkan barang-barang yang menghalangi langkahnya, dan tubuhnya sendiri yang kemudian terhempas ke kepala tempat tidur, menyebabkan benda yang terbuat dari kayu itu langsung patah, membuat ranjang yang baru saja didudukinya bergerak membahayakan, seolah bisa runtuh kapan saja.

Dan tidak tahu sejak kapan, tapi tiba-tiba saja tangannya sudah melingkar di pundak Kyuhyun, menarik leher pria itu mendekat, sedangkan jari-jarinya berkutat dengan kancing kemeja pria itu, berupaya mencari akses ke relung leher Kyuhyun, tempat wangi memabukkan pria itu berpusat.

Aroma pria itu memenuhi indera penciumannya, membuat kepalanya berdenyut menyakitkan dan kerongkongannya terasa begitu kering, menuntut segera diisi. Dan saat dia berhasil melepas kemeja pria tersebut, meninggalkan kaus sleeveless hitam yang memberinya pemandangan penuh ke bagian leher pria itu, dia langsung merasakan dahaga yang harus dipuaskan secepatnya. Dia bisa melihat dengan jelas denyut nadi yang memompa darah pria itu bergerak menggoda, membuatnya mengalami rasa frustrasi yang tidak tertahankan, tercabik antara rasa lapar dan pertahanan diri yang mengesankan.

“Kenapa kau tidak melupakan gengsimu dan menyelesaikannya sekarang juga?” gumam Kyuhyun, mengatupkan mulutnya dengan gigi yang saling beradu, berupaya keras menahan tangannya tetap di pinggang Hye-Na, bukannya memenuhi keinginannya untuk merobek setiap lapis pakaian yang menutupi tubuh gadis itu saat itu juga.

Dan saat itu, saat matanya menatap wajah yang seolah dipahat dengan seluruh kesempurnaan yang bisa diciptakan, terikat pada aroma tubuh yang membuat perutnya memberontak minta diisi, sedangkan dia nyaris sekarat karena dahaga yang menyesakkan, Hye-Na tahu bahwa dia tidak bisa mundur lagi. Bahkan saat dia benar-benar menginginkannya, seluruh sel tubuhnya tetap saja menyerah pada godaan memabukkan yang dimiliki pria itu.

 

TBC