Inspirated by Melissa de la Cruz – Blue Blood & Masquerade

 

 

 

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

05.00 AM

 

Seorang wanita dengan gaun putih yang melilit tubuh rampingnya berjalan menyusuri sebuah taman yang dipenuhi rerumpunan bunga dalam berbagai jenis, membuat taman itu terlihat seperti padang bunga terlengkap di seluruh penjuru jagad raya. Gaun wanita itu tampak seperti tetesan air yang dipintal menjadi kain tembus pandang, membuatnya hampir terlihat berkilauan seperti berlian. Gaun itu menutupi tubuhya membentuk sebuah lilitan rumit, menyisakan sebuah untaian cukup panjang di bagian bawah yang akan melambai anggun setiap kali wanita tersebut melangkahkan kaki jenjangnya.

Gaun itu membelah di bagian dada, mengekspos leher indah wanita itu, tempat sebuah kalung berliontinkan hati dan kupu-kupu yang saling memagut menjuntai angkuh. Wajah wanita itu tidak terdefinisikan, jenis wajah yang tidak akan pernah ditemukan di sudut manapaun di muka bumi. Wajah yang tidak tergambarkan kecantikannya, wajah yang membuat keindahan apapun di sekitarnya dalam seketika meredup. Wajah yang membuat siapapun tidak bisa memalingkan muka dan menjadi buta terhadap kecantikan lainnya. Wajah yang begitu sempurna sehingga nyaris terasa menyakitkan, dengan setiap struktur paling tepat yang pernah diciptakan.

Rambut ikal panjang sepunggung wanita itu yang biasanya dibiarkan tergerai, saat ini dijalin longgar, dimana di setiap kepangannya ada sebuah bunga kecil yang indah, yang selalu berganti warna setiap detiknya, seperti kilasan adegan film yang terus menerus diputar.

Wanita itu tidak memedulikan semak-semak yang menggores kulit mulusnya, karena dia memang tidak bisa dilukai oleh apapun. Dan ajaibnya, setiap semak bunga yang terkena kulitnya, berubah menjadi sekumpulan bunga-bunga yang bermekaran dan berada dalam kondisi paling menakjubkan untuk dipandang. Dan wanita itu bahkan tidak berhenti untuk menikmati keindahannya. Karena jelas, dia sendiri adalah hal tercantik yang pernah diciptakan.

Wanita itu menghentikan langkahnya di depan kolam teratai yang memiliki air yang begitu jernih. Dia bahkan bisa melihat pantulan wajahnya disana, bayangan keindahan yang tiada tara, yang anehnya membuatnya terkadang merasa seperti terkena kutukan. Jika kecantikan itu bisa disebut sebuah dosa besar.

Mata cokelat gelap wanita itu, yang sekarang berganti warna menjadi hitam pekat, menatap pria yang berdiri di belakangnya. Mereka berdua terlihat begitu kontras, terlihat begitu tidak pantas saat berdiri berdekatan. Tapi yang menakjubkan adalah, disaat yang bersamaan, pria itu terlihat sebagai pasangan jiwa yang terikat padanya. Jika wanita itu adalah simbol dari segala kecantikan, maka pria itulah yang melambangkan ketampanan yang memabukkan. Sayangnya, aura mereka berdua sangat bertolak belakang. Wanita itu adalah Sang Terang, ‘The Brightest One’, sedangkan pria itu memiliki aura yang begitu gelap, mencekam, dan berbahaya. Aura kematian dan dunia bawah. Tapi tetap saja, bagaimanapun, pria itu masih menjadi makhluk paling menggoda di seluruh penjuru dunia.

“Kau tidak boleh turun ke bumi,” ucap pria itu dengan nada suara yang terdengar begitu tajam, tidak bisa dibantah. Mata hitamnya berkilat mengerikan, seolah-olah dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menghancurkan sesuatu di dekatnya.

“Keputusan sudah diambil. Lucifer akan dibuang ke bumi, dan aku, sebagai penjaganya harus ikut bertanggung jawab atas semua kesalahan yang dilakukannya. Kau tahu dia tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas di bumi begitu saja dan menghancurkan apapun yang ada disana. Aku harus melindungi para manusia.”

“Kau tidak bersalah dan kau tidak perlu merasa bersalah. Kau harus tetap disini. Kau tahu betapa pentingnya kedudukanmu disini. Dan sekali kau turun ke bumi, kau tidak bisa kembali lagi kesini kecuali kalau kau….”

“Aku tahu,” potong wanita itu cepat. “Tapi jika aku turun ke bumi, aku masih tetap bisa melakukan semua tugas-tugasku walaupun….”

“Walaupun kau menjadi makhluk terkutuk yang sama rendahnya dengan para manusia itu?” sela pria itu dengan marah. “Kau malaikat, Lovelya. Kau salah satu dari tiga yang terkuat. Kau tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja.”

“Kepergianku akan membuat semuanya menjadi lebih mudah, Deathan,” ucap wanita itu dengan suara yang terdengar sedikit gemetar saat menyebutkan nama pria di depannya. “Jika aku tetap disini, kita akan…. Kau tahu itu dilarang. Ini tidak akan berhasil.”

Deathan mengulurkan tangannya dan mencengkeram siku wanita itu, membuat wanita itu sedikit berjengit merasakan sentuhan dingin pria itu di kulitnya.

“Kita tidak akan berhasil. Tentu saja. Tapi jika kau turun ke bumi… dan aku ikut denganmu, kau tahu ada satu cara yang bisa dilakukan.”

“Tidak,” sergah Lovelya, mendadak terlihat ketakutan. “Manusia-manusia itu… Lucifer….”

“Aku tahu,” sela pria itu sambil melangkah mendekat. Sangat dekat. “Tapi ada banyak hal yang bisa aku korbankan untuk mendapatkanmu. Kau tahu alasan kenapa aku adalah Malaikat Kematian.” Pria itu diam sejenak, menatap wajah gadis itu dengan mata hitamnya yang sekelam malam. “Aku tidak punya belas kasihan.”

 

***

Hye-Na terjaga dengan nafas terengah-engah, seolah dia baru saja berlari puluhan kilometer. Gadis itu terduduk di atas tempat tidurnya dengan keringat dingin yang mengalir di punggung dan lehernya. Mimpinya beberapa menit yang lalu terasa begitu nyata, seolah dia sendiri berada di dekat kedua orang tersebut, melihat mereka, dan mendengar setiap hal yang mereka ucapkan dengan sangat jelas.

Masalahnya adalah… dia merasa sangat mengenal wanita itu. Wajah itu… terasa begitu familiar baginya. Walaupun dia tidak mengerti bagaimana mungkin ada wajah sesempurna itu di atas dunia ini. Dan tidak hanya satu orang, tapi dua. Pria itu juga benar-benar menyilaukan, dengan aura berbahaya yang menakutkan.

Tapi mereka bukan manusia. Bukankah begitu? Mereka… malaikat? Lovelya? Deathan? Dia tidak pernah mendengar dua nama aneh itu sejauh ini. Dan mereka berdua berbicara dengan bahasa aneh, yang seharusnya tidak dia mengerti, tapi sebaliknya, dia bahkan seolah menguasai bahasa aneh itu, memahami tiap kata yang mereka ucapkan.

Apa itu hanya mimpi? Mungkin saja. Tapi Hye-Na tahu dengan jelas bahwa kilasan adegan itu, entah bagaimana caranya, benar-benar terjadi di masa lalu, di dimensi lain, dan dunia lain. Kalung di leher wanita itu bahkan sedang dipakainya saat ini. Kalung yang persis sama.

Dan mimpi itu tidak datang begitu saja. Pasti ada sesuatu. Dan dia memiliki hubungan dengan itu semua.

***

Dining Room, Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

08.00 AM

Keluarga Han adalah keluarga paling berpengaruh di Korea saat ini. Memiliki nyaris semua jaringan department store di daerah Apgujeong-dong, daerah pusat perbelanjaan paling terkenal di Korea. Belum lagi beberapa perusahaan lain seperti Samsung, perusahaan otomotif, dan perhotelan. Dan entah bagaimana semua itu berhasil dipimpin dengan sangat sukses oleh Han Kwang-Min, kakek Hye-Na.

Gadis itu sudah tidak memiliki orang tua lagi saat dia baru dilahirkan. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat mengantarkan ibu Hye-Na ke rumah sakit untuk melahirkan. Beruntung janin tersebut bisa terselamatkan, walaupun dalam keadaan yatim piatu. Sejak saat itu, Hye-Na diasuh oleh kakeknya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Dan dia nyaris seperti terkurung di penjara. Kakeknya begitu protektif padanya, bahkan pria tua itu menyarankan agar Hye-Na membawa seorang pengawal kemanapun dia pergi. Seorang pria bernama Lee Donghae. Pria yang lebih tua 5 tahun darinya dan digilai begitu banyak wanita. Sayang sekali, dia tidak merasa tertarik sedikitpun, walaupun semua orang berharap akan terjadi sebuah kisah cinta picisan seorang majikan dengan pengawal pribadinya.

Dia tidak habis pikir kenapa kakeknya bersikap seolah akan ada sebuah peluru yang menyambutnya saat dia melangkahkan kaki keluar rumah. Donghae bahkan mengikutinya ke sudut manapun dia melangkah, bahkan sepertinya pria itu akan mengikutinya ke kamar mandi jika Hye-Na tidak memelototi pria itu dan mengusirnya pergi.

Hye-Na mengacak-acak telur orak-ariknya tanpa minat. Melemparkan garpu yang sedang dipegangnya lima detik kemudian dan menatap kakeknya dengan tatapan penasaran.

“Kau tahu sesuatu tentang… Deathan dan Lovelya?” tanya gadis itu tanpa basa-basi. Kakeknya tidak pernah mau bercerita sedikitpun tentang orang tuanya, seolah itu adalah pertanyaan yang terlarang untuk ditanyakan di rumah ini.

Pria berumur 60-an itu mendongak dari koran pagi yang sedang dibacanya, menatap cucunya itu dengan pandangan penuh penilaian. Dia menoleh kepada Donghae yang duduk di seberang Hye-Na, memberi tanda agar pria itu pergi, meninggalkan mereka berdua di ruang makan yang luas itu, membuat Hye-Na yakin setengah mati bahwa ini akan menjadi pembicaraan yang serius. Oh ayolah, jangan bilang di dunia ini benar-benar ada cerita khayalan tentang malaikat-malaikat aneh itu. Dia tidak menginginkan omong kosong saat ini. Tidak boleh ada fantasi dalam hidupnya yang terasa begitu nyata. Tapi sebenarnya dia tidak terlalu keberatan. Hal ini akan menjadi hiburan yang menyenangkan di tengah hidupnya yang amat sangat membosankan.

“Kau sudah mendapatkan somnium pertamamu?”

Somnium. Mimpi. Entah kenapa dia bisa mengerti arti kata itu begitu saja. Padahal dia tidak tahu bahasa itu berasal dari belahan bumi bagian mana.

“Apa maksudmu dengan… mimpi pertamaku?”

Kwang-Min tersenyum. Senyum pertamanya yang terasa begitu hangat untuk gadis itu. Pria itu selalu terlihat dingin dan tidak bisa didekati selama ini. Dia mengangguk-angguk, terlihat senang saat mengetahui Hye-Na mengerti bahasa yang digunakannya.

“Para renatus biasanya mendapatkan somnium pertama saat menginjak umur 17 tahun. Kau terlambat tiga tahun, Nona Muda. Tapi kau memang keturunan langsung, jadi mungkin ada sedikit perbedaan.”

“Bisa kau jelaskan? Aku tidak mengerti. Apa itu… renatus? Dan kenapa aku berbeda? Keturunan langsung apa yang kau maksudkan?”

“Kau mau mendengar dongeng? Dongeng yang sangat panjang. Kuharap kau punya waktu senggang hari ini.”

“Aku tidak ada kuliah,” jawab Hye-Na cepat, merasa begitu tertarik dengan ‘dongeng’ yang dimaksudkan kakeknya itu. Dan… entah apakah pria itu benar-benar kakeknya atau bukan.

Kwang-Min tersenyum lagi. Kali ini dia melipat korannya dan menyingkirkannya bersama piring sarapan paginya ke tengah meja.

“Jadi… mimpi apa yang kau dapatkan?” tanya pria itu sambil melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Hye-Na dengan raut wajah penasaran.

“Seorang wanita yang sangat cantik… benar-benar cantik. Aku tidak tahu cara mendeskripsikannya,” ujar Hye-Na sambil menggelengkan kepalanya putus asa.

“Aku mengerti. Dia memang tidak pernah tergambarkan. Benar-benar makhluk tercantik yang pernah diciptakan,” ucap Kwang-Min setuju. Untuk sesaat pandangan matanya tampak kosong, seolah sedang mengingat-ingat raut wajah yang tanpa cela itu. “Lalu?”

“Wanita itu… ada di sebuah taman bunga. Dan anehnya, dia memakai kalung yang sama denganku.” Hye-Na menarik kalung yang menjuntai di dadanya. Kalung yang sejauh ini diketahuinya sebagai kenang-kenangan dari ibunya. “Dan… dia bersama seorang pria. Yang… kau tahu… ketampanan yang membutakan… sejenis itu…. Mereka berdua… terlihat begitu sama, tapi bertolak belakang. Lovelya, wanita itu, begitu bersinar, terang. Tapi pria itu… gelap. Berbahaya,” putus Hye-Na, saat mengingat-ingat lagi rupa pria dalam mimpinya itu.

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Sesuatu tentang Lucifer, turun ke bumi, tanggung jawab, dan… Deathan berkata bahwa jika wanita itu turun ke bumi, dia tidak bisa kembali lagi. Tapi jika Deathan ikut, mereka bisa bersama.”

Kwang-Min mengangguk, terlihat terpesona.

“Mereka berdua… hubungan mereka terlarang. Tidak direstui. Dan Lucifer hanya membuat semuanya semakin buruk.”

“Apa maksudmu?”

“Berikan aku satu pertanyaan menarik dan aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu.”

Hye-Na mengerutkan keningnya. Dia menyentuh lehernya, kebiasaannya saat merasa gugup. Dia tidak tahu cerita ‘menarik’ apa yang akan diketahuinya sebentar lagi.

“Siapa… Lovelya?” tanyanya hati-hati.

Kwang-Min tersenyum. Lagi. Hye-Na bahkan sampai heran setengah mati kenapa pria itu bisa tersenyum sebanyak itu dalam jangka waktu singkat, padahal selama bertahun-tahun mereka tinggal bersama, pria itu bahkan nyaris tidak pernah memperlihatkan wajah ramah sedikitpun terhadap Hye-Na.

“Lovelya? Kau tidak melihat kemiripannya?”

Hye-Na menatap pria itu bingung. “Kemiripan apa?”

“Kau tidak pernah melihat wajahmu sendiri di cermin, cucu? Kau membuatku kecewa.”

“Apa?”

“Lovelya. Ibumu.”

***

Oke, tolong jelaskan padanya bagaimana mungkin wanita dengan kecantikan sememukau itu adalah ibunya? Dan… wanita itu adalah malaikat. Bagaimana mungkin seorang malaikat memiliki anak?

“Aku akan menceritakannya padamu dari awal. Mungkin akan membosankan, tapi ini sangat penting. Apa kau sudah selesai sarapan?”

Hye-Na mengangguk. Dan sedetik kemudian, entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Donghae sudah berada lagi di sampingnya, mengambil semua piring-piring di meja dalam satu gerakan cepat, dan menghilang lagi, seolah kakinya tidak menapak tanah.

“Apa itu?” seru gadis itu syok, menatap pintu yang baru saja menutup dengan wajah kaget.

“Itu bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari kecepatannya.”

“Bagaimana dia tahu bahwa….”

“Telepati. Setiap renatus bisa membaca pikiran satu sama lain, kecuali jika kau ingin memblokirnya. Tapi penjelasan tentang itu nanti saja. Kita harus mulai dari awal.”

Hye-Na mengangguk. Sepertinya dia benar-benar akan mendengar dongeng tentang… vampir mungkin? Hanya itu saja makhluk dengan kecepatan mengagumkan yang terdengar masuk akal baginya.

“Vampir? Menarik,” gumam Kwang-Min, membuat Hye-Na melotot marah.

“Kau membaca pikiranku!” tuduh gadis itu, merasa kesal dengan kemungkinan bahwa sepertinya pria itu sudah melakukannya dalam jangka waktu yang lama.

“Hanya jika aku ingin saja. Aku menghargai privasimu. Pikiranmu seperti lembar buku yang terbuka, kau tahu?”

Hye-Na merengut dan memalingkan wajahnya. “Cerita saja, Kakek. Jangan membuatku kesal.”

“Kau pernah mendengar tentang Lucifer? Malaikat yang diusir dari surga?”

Hye-Na mengangguk.

“Ada 3 malaikat utama. The Wisest, The Brightest, dan The Death. Dalam bangsa mereka disebut Sapientissimus, Clarissimis, dan Orcus. Sang Bijaksana adalah Michael, Sang Terang adalah Lovelya, dan Sang Kematian, Deathan. Yang Tertinggi, Summum, adalah pencipta semuanya. Michael adalah malaikat keadilan, keberanian, dan kedamaian. Lovelya adalah malaikat kehidupan, cinta, dan keindahan. Dan Deathan sendiri adalah malaikat kematian.”

“Ada ribuan malaikat, Lucifer salah satunya. Dia berada dalam pengawasan Lovelya. Tapi malaikat satu itu begitu sombong dan merasa paling kuat dari semuanya. Dia memberontak, menolak untuk menyembah Summum, pengkhianatan yang tidak termaafkan. Maka dia diusir dari surga dan dibuang ke bumi.”

“Lovelya, yang merasa begitu bersalah karena kelalaiannya yang menyebabkan pemberontakan terbesar itu, memutuskan untuk ikut turun ke bumi. Lucifer sendiri berjanji akan menyesatkan semua manusia di bumi, makhluk-makhluk yang baru saja diciptakan Summum, membuat kehancuran, dan membawa manusia-manusia itu bersamanya ke neraka, tempat yang diciptakan khusus untuknya. Lovelya adalah malaikat cinta, jadi dia tidak mungkin membiarkan Lucifer bertindak semena-mena.”

“Tapi… bumi adalah tempat yang hina untuk seorang malaikat, apalagi malaikat dalam Kepemimpinan Tertinggi. Sekali kau turun ke bumi, kau tidak diizinkan lagi kembali.”

“Tapi Deathan bilang….”

“Aku akan menjelaskannya nanti,” potong Kwang-Min.

“Kau sudah lihat sendiri secantik apa Lovelya, dan kau pasti tidak akan heran bahwa begitu banyak yang mengaguminya. Deathan… kau tahu kenapa malaikat kematian bisa semempesona itu? Karena sesuatu yang berbahaya selalu terasa memikat. Mereka berdua seperti hitam dan putih. Tidak bisa menyatu.”

“Kenapa?”

“Kenapa? Bukankah sangat jelas? Tidak bisakah kau membayangkan apa yang akan terjadi jika Malaikat Kematian dan Malaikat Cinta dan Kehidupan bersatu? Bumi akan kacau balau, Hye-Na~ya. Deathan memiliki kendali penuh untuk setiap nyawa di bumi. Dia bisa membunuh siapa saja yang diinginkannya.”

Aku tidak punya belas kasihan.

Hye-Na mendadak teringat dengan kalimat terakhir yang diucapkan pria itu di mimpinya.

“Kau tahu kenapa ada bunuh diri? Kecelakaan? Karena Deathan membunuh manusia sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dia memiliki pertimbangan sendiri kenapa manusia ini harus mati, dan kenapa yang lain harus tetap hidup. Dan Lovelya, sebagai Malaikat Cinta dan Kehidupan, memiliki pertimbangan yang berbeda tentang hal ini. Coba kau bayangkan saat seorang ayah dari keluarga miskin, mati begitu saja karena kecelakaan, meninggalkan istri dan anak-anak yang kelaparan. Lovelya tidak akan tega melihat sang ayah mati, tapi Deathan harus membuat pria itu mati, karena setiap manusia memiliki batas siklus hidup masing-masing. Deathan memang memiliki kebebasan penuh akan membunuh manusia seperti apa, kapan, dan dimana. Tapi setiap manusia memiliki siklus hidup. Ada batas yang ditetapkan. Deathan bisa saja membunuh mereka lebih cepat atau mungkin lebih lambat, tergantung pertimbangannya. Tapi jika Deathan membiarkan seorang manusia yang telah melewati batas siklus hidupnya terlalu lama, manusia itu akan tertahan di Orio, Dunia Antara. Arwah manusia tersebut tidak bisa meneruskan perjalanan ke Surga ataupun mendapatkan penghukumannya di Neraka. Arwah manusia, walaupun hanya sekedar arwah, masih bisa merasakan hal-hal dasar sebagai manusia. Seperti rasa takut, sakit, dan sebagainya. Dan Orio terkenal sebagai tempat paling menakutkan dan ditakuti para arwah. Gelap, dan dihuni oleh Bellua, Pemangsa Arwah, yang menyebabkan arwah-arwah tadi tidak pernah bisa sampai ke tujuannya untuk mendapatkan reinkarnasi.”

“Setelah mendapat penghukuman di Neraka, atau kembali ke Surga, arwah-arwah itu akan mendapat giliran masing-masing untuk menjalani reinkarnasi. Mereka bisa hidup kembali, hal-hal yang sangat ditunggu oleh para arwah. Inilah tugas Lovelya. Memberikan mereka kehidupan kembali.”

“Tapi bagaimana kalau kau tidak ingin dihidupkan kembali?” potong Hye-Na.

“Itu hanya keinginanmu saja. Saat kau menjadi arwah, kau akan sangat ingin dihidupkan kembali. Itu hakikat mereka, Hye-Na~ya. Jadi apa sekarang kau sudah mengerti kenapa hubungan mereka berdua terlarang? Alasan lain adalah karena para malaikat dari Kepemimpinan Tertinggi tidak diperbolehkan melakukan Ierós Desmós, Ikatan Suci. Menikah, dalam bahasa manusia.”

“Lucifer, diam-diam menyukai Lovelya. Dia melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian wanita itu. Dia menyerah untuk dua hal. Lovelya tidak bisa mencintai siapapun selain Deathan dan memilih hidup menderita demi hal itu, dan ditambah dengan kenyataan bahwa dia adalah malaikat dari Kepemimpinan Tertinggi. Lucifer sangat yakin bahwa jika tidak ada aturan itu, dia bisa mendapatkan Lovelya dan merebutnya dari Deathan. Maka Lucifer merasa bahwa Summum sangat tidak adil. Itulah alasan dia memberontak. Itulah kenapa Lovelya merasa bertanggung-jawab.”

“Tapi… Lovelya adalah Malaikat Cinta, kenapa dia membiarkan Lucifer jatuh cinta padanya? Kenapa dia memilih jatuh cinta pada Deathan?”

“Dia malaikat, Hye-Na~ya. Kekuatannya hanya berlaku pada manusia. Satu-satunya yang memiliki kendali terhadap malaikat hanya Summum. Karena kalau malaikat bisa mengambil kendali terhadap malaikat lainnya, Deathan bisa dengan mudah melenyapkan Lucifer.”

“Lalu kenapa Summum membiarkan semua ini terjadi?”

“Kau menanyakan jalan pikiran Sang Pencipta padaku?” tanya Kwang-Min tak percaya, seolah itu adalah pertanyaan paling bodoh sedunia. “Tidak ada yang tahu, bahkan para malaikat sekalipun. Summum berada di balik semua kebaikan, sekaligus penyebab semua kejahatan. Dia adalah Sang Pencipta, The Highest, dia pasti tahu apa yang dilakukan-Nya, akibat yang terjadi. Dia memiliki semua pertimbangan.”

“Kau tahu peristiwa Roanoke? Hampir 500 tahun yang lalu?”

Hye-Na menggeleng.

“Roanoke adalah sebuah pulau di Amerika. Itu adalah salah satu peristiwa paling misterius di dunia, menurut para manusia. 121 orang penduduk pulau itu lenyap tanpa bekas. Tidak ada mayat, rumah-rumah ditinggalkan masih seperti sedia kala. Yang ada hanya sebuah petunjuk yang ditulis di batang pohon. Croatan. Kata itulah yang tertulis disana. Menurut manusia, mereka memutuskan pindah ke suatu tempat bernama Croatan, mengabaikan kenyataan bahwa rumah-rumah yang ditinggalkan masih utuh dengan barang-barang yang masih tetap di tempatnya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Hye-Na penasaran.

“Korban pertama Lucifer. Tidak hanya satu orang, tapi satu pulau. Dia… mengutuk mereka.”

“Maksudnya?”

“Tebakanmu tadi benar. Vampir. Sejarah vampir dimulai dari sana.”

Hye-Na merasakan nafasnya tertahan di tenggorokan. Vampir? Makhluk itu ternyata benar-benar ada?

“Croatan adalah nama kuno Lucifer.”

“Bagaimana cara dia mengubah mereka menjadi vampir?”

“Seperti yang biasa kau dengar. Dia menghisap darah mereka. Racunnya terletak di air liurnya. Jika air liurnya bercampur dengan darah, maka semua sistem tubuh manusia yang darahnya dihisap itu akan membeku, pertumbuhannya berhenti. Dan dia akan mengalami nafsu yang sama seperti Sang Penghisap. Manusia itu harus menghisap darah manusia lainnya untuk bertahan hidup dan jika mereka sudah cukup dewasa, maksudku saat mereka sudah cukup lama menjadi vampir, mereka tidak hanya menghisap darah, tapi juga mengubah manusia lainnya menjadi vampir.”

“Kau tahu kenapa dia disebut Lucifer? Kenapa angka 666 disebut sebagai lambang setan? Lucifer adalah Sang Pembawa Cahaya. Dalam bahasa Latin disebut Lux Ferre, yang berarti pembawa cahaya. Dan angka 666 sendiri dalam bahasa Latin bisa diartikan sebagai DIC LVX, “Dicit Lux”, suara cahaya. Dalam istilah astrologi disebut juga sebagai Bintang Fajar atau Venus. Venus sendiri adalah nama Lovelya, Malaikat Cinta. Itu cukup menunjukkan betapa Lucifer sangat mencintai Lovelya.”

Hye-Na menarik nafas berat. Dia cukup tahu tentang Lucifer, tapi tidak ada sejarah manapun yang pernah menyebut bahwa Sang Iblis pernah jatuh cinta setengah mati terhadap seorang malaikat.

“Lucifer bergerak cepat, tentu saja. Lovelya cukup terlambat untuk menghentikannya. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menghisap kembali racun para vampir itu. Tapi itu tidak sepenuhnya bekerja. Vampir itu tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia. Vampir-vampir yang bisa diselamatkan oleh Lovelya disebut Renatus.”

“Apa bedanya?”

“Vampir adalah makhluk abadi. Mereka tidak bisa mati. Dan itu berarti arwah mereka tidak bisa bereinkarnasi. Sedangkan Lovelya akan melakukan segala cara agar para arwah bisa bereinkarnasi kembali.”

“Kenapa kedengarannya reinkarnasi ini begitu penting?” tanya Hye-Na bingung.

“Semua arwah manusia itu sama saja sejak pertama kali mereka diciptakan. Fisik mereka berbeda-beda, tapi arwah mereka berasal dari arwah-arwah yang sudah bereinkarnasi. Setiap arwah akan masuk ke fisik yang berbeda-beda setiap kali mereka bereinkarnasi. Fisik-fisik baru diciptakan setiap saat, tapi arwah-arwah yang ditiupkan ke dalam raga baru itu arwah-arwah lama yang sudah mati dan bersiap untuk direinkarnasi. Tentu saja, saat terlahir kembali mereka tidak akan ingat bahwa mereka sudah pernah hidup sebelumnya.”

“Inilah perbedaan manusia dengan para Renatus. Renatus, tidak seperti vampir, mereka bisa memutuskan untuk beristirahat, kembali ke Pnevma, Dunia Arwah. Renatus biasanya hidup paling lama sampai umur manusia mereka menginjak angka 100 tahun. Lalu tubuh manusia mereka akan mati dan dikuburkan, dan arwah mereka kembali ke Pnevma, menunggu antrian bersama arwah lainnya. Dan saat mereka hidup kembali, saat berumur 17 tahun, mereka akan mendapat Somnium, mimpi pertama mereka. Biasanya berupa kilasan-kilasan kehidupan lama mereka. Mereka akan mengetahui setiap detail kehidupan lama mereka, tanpa terkecuali. Itu yang membedakan Renatus dan manusia.”

“Bagaimana kalau Renatus ini menolak untuk beristirahat?”

“Mereka terikat peraturan Dunia Arwah. Lagipula tubuh manusia yang mereka tempati akan terus menua, tidak seperti vampir. Mereka bisa saja menghentikan penuaan kalau mereka mau, tapi mereka harus hidup berpindah-pindah setiap saat agar tidak membuat para manusia curiga. Dan hidup berpindah-pindah, bagi para Renatus, adalah hal yang berbahaya, karena ada begitu banyak vampir di luar sana yang akan membantai mereka.”

“Vampir memburu Renatus?”

Kwang-Min mengangguk.

“Bagaimanapun, walaupun vampir makhluk abadi, Renatus lebih kuat daripada mereka. Seperti Lovelya yang lebih kuat daripada Lucifer. Vampir memiliki beberapa kelebihan. Kecepatan, kekuatan, keabadian, kepintaran, tapi Renatus bisa membaca pikiran Renatus lainnya dan para manusia. Kekuatan ini sangat berguna, kau tahu? Dan setiap Renatus memiliki kelebihan masing-masing. Pembaca masa depan, telekinetika, telepati. Banyak sekali. Jika seorang vampir membunuh seorang Renatus, maka mereka akan mendapatkan kekuatan Renatus tersebut. Renatus itu sendiri akan lenyap dan tidak bisa bereinkarnasi.”

“Tapi Renatus lebih kuat.”

“Secara tekhnis seperti itu, tapi para vampir itu menghisap darah manusia. Kekuatan arwah dalam diri manusia sangat kuat. Itu kenapa arwah bisa terus menerus mati dan dilahirkan kembali. Para vampir itu semakin kuat setiap kali mereka menghisap darah manusia. Tapi hal itu hanya bisa dilakukan seminggu sekali. Mereka tidak bisa membunuh terlalu banyak manusia, karena Lucifer sendiri masih terikat peraturan kuno. Manusia adalah makhluk ciptaan Summum yang dimuliakan, mereka seharusnya dijaga, bukan dihabisi. Lucifer berbaik hati sedikit untuk itu.”

“Kau pernah dengar legenda tentang vampir yang hanya bisa keluar di malam hari saja, kan? Legenda itu benar. Lucifer adalah Sang Pembawa Cahaya, dan vampir adalah makhluk kutukan. Mereka tidak musnah jika terkena cahaya matahari, tapi pada siang hari, kekuatan mereka menghilang. Mereka hanya manusia biasa dan baru menjadi kuat pada malam hari. Mereka selalu berburu saat hari mulai gelap.”

“Jadi kenapa Renatus tidak membunuh mereka saja pada siang hari?”

“Vampir tidak bisa mati. Aku kan sudah memberitahumu dari awal. Jadi sia-sia saja.”

“Lalu… Lovelya….” Suara Hye-Na terdengar ragu saat mengatakannya.

“Lovelya bagaimanapun tetaplah seorang malaikat. Itu adalah pilihannya sendiri untuk turun ke bumi. Menyelamatkan manusia. Dia masih memiliki kekuatannya, dia masih bisa melakukan tugasnya seperti biasa, tapi dia tidak bisa kembali lagi ke Surga.”

“Dia… semakin lama semakin melemah. Hanya dia yang bisa menghisap kembali setiap racun yang ditinggalkan Lucifer di tubuh seorang vampir dan mengubah mereka menjadi Renatus. Malaikat adalah makhluk suci dan racun vampir itu kotor, ada begitu banyak vampir yang harus diubahnya kembali menjadi Renatus. Dia tidak sekuat itu untuk melakukan semuanya sendirian.”

“Jadi… dia mati?”

“Malaikat tidak bisa mati. Lagipula walaupun dia bisa mati, apa kau pikir Deathan akan membiarkannya?”

“Lalu bukankah Deathan mengikutinya ke bumi? Maksudku… mereka berdua, kan?”

“Tapi Deathan adalah Malaikat Kematian, dia tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Lovelya, seperti Lovelya yang tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Deathan.”

“Jadi apa yang Deathan lakukan?”

“Saat turun ke bumi, malaikat harus mengambil wujud sebagai manusia. Hal itu membuat mereka tidak bisa melacak satu sama lain, tidak seperti di Surga. Jadi Deathan dan Lovelya berbagi tugas. Lovelya bertugas mengubah semua korban Lucifer menjadi Renatus, sedangkan tugas Deathan adalah melacak keberadaan Lucifer. Dan asal kau tahu saja, jika Lucifer tidak mau ditemukan, maka tidak ada siapapun yang bisa menemukannya.”

“Bukankah Lovelya mengubah semua vampir menjadi Renatus? Jadi kenapa masih ada banyak vampir yang berkeliaran di luar sana?”

“Sayangnya, vampir hanya bisa berubah menjadi Renatus jika usia mereka belum mencapai satu hari. Lovelya harus bergerak cepat untuk menemukan mereka, sedangkan mereka ada dimana-mana. Energi Lovelya akan terkuras setelah dia mengubah satu vampir menjadi Renatus. Itu pekerjaan yang berat, kau tahu? Jadi dia harus melakukan Augescente, Pengisian.”

“Pengisian?”

“Renatus dulunya adalah vampir. Tentu saja mereka tidak bisa jauh-jauh dari darah. Hanya saja, tidak seperti vampir, mereka hanya membutuhkan satu manusia saja sebagai penyedia darah. Mereka bisa memilih siapapun yang mereka inginkan. Para manusia penyedia darah itu disebut Cruor. Cruor yang terpilih akan dihisap darahnya dua hari sekali, hanya dibutuhkan beberapa tetes saja. Biasanya Cruor memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Renatus-nya, bahkan tidak jarang Renatus menikahi Cruor-nya karena mereka memang tak terpisahkan.”

“Jadi… Cruor seperti kekasih?”

“Kebanyakan begitu. Tapi hanya Renatus pria yang bisa memberikan keturunan. Karena manusia bisa hamil, sedangkan Renatus wanita tidak. Dan anak yang lahir bisa saja bukan seorang Renatus.”

“Lovelya adalah malaikat, jadi menemukan Cruor yang seorang manusia tidak berarti banyak baginya. Darah manusia memang suci, tapi tidak cukup kuat. Dan bagaimanapun, ada ciri khas tersendiri bagaimana kau memilih Cruor-mu. Itu bisa dikatakan seperti cinta pada pandangan pertama. Jadi apakah kau bisa menebak siapa seharusnya yang menjadi Cruor Lovelya?”

“Deathan?” gumam Hye-Na lirih.

“Benar. Jika meminum darah Deathan, Lovelya bisa mendapatkan energi yang sangat kuat dan bertahan lama. Tapi itu adalah dosa besar. Menghisap darah kaummu sendiri. Itu terlarang. Apalagi Deathan adalah Malaikat Kematian. Aura mereka berbeda. Ada kemungkinan tubuh Lovelya mengalami penolakan terhadap darah Deathan dan itu akan berbahaya. Jadi dia memilih meminum darah manusia, walaupun dia lebih cepat lemah dan… semakin lama menjadi semakin manusiawi.”

“Apa… Deathan adalah ayahku? Bagaimana mungkin seorang malaikat bisa punya anak?”

“Bukan. Deathan bukan ayahmu. Malaikat tidak perlu melakukan hubungan suami istri untuk mendapatkan keturunan. Dan sebenarnya kau juga tidak bisa dibilang anak Lovelya.”

“Lovelya memiliki seorang Cruor dan dia sendiri menggunakan fisik manusia. Tetap dengan kecantikannya saat menjadi malaikat, hanya saja dia menurunkan kadarnya sedikit. Kecantikan seperti itu tidak bisa diterima logika.”

“Lucifer tidak terima bahwa Lovelya memilih hidup dengan seorang manusia, daripada bersamanya. Dia merasa direndahkan. Jadi dia memutuskan untuk membunuh Lovelya. Membunuh disini maksudnya adalah Lucifer akan menghisap Jiwa Lovelya. Itu adalah perbuatan paling hina yang bisa dilakukan seorang malaikat. Hukumannya adalah kau akan dilenyapkan oleh Summum. Tapi seperti biasa, Lucifer tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu, jadi dia tetap melaksanakan rencananya.”

“Saat itu Lovelya sedang berada di dalam mobil bersama Cruor-nya. Dan Lucifer membuat mobil itu kecelakaan. Sang Cruor mati. Tentu saja Lovelya tidak apa-apa. Tapi dia tahu bahwa dia tidak akan selamat dari Lucifer, jadi dia meninggalkan separuh Jiwa-nya di tubuh manusianya, dan keluar dari tubuh manusia itu, kembali ke fisik malaikatnya yang dalam keadaan begitu lemah karena dia hanya memiliki separuh dari kekuatannya. Itu adalah satu-satunya cara agar dia diizinkan kembali ke Surga. Tapi Lucifer lebih cepat. Dia berhasil menghisap setengah Jiwa Lovelya yang tersisa. Jadi… yang tertinggal hanya tubuh malaikat Lovelya saja. Tanpa Jiwa di dalamnya.”

“Deathan terlambat. Yang ditemukannya hanyalah tubuh tak bernyawa Lovelya. Jadi dia melakukan hal yang sama. Meninggalkan separuh Jiwa-nya di dalam tubuh seorang manusia. Bedanya, Jiwa yang ditinggalkan Lovelya berubah menjadi sebuah janin di tubuh manusianya. Jadi saat tubuh wanita itu ditemukan, yang mereka dapatkan adalah seorang ibu hamil yang kebetulan janinnya berhasil diselamatkan. Kau. Sedangkan Deathan harus meninggalkan Jiwa-nya di tubuh manusia terdekat. Jiwa-nya akan menggantikan arwah di dalam tubuh manusia tersebut. Dan kebetulan, manusia tersebut adalah seorang anak berumur 3 tahun.”

“Deathan bisa membawa pulang Lovelya kembali ke Surga dan Lucifer dimusnahkan. Sayangnya, dia sempat melakukan hal yang sama. Meninggalkan separuh Jiwa-nya dan Jiwa Lovelya di dalam tubuh manusia yang dihuninya. Bisa kau bayangkan sehebat apa manusia itu? Dia separuh vampir, separuh Renatus, dan separuh malaikat. Dia bahkan tetap kuat di siang hari sekalipun. Dengan kekuatan dari Lucifer dan Lovelya sendiri. Dengan kelicikan dan kejahatan sang Lucifer. Jiwa Lucifer lebih berkuasa, jadi sudah dapat dipastikan bahwa dia menjadi pemimpin para vampir dan… dia akan menuntut balas dendam padamu dan pada manusia yang menerima Jiwa Deathan.”

“Apa?” jerit Hye-Na syok.

“Hukum alam, cucu. Dan tidak ada satupun yang tahu siapa pemilik Jiwa Lucifer itu.”

“Lalu pemilik Jiwa Deathan?”

“Oh, tentu saja kami semua, Renatus, mengenalnya. Dia sudah mendapatkan mimpi pertamanya 3 tahun yang lalu. Menawan… dan berbahaya seperti ayahnya. Mereka berdua mirip sekali. Seperti kau dan ibumu.”

“Wajahku tidak secantik Lovelya.”

“Karena kau berpenampilan seperti itu, tentu saja kau terlihat tidak mirip dengannya,” jelas Kwang-Min, merujuk pada penampilan Hye-Na yang serampangan dan wajahnya yang polos tanpa make-up. “Tapi sebetulnya, kalau kau memperhatikan, saat ini kau bahkan sama cantiknya dengan ibumu. Hanya saja kau masih melihat dengan mata manusiamu. Biar kutebak, kau bahkan belum mencoba bercermin hari ini.”

Hye-Na mengangguk sekilas, tidak terlihat tertarik. Dia tidak pernah suka bercermin ataupun berdandan.

“Jadi kenapa aku tidak mendapat tanda-tanda kekuatan sama sekali?” tuntut Hye-Na.

“Karena kau baru mendapatkan mimpimu. Setelah ini, kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu.”

Hye-Na mengerjap saat menyadari satu hal. “Jadi… Lovelya sudah mati?”

Kwang-Min menghela nafas berat. “Malaikat tidak bisa mati. Tapi yah… sebenarnya aku tidak bisa menemukan kata lain untuk menggambarkannya.”

“Pemilik Jiwa Lucifer itu akan memburuku?”

“Keadaan sangat buruk saat ini. Benar-benar buruk. Sejak kepergian Lovelya dan Deathan. Ada begitu banyak Renatus yang menghilang tanpa jejak dan kami juga sudah menemukan beberapa Renatus muda yang mati dengan tubuh kering kerontang. Darah mereka dihisap habis dan arwah mereka lenyap.”

“Perburuan besar-besaran sedang terjadi di luar sana. Yang bisa kita semua lakukan hanyalah bersatu dan berhati-hati.”

“Bagaimana cara mengetahui yang mana vampir, yang mana Renatus, dan yang mana manusia?” tanya Hye-Na dengan sorot mata ingin tahu.

“Vampir memiliki lingkaran hitam di bawah mata mereka, karena mereka tidak butuh tidur. Dan jika sedang lapar, mata mereka berwarna merah pekat. Renatus sama saja seperti manusia. Butuh tidur, makan, dan lainnya. Dan mereka bercahaya dalam gelap. Seperti pendar berkilauan di malam hari. Dan mata Renatus berwarna cokelat.”

“Tapi aku….”

“Kau bukan Renatus. Kau setengah malaikat. Mi-Ange. Itu artinya kau lebih kuat dari kami semua.”

“Tapi ini Korea… maksudku, bukankah semua fantasi aneh tentang vampir dan yang lainnya itu berasal dari Barat?”

“Para vampir memang lebih memilih tinggal di Eropa dan Amerika. Karena iklim di Asia lebih ekstrim. Disini siang lebih panjang dari malam. Lagipula sejak tragedi Roanoke, Lovelya memutuskan akan lebih baik bagi para Renatus pindah ke tempat yang lebih luas, dengan penduduk lebih banyak. Sehingga kami lebih sulit ditemukan.”

“Jadi siapa kau sebenarnya? Kau tentunya bukan kakekku, kan?”

“Bukan. Aku adalah vampir pertama yang diubah oleh ibumu menjadi Renatus. Aku telah mengalami reinkarnasi 3 kali. Seharusnya aku sudah beristirahat sekarang. Umurku sudah 120 tahun. Tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Itulah yang akan kujelaskan padamu. Keadaan benar-benar buruk, Hye-Na~ya. Lovelya, sebagai Malaikat Kehidupan, dialah yang mengatur semua reinkarnasi. Tanpa dia, para arwah tidak bisa bereinkarnasi. Ini sudah lewat 20 tahun sejak dia… katakanlah mati. Deathan setidaknya harus membunuh manusia 100 orang per harinya. Itu jumlah minimal. Dan, sebagai neraca keseimbangan, Lovelya akan memberikan kehidupan baru kepada arwah, setengah dari jumlah populasi yang dibunuh Deathan. Itulah kenapa manusia bisa terus hidup. Dunia terus berjalan. Bisa kau bayangkan apa yang terjadi jika Lovelya tidak melakukan tugasnya selama 20 tahun?”

“Para arwah akan memenuhi Pnevma. Sedangkan Pnevma hanya bisa menampung sekitar 750 ribu arwah. Kalau dihitung, Deathan minimal membunuh 100 orang manusia per harinya, berarti ada 36.500 manusia dalam satu tahun. Dan 20 tahun? 730.000 manusia, Hye-Na~ya. Pnevma hanya bisa menampung 20.000 manusia lagi, yang berarti tempat itu akan meledakkan semua arwah di dalamnya dalam waktu 200 hari lagi. 6 bulan.”

“Itu… bulan kelahiranku, kan?”

Kwang-Min mengangguk.

“Apa yang terjadi kalau semua arwah itu… lenyap?”

“Tidak ada lagi kelahiran di atas dunia. Tidak ada lagi arwah yang bisa mendiami raga yang sudah diciptakan. Itu berarti, kiamat akan segera datang sebelum waktunya. Manusia akan musnah.”

Nafas Hye-Na tercekat di kerongkongan. Mendapat pemikiran seperti itu membuatnya ngeri.

“Apa kita bisa melakukan sesuatu?”

“Kau. Kau yang harus melakukan sesuatu.”

“Aku? Apa? Maksudku… apa yang bisa kulakukan?” seru Hye-Na kaget.

“Kau saingan yang setara untuk Sang Penerima Jiwa Lucifer itu.”

“Kakek sudah gila? Pria itu mendapatkan Jiwa Lucifer dan Lovelya dan Kakek berharap aku bisa mengalahkannya?”

“Bukan sendirian. Kau bisa bertemu dengan Sang Penerima Jiwa Deathan.”

“Lalu apakah kalau pria itu mati, Lovelya akan hidup lagi?”

“Jika pria itu mati, Jiwa-nya akan berpisah dari tubuh. Jiwa Lucifer tentu saja akan dimusnahkan, tapi Deathan bisa menjemput Jiwa Lovelya dan mengembalikannya ke tubuh wanita itu.”

Hye-Na bersandar di kursinya dengan tatapan tak percaya. “Gila,” desisnya pelan.

“Kau harus ikut Pertemuan Agung, Coetus Generalis, 2 hari lagi. Untung saja kau mendapatkan mimpi pertamamu semalam, kalau tidak kau mungkin harus menunggu sebulan lagi untuk diperkenalkan di depan semua Renatus. Mereka begitu tidak sabar menunggumu, mengingat waktu yang kita miliki semakin menipis. Belum lagi kami harus melatihmu sedikit.”

“Tunggu, kau benar-benar serius dengan… menyuruhku melawan pria itu? Tapi bagaimana caranya? Aku… tidak bisa apa-apa, Kakek.”

“Tentu saja. Kau harapan kami satu-satunya. Kau dan Kyuhyun.”

“Kyuhyun?”

“Cho Kyuhyun. Anak Deathan. Dia akan menjelaskan semuanya padamu. Dan dia juga akan melatihmu, mengingat dia lebih senior 6 tahun darimu.”

“Jadi kenapa kau menyuruhku dekat-dekat dengan pria yang tidak kukenal itu? Kenapa bukan dia sendiri saja yang melawan? Sepertinya dia cukup hebat.”

“Reezar, Sang Penerima Jiwa Lucifer, kami menyebutnya begitu, memiliki dua Jiwa hebat. Jadi tidak mungkin jika Kyuhyun melakukannya sendirian. Kalian berdua harus bersatu.”

“Kakek, aku tidak suka dekat-dekat dengan pria yang tidak kukenal. Lagipula dia itu anak Malaikat Kematian. Pasti mengerikan.”

“Memang. Tapi gadis-gadis Renatus sangat mengidolakannya. Dia tampan, kau tahu? Lihat saja wajah ayahnya. Lagipula, Hye-Na~ya, apa kau tidak ingat hubungan Deathan dan ibumu? Mereka berdua terikat satu sama lain dan tidak bisa mencintai siapapun lagi. Dan aku menebak, saat kau bertemu dengannya nanti, hal itu juga akan terjadi.”

“Kakek,” dengus Hye-Na. “Apa kau sedang membicarakan omong kosong tentang jatuh cinta pada pandangan pertama?”

“Tepatnya begitu. Kau memiliki separuh Jiwa Lovelya, dan dia memiliki separuh Jiwa Deathan, jadi itu sudah bisa ditebak. Dia itu… Moira-mu.”

Moira. Takdir. Bualan macam apalagi yang sedang didengarnya ini?

“Banyak Renatus wanita yang diam-diam menyelidikimu, ingin melihat seperti apa Moira seorang Cho Kyuhyun. Setidaknya mereka tidak terlalu kecewa. Kau harus tampil memukau di Pertemuan Agung, cucu. Jangan kecewakan ibumu.”

Hye-Na mendesah pelan. Sepertinya dia sedang bermimpi. Mungkin saja dia akan terbangun sebentar lagi. Dia bahkan heran kenapa mendengar kata ‘tampil memukau’, yang artinya berdandan habis-habisan terdengar lebih mengerikan baginya daripada melawan seorang… apa tadi namanya? Reezar?

“Kenapa kalian semua seyakin itu?”

“Tunggulah mimpimu berikutnya. Siapa tahu kau mendapat kilasan adegan saat ibumu dan Deathan sedang… bermesraan mungkin?”

“KAKEK!!!!” jerit gadis itu syok.

“Ayolah, aku tidak sekaku itu. Aku selalu suka saat melihat Lovelya bertemu dengan Deathan untuk waktu singkat yang hanya terjadi beberapa bulan sekali. Walaupun mereka tidak bisa bersama, tapi mereka masih diperbolehkan untuk melakukan beberapa hal seperti berciuman misalnya.”

“Astaga, aku tidak percaya aku sedang membicarakan ini denganmu!” sela Hye-Na sambil memegangi kepalanya yang terasa akan meledak sebentar lagi.

“Aku hanya memberikan peringatan bagimu. Itu gambaran apa yang akan terjadi saat kau bertemu dengan Kyuhyun nanti. Rasanya akan meledak-ledak, tidak tertahankan, dan semacamnya. Aku hanya mau mengingatkanmu. Usahakan jangan hamil dulu. Itu saja.”

“YA TUHAN!” Kali ini Hye-Na berteriak sambil berdiri dari duduknya. “Aku bahkan bertemu dengannya dan Kakek bersikap seolah… seolah… kalau kami bertemu, dia akan langsung menyeretku ke tempat tidur!”

“Semoga saja Kyuhyun bisa menahan diri,” ujar Kwang-Min kalem.

Hye-Na mendengar suara tawa tertahan di belakangnya dan hampir terlonjak kaget saat melihat Donghae sudah duduk di sudut dengan tangan menutupi mulut.

“Yak, sejak kapan kau ada disitu, Lee Donghae ssi?”

“Sejak tadi, Nona,” jawab pria itu sopan. Masih ada sebaris senyum di wajah tampannya.

“Kau Renatus?”

Pria itu mengangguk, lagi-lagi menutupi mulutnya dengan tangan.

“Kenapa kalian semua menggodaku, hah? Setampan apa pria sialan itu?”

“Bukankah kau sudah melihatnya di mimpimu?”

Jantung Hye-Na mencelos, meninggalkan perasaan tidak nyaman di perutnya. Jika wujud pria itu sama persis dengan Deathan, tebakan dua pria ini bisa saja benar. Tapi memangnya dia gadis murahan?

“Bukan gadis murahan, Nona. Kau tidak akan pernah bisa menjadi seburuk itu. Hanya saja… saat kau bertemu dengan Moira-mu, orang sekaku dan sedingin apapun akan kehilangan kendali.”

“Memangnya kau sudah bertemu dengan Moira-mu?” desis Hye-Na, sedikit menggertakkan giginya, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa pria di depannya itu juga bisa membaca pikirannya dengan mudah. Sebaiknya pelajaran pertama yang dikuasainya adalah memblokir pikiran.

“Hanya ada satu pasangan Moira sejauh ini.”

Hye-Na tidak perlu bersusah payah bertanya siapa pasangan itu. Karena jawabannya sudah jelas sekali. Tentu saja itu adalah Lovelya dan Deathan.

“Kau bisa memulai pelajaran pertamamu setelah Pertemuan Agung berlangsung. Dan lebih baik kau berusaha menjalin hubungan baik dengan Kyuhyun, dia sedikit dingin dan sulit didekati. Auranya gelap, sehingga terkadang terasa menakutkan. Dia akan mengajarimu dan… setelah kau mulai belajar, tubuhmu akan menjadi lemah. Dia akan sangat berguna bagimu. Kau akan sangat ketergantungan padanya. Bagus juga, karena kebetulan dia adalah Moira-mu.”

Hye-Na menoleh kepada kakeknya, merasa kebingungan dengan ucapan pria itu.

“Bukannya seharusnya kau bisa menebaknya? Dia Cruor-mu.”

***

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

10.00 AM

Hye-Na menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Apa mereka bilang? Pria yang tidak dikenalnya itu adalah Cruor-nya? Dan apalagi istilahnya? Moira? Mereka berdua sepertinya sudah gila!

Gadis itu menarik untaian kalung di dadanya. Kakeknya bilang itu adalah peninggalan terakhir Lovelya. Kalung itu dipakai oleh tubuh manusianya, jadi saat dia berubah wujud menjadi malaikat, kalung tersebut tetap tertinggal disana.

Gambar hati adalah perlambang kehidupan dan cinta, sedangkan kupu-kupu tersebut adalah simbol keindahan. Lambang seorang Lovelya. Setidaknya dia memiliki suatu kenangan tentang… ibunya.

Hye-Na mendongak saat mendengar pintu kamarnya diketuk.

“Nona, boleh aku masuk?”

Ya sudah, masuk saja. Hye-Na hanya memikirkan kalimat itu tanpa mau repot-repot mengatakannya sama sekali. Toh pria itu juga bisa membaca pikirannya.

“Kau bisa mengajariku cara memblokir pikiran? Atau bagaimana caranya membaca pikiran?” tanya Hye-Na langsung saat pria itu sudah duduk di kursi di dekat tempat tidurnya.

“Kau hanya perlu berkonsentrasi saja, Nona. Kau hanya perlu berkonsentrasi pada orang yang ingin kau baca pikirannya dan kemudian pikiran orang itu akan terasa seperti lembaran buku yang terbuka dan bisa dibaca setiap saat. Tapi kalau masalah memblokir pikiran, aku juga tidak tahu. Hanya sedikit Renatus yang bisa melakukan Rhosane, ilmu memblokir pikiran.”

“Wae?”

“Karena membaca pikiran Renatus lain adalah kemampuan alami dari setiap Renatus, jadi cukup sulit untuk menolak kemampuan tersebut. Bahkan aku hanya tahu ada 4 Rhosane sejauh ini. Lovelya, Deathan, kakekmu, dan Kyuhyun.”

“Jadi kau juga tidak bisa?”

Donghae menggeleng. “Tapi kalau Kyuhyun bisa, seharusnya kau juga bisa.”

“Bagaimana cara dia melakukannya?” tanya Hye-Na tertarik.

“Kakekmu bilang kau hanya perlu berkeinginan keras bahwa kau tidak ingin pikiranmu dibaca. Seperti pemaksaan kehendak. Dan aku sudah berusaha bertahun-tahun, tapi tidak menunjukkan hasil sama sekali,” keluh Donghae.

“Lalu jika setiap Renatus bisa membaca pikiran Renatus lainnya, berarti tidak ada privasi sama sekali di antara mereka?”

“Dulu memang begitu. Tapi kemudian Lovelya berpikir bahwa itu sedikit keterlaluan, jadi dia mengubah peraturannya. Hanya Renatus yang sudah menjalani reinkarnasi saja yang bisa membaca pikiran.”

“Jadi aku harus melakukan reinkarnasi dulu baru bisa membaca pikiran?” sergah Hye-Na.

“Ani. Kau kan bukan Renatus. Kau Mi-Ange. Kalau kau mau kau bisa mencobanya sekarang.”

Hye-Na mengerutkan keningnya, tapi kemudian menegakkan tubuhnya agar bisa duduk dalam posisi yang benar dan melipat kedua kakinya di atas kasur.

“Eotte?”

“Pusatkan pikiranmu dan pikirkan bahwa kau ingin membaca pikiranku,” jelas Donghae.

Hye-Na mencoba saran pria itu. Dia memusatkan pikirannya dan menatap wajah pria di depannya lekat-lekat dan tidak sampai sedetik kemudian dia nyaris tersentak kaget saat mendengar suara di otaknya, seolah Donghae sedang berbicara langsung padanya, padahal pria itu tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Bisa kan, Nona?

Hye-Na tersenyum dan terkekeh senang. Dia menganggukkan kepalanya dengan semangat sebagai jawaban.

“Bagaimana kalau kau mencoba kemampuan Rhosane-mu? Kyuhyun bisa melakukannya dalam percobaan pertama.”

Gadis itu merengut saat mendengar nama pria itu lagi-lagi disebut.

“Mau bagaimana lagi Nona, dia memang pintar dan kuat sekali. Lagipula dia juga harapan terbesar para Renatus, walaupun sebenarnya dia itu sedikit… dingin.”

“Pria itu sombong sekali!” komentar Hye-Na sinis.

“Aku sudah bertemu dengannya beberapa kali di Pertemuan Agung. Semua gadis mengidolakannya, itu mudah ditebak. Hanya saja dia lebih memilih duduk di sudut sendirian, menjauh dari kerumunan. Atau terkadang dia malah benar-benar menghilang. Tapi dia cukup ramah pada kakekmu. Kakekmu bilang tidak perlu membencinya karena sifatnya yang seperti itu, karena itu sudah keturunan. Dulu, kakekmu sempat bertemu dengan Deathan, dan pria itu benar-benar mengerikan. Mempesona, tapi sulit didekati. Auranya terlalu gelap. Seperti Kyuhyun. Dan Kyuhyun juga punya kekuatan untuk memprediksi kematian seseorang, hanya saja dia tidak pernah menggunakannya. Hanya sekali seingatku.”

“Kapan?”

“Saat ibu manusianya akan mati. Dia melihat kilasan tentang sebuah kecelakaan, jadi dia melarang ibunya keluar rumah. Tapi kemudian dia menyadari kesalahannya. Dia tidak bisa menunda kematian seseorang yang sudah ditetapkan Deathan, karena arwah orang itu bisa-bisa tertahan di Orio dan tidak bisa bereinkarnasi kembali. Jadi keesokan harinya, saat dia melihat kilasan yang sama, dia tidak berusaha mencegahnya lagi. Aku ingat waktu itu, saat aku dan Kakekmu pergi ke pemakaman. Dia hanya berdiri diam di depan peti mati tanpa ekspresi sedikitpun. Dan tidak ada yang tahu berapa ratus kilasan kematian lagi yang dilihatnya setelah itu. Aku rasa itu yang membuatnya menutup diri dan menolak bergaul dengan orang lain. Kau pasti akan hancur jika melihat orang-orang yang kau kenal akan mati, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Jadi mungkin dia hanya melakukan segala cara yang dia bisa untuk tidak merasa sedih setiap saat.”

“Apa dia pernah bertemu dengan ayahnya? Deathan?”

Donghae menggeleng. “Deathan sudah meninggalkan setengah Jiwa-nya di tubuh Kyuhyun agar bisa kembali ke Surga, jadi dia tidak bisa lagi turun ke bumi.”

Hye-Na menarik nafas berat. Dia merasa sedikit bersimpati pada pria itu. Tapi hanya sedikit saja. Dia terlalu kesal dengan kenyataan bahwa ‘takdir hidup’-nya sudah ditentukan seperti itu. Apa hanya karena Deathan dan Lovelya saling terpikat satu sama lain jadi mereka berdua juga akan mengalami hal yang sama? Alasan yang benar-benar klise dan tidak masuk akal.

“Jadi kau mau mencobanya, Nona? Rhosane?”

“Aku tidak yakin bisa melakukannya,” gumam Hye-Na tidak jelas.

“Coba saja. Aku yakin kau bisa.”

Hye-Na mengerucutkan bibirnya, tapi berusaha mengumpulkan konsentrasinya kembali. Dia benar-benar tidak mau jika setiap Renatus bisa membaca apa yang terlintas di pikirannya begitu saja.

Dia memfokuskan diri pada keinginannya untuk bisa menutup pikiran. Dia baru berusaha setengah hati dan langsung terganggu saat Donghae terkesiap keras.

“Mwoya?!” seru gadis itu kesal.

“Pikiranmu tidak bisa kujangkau. Apa kau sedang tidak memikirkan apa-apa sekarang atau bagaimana?” tanya Donghae dengan raut wajah tak percaya.

“Aku bahkan belum mengerahkan tenagaku sama sekali. Jangan bercanda denganku, Lee Donghae ssi.”

“Aniya. Coba kau pikirkan sesuatu sekarang. Apa saja.”

Kau pria menyebalkan, batin Hye-Na dalam hati. Tapi pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia merasa tersinggung sedikitpun. Dia malah mengerutkan keningnya, seolah sedang berpikir keras.

“Benar-benar tidak ada, Nona. Tidak ada suara apapun. Yang benar saja! Kau bahkan tidak perlu meengerahkan tenagamu sama sekali untuk melakukannya?” dengus pria itu. Kali ini raut wajahnya berubah kesal.

“Benarkah? Kau tidak bisa membaca pikiranku sama sekali?” seru Hye-Na senang, dan semakin senang saat dia membaca pikiran Donghae dan mengetahui bahwa pria itu masih berusaha keras untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.

“Aish, Nona, kau ini benar-benar! Jadi sekarang malah kau yang bisa membaca pikiranku? Aish, seharusnya aku tidak usah mengajarimu saja tadi!”

Hye-Na tertawa dan mengangkat bahunya. “Memangnya tadinya kau mau apa?”

“Kakekmu menyuruhku menemanimu mencari gaun.”

“Gaun?” ulang Hye-Na sambil menelan ludah dengan susah payah. Kata itu terdengar mengerikan di telinganya.

“Benar. Tapi kalau kau mau kau bisa mencari gaun di kamar ibumu saja, kecuali kau menginginkan gaun baru. Kau bisa menemui seorang desainer dan dia akan menjahitkan baju yang kau inginkan.”

“Ibuku punya kamar? Disini?” tanya gadis itu kaget.

“Kamar di atas. Dulu kan ibumu tinggal disini. Kau ingat kamar terkunci yang tidak boleh kau masuki di lantai tiga? Itu kamar ibumu. Karena sekarang kau sudah mengetahui semuanya, jadi kakekmu mengizinkanmu memasuki kamar itu.”

“Menurutmu aku harus senang atau tidak?” gumam Hye-Na pelan dengan kening berkerut.

“Wae?”

“Untuk pertama kalinya aku bisa memasuki kamar ibuku dan… itu hanya untuk mencari sebuah gaun?”

Donghae melongo sesaat sebelum berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya lagi.

“Astaga Nona, apa kau sebegitu bencinya dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan gaun, make-up, dan high heels?”

***

Kamar itu biasa saja. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa. Tapi mengingat kamar itu pernah ditempati oleh seorang malaikat, ibunya, Hye-Na merasa sedikit segan saat melangkahkan kaki masuk.

“Tidak ada barang-barang peninggalan ibumu disini, karena dia memang tidak memiliki barang apapun kecuali beberapa helai pakaian,” jelas Donghae.

“Make-up? Peralatan mandi? Perhiasan?”

“Ibumu tidak perlu mandi. Aku masih ingat baunya yang seperti campuran antara wangi bunga fressia dan mawar. Dia juga tidak membutuhkan make-up, wajahnya itu tidak perlu dipoles apapun lagi. Dan ibumu hanya menyukai satu perhiasan saja. Kalung yang kau pakai itu.”

Hye-Na membuka lemari pakaian dan menyibak beberapa gaun yang tergantung disana.

“Berapa umurmu?” tanya gadis itu ingin tahu tanpa menatap Donghae sedikitpun.

“Baru 97 tahun, Nona. Aku beristirahat saat umur 70 tahun dulu, lalu menunggu jadwal reinkarnasi selama 1 tahun, dan sekarang umurku 26 tahun.”

“Kau sudah tua sekali dan kau malah berpenampilan seperti pria muda yang mempesona. Pembohongan publik!”

Donghae terkekeh. “Tapi umurku saat ini memang baru 26 tahun, Nona.”

“Ah, terserah kau sajalah. Ngomong-ngomong, sekarang setelah Lovelya tidak ada, bukankah populasi Renatus semakin berkurang dan vampir malah bertambah banyak?”

“Vampir memang bertambah banyak, tapi kami juga sudah menemukan cara untuk mengatasi itu. Para Tetua berusaha menemukan formula untuk bisa mengubah para vampir baru menjadi Renatus. Saat baru diubah menjadi vampir, mereka belum tahu terlalu banyak tentang Renatus dan kekuatan mereka belum terlalu kuat, jadi kami masih bisa mengendalikan mereka.”

“Tapi bagaimana caranya? Bukannya yang bisa mengubah vampir menjadi Renatus hanya Lovelya?”

“Itu karena Deathan tidak pernah ikut mencoba melakukan hal yang sama. Kami baru tahu bahwa racun Kyuhyun juga bisa menimbulkan matinya sel-sel vampir yang sedang berkembang. Jika digabungkan dengan racun Renatus asli, maka hal itu dapat mengubah vampir menjadi Renatus. Hanya saja itu memang sangat sulit. Tidak semua vampir baru bisa menerimanya dengan baik. Kadang-kadang juga terjadi penolakan. Dan kami hanya bisa melakukannya seminggu sekali.”

“Kenapa?”

“Racun Renatus memang bisa disediakan dari Renatus manapun, tapi racun Kyuhyun tidak. Kita bukan vampir dan racun tersebut hanya bisa dihasilkan dalam jumlah banyak jika kau sedang kenyang. Maksudku… Kyuhyun belum memiliki Cruor-nya. Dia tidak cukup kuat untuk menghasilkan racun terus menerus. Dia tidak punya banyak persediaan darah.”

“Maksudmu aku?” potong Hye-Na ketus. “Jadi aku harus jadi penyedia darah untuknya begitu? Astaga, yang benar saja! Menghisap darah? Apa menurutmu itu tidak menjijikkan?”

“Nona,” ujar Donghae berusaha sabar. “Kau juga akan membutuhkan hal yang sama, jadi kau juga akan menghisap darahnya.”

“Aku tidak mau menempelkan bibirku di leher pria manapun!” teriak Hye-Na emosi.

“Nanti kalau kau bertemu dengannya aku janji tidak akan heran kalau beberapa menit setelah itu kau akan menempelkan bibirmu di bibirnya,” ejek Donghae dengan suara pelan.

“YAK, LEE DONGHAE!!!!” amuk gadis itu sambil merenggut salah satu gaun di lemari dan berniat melemparkannya pada pria itu. Tapi dia kalah cepat. Tidak perlu menunggu sampai satu detik, dia bahkan tidak sempat berkedip saat tiba-tiba saja gaun itu menghilang dari genggamannya dan tergantung dengan manis lagi di lemari.

“Gaun itu harganya 50 juta won, Nona. Tuan Kwang-Min tidak akan tinggal diam begitu saja kalau kau merusaknya.”

Hye-Na mendelik, menghembuskan nafas keras sampai poni yang menutupi keningnya tertiup ke atas, kemudian berbalik memunggungi pengawalnya itu lagi. Dia memfokuskan pikirannya kepada gaun-gaun yang berjejer rapi di depannya. Kebanyakan gaun itu berwarna putih, jadi dia menganggap bahwa itu adalah warna kesukaan Lovelya, sama sepertinya.

Pandangannya tertumbuk ke arah sebuah gaun cokelat keunguan yang terselip di antara deretan gaun berwarna putih itu. Panjang gaun itu melebihi mata kaki dengan leher V yang memotong bagian dada dan menyempit ke arah pinggang. Dan belahan itu tidak terlalu mengekspos bagian dada, jadi Hye-Na merasa langsung menyukainya.

“Gaun itu baru sekali dipakai Lovelya, dan Deathan sangat menyukainya. Kau pasti terlihat cantik memakai gaun itu, Nona,” ujar Donghae, menyadari arah pandangan Hye-Na.

“Apa aku harus selalu dibandingkan dengan ibuku?” tanya Hye-Na pelan, merasa tidak suka.

“Tidak,” ucap Donghae tak setuju. “Hanya satu hal yang membuat semua orang membandingkanmu dengannya. Keberlangsungan dunia ini tergantung padamu, Nona. Yang kau butuhkan untuk menghentikan semua itu hanyalah pembuktian bahwa kau memang bisa melakukannya. Kau dan Kyuhyun bisa mengalahkan Reezar.”

“Bagaimana kalau kami tidak bisa? Bagaimana… kalau aku tidak bisa melakukannya?” ujar Hye-Na lirih sambil menatap Donghae lekat.

“Aku rasa seorang Han Hye-Na bukan jenis orang yang akan menyerah sebelum bertarung. Bukankah kau selalu bisa melakukan semuanya dengan baik… Nona?” sergah Donghae dengan senyuman di wajah tampannya, membuat Hye-Na mau tak mau ikut tersenyum.

“Tumben kau bisa mengatakan sesuatu yang bagus, Lee Donghae ssi.”

Donghae tertawa. “Apa itu ucapan terima kasih? Kalau begitu jawabannya sama-sama, Nona.”

***

2 days later…

 

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

05.00 AM

 

“Kau sedang apa?”

Lovelya mendongak saat mendengar suara favoritnya itu mencapai gendang telinganya. Dia mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya, memilih menatap wajah paling tampan sepanjang eksistensinya. Wajah yang sekarang terarah padanya, dengan mata hitam kelam yang menatapnya penuh minat.

Pria itu berdiri bersandar di jendela yang dibiarkan terbuka oleh Lovelya, menjadikan malam sebagai latar belakang pemandangannya. Padanan yang sangat sesuai dengan pria itu. Malam. Gelap. Hitam pekat. Dan itu hanya membuat auranya semakin berbahaya dan memikat.

“Hai,” sapa Lovelya sambil tersenyum dan bangkit berdiri. Berada di depan pria itu tidak sampai sedetik kemudian.

Pria itu tidak membalas senyum Lovelya dan gadis itu tidak keberatan sama sekali karena pria itu memang nyaris tidak pernah tersenyum selama ini. Dia hanya mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi gadis itu, menjelajahi wajah gadis itu dengan tatapan intensnya.

“Kau kelelahan,” komentar pria itu singkat dengan raut wajah tidak suka. Dia menarik tubuh Lovelya mendekat dengan tangan kanannya, mempersempit jarak di antara mereka. Tangan kirinya bergerak naik ke tengkuk Lovelya, menyelipkan jari-jari panjangnya ke helaian rambut gadis itu yang tergerai bebas.

“Kita sudah 3 bulan tidak bertemu dan kau hanya mengatakan itu?” dengus Lovelya.

Deathan sedikit menyeringai dan mengangkat bahunya. “Lalu kau berharap aku mengatakan apa? Lovey?”

Lovelya sedikit berjengit. Pria itu masih saja suka menggodanya dengan nama panggilan menjijikkan itu. Lovey.

“Deathan sialan,” umpat gadis itu kesal membuat kekehan pria itu semakin keras.

Deathan berdeham sesaat, kemudian mengontrol ekspresi wajahnya kembali. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan.

“Aku merindukanmu,” ucapnya dengan raut wajah serius. Suaranya terdengar berat dan serak, membuat Lovelya untuk sesaat yang lama kehilangan fokus dan konsentrasinya.

“Apa Kwang-Min ada di rumah?” tanya Deathan tiba-tiba, merusak semua suasana bagus yang sedetik lalu baru tercipta.

Lovelya menelan protesnya mentah-mentah, menggigit bibirnya untuk tidak meneriaki pria itu, dan bersikap seolah dia sudah melupakan apa yang baru saja diucapkan pria itu sebelumnya.

“Tidak. Dia sedang pergi dan tidak, aku tidak tahu dia kemana,” ucap Lovelya, menjawab sebelum Deathan menanyakan pertanyaan tidak penting berikutnya.

“Bagus,” ujar Deathan dan sedetik kemudian dia sudah menempelkan bibirnya di bibir Lovelya, melumatnya dengan kuat, membuat gadis itu terkesiap kaget.

Dia menanyakan pertanyaan aneh itu karena dia sudah bosan dengan Kwang-Min yang selalu saja berhasil memergoki mereka berdua dalam kondisi tidak pantas. Memberi tontonan seperti ini kepada pria itu terus-terusan juga tidak baik.

Deathan memiringkan kepalanya, memantapkan posisi bibirnya di bibir Lovelya, dan melanjutkan eksplorasinya ke dalam mulut gadis itu.

Mereka sudah sering melakukan ini, tapi tetap saja rasanya masih seperti kali pertama. Dan Deathan tidak pernah merasa puas. Tidak jika itu menyangkut gadis dalam pelukannya ini. Dia tidak bisa mengucapkan kata puas sebelum dia bisa mendapatkan gadis ini, menjadikan gadis ini miliknya, yang merupakan hal paling mustahil yang bisa dia dapatkan. Karena jika dia menjadikan gadis ini sebagai pasangannya, mereka berdua akan dilenyapkan sebagai hukumannya dan dia tidak mau itu terjadi. Tidak jika itu berarti dia tidak bisa melihat gadis ini lagi selamanya.

Dia menjauhkan bibirnya dari gadis itu saat dia merasa bahwa dia tidak bisa mengendalikan diri lebih lama lagi. Dia memberikan kecupan singkat di pipi gadis itu dan menunjukkan senyum langkanya.

“Selamat malam… Lovelya….”

 

***

Priorion Building, Seoul, South Korea

08.00 PM

 

“Gedung ini adalah milik kakekmu. Setiap bulan Pertemuan Agung diadakan disini. Hanya acara kumpul bersama, perkenalan Renatus baru, ataupun pembicaraan tentang cara cepat untuk menemukan para vampir baru, diskusi untuk melacak keberadaan Reezar, dan semacamnya,” jelas Donghae sepanjang perjalanan dari lobi gedung menuju ruang pertemuan.

“Kenapa tidak ada yang tahu wujud Reezar? Maksudku, dia pasti memiliki wajah yang sama dengan Lucifer, kan?”

“Lucifer memiliki kemampuan untuk mengubah wujud sesuai yang diinginkannya dan Reezar memiliki kemampuan yang sama. Tidak ada yang tahu seperti apa wajahnya.”

“Lalu bagaimana cara menemukannya?”

“Kita akan membicarakannya nanti, Nona,” potong Donghae dengan nada yang menunjukkan bahwa dia tidak akan menjelaskan apa-apa lagi.

Mereka melangkah memasuki pintu ruang pertemuan yang dijaga oleh dua orang pengawal berbadan besar dengan setelan jas hitam lengkap, kacamata hitam, dan headset yang melingkar di telinga, membuat Hye-Na menebak-nebak apakah mereka memiliki senjata di balik jas yang mereka kenakan.

“Mereka manusia?” tanya Hye-Na penasaran.

Donghae mengangguk, setengah menyeret Hye-Na untuk mempercepat langkahnya. Gadis itu benar-benar lelet sekali setelah dengan penuh paksaan bersedia memakai sepatu hak tingginya. Tapi itu bisa dimaafkan, mengingat betapa cantiknya penampilan gadis itu malam ini. Donghae bahkan bisa mengatakan bahwa wajah gadis itu benar-benar kembaran dari ibunya dan perlu diingat, kecantikan Lovelya sama sekali tidak manusiawi.

“Hei, jadi beberapa orang teman kuliahku juga Renatus?” bisik Hye-Na kaget saat menyadari bahwa dia mengenali beberapa wajah yang berlalu-lalang di depannya. Dia sedikit tersenyum sebagai sapaan, tapi mereka bersikap seolah tidak mengenalnya sama sekali, walaupun mata mereka jelas-jelas tertuju padanya dan bahkan menatapnya lama.

“Bagaimana mungkin mereka tidak mengenaliku?” desis Hye-Na kesal saat membaca pikiran mereka semua dan mengetahui bahwa orang-orang itu bertanya-tanya siapa dia.

“Dengan berdandan seperti ini, jelas saja mereka tidak bisa mengenalimu. Kau tidak ingat penampilanmu saat pergi ke kampus? Kau bahkan bisa tahan tidak keramas selama beberapa hari dan tetap berangkat ke kampus dengan cueknya. Jadi apa yang kau harapkan, Nona? Mereka membandingkan Han Hye-Na disampingku dengan Han Hye-Na yang sekampus dengan mereka? Jelas tidak.”

“Kau mau kucekik sampai mati tidak?” tawar gadis itu dengan gigi menggertak.

“Aku tidak bisa mati, Nona,” jawab Donghae kalem, membuat Hye-Na benar-benar bermaksud mematahkan tulang pria di sampingnya itu detik itu juga. Tapi tanpa sengaja matanya menatap ke sudut ruangan, dimana seorang pria berdiri dengan lengan bersedekap di depan dada, menjauh dari kerumunan. Penerangan di ruangan itu redup, tapi Hye-Na tahu dengan jelas bahwa mata pria itu sedang menatap ke arahnya, dan mendadak tubuhnya menegang kaku. Mimpi yang didapatkannya tadi pagi kembali membanjiri otaknya. Wajah yang sama, hanya saja dalam wujud yang berbeda. Dan entah bagaimana caranya, pria yang berdiri beberapa meter di depannya itu terlihat lebih berbahaya baginya.

Pria itu memakai setelan jas hitam seperti semua pria lain di ruangan itu, tapi tetap saja aura pria itu terlihat lebih menakjubkan dan membutakan mata. Dia memiliki struktur wajah paling sempurna dan paling mempesona, dengan tubuh tinggi dan tatapan yang terasa mengintimidasi. Dan walaupun Hye-Na sudah diberitahu sebelumnya bahwa pria itu adalah Moira-nya, tetap saja dia tidak siap dengan menumpuknya perasaan yang tiba-tiba menggulungnya seperti air bah. Karena tiba-tiba saja dia ingin sekali menghambur ke pelukan pria itu dan berada disana tanpa berniat pergi kemana-mana lagi. Karena dia ingin sekali menyentuh pria itu dan berpegangan pada pria itu dalam jangka waktu tidak terbatas. Karena dia mendadak menjadi gila saat berpikir bahwa dia jatuh cinta setengah mati pada pria itu tepat pada pandangan pertama dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Karena dia nyaris tidak bisa menggunakan otaknya lagi untuk berpikir jernih dan mengingat bahwa disini adalah tempat umum dan dia diharapkan bersikap sopan, bukannya bertindak seperti wanita murahan.

“Tebakanku dan kakekmu benar kan, Nona? Kau hanya perlu menatapnya dan jatuh cinta sedetik kemudian. Tapi bersabarlah, tunggu sampai kalian berada di tempat yang pantas sebelum mewujudkan apapun imajinasi liar yang terlintas di otakmu.”

Dan gadis itu bahkan tidak bisa menemukan satu katapun untuk membalas ejekan pria itu sama sekali.

Sial, apa jatuh cinta rasanya memang separah ini?

***

Kyuhyun menatap ke sekelilingnya dengan pandangan bosan. Dia tidak pernah suka berada di pertemuan ini. hanya melihat sekelompok orang yang berpesta dan sekelompok orang lain yang sibuk ‘mengisi perut’. Dia datang hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Satu-satunya yang ditunggunya hanyalah pertemuan antar tetua yang melibatkan pembicaraan serius tentang Reezar. Dan malam ini hal tersebut malah dibatalkan karena mereka akan memperkenalkan putri Lovelya ke hadapan publik, mengingat gadis itu baru saja mendapatkan mimpi pertamanya. Seorang gadis yang sepertinya akan merusak kesendiriannya selama ini. Seorang gadis yang mereka bilang… ditakdirkan untuknya.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Dia sedikit tertarik dengan pikiran terkesima beberapa pria dan bahkan beberapa wanita tentang seorang gadis yang baru saja datang. Dan saat dia melakukannya, dia mendadak menyesali tindakannya saat itu.

Seolah bumi tempatnya berpijak sekarang menghentikan rotasinya. Seolah dia belum pernah melihat gadis cantik manapun sebelumnya. Seolah gadis itu satu-satunya gadis yang tersisa di dunia sehingga dia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun demi memastikan bahwa gadis itu tidak akan menghilang dari jarak pandangnya. Seolah tidak ada satu hal pun yang lebih menarik daripada objek yang ditatapnya sekarang. Seolah dia belum diajari cara menarik nafas sebelumnya sehingga mendadak dia merasa tersengal-sengal mencari udara. Seolah jantungnya terlalu bersemangat bekerja sehingga memompa darahnya dengan cepat, menimbulkan bunyi berdentum yang menghantam rongga dadanya sehingga dia nyaris merasa kesakitan sendiri dengan detakannya. Seolah dia tiba-tiba menjadi gila dan tidak waras hanya dengan kehadiran gadis itu saja.

Dan dia tidak merasa heran bahwa saat gadis itu balas menatapnya, dia berpikir bahwa dia tidak berniat melakukan hal lain selain menatap gadis itu saja. Bahwa… untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak mendapatkan alasan logis tentang hal sederhana kenapa ada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahwa dia ingin sekali berlari melintasi ruangan hanya sekedar untuk melihat gadis itu dari dekat dan menyentuhnya. Dan semua pikiran gila itu menghantamnya tanpa ampun sehingga dia nyaris tidak bisa mempertahankan kakinya agar tidak bergerak dan melakukan sesuatu di luar kendalinya.

Dia bisa melihat bahwa mata gadis itu hampir tidak berkedip sedikitpun saat menatapnya dan dia tahu bahwa gadis itu juga memikirkan hal yang sama dengannya. Astaga, dia tidak tahu bahwa akan tiba saatnya dia kehilangan kontrol dan itu hanya karena seorang gadis yang bahkan tidak pernah dikenalnya sama sekali. Walaupun gadis itu memiliki wajah yang sama dengan wanita yang selalu datang di setiap mimpinya. Tapi gadis ini terasa lebih… berbahaya. Karena hanya dengan sekali lihat saja, gadis itu berhasil membuatnya kehilangan pikiran rasionalnya.

Kyuhyun menggertakkan giginya saat menyadari bahwa tiba-tiba saja semua pikiran pria-pria di sekelilingnya membuatnya marah tanpa sebab. Semua pria di ruangan ini menatap gadis itu dan jelas-jelas mengagumi setiap senti tubuh gadis itu dari kepala sampai kaki. Seharusnya gadis tiu tidak memakai gaun dengan belahan terlalu rendah seperti itu sehingga membuat semua pria berpikir yang tidak-tidak tentang apa yang berada di baliknya.

Kyuhyun menghela nafas dengan gusar, setengah memaki dirinya sendiri yang tidak bisa berpikiran sedikit lebih normal saja saat ini. Jadi gadis itukah yang bernama Han Hye-Na? Moira-nya? Seseorang yang bisa membuatnya bersikap bodoh dan memalukan?

Dia tidak suka posisi dan situasinya saat ini. Dia tidak suka dengan istilah Moira atau apapun itu namanya. Tapi sialan! Dia menyukai gadis itu dan tidak tahu apakah dia harus menyukai kenyataan itu atau tidak.

***

Hye-Na tidak tahu sejak kapan Donghae berhasil menyeretnya ke depan pria itu sehingga saat dia tersadar, dia sudah berdiri di depan pria itu dengan tatapan tidak fokus dan kaki yang gemetaran.

“Aku harus menemui kakekmu dulu, Hye-Na~ya. Kau disini saja dengan Kyuhyun. Tapi aku tidak jamin dia tidak akan menggigitmu,” gurau Donghae dengan senyum lebar di wajahnya, senang saat mendapati kenyataan bahwa dua orang di dekatnya itu hanya saling bertatapan dengan tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa mereka bisa saja menghambur ke pelukan satu sama lain kapan saja tanpa bisa diprediksi. “Dan Kyuhyun ssi, aku harap kalau kau ingin melakukan sesuatu, tolong cari tempat yang pantas,” ujar Donghae memperingatkan dan segera berlalu dari hadapan mereka berdua setelah menepuk bahu Hye-Na sekilas untuk menyadarkan gadis itu.

Hye-Na mengerjap, mendadak ngeri dengan kenyataan bahwa dia hanya ditinggalkan berdua saja dengan pria itu. Pria yang tidak dikenalnya. Pria yang membuat isi otaknya amburadul seolah dia bukan gadis baik-baik. Dan mimpinya semalam hanya memperburuk keadaan saja. Mimpi itu terasa seperti tontonan film dimana dia sendiri yang memerankannya bersama pria di hadapannya ini. Dan dia ingin sekali berhenti menebak-nebak akan semenakjubkan apa rasanya jika mereka berdua benar-benar melakukannya. Astaga, bagaimana mungkin dalam waktu singkat dia berubah menjadi wanita murahan yang tidak memikirkan sopan santun?

“Na~ya… berhentilah menatapku. Kumohon. Atau aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang memalukan di tempat ini,” ujar pria itu tiba-tiba dengan suara berat dan serak, seolah dia sedang berusaha keras untuk berbicara, membuat Hye-Na tersentak kaget dan tersadar bahwa dari tadi dia terus menerus menatap pria itu tanpa henti. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah tidak karuan.

“Namaku Hye-Na,” ralat gadis itu ketus, membiarkan tatapannya terhenti pada Eunhyuk, teman sekampusnya, yang sedang sibuk… menghisap darah seorang gadis. Cruor-nya. Dan rasanya itu terlihat menakutkan.

“Terserah saja. Aku hanya menyingkatnya agar lebih mudah diucapkan. Na~ya kedengaran lebih bagus.”

Hye-Na menoleh lagi dan menyipitkan matanya menatap pria itu. Enak saja pria itu bersikap semaunya seperti itu!

Tapi dia menyesalinya. Seharusnya dia tidak menatap pria itu dan… terpesona lagi. Dan di samping itu semua, nama itu memang terdengar bagus. Seolah pria itu sudah mengenalnya sangat lama. Seolah nama itu terdengar sangat pas diucapkan olehnya.

Mendadak Hye-Na merasa membaui sesuatu yang begitu harum dan membuat perutnya bergolak lapar. Dan dia tahu dengan jelas bau itu berasal darimana. Dia bahkan bisa melihat nadi pria itu yang berdenyut di balik lehernya, menggoda untuk dinikmati. Dan dia baru menyadari bahwa pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha untuk menumpulkan indera penciumannya.

“Kau selama ini meminum darah siapa?”

“Donor,” jawab Kyuhyun dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Aku membeli kantung darah agar bisa tetap kenyang. Aku tidak diizinkan mencari manusia sebagai santapan tetap karena aku sudah memiliki Cruor-ku sendiri. Dan sepertinya kau tidak bersedia membiarkanku meminum darahmu, kan?” ujarnya sarkastis.

“Tidak,” jawabnya cepat. Tapi saat itu dia tahu bahwa dia membohongi dirinya sendiri karena di saat yang bersamaan, dia sangat ingin membenamkan wajahnya di leher pria itu dan menghisap darahnya. Dia tidak pernah merasa selapar ini sebelumnya, seolah dia belum makan berminggu-minggu. Dan bau darah pria itu seperti bau makanan terlezat yang pernah ditemukan di dunia.

“Ini tidak akan mudah, kau tahu? Kau tidak menyukaiku dan aku juga tidak suka hidupku direcoki oleh orang lain, tapi kita seperti dipaksa menyukai satu sama lain. Itu bukan sesuatu yang menyenangkan.”

“Aku tahu.”

Kyuhyun memiringkan wajahnya, bersikap seolah dia belum menatap wajah gadis itu dengan benar dan masih mencari posisi yang tepat untuk memuaskan dirinya agar bisa melihat wajah gadis itu dengan lebih jelas lagi, sedangkan Hye-Na membatu di tempatnya berdiri, merasa dibius paksa oleh tatapan itu.

“Jadi ayo kita mulai berkencan.”

“APA?” seru gadis itu kaget, tidak percaya dengan ucapan pria itu yang terdengar membingungkan. Pria itu bilang dia tidak menyukainya, jadi kenapa dia mengucapkan sesuatu yang aneh seperti itu? Dan gadis itu merasa kepalanya sakit dan nyaris meledak mendengar dengungan pikiran semua gadis di tempat itu. Renatus memang memiliki pendengaran yang tajam dan pastinya nyaris semua orang di tempat ini memfokuskan diri untuk mendengar pembicaraan mereka berdua dan para gadis itu tidak menyukai kenyataan bahwa idola mereka baru saja mengajukan ajakan kencan terhadap seorang gadis yang tidak dikenal.

“Ayo kita mulai berkencan,” ulang Kyuhyun malas. “Dan lihat sejauh apa kita bisa bertahan. Aku tidak suka dengan kenyataan bahwa aku harus menahan diri terus menerus agar tidak menerkammu tiba-tiba.”

“Dan kalau aku menerima ajakanmu kau berpikir bahwa aku akan mengizinkanmu melakukan itu, begitu?” ujar Hye-Na sinis.

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya dan dengan seketika mengernyit saat mendapati wangi tubuh gadis itu menghantam indera penciumannya dengan telak.

“Walaupun otakmu menolak, pasti tubuhmu tidak,” ucap pria itu yakin. Dengan sengaja dia menyentuh tangan gadis itu dan melepaskannya secepat kilat seolah dia baru saja terkena sengatan listrik. Pria itu menggelengkan kepalanya, syok dengan kenyataan bahwa hanya dengan menyentuh gadis itu saja dia bisa kehilangan seluruh konsentrasinya.

“Bersyukurlah bahwa ini adalah tempat umum, Na~ya,” geramnya. “Jadi aku tidak akan berbuat macam-macam padamu.”

***

Hye-Na’s Home, Daechi-dong, Gangnam, Seoul

10.00 PM

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan mewah rumah gadis itu, mematikan mesin mobilnya, dan membiarkan gadis itu turun dari mobil tanpa berminat untuk membantunya sama sekali.

Pria itu menyusul sesaat kemudian dan berdiri di depan gadis itu dengan tangan yang terkepal di dalam saku celananya. Satu-satunya cara agar dia tidak membiarkan tangannya bergerak untuk merengkuh gadis itu dan menciumnya.

Gadis itu sudah diperkenalkan di Pertemuan Agung tadi sebagai keturunan langsung dari Lovelya, walaupun dia menolak untuk memberikan kata-kata singkat di atas panggung dan tetap bertahan di tempat duduknya. Dan entah bagaimana, Kyuhyun tahu bahwa gadis itu sama sekali tidak suka berada di tengah orang banyak dan menjadi sorotan, jadi dia menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, walaupun Donghae juga diperintahkan untuk pulang agar gadis itu tidak sendirian di rumah. Sebenarnya dia bisa saja membiarkan gadis itu pulang bersama Donghae, tapi mengingat bahwa dia bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama gadis itu dengan mengantarkannya pulang, jadi dia setengah memaksa untuk membuat gadis itu bersedia masuk ke dalam mobilnya. Lagipula dia juga membutuhkan alasan untuk kabur dari pesta membosankan itu.

“Kakek bilang kau akan mengajarkanku beberapa hal besok,” ujar gadis itu, tidak tahu harus berkata apa lagi di tengah keheningan di antara mereka.

Kyuhyun mengangguk dengan mata yang masih asyik menatap wajah gadis itu seolah dia tidak akan pernah puas walaupun melakukannya berjam-jam tanpa henti.

“Aku akan menemuimu besok.”

“Dimana?”

“Kau tidak tahu bahwa Moira bisa menemukan pasangannya dengan mudah? Itu bukan hal sulit. Aku akan menemuimu setelah kau selesai kuliah. Waktunya terserah padaku. Jadi pakailah sesuatu yang pantas sehingga aku bisa menghabiskan waktuku untuk mengajarimu, bukannya memikirkan yang tidak-tidak tentang tubuhmu.”

Hye-Na merengut mendengar ucapan pria itu. “Memangnya pakaianku kenapa?”

Kyuhyun dengan terang-terangan menatap belahan gaun gadis itu yang membentuk huruf V menyempit sampai ke bagian pinggang, menunjukkan maksud perkataannya dengan sangat jelas.

“Sialan kau! Dengar, ini pertama kalinya aku memakai gaun, oke? Dan ini adalah gaun ibuku. Jadi kau tenang saja. Pakaianku biasanya hanya terdiri dari kemeja, kaus, dan celana jins.”

“Bagus,” ucap Kyuhyun puas. Dia menyingkir sedikit untuk memberi jalan pada gadis itu. “Malam, Na~ya.”

Hye-Na menatap pria itu kesal dan tidak berniat untuk membalas ucapan selamat malam pria itu sedikitpun. Mereka bertukar tatapan benci ke arah satu sama lain, dan untuk sedetik, Hye-Na nyaris yakin bahwa pria itu akan menarik dan memberi kecupan selamat malam untuknya, tapi dengan kendali diri penuh, pria itu bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Karena jelas saja, jika hal itu sampai terjadi, tidak ada kata sekedar kecupan ataupun ciuman lemah lembut di dalamnya. Pasti ratusan kali lebih parah dari itu dan dia tidak yakin apakah dia akan bersedia melakukannya pada pertemuan pertama. Jadi dia memilih untuk membuang pandangannya dan melangkah melewati pria itu tanpa berkata apa-apa sama sekali.

Satu yang dapat dia pastikan. Dia tidak merasa senang dengan kenyataan bahwa dia tidak bisa menatap pria itu untuk beberapa jam ke depan. Itu terdengar… mengerikan.

***

“Jadi… apa saja yang sudah kalian berdua lakukan?”

Hye-Na mendelik mendengar ucapan selamat datang Donghae saat dia baru melangkahkan kaki memasuki rumah.

“Tutup mulutmu, Tuan Lee. Kalau kau ingin sekali tahu, kenapa kau tidak memaata-matai kami saja?”

“Aku mau saja, tapi kalian berdua kan bisa membaca pikiranku, aku pasti akan langsung ketahuan,” sahut Donghae tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Kau sakit jiwa,” komentar Hye-Na. “Lebih baik kau mulai mencari Cruor-mu dan berhenti merecokiku dengan pikiran mesummu itu!”

“Aku sudah memiliki Cruor-ku, Nona. Tapi selama ini kau kan belum tahu tentang duniamu yang sebenarnya, jadi aku tidak mungkin kan tiba-tiba membawa Cruor-ku dan menghisap darahnya di depanmu?”

Hye-Na mengerutkan keningnya saat mendapatkan gambaran wajah seorang gadis di pikiran Donghae.

“Gadis secantik itu mau denganmu? Menyedihkan!” ejek Hye-Na, membuat wajah Donghae sedikit memerah.

“Memangnya kau itu tidak sadar bahwa aku ini tampan, Nona? Dan berhentilah membaca pikiranku!”

Hye-Na tertawa senang saat tahu bahwa dia memiliki kunci untuk membungkam mulut seorang Lee Donghae.

“Membaca pikiranmu itu menyenangkan, Lee Donghae ssi,” ujarnya gembira dan melenggang pergi meninggalkan pria itu sendiri, merasa kesal lagi dengan ketidakmampuannya untuk memblokir pikiran.

Hye-Na membuka pintu kamarnya dan nyaris menjerit kaget saat mendapati apa yang menunggunya disana.

“Sedang apa kau disini?” desisnya tajam, berusaha merendahkan volume suaranya agar tidak terdengar ke lantai bawah.

“Bukankah kau sudah tahu jawabannya?” ujar Kyuhyun santai sambil melangkah mendekati gadis itu. “Aku sudah memikirkan sopan santun selama beberapa menit tadi dan berpikir bahwa aku tidak mau stress sendiri semalaman karena menyesal meninggalkanmu tanpa melakukan apa-apa.”

“Tunggu, tapi ini pertemuan pertama kita dan….”

Tapi jelas Kyuhyun tidak mau menunggu dan tidak mau mendengarkan protes gadis itu sedikitpun karena dia langsung menarik pinggang gadis itu dengan tangan kanannya dan menciumnya dalam satu tarikan nafas, membuat tubuh gadis itu terdorong ke belakang dan bertahan hanya dengan pegangan dari tangan pria itu saja.

Untuk ukuran manusia, dengan ciuman semendesak itu, seharusnya dia sudah nyaris pingsan kehabisan nafas, tapi dalam waktu singkat Hye-Na menyadari bahwa menarik nafas bukanlah kebutuhan yang penting baginya dan dia bahkan tidak perlu melakukannya kalau dia mau. Hanya saja akan aneh rasanya kalau kau tidak bisa membaui apapun di sekitarmu.

Hye-Na merasakan lidah pria itu menyentuh permukaan bibirnya, membuatnya tanpa sadar memberi celah pada bibirnya sehingga lidah pria itu bisa menelusup masuk. Dia tidak tahu bahwa rasanya akan seperti ini. Seperti ada api yang membakar di sekeliling mereka. Seolah mereka tidak bisa berhenti dan tidak bisa memerintahkan diri untuk berhenti. Ciuman itu terasa kasar dan menuntut, tapi bibir pria itu anehnya terasa lembut dan hati-hati.

Gadis itu tidak tahu sejak kapan pria itu berhasil mendorongnya ke atas tempat tidur dan menindihnya. Dia bahkan nyaris tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Walaupun dia merasa cukup aneh dengan kenyataan bahwa tangan pria itu tetap bertahan di pinggangnya dengan sedikit mencengkeram gaun yang masih dikenakannya, tidak bergerak kemana-mana.

Kyuhyun melepaskan bibirnya beberapa detik kemudian, beralih menciumi rahang dan relung lehernya, berhenti disana beberapa lama. Dia merasakan pria itu menarik nafas disana, menyiksa diri dengan bau darahnya yang berpusat di titik itu. Pria itu mengerang sesaat dan menempelkan bibirnya lagi di bibir Hye-Na, memberinya lumatan-lumatan ringan yang tidak terlalu mendesak, menadakan bahwa pria itu sudah mendapatkan kontrol dirinya lagi sepenuhnya. Bibirnya terasa menekan, tapi tidak menuntut, hanya menunjukkan bahwa dia suka melakukan itu dan betah untuk melakukannya dalam waktu yang lama.

Hye-Na tersentak saat mendengar suara keras sepatunya yang terlepas begitu saja dari kakinya yang terjuntai di tepi ranjang, sehingga Kyuhyun melepaskannya lagi dan ganti menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

Bibir gadis itu tampak memerah dan membengkak akibat perlakuannya dan anak rambut gadis itu berserakan tak beraturan di atas bantal, membingkai wajah ovalnya yang sempurna. Selebihnya, Kyuhyun mensyukuri kenyataan bahwa dia berhasil mempertahankan gaun gadis itu tetap di tempatnya. Dia tidak bisa menolerir sesuatu yang lebih dari ciuman. Tidak tanpa ikatan pasti seperti…. Sialan, apa dia sedang memikirkan sesuatu tentang Ierós Desmós? Ikatan Suci? Pasti dia sedang tidak waras!

Kyuhyun menegakkan tubuhnya saat mendegar suara mesin mobil yang mendekat ke arah rumah Hye-Na, tahu bahwa kakek gadis itu sudah pulang dan dia tidak mau terlihat tidak sopan dengan berada di kamar gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu dan sudah mencium gadis itu habis-habisan.

“Dengar,” ucapnya tajam dengan nada memperingatkan. “Mulai sekarang kau tidak boleh dekat dengan pria manapun dan menatap mereka. Kau tidak boleh menyentuh dan disentuh pria lain selain aku. Dan jangan beri hatimu pada siapapun. Kau mengerti?”

“Apa?” dengus gadis itu kesal. “Apa-apaan kau? Memangnya kau pikir kau itu….”

“Kau milikku,” potongnya tegas. “Dan aku tidak suka sesuatu yang menjadi hak pribadiku diusik orang lain. Aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah aku dapatkan, Na~ya. Anggap saja berhubungan denganku berarti penjara seumur hidup. Kau… tidak bisa lari kemana-mana.”

TBC

 

 

 

Aaaah, pasti bosen banget ya bacanya? Emang ngebosenin, sih. Tapi ya mau gimana, ide yang datang aneh gitu *lirik novel Melissa de la Cruz*

Meres otak habis-habisan nyari istilah2 aneh, nama makhluk, sejarah malaikat-malaikat yang nggak bakal ditemui di buku manapun, dan kisah cinta yang… penuh nafsu? *ditendang*

Dan jangan tanya lanjutannya karena aku g ada bayangan sama sekali. Ide yang ada bener2 cuma buat part 1 doang *ketawa setan* Tapi FF ini menarik g, sih? Karena kalau nggak ya nggak bakal dilanjutin.

Aaaah, buat juara 1 FF Contest, FF buat kamu idenya buntu *PLAK!* jadi ntar aku lanjutin kalo idenya lancar lagi *g profesional*

Aish, bentar lagi Kyu ultah, NBY Spanyol aja belum diketik satu katapun. Menyusahkan! *bakar Kyu*

Kalo ada ide buat NBY bagi2 ya, otak aku bener2 buntu. Tapi masa nggak ada NBY special ulang tahun, sih? *manyun*