AUTHOR: SHEVER

 

 

=========================================

Aku tak percaya pada kebetulan,

Karena tak mungkin kita bersama tanpa direncanakan…

-Cho Kyuhyun-

=========================================

 

 

Distrik Gangnam, Seoul – 8 AM

“CHO KYUHYUN! Apa kataku soal menyimpan pakaian kotor dengan benar?” Seruan itu membahana di sekeliling rumah. Seorang gadis menuruni tangga kayu sambil membawa keranjang pakaian kotor.

Dengan satu lirikan sengit, ia berhasil menemukan orang yang diteriakinya. Lelaki itu sedang duduk di kursi makan dengan sepotong roti panggang di tangannya. Nampak sekali lelaki berambut gelap itu tak terganggu dengan teriakan maut Han Hye-Na.

“Masih pagi. Kau berisik.” Hanya itu satu-satunya kalimat yang terlontar dari bibirnya.

“Polisi macam apa kau ini? Sudah hampir siang dan kau masih santai di rumah? Kau pikir kantor polisi itu rumah keduamu?” seru Hye-Na lagi.

“Aku lebih suka tinggal disana daripada di rumah ini bersamamu, Han Hye-Na~yang.” Kyuhyun menyahut santai. Hingga potongan terakhir rotinya, ia sama sekali enggan beranjak dari kursi. “Seharusnya kau itu cepat menikah supaya cepat pergi dari sini.”

Ya! Ini juga rumahku, memangnya kau pikir aku mau meninggalkan rumah ini walaupun nanti aku menikah?” balas Hye-Na.

Keduanya saling menyipitkan mata. Rumah dua lantai yang mereka sewa di Seoul menjadi pendengar setia pertengkaran Cho Kyuhyun dan Han Hye-Na. Keduanya tumbuh bersama sejak kecil, tak pernah terpisahkan bahkan setelah keduanya mendapat pekerjaan di kota ini.

“Seharusnya kau sering berkaca, siapa yang mau menikah denganmu?” Kyuhyun mengeluarkan lidah tajamnya lagi. “Jangan hanya memotret mayat, lain kali potretlah dirimu sendiri.”

Hye-Na melotot. Gadis itu nyaris melemparkan keranjang dalam pegangannya ke arah Kyuhyun. “Ya! Kau! Kau pikir gadis mana yang mau menikahi polisi malas sepertimu?”

“Aku detektif, Bodoh!” sahut Kyuhyun.

“Dan aku ini fotografer kriminal, Jelek!” balas Hye-Na.

Detektif dan fotografer untuk kasus kriminal. Keduanya saling melengkapi dalam pekerjaan. Dalam ketidaksadaran keduanya, mereka juga telah saling melengkapi seumur hidupnya.

“Pagi, semua!” Sapaan hangat terdengar dari ruang tengah. Seorang lelaki tampan dengan jaket kulit cokelat berdiri disana.

Hye-Na tersenyum kaku, tak nyaman karena lelaki itu mendengar pertengkaran rutinnya dengan Kyuhyun. “Donghae ssi.”

“Kalian masih mau bilang kalau kalian bukan pasangan? Tinggal dalam satu atap, bekerja sama dalam pekerjaan, bertengkar setiap hari,” gumam Donghae. “Jujur saja padaku, kalian ini sudah menikah, kan?”

Kyuhyun mendengus kasar lalu tersenyum sinis. “Benar, kami pasangan, pasangan Tuan Muda dan budaknya.”

“Cho Kyuhyun!” Hye-Na mengancam melalui panggilannya.

“Berhenti sampai disini,” sela Donghae. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Ada kasus pembunuhan di daerah Itaewon. Kyuhyun~a, kita akan mengurus kasus ini dan aku menjemput kalian sekarang.”

Kyuhyun membulatkan mata. “Kalian?” ulangnya.

“Hye-Na kan fotografer kriminal. Dia dibutuhkan di sana,” sahut Donghae santai. Lelaki itu berbalik ke arah Hye-Na. “Hye-Na ssi, ayo siap-siap.”

Hye-Na mengangguk mantap lalu menghilang di ujung koridor menuju kamarnya. Dengan sebuah kamera DSLR Canon hitam yang digantung di lehernya, gadis itu berdiri dengan percaya diri. Ia tersenyum dan mengikuti Donghae dari belakang.

Kyuhyun memutar bola matanya lalu bergumam, “Sok pamer.”

***

Rintik hujan ringan turun dan membasahi rambut gelap lelaki itu. Kedua matanya masih lekat memandangi tubuh kaku yang berlumuran darah. Cho Kyuhyun mengerutkan kening. Tak ada petunjuk yang bisa dijadikannya pegangan untuk kasus ini.

“Korban bernama Han Jo-Hwang, usia 27 tahun. Menurut petugas forensik, dia tewas karena peluru pistol Baretta berkaliber 17 mampir tepat di jantungnya,” jelas Lee Donghae, rekannya.

Kyuhyun melirik jasad lelaki itu sekilas sebelum mendengus kasar. “Tidak ada petunjuk apapun, tidak ada saksi.”

“Mm… soal saksi,” Donghae mengendikkan kepala ke arah seorang gadis dengan kamera menggantung di lehernya. “Tanya istrimu.”

“Istri kepalamu!” Lelaki itu menggulung kertas-kertas penyelidikan dan memukul pundak Donghae pelan. Sesaat kemudian, Kyuhyun sudah berdiri di samping gadis yang ditunjuk Donghae. “Ya! Ada petunjuk lain?”

Gadis itu menoleh, melirik Kyuhyun sedetik, lalu memalingkan wajahnya lagi. “Aku bukan polisi sepertimu. Aku hanya seorang fotografer kriminal, ingat?”

“Han Hye-Na,” panggil Kyuhyun. Suaranya berat dan dalam. “Kata Donghae, kau tahu sesuatu soal saksi. Lagipula siapa yang mengharapkan petunjuk darimu? Aku tahu kau tidak akan mendapat informasi apa-apa.”

“Ck, kau mau mati?” ancam Han Hye-Na. Ia memotret lagi, memastikan setiap sudut mayat dapat diabadikan. Gadis itu baru berhenti saat mendengar Kyuhyun mendecak tak sabar. “Apa yang mau kau tahu, Kyuhyun ssi?”

Kyuhyun mengernyitkan alis, tapi kemudian ia mengabaikan panggilan Han Hye-Na padanya. “Saksi. Apa ada saksi yang tahu soal pembunuhan ini?”

“Ada. Lee Byul, 27 tahun, tunangan Han Jo-Hwang,” sahut Hyena datar.

“Siapa?” Kyuhyun merasa indera pendengarannya tak berfungsi dengan benar.

“Lee Byul, tunangan korban. Dia ada di mobil polisi. Sudah lama telingamu tuli?” ulang Hye-Na dengan nada setengah kesal.

Kyuhyun memandang lurus ke depan, ke arah mobil berwarna hitam dan putih di hadapannya. Pandangannya menerawang. Ia berhasil mencapai samping mobil dan tak berniat membuka pintunya. Lelaki itu berdiri disana sampai seorang gadis yang duduk di dalam mobil mendongak menatapnya.

Tangan Kyuhyun terangkat ke udara. Perlahan dan pelan, ia membuka pintu mobil polisi kemudian bergumam, “Nuna….”

“Kyuhyun~a.” Gadis itu memandangi Kyuhyun dengan kedua matanya yang memerah. “Jo-Hwang… dia….”

“Tidak apa-apa, Nuna. Tidak apa-apa.” Kyuhyun masuk ke dalam mobil, duduk disamping gadis bernama Lee Byul itu. Lelaki itu tak tahu pasti apa yang harus dilakukannya, tapi ia mengambil inisiatif untuk memeluk gadis di sampingnya.

Lee Byul menangis dengan pundak yang naik-turun. Kyuhyun menggigit bibir, merasakan ledakan kesedihan yang entah sejak kapan disimpan gadis itu. Gadis itu pernah sangat istimewa di hatinya; hingga sekarang, mungkin.

Bukan hal yang sulit untuk melihat Kyuhyun yang memeluk saksi itu dari jauh –setidaknya dari jarak dimana Hye-Na masih berdiri memegangi kameranya. Gadis itu setengah menyesal telah membiarkan Kyuhyun tahu soal saksi kasus ini. Sementara itu, sisa setengah hatinya merasa agak tersakiti.

Hye-Na adalah sahabat seumur hidup seorang Cho Kyuhyun. Ia tahu Lee Byul ini adalah Lee Byul yang sama, senior di sekolah mereka yang dulu, satu-satunya senior yang disukai Kyuhyun.

“Mereka sudah saling kenal?” Donghae menyikut lengan Hye-Na lembut.

“Mm. Senior kami, dua tahun lebih tua dari Kyuhyun dan aku,” jawab Hye-Na sekenanya.

Donghae mengalihkan pandangannya. Alisnya terangkat saat melihat Hye-Na masih sibuk memotret, padahal gadis itu sudah melakukannya sejak tadi. “Kau cemburu, ya?”

“He?” Hye-Na mendongak, menurunkan kameranya dan menatap Donghae secara langsung. “Tidak ada alasan untukku cemburu. Kyuhyun hanya sahabatku –sekaligus teman rumahku di Seoul.”

“Cemburu juga tidak apa-apa.” Donghae mengangkat bahu santai. “Kalian itu seperti punya ikatan yang tidak terlihat. Aku tidak tahu ini cuma khayalanku atau….”

Hye-Na memotong, “Hanya khayalanmu.”

“Mm… mungkin,” gumamnya. “Tapi kadang ada khayalan yang terbentuk dari kebenaran di depan matamu, kan?”

Aish… tidak tahu! Tidak mau tahu!” Hye-Na meninggalkan Donghae dan berjalan menjauhi lelaki itu –menjauh juga dari mobil polisi tadi. “Tch~ cemburu? Tidak mungkin.”

Langkah Hye-Na semakin pelan. Ia terduduk di kursi kayu panjang bercat cokelat dan memeriksa kameranya. Tangannya bergerak di atas kamera, tapi pikiran gadis itu tak berada di tempatnya.

Hye-Na meloloskan helaan napas panjang. Ia tahu Kyuhyun menyukai senior mereka itu; Lee Byul. Butuh waktu agak lama bagi lelaki itu untuk melupakan gadis senior mereka. Sekarang, mereka bertemu kembali. Hyena menganggukkan kepala samar; ini kebetulan, mungkin.

Gadis itu agak menyesal membiarkan Kyuhyun bertemu lagi dengan Lee Byul. Ia bisa saja memberikan informasi tentang saksi kali ini pada detektif lain. Banyak detektif dan polisi di kota ini, bukan hanya Cho Kyuhyun dan temannya, Lee Donghae.

Hye-Na khawatir Kyuhyun akan kembali terluka karena senior mereka. Lee Byul hanya sebagai saksi, dan tidak ada jaminan gadis itu akan tetap ada di dekat Kyuhyun setelah kasus ini selesai. Seandainya gadis senior itu kembali menghilang dan meninggalkan Kyuhyun, bagaimana perasaan sahabat laki-lakinya itu?

Kekhawatiran lain menyelinap masuk ke dalam pikiran Hye-Na.

Atau, seandainya gadis senior itu tetap berada di samping Kyuhyun walaupun kasus berakhir, bagaimana perasaannya sendiri nanti?

***

Hye-Na tak begitu suka kejutan. Ia sendiri tak pernah benar-benar terkejut jika ada yang merayakan hari ulang tahunnya diam-diam. Sepertinya, hari ini juga sama.

Gadis itu tak terkejut saat mendapati Lee Byul duduk di ruang tengah rumahnya –rumahnya dan Kyuhyun. Ia hanya berdiri diam di tepi pintu tanpa benar-benar tahu ekspresi wajah seperti apa yang harus dipasang.

“Lee Byul nuna akan tinggal di sini sampai hari persidangan ditentukan.” Kyuhyun menjelaskan tanpa diminta.

Hye-Na nyaris mendengus. Sejak kapan Cho Kyuhyun, seorang detektif muda itu, menjadi juru bicara saksi kasus pembunuhan?

“Terserah kau saja.” Hye-Na menolak berdiskusi atau menentang keputusan Kyuhyun. Ia berjalan lurus ke dapur dan menyambar botol plastik berisi air mineral. Untuk beberapa alasan, tenggorokannya sangat kering saat ini.

Gadis itu beradu pandangan dengan Kyuhyun yang sudah bersandar di dinding. “Sepertinya kau marah.”

“Tidak. Sepertinya analisismu kali ini salah,” ucap Hye-Na. Ia meletakkan botol plastik kembali ke lemari es dan menghela napas. “Dengar, ada tempat perlindungan saksi yang bisa….”

“Aku ingin Lee Byul nuna ada di sini,” potong Kyuhyun cepat.

Hye-Na, untuk pertama kalinya, merasa terkejut dengan jawaban Kyuhyun. “Oh… benar, tentu saja kau ingin dia ada di sini. Lakukan saja semaumu.”

“Na~ya,” panggil Kyuhyun.

“Aku sedang tidak bisa diajak berdebat, Kyuhyun~a.” Hye-Na menolak.

Kyuhyun mengangkat bahu lalu kembali ke ruang tengah –kembali pada Lee Byul dan meninggalkan Hye-Na di dapur. Hye-Na memejamkan mata sesaat untuk menelan kembali rasa frustasinya. Ia tak rela ada orang asing di rumah ini –rumahnya dan Kyuhyun.

“Apa… dia tidak suka aku di sini?” Hye-Na bisa mendengar suara Lee Byul. Suaranya lembut dan menenangkan. Suara yang berbeda dengan miliknya sendiri.

“Tidak, dia setuju. Tidak perlu khawatir, Nuna.” Kali ini Hye-Na mendengus kasar. Bahkan lelaki itu sudah berani menyimpulkan sendiri dan bicara seolah-olah Kyuhyun adalah juru bicaranya juga.

Hye-Na nyaris meledak. Entah apa alasannya, tapi ia merasa sangat marah. Gadis itu meninggalkan dapur dan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri. Ia melemparkan kamera kesayangannya ke atas ranjang.

“Apa dia bodoh? Apa yang dia harapkan dari senior itu?!” umpatnya. Napasnya tersengal karena emosi.

Hye-Na merasa marah, entah pada siapa. Ia tak suka dengan kedatangan gadis senior itu, jelas. Hanya saja, ia tak mengerti satu hal. Kenapa ia tak suka?

***

Nuna bisa menempati kamar ini.” Kyuhyun membukakan pintu kamar tamu. Ruangannya tak terlalu besar. Ada ranjang untuk satu orang, sebuah meja laci mungil di sampingnya, dan lemari baju kayu di pojok ruangan. Sebuah jendela menghadap ke jalan setapak dihiasi tirai berwarna putih gading.

Lee Byul memandangi sekeliling, membiasakan kedua matanya dengan kamar sementaranya itu. “Terima kasih.” Gadis berambut panjang itu duduk di tepi ranjang. “Kyuhyun~a, kurasa kau harus bicara dengan Hye-Na.”

“Apa? Kenapa? Dia tidak apa-apa,” ucap Kyuhyun.

“Kau mengenalnya seumur hidupmu, jadi kurasa kau lebih tahu keadaannya.” Lee Byul berkomentar dengan nada mengambang. “Selamat malam.”

Kyuhyun menganggukkan kepala lalu meredupkan cahaya lampu di kamar Lee Byul sebelum keluar dari sana. “Selamat malam, Nuna.”

Lelaki itu berjalan menyusuri koridor lantai dua. Sepasang matanya melirik kamar lain yang terletak di ujung koridor; kamar Hye-Na. Lampunya masih menyala. Kyuhyun berpikir apa yang membuat gadis itu masih terjaga sementara ia tahu Hye-Na tak suka membiarkan kantung matanya menghitam.

“Dia marah?” gumam Kyuhyun.

Ia bertanya dalam hati, tapi tentu saja tak mendapat jawaban apapun. Hye-Na jarang marah untuk hal sepele, dan kalau sekarang gadis itu marah, berarti ada hal tak sepele yang menjadi penyebabnya. Kyuhyun berpikir sendiri.

Tiba-tiba saja, ia menemukan dirinya sedang berdiri di depan pintu kamar Hye-Na. Kyuhyun mengetuk pintunya pelan. “Na~ya, kau tidur?”

Tak ada jawaban. Kyuhyun baru akan meninggalkan pintu bercat hijau itu ketika mendengar suara kunci dari dalam. Hye-Na belum tidur dan memintanya masuk ke kamarnya.

“Kukira kau sudah tidur.” Kyuhyun mengangkat bahu. “Apa ada yang mengganggumu?”

Hye-Na berkomentar singkat, “Kau.”

“Aku? Aku malah heran kau tidak pernah terganggu dengan kehadiranku,” ujar lelaki itu. “Posisi kita seri, aku juga selalu terganggu olehmu, Han Hye-Na ssi.”

Hye-Na mendengus. “Sampai kapan nuna kesayanganmu itu di sini?”

“Wah, kukira kau tidak peduli.” Kyuhyun berakting heran. “Sampai pelaku penembakan Han Jo-Hwang ditemukan dan jaksa menggelar persidangan.”

“Apa kau tidak ingat, senior itu….”

“Apa? Meninggalkanku?” potong Kyuhyun. “Aku ingat.”

“Lalu kenapa? Apa kau sudah terlalu bodoh sampai bersikap seperti ini?” Hye-Na mengerang tanpa suara.

“Aku detektif yang hanya menjalankan tugasku. Setahuku, dia adalah saksi yang membutuhkan perlindungan.” Kyuhyun menjelaskan, “dan itu termasuk salah satu tugasku.”

Hye-Na mendengus lalu mengumpat. “Bodoh.”

“Tidak perlu kau ingatkan, memangnya kapan aku pernah jadi orang yang pintar untukmu?” Kyuhyun menyela dengan gaya bicaranya yang biasa. “Nah, tidur sana.”

Lelaki itu berdiri di tepi pintu lalu pergi begitu saja. Hye-Na memandangi wajah Kyuhyun sesaat sebelum lelaki itu menutup pintu kamarnya. Ia semakin tak mengerti dengan tingkah Kyuhyun. Hye-Na sempat mengambil kesimpulan jika lelaki itu sudah diculik alien asing dan ditukar setelah otaknya dicuci.

Yang lebih parah lagi, Hye-Na tak mengerti dengan pikirannya sendiri.

Lee Byul hanya saksi yang harus dilindungi. Gadis itu bukannya senior yang dulu dipuja-puja Kyuhyun. Secara umum pun, Hye-Na tahu perasaan tak suka ini salah tempat. Seharusnya ia bisa bersikap netral, bukannya merasa tak suka dan cemburu seperti ini.

“Cemburu?” Hye-Na menyuarakan pikirannya. “Sampai mati pun, aku tidak akan cemburu!”

***

Kyuhyun melepaskan jaket yang sejak tadi menempel di tubuhnya. Lelaki itu menggantungkannya di balik pintu sebelum merebahkan dirinya di ranjang. Sepasang matanya memandangi langit-langit.

Lee Byul tiba-tiba masuk kembali ke dalam hidupnya. Jika dulu sebelum pindah ke Seoul ia hanya menganggap hidupnya adalah hidupnya sendiri, sekarang ia harus menghitung hidup Hye-Na juga. Lee Byul hadir kembali dalam hidupnya dan hidup Hye-Na.

Hye-Na tampak kesal, Kyuhyun mengakui hal itu. Gadis itu tak pintar menyembunyikan perasaannya dan Kyuhyun bisa melihat dengan jelas bahwa Hye-Na memang sedang kesal. Kyuhyun tahu itu, hanya saja ia tak tahu apa alasannya.

Hye-Na, yang dikenalnya seumur hidup, selalu bisa bersikap obyektif.

Bagaimanapun, kehadiran Lee Byul ini mungkin dapat mengubah semua hal. Termasuk cara pikir Hye-Na, mungkin. Kyuhyun menutup kedua matanya, menolak membebani kepalanya dengan pikiran rumit seperti ini.

Kali ini entah kenapa, Kyuhyun merasa harus mengatakan sesuatu pada Hye-Na. Bahwa ia, Cho Kyuhyun, tak berpikir untuk mengisi ulang perasaannya yang dulu pada Lee Byul.

Pikirannya yang lain menegurnya. Apa gunanya membiarkan Hye-Na tahu isi hatinya? Hye-Na tak pernah lebih dari seseorang yang menyusahkan seumur hidupnya.

Tch…” dengusnya. “Pikiran konyol!”

***

Few days later…

“Seo Sung-Mo,” ucap Donghae pada suatu pagi. Kyuhyun, Hye-Na, dan Lee Byul menoleh bersamaan. Keempatnya berada di dapur untuk sarapan ketika Donghae mengungkit topik ini. “Pelaku penembakan Han Jo-Hwang. Lee Byul ssi, kau sudah memastikannya kemarin, kan?”

Lee Byul mengangguk, mengingat agendanya di kantor polisi kemarin. “Aku tidak tahu namanya, aku hanya tahu dia dan Jo-Hwang sering terlihat berkumpul bersama.” Ia menghela napas, “dan aku ingat tato di leher belakangnya saat melihat Jo-Hwang tertembak.”

“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Kyuhyun.

“Orang ini sedang dalam pengejaran, tapi Kapten Choi punya ide lain.” Donghae menelan ludah. Matanya memandangi Lee Byul lalu Kyuhyun bergantian. “Lee Byul harus dijadikan umpan.”

Ya! Kau pikir ini perlombaan memancing?” seru Hye-Na.

Kyuhyun melirik Hye-Na dan berusaha menebak isi pikiran gadis itu. Ia mengerutkan kening ketika tak bisa membaca apapun dari Hye-Na. Kyuhyun tak pernah bisa membaca pikiran Hye-Na, selalu begitu.

“Tapi kurasa tak ada salahnya dicoba.” Lee Byul berhasil membuat semua orang memandangnya. “Maksudku, Seo Sung-Mo ini pasti tahu aku berada di tempat kejadian waktu itu. Kalau mau menangkapnya, harus ada aku juga, kan?”

Kyuhyun menyipitkan mata. “Kita bisa cari cara lain.”

Hye-Na melirik Kyuhyun walaupun tahu ini bukan waktu yang tepat. Untuk beberapa alasan, ia merasa terganggu dengan sikap lelaki itu. Seharusnya, Kyuhyun tak periu bersikap protektif seperti ini. Atau, apakah justru Hye-Na yang bersikap terlalu longgar untuk kasus Lee Byul?

“Ng… Kyuhyun~a,” panggil Donghae. “Sebenarnya, Kapten Choi sudah memerintahkan untuk memancing Seo Sung-Mo ini.”

Mworago?” Kyuhyun membulatkan kedua matanya.

“Baguslah.” Senyuman puas tergambar di wajah Lee Byul. Ia sempat menjabat tangan Donghae untuk berterima kasih sebelum naik tangga menuju kamarnya.

Kyuhyun menyikut lengan Donghae. “Ya! Apa yang kau lakukan? Sekali pun ingin menjadikan saksi sebagai umpan, apa perlu membiarkannya tahu?”

“Kukira….”

“Kau tidak salah, Donghae ssi,” sela Hye-Na. Ia cukup muak dengan sikap protektif yang berlebihan dari Kyuhyun ini. “Seorang saksi berhak tahu apa yang direncanakan pihak berwajib padanya. Sekali pun dia digunakan sebagai umpan, memangnya kau pikir dia tidak akan setuju? Ini saat yang tepat untuk memancing pelaku pembunuhan tunangannya!”

Hye-Na memandangi Kyuhyun, begitu pula dengan Kyuhyun. Keduanya beradu pandang dengan sengit. Baik Hye-Na atau Kyuhyun, keduanya sedang ingin meledakkan emosi dalam dirinya masing-masing.

“Han Hye-Na! Tadi kau sendiri tidak mau ada rencana memancing pelaku seperti ini, kau bilang kasus ini bukan perlombaan memancing, kan? Lalu kenapa sekarang berubah pikiran? Apa kau memang tidak pernah bisa konsisten?” Kyuhyun menaikkan nada suaranya.

Hye-Na membuang pandangannya ke lantai. “Lee Byul sunbae itu ingin menangkap pelaku penembakan tunangannya sendiri, memangnya itu salah? Apa salah juga kalau aku mendukungnya?”

Ya!” seru Kyuhyun. “Jangan jadikan pelaku penembakan tunangan Lee Byul nuna sebagai alasan!”

Lelaki itu menekankan kata tunangan hingga rasanya telinga Hye-Na ditimpa besi baja. Hye-Na menelan ludah. Ia tak tahu Kyuhyun sadar dengan maksudnya tadi. Dengan berulang kali mengucapkan kata tunangan itu, Hye-Na berharap Kyuhyun akan berhenti bersikap seperti ini.

“Hei, hei, berhenti, kalian berdua,” sela Donghae. Ia memerhatikan perdebatan Kyuhyun dan Hye-Na, yang untuk pertama kalinya, sarat dengan aura sepasang kekasih. Donghae ingin mengucapkan itu, tapi sepertinya ia harus menundanya sekarang.

“Kalau rencananya tetap seperti ini, aku tidak ikut.” Kyuhyun menarik kursi makan dan duduk sambil mengaitkan kedua tangannya di atas meja.

Joha! Kalau kau tidak mau ikut, aku yang akan ikut!” sahut Hye-Na nyaring.

“Ikut atau tidak, itu bukan pilihan yang kalian miliki.” Kyuhyun dan Hye-Na menatap Donghae bersamaan hingga lelaki itu berdeham. “Akhirnya aku mendapat perhatian kalian juga,” tambahnya. “Cho Kyuhyun dan Han Hye-Na akan ikut dalam rencana besok. Kita bertiga akan menjadi pengawal Lee Byul.”

***

Sebuah jip dengan atap terbuka melaju di jalanan sepi. Ketiga penumpang dan seorang pengemudinya tak bersuara. Keempatnya dibalut campuran perasaan aneh; ketegangan, kesenangan, dan keyakinan menyerang mereka sekaligus.

Sementara Kyuhyun, Hye-Na, dan Donghae menampakkan wajah tegang dan yakin, Lee Byul terlihat senang karena sebentar lagi laki-laki yang membunuh tunangannya akan segera tertangkap. Gadis itu terlalu bahagia hingga tak menyadari aura tak nyaman di antara Kyuhyun dan Hye-Na.

Tak ada yang mengobrol sejak kemarin. Baik Hye-Na maupun Kyuhyun memiliki harga diri setinggi langit untuk menyerah dan mengalah. Keduanya tak akan mengakhiri ketegangan hingga salah satu mau membuang harga dirinya.

“Seo Sung-Mo membalas memo yang ditinggalkan Lee Byul ssi di kamar lama Han Jo-Hwang, dia pasti akan berada di sini sebentar lagi,” jelas Donghae sambil mengawasi tempat parkir sebuah motel kuno.

Keempatnya menunggu di tempat berbeda. Donghae bersembunyi di dalam jip sementara Hye-Na, yang tak memiliki keahlian bela diri apapun, berada di balik barisan lemari kayu bekas. Lee Byul menunggu di tengah lapangan parkir dan Kyuhyun, yang menyembunyikan diri di balik salah satu mobil lama, berada paling dekat dengannya.

Tugas Donghae dan Kyuhyun adalah untuk melindungi Lee Byul sementara sang fotografer, Hye-Na, akan beralih pekerjaan menjadi pemegang handycam untuk merekam seluruh aksi siang ini.

Mata Lee Byul membesar ketika melihat seorang laki-laki turun dari sebuah mobil sedan hijau. Gadis itu bergumam pelan, sepelan yang bisa didengar Kyuhyun. “Seo Sung-Mo….”

“Kau tunangan Jo-Hwang? Hah! Kukira kau tidak akan muncul lagi. Atau yang lebih buruk, kupikir kau sudah bunuh diri karena menemukan Jo-Hwang dalam keadaan menyedihkan seperti itu!” ujarnya. “Tapi aku terkejut. Kau berani meninggalkan memo di kamar Jo-Hwang yang lama, kau tahu aku sering berada di sana, hah?”

Lee Byul merasakan degupan jantungnya lebih cepat tiga kali lipat dari biasanya. Melihat wajah Seo Sung-Mo membuatnya ingin merobek jantung lelaki itu sekarang juga. Ia berdeham. “Aku hanya tahu kau terlalu pengecut untuk menghadapi Jo-Hwang sampai kau harus menggunakan senjata.”

“Dia tidak mau melindungiku lagi. Aku butuh dia dan kekuasaannya untuk membiarkanku berbisnis di daerah itu, Nona. Daripada dia memberontak dan mengirimku ke penjara, lebih baik aku mengirimnya ke surga,” ujar Sung-Mo.

“Bisnis?” Lee Byul mengerutkan kening.

“Bisnis ala milyuner. Ganja.” Lelaki itu menyalakan pemantiknya dan menghisap sebatang rokok.

Belum hilang keterkejutan Lee Byul, Sung-Mo menarik paksa gadis itu dan mencengkeram bahunya dari belakang. Lee Byul bisa merasakan hembusan napas lelaki itu di leher belakangnya.  “Lepaskan!”

“Aku tahu kau tidak akan sendirian.” Sung-Mo mengambil kesimpulan. “Ya! Tidak ada yang mau menyelamatkan gadis ini?”

Kyuhyun menoleh ke belakang dan menemukan Donghae tak punya jawaban atas tatapannya. Baru saja lelaki itu akan memeriksa Hye-Na saat ia melihat gadis itu maju mendekati Seo Sung-Mo. “Aku akan menjadi gantinya. Apa yang kau inginkan?”

“Gadis bodoh!” umpat Kyuhyun pelan.

“Hanya kau yang dibawa gadis ini? Untuk apa kalian hanya berdua di sini?” Sung-Mo menjatuhkan Lee Byul hingga jatuh ke tanah. Tangannya memintir lengan Hye-Na dengan cepat dan menjadikannya sebagai sandera kedua. “Apa yang kau lakukan di sini, Nona?”

Hye-Na menelan ludah dan melirik Lee Byul, memintanya segera lari. “Memintamu mengakui tindakanmu supaya kami bisa memerasmu, bodoh!”

Sung-Mo mengabaikan umpatan Hye-Na lalu menggeledah saku celana gadis itu. Ia tersenyum miring ketika menemukan sebuah handycam mungil. “Oh… kau pikir aku ini orang kaya?” tanyanya. Hye-Na mengangguk ragu. “Dan kau pikir aku percaya pada ucapanmu?”

Lelaki itu mengeluarkan pistol hitam. Ujung pistolnya diarahkan ke kepala Hye-Na. Kyuhyun merasakan darahnya naik ke ujung kepala. Ia melompat keluar dan seketika itu pula sebuah peluru panas melesat menembus pundak kirinya.

Kyuhyun terjatuh di tanah sambil memegangi lukanya. Hye-Na memekik, “KYUHYUN!”

“Namanya Kyuhyun? Dan dia detektif, kan?” gumam Sung-Mo tepat di balik telinga Hye-Na. “Aku melihatnya di kamar Jo-Hwang sehari setelah aku membunuh laki-laki bodoh itu.”

Dengan napas yang masih tersengal, Kyuhyun memberikan isyarat pada Lee Byul untuk lari ke arah Donghae. Lee Byul mengangguk samar dan melihat Donghae sudah bersiap di posisinya. Sung-Mo mengarahkan ujung pistolnya ke arah Kyuhyun lagi.

Hye-Na bertindak lebih dulu. Gadis itu meraih tangan Sung-Mo, membuat pistolnya terarah ke langit dan melepaskan beberapa tembakan. Ketika peluru dalam pistol hitam Sung-Mo habis, laki-laki itu menjatuhkan Hye-Na ke tanah.

Sung-Mo baru akan melayangkan tendangan kasar ke punggung Hye-Na saat Kyuhyun bergegas memeluk gadis itu dari belakang. Lelaki itu mengabaikan rasa sakitnya dan membenamkan tubuh Hye-Na dalam tubuhnya sendiri. Sung-Mo mengumpat, “Kurang ajar! Kalian berdua akan mati sekarang, bersiaplah!”

Sebuah suara tembakan membahana di udara. Seo Sung-Mo terjatuh ke tanah begitu merasakan kakinya panas dan berdarah. Donghae berdiri memegang pistolnya. Ia menembak tepat sasaran; kaki si pelaku.

Seketika itu pula, tiga mobil polisi yang dihubungi Donghae muncul dari kejauhan. Lima sampai enam polisi berdiri melingkari Seo Sung-Mo dan mengarahkan pistol padanya. Tak butuh waktu lama untuk menggiring laki-laki dengan garis wajah cekung itu masuk ke mobil polisi.

Hye-Na menoleh ke belakangnya, menemukan Kyuhyun memejamkan mata menahan sakit. “Apa yang kau lakukan?! Bodoh!”

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun. Lubang peluru di pundaknya tiba-tiba terasa sakit lagi sekarang. Lelaki itu sudah kehilangan kesadaran sebelum Hye-Na menjawab.

Wajah Hye-Na yang pucat pasi adalah hal terakhir yang dilihat Kyuhyun sebelum kegelapan menguasai pandangannya.

***

Hye-Na berjalan mondar-mandir di depan ruangan operasi. Kakinya memang terasa lemas, tapi ia merasa akan lebih lemas jika hanya duduk diam. Sebuah tembakan tidak pernah berakibat baik. Tembakan yang diterima Kyuhyun di pundak kirinya itu juga bukan sesuatu yang kecil.

Untuk kesekian kalinya, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Hatinya tetap tak tenang walaupun dokter mengatakan ini hanya operasi pengangkatan proyektil peluru dari pundak Kyuhyun.

Hye-Na meringis. Proyektil besi panas yang menembus pundak Kyuhyun harus dikeluarkan. Ia tak bisa membayangkan sesakit apa rasanya.

“Mau kopi?” Hye-Na mendongak. Lee Byul mengulurkan segelas kopi hangat sementara tangannya yang lain juga memegang gelas yang sama. Gadis itu duduk di samping Hyena saat Hye-Na menerima kopinya. “Dia akan baik-baik saja.”

“Mm.” Tak ada hal lain yang bisa dijawab Hye-Na. Dalam hati, ia jutaan kali berharap ucapan itu akan menjadi kenyataan.

“Kalian sangat… menakjubkan,” ucap Lee Byul. “Kau dan Kyuhyun, maksudku.”

Sunbae.” Hye-Na menenggak cairan hitam dalam gelasnya. “Dia menyukaimu, kau pasti tahu itu, kan? Walaupun kalian berjarak dua tahun, dia tetap menjadi pemuja setiamu.”

Lee Byul tertawa pelan. “Begitu? Tapi kurasa itu hanya perasaan adik pada kakak perempuannya.”

“Tidak, dia itu….”

“Dia berlari melindungimu, Hye-Na~ya,” sela Lee Byul. “Dia begitu takut terjadi sesuatu padamu hingga dia kehilangan akal sehatnya dan melompat menerjang peluru. Begitu juga dengan tendangan laki-laki itu.”

Hye-Na merasakan pipinya merona. “Itu karena kami sahabat sejak lahir.”

“Sahabat sejak lahir pun tidak akan mempunyai ikatan sekuat kalian.” Lee Byul mengatakan itu seakan-akan ia tak bisa mendapatkan ikatan yang sama. “Kalian lebih dari itu. Aku iri pada kalian.”

Hye-Na baru akan menyela ketika Donghae berjalan ke arah mereka. “Lee Byul ssi, kapten kami ingin bicara denganmu.”

“Ah, baiklah.” Lee Byul bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu sempat tersenyum dan mengerlingkan mata ke arah Hye-Na. “Dia juga merasakan ikatan itu, Hye-Na.”

Donghae dan Lee Byul berlalu dari hadapannya dan Hye-Na kembali merasa kebingungan. Sebelum Lee Byul duduk di sampingnya, ia merasa kepanikannya akan menelan tubuhnya bulat-bulat. Tapi setelah Lee Byul meninggalkannya sendirian lagi, ia merasa kepanikan dan kebingungan menyerbu masuk ke dalam kepalanya.

Hye-Na tak ingin berbohong. Ia memang merasakan sesuatu yang aneh belakangan ini. Tiba-tiba saja, ia tak ingin membiarkan Kyuhyun memerhatikan gadis lain, ia tak suka ada Lee Byul di tengah-tengah mereka, dan ia rela menerima luka apapun demi Kyuhyun.

“Aku pasti sudah gila! Lee Byul sunbae mempermainkanku!” umpatnya pelan.

Perhatian Hye-Na kemudian tertuju pada ruang operasi. Lampunya sudah tak menyala. Itu berarti operasi Kyuhyun sudah selesai. Hye-Na menghambur menghampiri dokter yang memakai masker hijau.

“Dia akan baik-baik saja. Sekarang dia akan dipindahkan ke ruang perawatan,” ucap si dokter tanpa diminta.

Hye-Na mengelus dadanya lega. Seharian ini, jantungnya serasa bisa berhenti berdetak kapan saja menunggu kepastian kondisi lelaki itu. Hye-Na langsung terduduk di kursi dan meneguk habis kopi pemberian Lee Byul.

“Hh…” desahnya. “Syukurlah, Jelek.”

***

The next day…

 

Hye-Na berjalan santai sambil menenteng keranjang buah dalam pegangannya. Langkahnya ringan menuju kamar tempat Kyuhyun dirawat. Setelah kemarin seharian menunggu operasi lelaki itu, ia berhasil dipaksa pulang oleh Donghae.

“Seharusnya dia sudah sadar,” gumam Hye-Na di depan pintu kamar Kyuhyun. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik kenop pintu.

Tak banyak yang dapat dijadikan ekspresinya saat Hye-Na membuat dirinya sebagai pusat perhatian di kamar itu. Ia membeku di tepi pintu sambil memandangi Lee Byul, Donghae, dan beberapa petugas kepolisian yang sudah ada di sana.

Kyuhyun mendongak menatapnya. “Ya! Kau baru datang? Kau terlambat!”

E-eo,” jawab Hye-Na. Entah kenapa, ia merasa kaku berada di kamar Kyuhyun. Ia berharap tak ada siapa pun di kamar ini, tapi tentu saja itu hanya khayalannya semata.

“Kau menungguiku kemarin, kan?” tanya Kyuhyun sambil tersenyum miring.

Hye-Na tahu persis lelaki itu akan menggodanya seperti ini, di depan semua orang. “Apa boleh buat, tidak ada yang mengurusmu di Seoul, kan?”

“Haaaaah~” Donghae pura-pura meregangkan otot bahunya. “Kami lelah dan lapar, baik-baiklah di sini, jangan bertengkar lagi.”

Kyuhyun memelototi rekan kerjanya sebelum Donghae, Lee Byul, dan rombongannya meninggalkan kamar itu. Saat mendengar pintu kamarnya tertutup rapar, Kyuhyun merasakan kegugupan di antara dirinya dan Hye-Na.

“Mm… terakhir kali bertemu denganmu, kita sedang bertengkar ya?” tanya Kyuhyun.

Hye-Na mematung sejenak kemudian mengangguk tanpa suara.

“Aku tidak mau minta maaf.” Kyuhyun menyahut asal. Ia bisa melihat akibat dari ucapannya; Hye-Na melotot tajam padanya. “Kau juga salah, kan?”

“Aku juga tidak mau minta maaf padamu, Bodoh!” seru Hye-Na. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.

Keduanya saling membuang muka. Kyuhyun melirik Hye-Na melalui ekor matanya. Lelaki itu lantas tersenyum lega. “Syukurlah kau tidak apa-apa.”

Hye-Na menoleh cepat untuk memastikan telinganya tidak salah dengar. “Kau ini benar-benar bodoh, ya?! Kau itu tertembak dan nyaris mati kemarin!”

“Tapi aku tidak mati, kan?” Kyuhyun mengangkat bahunya. Seketika itu pula ia meringis karena pundaknya terasa sakit.

“Lihat, lihat, kau ini seperti anak kecil bodoh yang tidak peduli sekitar!” omel Hye-Na. Ia mengernyitkan alis dan menggigit bibir saat melihat ekspresi Kyuhyun yang kesakitan. “Sangat sakit ya?”

Kyuhyun balas berteriak. “Kau pikir tidak sakit saat besi panas menyambar kulitmu?!”

Ara, ara….” Hye-Na mengangguk-angguk kemudian menyerah. “Maaf.”

“Gadis pintar,” komentar Kyuhyun. “Ah, soal Byul-i nuna….”

Byul-i nuna’? Hye-Na melotot saat itu juga. Sejak kapan panggilan seperti itu dialamatkan pada Lee Byul dari Kyuhyun?

“Aku sudah melupakannya bertahun-tahun yang lalu. Kau pikir aku ini tipe pria melankolis yang selalu berharap pada masa lalu, hah?” Kali ini Kyuhyun yang mengomel. “Lagipula sepertinya ada orang lain yang tertarik pada Byul-i nuna sekarang.”

Hye-Na melongo. Selain karena ia tak mengerti untuk apa Kyuhyun menjelaskan hal ini, ia juga tak tahu siapa orang yang dimaksud lelaki itu. Hye-Na memilih fokus pada pertanyaan yang pertama lebih dulu, “Untuk apa kau mengatakan ini padaku?”

Ya! Siapa yang berwajah seram tiap kali aku menyebut nama Byul-i nuna, hah?” ujar Kyuhyun. “Kalau kau tidak suka, tentu saja aku harus menjelaskannya, kan?”

“Memangnya kau pikir aku tertarik dengan….”

“Kalau kau tidak tertarik atau tidak mau tahu,” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Hye-Na. “aku yang tertarik, aku juga yang mau tahu soal pendapatmu. Sepertinya… aku sudah menyukaimu, Han Hye-Na ssi.”

Hye-Na merasa kepalanya kosong. Otaknya hanya mengeluarkan suara tit panjang. “Bukankah kita ini… sahabat seumur hidup? Kita juga selalu terganggu satu sama lain….”

Dwaesseo!” sela Kyuhyun. “Aku malas menjelaskan. Singkatnya, aku minta kau tetap jadi sahabat seumur hidupku. Walaupun kau bosan, kau tidak boleh bilang! Paham?”

Ya! Kau pikir aku ini pengangguran yang tidak punya pekerjaan lain?” ucap Hye-Na. “Aku tidak mau jadi sahabat seumur hidupmu tanpa keuntungan apapun!”

Kyuhyun memutar bola matanya. “Kau mendapatkan Cho Kyuhyun dalam keadaan utuh, bukankah itu adalah keuntungan bagimu?”

Tch.. yang benar saja!” Hye-Na mendengus walaupun bibirnya tersenyum. “Ah! Kau tadi bilang ada yang tertarik pada Lee Byul sunbae, apa maksudnya?”

“Lee Donghae itu terlalu mudah dibaca.” Kyuhyun mengendikkan bahu. “Tapi mungkin Byul-i nuna tidak akan menerimanya semudah itu.”

Pintu tiba-tiba terbuka dan Donghae berseru, “Ya! Aku bukan pria yang mudah menyerah, kau tahu?!” Lelaki itu melirik Lee Byul diam-diam.

“Sudah kuduga kau ada di sana.” Kyuhyun berkomentar. “Pergi sana, detektif bodoh.”

Donghae mengerucutkan bibir lalu menutup kembali pintu kamar Kyuhyun. Hye-Na berjalan ke pintu untuk memeriksa. “Mereka sudah pergi. Tapi, apa Donghae-ssi benar-benar….”

“Tentu saja, kau pikir apa? Donghae tertarik padamu?” tanya Kyuhyun. Hye-Na mengangguk polos. “Sudah kubilang tidak mungkin, kan? Mana ada laki-laki yang mau menikah denganmu?”

Hye-Na memicingkan kedua matanya dan mengomel. “Kalau tidak ada, aku bisa memaksamu untuk menikahiku, Bodoh!”

Kyuhyun hanya menghela napas panjang. “Tidak perlu kau paksa, Jelek!”

END

 

 

My Comment:

Apaan, yak? Aku nggak punya komen apa-apa sebenernya buat FF ini. It’s totally perfect. Tulisan, alur, tanda baca, tema cerita, karakter. Aku juga nggak tahu kenapa aku nggak milih FF kamu jadi juara, saeng (Do you still wanna be unknown? Hehehe.)

Ini beneran KyuNa banget, dari setiap aspek. Hihihi. Bodoh, Jelek, the way they call each other is totally cute.

Dan bagian endingnya kamu banget! Jiakaka. I still remember the previous FF you made for me. Endingnya sederhana, hanya sepenggal dialog, tapi aku selalu suka. Nggak perlu skinship apapun, tapi pesannya nyampe.

Ah dan aku juga udah bilang kan kalo kayaknya kamu bisa baca isi otak aku? Hahaha. Aku beneran pengen bikin cerita dengan genre kayak gini. Kyu jadi detektif, tapi aku nggak pernah mikir Hye-Na jadi fotografer, sih. Dan aku bersyukur banget Hae nggak jadi pihak yang tersakiti disini *elus Hae*

Aish, I hope you know what happen to me when you say you wanna join this contest. Muka aku merah, teriak-teriak gaje, dan nggak sabar buat segera baca *berasa lagi nunggu pernyataan cinta* And as always, you never disappoint me. I always adore your writing *poke Yoo*

Ah udah ah, lama-lama ini malah kayak pernyataan cinta *dijitak*