AUTHOR: KAFKA

 

 

Han Hye-Na’s Room

08.21 AM

Kyuhyun memperhalus gerak tangannya yang sedang membalut perban di tangan Hye-Na, mencoba meminimalisir rasa sakit yang akan ditimbulkan. Namun alih-alih kesakitan, Hye-Na malah dengan asyik memerhatikan setiap detail bagaimana tangan Kyuhyun dengan apik merawat tangannya. Pria itu melakukannya dengan konsentrasi penuh, dan ekstra hati-hati. Wajahnya nampak seperti sedang mengerjakan soal matematika.

Dengan telaten Kyuhyun memberikan ‘sentuhan terakhir’ pada perban itu, menempelkan beberapa sobekan plester dan mengusap gulungan perban itu dengan hati-hati, memastikan tak ada satupun luka gores yang tidak tertutupi.

“Kau tidak bekerja?” tanya Hye-Na dengan mata masih terpaku pada wajah pria itu. Kyuhyun datang dengan setelan jas kerja lengkap, maka tak heran jika Hye-Na berpikiran yang tidak-tidak tentang kedatangannya. Mangkir kerja lagi, atau izin dengan alasan konyol, menggantikan perban kekasihnya.

“Setelah kewajibanku selesai. Lagipula aku tak bisa melakukan banyak tanpa Donghae hyung di kantor.”

Hye-Na terkekeh pelan, “Jung ajjumma bisa menggantikannya untukku.”

“Apa aku harus mengatakannya lagi?” tanya Kyuhyun seraya menatap gadis itu dengan intens, berusaha menyampaikan maksudnya tanpa harus berkata-kata lebih panjang lagi. Ditatap seperti itu Hye-Na mulai mengerti. Ia tahu persis apa yang akan dikatakan Kyuhyun selanjutnya.

“Kau tidak mengizinkanku mengganti perban jika bukan kau yang menggantinya,” ucapnya malas, lalu berhenti sejenak. “Kau mengatakannya empat kali dalam minggu ini.”

“Pintar,” ucap Kyuhyun singkat lalu tersenyum girang. Ia merasa berhasil membiasakan Hye-Na dengan perlakuan yang memang seharusnya gadis itu dapatkan darinya. Perlakuan yang tak akan pernah ia samakan dengan yang lainnya.

Sementara Kyuhyun sibuk membereskan alat-alat yang ia gunakan untuk mengganti perban, Hye-Na dengan santainya mulai berbaring dan menarik selimutnya lagi. Ia nyaris tertidur nyaman dengan seluruh tubuh meringkuk dibawah selimut jika saja Kyuhyun tidak menarik lagi selimut itu dengan satu sentakan tangan kanannya. Sebenarnya Hye-Na bisa saja menarik selimut itu lagi dan melangsungkan perang tarik-menarik selimut dengan Kyuhyun, namun mengingat saat ini tangannya sedang dalam kondisi payah, ia tidak berani mengambil resiko apapun.

“Kau ini gadis atau bukan? Cepat bangun atau aku akan melakukan hal yang lebih membahayakanmu lagi, Na~ya,” ancamnya dengan penuh penekanan. Hye-Na membalik tubuhnya sampai membelakangi Kyuhyun, mecoba menghiraukan ancaman yang sebenarnya sudah membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Apa hal membahayakan yang bisa dilakukan Kyuhyun?

“Hye-Na ssi.” Hye-Na merasakan bisikan pelan tepat di lehernya, membuat gadis itu merasakan bulu kuduknya kini sudah meremang sempurna. Padahal Kyuhyun baru mengatakan satu kata di lehernya, tapi efeknya sudah seperti terjangan angin pertama musim gugur. Dingin. Menusuk.

Butuh beberapa detik bagi Hye-Na untuk menyingkirkan wajah Kyuhyun dari lehernya, dan setelah tangan payahnya bergulat dengan wajah Kyuhyun, ia menyerah. Kyuhyun masih tengkurap di atas kasur dengan wajah tepat di leher Hye-Na, dan kini dia mulai meniup-niupkan napasnya disana.

“Baiklah, aku bangun!” jerit Hye-Na frustasi, merasakan bahwa jika ia berada dalam posisi itu sedetik lagi, ia akan mati dengan indikasi serangan jantung. Ia bangkit dan duduk bersila, masih mencari-cari kesadarannya yang bertebaran entah kemana.

Kyuhyun tertawa keras masih dengan posisi tengkurap sehingga suaranya teredam bantal. Hye-Na yang berada disampingnya dengan refleks menoyor kepala pria itu ringan, berusaha menghentikan tawanya yang menyiratkan “wajahmu tampak bodoh, Na~ya”.

Kyuhyun tidak berhenti. Mencoba mengacuhkannya, Hye-Na beranjak dari kasur dan berniat akan masuk kedalam kamar mandi, menjauhi pria itu sebisa mungkin, setidaknya untuk saat ini, sebelum ia benar benar berubah menjadi gadis dengan kulit wajah penuh rona hanya karena hembusan napas pria di lehernya. Konyol. Sudah cukup lama Hye-Na mengenal pria itu, namun ia sama sekali tak bisa merubah reaksinya jika pria itu melakukan sesuatu diluar nalarnya. Hal-hal yang berpotensi membuat jantungnya berdetak di luar kendali, membuatnya melambung tinggi dan merasa diperlakukan terlalu istimewa. Itulah efek dari satu sentuhan seorang Cho Kyuhyun. Tidaklah salah jika pria itu me-rating perlakuannya sendiri sebagai suatu hal yang membahayakan bagi Hye-Na.

Sebelum berhasil mencapai pintu kamar mandi, Hye-Na merasakan tangannya ditarik dan tubuhnya dihempaskan ke dinding. Cukup kasar, namun ia tidak sempat mengaduh sakit karena wajah pria itu tiba-tiba saja muncul dengan jarak luar biasa minim dan mengisyaratkannya agar diam. Sama sekali tak ada kata-kata yang terlontar, namun mata elang khas Kyuhyun mengatakan seluruhnya dengan gamblang. Memerintahnya untuk menuruti seluruh keinginan pria ini.

“Apa?” tanya Hye-Na refleks. Wajahnya menatap kosong seakan terhipnotis oleh sentuhan Kyuhyun di pinggang dan tangannya.

“Aku belum melakukan ritualku pagi ini, Han Hye-Na ssi.”

Kemudian kedua tangan Kyuhyun terangkat, merengkuh wajah gadisnya hati-hati seolah wajahnya serapuh dahan pohon di musim kemarau yang bisa patah hanya dengan satu sentuhan. Hye-Na berusaha mencerna banyak hal, salah satunya mendapati fakta bahwa sosok sempurna di depan matanya ini miliknya, baik raga dan hatinya.

Kyuhyun menurunkan kepalanya ke kepala Hye-Na dan Hye-Na berjinjit, mengulurkan kedua tangannya untuk dikalungkan ke leher jenjang Kyuhyun. Kedua pasang mata itu terpejam sempurna, hidung mereka bersentuhan dan….

“Tuan Kyuhyun, ponselmu berdering dan kau meninggalkannya di….”

Kyuhyun dan Hye-Na tersentak, mereka refleks menjauh seperti magnet sekutub ketika Jung ajjumma datang dan dengan jelas menyaksikan posisi keduanya yang memang sudah menyiratkan sesuatu semacam… kontak fisik yang cukup intens. Tanpa sadar Hye-Na mengeluarkan rona merah di pipinya, lalu memalingkan wajah agar Kyuhyun maupun Jung ajjumma tak dapat melihat gradasi warna di wajahnya. Terlalu memalukan.

“Maafkaan saya,” ujar Jung ajjuma lalu membungkuk dalam, merasa bersalah karena membuat romansa yang tercipta menjadi porak-poranda. Ia juga merasa bersalah ketika melihat raut wajah Kyuhyun menyiratkan kekecewaan, namun pria itu dengan sigap menggantinya dengan raut wajah dingin. Tanpa ekspresi, lebih tepatnya.

“P… pp… ponselmu tertinggal di meja ruang tamu, Tuan. Dan… tidak berhenti berdering sejak tadi.”

Hye-Na melepaskan tangan Kyuhyun yang berada dibahunya lalu mendorong pria itu menjauh.

“Kurasa panggilan penting.” ujar Hye-Na pelan, lalu terkekeh ketika melihat Kyuhyun mendesah berat. Dengan langkah dipaksakan Kyuhyun menghampiri wanita paruh baya itu dan menerima ponselnya, menekan tombol hijau dan menempelkan batang tipis berwarna hitam itu di telinganya.

“Yeoboseyo?”

“….”

“Eo. Arasseo. Aku pergi sekarang.”

“….”

Suasana membeku sesaat setelah Kyuhyun mengakhiri sambungan di ponselnya. Ia berjalan mendekati Hye-Na yang tengah berkutat di wardrobe-nya. Kyuhyun menyandarkan bahu pada pintu wardrobe itu dan menatap Hye-Na yang tengah sibuk dengan aktivitasnya dari samping.

“Donghae hyung melimpahkan pekerjaannya padaku.”

“Lalu?”tanya Hye-Na dengan aktivitas yang sama sekali tidak terusik.

“Kalau aku tidak ingin pergi sekarang bagaimana?.” tanyanya santai, lebih menjurus pada sebuah pernyataan.

Seakan melakukan ancang-ancang untuk menjawab, Hye-Na berhenti mengurusi pakaiannya dan beralih menatap Kyuhyun, berjalan mendekati pria itu hingga kini keduanya berhadapan.

Hye-Na mendesis, “Baboya. Cepat kerja atau….”

Kyuhyun menempelkan bibirnya pada bibir Hye-Na dalam hitungan detik, memotong kalimat gadis itu karena ia tahu apa yang akan gadis itu katakan selanjutnya.

“Aku akan bekerja dan mencari uang. Jadi berhenti mencemaskan masa depanmu karena aku akan menjaminnya, Na~ya.”

Hye-Na tertawa kecil dan dengan luwes melepaskan diri dari rengkuhan Kyuhyun, mendorong pria itu agar keluar dari kamarnya sekarang.

“Kalau begitu mulai sekarang aku juga akan mempertimbangkan kekayaanmu,” ujarnya sambil terkekeh, bergegas menutup pintu kamar sebelum Kyuhyun kembali merecokinya dengan kata-kata lain yang dipastikan mampu membuatnya merasakan side effect dari seorang Cho Kyuhyun. Lagi.

Seperti yang diperkirakan, kini Hye-Na tersenyum sinting, bahkan sudah mampu mendiagnosis dirinya sendiri terkena penyakit jiwa karena kedatangan Kyuhyun. Ia memutuskan untuk berlari kecil ke kamar mandi, melangsungkan niat mandinya yang tertunda sejak tadi, namun lagi-lagi digagalkan. Kali ini oleh suara dering ponselnya diatas nakas.

Hye-Na bersenandung dalam perjalanan pendeknya menuju nakas di sisi kanan kasur, dan senandungnya berhenti tanpa diperintahkan ketika ia melihat serangkaian huruf tertera di layar ponselnya. Dengan tangan sedikit bergetar ia meraih ponsel itu, lalu menempelkannya di telinga, bersiap-siap menjadi pendengar terbaik.

“Yeo… yeoboseyo, ajjumma.”

Sambil mempertahankan posisi ponsel di telinganya, ia duduk mencari posisi yang nyaman. Ia tahu pembicaraan dengan wanita ini tidak akan berlangsung cepat.

“Hye-Na~ya, kau sudah ke WO? Memesan gedung beserta dekorasinya? Kudengar ayahmu mengenal pendeta Jun-Hyung, ia cukup baik untuk menikahkanmu nanti dengan Kyuhyun. Oh ya, kau sudah memesan…….”

Hanya itu sederet kata yang mampu Hye-Na dengar, selebihnya ia memang sengaja menutup saluran pendengarannya rapat-rapat. Ia mengenal baik wanita ini. Lee ajjumma memang orang yang sedikit… ralat, sangat freak dengan hal-hal berbau pernikahan.

“Hye-Na~ya, kau mendengarku?”

Hye-Na terpaksa menajamkan lagi konsentrasinya. Ia berdehem dan mulai bersiap merangkai kata-kata fiktif seandainya wanita ini bertanya hal yang tidak-tidak, menurut Hyena. Hal tentang pemesanan ini itu, pembelian ini itu, persiapan ini itu dan semua yang mencakup hal pernikahan.

“Tentu saja, ajjumma,” ujarnya berbohong dengan pita suara yang sedikit tercekat, namun cukup meyakinkan untuk dipercayai.

“Jadi… WO mana yang akan kau pilih? Apa Kyuhyun tahu kau akan mengenakan gaun turun-temurun ibumu nanti?”

“Emm… aku belum membicarakannya dengan Kyuhyun, ajjumma,” ucapnya sedikit ragu.

Tak ada suara terdengar selama beberapa detik, membuat Hye-Na menghembuskan napasnya lega karena tidak ada investigasi lebih lanjut mengenai cerita karangannnya ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya karangan, ia memang belum membicarakan hal apapun tentang pernikahan dengan Kyuhyun. Lebih tepatnya… belum ada kata pernikahan diantara keduanya meskipun Kyuhyun berulangkali menyinggungnya, secara tidak langsung.

“Kau belum mebicarakannya?”

Hye-Na tetap mengangguk meskipun tak terlihat. “Eo. Kyu sedang sibuk menggantikan Donghae beberapa hari ini, ajjumma. Aku belum bisa berkomunikasi langsung dengannya selain di ponsel.”

Oke, yang satu ini Hye-Na memang berbohong. Jelas-jelas setiap pagi Kyuhyun datang ke rumahnya meskipun hanya untuk menjalankan ‘rutinitas’ konyolnya.

“Benar-benar belum mebicarakannya?” tanya wanita paruh baya itu masih dengan nada tak percaya. Bukankah Kyuhyun sudah mantap dengan hubungannya? Lalu apa yang ia tunggu? Atau jangan jangan….

“Apa Kyuhyun belum melamarmu?”

***

 

Office

11.34 AM

Kyuhyun menghela napasnya dalam-dalam lewat mulut, menunggu sesuatu yang akan terdengar dari corong ponsel yang tertempel di telinganya. Nada tunggu itu benar benar terdengar memuakkan untuk saat ini.

Kau berani tak mengangkat teleponku, hyung? ujarnya dalam hati, menunggu kepastian beberapa detik lagi sebelum ia benar-benar memutuskan untuk berhenti menunggu seseorang mengangkat sambungannya di seberang sana.

“Yeoboseyo?”

Napas Kyuhyun mulai beraturan. Ia mengatur setiap oksigen yang masuk kedalam hidungnya dengan perlahan, mencoba meminimalisir perasaan aneh yang ingin membuncah sedari tadi. Perasaan aneh saat akan berkonsultasi dengan seorang Lee Donghae.

“Kyuhyun~a, ini… kau?”

Suara Kyuhyun sudah terkontrol dengan baik, “Eo. Ini aku, hyung.”

“Wae?”

Kyuhyun menelan ludahnya saat mendengar pertanyaan itu. Ia menahan napasnya sejenak, lalu lambat laun kata demi kata itu mulai mengalir bak aliran gletser yang baru terbentuk. “Bisakah kau menjauh dari Ga-Eul sekarang? Aku butuh privasi saat ini.”

Terdengar suara kekehan pelan dari Donghae, lalu setelah beberapa saat Donghae mulai berbicara lagi.

“Aku sudah di luar hotel. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya cepat, tahu jika Kyuhyun akan menanyakan sesuatu yang sedikit sakral jika sudah meminta privasi.

“Bagaimana dulu kau memutuskan untuk menikah? Apa hanya karena Ga-Eul memaksamu?”

Hening. Perlu waktu yang cukup lama bagi Donghae untuk mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari mulut adik semata wayangnya itu. Saat mengerti arah pembicaraannya, Donghae lagi-lagi terkekeh, namun kini dengan suara yang lebih pelan.

“Kupikir kau tipikal pria yang tidak peduli dengan faktor apapun saat akan menikahi wanita, selain ingin memiliki wanita itu seutuhnya.”

Tangan Kyuhyun merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan satu kotak perak yang berkilauan, dan mengeluarkan sebuah cincin sederhana, namun mewah, dari dalamnya. Cincin yang sudah ia persiapkan sejak lama. Ia membelinya bersama Donghae, tepat saat Donghae juga akan melamar Ga-Eul. Namun sampai saat ini cincin itu sama sekali belum berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagaimana mestinya menjadikan Hye-Na dapat ia miliki seutuhnya.

Jarinya bergerak memainkan cintin itu, memelintirnya ringan. “Jadi… jika aku tipikal orang seperti itu… tidak perlu ada alasan untuk menikahinya bukan?”

Donghae menjentikkan jarinya, “Tepat sekali.”

“Masalah utamanya adalah, kau hanya perlu memantapkan hatimu lebih jauh, mempersiapkan dirimu untuk menanggung tanggungan istrimu nantinya.” lanjut Donghae bijak, menampilkan sisi dewasanya, sebagai orang yang lebih berpengalaman.

“Aku tidak mengerti soal tanggungan. Aku hanya berniat membuatnya diam di sisiku selama mungkin. Jika mengacu pada sudut pandangku, kurasa aku bisa menikahinya sekarang juga.”

Donghae tak dapan menahan tawa terbahak-bahaknya.

Kyuhyun tahu pada akhirnya akan seperti ini, jadi ia hanya diam dan menunggu Donghae menyelesaikan tawanya. Tak butuh waktu lama. Sekitar satu menit dan Kyuhyun sudah mendengar Donghae berdehem, bersiap menjawab kegelisahannya.

“Kau tahu, Kyu? Kau terkena pra-wedding-syndrome,” ujar Donghae percaya diri, menyampaikan diagnosanya terhadap gejala-gejala yang ditampilkan Kyuhyun. Selalu meragukan keputusan yang akan ia ambil.

“Terdengar menjijikan,” jawab Kyuhyun santai.

“Mungkin. Tapi… itu sama sekali tidak buruk. Kurasa tak ada masalah dengan psikismu. Kau hanya perlu meyakinkan Hye-Na sekarang.”

Kyuhyun tersenyum tipis, “Kurasa tak perlu. Aku yakin dia sudah memercayaiku seutuhnya.”

“Kau terdengar seperti mempelai pria yang akan menikah besok,” ujar Donghae seraya terkekeh.

“Sepertinya ide yang bagus, hyung,” balas Kyuhyun santai, merasa ia memang sudah mendapat jawaban yang ia cari. Ia tak memerlukan apapun untuk diyakinkan lagi, saat ini ia hanya perlu melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Menikahi gadis itu secepat yang ia bisa.

“Gomaweo, hyung.”

Donghae tersenyum di balik ponselnya. “Hmm. Cheonma.”

“Bagaimana London?” serang Kyuhyun tiba-tiba, mencoba mengalihkan pemebicaraan ber-privasi-nya menjadi pembicaraan yang lebih umum. Apakah bulan madu menjadi pembicaraan yang umum untuk saat ini? Ya, untuk pengantin baru seperti Donghae terutama.

“Aku yakin kau akan menikahi Hye-Na sore ini juga jika aku menceritakan bagaimana bulan maduku disini.”

Kyuhyun mendecak, “Apa yang sudah nona psycho itu lakukan padamu sampai….”

“Berhenti memanggilku seperti itu atau aku akan mempersulit pernikahanmu, Cho Kyuhyun ssi!”

Kyuhyun menutup kotak cincin yang ia genggam ketika mendengar suara nyaring Ga-Eul di speaker ponselnya.

Baiklah, sama sekali tak ada privasi di pembicaraan sebelumnya.

Ia menghela napas berat sebelum mebalas ancaman Ga-Eul padanya.

“Kurasa Hye-Na-ku tidak akan membiarkan siapapun mempersulit pernikahan ini, Ga-Eul~a.”

***

 

Night

Hyena’s Room

23.09 PM

DDDRRRRTTT~ DDRRRRTTT~

Ini adalah saat-saat dimana Hye-Na melaknat penemu ponsel. Ia benar-benar benci jika harus diganggu tengah malam seperti ini oleh getaran-getaran yang sama sekali tidak berkompromi dengan rasa kantuknya.

Kyuhyun, calling…

Hye-Na menyipitkan mata untuk memperjelas caller ID yang tertera di layar ponselnya. Untung ia tidak sampai hati melaknat Kyuhyun seperti yang ia lakukan pada penemu ponsel.

Walaupun rasa kantuknya tak terkalahkan, jika Kyuhyun yang menghubunginya, apapun bisa menjadi mudah. Sudah terbukti banyak bahwa pria ini mampu mengendalikan alam bawah sadar Hye-Na seutuhnya, seperti hipnotis atau semacamnya, Hye-Na sendiri tak tahu persis.

“Yeoboseyo?” ucap Hye-Na malas, semalas-malasnya. Ia bangkit duduk dan bersandar pada kepala kasur. “Ada apa, Kyu?” tanyanya serak sambil merapikan poninya yang berantakan di kening.

Untuk beberapa detik udara seakan membeku, namun Hye-Na dapat mendengar napas Kyuhyun mengalir, ia kembali bersuara.

“Aku mengganggumu, ya?” tanya Kyuhyun lembut, dengan suara rendah yang… Hye-Na akui secara terang-terangan lebih dari cukup untuk sekedar menggodanya.

“Kau tahu sendiri aku tak dapat mentolerir waktu tidurku, Kyu.”

“Baiklah. Aku minta maaf, Na~ya.”

Bukannya menjawab, Hye-Na malah bertanya hal lain. Ia cukup penasaran dengan modus Kyuhyun meneleponnya nyaris tengah malam begini. Biasanya pria itu langsung datang dan bertengger seperti ninja di depan balkon kamarnya.

“Ada apa? Tumben sekali.”

“Hanya merindukanmu,” jawabnya dengan napas tertahan. “Lagipula sudah kukatakan berulang kali, biasakan diri untuk menemukanku atau sekedar mendengar suaraku. Kau seharusnya sudah tidak asing dengan gerak-gerikku, Na~ya.”

“Ya, ya. Aku mengerti,” sahut Hye-Na sekenanya. Ia sedikit bosan karena Kyuhyun cukup sering melontarkan kalimat ini. Membiasakan diri. Dan Hye-Na sama sekali belum pernah berhasil melakukannya.

“Kau sedang dimana? Sepi sekali,” tanya Hye-Na asal, mulai membuka pembicaraan.

Kyuhyun menyeringai di balik ponselnya, “Kau memiliki insting tentang keberadaanku, ya?”

Alis Hye-Na bertaut bingung, ia sama sekali tak mengerti apa yang baru saja Kyuhyun katakan. Insting?

“Buka pintu balkonmu. Kuberi waktu dua puluh detik.”

Hye-Na mulai mengerti. Arwah ninja Kyuhyun sudah kembali dari persemayamannya.

Ia bergegas menyibak selimutnya, berlari kecil ke pintu balkon meskipun tahu sebenarnya tidak perlu dua puluh detik. Ponselnya nyaris saja jatuh ketika melihat Kyuhyun bersandar pada pagar balkon, dengan pakaian casual, mengenakan topi baseball favoritnya, tengah tersenyum penuh intrik. Saat melihat pria itu Hye-Na baru menyadari satu hal. Ia tidak akan pernah berhasil membiasakan diri dengan segala hal tentang Kyuhyun, berorientasi pada kenyataan bahwa kejutan yang pria ini lakukan sama sekali tak pernah gagal membuat mulutnya menganga keheranan.

“Sudah kukatakan padamu, gunakan pintu rumah sebagaimana mestinya!” tukas Hye-Na saat Kyuhyun menegakkan tubuhnya, mematikan ponsel dan menyimpannya dalam saku.

“Shireo.”

Kyuhyun mendekati Hye-Na yang masih tertahan di posisinya semula. “Kau sangat berbakat menjadi pencuri, Kyu,” desis Hye-Na tajam, menyindir kemampuan memanjat pria ini habis-habisan.

“Aku memang berniat mencuri hari ini.”

Hye-Na tidak sempat berpikir panjang kalau sebenarnya… Kyuhyun akan mencuri ciumannya. Terlalu cepat sampai Hye-Na hanya bisa menutup mata dan merasakan sesuatu yang dingin di bibirnya, terlalu cepat juga sampai ia tak menyadari kalau ia sudah tak memiliki jarak dengan Kyuhyun. Mungkin sedikit gila, tapi disaat kesadarannya perlahan menurun, Hye-Na mulai bereaksi terhadap kontak fisik yang ia rasakan di bibirnya. Mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun, sedikit berjinjit untuk menyetarakan sensasi kenyamanan yang mulai menggerogoti tengkuknya saat ini.

Perpagutan yang intens, lambat, namun semakin liar.

Keduanya bergerak seirama. Hye-Na baru akan menjulurkan jari tangannya untuk mengusap tengkuk Kyuhyun ketika ia tiba-tiba merasakan tangan kirinya berdenyut. Mungkin karena keduanya yang sama-sama tidak bisa diam. Hye-Na menginterupsi ciuman itu dan mendorong dada Kyuhyun menjauh.

“Kyu, tanganku sakit,” ujarnya pelan, masih dengan napas sedikit memburu.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada gulungan perban di tangan kiri Hye-Na, “Aku melukaimu?”

Hye-Na dengan cepat menggeleng. “Tidak.”

Sulit memang untuk sekedar melepaskan pelukan, bagi Kyuhyun, namun ia tak akan membiarkan Hye-Na kesakitan lebih lama lagi.

Hye-Na yang tahu Kyuhyun mulai merasa bersalah langsung menjulurkan badannya, mengecup pipi pria itu sekilas, lalu memandang sorot matanya intens. “Aku tidak apa-apa.”

Udara dingin di luar yang membuat suara Hye-Na semakin tercekat, membuat Kyuhyun merasa ia harus menyelesaikan misinya dengan cepat. Ia tak ingin melihat bibir gadis itu menjadi lebih pucat kedinginan karena… bibir pucat gadis ini jauh lebih menggoda dari lipstick semerah apapun.

“Kau tahu? Seorang pencuri biasanya meninggalkan jejak di tempat yang dicurinya.”

Wajah Hye-Na berkerut, ia mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya akan Kyuhyun katakan. Malam ini seluruh kalimat Kyuhyun terdengar kompleks di telinganya. Sulit dicerna.

Tangan Hye-Na merasakan sesuatu yang dingin menyentuhnya. Tangan Kyuhyun. Seperti biasa, Hye-Na hanya bisa diam saat Kyuhyun melancarkan aktivitas-aktivitas di luar nalarnya. Kali ini dengan memasangkan cincin berlian yang sederhana, namun berkelas karena terdapat berlian mungil di pusatnya. Pria itu memakaikannya hati-hati ke jari manis Hye-Na tanpa berkata apapun, berkonsentrasi agar benda yang ia jaga setengah mati itu terpasang sempurna, sebagaimana mestinya.

“Aku akan meninggalkan jejakku disini,” ucapnya pelan dan mencium jari manis Hye-Na yang mendingin akibat suhu logam yang terkonduksi dengan baik ke kulitnya.

Sesaat Hye-Na masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Mendadak kilatan flashback mengenai pembicaraannya dengan Lee ajjumma mengenai lamaran Kyuhyun hinggap di memorinya. Saat itu ia sama sekali tidak bisa menjawab karena Kyuhyun belum memberikan benda simbolik ini meskipun sering menggodanya dengan kata yang menjurus pada pernikahan, namun yang ini lebih dari nyata, jelas, terarah, dan sama sekali belum pernah ia dengar dari mulut Kyuhyun.

Mungkin seharusnya Hye-Na tidak bertingkah bodoh dengan diam tanpa ekspresi semenjak ia sudah pernah dilamar dua kali, oleh Donghae dan Kyuhyun. Namun… rentetan kata yang Kyuhyun berikan jauh lebih membuat hatinya lebih bergetar, mengusik intuisinya.

“Kau… begini caramu melamarku?” ucap Hye-Na akhirnya, merutuki dirinya sendiri mengapa ia menjadi begitu sarkastik membalas perlakuan paling romantis yang pernah Kyuhyun lakukan. Ia tahu, ia terlalu gugup. “Tidak mengatakan would you marry me, atau sekedar meminta izinku untuk memasang cincin ini?”

Kyuhyun tertawa renyah, mengeratkan topi baseball yang ia kenakan. “Kau sebenarnya mengharapkan aku atau Donghae hyung yang melamarmu, hah? Sudah, terima saja. Aku malas melakukannya berulang kali, terlebih dengan cara yang sama sekali bukan style-ku, Na~ya.”

Ekspresi Hye-Na mengkerut. Sesekali ia ingin melihat Kyuhyun melakukan sesuatu yang sedikit diluar kebiasaannya. Menyaingi keromantisan seorang Lee Donghae.

Melihat wajah itu Kyuhyun berdecak, “Baiklah, akan kuulangi, tuan putri.”

Hye-Na terrsenyum penuh kemenangan, lalu merasakan Kyuhyun menggenggam tangannya erat dan menundukkan badannya. Memposisikan bibirnya tepat di telinga Hye-Na.

“Han Hyena ssi, aku akan menjadikanmu istriku dalam waktu dekat ini, sedekat mungkin. Tapi aku tak perlu izinmu, tentu saja. Aku akan melakukan apa yang aku inginkan, namun kupastikan itu sama sekali tidak akan merugikanmu.”

Kini giliran Hye-Na yang mendecak frustasi, mendorong kepala Kyuhyun menjauh dari telinganya.

“Lupakan saja. Kau benar-benar tidak cocok mengatakannya.”

Senyum kemenangan berpihak pada Kyuhyun. Pria itu nyaris meledakkan jantungnya karena merasa berhasil melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tak butuh waktu lama lagi sampai ia menyempurnakan seluruh hidupnya.

“Ada satu hal lagi,” ucap Kyuhyun mendadak seraya merengkuh pinggang Hye-Na, berjalan mendekati pagar balkon. Kyuhyun mengurung tubuh gadis itu di tengah kedua tangannya yang bertumpu pada pagar, lalu menajamkan sorot matanya untuk melihat mata gadisnya lebih intens.

“Aku akan pergi ke Saitama selama empat hari. Besok aku akan meminta eomma untuk mempersiapkan semuanya. Kita menikah setelah aku pulang dari sana.”

Dengan refleks Hye-Na membulatkan matanya. Lagi-lagi pria ini memberikan kejutan maha dahsyat yang mampu membuat jantungnya mengempis tiba-tiba.

“Mwoya?! Kau gila atau apa?”

Tanpa memedulikan protes Hye-Na, Kyuhyun melanjutkan presentasi tentang rencana yang sudah ia susun beberapa waktu kedepan. “Sorenya kita ke Maldives untuk berbulan madu. Kebetulan Donghae hyung dan Ga-Eul akan pulang saat kita menikah, jadi urusan kantor sudah tak masalah.”

Berulang kali Hye-Na mencoba menampar kawarasannya, namun gagal. Yang tidak waras bukan ia, tapi pria dihadapannya ini. “Kau membicarakan pernikahan seperti membicarakan piknik, tahu.”

Kyuhyun tersenyum tipis, menyentuhkan ujung lidah topinya ke dahi Hye-Na. “Tidak juga. Kudengar kau akan memakai gaun ibumu. Jadi setidaknya 5% persiapan sudah selesai. Dan… pernikahan ini tak akan gagal di tangan eomma, jadi… tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Hye-Na tertawa ringan, menyetujui apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun. “Kau benar. Aku akan merekomendasikannya untuk membuka WO saja, khusus pernikahan dengan persiapan kurang dari satu minggu.”

Keduanya tersenyum puas seakan satu beban mereka baru saja menguap. Kyuhyun menegakkan tubuhnya, memberikan keluasan bergerak untuk Hye-Na, lalu meluncurkan tangannya untuk merapikan rambut gadis itu perlahan.

“Sampai jumpa lima hari lagi, Na~ya.”

***

 

Wedding Planner

12.33 PM

 

Hye-Na berulang kali menguap, mencoba menekan rasa kantuk yang menyerangnya. Terang saja, kedatangan Kyuhyun tadi malam membuat jam tidurnya menjadi sangat minim, dan siang ini Lee ajjumma sudah menariknya paksa ke sebuah gedung WO atas perintah Kyuhyun, yang ia respon dengan senang hati.

“Anakku tak ingin hal yang terlalu bermewah-mewah. Mungkin seikit konsep Eropa dan modern Asia bisa dijadikan konsepnya. Ia juga tidak….”

Seperti biasanya, Hye-Na hanya menangkap kata-kata Lee Ajjumma tidak sampai satu paragraf. Sisanya ia gunakan untuk memikirkan hal lain, mengelilingkan matanya ke seluruh penjuru ruangan yang interiornya serba putih dan berbunga. Melihatnya saja membuatnya mulas.

Ia merasakan ponsel yang ia simpan di clutch-nya bergetar. Segera ia merogoh tas itu dan tersenyum lebar ketika melihat siapa yang menghubunginya.

“Ajjumma, boleh aku permisi? Appa meneleponku,” ujarnya dengan wajah berbinar, sebisa mungkin terlihat meyakinkan.

“Eo, cepat kembali.”

Hye-Na beranjak dan berjalan menjauh dari ruangan itu, merasa lega saat ia tidak perlu lagi tersiksa secara lahiriah karena menahan kantuk saat mendengar ornamen-ornamen pernikahan disebutkan satu persatu.

“Yeoboseyo.”

“Hye-Na~ya!!! Aaaa… bogoshipeo!!!”

Hye-Na tersenyum lebar, sudah hampir satu minggu ia tidak melihat Ga-Eul, dan sama sekali tidak ada komunikasi apapun semenjak Lee ajjumma melarang Ga-Eul menelepon siapapun selama 5 hari pertama di bulan madunya.

“Nado bogoshipeo,” ujar Hye-Na pelan, berusaha tidak menarik perhatian karyawan WO yang berlalu-lalang dihadapannya.

“Maaf aku tidak bisa ikut mengurusi pernikahanmu, Hye-Na~ya. Aku berjanji aku akan memberikanmu oleh-oleh yang banyak jika kau memaafkanku!” cerocos Ga-Eul tanpa menarik napas. Hye-Na hanya bisa terkekeh pelan mendengar nada suara Nyonya Lee yang bertransfrormasi lagi menjadi rengekan manja seorang Cho Ga-Eul.

“Arasseo. Gwaenchana.”

Sekitar beberapa detik mereka terdiam, mencoba mencari topik pembicaraan. Ga-Eul yang kini memulainya.

“Aku tak menyangka Kyuhyun akan bertindak secepat itu, Hye-Na~ya.”

Bahkan ia sendiri tak pernah memprediksi bahwa pria itu akan jauh lebih gesit dari sonic sekalipun.

“Hye-Na~ya?”

Hye-Na tercekat ketika Ga-Eul menyadarkannya. Ia mulai membenahi suaranya kembali agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang-orang di sekitar yang tengah berlalu-lalang.

“Eo, Ga-Eul~a. Aku juga sedikit merasa sinting jika memikirkannya. Belum lebih dari empat bulan aku mengenalnya, tapi… kau tahu? Ia terlalu meyakinkan untukku.”

Ga-Eul terawa ringan, “Aku tahu. Kalian berdua bahkan terlalu meyakinkan untukku.”

Keduanya tertawa bersama, namun entah karena apa Hye-Na merasa canggung dengan tawanya sendiri saat ini. Ia tiba-tiba merasa… belum semeyakinkan itu dihadapan Kyuhyun. Alih-alih memikirkannya lebih jauh, Hye-Na lebih memilih mentransfer arah pembicaraannya.

“Bagaimana bulan madumu?” tanyanya singkat.

“Aku takut kau memaksa Kyuhyun untuk menikahimu sekarang juga jika aku menceritakan bagaimana bulan maduku, Hye-Na~ya,” ucap Ga-Eul seraya mengerling di balik ponselnya, mencoba menggoda Hye-Na sebisa mungkin.

“Kau pegang ucapanku. Aku tidak akan pernah melakukan hal memalukan itu, Ga-Eul~a.”

“Hye-Na~ya, kau sudah selesai?”

Hye-Na mengeratkan genggaman pada ponselnya ketika melihat Lee ajjumma berjalan mendekatinya, lalu berbalik untuk mengucapkan ‘kode’ intrik pada Ga-Eul sebagai bumbu sandiwaranya.

“S.O.S,” bisiknya cepat, lalu menaikkan nada bicaranya lebih keras. “Appa, nanti kuhubungi lagi. Saranghaeyo.”

Ga-Eul sudah mengerti apa yang terjadi, jadi Hye-Na tidak perlu menjelaskan lagi panjang-lebar apa yang menyebabkan ia bersandiwara sebodoh itu.

Menelepon appa? Ck, apa tidak ada skenario lain yang lebih kreatif? batin Ga-Eul sambil merutuki kebodohan sahabatnya itu.

Hye-Na berbalik dan tersenyum manis pada Lee ajjumma,

“Kau harus cepat masuk, kita memilih dekorasinya hari ini,” sambung Lee ajjumma seraya menarik, paksa, lengan kanan Hye-Na untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Yah, Hye-Na sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam. Oksigen yang ada di dalam seolah-olah menjadi gas tidur baginya.

Keduanya duduk kembali di tempat semula. Hye-Na mengedarkan pandangan matanya pada deretan foto yang berjajar rapi diatas meja dihadapannya. Foto dekorasi pesta.

“Hye-Na, bagaimana dengan dekorasi yang ini? Kurasa Kyu akan suka,” ujar Lee ajjumma seraya menunjuk selembar foto dengan dekorasi bunga dan bernuansa hijau soft di setiap ornamennya.

Dan ia baru mengerti mengapa ia merasa belum meyakinkan bagi Kyuhyun. Selama ini ia terlalu terhanyut oleh perlakuan Kyuhyun padanya sampai-sampai ia tidak tahu detail seperti apa yang Kyuhyun sukai. Ia merasa terlalu… egois? Mungkin.

“Kurasa ajjumma lebih tahu apa yang Kyuhyun sukai daripada aku,” ucapnya pelan, memasang senyum terpaksa.

***

 

The next day

15.44 PM

Hy-Na mendengus, sedetik kemudian menatap ngeri sepasang benda yang ada dihadapannya.

High heels.

Ia bersumpah demi apapun jika Kyuhyun bisa memaksa Lee ajjumma untuk membiarkannya menikah tanpa benda keramat itu, ia akan mengabulkan semua permintaan Kyuhyun. Namun tidak semudah yang dibayangkan, ternyata pemakaian sepasang benda berkilauan ini dikakinya sudah didukung habis-habisan oleh seluruh orang disini. Lee ajjumma dan eommanya sendiri.

Hye-Na menggeleng pelan sambil menatap ibunya, berusaha mengemis pengertian bahwa ia benar-benar tidak ingin memakainya lagi, setelah terakhir ia mengenakan yang setinggi ini saat pertunangannya dengan Lee Donghae karena saat pernikahan Donghae dan Ga-Eul, ia dengan santainya memakai flatshoes.

“Tidak ada kompromi untuk kali ini, Hye-Na~ya. Ini pernikahanmu dan kau masih bersikeras memakai flatshoes? Hhh~ Eomma berjanji akan membuang semua flatshoes di lemari sepatumu setelah ini.”

Hye-Na memanyukan bibirnya, lalu memejamkan matanya frustasi.

Baiklah. Demi bocah bodoh bernama Cho Kyuhyun, ujarnya menyemangati diri sendiri-yang terasa sia-sia saja.

“Ayo berdiri.”

Hye-Na menerima uluran tangan Lee ajjumma dan mulai berdiri perlahan, menyebabkan gaun pengantin yang tengah dipakainya terjuntai manis menyapu lantai, membuat kesan glowing bride berlaku bagi penampilan Hye-Na saat ini.

“Aigooyaaa. Aku tidak sabar mendengar reaksi Kyuhyun,” ujar Lee ajjumma semangat, diikuti anggukan senang eommanya. “Coba berjalan. Gaun itu akan sangat pas padamu, Hye-Na~ya!” lanjutnya cepat.

Hye-Na berjalan gugup, perlahan, hati-hati. Pada saat pertunangannya dengan Donghae, ia tidak mengenakan gaun sepanjang ini! Jadi wajar saja ia takut salah langkah dan….

“Aarrggh!”

Hye-Na terjatuh dan meringis cukup keras, membuat Lee ajjumma dan Eommanya bergegas mengecek keadaannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya eommanya panik, melihat mata Hye-Na sudah berkaca-kaca, bersusah payah menahan rasa sakit.

“T… tt… tanganku….”

***

 

Saitama, Japan

17.00 JST

Derap langkah Kyuhyun dan ayahnya terdengar seirama. Keduanya berjalan berdampingan, keluar dari ruang rapat menuju ke restoran hotel di lantai dasar.

Mereka duduk hanya berdua, berhadapan. Kyuhyun memang terbilang cukup canggung dengan ayahnya, jadi wajar saja jika ia tidak bisa melakukan banyak hal di kantor tanpa Donghae.

“Bagaimana persiapan pernikahanmu? Kudengar kau menyerahkan seluruhnya pada Hye-Na dan eomma?”

Kyuhyun tersenyum simpul, lalu mengangguk mengiyakan. Sambil menyendok makanannya, ia berusaha memikirkan jawaban yang paling tepat agar ia terlihat cukup meyakinkan untuk menikah dalam waktu dekat ini di depan ayahnya.

“Aku akan mencoba menyukai apa yang ia pilihkan untuk pernikahan kami nanti,” ujarnya santai.

“Baguslah. Kurasa kau cukup dewasa untuk menentukan segala sesuatunya sendiri.” Dia berhenti sejenak, menyelesaikan kunyahan makanan di dalam mulutnya. “Ngomong-ngomong… kau akan membawanya ke makam ibumu?”

Tangan Kyuhyun membeku di udara. Ia mengurungkan niatnya untuk menyendok makanan, beralih untuk meraih gelas dan meminumnya cepat, menghilangkan perasaan aneh yang membuncah di dadanya. Ia tak pernah membicarakan ibu kandungnya lagi dihadapan pria ini.

“Tentu saja. Ibu harus mengenalnya,” jelas Kyuhyun sambil tersenyum memaksa, melanjutkan kembali meminum air putihnya.

“Ia akan menjadi wanita kedua yang kupuja setelah Ibu, jadi… ibu harus memercayai Hye-Na sebagai satu-satunya wanita yang patut anaknya cintai.”

***

Night

22.41 PM

Sambil menghembuskan nafas, Kyuhyun memutar-mutar PSP di tangannya dengan gusar. Ia belum memainkan benda itu sama sekali, bahkan berniat untuk tidak melakukannya dalam kondisi seperti ini. Mulutnya bergumam kecil, entah menggumamkan apa, namun beberapa detik kemudian dengan frustasi ia melemparkan PSP-nya keatas bantal.

Cukup untuk hari ini, ujarnya dalam hati, mencoba berpikir positif.

Ia baru mau mengakuinya saat ini bahwa akhirnya… ia mengidap pra-wedding syndrome. Terlalu akut sampai ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Diperparah oleh kinerja otaknya yang tidak berfungsi baik karena belum melihat Hye-Na dua hari ini. Ia tergolek lemah di kasur, kepayahan.

Rasanya sisi-sisi tenggorokan Kyuhyun mau putus ketika ia mendengar ponselnya berdering. Ia terlalu… tidak berselera mengangkatnya. Namun entah kekuatan dari mana dalam hitungan detik kini ia sudah menempelkan speaker ponsel itu di telinganya, masih dalam posisi berbaring dan sama sekali tidak berniat untuk bangun.

“Kyu….”

Saat mendengar suara parau itu Kyuhyun bergegas bangkit, mengecek layar ponselnya.

Na~ya

Buru-buru ia menempelkan ponsel lagi ke telinganya, kini energinya ter-boost up tiba-tiba. Hanya dengan suara gadis bodoh ini.

“Na~ya.”

Kyuhyun bangkit dari kasur, berjalan ke pintu balkon sambil memegang tengkuknya gusar. Gugup lebih tepatnya.

“Aku… emm… bisakah kita undur pernikahannya?”

Bagai petir yang menyambar gurun. Energi Kyuhyun kini berada di tingkat maksimum, nyaris overload. Ia menajamkan indera pendengarannya untuk mendengarkan apa yang akan Hye-Na katakan setelah ini.

“Aku tidak akan menerima alasan apapun yang masih bisa kutolerir, Hye-Na ssi,” sergahnya dengan suara dingin, merasa terusik dengan kalimat yang baru saja Hye-Na katakan sebelumnya.

“Sebenarnya… aku tidak diizinkan untuk membuka perban satu bulan ini. Aku… jatuh tadi sore. Bagaimana bisa aku menikah dengan gulungan perban di tanganku, hah?”

Kyuhyun menghembuskan napasnya lega. Bukan sesuatu yang tidak dapat ditolerir olehnya. Pernikahan itu masih bisa tetap berlangsung sesuai rencana.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Memarku bertambah.”

“Masih bisa berjalan?”

Hye-Na mengerutkan wajahnya kesal, “Kau mengharapkanku tak bisa berjalan lagi?”

Dan ia menggeram ketika mendengar Kyuhyun malah terkekeh pelan. “Jadi mengapa harus diundur? Kurasa tanganmu tak berperan terlalu penting di hari pernikahan nanti. Hanya hatimu yang berperan penting nantinya, Na~ya.”

Hye-Na menghirup oksigen dengan kuota lebih banyak dari biasanya, belajar untuk lebih bersabar. Pria ini…. jalan pikirannya sangat abnormal, meskipun sebagian yang ia katakan memang benar.

“Baiklah. Aku akan memaksa dokter Lim untuk mengizinkanku membuka perban dua hari lagi. Kau puas? Hh~ Aku terlihat seperti baru saja berkelahi, Kyuhyun~a,” rengek Hye-Na keras, berusaha memberitahu resikonya jika pernikahan itu tidak diundur.

“Kau tidak perlu melepasnya jika kau mau.”

Hye-Na tertawa, mengejek dirinya sendiri, ia merasa… bodoh karena memperdebatkan hal maha sepele ini.

“Kurasa kau tidak mengatakannya dari hatimu, Cho Kyuhyun ssi. Kau pikir aku tidak tahu bagaimana perasaanmu ketika melihat semua orang menatapku dengan tatapan iba, kasihan, dan sangat amat menyedihkan? Kau merasa….”

“Kemampuan mataku hanya sebatas melihatmu saja. Jadi aku sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang lain. Dan saat ini yang terlihat di mataku hanya kau dan lenganmu yang kesakitan, Na~ya. Jadi berhenti menganggapku sebagai orang yang berpikiran sama dengan yang lainnya. Aku harus terlihat berbeda dimatamu mulai saat ini.”

***

 

Wedding Day

08.12 AM

Merasa aneh dengan dirinya sendiri, Hye-Na menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir hal-hal yang memengaruhi psikisnya saat ini. Cermin itu mematut jelas wajahnya, rambut panjang ikalnya yang diikat longgar di sisi kiri, gaun putih gading yang berkilau bersih dan…. perban kecil tepat di sikut tangan kirinya.

“Sudahlah! Kecantikanmu sama sekali tidak luntur karena perban itu!” sergah Ga-Eul frustasi, selalu mendapati Hye-Na gusar sendiri melihat tangan kirinya itu.

Hye-Na menghembuskan nafasnya keras, mencoba menghilangkan sebagian rasa gugup dan seperempat rasa takut dalam dirinya. Sisanya… sama seklai tidak bisa ia hilangkan. Kerinduannya pada Kyuhyun.

“Apa kau pikir ini akan berjalan lancar?” tanya Hye-Na dengan nada suara cemas. Ia samasekali tidak berhasil menyembunyikan kekhawatirannya.

“Kyuhyun sudah pulang dua jam yang lalu. Apalagi yang kau khawatirkan?! Setidaknya kemungkinan pengantin datang terlambat tidak akan terjadi pada pernikahanmu, Hye-Na~ya.”

Hye-Na memutar matanya kesal, mencoba mengenyahkan perkataan Ga-Eul yang justru semakin membuat jantungnya berdetak diluar kendali. Tanpa sebab yang jelas.

“Ngomong-ngomong… apa Kyuhyun mengajakmu ke Maldives karena kau yang menginginkannya?” tanya Ga-Eul memecah suasana, mencoba merilekskan mental Hye-Na yang sedang kacau saat ini.

Hye-Na menggeleng. “Dia sama sekali tidak berkompromi denganku.”

“Ck! Calon suamimu itu payah sekali! Tapi… kurasa tak masalah kemanapun kalian berbulan madu. Yang penting apa yang kau hasilkan dari bulan madu itu, Hye-Na~ya!” ujar Ga-Eul dengan wajah serius, menatap Hye-Na seakan ia merasa paling benar.

“Kau ditulari apa oleh Prince Charming itu sampai membuatmu mesum kurang dari satu minggu, hah?”

Refleks Ga-Eul memanyunkan bibirnya, menahan tangannya agar tidak menjambak rambut Hye-Na sekarang juga karena merasa kesal.

“Tapi… aku iri padamu, Hye-Na~ya.”

“Padaku?” tanya Hy-Na menunjuk hidungnya sendiri, merasa aneh dengan pernyataan Ga-Eul.

“Tidak ada yang lebih baik dari kisah cintamu dengan Kyuhyun, dimataku.”

Hye-Na terhanyut oleh kata-kata yang diungkapkan Ga-Eul padanya. Ia menganggap sebagian hal itu benar. Namun disisi lain… ia tahu Ga-Eul hanya berniat menyanjungnya. Kata-kata yang terangkai dari bibirnya terlalu berlebihan, pikir Hye-Na.

Baru saja Hye-Na akan menimpali, perhatian mereka mendadak tetuju pada pintu yang terbuka. Seorang pria paruh baya yang sudah familiar di mata Hy-Na.

“Appa!”

Dengan susah payah ia berdiri, berusaha mendekat. Ayah Hye-Na yang tahu bahwa Hye-Na tidak ingin berjalan dengan pengganjal di kakinya mulai berganti mendekatinya, kini sudah berhadapan dan mereka perpelukan sejenak, membuat Ga-Eul iri bukan main.

“Hy-Na~ya, ajjusshi, aku keluar dulu. 10 menit lagi kalian harus keluar. Bersiaplah!” ujar Ga-Eul menggebu-gebu, mengepalkan tangannya di udara memberi semangat pada keduanya, kepada Hye-Na terutama.

“Eo. Gomaweo, Ga-Eul~a.”

Keduanya menyaksikan Ga-Eul hanya tersenyum simpul dan berjalan meninggalkan ruangan itu, lalu kembali berhadapan, mencoba bertelepati tentang apa yang mereka pikirkan masing-masing.

“Kau… tidak keberatan menyerahkanku padanya?”

Hye-Na bertanya penuh rasa cemas. Suaranya tiba-tiba saja menipis, terkuras entah sejak kapan. Ia merasa sentuhan tangan ayahnya kini mulai bergetar, merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Pria paruh baya itu tersenyum sebaik mungkin, mencoba menenangkan Hye-Na yang ia tahu saat ini sedang ketakutan. Kekhawatirannya sangat tergambar jelas.

“Aku sangat keberatan sebenarnya. Kau sudah menjadi tanggunganku lebih dari dua puluh satu tahun, dan hari ini aku akan melepasmu. Kau pikir itu mudah, Hye-Na~ya?”

Mata Hy-Na berkaca-kaca. Kekhawatiran yang terkubur di dadanya kini menyeruak lewat air mata. Ia menangis di depan ayahnya, semoga untuk yang terakhir kali. Ia berjanji akan membuat ayahnya tidak menyesal melepasnya. Melepas putri semata wayangnya.

Tangan keras dan besar milik pria itu menghapus air mata Hye-Na, menyibak sisa rambut di keningnya dengan lembut. Membuat Hye-Na merasa luar biasa nyaman, seakan segalanya akan selalu baik-baik saja jika ia berada di dekapan pria ini.

“Tapi bukan sesuatu yang buruk jika aku melepasmu pada Kyuhyun. Aku yakin ia akan menjagamu lebih baik dariku,” bisik pria itu pelan, menyembunyikan suara paraunya.

Satu sisi hati Hye-Na membenarkan, namun di sisi lain ia sama sekali tidak setuju. Ia menggeleng lemah, menyeka air mata di pipinya sendiri. “Tidak… kau yang terbaik.”

Wajah pria itu mengembang bahagia, melihat anaknya sudah berhasil ia besarkan dengan sempurna. Meskipun tidak dekat secara fisik, tapi gadis ini sama sekali tidak lupa siapa yang telah membesarkannya, membuatnya bangga bukan main.

“Sudah. Berhenti menangis.” Dia menyeka sisa air mata Hye-Na, “Harabeoji sudah datang dan menunggu diluar. Ini juga sudah waktunya.”

Hye-Na mengulas senyum tipis, lalu menggandeng lengan kiri ayahnya dengan lengan kanannya yang bebas perban. Mereka keluar beriringan, bersiap mempertaruhkan dua hal diatas altar. Masa depannya, kehidupannya.

Baik Hye-Na maupun ayahnya berjalan ekstra hati-hati, menikmati masa terakhir mereka sedekat ini. Yah, momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan cepat-cepat.

Hye-Na mendengar secercah bisikan di telinganya, “Tenanglah, Hye-Na~ya.”

Ya, cukup menenangkan untuk saat ini. “Fokus. Kyuhyun menunggumu di atas sana,” lanjut pria paruh baya itu meyakinkan. Ia tahu persis bagaimana gugupnya Hye-Na saat ini, mengingat tangannya sudah basah oleh keringat dingin.

Untuk yang ke tiga puluh kali Hye-Na menarik napas dalam, dalam. Mencoba terlihat anggun dan menendang jauh rasa gugupnya. Namun entah terasuki setan apa, perlahan perasaan gugup itu memudar menjadi suatu ketakutan yang tak beralasan, bertambah parah oleh dentuman Wedding March yang menggema di gereja berlangit-langit tinggi ini. Perasaan Hye-Na sangat rumit saat ini.

“Jaga aku jangan sampai terjatuh, appa,” bisik Hye-Na pelan ditengah getaran kuat yang kini membesar menjadi gelombang di dadanya.

Tidak. Ia sama sekali tidak fokus bahkan sesaat sebelum ia menginjak altar, bahkan saat ia merasakan tangan dingin Kyuhyun menarik tangannya. Menjaganya agar tidak limbung dan jatuh saat itu juga.

Ia dapat mendengar dengan jelas bisikan Kyuhyun ditengah gemerisik suara orang-orang yang hadir. “Kau… gugup?”

Inhale-exhale. Hye-Na melakukan kegiatan itu untuk yang sekian kali, namun baru merasa  pernapasannya kembali normal saat Kyuhyun berbisik beberapa saat lalu. Pria itu menggenggam tangannya erat, mencoba tenang meskipun Hye-Na tahu Kyuhyun sama gugupnya. Kentara sekali terlihat dari keringat yang mengucur di pelipisnya.

“Sangat,” desisnya jujur, merasa percuma jika ia berbohong untuk sekedar menjaga gengsinya saat ini.

Telinga Kyuhyun belum benar-benar berfungsi sampai pendeta memulai sesuatu untuk dibicarakan. Untuk saat ini ia akan mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan pendeta sebagai nasihat, dan menyimpannya dalam memori otaknya baik-baik. Bekal untuk menjaga kesempurnaan pernikahannya.

Setelah merasa semua hidupnya terkonsentrasi pada hari ini, Hye-Na juga tak kalah seksama saat mendengar pendeta memberikan petuah lain untuknya. Tangannya bergetar, entah sejak kapan air matanya mendesak untuk keluar dan membanjiri pelupuk matanya, sama sekali tidak bisa ia tahan.

“Han Hye-Na ssi, saat ini aku menikahimu, menjadikanmu istriku. Tidak hanya untuk hari ini, tapi juga untuk ribuan hari ke depan. Aku berjanji akan memberikanmu hal terbaik yang bisa aku berikan dan memintamu untuk memberi tidak lebih daripada apa yang sanggup kau berikan. Aku berjanji akan menghormatimu sebagai dirimu sendiri dan akan memprioritaskan semua kebutuhan dan keinginanmu di atas kebutuhan dan keinginanku sendiri. Aku berjanji akan memberikan waktu dan fokusku padamu, membuka diriku, membiarkanmu melihat ketakutan terbesarku dan keinginan terdalamku, rahasiaku, maupun mimpi-mimpiku. Aku berjanji akan menua bersamamu, melihat bagaimana wajah kita perlahan mulai berubah dan bertahan menjaga pernikahan ini agar tetap berlangsung, tidak peduli bagaimana buruknya kau ataupun aku. Aku berjanji akan tetap mencintaimu dalam keadaan susah ataupun senang. Sebisaku. Sampai akhir.”

“Cho Kyuhyun ssi, hari ini aku menerimamu menjadi suamiku dan berharap bahwa posisi itu tetap akan menjadi milikmu sampai jangka waktu yang tidak terbatas. Berharap bahwa kebahagiaan menjadi istrimu tidak hanya bertahan dalam beberapa tahun, tapi sampai puluhan tahun ke depan. Berharap bahwa kau tidak menyesali pilihanmu untuk menikahiku dan tetap bangga dengan keputusanmu menjadikanku pendampingmu sampai mati. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik, yang bisa kau banggakan dan kau cintai terus-menerus. Untuk saat ini. dan seumur hidupmu.”

Keduanya tersenyum kaku, merasa baru melakukan hal yang sangat amat benar di sepanjang hidupnya.

Kurasa aku sudah melakukannya lebih baik dari siapapun, Na~ya.

Kau melakukannya lebih baik dari siapapun, Kyuhyun~a.

***

 

Plane

14.33 PM

Pesta itu hanya berjalan sampai matahari nyaris terbenam, meninggalkan langit degan warna kejinggaan. Tidak dalam waktu lama karena rencana Kyuhyun memang seperti ini. Pergi secepatnya dari hingar-bingar kehidupannya sehari hari, dan merayakan awal yang baru dengan istrinya. Catat itu.Istrinya, Cho Hye-Na.

Flight malam sama sekali tak mengusik 8 jam perjalanan Hye-Na dan Kyuhyun dari Incheon ke Maldives, pulau terpencil di tengah Samudera Pasifik yang sebenarnya tidak terlalu menarik minat keduanya. Namun Kyuhyun memilihnya bukan tanpa alasan, tetapi karena… ia membutuhkan privasi yang cukup ketat. Yang paling memungkinkan adalah Alaska dan pulau-pulau kecil di Oceania. Berhubung ia tak yakin bisa melakukan banyak hal di tempat bersuhu rendah, maka ia memilih Maldives sebagai tujuan utamanya.

Hye-Na mengerang ketika bahunya merasa menahan beban tertentu. Kepala Kyuhyun.

Setelah satu menit bertahan dengan posisi itu, Hye-Na mulai merasa sakit di bahunya, meminta Kyuhyun untuk bergerak.

“Kepalamu dan bahuku tidak akan bisa bergerak besok jika kau tidur seperti ini. Bangunlah,” seru Hye-Na sedikit memaksa, lalu dengan susah payah memindahkan kepala Kyuhyun ke pahanya.

Kyuhyun masih belum mau membuka matanya. Garis-garis lelah tergambar begitu jelas, lingkaran hitam di bawah matanya juga sangat jelas, membuat Hye-Na dengan refleks menyentuhkan jemarinya pada area bawah mata yang menghitam itu, menelusuri asal usul gradasi warnanya.

“Kau… kurang tidur?” tanya Hye-Na masih dengan raut wajah khawatir. Suaminya kelelahan. Kalimat yang cukup keren.

Kyuhyun selalu lupa bagaimana cara membuka mata sesaat setelah ia mengerjap, jadi sampai saat ini ia tidak mau membuang-buang energinya untuk sekedar membuka mata. Cukup komunikasi suara dan kontak fisik seperti ini, ia sudah cukup nyaman jika bisa memastikan bahwa yang bersamanya saat ini adalah Hye-Na.

“Hasilnya cukup memuaskan, kan?” tanya Kyuhyun masih dengan mata terpejam, membiarkan jemari Hye-Na menelusuri wajahnya lebih jauh.

Hye-Na mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

“Kerja kerasku menghapal sumpah itu… apa sudah mengesankan?”

Hye-Na tersenyum simpul, mencubit hidung Kyuhyun gemas. “Lumayan, tidak buruk untuk seorang pemula.”

Sama sekali tidak buruk.

***

 

Male, Maldives

01.23 AM [Maldives Standard Time]

Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam penuh dipesawat, Hye-Na sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya. Kini keadaannya terbalik. Kyuhyun yang energetic dan Hye-Na yang tenaganya sudah terkuras habis karena terjaga sepanjang perjalanan tidak dapat tertidur sama sekali, entah karena apa.

Luas wilayah Maldives yang sempit membuat mereka tak perlu bersusah payah mencari resort. Kyuhyun dengan cakap sudah menemukannya 10 menit sesaat setelah mereka mendarat di airport. Hye-Na hanya bisa mengekorinya kesana-kemari. Dia sama sekali belum pernah ke tempat ini, bahkan memiliki peta saja sama sekali tidak cukup karena dimana-mana hanya ada pasir dan dermaga, tidak ada jalan atau konstruksi bangunan yang khas yang bisa ia jadikan patokan.

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan ketika menemukan sebuah resort yang dicarinya. Resort ini terbilang kecil, memang dikhususkan untuk berdua saja. Ia tertawa sendiri jika mengingat keberhasilannya merencanakan hal-hal seperti ini, keberhasilannya juga membuat Hye-Na terkagum-kagum. Sejak tadi Hye-Na masih menelusuri dimata letak kesalahan matanya yang terpaku pada pemandangan malam di samudra pasifik.

Kyuhyun memesan resort khusus honeymoon, dan sudah mengaturnya sedemikian rupa. Dia berbincang sejenak dengan petugas di depan resort itu, meninggalkan Hye-Na masih dengan wajah yang tampak bodoh, kehabisan kata-kata karena melihat pemandangan dihadapannya.

Sebuah rumah kecil berkonstruksi kayu, dengan kaca super-besar sehingga pemandangan yang ada diluar terlihat sangat jelas dari dalam. Disisinya terdapat kolam renang kecil, dan… dia tidak tahu lagi harus menyampaikan rasa takjubnya seperti apa. Kejutan Kyuhyun kali ini membuat perutnya mulas.

“Aku bisa mengabulkannya jika kau memang ingin tinggal disini dalam jangka waktu yang lama.”

Hye-Na melirik Kyuhyun yang sudah berdiri disampinya, menghadap ke kolam renang di sisi kamar yang seolah tampak menyatu dengan laut. Kyuhyun juga memandangi seluruh potret Maladewa ini dengan tatapan kagum, bangga dengan kinerjanya diri sendiri.

“Lalu kau memberi makan aku apa?” tukas Hye-Na sarkastik, mulai berjalan menyusuri jembatan kayu di sisi kolam menuju pintu kamar. Kyuhyun hanya terkekeh pelan mendengar perkataan Hye-Na dan menarik tangannya dalam hitungan detik.

“Ayo masuk.”

Keduanya masuk bersamaan, dan lagi-lagi berhasil membuat Hye-Na menjatuhkan harga dirinya lagi dengan mulut menganga saking kagumnya. Untuk kali ini ia tak sanggup mendeskripsikan apa yang dilihatnya. Terlalu… apa namanya? Tidak mewah, tidak begitu megah, namun ia benar-benar jatuh cinta pada apa yang ia lihat saat ini.

“Kapan kau menyiapkan ini?” tanya Hye-Na sambil berkeliling kamar, membiarkan kaki liarnya menjelajah ruang sempit ini.

Kyuhyun menyusun koper di sudut ruangan, lalu tersenyum simpul. “Tiga jam sebelum aku melamarmu. Malam itu.”

Hye-Na berdecak kagum, lalu memutuskan untuk duduk dan memerhatikan gerak-gerik Kyuhyun yang sibuk dengan kopernya.

“Jadi… kau menolak mengundur pernikahan karena ini?”

Sambil membawa PSP-nya ia berjalan mendekat, duduk tepat disamping Hye-Na. Menatap wajah ‘miliknya’ itu dengan seksama.

“Mungkin. Tapi sebagian besar karena aku khawatir para gadis akan memanfaatkan rentang waktu itu untuk mendapatkanku.”

Sebuah bantal sofa di tengah kasur sukses menghantam wajah Kyuhyun saat ini.

“Banggakan saja dirimu terus.”

***

01.55 AM

Kyuhyun sesekali melirikkan matanya dari layar PSP, mencoba mengabaikan kekehan keras Hye-Na yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia kini sedang menelepon Ga-Eul.

Kesal? Tentu saja. Suatu saat istri Donghae hyung itu harus membayar perbuatannya.

Menyerah, Kyuhyun melempar PSP-nya sembarang dan beringsut mendekati ujung kasur, tempat Hye-Na sedang bercumbu dengan ponselnya. Dengan mantap Kyuhyun merebut paksa ponsel itu dan membuangnya ke tempat yang sama saat ia membuang PSP-nya barusan.

“Yak! Ga-Eul sedang….”

“Kita sedang berbulan madu, Na~ya. Aku tidak bisa lagi mentolerir waktu berbincang kalian.”

Kyuhyun beranjak dari kasur dan berdiri, mengambil cardigan fuschia-nya dan berjalan mendekati pintu, masih dengan perasaan kesal yang berkecamuk. Ia pantang tidak diacuhkan.

“Aku lapar. Kita makan diluar,” ujarnya ketus, meninggalkan Hye-Na dengan wajah yang sama kesalnya.

Dengan langkah dipaksakan Hye-Na berusaha menyejajarkan jalannya dengan Kyuhyun. Langkah Kyuhyun yang panjang-panjang membuatnya sedikit kewalahan. Mereka melewati tempat-tempat yang ramai di malam hari, menyediakan berbagai macam pemandangan nightlife yang menakjubkan. Kota ini sama sekali tidak mati dimalam hari.

Di tempat yang mereka lewati terdapat toko makanan berjajar tak beraturan, namun masih terlihat rapi. Toko kue, makanan ringan, sampai makanan khas negara lain yang diadopsi menjadi makanan utama disini. Hye-Na meneguk liurnya sangat pelan ketika ia melihat toko cokelat yang memamerkan bola-bola coklat yang sangat lucu dan… sangat menggugah perutnya. Tapi karena Kyuhyun berjalan sangat cepat, Hye-Na dengan amat terpaksa menolerir hasratnya untuk mengunyah bola cokelat itu. Ia lebih baik mati kelaparan daripada mati tersesat kehilangan jejak Kyuhyun.

Kyuhyun memperlambat speed berjalannya. Ia berhenti tepat di depan sebuah kedai curry, yang sebenarnya adalah masakan India yang diadopsi menjadi makanan utama disini. Sejenak Kyuhyun hanya memandang kedai itu dari luar, terlihat sama sekali tidak berniat masuk ke dalamnya.

“Kenapa? Kau tidak bawa uang?” tanya Hye-Na asal. Mungkin saja tebakannya benar.

Kyuhyun menggulung lengan kaosnya, lalu memasangkan topi baseball yang dipakainya ke kepala Hye-Na.

“Tunggu sebentar. Sepertinya memang tertinggal. Aku akan kembali tiga menit lagi. Jangan masuk sebelum aku datang.”

Hye-Na mengerutkan keningnya melihat sesuatu yang janggal pada Kyuhyun, namun tidak mau bersusah payah untuk memikirkannya lebih jauh. Pria itu berlari cepat menyusuri jalan yang mereka lalui sebelumnya. Mungkin Kyuhyun memang tak bawa uang.

Ia terdiam di titik itu, memeluk dirinya sendiri menahan angin laut yang datang menyerbu menggelitik kulitnya, lalu mengeratkan topi baseball Kyuhyun yang terpasang di kepalanya. Ternyata tidak sampai dua menit, ia merasakan tangannya ditarik, dipaksa berhadapan dengan postur tinggi pria itu.

Hye-Na terheran-heran ketika melihat ada sesuatu yang aneh pada wajah Kyuhyun. Pria itu menutup rapat mulutnya, yang… terlihat sedikit penuh.

“Kau.. kenapa? Ayo masuk. Bukankah kau lapar?” tanya Hye-Na bertubi tubi, lalu menarik tangan Kyuhyun untuk masuk ke kedai karena ia juga sudah tidak bisa berkompromi dengan cacing-cacing di perutnya. Namun Kyuhyun bertahan di tempat, berbalik menarik tangan Hye-Na sampai ia dapat memeluk pinggang gadis itu dengan sempurna. Menjelajahi wajah gadis itu selama beberapa detik, mencondongkan wajahnya dan mencium Hye-Na tanpa awal kata apapun.

Hye-Na tak sempat memejamkan matanya karena gerakan Kyuhyun yang terlalu cepat, dan dalam waktu beberapa saat ia lebih memilih untuk membalasnya secara terang-terangan. Membuka mulutnya perlahan, merasakaan sesuatu yang manis menerjang rongga mulutnya.

Mata Hye-Na yang awalnya sudah setengah tepejam mendadak mendapatkan kesadarannya kembali ketika manis yang ia rasakan itu…. terlalu nyata. Ia melihat Kyuhyun berusaha melakukan sesuatu yang terbilang rumit. Memasukkan benda asing ke mulutnya.

Cokelat.

Hye-Na tahu apa yang membuat lidahnya menghangat saai ini. Kyuhyun memberikan cokelat padanya dengan cara yang… cukup gila untuk sekedar dibayangkan.

Kyuhyun perlahan melonggarkan ciumannya, beralih mengecup sudut bibir Hye-Na singkat sekaligus membersihkan sisa-sia cokelat di tempat yang sama. Keduanya masih diam pada posisi yang sama. Berpelukan, tanpa jarak. Wajah yang menatap satu sama lain seperti… melakukan hal itu adalah kebutuhan terbesar mereka yang tak dapat dinganggu gugat.

“Katakan padaku jika kau menginginkan sesuatu, Na~ya.”

“Kk… kau… tahu darimana aku menginginkannya?” tanya Hye-Na dengan suara tersendat, masih mabuk karena ciuman yang baru saja ia lakukan.

“Kau menatap toko itu seperti… kau akan merampoknya,” ujar Kyuhyun sekenanya, lalu perlahan melepaskan rengkuhan protektifnya di pinggang Hye-Na, sementara gadis itu masih sibuk membenahi akal sehatnya.

“Kau tidak menjadi kenyang karena segumpal cokelat, kan?” tanya Kyuhyun setengah menggoda, merasakan wajah Hye-Na mengeluarkan rona merah favoritnya. “Atau… kau kenyang karena… ciumanku?”

Hye-Na mendengus kesal. Kemesuman pria ini menjadi berlipat ganda, dan ia harus mengingatkan dirinya untuk selalu waspada mulai saat ini.

***

02.33 AM

Keduanya masuk ke dalam kamar dengan energi yang sudah berada di titik minimum. Kyuhyun melepas cardigan dan melemparnya sembarangan, sementara Hye-Na berjalan gontai, terseok-seok hanya untuk sampai ke wastafel dan mengguyur wajahnya dengan air.

Kyuhyun duduk di tepi kasur, memosisikan tubuhnya untuk segera berbaring, namun saat ia melihat PSP dan ponsel Hye-Na tergeletak menghalangi tempat tidurnya, ia mendecak kesal. Berusaha tidak mengumpat dan beralih memasukkannya ke laci nakas. Meminimalisir ponsel Hye-Na berdering lagi beberapa hari ke depan.

“Kyu, kau… bisa tolong aku?” perintah Hye-Na setengah berteriak, berusaha agar Kyuhyun mendengarnya.

Kyuhyun yang merasa dipanggil segera beranjak dan menemui Hye-Na di wastafel, tengah sibuk dengan perban di lengannya.

“Apa ini sudah jadwal mengganti perban?” tanya Kyuhyun serasa mendekati Hye-Na, lalu mengambil alih tangan gadis itu.

“Belum, tapi… kurasa banyak angin membuat kain kasanya cepat lembab, Kyu. Gatal.”

Kyuhyun mengerti. Ia berniat untuk membuka perban itu sekarang juga dan menggantinya dengan yang baru.

“Sepertinya kau juga berkeringat banyak,” ucap Kyuhyun ketika sedang telaten membuka kain perban di tangan Hye-Na dengan raut wajah serius, mencoba melakukannya dengan benar.

Hye-Na hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kyuhyun melemparkan bekas perban itu ke tempat sampah terdekat, lalu memeriksa sedikit luka Hye-Na. Sedikit lebam dan beberapa luka gores yang sudah hampir mengering. “Kau tidak mengoleskan lagi obatmu, ya?”

Kyuhyun mendongakkan wajahnya untuk melihat jawaban Hye-Na. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan. Sedikit acuh-tak acuh pada apa yang sedang Kyuhyun lakukan.

Inilah yang Hyena katakan, momen saat ia harus waspada terhadap suaminya sendiri. Kini, entah kerasukan apa keduanya malah diam terpaku pada pandangan mata masing masing, menenggelamkan diri di dalamnya dan mulai tertiup suasana. Suasana yang membahayakan.

Secercah insting membuat Kyuhyun dengan sigap mendekatkan wajahnya pada Hye-Na, menelanjangi wajah gadis itu dengan matanya untuk beberapa saat dan… mulai menciumnya. Lagi.

Kyuhyun menyelamatkan tangan Hye-Na keatas bahunya agar tidak menimbulkan luka baru, lalu mempererat perpagutan keduanya. Tapi saat ini Kyuhyun lebih berhati-hati, menjaga istrinya agar tidak terluka oleh nafsunya sendiri. Ia ingin melakukan segala sesuatunya dengan benar.

Bibir keduanya bergerak perlahan, mencoba mencari kenyamanan di tengah suhu panas yang membelenggu. Hormon Kyuhyun mulai sedikit terkendali, merasa ini bukanlah tempat yang cocok untuk melakukannya, terlebih saat tangan Hye-Na terluka. Ia dengan mantap memilih ranjang sebagai tujuan utamanya.

Menggiring Hye-Na bukanlah hal yang sulit dilakukan. Gadis itu terlalu penurut, bahkan sepertinya ia tak meyadari sama sekali bagaimana caranya Kyuhyun membawanya ke kamar, ke atas ranjang tepatnya, sementara bibir mereka sama sekali belum membuat jarak.

Merasa sudah tidak semanusiawi biasanya, Kyuhyun mulai membiarkan akal sehatnya meluntur, menguap, bahkan terbawa angin laut menuju lepas pantai. Ia membuat ciuman itu menjadi menuntut, mendesak, sama sekali tak mengizinkannya berhenti sampai disini. Hye-Na yang terbaring ditindih Kyuhyun mulai merasakan dadanya sesak, memberontak meminta oksigen dan… Kyuhyun sama sekali tidak meberikannya. Pria ini terlalu mengerikan saat terbakar seperti ini dan membuat Hye-Na terpaksa mengalah, menyerah untuk hanya diam dan menikmati sensasi yang menggerogoti tengkuknya.

Kyuhyun menelusurkan bibirya ke rahang Hye-Na, mengambil beberapa titik untuk dikecup dan kembali merenggut bibir pucat gadis itu. Bekerja ganda, tangannya juga mulai gesit menelusuri tubuh gadis itu, mengikuti setiap lekuknya dengan seksama, menelusupkan tangannya ke punggung dingin Hye-Na dan membiarkan hasrat mengalir mengikuti intuisinya.

***

 

09.56 AM

Hye-Na merasakan tubuhnya seakan remuk, seperti baru saja lari maraton. Ia berhenti bergerak-gerak mencari kenyamanan posisi tidur saat tubuhnya terkunci. Sesuatu membelit pinggangnya.

“Kyuhyun~a, ireona,” ucapnya serak, mencoba menyingkirkan lengan besar milik Kyuhyun di pinggangya.

“Kyu….”

Hye-Na menyerah ketika Kyuhyun sama sekali tidak terusik dari tidurnya. Ia mulai mencari cara yang lebih cerdik agar pria ini mau bangun, dengan cepat.

Hye-Na mengecup bibir pria itu secepat kilat, membiarkannya teraliri sengatan listrik kecil di pagi hari, di bibirnya. Dan… sukses. Mata Kyuhyun mengerjap beberapa kali dan mulai mencari fokus.

“3 jam lagi, Na~ya. Kita baru tidur jam 5 pag,” ucapnya malas, lalu memosisikan wajahnya di leher Hye-Na dan menghirup aroma shampoo gadis itu sebanyak yang ia mampu.

“Siapa suruh kau melakukannya di pagi buta begitu, bodoh. Lepaskan tanganmu.”

“Shireo.”

“Kyuhyun~a!!!”

“Hmm?”

Hye-Na mulai gusar ketika Kyuhyun dengan keras kepala mempertahankan posisi mereka. Apa boleh buat. Ia memang harus mengorbankan sesuatu jika ia ingin tangan ini lepas mengunci tubuhnya.

“Satu ciuman, dan lepaskan aku. OK?”

“Lima.”

“Yak!!!”

***

 

Two months later…

Seoul

13.11 PM

 

Café yang hanya dikunjungi oleh dua orang wanita itu sangat hening. Mereka sendiri sedang tidak ingin membuang-buang tenaga untuk sekedar membuka pembicaraan, tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Lusa… apa yang harus kita lakukan…. Hye-Na~ya?”

Hye-Na menopang dagunya lemas, merasa tak memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan Ga-Eul yang kini sudah menelungkupkan wajahnya di atas meja.

“Apa…. aku menyusul mereka saja ke Los Angeles?” sergah Ga-Eul tiba-tiba, wajahnya sudah terisi beberapa joule tenaga.

Hye-Na tak menanggapinya secara serius. Namun melihat Ga-Eul tengah membereskan barang-barangnya dan beranjak pergi, Hye-Na mulai gusar. Sepertinya Ga-Eul butuh pskiater yang lebih mahal.

“Yak, Ga-Eul~a! Kau sudah gi….”

“Kalian kenapa?”

Udara membeku. Ga-Eul berheti di langkah pertamanya sementara Hye-Na duduk dengan perasaan yang meletup-letup. Campuran kaget, tak percaya dan… bahagia.

“Bukankah kalian baru pulang lusa?” tanya Hye-Na akhirnya, melihat kedua pria bersetelan jas kerja itu berjalan mendekat. Yang satu berwajah ramah dan yang satu berwajah dingin.

“Tidak ada alasan berlama-lama disana jika istriku ada dirumah,” ujar Donghae seraya merengkuh pinggang Ga-Eul, sedangkan Hye-Na dan Kyuhyun masih saling menatap tak percaya satu sama lain.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun singkat, melihat perubahan wajah Hye-Na yang memucat. Gaeul juga menunjukkan gradasi wajah yang sama.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Donghae sekilas, dan Hye-Na menggeleng cepat.

“Tidak…tidak ada.”

Kyuhyun mungkin satu-satunya orang yang paling mengenal Hye-Na saat ini. Wajah gadis itu… terlalu menampakkan kejanggalan.

“Cho Hye-Na ssi, kau menyembunyikan sesuatu?”

“Emm… aku ingin pulang, oppa,” rengek Ga-Eul manja.

Ia lantas buru-buru menarik tangan Donghae keluar dari Café, lalu menyemangati Hye-Na dengan mengepalkan tangannya di udara sebelum menghilang dibalik pintu. “Hye-Na, hwaiting!”

Ga-Eul, mati kau! umpat Hye-Na dalam hati. Bagaimana gadis itu bisa meninggalkan teman senasibnya untuk menjalankan tugasnya sendiri? Aissh!

Hye-Na berdiri, mulai merangkai kata demi kata yang membentuk maksud dan tujuannya. Namun wajah Kyuhyun yang menyebalkan itu mulai tidak sabar dengan apa yang akan dikatakannya.

“Apa?” tanya Kyuhyun cepat, berusaha tidak mengulur waktu lagi.

Kini keduanya berhadapan, dengan jarak yang lebih dekat. Hye-Na mencengkeram tas tangannya erat, kentara sekali bahwa dia sedang gugup, membuat Kyuhyun semakin yakin bahwa ada sesuatu yang… tidak beres.

“A… aa… aku….”

“Kau?”

“A…. Hhhh~ sudahlah. Akan kukatakan nati saja,” ujarnya menyerah, lalu pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya. Seulas senyum terkembang di wajah Kyuhyun, ia lalu berkata mantap.

“Kau tidak berniat menyembunyikan anakku lebih lama, kan?”

Hye-Na berhenti.

Ia berusaha mengingat-ngingat kapan ia mengatakan hal ini pada Kyuhyun, dan… sama sekali belum pernah. Ia yakin tidak ada yang mengetahui hal ini, kecuali Ga-Eul yang mengalami hal yang sama dan sama-sama takut memberitahunya pada Donghae.

“Eomma meneleponku dan Donghae hyung. Ia menemukan test pack kalian di tempat sampah dan berniat ingin memberi kami selamat, sementara kami tidak tahu apapun tentang hal ini.”

“Mwoya?”

Hye-Na membalikkan badannya untung melihat ekspresi Kyuhyun. Pria itu terlihat santai dan nyaman, tidak ada tanda-tanda penolakan sama sekali seperti apa yang ia khawatirkan akhir-akhir ini.

Kyuhyun berjalan mendekat, mencondongkan wajahnya ke telinga Hye-Na, membisikkan sesuatu disana.

“Jadi… kau mengandung anakku, eh? Lumayan juga.”

Hye-Na mendorong wajah Kyuhyun dari telinganya. “Aissh! Kau tahu aku nyaris mati ketakutan untuk sekedar memberitahu hal ini padamu?” jerit Hye-Na kesal. Teriakannya menggema ke seluruh Café-yang untungnya sepi ini.

“Santai saja. Aku memang sudah memperkirakannya saat kita melakukannya dulu. Mungkin aku terlalu hebat sampai kau hamil secepat ini.”

“Yak!! Donghae mengajarimu berbicara begitu?!”

Kyuhyun tertawa ringan, membiarkan tangannya melingkari pinggang Hye-Na dengan sempurna.

“Tidak. Justru ia kagum padaku.”

Hye-Na mendengus. “Apanya yang harus dikagumi, hah?”

Kyuhyun tersenyum simpul pada akhirnya, lalu menggiring Hye-Na keluar dari Café, menghiraukan protes Hye-Na yang tidak terima akan pujian Donghae terhadapnya.

“Jadi… akan kita beri nama siapa anak kita, Na~ya?”

THE END

 

PS: KAFKA!!!! Huahahaha, kayaknya aku mengacaukan bagian wedding vow-nya. Norak banget pasti. Tapi akhir-akhir ini otak aku emang lagi dalam taraf norak yang amat snagat mengkhawatirkan. Anggap aja tuh janji pernikahan keren *diinjek*