AUTHOR: KAFKA

 

 Tuut…. Tuut….

Suara nada sambung itu terdengar cukup nyaring hingga memekakkan telinga Hye-Na. Ia kini tengah menyandarkan tubuhnya pada pilar beton besar yang berdiri di dalam area bandara Incheon, ditemani 2 buah koper berukuran sedang disampingnya. Bisa dipastikan Hye-Na hanya membawa sebuah koper saat kabur dulu, dan jangan tanya siapa pemilik satu koper lainnya.

Tangannya berulang kali berpindah tempat, dari telinga kiri ke telinga kanan hingga suara nada sambung yang tak kunjung berhenti itu secara adil mengoyak telinganya, dan akhirnya ia berdecak menyerah saat selama 2 menit nada terkutuk itu tak kunjung berakhir. Tanda bahwa orang yang dihubungi tak menggubris panggilannya. Menjengkelkan.

“Masih belum diangkat?” Suara ber-tone rendah itu sama sekali tak membuanya terkejut. Saat ia baru akan melihat pemilik suaranya, Hye-Na malah disodori sebuah cup kopi. Dan melihat itu Hye-Na langsung mengakhiri sambungan ‘sia-sia’ di ponselnya, dengan cepat meraih cup kopi itu dari genggaman pria yang bahkan saat ia menatap lurus ke depan hanya bisa dilihat sebatas bahu dan dagu. Kesenjangan fisik kadang-kadang membuatnya berkoar menngumpat mengapa pria ini begitu terlihat layaknya atlit basket, padahal ia sama sekali belum pernah melihatnya menyentuh bola oranye itu.

Hye-Na menggeleng pelan, lalu menyesap kopi di genggamannya seraya menegakkan badan dan membuat jarak dengan pilar beton yang ia sandari sebelumnya.

“Kau masih mau mengganggu sejoli yang terobsesi menikah itu? Yang benar saja, Na~ya,” ujar pria itu dengan sedikit senyum dan tertawa mengejek, lalu meneguk minuman serupa di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk berkutat dengan sebuah ponsel yang baru saja ia rogoh dari saku blue jeans-nya.

“Sesibuk itu sampai melupakanku? Itu lebih tak masuk akal. Ga-Eul sendiri yang berjan….”

Hye-Na berhenti mengoceh saat Kyuhyun membekap mulutnya dengan tangan. “Kau juga nanti seperti itu. Sibuk kesana-kemari memilih gaun pengantin dan tetek bengek lainnya. Mana sempat mengurusi yang lain,” ucapnya datar. “Aku sudah meminta eomma untuk mengantar mobil. Jadi… bagaimana kalau kita berkeliling sebentar? Aku lelah karena baru saja pulang dari mencari putri yang kabur,” lanjut Kyuhyun. Tanpa memperdulikan tatapan kesal Hye-Na, ia menarik kopernya menjauh dan berjalan santai. Sesekali menyeruput minumannya.

Hye-Na memanyunkan bibirnya, sedikit menghentakkan kaki saat berusaha mengejar Kyuhyun.

“Kau menyindirku?!”

***

Donghae tak berhenti menggaruk tengkuknya gusar, yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Ia hanya… tak tahu harus melakukan apa di situasi genting seperti ini. Sifat manja Ga-Eul memang sesuatu yang genting dan membahayakan -untuknya- terutama.

Tangan kanannya berusaha menyembunyikan iPhone milik Ga-Eul di belakang tubuhnya, sementara tangan kirinya… ya tadi, menggaruk tengkuk tak karuan.

“Oppa, kembalikaaaan! Aku belum menghubungi Hye-Na!! Kembalikan, atau….”

“Atau apa?” tantangnya dengan senyum licik, menjulurkan badannya untuk memperjelas tantangannya itu.

Sebenarnya, jika boleh jujur, teriakan Ga-Eul mampu membuat mata Donghae menyipit, berusaha menahan agar telinganya masih bisa berfungsi dengan baik. Ia menyadari beberapa hal, bahwa perubahan gadis ini cukup radikal dari waktu ke waktu. Dulu gadis ini sangat manis, meskipun manja tapi Donghae benar-benar menyukainya. Sesaat kemudian ia menemukan Ga-Eul dengan niat membunuh orang, lalu diatap gedung itu…. Ia rasa gadis kecil ini tumbuh sangat dewasa. Dan kau lihat kali ini? Ocehannya membuat Donghae berjanji untuk sering-sering membawanya terapi.

Ga-Eul melipat tangannya di depan dada, menantang tatapan Donghae yang sebelumnya.

“Kem-ba-li-kan!”

Donghae menggelengkan kepalanya, “Tidak, sampai kau fokus pada apa yang sedang kita kerjakan, Cho Ga-Eul. Kau pikir aku nyaman mengurus ini sementara kau berkutat dengan ponselmu?”

Ga-Eul memanyunkan bibirnya, ia baru saja akan memprotes tindakan semena-mena Donghae jika saja calon ibu mertuanya tidak menampakkan diri dibalik pintu, terlihat bingung dengan suasana kamar yang mendadak menjadi ‘arena perdebatan panas’.

“Kalian baik-baik saja?” ucap Lee ajjumma saat melihat keduanya tengah berdiri berhadapan saling menantang satu sama lain. Donghae dan Gaeul sontak menunduk, namun beberapa detik kemudian Donghae tersenyum tipis pada wanita tengah baya itu.

“Eo. Gwaenchana. Kami hanya berdebat soal gedung, eomma.” Suaranya terdengar kaku, namun patut diacungi jempol karena otaknya berpikir sangat cepat untuk mengatasi situasi yang bahkan lebih genting dari momen rengekan manja Ga-Eul.

Gadis berponi kuda itu segera mengangguk mengiyakan.

“Ah… begitu. Tak masalah jika hanya gedung. Kalian masih punya cukup banyak waktu untuk memilihnya.” Donghae dan Ga-Eul saling berpandangan, meneguk liur masing masing dengan canggung.

“Oh ya, Kyuhyun baru saja mengirim pesan, meminta mengantar mobil. Bagaimana kalau kalian jemput lalu survey gedung, hmm?”

Ga-Eul tersenyum lebar penuh kemenangan, lalu memeletkan lidahnya pada Donghae yang tengah menghela nafas frustasi.

“Keurom, ajjumma! Kami akan menjemputnya!”

Donghae menyerah saat lengannya ditarik paksa. Situasi genting menjadi sangat menyebalkan untuk saat ini.

***

“Hye-Na~yaaa, bogoshipeo!!!” jerit Ga-Eul yang kini tengah memeluk Hye-Na erat. Hye-Na tersenyum lalu membisikan sesuatu di telinga Ga-Eul.

“Kukira kau melupakanku karena Prince Charming itu.”

Hye-Na yang sedikit melirik Donghae saat mengatakannya membuat pria itu menatapnya garang, dan hanya dibalas oleh kekehan kecilnya.

“Santai saja, Prince Charming. Apa kami mengganggu waktu kalian?” tanya Hye-Na setelah melepas pelukannya dengan Ga-Eul.

“Tidak!”

“Sangat!” Seru Donghae dan Ga-Eul bersamaan, membuat Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam dibelakang Hye-Na kini menertawakan sikap aneh kakak tirinya itu. Pra-wedding syndrome. Mungkin.

Kyuhyun merangkul leher Donghae, menariknya menjauh dari ‘area para gadis’, lalu berbisik tepat ditelinganya. “Ayolah, hyung. Nikmati masa lajangmu sebelum kau menikah dengan nona psycho itu!”

Kini Hye-Na dan Ga-Eul sedang sibuk merumpi, kebanyaakan tentang rencana pernikahan Ga-Eul dan sebagian kecil tentang bagaimana Kyuhyun bisa menemukan Hye-Na di Manhattan beberapa waktu lalu. Keduanya mengikuti alur jalan Kyuhyun dan Donghae yang juga sedang menarik koper di tangan mereka masing-masing satu.

Mereka hampir mencapai mobil. Saat Donghae dan Kyuhyun sibuk memasukkan koper kedalam bagasi, Ga-Eul tiba-tiba menghampiri Donghae dan memeluk lengannya.

“Oppa, Hye-Na akan mengantarku ke butik gaun pengantin, bisa kita kesana sekarang?” tanyanya semangat. Yang ditanyai hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi, tipikal Lee Donghae seperti biasanya. Namun Donghae tiba-tiba menoleh kebelakang dan menatap Hye-Na. “Kau tak apa?”

Bukan tanpa alasan Donghae bertanya seperti itu, ia hanya khawatir mantan-calon-istrinya itu masih trauma dengan kecelakaan beberapa waktu lalu tepat di depan butik itu.

Kyuhyun ikut-ikutan menoleh, namun bukan menatap Hye-Na-nya, melainkan Ga-Eul yang sedang memperlihatkan perubahan mentalnya. Mendadak wajahnya menjadi canggung, perlahan melepaskan pelukannya di lengan Donghae dan menunduk. Gadis itu nampak tak nyaman dengan pertanyaan Donghae yang dilontarkan pada Hye-Na.

Belum sempat Hye-Na menjawab, Kyuhyun sudah menyergahnya dengan nada dingin. “Kau tak boleh ikut, Na~ya”

Ga-Eul segera menatap pria tinggi-semampai itu dengan mata terbelalak, namun lidahnya bernar-benar tak mampu membantu pita suaranya untuk berkata apapun.

“Wae?!” protes Hye-Na cepat, Donghae bahkan sampai ikut-ikutan bingung kenapa Kyuhyun harus tak mengizinkannya.

Sedangkan Kyuhyun dengan santainya berjalan melenggang mendahului ketiga orang itu, menuju ke pintu kemudi, namun dalam beberapa detik ia sempat berhenti, mengatakan sesuatu.

“Calon suamimu sudah tak mengizinkan, jika kau mash tidak menurut aku yang akan membawamu kesana untuk memilih gaun dan kita menikah sore ini juga.”

Bukan sebuah ancaman bagi Hye-Na, namun ia tahu pria itu sama sekali tak main-main dengan ucapannya. Hye-Na dan Donghae hanya bisa melongo, tanpa mereka sadar  kini Ga-Eul tengah mengusap tengkuknya gugup.

“Kau beri racun apa dia selama di Manhattan?” tanya Donghae seraya mengedikkan dagunya ke arah Kyuhyun yang mulai berjalan menjauh, dan Hye-Na hanya menatap Donghae kesal. Otak direktur perusahaan ini dangkal sekali!

Saat Donghae sudah berjalan menyeimbangkan langkahnya dengan Kyuhyun, Hye-Na dan Ga-Eul berjalan berdampingan dengan speed berjalan yang lebih rendah. Ia lalu berbisik pelan, “Apakah pria mengalami masa pra-wedding syndrome lebih parah dari wanita?”

Dan lagi-lagi Ga-Eul menunjukkan kegugupannya meskipun tidak tertangkap oleh mata Hye-Na. Ia menggeleng, namun wajahnya benar-benar sarat akan beban, seolah banyak hal yang harusnya ia ucapkan, tapi sayangnya gadis ini sama sekali tak mampu.

“Aku…tidak tahu.”

***

KYUHYUN POV

 

Aku memegang setir kali ini, merujuk pada kiasan milik keluargaku. Semakin sedikit kesempatan seorang Lee Donghae mengemudi, maka semakin besar kesempatanmu untuk hidup.

Memang kemampuan mengemudinya tidak terlalu buruk, tapi itu akan menjadi lebih buruk dari apapun saat ia kehilangan konsentrasinya, atau sedang memikirkan sesuatu. Masalahnya adalah, sejak kapan seorang direktur perusahaan tidak memiliki sesuatu untuk dipikirkan? Terlebih ia memiliki Ga-Eul sekarang. Mungkin kau juga merasakannya sendiri, kharisma Donghae perlahan luntur karena terus menempel pada gadis ini.

Dan sepertinya sesaat sebelum naik kemobil tadi Donghae mulai menyadarinya. Ya, mimik muka Ga-Eul yang tak mengenakkan itu sudah jelas akan membagi konsentrasinya habis-habisan, dan itu sangat tidak baik untuk nyawa calon istriku. Aku tak mengizinkan Hye-Na untuk ikut bukan karena trauma atau semacamnya. Ck, gadis itu mana kenal dengan yang namanya trauma? Bahkan berulang kali aku menemukannya dalam keadaan berbahaya ia tak pernah mengungkitnya sedikitpun. Kejadian di pub Manhattan saat pertama kali bertemu, kecelakaan itu, dan saat melihatku berkelahi dengan Donghae, ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Bahkan kukira semua wanita akan takut dengan kejadian-kejadian seperti itu.

Pertanyaan Donghae tadi sepertinya menguak ingatannya tentang kecelakaan itu, meskipun Donghae dan Hye-Na secara gamblang mengatakan bahwa masalah itu tak perlu diungkit lagi, tapi mengingat labilnya mental gadis itu membuatku harus sedikit membuat jarak diantara keduanya. Setidaknya sampai Ga-Eul dan Donghae menikah.

“Kau akan kerumah Hye-Na?”tanya Donghae yang duduk disampingku, mencoba mengabaikan para gadis di jok belakang, meskipun suara Hye-Na kini lebih kentara terdengar karena Gaeul lebih banyak diam dan hanya ikut-ikutan tertawa, itupun terdengar sangat canggung.

“Eo, hanya mengantarnya. Aku pulang nanti malam, setelah memastikan gadis itu mengganti perbannya dengan benar. Kau tahu? Semenjak kecelakaan itu tangan kirinya benar-benar payah.” Kurasa hanya Donghae yang mendengarku, buktinya para gadis itu tetap saja berkutat dengan dunianya.

Sebagai responnya Donghae mengangguk singkat. “Abeoji hampir mengamuk ketika tahu kau mangkir kerja. Merepotkan.”

Aku terkekeh melihat ekspresinya. Tak kusangka si kharismatik Lee Donghae ini memiliki berjuta ekspresi. “Lalu kau jawab apa?”

Matanya menerawang keluar jendela, mengamati objek-objek terdekat yang dapat ia lihat. Tanpa menoleh kearahku, ia hampir membuatku mati kutu dengan jawabannya.

“Berburu cinta sejati.”

Dan selanjutnya tatapanku pada pria itu menjadi seperti ini o.0

***

Hye-Na menarik kopernya ke sudut ruangan, dan terlihat berkutat disana. Aku dapat melihatnya dengan angle yang pas dari posisiku. Duduk bersandar pada kasur dan menelusuri setiap gerakan kecilnya, hal yang tak pernah membuatku bosan.

“Kau mau makan apa?” tanyanya tanpa menatapku.

“Ani. Eomma menungguku untuk makan siang dirumah,” ucapku seraya mengeluarkan ponsel dari saku, dan iseng memotretnya dari berbagai sudut yang dapat kuambil. Kau tahu? Ini menyenangkan.

Ia berbalik, lalu berjalan kearahku. Merebut ponsel di genggamanku dan menyimpannya sedikit kasar di atas nakas. Ia mengambil sebuah kotak dari laci nakas itu, lalu menyodorkanya padaku.

“Aku masih belum mahir melakukannya dengan satu tangan,” ucapnya santai, lalu duduk bersila menghadapku, menawarkan lengan kirinya yang masih berbalut perban.

“Tak masalah selama kau bisa memiliki kedua tanganku, Na~ya.”

Aku tersenyum melihat wajahnya, matanya mengerjap kebingungan, pipinya juga sudah merah. Entah berapa banyak lagi cobaan untukku, dan ini merupakan yang cukup berat. Bertahan agar tidak menciumnya saat ini juga.

Aku melakukannya dengan hati-hati, memastikan untuk tak menyakitinya. Di luar dugaanku, gadis ini bahkan tak mengaduh sedikitpun, persis disaat aku menyentuh lukanya. Respon dinginnya terhadap sentuhanku membuat tanganku bergetar, butuh kesadaran ekstra untuk menyelesaikannya dengan benar.

Saat selesai membalut tangannya, aku mengecup bibirnya kilat. Dan kurasa ia sudah biasa mendapat kejutan seperti itu dariku.

Ah, kalau begitu itu bukan kejutan, Cho Kyuhyun. Itu kebiasaan.

“Jangan pernah minta siapapun selain aku untuk mengganti perbannya, ara? Itu mengurangi kesempatanku dengan yang ini,” ucapku seraya menunjuk bibirnya. Wajah tanpa ekspresinya mulai mencair, mata cokelat favoritku itu tak lagi memancakan aura dingin. Tak butuh waktu lama untuk menciumnya lagi, bahkan sebelum gadis ini mengangguk mengiyakan pernyataanku.

***

AUTHOR’S POV

 

“Bisa… aku bertemu dengan Lee Hyuk-Jae?”

Anggukan dari resepsionis itu membuat Ga-Eul menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah membatalkan acara memilih gaun pengantinnya dengan Donghae, ia lebih memilih menyelesaikan masalah yang terlihat sudah selesai, namun pada kenyataannya ia bahkan belum menyentuh masalah itu sama sekali. Ia belum bertemu dengan Lee Hyuk-Jae semenjak kejadian di galeri tembikar beberapa waktu lalu yang melibatkannya dengan Donghae, dan ia memang mati-matian menghindari orang ini, demi memfokuskan dunianya pada pria bernama Lee Donghae.

Ga-Eul mencoba berpikir jernih saat seseorang memintanya untuk duduk di lobi, dan menunggu untuk yang kesekian kali. Mengambang, pilihan antara banyak hal. Haruskah ia meminta maaf? Atau malah mencaci makinya? Atau yang lebih ekstrem, haruskah ia berterimakasih? Ya, sekotor apapun caranya, pria ini mampu mempertemukannya dengan Donghae, meskipun pada awalnya Hyuk-Jae harus mendekapnya mati-matian agar tak sedikitpun Donghae menemukannya.

Ia terkesiap saat seseorang berdiri dengan jarak 2 meter dihadapannya, dengan setelan jas lengkap dan tangan di dalam saku. Pria itu menampakan wajah dinginnya, rahangnya mengeras ketika gadis itu mulai berdiri dan mendekatinya.

“Hentikan langkahmu,” ujarnya dingin. Ga-Eul dengan refleks mengikuti perkataannya, lalu menundukkan kepalanya.

“Aku… ingin menyelesaikan semuanya, Hyukkie. Dan….”

“Kukira kau sudah menganggap semuanya selesai, Nona Cho. Ah… bahkan kudengar itu akan berganti menjadi Lee, benar?”

Kini Hyuk-Jae yang menunduk, menghela nafas dan mencari objek pandangan lain selain gadis di hadapannya. Ga-Eul mendongak, tanpa sadar mencengkram clutch-nya erat sampai tangannya berkeringat dingin.

“Sayangnya marga itu bukan dari namaku,” ucap pria itu lirih, lalu menatap Ga-Eul intens. “Tak ada yang perlu diselesaikan lagi, sepertinya.”

Pria itu berbalik dan berjalan menjauh, bahkan Ga-Eul belum mengutarakan ucapan apapun karena terlalu bingung. Ia akhirnya sedikit berlari dan meraih lengan pria itu, menggenggamnya erat. Wajahnya masih menunduk, menahan apa yang seharusnya ia selesaikan sejak dulu.

“Aku… aku hanya tak tahu harus mengatakan apa padamu, Hyukkie. Dan….”

“Aku tak perlu maafmu, aku juga tak perlu terimakasihmu. Dan jangan harap aku akan mengucapkan salah satu dari kata itu padamu. Aku tak berterimakasih karena pada akhirnya kau meninggalkanku, dan aku juga tak meminta maaf karena aku tak menyesal saat aku berbohong soal hidupmu.” Ia mengatakannya dengan sekali tarikan nafas, dan malah membuat Ga-Eul yang menganga karena mendengarnya.

“Hyukkie~a….”

“Kuharap kau meninggalkan terapi itu. Dengan begitu aku lebih mudah mempengaruhimu lagi, Ga-Eul~a.”

Ga-Eul melepaskan genggamannya dari lengan Hyuk-Jae, menatap pria itu dengan tatapan nanar sekaligus defensif. Rahang mungilnya ikut mengeras, terbawa perasaan jengkel atas kalimat terakhir pria ini.

“Kupastikan kau tak pernah bisa mempengaruhi perasaanku pada Donghae.”

Hyuk-Jae tersenyum tipis, hendak menertawai dirinya sendiri. Bahkan saat Ga-Eul dalam masa krisis mentalnya, gadis ini tak pernah sekalipun melupakan Donghae, dan kali ini saat kesadarannya sudah nyaris sempurna, ia bertaruh bahwa nama Lee Donghae sudah penuh sesak di dalam otaknya. Seberapa jauhpun ia mencoba mencari celah, Ga-Eul selalu berhasil menutupnya lagi dengan apik, tak pernah membiarkan sekecil apapun memorinya bersama pria itu menghilang.

“Kau benar. Aku tak mungkin menemukan momen dimana kau lupa pada nama itu.”

***

AUTHOR’S POV

 

Lee’s Home

19.26 PM

“Kau sudah survey tadi?” tanya Lee Ajjumma pada Donghae yang sedang sibuk menyantap makan malamnya. Donghae menjadi fokus satu meja makan, kedua orangtuanya dan Kyuhyun juga ada disana. Ia langsung mengambil serbet dan membersihkan mulutnya.

“Ga-Eul mendadak tak enak badan, aku mengantarnya pulang.”

Kyuhyun dan yang lainnya hanya mengangguk mengerti, terlebih ia satu-satunya orang yang tahu bagaimana mengerikannya perubahan wajah Ga-Eul tadi siang.

“Kalau begitu biar eomma yang antar, dan… Kyu, eomma harap kau dan Hye-Na bisa ikut, kalian juga harus bersiap-siap.”

Kyuhyun hanya mengangguk tak peduli, tahu bahwa ibu kandung Lee Donghae ini memang sedikit fanatik terhadap properti berbau pernikahan. Ia bisa melihat buktinya saat dulu Hye-Na sempat frustasi karena ditawari banyak hal aneh saat persiapan pernikahannya dengan Donghae berjalan.

“Tapi… bagaimana bisa kau malah menikah dengan calon istri kakakmu? Aku bahkan hampir jantungan saat mendengarnya.”  Ayahnya tiba-tiba bersuara, matanya tertuju pada Kyuhyun yang sedang mengaduk-aduk sup dihadapannya. Ia langsung menatap sekeliling meja, dan yang wajahnya tidak menampakkan rasa penasaran hanya orang yang duduk tepat disampingnya. Prince Charming kebanggaan keluarga Lee.

“Siapa suruh ia menyodorkan calon istrinya padaku terus-menerus,” ucapnya santai, namun berhasil membuat Donghae tersedak makanan yang hendak ditelannya.

Ayah dan ibunya saling bertatapan tak mengerti, dan wajah Donghae sudah menjadi merah karena disinggung hal sensitif seperti itu. Kyuhyun tersenyum licik dan mendelik ke arah Donghae sesaat.

“Lagi pula Hye-Na tak pernah menyukai anakmu itu, eomma,” ucapnya seraya mengedikkan dagu mengarah pada Donghae. Kini pria yang tengah menjadi sasaran bully Kyuhyun itu menghela nafas kasar.

“Diam atau pernikahanmu tak akan kubiarkan berjalan mulus, Cho Kyuhyun.”

Dan kini seisi meja tertawa melihat tingkah aneh Donghae.

***

 

Ga-Eul & Donghae’s Wedding Day

Kyuhyun dan Hye-Na saling berpandangan ketika seorang pelayan datang dan memberitahu bahwa dibawah ada seorang tamu mencari Donghae.

“Lee Hyuk-Jae?” tanya Hye-Na, hanya untuk meyakinkan ia salah dengar atau tidak. Pelayan itu mengangguk pelan,

“Ia menunggu di samping gereja, tuan, nona.”

Hye-Na mengerutkan keningnya, berpikir. Lee Hyuk-Jae? Datang di hari pernikahan Ga-Eul dan Donghae? Apakah orang itu terlalu baik sampai merelakan hatinya teriris-iris melihat sesi pernikahan gadis yang dicintainya dengan pria lain? Atau kemungkinan terburuk adalah… orang itu berniat menggagalkan acara pernikahan hari ini.

“Pria itu sudah gila,” gumam Kyuhyun pelan, namun Hye-Na dan pelayan itu mampu mendengarnya dengan jelas. Kyuhyun lalu berjalan keluar area gereja tanpa menunggu persetujuan Hye-Na. Dan Hye-Na yang menyadari kepergian Kyuhyun segera mengikuti langkah besar milik pria itu dengan setengah berlari.

Keduanya berhenti ketika melihat seorang pria tengah bersandar pada dinding gereja, menengadahkan kepalanya. Pandangannya kosong, seakan nyawanya melayang-layang begitu saja. Hye-Na sempat bersyukur saat melihatnya, penampilan pria itu sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang yang akan menghadiri pernikahan. Setidaknya prasangka buruk mengenai Hyuk-Jae yang akan menggagalkan pernikahan Donghae dan Ga-Eul sama sekali tidak terbukti.

Ia datang dengan celana jeans, dan jaket kulit serta sebuah sack bag di punggung kanannya. Dia menegakkan badannya ketika melihat sosok Kyuhyun dan Hye-Na yang datang, tersirat sedikit kekecewaan mengapa tidak orang yang dicarinya langsung yang datang.

“Kau… ada perlu apa?” tanya Kyuhyun sedikit sinis. Lee Hyuk-Jae hanya tersenyum merespon ekspresi Kyuhyun itu, seakan menantangnya balik.

“Berapa lama lagi pernikahannya dimulai? Bisa aku bertemu dengan mempelai prianya?” Ia terlihat santai dengan seringai di wajahnya, membuat Hye-Na gemas untuk tak membentak jika saja Kyuhyun tak mendahuluinya.

“Apa kakakku masih memiliki urusan denganmu?”

Lagi-lagi pria itu menyeringai, kini ia berjalan mendekati posisi Kyuhyun dan Hye-Na berdiri dengan kedua tangan didalam saku jeansnya. Topi baseball itu sedikit menutup matanya, sehingga dari sudut pandang Hye-Na ia hanya bisa melihat rahang keras milik pria itu.

“Ada, banyak sekali.” Ia berhenti saat jaraknya hanya setengah meter dengan Kyuhyun, “Hanya dengan kakakmu, karena urusanku dengan Ga-Eul sudah selesai.”

Kyuhyun menghela nafas pelan, ia menahan tangannya untuk tidak menonjok orang itu sekarang juga. Ia masih waras, hari pernikahan Ga-Eul dan Donghae tak akan ia hancurkan begitu saja hanya karena pria –yang bahkan tak pernah meminta maaf karena telah menabrak Hye-Na tempo hari- ini.

Hye-Na melirik jam tangan silver di pergelangan tangan kanannya. “Aku akan menghubunginya. Pernikahannya satu jam lagi, dan aku harap kalian dapat menyelesaikannya kurang dari 30 menit,” ucap Hye-Na dengan ponsel di tangannya, mengirim sebuah pesan pada Donghae.

Hyuk-Jae kini tersenyum sopan pada Hye-Na, sedikit membungkukkan badannya. Kyuhyun dan Hye-Na sendiri kebingungan kenapa pria ini mendadak… bertingkah aneh? Tersenyum sopan adalah hal yang aneh, menurut keduanya.

“Aku belum sempat meminta maaf padamu saat kejadian tempo hari, apa… ini lukanya?” tanya Hyuk-Jae lalu meraih tangan kiri Hye-Na, menampakkan gulungan kain kasa berukuran kecil. Hye-Na sempat berpandangan dengan Kyuhyun sebelum ia menarik tangannya kembali, tahu bahwa pria di sampingnya sudah mengeluarkan aura tak mengenakkan.

“Aku… baik-baik saja,” ucap Hye-Na kaku. Efek aura membunuh Kyuhyun benar-benar kuat sampai ke pita suaranya.

Hyuk-Jae mengangguk pelan. “Kalau begitu aku tak perlu terlalu merasa bersalah padamu.” Ia berbalik memunggungi keduanya santai, tanpa tahu tangan Kyuhyun sudah mengepal sempurna, hendak melayangkan bogem mentahnya jika saja Donghae tidak datang.

“Mencariku?”

Ketiganya refleks berbalik, mendapati seorang Lee Donghae dengan tuxedo putih membalut tubuhnya. Wajahnya tak terbebani apapun hari ini, senyumnya selalu mengembang bahkan saat ia tahu bahwa seseorang yang diberitahu Hye-Na hendak menemuinya adalah seorang Lee Hyuk-Jae.

Hye-Na bersyukur situasi mengerikan tadi dipecahkan oleh kedatangan Donghae. Ia menarik lengan Kyuhyun untuk pergi dari serambi di sisi gereja itu.

“Dia bilang masih punya urusan denganmu. Dan katakan padanya agar berhenti mempermainkan emosi orang,” ucap Kyuhyun pada Donghae saat mereka berpapasan, dan Donghae hanya terkekeh pelan saat keduanya sudah berlalu.

Kini hanya tersisa Hyuk-Jae dan Donghae di serambi itu. Hyuk-Jae sempat tersenyum sebelum ia mendudukkan dirinya di tangga kecil yang langsung mengarah ke taman samping gereja. Gerak-geriknya diawasi Donghae dengan santai. Donghae juga ikut duduk disampingnya.

“Apa yang masih belum selesai?” tanya Donghae singkat, menoleh melihat wajah Hyuk-Jae yang tengah menerawang memandang jajaran pohon cemara di hadapannya.

“Hatiku. Dan sebenarnya tidak akan pernah selesai, Lee Donghae ssi.”

Donghae mengikuti arah pandang Hyuk-Jae, menjadikannya sebagai fokus saat ini. “Lalu aku bisa membantu apa? Kau akan mati saat ini juga jika kau memintaku menyerahkan Ga-Eul padamu.”

Hyuk-Jae tertawa renyah mendengarnya, ia lalu menepuk pundak Donghae ringan. “Kau tahu? Diserahkan pun gadis itu tidak akan mau.”

Donghae tersenyum lebar, mengangguk mengiyakan. “Lalu?”

“Aku hanya perlu memastikan hidupnya baik-baik saja. Kau bisa melakukannya untukku?”

Mata Donghae berputar, berpikir sejenak kemudian kepalanya menunduk, mengisyaratkan jawaban yang tidak diharapkan.

“Tidak.”

Satu kata itu sukses membuat Hyuk-Jae menatap Donghae tajam, namun tatapan tajamnya berubah menjadi sorot kebingungan karena Donghae tersenyum seperti orang sinting setelahnya.

“Aku tidak akan melakukannya untukmu. Tapi untukku sendiri, Hyuk-Jae ssi. Itu terdengar lebih rasional menurutku.”

Hyuk-Jae menghela nafas ringan lalu berdiri satu langkah di bawah tempat Donghae duduk, membuat Donghae harus mendongakkan kepalanya untuk melihat langsung ekspresi pria itu. “Sesukamu saja, yang penting saat aku tak mau tahu lagi soal hidupnya, ia hidup dengan baik.”

Hyuk-Jae berjalan menuruni tangga, menjauhi Donghae. Donghae kini berdiri dan menatapnya sedikit segan. Sebenarnya pria ini juga sama psycho-nya dengan Ga-Eul , namun bedanya… pria ini begitu sok memiliki jiwa sehat.

“Sampaikan salamku pada calon istrimu, Donghae-ssi. Dan… sampaikan juga maafku. Eo?” ucapnya sambil menoleh pada Donghae, dan ia dapat melihat Donghae mengacungkan dua jempolnya, tersenyum seperti orang yang baru mendapat teman.

***

Kyuhyun dengan seksama menyimak apa yang pendeta katakan diatas altar, menunggu reaksi selanjutnya dari Donghae. Ia mendadak juga merasa gugup, entah karena apa. Pra-wedding syndrome? Konyol.

Kini sesekali ia melihat gadis yang duduk sejajar dengannya, namun berada di tempat yang bersebrangan. Seorang gadis dengan minigown putih bersih dan rambut ikal panjangnya yang terurai. Ia terlihat sedikit mencolok diantara gadis lain, dan ia yakin itu bukan hanya dalam pandangannya. Gadis ini memang terlalu menyilaukan, bahkan saat pertama kali ia melihatnya dalam keadaan mabuk. Dan kedua kali, saat ia bangun tidur dipagi hari dan berhasil merebut ciumannya. Yang ketiga… yang paling tragis, di hari pertunangan gadis itu dengan kakak tirinya, dan sampai hari ini gadis itu tak pernah kehilangan caranya untuk terlihat cantik sedikitpun, yang Kyuhyun banggakan sebagai calon istrinya.

Tanpa ia sadari seisi gereja sudah berdiri dan bertepuk tangan, seakan memberi selamat pada pasangan diatas altar, lalu ia ikut berdiri dan bertepuk tangan. Ia sejenak berkutat dengan ponselnya, secara sembunyi-sembunyi tentu saja, lalu kembali menatap Hye-Na di seberang sana. Tepat saat Hye-Na juga melihatnya, gadis itu seakan sibuk merogoh clutch berwarna senada dengan gaunnya, mengambil ponsel yang bergetar dan membukanya dengan sembunyi-sembunyi juga.

From : Kyuhyun

 

Aku akan melakukan yang lebih baik dari Lee Donghae diatas altar. Tunggulah sampai saatnya tiba, Na~ya.”

Hye-Na tersenyum layaknya orang gila. Ia tak berniat sama sekali untuk membalas pesan itu. Ia hanya menunduk menahan ledakan perasaannya dan kembali duduk saat semua orang sudah selesai dengan acara tepuk tangannya.

***

Kyuhyun dan Donghae hanya bisa tersenyum melihat Hye-Na dan Ga-Eul berpelukan sangat erat, seolah beban keduanya terangkat sudah seiring pengucapan janji Donghae beberapa saat lalu. Bahkan Ga-Eul hampir saja mengeluarkan airmata yang sudah tertampung sempurna di pelupuk matanya.

“Ya! Uljima!” ucap Hye-Na seraya menghapus air mata Ga-Eul yang akhirnya tumpah melunturkan make-up tipisnya.

“Lihat saja, awas kalau kau juga menangis di pernikahanmu!” balasnya seraya menggembungkan pipinya kesal.

Hye-Na tersenyum dan melirik Donghae yang berdiri berdampingan dengan Kyuhyun, lalu mendorong Ga-Eul agar dekat-dekat dengannya. “Kalau kau tak menjaganya dengan benar, kau akan mati, Prince Charming,” ucapnya serius, namun sedetik kemudian ia tertawa garing. Kyuhyun yang melihatnya segera mengacak rambut Hye-Na pelan.

“Kau berani membunuh kakakku? Dan kau juga akan menerima balasannya dariku, nona Han,” ucapnya tak kalah serius, dan kini Hye-Na menaikkan alisnya, berbalik menatap Kyuhyun menantang.

“Aku tak takut padamu, tuan aneh!” Tatapan menantang dari mata cokelatnya membuat Kyuhyun… gugup? Ia sampai harus mengingat-ingat kapan terakhir kali ia gugup karena melihat sorot mata itu terlalu jelas.

“Kau benar-benar tidak akan takut jika kujadikan tawananku seumur hidup? Belum lagi statusmu akan berubah menjadi… istri sah seorang Cho Kyuhyun. Itu akan membuat minat para gadis untuk membunuhmu meningkat, tahu?”

Donghae dan Ga-Eul tertawa mendengarnya, dan Hye-Na hanya diam, memutar bola matanya kesal.

“Dan… aku juga akan mencintaimu habis-habisan Han Hye-Na ssi. Itu akan lebih menakutkan dari yang kau kira.”

END

Credit: http://kafkanisaoctaryoto.wordpress.com/