Note: Kalo ada tulisan miring berwarna merah, itu artinya flashback, ya! Dan diperingatkan untuk beberapa reader yang masih polos. Ada adegan yang rada nyerempet soalnya.

 

 

            KRIIIIIIIIIING!!!!!!!! KRIIIIIIIIIIIIIING!!!!

            Hye-Na menggeliat sesaat dalam tidurnya, menolak untuk membuka matanya yang terasa berat. Dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan menarik selimut menutupi kepalanya.

            “Kyu… matikan alarmnya!” seru gadis itu dengan suara serak.

            Tidak ada sahutan dan alarm itu tetap berbunyi memekakkan telinga, membuat Hye-Na tidak tahan dan menendang selimutnya ke kaki tempat tidur, duduk di atas kasur dengan rambut berantakan dan mata yang jelas-jelas terlihat sayu dan sangat mengantuk.

            “Yak, tidak bisakah kau membantuku untuk hal semudah itu? Suami macam apa kau?!” sergahnya sambil memukulkan lengannya ke kasur di samping tempatnya berbaring. Mata Hye-Na terbuka lebar saat menyadari ranjang itu kosong dan mendadak tahu bahwa dia melakukan kesalahan lagi. Kejadian sama yang terulang untuk keempat belas kalinya setiap pagi dalam kurun waktu dua minggu terakhir.

            Gadis itu mendesah dan membenamkan tangannya ke rambut. Ada umpatan yang ingin mendesak keluar dari mulutnya, tapi ditahannya sekuat tenaga. Dua minggu sudah berlalu sejak pria itu keluar dari rumah, dan dia masih tetap tidak bisa membiasakan diri dengan ketiadaan pria itu di sampingnya setiap dia bangun tidur, bahkan hal itu berlangsung setiap hari. Setiap hari yang terasa membunuh.

            Hye-Na menapakkan kakinya turun dari ranjang. Tubuhnya sedikit terhuyung saat dia berdiri, tapi dia berhasil meraih meja kecil di samping tempat tidurnya untuk mencari keseimbangan. Dia teringat kebiasaan mereka setiap pagi. Alarm akan berdering nyaring dan dia akan berteriak menyuruh Kyuhyun mematikan alarm itu. Pria itu akan balas meneriakinya dengan mengatakan bahwa seorang istri yang baik seharusnya bangun lebih dulu daripada suaminya, yang pada akhirnya akan berbuntut pada perdebatan panjang yang menguras tenaga. Pada akhirnya Hye-Na selalu mengalah. Bukan karena dia istri yang menurut pada suami, tapi karena dia harus segera bangun untuk berangkat ke kantor.

            Lalu saat dia bangun, dia akan terhuyung seperti saat ini. Tapi biasanya dia tidak perlu mencari meja untuk berpegangan, karena tangan Kyuhyun sendiri yang akan menopangnya, menyeimbangkan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu.

            “Gadis bodoh.” Kata itulah yang selalu keluar dari mulut Kyuhyun setiap kali hal itu terjadi. Dan setiap kali itu pula Hye-Na akan membalasnya dengan kalimat yang sama.

            “Kau sama bodohnya karena menikahi gadis bodoh sepertiku.”

            Hye-Na melepaskan pegangannya pada meja dan merasakan tubuhnya sendiri merosot ke lantai. Bahunya sedikit terguncang saat dia mulai terisak pelan dengan wajah terbenam di antara kedua lututnya.

            Dia sudah mencoba hidup tanpa pria itu. Berusaha melakukan segala hal yang belum pernah dilakukannya sendiri tanpa pria itu. Dia selalu berpikir bahwa itu hanya masalah kecil sampai akhirnya dia bisa terbiasa lagi. Tapi tidak. Mungkin lambat laun dia akan terbiasa, tapi segala hal tidak akan terasa sama. Sama sekali tidak sama.

***

            Hye-Na mengoleskan selai kacang ke roti tawar di tangannya dengan pikiran melayang. Seharusnya dia sudah menemui pengacaranya untuk mengurus surat perceraian, tapi entah mengapa dia selalu mencari-cari setumpuk alasan untuk menundanya. Dan dia tahu Kyuhyun sudah menolak untuk mengurusnya sendiri. Bukan pria itu yang mengajukan perceraian, jadi dia tidak mau campur tangan dalam hal tersebut. Bahkan Hye-Na masih ingat dengan jelas saat pria itu mengamuk tepat sedetik setelah Hye-Na mengucapkan kata cerai, termasuk setiap kata terakhir yang dikatakannya sebelum keluar dari rumah.

            “Dinginkan kepalamu. Aku akan memberimu waktu. Aku akan menetapkan batasan sendiri. Jika aku tidak menerima surat apa-apa dalam kurun waktu itu, aku akan kembali kesini dan kau tidak akan bisa mengusirku keluar lagi dengan alasan apapun. Camkan itu baik-baik, Cho Hye-Na ssi.”

           Dan pada kenyataannya dia memang tidak mengirimkan surat apa-apa pada pria itu. Dia bahkan tidak menghubungi pengacaranya sama sekali untuk membicarakan surat cerai.

            Karena kau memang tidak ingin bercerai dengannya, Cho Hye-Na. Akui saja. Lihat seberapa parah keadaanmu saat dia tidak ada.

            Hye-Na melemparkan roti yang belum dimakannya sama sekali ke atas piring dan meraih tasnya. Dia baru akan beranjak saat sebuah suara yang sangat familiar mencapai gendang telinganya.

            “Hati-hati di jalan. Lihat kiri kanan saat menyeberang. Perhatikan setiap langkahmu, jangan sampai kau tersandung dan terjatuh. Hindari apapun yang bisa membuatmu terluka. Kalau hujan hubungi aku dan tunggu aku di halte, biar aku menjemputmu.”

            “Jangan dekati pria manapun atau kau akan mematahkan leher mereka,” potong Hye-Na. “Aku sudah hapal sekali ucapanmu itu, Tuan Cho. Dan berhentilah mencemaskanku, aku tidak akan apa-apa. Kau ini seperti nenek cerewet saja!”

            Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli. “Setidaknya aku bisa menjalani hariku dengan tenang jika kau melaksanakan perintahku.”

            Hye-Na menatap liar ke sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya khayalan parahnya saja. Dia hidup dalam bayang-bayang pria itu selama dua minggu terakhir dan dia tetap bereaksi sama. Seolah-olah pria itu berada dimana-mana.

            Dia sudah mengupayakan segala cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari ketergantungan parahnya terhadap heroin bermerk Cho Kyuhyun. Dia melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya selama menjadi istri pria itu. Terkadang dia berangkat ke kantor dengan menggunakan gaun selutut, walaupun dia membencinya setengah mati. Tapi dia melakukannya karena dia tahu bahwa Kyuhyun juga membencinya.

            “Kau bisa masuk angin memakai gaun terbuka seperti itu! Dan apa kau tidak tahu bahwa kecantikanmu meningkat beberapa kali lipat jika kau berdandan dan memakai gaun? Kau tidak boleh terlihat sememukau itu di hadapan pria lain selain aku. Kalau bukan bermaksud untuk merayuku, jangan memakainya. Arasseo?”

            Hye-Na meringis mengingat percakapan mereka waktu itu. Bukan hanya memakai gaun saja, dia juga mengikuti kursus memasak. Biasanya seorang suami akan marah jika istrinya tidak bisa memasak, tapi Kyuhyun malah terlihat senang dan tidak mengeluarkan protes sedikitpun.

            “Kalau kau tidak bisa memasak, berarti kau menghilangkan satu kecemasanku. Bayangkan jika kau memasak. Bagaimana kalau tanganmu teriris pisau? Bagaimana kalau terjadi apa-apa saat kau menghidupkan kompor gas? Lalu saat mengiris bawang, bisa-bisa matamu berair. Jadi akan lebih baik kalau kau jauh-jauh dari dapur.”

            Hye-Na mengangkat tangannya. Dua jari di tangan kirinya diplester. Hasil yang didapatkannya setelah belajar mengiris di pertemuan pertama kursus memasaknya. Tanpa sadar matanya menatap foto pernikahan mereka yang masih tergantung di ruang tamu. Dia belum sempat menurunkannya. Tidak berminat menurunkan foto itu lebih tepatnya.

            Dia tersenyum pahit saat melihat foto itu. Disana terlihat mereka berdua sedang menatap sengit satu sama lain. Jenis foto pernikahan yang tidak akan pernah kalian lihat di rumah manapun di dunia ini selain di rumah mereka. Bahkan di foto itu Hye-Na mengenakan gaun putih selutut yang bagian bawahnya terlihat dipotong sembarangan. Mau tidak mau gadis itu mengingat lagi hari pernikahan mereka waktu itu. Hari yang mungkin dianggap bencana oleh keluarga Hye-Na. Dia bahkan masih ingat betapa ibunya terlihat sangat malu di hadapan para tamu undangan saat itu karena kelakuan liar anak gadisnya.

***

            “Yak, aku bosan!” bisik Hye-Na. “Bukankah mengucapkan janji di depan altar saja sudah cukup? Kenapa harus membuang-buang waktu untuk mengurusi para tamu segala? Wajahku pegal tersenyum terus dari tadi dan gaun ini nyaris membunuhku!” ujar Hye-Na, merujuk pada gaun putih panjang yang dipakainya. Dia bahkan nyaris jatuh terserimpet berpuluh-puluh kali dari tadi.

            “Pengantin mana yang merasa bosan di pesta pernikahannya sendiri, gadis bodoh?”

            “Aku.”

            Kyuhyun mendelik. Gadis itu selalu saja mendebatnya.

            “Bersabarlah sebentar lagi. Aku juga bosan.”

            “Aku mau duduk. Kau urus tamu yang lain.” Hye-Na tersenyum manis, aksi terakhir yang akan dilakukannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan dia tahu bahwa Kyuhyun tidak bisa protes lagi jika dia sudah mengeluarkan jurus andalannya itu.

            “Sialan kau!” umpat Kyuhyun kesal, membiarkan gadis itu berlalu dari pandangannya.

            Hye-Na menjatuhkan tubuhnya ke atas salah satu kursi kosong dan memberi tanda kepada pelayan yang lewat untuk mengambilkannya minuman. Dia menatap bengis setiap tamu yang lewat yang menunjukkan tanda-tanda ingin memberinya ucapan selamat, membuat mereka tidak berani mendekatinya. Ibunya berada di sisi lain ruangan, jadi dia tidak akan mendapat ceramah gratis tentang kelakuannya.

            “Onnie, tidak bisakah aku ganti baju sekarang? Aku bisa maati kepanasan!” rengek Hye-Na saat Ah-Ra, nuna Kyuhyun, duduk di depannya.

            “Tahanlah beberapa jam lagi,” sahut Ah-Ra dengan mata berkilat senang. Dia memang gembira sekali saat akhirnya Hye-Na mengalah dan mau memakai gaun di hari pernikahannya. Mengingat rencana gadis itu untuk mengadakan pesta pernikahan yang santai, yang melibatkan baju kaus dan celana jins. Kyuhyun bahkan mendukung ide gila itu, sehingga dia terpaksa memukul kepala adiknya itu agar kembali waras. Dan Hye-Na juga tidak bisa berkutik saat ibunya ikut turun tangan dengan menasihatinya panjang lebar tentang pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidup.

            “Hei, boleh aku minta gunting?” tanya Hye-Na pada pelayan yang baru mengantarkan minumannya. Pelayan itu mengangguk dan kembali semenit kemudian dengan gunting di tangan.

            “Untuk apa gunting itu?” tanya Ah-Ra penasaran.

            “Ya untuk menggunting. Memangnya gunting sudah mendapat pekerjaan baru?” ujar Hye-Na sembarangan dan Ah-Ra hanya bisa membelalak ngeri saat Hye-Na menggoreskan ujung tajam gunting itu di bagian lutut gaunnya, membuat robekan besar yang dilanjutkan dengan guntingan di seputar gaun, membuat sisa gaun itu terjatuh ke lantai.

            “HAN HYE-NA!!! KAU PIKIR APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, HAH?”

            Hye-Na menjatuhkan gunting itu ke lantai dengan refleks dan berbalik. Kali ini dialah yang bergidik ketakutan saat melihat tatapan membunuh dari ibunya.

***

            Hye-Na tertawa kecil saat mengingat kejadian itu. Saat itu ibunya memarahinya habis-habisan di depan semua tamu, tapi anehnya Kyuhyun malah tertawa geli di belakang punggung ibunya sambil mengedip, memberinya satu jempol atas kelakuan biadabnya. Mereka berdua memang selalu kompak dalam hal membuat keributan yang pada akhirnya berujung dengan ceramah berjam-jam dari orang tua masing-masing.

            Gadis itu mencengkeram tali tasnya dan berjalan ke pintu. Dia mengambil sepatunya yang terletak di rak dan memakainya, sesaat berpikir untuk mengunjungi psikiater. Yah, sepertinya dia memerlukan penasihat kejiwaan. Dia pasti sudah tidak waras karena tidak bisa melepaskan pikirannya dari pria itu sama sekali.

***

            Kyuhyun keluar dari kamar mandi pribadi di ruang kerjanya dengan rambut basah sehabis mandi. Dia merapikan kemejanya dan memasang dasi dengan susah payah.

            Sial! umpatnya dalam hati. Biasanya gadis itulah yang akan membantunya, tapi sekarang….

            Pintu ruang kerjanya terbuka dan sekretarisnya melangkah masuk dengan pandangan meminta maaf.

            “Maaf, saya kira….”

            “Tidak apa-apa,” sergah Kyuhyun cepat. “Letakkan saja berkasnya di atas meja.”

            “Anda tidak pulang ke rumah lagi, sajangnim?” tanya gadis bernama Hwang Min-Ri itu hati-hati.

            Kyuhyun menggeleng singkat. “Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk pulang,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

            Min-Ri tertegun sesaat. Dia selalu iri saat melihat atasannya itu bergegas pulang setiap harinya saat jam pulang kantor tiba. Betapa pria itu berusaha agar tidak perlu keluar kota untuk berjumpa klien dan sebagainya agar dia tidak perlu menginap jauh dari rumah. Bahwa pria itu membawa bertumpuk-tumpuk berkas ke rumah supaya bisa pulang tepat waktu. Dan hal itu terjadi setelah dia menikah. Padahal sebelumnya Kyuhyun adalah jenis pria yang akan bertahan di kantor sampai larut malam. 18 jam waktunya akan habis di kantor, tapi sikapnya 11 bulan terakhir sangat berbeda. Setiap kali ada yang bertanya, Kyuhyun pasti akan melontarkan jawaban yang sama.

            “Beberapa bulan yang lalu tidak ada alasan yang bisa membuatku bertahan berada di rumah. Tapi sekarang… ada seorang gadis yang membuat tempat itu layak disebut rumah. Alasan kenapa aku selalu ingin pulang dan menemuinya secepat mungkin. Kalian semua belum menikah, tentu saja tidak mengerti perasaan seperti itu.”

            Min-Ri membungkuk dan keluar dari ruangan presiden direktur itu. Ada isu buruk yang beredar bahwa istri dari atasan mereka itu menuntut cerai. Itu menjawab pertanyaan kenapa dua minggu terakhir Kyuhyun selalu sibuk bolak-balik keluar kota dan jika dia berada di Korea, biasanya dia akan menginap di kantornya yang memang memiliki ruang istirahat cukup besar di dalamnya. Semua orang cukup kaget dengan kabar itu, mengingat betapa bahagianya direktur mereka itu dengan pernikahannya. Min-Ri sendiri belum pernah bertemu dengan sang Nyonya Besar karena dia baru bekerja 8 bulan terakhir, tapi dia cukup penasaran dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.

            Gadis itu kembali ke mejanya dan berpikir sesaat. Direktur mereka itu orang baik, walaupun terkesan sedikit dingin dan tidak ramah pada orang yang baru dikenalnya. Tapi Kyuhyun juga jenis pria yang bisa membuat semua wanita melongo dan berpikiran yang tidak-tidak. Dengan ketampanan sememukau itu, bagaimana mungkin ada wanita gila yang menuntut cerai darinya?

***

            Kyuhyun meletakkan telepon di tangannya kembali ke tempatnya dengan kening berkerut. Dia baru saja bertanya pada pengacara pribadi Hye-Na tentang surat cerai dan yang membuatnya terkejut adalah, pria itu bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa. Hal itu mengubah segalanya. Dia sudah memperingatkan gadis itu bahwa jika dalam batas waktu yang diberikannya gadis itu tidak mengirimkannya surat cerai, maka dia akan kembali. Walaupun dia tetap akan melakukan segala cara untuk membatalkan perceraian itu jika dia menerima surat tersebut. Lagipula itu membuktikan sesuatu. Gadis itu tidak benar-benar ingin bercerai darinya.

            “Pokoknya aku mau bercerai darimu! Persetan dengan semua alasan yang kau berikan! Jelas-jelas aku melihatmu berciuman dengan wanita lain di depanku dan aku tidak mau mendengar pembelaanmu. Aku akan mengirimkan surat cerai secepatnya padamu, Tuan Cho Kyuhyun.”

            Kyuhyun tertawa getir. Ciuman? Ciuman pertama, kedua, ketiga, bahkan puluhan ciuman berikutnya selalu dengan gadis itu. Bahkan seluruh hidupnya, seluruh alasan atas apa yang dia lakukan selalu tentang gadis itu. Gadis yang selalu menahannya untuk berada di jalur yang benar. Gadis yang selalu membuatnya cemas setengah mati. Gadis tempatnya pulang….

***

            “Hei, Kyu, kau lihat gadis yang baru memasuki gerbang itu? Yang rambutnya ikal! Dia cantik sekali, kan? Aku rasa aku menyukainya.”

            Kyuhyun menoleh ke arah yang ditunjuk Eunhyuk. Ada berpuluh-puluh mahasiswa yang baru berjalan memasuki gerbang. Sebagian besarnya mahasiswa baru. Tapi dia tahu dengan jelas gadis mana yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Terang saja, karena dari kemarin Eunhyuk tidak hentinya membicarakan gadis berambut ikalnya itu. Siapa namanya? Choi Ji-Yoo?

            Pandangan Kyuhyun beralih ke arah gadis lain yang berjalan tidak jauh dari Ji-Yoo. Rambut gadis itu diikat asal-asalan membentuk ekor kuda, menyisakan beberapa helai anak rambut yang terjuntai di sekeliling wajahnya. Pipinya menggembung, karena mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Gadis itu memakai baju kaus longgar dan kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan, berikut celana jins dan sepatu ketsnya, membuat penampilannya terlihat mencolok di sekeliling mahasiswi-mahasiswi baru lain yang berlomba memamerkan busana terbaik mereka, berdandan secantik dan sefeminin mungkin. Tapi entah kenapa gadis itu terlihat paling memukau di antara semuanya. Mungkin karena dia terlihat nyaman dengan penampilannya, atau karena wajah dinginnya yang terlihat seperti boneka tanpa dosa. Wajah itu terpahat dengan cantik, polos, dan….

            “Namanya Han Hye-Na. Salah satu mahasiswi baru paling menarik perhatian. Kau punya banyak saingan, Kyuhyun~a,” ujar Eunhyuk, memotong pikiran Kyuhyun. “Tapi hati-hatilah, dia tidak sepolos tampangnya. Dia itu galak sekali. Aku dengar kemarin dia menyiram salah satu senior dengan air karena sang senior merasa gadis itu merebut tempat duduk miliknya.”

            Kyuhyun tersenyum singkat.

            “Menarik,” gumamnya pelan. Matanya mengikuti langkah gadis itu yang mulai mendekatinya. Saat jarak di antara mereka sudah cukup dekat, Kyuhyun bisa melihat wajah gadis itu dengan lebih jelas. Mata gadis itu berwarna cokelat. Dan bola mata itu juga balas menatapnya dengan pesan yang sangat jelas, mau-apa-kau-melihatku-seperti-itu?

            Sesaat Kyuhyun melupakan bagaimana caranya menarik nafas dengan benar. Saat menatap gadis itu, dia merasakan kenyamanan yang aneh. Seperti… rasa yang kau dapatkan saat pulang ke rumah. Detik itu juga dia tahu bahwa gadis itu akan segera menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tidak peduli bahwa dia baru saja melihat gadis itu hari ini. Dan dia cukup yakin bahwa hal itu terjadi karena dia baru saja menemukan gadis yang membuatnya berpikir bahwa “dialah orangnya”. Gadis itu… Han Hye-Na.

***

            Kyuhyun memutar kursinya menghadap pemandangan seluruh kota Seoul di balik jendela kaca besar di belakangnya. Hanya pemandangan biasa perkotaan yang tidak terlalu menarik, tapi sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli.

            Dia menatap selembar foto di tangannya. Biasanya dia menyimpan foto itu di laci meja kerjanya. Foto mereka berdua di pinggir pelabuhan saat sedang liburan bersama di Jepang. Saat itu Kyuhyun baru saja tamat kuliah dan keluarganya dan keluarga Hye-Na memutuskan untuk berlibur bersama sekaligus merayakan kelulusan Kyuhyun.

            Tentu saja detik pertama dia memiliki kesempatan dia langsung membawa gadis itu ke rumahnya dan mengenalkannya pada orang tua dan kakak perempuannya yang langsung menyukai gadis itu. Ditambah dengan kenyataan bahwa Kyuhyun tidak pernah membawa satu gadis pun ke rumah sebelumnya, membuat keluarga kecilnya itu langsung menyambut Hye-Na bak pahlawan.

            Kyuhyun tersenyum saat teringat momen di foto itu. Dia tahu bahwa gadisnya itu sangat benci dengan kamera dan menolak mentah-mentah usulan Kyuhyun untuk berfoto bersama. Tapi gadis itu bersedia dengan iming-iming kaset game dan novel pembunuhan kesukaannya. Walaupun tetap saja dia memasang tampang tidak bersahabatnya saat difoto.

            Pria itu menyandarkan kepalanya ke kursi dan menatap jalanan macet di kejauhan. Ingatan-ingatan masa lalu membanjiri pikirannya, seolah sedang menertawakan keadaannya yang sudah sangat menyedihkan. Dia teringat kali pertama dia akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan gadis itu. Bagaimana dia akhirnya membuat gadis itu melihatnya. Bagaimana akhirnya dia berhasil memaksa gadis itu masuk ke dalam kehidupannya.

***

            Kyuhyun bersandar ke pilar yang menghadap langsung ke arah auditorium yang disulap menjadi ruang dansa dadakan untuk malam ini. Dia terpaksa memasang tampang setannya dan mendelik menatap segerombolan gadis kecentilan yang tidak henti-hentinya berlalu-lalang di hadapannya, berharap bisa menariknya ke ruang dansa. Merupakan hal paling membanggakan di Kyunghee University jika kau berhasil menjadi pasangan dansa seorang Cho Kyuhyun, yang notabene adalah pria paling diinginkan wanita di seluruh penjuru kampus. Bukan hanya karena wajahnya yang luar biasa tampan, kepintaran yang membanggakan, ataupun kekayaan yang mencengangkan, tapi juga fakta bahwa dia adalah pria yang tidak pernah berhasil digaet gadis manapun sejauh ini. Maka bayangkan kebanggaan yang akan didapatkan oleh gadis pertama yang berhasil menarik perhatiannya. Tidak heran jika para gadis menekan harga diri mereka serendah mungkin dan bersedia melakukan hal apapun untuk menarik perhatian namja itu.

            Kyuhyun sudah bosan setengah mati berada di tempat itu. Dia tidak habis pikir kenapa tiba-tiba tahun ini harus diadakan pesta ulang tahun kampus mereka entah untuk yang keberapa. Mungkin bagi orang-orang itu penting, tapi baginya yang tidak suka pesta-pesta seperti ini, hal itu sungguh menyebalkan. Apalagi acara ini wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa, membuatnya semakin kesal sampai ke ubun-ubun. Dan Eunhyuk sudah menghilang entah kemana, meninggalkannya sendirian seperti orang bodoh.

            Kyuhyun memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan memandang kerumunan orang-orang di depannya dengan bosan. Para dosen dan staff sudah pulang ke rumah masing-masing karena sudah hampir tengah malam. Kyuhyun berencana segera kabur dari tempat ini, tapi mengurungkan niatnya karena tadi Eunhyuk merengek agar Kyuhyun mengantarkannya pulang. Tapi pria itu sendiri menghilang tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya dia berhasil berkenalan dengan gadis pujaannya itu, karena tadi Kyuhyun sempat melihat mereka berdua berdansa.

            Tiba-tiba Kyuhyun merasakan tubuhnya ditubruk seseorang. Padahal jelas-jelas dia hanya berdiri tenang di tempat ini. Pasti salah satu gadis kecentilan lain yang sedang memakai taktik kuno untuk menarik perhatiannya.

            Kyuhyun menoleh dan bermaksud menyemprot gadis itu, tapi mulutnya langsung terkatup rapat saat melihat siapa yang menyenggolnya. Gadis itu. Han Hye-Na.

            “Aaah, mian, mian, aku tidak sengaja. Salahkan gaun dan sepatu sialan ini. Aku nyaris mati rasanya,” omel gadis itu sambil menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas lantai. Dia meluruskan kakinya dan menendang lepas sepatu ber-hak tinggi yang sedang dipakainya sembarangan, tidak memedulikan tatapan penasaran dari orang-orang yang berlalu-lalang.

            Gadis itu tampak cantik dengan gaun peach selutut yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Kyuhyun tidak pernah membayangkan bagaimana penampilan gadis itu jika menanggalkan baju kaus kebesarannya dan menggantinya dengan gaun, tapi sekarang pria itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri dan nyaris tidak bisa mengedipkan mata saking terpukaunya. Rambut cokelatnya yang ikal digerai, membuatnya terlihat seperti manekin pajangan di toko-toko, boneka yang setiap senti wajahnya dipahat dengan hati-hati oleh sang seniman, tanpa menyisakan cacat sedikitpun. Kyuhyun bahkan nyaris meringis, bertanya-tanya bisa secantik apalagi gadis di sampingnya ini?

            Gadis itu sendiri tidak mengacuhkan Kyuhyun sama sekali dan malah sibuk dengan HP di tangannya. Sesaat kemudian terdengar suara teriakannya yang menarik perhatian beberapa orang yang sedang berdiri di dekat mereka.

            “Yak, dimana kau, hah? Cepat kesini dan tinggalkan pacarmu itu! Aku mau pulang! Atau aku laporkan kepada ibumu bahwa anaknya yang polos sekarang sudah mulai sibuk pacaran. Kau mau?”

            Tanpa menunggu jawaban, gadis itu mematikan teleponnya begitu saja dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang dibawanya. Sesaat kemudian dia sudah sibuk memijat-mijat kakinya yang pegal setelah memakai high-heels dua jam terakhir. Dan selama itu pula Kyuhyun terus menerus memerhatikannya.

            “Kepada seluruh mahasiswa, harap berkumpul di auditorium. Pesta malam ini akan ditutup dengan melakukan sebuah permainan. Semuanya diharapkan kembali ke auditorium. Perhatian semuanya!”

            Kyuhyun mendecak kesal mendengar pengumuman itu. Dia tidak punya waktu untuk melarikan diri karena posisinya yang tepat berada di depan gedung auditorium itu. Tapi dia bisa mendengar keluhan sama yang terlontar dari mulut gadis itu saat melihat beberapa panitia menyuruh mereka segera masuk ke dalam. Gadis itu berdiri dengan sedikit oleng dan memandang high-heelsnya dengan wajah ngeri. Melepaskan benda itu memang mudah, tapi saat harus memakainya lagi, dia harus melingkarkan pita-pita yang menjuntai itu ke kakinya dan dia tidak berniat melakukannya sama sekali.

            Entah kerasukan setan apa, Kyuhyun menunduk mengambil sepatu itu dan berjongkok di depan Hye-Na. Gadis itu tersentak kaget, tapi tidak melakukan apa-apa saat Kyuhyun mulai memasangkan setiap pita itu dalam urutan yang benar ke pergelangan kakinya. Kyuhyun mengikatkan pita terakhir dan bangkit berdiri. Dia sadar ada begitu banyak orang yang memperhatikan mereka, tapi dia tidak ambil pusing sama sekali. Setidaknya jika ada gosip yang beredar, gadis yang bersamanya saat ini adalah gadis yang tepat, jadi dia tidak merasa keberatan.

            Hye-Na mendongak menatap Kyuhyun dengan raut wajah bingung. Gadis itu masih tidak cukup tinggi jika dibandingkan dengan tubuh Kyuhyun yang menjulang, meski dia sedang memakai sepatu hak tinggi sekalipun.

            Kyuhyun menatap mata cokelat itu lagi. Hal pertama yang disukainya dari gadis itu. Dia bahkan nyaris tidak bisa mengalihkan tatapannya kalau saja gadis itu tidak mengucapkan sesuatu.

            “Gomaweo,” ujar Hye-Na pelan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Gadis itu baru akan beranjak pergi saat suara Kyuhyun menghentikan langkahnya.

            “Kau memang terlihat mempesona berdandan seperti ini,” ujar Kyuhyun dengan suara rendah. Tangannya masih terbenam di saku celana, salah satu pengendalian dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu dan menahannya pergi. “Tapi kau akan terlihat lebih cantik jika memakai apa yang membuatmu merasa nyaman, Han Hye-Na ssi.”

 

***

            “Sajangnim?”

            Kyuhyun tersentak dari lamunannya dan memutar kursinya lagi. Min-Ri berdiri di hadapannya sambil menyodorkan sebuah file yang langsung diambil Kyuhyun. Pria itu mencoretkan tanda tangannya di atas kertas dan mengembalikan berkas itu lagi kepada sekretarisnya itu, tapi Min-Ri seolah terpaku di tempatnya berdiri. Mata gadis itu tertuju pada foto yang tadi dipegang Kyuhyun, yang sekarang tergeletak begitu saja di atas meja. Wajah gadis itu memucat seolah baru saja melihat hantu.

            “Kau sakit?” tanya Kyuhyun bingung.

            “Sa… sajangnim… apa itu istrimu?” tanya Min-Ri gugup.

            “Ne. Wae?”

            Min-Ri terhenyak kaget, mencerna kenyataan bahwa ternyata dialah yang menyebabkan retaknya hubungan Kyuhyun dengan istrinya itu. Saat itu mereka berdua sedang makan siang bersama di kafe dekat kantor dan ternyata mantan pacar Min-Ri berada di tempat yang sama. Pria itu terus menerus mendesak Min-Ri untuk kembali padanya, tapi Min-Ri menolak dengan alasan bahwa dia sudah punya pacar. Pria itu sama sekali tidak percaya karena Min-Ri sebenarnya memang tidak punya pacar. Gadis itu ingin fokus ke karirnya dan tidak mau memikirkan hal remeh seperti itu. Saat itu Min-Ri ketakutan pacarnya itu memaksanya lagi, apalagi pria itu sering melakukan kekerasan padanya. Melihat wajah Min-Ri yang pucat, Kyuhyun menanyakan masalahnya dan bersedia membantu. Kyuhyun duduk di samping Min-Ri dan merangkul gadis itu, memperlihatkan posisi seolah-olah mereka sedang berciuman. Min-Ri saat itu sangat lega melihat mantan pacarnya pergi keluar kafe dengan wajah kesal, tapi perhatian gadis itu juga tertuju pada gadis lain yang baru saja memasuki kafe. Tatapan gadis itu tertuju ke arah mereka berdua dan raut wajah gadis itu sangat syok waktu melihat Kyuhyun. Min-Ri sempat merasa heran karena setelah itu gadis itu pergi begitu saja, taapi saat itu dia tidak terlalu memikirkannya karena begitu senang bisa terlepas dari pria yang selama ini terus mengganggu hidupnya.

            Tapi sekarang, saat melihat foto itu, Min-Ri memahami apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Dia tidak mungkin melupakan wajah gadis itu. Wajah cantik yang akan membuat iri wanita manapun. Dan ekspresi sakit yang terlintas di wajahnya. Itu bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja.

            “A… aku rasa… aku tahu… alasan… dia meminta cerai darimu. Saat kita makan siang waktu itu. Saat kau menolongku waktu itu… dia… melihatnya….”

            Kyuhyun menarik nafas berat dan mengangguk.

            “Jadi… dia benar-benar melihatnya, ya?” gumam pria itu pelan, nyaris berbisik.

            “A… aku bisa menemuinya dan menjelaskan semuanya.”

            “Tidak perlu. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Lagipula… hari ini… sudah saatnya aku pulang ke rumah.”

***

            Hye-Na berjalan tertatih-tatih keluar dari pintu samping auditorium. Dia tidak suka dengan pesta, keramaian, gaun, apalagi sepatu sialan ini. Kalau bukan karena acara ini wajib didatangi, dia pasti sudah tidur lelap di rumah sekarang. Dan dimana temannya itu? Si Shin Eun-Ji itu. Selalu saja menghilang dan meninggalkannya sendirian. Pasti gadis itu sudah asyik dengan pria barunya. Salah satu senior paling terkenal. Siapa namanya? Choi Siwon? Memang apa tampannya pria itu?

            Hye-Na merasa sudah tidak tahan lagi dan dengan sembarangan menjatuhkan dirinya ke atas lantai, tidak sengaja menabrak seseorang.

            “Aaah, mian, mian, aku tidak sengaja. Salahkan gaun dan sepatu sialan ini. Aku nyaris mati rasanya,” omel gadis itu sambil meluruskan kakinya dan menendang lepas sepatu ber-hak tinggi yang sedang dipakainya begitu saja.

            Tidak ada sahutan, tapi dia tidak memedulikannya. Yang penting dia sudah berhasil kabur dari namja-namja yang mengerubunginya seperti semut, memintanya menjadi pasangan dansa mereka. Hye-Na sempat berpikir untuk menerima ajakan salah satu dari mereka, berencana menginjak kaki pria beruntung itu dengan sepatu hak tingginya saat mereka berdansa, tapi gadis itu membatalkannya. Dia sedang tidak berminat menjadi setan malam ini.

Hye-Na mengeluarkan HP-nya dan memencet nomor Eun-Ji. Dia mau pulang sekarang, dan gadis itu harus mengantarkannya.

            “Yak, dimana kau, hah? Cepat kesini dan tinggalkan pacarmu itu! Aku mau pulang! Atau aku laporkan kepada ibumu bahwa anaknya yang polos sekarang sudah mulai sibuk pacaran. Kau mau?”

            Tanpa menunggu jawaban, gadis itu mematikan teleponnya begitu saja dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang dibawanya. Sesaat kemudian dia sudah sibuk memijat-mijat kakinya yang pegal setelah memakai high-heels dua jam terakhir. Dia tidak akan tahan memakainya 5 menit lagi sekalipun. Sepatu sialan ini akan dibuangnya ke belakang lemari pakaiannya sesampainya dia di rumah nanti. Biar saja sepatu itu menjadi sejarah yang tidak mau diingat-ingatnya.

            “Kepada seluruh mahasiswa, harap berkumpul di auditorium. Pesta malam ini akan ditutup dengan melakukan sebuah permainan. Semuanya diharapkan kembali ke auditorium. Perhatian semuanya!”

            Hye-Na mengerang mendengar pengumuman itu. Neraka macam apa lagi ini? Kapan acara brengsek ini akan berakhir? Tidak ada waktu untuk melarikan diri karena posisinya yang tepat berada di depan gedung auditorium itu.

Sambil mengumpat kesal, gadis itu berdiri dengan sedikit oleng dan memandang high-heelsnya dengan wajah ngeri. Melepaskan benda itu memang mudah, tapi saat harus memakainya lagi, dia harus melingkarkan pita-pita yang menjuntai itu ke kakinya dan dia tidak berniat melakukannya sama sekali.

            Gadis itu tersentak kaget saat seorang pria tiba-tiba memungut sepatu itu dari lantai dan berjongkok di depannya, memasangkan setiap pita itu dalam urutan yang benar ke pergelangan kakinya. Hye-Na terlalu terkejut untuk sekedar mengeluarkan protes kepada pria tidak dikenal yang tiba-tiba menyentuhnya tanpa permisi itu. Tapi terlalu sadar untuk menyadari bahwa sentuhan tangan pria itu di kulitnya terasa hangat, membuatnya merasa aman sehingga membiarkan pria itu menyelesaikan pekerjaannya, bukannya menendang wajah pria itu dengan kakinya.

Pria itu mengikatkan pita terakhir dan bangkit berdiri, membuat Hye-Na bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jantung gadis itu langsung mencelos melihat siapa yang telah memasangkan sepatunya. Cho Kyuhyun. Simbol kebanggaan kampus ini.

Dia pertama kali melihat pria itu saat hari pertama kuliah dimulai. Sebelumnya sebagai mahasiswa baru dia harus mengikuti acara pengenalan kampus dengan senior-seniornya, tapi dia tidak pernah melihat pria itu sama sekali. Dia memerhatikan pria itu karena pria itu dengan terang-terangan menatapnya dan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun saat Hye-Na mengetahui perbuatannya. Mata pria itu tajam, tapi penuh fokus saat menyusuri wajah Hye-Na dengan tatapannya. Kening pria itu terlihat berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. Tapi mata itu tidak terlupakan. Saat itu Hye-Na berpikir bahwa dia menyukai mata pria itu, menyukai cara pria itu menatapnya. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Ditambah wajah tampannya yang keterlaluan. Jenis wajah yang tidak bisa membuat para gadis mengalihkan pandangan selama beberapa saat. Lalu Hye-Na mengetahui nama pria itu dari teman-teman perempuannya yang menjadikan pria itu topik pembicaraan wajib setiap makan siang. Cho Kyuhyun. Pria yang diinginkan oleh hampir seluruh wanita di kampus ini.

            Hye-Na mengerjap dan mengembalikan pikirannya ke dunia nyata, mendongak menatap Kyuhyun dengan raut wajah bingung. Gadis itu membenci kenyataan bahwa dia masih tidak cukup tinggi jika dibandingkan dengan tubuh Kyuhyun yang menjulang, meski dia sedang memakai sepatu hak tinggi sekalipun.

            “Gomaweo,” ujar Hye-Na pelan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Dia memang harus mengucapkan terima kasih, kan?

            Hye-Na berpikir bahwa tidak ada lagi yang perlu diucapkannya, jadi dia berniat pergi saat suara Kyuhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya.

            “Kau memang terlihat mempesona berdandan seperti ini,” ujar Kyuhyun dengan suara rendah. Tangannya pria itu terbenam di saku celana, tapi matanya menatap wajah Hye-Na dengan intens. Tatapan yang selalu disukai gadis itu.

            “Tapi kau akan terlihat lebih cantik jika memakai apa yang membuatmu merasa nyaman, Han Hye-Na ssi.”

***

            Hye-Na berdiri di pojok ruangan bersama Eun-Ji yang berdiri dengan tampang tanpa dosa di sampingnya. Matanya memandang ke arah kerumunan para namja yang berdiri membentuk lingkaran di sisi lain ruangan. Pembawa acara memberi instruksi bahwa mereka akan melakukan permainan. Sebuah tongkat akan digilir dari satu orang ke orang lainnya dan jika musik berhenti, pria terakhir yang memegang tongkat itulah yang harus melaksanakan perintah sang pembawa acara. Permainan aneh yang sangat kekanak-kanakan menurut Hye-Na. Dia heran sendiri kenapa wajah para namja itu terlihat sangat bersemangat.

            “Perintahnya adalah mencium salah satu gadis yang berada di ruangan ini,” ujar Eun-Ji tiba-tiba, menjawab pertanyaan kenapa kerumunan itu terlihat sangat menggebu-gebu dengan permainan yang akan mereka lakukan. “Tongkat itu hanya akan digilir satu kali, jadi hanya ada satu pria beruntung setiap lima tahunnya.” Acara pesta perayaan ulang tahun kampus mereka memang hanya akan diadakan satu kali dalam jangka waktu lima tahun.

            “Aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka. Mereka semua, gadis-gadis senior kita yang centil-centil itu, berencana menjebak Kyuhyun. Musik akan berhenti saat tongkat berada di tangan namja itu. Sepertinya mereka sudah putus asa sampai mau melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian seorang Cho Kyuhyun yang terkenal. Setidaknya perintah itu wajib dilakukan, jadi yang sedang mereka lakukan sekarang adalah berharap bahwa salah satu dari merekalah yang akan terpilih. Kita tidak tahu siapa yang akan dipilih pria itu, kan? Dia bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan satu gadis pun di tempat ini,” celoteh Eun-Ji.

            Entah kenapa jantung Hye-Na mendadak berhenti berdetak selama satu detik penuh, teringat kejadian beberapa menit yang lalu, saat pria itu memakaikan sepatunya, sekaligus kalimat aneh yang diucapkannya setelah itu.

            Hye-Na mendongak saat mendengar sorakan riuh dari semua orang. Benar apa yang dikatakan Eun-Ji tadi, musik berhenti tepat saat Kyuhyun memegang tongkat itu. Gadis itu merasa tidak nyaman memikirkan kenyataan bahwa dia akan melihat secara langsung pria itu mencium gadis lain di depannya. Mungkin dia sudah gila, tapi dia tidak menyukai fakta itu sama sekali. Maka sebagai gantinya dia berbisik pada Eun-Ji bahwa dia ingin mengambil minuman dan berjalan menyelip di antara kerumunan.

            Gadis itu baru merasa lega saat dia berada di depan meja minuman yang tidak terlalu ramai karena semua orang sibuk berkerumun di depan untuk menonton. Dia mengambil gelas berisi cola dan meneguknya, berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman yang berputar-putar di perutnya. Tidak membantu sama sekali sebenarnya, tapi setidaknya tenggorokannya sudah tidak kering lagi.

            Hye-Na baru menyadari bahwa ruangan itu mendadak menjadi sunyi senyap dan baru berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba seseorang merengkuh pinggangnya dari belakang, membalik tubuhnya, dan sesaat kemudian yang diketahui gadis itu hanyalah gerakan lembut di bibirnya.

            Gadis itu mengerjap sesaat untuk mengembalikan kesadarannya dan matanya langsung terbelalak lebar mendapati kenyataan bahwa bibir Kyuhyun-lah yang sedang menempel di bibirnya saat ini. Pria itu mendorong punggung Hye-Na mendekat dengan tangannya, menekankan bibirnya ke bibir gadis itu, memperdalam ciuman mereka. Tapi mendadak pria itu melepaskannya, seolah ada aliran listrik yang menyengatnya jika dia bertahan melakukannya lebih lama lagi.

            Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dari Hye-Na dan menunduk ke arah gadis itu, menatapnya dengan kening berkerut heran.

            “Ternyata lebih parah dari dugaanku,” gumam pria itu, membuat Hye-Na menatapnya bingung.

            Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu dan berbisik pelan, sehingga tidak ada yang bisa mendengarnya selain Hye-Na sendiri. Ucapan yang sesaat kemudian membuat gadis itu nyaris mati berdiri saking syoknya.

            “Han Hye-Na ssi, bagaimana kalau mulai sekarang kau jadi milikku saja?”

 

***

            Hye-Na membanting naskah yang sedang dibacanya ke atas meja, mengerang frustasi saat ingatan itu kembali menghantamnya. Dia adalah seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan terkenal. Dia memilih pekerjaan itu karena hobinya adalah membaca dan dia termasuk editor yang paling tidak punya toleransi di tempat ini. Semua naskah novel yang masuk berada di bawah pengawasannya dan jika dia tidak menyukai cerita, cara penulisan, dan berpikir bahwa naskah itu tidak akan laku di pasaran, dia akan langsung melempar naskah itu jauh-jauh dari penglihatannya. Seleranya sangat ketat mengenai hal ini. Tidak heran jika semua novel yang diterbitkan perusahaan ini adalah novel-novel bermutu yang meledak di pasaran. Mengubah seorang penulis biasa menjadi sangat terkenal seperti selebriti. Tapi sekarang… dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali pada pekerjaannya, hal yang mustahil terjadi sebelumnya, hanya karena alasan bodoh tidak bermutu. Cho Kyuhyun.

            Tentu saja pria itu melaksanakan ucapannya waktu itu dengan serius. Dia selalu muncul di depan Hye-Na dengan wajah datar dan tatapan dinginnya, kadang-kadang bahkan tidak berbicara sedikitpun, hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja dalam pengawasannya. Disodori terus-menerus seperti itu tentu saja membuat Hye-Na kelimpungan. Pria itu seperti bayangan yang tidak bisa diusir pergi. Hal itu menjadi gosip fenomenal di seluruh penjuru kampus, tapi Kyuhyun tampak menulikan telinga terhadap itu semua. Tidak ada ucapan cinta sedikitpun yang tercetus di antara mereka, hanya saja mereka tiba-tiba menjadi sepasang saudara kembar yang nyaris tidak bisa dipisahkan. Walaupun itu terkadang membuat seorang menatap mereka bingung karena yang mereka lakukan setiap saat hanya berdebat dan bertengkar tentang hal paling tidak penting sekalipun.

            Hye-Na masih ingat dengan jelas saat Kyuhyun membawanya ke rumah pria itu untuk pertama kalinya. Memamerkannya di depan orang tua dan kakak perempuannya dan perkenalan yang diucapkan Kyuhyun saat itu nyaris membuat Hye-Na membeku di tempat. Dia bahkan bisa melihat bahwa semua orang yang berada di ruang tamu saat itu melongo syok mendengar ucapan Kyuhyun.

            “Namanya Han Hye-Na. Gadis ini… boleh tidak aku menikah dengannya?”

            Hye-Na tertawa kecil mengingat kejadian itu. Tawa yang perlahan berubah menjadi isakan tertahan yang berusaha disembunyikannya. Tangannya yang gemetar mencengkeram pinggir meja kuat-kuat, menahan suara tangisnya agar tidak terdengar.

            Dia merindukan pria itu. Nyaris seperti orang gila.

***

            Hye-Na membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya, meletakkan sepatunya ke rak dan memakai sandal rumah. Dia baru saja melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan langsung mundur dengan kaget, nyaris terjatuh, saat melihat siapa yang sedang duduk di atas sofanya.

            “Omo, kau pikir apa yang kau lakukan disini, hah?” teriak Hye-Na marah sambil berjalan mendekati Kyuhyun yang sedang menonton TV, menarik pria itu sampai bangkit berdiri, menuntut penjelasan. Ada debaran aneh di dada Hye-Na saat akhirnya mereka berdiri berhadapan, saling bertatapan satu sama lain, tapi gadis itu berusaha mengabaikannya. Hidup hampir satu tahun bersama Kyuhyun tidak mengubah kebiasaan Hye-Na saat berada di dekat pria itu. Jantungnya tetap berdetak tak beraturan saat mereka berdekatan, keringat dingin menetes di pelipisnya, darahnya yang berdesir cepat ke wajah, berkemungkinan besar membuat pipi gadis itu memerah saat Kyuhyun menatapnya, dan hal-hal bodoh lainnya. Dia tetap merasa pria itu terlalu menarik dan itu tidak pernah berubah. Bahkan semakin parah dari hari ke hari.

            “Pulang,” jawab Kyuhyun singkat, nyaris malas-malasan.

            “Kita sedang dalam proses perceraian! Kau tidak berhak kembali ke rumah ini!”

            “Perceraian apa? Kau bahkan tidak mengurusnya sama sekali dengan pengacaramu. Sudahlah Hye-Na~ya, batalkan saja keinginanmu itu. Aku tidak mau bercerai. Alasanmu meminta cerai dariku tidak masuk akal sama sekali.”

            Kyuhyun berbicara sambil memfokuskan matanya menatap penampilan gadis itu. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Setidaknya. Walaupun wajahnya terlihat pucat dan lelah.

            “Kau berselingkuh dariku memangnya bukan alasan untuk berpisah?”

            Kyuhyun mengedikkan bahunya tak peduli dan menyipitkan matanya melihat jari Hye-Na yang diplester.

            “Aku tidak merasa berselingkuh. Dan kenapa tanganmu? Aku kan sudah bilang agar kau menjaga dirimu baik-baik!” seru Kyuhyun marah.

            “Aku ikut kursus memasak,” ujar Hye-Na tak sabar. “Lebih baik kau keluar sekarang!”

            “Aku meninggalkanmu selama dua minggu dan kau menghasilkan dua plester di jarimu? Bagus. Aku tidak akan kemana-mana,” sergah Kyuhyun sambil menghempaskan tubuhnya lagi ke atas sofa.

            “Apa-apaan kau?” teriak Hye-Na sambil berusaha menarik Kyuhyun lagi, tapi Kyuhyun tidak bergeming sama sekali. Pria itu tetap duduk di tempatnya, tidak mau bergerak sedikitpun.

            “Kyuhyun~a, aku lelah. Bisakah kau bekerja sama denganku?” pinta Hye-Na akhirnya. Mengalah.

            “Tidak. Aku tetap disini. Ganti bajumu dan istirahatlah. Ini sudah hampir tengah malam. Apa yang kau lakukan di kantor sampai selarut ini?”

            Hye-Na tidak menjawab dan memilih pergi, menyerah atas kekeraskepalaan pria itu.

            “Kau tidur di luar,” ucap Hye-Na tegas tanpa berbalik ke arah Kyuhyun.

            “Memangnya apa bedanya kalau malam ini aku tidur denganmu? Bukannya kita sudah sering melakukannya? Bedanya aku hanya belum berhasil menghamilimu saja.”

            Hye-Na berbalik dengan wajah memerah dan menatap Kyuhyun tajam.

            “Berhenti menggodaku, Cho Kyuhyun,” katanya penuh penekanan.

            “Selamat malam,” ujar Kyuhyun ketika Hye-Na meninggalkannya masuk ke kamar tidur mereka dan membanting pintu sampai menutup, tidak menggoda gadis itu lebih jauh. Hanya itu yang dapat dilakukannya supaya tidak mengejar gadis itu, menciumnya, melemparkannya ke tempat tidur, dan berada di atasnya. Hal yang terjadi jika mereka berdua habis berdebat dan berdiri sambil menatap sengit satu sama lain. Selalu seperti itu.

            Bahkan saat mereka berdua berada dalam keadaan santai. Sedang menonton TV atau semacamnya, pada akhirnya mereka berdua juga berakhir di tempat yang sama. Tempat tidur.

            Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, membiarkan si pembawa acara di televisi sibuk berceloteh tentang pemanasan global. Dia membiarkan pikirannya melayang saat mereka berdua tidak pernah merasa bosan satu sama lain. Saat masih ada sentuhan kecil di lengan, cibiran mengejek di bibir gadis itu, ataupun celaan tidak beralasan yang keluar dari mulutnya sendiri.

            Mereka sudah melakukan berbagai macam eksperimen pada semua tempat dan dengan semua posisi. Pada kenyataannya—Kyuhyun melihat ke sekeliling rumah—tidak ada tempat di rumah ini yang tidak pernah mereka pakai sebagai tempat untuk melakukannya.

            Tidak ada gadis yang berhasil membuatnya bereaksi dan memikirkan hal yang tidak-tidak selain gadis itu. Akibat yang ditimbulkan gadis itu padanya terlalu besar. Jadi dia tidak berencana melepaskan gadis itu begitu saja. Persetan gadis itu suka ataupun tidak. Dia sudah kembali ke rumah ini dan tidak berniat meninggalkan tempat ini sama sekali. Apapun yang terjadi.

***

 

            Hye-Na membanting pintu kamarnya dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dadanya naik turun dengan cepat menahan emosi. Dia melemparkan tasnya sembarangan dan menjatuhkan badannya ke atas kasur tanpa berniat mengganti baju sama sekali.

            Hari ini pria itu berhasil membuatnya mengalah dan membiarkannya tidur di ruang tamu. Lalu besok? Membiarkan pria itu tidur di kamar ini?

            Hye-Na mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia selalu bersikap lemah di hadapan pria itu. Tidak bisa menggunakan logikanya dengan baik. Tidak bisa memerintahkan otaknya untuk berpikir dengan benar. Kelemahan terbesarnya.

            Melihat pria itu lagi… membuatnya berpikir bahwa tidak terjadi apa-apa. Mereka akan bisa memperbaiki semuanya. Bahwa segalanya baik-baik saja. Tapi tidak ada yang berada benar pada tempatnya. Tidak saat kau melihat bahwa suamimu mencium wanita lain dengan mata kepalamu sendiri.

***

            “Pagi,” sapa Kyuhyun saat Hye-Na keluar dari kamar dengan setelan kantor lengkap. Pria itu sudah duduk di meja makan, juga dengan pakaian kantornya. Dia menyodorkan piring berisi sandwich ke arah Hye-Na yang menerimanya tanpa keluhan.

            “Kau sudah bosan bertengkar denganku?” tanya Kyuhyun ingin tahu.

            “Tidak. Siang ini aku akan menemui pengacaraku dan mengurus surat perceraian kita, jadi aku tidak perlu repot-repot mengusirmu dari rumah ini,” jawab Hye-Na santai.

            “Kau tidak tahu? Pengacaramu sedang mengurus kliennya di Pulau Jeju, jadi kau tidak bisa menemuinya,” ujar Kyuhyun kalem.

            “Mwo?”

            Dengan cepat Hye-Na mengeluarkan HP dari tasnya dan menghubungi nomor pengacaranya.

            “Song ajjushi, apa benar kau ada di Jeju? Aku harus menemuimu siang ini untuk membicarakan perceraianku.” Kening Hye-Na tampak berkerut saat pengacara itu membenarkan ucapannya. “Baiklah. Aku akan menemuimu 3 hari lagi,” ujar gadis itu lemah sambil memutuskan sambungan. Dia mengambil sandwich di piringnya dan memakannya dalam satu gigitan besar. Wajahnya tampak benar-benar kesal.

            “Sudahlah, lebih baik kita tidak usah bercerai saja,” ujar Kyuhyun, dengan refleks mengulurkan tangannya untuk membersihkan remah-remah roti di sudut bibir Hye-Na.

            Gadis itu menjauhkan wajahnya dan mengenyit.

            “Tidak mau,” katanya dengan nada kekanak-kanakan.

            “Aish, kau ini! Baiklah, terserah kau saja! Tapi saat aku menerima surat itu, aku akan langsung merobeknya,” tandas Kyuhyun sambil bangkit berdiri.

            “Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai ada luka goresan baru saat kau pulang nanti.”

***

            “Hye-Na ssi, kau sudah mau pulang?”

            Hye-Na sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas saat seseorang menyapanya. Gadis itu mendongak dan mendapati atasannya, Leeteuk, sedang berdiri di depan ruangannya.

            “Ah, sajangnim. Ne, aku sudah mau pulang. Waeyo?”

            “Kita searah. Biar kuantar.”

            Hye-Na berpikir sesaat sebelum menjawab. Sepertinya tidak ada ruginya, toh rumah mereka juga searah. Jadi gadis itu mengangguk dan meminta Leeteuk menunggunya sebentar.

***

            “Gomaweoyo, Leeteuk ssi,” ujar Hye-Na sambil membungkukkan badannya ke arah Leeteuk yang berdiri di samping pintu mobilnya.

            “Tidak masalah,” ujar Leeteuk sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Hye-Na, membuat gadis itu tersentak dan dengan refleks memundurkan tubuhnya.

            “Ah, mianhae. Tadi ada daun yang jatuh ke rambutmu, aku membantu membersihkannya,” jelas Leeteuk tidak enak.

            “Ah, ye, mianhaeyo, aku kira….” Hye-Na berdiri salah tingkah, tidak tahu harus berkata apa.

            “Gwaenchana. Aku saja yang terlalu gegabah tadi,” kata Leeteuk sambil mengibaskan tangannya.

            “Sudah masuk musim gugur. Lain kali pakailah baju yang lebih hangat saat ke kantor. Udara malam sangat dingin,” nasihat Leeteuk lagi.

            “Ye, gomaweo, Leeteuk ssi.”

            “Hye-Na~ya, sudah malam. Masuk.”

            Hye-Na terlonjak kaget saat mendengar suara berat berteriak di belakangnya. Gadis itu berbalik dan mendapati Kyuhyun berdiri di pintu rumah, menatap Leeteuk dengan pandangan menakutkan.

            “Suamimu?” tanya Leeteuk hati-hati.

            “N-ne,” jawab Hye-Na gugup. Astaga, apa-apaan pria itu? Kenapa dia masih bersikeras kembali ke rumah ini?

            “Aku pergi dulu. Kalau aku menahanmu lebih lama lagi, suamimu itu pasti akan membunuhku,” gurau Leeteuk. Tapi Hye-Na tidak akan heran jika itu benar-benar terjadi. Suaminya itu memang bisa sangat berbahaya jika dia merasa perlu melakukannya.

            Hye-Na melambai ke arah Leeteuk yang sudah menjalankan mobilnya lalu berbalik masuk ke dalam rumah.

            “Kau mau selingkuh terang-terangan di depanku?” tuduh Kyuhyun dengan nada tajam. Tangannya bersedekap di depan dada dan sorot matanya tampak dingin, membuat Hye-Na sedikit bergidik saat menatapnya.

            “Dia atasanku. Dan jangan menuduhku sembarangan. Setahuku kaulah yang berselingkuh. Bukan aku,” tandas Hye-Na, memandang Kyuhyun singkat dan berjalan melewati pria itu.

            “Jadi sekarang seorang atasan sudah diizinkan mengantar karyawannya pulang, mengacak-acak rambut karyawannya itu, tidak peduli jika karyawannya itu sudah menikah sekalipun?” tanya Kyuhyun sambil mencekal tangan Hye-Na, menahan gadis itu pergi.

            “Dia hanya membersihkan daun yang jatuh ke atas rambutku, jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Berhentilah merecoki hidupku dan berhentilah bersikap terlalu protektif padaku!” teriak Hye-Na gusar sambil menyentakkan tangannya sampai terlepas dari cengkeraman Kyuhyun. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sambil menatap tajam satu sama lain, bertahan pada ego masing-masing.

            “Aku minta maaf,” ujar Kyuhyun tiba-tiba setelah keheningan yang mencekam di antara mereka. Mata pria itu tampak berkilat saat menatap Hye-Na.

            “Untuk apa?” dengus gadis itu.

            “Ini.” Kyuhyun menarik Hye-Na ke dalam pelukannya, merengkuh kepalanya, dan menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Terkejut, Hye-Na menahan nafas, dan Kyuhyun mengambil keuntungan dari mulut Hye-Na yang terbuka. Bibir Kyuhyun menyentuh bibirnya dan lidahnya menjelajah ke dalam.

            Hye-Na berusaha berpikir waras, memerintahkan otaknya untuk mendorong pria ini menjauh, tapi tubuh bodohnya bereaksi di luar kehendak. Lututnya goyah dan tangannya melemah, membuat tas yang sedang dipegangnya terjatuh, menimbulkan bunyi halus saat menyentuh lantai.

            Tubuh gadis itu menegang saat tangan Kyuhyun menarik pinggangya mendekat. Tapi dia tidak mendorong pria itu menjauh, dan selama beberapa detik yang berharga, mereka mengambil apa yang mereka butuhkan. Kyuhyun memiringkan wajahnya, menyempurnakan letak bibirnya di bibir Hye-Na ketika gadis itu bereaksi dan ciuman itu tiba-tiba berubah dari pelan dan berhati-hati, menjadi keras dan mendesak. Kyuhyun sedikit mengangkat tubuh Hye-Na agar dia tidak perlu membungkuk, membuat gadis itu berjinjit, menyamakan tinggi tubuh mereka.

            Kyuhyun berusaha memerintahkan dirinya sendiri untuk melakukannya dengan perlahan. Berhasil pada awalnya, tapi tidak saat ciuman mereka semakin dalam, membuat bibirnya bergerak menuntut dengan rasa lapar yang sudah lama tertahan.

            Kyuhyun mendorong tubuh gadis itu ke atas sofa, tempat terdekat yang bisa dicapainya. Tangannya berkutat dengan kancing blus gadis itu, berusaha tidak menarik lepas kancing-kancing itu dari lubangnya. Dia tahu bahwa mereka tidak akan bisa mencapai kamar untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Kali ini akan sangat terburu-buru dan biasanya gadis itu tidak akan keberatan. Tidak peduli bagaimana caranya dan dimana posisinya.

***

            Hye-Na membuka matanya saat mendengar jam alarmnya berdering nyaring. Dia mengusap wajahnya sesaat, tidak terlalu terkejut saat melihat wajah Kyuhyun yang sedang tertidur di sampingnya. Sepertinya mereka berhasil pindah ke kamar semalam dan dia tidak ingat bagaimana. Astaga, apa dia terlalu lemah sehingga bisa menyerahkan dirinya pada pria itu hanya dengan satu ciuman?

            Gadis itu mendesah pelan. Dia ternyata memang selemah itu, kan?

            Hye-Na melirik tubuhnya yang ditutupi kemeja hitam yang dipakai Kyuhyun semalam, menghirup wangi kesukaannya dan bangkit berdiri. Sedikit terhuyung seperti biasa dan dia baru akan mengulurkan tangannya untuk berpegangan pada meja kecil di samping tempat tidurnya itu, saat merasakan tangan kanan Kyuhyun dengan cepat melingkari pinggangnya, menahan tubuhnya untuk tetap berdiri dengan benar.

            “Setiap pagi masih seperti inikah? Ternyata kau memang selalu membutuhkanku, kan?” gumam Kyuhyun pelan sambil membalikkan tubuh Hye-Na menghadapnya.

            Pria itu mendongak dengan sebelah tangan masih tetap melingkar di pinggang Hye-Na. kalimat yang diucapkannya setelah itu sukses membuat gadis itu mematung dan tidak bisa menggunakan pita suaranya.

            “Aku merindukanmu… Na~ya….”

***

            “Mianhaeyo, Hye-Na ssi, jika aku mengganggu waktumu,” ujar Min-Ri hati-hati. Wajah Hye-Na terlihat datar saat menatap gadis itu, tapi Min-Ri juga tidak akan mengharapkan yang sebaliknya. Tidak ada seorang gadis pun yang akan menyambutmu dengan ramah jika dia mengira kau adalah selingkuhan suaminya.

            Hye-Na duduk di depan gadis yang tadi meneleponnya itu, memintanya datang ke restoran di dekat kantornya karena ingin mengatakan sesuatu.

            “Ada apa? Kau sekretaris suamiku? Mau memberitahuku agar aku mempercepat perceraian kami supaya kalian bisa segera bersama?”

            Min-Ri menarik nafas dan menggeleng. Tangannya bergerak menyentuh cangkir kopinya, membuat gerakan dengan telunjuknya di sekeliling cangkir itu, tanda bahwa dia sedang gugup.

            “Anieyo. Aku rasa… kau sudah salah paham. Saat itu, Kyuhyun sajangnim hanya membantuku. Kebetulan siang itu kami sedang makan siang bersama dan kebetulan juga… disana ada mantan pacarku. Aku memutuskannya karena aku ingin berkonsentrasi pada pekerjaanku, ditambah lagi dia suka memukuliku. Aku rasa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi bersamanya. Tapi setiap hari dia selalu menerorku, memintaku kembali padanya. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku punya kekasih baru, tapi dia tidak percaya karena aku memang tidak pernah terlihat bersama pria manapun sebelumnya. Jadi saat itu aku sangat ketakutan melihatnya ada disana. Kyuhyun sajangnim bertanya padaku ada apa karena wajahku sangat pucat dan aku memberitahunya. Lalu dia membantuku dengan berpura-pura menciumku. Tapi kami tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengatur posisi kami sedemikian rupa agar terlihat seperti orang yang sedang berciuman. Aku lega sekali karena mantan pacarku itu langsung pergi dari kafe tersebut, tapi saat itu aku juga melihatmu. Berdiri di depan pintu kafe sambil melihat kami berdua dan ekspresimu saat itu… terlihat seperti orang yang benar-benar menderita.”

            “Aku tidak tahu kenapa Hye-Na ssi, tapi aku tidak bisa melupakan wajahmu siang itu. Aku tidak tahu bahwa kau adalah istri Kyuhyun sajangnim karena aku baru bekerja sebagai sekretarisnya 8 bulan terakhir. Tapi kemarin lusa… aku melihat fotomu di mejanya. Lalu aku sadar bahwa aku sudah membuat kesalahan besar, karena itu aku menemuimu hari ini. Aku benar-benar minta maaf Hye-Na ssi, aku tidak ada maksud mengganggu rumah tangga kalian sedikitpun. Aku bahkan sangat iri setiap kali melihat betapa senangnya wajah Kyuhyun sajangnim saat jam pulang kantor tiba. Melihat betapa dia ingin cepat-cepat pulang untuk melihatmu. Kau memiliki suami yang sangat luar biasa, Hye-Na ssi. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang merebut kebahagiaan itu.”

            Hye-Na tertegun di kursinya, tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyerap penjelasan itu dengan perlahan, merasa ketakutan sendiri dengan kesalahpahaman yang sudah dilakukannya. Seharusnya saat itu dia mendengarkan penjelasan Kyuhyun, bukan hanya mengambil keputusan sepihak dan mengusir pria itu keluar dari rumah. Istri macam apa dia?

            “Aku harap… kalian bisa rukun kembali, Hye-Na ssi. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Permisi,” pamit Min-Ri sambil bangkit dari duduknya.

            “Min-Ri ssi,” panggil Hye-Na pelan. “Terima kasih.”

            Min-Ri tersenyum dan menggeleng.

            “Aku akan menerima rasa terima kasihmu kalau kau memaafkan Kyuhyun sajangnim dan kembali padanya.”

***

            Hye-Na berdiri di pinggir jalan bersama pejalan kaki lainnya, menunggu lampu berganti merah untuk menyeberang. Gadis itu sedikit melamun, memikirkan apa yang harus dilakukannya nanti untuk meminta maaf pada Kyuhyun.

            Kerumunan bergerak dan Hye-Na masih tetap berdiri di tempatnya semula. Dia baru tersadar saat melihat bahwa tidak ada lagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan cepat gadis itu menyeberang karena lampu masih berwarna merah. Baru setengah jalan, sebuah mobil sedan hitam melanggar lampu lalu lintas dan melaju dengan kencang ke arahnya. Dia hanya bisa terpaku di tempat, terlalu syok untuk bergerak menyelamatkan diri. Beberapa orang berteriak dari pinggir jalan saat Hye-Na mengerjapkan matanya, merasa silau oleh lampu depan mobil itu. Dan yang diketahuinya sesaat kemudian hanyalah bunyi hantaman keras dan tubuhnya yang terlempar ke pinggir jalan.

***

            Kyuhyun berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Raut wajahnya tampak cemas dan dia tidak henti-henitnya mengumpat dalam hati. Dia sudah menyuruh gadis bodoh itu untuk menjaga diri baik-baik, tapi lihat apa yang terjadi. Gadis itu bahkan hampir mati ditabrak mobil.

            Kyuhyun membuka pintu ruang rawat Hye-Na dan mendapati gadis itu sedang berbicara dengan seorang dokter. Sepertinya gadis itu tidak terluka parah. Hanya beberapa lecet di tangan dan kaki, dan bagian lengannya tampak diperban. Baguslah, setidaknya gadis itu tidak sampai harus dirawat berhari-hari.

            Kyuhyun melangkah masuk, membuat dua orang itu mendongak. Dokter itu pamit dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruang rawat itu.

            “Jangan memarahiku,” ujar Hye-Na langsung sambil mengacungkan telunjuknya. “Aku tidak apa-apa dan sudah diperbolehkan pulang. Lagipula sedang apa kau disini? Bukannya kau sedang makan siang bersama klien yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaanmu?” tanya Hye-Na, merujuk pada pesan yang ditempelkan Kyuhyun di depan kulkas tadi pagi.

            Kyuhyun tadinya memang sedang bersama klien pentingnya, membicarakan proyek pembangunan rumah sakit. Tapi Kyuhyun meminta izin di tengah-tengah berlangsungnya rapat setelah mendapat telepon dari rumah sakit yang memberitahukan bahwa istrinya kecelakaan. Dia bahkan tidak peduli sama sekali saat suster yang meneleponnya mengatakan bahwa istrinya tidak apa-apa dan hanya mengalami luka kecil. Dia hanya perlu melihat keadaan gadis itu sendiri dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

            Kyuhyun duduk di sisi ranjang dan mengulurkan tangannya, mengusap pipi Hye-Na dengan hati-hati. Pria itu tersenyum lemah. Ada rasa lega yang begitu besar saat melihat bahwa ternyata dia masih bisa menatap wajah gadis itu lagi. Mata cokelat itu lagi.

            “Lain kali, bisakah kau tidak membuat aku mati cemas seperti ini? Apa peringatan yang aku berikan padamu setiap pagi masih tidak cukup? Atau kau memang suka menyakiti dirimu sendiri?”

            Mata Hye-Na mengerjap dan gadis itu menundukkan wajahnya.

            “Mianhae,” ujarnya lirih. “Min-Ri tadi menemuiku dan menjelaskan semuanya. Mianhae.”

            “Aish, gadis itu. Sudah kubilaang tidak usah,” gumam Kyuhyun kesal.

            “Kau tidak mau aku tahu kebenarannya?”

            “Bukan begitu. Kau mencurigaiku, itu artinya kau tidak mempercayaiku. Aku hanya ingin memberikan bukti bahwa aku memang tidak selingkuh. Bahkan berpikir untuk melakukannya saja tidak. Aku hanya ingin kau percaya bahwa aku hanya akan melihatmu saja, karena itu aku kembali dan merecoki hidupmu lagi. Tapi ya sudahlah. Pokoknya mulai sekarang kau harus percaya padaku. Ara?”

            Hye-Na mengangguk pelan dan Kyuhyun memajukan tubuhnya, memeluk gadis itu ringan.

            “Jadi… apa kau memikirkan itu sepanjang jalan sampai tidak menyadari bahwa ada mobil yang melaju kencang ke arahmu?” tebak Kyuhyun.

            “Ne. Mian….”

            “Sudahlah. Aku tahu. Kau tidak perlu mengulangnya terus-terusan,” keluh Kyuhyun, sambil tersenyum dalam hati. Dia tahu, apapun yang terjadi, apapun kesalahan gadis itu, satu kata maaf saja selalu terasa cukup. Kebodohan terbesarnya dalam mencintai seorang gadis menyebalkan bernama Cho Hye-Na.

***

            Kyuhyun membiarkan jari-jarinya mengait di jari-jari Hye-Na, menggerakkan tangan mereka yang saling bertautan, menyukai kontras kulit mereka saat bersentuhan.

            Mereka sedang berjalan-jalan di taman kota, tempat pohon-pohon mulai menggugurkan daun-daunnya, membuat permukaan tanah diselimuti helai dedaunan yang berwarna cokelat kemerahan.

            Dia berhasil memaksa untuk mengantar Hye-Na ke kantor tadi pagi karena gadis itu tidak mau libur dengan alasan dia baru saja mengalami kecelakaan dan bersikeras untuk tetap berangkat kerja. Jadi sebagai gantinya Hye-Na harus menemaninya makan siang di restoran dekat kantor gadis itu dan dia memutuskan mengantar gadis itu kembali ke kantor dengan berjalan kaki, mengambil jalan memutar melalui taman kota ini.

            “Kau bertambah tinggi,” rengut Hye-Na dengan wajah mendongak ke arah Kyuhyun, membuat pria itu terkekeh geli.

            “Pertumbuhanku sudah selesai, Na~ya. Aku tidak akan bertambah tinggi lagi. Kau saja yang mengerut dari hari ke hari,” ejek Kyuhyun, membuahkan sebuah injakan keras di kakinya.

            “Aish, kau ini! Kasar sekali!”

            “Saat aku berjalan di sampingmu pasti aku dikira sebagai adikmu. Kau itu terlalu tinggi dan tampangmu juga sudah tua. Sepertinya aku salah pilih suami. Aaah, menderita sekali hidup….”

            Ucapan Hye-Na terpotong saat Kyuhyun tiba-tiba menaikkan tubuhnya ke atas tembok yang lebih tinggi dari jalan yang mereka lalui, sehingga kali ini Kyuhyun-lah yang harus sedikit mendongak untuk menatap gadis itu.

            “Puas?” tanya Kyuhyun dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Hye-Na.

            Gadis itu mengalungkan lengannya di sekeliling leher Kyuhyun untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dia menundukkan wajahnya agar bisa melihat pria itu dengan lebih jelas.

            “Aigoo aigoo, sejak kapan suamiku jadi semanis ini?” ejeknya dengan mata berkilat geli.

            Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, tampak sedang berpikir.

            “Sepertinya aku memang melakukan banyak hal bodoh saat bersamamu,” gumam pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Hye-Na. “Tapi… jatuh cinta memang tentang menjadi bodoh bersama, kan?” lanjutnya sedetik sebelum bibir mereka bersentuhan.

            Kyuhyun mengecup bibir gadis itu singkat dan melepaskannya. Kali ini itu sudah cukup. Masih terlalu banyak waktu yang mereka miliki untuk melakukan hal itu lebih sering. Lagipula ini tempat umum. Dia tidak mau kehilangan kendali di tempat terbuka seperti ini.

            Kyuhyun mengulurkan tangannya, membantu Hye-Na berjalan di atas tembok yang tidak terlalu lebar itu. Dia selalu suka menggenggam tangan gadis itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi, selelah apapun dia, dia akan selalu punya tempat bersandar. Akan ada yang balas menggenggam tangannya untuk memberi ketenangan di saat-saat sulit. Akan ada… tempat untuknya pulang.

***

            Kyuhyun berjalan menuju balkon kamarnya dengan secangkir cokelat hangat di tangan. Dia menyodorkan cangkir itu ke arah Hye-Na yang sedang bersandar di pagar balkon, melihat matahari yang baru muncul di ufuk timur, memberi pemandangan yang jelas ke arah pohon-pohon sakura di halaman belakang rumah mereka. Bunga-bunga sakura yang sudah mekar itu mulai berguguran, menjatuhkan kelopak-kelopak bunganya yang berwarna merah muda ke atas tanah. Musim gugur sudah datang. Musim yang selalu disukai gadis itu.

            Hal ini adalah kebiasaan mereka setiap akhir minggu. Bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Kemudian malas-malasan di rumah seharian.

            Hye-Na mencengkeram cangkir itu, menumpangkan tangannya ke pagar balkon. Kyuhyun melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Hye-Na, sedikit menunduk untuk menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.

            Dua minggu paling mengerikan telah berlalu dan sekarang semuanya kembali pada kebiasaan yang selalu mereka berdua lakukan setelah menikah. Mulai sekarang Kyuhyun berencana untuk berhati-hati melakukan sesuatu, memikirkan apakah tindakan yang dilakukannya akan menyakiti gadisnya itu atau tidak.

            “Happy 1st Anniversary, Na~ya,” ujar Kyuhyun sambil memiringkan wajahnya, memberi kecupan singkat di pipi gadis itu.

            Hye-Na menoleh dan tampak berpikir.

            “Sekarang tanggal 9, ya? Cih, pantas saja kau mengalah dan bersedia membuatkanku cokelat panas,” dengus Hye-Na.

            “Seharusnya kau berterima kasih sedikit aku bersedia mengalah. Aku tidak akan melakukannya lagi lain kali.”

            “Ini satu tahun pernikahan kita Kyuhyun~a, seharusnya kau mulai merubah sifatmu yang menyebalkan itu,” ejek Hye-Na sambil mencibir.

            “Ah, baiklah. Ada satu hal yng belum aku lakukan sebagai suami yang baik.”

            Hye-Na menatap pria itu curiga, apalagi mata Kyuhyun yang tampak berkilat geli, menunjukkan bahwa pria itu sedang memikirkan suatu kejahatan.

            “Saranghae,” bisik Kyuhyun pelan di telinga gadis itu. Dia tertawa kecil saat melihat Hye-Na mendelik ke arahnya.

            “Jadi setelah satu tahun menikah kau baru mengucapkan kata itu padaku? Ironis sekali,” ujar gadis itu dengan nada sinis, membuat tawa Kyuhyun semakin keras karena itu memang pertama kalinya dia mengucapkan kata itu kepada Hye-Na.

            “Setidaknya aku mengucapkannya. Tidak seperti seseorang yang selalu bilang setiap saat bahwa dia membenciku.”

            “Aku tidak membencimu,” sahut Hye-Na cepat. Kening gadis itu berkerut dan sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Yah, mungkin… sedikit.”

            “Apa-apaan itu?” seru Kyuhyun tidak terima.

            “Karena kau menyebalkan!” ujar Hye-Na membela diri.

            “Yak, Cho Hye-Na, ini hari satu tahun pernikahan kita, setidaknya berusahalah bersikap manis sedikit!”

            Hye-Na merengut dan mengerucutkan bibirnya, berbalik memunggungi Kyuhyun.

            “Itu kan bukan gayaku,” dengus gadis itu kesal.

            “Salah satu alasan kenapa aku menikahimu,” kata Kyuhyun setuju.

            “Ngomong-ngomong, aku punya hadiah untukmu,” ujar Hye-Na tiba-tiba, membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya.

            “Mwo?” tanya pria itu kaget.

            “Aegi (bayi).”

            Kyuhyun membalikkan tubuh Hye-Na dengan cepat, menatap gadis itu tak percaya.

            “Aegi mwoya? Kita baru melakukannya tiga hari yang lalu, bagaimana mungkin kau bisa hamil secepat itu?”

            Hye-Na memukul kepala suaminya itu dengan keras dan mendelik marah.

            “Baboya! Tiga minggu yang lalu kita juga melakukannya. Sebelum itu juga. Kau ini bodoh sekali! Kau pikir ini anak siapa kalau bukan anakmu, Cho Kyuhyun babo?” teriak Hye-Na emosi.

            Kyuhyun tertawa senang dan mengecup bibir Hye-Na kilat.

            “Sudah berapa lama?”

            “6 minggu. Waktu aku di rumah sakit kemarin, dokter itu memberitahuku.”

            “Dan kau tidak mengatakannya padaku?”

            “Anggap saja kejutan. Tapi… mulai sekarang kau harus berlatih jadi ayah yang baik. Menggendong bayi saja kau tidak becus!” sindir Hye-Na, mengingat kejadian dua bulan yang lalu saat sepupu Hye-Na yang sudah punya anak main ke rumah mereka. Pria itu bahkan ketakutan saat disuruh menggendong bayi sepupunya yang baru berumur 3 bulan itu.

            “Kau juga sama saja,” ejek Kyuhyun tidak mau kalah.

            “Apa menurutmu kita sudah siap punya anak?”

            Kyuhyun menarik nafas dan membalikkan tubuh Hye-Na lagi, memeluk gadis itu dari belakang.

            “Kita bisa belajar. Eomma pasti mau membantu. Haaaah, kasihan sekali anak itu nanti, memiliki orang tua payah seperti kita,” keluh Kyuhyun akhirnya.

            “Benar. Tapi… setidaknya kan kita mencintainya. Itu… lumayan, kan?”

            “Benar,” sahut Kyuhyun, menyetujui ucapan Hye-Na.

            “Hei, aku lupa bertanya. Kau tidur dimana dua minggu ini? Menyewa apartemen? Menginap di hotel?”

            “Tidur di kantor,” jawab Kyuhyun santai.

            “Apa kau sebegitu pelitnya sampai tidak mau mengeluarkan uang untuk menyewa apartemen?”

            “Untuk apa? Toh aku akan kembali kesini.”

            “Kau percaya diri sekali, ya? Apa selalu begitu?”

            “Memang. Aku bisa melakukan apa saja untuk mempertahankanmu. Lagipula… sebuah tempat baru bisa aku sebut rumah jika ada kau di dalamnya,” ujar Kyuhyun sambil mengeratkan rangkulannya di tubuh Hye-Na, membiarkan hidungnya menghirup wangi yang menguar dari rambut gadis itu. Wangi kesukaannya. Wangi wanitanya. Wanita yang hanya menunggu dirinya di penghujung hari yang melelahkan. Seseorang tempat ia pulang.

 

END

Annyeong! *digampar* FF pertama setelah 15 hari nggak publish apa-apa. See? Aku bisa separah itu kalo lagi bad mood. Jadi tolong deh, please please please, berhenti desak aku buat publish ff cepet-cepet. Aku ini mahasiswa, semester 5, lagi sibuk-sibuknya. Aku lebih milih ngurus kuliah aku dong daripada bikin ff. Jadi tolong berhenti nanyain aku kapan ff ini publish, kapan ff itu publish, atau aku bakal hiatus dalam waktu yang amat sangat lama. Aku udah capek bilang ke semua orang kalo aku ini paling nggak suka didesak-desak. Cuma satu itu aja pantangan aku, jadi tolong dimaklumi.

Dan aku mau nanya. Ada yang keberatan dengan cara aku balesin komen? Aku udah jelasin dengan sejelas-jelasnya bahwa aku nggak suka ngomong panjang-panjang, jadi mungkin balesan komen aku terkesan dingin dan semacamnya, padahal aku nggak maksud kayak gitu. Aku udah nggak tau harus gimana lagi. Nggak bales komen dianggap sombong, bales komen pendek-pendek dibilang dingin, jadi aku harusnya gimana? Aku ngehargain pendapat reader, jadi tolong komplain ke aku kalo ada sesuatu yang bikin kalian ngerasa nggak nyaman.

Okay, sekian. Mian kalo misalnya ff ini ngalor-ngidul, soalnya pas bikin otak aku juga lagi ngalor-ngidul *diinjek*