AUTHOR: KAFKA

AUTHOR’S POV

 

“Aku mau merebut Hye-Na darimu, hyung.”

Donghae membulatkan matanya mendengar suara datar itu. Kyuhyun mengatakannya tanpa ekspresi, dengan wajah dingin seperti biasanya. Donghae memutar kursinya untuk berhadapan dengan Kyuhyun, lalu memiringkan kepalanya.

“Merebut Hye-Na?”

Kyuhyun mengedikkan bahu santai, berjalan mengelilingi ruangan tempat Donghae bekerja. Ia tak mengizinkan Donghae melihat kilatan matanya sendiri, jadi ia putuskan untuk memainkan beberapa pajangan di nakas yang berjajar di seberang meja kerja Donghae.

“Maafkan aku. Tapi tunanganmu itu terlalu menarik. Ditambah kau memang menyodorkannya terus menerus padaku. Jadi bukan salahku jika aku menyukainya.”

Donghae mengepalkan tangannya, hampir mematahkan meeja kerjanya sendiri. Ia berdiri dan berjalan dengan geram menuju tempat Kyuhyun berada, berhenti tempat dibelakangnya.

Kyuhyun mengeluarkan seringaiannya. Dari sini ia bisa merasakan bahwa Donghae mendekat dan sudah berhenti dibelakangnya. Hanya menunggu beberapa saat lagi sampai pria ini menghajarnya.

“Apa yang kau lakukan disana bersama tunanganku, Cho Kyuhyun?”

Donghae sudah mampu menguasai dirinya, ia melipat tangannya di dada sedangkan Kyuhyun semakin liar dengan senyumannya.

“Kau pikir aku melakukan apa, hah? Kau hanya memintaku menjaganya, kan? Jadi sesuai perintahmu, aku menjaganya dengan baik. Tapi berhubung aku memiliki urusan penting denganmu, jadi aku tak menjaganya hari ini. Dia akan pulang besok pagi.”

Donghae membuang pandangannya dari punggung Kyuhyun, menghembuskan nafas kasar menahan emosi. Kau tahu? Inilah hal ternormal yang pernah ia lakukan. Marah jika seseorang dengan terang-terangan akan merebut tunangannya sendiri, terlebih adiknya.

“Bukan hal yang penting untukmu, kan?” lanjutnya. Donghae yang sudah kehabisann akal akhirnya menarik lengan Kyuhyun agar menghadapnya, dan tanpa ragu memukul wajahnya.

BUGGH!

Kyuhyun tersungkur kelantai. Tersenyum tipis seraya melap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Kyuhyun tak menyangka akan sesulit ini. Bahkan ia mengira bahwa Donghae tak terlalu perduli dengan pernikahannya.

Kyuhyun susah payah untuk bangun, dan detik berikutnya ia yang memukul wajah Donghae.

BUGGH!

Tanpa perlawanan Donghae pun tersungkur, Kyuhyun tersenyum melihatnya. Ada kalanya Prince Charming ini terlihat begitu lemah dimatanya, dan itulah momen-momen yang sangat jarang ia temui.

“Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?!”

Seorang gadis berlari menghampiri Donghae, menyentuh pelan luka di sudut bibirnya. Sama persis dengan apa yang Kyuhyun miliki, namun gadis ini tak peduli dengan luka di wajah Kyuhyun.

“Hye-Na~ya, berhenti berpura-pura dihadapanku! Kau tak benar-benar ingin menolongnya, bukan?”

Hye-Na menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh kearah Kyuhyun yang berdiri tak jauh dari tempat Donghae tersungkur. Wajahnya menahan marah, tentu saja. Itu adalah hal paling menjengkelkan yang pernah Kyuhyun katakan. Sedetik kemudian Hye-Na kembali terfokus pada Donghae, lalu memapahnya untuk bangun dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kyuhyun sendiri. Lagi.

Kyuhyun tersenyum pahit, menyeka kembali luka di sudut bibirnya. Kau benar-benar menyiksaku, ah, tidak. Kau menyiksa dirimu sendiri, Hye-Na~ya.

***

Tak ada tempat lain. Mereka berhenti di atap gedung, dengan Hye-Na memegang sebuah kotak P3K dan Donghae yang sibuk melepas jas kerjanya.

“Duduklah, aku akan mengobatimu.”

Donghae menatapnya heran, gadis ini tak pernah bersikap lembut di hadapannya. Tapi apa yang ia lihat saat ini? Hye-Na benar-benar menjadi malaikat.

Tanpa memikirkannya lebih jauh ia akhirnya duduk di samping Hye-Na, di sebuah kursi beton, lalu melihat Hye-Na mulai berkutat dengan kotak P3K yang ia bawa. Perlahan gadis itu membersihkan luka Donghae dengan kapas dan alkohol, membuat Donghae sedikit meringis kesakitan. “Diamlah, ini tidak akan sembuh jika tidak dibersihkan.”

Donghae terpaksa menahan sakitnya, namun tanpa sadar ia menahan tangan Hye-Na yang sedang asyik mengobati lukanya, membuat gadis itu membeku untuk beberapa saat.

“Apa dia menjagamu dengan baik?”

Hye-Na sontak mengalihkan pandangannya dari tatapan Donghae, lalu dengan canggung melepaskan cengkeraman tangan pria itu.

“Katakan saja, Han Hye-Na. Sejauh apa kalian sudah berhubungan di belakangku?”

Hye-Na merasa jantungnya dihujam ribuan jarum, ia mengerjapkan matanya kebingungan, persis seperti orang yang tertangkap basah berselingkuh, karena memang itu adanya. Hye-Na diam seribu bahasa, kembali membersihkan luka Donghae, namun lebih pelan, yang kemudian tangannya kembali dicengkeram Donghae lebih kasar dari sebelumnya.

“JAWAB AKU!”

Donghae membentaknya, Hye-Na hanya bisa menunduk karena ketakutan. Airmatanya juga mulai berdemo meminta keluar, dan Hye-Na benar-benar tak bisa menahannya lagi kali ini.

Donghae menatapnya dengan marah, Hye-Na masih menunduk dan terisak. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya sehingga Donghae tak bisa melihatnya dengan jelas.

“Aku… mencintainya,” ucapnya hampir berbisik, sayangnya Donghae masih bisa mendengar kata itu dengan jelas.

Donghae lalu menghempaskan lengan Hye-Na yang ia cengkeram, mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Sejauh… itukah?” ucapnya lirih. Hye-Na menutup mulutnya menahan isakan yang lebih keras, namun sia-sia saja karena Donghae juga masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“Maafkan aku… Donghae~ya….”

Donghae menghela nafas berat, lalu kembali menatap Hye-Na. Ia memegang bahu gadis itu perlahan, satu tangannya menaikkan dagu gadis itu agar menatapnya. Wajahnya memerah, airmata berantakan di wajahnya, rambutnya juga sedikit banyak menutupi wajahnya. Donghae menyingkirkan rambut itu perlahan, menatap gadis itu sendu. Jauh berbeda dengan tatapan sebelumnya.

“Aku akan lebih membencimu jika kau tidak mengatakannya sampai hari pernikahan kita, Hye-Na~ya.”

***

DONGHAE’S POV

 

Setelah hari itu aku tak bertemu lagi dengannya, dan aku tak pernah menanyakannya pada Kyuhyun. Kurasa ia juga tak tahu keberadaan gadis itu. Ini sudah… 3 hari. Bahkan orangtuaku sama sekali tak menyinggung masalah ini setelah aku mengatakan pada mereka bahwa aku akan memutuskan pertunangan ini, tanpa embel-embel nama Kyuhyun sebagai penyebabnya.

Tentu saja banyak penolakan, namun keluarga Hye-Na juga tak habis pikir mengapa kami berdua memutuskannya. Dan setelah itu hubungan keluarga ini sedikit canggung, terutama Kyuhyun denganku. Bocah itu jarang sekali pulang, sekalinya pulang dan sarapan bersama ia tak pernah mengatakan hal apapun, seolah tak terjadi apa-apa.

Jika boleh mengakuinya, sebenarnya aku cukup kerepotan dengan hidupku saat ini. Entah apa yang telah Hye-Na lakukan padaku, membuatku tak dapat hidup dengan benar. Dan setelah kejadian itu, setiap hari aku juga mengunjungi atap gedung kantor, bukan bermaksud mengenang atau apapun, tapi aku benar-benar nyaman berada disana.

Jadi disinilah aku. Atap gedung ini adalah tempat terakhir aku bertemu dengannya. Han Hye-Na.

“Sejak kapan kau menjadi melankolis begini, oppa?”

Suara lembut itu membuyarkan lamunanku, aku berbalik untuk melihatnya dan… seorang gadis dengan gaun selutut berwarna merah muda menyapaku, tersenyum. Rambut ikalnya sedikit berantakan tertiup angin, membuatnya benar benar seperti… Ga-Eulku.

“Bagaimana bisa kau kesini?” tanyaku sambil berbalik lagi menatap gedung-gedung yang bertebaran disana, berpura-pura tidak mengacuhkannya. Jika pendengaranku tidak rusak, gadis ini mendekatiku. Suara derap sepatunya berheti tepat disampingku. Ia juga ikut-ikutan menatap objek yang sedang kulihat.

“Hye-Na.”

Aku menoleh kearahnya, ia juga melakukan hal yang sama.

“Hye-Na?” ulangku. Ia mengangguk singkat dan kembali mengalihkan pandangannya.

“Kau tahu ia dimana? Aku tak dapat menemuinya 3 hari ini.”

Ga-Eul memicingkan matanya, lalu menyisipkan poni yang menghalangi pandangannya ke balik telinga.

“Kau masih menanyakannya? Ada aku disini.”

Aku tersenyum mendengarnya. Kenapa aku masih menanyakannya? Entahlah. Perhitungkan saja kebaikanku untuk Kyuhyun. Aku akan membantu mencarikan gadis itu untuknya.

“Kau tidak berbeda dengan yang dulu, Ga-Eul~a.”

Ia menghembuskan nafasnya lalu menunduk. “Tapi ada sesuatu yang berbeda, disini. dihatiku, Lee Donghae, jadi berhenti memikirkannya seolah-olah kau tak peduli denganku,” ucapnya dingin.

Aku menaikkan alisku, ia tak pernah memanggilku tanpa embel-embel ‘oppa’ di belakangnya, sedikit aneh untukku. Aku lalu melihatnya yang asyik mengamati pemandangan di bawah.

“Mulai sekarang hanya kau yang akan mendapat perhatianku, Ga-Eul~a.”

***

KYUHYUN’S POV

 

Kau harus melihat seberapa tragisnya hidupku tanpa gadis itu. Ia sama sekali tak berada dalam jarak pandangku, dan itu membuatku berambisi lebih jauh. Jika aku menemukannya aku tak akan membiarkannya pergi, dan gadis itu harus selalu di sampingku sampai salah satu di antara kami mati.

Mengerikan bukan? Hey, bahkan sumpah yang pernah kuucapkan dulu belum sempurna kulaksanakan, dan itu hanya karena gadis itu menghilang tiba-tiba.

Kubuang jauh gengsiku dihadapan Prince Charming ini, berharap mendapatkan jawaban memuaskan dari mulutnya.

“Jadi… ada apa siang bolong begini kau datang ke ruanganku? Apa pekerjaanmu sudah selesai?” katanya dengan mata tak teralihkan sedikitpun dari berkas di tangannya. membuatku benar-benar ingin mencekiknya. Aku merapikan jas kerjaku dan duduk dihadapannya, mengotak atik beberapa pajangan yang bertengger di atas meja kerjanya.

“Kau tahu, aku belum menemukannya sampai hari ini,” ujarku pelan. Donghae kemudian menatapku dengan wajah dinginnya, dan mengangguk singkat.

“Aku tahu. Lalu kenapa kau mencariku?”

Ck, jika bukan karena Hye-Na, aku akan membunuhnya sekarang juga.

“Aku sudah menyerahkannya padamu sejak hari itu, siapa suruh kau tidak menjaganya.”

Baiklah, tahan emosimu, Cho Kyuhyun. Pria ini semakin menyebalkan setelah memutuskan pertunangannya dengan Hye-Na. Sedikit frustasi mungkin? Aku tak peduli. Aku beranjak untuk meninggalkannya sebelum aku benar-benar marah, namun saat meraih kenop pintu aku tertahan mendengar ucapannya.

“Aku benar benar tidak tahu, Kyuhyun~a. Kau bisa tanyakan Ga-Eul jika kau mau. Hye-Na bertemu Gaeul dua hari yang lalu.”

***

AUTHOR’S POV

 

“Ra-ha-si-a.”

“Ga-Eul ssi!”

“Andwae!”

Beberapa mata sontak memerhatikan mereka. Kini Kyuhyun dan Ga-Eul tengah berada di sebuah café, setelah mendapat beberapa informasi dari Donghae akhirnya Kyuhyun bisa mendapatkan waktu si seniman tembikar ini.

“Baiklah, apapun yang kau mau, tapi beritahu dimana Hye-Naku, sekarang!”

Ga-Eul membulatkan matanya, menatap binar wajah Kyuhyun yang sebenarnya terlalu menyeramkan untuk ditatap orang normal.

“Beritahu Donghae untuk melamarku secepatnya, eo?”

Kyuhyun menganga mendengarnya. Benar-benar psikopat!

***

HYE-NA’S POV

 

Aku mengernyitkan mata karena cahaya matahari yang menusuk retinaku. Aku bisa merasakan hangat udara di kota metropolitan ini dengan jelas. Lebih lembap daripada udara di Seoul.

Setelah hampir 3 hari berada disini aku bisa sedikit menenangkan pikiranku, dari hingar bingar permasalahan disana. Lee Donghae, dan terlebih Cho Kyuhyun. Aku tahu persis pria itu akan mencarinya kemana saja, namun setidaknya butuh waktu lama untuk menebak dimana aku berada saat ini, kecuali jika… Ga-Eul tidak membocorkannya pada siapapun.

Aku bangun dan mengambil ponsel di atas nakas di samping tempat tidurku, lalu menekan serangkaian angka untuk menghubungi seseorang.

Yeoboseyo?” Suara manis itu memecah nada tunggu, aku menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Membuka jendela yang langsung berhadapan dengan pusat kota Manhattan.

“Ga-Eul~a.”

“Aaah, Hye-Na~ya! Annyeong!”

Mendengar suaranya cerianya aku sedikit tertegun. Bagaimana bisa ia mencoba membunuhku tempo hari? Ck. Sebelum keberangkatanku ke Manhattan aku bertemu dengannya. Ia yang mencariku sendiri, dan menemukanku dirumah. Kami cukup banyak bercerita. Tentang Donghae, terutama. Ia sempat salah paham karena pertunangan konyolku dengan Donghae, dan… agak sedikit mengerikan mengingat nekatnya gadis ini. Ia mengatakan padaku bahwa ia tak segan-segan membunuh siapapun yang mendekati si Prince Charming itu. Untungnya aku tidak jadi menikah dengannya.

Ia juga bercerita beberapa hal yang membuatnya salah paham dengan Donghae. Seseorang bernama Lee Hyuk-Jae, pria itu membuat semuanya salah paham. Namun meski begitu aku juga tak habis pikir, karena Ga-Eul masih saja memaafkannya.

“Hye-Na~ya, kau mendengarku tidak?!” Dia sedikit berteriak karena aku tak menggubris ucapannya. Aku bersandar pada pagar balkon dan menghirup udara sedalam-dalamnya.

“Eo, aku mendengarmu.”

“Kau tidak membocorkan tempatku pada siapapun, kan? Pada Donghae? Tidak, kan?”

Ga-Eul terdiam, membuatku menyangka kalu… astaga! Jangan katakan kalau….

“Kau membocorkanya pada Donghae?!” ujarku sedikit keras. Aku terperanjat dari sandaranku dan menyingkirkan poni di wajahku.

“Ani, ani! Aku tidak mengatakannya pada Donghae oppa!” Aku menghela nafas lega mendengarnya. Yang benar saja, baru 3 hari kabur masa sudah ditemukan lagi? Tidak lucu sama sekali!

“Aku hanya mengatakan kau berada di Manhattan pada….”

Mwoya? Wajahku kembali menegang. “Ya! pada siapa kau berkata seperti itu, hah? Lee ajjumma? Lee ajjusshi?!” tanyaku gusar. Ga-Eul hanya diam tak menjawabnya.

“Yak, Cho Gaeul! Jawab aku!”

Trek.

Sial! Gadis itu memutuskan sambungannya dan saat kuhubungi lagi, ia mematikan ponselnya. Aaaarrrggh! Cho Gaeul mati kau!

***

KYUHYUN’S POV

Tak semudah yang kubayangkan. Aku sudah mencarinya di setengah kota Manhattan dan aku belum menemukan batang hidung mancungnya itu sampai saat ini. Hye-Na~ya, kau benar-benar ingin membunuhku!

Apartemennya kosong. Kampusnya? Aku sudah yakin ia tak berurusan lagi dengan hal-hal yang berbau perkuliahan. Kini aku berjalan di tepi dermaga yang dulu kukunjungi dengan Hye-Na, tempat ia membandingkan mata cokelatnya dengan pemandangan di ujung dermaga ini.

Bodoh, memang. Tentu saja mata cokelatnya jauh beribu kali lipat lebih cantik! Dan aku menyesal mengapa aku tak mengatakannya saat itu. Terlebih itu adalah saat pertama kali aku bertengkar dengannya. Tempat inilah yang pertama kali membuat jarak antara aku dan Hye-Na. Hanya karena sebuah perbandingan bukan? Aku akan membuktikan padanya kalau ia salah besar. Perbandingan itu tidak benar-benar nyata dimataku. Jalan hidupnya, jalan hidupku, tak ada yang berbeda. Karena ia dan aku akan hidup bersama nantinya.

Aku mengedarkan kembali pandanganku, siapa tahu bocah keras kepala itu berkeliaran disini, namun sejauh mataku memandang aku tak menemukannya, tak menemukan gadisku.

Kau tahu, Hye-Na~ya? Aku yakin kau tak akan membiarkanku mati konyol hanya karena merindukanmu.

***

AUTHOR’S POV

 

Kyuhyun menekan serangkaian angka untuk membuka pintu apartemennya. Menyalakan lampu, melepas jaket dan membuangnya di sembarang tempat sehingga menyisakan kaos sleeveless ditubuhnya. Ia lalu berjalan ke arah dapur, membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman lalu meneguknya cepat.

Kyuhyun menghela nafas berat. Ia benar-benar tidak bohong tentang merindukan gadis itu. Selama 5 hari ia hitung setiap detiknya untuk membayangkan wajah gadis itu, dan itu benar-benar membuang energi.

Ponsel di saku celananya berdering, ia menautkan alisnya melihat siapa yang menghubunginya.

“Lee Donghae?”

Kyuhyun berjalan menuju sofa, satu tangan memegang ponsel dan satunya lagi memegang kaleng minuman. Ia lalu duduk dan meneguk minumannya lagi.

“Yeoboseyo,” ucapnya malas.

Kyuhyun~a, kau dimana? Abeoji mencarimu.

Kyuhyun meletakkan minumnya lalu mengambil remote TV diatas meja, menekannya sembarangan.

“NY. Untuk apa mencariku? Katakan aku sedang sibuk.”

Donghae terkekeh pelan, ia kemudian menghela nafas untuk kembali berbicara.

“Sudah kau temukan?” ucapnya to the point. Kyuhyun yang kini gantian menghela nafas berat.

“Belum. Disini sudah malam, gadis itu tak akan keluar lewat tengah malam begini, hyung.”

Donghae mengangguk meskipun ia tahu Kyuhyun tak akan melihatnya.

“Manhattan tidak sebesar yang kau bayangkan, Kyuhyun~a. Kau bisa mengelilinginya dengan mudah.”

Kyuhyun tersenyum kecil mendengar perkataan Donghae. Ia simpulkan secara tidak langsung pria itu sedang menyemangatinya.

“Aku tahu. Dan kau tidak boleh menikahi Ga-Eul sebelum aku menemukannya, eo?”

Donghae tidak menjawab, membuat Kyuhyun terkikik dan tertawa. “Lupakan, aku tahu kau akan cepat-cepat menikahinya.”

“Ani. Ini perjanjian di antara pria. Kau dengar baik-baik Cho Kyuhyun, aku menantangmu! Kau menemukan Hye-Na, lalu aku menikahi Ga-Eul. Bagaimana?”

Kyuhyun menyunggingkan senyumnya, menekan kembali tombol remote sembarangan. “Deal,” ucapnya lantang.

Mereka tertawa pelan, sampai Donghae berhenti karena Kyuhyun mengatakan sesuatu padanya.

“Gomawo, hyung.”

Dari Seoul, Donghae tersenyum puas. Ini pertama kalinya Kyuhyun mengatakan hal setulus itu padanya.

“Eo. Cepat temukan dia. Ga-Eul bisa mengamuk jika aku tidak segera menikahinya.”

***

KYUHYUN’S POV

 

Aku mengakhiri sambungan telepon dengan Donghae hyung. Tidak buruk. Kupikir ia akan terus-terusan membenciku karena aku menyelingkuhi tunangannya. Ck.

Aku mematikan TV yang memang sebenarnya sama sekali tidak kutonton, lalu berjalan menuju kamar. Membuka pintu dan menyalakan lampu. Dan kau tahu? Aku melihat seorang gadis mengenakan kemeja longgar yang aku yakini sebagai milikku, tertidur pulas dengan earphone di telinganya. Aku benar-benar tak berkedip melihatnya. Kau juga pasti tahu, hanya satu yang membuatku bisa seperti ini.

“Ck. Han Hye-Na. Kau benar-benar senang menyiksaku, hah?” bisikku seraya mendekatinya.

Aku duduk di tepi ranjang dan memerhatikannya. Menyingkirkan beberapa helai poni yang menutupi wajahnya. Ia tidak bergeming sama sekali.

Senyumku tak henti-hentinya mengembang. Gadis ini… benar-benar!

Lihat, hyung. Kau akan segera menikah dengan Ga-Eulmu itu!

***

AUTHOR’S POV

 

Hye-Na beberapa kali mengerjapkan matanya, bukan karena cahaya matahari yang biasa menusuk retinanya, namun kali ini… bau parfum yang masuk ke saluran pernafasannya. Ia dengan cepat membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya, menghindari hal-hal semacam halusinasi. Siapa tahu saking merindukannya, ia sampai bisa merasakan bau pria itu.

Hye-Na berniat bangun, namun ia merasakan pinggangnya ditahan sesuatu. Guling? Bukan. Ia merasakan hembusan nafas seseorang di puncak kepalanya, lalu menyadari seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. Jika instingnya benar, ini pria aneh yang membuatnya mabuk dengan bau parfum khasnya. Cho Kyuhyun.

“Kau menemukanku?” ucap Hye-Na serak. Ia tahu, sudah sepantasnya ia menyerah pada pria ini.

“Kau yang bodoh. Mana ada orang kabur kerumah orang yang mencarinya.” Kyuhyun yang ternyata tak tidur semalaman menjawabnya dengan suara dingin khasnya. Kyuhyun mengecup puncak kepala Hye-Na dan mengeratkan pelukannya,

“Kau berjanji padaku untuk tidak berada di tempat yang tak bisa kujangkau, dan seharusnya aku menyadarinya sejak 4 hari yang lalu, Hye-Na~ya,”

Hye-Na menghela nafas, menyingkirkan lengan Kyuhyun di pinggangnya. Belum sempat beranjak tangan Kyuhyun sudah kembali menariknya agar kembali duduk.

“Cho Kyuhyun, kau mau menahanku untuk mandi, hah?”

Kyuhyun mengerling menggodanya. “Jika bisa, kenapa tidak?”

Hye-Na memutar bola matanya kesal. “Yang benar saja! Lepaskan tanganmu,” ujarnya dingin. Ia menghempaskan tangan Kyuhyun dan berdiri menuju kamar mandi, dan Kyuhyun kembali berhasil menarik kemejanya, tepat sasaran hingga Hye-Na jatuh tepat menindihnya.

“Cho Kyuhyun, lep….”

“Kau tidak merindukanku? Padahal aku hampir mati merindukanmu, Hye-Na~ya,” bisik Kyuhyun tepat di wajah Hye-Na.

Gadis itu tersenyum tipis, sedetik kemudian mencium bibir Kyuhyun lembut, yang tepat berada dihadapannya. Kyuhyun dengan santai menutup matanya, tapi tak berlangsung lama karena tidak sampai 10 detik Hye-Na sudah melepaskannya. Membuat raut wajah Kyuhyun sedikit… kecewa?

“Aku juga merindukanmu, bodoh. Sekarang cepat lepaskan aku!”

“Tidak sampai kau mau menciumku lagi, lebih lama,” ucapnya santai.

Hye-Na menghela nafas kasar, lalu menendang tulang kering Kyuhyun.

“Yak!!!”

Hye-Na bangun dan tertawa keras, tak sempat kabur karena Kyuhyun dengan sigap memeluknya lagi dari belakang, namun kali ini lebih lembut sampai Hye-Na menghentikan tawanya karena sedikit kaget.

“Pada akhirnya kau memang harus memilihku kan, Hye-Na~ya?”

 

THE END

Credit: http://kafkanisaoctaryoto.wordpress.com/

PS: Mian ya aku ngaret banget, tapi pengumuman pemenang kuis kemaren ama 2060 {5th Round} aku publish barengan aja. Aku usahain ntar malem udah diposting. MIan ya kalo lama *bow*