AUTHOR: KAFKA

Seoul International Hospital

July 9th 2011

 

AUTHOR’S POV

 

Travel bag itu sudah nyaris terisi penuh. Hye-Na dibantu ibunya berusaha menjejalkan beberapa lembar pakaian untuk dibawa kembali pulang. Hye-Na tak bisa melakukannya sendiri, tangan kirinya masih dalam pengawasan dokter.

Wanita paruh baya itu berulang kali melirik Hye-Na yang sibuk sendiri dengan aktivitasnya, seakan tak peduli dengan keberadaan ibu dan calon suaminya. Ya, Donghae kini tengah bersama mereka.

“Kau yakin tidak perlu diantar? Hye-Na~ya, lukamu belum sembuh betul, eomma khawatir….”

“Eomma! Aku kan hanya akan sidang disana. Tidak sampai satu minggu,” potong Hye-Na cepat. Ia tahu, setelah calon ayah mertuanya, begitu-ia-sebut, mengatakan bahwa kasus tabrak lari ini akan diusut, Hye-Na menolaknya mentah-mentah, dengan bujukan Kyuhyun sekalipun. Pelaku itu tidak akan melakukan hal bodoh dua kali, pikirnya. Jika ia menyerang Hye-Na seklai lagi, sama saja dengan melakukan pembunuhan di kantor polisi.

Wanita paruh baya itu menghela nafas, menyerah pada gen keras kepala putrinya, yang memang  sangat mendominasi otaknya.

“Aku berharap bisa mengantarmu, Hye-Na~ya.. Tapi….” Suara  berat itu tak menghalangi aktivitas Hye-Na. Ia semakin menyibukkan diri dengan menjejalkan pakaian-pakaiannya.

“Ara. Dwaesso. Kau tak perlu repot-repot meninggalkan pekerjaanmu untukku, Donghae ssi,” ujarnya dingin.

Donghae tak kehabisan akal, gadis ini benar-benar dalam bahaya, dan ia tidak bisa melepaskan kasus tabrak lari ini begitu saja. Tepatnya, bukan pekerjaan yang membuatnya harus menetap di Seoul, tapi kasus itu…. Donghae terlalu tertarik untuk menyelesaikannya.

“Kalau begitu aku akan meminta Kyuhyun menjagamu disana, bagaimana?”

Seketika mata Hye-Na membulat, ia menghentikan aktivitas packingnya dan Donghae yang kini sedang duduk di sofa memerhatikannya, lalu menaikkan sebelah alisnya meminta jawaban. Hye-Na beberapa kali menahan perasaannya yang ia rasa akan meledak, namun ia putuskan untuk tidak mencari perkara. Ia memutuskan untuk menggeleng dan menolaknya.

Hye-Na mengibaskan tangannya. “Tidak, terima kasih. Aku bisa menjaga diri, Donghae ssi.”

Donghae beranjak dari sofa, mendekati tempat dimana Hye-Na berdiri saat ini.

“Ajjumma, bisa kami berbicara berdua sebentar?”

Nyonya Han tersenyum tipis, mengangguk dengan anggun. “Keurae, kalian akan menikah, seharusnya sedekat ini dari dulu. Kalau begitu eomma tinggal, Hye-Na~ya. Eo?”

Hye-Na memutar bola matanya kesal, sedangkan Nyonya Han sudah pergi meninggalkannya dengan Prince Charming itu.

“Apa?”  tanyanya ketus.

Donghae kini duduk disamping travel bag yang sedang menjadi sasaran pekerjaan Hye-Na untuk menghindari berbagai macam kontak dengan Donghae, yang sialnya kini berhadapan dengannya.

“Terserah jika kau akan memakiku, tapi aku akan menyelesaikan kasus ini, Hye-Na~ya. Dan aku butuh seseorang menjagamu selama kasus ini berlangsung. Kau mengerti maksudku?”

Hye-Na menatap Donghae tajam, terkadang mata cokelat terangnya juga bisa membunuh, jika gadis ini mau.

“Selesaikan saja sesuka hatimu, tapi jangan kirim siapapun untuk menjagaku. Aku membutuhkan kenyamanan selama masa sidang kuliahku, dan kau tahu aku tidak akan merasa nyaman jika ada yang mengikutiku.”

Ia menarik zipper travel bagnya, dan berjalan menjauhi Donghae menuju toilet. Donghae menghela nafas kasar. Benar benar gen keras kepala yang tak terkalahkan!

***

Incheon Airport

July 12th 2011

09.15 AM

HYE-NA’S POV

 

Aku sengaja check in lebih awal, sebisa mungkin menghindari orang-orang yang bersikukuh memberiku penjaga. Itu sangat menyebalkan, kau tahu? Aku merasa seperti anak usia 7 tahun yang kepergiannya harus selalu diawasi. Menjengkelkan. Banyak pikiran yang mengantarku untuk menolak masalah jaga-menjaga itu. Satu hal yang menarik perhatianku, mengapa Donghae sampai repot-repot mengurusi kasus ini? Bahkan aku sendiri tak tertarik. Kurasa pak direktur itu hanya membuang waktu saja. Kecuali jika memang ia peduli terhadapku.

Peduli? Aku bahkan tak mempedulikannya sama sekali, meskipun ia berkeliaran di hadapanku secara berkala. Jika bisa dibandingkan, akhir-akhir ini rasio kedatangan Kyuhyun dan Donghae hampir berbanding terbalik dengan sebelumnya. Kyuhyun masih enggan dengan traumanya untuk masuk ke rumah sakit, dan saat itu Donghae yang menjagaku. Pria itu sedikit membuatku kagum. Secara tidak langsung ia berusaha meyakinkan orangtuaku, dengan mengusut kasus itu dan menitipkanku kepada Kyuhyun. Terlalu baik jika bisa kubilang.

Suara panggilan pesawat itu membuyarkan imajinasiku yang berputar-putar. Aku segera menggiring koper dan menariknya masuk ke terminal tempat pesawat tujuan NYC ini bertengger. Cukup repot, tangan kiriku masih belum bisa digunakan secara optimal hingga sekarang.

Beberapa kali lenganku menjadi pusat perhatian, membuatku risih. Bahkan sampai saat aku akan memasuki pesawat, dari jarak 10 meter pramugari itu sudah menatapku iba. Tsk! Aku yakin aku masih bisa meninjunya dengan tanganku yang terbungkus perban ini.

Aku terkesiap saat dalam hitungan detik koperku ditarik paksa dan dengan bodohnya kulepaskan. Jika tebakanku benar, ini….

“Hai, cantik.”

Seorang pria bertopi baseball dengan kaos lengan panjang yang lengannya digulung. Matanya sedikit tertutup oleh topi. Cukup tinggi, untuk ukuranku. Dan aku tahu siapa pria aneh ini hanya dengan wangi parfumnya.

“Kau, sedang apa disini?” tanyaku padanya. Ia berjalan mendahuluiku, menarik koperku masuk ke pesawat tanpa menghiraukan pertanyaanku. Dasar aneh!

Aku terpaksa mengikutinya. Melihatnya berbicara pada seorang penumpang yang duduk disamping seat-ku. Dan seakan terhipnotis, penumpang itu menyerahkan kursinya begitu saja. Ya, seorang wanita, kurasa usianya sama denganku. Jadi, bisa katakan padaku siapa wanita yang tak terpesona dengan pria aneh ini?

“Duduk.” Ia menaikkan koperku kedalam kabin, lalu duduk santai disampingku.

“Jelaskan padaku, Cho Kyuhyun.”

Aku menatap tajam matanya, sialnya pria itu hanya terkekeh pelan, membuatku ingin melemparinya dengan heels-ku. Jika perlu sampai heels itu menancap sempurna di otaknya.

“Aku hanya mengikuti perintah calon suami– ah ani, mantan calon suamimu itu, Hye-Na~ya.”

Mantan calon suami? Sebegitu terobsesinya ya, menjadi suamiku? Tsk!

“Hyungmu itu keras kepala sekali, Kyuhyun~a.”

Kyuhyun menarik lepas topi baseballnya dan mengacak rambutnya kasar, lalu merapikannya lagi. Bisa kulihat matanya sedikit mengilap, sepertinya ia tidak suka arah pembicaraanku.

“Lalu kau apa? Bahkan aku tak habis pikir dengan kau yang sok tidak mau dijaga. Sudah seperti ini, kau masih tidak menurut. Nakal!” katanya sambil menunjuk perban di lengan kiriku, lalu mencubit hidungku, membuatku menampar lengannya.

“Kau memperlakukanku seperti bocah 7 tahun, tahu! Aku 15 tahun lebih tua dari itu!”

Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Kau bahkan seperti anak usia 5 tahun jika merajuk seperti itu.”

“Tutup mulutmu, Cho Kyuhyun!”

***

Brooklyn, July 13th 2011

Hyena’s Flat

253rd Street Manhattan

20.09 PM

KYUHYUN’S POV

 

Hye-Na terus membolak-balik tumpukkan kertas dihadapannya. Kini ia duduk di lantai dengan setumpuk kertas lain, alat tulis, juga laptop yang berserakan di meja. Dan aku? Sibuk, ah tidak. Menyibukkan diri dengan PSP dan duduk di sofa, tepat di belakangnya. Gadis ini benar-benar tidak mau kuganggu. Padahal sidangnya masih 3 hari lagi, jadi kurasa masih ada waktu lebih dari 72 jam untuk sekedar membaca ulang skripsinya.

“Kau tidak lapar?” tanyaku sambil mengotak atik rambutnya yang ia ikat tinggi, membuat tengkuknya terlihat jelas. Ia menggeleng, lalu menandai beberapa kalimat dikertas itu dengan stabilo-nya. “Kau cari makan saja diluar, aku belum sempat belanja.”

Hey, aku diacuhkan!

“Hye-Na~ya~” Aku merajuk, ia kemudian menurunkan kertasnya. Jengkel dengan tingkahku, kurasa.

“Kyu, Donghae menyuruhmu menjagaku, bukan mengganggu! Jadi diamlah, eo?”

“Ck~” Aku mendecak, lalu turun dari sofa, duduk disampingnya. Sesekali ikut melirik pekerjaannya yang aku pun tak tahu apa.

“Satu lembar saja, Kyu. Setelah ini aku berjanji kita makan, OK?” katanya seraya menunjukkan selembar kertas itu padaku. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk. Di detik berikutnya kuletakkan kepalaku dipangkuannya, merebahkan diri dengan pahanya sebagai bantal. Ia sedikit terkesiap, namun kembali fokus dengan pekerjaannya. Aku kembali menyalakan PSPku dan mulai bermain lagi, menunggunya menyelesaikan pekerjaan sialan yang membuatku diacuhkan. Cih~

***

Bristol Plaza, Lower Manhattan

22.35 PM

Aku menggamit lengannya santai. Kini kami berjalan diatas trotoar setelah puas makan, mencari-cari hal menarik yang bisa dikunjungi, atas bujukanku tentunya. Awalnya Hye-Na menolak, namun ia menyerah setelah tahu bahwa aku tak akan mendengar bantahannya.

Akhirnya trotoar jalan buntu, dan kami menemukan pemandangan dermaga yang… kau tahu? Hye-Na bahkan tak bisa mengatupkan mulutnya saat melihat dermaga utama NY City ini. Aku mengerti, bukan karena ia belum pernah kesini, tapi ada pertunjukan kembang api tepat di ujung jalan dermaga itu.

Aku tersenyum melihat ekspresinya lalu mendorong dagunya pelan agar mulutnya berhenti menganga. “Tutup mulutmu, jika tak mau kucium sekarang juga, nona Han.”

Ia kemudian memanyunkan bibirnya dan melepaskan gamitan lenganku, memilih duduk di jembatan kayu yang mengarah langsung ke dermaga. Riuh angin kering ini membuat suhu disini panas, tetapi ajaibnya Hye-Na malah tak berhenti menggosokkan tangannya seakan kedinginan. Aku berdiri disampingnya, ikut memandang kembang api yang menurutku sebenarnya amat sangat membisingkan. Namun tak masalah jika Hye-Na menyukainya.

“Kau ingat , Kyuhyun~a? Kau sering memuji mata cokelatku. Lebih cantik mana, mataku atau pemandangan itu?” Ia sedikit berteriak karena angin menenggelamkan suaranya, tak lupa ia juga menunjuk pemandangan dermaga yang seakan tak berujung itu, matanya juga menerawang kesana.

“Kau tidak bisa dibandingkan dengan dermaga, Hye-Na~ya,” ucapku santai. Hye-Na memiringkan kepalanya, berusaha menelusuri pemandangan itu lebih jauh.

“Kau salah, Kyu. Semua hal bisa dibandingkan, seberbeda apapun jenisnya, sejauh apapun rupanya, perbandingan itu tetap ada. Karena sebuah perbandinganlah kau bisa mengambil sebuah keputusan.”

Aku menatapnya, dari jarak pandangku hanya terlihat hidung mancung dan rambutnya yang berantakan tertiup angin. Aku memasukkan tanganku kedalam saku, memerhatikan gerak-gerikanya dari atas sini. Kakinya menendang-nendang angin, tangannya menopang tubuhnya di samping, bulu matanya yang lentik bahkan terlihat dari sudut pandangku.

“Seperti kau dan Donghae.”

***

AUTHOR’S POV

 

Kyuhyun memicingkan matanya mendengar nama itu disebut, ia lalu tersenyum pahit, menunggu gadis itu meneruskan kalimatnya.

“Jadi kau membandingkanku dengan Prince Charming itu? Cih~ Ternyata kau sama dengan wanita lain, Han Hye-Na.”

Mendengar itu Hye-Na ikut tersenyum pahit, menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan setelah ini. Namun Kyuhyun mendahuluinya dengan sebuah pertanyaan. “Lalu kau mengambil keputusan?”

Hye-Na menggeleng cepat. Kini ia menunduk, berharap limpahan air dihadapannya menenggelamkan dirinya sekarang juga. “Sebenarnya mudah saja jika kau tanyakan aku akan memilih siapa. Aku tidak akan ragu memilihmu, Kyuhyun~a.”

Kyuhyun mengerenyitkan alisnya, jawaban gadis ini sama sekali tidak memuaskan.

“Lalu?”

“Tapi ini sama sekali tidak benar. Tidak seharusnya seperti ini, jalan hidupku, dan jalan hidupmu. Itulah yang seharusnya menjadi perbandingan.”

Kyuhyun berjongkok, menyetarakan tingginya dengan wajah Hye-Na. Ia lalu menarik dagu gadis itu sedikit kasar dan melayangkan tatapan tajamnya. Membuat tubuh gadis itu sedikit bergetar.

“Anggap saja kita tidak pernah membicarakan hal ini. Sudah kukatakan padamu, aku tak akan menyerah hanya karena perjodohan ini, Han Hye-Na,” ucapnya dingin.

Hye-Na bermaksud menepis tangan Kyuhyun di wajahnya, namun dengan sigap Kyuhyun meraih tengkuknya dan mencium bibirnya.

Hye-Na meronta, memaksa melepaskannya. Ia tahu persis isi hatinya. Cho Kyuhyun tidak bisa dibandingkan dengan Lee Donghae. Ayah dan ibunya bahkan sudah percaya sepenuhnya pada pria itu, dan Hye-Na tak bisa membantah kepercayaan yang susah payah didapatkan Donghae dari orangtuanya.

Akhirnya Hye-Na berhasil mendorong Kyuhyun, walau tak sepenuhnya membuat pria itu tersungkur.

PLAK!

Hye-Na menamparnya, lalu berdiri dan meninggalkan pria itu sendirian disana.

Kyuhyun memegangi pipinya yang memerah, lalu tersenyum miris. Lee Donghae lagi, batinnya. Pria itu benar-benar meraih semua hal yang diinginkannya.

***

Seoul, July 14th 2011

07.00 AM

GA-EUL’S POV

 

Aku menyeka keringatku dengan punggung tangan, lalu kembali berkutat dengan tanah liat yang berputar dihadapanku. Ya, aku seorang seniman tembikar, ini kujalani sejak aku duduk di bangku sekolah menengah. Galeri ini dibangun sejak itu, namun aku baru menempatinya lagi selama satu minggu setelah 6 tahun aku meninggalkannya ke Jepang untuk pemulihanku. Untuk bahasa yang lebih kasar, aku adalah seorang psikopat, jika bisa dibilang. Tapi pskiaterku hanya mengatakan aku orang yang terlalu ambisius, nekat, dan segala macam hal mengerikan yang mengarah pada kesehatan jiwaku. Namun aku yakin, aku tidak akan sakit jiwa jika bukan karena pria itu.

“Apa yang kau lamunkan, nona manis?”

Aku tersadar dari lamunanku mendengar suara itu. Lee Hyukjae. Temanku. Bukan. Dia adalah satu-satunya orang yang kupunyai didunia ini, yang dulu posisinya ditempati Donghae. Namun jangan berharap apapun, aku tak mencintainya, sama sekali.

“Tembikarmu jelek, Ga-Eul~a,” katanya sambil menunjuk tembikarku yang memang penyok, entah sejak kapan. Aku buru-buru memperbaikinya, membuat seringaian pria itu keluar dengan sendirinya.

“Diam kau!” sergahku dingin. Ia kemudian menahan tawanya dan matanya menjelajahi galeriku ini.

“Sudah kau bersihkan? Cepat sekali.”

“Tentu saja. Akan ada yang datang sebentar lagi.”

Hyuk-Jae menatapku kaget, ia membulatkan matanya lalu menautkan alisnya.

“Lee Donghae?”

***

DONGHAE’S POV

 

Aku mengetuk-ngetukkan bolpoinku di atas meja kerja, beberapa data yang akhir-akhir ini kubaca membuatku sedikit terperanjat. Gadis itu…. Cho Gaeul.

 

“Oppa, kau akan menungguku?”

“Tentu saja, siapa lagi yang akan kutunggu selain kau.”

Kupijat keningku, berharap mengurangi rasa sakitnya. Jika ini benar-benar Ga-Eul, lalu apa maksud Hyuk-Jae mengatakan ia telah meninggal? Ck, pria itu.

Beberapa tahun lalu Lee Hyuk-Jae menemuiku, mengatakan bahwa Ga-Eul meninggal karena sakit, dan ia dimakamkan di Jepang. Dan kau bodoh sekali, Lee Donghae. Kau memercayai pria bajingan itu begitu saja!

Aku meraih kunci mobilku dan bergegas pergi, menemuinya. Jika benar Ga-Eul yang melakukannya pada Hye-Na, aku akan berpikir berulang kali untuk menjebloskannya ke penjara. Mungkin.

***

Manhattan

Hye-Na’s flat

09.16 AM

AUTHOR’S POV

 

Hye-Na berusaha menjaga jarak dengan Kyuhyun. Ia kini tidur dengan memunggungi pria itu, dan Kyuhyun malah memandanginya meskipun hanya punggung yang bisa ia lihat.

Mereka tidak berbicara sepatah kata pun setelah kejadian dermaga itu, bahkan hampir saja Hye-Na tidur diluar jika Kyuhyun tidak menarik tangannya kembali dan menghempaskannya ke kasur, menatapnya dengan mata elangnya yang tajam dan segera mengunci pintu. Membuat Hye-Na mau tak mau harus menuruti kemauannya.

Selama 4 hari terus seperti itu, dan mereka hanya berbicara jika perlu. Hye-Na telah menyelesaikan sidangnya, sedangkan Kyuhyun hanya bisa mengawasi gadis itu dari kejauhan. Meskipun mereka tidur seranjang, tetap saja rasanya ada jarak ribuan kilometer diantara keduanya.

“Kita butuh bicara, Hye-Na~ya.”

Perkataan Kyuhyun dari balik sofa itu membuat langkah Hye-Na terhenti. Awalnya ia akan pergi ke kampus, menyelesaikan beberapa administrasi yang sebenarnya masih bisa dilakukan dilain hari. Namun demi menghindari pria mengerikan ini, Hye-Na rela bersusah payah bolak balik kampus.

“Aku sibuk, ada yang harus kuselesai….”

“Apa yang bisa kulakukan agar kau mau mendengarku, hah?”

Kyuhyun bangkit dari sofa, menghampiri Hye-Na dengan wajah dinginnya. Hye-Na memalingkan wajahnya dari pria ini. Jujur saja, ia gugup setengah mati setelah mereka tak berbicara satu sama lain selama 4 hari.

“Cho Kyuhyun ssi….”

“Lupakan pembicaraan kita tempo hari. Kau menyiksaku, Han Hye-Na,” ucapnya dingin.

Hye-Na tertawa pahit, sedikit mengejek apa yang baru saja Kyuhyun katakan. Ia lalu mengangkat wajahnya untuk melihat mata pria itu, dan menatapnya dalam.

“Beri aku alasan kenapa aku harus melupakannya,” katanya singkat.

Kyuhyun menunduk, balas menatap gadis itu. “Aku takut membencimu. Sayang sekali, aku terlanjur mengutuk setiap hal yang ada ditubuhmu. Karena aku tahu, itu hanya akan membutakan mataku saja.”

Hye-Na memicingkan matanya, tak mengerti dengan ucapan Kyuhyun. Kyuhyun memperdalam tatapannya, menangkup wajah gadis itu dengan tangannya.

“Aku takut membencimu, Hye-Na~ya. Semua yang ada ditubuhmu mebuatku tergila-gila. Tapi kau sendiri benar-benar membuatku muak, dan hampir membuatku membencimu,” ujarnya lirih.

Hye-Na mengerjapkan matanya berkali-kali agar otaknya fokus, namun perkataan selanjutnya sukses membuat Hye-Na ingin meledakkan otaknya saat itu juga.

Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Hye-Na, seakan mencari sesuatu dari matanya.

“Ingat satu hal, Han Hye-Na. Aku hampir membencimu.  Jadi waspadalah, karena aku tak akan segan segan pada siapapun yang mengganggu pikiranku.”

***

Seoul

13.45 PM

“Tak kusangka kau benar-benar datang, oppa.”

Ga-Eul beranjak dari kursi kerjanya dan mencuci tangannya. Donghae terperangah melihat Ga-Eul, sedangkan gadis itu hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Donghae.

“Ga-Eul~a….”

“Duduklah, akan kubuatkan teh untukmu.”

Donghae segera menghampiri Ga-Eul dan menarik tangannya keras, membuat gadis itu berhadapan dengannya. “Kau yang melakukannya?”

Ga-Eul mengerjapkan matanya. Sebetulnya ia cukup terpana dengan perubahan Donghae, namun detik berikutnya ia mampu menguasai ekspresi wajahnya lagi dan tersenyum menyeringai.

“Melakukan apa?” ucapnya polos.

Donghae menghempaskan cengkeraman tangannya, membuat Ga-Eul sedikit terhempas.

“Aku tidak akan melanjutkan kasus ini jika kau mengakuinya dihadapanku, Cho Ga-Eul,” ujar Donghae dingin. Ga-Eul mengerenyitkan alisnya dan menatap Donghae intens.

“Kau bermaksud melindungiku, begitu?”

Donghae tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis kecilnya. Padahal dulu Ga-Eul bertingkah sangat manis, jauh dari kesan arogan dan membantah seperti ini. Mungkin waktu 6 tahun sangat lama sampai-sampai Donghae tak menyadarinya.

“Ga-Eul~a, kau salah paham!”

Donghae dengan gusar berusaha mencoba menjelaskannya. Ia tidak akan menerima pertunangan itu jika saja ia tahu kalau Ga-Eul masih hidup, tentu saja.

Ga-Eul tersenyum tipis mendengarnya, menunggu jawaban Donghae dengan antusias.

“Aku tidak akan berani menerima perjodohan itu jika saja Hyuk-Jae tak mengatakan kau sudah meninggal.”

Ga-Eul terperanjat, matanya membulat seakan disengat listrik ribuan watt. Ia mengalihkan pandangannya untuk berpikir. Lee Hyuk-Jae?

Seorang pria dengan cepat menarik tangan Ga-Eul, sedangkan gadis itu dengan pasrah mengikutinya, masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Maaf, Lee Donghae ssi, sudah waktunya Ga-Eul terapi sekarang.”

***

Lee Corp. Office

15.29 PM

DONGHAE’S POV

 

Aku kembali kekantor setelah Ga-Eul ditarik paksa oleh Hyuk-Jae. Sedikit membingungkan, untuknya. Kurasa Hyuk-Jae itu benar-benar bajingan.

Aku baru saja akan membereskan barangku bersiap untuk pulang ketika seseorang mengetuk pintu dan tanpa kupersilahkan ia dengan santainya masuk, berjalan mendekati meja kerjaku dengan wajah angkuhnya.

“Kyuhyun~a, kau sudah pulang?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya, lalu duduk di tangan sofa dengan jarak beberapa meter dari meja kerjaku. Aku memerhatikan gerak-geriknya. Sepertinya bocah ini sedang tidak beres.

“Aku mau merebut Hye-Na darimu, hyung.”

TBC

Credit: http://kafkanisaoctaryoto.wordpress.com/