AUTHOR: KAFKA

Seoul, July 1st 2011

Han’s Home

20.12 PM

KYUHYUN’S POV

 

Semua orang sibuk berpesta, dan mungkin hanya aku dan Hye-Na yang tak menikmati pesta ini. Ia kembali mengekor pada Donghae hyung dan menyebar senyum terpaksa. Namun kau masih bisa merasakan pesonanya sejauh apapun tempat kau memandang, dan kau tak akan pernah bosan menatap lekukan raga bibir tipisnya itu.

Saat kuperhatikan Donghae hyung… aku bahkan tak sanggup membaca air mukanya. Ia tetap tersenyum ringan seperti biasa, tak ada tekanan atau semacamnya. Kurasa ia juga patut berbahagia mendapatkan Hye-Na dengan begitu mudah. Dan aku bersumpah itu tak akan bertahan lama. Sudah cukup ia mengambil perhatian dunia dariku, jadi aku tak akan menyerah untuk hal yang satu ini. Han Hye-Na. Pertaruhannya memang cukup sulit. Kurasa semua orang sudah tahu. Donghae yang menawan, berkharisma, bertanggung jawab, berpendidikan dan memiliki segalanya. Sedangkan aku? Oke, cukup dengan tampan, selebihnya aku tak memiliki apa yang dimiliki Prince Charming itu. Tapi aku tak akan menyerah hanya karena opini orang. Toh Hye-Na tak menyukai Donghae hyung bukan?

***

 

AUTHOR’S POV

 

“Jadi… kita akan kemana?” Donghae menstarter mobilnya, sesekali melirik Hye-Na yang duduk di kursi penumpang.

“Terserah kau.”

Donghae mengangguk ringan lalu mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan itu keduanya diam. Hye-Na yang memang malas berbicara, dan Donghae tak tahu harus membuka pembicaraan dari arah mana. Keduanya terjebak oleh kencan yang direncanakan orang tua mereka.

***

HYE-NA’S POV

Mem-bo-san-kan. Bisakah ia melakukan sesuatu untuk menghiburku? Bermain akrobat kalau perlu. Kaku sekali orang ini, membuatku ingin mencekiknya saja.

“Kita sampai.”

Seketika aku tersadar dari lamunanku, dan ia sudah menghilang begitu saja dari jok mobil. Alih-alih membukakan pintu untukku, ia malah pergi dan masuk kedalam restoran tanpa mempedulikanku. Sial!

Aku keluar mobil dan menyusulnya sambil mengumpat, siapa tahu orang itu dengar.

“Kurasa lamaran tempo hari benar-benar hasil berlatih dari guru acting! Ck, mengesankan.”

Ia berbalik lalu menatapku, kubalas dengan menatapnya tajam. Sesaat ia terdiam dan aku mendahuluinya untuk mencari tempat duduk, kemudian ia mengikutiku.

“Kau mau pesan apa?”

“Aku tak lapar, kau saja yang pesan”

Ia lalu membolak-balik menu dihadapannya, dan memesan makanan. Aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang ia pesan.

***

Seoul, July 2nd 2011

Gangnam

19.45 PM

AUTHOR’S POV

Kaca film mobil itu tak mampu menutupi pemandangan mengerikan yang terlihat oleh mata legam seorang gadis, bahkan membuat bibir gadis itu bergetar, tangan dan tengkuknya berkeringat dingin.

“Berhenti menangis, atau aku akan menghampirinya dan menghajarnya sekarang juga, Cho Gaeul!”

Ia kini menunduk, tersenyum miris, lalu mengusap wajahnya kasar berharap agar air mata itu hilang dalam sekali usap.

“Tak ada seorang gadis pun yang mengeluarkan airmatanya secara percuma. Maka jika aku menangis, berhenti mengataiku melakkukan hal yang tidak berguna! Aku tahu ia tak pernah lagi menatapku, tapi aku akan membuatnya terpaku dan menatap setiap bulir air mata yang jatuh dari pelupuk mataku, yang ia tahu itu hanya untuknya.”

***

Seoul, July 3rd 2011

Han’s Home

23.45 PM

HYE-NA’S POV

 

Aku hampir saja menjerit melihat pemandangan di hadapanku. Cho Kyuhyun, namja itu seperti hantu. Datang dan pergi seenaknya dan kali ini ia sudah berada di balkon kamarku dengan senyum menyebalkannya. Memanjat sepertinya. Ck, sinting.

“Bukankah sudah kubilang kau hanya akan melihatku? Jadi hilangkan wajah syok yang terlihat bodoh itu, nona cantik.” Kyuhyun dengan santainya memasuki kamarku, matanya berkeliling mengamati setiap interior yang bertengger dikamarku.

“Aku tak pernah mendengar kau berkata seperti itu, Cho Kyuhyun. Dan kuberitahu satu hal, kau akan segera mati jika ayahku tahu kau ada disini. Jadi kusarankan kau pergi, se-ka-rang.”

“Sirheo. Kau harus terbiasa melihatku mulai sekarang. Bukankah itu lebih baik daripada waktumu yang kau habiskan dengan Donghae hyung?” Eh? Bagaimana ia tahu aku begitu membeci moment-moment dengan Prince Charming itu?

Ia membanting tubuhnya ke kasur, dan aku menghentakkan kakiku menuju kasur dan duduk  di sampingnya. Memandangnya dengan tatapan tertajam yang kupunya.

“Kau mengikutiku?!”

“Tak ada larangan untuk melakukannya, bukan? Jadi kurasa aku sudah selangkah lebih maju dari Prince Charming itu.” Ia menahan kepalanya dengan tangan yang ia jadikan bantal, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Bibirnya beberapa kali tersenyum, membuatnya terlihat seperti orang gila.

Aku menghela nafas, lalu tersenyum tipis. Mengalihkan pandanganku pada objek lain di luar jendela. “Setidaknya aku tak perlu berpura-pura dihadapanmu. Tak terlalu buruk”

***

KYUHYUN’S POV

 

Hey, aku melihat senyumnya yang pertama! Dan catat satu hal, bukan-karena-paksaan.

“Sayangnya ruangan ini gelap, dan aku tak bisa melihat matamu saat kau tersenyum, Hye-Na~ya.” Aku setengah berbisik saat mengatakannya. Kurasa ia masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Ia memalingkan wajahnya untuk melihatku denga tatapan… bodoh? Alisnya bertautan, wajahnya tertutup sedikit rambut karen ia melihatku dengan posisi menunduk. Aku segera bangkit dan membalas tatapannya. Kini ia tepat di hadapanku, membuat otakku seketika mati dengan hanya melihat wajahnya. Aku patut berbangga hati, kini aku dapat melihat mata indahnya dengan jelas.

“Lain kali beritahu aku jika kau akan datang.” Hye-Na memandangku lembut.

“Aku berharap tak ada lain kali, dan segalanya akan terus seperti ini.”

“Tapi akan selalu ada lain kali untuk memperbaiki semuanya. Kau ingin aku terus bersama Donghae hyungmu itu seperti sekarang?”

Aku… tidak salah dengar, kan? Kuharap tak ada kerusakan di telingaku saat ini. Mendengar jawabannya aku tersenyum, berpikir bahwa aku tak perlu repot membuatnya jatuh cinta padaku. Toh ia sudah melakukannya, kan?

“Aku sudah melakukan sumpah untukmu, dan tak mungkin aku menyerah begitu saja hanya karena sebuah perjodohan konyol. Jadi… kau harus pegang ucapanku kemarin, ara?”

Ia mengangguk singkat. Detik berikutnya wajahku mendekat, bahkan hidung kami bersentuhan, nyaris berciuman.

TOK TOK TOK!!!

“Shit!” Aku mengumpat karena Hye-Na refleks menjauhkan wajahnya. Tanpa membuang waktu aku segera mengecup bibirnya kilat.

“Kau hanya boleh mengunci jendela kamarmu jika kau sudah bosan denganku. Arasseo?”

Dan aku tahu kau tak akan pernah melakukannya, Han Hye-Na.

***

Seoul, July 5th 2011

11.09 AM

AUTHOR’S POV

 

“Memesan gaun pengantin? Aku tidak… chakkaman. Apa eommaku yang  memesannya?”

Pria yang bertugas mengirimkan paket jackpot untuk Hye-Na yang berisikan gaun pengantin itu hanya menggeleng, lalu menunjukkan sebuah struk, berisikan sebuah tanda tangan yang tak ia kenal. Sudah pasti bukan tanda tangan ibunya. “Disini atas namamu, nona Han Hye-Na”.

Hye-Na mendudukkan tubuhnya ke sofa, membuang nafas dengan kasar. “Kau yakin itu pesananku? Atau kau tahu siapa yang datang untuk memesannya?” Kurir itu menggeleng lagi, dan meletakkan beberapa lembar struk, kuitansi dan bukti pembayaran lainnya di meja.

“Maafkan saya nona, saya hanya mengantar pesanan.”

Menyerah dengan analisanya, Hye-Na mengangguk, mengibaskan tangannya, mengzjinkan kurir itu pergi dari rumahnya setelah ia tahan dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama pula. Pengirim gaun pengantin.

Ck! Gila! Sefanatik inikah orangtuaku atau orang tua Donghae atau siapapun yang mengirimkan paket ini pada sebuah pernikahan? Hey, yang menikah aku! Bukan mereka!

Hye-Na menekan serangkaian angka pada ponselnya, merujuk pada nama seseorang.

Yeoboseyo?

“Kau memesankan gaun untukku?” tanyanya tanpa basa basi. Gadis ini terlalu sensitif dengan hal-hal yang berbau pernikahannya. Donghae sedikit menjauhkan speaker ponselnya begitu suara ketus Hye-Na terdengar.

Tidak. Coba kau tanya eomma. Kurasa ia yang memesannya,” ujar Donghae sambil membolak-balik lembar demi lembar kertas berisi laporan di atas meja kerjanya.

Hye-Na dengan cepat menutup kembali sambungan langsung itu dan menatap gaun satin mewah berwarna broken white di depannya dengan tatapan nanar.

Donghae menghela nafas berat memikirkan tingkah Hye-Na. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali berkonsentrasi bekerja.

Hye-Na yang masih sibuk dengan pikirannya kembali menekan serangkaian angka pada ponselnya, kali ini merujuk pada orang yang dikatakan Donghae. Lee Ajjumma.

Yeoboseyo?” Suara wanita paruh baya itu memecah nada tunggu, membuat Hye-Na terperanjat dan berdiri dari duduknya.

“Ajjumma mengirimiku gaun pengantin?”

Ah~ sudah sampaikah? Bagus kalau begitu. Kau suka?

Hye-Na menutup matanya geram, lalu memijat keningnya. Benar benar sakit jiwa!

“Mianhae ajjumma, bisakah aku mengembalikannya? Aku suka, tapi aku akan memakai gaun turun-temurun dari eommaku saja, tak apa, kan?”

Wanita diseberang telepon itu tampak diam dan berpikir sejenak. Membuat Hye-Na menggigit kukunya menunggu jawaban.

“Baiklah, tak apa. Itu lebih baik, Seleramu akan jah lebih bagus kurasa.”

Hye-Na menghela napasnya lega. Ia lalu bergegas membungkus kembali gaun ini kedalam package-nya, masih dengan satu tangan memegang ponsel.

Donghae tahu persis letak butiknya. Ia bisa mengantarmu.

“Keurae, ajjumma. Aku akan memintanya mengantarku. Kamsahamnida.”

Cheonma.

Setelah selesai Hye-Na duduk kembali di sofa, dan untuk kesekian kalinya kembali berkutat dengan ponselnya. Kali ini mengirimkan sebuah pesan singkat. Entah kenapa suara pria itu selalu membuat amarahnya berada di titik maksimal.

To : Lee Donghae

Aku membutuhkanmu untuk mengembalikan gaun, bisa menjemputku?

Tak sampai satu menit ponselnya kembali bergetar.

From : Lee Donghae

Aku ada rapat penting, aku sudah meminta Kyuhyun mengantarmu. Dia juga tahu letaknya.

Hye-Na mendengus kesal melihat balasannya. Rapat penting? Ck. Baiklah, Setidaknya Kyuhyun yang akan mengantarnya.

Ia beranjak untuk berganti pakaian, namun mendadak jantung Hye-Na berdegup kencang, mengingat ia akan bertemu Kyuhyun kembali, setelah tadi malam pria itu datang dengan wajah menyebalkannya, dan menciumnya begitu saja. Impas, Donghae terus sibuk dengan kerjanya, sementara kini dia sibuk berselingkuh dengan sang adik. Tragis.

***

HYE-NA’S POV

“Kau mengembalikannya?”

Aku mengangguk dan menggumam mengiyakan. Ia lalu menstrater mobilnya dan sesekali mencuri pandang dari jalanan untuk menatapku. “Apa alasannya?”

“Kau terlalu banyak bertanya, Tuan Cho. Jalankan saja mobilmu dengan benar.” Kepalaku sudah pusing. Kau mau menambahnya dengan pertanyaan-pertanyaan tak berujungmu itu, Cho Kyuhyun? Aku akan mati geram kalau begini caranya.

“Aku hanya penasaran. Padahal kulihat eomma begitu bersemangat memilihkan gaun itu untukmu, tapi dengan sia-sia kau kembalikan. Balasan yang cukup manis dari seorang calon menantu, kurasa.”

***

AUTHOR’S POV

Hye-Na menjelajahkan matanya keluar jendela dan mengedikkan bahunya dengan santai.

“Aku tak suka hal yang over-organized seperti ini. Jika aku mau aku bisa memilihnya sendiri 3 jam sebelum pernikahan. Itu lebih baik.”

Kyuhyun tersenyum kecil tanpa melihat ke arah gadis itu. “Kalau begitu menikahlah denganku, dan kau bisa memilih gaun pengantinmu sendiri, Hye-Na~ya”

Hye-Na tertawa puas mendengarnya, membuat Kyuhyun akhirnya menyerah dengan pemandangan tak menarik dijalanan dan mengalihkan matanya ke pemandangan yang lebih menarik matanya. Seorang Han Hye-Na.

“Aku sih tak masalah, selama keluargaku dan keluargamu juga tidak mempermasalahkannya.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, persis seperti bocah berusia 9 tahun. “Yang akan menikah itu kau dan aku, bukan mereka.”

Dan tawa Hyena meledak sejadi-jadinya.

***

 Sesampainya mereka di butik, Hye-Na turun diikuti Kyuhyun. Mereka nampak seperti suami istri yang sebenarnya, jika dibandingkan dengan calon mempelai pria yang sesungguhnya.

Belum sampai Kyuhyun mengikutinya, gadis itu sudah mengambil inisiatif untuk menyeberang, dan Kyuhyun hampir mati di tempat melihat sebuah mobil melaju kencang, bahkan gadis tolol itu tidak menyadarinya.

“HAN HYE-NA!!!”

***

DONGHAE’S POV

Aku terpaksa menghentikan meeting yang baru dimulai 20 menit yang lalu karena Hye-Na. Eomma bilang saat menyebrang menuju butik, Hye-Na tertabrak oleh sebuah mobil, dan mobil itu pergi begitu saja. Bahkan appa menghubungiku, dan ia sudah mendapat informasi bahwa ini kasus tabrak lari.

***

Seoul International Hospital

14.53 PM

Saat kuparkirkan mobilku di basement, aku melihat seseorang bersandar pada sisi mobil. Kyuhyun?

Hampir saja aku lupa bahwa Kyuhyun yang mengantar Hye-Na tadi. Dan… chakkaman! Kyuhyun di rumah sakit?!

Aku berlari kecil menghampirinya. Ia tengah duduk didepan kap mobil, wajahnya menunduk. Meski begitu aku masih bisa melihat wajahnya sudah merah padam entah karena apa.

“Kyu….”

“Maafkan aku, hyung. Kau temani saja Hye-Na diatas.”

Oke, jika harus kujelaskan, Kyuhyun memang memiliki trauma terhadap rumah sakit. Ibu dan nuna kandungnya meninggal secara bersamaan di rumah sakit, dan entah serangkaian kejadian apalagi yang membuatnya tak bisa masuk barang selangkah pun kedalamnya.

“Kau sudah besar, masih memikirkan hal itu? Sampai kapan kau menghindari hal-hal seperti ini, hah? Kau yang bersama Hye-Na saat kecelakaan, dan kau meninggalkannya disana?”

Tangannya mengepal, wajahnya semakin memerah. Tubuhnya sedikit bergetar, mungkin marah, lelah, dan masih banyak perasaan lain membuatnya tidak nyaman detik ini.

“Diam kau, Lee Donghae.”

Nada mengintimidasi benar-benar terasa di setiap katanya. Ia masih belum mengangkat wajahnya, membuatku ingin segera menghajarnya, bila perlu.

“Kau pengecut. Berhenti menghindari hal-hal seperti ini. Kau pikir itu keinginan mereka untuk mati di tempat seperti ini, hah?” Aku tidak membentaknya, hanya sedikit memberi tekanan pada ujung kalimat. Anak ini memang perlu diajari beberapa hal. Setidak sinkron apapun DNA-ku dengannya, tetap saja lelaki bodoh ini adikku.

“Kau bisa terus-terusan gila jika seperti ini, Kyuhyun~a,” ujarku dengan nada yang lebih halus, berharap dapat menenangkannya.

Tubuhnya bergetar sempurna, ia menangis hebat sepertinya. Aku ikut duduk di sampingnya, lalu menatap pria ini sendu.

“Lalu kalau gila aku bisa apa?! Berhenti menasehatiku seolah kau yang paling benar, aku benci hal itu,” katanya seraya terisak. Ia lalu menatapku, matanya merah, hampir semerah kulit wajahnya. Keringat di sudut pelipis serta lehernya. Hampir tidak terdiferensiasi antara air mata dan keringatnya.

“Kau adikku, aku hanya tak mau kau terus menerus hidup tercekik masa lalu. Persetan apa kata orang. Saudara tiri, soal marga kita, kemiripan wajah, atau berita sampah itu. Kau masih putra ayahku, dan aku tak bisa membiarkanmu seperti ini.”

Kyuhyun memalingkan wajahnya, kemeja yang membalut kaus putihnya juga nyaris basah. Apa sih yang baru ia lakukan?

“Hye-Na… bagaimana?”

Aku tahu ia mendengar perkataanku sebelumnya. Ia hanya sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tersenyum tipis, tak peduli ia mencerna perkataanku atau tidak.

“Eomma dan Han Ajjumma menjaganya diatas. Terakhir kuketahui ia belum sadar. Tapi… kau bisa ceritakan padaku bagaimana kejadiannya?”

Kyuhyun mengusap wajahnya kasar, membuat rambutnya sedikit berantakan. “Jalanan kosong, dan aku tak tahu bagaimana bisa mobil keparat itu datang tiba-tiba. Hye-Na bahkan tak sempat menjerit.”

Jalanan itu kosong bukan? Kurasa perpanjangan jalan itu sedang lampu merah, bagaimana bisa ia melaju sekencang itu tanpa ada polisi?

“Kyuhyun~a….”

“Eo?”

“Jenis mobilnya?”

“Itu jenis mobil kecil, sejenis Altis mungkin. Aku tak ingat persis. Wae?”

Kyuhyun menaikkan alisnya, sepertinya ia mencoba mencerna apa yang kupikirkan.

“Kau tak merasa aneh?”

***

AUTHOR’S POV

 

“Bergeraklah perlahan. Tanganmu terlukan parah sekali, Hye-Na~ya.”

Hye-Na meraih-raih ponsel disampingnya, namun gagal total karena untuk menggeser tubuhnya pun sakitnya luar biasa.

“Kyuhyun, dia tak apa?”

Kedua wanita paruh baya itu saling berpandangan, “Dia tidak bisa masuk rumah sakit, Hye-Na~ya.”

Hye-Na mengerutkan keningnya. “Tidak bisa?”

“Trauma. Dia punya trauma masa kecil di rumah sakit. Sepertinya ia menunggu di taman bawah.”

Wanita bermarga Lee itu mengelus rambut Hye-Na pelan, dan duduk disampingnya. “Donghae sedang dalam perjalanan kesini, kau tak usah khawatir.”

Hye-Na yang keras kepala memaksa untuk duduk, membuat kedua wanita itu menatapnya penuh tatapan ngeri. “Bisa antarkan aku padanya?”

“Dia baik-baik saja. Jika kau mau tahu. Dia juga mencemaskanmu. Sayang sekali dia tidak bisa melihatmu.” Donghae datang dan mendekati ranjang Hye-Na, membuat ibunya beranjak dari ranjang itu dan sedikit menjauh.

“Kau bertemu dengannya?” tanya Hyena semangat. Donghae duduk menggantikan posisi ibunya semula.

D“Basement. Dia titip salam padamu. dia juga minta maaf karena tak sempat menyelamatkanmu.”

Tsk, si bodoh itu!

Hye-Na mengangguk singkat dan menghela napas berat. “Aku melihatnya, seorang wanita di kursi penumpang, tapi aku tak bisa melihat wajah pengemudinya.”

Donghae menatapnya bingung, lalu berkeliling menatap ibunya dan Han ajjumma, dan kembali melihat Hye-Na, tepat di manik matanya. “Kau… melihat? Sungguh?”

Hye-Na mengangguk, “Hmm. Kaca mobil itu sama sekali tidak gelap. Dan kurasa jika aku bertemu dengannya sekali lagi aku akan mengenalinya dengan mudah.”

***

Seoul International Hospital

1099 VIP Room

02.04 AM

HYE-NA’S POV

Aku terserang insomnia akut. Ini sudah jam 2 pagi namun mataku benar-benar menolak untuk ditutup. Menjengkelkan! Di ruangan ini aku hanya sendiri, lampu ruangan rawat inap ini juga gelap di malam hari. Sialnya, baterai ponselku habis dan aku tidak bisa melakukan apapun. Geez.

Kusandarkan punggung dan menutup mata, mencoba menghiraukan bunyi-bunyian aneh yang mengganggu dan membuatku tidak bisa tidur. Bahkan hingga hampir 5 menit aku menutup mata, perasaan kantuk itu tidak ada sama sekali! Seharusnya aku tak membuang obat penenang itu tadi, setidaknya aku bisa tidur jika aku memakannya.

Mendadak ranjangku bergerak, seseorang mengambil posisi duduk di sampingku, dan jika bisa kutebak kini posisi kami berhadapan. Aku sengaja tak membuka mataku, penasaran dengan sang penjenguk ini. Bahkan jam besuk sudah berakhir 7 jam yang lalu, kurasa.

“Sesulit inikah bersamaku, Hye-Na~ya?”

Ini… suara Kyuhyun? Nyaris berbisik tak terdengar, namun wangi parfumnya membuatku yakin bahwa ini Kyuhyun. Tapi… bagaimana mungkin? Lee ajjumma bilang, Kyuhyun trauma terhadap  rumah sakit bukan?

Aku masih bertahan untuk menutup mataku. Dia meyingkirkan beberapa helai poni yang menutupi wajahku lalu mengecup keningku pelan. “Aku tahu kau tak tidur. Buka matamu, tuan putri.”

***

KYUHYUN’S POV

Hye-Na membuka matanya perlahan dan menatapku dengan tatapan bingung.

“Apa?” tanyaku seraya mengelus pipinya. Meskipun gelap aku tahu wajahnya memerah.

“Lee ajjumma bilang kau trauma dengan rumah sakit. Lalu kenapa datang?”

Aku tersenyum dan memeluknya. Kurasa Donghae hyung benar, siapapun bisa mati di tempat ini. Jadi untuk apa aku takut? Alih-alih menjawabnya, aku kini menatap lengannya yang dibalut serangkaian perban. Karena aku tak menjaganya, tentu saja.

“Sakit?”

Hye-Na menggeleng. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Aku menghembuskan nafas kasar, dan menatapnya tepat di manik mata cokelatnya. Kesukaanku.

“Hati orang bisa berubah, kan? Begitu juga denganku. Kurasa banyak hal yang bisa kulupakan tentang masa lalu.”

Hye-Na mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya. Aku mendekatinya, bisa dikatakan hampir menindihnya. Mengusap rambutnya perlahan, menyingkirkan rambut yang menghalangi goresan luka di pelipisnya. “Lain kali aku akan menjagamu lebih baik, maka dari itu jangan pergi ke tempat yang tak bisa kujangkau, eo?”

Ia mengangguk lagi, kali ini dengan mata tertutp. Sepertinya ia kelelahan.

“Aku akan ke Manhattan minggu depan.”

***

AUTHOR’S POV

 

Kyuhyun mencium kening Hye-Na lembut, lalu melonggarkan ciumannya sehingga bibirnya hanya terkesan menyentuh kening gadis itu saja. “Lalu?”

“Sepulang dari sana aku akan menikah.”

Kyuhyun kini melepaskan kontaknya, menggantikannya dengan tatapan intens ke bola mata Hye-Na. Ia lalu tersenyum, senyum yang menenangkan gadisnya.

“Sepulang dari Manhattan kau memang akan menikah, Hye-Na~ya….”

Kyuhyun mengecup bibir Hye-Na lembut, dan kembali menatap Hye-Na dengan cara semula.

“Denganku.”

TBC

 

Credit: http://kafkanisaoctaryoto.wordpress.com/

Note:

Buat beberapa reader yang protes tentang judul nih ff, aku mau ngasih penjelasan. Karena aku kuliah jurusan Sastra Inggris, jadi ini termasuk salah satu pelajaran aku, tepatnya Grammar.

The Choosen Lady emang bener. Tapi The Lady Choosen juga nggak salah. The Lady Choosen berasal dari kalimat lengkap “the lady was choosen” ato “the lady is choosen”. Kalimat itu mengalami ELIPSIS ato penghilangan/pemadatan kata. Hal ini sering banget terjadi dalam bahasa Inggris. Karena itu, verb to be kayak was ato is bisa diilangin. Artinya tetep sama, Gadis yang Terpilih. Jadi aku harap nggak ada lagi yang komplain tentang masalah ini.