AUTHOR: KAFKA

 

Seoul, Han’s Home

23 Juni 2011

08.30 AM

AUTHOR’S POV

 

Arranged marriage. Kurasa kau akan bosan mendengar istilah itu. Ya, bahkan hal itu membuat seorang gadis bernama Han Hye-Na tak berhenti mengumpat saking kesalnya, dan ia berjanji ia tidak akan menyerah pada nama keluarga Han yang diagung-agungkan diseluruh Korea untuk masalah perjodohan yang menurutnya luar biasa, bahkan ekstra konyol!

“Aku tetap menolak, harabeoji.”

“Hye-Na, turunkan nada bicaramu!” Ayahnya yang sedari tadi tak bergeming kini mulai berani membentak putrinya yang kelewat tak sopan itu. Ya, bahkan disaat genting seperti ini nama besar orang tuanyapun tak membantu, karena yang mengatur perjodohan ini adalah kakeknya, terkenal seenaknya dan tak bisa dibantah. Namun Hye-Na tak geram, ini bukan masalah kepentingan perusahaan, ini adalah masalah hak asasi!

“Kenapa harus aku? Masih banyak urusan yang belum kuselesaikan di Manhattan, dan aku tak bisa meninggalkannya. Kau bisa minta Shin-Joo, Yoo-Ra, atau yang lainnya!”

“Shin-Joo dan Yoo-Ra sudah kujodohkan dengan putra kolegaku yang lain. Jadi acara pembantahan kuakhiri disini saja.” Pria paruh baya itu bangkit dan pergi meninggalkan ruang keluarga diikuti asisten dan bodyguardnya. Yang tersisa di ruangan ini hanya Hye-Na dan kedua orangtuanya.

“Eomma, eottokhae?” Yang ditanya hanya menggeleng lemah, berpandangan dengan suaminya. Bahkan kini ruangan itu seperti tak berpenghuni.

***

HYE-NA’S POV

 

Kubanting pintu kamarku sekeras mungkin, berharap dapat menulikan telinga harabeoji di ruang kerjanya.

“HHhhh~” helaku seraya menghempaskan diri ke ranjang. Setiap lekuk otakku ikut berpikir. Aku begitu membenci status sosial keluargaku dan sekarang tanpa basa-basi aku bertugas menyelamatkan status sosial itu. Perjodohan, perjodohan, perjodohan. Betapa bodohnya begitu mengingat aku pun terlahir karena peristiwa perjodohan. Malang sekali kisah cinta keluarga ini.

Siapa namanya? Seperti apa wajahnya? Aku hanya mendengar para pelayan bergosip mengenai hal ini. Pria itu tampan, pewaris perusahaan, lembut, pekerja keras, dan tetek bengek lain yang begitu dibangga-banggakan. Tapi kau tahu sendiri, secuil pun aku tak tertarik dengan pria-sempurna-lembut-tampan atau apapun gelarnya. Aku membencinya.

TOK TOK TOK!!!

Aku tersadar dari lamunanku. Seseorang masuk membawakan sebuah nampan yang di atasnya terdapat sejumlah makanan. Jung Ajjumma. Ialah yang paling sering bertatap muka denganku, mengurusiku sejak kecil, bahkan ibuku pun kalah pengertian darinya. Ck, tragis.

“Kamsahamnida, ajjumma.”

“Ne, cheonmaneyo, agasshi,” katanya seraya membungkuk dan berjalan keluar menuju pintu. Aku segera bangkit dari tidurku tersadar akan sesuatu. Mungkin Jung Ajjumma bisa menolongku.

“Ajjumma, chakammanyo!”

Ia berbalik, lalu menatapku.

Aku menepukkan sisi kasurku, “Duduklah disini. Aku ingin meminta saranmu.”

“Ah, ne, agasshi.”

Ia duduk dan… sepertinya sudah tahu persis masalahku.

“Jadi… ajjumma, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” tanyaku dengan nada lirih. “Masalah perjodohan itu, agasshi… saya rasa butuh pemikiran khusus, dan… saya tidak tahu apakah perkataan saya akan membantu atau tidak,” katanya ragu.

“Katakan saja, aku akan mencoba memikirkannya.”

Jung ajjumma sedikit membatu, mungkin bingung harus memulainya dari mana. Tapi sesaat kemudian ia dapat kembali mengontrol suaranya.

“Ada pepatah mengatakan, jika kau ingin lebih kuat dari musuhmu, maka berdamailah. Dan satu-satunya jalan… untuk sementara waktu, menikahlah dengannya, agasshi. Dan kau akan lebih mudah mengambil jalan selanjutnya.”

Menerimanya? Yang benar saja!

“Tak ada cara lain, ajjumma? Kau tahu melihat wajahnya pun aku tak pernah, dan kuharap tak akan pernah!”

“Saya hanya menyarankan, selebihnya agasshi yang memutuskan.”

Hey, bersyukurlah! Hanya dia yang mengerti kondisimu saat ini, Han Hye-Na!

“Ah, aku akan memikirkannya, gomabseumnida, ajjumma.”

“Ne, cheonmaneyo. Tapi… kudengar, anak pewaris tunggal itu akan datang nanti malam, dan… Nyonya meminta agasshi untuk bersiap-siap.”

Sial! Waktunya mepet sekali!

***

Han’s dining room

19.13 PM

AUTHOR’S POV

 

Wanita setengah baya bermarga Han itu mulai cemas. Putrinya tak kunjung menampakkan batang hidungnya, dan disini, di ruang makan ini, harga mati nama keluarga Han dipertaruhkan.

“Jung Ajjumma, bisa tolong panggilkan Hyena? Katakan, keluarga Lee sudah datang.”

“Aku disini, eomma,”

Hye-Na berjalan dengan anggun dalam balutan dress selutut berwarna peach dengan rambut ikal panjang terurai, membuatnya layak diberi gelar putri keluarga Han.

“Annyeonghaseyo,” sapanya ramah pada keluarga Lee yang sudah duduk manis di meja makan. Sepasang suami istri, dan seorang putra laki-laki yang… yah, memang perlu diakui, menawan.

“Inikah Han Hye-Na? Aigoo, yeppeudda,” kata wanita yang duduk di samping kiri, langsung menghadap ke arahnya.

Hye-Na membungkuk sopan. Dia sedang menunjukkan imej berbeda dari dirinya, sesuai rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa beberapa jam yang lalu. Ia lalu duduk dengan santainya, di samping pria yang entah bernama siapa, yang sedari tadi menjadi perhatian pelayan wanita di sekitar mereka.

“Han Hye-Na imnida,” katanya manis.

Kedua orangtuanya tersenyum bahagia, akhirnya putri semata wayang mereka dapat ditaklukkan.

“Dan… ini putra kami, Lee Donghae.” Sejenak keduanya berpandangan, tersenyum kikuk satu sama lain.

“Harabeoji tak bisa hadir, Hye-Na, jadi appa yang menggantikannya untuk membicarakan masalah kalian.” Hye-Na mengangguk ringan, disambut anggukan Donghae dan keluarganya.

“Bagaimana kalau saya yang membukanya, ajjusshi?”

Semua mata tertuju pada pria itu. Hye-Na hanya memerhatikannya, menunggu apa yang akan pria itu katakan.

“Jadi… kedatangan saya kesini untuk melamar Hye-Na, Han Hye-Na, sebagai istri saya.” Suara itu lantang, tegas, tak ada keraguan. Seolah-olah sudah dilatih berbulan-bulan.

Baik keluarga Lee maupun keluarga Han tak ada yang luput tersenyum, kecuali Hye-Na tentunya. Ia hanya bisa melongo, tak percaya bahwa pria ini begitu frontal.

“Baiklah, Hye-Na….” Belum sempat ayahnya berbicara, Hye-Na sudah memotongnya.

“Aku menerimanya, appa, eomma.”

***

Brooklyn Bridge, New York City

24 Juni 2011

21.29 PM

Titik-titik cahaya lampu dengan sempurna membingkai populasi gedung pencakar langit disebrang pulau Brooklyn, distrik terbesar di sudut kecil belantara New York. Berlatar depan pantulan-pantulan cahaya halus dari East River, serta perahu yang berlalu lalang membelah kegelapan membuat mata tak berhenti takjub memandang keindahan kota metropolitan ini dari kejauhan. Manhattan.

Setelah peristiwa lamaran itu terjadi, Hye-Na yang semula mantap dengan rencananya berubah ragu. Entah karena apa, ia takut luar biasa. Sekelebat bayangan prosesi lamaran Donghae begitu tergambar jelas diotaknya. Sepulangnya dari urusan kuliah disini, ia akan langsung bertunangan di Seoul, dan jika tak ada halangan aral-melintang ia akan menikah tiga bulan lagi. Begitu mudah mengurusi masalah pernikahan di keluarga seperti ini.

Yellow cab yang ia tumpangi terparkir mulus di sisi kiri badan jalan di kawasan Times Square, jantung kota Manhattan. Ia berjalan menyusuri trotoar dan singgah disebuah gedung penuh kerlap-kerlip lampu, Liquor’s Downtown.

Ia mengeratkan jaket violet barlabel Giordano yang dikenakannya, mengikat rambut ikalnya dan duduk disebuah bar, yang nampak tak asing baginya.

One, please.

Minum seperti ini sebenarnya bukan sebuah kebiasaan, hanya pada timing seperti ini Hye-Na akan datang dan berakhir dalam keadaan mabuk.

***

KYUHYUN’S POV

 

Sejauh mataku memandang, roda kehidupan di pusat kota Manhattan ini tak pernah berhenti berputar. Layaknya pusat kota di negara-negara lain, distrik ini juga patut diberi gelar kota yang tidak pernah mati. Manusia berjalan begitu cepat diatas trotoar, meskipun notabene mereka tidak terburu-buru, tapi tetap saja cara berjalan khas western seperti itu. Wajah yang heterogen, identik dengan multi-rasial dari berbagai macam strata sosial dapat ditemukan dengan mudah disini, membuat kau tak pernah bosan untuk memutar bola mata kesana kemari.

Mataku bertepi pada sebuah gedung berlabel Liquor’s Downtown. Tepat saat aku menghentikan BMW X-5 yang kutumpangi, terlihat segerombol pria tengah berjalan dengan membawa seorang wanita yang… sepertinya mabuk? Mata gadis itu terpejam, dan sedetik kemudian mereka membawanya ke sebuah sudut jalan, masih tertangkap oleh mataku.

Aku mengikuti mereka, melihat bagaimana mereka memperlakukan gadis itu. Sedikit kasar. Wajahnya beberapa kali dibelai dan ia tak kunjung sadar. Hey, haruskah aku melakukan sesuatu? Tentu saja, Cho Kyuhyun bodoh.

Segera kutahan lengan yang baru saja akan menyentuh kancing baju gadis itu, lalu menendang wajahnya sampai ia tersungkur. Dan pria lainnya? Mereka ambruk hanya dengan sekali pukulan. Memalukan ras Amerika saja.

Saat kuhampiri gadis itu, bau alkohol menyeruak dari tubuhnya. Hey… sepertinya… dia gadis Asia. Dan… membuatku sinting seketika.

Cantik. Menyilaukan, meskipun dalam keadaan tidak sadar.

***

AUTHOR’S POV

 

Kyuhyun membopong gadis itu ke mobil, lalu memasangkannya seatbelt. Gadis itu tak kunjung sadar, mungkin mabuk berat, pikirnya. Tapi jujur saja, itu menguntungkan Kyuhyun karena ia bisa dengan leluasa menatap paras gadis itu. Garis wajahnya, rambutnya, kelopak matanya, hidungnya, semua ia coba rekam dalam memorinya, yang menurutnya memang terlalu sayang untuk dilewatkan.

***

Maisonette of Harlem, Kyuhyun’s flat

121st Street, Manhattan

23.02 PM

HYE-NA’S POV

 

Mataku berat sekali. Ah, aku baru ingat, efek alkohol. Aku mencoba duduk dan berpikir lagi. Satu pertanyaan dariku… dimana aku sekarang?

“Ehm… kau sudah bangun?”

Gosh! Ada pria di sampingku dengan mata yang masih terpejam. Wajahnya… Asia, tapi… siapa? Bahkan aku baru kali ini melihat wajahnya!

“Kau… siapa?” tanyaku sambil menggeser posisi dudukku, mundur dan mencoba menjaga jarak dengan si stranger ini. Ia kemudian bangun dari tidurnya dan menatap mataku. Intens.

“Matamu cokelat,” katanya singkat.

Aku kembali mundur, dan pria itu tertawa ringan.

“Dan aku menyukaimu.”

Mungkin saja otakku yang belum menemukan arwahnya atau memang pria ini tidak berarwah. Gampang sekali ia mengatakannya!

“Santai saja. Kau memang menarik, jadi wajar saja kan aku menyukaimu? Dan… aku belum sempat melakukan apapun pada tubuhmu. Jadi tak usah khawatir… Han Hye-Na ssi.”

Brengsek!!! Namaku? Dia menyebut namaku? Sadarlah, Hye-Na! Bangun dari mimpimu!

Sedetik kemudian ia sedikit menggeser tubuhnya lebih dekat ke arahku, menjulurkan tubuhnya dan… mencium bibirku.

Tenagaku menguap begitu saja. Aku hanya bisa melongo saat ia melakukannya, bahkan sampai ia kembali melepaskannya.

“Jadi… ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya santai.

Aku kembali mendapatkan fokus, menutup bibir dengan punggung tanganku dan menatapnya tajam.

“Kau siapa? Dan… darimana kau tahu namaku? Ini dimana? Dan… berani sekali kau merebut ciumanku! Ck, pria gila!” Aku membentaknya, ia masih menatapku dengan wajah datarnya yang menyebalkan.

Ia tertawa renyah, lalu mundur dan menyendarkan punggungnya ke kepala kasur.

“Aku? Cho Kyuhyun. Aku tahu namamu… hey, kau punya ID pengenal bukan? Ini adalah apartemenku, dan… seharusnya aku mendapat reward dari keberanianku.”

Aku tertawa menyeringai, pria ini benar-benar menyebalkan!

“Apa yang membuatku harus bertemu dengan pria sepertimu, Cho Kyuhyun ssi?”

“Takdir, atau… semacamnya, mungkin.”

***

KYUHYUN’S POV

 

Gadis ini…. Ck. Entahlah, aku kehabisan kata untuk mendeskripsikannya. Mungkin sedikit gila, tapi… aku benar-benar menginginkannya.

“Jadi… kau juga orang Korea?” tanyanya sambil meniup-niup secangkir vanilla latte di tangannya.

“Hmm. Aku sedang berlibur, me-refresh otakku. Tapi sialnya kau membuatnya berantakan lagi. Merepotkan sekali.”

Ia sedikit kikuk mendengar pernyataanku, lalu kembali menyeruput minumannya.

“Kau?”

Ia meletakkan cangkirnya di meja. “Aku menyelesaikan skripsi di Seoul, jadi terkadang harus kembali kesini untuk mengambil bahan riset.”

Aku mengangguk mendengar jawabannya. Dia kembali menerawang keluar jendela restoran yang tengah kami singgahi.

“Kau ada masalah? Sepertinya aku cukup ampuh untuk sekedar menghilangkan masalahmu tadi malam”

Ia tersenyum, “Dengan menciumku? Tidak sama sekali!”

Kami tertawa sejenak, dan ia memainkan cangkir dihadapannya.

“Sepulang dari sini aku harus bertunangan, dan… aku benci itu.”

“Kalau begitu kau bisa kabur bersamaku.”

Ia menghela nafas berat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Sayangnya tak bisa.”

“Lalu.. pria seperti apa yang mendapatkanmu? Lebih baik dariku?”

“Tampan? Tak lebih buruk darimu. Semua orang bilang ia baik, pengertian, dan… sempurna,” Katanya dengan mata menerawang, seolah semua pujian yang ia lontarkan hanya berupa ejekan.

“Dan kau membenci semua itu?”

“Ya, aku membencinya. Semuanya.”

***

Seoul, 1 July 2011

Han’s Home

19.23 PM

AUTHOR’S POV

 

Layaknya pertunangan kaum sosialita, pesta pertunangan Hye-Na dan Donghae pun berjalan sebagaimana mestinya. Keduanya telah memasangkan cincin di jari manis masing-masing, dengan akting sempurna dari seorang Han Hye-Na.

Pesta itu cukup meriah. Donghae dengan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, serta Hyena dengan Maxi gown berwarna blueblack membuat keduanya menjadi trending topic di kalangan elite perbisnisan. Donghae yang kini sudah mulai menjalankan bisnis ayahnya pun tak kikuk lagi jika berhadapan dengan kolega bisnis ayahnya. Mereka berdua berdampingan kemanapun mereka pergi, membuat semua yang melihat iri.

“Donghae~ya, adikmu tidak datang?” tanya seorang pria ke arahnya.

“Dia sedang di airport, mungkin dalam perjalanan kesini.”

Hye-Na yang berada disampingnya langsung menatap Donghae bingung.

“Kau punya adik?”

“Hmm. Putra ayahku dengan istrinya yang sudah meninggal. Usianya sama denganmu, sepertinya.”

“Ah… keurae?”

“Itu dia.”

Hye-Na melihat ke arah yang ditunjuk Donghae. Seorang pria dengan setelan jas yang sama dengan Donghae datang menghampiri mereka. Adiknya? Itu… Cho Kyuhyun! Ck. Dunia benar-benar gila!

Kyuhyun berpelukan sejenak dengan Donghae, lalu tersenyum penuh seringai ketika melihat yang ditunangkan dengan kakaknya adalah seorang Han Hye-Na. Gadis yang seminggu lalu bercerita soal hyung-nya ini.

“Jadi… ini tunanganmu, hyung? Yeppeuda,” kata kyuhyun santai.

“Hmm. Hye-Na, ini Kyuhyun, ia mengambil marga ibunya, jadi namanya Cho Kyuhyun.”

Hye-Na yang masih syok dengan apa yang baru dilihatnya hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah nyawanya ditarik paksa begitu saja.

“Hye-Na~ya,” panggil Donghae kettika ia tak kunjung mendapat respons, dan Hye-Na akhirnya tersadar kembali.

“Eh… ne… Han Hye-Na imnida.”

***

KYUHYUN’S POV

 

Dunia benar-benar sempit, bukan? Ia memang takdirku, dan itu tak bisa diganggu gugat.

Hye-Na tiba-tiba menarikku dari kerumunan setelah Donghae hyung sibuk dengan rekan bisnisnya dan menghempaskan tanganku ketika sudah sampai di kamarnya.

“Kau merencanakannya?” tanyanya tajam.

“Tak ada yang kurencanakan, selain secepatnya merebutmu dari Donghae hyung, Hye-Na ssi. Dan anggap saja peristiwa di Manhattan sebagai sebuah kecelakaan. Aku benar-benar tak tahu kalau kau yang ditunangkan dengannya.”

Ia mengusap wajahnya, nampaknya ia takut kalau aku akan membocorkan opininya seminggu yang lalu. Aku mendekatinya, merunduk agar bibirku sejajar dengan telinganya. Dia harus mendengar baik-baik perkataanku ini.

“Donghae hyung memang lebih tampan dariku, lebih baik, lebih pengertian, dan lebih sempurna. Tapi kupastikan hanya aku yang akan memenangkan hatimu, jadi bersabarlah sedikit lagi, Hye-Na~ya.”

TBC

 

Credit: http://kafkanisaoctaryoto.wordpress.com/