KYUHYUN’S POV

 

            Aku menatap layar TV di hadapanku yang sedang menayangkan film Korea dengan serius. Adegan dimana si pria dan si wanita akhirnya menikah, memperlihatkan setting gereja yang mewah dan indah, penuh dengan keluarga dan teman-teman mereka yang datang untuk memberi selamat. Orang tua mereka yang menangis terharu saat anaknya mengucapkan sumpah di depan pendeta dan pasangan pengantin yang saling memandang dan saling tersenyum satu sama lain.

            Aku melirik Hye-Na yang duduk di sampingku, mendadak penasaran dengan apa yang dia pikirkan. Walaupun gadis ini terlalu cuek dan tidak suka dengan hal-hal yang berbau romantis, tapi tetap saja dia adalah seorang perempuan. Apa dia menginginkan pernikahan yang agung seperti itu? Dengan bahagia memperkenalkan suaminya ke depan publik tanpa takut dengan kemungkinan dia akan diserang oleh sekelompok fans yang mengamuk?

            Aku mendesah dan menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi. Aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Sesuatu. Bukankah aku sudah berjanji ingin membahagiakannya?

***

 

HYE-NA’S POV

 

            “Kau kenapa?” tanya Hyun-Mi sambil menyenggol bahuku pelan. Aku menggeleng, tetap berkonsentrasi menggigiti sedotanku. Mataku memandang setiap mahasiswa yang berlalu lalang di depan kantin, tanpa benar-benar menatap mereka karena pikiranku sedang melayang kemana-mana.

            “Karena Kyuhyun oppa? Dia kenapa lagi?”

            Aku menarik nafas dan menghirup lemon tea-ku, mencecap rasa asam yang tertinggal di lidah setelah cairan itu kutelan.

            “Kapan kau akan menikah, Hyun-Mi~a?”

            Dia mengerjap dan menatapku bingung.

            “Mwo? Wae?”

            “Tidak. Hanya saja aku ingin kau berjanji untuk membiarkanku mengurus pernikahanmu. Menemanimu membeli gaun pengantin dan tetek bengek lainnya. Aku ingin tahu bagaimana rasanya pernikahan yang sebenarnya karena aku tidak tahu seperti apa. Saat aku menikah, semuanya sudah dipersiapkan. Aku hanya tinggal datang saja, didandani, memakai gaun. Aku memang tidak terlalu suka hal-hal seperti itu, tapi aku juga ingin merasakan menjadi seorang pengantin. Memilih gaun pengantinku sendiri, menanti bagaimana reaksi suamiku saat aku keluar dari ruang ganti, mencari cincin pernikahan berdua. Seperti yang aku tonton di film-film. Sepertinya menyenangkan,” ujarku dengan tatapan menerawang.

            “Ah, ternyata kau normal juga!” seru Hyun-Mi syok.

            “Kau pikir jenis kelaminku apa, hah?” kataku sinis.

            “Apa kau tidak bahagia menikah dengan Kyuhyun oppa? Kau mau mencari pria lain dan menikah lagi?”

            “Aku tidak akan menukarnya dengan siapapun,” tandasku.

            “Lalu kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

            “Aku hanya penasaran saja. Bagaimana rasanya.”

            “Ya sudah, minta menikah lagi saja dengan Kyuhyun oppa,” jawabnya enteng.

            “Sia-sia saja berbicara denganmu,” ujarku kesal sambil mengambil tasku dan bangkit berdiri. Lebih baik aku pulang saja daripada membuat stress diri sendiri karena berbicara dengannya.

***

            Sudah satu minggu berlalu dan entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Kyuhyun akhir-akhir ini. Dia jarang pulang ke rumah, dan sekalipun pulang dia selalu pulang lewat tengah malam. Aku sudah bertanya, tapi dia selalu saja menjawab dengan nada dingin. Kalau aku bertanya pada member-member SuJu yang lain, mereka menyuruhku santai saja karena Kyu tidur di dorm dan ada sesuatu yang harus dikerjakannya untuk mempersiapkan album kelima. Tapi kenapa akhir-akhir ini dia betah sekali menginap di dorm? Tidak bisakah dia tidur di apartemen saja? Apa aku sudah melakukan suatu kesalahan? Dia marah padaku? Perasaan aku tidak melakukan apapun yang berkemungkinan membuatnya emosi. Atau….

            “Oppa, apa Kyuhyun menyukai seseorang?”

            Eunhyuk oppa melongo mendengar pertanyaanku. Aku sengaja bertanya padanya karena akhir-akhir ini mereka berdua dekat sekali. KyuHyuk. KyuMin dan EunHae bahkan nyaris tidak pernah terdengar lagi.

            “Menyukai maksudmu?”

            “Apa dia tertarik pada seorang gadis? Apa dia pernah menyinggung sesuatu tentang itu? Victoria onnie mungkin? Sooyoung onnie? Seohyun? Atau ada gadis lain?”

            “Yak yak yak, apa yang sedang kau bicarakan, hah? Kau ini kenapa? Apa kau punya bukti dia selingkuh? Kau ini ada-ada saja!”

            “Ani. Hanya saja… kau tahu kan akhir-akhir ini dia selalu menginap di dorm? Aku bahkan jarang melihatnya. Apa terjadi sesuatu? Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Karena aku rasa aku tidak pernah berbuat salah. Oppa, apa… dia sudah bosan padaku dan ingin meminta cerai?”

            PLETAK!!!

            “Yak, appo! Berani-beraninya kau memukulku, hah!” teriakku marah sambil melotot ke arahnya. Dia memegangi koran yang digunakannya untuk memukul kepalaku tadi dengan cengiran lebar di wajahnya.

            “Suamimu yang mengajariku cara memukul dengan baik dan benar.”

            “Cih, dan kau mempraktekkannya dengan sangat baik,” ujarku sinis.

            “Ayolah! Aku hanya ingin otakmu itu bergeser ke tempat yang benar lagi. Selingkuh apa, hah? Cerai? Cih, dia pasti akan bunuh diri kalau kalian berdua sampai bercerai.”

            “Lalu….”

            “Nah, Cho Hye-Na~ya, lebih baik kau dengarkan aku baik-baik. Suamimu itu, Cho Kyuhyun, tidak pernah tertarik pada gadis manapun selain kau. Baik dulu, sekarang, ataupun nanti. Jadi jangan membuat stress dirimu sendiri dengan hal konyol seperti itu. Apa yang kau dengar? KyuToria? KyuYoung? SeoKyu? Cih, gosip murahan buatan fans seperti itu kau pikirkan? Tidak kukira kau begitu bodohnya percaya hal-hal macam itu.”

            “Tapi….”

            “Hahaha. Ternyata kau bisa cemburu juga, ya? Ayolah, mungkin yang paling kau takutkan adalah KyuToria. Mereka berdua hanya bersahabat, sama dengan hubungan Kyu dengan Changmin. Victoria itu menyukai Nichkhun, oke? Dan mengenai keanehan Kyu… aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Bisa-bisa dia menggantungku kalau sampai membocorkan rahasianya padamu. Kau tidak mau aku mati mengenaskan, kan?”

            “Kau pikir aku peduli dengan nyawamu?” tanyaku dingin. Aku masih tidak menerima dengan pukulannya di kepalaku tadi. Enak saja dia!

            “Aih, Hye-Na~ya, bukankah kau sangat mengidolakanku?” rajuknya.

            “Hyuk-Jae~ya, tangan Kyu bahkan jauh lebih menarik daripada kau!” ujarku dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.

            “Aish, jinjja! Bagaimana mungkin aku bisa memiliki adik ipar sepertimu, hah? Dosa apa aku? Aigoo!” ringisnya sambil mengacak-acak rambutnya gusar.

            “Cepat beritahu aku apa yang sedang dilakukan Kyuhyun!”

            “Shireo! Nanti kau juga tahu. Ini kejutan.”

            “Apanya yang kejutan?”

            “Woo, Hye-Na~ya, kau disini? Mana Kyuhyun?” tanya Leeteuk oppa yang baru datang. “Hyukkie~a, kita harus berangkat siaran sekarang.”

            “Mana aku tahu setan itu dimana!” jawabku ketus. Hyukkie oppa menghilang di balik dapur entah melakukan apa.

            “Aaaa, kau marah karena dia jarang pulang? Sudahlah, tidak usah curiga, dia tidak akan macam-macam. Kau tenang saja.”

            “Kenapa semua orang seolah menyembunyikan sesuatu dariku?”

            “Bukan kami. Tanya saja pada suamimu itu.”

            “CHO HYE-NA!!! APA KAU LAGI YANG MENGHABISKAN SUSU STROBERIKU, HAH?”

            “Aku pulang dulu!” pamitku cepat pada Leeteuk oppa dan langsung berlari keluar dari dorm dengan tergesa-gesa. Asal tahu saja, monyet yang mengamuk karena aku mencuri susu stroberinya lebih mengerikan daripada raja hutan yang kelaparan sekalipun.

***

            Aku merasakan ranjang yang sedang kutiduri bergerak karena ada seseorang yang tiba-tiba naik ke atasnya. Aku membuka mataku dan mendapati wajah Kyuhyun berada tepat di hadapanku. Wajahnya tampak sedikit lelah, walaupun pipinya masih terlihat berisi seperti beberapa minggu yang lalu. Matanya bergerak menelusuri wajahku seolah sedang memberikan penilaian.

            “Hyung bilang kau kesal padaku,” ujarnya dengan suara rendah.

            “Jadi karena itu kau pulang dan menemuiku? Cih, lebih baik kau pergi saja sekarang. Kamarmu di depan. Atau kau bisa pulang ke dorm, akhir-akhir ini dormmu terasa jauh lebih nyaman, kan?”

            “Jadi sudah ada larangan bagi seorang suami untuk tidur bersama istrinya?”

            “Jangan bicara yang aneh-aneh.”

            “Malam ini aku tidur disini. Terserah kau suka atau tidak.”

            “Kalau begitu biar aku yang pindah,” ujarku keras kepala sambil bangkit dari ranjang. Sedetik kemudian aku merasakan tarikan keras di tanganku sehingga aku hilang keseimbangan dan terjatuh lagi ke atas tempat tidur.

            “Kau tidur di sampingku. Tidak ada bantahan,” ucapnya penuh penekanan.

            Aku mengernyit, tahu bahwa sia-sia saja jika aku bersikeras melawannya. Aku menghembuskan nafas kesal dan berbalik memunggunginya.

            “Terserah kau saja. Aku mau tidur!”

            Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku, mengacuhkannya sejauh yang aku bisa.

            “Bisakah kau menghadap ke arahku? Aku belum puas melihat wajahmu,” ujarnya dengan nada lemah, nada yang belum pernah sekalipun digunakannya untuk bicara denganku. Seolah tersihir aku berbalik dan membiarkan mataku menjelajahi lekuk wajahnya.

            “Mianhae. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Banyak hal yang harus aku lakukan.”

            “Member lain tidak punya terlalu banyak kegiatan.”

            “Ini bukan kegiatan Super Junior. Ini kegiatanku pribadi. Aku tidak bisa memberitahumu. Dan… hentikan pikiran bodohmu! Aku tidak pernah selingkuh dan tidak punya rencana apapun untuk melakukannya.”

            Aku mengerucutkan bibirku kesal, tapi tidak berkata apa-apa untuk membalasnya. Dia bergeser mendekat dan sedikit menarik tubuhku merapat, menempelkan bibir dan hidungnya di dahiku, menghirup nafas disana.

            “Ternyata aku tidak sekuat yang aku pikirkan.”

            “Apa?” tanyaku bingung.

            “Tidak melihatmu selama beberapa hari… aku baru tahu bahwa ternyata merindukanmu menghabiskan begitu banyak energi.”

***

            “Cih, baru tiga hari yang lalu dia bilang bahwa merindukanku menghabiskan begitu banyak energi tapi sekarang dia malah melakukannya lagi!” gerutuku sambil menghujamkan garpu yang sedang kupegang ke atas mangkuk mie-ku dengan tenaga penuh, menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.

            Aku tahu semua mahasiswa di kantin sedang memperhatikanku sekarang, tapi aku mengacuhkan mereka begitu saja. Cih, memangnya aku peduli dengan apa yang mereka pikirkan?

            “Yak, Hye-Na~ya, bisakah kau berhenti melakukannya? Aku tidak mau terkenal karena menjadi sahabat yeoja gila sepertimu!” ujar Hyun-Mi, berusaha menghentikan gerakan tanganku.

            “Apa menurutmu jika aku menancapkan garpu ini ke kepala si bodoh itu dia akan mati?”

            “Kalau sampai kau melakukannya, aku yang akan mencabut nyawamu,” jawabnya dengan nada serius.

            “Haaah!!!” sungutku sambil melemparkan garpu itu ke dalam mangkuk, mengeluarkan bunyi berdentang yang cukup keras.

            “Kyuhyun oppa kenapa lagi?”

            “Pasti semua gadis ingin berada di posisiku sekarang. Menjadi istri seorang Cho Kyuhyun. Berpikir bahwa apapun yang terjadi, mereka tidak akan menyerah dan tetap bertahan di tempatnya. Kau tahu? Rasanya ingin melepaskan tapi juga tidak mau melepaskan sama sekali.”

            Hyun-Mi mengerutkan keningnya dengan raut wajah kebingungan.

            “Aku tidak mengerti.”

            “Aku juga tidak menyuruhmu mengerti! Sudahlah, aku mau pulang. Kampus membosankan!”

            Aku mengemasi barang-barangku dan berlalu pergi dari kantin. Ujian sudah selesai. Tinggal menunggu nilai keluar saja. Karena tidak ada kerjaan di rumah makanya aku menghabiskan waktu disini. Tapi belum juga jam 10 aku sudah merasa bosan.

            Aku sedang melewati lapangan parkir yang sepi dengan langkah gontai saat aku mendengar suara yang sangat familiar memanggilku.

            “Nyonya Cho!”

            Aku menoleh dan ternganga saat melihat Kyuhyun yang sedang bersandar di kap mobilnya dengan kaki menyilang dan tangan bersidekap di depan dada. Pagi ini dia mengenakan baju kaus lengan panjang berwarna hitam yang dilipat sampai siku dan celana panjang berwarna putih, membuatnya nyaris terlihat seperti artis yang sedang syuting drama Korea. Satu-satunya alat penyamaran yang dipakainya hanya kacamata hitam dan itu bahkan tidak berguna sedikitpun untuk menyembunyikan identitasnya.

            “Yak, kau mau diserbu penggemarmu, hah? Sedang apa kau disini?” bentakku sambil mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.

            “Aish, kau ini panik sekali. Aku bahkan tidak melihat satu makhluk pun dari tadi,” ujarnya hiperbolis.

            Aku masuk ke kursi penumpang dan menatapnya penuh tanda tanya.

            “Ada apa menjemputku? Darimana kau tahu aku mau pulang?”

            Dia mengangkat bahu.

            “Aku tadinya mau meneleponmu saat sampai disini, tapi ternyata kau sendiri sudah mau pulang.”

            “Apa ada urusan penting sampai harus menjemputku segala, Tuan Cho?”

            “Sangat penting. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”

            “Haaaah. Setelah menghilang 3 hari, sekarang kau mau menculikku begitu?”

            “Jadi kalau suami membawa istrinya pergi itu disebut menculik?”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya karena mataku sedikit terpaku melihat lingkaran hitam di bawah matanya dan wajahnya yang sedikit pucat karena kurang istirahat.

            “Kau tidak cukup tidur,” komentarku. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

            “Mmm hmm. Banyak yang harus kupersiapkan. Tapi aku rasa, aku akan mendapat balasan yang setimpal untuk ini semua,” ujarnya penuh rahasia.

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aku membelokkan mobilku masuk ke dalam bandara dan mencari tempat parkir. Seung-Hwan hyung bilang kami akan bertemu di pintu masuk agar aku bisa menyerahkan kunci mobilku padanya.

            “Kau mau menjemput seseorang? Siapa yang datang?” tanya Hye-Na ingin tahu.

            Aku hanya diam dan mematikan mesin mobil. Badanku nyaris remuk karena kelelahan, tapi semangatku malah meluap-luap. Apalagi beberapa hari ke depan aku bisa memuaskan diri dengan menatap wajahnya. Itu sumber energi utamaku.

            Beberapa minggu terakhir aku memang sibuk menyiapkan liburan kejutan ini. Melakukan reservasi hotel, gereja, dan berbagai keperluan lainnya. Yang paling membuatku sibuk adalah rekaman. Aku harus menyelesaikan rekaman album kelima sebelum berangkat, sekaligus menyelesaikan rekaman lagu ciptaanku untuk hadiah ulang tahun gadis bodoh ini. Untung saja semuanya bisa selesai tepat waktu.

            Aku menurunkan koper dari bagasi belakang diikuti dengan tatapan penasaran Hye-Na.

            “Kau mau pergi keluar negeri? Lalu kenapa mengajakku kesini? Kau kan tahu aku tidak bisa menyetir, bagaimana caranya aku bisa membawa mobilmu pulang?” repetnya.

            “Diamlah, Cho Hye-Na. Dan bawa kopermu,” perintahku.

            “Koperku? Yak, kau mau membawaku kemana, hah?”

            Aku berjalan mendahuluinya sambil memastikan bahwa penyamaranku tidak ketahuan. Aku menurunkan topiku lebih rendah dan berjalan dengan kepala menunduk.

            “Kyuhyun~a, disini!” Aku menoleh saat mendengar suara Seung-Hwan hyung yang nyaris terdengar seperti bisikan.

            “Annyeong, Hye-Na~ya,” sapanya sambil tersenyum. Senyumnya langsung memudar saat melihat tatapan Hye-Na yang sangat tidak bersahabat.

            “Kenapa istrimu?” bisiknya di telingaku.

            “Biar saja. Aku belum memberitahunya kami akan pergi kemana, makanya dia begitu.”

            “Kau menculiknya?”

            “Enak saja!” dengusku. Kenapa isi otaknya bisa sama dengan Hye-Na? Menyebalkan!

            “Ini kunci mobilku. Dan usahakan jangan sampai kau mengganggu liburanku dengan hal yang tidak penting.”

            Dia menyentil dahiku dengan jarinya. “Sopan sedikit pada hyungmu!”

            “Aku hanya punya nuna, sejak kapan aku punya hyung?” ejekku sambil menarik tangan Hye-Na ke dalam, kabur dari amukannya. Bisa-bisa penyamaranku ketahuan kalau sampai dia mengamuk.

            Aku mengeluarkan selembar kertas dari saku celanaku dan mengulurkannya pada Hye-Na.

            “Ini tiketmu.”

            Dia mengambilnya dan menelusuri tiket itu dengan matanya, mencari nama tempat tujuan kami.

            “Paris?” desisnya tak percaya. “Kau bercanda!”

            “Tidak. Matamu belum buta, kan?”

            “Tapi… Kyu, aku tidak membawa apa-apa.”

            “Semuanya sudah tersedia dalam kopermu. Nuna yang menyiapkan semuanya. Jadi kau tenang saja.”

            “Ah-Ra onnie? Dia membiarkan kita pergi berdua?”

            Aku tertawa dalam hati. Hye-Na pasti tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi pada nunaku itu sampai dia membiarkan kami pergi berdua, padahal sebelumnya dia sempat menentang keras jika aku berduaan saja dengan Hye-Na, apalagi sampai menyentuhnya. Aku rasa gadis di sampingku ini akan syok kalau sampai dia tahu.

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku menepuk-nepuk pipiku untuk mengembalikan kesadaranku setelah tertidur tadi. 11 jam lebih di atas pesawat membuat pantatku sakit walaupun sempat transit beberapa kali. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.

            “Kau lelah?” tanya Kyuhyun sambil memiringkan kepalanya, mencoba melihat wajahku lebih jelas.

            “Tidak juga.”

            “Bagus. Banyak hal yang harus kita lakukan. Kita cuma punya waktu satu hari disini.”

            “Satu hari?” tanyaku bingung. “Memangnya kau mau membawaku kemana lagi?”

            “Rahasia.”

            Aku mengerucutkan bibirku dan menatap jam di pergelangan tanganku. Jam itu masih memakai setting waktu Korea dan menunjukkan pukul setengah 11 malam. Berarti sekarang jam setengah 4 sore di Paris. Aneh juga, mataku masih terbuka lebar sekarang. Mungkin karena aku sudah puas tidur di dalam pesawat.

            Sudah ada mobil yang menunggu kami di luar bandara. Aku rasa Kyuhyun sudah menyiapkan segala hal sampai ke detail terkecil. Apa ini yang membuatnya tidak pulang-pulang? Kurasa tidak juga.

            Aku menikmati rasa penasaran yang memenuhi otakku. Menyenangkan juga menunggu kejutan apa lagi yang sudah dipersiapkannya.

            Aku melayangkan pandanganku ke luar jendela mobil. Pemandangan kota Paris yang mengagumkan menyita tatapanku. Aku bisa melihat menara Eiffel berdiri megah di kejauhan, tempat yang selama ini hanya ada dalam khayalanku.

            Mobil berhenti di depan sebuah toko… gaun pengantin?

            “Kemarikan cincinmu,” ujar Kyuhyun membuyarkan lamunanku.

            “Hah?”

            “Cincinmu, Na~ya,” katanya sambil menunjuk cincin kawin kami yang melingkar di jari manisku. Aku melepaskan cincin itu dan menyerahkan benda itu padanya.

            “Untuk apa?”

            “Berhentilah menanyaiku. Kau akan tahu sendiri nanti. Turun sana! Masuk ke dalam. Nanti akan ada yang melayanimu. Oh iya, kau tenang saja, aku akan menyuruh supir menjemputmu nanti.”

            Dia mendorong tubuhku keluar mobil dan melambai sambil menunjukkan smirk-nya yang menyebalkan. Aish, sial! Dia pikir aku bisa bahasa Perancis apa? Bagaimana kalau aku malah seperti orang tolol di dalam sana? Lagipula apa maksudnya menurunkanku di depan toko gaun pengantin?

            Aku melangkah ragu memasuki toko besar itu. Beberapa orang pelayan menyambutku ramah, membuatku merasa sedikit santai.

            “Are you Mrs. Cho?” tanya salah seorang dari mereka. Aku mengangguk dan dia menunjuk ruangan di sebelah kiri kami.

            “You will find someone there. She will help you.

            Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dan berjalan masuk ke ruangan itu. Untung saja dia memakai bahasa Inggris. Kudengar orang Perancis sangat bangga dengan bahasa mereka dan menganggap bahasa Inggris itu bahasa rendahan. Aku sempat mempelajari hal itu dalam salah satu mata kuliahku.

            “Onnie?” seruku syok saat mendapati Ah-Ra onnie sedang duduk di atas salah satu kursi di ruangan itu. Seorang wanita lain duduk di hadapannya, lagi-lagi dengan seyum ramah tersungging di bibir. Apa orang Perancis memang seramah ini?

            “Sedang apa onnie disini?”

            “Dalam rangka membantumu. Ayo duduk sini. Kau harus memilih sendiri gaun pengantin yang kau inginkan.”

            “Gaun pengantin?”

            “Ne. Apa Kyuhyun tidak memberitahumu? Dia ingin menikah denganmu lagi. Kali ini segalanya harus sesuai dengan keinginanmu.”

            “Menikah lagi?”

            “Aish, sudahlah. Cepat kesini. Dan pilih gaun mana yang paling kau sukai.”

            Aku duduk di samping Ah-Ra onnie dengan pikiran linglung. Dia mau menikah lagi denganku? Dan melakukan semuanya sesuai keinginanku? Darimana dia tahu bahwa aku sangat ingin menikah di Paris?

            “Apa hal yang paling kau inginkan di dunia ini?”

            Aku memalingkan wajah dari layar komputer saat Kyuhyun menanyakan hal itu. Ada apa sampai dia menanyakan hal aneh itu padaku?

            “Aku? Aku mau menikah muda dan pesta pernikahanku diadakan di Paris.”

            Dia mengeluarkan suara seperti orang muntah, membuatku mendelik dan melemparkan stick game yang sedang kupegang ke arahnya.

            “Astaga, Na~ya, umurmu baru 11 tahun dan kau sudah memikirkan pernikahan? Kau pikir ada namja yang mau menikahi yeoja jadi-jadian sepertimu, hah? Di Paris lagi. Potong tanganku kalau sampai itu terjadi!”

 

            Aku tersenyum saat mengingat percakapan tidak bermutu kami waktu itu. Potong tangan, eh? Sayang sekali aku tidak bisa melaksanakannya. Tangannya adalah hal yang sangat aku sukai. Mana mungkin aku melukainya.

            “Ada gaun yang menarik perhatianmu?” tanya Ah-Ra onnie, membuatku kembali ke dunia nyata.

            Aku memperhatikan buku yang penuh berisi foto-foto gaun pengantin di tanganku. Semuanya terkesan terlalu mewah dan merepotkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika gaun-gaun itu sudah menempel di tubuhku nanti. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.

            “Tidak ada yang kau sukai?”

            Aku menggaruk kepalaku dan menggeleng.

            “Just wait for a minute, I will take the book. It’s our new wedding gown. Maybe you will like it,” ujar wanita di depanku sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia menghilang di balik pintu dan kembali satu menit kemudian dengan sebuah buku di tangan.

            “If you like it, I will call my assistant and this gown will arrive here in fifteen minutes.

            Aku mengambil buku itu dan menatap gaun yang dimaksud wanita itu. Gaun itu berwarna putih, V-neck, dipenuhi hiasan pita dan aksen bunga. Sederhana, tapi entah kenapa aku menyukainya. Gaun ini tidak terlalu berlebihan.

            “Yang ini bagus. Kau suka?”

            Untuk kali ini aku mengangguk, membuat Ah-Ra onnie tersenyum senang.

            “Kyu juga memakai jas putih. Pasti kalian akan serasi sekali.”

            Mendadak aku teringat konser SuJu waktu itu. Ah, aku tidak bisa mengingat dengan jelas acara apa karena aku sudah mendatangi puluhan konser mereka. Kalau aku tidak salah itu saat Gayo Daejun 2009. Yang pasti saat itu mereka menyanyikan It’s You dengan pakaian formal. Semuanya memakai jas putih dan… namja itu, terlihat paling berkilau di antara semuanya. Aku nyaris tidak bisa mengatupkan mulutku selama menonton penampilan mereka. Aku harap dia tidak terlihat semenyilaukan itu hari ini, karena aku takut dengan kemungkinan bahwa aku akan mempermalukan diri sendiri hanya karena terlalu terpesona padanya.

            “Oke, sekarang saatnya mendandanimu!!!”

            “DANDAN?” jeritku dengan nada suara yang naik tiga oktaf.

            Astaga, neraka duniaku akan dimulai sebentar lagi! Awas kau, Cho Kyuhyun!!!

***

            Aku menatap bayanganku di cermin. Penata rias itu mengikat rambutku sehingga membentuk sanggul longgar di belakang kepala, dengan beberapa helai anak rambut yang menjuntai di wajah. Ada hiasan untaian bunga-bunga kecil di bagian kanan kepalaku dan aku cukup heran dengan diri sendiri karena aku menyukainya. Satu-satunya yang bisa kuperjuangkan hanyalah melarang Ah-Ra onnie dan penata rias itu mengoleskan lipstick di bibirku. Mereka setuju karena dengan penuh penekanan aku berkata bahwa aku akan menjadi bisu mendadak jika lem perekat berwarna itu menempel di bibirku.

            “Kau sudah siap? Mobilnya sudah menunggu di luar,” ujar Ah-Ra onnie, membuatku tersadar dari lamunanku. Dia merangkul bahuku dan membantuku berjalan. Ah, tidak usah bertanya kenapa. Tentu saja karena aku tidak bisa berjalan dengan benar karena hak sepatu 10 senti ini!

            “Aku akan memotret dan mengabadikan tampang terpesona Kyu saat melihatmu untuk pertama kalinya nanti. Tenang saja, aku akan membaginya denganmu,” kata Ah-Ra onnie dengan semangat membara di wajahnya.

            “Itu tidak mungkin, onnie.”

            “Masa kau masih tidak tahu bahwa dia sangat tergila-gila padamu? Kadang-kadang bahkan sampai tidak bisa mengatupkan mulutnya.”

            “Hah, yang benar saja!” gumamku sarkastis.

            Ah-Ra onnie membukakan pintu mobil untukku. Aku menunduk masuk tapi langsung tersentak kaget saat melihat siapa yang sedang duduk di dalamnya. Hampir saja kepalaku membentur atap mobil.

            “APPA?!”

***

            “Kyuhyun meminta appa secara khusus untuk meluangkan waktu datang kesini. Lagipula mana mungkin appa tidak datang ke pernikahan anak gadis appa satu-satunya? Siapa yang akan menggandengmu menuju altar kalau bukan appa, hah?”

            Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Sudah lama aku tidak bisa berdekatan dengannya seperti sekarang. Aku sangat merindukan baunya. Bau rumah.

            “Hati-hati sayang, nanti hiasan rambutmu rusak.”

            Aku menggeleng dan tetap bertahan dengan posisiku. Aku akan memanfaatkan waktu seperti ini sebaik-baiknya. Hal yang sangat sulit untuk didapatkan.

            “Suamimu itu… harus appa akui, dia benar-benar mengagumkan. Pria yang diinginkan semua orang tua untuk menjadi menantunya. Kau berada di tangan yang tepat, Hye-Na~ya. Appa tidak akan pernah lebih lega lagi dari pada saat ini. Tahu bahwa appa sudah menyerahkan anak appa satu-satunya ke pria yang tepat. Kau tahu betapa keras usaha yang dia lakukan untuk ini semua? Menyewa gereja yang kau sukai, mencari pendeta terbaik, menelepon appa dan memohon agar appa meluangkan sedikit waktu untuk datang kesini. Untuk seorang artis, sangat sulit mencari waktu luang untuk melakukan ini semua, tapi dia berhasil. Dan semua ini hanya untuk membuatmu bahagia. Hye-Na~ya, appa tidak akan pernah memaafkanmu jika kau sampai menyia-nyiakan pria seperti dia. Arasseo?”

            “Ne, appa. Aku tidak akan pernah melepaskannya untuk alasan apapun.”

***

            Aku turun dari atas mobil dengan kaki yang benar-benar gemetaran, nyaris tidak mampu menopang tubuhku dengan benar. Astaga, perasaan saat pertama kali menikah dengannya dulu aku tidak sampai seperti ini.

            Aku mengusapkan tanganku yang berkeringat ke gaunku. Haaaah, benar-benar tidak bisa!!! Aku tidak mau masuk ke dalam sana dan mempermalukan diriku sendiri.

            Namja itu ternyata menyewa gereja yang kuidam-idamkan menjadi gereja pernikahanku selama ini, Eglise Americaine, yang terletak di depan Sungai Seine. Dan menilik dari semua kejutan yang diberikannya padaku seharian ini, pasti pendetanya adalah Charlie Brown, pendeta terbaik disini. Aigoo, rasanya aku mau pingsan saja!

            Appaku berdiri di sampingku sambil merapikan jasnya dan menatapku sambil tersenyum.

            “Ini bungamu.”

            Aku mengambil buket bunga itu dari tangannya sambil meringis.

            “Appa, aku gugup sekali,” rengekku.

            Dia menepuk-nepuk pundakku, memberi senyumnya yang menenangkan. Tapi untuk kali ini, hal itu tidak berhasil sama sekali.

            “Gandeng tangan appa, berjalan dengan tegak, dan usahakan agar kau tidak terjatuh.”

            Aku melingkarkan tanganku di lengannya dengan tampang cemberut. Bagaimana mungkin aku bisa memastikan diriku tidak akan terjatuh saat sedang mengenakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi sialan ini?

            Kami melangkah memasuki gereja, membuatku semakin mengeratkan rangkulanku di lengannya, berusaha keras agar aku tidak terserimpet gaunku sendiri atau hal bodoh lain yang mungkin saja aku lakukan saking gugupnya. Hal itu menjadi semakin sulit saat aku melihat Kyuhyun untuk pertama kalinya dalam balutan jas putihnya yang seperti perkiraanku sebelumnya, benar-benar membutakan. Sama tampannya dengan saat itu.

            Aku menelan ludahku dan menjaga agar mulutku tidak menganga karena terpesona melihatnya. Dan aku tahu dia melakukan hal yang sama, karena beberapa detik matanya sedikit melebar melihatku, walaupun dia berhasil menjaga ekspresinya sesaat kemudian dan memasang tampang dinginnya lagi. Dan itu hanya membuatku kelimpungan mengendalikan diri agar aku tidak berlari dan menghambur ke arahanya.

            Di deretan bangku paling depan aku melihat Ah-Ra onnie duduk bersama ibuku, beserta ibu dan ayah mertuaku. Astaga, sedang apa mereka semua disini? Dan… dan… oke, aku rasa Cho Kyuhyun sialan itu berniat membuatku terkena serangan jantung dengan semua kejutannya.

            Aku nyaris tidak menggunakan paru-paruku untuk menarik nafas saat akhirnya aku sampai di hadapannya. Ayahku memberikan tanganku, membiarkan namja itu menggenggamnya dengan telapak tangannya yang terasa dingin. Sepertinya dia sama gugupnya denganku.

            Kami berdua berbalik menghadap pendeta yang berdiri sambil tersenyum ramah. Dia berdeham sesaat dan mulai membacakan kalimat-kalimat yang biasa kau dengar di film-film. Tapi keningku mulai berkerut saat pendeta itu meminta kami membacakan janji pernikahan, bukannya menanyakan hal-hal yang standar yang pada akhirnya akan kami jawab dengan kata, “I do”. Aku bahkan baru menyadari bahwa pendeta itu menggunakan bahasa Inggris dan Kyuhyun terlihat tenang-tenang saja dengan itu semua.

            Aku memang menginginkan pernikahan tradisional dimana kedua pengantin harus membacakan janji pernikahan sendiri, bukannya menunggu pendeta mengucapkannya dan hanya menjawab “Saya bersedia”. Itu terasa tidak sakral di mataku. Terlalu mudah untuk mengikatkan diri seumur hidup dengan satu orang hanya dengan mengucapkan dua kata itu saja. Tapi… janji pernikahan itu kan dalam bahasa….

            “I, Cho Kyuhyun, take you, Han Hye-Na, to be my wife, my constant friend, my faithful partner, my love, and the mother of my children from this day forward. In the presence of God, our family and friends, I offer you my solemn vow to be your faithful partner in sickness and in health, in good times and in bad, and in joy as well as in sorrow. I will love what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the woman you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love you unconditionally, to support you in your goals, to honor and respect you, to laugh with you and cry with you, to cherish you, and to stay with you for as long as we both shall live.”

            (Aku, Cho Kyuhyun, menerimamu, Han Hye-Na, menjadi istriku, sahabat tetapku, pasanganku yang setia, kekasihku, dan ibu dari anak-anakku sejak hari ini dan seterusnya. Dalam kehadiran Tuhan, keluarga, dan sahabat kita, aku menawarkan perjanjian ini secara sungguh-sungguh, menjadi pasangan setiamu dalam sakit ataupun sehat, dalam susah ataupun senang, dan dalam kebahagiaan ataupun penderitaan. Aku akan mencintai apa yang sudah aku ketahui dan mempercayai apa yang belum aku ketahui tentangmu. Aku dengan tidak sabar mengantisipasi kesempatan untuk menua bersamamu, mengetahui akan menjadi wanita seperti apa kau nantinya, dan jatuh cinta sedikit lebih banyak daripada yang kulakukan sebelumnya setiap harinya. Aku berjanji akan mencintaimu tanpa syarat, mendukungmu untuk mencapai keinginanmu, menghormati dan menjagamu, untuk tertawa dan menangis bersamamu, untuk menghargaimu, dan untuk bertahan bersamamu seumur hidupku.)

            Suaranya terdengar mantap tanpa keraguan sedikitpun. Dia bahkan seperti tidak memiliki masalah saat mengucapkan seuntaian kalimat panjang dalam bahasa Inggris. Aku tahu bahwa selama ini dia tidak memiliki kesulitan dengan cara pengucapan dalam bahasa asing, tapi aku masih tidak menyangka dia bisa membacakan janji pernikahan itu dengan begitu lancar, tanpa tersedat sedikitpun. Jadi inikah yang dilakukannya diam-diam di belakangku selama beberapa minggu terakhir?

            Mendadak aku merasa wajahku memerah tidak karuan, karena dia mengucapkannya sambil menunduk menatapku. Memang seperti itu peraturannya, tapi aku rasa itu hanya membuatku menghadapi kematian lebih cepat daripada yang seharusnya. Tatapannya mengganggu sistem kerja tubuhku dan itu sama sekali bukan hal yang bagus.

            “Miss Han? Your turn.

            Aku tersentak saat suara Pendeta Brown terdengar di telingaku yang tadinya menjadi tuli mendadak. Kyuhyun memutar bola matanya dan tersenyum geli melihat kegugupanku. Sial!!! Lagi-lagi aku mempermalukan diriku sendiri di hadapannya.

            “I….” Aku mendengar suaraku sendiri sedikit gemetar saat mulai mengucapkan janji pernikahan itu. Aku berdeham sedikit, mencoba meredakan detak jantungku yang sepertinya tidak mau berkompromi dari tadi. “I, Han Hye-Na, take you, Cho Kyuhyun, to be my husband, my partner in life and my one true love. I will cherish our union and love you more each day than I did the day before. I will trust you and respect you, laugh with you and cry with you, loving you faithfully through good times and bad, regardless of the obstacles we may face together. I give you my hand, my heart, and my love, from this day forward for as long as we both shall live.”

            (Aku, Han Hye-Na, menerimamu, Cho Kyuhyun, menjadi suamiku, pasangan hidupku dan satu-satunya cinta sejatiku. Aku akan menghargai pernikahan kita dan lebih mencintaimu tiap harinya dibandingkan yang kulakukan pada hari sebelumnya. Aku akan mempercayaimu dan menghormatimu, tertawa dan menangis bersamamu, mencintaimu dengan setia dalam susah ataupun senang, tanpa menghiraukan rintangan yang mungkin akan kita hadapi bersama. Aku memberimu tanganku, hatiku, dan cintaku, dari hari ini dan seterusnya, selama kita hidup.)

            Janji pernikahan itu terdengar menjijikkan jika kami mengucapkannya pada saat-saat biasa, tapi entah kenapa saat ini aku seolah mengucapkan janji seumur hidup, dimana aku akan terikat dengan janji itu sampai mati, dan anehnya aku tidak merasa keberatan sedikitpun akan hal itu.

            Masih ada satu janji lagi yang harus kami ucapkan secara serempak, padahal saat ini aku sudah merasa kakiku tidak menapak tanah dengan benar.

            “Entreat me not to leave you. For where you go I will go and where you stay I will stay. Your people will be my people, and your God will be my God. And where you die, I will die and there I will be buried. May the Lord do with me and more if anything but death parts you from me.”

            (Memohonlah dengan sangat padaku agar tidak meninggalkanmu. Kemana kau pergi aku akan pergi dan dimana kau tinggal aku akan tinggal. Sahabat-sahabatmu akan menjadi sahabatku, dan Tuhanmu akan menjadi Tuhanku. Dan dimana kau mati, aku akan mati dan disanalah aku akan dimakamkan. Semoga Tuhan memberkati dan tidak ada sesuatu apapun kecuali kematian yang akan memisahkanmu dariku.)

            Kyuhyun meraih tangan kiriku dan memasangkan cincin yang selama 9 bulan terakhir ini sudah melingkar di jari manisku untuk yang kedua kalinya. Dia memang tidak pernah memakai cincin kawinnya agar tidak membuat orang lain curiga, tapi aku tahu bahwa cincin itu dijaganya dengan sangat baik, karena aku sempat memergoki cincin itu berada di laci yang sama dengan PSP kesayangannya. Semua orang pasti sudah tahu betapa berharganya PSP itu untuk seorang Cho Kyuhyun dan itu berarti cincin itu sama berharganya di matanya.

            Aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya selesai juga. Tapi rasa lega itu hanya bertahan sedetik.

            “Silahkan mencium pengantinmu.”

            Aish, sial! Bagaimana mungkin aku melupakan hal itu? Astaga! Disini kan ada orang tua kami! Membuat malu saja!

            “Ayo Kyunnie, cium istrimu!!!” teriak Ah-Ra onnie penuh semangat sambil mengacung-acungkan kamera digitalnya. Hah, Ah-Ra onnie itu kenapa? Biasanya dia sangat menentang saat Kyuhyun menyentuhku, kenapa sekarang dia jadi orang yang paling semangat?

            “Tidak usah malu-malu karena ada kami. Ayo cepat!”

            Aish, ibu Kyuhyun sama saja!

            Aku menoleh saat tangan Kyuhyun menyentuh pipiku ringan. Dia menunduk dan mendekatkan wajahnya, menyentuhkan bibirnya sekilas di bibirku. Sudah jelas bahwa dia tidak rela membuat nunanya senang, tapi kecupan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kepalaku pusing mendadak.

            “Yak, kau ini payah, kenapa cuma sebentar?” seru Ah-Ra onnie tidak terima. Sepertinya dia tidak berhasil mengambil gambar yang bagus. Syukurlah. Aku takut otaknya sama liciknya dengan member SuJu yang lain. Bisa saja kan dia mau memajang foto itu di tempat yang bisa dilihat semua orang?

            “Ng… ada hadiah pernikahan untukmu,” ujar Kyuhyun, tiba-tiba terlihat gugup.

            “Apa?”

            “Aish, ini benar-benar bukan gayaku! Aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan ini semua,” ujarnya gusar sambil mengacak-acak rambutnya, membuatku terkekeh geli. “Tunggu sebentar.”

            Dia berjalan ke sudut ruangan dan kembali sambil membawa sebuah gitar. Oh God, jangan bilang dia mau melakukan hal itu. Apa dia benar-benar mau mengabulkan semua isi diariku?

I wanna make you smile whenever you’re sad

Carry you around when your arthritis is bad

All I wanna do is grow old with you

(Aku ingin membuatmu tersenyum kapanpun kau merasa sedih

Menggendongmu saat kau mengalami radang sendi

Segala hal yang ingin kulakukan adalah menua bersamamu)


I’ll get your medicine when your tummy aches

Build you a fire if the furnace breaks

Oh it could be so nice, growing old with you

(Aku akan mengambil obat saat perutmu sakit

Menghidupkan api jika tungku perapian kita mati

Akan sangat menyenangkan jika bisa menua bersamamu)


I’ll miss you

I’ll kiss you

Give you my coat when you are cold

(Aku akan merindukanmu

Aku akan menciummu

Memberimu jaketku saat kau kedinginan)


I’ll need you

I’ll feed you

Even let ya hold the remote control

(Aku akan membutuhkanmu

Aku akan menyuapimu

Bahkan membiarkanmu memegang remote TV)


So let me do the dishes in our kitchen sink

Put you to bed if you’ve had too much to drink

I could be the man who grows old with you

(Jadi biarkan aku mencuci piring di dapur

Menggendongmu ke kamar saat kau minum terlalu banyak

Aku akan menjadi pria yang akan menua bersamamu)

 

I wanna grow old with you

(Aku sangat ingin menua bersamamu)

Adam Sandler – Grow Old With You

***

KYUHYUN’S POV

 

            Baiklah. Aku rasa aku sudah melakukan segalanya dengan sangat sempurna. Ini semua benar-benar bukan aku yang biasanya. Betapa mengerikannya saat mengetahui bahwa aku sudah berubah begitu banyak hanya karena gadis ini. Bukan hal buruk kurasa. Hanya membuatku merasa lebih manusiawi daripada sebelumnya.

            Menyenangkan mengetahui bahwa jantungku bisa berdetak di luar kendali hanya karena melihatnya. Bahwa aku bisa terpana karena terlalu terpukau saat dia melangkah memasuki gereja tadi. Semuanya bukan hal yang baru, karena aku sudah merasakannya sejak dulu, tapi akhir-akhir ini hal itu semakin menjadi-jadi, membuatku merasa takut dengan kemungkinan bahwa bisa saja suatu saat aku kehilangan kontrol diri dan mengucapkan segala hal yang kurasakan saat melihatnya, langsung kepada gadis itu. Berapa banyak rasa malu yang harus kutanggung kalau itu terjadi?

            Aku terkekeh geli saat sebuah ide jahil muncul di benakku. Aku memanggil Hye-Na agar dia mendekat dan langsung merangkulnya saat itu juga sambil mengacungkan HP-ku, mengambil foto kami berdua, lengkap dengan gaun pengantinnya yang membuatnya terlihat uring-uringan itu.

            “YAK!!!” teriaknya marah, “Apa yang kau lakukan, hah?”

            “Diam saja,” jawabku, sibuk mengirimkan foto itu ke HP para member. Mereka sudah mengamuk karena aku diizinkan pergi liburan dengan gadis ini, dan sepertinya hal yang bagus untuk membuat mereka lebih naik darah lagi.

            Benar saja, beberapa menit kemudian aku menerima video call dari… Wookie? Pasti dua hyungku yang paling pelit itu tidak mau membuang pulsa mereka untuk melakukan panggilan internasional dan menjajah HP Wookie untuk memarahiku.

            “YAK, KAU MEMBANGUNKAN KAMI SEMUA JAM SATU PAGI HANYA UNTUK PAMER, HAH?”

            Aku tertawa puas melihat wajah Heechul hyung yang muncul di layar dengan tampang mengantuk. Hye-Na mendekat ke arahku dan memperlihatkan senyum tanpa dosanya.

            “Annyeong, oppadeul,” sapanya sambil melambai.

            “Aku tidak akan tertipu dengan tampangmu itu!” rutuk Heechul hyung penuh emosi.

            “Annyeong Hye-Na~ya, kau cantik sekali! Aigoo, neomu yeppeoyo!!!” ujar Wookie sambil balas melambai.

            “Yak, awas kau!” Seseorang mendorong tubuh Wookie sehingga sesaat gambar mereka di layar HP-ku menjadi tidak fokus.

            “Yak hyung, tapi itu HP-ku!”

            “Memangnya aku peduli!”

            Sedetik kemudian wajah imut Wookie digantikan wajah garang Teukie hyung.

            “Kalian berdua! Aku belum pernah menikah tapi kalian malah menikah untuk yang kedua kalinya? Dimana otak kalian, hah?” serunya menggebu-gebu.

            “Mereka kan setan hyung,” ujar Eunhyuk memperkeruh suasana.

            “Hah, benar juga. Enak sekali kau bisa ke Paris lagi, Cho Kyuhyun! Dan setelah ini kalian mau ke….”

            “Tutup mulutmu, hyung!” sambarku cepat sebelum mulut bocornya itu menyebutkan tempat yang akan kami tuju setelah ini.

            “Apa tadi Kyuhyun mengucapkan janji pernikahannya dengan sukses? Dia tidur di dorm setiap hari hanya untuk menghafal itu dan membuat telinga kami tuli karena mendengar kalimat itu terus-terusan.”

            Dia tertawa senang dan mengedip ke arah Hye-Na.

            “Suamimu itu….”

            Dengan cepat aku mematikan sambungan telepon sebelum dia berhasil membocorkan lebih banyak lagi rencanaku kepada gadis ini. Yang benar saja! Aku sudah susah payah merencanakan semuanya dan mereka malah mau mengacaukannya? Enak saja!

            “Kenapa malah kau matikan, hah?”

            “Biar saja! Ini kan bukan HP-mu. Ganti bajumu sana! Kau mau ikut aku jalan-jalan tidak?”

            Dia mengangguk senang dengan mata berbinar-binar, lagi-lagi membuatku terpana dengan mudahnya.

            “Na~ya,” panggilku tanpa sadar, sehingga dia berbalik dan menatapku aneh. “Tu es si belle avec cette robe.” (Kau cantik sekali dengan gaun itu)

            Untung saja aku sempat mempelajari beberapa kosakata bahasa Perancis sebelum kesini. Kalau tidak, mungkin aku bisa mempermalukan diri sendiri jika dia tahu artinya.

            Aku terkekeh geli melihat tampang bodohnya dan melenggang pergi meninggalkannya begitu saja.

            “YAK, apa artinya itu, hah? Yak, Cho Kyuhyun! Kembali kau!”

***

HYE-NA’S POV

 

            Kyuhyun mengulurkan gelas plastik berisi kopi Starbucks ke arahku. Kami sedang duduk di depan menara Eiffel sekarang, diterangi cahaya lampu dari menara besi yang menjulang tinggi itu. Aku menyesap cairan kehitaman yang terasa hangat itu. Aku selalu menyukai rasa kopi. Pahit sekaligus manis di saat yang bersamaan.

            Kami sudah berjam-jam berkeliling, mengunjungi semua tempat menarik di kota Paris ini. Aku baru tahu bahwa dia mengetahui banyak tempat bagus disini. Setahuku dia tidak terlalu banyak berkeliling saat SM Town kemarin. Dan disinilah perjalanan berakhir. Eiffel. Benar-benar gabungan besi-besi yang disambung membentuk menara.

            “Kau mau pulang atau mau duduk disini semalaman mengagumi Eiffel?”

            “Eiffel tidak pernah semenarik itu di mataku. Ayo pergi!”

            Aku bangkit dan menarik tangannya. Sesaat kemudian tarikan itu berubah menjadi genggaman ringan karena Kyuhyun menyusupkan jari-jarinya di sela jemariku. Aku mendongak dan memandangnya yang tiba-tiba terlihat sangat tertarik dengan kerumunan orang-orang di taman.

            Aku tersenyum dalam hati. Seperti apapun kami berusaha bersikap normal seperti pasangan lainnya, tetap saja akan terasa sangat sulit. Rasa takut dengan ejekan yang akan keluar dari mulutnya ataupun mulutku bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

            Kami berjalan menyusuri jembatan, mengikuti alur sungai Seine yang mengalir di bawah sana. Pemandangan di sepanjang jalan bukanlah hal yang terlalu pantas untuk dilihat. Pasangan kekasih yang bertebaran dimana-mana, dengan terang-terangan memperlihatkan kemesraan mereka. Tempat yang sangat cocok untuk Donghae oppa.

            “Malam ini kita tidur dimana?”

            “Di hotel. Memangnya kau pikir aku punya rumah di sekitar sini?”

            Aku mengerucutkan bibirku. Nada bicaranya selalu saja sengit seperti itu. Menyebalkan!

            Dia melirik jam tangannya. Apa lagi sekarang? Dia mau memarahiku karena memaksanya berkeliling sampai tengah malam?

            Dia menoleh ke arahku. Bedanya kali ini ada senyum yang tersungging di wajahnya. Dia memiringkan wajahnya, kebiasaannya saat ingin menatap wajahku dengan lebih jelas.

            “Saengil chukhahae,” ujarnya dengan suara rendah.

            Aku memutar bola mataku dan terbelalak lebar. Aigoo~ya, karena terlalu sibuk mengagumi semua kejutan-kejutannya hari ini, aku sampai lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Pasti sekarang sudah jam 10 malam. Sejak kecil dia memang punya kebiasaan mengucapkan selamat ulang tahun padaku tepat di jam kelahiranku. Jam 10 malam.

            “Hutangku lunas, kan?”

            “Hutang?” tanyaku bingung.

            “Kau membuatku berjanji saat ulang tahunmu yang ke-10 dulu bahwa aku harus selalu memberikan hadiah ulang tahun padamu setiap tahun. Tapi karena kau menghilang selama lima tahun, aku jadi tidak bisa memberikannya. Berarti aku punya lima hutang. Aku sudah membayar tiga di antaranya. Mengajakmu ke Paris, membiarkanmu memilih gaun pengantin yang sendiri, dan pernikahan ulang sesuai keinginanmu. Satu hadiah lagi akan kuberikan saat kita sampai di hotel nanti, dan… satu hadiah lagi besok. Ini hadiah ulang tahunmu untuk tahun ini.” Dia menyodorkan sebuah bungkusan ke arahku. Dilapisi kertas kado, jadi aku tidak tahu apa isinya.

            “Itu salah satu alasan kenapa aku jarang pulang ke rumah untuk menemuimu. Jangan buka disini. Kau buka di Korea saja. Aku tidak mau kau menertawakanku dan merusak mood-ku. Kalau kau melanggar perintahku, kau tahu apa akibatnya kan, Na~ya?” ujarnya dengan nada berbahaya.

            “Cih, memangnya kau pikir aku takut padamu?” sungutku, tapi tetap memasukkan bungkusan tipis itu ke kantong jinsku. Bukan hal yang baik untuk merusak momen langka seperti ini. Aku masih bisa menekan rasa penasaranku. Setidaknya sampai di hotel nanti. Aku bisa membukanya setelah memastikan bahwa dia tertidur. Itu ide yang cemerlang.

***

            Oke, hadiah yang dimaksudkannya setelah sampai di hotel adalah hotel itu sendiri. Hotel de Crillon. Hotel mengagumkan yang langsung menghadap ke Eiffel dan Les Halles. Hotel yang pernah menjadi tempat menginap para pemeran Twilight Saga, novel sekaligus film yang sangat aku sukai.

            Namja ini… dia hanya membaca diariku sekali tapi kenapa dia bisa mengingat semuanya dengan sangat baik?

            “Barang-barang kita….”

            “Sudah diantar nuna kesini,” potongnya.

            Aku mengikuti langkahnya sambil memandangi arsitektur hotel yang begitu mewah, didesain seperti istana-istana bangsawan Eropa pada zaman dulu. Aku bahkan harus menahan diri setengah mati agar mulutku tidak menganga lebar. Tapi hal itu gagal saat aku melihat kamar yang akan kami tempati. Langkahku terhenti di depan pintu, membuat Kyuhyun berbalik dan menatapku bingung.

            “Apa?”

            “Berapa uang yang kau hamburkan untuk ini semua?”

            Dia memutar bola matanya dan menatapku dengan pandangan tak percaya.

            “Kau pikir aku namja yang akan langsung jatuh miskin setelah membawa istrinya jalan-jalan keluar negeri dan menginap di hotel mewah? Sayang sekali, hal itu tidak akan pernah terjadi kalau itu yang kau takutkan.”

            Dia menyandarkan sisi kanan tubuhnya ke dinding, berdiri condong ke arahku. Kedua tangannya berada di dalam saku celana jinsnya sedangkan matanya menatapku lekat-lekat.

            “Aku sudah merencanakan ini semua sejak lama, Na~ya,” ujarnya dengan nada lelah. “Aku mengumpulkan semua uang yang aku dapatkan karena sejak dulu aku ingin membawamu ke semua tempat yang kau inginkan. Bahkan itu sebelum kau muncul lagi di depanku setelah menghilang bertahun-tahun.” Dia menarik nafas dan menghembuskannya lagi dengan mata yang masih tetap tertuju padaku. “Aku orang yang paling bodoh di dunia, kan? Menikahi gadis yang bahkan selalu curiga terhadap setiap hal yang aku lakukan. Lebih bodohnya lagi, aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.”

***

            Aku membuka mataku perlahan, melepaskan pelukannya di tubuhku dengan hati-hati agar dia tidak terganggu. Setelah memastikan bahwa dia tidak terbangun, aku berjinjit ke arah tasku yang terletak di atas meja dan mengeluarkan bungkusan yang tadi diberikannya padaku. I-Pod.

            Aku memasang headset ke telingaku dan duduk di atas sofa, berdebar menunggu hal apa yang akan aku dengar sesaat lagi.

            “Baboya….”

            Aku mengernyit saat mendengar kata pertama yang menyebalkan itu. Namja ini benar-benar!

            “Saengil chukhahae. 20 tahun, eh? Kau sudah tua, tapi tingkahmu masih seperti gadis kecil yang kekanak-kanakan. Kadang-kadang aku berpikir bagaimana mungkin aku bisa setuju untuk menikah dengan gadis yang tidak ada bagus-bagusnya sepertimu.”

            Apa dia mau mengajakku ribut? Pantas saja dia menyuruhku mendengarkan ini di Korea karena isinya hanya ejekan semua. Aku akan membalas dendam padanya nanti!

            “Aku bisa membayangkan betapa jeleknya tampangmu saat ini. Hahaha. Aku hanya bercanda, bodoh! Kau pikir saja sendiri, mana mungkin aku sembarangan memilih gadis yang akan menjadi istriku. Pasti dia harus gadis yang cantik, pintar, mengerti diriku dengan sangat baik, dan yang paling penting… aku sangat terpesona padanya. Makanya aku memilihmu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mana mungkin kau mengetahui hal itu. Kau kan bodoh!”

            Sudah 3 kali dia mengataiku bodoh. sekali lagi dia mengatakannya, aku akan melempar piring ke kepalanya! Memangnya dia sepintar itu apa? Tapi… kata-katanya tadi lumayan juga. Akan kupertimbangkan nanti untuk mengurangi hukumannya.

            “Na~ya… kau tahu kenapa aku selalu memanggilmu dengan nama itu dan melarang orang lain memanggilmu dengan nama yang sama? Na~ya… di dalam bahasa Korea bukankah itu berarti ‘Ini aku’? Jadi saat aku memanggil namamu, itu berarti aku sedang menyebut diriku sendiri. Bukti sah kalau kau memang milikku. Jadi… jangan pernah biarkan orang lain memanggilmu dengan nama itu. Arasseo?”

            Aku terpana sesaat. Jadi itukah alasannya memanggilku dengan nama itu? Na~ya? Ternyata artinya sepenting itu, ya?

            “Aku mempersiapkan banyak hal untuk hari ini sejak jauh-jauh hari. Menghafal janji pernikahan itu sulit sekali, kau tahu tidak? Belum lagi aku harus susah payah menyewa gereja itu untuk hari ini sedangkan peminatnya banyak sekali. Awas saja kalau kau masih membentak-bentakku setelah ini! Akan kusiksa kau seumur hidupku!”

            “Baboya… aku membuatkan sebuah lagu untuk ulang tahunmu. Salah satu alasan kenapa aku jarang pulang ke rumah. Ini lagu pertama yang aku ciptakan dan aku benar-benar mengerjakan segala sesuatunya sendiri, menolak semua bantuan member lain. Kalau kau tidak suka, pura-pura suka saja. Sesekali hargailah kerja suamimu ini! Mmm… judulnya ‘A Future That I’ve Been Prepared For You’. Semua liriknya… sesuai dengan perasaanku. Bukan hal yang akan kukatakan langsung kepadamu karena aku tahu kau pasti akan muntah-muntah setelah mendengarnya. Jadi cara lain untuk menyampaikannya hanya dengan lagu ini. Ng… Na~ya, aku rasa sudah cukup lama aku tidak mengatakannya padamu. Saranghae….”

            Dentingan piano terdengar setelah itu. Kriteria suaranya. Irama yang lembut dan menenangkan.

Naega dangsin ege myeoch gaji ilbanjeogin geosdeul eul jangdamhal su eobsseubnida

Nae du nuneul eseo seoman sal geoseul yagsog

Bam achim buteo, geugeoseun danji dangsin geosibnida

Jamdeulgi jeone jega bol su issneun yuilhan naega ireo nass hu

 (Aku bisa menjanjikan beberapa hal biasa padamu

Janji bahwa aku akan hidup dengan melihatmu saja di mataku

Dari pagi sampai malam, hanya akan ada kau saja

Satu-satunya orang yang kulihat sebelum aku tidur dan setelah aku bangun)

 

Naega dangsineul mannagi , naneun on sesang eul badgo isseodda

Dangsineun jinjeonghan salmui pateuneo nuguna kkumeul sudoisseo

(Saat aku bertemu denganmu, aku seolah menerima seluruh dunia

Kaulah satu-satunya pasangan hidup yang bisa diharapkan setiap orang)

 

Nan hanbeondo dangsini nae cheugmyeoneseo nohji anheul geosilago marhaedda

Dangsini maeum eseo naleul jiwo mothage

Nan danji dangsin geosibnida

Dangsingwa hamkke olaedoen seongjanghanaga doel geosida

Naega dangsineul eolmana salanghaneunji dangsineun moreulgeoya

(Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah membiarkanmu beranjak dari sisiku

Aku tidak akan membiarkanmu menghapusku dari ingatanmu

Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan menua bersamamu

Aku hanya akan menjadi milikmu saja

Kau tidak bisa membayangkan seberapa banyak aku mencintaimu)

 

Hu deoun yeoreum nale geuneuri

Deojulgge bioneun nalen usani deojulgge

Naneun nae muleup eul jegonghabnida anjeul jariro dangsineun pigon ttae

Dangsini ulgo isseul ttae nunmureul cheongso hagi wihae nae soneul jul geosida

 (Nanti aku akan menjadi tempatmu berteduh saat musim panas

Aku akan menjadi payungmu saat hujan

Aku akan memberikan pangkuanku padamu sebagai kursi tempatmu duduk saat kau lelah

Aku akan mengulurkan tanganku untuk mengusap air matamu saat kau menangis)

 

Dangsini ijeun gyeongu jega dangsinui gieogi doebnida

Dangsini georeul su eobdamyeon dariga

Ga dangsinui son, nun, gwi

Dangsineul wihae amugeosdo hal su issseubnida

Nan dangsini mani sarang

(Aku akan menjadi ingatanmu saat kau lupa

Menjadi kakimu saat kau tidak bisa berjalan

Menjadi tanganmu, matamu, telingamu

Aku bisa menjadi apapun untukmu

Aku mencintaimu sebanyak itu)

Geu moduga naui gyehoeg

Naega dangsineul wihae junbi doe eotdaneun milae

Nae ahob beonjjae…

(Itu semua adalah rencanaku

Masa depan yang sudah aku persiapkan untukmu

Nomor sembilanku…)

(Cho Kyuhyun – A Future That I’ve Been Prepared For You)

 

            Aku seolah terpaku di tempat dudukku setelah lirik lagu itu berakhir, tidak bisa bergerak sedikitpun. Lagu ini… iramanya… liriknya… bahkan suaranya… semuanya terdengar begitu sempurna di telingaku. Apa yang dia katakan tadi? Liriknya menunjukkan perasaannya padaku? Mungkin… kemungkinan besar aku memang akan mual jika mendengar dia menyebutkan kalimat-kalimat ini langsung kepadaku, tapi saat mendengar suaranya yang menenangkan saat menyanyikan lirik itu… entah kenapa mendadak ada perasaan nyaman. Rasa senang mengetahui sebanyak apa dia memikirkanku.

            Aku tersenyum dengan perasaan membuncah. Si bodoh itu… bagaimana mungkin dia mengira aku tidak akan menyukai lagu seindah ini? Lagu pertama yang dia ciptakan. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?

            “Sudah puas melanggar perintahku, Cho Hye-Na ssi?”

            Aku terlonjak kaget saat mendengar suaranya. Perlahan aku mendongak, mendadak merasa takut dengan kemungkinan bahwa dia akan mengamuk padaku.

            Dia masih berbaring di atas tempat tidur, menyamping ke arahku. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi menurutku itu jauh lebih menakutkan daripada saat dia menghujamku dengan tatapannya yang seperti malaikat pencabut nyawa.

            Dia mengarahkan telunjuknya kepadaku dan memberi tanda agar aku mendekatinya. Aigoo~ya, jangan bilang sepulangnya dari Paris aku hanya tinggal nama saja.

            Aku naik ke atas tempat tidur dan menatapnya takut-takut.

            “A… apa? Kau kan tahu ka… kalau aku ini… mudah penasaran. Mana aku tahan menunggu sa… sampai kita pulang ke Korea nanti,” ucapku terbata-bata.

            Dia menarik tanganku sampai aku berbaring di sampingnya dan menatapku lekat-lekat.

            “Ternyata kau bisa takut padaku?” ejeknya dengan senyum sinis.

            “A… aku….”

            “Kau suka?” tanyanya memotong ucapanku. “Lagunya. Kau suka?”

            Aku menatapnya tak percaya. Pertanyaannya terdengar tidak masuk akal di telingaku. Bukankah seharusnya saat ini dia mengamuk dan memarahiku?

            “Ne, neomu neomu choa. Gamsahae. (Sangat sangat suka. Terima kasih),” ucapku lega.

            Dia mengulurkan tangannya dan bermain dengan rambutku, memuntirnya dengan jari telunjuknya.

            “Baguslah kalau kau suka. Aku sedikit takut dengan reaksimu setelah mendengar lagu itu, makanya aku menyuruhmu mendengarkan lagu itu saat aku tidak ada.”

            Aku melongo saat melihat bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

            “Kau sakit jiwa, ya?” tanyaku spontan tanpa bisa mengontrol ucapan yang keluar dari bibirku. “Biasanya kau akan berteriak memarahiku kalau aku melanggar perintahmu.”

            “Aku hanya menekan emosiku ke batas terendah karena ini satu-satunya saat dimana kita bisa menjadi pasangan normal. Jadi saat sampai di Korea nanti, jangan harap aku akan berbaik hati padamu.”

            Aku mengerucutkan bibirku mendengar ucapannya.

            “Hei, apa lagu itu akan dimasukkan ke album kelima?” tanyaku antusias, memilih mengabaikan perkataannya yang menyebalkan itu.

            “Baboya,” ujarnya dengan suara rendah. “Lagu itu untukmu, mana mungkin aku membiarkan gadis lain mendengarkannya.”

            “Aaaa… jinjjayo? Johda (baguslah).” Aku tersenyum karena dia dengan blak-blakan mengatakan apa yang dipikirkannya. Biasanya dia tidak akan mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya.

            “Yak, Kyuhyun~a, bisakah kau memberitahuku apa yang kau maksud dengan nomor sembilanmu? Aku berada di urutan kesembilan dalam hidupmu begitu? Nomor sembilan? Apa itu tidak keterlaluan?” seruku tidak terima saat aku teringat lirik lagu yang diciptakannya.

            “Kalau masalah itu kau cari tahu saja sendiri. Kebaikan hatiku juga ada batasnya. Sesekali gunakanlah otakmu itu untuk berpikir, Na~ya. Aku tidak akan heran kalau otakmu itu sudah karatan karena tidak pernah kau gunakan.”

            Aku menjitak kepalanya keras sambil menatapnya sengit. Bukannya bersikap baik seperti yang dijanjikannya, dia malah mendorong kepalaku balik dan berbaring memunggungiku.

            “YAK!!!”

            “Mulailah dari hal yang paling sederhana. Kau tahu tidak kalau segala sesuatu yang berkaitan dengan kau dan aku itu terhubung dengan angka sembilan?”

            “Kau pikir aku Sinichi Kudo apa!” dengusku.

***

            “Yak, percepat jalanmu! Kau mau kita terlambat naik pesawat apa? Membangunkanmu saja susahnya minta ampun!” teriaknya kesal.

            Aku menarik koperku sambil menggumamkan caci maki terhadapnya. Dia membuatku tidak tidur semalaman karena memikirkan angka sembilan itu, lalu pagi-pagi buta dia sudah membangunkanku untuk siap-siap, dan sekarang dia malah membentak-bentak aku di tempat umum. Dasar makhluk tidak berperasaan!

            “Kau mau membawaku kemana lagi, hah?”

            “Yunani.”

            “NE?” teriakku kaget.

            “Aku pikir hanya otakmu saja yang tidak beroperasi dengan baik, ternyata telingamu juga. Kita mau pergi ke Yunani, Hye-Na sayang,” ujarnya dengan nada yang tidak ada manis-manisnya.

            “YUNANI?!!!” jeritku.

            “Tutup mulutmu atau aku akan meninggalkanmu disini karena membuatku malu!” ancamnya yang langsung kupatuhi begitu saja saking syoknya mendengar dia akan membawaku ke satu-satunya negara yang paling ingin kukunjungi sebelum mati.

            “Hei, Kyu, uangmu benar-benar banyak, ya? Aku pikir kau hanya mendapat sedikit pemasukan dari SM.”

            Dia menatapku dengan sorot mata membunuh, membuat nyaliku ciut seketika. Baiklah, baiklah, selama beberapa hari ke depan aku akan menjadi budaknya yang patuh karena kebaikannya membawaku ke negeri dewa-dewi itu.

***

            Aku menggelung rambutku ke atas dan menjepit poniku. Aku sudah siap tempur dengan buku dan pensil di tangan, menghitung segala sesuatu yang mungkin akan menghasilkan angka sembilan dalam waktu dua jam ke depan sebelum pesawat ini mendarat di Yunani.

            “Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut.

            “Mencari arti angka sembilan,” sungutku.

            “Ada lima hal yang menghasilkan angka sembilan, kalau kau mau tahu,” ujarnya sambil terkekeh senang melihat penderitaanku. Sama sekali tidak membantu! Daripada aku emosi, lebih baik aku mengacuhkannya saja!

            Oke, bagaimana kalau dimulai dari tanggal lahir? Kalau tidak salah aku pernah melihat tanggal lahir, bulan, dan tahun kelahiran member Super Junior jika ditambahkan akan menghasilkan angka 13. Mungkin saja metode yang sama akan berhasil.

            “Tanggal lahirku 15, dan Kyuhyun 3. Aaaaa… 15+3 = 18.” Aku mencoret-coret kertas di depanku sambil tersenyum senang. “1+8 = 9. Aish, kau memang pintar, Hye-Na~ya!”

            “Baru itu saja kau sudah bangga. Dasar payah!” ejeknya seraya menyentil keningku.

            “Diam kau, Cho Kyuhyun menyebalkan!” umpatku, kemudian melanjutkan acara hitung-menghitungku lagi.

            “Bulan kelahiran,” gumamku. “Juli dan Februari. 7+2 = 9. Ah, ternyata ini mudah sekali!”

            “Memang mudah. Kau saja yang bodoh!”

            Aku mengabaikannya dan mulai menghitung tahun kelahiran kami. Sayangnya aku tidak menemukan kecocokan disana. Padahal dia bilang ada 5 kesamaan. Apalagi, ya?

            Aku memutar otakku dan mengingat-ingat tanggal yang memungkinkan. Tanggal pernikahan kami adalah 9 September. 9 dan 9. Benar juga! Lalu apalagi, ya?

            “Nama,” ujarnya tiba-tiba.

            Aku mengerutkan keningku tapi tetap menuliskan nama kami berdua. Cho Kyuhyun dan Han Hye-Na. Huruf yang membentuk namanya ada 10, sedangkan aku ada 8. 10+8 = 18. 1+8 = 9. Ng… bagaimana dengan nama barat kami? Marcus Cho dan Ladyra Han. 9+9 = 18. Juga menghasilkan angka 9. Aigoo~ya, sebanyak ini? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?

            “Hei, apa kau memikirkanku setiap saat sampai-sampai kau bisa menemukan semua angka ini?” godaku, berniat membalas ejekannya.

            Wajahnya mendadak memerah mendengar ucapanku dan dia langsung memalingkan tatapannya ke arah lain.

            “Percaya diri sekali kau, Nyonya Cho,” dengusnya.

            Aku tertawa geli. Setidaknya aku tahu bahwa itu memang kenyataannya. Dia memang memikirkanku. Dan itu terdengar amat sangat menyenangkan.

***

            Nafplia Palace Hotel and Villas. Hotel yang terletak di atas bukit dan menghadap langsung ke arah pantai mengagumkan dengan air biru tenang. Aku bahkan tidak bisa mengatupkan mulutku sepanjang perjalanan di dalam mobil yang membawa kami ke hotel itu. Pemandangannya benar-benar menakjubkan!

            Seorang wanita yang menjaga meja resepsionis menyambut kami ramah dan mengucapkan beberapa patah kata semoga kami menikmati pelayanan hotel dan semacamnya. Aku mengabaikannya dan membiarkan Kyuhyun mengurus tetek bengek kamar, memilih melayangkan pandanganku ke arah orang-orang asing yang berlalu lalang. Aku mengernyitkan keningku saat mendengar beberapa patah kata dalam bahasa Yunani yang sangat rumit, nyaris seperti bahasa kuno yang belum ditemukan artinya di telingaku.

            Aku merasakan dorongan lembut di kepalaku, membuatku mendongak dan menatap Kyuhyun bengis.

            “Sampai kapan kau akan bersikap kampungan begitu, hah? Ayo cepat! Aku sudah lelah.”

            Aku mengikutinya sambil merutuk dalam hati, menyesali keputusanku untuk menjadi budaknya yang patuh. Dia pasti akan bertindak semena-mena padaku selama disini. Aish, tapi biarlah. Dia kan sudah membawaku ke negara ini dengan susah payah. Cih, aku harus menghargainya.

            “Pemandangan paling indah bisa kalian lihat di kolam renang hotel. Langsung menghadap ke pantai. Aku jamin kalian akan mengaguminya,” ujar pegawai hotel yang mengantar kami dengan bahasa Inggris terpatah-patah. Sepertinya semua pegawai disini mendapat kursus bahasa Inggris atau semacamnya selama masa pelatihan.

            “Hei, ayo kita kesana,” ajakku semangat.

            “Aku mau tidur. Dari kemarin aku belum mendapat istirahat yang cukup.”

            Aku merengut mendengar penolakannya.

            “Berapa hari kita disini?”

            “Lusa kita pulang dengan pesawat paling pagi.”

            “Nah, hanya ada waktu satu hari untuk jalan-jalan, masa kau mau menyia-nyiakannya?” desakku.

            “Yang tertarik dengan tempat ini kan kau, bukan aku. Pokoknya aku mau tidur.”

            Aish, bagaimana mungkin aku menikahi makhluk tak berperasaan seperti ini?!!

***

            “IGE MWOYA?!!” teriakku syok saat menginjakkan kaki ke dalam kamar.

            Kamarnya memang sangat besar dan ada balkon yang langsung menghadap ke pantai. Tapi yang membuatku syok adalah kamar mandinya yang berlapis kaca. Tanpa privasi sedikitpun. Bahkan bathtubnya terletak di luar, di bagian depan tempat tidur dan hanya dipisahkan oleh dinding. Ada kaca besar di sampingnya, memperlihatkan pemandangan di luar.

            Aku berbalik menatap Kyuhyun, meminta penjelasan. Tapi dia sendiri juga melongo sebelum berhasil mengendalikan dirinya.

            “Yang memesankan kamar adalah nuna. Aku sempat bingung karena gadis di meja resepsionis tadi mengucapkan semoga bulan madu kita menyenangkan. Sepertinya… ini… kamar untuk pengantin baru,” jawabnya dengan wajah yang sedikit tertekan.

            “Ah-Ra onnie?” desisku tidak percaya. “Bagaimana mungkin? Bukannya dia adalah orang yang paling menentang jika kau menyentuhku sedikit saja?”

            “Nuna… berubah pikiran 180 derajat.”

            “He?” tanyaku tidak mengerti.

            Kyuhyun meraih kopernya dan mulai membukanya tanpa menjawab pertanyaanku.

            “Aku mau mandi. Kau keluar sana!”

            Aku juga mengacuhkannya dan mulai sibuk dengan koperku. Semalam dan tadi pagi aku hanya memakai pakaian yang terletak di tumpukan paling atas koper dan tidak memeriksa barang lain yang sudah dipersiapkan Ah-Ra onnie untukku. Dan hal itu berakibat buruk. Aku menjerit saat menemukan potongan-potongan kain transparan dan tidak berbentuk memenuhi setengah isi koperku. Diikuti dengan gaun-gaun berwarna peach dan putih.

            “Yak, apa-apaan kau!” seru Kyuhyun sambil memungut sehelai pakaian yang mendarat di kepalanya karena aku melemparkan semuanya keluar koper.

            “Wooo… ini apa? Kau mau memakai ini untuk menggodaku?” tanyanya dengan tampang polos sambil meneliti pakaian dalam genggamannya. Lingerie berwarna merah menyala yang hanya tertutup di bagian-bagian penting saja dan selebihnya transparan. Dengan sigap aku merebutnya dan memasukkannya dengan serampangan lagi ke dalam koper.

            Aku mengeluarkan HP dari saku celana jinsku dan menghubungi nomor Ah-Ra onnie. Untung saja di bandara aku sempat menggantinya dengan nomor wilayah ini.

            “Onnie~ya!!!” teriakku dengan suara keras yang berkemungkinan besar bisa membuatnya tuli saat telepon akhirnya tersambung.

            “Hye-Na~ya? Ini kau? Kalian sudah sampai di Yunani? Kenapa kau meneriakiku begitu? Dasar adik ipar tidak sopan!”

            “Yak, Cho Ah-Ra onnie, apa yang kau masukkan ke dalam koperku, hah? Kau mau membuatku jadi wanita penggoda selama disini? Sejak kapan kau berubah pikiran dan menyerahkanku begitu saja pada adikmu yang mesum itu?”

            “Siapa yang kau bilang mesum, babo?” sergah Kyuhyun sambil menarik rambutku, membuatku sedikit meringis kesakitan. Aku menendangnya dengan kaki kananku dan berteriak lagi pada kakak iparku yang menyebalkan ini.

            “ONNIE!!!”

            “Aigooya, lama-lama aku bisa tuli mendengar suaramu. Yak, kau tahu tidak? Beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan temanku yang sudah memiliki anak kecil lucu yang sangat menggemaskan. Aku jadi berpikir untuk memiliki anak. Tapi sayangnya aku belum menikah. Sasaran satu-satunya hanya kalian berdua. Jadi kalian berdua usahakanlah agar cepat memberiku keponakan yang jauh lebih lucu lagi! Karena aku sudah memprediksi bahwa kalian belum pantas menjadi orang tua yang baik, maka aku akan mengambil-alih tanggung jawab kalian. Anak itu biar aku saja yang merawat. Ideku bagus, kan?”

            Aku bertatapan dengan Kyuhyun yang ikut mendengarkan karena aku menggunakan loudspeaker.

            “Nunamu sudah gila!” desisku.

            “Kyuhyunnie, ayo berusaha yang keras!”

            Dengan cepat aku memutuskan sambungan telepon sebelum kakak iparku yang tidak waras itu bisa mengoceh lebih banyak lagi dan memengaruhi isi otak adiknya.

            “Yak, aku pinjam baju kaus dan celana pendekmu!” ujarku sambil mengobrak-abrik isi koper Kyuhyun, mencari pakaian yang aku butuhkan.

            “Memangnya nanti malam kau masih membutuhkan pakaian? Aku rasa tidak.”

            Aku sudah melempar tas kecil berisi perlengkapan mandi ke kepalanya, bahkan sebelum dia sempat mengatupkan mulutnya sendiri.

            “YAK! APPO!!!”

            Astaga, aku merasa sedang masuk ke mulut buaya.

***

KYUHYUN’S POV

            Aku merasakan angin laut yang dingin menerpa wajahku. Gadis di sampingku ini dengan semena-mena menarikku kesini dan mengganggu jadwal tidurku yang sudah kurancang sejak di pesawat tadi. Walaupun pada akhirnya aku tidak menyesal juga karena sudah mengundur waktu istirahatku. Pegawai hotel tadi benar. Pemandangan dari tempat ini benar-benar mempesona. Laut di bawah sana terlihat begitu biru dan pemandangan ke arah bukit tampak sedikit tertutup kabut. Ada bangunan di tengah laut dan aku tidak tahu itu apa. Aku jadi tidak heran kenapa Hye-Na sangat ingin mengunjungi tempat ini dan menuliskan nama hotel ini di diarinya. Semua bangunan di negara ini terlihat kuno dan misterius. Benar-benar peninggalan zaman purba. Bangunan hotel ini saja nyaris seperti puri peristirahatan gaya Yunani kuno.

            Aku meliriknya dengan sudut mataku. Setelah omelan panjang lebar tentang kenapa dia tidak suka memakai gaun, dia tetap memakai salah satu gaun yang disiapkan nuna untuknya karena tidak ada pilihan lain. Gaun berwarna salem itu terlihat sangat cocok di kulitnya yang putih pucat. Membuatku nyaris tidak berkedip saat dia keluar dari pintu kamar. Tapi aku selalu bisa mengendalikan diriku dengan cepat. Walaupun terkadang hal itu terasa sangat sulit dilakukan. Aku bahkan sempat memelototi beberapa orang pria yang menatapnya terang-terangan saat kami berjalan kesini tadi.

            “Aku selalu tidak mengerti kenapa kau menyukai dewa-dewi Yunani itu,” ujarku tanpa mengalihkan tatapanku dari pemandangan laut lepas di depan kami.

            Dia bergerak sedikit dan mendongakkan wajahnya menatapku.

            “Memangnya kenapa? Mereka mempesona, memiliki kekuatan menakjubkan. Aku menyukai Aphrodite dan Persephone. Mereka cantik sekali.”

            “Kau menyukai Persephone bukan karena dia pasangan abadi Hades, kan? Aku rasa kau punya ikatan pribadi dengan segala hal yang berkaitan dengan dunia bawah tanah. Neraka.”

            Dia mendelik menatapku dengan wajah cemberut, membuatku terkekeh geli dan tidak tahan untuk tidak mengacak-acak rambutnya.

            “YAK!”

            Apa aku harus memberitahunya bahwa dia bahkan lebih cantik dari seorang Aphrodite sekalipun? Cih, tidak usah. Aku tidak bisa membayangkan rasa malu yang harus aku tanggung seumur hidup jika aku sampai mengatakan hal itu padanya.

            “Tapi setidaknya aku tidak sejelek Hephaestus. Kau harus bersyukur memiliki suami tampan sepertiku.”

            Entah sejak kapan aku mulai mencari tahu tentang segala hal yang disukainya itu. Aku selalu tertarik pada apa yang menjadi minatnya, jadi tidak usah heran jika aku sampai mau meluangkan waktu untuk membaca mitologi Yunani yang menyakitkan kepala itu.

            “Jadi aku Aphrodite-nya begitu?” ujarnya cepat tanggap. Tumben sekali dia pintar.

            “Cih, Na~ya, sejak kapan kau jadi narsis begitu?”

            “Kau menyebalkan!” sungutnya.

            “Apa sih yang kau sukai dari mereka?” tanyaku penasaran tanpa mengacuhkan omelannya. “Dewa-dewi yang kau kagumi itu sama sekali tidak setia pada pasangannya masing-masing. Berapa banyak anak yang mereka miliki dari dewa atau dewi lainnya? Bahkan manusia juga. Apa seleramu serendah itu?”

            “Bisakah kau berhenti mengejek apa yang aku sukai?” protesnya kesal.

            “Karena itu berhentilah mengidolakan mereka dan idolakan aku saja,” ujarku serius. Sebelum dia sempat membuka mulut, aku langsung melanjutkan ucapanku, “Setidaknya aku bisa menjamin bahwa aku hanya milikmu saja. Hanya akan menatapmu saja. Hanya akan hidup denganmu dan memiliki anak darimu. Aku jauh lebih baik daripada mereka.”

            “Kyu…” gumamnya dengan suara tercekat.

            Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku untuk mengusap pipinya.

            “Jadi kita sudah sampai pada tahap ini, eh? Setidaknya reaksimu pada apa yang aku katakan tidak seburuk dulu. Bukankah rasanya sangat aneh Na~ya, berbicara layaknya pasangan normal seperti yang kita lakukan sekarang? Aku rasa aku tidak punya stok kata-kata bagus lagi.”

            Dia menatapku dan memukul bahuku pelan dengan kepalan tangannya.

            “Bodoh! Lebih baik kita bertengkar saja seperti biasa. Itu jauh lebih baik. Aku tidak tahu harus berkata apa di saat-saat seperti ini. Menggelikan.”

            Aku menarik kepalanya, membiarkan tubuhnya bersandar ke tubuhku.

            “Kau benar. Kita KyuNa, bukan HaeGa. Dan aku lebih suka meneriakimu, daripada berkata menjijikkan seperti tadi.”

            “Dan aku lebih suka menendangmu, daripada dipeluk olehmu seperti ini,” ujarnya, dan dengan satu gerakan cepat dia sudah menendang kaki kiriku. Sial!

            “YAK! Kau sudah bosan hidup, hah?”

***

HYE-NA’S POV

 

            Si bodoh yang amat sangat menyebalkan itu, dengan keras kepala menolak permintaanku untuk berjalan-jalan di sekitar sini. Dia malah membenamkan badannya di balik selimut dan tidak merespons rengekanku sedikitpun. Huh, dia pikir aku tidak bisa pergi sendiri? Menurutnya aku bodoh begitu? Lihat saja kau, Tuan Cho!

            Aku menendang kerikil-kerikil kecil di jalanan sempit yang kulalui. Aku menanyakan jalan terdekat menuju pantai pada pegawai hotel yang memberiku bonus petunjuk jalan ke arah pasar kecil yang menjual pernak-pernik dan kerajinan khas yang tidak jauh dari sini.

            Ah-Ra onnie itu, walaupun dia berhasil memakaikan gaun tidak beradab ini ke tubuhku, tapi dia melupakan bahwa satu-satunya jenis sepatu yang kupakai setiap saat adalah sneakers. Ternyata sepatu kets ini cukup keren juga kalau dipakai bersama gaun, meskipun kemungkinan untuk diusir dari pesta-pesta formal amat sangat besar.

***

            Setelah duduk-duduk di pantai selama satu jam, menikmati pemandangan matahari terbenam, aku memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalanku menuju pasar kecil itu. Aku bukan jenis orang yang suka bepergian sendirian, tapi aku juga bukan jenis orang yang akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelajahi tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Ini keadaan terpaksa yang tidak akan kulakukan kalau si bodoh itu mau menemaniku. Haaaaah, mengingat itu membuat emosiku naik ke ubun-ubun lagi.

            Aku mengamati pernak-pernik yang dijual dan berhenti jika ada yang menarik perhatianku. Sepertinya aku melakukan satu kesalahan fatal saat memutuskan jalan-jalan sendirian. Uang di dompetku masih berupa won, sedangkan uang yang sudah ditukarkan ke Drachma, mata uang Yunani, ada pada Kyuhyun. Aku punya 300 drachma, tapi sepertinya tidak cukup. Itu hanya 10 dolar. Yang benar saja! Sial!

            Aku membelokkan langkahku masuk ke kafe di pinggir jalan. Setidaknya 10 dolar cukup untuk membeli secangkir kopi.

            Aku melirik jam di dinding kafe selagi menunggu kopi pesananku datang. Sudah jam 8 malam. Masa dia masih belum bangun juga dan menyadari bahwa aku menghilang? Suami macam apa Cho Kyuhyun itu?

            Aku meraba pakaianku dan mendadak sadar bahwa aku sedang memakai gaun. Aigoo, gaun ini tidak memiliki saku dan itu berarti aku meninggalkan HPku di kamar hotel. Aku memegangi dompetku dari tadi dan tidak sadar bahwa aku tidak membawa HP sama sekali. Aish, Hye-Na baboya!

            Dan sepertinya kesialanku tidak sampai disitu saja. Tiba-tiba di luar hujan deras dan sepertinya aku akan tertahan di kafe ini untuk waktu yang sangat lama.

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aku menggeliat sesaat dan membuka mataku malas-malasan. Aku melirik jam kecil di atas meja di samping tempat tidur. Jam 10 malam. Sudah berapa jam aku tertidur?

            Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dimana gadis itu? Tadi dia merengek-rengek ingin kutemani jalan-jalan tapi aku menolaknya karena merasa sangat lelah. Apa dia memulai aksi perang dinginnya lagi?

            Aku bangkit dan berjalan menuju pintu balkon yang terbuka. Hujan deras. Seharusnya dia ada di kamar di saat cuaca seperti ini. HPnya tergeletak begitu saja di atas meja, mengurungkan niatku untuk menghubunginya. Ck, gadis ini merepotkan saja!

            Aku memutuskan mencarinya di sekitar hotel, tapi sayangnya dia tidak ada dimana-mana. Bahkan aku sudah bertanya kepada beberapa orang, tapi tidak ada yang melihatnya sama sekali.

            “Do you see my wife?” tanyaku kepada seorang pegawai hotel yang berjaga di pintu masuk. Saat aku dan Hye-Na sampai di hotel siang tadi dia menyambut kami denagn ramah dan berkata jarang melihat orang Asia disini, karena itu aku merasa dia akan mengingat wajah Hye-Na. Lagipula kalau gadis itu keluar dia pasti melihatnya.

            “Yes, Sir. She asked me how to go to the beach. I also tell her the way to go to the market.”

            Aish, di saat-saat seperti ini aku baru menyesali kemampuan bahasa Inggrisku yang pas-pasan.

            “Can you… tell me how to go there?

            Dia menunjukkan rutenya dengan gerakan tangan agar aku mengerti. Aku dengan kesopanan yang dipaksakan meminjam payung hotel, sedangkan emosiku sudah mencapai tingkat maksimal. Akan kubunuh dia kalau aku menemukannya nanti!

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku memutuskan menerjang hujan yang tidak mereda sedikitpun dari tadi saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tidak mungkin aku bertahan disini semalaman karena sepertinya kafe ini akan tutup sebentar lagi.

            Sambil berlari-lari kecil aku memikirkan makian apa yang akan aku dapatkan saat sampai di hotel nanti. Apa dia mencemaskanku? Apa dia panik dan berusaha mencariku? Huh, sepertinya kemungkinan itu kecil sekali.

            Baiklah, kali ini aku tahu bahwa aku salah. Tapi sepertinya permintaan maaf saja tidak akan cukup untuknya.

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aku menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh pegawai hotel tadi. Aku sudah melewati pantai yang kosong karena tidak ada lagi orang yang mau mati kedinginan dengan bersantai disana di tengah hujan deras seperti ini. Aku menjelajahi pasar yang juga sudah mulai sepi. Awalnya aku berpikir dia ada di satu-satunya kafe disana, tapi kafe itu sudah mau tutup dan tidak ada satu pengunjung pun yang tampak. Apa dia sudah pulang? Atau malah tersesat di suatu tempat?

Gadis itu benar-benar! Kapan dia akan berhenti membuatku cemas setengah mati seperti ini?

***

HYE-NA’S POV

 

            Aku baru saja membongkar koper Kyuhyun untuk meminjam bajunya, aku tidak mau mati kedinginan karena memakai lingerie sialan itu malam ini, saat pintu kamar terbuka dengan kasar. Belum sempat aku mendongak, seseorang sudah menarik tanganku sampai aku berdiri dan membalikkan tubuhku menghadapnya.

            Lagi-lagi aku merasa takut menatap wajah itu. Matanya yang memandangku dengan sorot membunuh, raut wajahnya yang terlihat mengerikan, semuanya benar-benar membuat nyaliku ciut. Aku bahkan harus menelan ludah dengan susah payah untuk menenangkan diri yang akhirnya kusadari sebagai sebuah usaha yang sia-sia.

            Bajuku sudah basah kuyup karena nekat menerobos hujan tadi dan rasanya dingin sekali. Dan rasa dingin itu sekarang terasa mencekam dan menakutkan, aku bahkan bisa merasakan tubuhku yang menggigil. Dan alasannya lebih karena pria di hadapanku ini.

            “Aku mau meneriakimu dan kau malah memasang raut wajah tak berdaya itu di hadapanku? Sialan kau!” umpatnya dengan suara keras.

            “Mianhae,” ucapku akhirnya, tidak bisa menemukan kata-kata lain yang lebih tepat selain itu.

            Dia mendecak kesal dan mencengkeram kedua lenganku dengan tangannya, membuatku berusaha keras untuk tidak meringis kesakitan.

            “Mianhae? Aku mencarimu seperti orang gila karena panik setengah mati dan yang bisa kau katakan hanya maaf? Brengsek! Kau tahu tidak seberapa cemasnya aku? Ini bukan Korea dan kau menghilang tiba-tiba. Aku bahkan tidak tahu harus mencarimu kemana. Diluar hujan deras dan hotel ini di atas bukit, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa?”

            Cengkeramannya di lenganku mengendur dan aku mendongak, menatap wajahnya yang tiba-tiba terlihat lelah. Tapi sekilas aku melihat rasa lega disana, membuat tubuhku mendadak rileks, tidak lagi setegang tadi.

            “Bisakah… lain kali… kau tidak pergi ke suatu tempat yang asing tanpaku? Setidaknya beritahu aku agar aku tidak cemas seperti tadi. Rasanya nyaris seperti mati, Na~ya,” ucapnya dengan suara lemah.

            Aku mengangguk, kesulitan untuk mengeluarkan suara karena tenggorokanku mendadak tercekat. Dia menghembuskan nafasnya keras dan pergi begitu saja. Aku nyaris mengira dia masih marah saat aku melihatnya kembali sambil membawa handuk hotel. Dia berdiri di hadapanku lagi dan mengeringkan rambutku dengan handuk itu. Dia mengusap wajahku dengan hati-hati dan memegangi handuk itu di atas kepalaku. Matanya menelusuri wajahku selama beberapa saat dan yang aku tahu setelah itu hanyalah bibirnya yang bergerak rakus di bibirku.

            Bibirnya terasa dingin, mungkin karena cuaca diluar, tapi anehnya telapak tangannya di pinggangku malah terasa hangat, menembus gaunku yang basah. Dia mendorong punggungku mendekat dan memperdalam ciuman kami. Lidahnya menyapu permukaan bibirku, membuatku membuka sedikit bibirku dan memberinya celah untuk masuk. Lidahnya mencari lidahku dan membelitnya saat dia menemukannya.

            Aku merasakan tubuhku terdorong sampai tersandar ke arah dinding, terkesiap kecil saat merasakan tangan kirinya menelusup masuk dari bagian bawah gaunku dan meraba pahaku pelan. Dia membebaskan bibirku, memberiku waktu untuk menarik nafas sedangkan dia melanjutkan eksplorasinya di bagian leherku yang tidak tertutup gaun.

            “K… Kyu… aku harus ganti baju,” ujarku dengan nafas tersengal.

            Dia mendongak dan melepaskanku, menumpangkan tangan kanannya ke dinding di samping kepalaku. Dia menatapku lekat dan entah kenapa untuk kali ini aku merasa terlalu gugup untuk membalas tatapannya.

            “Bukankah aku sudah bilang bahwa malam ini kau tidak akan membutuhkan pakaian?” Ada nada geli dalam suaranya, membuatku mendongak dan menatapnya sengit.

            “Kau pikir berapa lama lagi aku bisa bertahan untuk tidak menyentuhmu? Aku sudah mengontrol diriku habis-habisan sejauh ini dan aku rasa aku tidak bisa mengendalikannya lebih lama lagi. Tapi baiklah, aku akan memintanya sebagai pria baik-baik.”

            Dia memutar bola matanya dan menunduk, menyejajarkannya matanya dengan mataku.

            “Kau mau aku lanjutkan atau tidak? Tapi sayangnya, apapun jawabanmu, aku bisa menjamin bahwa kita akan tetap berakhir di atas ranjang.”

***

            Aku membuka mataku perlahan saat sinar matahari yang menyilaukan menelusup masuk melewati pintu balkon yang tidak tertutup tirai. Aku menoleh ke samping dan mendapati wajah Kyuhyun yang masih terlelap, menepuk pipiku yang mendadak memerah mengingat kejadian tadi malam.

            Aku mencengkeram selimut yang menutupi tubuhku, setengah kelimpungan saat ingatan tentang apa yang kami lakukan beberapa jam yang lalu mengalir deras ke otakku. Sial! Itu bukan hal yang harus kau ingat-ingat terus, Na~ya! Tapi itu bukan kesalahanku, salahkan saja dia yang melakukan semuanya dengan terlalu ahli! Pasti Eunhyuk oppa sudah mengajarinya yang tidak-tidak!

            “Yak, bangun kau!” ujarku sambil mendorong bahunya dengan jari telunjukku. Aish, kalau bukan karena aku ingin mandi dan mengusirnya keluar dari kamar ini, aku tidak akan berani membangunkannya. Aku masih tidak tahu bagaimana cara menghadapinya setelah apa yang kami lakukan.

            Dia bergerak dan menggeliat sesaat sebelum membuka matanya, kemudian menatapku dengan mata menyipit.

            “Apa?”

            “Aku mau mandi. Eh… ng… bisakah kau keluar selagi aku mandi?” tanyaku salah tingkah. Darah membanjir deras ke wajahku dan aku tidak tahu lagi seberapa tidak karuannya wajahku sekarang.

            Dia menatapku dengan pandangan menilai dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.

            “Tidak mau. Kalau kau mau mandi ya mandi saja. Kau itu aneh sekali. Harus kuulang berapa kali lagi? Aku. Sudah. Melihat. Semuanya,” ujarnya sambil mengeja setiap kata dengan jelas.

            Aku melempar bantal ke kepalanya, berharap hal itu bisa membuatnya amnesia sesaat atau semacamnya, yang sudah pasti mustahil terjadi.

            “Hei, aku punya ide,” katanya tiba-tiba sambil menurunkan bantal yang menutupi wajahnya itu.

            Aku memandangnya dengan mata menyipit curiga. Sedetik kemudian, dengan gerakan cepat yang tidak terduga, dia sudah menggendong tubuhku yang masih tertutup selimut. Aku menjerit kaget dan menutup mataku secara refleks.

            “Aku sudah pakai celana, bodoh!”

            Aku membuka mataku lagi dan mulai memberontak dalam gendongannya.

            “Yak, apa-apaan kau? Turunkan aku!”

            “Baik.”

            Dia memang menurunkanku, kalau itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan tindakannya saat ini. Dia menceburkanku ke dalam bathtub yang berisi air, membuat air itu bercipratan kemana-mana. Aku menatapnya marah sambil berusaha membenarkan letak selimut yang sudah basah itu dan memercikkan air ke arahnya.

            “Kau semestinya tahu bahwa ada cara yang lebih singkat selain harus bergantian keluar kamar untuk mendapatkan giliran mandi.”

            “Yak yak yak, Cho Kyuhyun!” seruku saat tahu maksud pembicaraannya.

            “Kau tahu?” ujarnya sambil mengelus wajahku dengan jari telunjuknya, membuatku mendadak kehabisan nafas. “Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, kan?”

            Dia memajukan tubuhnya dan sedetik kemudian bibirnya sudah mendarat di bibirku, melumatnya pelan. Tangannya menyingkap selimut yang tadinya aku pertahankan mati-matian dengan mudah. Aku bisa merasakan tangannya yang menyentuh kulitku yang basah, membuatku sedikit mengerang, membiarkannya melakukan yang lebih jauh lagi.

Aish, jangan bilang dia akan menahanku seharian di kamar hanya untuk melakukan ini!

***

            Aku menatap cermin di depanku, bersusah payah menyelesaikan usahaku untuk mengepang rambutku agar tidak mengganggu saat kami berkeliling nanti. Aku nyaris putus asa karena kesulitan melakukannya saat akhirnya Kyuhyun mengambil rambut itu dari tanganku dan mulai menjalinnya dengan hati-hati. Setelah puas dengan hasilnya, dia menatapku lewat cermin dengan wajah mengejek.

            “Pekerjaan wanita apa sih yang bisa kau lakukan dengan benar? Bahkan untuk mengepang rambut saja aku masih harus membantumu.”

            “Ini karena rambutku sudah panjang!” ujarku membela diri.

            Tiba-tiba saja, tanpa peringatan apa-apa, dia menundukkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling bahuku. Dia meletakkan dagunya di pundakku sedangkan matanya menatap wajahku di cermin dengan senyum tersungging di wajahnya.

            “Kau tahu?” tanyanya dengan suara yang mendadak terdengar berat dan serak. “Eíste akóma pio ómorfi̱ apó ó, ti i̱ elli̱nikí̱ kapóni pou sas arései.” (Kau bahkan lebih cantik dari dewi-dewi Yunani yang kau sukai itu)

            “Mwo?” tanyaku dengan wajah bodoh. “Kau berbicara dengan bahasa apa barusan?”

            Dia terkekeh senang dan menepuk-nepuk kepalaku. Jelas sekali dia bahagia dengan ketidaktahuanku.

            “Itu bahasa Yunani, Na~ya. Masa kau tidak tahu?” ujarnya sambil berlalu pergi begitu saja.

            Setelah menikah kemarin lusa dia juga mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak kumengerti. Apa dia sengaja mempelajari beberapa kalimat dalam bahasa planet lain hanya untuk mengejekku?

***

KYUHYUN’S POV

 

            Kami mengunjungi kuil-kuil bersejarah Yunani yang dibangun untuk menghormati para dewa-dewi yang mereka sanjung itu. Beberapa kuil tampak mengalami kerusakan cukup parah sehingga harus dipugar, tapi banyak juga yang bisa kami masuki dan terbuka untuk umum.

            Oke, aku senang melihatnya tersenyum seperti itu, tapi bukan berarti aku bisa menahan emosi karena dia mengacuhkanku dan memilih menyumpal telinganya dengan I-Pod yang aku hadiahkan kemarin. Padahal ini satu-satunya momen dimana aku bisa berjalan dengan bebas di sampingnya tanpa disusahkan oleh berbagai macam alat penyamaran. Disini tempat dimana aku bisa memamerkannya ke semua orang, tanpa rasa takut bahwa akan terjadi sesuatu padanya. Dan coba lihat apa yang dia lakukan sekarang! Dia malah sibuk memotret dan malah melupakanku begitu saja.

            Aku menarik headset itu sampai terlepas dari telinganya, membuatnya menoleh ke arahku dengan tatapan bingung.

            “Kenapa dari tadi kau tidak mengacuhkanku?” tanyaku langsung. Wajahnya memerah seketika dan dia langsung memalingkan wajahnya lagi. Mau tidak mau tawaku menyembur keluar melihat reaksinya.

            “Yak, kau malu padaku? Hahaha. Kau ini benar-benar! Hahaha.”

            “Diam kau!”

***

HYE-NA’S POV

 

            Dia masih sibuk tertawa di sampingku sedangkan aku sudah menyerah untuk membungkam mulutnya, jadi aku mengacuhkannya saja.

            Aku tersenyum dalam hati saat menyadari bahwa kami memakai baju yang sama hari ini. Benar-benar sama. Aku memakai tank-top putih, kemeja putih, dan celana jins, sedangkan dia memakai kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku, celana jins, dan kaus singlet putih sebagai dalaman. Tadinya aku memakai baju ini karena ini satu-satunya baju yang terlihat manusiawi di mataku dibandingkan baju lain yang dipersiapkan Ah-Ra onnie, tapi ternyata Ah-Ra onnie juga menyiapkan baju yang sama untuk Kyuhyun.

            Aku melangkah menaiki tangga kuil Hephaestus ini, bersama dengan para turis lain yang menunjukkan ketertarikan yang sama. Tempat ini sangat asri karena dikelilingi taman bunga dan pepohonan rindang, berbeda dengan kuil-kuil yang diperuntukkan bagi dewa-dewi lain yang sudah kami kunjungi tadi, kuil ini terlihat sangat terawat.

            Aku memasuki bagian dalam kuil yang terdiri dari pilar-pilar tanpa dinding, membuat semua orang bisa melihat pemandangan di sekitar, termasuk perbukitan batu yang mengelilinginya. Sinar matahari menyelusup masuk dari balik pilar, memberikan kesan kuno dan misterius. Tempat yang sesuai bagi pemuja para dewa dewi.

            Tidak terlalu banyak turis yang datang siang ini, sehingga kami bisa bebas berkeliling. Aku memang kurang suka berada di tempat ramai, tidak tahu apa alasannya.

            Kami sampai di ujung kuil yang langsung terbuka ke pemandangan perbukitan di belakangnya. Aku menghentikan langkahku di depan pagar pembatas dan menghirup nafas dalam-dalam. Udaranya segar sekali. Ada suara burung-burung yang berkicau, seperti suasana pedesaan. Sinar matahari terasa menyilaukan, tapi tidak terlalu mengganggu. Yang mengganggu adalah kehadiran pria di sampingku ini. Bukan mengganggu dalam artian harafiah, walaupun mungkin juga bisa dikatakan begitu. Dia lebih menggangguku secara fisik dan mental. Namanya mengganggu kan jika ada seseorang yang merusak sistem kerja tubuhmu dengan terlalu mudah?

***

KYUHYUN’S POV

 

            Aku menatapnya yang sedang bersandar ke pagar pembatas, asyik menatap pemandangan di depannya. Dia tampak memukau dengan pakaiannya yang berwarna putih, warna kesukaannya. Pilihan warna yang tepat, karena itu hanya membuatnya semakin bersinar. Setidaknya di mataku.

            Aku tertegun lama saat sinar matahari menyirami wajahnya, membuat wajah itu terlihat berkilau. Dan entah karena dorongan apa, aku mencondongkan tubuhku ke arahnya, membiarkan tanganku menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya, dan menariknya mendekat ke arahku.

            “S ‘agapó̱ (Aku mencintaimu).” Kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Kata pertama yang aku ketahui dari bahasa Yunani.

            Dia tersenyum dan menatap tepat ke manik mataku, membuatku mendadak merasa salah tingkah.

            “Akhirnya kau mengucapkan sesuatu yang bisa aku mengerti.”

            Ah, jadi dia mengetahui arti kata itu? Tentu saja, itu kan kata yang paling umum yang akan diketahui oleh seseorang saat mempelajari suatu bahasa.

            “Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanyanya dengan raut wajah serius.

            Aku menarik tanganku dari wajahnya dan membenamkannya ke dalam saku celana jinsku. Aku mengangguk, bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin diketahuinya.

            “Aku sudah lama sekali ingin menanyakannya. Selain karena dijodohkan, apa alasanmu menikah denganku?”

            Aku mengernyitkan keningku. Kenapa aku menikah dengannya? Bukankah itu sudah jelas sekali?

            Aku mengulurkan tangan kananku dan menarik pinggangnya mendekat, secara naluriah memberikan sebuah kecupan singkat di bibirnya.

            “Pria menikahi apa yang dibutuhkannya. Aku menikahimu.”

***

KYUHYUN’S POV

 

            Sore ini kami terdampar di area kolam renang hotel lagi, menatap pemandangan yang sama dengan siang kemarin. Anehnya tempat ini sepi sekali. Tapi jumlah turis yang menginap disini memang sedikit. Yunani memang sangat terkenal dengan cuaca ekstrimnya pada musim panas seperti ini. Mungkin karena itu kebanyakan turis lebih memilih berlibur ke tempat-tempat beriklim tropis.

            Aku meliriknya yang sedang menatap pemandangan pantai dari arah samping. Jalinan rambutnya sudah berantakan karena tiupan angin, tapi itu malah membuatnya semakin mempesona. Terlihat seperti dewi-dewi Yunani yang disukainya itu, ditambah lagi dengan gaun putihnya yang membuatnya terlihat anggun. Terkadang aku masih tidak percaya bahwa gadis ini telah menjadi milikku. Banyak hal yang kupikirkan setiap kali menatapnya. Hal-hal menyenangkan, karena aku menyukai objek yang aku tatap.

            “Kenapa kau menatapku seperti itu?” ujarnya tiba-tiba sambil mengalihkan pandangannya ke arahku.

            Aku menarik nafas pelan dan menggeleng, melangkahkan kakiku mendekatinya dan melingkarkan tanganku di sekeliling bahunya, memeluknya dari belakang.

            “Yak….”

            “Saranghae,” potongku sebelum dia mulai protes dan merusak suasana indah ini. Itu kehebatannya, menjadi perusak suasana.

            Aku menunduk dan membenamkan wajahku di rambutnya, menghirup bau favoritku. Dia diam saja, tidak mendorongku seperti yang biasanya akan dia lakukan, tapi malah mengangkat tangannya dan menyentuh tanganku yang masih melingkar di bahunya.

            “Nado,” ujarnya dengan suara pelan, tapi sukses membuat jantungku berdetak gila-gilaan.

            Aku membalik tubuhnya agar mataku bisa lebih leluasa menatap wajahnya. Aku mengulurkan tanganku, merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan. Sedetik aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, tapi aku mengurungkannya dan mengatupkan mulutku lagi.

            “Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanyanya heran.

            Aku mendesah dan menggeleng.

            Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tentang hidupku selama kau tak ada. Tentang bagaimana aku bertahan bangun di pagi hari dengan harapan semu bahwa mungkin saja hari itu aku akan bertemu denganmu dan berangkat tidur lagi di malam hari dengan kekecewaan yang sangat karena kau tidak muncul di hadapanku.

            Begitu banyak yang ingin aku katakan. Betapa bahagianya saat kau kembali ke dalam kehidupanku, perasaan yang ingin sekali meledak keluar saat akhirnya aku bisa memilikimu selamanya sebagai istriku. Bahwa aku, adalah pemilikmu yang sah dan memiliki hak penuh untuk melarangmu melirik namja lain selain aku.

            Aku, yang selalu menampakkan wajah dingin dan tidak peduli terhadapmu, tanpa berkata apa-apa sudah merancang masa depan untuk kita berdua. Bagaimana kau dan aku akan hidup kelak, bagaimana kita akan merawat anak cucu kita, bagaimana kita akan menghabiskan masa depan yang akan menjelang bersama. Aku ingin cucu kita nanti mendeskripsikan cinta sebagai kita. Aku ingin mereka berkata, “Saat nenekku mengalami radang sendi, dia tidak bisa membungkuk dan memotong kuku jari kakinya lagi, jadi kakekku akan melakukan hal itu untuknya setiap saat, walau pinggang kakekku akhirnya menjadi sakit juga.” Hanya hal sederhana Na~ya, tapi aku sangat ingin melakukannya untukmu. Aku akan memastikan kisah ini akan menjadi dongeng yang paling indah untuk anak cucu kita nanti. Cho Kyuhyun yang tampan dan Cho Hye-Na yang menawan. Adakah yang lebih baik dari itu? ^^

            Ada banyak hal yang tidak bisa kukatakan sekarang dengan terus terang. Mungkin saja kau akan menertawakanku dan menganggapku norak atau gombal seperti Hae hyung. Jadi lebih baik aku diam saja, memelototi dan meneriakimu seperti biasa. Tapi nanti Na~ya, saat kita sudah sedikit lebih dewasa dan menyingkirkan gengsi dan ego kita masing-masing, aku akan memberitahukan semuanya padamu. Saat dimana aku yakin bahwa kau tidak akan menertawakanku dan akan menanggapi dengan serius apa yang aku ucapkan. Aku ingin memberitahumu betapa bahagianya aku saat kau setuju menikah denganku dan lebih bahagia lagi saat mengetahui bahwa bertahun-tahun kemudian aku masih merasakan hal yang sama. Aku ingin memberitahumu perasaanku saat melihatmu tersenyum, saat kau tertidur, saat-saat dimana kau berada dalam jarak pandangku. Aku ingin memberitahumu bahwa aku menikahimu bukan karena terpaksa, atau karena kita dijodohkan, tapi karena sejak awal, aku memang sudah memilihmu sebagai pemilik masa lalu, masa sekarang, sekaligus masa depanku. Memilihmu sebagai wanita yang akan melahirkan anak-anakku. Wanita yang akan menemaniku melewati ribuan hari yang akan datang, wanita yang akan kurawat saat sakit, dan wanita yang akan membuatku jatuh cinta setiap harinya. Wanita yang akan menua bersamaku.

            Kau, Cho Hye-Na ssi, wanita yang pernah dan akan terus aku cintai seumur hidupku.

 

TBC

 

 

YUHUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!! 50 halaman pas! Pada bosen pasti bacanya. Aku nggak tahu ya ini amburadul apa nggak. Kali ini aku mau menghargai jerih payahku sendiri karena bisa menyelesaikan ff sepanjang ini. Hahaha.

Great, ini mungkin part paling menjijikkan dan menjual romantisme dari semua part NBY yang lain. Part selanjutnya aku nggak tau kapan dan please jangan desak-desak aku buat bikin part selanjutnya secepat mungkin. Aku udah nggak punya ide lagi.

Ehm, kali ini aku boleh jadi author yang egois nggak? Please please, komennya panjangan dikit. Hargai usaha aku nyelesaiin nih ff dalam waktu berhari-hari. Kadang-kadang rada down juga pas aku udah capek nyari ide, nulis panjang-panjang, dan komennya cuma ‘Bagus thor, lanjut.’ Aku juga perlu kritik dan saran supaya aku bisa ngehasilin ff yang lebih bagus lagi.

Dan… oke, jiahahaha, aku udah tua!!!!!!! 20!!!! Aigoo, padahal aku masih mau jadi remaja. *PLAK!* But that sounds great, aku ada di umur yang sama dengan Kyuhyun. 20an. Hohoho.

Ah udah d, aku kebanyakan bacot. Mohon komennya, ya! *bow*