WARNING: Mending tutup nih postingan kalo kalian ngarep baca ff bagus. Yang ada kalian ntar malah kecewa berat. Jadi aku peringatin aja dari sekarang. Hahaha.

 

 

JINO’S POV

 

            “Oppa, ini bekal untukmu!!!”

            Aku menolehkan kepalaku ke samping secara refleks saat mendengar suara itu. Kalimat itu lebih tepatnya. Dan langsung mencelos saat menyadari bahwa itu bukan suaranya. Bodoh, mana mungkin dia muncul disini.

            Aku membiarkan mataku menatap nanar pemandangan di meja di sampingku. Seorang gadis yang sedang tersenyum pada prianya sambil menyodorkan kotak bekal makan siang yang dimasaknya sendiri. Ucapan terima kasih si pria dan pujian tulus tentang betapa enaknya makanan itu.

            “Oppa, lihat, hari ini aku memasakkan kimbap untukmu. Ayo dihabiskan!”

            “Astaga Young~a, kapan kau akan bisa memasak dengan benar? Ckckck. Lebih baik aku membeli makan siang di kantin saja.”

            “Jinjjayo? Tidak enak lagi? Baiklah, besok aku akan membuatkan bekal untukmu lagi dan berusaha memasak dengan benar. Aku tidak akan berhenti sampai kau mengatakan bahwa masakanku enak. Aigoo, aku harus bertanya pada eomma bagaimana cara memasak kimbap yang benar.”

            Aku tersenyum miris mengingat hal itu. Gadis itu, Han Young-In, tetangga sebelah rumahku. Gadis yang selalu mengikutiku kemana-mana setiap saat. Gadis yang tak henti-hentinya tersenyum padaku seperti apapun aku memperlakukannya. Gadis yang bangun jam 4 pagi setiap harinya hanya untuk memasakkan bekal makanan untukku, padahal aku tidak pernah mengucapkan terima kasih padanya dan selalu mengejek bahwa masakannya tidak enak dan memilih membeli makanan sendiri di kantin. Tapi dia tetap saja tidak pernah menunjukkan wajah kesal, cemberut, ataupun marahnya di depanku. Gadis yang rela tidur larut malam hanya karena ingin menemaniku belajar untuk kelulusan.

            “Oppa, aku akan menemanimu belajar seminggu ke depan. Aku tahu kau mudah tidur jika kau hanya belajar sendirian, jadi aku akan menemanimu. Hwaiting!”

            Rumah kami bersebelahan dan balkon kamar kami hanya berjarak 2 meter. Ada batang pohon besar yang menjadi jembatan penghubung dan biasanya dia suka sekali muncul di kamarku dengan menyeberang menggunakan pohon itu hanya untuk merecokiku dengan hal-hal tidak penting.

            “Oppa, aku menyukaimu! Ayo kita pacaran!”

            Itu adalah kalimat wajib yang akan diucapkannya sekali sehari setiap ada kesempatan dan aku hanya menanggapinya dengan cara mengacak-acak rambutnya dan kalau itu terjadi, barulah dia akan menggembungkan pipinya dengan mata melotot, satu-satunya ekspresinya yang terlihat manusiawi di mataku. Karena dia selalu saja tersenyum, tidak peduli apapun yang terjadi. Makanya aku selalu menunggu saat-saat dia mengungkapkan perasaannya, menunggu momen dimana ekspresi itu akan muncul dan membuatku terpesona dengan wajahnya yang terlihat sangat manis.

            Bukan berarti aku tidak menyukai setiap kali dia tersenyum. Senyumnya nyaris membutakan di mataku. Hanya saja, senyum itu diperlihatkannya kepada semua orang tanpa terkecuali. Satu-satunya ekspresi yang hanya aku saja yang bisa melihatnya hanyalah saat aku mengacak-acak rambutnya, tidak menanggapi pengakuan cintanya padaku. Karena itu hal tersebut terasa lebih istimewa.

            “Oppa, aku akan melanjutkan sekolahku ke Jepang. Kenapa kau tidak pernah mau menjawab pernyataan cintaku? Kenapa kau suka sekali membiarkan semuanya tidak pasti seperti ini? Tidak bisakah kau menahanku disini? Aku pasti tidak akan pergi kalau kau mencegahku. Tidak bisakah, sekali saja, kau menganggapku sebagai seorang gadis? Aku bukan dongsaengmu, oppa!”

            Dan aku malah tersenyum, mengatakan bahwa akan lebih baik baginya pergi ke Jepang dan melanjutkan sekolahnya disana. Aku masih ingat dengan jelas, sangat jelas, saat untuk pertama kalinya dia meneteskan air matanya di hadapanku dan berlari pergi. Itu terakhir kalinya aku melihat wajahnya dan dalam kenangan yang sangat buruk.

            Saat itu, berpisah hanyalah satu-satunya pilihan yang bisa kuambil. Aku sudah menginjak bangku kuliah dan memutuskan untuk menjadi trainee SM, memulai pelatihan berat menjadi seorang penyanyi. Jika aku memaksanya tinggal, itu hanya akan menyakitinya saja. Akan ada banyak waktu berat dimana aku tidak bisa menemuinya, kesibukan yang akan mengikat semua waktu yang aku miliki. Apalagi aku dengar seorang idola sebaiknya tidak memiliki kekasih. Bukankah lebih baik ditinggalkan daripada diabaikan?

            Bukannya aku tidak menyukai kehadirannya di sampingku. Itu lebih seperti sebuah kebiasaan yang tidak bisa kuhentikan seumur hidup. Dan sekarang, dua tahun terakhir, saat dia tidak lagi muncul di hadapanku, itu terasa seperti neraka yang kubuat dalam duniaku sendiri.

            “Oppa, kau tahu? Aku sudah memutuskan bahwa aku akan menikah denganmu saat aku sudah cukup umur nanti!”

            “Kalau aku tidak mau menikahimu?”

            “Aku akan terus mengikutimu kemanapun kau pergi sampai akhirnya kau bosan dan mengatakan iya padaku.”

            Young-In~ah, ini kan yang kau inginkan? Berkeliaran setiap detik di otakku? Hebat, kau berhasil!

***

 

YOUNG-IN’S POV

 

            “Semua barangmu sudah siap?”

            Aku mengangguk, menatap syal berwarna hitan di tanganku. Aku baru menemukannya lagi saat sedang mengepak barang-barangku.

            “Bodoh, kau kan tahu sekarang salju sedang turun, kenapa tidak membawa syalmu, hah? Ini. Pakai saja punyaku.”

            “Gomaweoyo, oppa. Hei, bagaimana kalau saat ulang tahunku nanti kau membelikanku syal warna putih? Warna kesukaanmu putih dan hitam, kan? Jadi kita serasi.”

            “Memangnya siapa yang mau membelikan hadiah untukmu?”

            Aku tertawa kecil mengingat kejadian itu. Sayang sekali, ulang tahunku pada tahun itu harus kuhabiskan sendirian di Jepang.

            17 tahun hidupku kuhabiskan untuknya. Mengikutinya kemana-mana. Bahkan ibuku bilang sejak bisa merangkak pun aku sudah sangat ketergantungan pada Jino oppa, selalu mengikutinya kemana pun dia pergi. Dan hal itu berlanjut selama belasan tahun berikutnya.      Bukannya tidak ada pria lain di sekelilingku, hanya aku saja yang tidak tertarik pada mereka. Aku hanya ingin Jino oppa-ku, pria dalam 17 tahun kehidupanku. Dan aku harap, aku bisa menambah rekor itu selama puluhan tahun ke depan. Bukankah keren jika kau bisa menghabiskan seluruh hidupmu, dari lahir sampai kemudian akhirnya kau meninggal hanya dengan satu orang saja?

            Aku masih tetap memandangi syal itu dengan mata yang sudah mulai basah. Cho Jinho juga yang sudah membuatku menderita selama 17 tahun kehidupanku. Aku sudah merendahkan harga diriku dengan mengungkapkan perasaanku padanya setiap hari, tapi dia tetap saja menganggap bahwa aku hanya bercanda saja, tidak pernah mau menanggapiku dengan serius. Apa karena sifatku yang terlalu kekanak-kanakan? Apa karena aku tidak cantik? Apa karena aku tidak bisa memasak? Atau karena dia sudah bosan melihatku setiap hari?

            “Kau itu masih kecil. Mana mungkin aku pacaran dengan adikku sendiri!”

            Dia bahkan tidak melarangku pergi ke Jepang. Dan aku tetap saja dengan bodohnya berpikir positif tentang keputusannya itu. Dia tidak ingin memiliki batu ganjalan saat akhirnya dia bisa merintis karir sebagai penyanyi terkenal.

            2 tahun aku tidak melihatnya, tidak mendengar suaranya. Seperti apa dia sekarang?

            Ah, pertanyaan bodoh, Young! Dia terkenal, tampan, memiliki suara indah, dan sudah punya banyak penggemar. Apa lagi yang kau harapkan?

            Aku memperbaiki diriku habis-habisan disini. Mulai belajar berdandan, mengubah cara berpakaianku menjadi lebih dewasa, belajar memasak. Itu semua untuknya. Tapi apa hal itu berguna? Apa dia akan mengacuhkanku lagi seperti biasa?

            Hanya satu kesempatan lagi. Kalau dia tetap tidak menghiraukanku, aku benar-benar akan menyerah.

***

JINO’S POV

 

            “Dia akan kembali ke Korea besok lusa.”

            Perkataan eomma kemarin terngiang lagi di benakku. Gadis itu kembali ke Korea. Setelah dua tahun dia menghilang tanpa kabar, sekarang dengan seenaknya dia kembali lagi ke Korea. Semudah itukah?

            “Kenapa kau?” tanya Kyuhyun hyung sambil menyenggol bahuku. Kami sedang menunggu giliran tampil setengah jam lagi dan memilih duduk di ruang ganti.

            Aku menimbang-nimbang sesaat dan menoleh ke arahnya.

            “Hyung, Hye-Na nuna meninggalkanmu selama lima tahun, kan?”

            “Lalu?” tanyanya dengan mata menyipit curiga.

            “Apa kau marah padanya karena dia tidak memberimu kabar? Saat dia kembali apa yang kau lakukan?”

            “Menikahinya,” jawabnya enteng.

            “Hyung, aku serius!!!”

            “Aku juga serius. Aku memang langsung menikahinya, kan?”

            Tapi mana mungkin aku menikahi gadis itu!

            “Memangnya kenapa? Apa kau sedang menunggu seseorang? Dan sekarang dia akan kembali kesini?”

            Aku mengangguk lesu.

            “Yak, kau ini bodoh sekali! Seharusnya kau itu senang, Jino~ya! Dan jangan habiskan waktumu untuk memarahinya. Apapun bisa terjadi dalam waktu singkat. Bagaimana kalau dia jatuh cinta pada pria lain dan meninggalkanmu? Kau harus mengikatnya kuat-kuat di sampingmu.”

            Aku melongo mendengar nasihat yang keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun yang terkenal ini. Mengikat gadis itu kuat-kuat di sampingku?

            “Nasihat macam apa itu, hyung? Kau pikir gadisku itu anjing?”

***

Aku memakai penyamaran lengkapku siang ini. Kemarin lusa aku berkeliaran di mall tanpa memakai kacamata hitam, topi, ataupun masker karena aku berpikir bahwa tidak akan ada yang mengenaliku, dan ternyata aku harus olahraga lari untuk menghindari kerumunan gadis-gadis yang mengejarku tanpa lelah. Lebih baik aku tidak mengambil resiko yang sama siang ini.

            Apa yang harus aku belikan untuknya? Besok dia pulang dan lusa adalah ulang tahunnya. Aku ingin memberikannya sesuatu. Tapi aku tidak punya bayangan tentang benda apa yang harus aku belikan untuknya.

            Aku menyipitkan mataku agar bisa melihat dengan lebih jelas saat melihat gadis yang kukenal melintas di depanku.

            “Hye-Na nuna?”

            Dia berbalik dan menatapku dengan kening berkerut.

            “Jino?” ucapnya tak yakin karena sebagian wajahku tertutup topi dan kacamata hitam.

            “Ne. Nuna  sedang apa?”

            “Hanya jalan-jalan saja. Kau sendiri?”

            “Mau membeli sesuatu. Nuna tidak bersama hyung?”

            “Ani. Dia sedang ada janji dengan seseorang.”

            “Ah, bagaimana kalau nuna membantuku? Dari tadi aku berkeliling tapi aku tidak mendapatkan apa yang kucari,” tawarku. Lebih baik berdua, daripada aku harus berkeliaran tanpa tujuan sendirian. Setidaknya Hye-Na nuna itu wanita, jadi dia pasti tahu apa hadiah yang tepat.

            “Memangnya kau mencari apa?”

            “Molla.”

            “Tidak tahu?”

            “Aku mau mengutarakan perasaan pada seorang yeoja, nuna. Menurutmu aku harus memberi apa?”

            “Ah, begitu? Kau bertanya pada orang yang salah, Jino~a. Aku tidak tahu apa-apa mengenai barang-barang yeoja.”

            Hatiku mencelos mendengar ucapannya. Ternyata benar cerita yang kudengar dari sunbae-sunbaeku. Istri Kyuhyun hyung ini benar-benar bukan yeoja normal.

            “Gomaweoyo, oppa. Hei, bagaimana kalau saat ulang tahunku nanti kau membelikanku syal warna putih? Warna kesukaanmu putih dan hitam, kan? Jadi kita serasi.”

            Tiba-tiba ucapannya waktu itu berputar ulang di kepalaku. Ah, waktu itu aku tidak sempat membelikannya syal itu karena dia pindah ke Jepang dan kami putus hubungan.

            “Gwaenchana, nuna. Mungkin aku akan memberinya syal saja. Sekarang sudah musim dingin. Kalau ini, nuna bisa membantuku, kan?” ucapku akhirnya.

            “Ne. Kajja!”

***

            “Kau mau membeli syal warna apa?”

            “Putih polos.”

            “Ah, warna kesukaan gadismu sama denganku. Sudah berapa lama kalian pacaran?”

            Aku tertegun sesaat dan tersenyum salah tingkah.

            “Ani, nuna. Aku baru akan mengutarakan perasaanku padanya.”

            “Ah iya, aku lupa. Kau sudah mengatakannya tadi. Mian. Kalau begitu sudah berapa lama kau mengenalnya?”

            “Seumur hidupku.”

            Hye-Na nuna menoleh ke arahku dan terkekeh geli.

            “Sahabatmu sejak kecil, eh? Sepertiku dengan Kyuhyun?”

            “Tidak juga. Gadis itu setiap hari mengatakan kepadaku bahwa dia mencintaiku, tapi aku selalu mengacuhkannya. Dan tiba-tiba saja dia kabur ke Jepang. Kalau nuna aku yakin tidak seperti itu, kan?”

            “Seperti apa?”

            “Mengucapkan cinta setiap hari pada Kyuhyun hyung.”

            Dia menjulurkan lidahnya keluar seolah akan muntah.

            “Mana mungkin! Itu mustahil!”

            Aku tertawa dan mengangguk. “Aku tahu,” jawabku santai.

            “Lalu kenapa kau mengacuhkannya? Kau menyukainya, kan?”

            “Mmm. Waktu itu dia menyuruhku menahannya disini, tapi aku malah menyuruhnya pergi ke Jepang. Aku sudah diterima menjadi trainee SM nuna, aku tidak mau jika dia tetap disini dan menggantungkan banyak harapan padaku, aku malah mengecewakannya.”

            “Jino~ya, sebagian gadis lebih memilih diabaikan daripada kau menyuruhnya pergi dan menutup kemungkinan kalian akan bisa bersama. Setidaknya, jika hanya diabaikan, masih ada kesempatan untuk kembali.”

            Aku terdiam mendengar ucapannya. Benarkah begitu?

            “Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Sekarang dia sudah kembali, kau harus menggunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan sampai dia kabur lagi, arasseo?”

            Aku mengangguk dan mengambil sehelai syal putih di rak.

            “Yang ini bagaimana?” ujarku, menanyakan pendapatnya.

            “Bagus. Ambil yang itu saja.”

            Hye-Na nuna menunduk dan mengeluarkan HP-nya yang berdering dari dalam saku jinsnya. Melihat dari ekspresi kesalnya, sepertinya yang menelepon adalah Kyuhyun hyung. Pasti mereka bertengkar lagi.

            “Dosenku tidak datang, jadi aku pergi berjalan-jalan ke mall. Tidak sengaja bertemu dengan Jino, jadi aku bersamanya sekarang,” jawab Hye-Na nuna ketus kepada si penelepon. Benar dugaanku, siapa lagi yang menelepon kalau bukan hyungku itu.

            “Mwo? Tidak usah. Aku masih belum mau pulang. Aish, kau menyebalkan!”

            Aku tertawa setelah Hye-Na nuna mematikan teleponnya dan menatapku dengan wajah cemberut.

            “Jino~ya, aku harus pergi. Selamat berjuang mendapatkan cintamu! Dan perlakukan gadismu itu baik-baik, jangan seperti hyungmu itu.”

            “Bukankah Kyuhyun hyung memperlakukanmu dengan sangat baik, nuna?”

            “He? Kalau berteriak-teriak dan mencaci-maki itu adalah perlakuan yang baik, berarti kau benar. Dia memperlakukanku dengan sangat baik!”

            Aku tertawa keras, mendadak teringat ucapan Kyuhyun hyung tentang mengikat gadisku kuat-kuat di sampingku. Berarti memang seperti itu caranya memperlakukan orang yang disukainya. Dan Hye-Na nuna, yang walaupun selalu mengeluh tentang namja itu, tahu dengan pasti bahwa memang seperti itulah cara Kyuhyun hyung mengungkapkan perasaannya.

            “Ya sudah, aku pergi dulu. Annyeong!” pamit Hye-na nuna sambil melambaikan tangannya.

            “Nuna,” panggilku, membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan tatapan heran.

            “Hyung bilang, dia sangat senang bisa menikah denganmu.”

            Hye-Na  nuna mengerutkan keningnya dan akhirnya mengangguk.

            “Aku juga bahagia bisa menjadi istrinya,” ujarnya sambil tersneyum lebar.

            Dan… Youngie~a, aku juga ingin kau mengatakan hal yang sama nanti pada orang-orang di sekelilingmu bahwa kau bahagia bersamaku, karena aku juga sangat senang bisa menghabiskan seluruh hidupku bersamamu.

***

YOUNG-IN’S POV

 

It’s easy to understand love at first sight, but how do we explain love after two people have been looking at each other for years?

Sangat mudah memahami cinta pada pandangan pertama, tapi bagaimana cara menjelaskan cinta yang terjadi pada dua orang yang sudah saling menatap satu sama lain selama bertahun-tahun?

 

            Aku menyeret koperku melewati kerumunan orang-orang di sekelilingku dengan detak jantung yang tidak beraturan. Eomma bilang Jino oppa-lah yang akan menjemputku siang ini. Bagaimana mungkin aku langsung bertemu dengannya padahal saat itu kami berpisah dengan cara yang kurang menyenangkan? Aku masih ingat bagaimana aku tidak bisa mengontrol air mataku yang jatuh di depannya dan berlari pergi saat dia menolak untuk menahanku tetap di Korea. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku tidak bisa lagi memasang senyum yang selalu kuperlihatkan padanya selama ini.

            Aku menahan nafasku, menghambat oksigen yang tiba-tiba terasa menyesakkan paru-paruku saat melihat dia berdiri beberapa meter di depanku. Tidak peduli dia memakai masker, kacamata hitam, dan sebagainya, aku tetap akan mengenalinya.

            Dia tidak berubah, walaupun tubuhnya terlihat jauh lebih kurus daripada saat terakhir kali kami bertemu. Menurutku dia tetap Jino oppaku dengan senyumnya yang mempesona.

            “Annyeong, oppa,” sapaku dengan suara serak.

            Dia mengambil koper dari tanganku tanpa membalas ucapanku sama sekali.

            “Kajja,” ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.

            Apa dia membenciku? Tidak suka dengan kepulanganku ke Korea? Tidak bisakah dia mengomentari penampilanku yang sudah berubah banyak? Kenapa sikapnya dingin sekali?

            Aku merasakan detak jantungku kembali normal. Tapi kali ini diiringi dengan rasa sakit yang munusuk-nusuk, membuatku berharap detakannya lebih baik berhenti saja.

***

Jeone aldeon naega anya brand new sound

Saerowojin nawa hamkke one more round

Dance dance dance till we run this town.

Oppa oppa I’ll be I’ll be down down down

(Ini bukanlah aku yang kau kenal dulu

Bersama dengan diriku yang sekarang

Kau akan keliru saat ini

Oppa, aku akan jatuh)

Oppa najombwa nareul jom barabwa

Cheoeumiya ireon nae maltu

Meorido hago hwajangdo haetneunde

Wae neoman neoman moreuni

Oppa, lihat aku, tolong tatap aku sedikit saja

Bagiku, gaya berbicara seperti ini adalah yang pertama kalinya

Aku menghias rambutku dan juga memakai make up

Tapi kenapa kau, kau, satu-satunya orang yang tidak menyadarinya?)

Dugeun dugeun gaseumi tteollyeowayo

Jakkujakku sangsangman haneungeoryo

Eotteoke hana kotdaenopdeon naega

Marhagosipeo

Berdegup kencang, jantungku mulai berdebar

Lagi dan lagi, tidak bisa berhenti mengkhayal

Apa yang harus kulakukan dengan kepalaku yang memegang peranan besar?

Aku ingin mengatakan ini padamu)

Oh Oh Oh o ppareul saranghae

Ah Ah Ah a mani manihae

Sujubeuni jebal utjimayo

Jinsimini nollijido marayo

Tto babogateun malppunya –

(Oppa, aku mencintaimu

Sangat sangat mencintaimu

Aku malu, jadi tolong jangan tertawa

Ini yang sebenarnya, jadi aku mohon jangan mengejekku

Lagi, ini hanya kata-kata bodoh)

Oppa jamkkanman jamkkanman deureobwa

Sujupdan yaegineun malgo

Dongsaengeuroman saenggakhajin mara

Inyeon dwien huhoehal geol

(Oppa, sesaat, sesaat saja, dengarkan aku

Jangan katakana hal-hal yang terus menerus kau ucapkan

Berhentilah berpikir bahwa aku ini adikmu

Setahun saja berlalu, aku pikir kau pasti akan menyesalinya)

Molla molla naemameul jeonhyeomolla

Nunchieopsi jangnanman chineungeoryo

Eotteoke hana i cheoreopneun sarama

Deureobwa jeongmal

(Kau tidak tahu, tidak tahu, kau tidak punya bayangan tentang perasaanku

Dengan ceroboh, kau malah bercanda

Apa yang harus kulakukan dengan orang yang jarang berpikir sepertimu?

Dengarkan aku, sedikit saja)

Oh Oh Oh o ppareul saranghae

Ah Ah Ah a mani manihae

Sujubeuni jebal utjimayo

Jinsimini nollijido marayo

Tto geureomyeon na uljido molla

(Oppa, aku mencintaimu

Sangat sangat mencintaimu

Aku malu, jadi tolong jangan tertawa

Ini yang sebenarnya, jadi aku mohon jangan mengejekku

Jika kau melakukannya lagi, mungkin aku akan menangis)

Jeone aldeon naega anya brand you style

Mwonga dareun oneulmaneun tteugeoun nal

Down down ireojima hwaman na

Oppa oppa idaeroneun no no no no

(Ini bukanlah aku yang kau kenal dulu

Hanya dengan cara ini segalanya akan menjadi berbeda, ini adalah hati yang memanas

Jangan seperti ini atau aku akan menggila

Oppa, aku mohon jangan seperti ini)

 

(SNSD – Oh!)

***

JINO’S POV

 

As long as the world is round, chances are we’ll cross the same path one day. When the time

comes our eyes meet, right then. I’ll know you’re the one I’ve been looking for all my life.

Selama dunia masih berputar, akan ada kesempatan dimana kita akan melintasi jalan yang sama suatu hari nanti. Saat momen itu datang dan tatapan kita saling bertemu satu sama lain, detik itu juga aku akan tahu bahwa kaulah orang yang kucari seumur hidupku.

 

            Aku melihatnya dari kejauhan. Gadis itu. Han Young-In. dia berjalan sambil menunduk, sehingga aku bebas untuk mengamatinya sesukaku.

            Penampilannya sudah sangat berubah. Terlihat lebih dewasa. Dia bahkan sudah memakai make-up sekarang. Rambutnya juga terlihat lebih terawat. Tapi entah kenapa aku malah merindukan penampilannya dulu yang terlihat lebih sederhana. Lebih alami.

“Annyeong, oppa,” sapanya dengan suara sedikit serak

Mendadak aku kehilangan kemampuan berbicaraku di depannya. Bukannya membalas sapaannya, aku malah mengambil koper dari tangannya dan berjalan duluan. Astaga, Cho Jinho, kau benar-benar bodoh!

***

YOUNG-IN’S POV

 

            “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya tiba-tiba, membuatku menoleh ke arahnya. Tatapannya tetap terfokus ke jalan, seolah pertanyaan itu hanya basa-basi saja.

            “Baik. Oppa bagaimana?”

            “Buruk.”

            “Ne?”

            “Tidak perlu kau urusi. Apa besok kau sudah mulai kuliah?”

            Aku mengerutkan keningku tapi tetap mengangguk.

            “Dengan penampilan seperti itu, kau bisa menarik perhatian banyak namja, kan?”

            “Apa maksud, oppa?”

            Dia menghentikan mobilnya di depan rumahku dan mematikan mesinnya. Dengan gerakan cepat dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, membuat detak jantungku langsung berantakan dengan suksesnya. Secara refleks aku memundurkan tubuhku ke pintu mobil untuk menyelamatkanku dari kemungkinan pingsan di tempat karena wajahnya yang terlalu dekat.

            “Penampilanmu berubah. Apa hatimu juga?”

            “Hah?” tanyaku dengan mulut menganga.

            Dia menjauhkan tubuhnya dariku dan kembali menghidupkan mesin mobil.

            “Turunlah. Malam ini aku ada konser, aku harus berangkat sekarang.”

            Aku menurunkan koperku dan mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

            Apa maksudnya dengan hatiku yang berubah?

***

            Hari kedua aku kembali ke rumah dan sejak mengantarku pulang kemarin, dia tidak pernah terlihat lagi. Apa jadwalnya sebegitu padatnya?

            Aku baru akan mematikan lampu saat mendengar ketukan di pintu balkonku. Mataku membelalak lebar saat melihat siapa yang datang.

            “Oppa?” seruku syok. Ini pertama kalinya dia memanfaatkan pohon yang tumbuh di antara balkon kamar kami dan hal itu benar-benar nyaris membuatku terkena serangan jantung.

            “Saengil chukhahae,” ucapnya sambil tersenyum manis. Hari ini memang ulang tahunku dan aku sempat berpikir dia sudah melupakannya karena dia tidak muncul sama sekali seharian ini.

            Aku menyentuh rambutku, kebiasaan saat aku salah tingkah, dan balas tersenyum padanya.

            “Gomaweo, oppa.”

            Dia memberi tanda agar aku mendekat dan mengulurkan tangannya yang sejak tadi tersembunyi di belakang punggung. Dia mengalungkan syal berwarna putih di leherku dan melilitkannya, sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa melongo menatap kelakuan anehnya sejak kemarin.

            “Mianhae, aku baru bisa memberikan syal ini untukmu sekarang.”

            Jadi dia masih ingat dengan keinginanku waktu itu? Benarkah? Astaga, kenapa dia jadi aneh begini?

            “Selamat tidur, Youngie~a,” bisiknya pelan sambil menepuk-nepuk kepalaku dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.

            Kalau dia seperti ini, bolehkah aku berharap bahwa setidaknya dia menyukaiku?

***

JINO’S POV

 

            “Kau kenal dengan mahasiswi baru bernama Han Young-In? Aku dengar dia sangat terkenal sekarang. Banyak namja yang berlomba mendekatinya.”

            Aku mengalihkan tatapanku dari buku yang sedang kubaca dan menoleh ke arah Sang-Bum, teman sekelasku.

            “Dia tetanggaku.”

            Banyak yang menyukainya, hah? Lalu apa aku harus ikut berlomba mendapatkan hatinya seperti mereka? Apa jika aku melakukannya dia akan menerima perasaanku? Atau malah dia sudah melupakanku?

            “Min Ki-Jong, kau tahu dia? Playboy terkenal di kampus kita. Dia baru saja mengajak Young-In kencan terang-terangan di kantin tadi. Dan kau tahu kan kalau dia tidak menerima penolakan? Aku takut tetanggamu itu kenapa-napa. Imej Ki-Jong tidak baik, kau tahu?”

            Tanpa sadar aku mencengkeram kuat buku yang sedang berada dalam genggamanku sehingga buku-buku jariku memutih.

            “Yak, kau tidak apa-apa?”

            “Tidak,” jawabku dengan gigi menggertak. Awas saja kalau dia memperlakukan Young-In dengan buruk!

***

            “Kau sedang tidak enak badan?” tanya Jonghyun hyung setelah kami selesai melakukan siaran radio.

            “Ani hyung, aku baik-baik saja.”

            “Wajahmu pucat,” sambung Kyuhyun hyung. “Lebih baik kau pulang saja.”

            Aku mengangguk mengiyakan dan berjalan menuju mobilku, meninggalkan mereka berdua. Kenapa perasaanku tidak enak malam ini? Apa Young-In baik-baik saja?

***

            Aku mengerem mobilku mendadak saat melihat Young-In berjongkok di depan pintu pagar rumahku. Aku mematikan mesin mobil dan bergegas turun untuk mengecek keadaannya.

            “Youngie~a, gwaenchana?” tanyaku cemas.

            “Oppa!!!” serunya sambil terisak. Dia memegangi bagian depan gaunnya yang sepertinya robek. Aku bahkan bisa melihat sudut bibirnya yang terluka. Sial. Apa yang dilakukan pria brengsek itu padanya?

            Aku melepaskan jasku dan menutupi tubuhnya, menariknya hingga berdiri.

            “Eomma sedang ke Busan, malam ini kau tidur di rumahku saja. Nanti biar aku yang memberitahu ajjumma.”

***

YOUNG-IN’S POV

 

            Siang itu aku terpaksa mengiyakan ajakan kencan Ki-Jong oppa, lebih karena aku tidak mau membuatnya malu di depan semua orang. Aku berdandan seperti permintaannya dan memakai gaun. Dia bilang dia akan mengajakku makan malam di restoran. Tapi yang terjadi dia malah membawaku ke rumahnya dengan alasan nunanya sudah bersusah payah memasakkan makanan untuk kami berdua. Nuna apa? Sesampainya di rumahnya yang kosong dia nyaris berhasil memperkosaku kalau aku tidak segera menendanganya dengan high heels-ku.

            Aku menyeka air mataku dengan kasar, duduk di atas sofa di kamar Jino oppa sambil merutuki kebodohanku. Teman-temanku sudah memperingatkan tentang kelakuan buruk Ki-Jong oppa tapi aku tetap berusaha berpikir positif tentangnya. Dan beginilah jadinya.

            Jino oppa masuk ke kamar dengan sebaskom air di tangannya. Dia berjongkok di hadapanku dan mulai membersihkan lukaku dengan kain lap yang sudah dibasahi dengan air hangat. Dia melakukannya dengan sepelan mungkin agar tidak membuatku kesakitan.

            “Kalau bukan karena aku sudah menjadi seorang artis dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik manajemenku, aku pasti sudah berada di rumah bajingan itu sekarang dan menghajarnya.” Dia menghela nafas sesaat dan menatapku lekat-lekat. “Jadi maaf jika hanya ini saja yang bisa kulakukan untukmu.”

            “Gwaenchana, oppa.”

            Dia meletakkan baskom itu ke atas meja dan mengambil tisu basah. Tangannya terulur untuk membersihkan make-up di wajahku, dengan hati-hati menghapus lipstick yang kupakai agar tidak mengenai luka di sudut bibirku.

            “Bukan apa yang kau kenakan. Bukan bagaimana gaya rambutmu, apakah kau berdandan atau tidak, bukan bagaimana isi otakmu,” ujarnya sambil membersihkan pipiku yang terkena sapuan blush-on. “Itu hanya bungkusan luar saja kau tahu? Ini tentang apa yang tersembunyi di dalam hatimu, bukan apa yang menyembunyikanmu dari luar.”

            Dia menggeraikan rambutku yang terikat dan membenamkan jarinya di helaian rambutku.

            “Aku lebih menyukai Youngie-ku yang sederhana. Apa kau tahu bahwa kau terlihat lebih cantik tanpa memakai make-up? Jadi berhentilah menjadi orang lain. Kau harus menjadi dirimu sendiri. Setiap gadis akan terlihat cantik. Dengan caranya masing-masing.”

            Aku berusaha menghirup oksigen di sekelilingku yang mulai menipis. Astaga, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupaku sekarang!

            Dia meletakkan baju kaus dan jins pendek di pangkuanku dan mengusap rambutku pelan.

            “Ganti bajumu sana. Dan… tidurlah yang nyenyak, Youngie~ah,” uajrnya sambil mengecup keningku.

            Demi Tuhan!!! Untung saja aku masih hidup sekarang!

***

Musim semi 2011….

 

            “Youngie~ah, ppali!!!”

            Aku bergegas turun dari kamarku dan dengan tergesa-gesa memasukkan bekal yang sudah kusiapkan ke dalam keranjang. Hari ini Jino oppa mengajakku piknik di taman, tapi sebelumnya dia ingin aku menemaninya menonton pertandingan baseball dulu.

            “Youngie~ah, satu menit lagi kau tidak keluar juga, piknik kita batal!”

            Ck, kenapa dengan wajah seimut itu perilakunya malah berkebalikan jauh? Suaranya cempreng sekali! Aku jadi heran kenapa dia bisa jadi penyanyi.

***

            Aku menutup telingaku dari bombardir teriakan para penonton yang membanjiri stadium. Aigooya, namja gila di sampingku ini ada-ada saja. Bagaimana mungkin dia mengajakku ke tempat seperti ini? Sejak kapan dia menjadi penggila baseball? Dan lihat gayanya itu. Masker, topi, kacamata hitam. Sudah tahu ini tempat umum, masih saja mau menonton.

            “Berhenti memelototiku seperti itu. Aku dapat tiket gratis dari Jonghyun hyung karena dia tidak mungkin datang menonton kesini dengan Se-Kyung nuna.”

            Dia menarikku ke bagian atas, mencari tempat duduk kami. Tempat yang cukup strategis, setidaknya persis menghadap ke layar besar yang menampilkan pertandingan.

            Aku berusaha berkonsentrasi pada pertandingan, tapi sia-sia saja. Aku tidak mengerti sama sekali. Menonton pertandingan bola jauh lebih baik daripada ini.

            “Aish oppa, aku benar-benar salah kostum,” keluhku.

            Dia memiringkan wajahnya dan menatapku.

            “Gwaenchana. Neomu yeppeoyo.”

            Aku menyentuh wajahku dengan kedua tangan dan bisa merasakan pipiku yang mulai memanas.

            “Hahaha. Kyeopta!” godanya sambil mencubit pipiku.

            Aku memalingkan wajahku dan memilih menatap layar besar di depan kami. Detik itu juga mataku membelalak lebar melihat tulisan yang tertera di layar. KISS TIME?!! IGE MWOYA?

            “Di setiap jeda pertandingan memang ada game seperti itu. Pasangan yang tertangkap kamera diwajibkan berciuman,” jelas Jino oppa.

            “Mwo? Di depan ribuan orang seperti ini? Apa-apaan itu?” ujarku setengah menjerit.

            “Kau grogi, ya?” katanya sambil terkekeh geli. “Tenanglah, kita kan bukan pasangan kekasih.”

            Ah, benar juga. Tapi kenapa aku merasa kecewa dengan ucapannya itu? Apa… dia masih tetap tidak punya perasaan apa-apa terhadapku?

            “Tapi aku tidak keberatan kalau itu terjadi,” sambungnya tiba-tiba.

            “Apa?” tanyaku kaget.

            “Menciummu. Aku tidak keberatan.”

            Aku mendorong tubuhnya kesal. Kenapa dia suka sekali menggodaku. Melambungkan perasaanku kemudian menghempaskannya tanpa ampun.

            Tubuhku menegang saat wajah kami berdua muncul di layar. Aku bisa merasakan keringat dingin menetes di kening dan telapak tanganku. Ya Tuhan!!!

            “Aish, benar, kan?” gerutu Jino oppa sambil menggaruk kepalanya.

            “KISSEU KISSEU!!!” Telingaku mulai setengah tuli mendengar teriakan semua penonton. Aigoo, eooteoke?!!

            Aku melirik Jino oppa yang menanggalkan maskernya dan dengan sengaja memiringkan wajahnya agar tidak terlalu terekspos kamera. Awalnya aku berpikir dia hanya akan mencium pipiku saja, tapi ternyata dia malah menarik tengkukku dan menyapukan sebuah kecupan singkat di permukaan bibirku. Dengan cepat dia menjauhkan tubuhnya dan memakai maskernya lagi, sedangkan aku masih terpaku syok di tempat dudukku.

            Aku menyentuh kepalaku yang terasa sedikit pusing dan berusaha menemukan kembali fokusku. Tapi sia-sia saja. Aku baru mendapat hantaman besar dan itu gara-gara seorang Cho Jinho.

            “Kau tidak pingsan kan, Youngie~a?”

            “OPPA!!!”

            “Hahaha.”

***

JINO’S POV

 

            “Tidak enak,” ujarku setelah menelan kimbap buatannya. Kami sedang piknik di sebuah taman kota. Taman ini lumayan ramai dan penuh dengan para orang tua yang sedang bermain dengan anak-anaknya, jadi aku tidak perlu khawatir ada orang yang akan memperhatikan kami berdua.

            “Yak oppa, mana mungkin tidak enak! Aku ini sudah belajar memasak di Jepang! Eomma juga sudah mencicipi kimbap buatanku dan dia bilang enak!” serunya tidak terima.

            Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon dan memainkan sumpit yang sedaang kupegang.

            “Kau bilang kau tidak akan berhenti memasakkan bekal untukku sampai aku mengatakan bahwa masakanmu enak. Bukankah itu berarti kau tidak akan membuatkanku bekal lagi jika aku mengatakan bahwa kimbap buatanmu ini enak?”

            Dia tertegun sesaat, mencoba memahami ucapanku.

            “Aniyo, tentu saja aku tetap akan memasakkan bekal untukmu setiap hari, oppa! Aku mau kesehatanmu terjamin dengan memakan masakan rumah, makanya aku berusaha belajar memasak untukmu.”

            Aku tersenyum dan mengacak-acak rambutnya. Dia tampak manis sekali dengan gaun putih dan rambutnya yang dijalin longgar di bagian kanan wajahnya. Aku lebih suka penampilannya yang seperti ini. Alami, tanpa polesan make-up.

            “Gomaweo,” ucapku untuk pertama kalinya.

            Dia menatapku tidak percaya dan langsung tersenyum cerah.

            “Beri aku hadiah!”

            “Hadiah?”

            “Mmm hmm. Karena akhirnya aku berhasil memasakkan makanan yang enak untukmu.”

            Aku memutar otakku sesaat dan menjentikkan jariku.

            “Tunggu disini.”

***

YOUNG-IN’S POV

 

            Jino oppa kembali sambil membawa gitar di tangannya. Dia memang selalu membawa sebuah gitar di mobilnya untuk berlatih. Apa dia sekarang bermaksud menyanyikan sebuah lagu secara live di depanku? Aku memang belum pernah sekali pun mendengarnya menyanyi secara langsung. Dia selalu saja menolak melakukannya untukku.

            “Karena kau meminta hadiah, jadi aku akan melakukannya secara cuma-cuma untukmu. Tapi lain kali, kau harus membayar mahal untuk ini. Ara?”

            “Cih, sombongnya!” ejekku.

            Dia tertawa dan mulai memetik gitarnya. Tunggu, aku tahu intro lagu ini. Lagu kesukaanku. Love Light. CN Blue.

Keudael bomyun eolguri bbalgaejigo

Keudael bomyun gasumi dugeun dugeun

Aicheorum sujubkae malhago

(Menatapmu membuat wajahku memerah

Menatapmu membuatku grogi

Seperti anak kecil yang pemalu saja)

Keudael bomyun gwaenshiri usumi na

Babocheorum jakkuman keurae

Ama naege sarangi on geot gatah

(Menatapmu membuatku tersneyum untuk alasan yang tidak jelas

Seperti seorang idiot dan sellau seperti itu

Sepertinya cinta datang menghampiriku)

Keudaenun nae maum sogui President

Nae gaumui byeol sunohji

I’m Genie for you girl

Nae sumeul meotkae haji

Keudaega wonhanun geon da

Neoreul saranghanikka

Nae sarangae iyunun eobjanha you know

(Di hatiku, kaulah presidennya

Kau membuat hatiku berwarna

Akulah pengabul keinginanmu, gadisku….

Jangan membuat nafasku berhenti

Aku akan mengabulkan segala hal yang kau inginkan

Karena aku mencintaimu

Tidak perlu alasan untuk jatuh cinta padamu, kau tahu itu)

Keudaenun darling

Bam haneul byeolbitboda arumdaweoyo

Nae mamsok gipeun gotseseo banjjakgeorinun

Na manui sarang bit

(Kau sayangku

Kau lebih cantik daripada bintang-bintang yang berkelip di langit malam

Di dalam hatiku yang gemerlap

Satu-satunya cahaya cintaku)

Keudaerul saranghaeyo darling

Eonjena nae gyeoteseo bicheul naejweoyo

Maeil bam barabogo

Barabwado arumdaweoyo

Keudaen naui sarang bit

(Aku mencintaimu, sayangku

Tolong, tetaplah bersinar di sisiku

Setiap malam saat aku menatap, kau terlihat sangat cantik

Kau adalah cahaya cintaku)

Keudael bomyun kureumeul nanun gibun

Yuchihaedo jakkuman keurae

Ama naege sarangi on geon gabwa

(Sangat menyenangkan saat menatapmu

Kedengarannya memang kekanak-kanakan tapi memang selalu seperti itu

Sepertinya cinta datang menghampiriku

Kau, sayangku)

Keudaenun lovely

Jeo haneul haetsalboda nuni busyeoyo

Nae mamsok eodun gotggaji balkae bichunun

Namanui sarang bit

(Kau sangat indah

Lebih indah daripada cahaya matahari di langit

Membuatku merasa silau

Kaulah satu-satunya cahaya cintaku)

Keudaerul saranghaeyo lovely

Du nuneul gamabwado keudae boyeoyo

Ireoke barabogo

Barabwado nuni busyeoyo

Keudaen naui sarang bit

(Aku mencintaimu, sayangku

Bahkan jika aku menutup mataku sekalipun, aku tetap akan bisa melihatmu

Memandangmu seperti ini

Menatapmu membuatku terpesona

Kau satu-satunya cahaya cintaku)

            Dia menyelesaikan lirik terakhir lagunya dengan sangat sempurna, membuatku memandangnya dengan tatapan terpesona.

            “Suaraku bagus, kan?”

            Aku mengangguk dan memberi tepuk tangan untuknya. Suara seorang Jung Yonghwa memang sangat bagus, tapi suara Jino oppaku lebih bagus lagi.

            “Nah, kau sudah puas, kan?”

            Aku terdiam. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padanya. Aku harus tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadapku, sehingga aku bisa memutuskan untuk tetap menunggu atau… melupakan semuanya dan mulai mengganggapnya sebagai seorang kakak.

            “Oppa… apa kau tahu? Hadiah yang selama ini kuinginkan adalah kau. Aku berusaha menjadi gadis yang kau inginkan, tapi kau tidak pernah mengacuhkanku sama sekali. Aku bukan adikmu, jadi tidak masalah jika kita memiliki hubungan. Atau… kau benar-benar tidak menginginkanku sama sekali?”

            Dia tersenyum dan mencondongkan tubuhnya, mengulurkan tangannya ke arahku, membuatku menatapnya bingung.

            “Kau menginginkan aku, kan? Karena itu aku mengulurkan tanganku untuk kau genggam. Tapi Youngie~a, sekali kau menerima uluran tanganku, jangan harap kau bisa melepasnya lagi karena aku tidak akan membiarkanmu. Jadi… apa kau masih tertarik dengan tawaranku?”

***

I’m not perfect. You’re not perfect. But two people can be perfect together, perfect for each other.

Aku tidak sempurna. Kau tidak sempurna. Tapi dua orang bisa menjadi sempurna bersama. Menyempurnakan satu sama lainnya.

***

From this day forward,
You shall not walk alone.
My heart will be your shelter,
And my arms will be your home.

Mulai hari ini dan seterusnya

Kau tidak lagi melangkah sendiri.

Hatiku akan menjadi tempatmu bersandar

Dan tanganku akan menajadi rumahmu.

 

END

 

 

Taraaaaa……….. jelek, kan? Gyahaha.

Buat Dida, mian, onniemu ini sudah menghancurkan segalanya. Hiks hiks. Jangan marah, ya!!!

Ehm, aku lagi tergila-gila ama Love Light-nya CN Blue!!! *telat banget* Dan ff ini sukses tercipta setelah memutar ulang lagu itu 74 kali. *sarap*

Okeh, ditunggu kritiknya, karena udah pasti nggak ada yang bakal muji nih ff gaje.