EUN-KYO’S POV

 

            Aku menatap sungai di hadapanku dengan pandangan kosong, sengaja mencari sudut yang menurutku cukup sepi dan jarang dilalui orang. Aku sedang tidak berminat mendapatkan pandangan kasihan dan ingin tahu dari orang-orang yang tidak aku kenal. Tidak untuk malam ini.

            Aku melanjutkan lamunanku lagi, tidak memedulikan udara dingin yang terasa menyengat di bagian bahu dan punggungku yang terbuka. Yeah, aku ini jenis gadis bodoh yang berkeliaran menggunakan gaun pengantin putihnya yang indah.

            Indah? Cih, itu pikiranku 24 jam yang lalu, saat aku masih menunggu pernikahanku terjadi dengan hati meledak bahagia. 24 jam yang lalu saat aku masih menganggap namja sialan itu sebagai makhluk paling sempurna di dunia. Tapi tidak untuk pagi ini, saat dia dengan seenaknya mengirimkan surat ke ruang ganti pengantinku dan menuliskan satu kalimat. Hanya satu kalimat. Aku tidak bisa datang, aku tidak yakin bahwa aku ingin menikahimu sekarang. Tidak yakin mau menikahiku, eh? Kalau begitu kenapa dia tidak menyadarinya satu hari sebelumnya saja? Bukannya satu jam sebelum pernikahan itu terjadi!

            Kim Sun-Jin. Cinta pertamaku. Namja yang sudah kukenal sejak SMA. Teman terbaikku. Betapa senangnya saat dia akhirnya mengungkapkan perasaannya padaku. Saat dia memintaku menjadi kekasihnya pada tahun kedua kami bersahabat. Waktu itu aku merasa aneh karena teman-temanku berkata bahwa perasaanku padanya bukan cinta. Aku hanya terlalu bergantung pada namja itu karena dia selalu ada di dekatku. Tapi aku tidak mengacuhkan mereka sama sekali, setidaknya aku merasa sangat nyaman berada di samping Sun-Jin.

            Detik ini, aku mulai menyadari banyak hal yang awalnya berpura-pura tidak kulihat. Bukan terlalu percaya diri, tapi banyak orang yang mengagumi kecantikanku. Bahkan saat sekolah atau kuliah sekalipun, ada begitu banyak namja yang mendekatiku. Tapi saat itu entah kenapa aku hanya menatap Sun-Jin saja. Dan sekarang… aku bisa melihat begitu banyak kekurangan pada hubungan kami. Dia yang memamerkanku pada teman-temannya seolah ingin membuat mereka semua iri, bahwa selalu aku yang mati-matian dalam hubungan ini sedangkan dia terlihat santai sekali. Aku terlalu menggantungkan banyak harapan padanya dan membutakan diri terhadap kehadiran namja lain.

            Oh, jangan berpikir aku ingin menenggelamkan diri ke dalam sungai di hadapanku. Aku masih sangat waras dan tidak ingin mencemari keindahan sungai Han dengan mayatku yang mengapung di atasnya. Lagipula untuk apa aku bunuh diri hanya karena ditinggalkan oleh namja tidak berharga seperti itu? Aku malah sangsi apakah aku pernah mencintainya selama ini. Aku tidak pernah merasakan apa yang dikatakan orang tentang jantung yang berdebar-debar ataupun darah yang berdesir cepat. Atau pipi yang memerah dan kesusahan menarik nafas. Aku hanya… mungkin karena dia namja pertama yang tetap gigih mendekatiku. Biasanya namja lain langsung menyerah setelah mendapat perlakuan dingin dariku, berbeda dengan dia. Benar. Jadi apakah aku sudah menyia-nyiakan 10 tahun hidupku hanya untuk namja seperti itu? Eun-Kyo, kau benar-benar yeoja bodoh!

            Jadi, apa yang sedang aku tangisi sekarang? Kenyataan bahwa dia meninggalkanku tepat di hari pernikahan kami? Sepertinya tidak. Aku rasa bahkan seharusnya aku bersyukur dia melakukan itu. Daripada aku terjebak seumur hidup dengan namja sepertinya. Bukankah yang seharusnya kutangisi adalah kebodohanku tergila-gila padanya dan membuang 10 tahun hidupku yang berharga begitu saja? Juga rasa sakit hati keluargaku karena kelakuan namja itu. Rasa malu yang harus mereka tanggung seumur hidup. Aku jadi penasaran, apa alasannya meninggalkanku? Tentu saja bukan karena aku kurang cantik. Ah, sepertinya karena namja seperti dia memang tidak mungkin mengikatkan diri pada lembaga pernikahan. Sepertinya apa yang dikatakan teman-temanku dulu itu benar. Dia memiliki banyak simpanan. Cih, lihat lagi kebodohanmu itu, Eun-Kyo~a.

            Aku meremas foto di tanganku dengan penuh emosi. Mulai hari ini, tidak ada lagi Kim Sun-Jin dalam hidup Park Eun-Kyo. Aku bahkan ragu apakah akan ada namja berikutnya atau tidak. Sepertinya untuk beberapa tahun ke depan tidak akan ada. Aku tidak akan mengizinkan namja manapun lagi menghancurkanku. Tidak akan.

***

LEETEUK’S POV

 

            Setelah menyelesaikan syuting Strong Heart, aku memutuskan untuk langsung pulang ke dorm. Akhir-akhir ini jadwal istirahatku sangat kurang, jadi lebih baik aku memakai setiap detik waktu luangku untuk beristirahat.

            Hari ini aku mengemudi mobil sendiri. Beberapa orang manajer SuJu harus ikut ke Taiwan untuk menemani member SuJu M, sedangkan yang tinggal di Korea hanya Taksama hyung saja, yang juga sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga dia memutuskan untuk mencarikanku manajer pribadi sampai manajer lainnya kembali ke Korea. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu lagi pusing memikirkan masalah jadwalku yang akhir-akhir ini sedikit berantakan.

            Aku mengetukkan jariku ke atas kemudi mobil. Malam sudah cukup larut sekarang. Hampir tengah malam. Waktu yang tepat untuk meringkuk ke balik selimut. Tapi sepertinya tidak juga. Jalanan di sekeliling sungai Han malah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang asyik berpacaran.

            Aku mendengus kesal. Aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku jalan dengan seorang wanita. 4 tahun yang lalu? Cih, lupakan. Aku tidak mau lagi mengingatnya. Hanya membuat hatiku bertambah kesal saja!

            Hei, apa Leeteuk Super Junior sebegitu tidak lakunya? Lihat dongsaeng-dongsaengku, semuanya sudah mempunyai kekasih masing-masing. Bahkan si magnae yang jarak umurnya 5 tahun denganku itu saja sudah menikah! Aku kurang tampan? Itu tidak mungkin! Apa karena umurku sudah tua? Tua? Omong kosong dengan umur! Wajahku toh masih sangat awet muda. Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada satu wanita pun yang tertarik denganku?

            Ah, kau salah, Park Jung-Soo. Bukan mereka yang tidak tertarik dengamu, tapi kau saja yang belum menemukan wanita yang cukup menarik untuk mendapatkan perhatian darimu. Benar. Aku rasa semua wanita pasti akan tertarik denganku. Aku saja yang tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan wanita-wanita itu. Jadwalku terlalu padat. Aish, apa aku harus meminta cuti khusus dan mulai melakukan penyeleksian terhadap wanita-wanita di sekelilingku? Aku tidak mau menikah saat umurku sudah 40 tahun!

            Aku menatap keluar jendela mobil. Pemandangan sungai Han terlihat indah sekali dari sini. Sudah lama juga aku tidak menikmati pemandangan menakjubkan ini. aku baru menyadari seberapa padatnya jadwal kami selama ini.

            Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan dan mematikan mesin mobil. Tidur masih bisa ditunda. Setidaknya ini juga merupakan bentuk penyegaran lain. Udara musim semi juga sangat nyaman, baik untuk merilekskan tubuh.

            Aku turun dari mobil tanpa memakai peralatan menyamarku. Suasana cukup gelap. Lagipula aku berhenti di tempat yang sangat sepi. Siapa sih yang akan menyadari bahwa Leeteuk Super Junior berkeliaran di tengah malam seperti ini?

            Aku menajamkan penglihatanku saat melihat seorang gadis yang bersandar di pagar besi pembatas. Apa dia hantu penunggu sungai ini? Aish, aku sedang tidak berminat dengan hal-hal gaib saat ini. Aku hanya ingin menyegarkan diri. Tapi sepertinya dia bukan hantu. Kakinya masih menjejak tanah. Oke, aku bisa tenang sekarang.

            Aku memperhatikan gadis itu dari belakang. Dia memakai gaun pengantin yang sudah kusut. Gaun itu terbuka di bagian bahu dan punggungnya, membuatku mau tidak mau berpikir apakah dia tidak merasa kedinginan? Walaupun ini sudah masuk musim semi, tapi cuaca masih cukup dingin untuk berkeliaran dengan pakaian seperti itu. Apa dia kabur dari pernikahannya? Atau malah calon suaminya yang meninggalkannya di depan altar? Penampilannya terlihat kacau sekali. Astaga, jangan bilang dia berniat menenggelamkan dirinya ke sungai ini! Aku tidak mau dijadikan tersangka dan dituduh membunuhnya! Ck, kenapa untuk mencari penyegaran saja susah sekali? Apa lebih baik aku pulang saja?

            Aku tersentak saat gadis itu tiba-tiba menjulurkan tubuhnya melewati pagar pembatas. Aish, jangan bilang dia benar-benar ingin bunuh diri sekarang!

***

EUN-KYO’S POV

 

            Aku memutar-mutar cincin di jariku tanpa minat. Aku belum ingin pulang ke rumah. Aku sengaja meninggalkan HP-ku di ruang ganti, bahkan tidak membawa uang sepeser pun sekarang. Aku tahu seberapa malunya keluargaku gara-gara kejadian ini.  Aish, rasanya aku mau membunuh namja itu dan membuang mayatnya ke jurang detik ini juga!

            Aku tersadar dari lamunanku saat cincin yang sednag kumainkan tiba-tiba saja terlepas dari genggamanku. Dengan refleks aku menjulurkan tubuhku, berusaha menangkapnya sebelum benda itu jatuh ke dalam sungai. Huft, berhasil.

            Aku baru akan menegakkan tubuhku saat seseorang menarik pinggangku, membuatku terhuyung ke belakang. Untung saja keseimbangan tubuh orang itu sangat bagus sehingga dia bisa menahan tubuhku dengan baik, bukannya membuat kami berdua terguling ke belakang dan jatuh ke tanah.

            Aku berbalik dan mendapati wajah seorang namja berada tepat di hadapanku. Matanya menelusuri wajahku dengan intens, tapi tidak membuatku merasa dilecehkan. Yang kurasakan malah sebaliknya. Aku merasa nyaman dengan tatapannya dan bahkan balas menatap wajahnya. Tampan. Sangat. Mungkin ini wajah paling tampan yang pernah kulihat seumur hidupku. Ah, bukan mungkin, tapi memang. Apa dia artis? Karena rasanya sia-sia sekali kalau wajah itu tidak digunakan semaksimal mungkin.

            Aku merasakan nafasnya berhembus di permukaan wajahku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi entah kenapa aku tidak berniat mendorong tubuhnya sama sekali. Seperti ada yang sangat menarik dari namja di hadapanku ini. Bukan hanya karena dia tampan. Tidak. Rasanya seperti ada daya magnet kuat yang menguar dari tubuhnya. Rasa nyaman yang berlebihan.

            Aku bisa merasakan semburat kemerahan muncul di pipiku saat akhirnya tatapannya berhenti di mataku. Tidak boleh begini. Seharusnya tidak seperti ini. Kenapa yang terjadi semuanya berkebalikan dengan segala hal yang aku rasakan saat berada di dekat Sun-Jin? Jantungku tidak peernah berdetak cepat, wajahku tidak pernah memerah, bahkan rasanya sekarang aku nyaris pingsan hanya karena ditatap oleh namja ini? Jangan gila, Park Eun-Kyo! Kau bahkan tidak mengenalnya sama sekali!

            Tangannnya yang masih berada di pinggangku menarik tubuhku mendekat, sampai nyaris tidak ada lagi jarak di antara kami. Eun-Kyo~a, sadarlah, kau harus mendorongnya sekarang!

            Tapi yang kulakukan hanya diam. Bahkan tetap tidak melakukan apa-apa saat akhirnya bibirnya menyentuh bibirku perlahan.

            Aku merasa marah pada diriku sendiri. Bukan karena aku tidak punya kekutan untuk menolaknya, tapi lebih pada kenyataan bahwa aku menikmati sentuhannya. Menikmati sentuhan namja yang baru pertama kali aku temui. Yah, sepertinya aku benar-benar sudah tidak waras!

***

LEETEUK’S POV

 

            Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba saja berlari dengan pikiran ingin menyelamatkan gadis itu. Yang aku sadari berikutnya hanyalah tubuhnya yang berada di pelukanku. Kulitnya terasa begitu dingin. Apa dia sudah berjam-jam melamun disini?

            Dia berbalik dan untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Untuk sedetik yang begitu lama, aku merasa terpesona. Gadis ini cantik sekali. Sangat. Tidak peduli dengan rambutnya yang sudah berantakan ataupun wajahnya yang pucat, dia tetap terlihat cantik di mataku.

            Aku menelusuri setiap inci wajahnya dengan tatapanku. Ada rasa nyaman saat menatapnya. Gadis ini punya lebih dari cukup pesona untuk membuatku tertarik.

            Tanpa sadar aku menarik tubuhnya mendekat, menghilangkan jarak di antara kami. Oke, ini gila, aku tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya pada gadis yang baru saja aku temui. Aku bukan namja mesum seperti Eunhyuk, tapi aku benar-benar ingin mencium gadis ini. Maka itulah yang aku lakukan.

            Dia sama sekali tidak menolak ataupun membalas. Tapi aku juga tidak mengharapkan apa-apa. Pasti dia berpikiran negatif tentangku sekarang.

Aku tersenyum sinis dalam hati. Aku tidak pernah merasakan ketertarikan yang begitu besar terhadap gadis manapun sebelumnya. Biasanya aku akan menemui seorang gadis yang kurasa membuatku tertarik beberapa kali dan baru memutuskan apakah aku menyukainya atau tidak. Tapi gadis ini begitu berbeda. Aku bahkan nyaris putus asa untuk mengendalikan diri sendiri agar tidak menyentuhnya. Dia… gadis ini… sial, jangan bilang aku menyukainya!

***

EUN-KYO’S POV

 

            Aku berusaha menjernihkan pikiran dan akhirnya berhasil mendorong tubuh namja itu menjauh dengan nafas tersengal. Aku mengangkat gaunku dan berniat pergi, saat dia tiba-tiba saja mencekal tanganku dan menatapku tajam.

            “Jangan mencoba mencari tempat lain untuk bunuh diri lagi, agasshi. Namja di atas dunia ini bukan dia saja,” katanya dengan raut wajah serius.

            Aku terpaku sesaat. Apa tadi dia berpikir aku ini mau terjun ke sungai?

            “Aku mau mati atau tidak itu bukan urusanmu, Tuan,” ucapku dingin.

            Dia tersenyum, membuatku terpana melihat lesung pipi yang muncul, membuatnya bertambah tampan sepuluh kali lipat.

            “Ah, sayang sekali kalau begitu. Padahal aku baru berniat untuk mengejarmu. Dan… namaku Park Jung-Soo. Bukan Tuan.”

***

            “Aaaaaaargh!!!” Aku mengacak-acak rambutku gusar. Ucapannya itu berulang-ulang kali melintas di benakku, membuatku stress semalaman sampai tidak bisa tidur.

            “Kyo~a, kau kenapa? Apa kau tidak bisa tidur?”

            Aku meringis mendengar suara eommaku dari balik pintu kamar. Pasti eomma berpikir bahwa aku menjadi gila gara-gara si Sun-Jin sialan itu. Cih, mana mungkin! Aku bukan gadis bodoh yang menangis berhari-hari karena ditinggal kabur calon pengantinnya. Apalagi untuk namja seperti itu. Air mataku terlalu berharga! Lupakan kebodohanku karena tergila-gila padanya dulu.

            Aku beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.

            “Gwaenchana?” tanya eommaku khawatir.

            “Ne, jeongmal gwaenchanayo, eomma.”

            “Lalu kenapa kau berteriak? Kau teringat Sun-Jin?”

            “Untuk apa aku mengingatnya lagi?” tanyaku ketus.

            Eommaku tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap rambutku lembut.

            “Baguslah. Lalu, kenapa kau menangis?”

            Aku menimbang-nimbang beberapa saat. Aku memang sangat dekat dengan eommaku. Aku selalu menceritakan masalahku padanya. Tapi untuk yang satu ini… apa pikiran eommaku kalau dia tahu aku mau saja dicium oleh namja yang baru aku kenal? Aigoo, bahkan sampai sekarang aku tidaak tahu akan bertemu dengannya lagi atau tidak.

            “Jadi kau kemana saja menghilang seharian dan pulang-pulang wajahmu langsung ditekuk? Sampai berteriak-teriak lagi. Ayo cerita!”

            Aku melangkah naik ke atas tempat tidurku lagi diikuti eommaku. Aku meraih bantal dan memeluknya. Sepertinya lebih baik aku cerita saja.

            “Mianhae eomma, sudah membuat kalian semua malu hari ini.”

            “Gwaenchana. Lebih baik begitu, daripada kau tetap menikah dengannya dan bercerai di kemudian hari. Lalu, sepertinya kau mau menceritakan sesuatu. Apa anak eomma tiba-tiba saja sudah melupakan Sun-Jin?”

            “Sepertinya begitu,” ujarku malu.

            “Siapa? Apa tadi kau bertemu pangeran tampan di jalan dan jatuh cinta padanya?”

            “Aish eomma, aku ini sudah 25 tahun, bukan anak kecil yang berharap bertemu pangeran berkuda putihnya lagi.”

            “Tapi wajahmu menunjukkan yang sebaliknya.”

            Aku mengerucutkan bibirku mendengar godaannya. Sesaat kemudian semua kejadian tadi sudah meluncur keluar dari mulutku. Betapa mempesonanya namja itu dan betapa dia sudah membuatku hilang akal.

            “Ah, jatuh cinta pada pandangan pertama, ya?”

            “Mwo? Eomma, siapa bilang aku jatuh cinta padanya?”

            “Lalu apa namanya kalau bukan jatuh cinta? Eun-Kyo sayang, eomma tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Wajahmu memerah saat menceritakan seorang namja. Bahkan terhadap Sun-Jin pun tidak. Kau seharusnya senang karena sudah merasakan bagaimana jatuh cinta yang sebenarnya.”

            “Tapi aku bahkan sangsi apakah aku bisa bertemu dengannya lagi atau tidak.”

            “Kau tahu takdir? Biarkan takdir yang mengatur semuanya. Kalau pada akhirnya kau bertemu dengannya lagi, berarti dia memang takdirmu.”

            “Tapi ini terlalu cepat, eomma. Aku baru saja ditinggalkan Sun-Jin, masa hanya dalam waktu beberapa jam aku sudah jatuh cinta lagi pada namja lain?”

            “Lagi? Kau harus merevisi kata-katamu. Eomma tahu namja yang kau ceritakan ini adalah cinta pertamamu, karena kau sama sekali tidak mencintai Sun-Jin, Eun-Kyo~a.”

***

            Aku memutuskan untuk pindah ke apartemen baru yang awalnya adalah hadiah pernikahan dari appa dan eomma untuk kutinggali bersama dengan Sun-Jin. Daripada sia-sia, lebih baik aku pindah saja kesana. Lagipula tempatnya sangat strategis dengan tempat kerja baruku.

            Dipikir-pikir sebenarnya aku tidak bekerja di tempat yang tetap juga. Pamanku, Taksama ajjushi, menawarkanku pekerjaan menjadi manajer pribadi artisnya. Siapa ya namanya? Leeteuk kalau tidak salah. Leader Super Junior. Dan apa itu Super Junior? Aku ini buta sama sekali dalam bidang entertainment. Tapi kata pamanku mereka itu terkenal sekali.

            Aku berhenti di depan gedung KBS, salah satu dari 4 stasiun TV terkenal. Pamanku bilang hari ini Leeteuk ada acara radio, jadi dia menyuruhku menemui namja itu di gedung ini.

            Aku merapatkan cardiganku dan berjalan masuk ke dalam gedung itu. Resepsionis disana menunjukkan ruangan tempat Leeteuk berada padaku. Aku berniat bertanya padanya siapa Leeteuk itu, tapi aku langsung mengurungkan niatku. Lebih baik aku cari sendiri saja daripada aku mempermqlukan diriku karena tidak mengenal salah satu namja paling terkenal di negara ini.

            Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Tidak ada namja yang mungkin mendekati ciri-ciri seorang artis disana. Apa dia belum datang, ya?

            Aku merasakan sentuhan di bahuku, membuatku dengan refleks berbalik.

“Kau mencari seseorang, agasshi?”

Apa yang kulihat di depanku langsung membuat mulutku ternganga lebar. Aku bahkan tidak bisa memberi respons sama sekali pada pertanyaannya.

            Namja itu juga terlihat kaget melihatku, tapi dia dengan cepat mengendalikan dirinya dna tersenyum.

            “Ah, jadi kau mengejarku sampai kesini? Kau juga tertarik denganku kalau begitu.”

            Aku mengerutkan keningku bingung. Percaya diri sekali dia!

            “Memangnya kau siapa sampai aku harus mengejarmu segala? Aku bahkan tidak tahu kalau kau bekerja disini juga.”

            “Jadi kau masih tidak mengenaliku? Aish, di rumahmu ada TV tidak, sih? Ah sudahlah, lupakan. Kau sedang apa disini?”

            Aku merasa bingung dengan ucapannya. Memangnya apa hubungannya TV dengan dia?

            “Aku mencari Leeteuk Super Junior.”

            Dia tampak tersenyum geli dan mengangguk.

            “Ada urusan apa dengannya?”

            “Pamanku memintaku untuk menjadi manajer pribadi pria itu. Apa kau mengenalnya?”

            “Pamanmu? Taksama hyung? Jadi kau keponakannya? Kebetulan sekali. Kita memang jodoh kalau begitu,” ucapnya dengan raut wajah senang.

            “Jodoh apanya? Jangan bercanda! Lebih baik kau memberitahuku dimana Leeteuk itu agar aku bisa menemuinya.”

            “Di depanmu.”

            Aku tersenyum sinis.

            “Sudah kubilang kalau aku sedang tidak ingin bercanda, Jung-Soo ssi,” kataku, menekankan nada bicaraku saat menyebutkan namanya.

            “Aku juga sedang tidak ingin bercanda, agasshi. Nama asliku memang Park Jung-Soo. Leeteuk itu nama panggungku.”

            Aku menatapnya sangsi. Dia memang tampan. Penampilannya jauh lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi seorang artis terkenal. Tapi… artis macam apa yang berkeliaran di tengah malam dan mencium gadis yang tidak dikenalnya? Atau karena dia artis jadi dia bisa berbuat seenak hatinya?

            “Hei, jangan memasang tampang seperti itu. Aku serius saat berkata bahwa aku tertarik padamu.”

***

LEETEUK’S POV

 

            Aku memikirkan yeoja di hadapanku ini satu minggu terakhir. Setiap hari wajahnya selalu saja berkeliaran di otakku. Dan aku sangat yakin bahwa aku tidak pernah seperti ini pada yeoja manapun sebelumnya.

            Bukan. Bukan karena wajahnya yang memukau. Tentu saja di sekelilingku sudah banyak yeoja-yeoja yang juga tidak kalah cantik. Ini lebih seperti daya tarik. Seperti chemistry yang sangat kuat. Gadis ini sanggup membuat detak jantungku berantakan.

            “Kau tertarik padaku?” tanyanya sangsi.

            “Iya. Boleh, kan? Dan aku rasa kau juga tertarik padaku,” ucapku yakin.

            “Hahaha. Jadi sepertinya aku harus terjebak dengan orang sepertimu dalam jangka waktu yang lama.”

            “Kedengarannya menyenangkan. Lagipula aku memiliki tugas berat untuk membuatmu mengenalku dan grupku dengan baik.”

            “Mianhae. Aku tidak pernah tertarik dengan dunia entertainment, jadi aku tidak mengenal grupmu. Padahal sekarang tugasku adalah mengatur jadwalmu.” Wajahnya terlihat sedikit menyesal saat mengatakan itu.

            “Gwaenchana. Mulai sekarang akan kupastikan bahwa kau akan menjadi ELF sejati.”

            “ELF mwo?”

            Aku menggaruk kepalaku gusar. Gadis ini. Musnahlah impianku untuk menikah dengan seorang ELF!

***

EUN-KYO’S POV

 

            Aku meringis malu saat dia menatapku dengan raut wajah putus asa. Oh, ayolah, Super Junior saja aku tidak tahu, jadi mana mungkin aku mengerti tentang… apa itu? ELF?

            “ELF itu nama fans club kami. Ever Lasting Friends. Sahabat abadi.”

            Aku tersenyum meminta maaf, berjanji saat sampai di rumah nanti aku akan mencari tahu segala hal tentang mereka.

            “Siapa namamu?”

            “Eun-Kyo. Park Eun-Kyo.”

            “Nama yang bagus,” ujarnya sambil tersenyum. “Jadi aku tidak perlu repot-repot mengganti margamu.”

            Belum sempat aku menanyakan apa maksudnya, sebuah suara menginterupsi percakapan kami.

            “Hyung~a, apa aku terlambat?”

            Aku berbalik dan mendapati seorang namja imut berdiri di belakangku.

            “Nuguseyo?” tanyanya bingung.

            “Eun-Kyo~a, ini Yesung, salah satu member kami. Nama aslinya Kim Jong-Woon,” jelas Leeteuk.

            “Ah, annyeonghaseyo,” sapaku ramah.

            “Kau tidak mengenalku?” tanya namja itu syok.

            “Dia bahkan tidak tahu Super Junior.”

            “MWORAGO?” Kali ini aku yakin namja di hadapanku ini sebentar lagi akan terkena serangan jantung mendadak.

            “Aish, jinjja, mana mungkin masih ada orang di negara ini yang tidak tahu Super Junior?” keluhnya tak percaya. “Ng… lalu, kalau kau bukan fans kami, sedang apa kau disini?”

            “Aku ditugaskan Taksama ajjushi untuk menjadi manajer pribadi Jung-Soo ssi.”

            “Sekaligus calon kakak iparmu.”

***

            Aku terduduk dengan pikiran melayang-layang, menunggu dua orang namja itu menyelesaikan acara radio mereka. Setelah ucapannya yang mengejutkan itu, Leeteuk pergi begitu saja sambil menarik Yesung, meninggalkanku terpaku syok sendirian. Apa-apaan dia itu? Calon kakak ipar? Apa maksudnya dia ingin aku menjadi istrinya? Dasar namja tidak waras!

            Aku mendesah putus asa. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa aku merasa begitu aneh dengan diriku sendiri? Menyukai namja yang baru saja aku kenal? Hei, apa daya tarik yang begitu kuat itu benar-benar ada? Kenapa aku merasa terlalu terpesona dengan kehadirannya? Dan dia… sepertinya juga merasakan hal yang sama. Apa itu tidak terlalu aneh?

            “Ayo pulang. Aku akan mengantarmu.”

            Aku tersentak kaget dan mendongak, mendapatinya sedang tersenyum menatapku.

            “Aku bisa pulang sendiri, Jung-Soo ssi,” tolakku. Ck, kenapa melihat wajahnya saja aku bisa merasa pusing?

            “Ani. Biar aku mengantarmu. Ini sudah malam. Dan berhentilah memanggilku Jung- Soo ssi, panggil aku Leeteuk oppa saja.”

            “Oppa?”

            “Ne. Waeyo? Tidak mungkin kan kau memanggil kekasihmu sendiri memakai embel-embel ssi?”

            “Mworagoyo? Kekasih?”

            “Oh, tentu saja. Apa aku belum bilang? Mulai saat ini kau akan menjadi kekasihku, Park Eun-Kyo ssi, karena aku sangat tertarik padamu.”

            “Ta… tapi….”

            “Tidak usah tapi tapi. Ayo pulang!!! Hahaha… akhirnya aku punya yeojachingu juga!”

            Aku bisa menarik satu kesimpulan. Namja ini benar-benar sudah gila!

***

LEETEUK’S POV

 

            Aku tahu bahwa dia pasti menganggapku sudah gila, tidak waras, dan semacamnya. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengabaikan rasa ketertarikan yang amat sangat saat berada di dekatnya. Itu bukan hal yang mudah untuk diacuhkan begitu saja. Tidak. Untuk gadis satu ini, ada begitu banyak pengecualian yang aku berikan.

            Dia bukan ELF. Itu kekurangannya. Padahal aku sangat ingin menikah dengan seorang ELF, karena dia pasti akan mengerti aku dan sudah mengenalku dengan sangat baik. Sedangkan gadis ini… dia bahkan tidak tahu sama sekali siapa aku. Itu rasanya lebih parah daripada seorang antis sekalipun. Setidaknya aku yakin antisku tahu banyak tentang kehidupanku agar mereka bisa mencari kekuranganku.

            Hal lainnya. Aku selalu berniat mengenal seorang gadis lebih jauh sebelum aku memutuskan apakah aku menyukainya atau tidak. Apakah aku ingin dia menjadi kekasihku atau tidak. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang gadis ini. Bahkan aku baru tahu namanya beberapa jam yang lalu, tapi aku langsung merasa bahwa dia adalah gadis yang sangat tepat. Dia orangnya. Aku bahkan tidak peduli dengan kenyataan bahwa dia baru saja batal menikah dan semacamnya. Aku rasa aku sama sekali tidak peduli bahkan jika dia punya setumpuk kekurangan sekalipun.

            Bukankah cinta itu begitu sederhana?

***

            Aku meliriknya yang sedang tertidur di kursi penumpang. Sepertinya dia kelelahan. Untung saja aku sudah bertanya alamat apartemennya tadi, jadi aku tidak perlu membangunkannya.

            Mobilku berguncang saat melewati jalanan yang sedikit berlubang. Dengan refleks aku menjulurkan tanganku untuk menahan kepalanya agar tidak terkulai jatuh dan membuatnya terbangun. Sedetik kemudian aku tertawa menyadari apa yang aku lakukan. Sejak kapan aku begitu perhatian terhadap seorang wanita? Bahkan melakukan hal refleks seperti tadi saja aku belum pernah.

            “Kyo~a, kita sudah sampai,” ujarku, mengguncangkan bahunya pelan.

            Dia menggeliat sesaat dan mengusap matanya.

            “Ah, ne,” ucapnya dengan suara serak. Dia mengambil tasnya dan membuka pintu mobil. Rambutnya tampak sedikit berantakan, tapi tetap saja dia terlihat mempesona. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa melihatnya terbangun setiap pagi di sampingku.

            “Gamsahamnida, Leeteuk oppa,” ujarnya dengan senyum manis tersungging di bibirnya, sebelum akhirnya dia masuk ke gedung apartemen di belakangnya.

            Leeteuk oppa. Bahkan hanya mendengarnya menyebut namaku saja sudah sanggup membuat detak jantungku menjadi tidak beraturan. Aku tersenyum dalam hati. Aku baru saja menyadari bahwa aku telah memiliki satu kebutuhan baru dalam hidupku. Satu tujuan baru. Park Eun-Kyo.

***

EUN-KYO’S POV

 

            Hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat aneh. Dia sama sekali tidak memperlakukanku sebagaimana seharusnya seorang artis memperlakukan manajernya. Dia benar-benar menganggapku sebagai gadisnya. Bersikap manja, merengek ini dan itu, benar-benar seperti anak kecil. Dia berdalih dengan alasan sudah lama dia tidak pernah pacaran. Ada-ada saja.

            Aku sudah mencari segala hal tentang Super Junior. Dia benar. Grupnya memang benar-benar luar biasa. Tapi menurutku yang paling luar biasa adalah dia, karena bisa mengatur grup sebesar itu dengan sangat baik. Namja yang kusukai ternyata benar-benar mengagumkan.

            Leeteuk itu… dia tidak pernah memintaku menjawab pernyataannya waktu itu, pernyataan bahwa dia menjadikanku sebagai kekasihnya. Sepertinya dia mengambil kesimpulan sendiri bahwa aku memang ingin menjadi kekasihnya. Tapi dia juga tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Tidak sama sekali. Aku juga tidak tahu bagaimana posisiku yang sebenarnya di sampingnya. Tapi sepertinya aku juga tidak butuh pengakuan apa-apa. Berada di sampingnya saja sudah lebih dari cukup untukku.

            Kami berdua jatuh cinta dengan cara yang tidak biasa. Hanya butuh hitungan detik untuk jatuh cinta padanya saat pertemuan pertama kami. Kenapa kisah ini harus begitu berbeda dengan kisah cinta pasangan lainnya? Kenapa aku tidak bisa merasakan apa yang dirasakan yeoja-yeoja lain? Bertemu berkali-kali dengan namja yang sama, merasa kagum dengan pesona berbeda yang ditunjukkan namja itu setiap harinya, kemudian merasa tidak sabar untuk melihat namja itu lagi keesokan harinya. Apa aku tidak bisa merasakan kisah cinta normal seperti pasangan lain di atas dunia ini?

            “Kyo~a, bogoshipda!!!”

            Aku mengernyit mendengar ucapannya. Astaga, namja ini, dia baru menghilang satu jam untuk syuting dan aku juga menungguinya di ruang ganti, apa-apaan sikapnya itu?

            “Aku memang merindukanmu!” serunya, tak terima melihat ekspresi wajahku. “Kau itu pernah pacaran tidak, sih? Kau tidak tahu, ya? Seorang namja bahkan bisa merindukan gadisnya walaupun gadis itu sedang berada di sampingnya sekalipun!”

            “Teori macam apa itu?”

            “Molla. Aku juga tidak tahu,” katanya enteng dan dengan seenaknya merebahkan kepalanya di pangkuanku.

            “YAK!”

            “Apa kau sudah mencari tahu segala hal tentangku?” tanyanya dengan mata terpejam, tidak mempedulikan teriakanku.

            “Ne. Wae?”

            “Jadi kau sudah tahu kan kalau kebiasaanku di waktu luang adalah mencari tempat istirahat yang paling nyaman?”

            “Lalu?”

            Dia tiba-tiba saja melingkarkan tangannya ke pinggangku dan membenamkan wajahnya di perutku.

            “Sepertinya aku sudah menemukan tempat istirahat yang paling nyaman. Pangkuanmu.”

***

LEETEUK’S POV

 

            Jatuh cinta padanya menyenangkan. Aku suka saat pipinya memerah ketika aku menggodanya, teriakan kesalnya saat aku mengganggunya, atau bahkan kesenanganku untuk menarik perhatiannya, memastikan bahwa dia menyadari kehadiranku.

            Aku tahu kisah ini tidak biasa. Terlalu aneh untuk sebuah kisah cinta. Mana ada orang yang jatuh cinta di detik pertama saat melihat wajah orang di hadapannya? Daya tarik itu terasa begitu menyiksa, sekaligus menyenangkan. Aku benar-benar menikmati kehadirannya dalam hidupku.

            Aku menceritakan hal ini pada Yesung yang akhir-akhir ini sangat sering bekerja denganku. Dan anehnya dia menganggap hal ini biasa saja. Jatuh cinta pada pandangan pertama, katanya waktu itu. Tapi sepertinya orang yang merasakan hal yang sama tidak akan sepertiku yang langsung mencium yeoja di hadapannya.

            Aku mencari tahu segala hal tentangnya sebisaku dan Taksama hyung harus menderita karena hal ini. Aku menginterogasinya seharian waktu itu, memaksanya menceritakan apa yang terjadi pada Eun-Kyo. Gadis itu ditinggal pergi oleh calon suaminya tepat di hari pernikahan mereka. Dasar namja bodoh. Pasti otaknya sudah bergeser dari tempat yang seharusnya sampai bisa melakukan hal itu. Tapi di sisi lain aku juga begitu bersyukur. Kalau namja itu tidak meninggalkannya, aku tidak akan bisa bersama dengannya sekarang.

            Apa ada yang salah jika aku terlalu mencintainya? Untuk saat ini, aku rasa aku hanya menginginkan satu hal saja. Memilikinya

***

EUN-KYO’S POV

 

            “Eomma,” ucapku senang saat melihat eommaku datang. Aku memang meneleponnya tadi untuk menemaniku makan siang bersama.

            “Kyo~ya, sudah lama kau tidak pulang ke rumah. Apa kau sebegitu sibuknya?” tanyanya sambil memelukku singkat.

            “Ne, eomma. Artis yang kumanajeri memang sibuk sekali.”

            “Leeteuk, eh? Eomma menyukainya. Apalagi di Strong Heart dan Star King. Dia lucu sekali.”

            Aish, bahkan eommaku saja mengenalnya. Aku benar-benar payah!

            Aku memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan kami.

            “Jadi… bagaimana kabarmu? Sepertinya kau sangat menikmati pekerjaan barumu. Apa karena Leeteuk itu tampan?” goda eommaku.

            “Aish, eomma!” rajukku.

            “Hahaha. Digoda begitu saja mukamu langsung memerah.”

            Aku tersenyum malu. Menyenangkan sekali memiliki eomma seperti eommaku ini. dia memosisikan diri sebagai sahabatku, membuatku merasa nyaman untuk menceritakan apapun padanya. Dia sempat menolak usulanku untuk menikah denagn Sun-Jin, tapi saat itu untuk pertama kalinya aku mendebatnya. Dan ternyata insting eommaku memang benar. Sun-Jin itu bukan namja baik-baik.

            “Eomma… apa eomma ingat namja yang aku ceritakan waktu itu?”

            “Namja yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama? Tentu saja eomma ingat. Kenapa? Apa kau bertemu dengannya lagi?”

            Aku mengangguk.

            “Dia… Leeteuk oppa.”

            Eommaku terdiam untuk beberapa saat. Kukira dia marah karena tidak suka aku menyukai seorang artis, tapi komentarnya setelah itu sukses membuatku melongo.

            “Aigoo, eomma tidak menyangka punya anak bodoh sepertimu! Bisa-bisanya kau tidak mengenali seorang Leeteuk Super Junior. Aigoo, Eun-Kyo~a, kau benar-benar payah!”

            “Eomma!!!!” seruku frustasi.

            “Apa? Eomma kan hanya mengatakan kenyataan. Ah, jadi gara-gara itu anak eomma mulai berdandan dan tampil cantik?”

            Aku tidak tahu betapa tidak karuannya wajahku sekarang. Eommaku ini benar-benar.

            “Eomma sadar? Huh, dia bahkan tidak berkomentar sama sekali. Padahal aku sengaja bangun lebih pagi untuk berdandan dan membuatnya terpesona.”

            Aku mengernyitkan keningku bingung saat eommaku tidak menertawakanku sama sekali. Malah sebaliknya. Dia menatapku dengan serius.

            “Apa penampilannya juga berubah hari ini? Apa kau ingat dia memakai baju apa? Apa dia terlihat lebih tampan dari kemarin? Atau biasa saja?”

            Aku tertegun mendengar pertanyaan eommaku. Baju apa yang dipakai Leeteuk hari ini? Aish, aku benar-benar tidak ingat. Aku tidak memperhatikan apapun yang sedang dipakainya.

            “Kau tidak tahu?” tebak eommaku tepat sasaran.

            Aku mengangguk, masih tidak mengerti apa maksud eommaku menanyakan hal aneh itu.

            “Bukankah dia juga sama? Bisa saja dia juga tidak memperhatikan baju apa yang kau pakai. Apakah kau terlihat cantik atau tidak.”

            “Maksudnya?”

            “Kau benar-benar tidak memperhatikannya atau yang paling penting bagimu dia ada?”

***

            Ucapan eommaku tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. Apa aku sudah puas dengan fakta bahwa dia ada sehingga tidak sempat memperhatikan hal lainnya? Sesederhana itukah?

            Aku berjalan gontai memasuki gedung SM. Leeteuk memintaku menemuinya disini siang ini, entah ada urusan apa. Tapi aku juga tidak terlalu peduli. Yang penting aku bisa melihatnya hari ini.

            Langkahku terhenti saat melihat dua orang yang sedang berdiri di depan pintu lift. Leeteuk dan seorang gadis. Ah, aku pernah melihat gadis itu saat mencari berita tentang Leeteuk. Gadis yang digosipkan pacaran dengannya karena mereka tertangkap memakai anting dan kalung yang sama. Karena penasaran aku bahkan sempat mencari beberapa video tentang mereka berdua. Dan ada begitu banyak video yang berserakan di internet untuk membuat perasaanku jungkir balik. Sepertinya pasangan ini juga sangat terkenal di kalangan para fans. TaeTeuk. Gadis itu. Kim Taeyeon. Leader SNSD.

            Aku menghela nafas. Gadis itu cantik sekali. Mungil. Sesuai dengan gadis idaman Leeteuk. Apa mereka berdua benar-benar memiliki hubungan?

            Ada rasa sakit yang begitu sangat saat melihat tangan Leeteuk dengan mudahnya terulur untuk mengacak-acak rambut gadis itu. Melihat mereka tertawa bersama dan cara mereka memandang satu sama lain. Jadi… beginikah rasanya cemburu? Ternyata sama sekali tidak enak.

            Tiba-tiba mata Leeteuk tertuju ke arahku. Dia tersenyum dan memberi tanda agar aku menghampirinya. Setengah malas, aku berjalan menuju mereka berdua.

            “Taeng~a, ini yeoja yang aku ceritakan padamu!” ujar Leeteuk penuh semangat.

            Taeng? Dia bahkan punya panggilan kesayangan untuk gadis ini.

            “Annyeonghaseyo onnie, senang berkenalan denganmu,” ucap gadis itu ramah dengan senyum tersungging di bibirnya.

            Aku berusaha membalas senyumnya, tapi rasanya begitu berat, sehingga yang bisa kulakukan hanya mengangguk.

            “Aigoo, uri Eun-Kyo sepertinya cemburu,” goda Leeteuk. “Tidak perlu mencemburui anak kecil ini, Kyo~a! Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, walalupun sebenarnya aku tidak terlalu sudi dia menjadi adikku,” ejek Leeteuk.

            “Mworago? Apa katamu, ajjushi? Cih, siapa juga yang sudi jadi adikmu, hah? Kau saja yang menganggap begitu! Onnie~ya, dia benar. Tidak usah cemburu padaku. Aku mana mungkin menyukai ajjushi-ajjushi tua seperti dia!” ujar Taeyeon sambil meleletkan lidahnya.

            Leeteuk mengulurkan tangannya untuk menjitak gadis itu, tapi dengan cepat dia berlari pergi sambil tertawa-tawa.

            “Onnie~ya, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi kapan-kapan!”

            Aku melambai ke arahnya sebelum tubuhnya menghilang di belokan.

            “Jadi… apa kau cemburu karena melihatku bersama gadis lain?”

            “Ani!” seruku gugup.

            “Ah, tidak perlu malu. Aku malah senang. Dan tenanglah, kau tidak perlu cemburu pada siapa-siapa. Kecuali kalau Han Ga-In menceraikan suaminya, baru kau boleh kelimpungan. Hahaha.”

            Aku menatapanya sinis. Sudah rahasia umum bahwa dia mengidolakan wanita yang sudah bersuami itu. Tidak heran sebenarnya. Wanita itu memang cantik sekali.

            Dia merangkul bahuku tiba-tiba tanpa rasa canggung. Tidak peduli bahwa bisa saja ada orang yang melihat kami.

            “Apa yang….”

            Dia memotong ucapanku dengan satu ciuman cepat. Setengah terpana, aku melihatnya mentapku lekat-lekat denagn raut wajah serius. Dan perkataannya setelah itu nyaris membuatku terkena serangan jantung.

            “Bagaimana kalau kau menjadi manajerku seumur hidup? Tugasmu adalah mengatur hidupku. Aku akan membayarmu dengan jaminan bahwa aku akan berada di sampingmu sampai salah satu dari kita mati. Pekerjaan yang menarik bukan?”

***

            “Eun-Kyo~a.”

            Aku berbalik saat mendengar suara yang sangat familiar itu. Sun-Jin.

            Gerakan tanganku yang awalnya berniat mengambil sayuran terhenti di tengah-tengah. Aish, kenapa aku harus bertemu dengannya di supermarket ini?

            “Bisa bicara sebentar?”

***

            Aku bukan lagi anak kecil yang takut menghadapi masalah. Aku memilih menerima ajakannya. Dan disinilah kami sekarang. Di sebuah kedai kopi kecil yang cukup nyaman.

            “Maaf karena waktu itu aku meninggalkanmu begitu saja.”

            Cih, enteng sekali dia meminta maaf. Apa menurutnya perbuatannya itu adalah tindakan kriminal ringan? Tidak. Kalau menurutku dia pantas dihukum penjara seumur hidup. Apa dia tidak membayangkan betapa malunya keluargaku akibat perbuatannya?

            “Terserah kau sajalah. Aku malah bersyukur tidak jadi menikah dengan namja sepertimu,” ucapku ketus.

            “Aku… aku benar-benar menyesal melakukannya. Sungguh. Keluargaku sangat marah padaku. Kemudian aku mulai berpikir. Memangnya apa lagi yang aku butuhkan? Aku sudah memiliki gadis yang sangat mencintaiku dan bisa kubanggakan di depan semua orang. Aku memang bodoh, Eun-Kyo~a.”

            “Itulah masalahnya, Kim Sun-Jin. Kau hanya menganggapku sebagai medali emas yang bisa kau banggakan kemana-mana. Hanya sebatas itu. Kau tidak mencintaiku. Dan aku juga tidak mencintaimu.”

            “Apa? Apa kau begitu marah padaku Eun-Kyo~a sampai kau melupakanku begitu saja dan berkata bahwa kau tidak mencintaiku lagi?”

            “Aku memang tidak pernah mencintaimu. Aku salah mengartikan perasaanku selama ini. Jadi lebih baik mulai sekarang kau tidak usah berharap apa-apa lagi dan juga tidak usah muncul di hadapanku lagi.”

            “Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Park Eun-Kyo. Aku tahu kau masih mencintaiku. Kita bisa memulai semuanya lagi dari awal dan aku akan memperbaiki semuanya. Kita….”

            “Tidak bisa lagi,” potongku. “Kau sudah memperbaiki semuanya dengan pergi meninggalkanku. Aku bahkan merasa harus berterima kasih padamu. Karena jika kita tetap menikah saat itu, aku yakin aku sekarang sudah terjebak dalam kehidupan yang menyiksa.” Dia berniat mendebatku lagi, tapi aku langsung melanjutkan ucapanku. “Karena sudah ada namja lain yang memenuhi otakku. Karena sudah ada namja lain yang membuatku rindu setengah mati. Dan namja itu bukan kau.”

***

            Apa aku sudah bilang bahwa kisah cinta ini begitu sederhana? Hanya membutuhkan waktu sedetik untuk jatuh cinta padanya. Kemudian terpesona padanya lagi dan lagi. Amat sangat sederhana. Tidak seperti kisah cinta Romeo dan Juliet yang begitu sarat konflik ataupun seperti kisah cinta Edward Cullen dan Isabella Swan yang membutuhkan perjuangan berat untuk bisa bersatu. Kisah cinta kami sederhana. Tanpa konflik apapun. Hanya keharusan untuk menerima kehadiran satu sama lain.

            Cinta itu memilih. Aku bisa saja memilih untuk menuruti kata hatiku yang merasa bahwa kisah cinta kilat ini terlalu aneh kemudian memutuskan untuk hidup tanpanya. Tapi aku memilih hal sebaliknya. Aku memutuskan bertahan di sampingnya. Memutuskan untuk menggantungkan hidupku pada kehadirannya. Sesederhana itu. Aku hanya perlu memilih.

            Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku ke arah pemandangan di luar jendela mobil yang terbuka. Aku mengulurkan tanganku keluar, menghirup angin musim semi yang menyegarkan. Ada bau asin yang menyelinap masuk ke indera penciumanku. Bau pantai.

            Aku menyukai musim semi, walaupun aku lebih menyukai musim dingin. Aku suka melihat warna-warna yang muncul saat bunga-bunga mulai bermekaran. Itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan.

            Aku menoleh saat merasakan sentuhan ringan di rambutku dan mendapatinya tersenyum, menunjukkan lesung pipinya yang menawan. Bahkan hal paling sederhana sekalipun yang berhubungan dengannya bisa membuatku terpesona.

            “Saranghae….”

***

LEETEUK’S POV

 

            Mungkin kisah cinta kami adalah kisah cinta paling sederhana. Paling tidak menarik dibandingkan kisah cinta lainnya. Tapi hal yang paling luar biasa adalah saat mengetahui bahwa ada begitu banyak hal yang tidak kau sadari sebelumnya. Betapa cantiknya dia saat tersenyum, betapa menenangkannya melihat dadanya bergerak, pertanda bahwa paru-parunya bekerja untuk menarik nafas, betapa menyenangkan menunggu esok pagi datang sehingga aku bisa terbangun dengan perasaan yang tidak sabar untuk melihatnya lagi. Hal-hal seperti itu. Hal-hal sederhana seperti itu yang membuat kisah ini terasa begitu luar biasa.

            Aku melihatnya menoleh keluar jendela mobil, menikmati pemandangan musim semi yang terhampar di sekeliling kami. Rambutnya tampak berantakan tertiup angin, tapi itu malah membuatnya terlihat semenawan dewi-dewi Yunani.

            Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku untuk merapikan anak-anak rambutnya yang terjuntai menutupi wajah. Ada satu kata yang tidak sempat aku katakan padanya. Kata yang selalu aku tahan-tahan selama ini. Jika aku mengatakannya, bagaimana reaksinya nanti? Apa dia sudah puas dengan keadaan sekarang? Atau satu kata ini masih berarti banyak?

            Dia menoleh ke arahku, membuatku dengan refleks tersenyum. Tersenyum adalah hal yang sangat mudah dilakukan jika bersamanya.

            “Saranghae…” bisikku, membuat gadis di hadapanku ini melongo selama beberapa saat. Ini memang pertama kalinya aku mengucapakan kata ini padanya, dari begitu banyak kata yang menurutku sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan perasaanku secara gamblang. Akhirnya aku tahu kenapa Kyuhyun selalu berkata bahwa dia tidak suka mengucapkan kata ini terlalu sering pada istrinya. Karena ada kesenangan tersendiri saat melihat wajah gadis yang kita sukai bersemu merah saat kita tiba-tiba mengucapkan kata itu. Kata yang terdengar biasa jika diucapkan terlalu sering akan terasa begitu luar biasa saat akhirnya keluar dari mulut orang yang jarang mengucapkannya.

            “Bisakah aku meminta sesuatu yang kedengarannya sedikit tidak masuk akal?” tanyaku beberapa saat kemudian.

            Ada begitu banyak hal yang kupikirkan saat bersama dengannya. Mengenai masa depan, keinginanku untuk hidup bersamanya, bahkan tentang kematian sekalipun.

            “Apa?” tanyanya dengan suara pelan.

            “Bisakah kau mati lebih dulu daripada aku?” Ucapanku membuat mulutnya ternganga lebar dan aku yakin sekali dia akan mengamuk sesaat lagi jika aku tidak cepat-cepat menjelaskannya.

            “Agar aku bisa mendekorasi tempat peristirahatan terakhir seindah mungkin untukmu.”

END

 

 

Gyahaha. Kacau bener nih ff. Apalagi endingnya. Wkwkwk. Tapi itu emang keinginan Teukie untuk istrinya nanti. Dan aku suka banget ama kata-kata dia.

Fika onnie, aku pasti bikin onnie penasaran setengah mati y gara-gara nungguin nih ff? Mianhae, onnie! Jeongmal! Apa onnie puas ama hasilnya? Ide aku udah mentok banget soalnya!!!

Mian juga buat reader yang udah nunggu lama. Mianhae!!!!! Aku emang ga jelas banget jadi orang. Wkwkwk.

Mohon komen , kritik, dan sarannya, ya! Ayo tebak, apa ff selanjutnya?