SIWON’S POV

 

“Siwonnie, 30 menit lagi pemotretannya akan dimulai. Kau bisa bersiap-siap sekarang.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Seorang kru menunjuk ruang ganti yang terletak di sebelah kiri ruang pemotretan, memintaku masuk kesana untuk mengganti pakaian.

Aku melirik pintu di samping ruang gantiku. Sepertinya itu ruang ganti untuk model yang akan melakukan pemotretan bersamaku siang ini. Pintunya sedikit terbuka dan aku bisa mendengar suara-suara teriakan dari dalam. Aku memandang ke sekeliling. Tidak ada orang, karena semuanya sedang berkumpul di ruang pemotretan. Sedikit nekat, aku memutuskan untuk mengintip apa yang terjadi. Ini bukan gayaku, tapi aku sudah terlanjur penasaran.

“Aku kan sudah bilang, jangan sekali-kali kau muncul lagi di hadapanku!”

Mataku terbelalak mendengar teriakan gadis itu yang terdengar begitu kejam. Dia, Shin Eun-Ji itu, aku tidak menyangka model terkenal seperti dia bisa berbicara sekasar itu pada orang yang jauh lebih tua darinya.

“Tapi aku ibumu!” Wanita yang sudah berusia sekitar 40-an itu balas berteriak.

“Cih! IBU? IBU KAU BILANG?! Apa pelacur sepertimu pantas mengaku sebagai ibuku? Kau bahkan mencampakkanku begitu saja, Nyonya! Aku tidak mengenalmu! Jadi jangan muncul di hadapanku lagi! Kau tahu? Kalau sampai muncul skandal tentangku gara-gara kau, aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidup! Sekarang lebih baik kau pergi dari hadapanku! PERGI!”

Aku terpaku di depan pintu dengan wajah syok. Dia… meneriaki ibunya sendiri dengan kata-kata kasar? Gadis macam apa dia? Hal yang paling aku benci di dunia ini adalah seseorang yang melakukan hal yang dibenci oleh Tuhan. Dan gadis itu baru saja melakukannya. Dia mencaci-maki ibu kandungnya sendiri.

Aku beranjak dari depan pintu dan masuk ke ruang gantiku. Gadis itu… namja mana yang dengan bodoh akan jatuh cinta pada gadis bermuka dua seperti itu?

***

EUN-JI’S POV

Aku terduduk di lantai sambil membenamkan kepalaku di lutut. Tubuhku bergetar hebat dan nafasku tersengal. Dia datang lagi. Wanita itu datang lagi.

Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang kesini dan menghampiriku. Entah dari mana dia tahu jadwalku, padahal sudah lewat 5 bulan kami tidak bertemu. Semenjak kejadian itu….

“Eun-Ji~a! Gwaenchana?” Hee-Kyung onnie bergegas menghampiriku dan memeluk tubuhku erat.

“Dia datang, onnie,” ujarku serak. “Wanita itu datang.”

“Siapa?”

“Ibuku.”

Pelukannya semakin menguat dan sekarang tangannya mengelus kepalaku lembut. Hee-Kyung onnie adalah sepupu sekaligus manajerku. Dan dialah yang selalu menjagaku baik-baik agar wanita itu tidak mendekatiku, tapi sekarang….

“Kau harus bersiap-siap sekarang, Eun-Ji~a, kendalikan dirimu dengan baik. Nanti kita bicarakan ini di rumah.”

Aku mengangguk lemah dan bangkit berdiri dibantu olehnya.

“Ayo tersenyum! Sebentar lagi kau akan melakukan pemotretan dengan Choi Siwon! Bukankah kau sangat menyukainya?”

Perlahan senyum terkembang di wajahku yang pucat. Mengingat nama pria itu, bagaimanapun buruknya suasana hatiku, aku selalu saja bisa tersenyum.

***

SIWON’S POV

Aku melirik gadis yang baru saja memasuki ruangan pemotretan itu. Harus kuakui, dia memang cantik sekali, tapi mengingat kelakuannya yang tak termaafkan itu, aku malah jadi jijik melihatnya. Dasar gadis bermuka dua!

Dia melangkah menghampiriku dengan senyum tersungging di wajahnya.

“Annyeonghaseyo, oppa! Shin Eun-Ji imnida. Mannasseo bangapseumnida,” ujarnya sambil membungkukkan badan.

“Kau sudah tahu namaku, jadi aku tidak perlu mengenalkan diri lagi, kan? Sudahlah, tidak usah sok beramah-tamah denganku,” ujarku dingin, tidak bisa mengendalikan rasa benciku padanya. Biasanya aku selalu bisa mengendalikan diri dengan baik, tapi ada pengecualian untuk gadis ini. Dia benar-benar keterlaluan. Dia bahkan mengatai ibunya sendiri seorang pelacur.

Tubuhnya menegang mendengar perkataanku yang tidak disangka-sangka itu. Sambil tersenyum sinis aku melangkah meninggalkannya.

Aku tidak pernah suka berada di dekat gadis seperti itu. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, gadis seperti apa yang saat baru berusia 19 tahun sudah memutuskan menjadi model dan terkenal dengan imej seksinya? Hampir semua orang pasti akan berkomentar negatif tentang itu.

***

EUN-JI’S POV

Aku terpana mendengar ucapannya yang terkesan sangat tidak ramah dan dingin. Berbeda sekali dengan imej yang selama ini ditunjukkannya ke muka publik. Tapi sepertinya sikapnya itu hanya berlaku padaku saja, karena dia terlihat sangat ramah pada kru-kru lain. Apa dia membenciku? Tapi kenapa? Kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.

Aku menatapnya dari jauh dengan gelisah. Ada apa sebenarnya? Aku tidak mau dibenci oleh orang yang aku sukai.

Yah, sudah cukup lama aku mengaguminya. Sebagai member Super Junior, sebagai artis, bahkan juga sebagai model yang sangat berbakat. Aku sangat berharap bisa bertemu dengannya dan bisa melakukan pemotretan bersama. Tapi, saat keinginanku terkabul, kenapa jadinya malah seperti ini?

“Kau kenapa berdiri sendirian disini? Sebentar lagi pemotretannya dimulai. Kau sudah berkenalan dengan Siwon oppa? Dia ramah sekali, kan?” tanya Hee-Kyung onnie.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan mengangguk. Aku tidak ingin imejnya terlihat buruk di mata orang lain, walaupun itu sepupuku sendiri.

***

Tema pemotretan kali ini adalah musim semi. Jadi ruangan pemotretan disulap menjadi taman bunga. Aku memakai gaun dengan motif bunga-bunga kecil dan topi anyaman berpinggir lebar. Dia sendiri memakai kemeja putih yang beberapa kancing atasnya terbuka. Tampan? Tentu saja. Bukankah Choi Siwon itu memang tampan dalam balutan baju paling sederhana sekalipun?

Aku mendekatinya, berniat mengajaknya berbicara empat mata. Aku harus tahu alasan kenapa dia membenciku. Apa karena seperti yang aku dengar selama ini bahwa dia sangat alim sehingga tidak mau berdekatan dengan gadis yang mendapat imej seksi sepertiku? Sepertinya bukan itu. Aku juga tidak pernah berpakaian seksi di luar. Selama pemotretan pun aku juga tidak selalu mengenakan pakaian seksi. Aku bahkan tidak tahu darimana asalnya gelar seksiku itu.

“Apa aku boleh tahu kenapa kau memperlakukanku beda dengan yang lain?” tanyaku tanpa basa-basi.

Dia memandangku dengan tatapan yang menghujam. Lagi-lagi memberiku senyum sinis seperti yang dilakukannya sebelumnya.

“Aku biasanya bisa mengendalikan diri dengan baik,” ujarnya pelan. “Tapi khusus untuk gadis yang berani mengatai ibunya seorang pelacur sepertimu, hal itu sama sekali tidak berlaku.”

“Apa?” tanyaku syok. “Da… darimana kau tahu?”

“Kau tidak tahu ruang ganti kita bersebelahan? Aku mendengar semua percakapanmu dengan ibumu tadi. Cih, anak seperti apa yang bisa berkata sekasar itu kemudian mengusir ibunya sendiri? Untung saja Nona, yang mendengarmu hanya aku. Kalau sampai ada kru yang mendengar, karirmu bisa hancur.”

Aku terlalu kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa. Jadi… gara-gara wanita itu lagi, seseorang jadi membenciku?

“Kau terkejut? Kenapa? Bukankah yang kuucapkan itu adalah fakta?”

“Kau… kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi dan malah mengambil kesimpulan sendiri. Tapi aku juga tidak berniat menjelaskan apapun padamu. Jadi Tuan Choi Siwon yang terhormat, tetap saja pada pikiranmu itu. Dan silahkan melanjutkan rasa bencimu padaku dengan tenang.”

***

SIWON’S POV

Aku memandang sosoknya yang berjalan menjauh dengan kening berkerut. Apa aku baru saja melakukan sesuatu yang salah? Kenapa dari cara bicaranya aku merasa bahwa aku telah mengambil suatu kesimpulan yang bertolak-belakang dengan kejadian sebenarnya? Karena sepertinya dia lebih memilih menutup mulutnya dan dibenci olehku daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menggelengkan kepalaku. Memangnya apa urusanku dengan gadis itu? Kami baru beertemu satu kali dan sepertinya tidak akan ada pertemuan yang kedua, jadi buat apa aku repot-repot memikirkannya?

“Ayo, pemotretan akan dimulai!”

Aku membuang pikiranku jauh-jauh dan mulai berkonsentrasi mendengarkan pengarahan dari fotografer. Diam-diam aku menatap wajahnya yang berdiri tepat di depanku. Cantik. Dan terlihat polos. Seandainya saja sifatnya tidak seperti itu, aku akan mempertimbangkan untuk jatuh cinta padanya.

***

EUN-JI’S POV

“Eomma,” ujarku sambil duduk di atas sofa tepat di sampingnya. Aku mengulurkan tanganku dan memeluknya, menyandarkan kepalaku di atas bahunya yang terasa nyaman.

“Anak eomma sudah pulang? Bagaimana pemotretannya? Pasti kau senang sekali kan sudah bertemu dengan idolamu itu?” godanya.

“Ibunya tadi datang ke lokasi pemotretan. Entah darimana dia tahu kalau Eun-Ji akan melakukan pemotretan disana,” kata Hee-Kyung onnie sambil duduk di atas kursi di depanku.

Eomma melepaskan pelukannya dariku dan menatapku khawatir.

“Kau tidak apa-apa, sayang? Apa yang dia katakan padamu?”

“Apalagi kalau bukan meminta uang? Aku terlalu syok melihatnya sehingga aku mengusirnya dengan kasar.”

“Gwaenchana. Yang penting kau tidak apa-apa. Lebih baik kau istirahat sekarang. Sudah malam. Kau pasti lelah, kan?”

“Ne, eomma,” jawabku patuh dan beranjak ke kamar.

Tubuhku rasanya mau remuk. Aku tidak pernah merasa selelah ini sebelumnya. Dibenci oleh orang yang kau sukai, ternyata benar-benar menyakitkan. Bahkan dia membenciku dengan alasan yang salah. Gara-gara wanita itu….

***

AUTHOR’S POV

“Apa saja yang dikatakan ibunya tadi?” tanya Kang Mi-Ra pada Hee-Kyung, keponakannya.

“Aku tidak tahu, Bibi. Aku berada di ruang pemotretan dan meninggalkan Eun-Ji sendirian di ruang ganti.”

“Lain kali kau harus menjaganya baik-baik, ara? Sepertinya aku harus menyuruh orang untuk mengawasi ibunya. Aku tidak mau suamiku mengetahui hal ini. Dia pasti akan marah sekali. Kau tahu kan seberapa protektifnya dia terhadap Eun-Ji?”

“Iya, aku mengerti, Bi.”

“Bagaimana pertemuannya tadi dengan Siwon? Apa berjalan lancar?”

Hee-Kyung mendesah dan menggeleng.

“Aku tidak berani bertanya pada Eun-Ji, tapi sepertinya suasana hatinya malah semakin memburuk setelah mereka bertemu. Aku perhatikan Siwon oppa sedikit tidak ramah padanya.”

“Tidak ramah? Bagaimana bisa? Setahuku Siwon adalah pria baik-baik.”

“Aku juga tidak tahu, Bi. Aku kira karena imej Eun-Ji yang selama ini sedikit seksi. Tapi sepertinya bukan. Siwon oppa bukan orang yang berpikiran kolot seperti itu. Di sekelilingnya juga banyak gadis yang bahkan lebih seksi daripada Eun-Ji. Ini lebih seperti… rasa benci.”

“Benci?” tanya Mi-Ra bingung.

“Dari tatapannya, aku memang merasa seperti itu. Tapi… di saat yang bersamaan aku merasa Siwon oppa juga tertarik padanya.”

“Apa kau bisa mengusahakan sesuatu agar mereka berdua bisa bertemu lagi? Mereka berdua harus saling tertarik. Aku sudah berjanji pada ibu Siwon tentang hal ini. Anakku menyukainya, itu pasti. Cari tahu juga kenapa Siwon bisa sampai membencinya. Tanyakan pada Eun-Ji kalau perlu.”

“Baik. Bibi tenang saja. Aku akan mengurus semuanya. Tapi… tentang perjodohan itu… kapan Bibi akan memberitahu Eun-Ji?”

“Dua minggu lagi kami akan memberitahu mereka dan segera melaksanakan pesta pertunangan dalam waktu dekat.”

“Tapi… mereka berdua bahkan tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.”

“Itulah masalahnya. Ibu Siwon tahu anaknya akan menolak untuk dijodohkan, makanya dia memintaku agar mereka berdua bisa dipertemukan tanpa membuat mereka curiga tentang adanya perjodohan ini. Tapi kau juga tahu, pertemuan pertama ini sama sekali tidak berjalan baik, sedangkan aku harus bisa membuat Siwon setidaknya merasa tertarik pada Eun-Ji.”

“Siwon oppa akan menghabiskan waktunya di Taiwan Bi, dan sepertinya baru akan pulang tanggal 6. Aku bertanya pada manajernya tadi.”

“Kapan dia berangkat?”

“Besok lusa sepertinya.”

“2 hari kalau begitu. Kita harus membuatnya tertarik pada Eun-Ji dalam waktu dua hari. Sangat mudah untuk jatuh cinta pada anakku, kau tahu? Bahkan Choi Siwon sekalipun akan mengakuinya.”

***

SIWON’S POV

Aku melangkah memasuki gereja di depanku. Perasaan tenang langsung meliputiku saat aku sudah berada di dalam bangunan megah itu. Kali ini aku sengaja datang ke gereja di dekat rumahku walaupun ini bukan hari Minggu. Bukankah tidak ada larangan untuk datang ke gereja kalau kita memang sednag ingin berdoa?

Tentu saja gereja ini kosong, hanya ada satu orang yang sedang duduk di bangku paling depan. Seorang gadis. Dia tampak tertunduk, doanya kelihatannya khusyuk sekali, karena aku bisa mendengar isak tangisnya dari sini. Suasana memang sangat sunyi sehingga aku bisa mendengar dengan jelas suara sekecil apapun.

Aku mulai khusyuk dengan doaku sendiri. Cukup lama. 15 menit. Dan saat aku mengangkat kepalaku lagi, aku masih melihat gadis itu duduk di tempat yang sama. Tanpa sadar aku malah memperhatikannya lagi. Kali ini lebih lama. Sepertinya gadis itu orang baik-baik. Tentu saja. Apa lagi yang harus kukatakan tentang seorang gadis yang berdoa sampai menangis di depan Tuhannya?

Dia memakai gaun putih sederhana dan rambut lurus yang tergerai di punggungnya. Bahkan tanpa melihat wajahnya saja aku bisa yakin bahwa dia adalah gadis yang sangat cantik. Menurut pendapat pribadiku, gadis berhati baik akan selalu terlihat cantik.

Aku bangkit berdiri dan berjalan ke lapangan parkir. Aku membuka pintu mobilku dan duduk di bangku kemudi, lalu menghidupkan mesin. Hari ini aku tidak ada pekerjaan, jadi sepertinya aku bisa sedikit bersantai. Besok aku harus berangkat ke Taiwan dan sepertinya ini akan menjadi hari terakhirku mendapatkan kebebasan sebelum menyambut pekerjaan melelahkan yang tiada henti.

Aku baru akan menjalankan mobilku saat mataku menangkap sosok gadis yang baru keluar dari gereja. Gadis tadi. Gadis yang sempat membuatku terkagum tadi. Shin Eun-Ji.

Aku ternganga, tak percaya dengan penglihatanku. Apa-apaan ini? Kenapa sepertinya aku merasa sedang dipermainkan? Kemarin aku merasa sangat amat membencinya, tapi sekarang? Tanpa sadar aku malah jadi sangat mengaguminya.

Cih, ayo berpikir logis, Choi Siwon. Mungkin saja gadis itu hanya merasa bersalah karena dia sudah memperlakukan ibunya dengan buruk kemarin.

Tapi… jika dia memang gadis seperti yang aku pikirkan kemarin, pastinya dia bukan jenis orang yang akan datang ke gereja dan berdoa sambil menangis.

Aku mengacak-acak rambutku gusar. Kenapa aku jadi tertarik dengan kepribadiannya?

Gadis itu masuk ke dalam mobilnya dan tanpa tahu apa yang sedang kupikirkan, aku malah mengikuti mobilnya dari belakang dengan jarak yang tidak mencurigakan.

Aku mengernyitkan keningku bingung saat mobilnya berbelok memasuki sebuah panti asuhan. Mau apa dia kesana?

Aku menghentikan mobilku sedikit agak jauh dan berjalan mengikutinya diam-diam. Aku memakai kacamata hitam, topi, dan masker yang biasa kugunakan untuk menyamar agar tidak dikenali, mengamati apa yang dilakukannya dari balik pintu yang sedikit terbuka.

“Nuna, kau datang!!!” Seorang anak kecil berlari menyambutnya.

Aku mendengar tawa lembut keluar dari mulut gadis itu. Dia memeluk anak laki-laki itu dan menyodorkan sebuah bungkusan.

“Untukku?” serunya. Senyum bahagia terpancar di wajahnya.

“Ayo panggil yang lain. Aku membawakan banyak hadiah untuk kalian semua.”

“Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?”

Aku berbalik dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 30-an tersenyum ramah ke arahku.

“Ah, ani. Ng… tidak, aku hanya….”

“Anda teman Nona Shin Eun-Ji?”

“Bukan. Aku….”

“Tunangannya?”

“Bukan. Ng… tidak perlu tahu aku siapa, tapi… bisa kau beritahu aku apa yang dilakukannya disini?”

“Oh. Nona Shin Eun-Ji adalah donatur tetap panti asuhan ini. Setiap minggu dia kesini untuk mengunjungi anak-anak dan membawakan mereka hadiah. Dia sudah menganggap anak-anak disini sebagai keluarganya sendiri.”

Ucapannya membuatku terpana. Donatur tetap? Dalam waktu kurang dari satu jam dia bahkan sudah berhasil membuatku kagum dua kali.

Aku membungkuk sopan dan pamit pergi. Aku memutuskan menunggu di mobil saja suapaya tidak dicurigai. Aku masih penasaran, apa lagi yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

“Hyung,” ujarku setelah teleponku tersambung ke nomor manajerku. “Apa kau bisa memberitahuku segala hal tentang Shin Eun-Ji? Ne, model terkenal itu. Tolong hubungi aku setelah kau mendapatkan informasinya.”

Aku memutuskan sambungan telepon dan memfokuskan pandanganku ke panti asuhan tadi. Lewat 15 menit kemudian dia tetap saja belum muncul. Apa dia mau seharian berada disana?

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke dashboard, mulai merasa bosan. Astaga, apa sih yang sedang kulakukan? Menyia-nyiakan waktuku untuk hal tidak berguna seperti ini?

HP-ku berbunyi. Manajerku.

“Ne, hyung?”

“Sangat sulit mendapatkan data tentang gadis itu. Keluarganya sangat tertutup. Ayahnya pemilik sebuah perusahaan makanan besar. Setahuku mereka kaya sekali. Tapi aku tidak bisa mendapatkan data-data pribadi gadis itu saat kecil. Yang aku tahu hanya dia adalah salah satu mahasisiwi di Seoul University dan seorang model terkenal. Sulit mencari data-data lain tentangnya. Para wartawan sendiri bahkan tidak menemukan fakta tentang keluarga kandungnya.”

“Keluarga kandung?”

“Ne. Dia bukan anak kandung keluarga Shin. Wartawan fashion merasa ada sesuatu yang aneh tentangnya, karena ayah angkatnya berusaha keras untuk menyembunyikan data-data asli gadis itu. Mereka merasa ada latar belakang buruk dari keluarga gadis itu.”

“Latar belakang buruk,” gumamku. Apa ada hubungannya dengan wanita yang dihinanya sebagai pelacur waktu itu? Apa karena itu ayah angkatnya berusaha menyembunyikan masa lalunya agar tidak diketahui orang lain?

“Hanya itu saja yang bisa kudapatkan sejauh ini.”

“Ne, gomaweo, hyung.”

“Kenapa kau penasaran dengannya? Apa kau menyukainya, Siwon~a?”

“Ne? Ani! Aku hanya… ingin tahu saja. Gomaweo, hyung.”

Aku dengan cepat memutuskan sambungan telepon karena aku melihat mobil gadis itu keluar dari halaman panti asuhan. Aku mengikutinya dengan kecepatan sedang. Kali ini dia menghentikan mobilnya di depan sebuah taman. Dia tampak membawa sebuah tas besar dan berjalan menghampiri seorang namja yang duduk di salah satu kursi di taman itu. Mereka berdua berpelukan dan saling melempar senyum.

Sesaat… ada sesuatu yang berkecamuk di dadaku. Aku tidak suka dia kelihatan akrab seperti itu dengan namja lain. Aneh, apa yang sebenarnya sedang terjadi denganku? Mengikuti gadis itu seharian, mengagumi setiap hal yang dilakukannya, merasa marah tanpa sebab yang jelas hanya karena melihatnya berpelukan dengan namja lain…. Hanya satu kesimpulan yang bisa kutarik dari ini semua. Sepertinya… tanpa sadar aku sudah jatuh cinta padanya.

***

EUN-JI’S POV

“Oppa,” panggilku saat aku sudah berdiri di sampingnya. Namanya Kim Tae-Hyun. Dia juga model. Sama sepertiku. Kami sempat melakukan pemotretan bersama beberapa kali. Dia sudah kuanggap sebagai oppa-ku sendiri.

Hari ini kami berdua berjanji untuk bertemu di taman seperti biasa. Kami memiliki hobi yang sama. Melukis. Dan taman ini adalah tempat yang paling tepat untuk menyalurkan hobi kami. Pemandangannya indah dan meneduhkan. Sayangnya aku tidak pernah bisa melukis pemandangan. Satu-satunya objek lukisanku selama ini adalah dia. Choi Siwon. Objek paling menarik di mataku.

“Kau dari panti asuhan lagi?”

“Ne. Kau tahu, Min-Ri sangat menyukai boneka baru yang kubelikan untuknya. Dia bahkan tidak mau melepas boneka itu sama sekali.”

“Hmm, bagus. Yang penting kau senang melakukannya. Jadi… apa yang akan kita lakukan siang ini? Melukis seperti biasa?”

“Tentu saja. Tapi… aku ingin oppa melakukan sesuatu untukku.”

“Apa?”

Aku terkekeh dan menunjuk kedai es krim di depan taman.

“Belikan aku es krim!”

“Aish, aku ini benar-benar! Ya sudah, tunggu sebentar disini.”

Aku mengangguk dan mulai menyiapkan peralatan melukisku. Saat dia kembali dengan membawa semangkuk es krim, aku sudah sibuk membuat sketsa di kanvasku. Masih sama. Objek yang sama. Kali ini aku melukisnya sesuai dengan apa yang kulihat terakhir kali. Kemeja putih. Dia tampak bercahaya sekali dengan kemeja putihnya.

“Yak, sesekali kau harus melukisku! Aku ini kan tidak kalah tampan darinya! Menyebalkan!”

“Apa?” jeritku, pura-pura syok mendengar perkataannya. “Kau tidak kalah tampan? Aigoo oppa, kau bahkan tidak bisa dibandingkan dengan dia! Ckckckck,” ejekku.

“Yak Shin Eun-Ji, kau benar-benar membuatku kesal!” ujarnya sambil mencekik leherku.

“Aish, oppa, baiklah, aku hanya bercanda!” ucapku, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.

“Bagus! Aku memang tidak kalah tampan dari Siwon-mu itu!”

“Terserah oppa sajalah kalau itu bisa membuat oppa senang.”

“Shin Eun-Ji!”

“Ne. Posisimu dan dia sama. Kalian sama-sama orang yang sangat aku cintai. Tapi dengan kadar berbeda. Kau sebagai oppa-ku, dia sebagai namja yang aku suka.”

“Siapa yang mau jadi oppa gadis menyebalkan sepertimu?”

“Mwo?”

“Hahahaha. Iya, aku mau menjadi oppamu! Jadi, kau harus menceritakan semua masalahmu padaku! Ara?”

“Ne. Bagaimana kalau aku cerita sekarang saja? Kau tahu kan kalau kemarin aku melakukan pemotretan dengan Siwon oppa?”

Tae-Hyun oppa mengangguk.

“Dia… tanpa sengaja mendengar percakapanku dengan… ibuku.”

“Ibumu?” serunya kaget. “Kau bertemu dengan ibumu? Lalu?”

Aku tersenyum getir dan mengangguk. Selain keluarga angkatku, satu-satunya ornag yang mengetahui tentang masalahku dan ibuku adalah Tae-Hyun oppa.

“Ne. Kami bertengkar seperti biasa dan aku mengusirnya. Sepertinya Siwon oppa salah paham. Dia pikir aku ini gadis dengan sifat buruk yang tega mengatai ibunya sendiri seorang pelacur.”

“Hmmm, ini agak sedikit rumit. Kau mau menjelaskannya pada Siwon atau tidak?”

“Tidak. Lagipula… mungkin dia hanya menganggapku sebagai rekan kerja saja. Kami juga tidak akan pernah bertemu lagi. Jadi buat apa?”

“Hei bodoh, semangatlah sedikit. Kau ini payah sekali! Masa mau menyerah begitu saja? Hei, kau itu sudah lama menyukainya, jadi berjuanglah untuk mendapatkan pria yang kau sukai itu!”

“Aku tidak tergila-gila dengan emansipasi wanita tahu! Mana mungkin aku yang mengejar duluan! Pertemuan pertama berkesan buruk. Sepertinya dia tidak akan mau lagi bertemu denganku.”

Aku terus berbicara sambil menggambar sketsa di kanvasku. Hampir jadi. Aku selalu bisa menyelesaikan sketsa wajahnya dengan sangat cepat, karena wajahnya adalah memori paling tajam yang tertanam di otakku.

Aku mengeluarkan HP-ku yang berdering dari dalam tas. Nomor yang tidak dikenal.

“Yeoboseyo?”

“Tolong jangan matikan dulu teleponnya. Ini ibu. Kau harus menolongku, Eun-Ji~a. Penagih hutang mengancam akan membunuh ibu sekarang juga kalau ibu tidak membayar hutangnya. Dia memberi ibu waktu satu jam. Kalau tidak, nyawa ibu akan dihabisinya. Tolonglah, datanglah kesini dan selamatkan ibu.”

“Berapa hutangmu?”

“10 juta won.”

Aku mendesah. Sebanyak itu? Apa saja yang dilakukannya selama ini sampai bisa memiliki hutang sebanyak itu?

“Dimana alamatnya? Aku akan kesana sekarang.”

***

SIWON’S POV

Aku memperhatikan mereka berdua dari salah satu kursi taman. Cukup jelas untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.

Gadis itu sibuk melukis sesuatu. Awalnya hanya sekedar sebuah sketsa wajah seseorang. Tapi akhirnya aku menyadari wajah siapa yang sedang dilukisnya. Wajahku.

Apa maksud gadis itu melakukannya? Apa dia menyukaiku? Begitu?

Dia mendapat telepon dari seseorang dan mendadak dia bangkit berdiri dan meninggalkan semua peralatan melukisnya itu begitu saja. Aaku mengikutinya dari belakang. Kali ini aku bahkan harus mengemudikan mobilku dengan sangat cepat agar tidak kehilangan jejaknya. Dia berhenti di bank dan keluar 10 menit kemudian. Sepertinya dia mengambil uang dengan jumlah yang cukup banyak.

Perhentian selanjutnya adalah sebuah hotel. Aku sedikit heran saat melihatnya turun dari mobil dengan penyamaran lengkap. Gerak-geriknya sedikit mencurigakan. Apa yang dilakukannya di tempat ini?

Mendadak firasat buruk menyelimutiku. Ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa, dan sepertinya itu berhubungan dengan gadis itu….

***

EUN-JI’S POV

Jantungku berdetak kencang saat memasuki lobi hotel. Aku sengaja menggunakan penyamaran lengkap, takut ada yang mengenaliku. Para wartawan itu akhir-akhir ini gencar sekali mencari tahu tentangku. Sepertinya mereka berhasil mengetahui bahwa aku ini hanya anak angkat dan berniat mengetahui latar belakangku. Ck, aku bahkan hanya seorang model, kenapa mereka harus sebegitu penasarannya?

Aku keluar dari lift dan mencari kamar yang diberitahu ibuku. Aku jadi heran, kenapa harus di hotel? Apa sih yang sedang dia lakukan? Apa dia sedang melakukan perbuatan bejatnya itu lagi?

Aku mengetuk pintu kamar dan sesaat kemudian seorang laki-laki berperawakan besar membukakan pintu. Aku mendapati ibuku sedang duduk di atas sofa. Di depannya seorang pria berusia sekitar 50-an menatapnya dengan garang.

“Ah, Eun-Ji~ah, akhirnya kau datang!” serunya. Dia bergegas menghampiriku, tapi aku dengan cepat mundur. Aku tidak mau disentuh olehnya.

“Ini uangnya dan tolong lepaskan wanita ini,” ucapku sambil melempar amplop besar berisi uang ke atas meja.

Aku berbalik, berniat meninggalkan tempat itu, tapi pria yang tadi membukakan pintu menghadang langkahku.

“Kau pikir mau kemana kau, Nona? Kau disini untuk melayani Tuanku. Apa ibumu tidak bilang kalau dia memberikanmu sebagai bonus untuk pengganti bunga hutangnya?”

Aku menatap ibuku dengan amarah meledak-ledak. Wanita itu, apa itu yang pantas disebut sebagai seorang ibu?

“KAU!” teriakku. “Tega-teganya kau melakukan ini lagi padaku! Apa belum cukup semua yang telah kau lakukan selama ini?”

Wanita bejat itu, dengan santainya melangkah melewatiku dan berbisik pelan, “Terima kasih atas bantuanmu, Nona manis. Nikmati saja semuanya dengan baik.” Dia menepuk pipiku dan pergi keluar dari kamar.

“LEPASKAN AKU!!!”

Tidak. Kali ini tidak ada lagi yang akan menolongku untuk kedua kalinya. Wanita itu, aku benar-benar membencinya sampai ke urat nadi!

***

SIWON’S POV

Aku melihat wanita yang dulu dimaki Eun-Ji keluar dari kamar hotel. Hanya sendiri. Dimana gadis itu?

“LEPASKAN AKU!!!”

Sekilas aku mendengar teriakan dari balik pintu kamar saat wanita itu melangkah keluar. Tubuhku menegang. Itu suaranya. Tapi… kenapa wanita yang waktu itu mengaku sebagai ibunya ini dengan santainya pergi begitu saja?

Aku menunggu sampai wanita itu hilang di belokan dan mengetuk pintu kamar tempat dia keluar tadi. Cukup lama sampai pintu itu dibukakan oleh seseorang.

“Ada apa?” tanya pria yang membukakan pintu itu dengan raut wajah tidak ramah. Aku berusaha melihat ke dalam, tapi tubuh besarnya menghalangi pandanganku.

“TOLONG!!! MMMFH!!!”

Kali ini aku mendengar teriakan itu lagi dan aku tahu ini tidak main-main. Untung saja aku menguasai ilmu bela diri yang cukup untuk melumpuhkan pria di depanku ini dengan beberapa pukulan dan tendangan.

Aku bergegas masuk dan mendapati seorang pria sedang berusaha menarik lepas baju yang digunakan Eun-Ji, sedangkan gadis itu berusaha keras mendorongnya. Dengan marah aku menarik rambut pria itu dan memukulinya habis-habisan sampai pingsan. Amarahku cukup besar untuk membuatku membunuhnya, tapi untung saja aku masih bisa mengendalikan diri dengan cukup baik. Walaupun begitu sepertinya pria ini akan mengalami cacat yang cukup parah.

Aku menatap Eun-Ji yang masih terduduk di atas tempat tidur sambil memegangi kemejanya yang sudah robek di beberapa bagian. Aku melepas jaket yang kukenakan dan menyampirkannya ke tubuh gadis itu. Dengan hati-hati aku mengulurkan tanganku dan memeluk tubuhnya yang terguncang hebat.

“Sudah. Tenanglah. Semuanya baik-baik saja. Ayo kuantar kau pulang.”

***

Aku membawa sebaskom air hangat dan kain lap ke kamar gadis itu. Dia berbaring di atas kasur dengan mata terpejam. Tapi aku tahu dia sama sekali tidak tidur.

Rumahnya kosong saat aku mengantarnya pulang, sehingga aku memutuskan untuk merawatnya. Ada beberapa lebam di wajahnya karena perbuatan pria bajingan itu, bahkan di sudut bibirnya ada bekas darah yang sudah mengering.

“Eun-Ji~a, bisakah kau bangun? Aku mau membersihkan lukamu.”

Dia membuka matanya dan aku membantunya bersandar ke kepala tempat tidur. Tubuhnya tampak lemah sekali, membuatku menggertakkan gigiku karena marah.

Dengan perlahan aku menyeka wajahnya menggunakan kain lap yang sudah aku basahi dengan air hangat. Sesekali dia meringis menahan sakit dan saat itu juga aku mencaci-maki pria itu dalam hati.

“Apa wanita itu ibu kaandungmu? Kenapa dia meninggalkanmu sendirian disana?”

“Kau sudah melihatnya waktu itu, kan? Aku tidak mau menjelaskan apa-apa padamu.”

“Jadi sekarang kau membenciku?”

“Tidak. Hanya saja… hal ini tidak perlu kau ketahui.”

Ada kilat benci di matanya saat dia mengatakan hal itu.

“Kenapa kau bisa berada di sana dan menolongku?”

Aku tersenyum

“Aku mengikutimu seharian.”

“Mwo?” serunya kaget. Sedetik kemudian dia sudah mengaduh kesakitan memegangi pipinya.

“Gwaenchana?” tanyaku panik.

“Ani. Apa kau bilang tadi? Mengikutiku?”

“Ne. Tadi pagi aku pergi ke gereja dan ternyata kau juga ada disana. Aku sempat berpikir kenapa gadis sepertimu bisa datang ke gereja dan berdoa sambil menangis. Karena penasaran aku mengikutimu terus. Ke panti asuhan, taman, dan hotel itu.”

“Gomaweo. Kalau tidak ada kau, mungkin….”

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi.”

Aku meneruskan pekerjaanku membersihkan wajahnya. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Dia memalingkan wajahnya yang merona merah dariku, membuatku terkekeh pelan.

“Kau menyukaiku?” tanyaku tiba-tiba, membuatnya terbelalak kaget. “Kau bahkan melukis wajahku tadi,” lanjutku lagi.

“Kau melihatnya?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Lukisanmu bagus.”

“Membuatku malu saja!” gumamnya.

“Apa kau tidak bertanya kesimpulan apa yang kudapat setelah mengikutimu seharian?”

“Apa? Aku ini gadis tidak bermoral? Gadis yang mencaci ibunya sendiri, mengatai ibunya pe….”

“Aku menyukaimu,” potongku.

“NE?” serunya syok.

“Aku sudah memutuskan untuk melindungimu seumur hidup.”

***

“Terima kasih, Siwon~a, sudah menjaga putriku dengan baik,” ujar ibu Eun-Ji. Dia pulang sekitar satu jam setelah gadis itu tertidur. Ternyata dia adalah teman ibuku. Aku sering melihatnya datang ke rumah.

“Ne, ajjumma. Cheonmaneyo.”

“Apa yang kau lihat tadi disana? Aku baru akan bisa menanyainya setelah dia bangun nanti.”

Aku menceritakan kejadian tadi, termasuk tentang wanita itu.

“Jadi… apa kau sempat membenci Eun-Ji karena dia mengusir dan mencaci-maki ibunya sendiri?”

Aku mengangguk.

“Lalu sekarang, setelah kau mengikutinya seharian, apa pendapatmu?”

“Aku menyukainya, ajjumma,” jawabku terus terang.

Wanita yang masih tampak cantik di usia 40-nya itu tersenyum lembut dan mengangguk.

“Aku akan memberitahumu sesuatu yang mungkin saja akan merubah pandanganmu tentangnya. Mungkin saja kau akan membencinya, atau mungkin kau mau menerima anakku apa adanya.”

Jantungku berdetak cepat mendengar ucapannya. Seburuk apa masa lalunya sampai ibu angkatnya sendiri berkata seperti itu?

“Wanita yang kau lihat itu memang ibu kandungnya. Dia… seorang pelacur. Dia bahkan tidak tahu siapa ayah Eun-Ji. Wanita itu meninggalkan Eun-Ji di panti asuhan yang sama dengan panti asuhan yang dia kunjungi tadi karena dia tidak mau mengurus anaknya.”

“Lalu, karena Bibi dan suami Bibi tidak bisa punya anak, kami memutuskan untuk mengadopsi Eun-Ji. Kami diberitahu tentang latar belakangnya. Kami menerimanya dengan lapang dada dan tetap memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak.”

“Saat Eun-Ji berumur 16 tahun, ibunya datang kesini dan meminta Eun-Ji dikembalikan. Dia berjanji akan mengganti seluruh biaya yang kami tanggung. Kami tentu saja tidak mengharapkan apa-apa dan menyerahkan segala keputusan pada Eun-Ji. Walau bagaimanapun wanita itu ibu kandungnya dan tentu saja dia berhak menemui anaknya sendiri.”

“Eun-Ji waktu itu setuju untuk tinggal bersama ibu kandungnya selama beberapa saat dan pulang kesini setiap akhir minggu. Kami berdua setuju dan membiarkannya mengambil keputusan sendiri. Tapi… wanita itu tetap saja bukan wanita baik-baik. Dia berniat menjadikan Eun-Ji pelacur, sama seperti yang dia lakukan. Untung saja suami Bibi mengutus orang untuk mengikuti Eun-Ji setiap hari, sehingga kami bisa tepat waktu menyelamatkan anak itu. Sejak saat itu dia trauma jika melihat ibunya.”

“Tapi kau tahu? Eun-Ji masih tetap menganggapnya sebagai ibu kandung, walau apapun yang sudah dilakukannya. Dia bahkan mengirimkan uang yang didapat dari hasil kerja kerasnya ke rekening ibunya diam-diam. Tapi wanita itu tetap saja mendatanginya dan meminta uang terus menerus. Bahkan dia pernah datang ke kantor suami Bibi dan merayunya. Eun-Ji benar-benar mengamuk saat itu dan memutuskan tidak akan mau menemui wanita itu lagi. Tapi ternyata kemarin wanita itu berhasil menemuinya lagi. Bahkan hari ini dia berhasil menjebak anakku seperti waktu itu.”

Aku menghela nafas berat. Jadi seperti itukah hidup yang ditanggungnya selama ini?

“Apa kau berubah pikiran tentang Eun-Ji? Apa kau malu menyukai gadis berlatar belakang seperti itu?”

“Tentu saja tidak. Itu hanya masa lalunya. Aku tidak peduli sama sekali.”

“Ada satu hal lagi yang ingin kuberitahu padamu, Siwon~a. Apa kau tahu bahwa Bibi dan ibumu sudah menjodohkan kalian berdua?”

***

EUN-JI’S POV

Aku membuka mataku dan mengerjap sesaat. Kepalaku rasanya berat sekali.

“Kau sudah bangun?”

Aku terlonjak kaget mendengar suara berat itu.

“Kenapa kau masih ada disini?”

“Aku menunggumu bangun dulu sebelum pulang. Lagipula masih jam 8.”

“Ada sesuatu yang mau kau katakan?” tanyaku bingung.

Dia mengangguk dan tersenyum.

“Apa?”

“Saranghae.”

“MWO?”

Dia mengulurkan tangannya dan memelukku. Rasanya hangat.

“Hari ini aku telah menemukan seorang wanita yang luar biasa. Cantik, beriman, memiliki hati yang baik. Menurutmu apa lagi yang harus kuharapkan dari seorang wanita? Kau sudah merupakan paket lengkap. Jadi… Nona Shin, aku memberikan penawaran terbaik untukmu.” Dia melepaskan pelukannya dan menatap mataku dalam. “Menjadi Nyonya Choi. Setelah kau siap nanti… maukah dengan segala hormat kau menikah denganku?”

Detak jantungku bertalu-talu terlalu keras, membuat rongga dadaku terasa sakit. Dia… tadi dia bilang apa? Nyonya Choi? Menikah? Dengannya?

“Kita berdua sudah dijodohkan dan aku rasa… tidak ada alasan untuk menolak, kan?”

“Dijodohkan?”

“Mmm. Ibumu yang memberitahuku tadi.”

“Tapi aku….”

“Masalah ibumu? Aku sudah tahu semuanya dan aku tidak keberatan.”

“Kita baru bertemu dua hari dan….”

“Lalu apa masalahnya? Apa dua hari tidak cukup untuk jatuh cinta pada seseorang? Donghae bahkan hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk jatuh cinta pada gadisnya.”

“Aku….”

“Aku mencintaimu. Itu sudah lebih dari cukup.”

***

SIWON’S POV

“Oi Siwon~a, kau yakin Shin Eun-Ji itu pacarmu? Coba lihat foto ini? Hahahaha…. Jangan-jangan kau hanya membual pada kami!”

Eunhyuk menyodorkan majalah yang sedang dibacanya kepadaku. Mataku membelalak lebar saat melihat halaman majalah yang terpampang di depanku. Disana ada 3 foto Eun-Ji dengan namja yang kulihat di taman bersamanya waktu itu dengan pose yang… terlalu mesra dan hot.

Aku mengambil HP-ku dan menghubungi nomor gadis itu. Astaga, dia itu benar-benar!

“Yak, Shin Eun-Ji, foto macam apa itu, hah? Aigoo, kau mau membuatku terkena serangan jantung?”

“Annyeong, oppa! Kapan kau pulang?”

Suaranya terdengar begitu riang di telingaku, padahal aku sedang emosi melihat fotonya itu. Ck, aku merasa selama ini aku tidak akan pernah mencemburui hal-hal seperti itu, tapi ternyata… aku tidak ada bedanya dengan Kyuhyun dan Donghae.

“Yak, aku sedang bertanya tentang foto mesramu dengan model itu.”

“Dengan Tae-Hyun oppa? Oh, itu! Kenapa? Apa oppa cemburu? Aigoo oppa, itu kan hanya tuntutan pekerjaan. Lagipula aku sudah menganggap Tae-Hyun oppa itu sebagai oppa-ku sendiri.”

“Tapi posenya terlalu mesra!”

“Ckckck. Ternyata seorang Choi Siwon bisa cemburu juga? Yak, aku saja tidak berkomentar apa-apa tentang adegan ciuman di drama terbarumu itu!”

“Jadi kau cemburu juga?”

“Ani! Sudahlah, oppa membuatku jadi kesal!”

Aku tertawa kecil dan memutuskan sambungan telepon.

“Nah, ya… kenapa kau?” tanya Eunhyuk penasaran.

“Eun-Ji cemburu padaku. Keren, kan?”

“Yak, Choi Siwon, apanya yang keren, hah?”

***

EUN-JI’S POV

Aku sedang berbaring menelungkup di atas tempat tidur saat Hee-Kyung onnie menyerbu masuk ke kamarku dengan nafas terengah-engah.

“Ada apa, onnie?”

“Ibumu.”

“Ibuku? Kenapa lagi wanita itu?”

“Dia ditangkap karena menyelundupkan narkoba. Sepertinya dia akan mendapat hukuman seumur hidup. Tapi….”

“Apa, onnie?” tanyaku bingung.

Aku sama sekali tidak terkejut dengan berita itu karena aku memang sudah tahu kalau selama ini dia melakukan banyak hal yang sangat buruk. Tinggal tunggu waktu saja sampai polisi menangkapnya.

“Dia berhasil menghubungi wartawan dan mengatakan bahwa dia adalah ibumu.”

***

SIWON’S POV

“APA? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku, hyung?”

“Aku tidak ingin membuatmu khawatir.”

“Tapi….”

“Kau bisa menghadiri konferensi persnya sekarang. Oke? Berhentilah mengeluh.”

Aku mendecak kesal dan mengikuti member yang lain memasuki van.

Kenapa Eun-Ji tidak menghubungiku sama sekali? Apa dia masih tidak percaya padaku?

***

EUN-JI’S POV

Aku meremas tanganku gugup melihat tatapan semua orang yang terarah padaku. Ibuku menepuk tanganku, memberi ketenangan, tapi tetap saja ketakutanku masih tersisa. Ini menyangkut karir dan nama baik keluargaku, aku tidak boleh mengatakan sesuatu yang salah.

Lampu blitz mengerjap berkali-kali di depanku, membuat mataku terasa sangat silau. Sekilas aku menyapukan pandanganku ke sekeliling dan tidak sengaja aku menatap ke arah pintu masuk. Ada banyak wartawan yang berkumpul disana, tapi aku yakin mataku tidak salah. Dia… dengan kacamata hitam dan topinya, bersandar ke dinding dan melambai ke arahku dengan senyum tersungging di wajah. Dan entah kenapa aku merasa semangat darinya terasa sangat membantu. Tubuhku menjadi sedikit lebih rileks dan detak jantungku mulai melambat ke batas normal. Detik itu aku merasa… aku bisa melakukan semuanya dengan baik.

***

“Hebat,” komentarnya saat aku sudah berada di mobilnya.

“Jinjja?”

“Mmm. Kau melakukan segalanya dengan sangat baik. Sepertinya mereka tidak akan berpikiran buruk tentangmu. Sekarang kau sudah tidak ada beban lagi, kan?”

“Ne. Rasanya lebih tenang.”

“Jadi… apa kau ingat besok hari apa?”

Aku mengernyitkan kening, berpura-pura tidak tahu.

“Kau tahu besok tanggal berapa?”

“7 April.”

“Itu tanggal apa?”

“Tidak tahu. Memangnya besok hari apa?” tanyaku polos.

“Aish, kau menyebalkan!”

***

SIWON’S POV

“Yak, ini hari ulang tahunmu, kenapa wajahmu cemberut sekali?” tanya Leeteuk hyung bingung. Aku memang sedang berada di dorm sekarang untuk merayakan ulang tahunku bersama para member.

“Biasa, hyung! Yeojachingu-nya tidak mengucapkan selamat ulang tahun sama sekali. Hahaha,” ledek Donghae, membuat wajahku semakin keruh.

“Hyung, ada paket!” seru Wookie.

“Tengah malam begini?”

“Mana aku tahu, hyung. Paketnya besar sekali. Menurutmu ini apa?”

“Untuk siapa?”

“Siwon hyung.”

Aku menoleh mendengar namaku disebut dan dengan cepat merebut bungkusan petak besar itu dari tangannya. Aku merobek kertas pembungkusnya. Lukisan. Lukisan wajahku dan Eun-Ji.

Aku tersenyum saat menyadari dari mana hadiah ini berasal. Gadis itu… berani-beraninya mempermainkanku.

Aku meraih HP-ku yang berdering. Namanya terpampang di layar.

“Kau sudah menerima hadiah dariku, kan? Jadi jangan merengek seperti anak kecil lagi hanya karena aku tidak mengingat ulang tahunmu. Dasar bodoh, mana mungkin aku melupakan hari sepenting itu!”

“Gomaweo!”

“Hanya itu saja? Ckckck, kau benar-benar tidak romantis!”

“Saranghae.”

“Hahahaha!!!” Terdengar tawa riuh dari para member saat mendengar kata itu keluar dari mulutku.

“Kau menelepon di depan mereka? Aigoo, kau membuatku malu saja! Sudah ya, aku mau tidur. Ini sudah malam! Ng… saengil chukhahae, oppa.”

Dia memutuskan sambungan telepon begitu saja, membuatku merengut sebal.

“Yang baru pacaran. Romantis sekali. Membuat iri saja!” ejek Henry.

“Heh, kau, makanya cari pacar! Apa kau sebegitu tidak lakunya?”

“Apa maksudmu dengan tidak laku, Choi Siwon?”

Aku langsung mengkeret mendengar nada suara Leeteuk hyung yang terdengar sangat berbahaya. Aku baru saja membangunkan singa yang sedang tidur.

***

EUN-JI’S POV

“Selamat malam, Nona Shin. Tuan Choi menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke gedung tempat dia menunggu.”

Aku menggaruk kepalaku bingung. Kenapa tiba-tiba? Dia bahkan tidak meneleponku sama sekali.

Aku membungkuk sopan ke arah sopir yang membukakan pintu mobil untukku. Awas saja kalau namja itu berbuat yang aneh-aneh.

***

“Dia menungguku disini?” tanyaku heran kepada sopir yang mengantarku.

“Benar, Nona.”

Namsan Tower? Apa yang akan dilakukannya disini? Ini kan tempat umum.

Aku naik ke atap menara dan mendapatinya sedang berdiri disana. Entah mataku yang salah atau bagaimana, tapi kenapa malam ini dia terlihat lebih tampan dari biasanya?

“Kau mengajakku kesini untuk apa? Dan kenapa tempat ini sepi? Aigoo, apa kau menyewanya atau….”

Ucapanku terhenti karena tiba-tiba saja dia menarik pinggangku dan mencium bibirku dalam satu gerakan cepat. Aku terpana kaget saat merasakan sesuatu menyeruak masuk ke dalam rongga mulutku.

“Kau cerewet sekali, Nona Shin,” bisiknya setelah dia melepaskanku.

Aku masih setengah sadar dan berusaha mengerjap-ngerjapkan mataku, mengumpulkan fokusku yang menghilang entah kemana. Ada sesuatu di mulutku. Dingin dan….

“Cincin?” jeritku tak percaya setelah mengeluarkan benda itu dari mulutku.

“Ne. Bagus, kan? Kau suka?”

Aku menatap cincin itu dengan kagum, setengah syok dengan cara aneh yang digunakannya untuk memberikan cincin itu.

“Kau sedang melamarku?”

“Tidak. Hanya memastikan bahwa satu-satunya pemilikmu adalah aku.”

 

END

 

KYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!! Akhirnya selesai juga. Mian, telat 2 hari dari jadwal. Dan aku rasa kalian tahu dengan pasti apa alasannya. Hohoho.

Buat MUTIARAHMA aka Shin Eun-Ji, puas lo? Wkwkwk. Gw udah majang nama lo gede-gede, tuh! Jauh beda kan dari apa yang udah lo bayangin? Endingnya gimana? Jiakakaka. Lo sih curigaan mulu ama gw! Gw ini kan baik hati! Awas lo kalo g suka! Tapi ceritanya emang aneh sih, gw g bakat bikin cerita terlalu banyak konflik. Ah, tapi anggap aja keren! Wkwkwk. Capek nih gw ngetiknya di tengah penderitaan yang menghujam, tapi demi lo…. *kok gw jadi curhat, sih?* Serius nih jagi (hoeks), abis nangis kemaren, gw sempet nyoba ngetik. Jadi sih, cuma satu halaman, tapi gw langsung berhenti. Kyuhyun menyita terlalu banyak perhatianku seharian kemaren. Galau galau!

Okelah, seperti biasa, ditunggu komen, kritik, dan sarannya. Dan kalo ada yang nanya kenapa ff ini aneh dan g dapet feelnya, atau ceritanya terasa membosankan, jawabannya adalah karena cast-nya Choi Siwon. Mau tahu kenapa? Karena si Shin Eun-Ji itu g suka Kyuhyun, jadi aku juga g suka Siwon! *PLAK!*

Oh iya, Riz onn, aku pinjam namamu!!!